Catatan Buku

Terima Kasih kepada John Piper untuk “Coronavirus and Christ”

Sampul buku versi (pdf)

Kamis pagi, 16 April 2020, saya bangun tidur dengan merasa tidak enak badan. Setelah beberapa kali batuk, saya akhirnya muntah.

Hari itu, saya demam. Sepanjang hari saya tidak fokus menjalankan pekerjaan yang digadang-gadangkan sebagai work from home. Saya tidak minta izin untuk istirahat. Toh, di pikiran saya, ini pekerjaan tidak ada hubungan dengan bertemu secara fisik, tugas hari itu adalah lebih ke membuat RPP dan memantau home learning-nya siswa. Jadi, meski tersendat-sendat saya ikuti saja jadwal yang ada.

Meski dalam keadaan demam, jauh dalam hati kecil saya, ada semacam kegembiraan tersendiri sebab pagi-pagi sekali waktu bangun, ada teman yang mengirimkan kepada saya salinan buku baru dalam bentuk pdf. Dari judulnya, saya langsung menetapkan diri pagi itu untuk harus membacanya hari itu juga.

Syukurlah, setelah makan malam, setelah beres-beres pemantauan proses belajar siswa (meski tidak bisa dilanjutkan semua karena memang saya yang harus belajar untuk tidak mem-force diri juga, bila tidak, satu akibatnya, ya, bisa sakit-sakit begini karena kurang istirahat), saya membuka kiriman dokumen (pdf) buku John Piper ini. Saat mau membaca, satu pesan lagi masuk. Dari orang yang sama mengirimkan link audiobook versi terjemahan bahasa Indonesia. Karena saya sementara membaca versi aslinya dalam bahasa Inggris, saya terpikirkan untuk mencoba mencari di internet audiobook versi bahasa Inggris juga, biar sekalian membaca sekalian dibacakan. Jauh lebih konsentrasi. Syukurlah, dapat. Tentu dari channel penerbitnya langsung, Desiring God. Kerennya lagi, yang membacakan adalah penulisnya sendiri, John Piper. Merasa istimewa sekali jadinya saya.

Isi bukunya segar dan cukup membuat saya meski dalam keadaan demam tetap terjaga membacanya sambil mendengarkan rekaman audio-nya hingga selesai sebelum pukul 10.00 malam. Buku itu benar-benar mengisi jiwa saya ketika berita-berita atau tulisan-tulisan yang biasa saya baca hampir setiap hari terasa kering dan hampa. Berita-berita dan artikel-artikel tersebut hanya sekadar mengisi rasa penasaran saya yang hanya memberi penghiburan semu.

Malam itu, saya tidur dengan hati yang penuh. Sangat dikuatkan dan dihibur dengan isi buku yang ditulis sekaligus dibacakan oleh John Piper. Besoknya hari Jumat, meski batuk-batuk sesekali masih menyerang, demam saya tidak separah hari kemarinnya. Demikian saya percaya, hati yang gembira adalah obat yang manjur… (Ams. 17:22).

Terima kasih, Bapak John Piper.

Cuplikan Cerita Lentera

16 Maret 2020, Datang Sebuah Kejutan (Sekadar Menengok Kembali)

Hari itu, Senin, 16 April 2020. Sore, ketika sesi closing bersama wali kelas dialihkan semua ke lapangan

Di hari Senin pagi, tanggal 16 Maret 2020, KBM di sekolah berjalan normal. Saya masih masuk mengajar pagi di kelas 8.1, mereview sekilas tentang sebuah film yang sudah kami tonton bersama pertemuan sebelumnya, The Litlle Big Master, sebelum mereka harus membuat teks ulasannya sebagai tugas sumatif mereka. Siangnya kembali melanjutkan di kelas 9.1 untuk persiapan USBN dan UN.

Saya memang tidak ingat apakah di kelas waktu saya memegang ponsel atau tidak. Intinya, waktu istirahat kedua, pukul 13.10 kira-kira, barulah saya menengok ponsel saya. Ada informasi baru dan penting yang masuk pukul 12.42. Urgent, baca dengan saksama sampai selesai. Begitu judul pengumuman itu. Diberi bold pula. Tersentak. Begitu mendadak. Tapi mau bilang apa. Namun sesuai instruksi, anak-anak jangan dulu dikasih tahu. Nanti akan ada sesi closing baru mereka dikasih tahu, biar mereka tidak heboh. Masih ada dua sesi untuk jam pembelajaran.Biarkan mereka tetap tenang.

Bel tanda istirahat kedua usai, saya tetap masuk melanjutkan pembelajaran. Meski melanjutkan sesi seperti biasa, jauh dalam hati saya, merasa trenyuh. Kira-kira kapan keadaan ini berakhir. Benarkah hanya 14 hari seperti yang diinfokan sementara wabah (waktu itu belum ditetapkan WHO sebagai pandemik) ini akan cepat selesai dan situasi sudah akan membaik di tanggal 30 Maret?

Pembelajaran usai dan tiba sesi closing bersama anak-anak WK. Datang pengumuman baru. Kepsek minta waktu untuk sesi closing digabungkan saja semua kelas di lapangan basket. Rata-rata para WK setuju. Memang, biar sumber pengarahan tunggal. Demikian, pada sesi closing, anak-anak diminta berbaris menuju lapangan. Namun sebelumnya, telah lebih dulu dibagikan surat pemberitahuan. Sambil berjalan dalam barisan menuju lapangan, mereka membaca sekilas surat tersebut dengan sorot mata bertanya-tanya.

“Ada yang mungkin bertanya-tanya, kenapa kita dikumpulkan tiba-tiba di sini?” kata kepsek setelah memberi salam kepada semua siswa yang sudah berbaris rapi sesuai kelas masing-masing.

“Melihat situasi negara kita saat ini yang mungkin juga telah kalian ketahui, maka besok (Selasa), kalian tidak perlu datang ke sekolah. Tapi nanti mulai hari Rabu, kalian akan belajarnya dari rumah. Model belajarnya bagaimana, itulah nanti yg akan dipersiapkan bapak/ibu gurumu besok di sekolah. Kalian tunggu kabar saja di grup whatsapp kelas masing-masing.”

Demikian isi pengumuman sore itu, Senin, 16 April 2020.

Hari ini, sudah sebulan berjalan sejak hari itu. Pembelajaran jarak jauh dilaksanakan. Guru mempersiapkan materi dan memantau dari rumah, disebut work from home. Siswa belajar dan mengerjakan tugas-tugas dari rumah, disebut sebagai home based learning.

Banyak suka duka di sana. Kalau mau diuraikan satu per satu, tentu bisa menjadi sebuah buku atau bahkan lebih. Saya sendiri menyesal, kenapa tak dari awal-awal mengisi blog ini dengan cerita suka-duka itu. Tentu kalau dikumpulkan sudah bisa menjadi satu buku malahan.

Antara senang bisa libur dan terkejut karena mendadak

Di foto ketiga ini adalah wajah-wajah mereka saat itu. Lihat baik-baik. Adakah gurat sedih atau senang di sana?

Kalau mau dikomentari dalam dialeg Kupang akan seperti, “Itu awal-awal dong senang tu.” Kenapa? Karena kata mereka, “Iya, lumayan sonde harus bangun pagi,” atau “Baek su ee, bisa belajar dari rumah sa,” atau “Asyek, buat libur sa su,” dsb.. dsb…


Sekarang barulah, “Aih, be sonde ada uang lai ni, snde dapat uang jajan.” “Aih, be belajar sendiri be sonde konsen. Be mangantok.” dsb.. dsb.. dsb… ️💪💪😇