Catatan Buku, Merayakan Keseharian

Kapsul 15: Membaca Novel Sidney Sheldon

Novel ini tergeletak di atas meja anak murid saya di kelas. Mereka baru saja membacanya saat SSR. Sementara mereka mempersiapkan materi presentasi kelompok, saya berjalan keliling dan iseng mengambil satu buku yang ada di atas meja. 

Baru membaca bab-bab awal buku, dan saya sudah tidak bisa begitu saja melepaskan tanpa tahu kelanjutan ceritanya. Saya pun meminjam buku anak murid saya untuk melanjutkan baca di rumah. 

Sementara saya menulis ini, saya masih dalam proses membaca. Belum selesai. Tapi karena keperluan pembaharuan postingan blog inilah saya menuliskannya. 

Kau mungkin saja berpikir,  “Gaya doang. Buku belum selesai dibaca, malah pamer. Kemarin buku lain juga begitu. Belum juga selesai baca, malah pamer kalau sedang membaca.”

Iya, saya tahu buku apa yang kau maksud. Pasti tentang Allah, Kebebasan, dan kejahatan. Memang, saat itu saya sedang membacanya. Setelah menulis itupun, saya melanjutkan membacanya. Tapi, buku itu banyak sekali proposisi-proposisi yang membutuhkan daya nalar dan konsentrasi yang tinggi, maka di tengah-tengah membaca, saya merasa tidak kuat melanjutkan. Saya hanya tertarik di bagian pendahuluan serta bagian satu saja karena di dalamnya disebutkan beberapa sastrawan yang namanya tidak asing seperti Milton dengan “Paradise Lost“nya, Dostoyevsky dengan “The Brothers Karamazov” tentang penyiksaan oleh bangsa Turki, serta nama-nama lain seperti Thomas Hardy, Hopkins, T.S Eliot, Peter De Vries, dan John Updike. Selain itu setelahnya, banyak proposisi-proposisi itu membuat saya seperti hanya ‘gaya doang‘ baca buku ini. Saya menghabiskannya tanpa mengerti simpul-simpul di dalamnya. Hanya inti atau tujuan besar buku ini yang sudah menjadi pegangan saya sebelumnya yang saya pahami. Bahwa Allah berdaulat atas dunia ciptaannya. Dalam sejarah, terjadinya kejahatan atau penderitaan di dunia bukanlah sebuah misteri, melainkan hal yang mungkin dan sudah sewajarnya. 

Karena buku yang sempat buat pusing itulah, biarlah kali ini saya kembali imbangi dengan novel Sidney Sheldon dari anak murid saya. Pada akhirnya, saya ingin bilang, “Thanks to Timothy Kevin”🙏😊. 

Iklan