Cerita-cerita

Kapsul 14, Cerita 3: Menunggu Bapak Pergi Mencari Ibu

Ilustrasi: sleepy children waiting for santa. Sumber: pinterest 

Seperti sudah terjadwal, hari-hari berikutnya, bapak akan mengurusku ke sekolah, kemudian ia memasak untuk makan siang kami, lalu ia mengajak adik bersamanya ke ladang atau menitipkannya di rumah titi, sehingga ia bisa memberi makan ternak-ternak di padang serta singgah sebentar ke ladang untuk mengerjakan beberapa pekerjaan. Pulang dari sana, ia akan entah pergi ke mana, tentunya untuk mencari ibu.

Bapak pergi bukan hanya dengan berjalan ke sana ke mari mencari dengan bertanya-tanya. Selain sanak keluarga ibu, ia juga mendatangi orang-orang yang diceritakan tetangga atau sanak kami yang tersebar di berbagai tempat. Kata mereka cobalah datangi orang ini atau orang itu yang dikenal sebagai hamba Tuhan. Lengkap dengan cerita pengalaman bagaimana mereka juga dulu pernah bersama orang-orang tersebut.

Di mana pun orang menunjukkan, bapak akan datang ke tempat orang itu berada. Bersama bapak mereka akan berdoa, katanya mereka meminta petunjuk Tuhan. Dari cerita-cerita yang kudengar, banyak kejadian unik saat atau sesudah mereka berdoa.

“Saya tiba di rumahnya sore hari. Begitu saya datang, ia meminta saya membeli telur.  Saya tanya, berapa?

‘Satu saja cukup,’ katanya. Untungnya di samping rumah ada kios. Saya beli satu dan kembali ke rumahnya.

Telur itu ia terima. Lalu dimasukkan ke gelas berisi air. Setelah ditanya-tanya apa pergumulannya, kemudian kami berdoa. Yang saya heran, sebelum berdoa gelas itu ada di antara kami, begitu selesai berdoa, gelas berisi air dan telur sudah berpindah tempat. Saya berpikir, kira-kira bagaimana tangannya bekerja sementara ia menggumkan kata-kata.” Begitu salah satu di antara sekian cerita yang diceritakan kembali oleh bapak saat mereka berdoa.

Ada lagi, terkadang ketika para pendoa itu selesai berdoa, mereka akan bertanya, “Apa sebelum ibu pergi, bapak sering memukulnya dan mengancamnya?” atau “Apa bapak pernah menangkap basah ibu tidur bersama laki-laki lain?” atau “Apa bapak masih menyimpan benda-benda pusaka dari nenek moyang yang masih dianggap keramat? Kalau itu masih ada sebaiknya dibuang dan dibakar,” atau mereka akan berkata “Sebenarnya ibu pernah menemukan sebuah kunci di satu mata air yang jernih kemudian ia menyimpannya di kamar mandi, dan kunci itulah yang menuntunnya pergi ke negeri lain, ke negeri antah-berantah yang sepertinya tak mudah ditemukan,” dan masih banyak macam pertanyaan atau perkataan lain yang dibawa bapak untuk diceritakan pada titi, yang bisa kudengarkan sedikit-sedikit. 

Selain cerita tentang berdoa, tidak sedikit orang juga yang tampaknya ingin menunjukkan kalau mereka peduli. Setiap kali bertemu bapak, mereka akan bilang, ibu di daerah utara, yang lain mengatakan ia ada di daerah timur, yang lain lagi di daerah barat, yang lain lagi di daerah selatan, yang lain lagi macam-macam petunjuknya. 

Bapak bukanlah seorang yang mudah putus asa. Ia akan pergi saja ke mana orang memberi petunjuk padanya di mana mereka pernah melihat ibu. Hampir setiap hari tanpa absen ia akan meninggalkan aku dan adikku sendiri di rumah atau di tempat titi. 

Kadang para tetangga melihat iba padaku dan adikku. Tak jarang kudengar mereka berkata, “Kasihan, anak-anak malang. Masih kecil sudah ditinggal pergi ibu mereka”. 

Mereka berkata begitu, sebab biasanya, dalam keluarga-keluarga lain, atau tetangga yang lain, ada anak-anak yang lahir tanpa tahu siapa bapak mereka karena bapaknya tak bertanggungjawab dan pergi meninggalkan mereka, dan mereka akhirnya diasuh hanya oleh ibu mereka. Namun dalam keluarga kami, yang mengasuh adalah bapak, dan yang pergi meninggalkan kami adalah ibu.

Meski begitu, aku tidak bersedih karena ditinggal pergi ibu. Mungkin Anoh, iya, tapi aku tidak. Aku hanya sedih kalau hari sudah mau gelap dan kami duduk menunggu bapak yang tak kunjung muncul. Sepanjang kami duduk menunggu, yang kulakukan hanyalah berdoa dan terus berdoa. Bapak harus pulang dengan selamat. Meski ibu tak ditemukan, meski belum ada jejak di mana ibi berada, asal bapak tetap pulang dalam keadaan baik-baik. Aku takut berandai-andai bapak tak ada. Maka itulah aku harus kuat berdoa. Meski sudah kuat berdoa, terkadang ada juga perasaan takut, bagaimana bila, bagaimana kalau ternyata, bagaimana kalau bapak memang tak jadi pulang. Rasa takut itu bisa kuat sekali melanda. Hari bisa menjadi semakin remang, semakin gelap, dan kami masih menunggu. Begitu membaca gerak tubuh bapak dari jauh, ah, sungguh tak terkira rasa bahagia itu. 

Asal kau tahu saja, setiap sore mendekati gelap, setelah menunggu bapak lama tak datang-datang, dan begitu ia baru muncul kepalanya saja di ujung jalan, bisa saat itu juga aku menganggap diri adalah orang paling beruntung di dunia. Tidak ada seorang anak pun di muka bumi ini yang sebahagia aku. 

Iklan