Jalan-jalan di Amarasi dan To Kill a Mockingbird

Ternyata tidak mudah memang berkeliling Amarasi. Medannya sungguh aduhai. Jalan-jalannya bahkan jalan lintasan desa sekalipun masih banyak berlubang. Ini jalan lintasan desa,  Bung,  bukan jalan gang atau lorong-lorong.

Saya tak sempat mengambil banyak foto memang. Sebab saya harus menyetir. Di belakang ada adik sepupu saya, bukannya tak bisa memotret, tapi ia seorang anak SD yang bahkan untuk melepas pegangan saja tak mau dia, apalagi memegang hp.

Badan ini jadi sakit.  Biarpun demikian, misi membaca To Kill a Mockingbird versi bahasa aslinya mesti tetap jalan. Bagus buku ini. Dalam dialognya, benar-benar menggunakan Bahasa Inggris sehari-hari. Saya mesti berpikir ulang,  ini maksud kalimatnya apa.  Sebab kalau dalam terjemahan Bahasa Indonesia, bahasanya lurus-lurus saja, dalam artian menggunakan Bahasa Indonesia yang baik, tidak terbaca dialegnya. Nah,  dalam versi aslinya inilah,  kau bisa merasakan langsung bunyi percakapan Scout,  Jem, Dill, dan teman sebaya mereka lainnya.

“Boo Radley” dan “Radley Place versi Anice”

Telah banyak novel bagus (yang sudah dibaca maupun yang belum, yang diketahui maupun tidak sama sekali), dan masih akan datang juga novel-novel bagus. Tapi parsetan dengan semua itu. Saya hanya punya satu novel yang menjadi favorit, To Kill a Mockingbird dari Harper Lee. Dan betapa senang hati saya ketika di bagian pembuka film  Almous Famous, Cameron Crowe menampilkan tokoh utama dan ibunya yang membicarakan tokoh-tokoh dalam To Kill a Mockingbird, sekaligus lewat tokoh sang ibu, ia menegaskan bahwa Boo Radley adalah tokoh paling menarik dalam novel karya Harper Lee itu. Saya setuju dengannya 100 persen♥♥♥.

boo radleyMemang tokoh favorit saya adalah Jean Louse alias Scout, tetapi cerita itu akan kurang berkesan kalau tak ada Boo Radley dengan pekarangan Radley Place di sana. Di ulasan-ulasan lain tentang Too Kill a Mockingbird, mereka lebih menyoroti tentang sang ayah yang membela orang kulit hitam. Tapi bagi saya, itu adalah kisah mereka di sana (Amerika) pada waktu itu (tahun 1930-an). Saya kurang memiliki kedekatan dengan kisah-kisah demikian. Ketertarikan saya dan kedekatan saya adalah keseharian Jean Louse bersama abangnya, Jem, dan kawan bermain mereka, Dill, dengan tempat misterius yang mereka sebut Radley Place.

Radley Place terletak tiga rumah di sebelah selatan rumah mereka. Tempat itu adalah batas jarak bermain musim panas tatkala Scout berusia enam tahun dan Jem hampir sepuluh. Sekalipun rumah itu terbilang tetangga mereka, namun di benak Scout, tempat yang aneh dan menyeramkan. Menurutnya, Radley Place dihuni makhluk tak dikenal yag gambarannya saja cukup membuat mereka menjaga kelakuan selama berhari-hari.

Radley Place tak pernah dibuka pada siang hari atau pada hari Minggu (sebuah kebiasaan yang bertentangan dengan Maycomb di mana pada hari-hari Minggu pintu rumah dibuka untuk dikunjungi pada sore hari).

Sekalipun misterius dan menyeramkan, tempat itulah yang harus mereka lalui setiap pergi dan pulang sekolah kalau tak mau mengitari kota yang jaraknya lebih jauh beberapa kali lipat. Namun karena menganggapnya misterius dan menyeramkan, setiap kali pergi atau pulang sekolah, mereka selalu melewati tempat itu dengan berlari.

Kata orang-orang, bahkan orang negro tak akan melewati Radley Place malam-malam, sebab lebih baik melintas ke trotoar seberang dan bersiul sambil berjalan. Pekarangan sekolah Maycomb berbatasan dengan sisi belakang tanah Radley; dari kandang ayam Radley, pohon kacang pecan yang tinggi menggugurkan buahnya ke pekarangan sekolah, tetapi kacang-kacang itu bertebaran tak tersentuh oleh anak-anak. Kacang pecan Radley bisa mematikan. Bola bisbol yang terpukul masuk ke halaman rumah Radley berarti hilang dan tak perlu dipertanyakan. (hal 23)

Kedua kakak beradik itupun tak mau berurusan banyak dengan tetangga mereka apalagi setelah diperingatkan ayah mereka, Atticus, selain bahwa pohon di depan rumah Radley memiliki ceruk yang di sana sering ditemukan permen, dan aneka permaianan, boneka sabun, medali berkarat, atau keping tua koin Indian, dan barang-barang itu (kecuali permen yang langsung dikunyah) disimpan dalam satu peti khusus. Suatu kali ketika Jem dan Scout bersepakat memberikan surat permintaan terima kasih, ternyata di ceruk pohon itu sudah ditutupi semen oleh sang kakak dari keluarga Radley. Sedih mereka bukan main.

Dengan kedatangan kawan bermain musim panas mereka, Dill, intensitas mereka dengan Radley Place semakin meningkat. Kepada Dill, mereka teruskan cerita tentang situasi tetangga mereka yang mereka dengar dari cerita orang-orang dewasa yang beredar.

Katanya, di dalam rumah itu tinggal sosok hantu jahat. Makanannya adalah tupai dan kucing yang disantapnya mentah-mentah. Matanya melotot, giginya kuning, dan air liurnya menetes hampir sepanjang waktu. Setiap kejahatan di Maycomb, selalu yang dipelototi adalah penghuni Radley Place, walaupun pada akhirnya diketahui jelas adalah ulah orang lain.

Bersama Dill, mereka pun menduga-duga kira-kira apa yang sedang terjadi di dalam rumah. Mengisi waktu liburan musim panas dengan bermain peran, di antaranya memerankan penghuni Radley Place. Saling menantang satu sama lain, siapa berani berlari masuk ke halamannya, siapa berani melewai gerbangnya, siapa berani menyentuh pintu rumahnya, hingga memunculkan perdebatan dan ejekan tentang kepercayaan tentang sesuatu yang disebut sebagai uap panas (kalau di Indonesia biasa disebut kuntilanak atau kalau di Kupang dengan buntiana–mungkin dari kata perempuan bunting anak kecil barangkali…:D, kalau kau berjalan dan tiba-tiba merasa bulu kudukmu merinding maka diduga dianya ada di sekitar situ, dan peringatan karena dia biasanya berdiri merentang di jalan-jalan yang sepi, maka kalau nasibmu menabrak dia maka kau bisa-bisa jatuh sakit. Maka itu, kalau Di Maycomb, dua kakak beradik ini punya mantra untuk mengusir uap panas, maka kita orang-orang sini (dan mungkin termasuk saya (:D)) mengusirnya dengan mengucap diam-diam doa Bapa Kami atau berkomat-kamit, ‘dalam nama Yesus,’ berkali-kali… 🙂 :D). Selama bersama Dill, selalu saja ada ide untuk kalau bisa memancing keluar orang yang disebut sebagai Boo Radley. Hingga di suatu malam, tanpa keikutsertaan Scout, Jem dan Dill berangkat sendirian demi mendekat ke jendela rumah yang diduga adalah tempat Boo Radley berada. Misi gagal. Justru yang terjadi adalah sang kakak dari keluarga Radley keluar membawa senapan dan membuat bunyi tembakan di malam sepi yang tentu saja mengagetkan warga Maycomb. Jem dan Dill berusaha keluar melewati pagar kawat belakang yang bersisian dengan pekarangan sekolah, sayang celananya tersangkut. Takut dikejar, ia tinggalkan celananya di sana. Keduanya mendekati kerumunan di depan rumah Radley dengan Jem yang tak bercelana. Kepada sang ayah, mereka mengaku sedang bermain dan taruhan, yang tentu saja membuat tante Dill geram. Malam itu sebubarnya kerumuman, sekalipun takut dan tak pernah sepanjang hidupnya menyentuh pekarangan Radley, Jem nekat keluar malam-malam demi mengambil kembali celananya yang tertinggal. Scout menunggu abangnya dengan gelisah, namun lega dan ikut senang ketika abangnya pulang dengan sudah bercelana. Anehnya, Jem tak bicara apa-apa tentang bagaimana ia mendapatkan kembali celananya itu. Hingga mendekati akhir cerita, barulah ia mengaku kepada Scout, malam itu ketika ia tiba di pagar belakang rumah Radley, didapatinya celana yang tadi tersangkut itu sudah dalam keadaan terlipat rapi, hanya ketika ia menengok ke sekitar tak ada tanda siapa-siapa di sana. Hal itulah yang membuat dia bungkam bertahun-tahun.

Di malam Halloween, terjadi insiden sepulangnya Jem dan Scout dari gedung sekolah. Dalam lingkup kegelapan, kedua kakak beradik ini menyusuri jalan pulang ke rumah. Di tengah jalan mendekati pohon di depan Radley Place, mereka disergap orang tak dikenal. Scout jatuh tergiling-guling, tangannya digencet keras, dan Jem pingsan hingga tangannya patah. Mereka mungkin saja bisa mati kalau saja tak datang seseorang lain yang muncul di dalam gelap itu. Jem yang pingsan diseret oleh seseorang menuju rumah. Scout meraba-raba dalam gelap dan melangkah mengikuti mereka menuju rumah. Saat kostumnya dibuka, barulah ia tahu yang menyeret Jem adalah seorang lelaki desa yang mungkin saja datang di acara Halloween dan belum pulang. Lelaki itu diam saja semenjak tiba.

Dokter dan sheriff Maycomb yang ditelpon datang. Setelah melihat penyerang anak-anak yang tergeletak di bawah pohon depan rumah Radley, ia datang dan mencoba mencari informasi detail dari Scout. Scout menceritakannya sebagaimana yang ia tahu. Ketika ditanya sheriff, siapa orang baru yang terhuyung-huyung dan terengah-engah dan batuk-batuk seperti mau mati, setelah Scout merasa lepas dari gencetan sang penyerang, ditunjuknya lelaki yang sedang berdiri di sudut itu. Orang desa itu bersandar di dinding. Perawakannya kurus, tangannya putih, putih pucat yang tak pernah kena matahari, wajahnya putih, seputih tangannya, bercelana keki yag dikotori pasir, berkemeja deniim yang robek, pipinya cekung, mulutnya lebar, ada lekukan dangkal di pelipisnya, dan mata kelabunya demikian tak berwarna sehingga Scout sempat mengira dia buta, serta rambutnya yang lepek dan tipis. Saat Scout menudingnya, telapak tangan orang itu bergerak sedikit, meninggalkan noda keringat berminyak pada dinding, dan dia mengaitkan jempolnya pada ikat pinggangnya. Tubuhnya terguncang bersama kejang kecil yang aneh, seolah- dia mendengar kuku menggaruk papan. Namun saat Scout mulai memandangnya dengan takjub, ketegangan perlahan mengendur dari wajahnya, bibirnya membuka menjadi senyuman malu-malu, dan sosok tetangga yang selama ini hanya samar-samar di benaknya baru malam itu hadir nyata di depannya. Demikian dengan spontan ia menyapa, “Boo,” yang segera dikoreksi ayahnya, “Mr. Arthur, Sayang. Jean Louse, ini Mr. Arthur Radley…”

Mr. Arthur alias Boo inilah yang telah menyelamatkan nyawa kakak beradik Finch dari serangan preman mabuk di malam Halloween. Sayang bahwa di kejadian itu, bukan sementara libur musim panas sehingga Dill tak ikut berada bersama mereka.

***

Berbicara tentang Radley Place, saya pun punya cerita tentang Radley Place versi saya, sebut saja Radley Place versi Anice. 😀

Radley Place pertama adalah Sonaf di desa kami. Sonaf dalam bahasa Dawan (Timor) berarti istana raja. Lokasi sonaf itu tepat di depan rumah saya. Ia tidak besar sebagaimana sonaf-sonaf pada umumnya karena hanya merupakan tempat singgah sang raja kalau berkunjung mengawasi para pekerjanya yang tersebar di berbagai pelosok kerajaan sewaktu wilayah kecamatan masih berbentuk kerajaan. Sonaf itu tak lagi berpenghuni. Ia hanyalah sebuah gedung tua dengan pekarangan yang tak terawat dan atap-atap seng yang sudah merapuh. Pintu dan jendela ruang tamu pun sudah terbongkar satu-satu. Sekali-sekali memang pewaris-pewaris raja datang menengok, tapi itupun hanya sebentar, dan untuk mengambil hasil tanaman yang kebetulan sedang pada musimnya. Orang-orang sering bilang, jauh di dalam kamar-kamar tersembunyi ada sepasang manusia dengan peliharaan binatang aneh yang tidur di atas tumpukan emas. Katanya kalau kau ingin kaya, datangi saja tempat itu tepat di jam 12 malam. Hanya tak ada orang yang berani karena mereka tahu pasti harus ada tumbal untuk itu.

Luas sonaf adalah satu lokasi kompleks rumah-rumah kami, 7500 m2. Di kompleks rumah kami, tanah dengan luas 7500 m2 itu bisa diisi 12 rumah. Rumah kami tepat berada di sisi timur sonaf. Area itu ditumbuhi rerumpun pisang, kelapa, aneka pohon buah dan obat, serta juga semak-semak. Bagian ini tidak terlalu menakutkan. Hanya yang menjadi senter pembicaraan baik anak-anak kecil maupun orang dewasa adalah bagian depan sonaf yang langsung berhadapan dengan kebun-kebun kelapa, atau pinang, rerimbun pohon pisang, dan beberapa pohon besar, serta sebuah danau kecil. Tak ada orang yang akan melewati bagian depan sonaf itu di malam hari sekalipun itu adalah jalan lintas desa. Apabila lewat, maka harus berdua. Atau orang akan memilih melintasi bagian belakang sonaf yang samping kirinya berjejer rumah-rumah.

Sama seperti cerita Scout tentang Radley Place dan sekolah, semenyeramkan apapun sonaf bagi orang-orang desa, kami tetap harus pulang pergi melewati bagian depan sonaf. Dari rumah, saya harus berjalan 25 meter ke arah utara di mana di situ ada pertigaan. Dari pertigaan, saya tinggal berjalan lurus saja ke arah barat sejauh 200 meter dan tiba di sekolah.

Sewaktu duduk di bangku TK dan SD, di hari-hari pertama sekolah, saya harus diantar orang tua melewati sonaf. Melewati lebar sonaf yang berukuran 100 meter itulah saya akan merasa lega dan bisa berjalan sendiri ke sekolah. Kalau sepulang sekolah, setiap anak yang akan melewati sonaf harus saling menunggu satu sama lain barulah beramai-ramai kami melewati sonaf. Begitu rutinitas kami setiap hari selama di bangku TK dan SD. Pernah sekali (saya lupa kelas berapa), kelas kami terlambat keluar, anak-anak lain sudah pulang lebih dahulu. Karena di kelas kami, tinggal kami dua orang yang rumahnya harus melewati sonaf, maka kami memilih jalur melewati belakang sonaf, di mana pertama-tama kami harus menuju ke selatan, barulah melintasi belakang sonaf, kemudian kembali ke utara. Kalau memang dalam keadaan terpaksa dan mendesak harus melintasi bagian depan sonaf, maka saya melakukan apa yang juga dilakukan Scout ketika melewati Radley Place, berlari, hingga tiba di ujung sonaf yang berbatasan langsung dengan lapangan desa, dan baru merasa lega. 😀 Namun itu hanya berlaku untuk siang hari, tak pernah di waktu malam.

Radley Place kedua adalah satu rumah di puncak bukit di daerah Walikota, Kupang. Waktu itu saya belum bersekolah. Saya sempat lama tinggal di Walikota bersama tante saya. Kalau di sonaf, kami tak pernah mengisengi tempat itu, kebalikan di Walikota, ketika tiba senjad hari, bocah-bocah yang tinggal di Jalan Sam Ratulangi (saya lupa Jalan Sam Ratulangi nomor berapa, kala itu masih sepi) mulai berkumpul di jalan di bawah bukit. Kerumuman itu terdiri dari anak-anak yang hampir semuanya berada di kisaran usia yang tidak terpaut jauh.

Aksi yang dilakukan di sana adalah berencana siapa yang memimpin, siapa yang mengatur kapan harus jalan dan kapan harus kembali berlari menjauh. Kemudian beberapa anak akan mengambil batu-batu kecil dan melemparinya ke halaman rumah. Di antara mereka saling menantang, siapa yang berani berjalan memasuki pekarangan rumah, siapa yang berani menyentuh pintu rumah, siapa yang bisa melempari dengan batu mengenai salah satu daun jendela, siapa yang bisa melempari dan mengenai atap rumah dan sebagainya. Apabila salah satu di antaranya berhasil mengenai sasaran, maka semua kami akan berdecak kagum, bertepuk tangan, lalu berlari secepat dan sejauh mungkin menghindari rumah tersebut, menunggu apa atau siapa yang akan keluar dari dalam rumah itu. Bila rumah itu tetap diam, maka pelan-pelan kami akan mendekat lagi untuk beberapa orang di antara kami kembali saling menantang dan mengulangi lagi aksi melempar dengan batu kecil atau berteriak mengganggu siapa yang di dalam rumah agar berani keluar memunculkan diri.

Sampai saya meninggalkan Walikota untuk masuk sekolah, saya tak pernah tahu apa latar belakang rumah di puncak bukit Walikota itu menarik perhatian kami. Hanya samar-samar saya ingat bahwa setiap sore akan ada beberapa pasang burung merpati yang beterbangan di atap rumah tersebut.

Demikian sedikit cuplikan tentang Boo Radley dan Radley Place versi Anice, bertolak dari tokoh Boo Radley yang ditegaskan Cameron Crowe melalui salah satu tokoh filmnya sebagai tokoh paling menarik dalam buku To Kill a Mockingbird karya Harper Lee.

Antara Film “Almost Famous” dan Novel “To Kill a MongkingBird”

Almost_famous_poster1Berikut ini sedikit cerita tentang satu lagi film yang berkaitan dengan menulis selain Finding Forrester dan The Freedom Writers atau satu film Korea yang berjudul It’s Ok, That’s Love, yakni Almost Famous.

Bagian pembuka film ini langsung menyedot perhatian. Bagaimana tidak, ketika menampilkan tokoh utama (William Miller) dan ibunya yang sedang berjalan menyusuri area pertokoan San Diego, langsung dimulai dengan percakapan tentang tokoh-tokoh dalam novel To Kill a Mockingbird dari Harper Lee (walau mereka sama sekali tidak menyebut tokoh favorit saya, Jean Louise Finch alias Scout :()

cover of to kill a mockingbird

Sumber: Amazon

Sang ibu mengaitkan anaknya dengan Atticus Finch, ayah Scout. Sang anak menanggapi balik karena ia memang menyukai pengacara Maycomb yang jujur, tetap teguh mempertahankan kebenaran, sekaligus seorang ayah yang baik tersebut. Ditanyai ibunya, apa maksudnya dari ayah yang baik, sang anak menjawab, walau sendiri ia mampu membesarkan anak-anaknya, yang langsung disanggah balik sang ibu, siapa perempuan yang datang setiap hari ke rumah mereka? Calpurnia, sahut sang anak. Ya, kau mengingatnya, gumam sang ibu.  Lalu bagaimana dengan Boo? Kembali tanya sang anak dengan penasaran. Boo adalah tokoh paling menarik dalam cerita To Kill A Mockingbird, jawab sang ibu yang kemudian menarik kembali tangan anaknya untuk mundur karena melihat sesuatu yang janggal pada kaca satu toko aksesoris natal.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sang ibu tanpa sungkan menegur pekerja toko tersebut yang menulis Merry Xmas pada kaca jendela tokonya. Excuse me, I’m a teacher, katanya memperkenalkan diri. Xmas’ is not a word in English language. It’s either Merry Christmas.. or Happy Holidays. Sang pekerja yang sedang melabur kata-kata itu hanya melongo lantas berterima kasih atas saran dari seorang ibu tak dikenal tersebut. 😀

Menit-menit selanjutnya berkisah tentang sang anak tersebut yang memiliki keinginan besar untuk menjadi jurnalis khusus meliput musik rock n roll yang sebaliknya ditentang oleh ibunya yang adalah profesor psikologi di universitas. Sebagai orang yang menggeluti psikologi ia tahu benar seperti apa model dan kehidupan para musisi rock n roll itu. Namun demikian, ia tetap teguh menemui seorang mentor yang mendukungnya menulis serta memberikan sedikit gambaran bagaimana gambaran tentang jurnalis di dunia rock n’ roll. Kepada mentor itulah ia selama di bangku sekolah sudah sering mengirim artikel-artikelnya untuk dimuat di majalah lokal yang dipimpinnya.

Dimulai dengan perkenalan dengan satu grup gadis-gadis pecinta musik, ia pun bertemu dengan grup Stillwater. Dari sanalah ia kemudian mengikuti tur mereka dan mengetahui segala seluk beluk kehidupan para musisi rock n’ roll yang sebenarnya. Di tengah tur, kabar dari datang dari Rolling Stone, foto awak grup band Stillwater akan tampil di cover depan, sebuah kabar yang menguakkan rasa haru dan kegembiraan luar biasa.

Di akhir tur, hasil tulisannya diserahkan dan itu dinilai bagus awalnya oleh pimpinan Rolling Stone. Sayang, karena tak mau reputasi bandnya hancur, ketika dikonfirmasi, awak band itu menyangkal kebenaran cerita yang sudah ditulis. Penyangkalan itu dengan cepat diketahui kru grupies yang juga dikhianati. Oleh taktik kru grupies tersebut, tokoh utama dipertemukan kembali dengan salah satu anggota band dan melakukan rekonsiliasi. Tokoh utama kembali menulis, anggota keluarganya yang sempat dingin kembali hangat, grup band tersebut kembali dihargai dan mereka pun mengadakan tur-tur berikutnya.

Dari beberapa sumber dikatakan Almost Famous berkisah tentang sang penulis dan sutradaranya sendiri, Cameron Crowe, ketika ia baru saja memulai karirnya bekerja di majalah musik dan mengikuti tur-tur yang diadakan grup-grup band yang baru beranjak besar kala itu (tahun 1970-an). Dari sinilah dapat dilihat, bahwa karya Harper Lee dalam To Kill a Mockingbird dan Cameron Crowe dalam Almost Famous memang serupa. Keduanya mengambil ide cerita dari pengalaman mereka sendiri dan dituangkan ke dalam karya dengan tentunya mengubah beberapa setingan termasuk nama-nama tokohnya atau tempat. Bila Harper Lee mengambil kisah tentang orang kulit hitam yang dituduh melecehkan orang kulit putih kemudian masuk penjara sekalipun sudah dibela seorang pengacara terkenal nan cerdas, dan tentang keseharian masa kecilnya bersama seorang anak laki-laki kecil tetangganya, maka Cameron Crowe dengan perjalanan turnya bersama grup-grup band Amerika kala itu.

Tentu bukan dua orang ini saja yang membuat karya dengan mengambil sesuatu yang dekat lekat dengan kehidupan personal (di luar sana banyak para creator yang mendapat inspirasi dari kehidupan personal mereka), namun di sini saya khusus memang hanya ingin menghubungan keduanya, antara film Almost Famous dan novel To Kill a MongkingBird.

Terkait menulis, berikut hal-hal yang bisa dipelajari:

menulis dan menulis

  1. Menulis karena kau memang suka menulis, dan yang perlu kau lakukan adalah hanya menulis dan menulis
  2. Tidak mudah menyerah untuk memperoleh informasi
  3. Berani menyuarakan pendapat
  4. Siap menerima konsekuensi sebagai penulis kalau kau sudah terjun ke dalam dunia itu
  5. Menjadi penyimak yang baik
  6. Menangkap setiap momen sebagai bahan tulisan
  7. Bertanggungjawab dengan tugas yang diberikan
  8. Menulis cepat
  9. Menulis dengan jujur. “Be honest, and unmerciful!” demikian nasihat sang mentor dalam Almost Famous.

Tak lupa  saya lampirkan link tambahan kalau kau sudah menonton film Almost Famous ini, yakni:  Mengenal lebih dekat film Almost Famous dari the official site for Cameron Crowe. 🙂

Selamat menonton dan selama berenang dalam dunia menulis…!!! ♥♥♥ 😀 🙂 

 

Dari Film ‘Silence’ mengantar kepada Kumpulan Cerpen ‘Stained Glass Elegies’

8fff7047-1fda-43ad-9d11-d809d4dce550

Sumber: desimartini

Pertama kali saya tahu dan dengar bahwa ada film berjudul Silence ketika disebutkan Ibu Ni Luh Sri di PRK mingguan di Kupang awal Maret 2017. Waktu itu ia hanya menyinggung sebentar karena berkaitan dengan khotbah yang dibawakan yakni seberapa kuat iman kita kepada Tuhan ketika didera penderitaan bertubi-tubi. Menurutnya sekilas, film itu baik untuk ditonton karena berkisah tentang penganiayaan yang dialami para penginjil abad 17 di Jepang. Seperti biasa ketika mendengar sesuatu pertama kali, saya sempat menuliskannya di buku catatan saya 😀 dan berjanji kepada diri sendiri akan mengecek lagi di internet supaya kalau bisa ditonton nanti di Cinemaxx kalau memang sudah/masih/akan ada. Namun seperti biasa pula sepulangnya dari sana, bila tak lagi ditengok maka saya pun akhirnya jadi lupa .

Seminggu lalu ketika proyek UTS selesai dilaksanakan dan tinggal menunggu waktu untuk SLC, di salah satu kelas, dari jurnal yang saya tengok, di sesi sebelum jam pelajaran saya, kegiatannnya di hari itu adalah menonton film. Ketika saya tanya apa judul film yang mereka tonton, mereka menjawab, Silence. Saya diam namun dalam hati agak heran karena baru beberapa hari lalu saya mendengar tentang film itu yang katanya sementara atau akan diputar bioskop Indonesia dan saya pun sementara dalam perencanaan mengecek dan akan menonton film itu. Nyatanya, di kelas, anak-anak dan seorang guru lain yang tidak ikut bergabung di PRK (sangkamu hanya orang-orang yang bergabung di PRK saja yang mesti tahu? Sangkamu, sempit memang ;):)) sudah menonton lebih dahulu. Sewaktu istirahat saya pun menghubungi guru tersebut dan meminta filmnya. Anehnya saya tak segera menonton.

Barulah di hari libur mid semester kemarin, di rumah saya sempatkan diri bersama seisi anggota keluarga (paling cinta momen-momen demikian saat liburan…:D) menontonnya. Di akhir film ketika di bagian credit title itulah baru saya tahu dan melihat bahwa film tersebut ternyata diangkat berdasarkan novel Silence Shusaku Endo (nama inilah yang menjadi alasan kenapa saya merasa perlu menulis apa yang sekarang dibaca..:D) Kalau bukan karena nama orang ini, mungkin saya tak berpikir untuk menuliskannya.

Baiklah kenapa saya perlu menuliskannya? Karena nama Shusaku Endo adalah satu sosok penulis Jepang yang saya tahu namanya pertama kali lewat buku kumpulan cerpennya Stained Glass Elegies. Buku ini dialihbahasakan ke Bahasa Inggris oleh Van C Gessel. Tentang buku ini sebenarnya saya sendiri sudah pernah terpikirkan untuk membuatkan ulasannya sekadar sebagai pengingat bagi saya ketika pertama kali baca beberapa tahun lalu, hanya entah kenapa (nanya lagi, ask yourself–menunjuk diri sendiri) tidak sempat. Baru kali inilah setelah menonton film Silence ini, saya kembali diingatkan tentang salah satu bukunya ini, Stained Glass Elegies.

Bersambung ulasan Stained Glass Elegies.

Menonton Film “Nokas”

*Dari kacamata bocah melihat keterlibatan bocah 😉 🙂

Nokas adalah sebuah film dokumenter karya seorang sineas muda NTT, Manuel Alberto Maia atau yang biasa disapa dengan nama Abe.

Film ini akhirnya diputar di rumah sendiri, kota Kupang, pada tanggal 17-18 Februari 2017 tepatnya di Taman Budaya NTT, setelah sebelumnya mengikuti beberapa ajang di antaranya Eurasia International Film Festival di Kazakhstan pada 27 September 2016 dan Singapore International Film Festival 2016. Di Indonesia, Nokas ini pun masuk dalam daftar nominasi FFI 2016 yakni dalam 5 besar Film Dokumenter Panjang Terbaik.

Film Nokas di sini bercerita tentang realita yang terjadi di tanah Timor, dan NTT pada umumnya yakni belis. Belis ini sendiri sebenarnya bukan hal asing dan baru di masyarakat NTT. Hampir semua orang menjelang pernikahannya, pasti belis selalu menjadi salah satu pokok pembicaraan yang tak bisa diabaikan begitu saja.

Demikian juga Nokas, sang tokoh utama dalam film ini. Ia ingin menikah namun diperhadapkan dengan kenyataan bahwa ada tuntutan belis dari keluarga sang perempuan, serta biaya pernikahan yang tidak sedikit untuk ukuran seorang petani sederhana dari pinggiran kota Kupang,  di mana ia harus berjuang memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut.

Memang sudah harus menjadi tanggung jawab mereka yang akan menikah, mengurus segala macam keperluan seperti pergi merencanakan ini dan itu, memastikan tanda pengenal identitas aman, membuat foto gandeng, mengabari setiap sanak yang tinggal di daerah lain lalu sekaligus mengundang untuk acara kumpul keluarga.

Nah, di dalam kisah ini, Nokas harus pergi mengabari ibunya yang tinggal di Pulau Semau, sebuah pulau kecil yang terletak di bagian barat pulau Timor dan masih tergolong dalam wilayah kabupaten Kupang. Ia pergi mengabari sekaligus mengundang agar nantinya mereka ikut dalam acara kumpul keluarga.

Ibunya yang berada di Semau bersama keluarga barunya yang juga hidup pas-pasan bahkan di bawah standar tak bisa ikut serta mempersiapkan pernikahan putranya di Kupang. Maka dari Pulau Semau, ia hanya menitipkan seekor babi yang diangkut dengan sepeda motor butut menuju pelabuhan.

7898efaae9c0cd87ab6894acbb4ab9f5

Sumber: qubicle

Dari film dokumenter berdurasi 76 menit itu, yang paling berkesan bagi saya adalah adegan ketika Nokas dan sang bocah mengangkut babi menuju pelabuhan menggunakan sepeda motor butut tersebut.

Saat mau berangkat, Nokaslah yang mengemudi motor dan sang bocah yang duduk di bagian belakang motor untuk memegang babi. Entah mungkin karena kepayahan, di tengah jalan, mereka berhenti dan meletakan babi itu di jalan.

Perjalanan selanjutnya, gantian sang bocahlah yang mengemudi motor. Pertama-tama saya pikir, sang bocah hanya berdiri menahan motor sementara Nokas memandangi babi yang tergeletak di jalan sambil merenungi perjuangan hidupnya. Ternyata kemudian sang bocah itu justru menghidupkan mesin motor dan dengan dengan wajah serius (sure, yang ini benar-benar tampak natural dan saya suka…:D), ia memainkan gas berulang-ulang, mencoba memastikan motor itu sudah siap dilajukan kembali.

Setelah sepeda motor itu meraung-raung sebentar karena gasnya dimain-mainkan oleh sang bocah, Nokas pun mengangkat babi itu, menuju motor, dan duduk di belakang dengan tetap mengapit babi pemberian ibunya, mereka melaju menuju pelabuhan.

10 (+) Film tentang Menulis

10 Films about Writers

 I just found this post and makes me absolutely delighted. Read more about 10 Films about Writers

Sejak menonton ‘Freedom Writers’ sewaktu kuliah di UPH dulu, saya semakin yakin dan optimis bahwa dengan menulis dapat menyembuhkan hati yang terluka. Menulis adalah juga sebuah sarana yang baik untuk terapi. 😉 🙂

Dengan menulis, seseorang dapat menuangkan perasaan dan pikirannya tanpa merasa tertekan atau terbeban. Dengan menulis, seseorang dapat merekam sebuah momen yang di kemudian hari akan dikenang dan tentunya disyukuri. Menulis pun dapat melepaskan beban yang sebelumnya dirasa terlalu berat. Dengan menulis pula, seseorang bisa terbawa untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan Tuhan. Tentunya ini baik bagi hati, pikiran, dan jiwa kita. Intinya, menulis itu ada banyak manfaatnya.

Maka itulah kenapa sewaktu mulai menjadi guru, saya suka menganjurkan anak-anak untuk menulis. Menulis di buku atau jurnal pribadi. Tak  harus bagus tulisan Anda untuk dipublikasi sehingga dilihat orang sedunia. Minimal menulislah untuk diri sendiri.

Di sekolah, di kelas 7 SMP sesuai KTSP 2016, ada materi tentang menuilis buku harian. Setiap mau membahas topik itu, kami akan menonton film Freedom Writers. Hanya itu satu-satu-satunya film tentang menulis yang saya tahu dan pernah saya tonton ( 😦 )

Beberapa bulan lalu, kalau tak salah akhir Juli 2016, saya mengunjungi keponakan saya (yang baru menghirup aroma bumi beberapa hari sebelumnya) di rumah tente. Menjelang larut malam, hampir semua orang di rumah itu beranjak masuk ke kamar masing masing. Hanya saya yang bertahan di ruang tengah. Saya iseng membuka televisi sekadar melihat-lihat. Tombol-tombol remote dipencet. Menengok, membaca informasi, tidak berkenan, maka dilewatkan. Demikian seterusnya. Sampai suatu saat, di salah satu chanel, HBO Family, sekilas saya melihat ada potongan gambar dan percakapan yang mirip-mirip dengan Freedom Writers, ada anak-anak remaja sedang bermain basket sambil melirik-lirik ke arah sebuah apartemen. Penasaaran, saya memperhatikan lagi dengan saksama. Hati saya melonjak gembira ketika mengetahui bahwa ternyata itu adalah film tentang menulis. Finding Forrester. Senang sekali rasanya, apalagi waktu itu hanya saya sendiri yang menonton. Bisa menikmati dengan santai dan bebas tanpa merasa terganggu–biasanya banyak kepala banyak kenginan. 😀

Sebagai respons seusai menonton Finding Forrester, saya pun merasa perlu mengabadikannya..:). Maka itu saya pun menulis sedikit pesan yang didapat dengan judul Menonton Finding Forrester.

Setelahnya, saya pun berniat mencari-cari kira-kira apa lagi film yang bercerita tentang menulis atau penulis. Bisa jadi referensi untuk menonton di kelas selain Freedom Writers dan Finding Forrester ini. Saya sempat searching untuk melihat ada film apa lagi tentang menulis atau penulis. Anehnya (saya pun tak tahu kenapa), itu semacam, “Sudah cari tahu?” // “Sudah.” // “Setelah itu?” // “Ya, sudah tahu.” (Saya tidak begitu ‘ngeh’) dengan apa yang sudah saya cari tahu. Waktu itu, saya hanya sekadar tahu, lalu sudah. Selesai. Tak ada apa-apa lagi.

Baru saja, Selasa, 7 Februari 2016, pukul 20.49 Wita, saya sementara mencari bahan lain ketika tiba-tiba saya bertemu postingan ini. Senang sekali akhirnya bisa dapat list film-film apa saja yang berkaitan dengan menulis. Terima kasih, Nicole Bianchi, atas postingannya. Sangat bermanfaat.

Btw, I like your name. It’s reminds me of someone. Thank you (once again) and God bless you.

***

Maka dari postingan ini, di sini sekalian saya simpan link-link yang membahas hal serupa. Bisa sebagai referensi kalau ada  yang mencari. Berikut link-link yang dimaksud:

20 Greates Movies about Writers by Mike Le

The 10 Greatest Movies about WritersWriting of all time by Bill Gibron

 15 best movies about writing by Rose Moore

@ http://www.imdb.com/list/ls050636344/

@ https://nfrankdaniels.wordpress.com/2009/11/05/top-11-films-about-writing/

Menonton “Finding Forrester” 

movie-quote-finding-forrester

Sumber: whatascript

Satu lagi film tentang menulis. Judulnya “Finding Forrester“. Karena film ini tentang menulis, maka patutlah seusai menonton, saya pun ‘wajib’ melaksanakan apa yang menjadi pesan dari film tersebut.

Awalnya saya hanya buka tivi tanpa niat memilih chanel tertentu. Nyatanya, tulisan yang muncul pertama di bagian pojok kanan atas, “Finding Forrester” HBO family (Indovision). Membaca kata “Forrester”, sempat timbul di benak saya, sepertinya kata ini berarti sesuatu. Pernah saya dengar tapi entah itu di mana atau kapan. Penasaran, saya pun batal memencet tombol lainnya dan menonton di situ saja.

Rupa-rupanya, di awal-awal saya tangkap film tersebut mirip dengan film-film pendidikan yang sewaktu kuliah dulu diperkenalkan dan diputar di kelas. Seperti halnya Ron Clark atau Freedom Writers, Dead Poet Society, atau semacamnya.

Tiba di adegan tas sang pemuda dikembalikan sekaligus dengan coretan komentar sang kakek misterius, baru saya tangkap, “Tak salah lagi. Ini film tentang menulis. Dan Forrester adalah nama seorang penulis (entah di dunia nyata entah hanya di film).”

Hati saya gembira bukan main. Keletihan saya sehabis menempuh perjalanan jauh malam-malam dari satu daerah di dekat pelabuhan Kupang mengantar seorang siswa yang baru saja mendengar pengumuman lomba dan balik ke daerah dekat bandara menengok si adik bayi yang baru saja keluar dari rumah sakit serta merta hilang.

Kelegaan dan kepuasan saya berlipat ganda. Saya tiba sebelum orang-orang yang berkumpul berangkat tidur sehingga saya bisa sempat menyapa si adik bayi yang menjadi alasan larut-larut malam saya dari ujung barat Kupang menuju timur tepatnya Desa Penfui Timur.

Seusai mandi dan diminta memimpin doa tidur, mereka yang lain satu per satu bergerak pergi tidur, sementara saya iseng-iseng membuka tivi.

Sudah pukul 11 malam lebih sedikit. Tak apa, besok Sabtu. Memang ada parents meeting meski hari libur. Saya mendapat satu tugas kecil di gelombang ke-2 pukul 10.00. Bangun pagi memang tetap, tapi setidaknya tidak ada persiapan mengajar. Nikmatilah tontonan yang disajikan. Waktu yang tepat. Beruntung yang lain sudah pada mengantuk sehingga bisa saya sendiri mengusai tivi.

Di sela-sela waktu menonton, saya mengambil HP dan mencoba menelusuri kata finding forrester di internet. Saya cukup kaget. Film tersebut sudah dari tahun 2000/2001 dirilis. Sekarang sudah tahun 2016, dan saya baru tahu tentang film ini. Di manakah saya selama ini? Kenapa saya sama sekali tak pernah mendengar tentangnya? Saya bertanya-tanya sendiri namun itu tak berlangsung lama.

Biarlah sudah. Tak perlu disesali yang sudah berlalu. Toh, malam ini saya menonton juga. Bagi saya, terlambat tahu masih lebih baik daripada tidak sama sekali. So, tetap berterimakasihlah kepada Dia.

Berikut beberapa poin penting mengenai menulis dari film “Finding Forrester“:

# “Pertama-tama, menulislah dengan hatimu. Barulah kemudian menyusul kepalamu.” Demikian nasihat William Forrester kepada Jamal, sang tokoh utama.

# “Kunci utama menulis adalah menulis. Bukan berpikir,” kata Forrester menanggapi Jamal yang menjawab “Berpikir,” ketika ditanya apa yang ia lakukan.

# “Banyak penulis tahu aturan menulis, tapi mereka tak tahu bagaimana cara menulis.” Menjadi kalimat yang patut direnungkan.

# Perdebatan mengenai penggunaan kata ‘dan’ & ‘tetapi’ yang saya kira patut diketahui setiap orang, tak hanya bagi yang menulis.

# Selain pesan-pesan kepenulisan, terdapat juga nilai-nilai kekeluargaan, persahabatan, penghargaan, dll yang terkandung dalam film keren ini, “Finding Forrester“. :3 :3 :3

Btw, bagi siapapun yang sudah lama tahu film ini, saya ucapkan selamat buat Anda… 🙂