Catatan Buku

Membaca Revolusi-Revolusi dalam Wawasan Dunia: Memahami Arus Pemikiran Barat

⚠ Catatan ini bukanlah sebuah ulasan ilmiah. Ia hanya berupa pengenalan dan ringkasan, sekadar pengingat bagi saya atau bisa juga membantu Anda sekalian yang mungkin ingin tahu apa gambaran besar buku ini (meski saran saya, silakan beli sendiri bukunya di Toko Buku Momentum  dan nikmatilah keseruan berpetualang bersamanya…👍📖😎🙏)

***

IMG20191020200604Buku ini berisi 10 esai singkat dari 10 orang berbeda yang kemudian diedit oleh W. Andrew Hoffecker. Mengupas mulai dari peradaban Yunani hingga abad ke-20.

Di bab satu yang berjudul Orang Yunani Membawa HadiahJohn Frame menyinggung kembali tentang  frasa Awas, orang-orang Yunani membawa hadiah! dari tulisan Virgil yang berjudul Aeneid. Di bab ini juga dipaparkan, pemahaman dan pengertian pemikir Yunani itu pun tidak tunggal. Selalu ada ketidaksetujuan yang luas di antara mereka, dan itu terus bergerak dari masa ke masa selama abad kejayaan Yunani. Mereka juga boleh meyakini ada sebuah kuasa yang besar di atas mereka namun yang mereka percayai tetap adalah sesuatu yang bersifat ‘impersonal’. Hal inilah yang membedakan sekaligus membuat saya bersyukur bahwa saya meletakkan kepercayaan saya kepada sesuatu yang bersifat personal (pribadi).

Bab dua ditulis oleh John D. Currid yang berjudul Wawasan Dunia dan Kehidupan Orang Ibrani. Isinya kurang lebih seperti ketika kamu mempelajari kembali isi perjanjian lama (PL). Tentu dengan pengupasan lebih mendalam dari sudut pandang penulisnya yang adalah seorang reformed. Hal demikian sama dengan yang ada pada bab tiga oleh  Vern S. Poythress dengan judul Wawasan Dunia Perjanjian Baru.

Bab empat ditulis oleh Richard C. Gambe dengan judul Kekristenan sejak Bapa-Bapa Gereja Mula-mula hingga Charlemagne. Bab ini menyajikan apa saja yang terjadi dan bagaimana perkembangan wawasan dunia selama kurang lebih 800 tahun dimulai dari zaman Bapa-bapa Rasuli, lalu Klemen dari Roma, hingga ke masa Agustinus dari Hippo dan berakhir di masa pemerintahan Raja Charlemagne.

Bab lima dengan judul Theologi Abad Pertengahan dan Akar-Akar Modernitas ditulis oleh Peter J. Leithart. Bagian ini dimulai dengan pengantar tentang kesatuan hidup dan pemikiran yang cukup memikat bila dilihat dari perspektif modernitas dan postmodern yang terpecah-pecah secara intelektual dan budaya. Dilanjutkan dengan dimulainya perkembangan pemisahan filsafat dan theologi atau konsep mengenai theologi sebagai ilmu pengetahuan serta mulai munculnya apa yang disebut sebagai  skolastisisme. Beberapa nama penting untuk sekedar diingat dalam bab ini adalah Peter Abelard, Rupert dari Deutz, Thomas Aquinas (+ yang mempengaruhi dan yang dipengaruhi), Paus Gregory VII, serta Duns Scotus dan William Ockham di akhir abad pertengahan (analogi vs univositas).

Bab enam oleh Carl Trueman Carl Trueman tentang Renaisans. Bab ini berisi penelusuran penulis terhadap berbagai hal yang mendasari gerakan yang disebut sebagai renaisans tersebut. Skolastisisme dan humanisme mulai bersanding hingga pelan-pelan cukup memberi dampak pada kurikulum universitas. Hal-hal selanjutnya mengenai filsafat, ilmu pengetahuan, politik, serta perkembangan literatur dan seni mendominasi pembahasan bab ini. Namun demikian, yang dapat disimpulkan dari bab ini adalah bahwa renaisans tidak menawarkan wawasan dunia tunggal yang menyatu sebagai alternatif bagi abad pertengahan melainkan ia hanyalah istilah yang mencakup beragam pandangan dan perspektif pada seluruh jangakaun persoalan.

Bab tujuh pada buku ini berjudul Reformasi sebagai Revolusi Wawasan Dunia yang ditulis oleh Scott Amos. Dikatakan, meski kontras antara perspektif Reformasi dan Abad Pertengahan kurang tegas, para reformator menolak sintesis Abad Pertengahan mengenai yang manusiawi dan yang ilahi dalam keseimbangan dari rasio dan penyataan. Tidak dipungkiri bahwa sintesis Abad Pertengahan secara resmi masih bersifat theosentris, namun seperti yang dipahami para reformator, sintesis tersebut terlihat berkompromi dan cenderung mengarah kepada pemahaman yang bersifat antroposentris.

Berbicara mengenai Reformasi, tentu tidak bisa tidak menyebut dua nama yang mewakilinya yakni Luther dan Calvin (walau begitu, di sini ada juga kaum Anabaptis yang disebut meski mereka cukup beragam untuk diwakili oleh satu orang). Bab ini menyajikan pengaruh wawasan dunia Reformasi terhadap kebudayaan, khususnya dalam lingkungan gereja dan masyarakat serta juga sedikit menyinggung tentang seni dan literatur. Di bagian kesimpulan, penulis kembali menegaskan bahwa meski terdapat beberapa perbedaan penafsiran Alkitab oleh para reformator sehingga kita sulit menemukan wawasan dunia ‘Reformasi yang tunggal’, para reformator tersebut tetap berbagi fokus yang sama pada Alkitab sebagai otoritas ultimat bagi iman dan perbuatan.

Bab delapan berjudul Pencerahan-pencerahan dan Kebangunan-kebangunan Rohani: Permulaan Peperangam Budaya ditulis oleh W. Andrew Hoffecker yang sekaligus adalah editor buku ini. Sesuai dengan judulnya, bab ini menyajikan bahwa meski sering survei-survei sering mengasingkan kebangunan-kebangunan rohani dari ‘pencerahan’ (kalau kita memang mengikuti istilah tersebut), namun yang jelas adalah baik pencerahan-pencerahan maupun kebangunan-kebangunan rohani pada saat yang sama bersaing untuk mendapatkan pikiran publik. Pencerahan dan kebangunan rohani yang dimaksud adalah 1) di Inggris dengan dua tokoh utama untuk pencerahan adalah John Locke dan David Hume serta John Wesley untuk kebangunan rohaninya, (btw, Newton kira2 di mana ya..?) 2) di Perancis dengan Descartes untuk pencerahan serta Jansenisme dan Blaise Pascal untuk kebangunan rohani, 3) di Jerman dengan gerakan kaum pietisme untuk kebangunan rohani dan Imanuel Kant untuk Pencerahan, 4) di Amerika dengan dorongan Thomas Paine untuk pencerahan dan Jonathan Edwards yang adalah seorang puritan di abad ke 18 untuk kebangunan rohani.

Bab sembilan berjudul Abad Ikonoklasme Intelektual: Pemberontakan Abad Kesembilan Belas terhadap Theisme yang ditulis oleh Richard Lints. Bab ini secara khusus menyoroti Imanuel Kant sebagai jembatan pencerahan dan abad kesembilan belas; para nabi sekuler seperti Hegel, Feuebach, Karl Marx, Darwin, Freud, hingga Nietzsche dengan segala pemikiran dan pengaruh mereka masing-masing; serta gerakan-gerakan eklektik seperti romantisisme, transendetalisme, idealisme, liberalisme theologis, eksistensialisme, dan pragmatisme lengkap dengan pelopor masing-masing.

Bab sepuluh atau bab terakhir dari buku ini berjudul Filsafat di antara Reruntuhan: Abad Kedua Puluh dan Selanjutnya oleh Michael W. Payne. Bab ini menganalisis revolusi-revolusi primer yang saling berkaitan yakni revolusi-revolusi dalam bahasa dan epistimologi, ilmu pengatahuan, dan etika yang telah menciptakan lingkungan filosofis bagi postmodernisme. Meski dimulai dengan pembicaraan tentang bahasa dan kata-kata yang adalah kesukaan saya, pembahasan ini (saya akui) terbilang berat bagi saya atau entah mungkin saya juga sepertinya kurang atau tidak begitu menaruh perhatian saat membaca bab ini. Intinya, secara pribadi, khusus untuk isi dari bab sepuluh ini saya berutang membaca ulang.

Demikian sewaktu menyelesaikan buku ini, sebuah pertanyaan muncul di kepala saya, dari sekian banyak pemikiran atau pandangan tersebut, pemikiran-pemikiran apa sajakah yang kira-kira membentuk kerangka berpikir saya sejauh ini. Saya curiga, pandangan abad kesembilan belas sepertinya cukup mengambil porsi lebih di sini sebelum akhir Agustus 2017. Sebelumnya (akhir Agustus 2017 itu), meski mungkin tidak membaca langsung pemikiran mereka, namun hasil pikiran mereka dibaca dan ditafsirkan orang, dituangkan melalui buku-buku baik sastra ataupun nonsastra, lewat film, lewat lagu, lukisan, lewat diskusi-diskusi, jurnal-jurnal ilmiah, bahkan hingga model-model pembelajaran yang dituntut di kurikulum nasional, apalagi sekarang dengan mudah dan sangat amat banyak bertebaran di media-media sosial sebagai bahan makanan sehari-hari.

Di akhir catatan ini, saya hanya mau bilang, saya merasa kaya sekaligus miskin setelah selesai membaca buku ini. Kaya karena banyak momen ‘aha’ dan ‘wow’ selama membaca. Miskin karena dalam setiab babnya, ada puluhan bahan bacaan yang menjadi rujukan dan hampir semua bahan bacaan tersebut belum saya baca.

Hal terakhir, buku ini sangat direkomendasikan buat siapa saja yang mau belajar membaca arus zaman. Seumpama paragraf deduktif, buku ini adalah kalimat utamanya, buku-buku rujukan/referensi dengan para tokoh/pemikir utama setiap zamannya yang dicantumkan dalam buku ini adalah kalimat-kalimat penjelasnya. Semangat membaca… 😎💪🙏

 

 

 

 

 

Merayakan Keseharian

Lagu dari Fil 3:13-14

Lagu yang saya dengar sewaktu belum sekolah. Waktu itu ikut menyanyi tanpa tahu artinya apa dan dari mana sumbernya.

Berikut kutipan lirik lagunya yang saya ingat:

“aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
dan berlari-lari (lari-lari-lari-lari-lari-lari-lari-lari) pada tujuan, memperoleh hadiah (hadiah, memperoleh hadiah,hadiah), yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Catatan:

Pagi tadi bacaan devosinya diambil dari sini. Sontak saya teringat akan lagu masa kecil yang pernah saya dengar dan saya nyanyikan ini.

Diberkatilah ia yang pernah mengajarkannya kepada saya dan menyanyikannya bersama saya. Meski sekarang ia terkungkung sakit, syukur saya tetap kepada Tuhan yang telah menghadirkannya di tengah-tengah dunia ini. 😍🙏😇

Refleksi

Kembali 😊

Berbahagialah mereka yang mengenal dan menyembah-Mu. Sebab bagi mereka, diri mereka tak lagi begitu penting untuk dipikirkan. Bagi mereka, segala tentang mereka sudah selesai. Yang penting bagi mereka adalah bagaimana Kau dikenal, bagaimana orang-orang pun merasakan sukacita yang sama seperti yang mereka rasakan.
Tak ada ketakutan atau keraguan dalam diri mereka memandang hari esok. Sebab mereka tahu, Kau yang mengutus, tentu Kau yang memimpin. Kalau ada aral melintang, tentu Kau punya maksud. Kalau mereka harus cacat/rusak bahkan mati di situ, dan mungkin pikir orang pekerjaan itu berhenti di situ, mereka tahu mereka tidak ‘rugi’ apa-apa. Itu mau-Mu untuk mereka. Tentang pekerjaan itu, tentu akan ada orang lain yang Kau utus meneruskannya.
Dalam mereka melakukan pekerjaan itu, entah diri mereka dikenal atau tidak, bukan lagi masalah berarti bagi mereka. Toh, tujuan utama adalah Kau yang dikenal, bukan mereka.

Dalam masa-masa itu pun, sering terdapat kesalahan mereka. Namun mereka sadar, kesalahan itu adalah milik mereka. Sebab segala yang baik dan mulia dan yang sempurna adalah hanya milik-Mu.

***

Kalau matamu melihat hanya sampai kepadaku, maka aku gagal, dan itu adalah kesalahanku.
Bagaimana caranya kau kuantar sampai kepada Dia?

God's Story

Melihat Pasyur Masa Kini

Pasyur, atau dalam NIV dan KJV ditulis Pashhur dan Pashur, adalah seorang imam yang menjabat kepala di rumah Tuhan di masa Nabi Yeremia. Sewaktu mendengar nubuatan Yeremia tentang kemurkaan Tuhan, ia dengan serta merta memukul dan memasung Yeremia di pintu gerbang Benyamin di atas rumah Tuhan.

Meski ketika usai membaca kisah ini saya sendiri agak merasa janggal, sebab orang datang memberitahu apa yang benar, ia malah disiksa. Tapi kemudian saya menyadari, di masa sekarang, sebenarnya ini bukan sesuatu ganjil dan langka. Alangkah banyak dari kita yang hanya mau memanjakan telinga ketika mendengar khotbah dan pengajaran di ibadah gereja ataupun persekutuan-persekutuan. Kita lebih suka ia yang mengajar atau berkhobah di depan sana hanya bicara yang baik dan menyenangkan telinga saja, memotivasi kita untuk terus maju dan sukses tanpa mau terbuka kepada teguran yang keras akan keburukan-keburukan kita.

Bahkan sekarang ini juga para pengajar diminta membicarakan yang baik-baik dan berupa hiburan (bukan berarti hiburan itu tidak perlu, tapi toh dalam iman kita sudah punya harapan, bukan?) saja sesuai kebutuhan mereka yang mendengar. Seorang akan minta kesuksesan studi, seorang yang lain minta kesembuhan dari sakit panu, seorang yang lain minta jodoh, seorang yang lain minta kaya, seorang lain minta yang berbeda demikian seterusnya. Justru kalau seorang Hamba Tuhan yang mengajar dan menegur dengan keras, ia malah akan ditolak atau ditinggalkan, bahkan dicaci-maki, atau mungkin juga akan sesadis Pasyur di zaman Yeremia ini. Ia yang mau membersihkan borok untuk diobati justru kita tolak dan siksa, sementara ia yang datang bermanis-manis dalam kepalsuan justru kita sanjung-panjung (sungguh manusia ini memang terlalu). Demikianlah laku kita sebagai contoh Pasyur/Pashhur/Pashur zaman sekarang.

Merayakan Keseharian

Evaluasi Minggu Pertama Libur

Terpujilah Kau, Pemilik Langit Bumi dan Segala Isinya. Minggu pertama libur kali ini sangat memuaskan. Selalu ada momen berharga setiap harinya. Semuanya tak melulu tentang sukacita dengan rasa manis-manisnya, namun ada juga dukacita dengan segala rasanya baik sedih, kaget, tegang, ragu, takut, marah, geram, miris, hingga ada yang rasa-rasanya ingin mengutuk. Semua diizinkan terjadi. Mau tidak mau, terima tidak terima, tetaplah bahwa hari ini ketika tanganmu masih memegang pena dan menulis di kertas, atau mengetikkan huruf-huruf pada layar hp dan menuliskannya di sini, itu semua semata-mata karena anugerah-Nya. Thanks to You, God Almighty🙏😇.

Merayakan Keseharian

Momen Kairos 3 (13/6) Baca-Rita

 

Mau promosi stiker NASA 😉

Pertemuan yang di gambar ini jadinya memang sudah malam. Rencana awal kemarin, seusai mengajar di kelas Rabu Gembira, saya akan lanjut bertandang ke rumah Esty bersama Lala dan dua kawan lainnya. Ternyata dua kawan lainnya tak jadi ikut. Maka jadilah saya dan Lala memonopoli waktu Esty seharian ini. Selain kenyang cerita, kami juga kenyang makan. Tak hanya itu, saya sempat juga bertemu dan mendapat cerita khusus dari bapak Esty. Kami cukup nyambung karena bapak Esty adalah orang Amarasi, dari Marena-Baun😍😎. Inti dari semua ceritanya adalah andalkan dan tetap utamakan Tuhan. Meski singkat pertemuan itu, tapi saya selalu menyimpan khusus pesan-pesan beliau kalau ketemu :D. Pertama kali ketemu tahun 2010 di Jogja, beliau mendukung dan mendorong untuk saya terus menulis. Di tahun 2015, beliau terus mendorong untuk tetap bekerja keras dan selalu berdoa. Kali ini di masa tuanya, sama seperti Salomo di kitab Pengkhotbah, beliau menasihati agar tetap bersandar dan mengutamakan Tuhan, yang paling ditekankan adalah membaca alkitab, sebab firman Tuhan adalah makanan yang sangat penting bagi jiwa. “Masakan kita diinstruksikan makan 3 kali sehari lantas baca alkitab, berapa banyak sehari coba?” begitu katanya. Memang, bapak dan anak tidak jauh beda. Mereka sama-sama hidup untuk menginspirasi orang lain 👏👏😍.

Sampai sore kami di rumah Esty, karena cerita belum selesai-selesai juga, kami melanjutkan ke war-kon sekalian mau bertemu Ruru dan Itin. Cerita demi cerita dialirkan dari mulut Esty namun tak kunjung selesai. Ceritanya sungguh kaya. Jangan kau pikir kau baca banyak buku, nonton banyak film, pelototi vlog-vlog daily life negeri paman sam lantas kau tahu semua hal di sana. Jangan. Tidak semua yang ditampilkan adalah seperti demikian. Artinya, jangan kau hanya diperlihatkan, diceritakan, diajari, lantas kau sendiri bilang oh sudah..sudah saya sudah tahu. Alangkah baiknya kau pergi sendiri, alami dan rasakan. Biar kau tahu sendiri bagaimana rasanya ketika kau yang mengalaminya secara langsung. Jelas itu lebih berarti dan mengekal. 😉😄😅

Demikian satu momen berharga hari ini dibekukan dan dikekalkan.

Merayakan Keseharian

Momen Kairos 2 (13/6): Mengajar di Kelas Rabu Gembira

Liburan sekolah sudah dimulai minggu ini. Lumayan liburnya sebulan. Rencana saya sebelumnya (lebih tepatnya beberapa hari belakangan ini), kalau memang minggu pertama saya belum pulang, maka alasan pertama dan yang menjadi satu-satunya alasan adalah banyak undangan pernikahan beberapa kawan di Lentera dan Dian.

Namun, siapa sangka kemarin saya diajak seorang kawan (Mona) menjadi relawan pengajar untuk anak-anak SD-SMP di sekitaran Naikolan. Katanya kami akan mengajari mereka penggunaan komputer khususnya microsoft word. Awalnya saya merasa bingung apa yang mau diajarkan sebab yang ada di kepala saya adalah semua anak-anak di Kupang tentu tidak asing lagi dan pasti sudah bisa dengan yang namanya miscrosoft word. Meski menjawab saya akan menyediakan waktu untuk itu namun jauh dalam hati tentu ada keraguan apakah saya bisa mengajari mereka atau tidak. Saya bukan guru TIK. Saya juga buta tentang penggunaan komputer kecuali yang dasar-dasar, ya, cukuplah. Saya terus bertanya apa lebih tepatnya yang mau diajarkan dan jawabannya adalah pembuatan daftar isi. Alamak😯! Saya sendiri pun sudah lupa cara pembuatan daftar isi itu kecuali kalau buka di internet, ya, dari tidak bisa sama sekali menjadi sangat bisa (plus sekali😜) dan langsung jadi master (kalau yang ini saya punya pengalaman memuaskan bagaimana memasang senar gitar sendiri hingga menyetem semua senarnya menjadi nada yang tepat, yang sebelumnya saya anggap itu hanya bisa dikerjakan para master yang ada di atas-atas-atas tambah atas lagi sana😂 berkat aplikasi yang tersedia gratis di playstore).

Ok, mengajari tentang pembuatan daftar isi sudah tak lagi menjadi masalah. Aman.

Paginya (maksudnya pagi tadi), saya bersiap pergi dengan semangat siap berbagi. Oleh Oma Te’o, seorang hamba Tuhan yang saat ini dipercaya mengelola kelas tersebut memimpin mereka lantas membagi kelompok. Saya kebagian mereka yang anak-anak baru. Artinya mereka yang baru pertama kali bergabung dalam kelas ini (Oh, ya, saya belum memperkenalkan nama kelas tersebut. Jadi kelas itu namanya Rabu Gembira. Sesuai namanya, kelas atau pertemuan belajar itu dilaksanakan setiap seminggu sekali yakni di hari Rabu).

Kelompok saya terdiri dari tujuh orang. Enam anak laki-laki dan satu perempuan. Setelah saya bawa mereka ke ruang tengah dan menanyakan kepada mereka terkait penggunaan dasar komputer, didapati bahwa mereka tidak seperti yang saya sangka sebelumnya. Meski tinggal di kota dan meski sudah di bangku SMP, bukan berarti mereka sudah bisa dengan lincah dan akrab dengan perangkat komputer. Buktinya dengan ketika dipanggil satu-satu untuk membuka microsoft word saja pun tetap gagal meski mencoba berkali-kali. Dari ke-7 anak tersebut, hanya satu yang dipanggil maju dan sekali mencoba langsung jadi yakni satu-satunya anak perempuan di kelompok itu. Dari situlah saya mulai menurunkan ekspektasi saya lantas memulai dari yang lebih dasar. Persiapan tentang pembuatan daftar isi saya simpan kembali. Padahal sebelumnya saya bahkan sempat berkonsultasi dengan guru TIK kelas 7 di Lentera. Niat memang saya ini, ya😅.

Komputer di rumah belajar tersebut hanya berjumlah tiga buah. Karena gurunya tiga orang, kami masing-masing memakai satu komputer untuk mengajar. Jadi sepanjang belajar, anak-anak secara bergiliran memakainya untuk belajar membuka-tutup ms word, mengetik, mengedit, dan menyimpan dokumen.

Meski terbatas, mereka terlihat antusias sekali. Senang melihat mereka mau benar-benar belajar. Saking semangatnya belajar, kami sampai tak ingat waktu pulang sehingga harus dipanggil berkumpul kembali ke kelas besar.

Sebelum pulang, ternyata dari mereka meminta Oma Te’o untuk menambah pertemuan khusus di hari libur ini menjadi dua kali pertemuan seminggu. Dan kesepakatannya selain Rabu adalah Kamis. Maka, doakanlah, besok saya akan mengajar lagi. Dan saya bersemangat untuk itu. Berbagi ilmu kepada mereka yang benar-benar membutuhkan jelas berbeda sekali dengan berbagi kepada mereka yang hanya mengikuti karena aturan atau perintah atau tekanan dsb😄.

Akhir dari postingan ini, tentu adalah rasa syukur dengan sukacita tak terhingga sebab Dia memilihkan waktu dan momen yang baik untuk menjadi bermakna. Biarlah segala kemuliaan kembali kepada Dia.