Kegiatan Pengembangan Guru, Refleksi

Kapsul 48: Because You Know, that Assessment is a Blessing

Biasanya notebook saya ini tidak pernah mengalami masalah seperti hang dll. Paling pernah lama loadingnya, tapi itu memang karena banyak jendela program yang saya buka dalam waktu yang bersamaan. Selain itu, notebook saya ini aman-aman saja.

Anehnya, dia selalu bertingkah kalau kebutuhan saya lagi mendesak.

Kali pertama ketika saya harus menyampaikan materi pengantar pada program PKB Bahasa Indonesia. Saat itu, walupun tombol on sudah ditekan, notebook saya tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan akan menyala. Saya sampai sempat merasa panik. Sebab itu adalab kali pertama saya berbicara di depan bapak/ibu guru Bahasa Indonesia yang sudah seniorlah dibilang. Membayangkan akan sia-sia persiapan yang sudah saya buat berhari-hari, membuat saya seperti ingin membentak kasar ke notebook tersebut biar sadar dan kembali normal.

Syukurlah, setelah didiamkan sebentar dan kembali tombol power ditekan lagi akhirnya ia merespons. Notebook saya kembali bisa dinyalakan dan difungsikan.

Kali kedua, ketika saya hendak mengirimkan suatu hasil pekerjaan via email. Notebook saya kembali error. Saya bingung, kalau ia dipakai berselancar biasa hanya sebagai pengisi waktu malah lancar, giliran mau dipakai dalam kebutuhan mendesak ia serupa manusia yang tahu dirinya terlalu penting lalu merasa angkuh dan jual mahal. Saya sempat panik lagi karena data-data hasil kerja semuanya masih di file notebook dan belum sempat dipindahkan ke flash disk. Untunglah due date pengiriman pekerjaan itu masih sehari. Rencana saya kalau besoknya tak bisa dibuka, maka akan saya buka paksa hardwarenya untuk mengambil data yang dimaksud. Besoknya ketika saya mencoba sekali lagi menyalakan, notebook itu malah sudah baik kembali dan lancar-lancar saja.

Sampai hari ini adalah yang kali ketiganya. Hari ini termasuk hari penting dan mendesak. Saya termasuk yang diminta terlibat sebagai tim penyusun soal USBN Bahasa Indonesia SMP tingkat Kota Kuoang th 2018 (lengkap yaπŸ˜‰πŸ˜„).

Saya sementara sangat berantusias mencari dan membuat teks-teks paragraf yang sekiranya ketika dibaca siswa nanti, mereka tidak sekadar melihat teks yang terpampang untuk mencari pilihan jawaban dari soal yang ditanyakan. Misi saya adalah kelak bila soal saya dan rekan penyusun saya dipakai, siswa yang membaca teks tidak hanya sampai di membaca teks dan selesai. Tapi bahkan kalau pun mereka salah menentukan pilihan jawaban sekalipun, setidaknya ada sisi reflektif dari teks yang sudah mereka baca. Demikian doa yang saya hembuskan dalam pekerjaan tersebut. Di tengah-tengah antusiasme tersebut, tiba-tiba tampakan layar seperti membeku di tempat meski kursor mouse sudah digerak-gerakan, bahkan keyborad pun tidak bisa diapa-apakan. Saya mencoba menunggu. Saya pikir tak akan lama. Pasti sebentar saja seperti yabg sudah biasa terjadi, paling hanya beberapa detik, demikian keyakinan saya. Namun kemudian yang terjadi adalah cukup lama. Saya menunggu, tetap menunggu. Syukur, tidak lagi panik bahkan untuk sempat panik pun tidak. Saya tahu, tidak mungkin insiden menyedihkan menimpa saya hari ini. Saya percaya sekali. Saya tahu, ini hanya sacam tes bagi saya. Saya tahu sekali. Sebab, kalau kondisi notebook yang hang ini berlangsung terus sepanjang hari ini, sungguh saya akan gagal sekali. Kenapa? Karena di dalamnya tersimpan data-data hasil kerja bersama selama dua hari penuh. Tak mungkin saya mengulang dari awal. Tak mungkin juga saya harus ke tempat service membongkar paksa hardware notwboom untuk mengambil datangnya. Kapan saya keluar, kapan saya tiba di tempat service, kapan saya harus mengantri, menunggu atau ditinggal sehari dua hari, untuk dikumpulkan sementara hari ini juga katanya semua hasil kerja sudah harus dikumpulkan.

Saya duduk menunggu. Hanya memelototi layar birunya. Lantas berdiri sebentar, melihat ke luar jendela, mengamati anak-anak sekolah yang luar biasa riuhnya di dalam kelas meski itu adalah jam KBM, kemudian berjalan keluar sebentar sebelum kemudian kembali memelototi layar biru itu lagi. Cukup lama. Hang terlama yang pernah terjadi dengan notebook saya yang ini. Akhirnya, karena terlalu lama menunggu, saya pun menekan tombol power untuk mematikan. Beberapa menit ditinggal diam, sya nyalakan lagi, maaih hang ternyata. Saya matikan lagi. Beberapa menit. Lalu dengan keyakinan penuh harus jadi kali ini, saya tekan lagi tombol power. Puji syukur alhamdulillah, notebook saya akhirnya nyala juga. Sungguh tak terkira rasa senang sayaπŸ˜‰πŸ˜πŸ˜œπŸ˜ŽπŸ˜‡. Memang, Tuhan cinta betul-betul dengan saya. Ia sengaja berbuat demikian biar saya tidak mati kesenangan lantas lupa pada-Nya yang melalui orang-orang Ia mengikutkan saya dalam kegiatan ini.

Iklan