Merayakan Keseharian

Kapsul 81: Akhirnya Kembali (bersorak)

Akhirnya kembali lagi

Akhirnya bisa kembali lagi. Setelah seminggu lamanya terserang flu, hari ini saya bisa kembali membuka blog ini. Sebenarnya selama beristirahat karena flu, saya sempat membuka-buka blog, tapi keinginan menulis itu seperti tak ada. Bahkan membaca saja saya paksakan harus. Bukan terpaksa sebenarnya, karena memang hiburan saya selama istirahat itu adalah membaca dan menonton. Aneh saja saya tak buat apa-apa. 

Banyak yang saya baca dan saya tonton, tapi yang mau saya sematkan di sini adalah satu cerpen dari Albert Camus yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berjudul Tamu. Kalau mau akses yang versi bahasa Inggris, ada juga di The Guest. Saya tak menyematkan link dari bahasa asli karena saya sendiri tidak mengerti bahasanya:D. 

Terlepas dari isi cerita, saya suka bagian yang dikutip di bawah ini: 

For some time he lay on his couch watching the sky gradually close over, listening to the silence. It was this silence that had seemed painful to him during the first days here, after the war. He had requested a post in the little town at the base of the foothills separating the upper plateaus from the desert. There, rocky walls, green and black to the north, pink and lavender to the south, marked the frontier of eternal summer. He had been named to a post farther north, on the plateau itself. In the beginning, the solitude and the silence had been hard for him on these wastelands peopled only by stones. Occasionally, furrows suggested cultivation, but they had been dug to uncover a certain kind of stone good for building. The only plowing here was to harvest rocks. Elsewhere a thin layer of soil accumulated in the hollows would be scraped out to enrich paltry village gardens. This is the way it was: bare rock covered three quarters of the region. Towns sprang up, flourished, then disappeared; men came by, loved one another or fought bitterly, then died. No one in this desert, neither he nor his guest, mattered. And yet, outside this desert neither or them, Daru knew, could have really lived.

Beberapa saat ia merebahkan diri di dipannya, memandang langit yang makin gelap, mendengarkan kesunyian. Kesunyian yang menyiksanya sejak hari pertama ia tinggal di tempat ini, setelah perang. Ia mohon agar ditempatlkan di kota kecil di kaki bukit, yang terletak di antara dataran tinggi dan gurun. Di sana, dinding-dinding batu, hijau kehitaman di sebelah utara, jambon dan lembayung muda di sisi selatan, menandai tapal batas musim panas yang kekal. Tapi justru di dataran tinggi ini ia ditempatkan. Pada mulanya, terasa berat baginya menghadapi kesunyian dan kesendirian di hamparan tanah kosong yang dihuni hanya oleh batu-batu. Sesekali tampak bekas galur-galur pada tanah cadas bekas digaru. Tapi tak ada yang bisa diperbuat pada lapisan tipis tanah yang menutup batu-batu, yang hanya cocok untuk bahan bangunan. Jadi satu-satunya yang bisa dihasilkan di daerah ini adalah memanen batu. Di beberapa tempat, orang lain menggarap lapisan tipis tanah yang memenuhi cekungan dan menanaminya dengan tetumbuhan seadanya yang bisa tumbuh di sana. Begitulah keadaannya. Hamparan batu menutupi tiga per empat bagian wilayah ini. Kota-kota tumbuh, berkembang, dan kemudian hilang; orang-orang datang, saling mencintai atau saling membenci, dan kemudian mati. Tak seorang pun di gurun ini, baik dirinya sendiri atau si Arab tamunya, punya arti. Dan, sebaliknya, di luar gurun, Daru tahu itu, tak ada seorang pun yang benar-benar hidup.

Alasan ini berkesan bagi saya karena tak lain tak bukan hamparan permukaan bumi semacam ini sama seperti di Kupang :D. Jadi karena tanah ini kaya batu, apa salahnya kita dirikan perusahan batu, batu karang maksudnya, bukan batu mulia:D 😉 :). 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s