Refleksi

Kapsul 43: Alasan Kenapa Tugas-tugas, Ujian-ujian, dan Masalah-masalah Tak Pernah Selesai

Melanjutkan postingan sebelumnya, Masalah-masalah tak akan pernah selesai.

Saya menulisnya hanya sebagai sebuah refleksi, bukan sebagai sebuah bentuk tugas akademik sehingga harus penuh dengan kutipan-kutipan buku, atau bahasa-bahasa ilmiah.

IMG_20180310_171626.jpg
Sumber ilustrasi: bridgeministryinternational

Di pos sebelumnya saya bilang, ritme hidup yang penuh dengan tugas, ujian, dan masalah-masalah memang akan selalu menghampiri tanpa henti selama kau masih bernapas. Semua itu tak ada hanya bila kau mati. Tapi kau tak mau mati, kan? Kau bukan orang mati. Kau orang hidup. Dan orang hidup lebih baik dari orang mati. Hidup selalu lebih baik dari mati. Tentu๐Ÿ‘Œ.

Berbahagialah, bersukacitalah bila kau tahu dan sedang mengalami banyak tugas, atau ujian, atau masalah-masalah. Itu tandanya kau orang hidup. Itu tandanya bahwa kau tidak sedang mati atau sudah mati. Itu tandanya bahwa kau tidak sedang dibiarkan Tuhanmu.

Kalau kau punya banyak tugas, itu tandanya bahwa kau dipercaya. Berbahagialah. Bersyukurlah. Di masa-masa ini, banyak orang mencari-cari cara agar dipercaya tapi mereka sulit mendapatkannya๐Ÿ˜‰.

Kalau kau punya banyak ujian, tetap berbahagia dan bersyukurlah. Sebab itu tandanya kau sebentar lagi naik tingkat. Kalau kau bisa menyelesaikan ujian ini dan ujian itu, kau akan melangkah lagi ke tahap berikutnya. Kau akan melihat dan mengalami yang lebih keren lagi dari yang saat ini atau sebelum-sebelumnya. Tidak ada orang yang dikatakan lulus atau menang kalau tidak diuji, bukan?

Kalau kau mengalami banyak masalah, tetap bersyukur dan berbahagia. Kenapa? Sebab kau mau dibentuk. Kau sedang mau dimurnikan. Emas sebelum menjadi emas yang berkilau dan berharga tentu sudah melewati yang namanya proses pembakaran dengan panas tak tertangguhkan dan ditempa berkali-kali hingga berbentuk sesuatu.

Sebagaimana perumpamaan emas,sesuatu itulah kamu, dirimu yang bernilai. Begitulah maksud dan tujuan bejibun masalah itu datang bertubi-tubi menimpamu, kau mesti menjadi seseorang. Seseorang yang bukan sembarang orang, tapi kau adalah seseorang dengan nilai tertentu di dunia ini๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜Š.

Dengan kehadiranmu yang punya nilai tertentu di dunia ini, kau memberi sumbangsih kecil bagi dunia, minimal kepada orang-orang sekitarmu. Minimal tenagamu, minimal uluran tanganmu mengangkat seseorang yang terjatuh di got, minimal duitmu kau beli es krim kepada seorang bocah, minimal sisa uang kembalian kau berikan kepada sang penjual koran, minimal cerita pengalaman hidupmu, minimal tanda kehadiranmu dalam satu acara duka, minimal sebuah kunjungan menjenguk kepada si sakit, minimal apresiasimu kepada seorang yang sudah berkarya, minimal sebuah senyuman kepada yang sedang susah hati, minimal sebuah pelukan kepada yang baru saja tak kuat mendengar kabar duka, minimal sebuah kalimat penghargaan, minimal sebuah kata “terima kasih” kepada ia yang baru menyilakanmu lewat, minimal kau bunyikan klakson tanda permisi saat lewat dalam satu lorong dan sedang berkumpul beberapa orang di sana, minimal sahutan “ya” pada bunyi klakson tanda permisi itu (ada arti tersendiri bagi saya bila setiap melewati satu gang misalnya dan saya membunyikan klakson tanda permisi kepada orang-orang yang sedang ada di pinggir jalan atau di pekarangan kemudian mereka menyahut “ya”๐Ÿ˜„๐Ÿ˜…๐Ÿ˜), minimal sebuah doa yang dilayangkan walau dari jauh, minimal ucapan selamat kepada yang sedang berbahagia baru saja lulus ujian, minimal sebuah apalah begitu yang masih banyak-banyak. Semua itu tidak menunggu kau sudah harus tua dan sukses segala bidang dulu baru kau bisa berikan kepada orang lain.

Saya menulis ini dan saya teringat sekaligus tertegur, yang saya tuliskan minimal-minimal di atas, belum semuanya dan sepenuhnya saya lakukan. Setiap orang dengan prosesnya masing-masing.

Intinya, hidup ini adalah tentang kita menabur. Menabur apa? Menabur yang minimal-minimal di atas. Namun sesuatu yang lebih penting bukan sekadar kau melakukan yang minimal-minimal di atas.

Ia adalah sebuah nilai. Jiwamu. Dari mana, sebab apa, untuk apa, dan ke mana? Sebuah landasan dan tujuan, itulah yang mestinya kau pegang.

Filipi 1:21 (TB) Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

***

Di bawah ini adalah yang mau ditulis awalnya tapi kemudian tak jadi. Mau dihapus tapi sudahlah. Biarkan saja tetap bertengger di situ.

:

Sebab kau dihadirkan ke dunia ini dengan maksud dan tujuan tertentu, maka itulah yang mesti kau terima dan kerjakan.

Tentu kau tidak didikte harus melakukan ini dan itu. Kau tahu kau bukan robot. Dari pengalaman hidupmu sendirilah kau akan mengetahuinya.

Rayakan dan nikmati setiap momen yang singgah. Kaitkan ia dengan kekekalan. Kelak, di akhir kisah, kau tahu, kaulah sang pemenangnya๐Ÿ’ช๐Ÿ‘‘๐Ÿ˜‡.

***

And the end of this post, I just want you to know, that all things were made because of him and return to him. That in all things, God works for the good of those who love him, who have been called according to his purpose. To him be the glory forever๐Ÿ‘‘๐Ÿ‘‘๐Ÿ‘‘๐Ÿ‘‘๐Ÿ‘‘.

Iklan