Cerita-cerita

Kapsul 26, Cerita 5: Suasana Walikota

bus station
Sumber ilustrasi: mootorgrupp

Kota ini berbau kering. Aku merasa asing. Pikiranku melayang kembali ke rumah. Kira-kira apa yang sedang mereka lakukan. Mungkin bapak baru pulang dari ladang. Ia akan singgah di rumah titi, menjemput adik dan mereka berdua pulang. Rumah tentu saja dalam keadaan gelap sebab lampu belum dinyalakan. Ayam-ayam pun tentu sudah masuk naik ke pohon.

Andai saja aku di sana sekarang, aku bisa berdiri menemani adik sementara bapak menyalakan lampu dan menyelesaikan pekerjaannya. Memikirkan itu, dadaku terasa sesak.

“Ayo, Rosina,” ajak tante setelah mengemasi barang-barang kami.

Kami beriringan keluar terminal. Dari sana kami berjalan kaki menuju rumah tante yang ditempatinya bersama om, serta anak-anaknya.

Aku berjalan di samping tante. Menyandang tas kecil pemberian sepupuku yang sulung, sementara tanta menjinjing tas dan sebuah kantong plastik kresek berwarna hitam berisi beberapa kilo jagung kering dan dan biji labu siam.

Di gerbang terminal nampak satu-satu sepeda motor lewat. Angkutan-angkutan yang disebut bemo pun keluar masuk terminal. Klaksonnya membuat riuh satu sama lain. Para kernet berteriak mencari penumpang. Menyebutkan nama-nama tempat tujuan. Ketika mereka di depan kami dan menawarkan tumpangan, tante menggeleng pelan, dan bemo itupun terus keluar terminal.

Kota memang tak sesunyi dan sedamai di kampung. Ada-ada saja kebisingan dan ketidaktenangan. Sungguhpun demikian, senja tetaplah senja. Senja selalu membuat rindu. Rasa kangenku pada rumah dan kampung halaman makin memuncak.

Pandanganku mulai kabur. Aku tahu mataku mulai panas dan basah, tapi kutahan jangan sampai terlihat lagi oleh tante. Aku mengalihkan mataku pada gedung-gedung di pinggiran jalan. Pada pagar-pagar tinggi yang mengelilinginya.

Tapi sekalipun ini di kota, tak semua rumah kulihat berdinding tembok dan beratap seng. Heran. Rumahku yang berada di desa saja berdinding tembok dan beratap seng, bercat pula. Pernah kata bapak, rumah itu dibangunnya sebelum ia menikah, artinya waktu aku belum lahir. Sedang sekarang yang kulihat rumah sudah di kota pun malah masih berdinding bebak. Jarak satu rumah dengan satu rumah lain pun masih berjarak. Setahuku seperti yang kubaca di buku-buku bacaan, dituliskan bahwa rumah-rumah di kota itu padat. Sementara kota yang kudatangi tidak demikian.

Pada rumah-rumah yang tak dikelilingi pagar, kami menjumpai beberapa anak-anak kecil seumuranku bermain kelereng di pinggil halaman. Serta beberapa juga yang melompat-lompat di atas petakan siki doka. Aku melihat mereka. Beberapa di antaranya pun berhenti sejenak untuk menoleh pada kami kemudian melanjutkan permainannya.
Siki doka membuatku rindu kawan-kawanku di kampung.

Senja. Kawan-kawanku, bapak, adik, juga ibu.

Tak sampai setengah jam berjalan, kami tiba di depan rumah. Sepupu-sepupuku sedang bermain sore itu dengan anak-anak tetangga. Seruan gembira menyeruak menyambutku. Permainan yang sedang dimainkan dihentikan sejenak. Pelan-pelan anak-anak kota itu mendekat dan tersenyum bersahabat ke arahku.

Iklan