Refleksi

Kapsul 42: Masalah-masalah tak akan Pernah Selesai

Tugas-tugas tak akan pernah selesai. Ujian-ujian tak akan pernah berakhir. Masalah-masalah tak akan pernah berhenti menghampiri. ### Setuju, itu Benar๐Ÿ‘Œ๐Ÿ‘๐Ÿ’ช.

 

IMG_20180310_140504.jpg
Sumber ilustrasi:ย dreamstime

Beberapa hari ini sering sampai ke telinga saya, anak-anak sekolah khususnya kelas ujian mengeluh capek. Capeknya tak lain tak bukan, mereka capek belajar.

Di awal semester ini, baru masuk saja mereka sudah diperhadapkan dengan berbagai tugas yang harus diselesaikan sebelum fokus menyiapkan diri untuk ujian-ujian sekolah dan nasional.

Waktu itu tugas-tugas tampak begitu banyak. Membayangkan bagaimana harus dikerjakan, rasanya seakan tak akan memberi waktu bernapas. Seiring berjalan waktu, tugas-tugas itu pun dikerjakan dan diselesaikan dengan baik. Sudah makin berkurang. Makin menipis sekarang. Meski begitu, melihat ke depan, dalam satu dua bulan ini, masih ada yang bilang kalau mereka capek, juga tegang, dan gugup.

Sebagai salah seorang yang sehari-hari dekat dengan mereka, saya ikut merasakan dan juga mencoba belajar mengerti keadaan mereka. Saya tidak bisa mengatakan kepada mereka harus begini harus begitu.

Tapi saya ingin berefleksi dari situasi ini.

Pernah suatu kali di kelas, entah dimulai dari mana, saya pernah mengeluarkan pernyataan bahwa saya lebih menyukai menjadi anak-anak sekolahan di zaman sekarang dibanding menjadi orang yang sudah bekerja. Saya melihatnya dari sisi berikut: ketika kau masih menjadi anak-anak, tidak banyak hal yang kau pikirkan dan pertanggungjawabkan. Sebaliknya, yang kau pikirkan hanyalah bersekolah. Tugas-tugas sekolah, dan ya, tentunya membantu orang tua. Meski memang banyak bumbu kehidupan yang membuat keseharianmu menjadi asam manis pahit asin, tapi itu tidaklah terlalu berat dibanding kau sudah bekerja dan harus mempertanggungjawabkan banyak hal.

Mendengar itu, ada satu siswa berkomentar, “Tapi jadi ibu dong enak. Su dapa kerja, tiap bulan dapa gaji,” yang langsung diiyakan beramai-ramai.

Komentar itu saya tanggapi balik sebagaimana yang mau saya refleksikan sekarang.

Menjadi orang yang sudah bekerja bukan berarti semua tugas selesai dan semua masalah beres.

Sebagaimana kata pepatah, semakin besar ia diberi kepercayaan, semakin besar ia bertanggungjawab. Menjadi orang yang bekerja adalah sebuah pekerjaan.

Dari mana dan bagaimana ia sampai mempunyai pekerjaan, tentu karena sebelumnya ia sudah terlebih dahulu belajar dan berlatih, entah dengan mengikuti pendidikan formal ataupun non formal. Selama belajar dan berlatih dalam pendidikan formal atau non formal itu, tentu ada tugas dan masalah yang mesti ia kerjakan dan selesaikan.

Tugas dan masalah itu tidak serempak dan setinggi gunung everest langsung didatangkan padanya. Ada tahapan-tahapan yang harus ia lewati satu per satu.

Mungkin ia banyak menguras keringat, air mata, bahkan darah di sana. Bukan sesuatu yang mudah memang, tapi harus ia hadapi. Satu tahap yang lebih mudah ia mesti lewati, demi melangkah maju ke tahapan berikutnya. Begitu seterusnya dari yang paling mudah, sedang, sukar, hingga yang paling sukar.

Bukankah demikian perumpaan talenta yang dikisahkan Yesus,

Matius 25:21 dan 23 (TB) Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.ย 

Kita mesti setia dulu dalam perkara kecil, barulah bisa dipercayakan dalam perkara besar. Bagaimana mungkin seorang bayi umur satu setengah tahun (saya merujuk kepada keponakan saya๐Ÿ˜‰) yang baru bisa mengucapkan ‘papa, mama, aci, kuku, ame, tata, dan beberapa kata lainnya, disuruh menyampaikan pidato di hadapan para lulusan Universitas Harvard, bukan?

Setiap orang memiliki tugas dan tanggung jawab yang mesti ia kerjakan. Dari yang kecil hingga yang besar.

Menjadi anak-anak kelas ujian dan menjadi orang yang sudah bekerja tidak ada bedanya.

Anak-anak kelas ujian merasa capek belajar karena terlalu banyak tugas dan ujian. Orang-orang yang sudah bekerja pun pernah menjadi seperti mereka. Pernah berada di situasi mereka itulah makanya mereka bisa bekerja seperti sekarang. Lantas, apakah dengan bekerja dan punya upah atau penghasilan lantas mereka tak lagi punya tugas dan ujian-ujian? Tidak juga. Orang yang paling besar penghasilannya di dunia ini pun tidak mungkin kemudian duduk tenang berpangku kaki tangan dan merasa bebas-sebebas-bebasnya selama ia masih bernapas.

Mereka pun tetap punya tugas. Bagaimana ia mempertahankan apa yang sudah dimilikinya selama ini? Bagaimana ia mengembangkannya? Apa yang mesti dikerjakan dengan pekerjaan yang sudah mapan ini? Apa yang harus dilakukan dengan uang yang bertumpuk-tumpuk ini? Apa, di mana, kapan, mengapa, dengan siapa, kepada siapa, mengapa, dan bagaimana adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus ia pikirkan untuk dikerjakan. Selama memikirkan, ia tentu akan mengalami yang namanya kebuntuan. Ok, buntu. Cari jalan lain, buntu lagi, cari cara lain, begitu seterusnya. Setelah mendapat cara, ia mengerjakannya. Tugas lagi. Harus buat ini buat itu. Tugas besar, bukan kecil. Tanggung jawab besar, bukan kecil. Kemudian ia mengelolanya bersama-sama dengan orang-orang yang sudah ia percayai. Tidak lancar. Macet di tengah jalan. Masalah lagi. Bagaimana cara menyelesaikannya. Beginikah atau begitu? Harus dengan yang ini atau yang itu? Kenapa, bagaimana? Demikian setumpuk tugas, ujian, dan masalah terpampang jelas di depan matanya. Memilih menyerah atau hadapi? Demikian ritme itu akan terus mengitari hidupmu selama kau masih bernafas, kecuali kau mati. Ya, hanya orang mati yang tidak punya ini semua.

Lalu kenapa… Kenapa mesti ada ini semua, tugas-tugas, ujian-ujian, masalah-masalah?

Kalau kita hidup hanya untuk menghadapi tugas-tugas yang begitu banyak, ujian-ujian yang tak pernah selesai, masalah-masalah yang tidak pernah berhenti, satu-dua baru selesai, tiga-empat-lima-enam, sementara menanti, begitu dikerjakan, muncul lagi tujuh-delapan-sembilan-sepuluh dst, lalu kapan selesai, kapan saya bisa rasa bebas?

Jawabannya, cari tahu sendiri. Kita semua manusia dikasih otak bukan untuk dilenakan๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜Š. Kalau saya, saya punya jawabannya, jawaban ala anice anaci,ย Kapsul 43: Alasan Kenapa Tugas-tugas, Ujian-ujian, dan Masalah-masalah Tak Pernah Selesai.ย 

Iklan