Refleksi

Kapsul 73: Melihat Perayaan Paskah Bersama Kel Besar Lippo Group Kupang dari Novel “Kekekalan” Milan Kundera

Tahun ini adalah tahun pertama diadakannya perayaan paskah bersama Kel Besar Lippo Group (LG) di Kupang sejak SLH masuk di Kupang tahun 2011, kemudian disusul Siloam Hospital, Lippo Plaza, dan yang lain-lain tahun-tahun berikut.

Sebagai salah satu bagian di dalamnya, saya hanya ingin melihat kegiatan hari ini dari sudut pandang novel ‘Kekekalan‘ Milan Kundera. Ini tidak sama sekali berkaitan dengan penyelenggara, panitia, atau siapa pun mereka, tetapi lebih kepada my personal reflection😉😊.

Bertahun-tahun sebelumnya, bila mengikuti perayaan semacam ini, pasti jauh dalam hati saya ada semacam rasa bangga. Toh, di kota sekecil Kupang ini, bekerja di bawah payung LG punya nama dan harga tersendiri.

Ketika kau masih meraba-raba identitas, dan menemukan bahwa kau ada dalam satu lingkaran tertentu yang seolah ketika orang menyebut namamu, langsung melekat dengan institusi tertentu, kau langsung merasa seolah itu sudah kau. Dirimu melekat dengan atribut itu. Seolah-olah hanya itu, satu-satunya tempat kau melekat. Seolah-olah atribut itulah napasmu, dan bila bukan dengan itu kau tak bisa hidup.

Berkaca dari novel ‘Kekekalan‘ Milan Kundera, ada dua pribadi kakak beradik yang digambarkan berbeda. Sang adik mengagul-agulkan ‘penambahan‘ sebagai pecinta kucing. Ingin dikenal dan dilekatkan dirinya dengan atribut sebagai pecinta kucing. Sementara sang kakak lebih memilih jalan ‘pengurangan‘. Mengurangi segala yang terlihat di luar, sebaliknya lebih berusaha melihat ke dalam.

Apa maksudnya penambahan dan pengurangan ini?

Dari sisi penambahan, biasanya seseorang selalu berusaha menambahkan dirinya dengan atribut ini atau atribut itu. Ingin dikenal dengan sebutan ini atau sebutan itu. Mereka bergabung dengan berbagai komunitas atau kumpulan apa pun itu, yang membangun atau pun hanya sekadar senang-senang, hanya demi sebuah identitas diri atau untuk mengeruk keuntungan pribadi. Mereka kemudian bangga menyebut dirinya sebagai ini atau itu. Bahkan sebagai follower sekali pun tanpa ikut berkarya sebagaimana yang diidolakan. Hanya sekadar bangga menyebut diri saya adalah *…ersers (maksudnya sebutan untuk pengikut fanatik orang atau kelompok tertentu yang diidolakan). Contoh saja: walkers, kpopers, beliebers, dll (maaf kalo yang salah tulis, saya belum mengecek pengejaannya).

Sementara dari sisi pengurangan, seseorang sudah tidak melihat atribut-atribut yang dipasang sebagai pembentuk identitas dirinya, yang kemudian serakah mengeruk untuk dirinya sendiri. Ia sudah lepas dari pandangan tersebut. Ia tak lagi sibuk menambal-nambal dirinya dengan bergabung mengikuti ini atau itu, hanya untuk dikenal sebagai “oh, dia itu walkers lho, a/ oh, dia itu penggila anu, a/ oh, kau boleh sentuh ‘ininya dia’ dia bisa meradang, dan meraung lebih dari singa betina, a/ oh, dia itu *…ers juga, kan, ya,” dst. Dia tidak sekadar bergabung untuk numpang majang, mendapat madu yang banyak, atau melirik-lirik mangsa. Sebaliknya ia memang mungkin tetap mengikuti tapi dengan alasan dan tujuan berbeda, ingin mengurangkan segala ego yang melekat dan kembali menemukan dirinya lebih dalam lagi. Ingin belajar lebih tentang apa yang bisa dilakukan dan bagaimana melakukannya agar serupa dengan yang diikuti, dikagumi, diidolakan, dipuja, atau bahkan yang disembahnya. Pada mereka inilah, akan kau lihat ada spirit dari kedalaman mereka yang terpancar keluar. Buah mereka, sesederhana sebuah sapaan atau senyum pun tentu punya nilai yang berbeda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s