God's Story

Kapsul 13: Bukan Beban, Melainkan Berkat

 Ilustrasi: Lukisan “The Children’s Story Book oleh Sophie Anderson. Sumber: ART UK

Kalau kau menganggapnya sebagai beban, maka tentu akan semakin berat. Beda dengan kalau menganggapnya sebagai berkat, maka ringanlah jiwamu dan bahagia hatimu. Tuhan menanggungkannya padamu, artinya Ia mempercayaimu. Tiupkan doa padanya, agar tidak menjadi sia-sia.

Tidak setiap orang ada di posisimu. Bahkan mereka yang katanya berlimpah sekalipun tak mampu menjadi kau.

Menjadi kau adalah berkat. Menjadi kau adalah istimewa.

Bersyukurlah.

Berbahagialah.

 

 

 

 

 

 

Iklan
Cerita-cerita

Cerita 2: Bapak Pergi Mencari Ibu

Kakak Beradik Abdullah
Ilustrasi: Lukisan “Kakak dan Adik” oleh Basuki Abdullah. Sumber: Koleksi Galeri Nasional

Bapak sudah bangun pagi-pagi sekali ketika kokok ayam mulai bersahutan. Ia menjerang air dan memasak bubur dari tepung jagung. Rasanya lezat karena bapak memasaknya dengan rempah-rempah yang diraciknya sendiri.

Selesai makan, kupikir aku akan mandi sendiri. Rupanya bapak tak membiarkan. Ia turun tangan. Mengisi ember mandi, dan aku dimandikan. Dengan seragam taman kanak-kanak yang berwarna ungu muda lengkap dengan sepatu hitam dan kaos kaki putih, aku diantar bapak dan Anoh hingga ke jalan raya. Mengantar dengan pandangan mereka hingga memastikan aku sudah masuk gerbang sekolah.

Sebenarnya aku bisa saja berjalan sendiri. Hanya masalahnya di sonaf. Satu area luas dengan satu rumah kosong yang sudah lama terbengkalai itu terkenal angker dan banyak setannya. Itulah kenapa aku minta diantar. Bagiku asal saja sudah lewat sonaf maka segala menjadi aman. Dari rumahku sendiri, orang harus berjalan 25 meter ke arah timur menuju di jalan raya. Dari sana orang hanya perlu menempuh 200 meter ke sekolah. Antara rumah dan sekolah hanya ada sonaf kemudian lapangan desa sebagai pemisah.

Siang sepulang sekolah hari itu, tak kudapati Anoh tidak bermain di halaman menyambutku seperti biasanya. Pintu dan jendela rumah semua tertutup rapat. Hanya pintu samping rumah yang digantung gembok tanpa dikunci.

Aku membuka pintu dan masuk ke ruang tengah. Segera menuju sampiran, tempat aku menggantung pakaian seragam sekolah. Di dekatnya di atas meja bundar. Kutemukan ada secarik kertas yang di atasnya ada sebatang pensil. Sebuah memo dari bapak. Makanan ada di lemari. Setelah itu susul adik di tempat Titi. Bapak pergi mencari ibu. Aku makan dengan perasaan kosong. Makanan di hadapanku tawar. Kutelan dengan rasa sakit di kerongkongan. Serasa ada batu besar yang mengganjal di dalamnya. Tak kuhabiskan makananku. Kusimpan kembali ke dalam lemari.

Aku beranjak keluar dari dapur. Menutup pintu dan menggemboknya kembali. Dengan berlari kencang aku langsung menuju tempat Titi, adik bapak yang rumahnya di ujung kampung. Di sana adikku sedang bermain. Seorang diri ia menyusun serutan kayu, sedang berusaha membangun rumah-rumahan.

“Rosina, kamu bermain dengan adik,” Titi menyambut. “Bapak baru saja datang lalu pergi lagi. Ia mau mencari ibu.”

Hanya mengangguk, aku segera bergabung dengan Anoh. Ia sedang bermain rumah-rumahan dengan bahan bekas-bekas hasil pahatan dan serutan Titi.

Aku melengkapi rumah-rumahannya dengan perabotan, kandang-kandang, pedagang, kios-kios, dan beberapa orang tokoh sebagai pemilik rumah dan ternak, para pekerja, dan pedagang. Kami menjalankan cerita tentang petani dan peternak dengan segala ternak mereka yang berkandang-kandang.

Bosan dengan cerita petani, peternak, dan pedagang, aku membuat cerita tentang bapak ibu guru dan anak-anak sekolah. Anoh tidak suka cerita tentang sekolah. Belum lama mendengarku bercerita, ia langsung berdiri, dan pergi melempari burung-burung yang sedang bercicit di atas pohon.

Ia pergi menghampiri Titi yang sementara bekerja. Tapi Titi sendiri tak mau kami mendekat. “Awas kena mata,” disuruhnya kami menjauh. Serutan atau hasil pahatan kaya bisa berbahaya, katanya. “Atau kalian mau menonton tivi?”

Tidak mau siang-siang begini di dalam rumah nonton tv, kubilang. Memang jauh lebih enak bermain di luar. Kami menuju belakang rumah. Melempari asam yang yang sedang lebat berbuah. Anoh ikut-ikutan melempar walau lemparannya tak pernah lebih dari semeter tingginya. Kami kemudian duduk-duduk di bawah pohon asam sambil menikmati buahnya yang sudah jatuh. Rasanya begitu masam. Tak sampai dua biji kumakan, aku membuangnya kembali. Tak kutahu lagi mau buat apa, aku jadi bosan. Rasanya sepi sekali. Aku ingin punya teman main lain selain Anoh.

Di sekeliling rumah Titi ada juga beberapa rumah saudara jauh yang punya anak seumuranku dan Anoh. Kami bergerak pindah ke depan rumah titi. Di situ ada rumah sepupu tertua bapak. Salah satu anaknya walaupun serumuran denganku tapi ia belum bersekolah. Kata ibunya, mau langsung masuk SD, tidak perlu masuk TK. Toh, sekolah TK kan sekolah bermain. Kalau menyangkut bermain, cukup saja di rumah. Beberapa kakak-kakaknya saja begitu. Satu orang laki-laki dan tiga perempuan tak ada yang bersekolah di TK dulu baru masuk SD.

Maka, sengaja mengumpan sepupu jauhku itu keluar rumah, aku bernyanyi. Lagu-lagu sekolah minggu yang riang kukumandangkan. Keras-keras walau nada suaraku sumbang.

Tak berhasil. Aku sengaja meneriaki Anoh. Juga tak berhasil. Namun tiba2 ada yang menarik perhatianku dari arah satu pohon delima yang membuatku diam. Aku menemukan satu pemandangan yang ganjil. Mendekat. Ternyata sebuah sarang burung. Menoleh ke Anoh yang sedang merangkak mendekat, kusuruh ia berhenti. Anoh tak mau. Ia terus saja datang. Ia kusuruh pelan2. Semakin mendekat, kutunjukan ia sarang burung. Ia berteriak senang. Pada saat yang sama, ketika aku menoleh sekilas, anak tetanggaku mengintip dari samping rumahnya. Kubiarkan ia. Toh, aku sudah punya bahan mainan baru. Sengaja tak kutolehkan kepalaku lagi menengoknya. Lima menit kemudian, ia sudah di belakang kami. Dari dalam kantong bajunya ia keluarkan kantong plastik bening berisi dua atau tiga sendok gula pasir.

Ayo, kita ambil asam, ia mengajak. Kami kembali lagi ke pohon asam di belakang rumah Titi. Siang itu kami menikmati manisan asam sambil mengarang cerita tentang ibu yang sudah dua hari tak pulang rumah. Kami berandai-andai kira-kira apa yang ia lakukan sekarang. 

Bosan bercerita, kami pergi ke rumahnya. Keluarganya punya produksi minyak kelapa, dan itu merupakan mata pencaharian mereka. Di sana kami kebagian ampas minyak. Rasanya gurih. Kami menikmatinya sambil bermain ayunan di samping rumahnya. Sore hari, aku dan adik diberi lagi ampas minyak oleh mamanya. Kami membawanya pulang dengan sukacita ke rumah titi dan memakannya dengan nasi.

Ketika hari sudah mau gelap, kami pun memilih bermain di jalan depan rumah. Biar lebih mudah melihat kalau bapak datang. Namun beberapa lama ditunggu pun, bapak tak kunjung muncul. Padahal ayam-ayam sudah naik ke peraduannya. Lampu di rumah Titi juga rumah-rumah tetangga lain sudah dinyalakan.

Kami dipanggil Titi untuk segera masuk ke dalam. “Di sini saja sambil nonton TV.”
TV hitam putih di dalam rumah sudah dihidupkan. Di lantai ruang tengah sudah dibentangkan sehelai tikar beranyam daun lontar dan kami disuruh duduk di sana.
Sementara kami menonton Titi sibuk dapur. Kudengar ia memotong2 kayu lantas membawanya masuk ke dalam. Mungkin sedang memasak.

Titi adalah adik bapak. Satu2nya adik laki2nya. Kata bapak ia pernah menjadi mahasiswa hukum. Tapi karena bermasalah dengan dosen, ia pun memutuskan berhenti dan kembali ke kampung. Membangun rumah sendiri walupun belum menikah dan membeli tivi hitam putih. sehingga kalau sudah mendekati jam 9 malam, rumahnya ini biasanya jadi ramai karena para tetangga yang datang menonton seusai makan malam di rumah masing2.

Dengan TV di depan kami, Anoh sedikit lebih tidak gelisah dibanding sore tadi. Matanya betul-betul melotot ke arah layar TV. Sementara aku biarpun itu siaran hiburan anak dari TVRI, pikiranku tak juga bisa tenang. Biarpun mataku memang ke arah tv, tapi tetap harap-harap cemas kapan bapak member salam atau memanggil kami dari luar. Rasanya lama sekali. Malam seakan semakin bertambah larut tanpa ada tanda2 bapak kembali.

Tak lama Titi membawakan kami masing-masing setengah muk teh hangat sementara ia sendiri secangkir besar kopi hitam. Sembari menghirup kopinya, titi ikut menemani kami menonton tv.

Teh di muk plastikku hampir habis ketika dari luar terdengar suara sapaan bapak. Meletakan gelas, aku langsung menghambur ke pintu. Anoh pun tertatih-tatih mengekor di belakang. Wajah bapak terlihat letih. Keringatnya bercucuran. Tapi senyumnya langsung merekah tatkala melihat Anoh yang berlari kecil menyambutnya.

Kata bapak, tak ada petunjuk jelas hari ini. Ibu hilang tak meninggalkan jejak. Bapak ikut pula disuguhkan kopi oleh Titi. Setelah menghabiskan kopinya, kami bertiga berjalan pulang ke rumah. Di sana rumah kami gelap karena lampu belum dinyalakan.