Kegiatan Pengembangan Guru, Refleksi

Kapsul 49: Refleksi Empat Hari Bekerjasama dalam Tim Guru Bahasa Indonesia SMP Kota Kupang

Sudah hari yang keempat saya bekerjasama dalam tim ini. Sebuah pengalaman yang diizinkan Tuhan untuk saya alami. Sebuah langkah baru untuk terjun dalam sebuah dunia yang sedikit lebih luas dari seputar SMP Kristen 1 Kupang atau yang lazim dikenal dengan SMP Lentera Harapan Kupang.

Pengalaman interaksi dengan guru-guru Bahasa Indonesia sekota Kupang bahkan NTT serta Region Bali-Nusra-JawaTimur ini bermula dari program UKG yang pernah dicanangkan pemerintah pusat.

Pada tahun 2015, saya mengikuti UKG tersebut dan kemudian tidak mengetahui lagi perkembangannya. Baru di pertengahan tahun 2016, sudah masuk tahun ajaran baru, saya mendapat panggilan mengikuti pelatihan instruktur nasional (IN) di Bali. Awalnya kaget kenapa saya, sebab mengingat latar pendidikan saya matematika, bukan Bahasa Indonesia. Tapi kemudian oleh para petugas di kantor Dinas PPO, saya diberitahu terkait nilai UKG. Saya pun mengikuti kegiatan tersebut meski dengan berat hati karena keberangkatan yang mendadak serta merasa sangsi juga dengan kriteria penilaian UKG ini. Seingat saya dan menurut saya, banyak soal UKG yang kurang valid. Ada yang di instruksi soalnya mau tanya apa malah jawabannya apa. Juga banyak yang terkait materi K 13 sementara waktu itu belum banyak atau tidak semua sekolah yang menerapkan kurikulum 2013, salah satunya Lentera Kupang. Itulah kenapa saya tidak terlalu merasa bangga atau wow sekali dengan terpilihnya saya mengikuti kegiatan pelatihan IN di Bali itu. Bagi saya, itu memang cara Tuhan mengizinkan saya melihat-lihat hal lain di luar serta belajar sesuatu dari sana. Saya menerima dan menikmati saja proses dan momen-momen yang ada di dalamnya.

Meski saya sadar sekali UKG tidak bisa dikatakan sebagai alat ukur yang tepat untuk mengetahui kompetensi guru, namun melalui UKG inilah ada satu perkembangan baik setidaknya terjadi. Para guru dari masing-masing mata pelajaran dalam suatu wilayah setidaknya mulai mengaktifkan dan menghidupkan kembali MGMP, sebuah wadah yang sepertinya memang sudah pernah ada tapi kurang dimanfaatkan dengan maksimal.

Salah satu rekan sesama anggota pelatihan IN di Bali tahun 2016 kemudian ketika di Kupang dipilih menjadi ketua MGMP Bahasa Indonesia. Dengan mulai terbentuknya wadah ini di tahun 2017, beberapa kegiatan positif pun diselenggarakan. Salah satunya adalah Gebyar Literasi ala MGMP Bindo SMP Kota Kupang dalam rangka memeringati Bulan Bahasa. Meski kegiatan ini hanyalah kegiatan kecil-kecilan dibanding dengan kegiatan semacam anggaplah lomba-lomba ala Kantor Bahasa Prov NTT, dan mungkin hanya sekali setahun itu dibanding kegiatan kelas diskusi mingguan ala Komunitas Sastra Dusun Flobamora atau kegiatan kencan buku ala Komunitas Leko atau kegiatan literasi komunitas-komunitas lainnya, bagi saya kegiatan literasi MGMP Bahasa Indonesia SMP tkt Kota Kupang ini patut diapresiasi.

Kegiatan-kegiatan lain yang juga dilaksanakan MGMP Bahasa Indonesia SMP kota Kupang berikutnya adalah program PKB atau program pengembangan keprofesian berkelanjutan di mana utang saya sebagai IN akhirnya dituntaskan di sana. Meski saya sepenuhnya sadar, bahwa sebagai IN saya belumlah betul-betul sempurna sebagaimana yang diharapkan. Namun dari kegiatan itu saya makin belajar banyak hal.

Kemudian baru-baru ini saya diikutsertakan lagi dalam sebuah tim kerja.

Bersyukur, lagi-lagi atas kepercayaan yang diberikan Tuhan melalui MGMP Bahasa Indonesia SMP Kota Kupang. Selama empat hari kerja ini, semakin banyak lagi hal yang dipelajari. Baik dalam hal knowledge (pengetahuan mengenai materi pelajaran Bahasa Indonesia), pengalaman bekerja dengan orang-orang dinas, etos kerja guru-guru yang sudah mapan, tingkatan pemahaman murid di setiap sekolah, dan masih banyak lagi.

Bersyukur bahwa selama empat hari kerja, ada sesuatu yang, walau dapat dibilang sangat kecil, bisa saya sumbangkan untuk pendidikan di Kupang, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP.
Bagi saya sebuah kerja adalah doa, maka demikian doa saya, saya tiupkan serta dalam kerja tersebut. Berharap pihak selanjutnya setelah kami benar-benar dengan hikmat Tuhan memilih dan memilah serta menetapkan dan mengerjakan yang terbaik buat anak-anak didik di kota ini.

Pada akhirnya, segala yang mulia bukan milik kita, melainkan kembali kepada yang mengadakan segala sesuatu🙏🙏😇.

Iklan