Refleksi

Kapsul 37b: Yosia bin Amon, Si Raja Termuda Kedua setelah Yoas bin Ahazia

Screenshot_2018-03-03-15-28-12-59.png

Selain Yoas bin Ahazia pada usia 7 tahun, Yosia bin Amon pun diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya pada usia 8 tahun.

Luar biasanya, justru Yosia yang menjadi raja di usia bocah ini adalah seorang raja yang takut akan Tuhan dan melakukan yang benar di mata Tuhan. Berbanding terbalik dengan yang dilakukan kakek buyutnya Hizkia, atau kakeknya Manasye, bahkan ayahnya Amon yang hanya diizinkan Tuhan memerintah selama dua tahun dan mati di usia yang teramat belia 24 tahun (jadi Amon ini ternyata punya anak Yosia di umur 16?πŸ˜±πŸ˜‰πŸ˜Š).

Yosia tidak memiliki kecacatan selama masa pemerintahannya. Sebaliknya justru di masanya itulah terjadi beberapa perubahan besar positif di antaranya 1) reformasi ibadah dengan diberantasnya sesembahan-sesembahan nenek moyangnya selama ini agar semua orang boleh kembali kepada Tuhan, 2) pemugaran rumah Tuhan, 3) ditemukan kembalinya kitab taurat, serta 4) pemberlakuan kembali perayaan paskah setelah masa diam yang cukup lama semenjak zaman para hakim yang memerintah atas Israel dan sepanjang zaman raja-raja Israel dan raja-raja Yehuda.

Hanya sayang, akibat tidak mendengar pesan Tuhan melalui perantaraan Firaun Nekho, si raja Mesir itu, Yosia harus menemui ajalnya di lembah Megido. Mungkin itulah yang akhirnya dicatat alkitab sebagai satu kekurangan raja Yosia ini.

Apapun itu, kisah Yosia bin Amon, Raja Yehuda ini, sungguh membuat saya terkesan. Dilantik menjadi raja saat masih bocah, tapi justru menunjukkan teladan luar biasa yang bahkan orang-orang dewasa saja kalah olehnya. Sungguh inspiratifπŸ‘ŒπŸ‘ πŸ‘πŸ‘πŸ™πŸ˜˜.

Iklan
Refleksi

Kapsul 37a: Belajar dari Hizkia, Raja yang Pamer Kekayaan kepada Orang Asing

Ketika Raja Hizkia sakit, ia berdoa meminta pertolongan Tuhan. Ketika melalui perantaraan nabi Yesaya, ia beroleh kesembuhan, lupalah ia akan Tuhan.

Terhadap para utusan dari negeri Babel, ia perlihatkan seluruh isi istana dan daerah kerajaan. Pikirnya, asal ada damai dan keamanan selama aku hidup, ketika mendengar apa yang dikatakan Yesaya terkait nasib kerajaannya di masa depan.

Kenapa ia berpikir begitu? Untuk apa? Aneh saja bagi saya seorang raja memperlihatkan seisi istana dan daerah kekuasaannya kepada tamu dengan maksud merasa damai dan keamanan. Apa yang aman dan damai dari pamer-pamer kekayaan? Bukankah sebaliknya kita akan merasa terancam kalau orang lain tahu seberapa banyak kekayaan kita dan tahu betul di mana letak-letak barang dan lumbung-lumbung berharga?

Jelas, saya kurang menangkap apa maksud Raja Hizkia memperlihatkan isi istana dan daerah kekuasaannya kepada para utusan negeri Babel ini sampai kemudian diperingatkan nabi bahwa semua isi istana dan perbendaharaan itu akan diangkit ke Babel tanpa sisa. Apa hubungan dengan masa sebelum dan sesudahnya?

Dari hasil membaca-baca di internet, saya kemudian menemukan beberapa tulisna yang cukup menjawab. Namun akan saya simpan dua di sini sebagai pengingat.

Satu, dari seword, Surat Terbuka untuk Eep Saefullah Fatah. Mengena sekali untuk kita sebagai orang-orang Indonesia di masa-masa ini. Tulisan ini terkait situasi politik yang terjadi di Indonesia. Seseorang bisa dengan sangat giat bekerja mencari kepuasan pribadi hanya untuk sementara, tanpa memikirkan apa yang bakal terjadi 2-3-4-5-6 tahun ke depan dan seterusnya.

Kedua, oleh Bigman Sirait, Umur Panjang yang Menciptakan Persoalan Baru. Sewaktu sakit, minta kesembuhan dari Tuhan. Ketika kesembuhan diberikan, bukannya hidup kemudian dipakai dan diisi sebaik-sebaiknya sebagai ungkapan terima kasih, malah cari aman untuk diri sendiri tanpa memikirkan nasib anak cucu.

Demikian sedikit catatan mengenai kisah Raja Hizkia yang secara bodoh dan sembrono memamerkan isi istana dan kerajaannya kepada para tamu dari negeri jauh. Kiranya menjadi pembelajaran bagi saya dan kamu, kita semua.