God's Story

Ezra, Nehemia, dan Ester

Saya sudah selesai membaca buku Ezra dan Nehemia. Baru-baru ini. Lalu melanjutkan ke Ester dan Ayub (sekarang sudah selesai Ayub dan akan melanjutkan ke Mazmur). Tapi  dua hari lalu ketika ditanyai kembali apa kisah pokok dari buku Esra dan Nehemia, ingatan saya sudah tak seterang sewaktu membaca. Jadilah sebelum melanjutkan ke Mazmur, saya kebut diri saya membaca ulang Ezra dan Nehemia. Alhasil, setelah menundukkan diri di bawah kebutan, dalam sehari dua kitab itu bisa selesai. Untungnya keduanya tidak panjang. Ezra hanya 10 pasal dan Nehemia hanya 13. Keduanya menceritakan hal yang sama dengan beda sudut pandang. Tentang tahun pertama Raja Persia berkuasa dan orang-orang buangan (orang Israel) disuruh kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali bait suci yang sudah runtuh, bait suci yang pernah sangat megah di zaman Salomo, yang hampir setiap bagiannya bersalutkan emas (alamak😘).

Setelah membaca ulang kedua buku ini, dan ketika dipikir-pikir kembali, sepertinya saya tidak sadar sewaktu membaca kemarin-kemarin. Kok bisa-bisa tidak ada satupun kesan yang tinggal setelah membaca Ezra dan Nehemia yang pertama kali (meski bukan yang pertama karena pernah sewaktu kuliah ada tugas membaca hanya waktu istilahnya saya baca lari-lari demi mencapat nilai :p :)).

Kali ini setidaknya ada sedikit yang ditangkap dan diingat. Tentu saya tak perlu menuliskan ringkasan di sini karena sudah banyak bertebaran di internet. Saya hanya mau meninggalkan apa yang berkelabakan di kepala seusai membaca. Tidak kritis-kritis amat dan tidak aneh-aneh. Hanya sekadar meninggalkan jejak bahwa saya sudah selesai membaca 😉 🙂 Saya sekadar ingin menuliskan saja, sebab hanya dengan menulis sesuatu akan lebih bertahan lama (isi kepala saya semua pun tak saya keluarkan di sini).

Sebelum membaca, sangkaan awal yang sempat singgah di kepala saya adalah di dalam buku Ezra dan Nehemia termuat kisah ketika mereka dalam masa pembuangan. Nyatanya hanya sempat disinggung sedikit di awal, selebihnya adalah para orang buangan itu oleh sang Raja Koresh, mereke diizinkan kembali ke Yerusalem dengan menyertakan kepada mereka banyak bekal.

Terlepas dari beberapa gelombang yang berbeda dengan pemimpin dan tantangan  masing-masing, bagi saya ada satu hal yang menarik di awal kisah. Bagaimana bisa sewaktu di tahun pertama pemerintahannya, Koresh, raja Persia langsung memerintah orang-orang Israel pulang ke daerahnya. Sejak membaca dari bagian akhir 2 Tawarikh dan langsung kepada buku awal Ezra, kita melihat seakan-akan begitu baiknya dan begitu murah hatinya si raja Persia ini. Mujizat betul :p :D. Kira-kira apa yang menggerakkan hatinya sehingga ia bisa mengeluarkan dekret sedemikian rupa? Belum bisa kita jawab (meski ada sedikit bocoran di awal tentang seseorang bernama Yeremia) karena baru di buku-buku berikutnya akan kita temukan bahwa sebenarnya di balik perintah Raja Koresh, ada doa-doa yang terus dipanjatkan orang-orang Israel dalam masa pembuangan itu dan Tuhan pun tidak tinggal diam melihat kesengsaraan mereka. Pada waktu yang tepat, ia menggerakkan hari si raja dan memerintahkan orang-orang Israel pulang membangun bait suci mereka. Tak hanya itu. Bahkan ia juga memerintah agar orang-orang yang pulang itu pun dibekali dengan bahan-bahan yang nantinya akan dipakai dalam pembagunan tersebut. Kurang baik apa coba?

Merenungkan ini, saya jadi teringat dengan kisah Ester. Sewaktu Ester bergumul bagaimana mengatakan permasalahannya kepada raja sementara untuk menghadap raja pun bukan sembarang waktu, sebab hanya mereka yang kepadanya diulurkan tongkat raja barulah boleh meghadap. Keputusan selanjutnya yang diambil adalah ia dan orang-orangnya harus berpuasa. Harus berpuasa. Setelah melewati masa puasa maka ia akan menghadap. Apapun yang akan terjadi biarlah terjadi. Dengan itu, Tuhan membuat skenarionya jadi lebih indah. Setelah lewat masa puasa, Ester mengenakan pakaian ratu dan berdiri di pelataran dalam istana raja. Bertepatan saat itu raja pun bersemayam di takhta dalam istana yang langsung menghadap pintu istana. Ketika melihat Ester, sang ratu, berkenanlah raja kepadanya lalu mengulurkan tongkatnya. Ester ditanyai masalahnya, bukan hanya ditanyai, bahkan raja pun meyakinkan bahwa  setengah kerajaan pun akan diberikan kepadanya bila itu adalah permintaannya. Bayangkan! 😀

Tak hanya sampai di sana. Malam harinya, raja tak dapat tidur sehingga ia ingin membunuh waktu dengan dititahkan untuk dibawakannya kepadanya kitab pencatatan sejarah dan dibacakan. Baru saat itu ia teringat kalau ia belum memberikan penghormatan apa-apa kepada Mordekhai, orang yang pernah menyelamatkan nyawanya. Demikian plot cerita berbalik dari yang dirancang manusia. Mordekhai dihormati, diarak di lapangan kota, lalu kaumnya diselamatkan. Sebaliknya Haman, ia disulakan pada tiang yang dibangunnya sendiri, yang sedianya adalah tiang untuk memancang Mordekhai.

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s