Cuplikan Cerita Lentera

Cerita Momen Pengumuman Kelulusan SMP Kristen 1 (SLH) Kupang — Bagian 1

Pagi-pagi ketika sedang mempersiapkan diri untuk acara pengumuman kelulusan di pukul 10.00 wita nanti, ada satu kawan saya yang menunjukkan pesan masuk dari seorang murid. Isinya adalah foto rekapan nilai tertinggi per sekolah. Tak disangka, ternyata nama SMP Kristen 1 alias SMP Lentera Harapan Kupang bertengger di urutan pertama. Sontak saja kami kaget. Kenapa? Karena kami tak tahu-menahu hal itu sebelumnya. Memang di hari Jumat kemarin, kami sudah sempat diberi tahu kepala sekolah terkait nilai anak-anak, tapi tentang perbandingan nilai dengan sekolah-sekolah lain tidak ada sama sekali pemberitahuan. Saking kagetnya, kami sampai menjulurkan kepala serentak dan nyaris merusak beberapa barang yang ada di meja piket😅😂.

Rasa girang menjadi penyemangat tersendiri seharian itu hingga kemudian saya teringat dengan masa-masa awal ketika Lentera baru pertama kali masuk di Kupang.

Tahun 2011 adalah masa pengalihan manajemen beberapa sekolah di bawah Yupenkris GMIT Kupang ke YPPH salah satunya adalah SMP Kristen 1 Kupang. Tahun pertama ketika kami datang, sekolah ini masih meninggalkan dua angkatannya yakni yang duduk di bangku kelas 8 dan kelas 9. Siswa kelas 8 waktu itu hanya satu kelas berjumlah 22 orang. Sementara siswa kelas 9 terdiri dari tiga kelas dan berjumlah kurang lebih 80/90-an orang (saya kurang ingat berapa persisnya).

Tahun-tahun awal itu punya tantangan dan pergumulan tersendiri. Bagaimana kami yang rata-rata baru lulus (memang ada beberapa di antara kami yang sudah pernah setahun dua tahun mengabdi di tempat lain) harus menyesuaikan diri dengan karakter anak-anak remaja yang kalau tak salah dengar mereka masuk ke sekolah ini pun adalah pilihan terakhir mereka alias tak tahu ke mana lagi harus mendaftar karena rata-rata sekolah sudah ditutup pendaftarannya.

Mengajar mereka butuh kesabaran ekstra. Terlalu banyak faktor yang perlu dipertimbangkan untuk mendongkrak mereka belajar. Banyak di antara mereka yang datang ke sekolah tanpa tahu alasan pasti kenapa harus ke sekolah. Banyak yang tinggal bukan dengan orang tua kandung. Atau bahkan dengan orang tua sekali pun, keadaan kemampuan ekonomi dapat dibilang penuh perjuangan untuk dapat sekadar bertahan hidup. Maka untuk membeli alat tulis saja susah apalagi membeli buku paket. Tak hanya itu, jejak-jejak sekolah lama pun masih melekat erat dalam dada mereka. Ada pemberontakan kecil-kecilan seperti keinginan untuk bolos, suka alpa, memaki secara terang-terangan, merokok atau minum-minum di luar jam sekolah. Sebagian besar di antara mereka jarang membaca buku. Banyak hal (dalam hal ini wawasan/pengetahuan umum) kurang mereka tahu.

Sewaktu persiapan UN, mereka ‘digodok’ habis-habisan. Kala itu UN masih menjadi penentu kelulusan. Hampir setiap hari mereka diberikan jam tambahan di sekolah.

Hingga UN itu datang. Karena sekolah menghidupkan yang namanya integritas, semua ujian baik sekolah dan nasional dilaksanakan dengan menganut asas kejujuran. Tak ada contekan atau semacamnya demi membantu siswa saat UN.

Ketika datang pengumuman hasil UN, kami semua membeku. Hasilnya adalah 60-an persen. Ini artinya banyak yang tidak lulus. 20-an orang waktu itu kalau tidak salah. Sempat membeku dan seperti hilang sadar, kami diingatkan kembali untuk bersyukur dan berbangga. Setidaknya kami tahu bahwa mereka yang lulus adalah benar-benar lulus murni. Tak ada permainan dan kecurangan di dalamnya.

Dalam sekejap saja, berita kelulusan dari SMP Kristen 1 Kupang langsung tersebar. Katanya, ini pertama kali dalam sejarah, presentasi kelulusan SMP Kristen 1 Kupang tidak mencapai 100 persen sementara semua siswa dari sekolah lain di Kupang atau mungkin NTT lulus 100 persen.

Sampai ada kabar yang saya dengar, katanya ini menjadi tamparan buat kesombongan dan ‘kesokpintaran’ kami. “Baru saja lulus, belum ada pengalaman, ‘sok pintar sok hebat’ sampai mereka yang sudah lebih dahulu mengabdi harus disingkirkan. Lihat itu hasil UN-nya.” Kalimat ini begitu tajam dan kejam kalau memang ditujukkan kepada kami. Dalam hal ini kami tidak tahu apa-apa. Hanya mengikuti instruksi, ditempatkan di sekolah ‘A’, sekolah ‘B’ dst.

Proses seleksi yang diadakan pihak yayasan pun tak pernah ada di benak saya sebelumnya. Saya baru tahu bahwa tiga guru lama yang akan bersama kami adalah para guru terpilih. Dan memang pada kenyataannya, seiring berjalannya waktu, sampai detik ini bahwa benar mereka adalah guru-guru berdedikasi tinggi. Mereka adalah orang-orang yang cinta Tuhan, cinta anak-anak, dan mau terus belajar mengembangkan diri untuk pengajaran, yang juga rendah hati dan ‘manis selalu’ (mereka kemudian menjadi kawan-kawan baik kami😉).

Anak-anak kami yang tidak lulus, kami urus baik-baik. Sebagian ada yang mengurus paket B, sebagian memilih mengulang. Meski banyak cibiran dari orang-orang seberang (entah seberang mana yang saya maksud, intinya adalah mereka yang iri dengan keberadaan Lentera di Kupang) anak-anak kami tak ada yang memperlihatkan rasa ketidaksukaan atau mungkin rasa marahnya kepada sekolah, ‘gara-gara guru2 sok idealis inilah saya tidak lulus, coba sekolah ini tidak beralih, pasti saya lulus.” Tidak. Tidak pernah saya dapati ada sorot mata yang menyiratkan demikian. Mereka tahu betapa kami mengasihi dan mendoakan mereka. Mereka tahu kami ikut menangis bersama mereka. Mereka tahu kami mengasihi mereka meski ini sakit dan berasa pahit. Mereka tahu bahwa rasa kasih tidak harus diungkapkan lewat membantunya lulus tapi secara curang. Mereka tahu bahwa kejujuran adalah hal penting yang harus mereka pegang. Mereka tahu, ada nilai penting ‘yang lebih penting’ dari sekadar angka dan tanda ‘lulus’ di selembar kertas yang mau ditanamkan gurunya dalam diri mereka.

(Bersambung…)

Iklan
God's Story

Ezra, Nehemia, dan Ester

Saya sudah selesai membaca buku Ezra dan Nehemia. Baru-baru ini. Lalu melanjutkan ke Ester dan Ayub (sekarang sudah selesai Ayub dan akan melanjutkan ke Mazmur). Tapi  dua hari lalu ketika ditanyai kembali apa kisah pokok dari buku Esra dan Nehemia, ingatan saya sudah tak seterang sewaktu membaca. Jadilah sebelum melanjutkan ke Mazmur, saya kebut diri saya membaca ulang Ezra dan Nehemia. Alhasil, setelah menundukkan diri di bawah kebutan, dalam sehari dua kitab itu bisa selesai. Untungnya keduanya tidak panjang. Ezra hanya 10 pasal dan Nehemia hanya 13. Keduanya menceritakan hal yang sama dengan beda sudut pandang. Tentang tahun pertama Raja Persia berkuasa dan orang-orang buangan (orang Israel) disuruh kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali bait suci yang sudah runtuh, bait suci yang pernah sangat megah di zaman Salomo, yang hampir setiap bagiannya bersalutkan emas (alamak😘).

Setelah membaca ulang kedua buku ini, dan ketika dipikir-pikir kembali, sepertinya saya tidak sadar sewaktu membaca kemarin-kemarin. Kok bisa-bisa tidak ada satupun kesan yang tinggal setelah membaca Ezra dan Nehemia yang pertama kali (meski bukan yang pertama karena pernah sewaktu kuliah ada tugas membaca hanya waktu istilahnya saya baca lari-lari demi mencapat nilai :p :)).

Kali ini setidaknya ada sedikit yang ditangkap dan diingat. Tentu saya tak perlu menuliskan ringkasan di sini karena sudah banyak bertebaran di internet. Saya hanya mau meninggalkan apa yang berkelabakan di kepala seusai membaca. Tidak kritis-kritis amat dan tidak aneh-aneh. Hanya sekadar meninggalkan jejak bahwa saya sudah selesai membaca 😉 🙂 Saya sekadar ingin menuliskan saja, sebab hanya dengan menulis sesuatu akan lebih bertahan lama (isi kepala saya semua pun tak saya keluarkan di sini).

Sebelum membaca, sangkaan awal yang sempat singgah di kepala saya adalah di dalam buku Ezra dan Nehemia termuat kisah ketika mereka dalam masa pembuangan. Nyatanya hanya sempat disinggung sedikit di awal, selebihnya adalah para orang buangan itu oleh sang Raja Koresh, mereke diizinkan kembali ke Yerusalem dengan menyertakan kepada mereka banyak bekal.

Terlepas dari beberapa gelombang yang berbeda dengan pemimpin dan tantangan  masing-masing, bagi saya ada satu hal yang menarik di awal kisah. Bagaimana bisa sewaktu di tahun pertama pemerintahannya, Koresh, raja Persia langsung memerintah orang-orang Israel pulang ke daerahnya. Sejak membaca dari bagian akhir 2 Tawarikh dan langsung kepada buku awal Ezra, kita melihat seakan-akan begitu baiknya dan begitu murah hatinya si raja Persia ini. Mujizat betul :p :D. Kira-kira apa yang menggerakkan hatinya sehingga ia bisa mengeluarkan dekret sedemikian rupa? Belum bisa kita jawab (meski ada sedikit bocoran di awal tentang seseorang bernama Yeremia) karena baru di buku-buku berikutnya akan kita temukan bahwa sebenarnya di balik perintah Raja Koresh, ada doa-doa yang terus dipanjatkan orang-orang Israel dalam masa pembuangan itu dan Tuhan pun tidak tinggal diam melihat kesengsaraan mereka. Pada waktu yang tepat, ia menggerakkan hari si raja dan memerintahkan orang-orang Israel pulang membangun bait suci mereka. Tak hanya itu. Bahkan ia juga memerintah agar orang-orang yang pulang itu pun dibekali dengan bahan-bahan yang nantinya akan dipakai dalam pembagunan tersebut. Kurang baik apa coba?

Merenungkan ini, saya jadi teringat dengan kisah Ester. Sewaktu Ester bergumul bagaimana mengatakan permasalahannya kepada raja sementara untuk menghadap raja pun bukan sembarang waktu, sebab hanya mereka yang kepadanya diulurkan tongkat raja barulah boleh meghadap. Keputusan selanjutnya yang diambil adalah ia dan orang-orangnya harus berpuasa. Harus berpuasa. Setelah melewati masa puasa maka ia akan menghadap. Apapun yang akan terjadi biarlah terjadi. Dengan itu, Tuhan membuat skenarionya jadi lebih indah. Setelah lewat masa puasa, Ester mengenakan pakaian ratu dan berdiri di pelataran dalam istana raja. Bertepatan saat itu raja pun bersemayam di takhta dalam istana yang langsung menghadap pintu istana. Ketika melihat Ester, sang ratu, berkenanlah raja kepadanya lalu mengulurkan tongkatnya. Ester ditanyai masalahnya, bukan hanya ditanyai, bahkan raja pun meyakinkan bahwa  setengah kerajaan pun akan diberikan kepadanya bila itu adalah permintaannya. Bayangkan! 😀

Tak hanya sampai di sana. Malam harinya, raja tak dapat tidur sehingga ia ingin membunuh waktu dengan dititahkan untuk dibawakannya kepadanya kitab pencatatan sejarah dan dibacakan. Baru saat itu ia teringat kalau ia belum memberikan penghormatan apa-apa kepada Mordekhai, orang yang pernah menyelamatkan nyawanya. Demikian plot cerita berbalik dari yang dirancang manusia. Mordekhai dihormati, diarak di lapangan kota, lalu kaumnya diselamatkan. Sebaliknya Haman, ia disulakan pada tiang yang dibangunnya sendiri, yang sedianya adalah tiang untuk memancang Mordekhai.

 

 

 

 

 

 

 

Merayakan Keseharian

Mengenakan Kain Tenun Bermotif Amarasi di Commissioning Day SMP-SMA Lentera Kupang Tahun ’18

 

Di acara commissioning day kelas 9 dan 12 SMP-SMA Lentera Harapan Kupang, dress code guru-guru adalah pakaian berbahan tenun daerah NTT (wajib buat orang asli NTT dan pilihan bagi yang dari luar NTT). Kebetulan saya punya kain Amarasi juga beberapa kain dari daerah lain. Hanya semuanya belum dijahit menjadi baju atau rok atau apapun. So, saya antarkan kain yang bermotif daerah Amarasi ke kawan saya yang selain guru, ia juga biasa menjahit baju-baju pesanan orang. Akhirnya kain saya itu dipermaklah jadi rok panjang yang kemudian saya kenakan di acara commissioning tersebut.

Sepengetahuan saya, ini pertama kali saya mengenakan pakaian berbahan kain tenun Amarasi di acara resmi. Bukan karena apa-apa, tapi hanya karena sebelum-sebelumnya saya merasa kain semacam itu sakral😝 sehingga hanya boleh dipakai di saat-saat tertentu😄.

Dan kali ini, ceritanya, di acara commissioning tahun 2018 ini saya dapat tugas sebagai MC. Tentu banyak hal yang perlu dipersiapkan, tentu salah satunya penampakan (alias penampilan yang langsung secara kasat mata harus rapi dan menariklah).

Beruntung saya punya satu kain itu, kalau tidak mungkin saya pasti pontang-panting san-sini mencari kain atau pakaian apapun yang bercorak motif daerah NTT demi keberlangsungan acara tersebut.

MIWF 2017

Cerpen saya masuk Antologi “Dari Timur 2” yang akan diterbitkan GPU

Sebelumnya sudah ada cerpen-cerpen saya yang ikut diseleksi kemudian dimasukan dalam sebuah antologi atau jurnal dan diterbitkan. Seorang penulis, biasanya kalau tulisannya ikut dimuat dalam sebuah buku dan diterbitkan, perasaannya tentulah senang dan berpikir setidaknya dalam hidupnya ia telah mengekalkan suatu arti dalam hidupnya.

Demikian yang saya rasakan setiap cerpen saya ikut dimuat dalam antologi dan diterbitkan. Tapi kali ini ada yang berbeda dan lebih istimewa. Kalau biasanya buku yang di dalamnya ada tulisan saya itu adalah hasil dari inisiatif beberapa komunitas kecil atau badan bahasa provinsi, maka kali ini yang akan menerbitkan buku antologi di mana di dalamnya ada satu cerpen saya adalah Gramedia Pustaka Utama (GPU).

Buku yang akan diterbitkan itu adalah sebuah antologi sajak dan cerpen. Judulnya Dari Timur 2. Maksudnya adalah Dari Timur vol.2. Sebelumnya sudah ada Dari Timur vol.1. Buku-buku ini berisi karya para penulis yang pernah lolos kurasi sebagai emerging writers di acara MIWF. Sebagai salah satu alumnis EW MIWF tahun 2017, saya pun diundang mengirimkan karya. Ada dua karya saya kirim. Syukur, salah satunya lolos sehingga bisa ikut dimasukan dalam buku antologi yang akan diterbitkan GPU ini.

Rasanya bahagia sekali akhirnya ada tulisan yang diterbitkan oleh GPU. Tahulah, GPU alias gramedia adalah nama yang cukup ‘silau’ di mata seorang yang masih merangkak di dalam dunia kepenulisan.

Luapan bahagia ini rasa-rasanya seperti, kalaupun kau mati hari ini bahkan detik ini, setidaknya ada tulisanmu yang pernah diterbitkan gramedia” (seolah-olah ini sudah tujuan hidup😄😅).

Sudahlah, apapun itu, saya tahu ini adalah salah satu percik kebaikan Tuhan yang diberikan kepada saya melalui orang-orang di MIWF dan pihak gramedia dan biarlah semuanya dikembalikan hanya kepada Dia yang memberi. #A4J. Soli Deo Gloria.