Kegiatan Pengembangan Guru

Kapsul 46: Cuplikan Cerita di Sela-sela BimTek Penyusunan Soal USBN Tkt SMP Kota Kupang Th 2018, Bangga sebagai Anak NTT πŸ˜πŸ˜ŽπŸ˜‡

Hari ini di aula SMP Kristen Citra Bangsa Kupang, diadakan kegiatan bimbingan teknis a.k.a bimtek penyusunan soal USBN tingkat SMP tahun 2018 untuk kota Kupang. Narasumber kegiatan tersebut adalah Bapak Sukino.

Pertama kali sang narasumber diperkenalkan, saya seketika merasa nama itu tidak begitu asing di telinga. Hanya saya lupa di mana dan kapan tepatnya nama itu pernah saya dengar. Setelah ditelusuri di google barulah ketemu. Nama orang ini memang sudah malang melintang di buku-buku paket matematika terbitan Erlangga. TernyataπŸ˜±πŸ˜….

Bapak Sukino (namanya lucu-lucu imut begitu) ini punya juga nama kecil. Nama itulah yang katanya dipakai di akun facebooknya, Andika Choe. Beliau menamatkan pendidikan S1 di UI dalam bidang teknik matematika. Melanjutkan kuliah S2 dan S3 di Tokyo University dalam bidang matematika murni.

Dalam kegiatan hari ini, setelah beliau memaparkan beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam penyusunan soal, para tim penyusun pun diminta duduk per kelompok mata pelajaran untuk mempersiapkan soal-soal yang dibuat berdasarkan SKL. Soal-soal tersebut dipresentasikan agar dibahas dan didiskusikan bersama.

Setelah makan siang, setiap perwakilan kelompok pun dipersilakan mempresentasikan soal-soal yang sudah dibuat. Presentasi tersebut diikuti dengan tanggapan balik dari para peserta kelompok mata pelajaran lain.

Beberapa kelompok mata pelajaran yang tampil tak luput mendapat tanggapan balik dari Pak Sukino selaku narasumber. Beliau memberi apresiasi sekaligus beberapa masukan meski dari segi ilmu beliau seorang yang lebih ahli di matematika dibanding mata pelajaran lainnya.

Tiba giliran kelompok mata pelajaran Bahasa Indonesia, beliau hanya memegang mikrofon dan bilang, “Wah, kalau Bahasa Indonesia, saya tak mau berkomentar banyak. Wong, Bahasa Indonesia saja, saya belajarnya dari orang NTT, kok,” katanya lantas tertawa, menyeret para pendengarnya ikut berlaku yang sama. “Benar, itu Bapak Gerson Poyk, sama satunya lagi, Pak Gorys Keraf.”

Tiba-tiba terdengar riuh tepuk tangan orang-orang. Saya jadi ikutan bertepuk tangan. Tentu sebagai salah seorang anak NTT, saya merasa banggaπŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ˜πŸ˜ŽπŸ’ͺπŸ™πŸ˜‡.