Cerita-cerita

Kapsul 75: Dua Cerita Pendek O. Henry

Saya hanya ingin menyimpan dua cerita O. Henry di sini sebagai tambahan referensi  siapa tahu bisa dibagikan ke di kelas saat belajar materi cerpen. Dua cerpen tersebut adalah:

1Witches Loaves by O. Henry _from  American Literature yang kemudian diterjemahkan menjadi Roti Pemberian Penyihir. Kasih jempol buat yang sudah menerjemahkan:D.

2) The Ransom of Red Chief by O. Henry yang kemudian diterjemahkan menjadi Tebusan buat Red Chief. Terjemahan ini baik, hanya penerjemah kemudian mengubah konteksnya menjadi jauh berbeda dari cerita asli. Cerita berlatar belakang daerah Amerika khususnya Alabama diubah menjadi daerah Sumatera Barat yakni Bukittinggi. Mata uang dan makanan khas pun diubah seolah cerita itu benar-benar terjadi di Indonesia, khususnya Sumatera. Jadi kalau membaca terjemahan cerita ini, alangkah baik sekaligus langsung membandingkan dengan cerita aslinya di American Literature -> The Ransom of Red Chief. 

 

Iklan
Cerita-cerita

Kapsul 26, Cerita 5: Suasana Walikota

bus station
Sumber ilustrasi: mootorgrupp

Kota ini berbau kering. Aku merasa asing. Pikiranku melayang kembali ke rumah. Kira-kira apa yang sedang mereka lakukan. Mungkin bapak baru pulang dari ladang. Ia akan singgah di rumah titi, menjemput adik dan mereka berdua pulang. Rumah tentu saja dalam keadaan gelap sebab lampu belum dinyalakan. Ayam-ayam pun tentu sudah masuk naik ke pohon.

Andai saja aku di sana sekarang, aku bisa berdiri menemani adik sementara bapak menyalakan lampu dan menyelesaikan pekerjaannya. Memikirkan itu, dadaku terasa sesak.

“Ayo, Rosina,” ajak tante setelah mengemasi barang-barang kami.

Kami beriringan keluar terminal. Dari sana kami berjalan kaki menuju rumah tante yang ditempatinya bersama om, serta anak-anaknya.

Aku berjalan di samping tante. Menyandang tas kecil pemberian sepupuku yang sulung, sementara tanta menjinjing tas dan sebuah kantong plastik kresek berwarna hitam berisi beberapa kilo jagung kering dan dan biji labu siam.

Di gerbang terminal nampak satu-satu sepeda motor lewat. Angkutan-angkutan yang disebut bemo pun keluar masuk terminal. Klaksonnya membuat riuh satu sama lain. Para kernet berteriak mencari penumpang. Menyebutkan nama-nama tempat tujuan. Ketika mereka di depan kami dan menawarkan tumpangan, tante menggeleng pelan, dan bemo itupun terus keluar terminal.

Kota memang tak sesunyi dan sedamai di kampung. Ada-ada saja kebisingan dan ketidaktenangan. Sungguhpun demikian, senja tetaplah senja. Senja selalu membuat rindu. Rasa kangenku pada rumah dan kampung halaman makin memuncak.

Pandanganku mulai kabur. Aku tahu mataku mulai panas dan basah, tapi kutahan jangan sampai terlihat lagi oleh tante. Aku mengalihkan mataku pada gedung-gedung di pinggiran jalan. Pada pagar-pagar tinggi yang mengelilinginya.

Tapi sekalipun ini di kota, tak semua rumah kulihat berdinding tembok dan beratap seng. Heran. Rumahku yang berada di desa saja berdinding tembok dan beratap seng, bercat pula. Pernah kata bapak, rumah itu dibangunnya sebelum ia menikah, artinya waktu aku belum lahir. Sedang sekarang yang kulihat rumah sudah di kota pun malah masih berdinding bebak. Jarak satu rumah dengan satu rumah lain pun masih berjarak. Setahuku seperti yang kubaca di buku-buku bacaan, dituliskan bahwa rumah-rumah di kota itu padat. Sementara kota yang kudatangi tidak demikian.

Pada rumah-rumah yang tak dikelilingi pagar, kami menjumpai beberapa anak-anak kecil seumuranku bermain kelereng di pinggil halaman. Serta beberapa juga yang melompat-lompat di atas petakan siki doka. Aku melihat mereka. Beberapa di antaranya pun berhenti sejenak untuk menoleh pada kami kemudian melanjutkan permainannya.
Siki doka membuatku rindu kawan-kawanku di kampung.

Senja. Kawan-kawanku, bapak, adik, juga ibu.

Tak sampai setengah jam berjalan, kami tiba di depan rumah. Sepupu-sepupuku sedang bermain sore itu dengan anak-anak tetangga. Seruan gembira menyeruak menyambutku. Permainan yang sedang dimainkan dihentikan sejenak. Pelan-pelan anak-anak kota itu mendekat dan tersenyum bersahabat ke arahku.

Cerita-cerita, God's Story

Cerita 4: Ikut Tante ke Kota

 

Child
Sumber ilustrasi: typepad, meski sebenarnya lebih menarik gambar dari fineartamerica🙂

Liburan kenaikan kelas tiba. Sebentar lagi aku meninggalkan TK dan masuk SD. Tanteku, satu-satunya saudara perempuan bapak yang tinggal bersama keluarganya di kota, datang. Beberapa hari kemudian saat ia pulang, aku ikut diboyongnya ke kota.

Awalnya itu tawaran tante pada bapak. Mungkin ia melihat bapak agak kewalahan berusaha mencari jalan bagaimana ibu bisa pulang kembali ke rumah, serta harus mengurus kami anak-anaknya, belum lagi ia mesti ke kebun serta mengurus sapi-sapi.

Pertama kali mendengar tawaran itu, bapak hanya tepekur diam. Sebenarnya ia keberatan. Baru saja istri pergi entah ke mana, sekarang anak perempuan sulung dan satu-satunya harus pergi pula, meski yang kedua ini hanya pergi sebentar dan bahkan tempatnya saja diketahui pasti.

Setelah lama-lama menerawang, bapak akhirnya mengangguk pelan. Kemudian dengan kalimat-kalimat yang telah disusun dengan hati-hati, ia memaparkan alasan sebaiknya aku ikut tante ke kota.

“Baiklah, tak apa. Biar supaya untuk sementara saya urus saja adiknya. Mungkin dibantu juga dengan titi,” demikian kesimpulan setelah kalimat-kalimat panjang.

“Ya, Rosina, siap-siap, ya. Besok ikut tante ke Walikota,” tante beralih dan menatap ke arahku.

Aku ikut ke kota akhirnya. Aku akan menghabiskan waktu liburan di sana. Sementara adikku yang berumur 3 tahun lebih bersama bapak dan titi. Mungkin seperti biasa mereka akan bergantian mengurusi adikku.

Jauh di dasar hati aku tak ingin pergi. Tapi hanya karena bapak sudah menjelaskan padaku dengan hati-hati sekali, katanya supaya aku menghabiskan liburan di kota sekalian untuk belajar hal-hal di dunia luar, juga biar bapak bisa dikurangi bebannya, dalam hal ini biar selama masa usaha pencarian ibu, hanya adik yang diurus.

Aku mencoba mengerti. Meski juga sebenarnya aku marah sekali. Kenapa masalah ini harus terjadi dalam  keluarga kami. Kenapa ibu pergi meninggalkan kami hingga aku harus terpaksa berpisah dari adikku. Seandainya ibu tak meninggalkan kami, mungkin aku tak semalang ini merasakan kesedihan harus berpisah dengan adik dan bapak.

Aku juga kian bertanya-tanya dan menyesali kenapa aku tak punya nenek atau ba’i yang bisa setidaknya membantu bapak merawat kami. Sering aku melihat anak-anak lain memanggil seseorang yang jauh lebih tua dari bapak ibu mereka sebagai ba’i atau nenek. Sementara kami anak bapak dan tante di walikota serta anak-anak dari sepupu-sepupu bapak yang tinggal sekampung nyaris tak mengenal sosok ba’i walau beberapa di antara kami masih punya nenek. Menurut cerita bapak, nenek meninggal setahun kemudian setelah ba’i dan saudara-saudaranya dan tetangga-tetangganya yang seumuran ditangkap tentara dan ditembak mati di lubang buaya*.

Andai saja nenek masih ada, biarpun ibu pergi setidaknya ada seorang perempuan dewasa yang ada di rumah bersama kami. Biarlah bapak tak perlu pusing memikirkan bagaimana kami harus mandi, makan, bersekolah, ataupun melakukan kegiatan kami sehari-hari sebagai anak.

Pada hari keberangkatanku siang itu, aku dan tante akan naik bus. Kami menunggu bus di jalan depan rumah. Tidak begitu lama, sebuah bus yang lebih mirip damri segera datang dan kami pun naik.

Setelah mendapat tempat duduk di pinggir, aku melongok keluar lewat jendela kaca. Aku melihat bapak dan adikku melambaikan tangan mereka. Seketika aku jadi teringat dengan lambaian terakhir dari mama dari dalam truk kuning saat hujan dulu.

Tak membalas melambaikan tangan, aku hanya memandang dari balik jendela yang makin lama makin jauh meninggalkan mereka. Sedih sekali rasanya aku melihat bapak dan adik hanya memandang bus ini melaju pergi meninggalkan mereka hingga akhirnya mungkin bus ini hilang dari pandangan mata.

Duduk di dalam bus, aku gelisah. Rasa-rasanya aku ingin berlari keluar dari bus dan melompat turun.  Aku ingin berlari kembali ke tempat bapak dan adik berdiri mengantarku. Berlari mendapati mereka yang berdiri dan langsung menghambur ke pelukan mereka.

Namun, itu hanya dalam bayangan. Sudah di dalam bus, aku bahkan tak bisa bergerak. Sungguh, aku tak ingin terlihat tante kalau aku menangis. Maka kutahan rasa sedihku. Kerongkonganku terasa membatu. Sakit karena menahan tangis yang tak bisa keluar. Pemandangan yang disajikan alam bulan Juli tak kugubris. Dalam kepalaku dan di hatiku, penuh dengan gambar bapak menggendong adik menatap terus bus yang melaju meninggalkan mereka.

Sayang, aku tak bisa. Tangisku meledak juga.

Tante kaget. Ia menatapku.

“Lho, Rosina, kenapa?” tanyanya.

“Tidak,” sahutku dengan suara lirih sambil menggeleng.

Aku mengelap air mata yang mulai bercucuran deras, juga hidung yang mulai berair bening.

“Kau tidak mau ikut tante?” tante memberiku saputangan.

Aku nyaris tak bisa menjawab saking sakitnya kerongkonganku dan cucuran air mata.

“Tidak. Aku hanya sedih, kapan bisa ketemu bapak dan adik lagi, tambah ibu juga,” tangisku yang tadi sudah mulai reda tiba-tiba kembali meledak.

Tante mengerti. Ia membiarkanku terus menangis. Ia hanya mengusap-usap kepalaku sampai aku mungkin tertidur di bus selama perjalanan.

Ketika aku sadar, kami sudah tiba di terminal Walikota. Ternyata dari rumah, bus langsung menuju terminal Walikota. Matahari sudah tak lagi nampak, hanya menyisakan warna jingga langit di arah barat ketika ketika kami turun dari bus.

 

Cerita-cerita

Kapsul 14, Cerita 3: Menunggu Bapak Pergi Mencari Ibu

Ilustrasi: sleepy children waiting for santa. Sumber: pinterest 

Seperti sudah terjadwal, hari-hari berikutnya, bapak akan mengurusku ke sekolah, kemudian ia memasak untuk makan siang kami, lalu ia mengajak adik bersamanya ke ladang atau menitipkannya di rumah titi, sehingga ia bisa memberi makan ternak-ternak di padang serta singgah sebentar ke ladang untuk mengerjakan beberapa pekerjaan. Pulang dari sana, ia akan entah pergi ke mana, tentunya untuk mencari ibu.

Bapak pergi bukan hanya dengan berjalan ke sana ke mari mencari dengan bertanya-tanya. Selain sanak keluarga ibu, ia juga mendatangi orang-orang yang diceritakan tetangga atau sanak kami yang tersebar di berbagai tempat. Kata mereka cobalah datangi orang ini atau orang itu yang dikenal sebagai hamba Tuhan. Lengkap dengan cerita pengalaman bagaimana mereka juga dulu pernah bersama orang-orang tersebut.

Di mana pun orang menunjukkan, bapak akan datang ke tempat orang itu berada. Bersama bapak mereka akan berdoa, katanya mereka meminta petunjuk Tuhan. Dari cerita-cerita yang kudengar, banyak kejadian unik saat atau sesudah mereka berdoa.

“Saya tiba di rumahnya sore hari. Begitu saya datang, ia meminta saya membeli telur.  Saya tanya, berapa?

‘Satu saja cukup,’ katanya. Untungnya di samping rumah ada kios. Saya beli satu dan kembali ke rumahnya.

Telur itu ia terima. Lalu dimasukkan ke gelas berisi air. Setelah ditanya-tanya apa pergumulannya, kemudian kami berdoa. Yang saya heran, sebelum berdoa gelas itu ada di antara kami, begitu selesai berdoa, gelas berisi air dan telur sudah berpindah tempat. Saya berpikir, kira-kira bagaimana tangannya bekerja sementara ia menggumkan kata-kata.” Begitu salah satu di antara sekian cerita yang diceritakan kembali oleh bapak saat mereka berdoa.

Ada lagi, terkadang ketika para pendoa itu selesai berdoa, mereka akan bertanya, “Apa sebelum ibu pergi, bapak sering memukulnya dan mengancamnya?” atau “Apa bapak pernah menangkap basah ibu tidur bersama laki-laki lain?” atau “Apa bapak masih menyimpan benda-benda pusaka dari nenek moyang yang masih dianggap keramat? Kalau itu masih ada sebaiknya dibuang dan dibakar,” atau mereka akan berkata “Sebenarnya ibu pernah menemukan sebuah kunci di satu mata air yang jernih kemudian ia menyimpannya di kamar mandi, dan kunci itulah yang menuntunnya pergi ke negeri lain, ke negeri antah-berantah yang sepertinya tak mudah ditemukan,” dan masih banyak macam pertanyaan atau perkataan lain yang dibawa bapak untuk diceritakan pada titi, yang bisa kudengarkan sedikit-sedikit. 

Selain cerita tentang berdoa, tidak sedikit orang juga yang tampaknya ingin menunjukkan kalau mereka peduli. Setiap kali bertemu bapak, mereka akan bilang, ibu di daerah utara, yang lain mengatakan ia ada di daerah timur, yang lain lagi di daerah barat, yang lain lagi di daerah selatan, yang lain lagi macam-macam petunjuknya. 

Bapak bukanlah seorang yang mudah putus asa. Ia akan pergi saja ke mana orang memberi petunjuk padanya di mana mereka pernah melihat ibu. Hampir setiap hari tanpa absen ia akan meninggalkan aku dan adikku sendiri di rumah atau di tempat titi. 

Kadang para tetangga melihat iba padaku dan adikku. Tak jarang kudengar mereka berkata, “Kasihan, anak-anak malang. Masih kecil sudah ditinggal pergi ibu mereka”. 

Mereka berkata begitu, sebab biasanya, dalam keluarga-keluarga lain, atau tetangga yang lain, ada anak-anak yang lahir tanpa tahu siapa bapak mereka karena bapaknya tak bertanggungjawab dan pergi meninggalkan mereka, dan mereka akhirnya diasuh hanya oleh ibu mereka. Namun dalam keluarga kami, yang mengasuh adalah bapak, dan yang pergi meninggalkan kami adalah ibu.

Meski begitu, aku tidak bersedih karena ditinggal pergi ibu. Mungkin Anoh, iya, tapi aku tidak. Aku hanya sedih kalau hari sudah mau gelap dan kami duduk menunggu bapak yang tak kunjung muncul. Sepanjang kami duduk menunggu, yang kulakukan hanyalah berdoa dan terus berdoa. Bapak harus pulang dengan selamat. Meski ibu tak ditemukan, meski belum ada jejak di mana ibi berada, asal bapak tetap pulang dalam keadaan baik-baik. Aku takut berandai-andai bapak tak ada. Maka itulah aku harus kuat berdoa. Meski sudah kuat berdoa, terkadang ada juga perasaan takut, bagaimana bila, bagaimana kalau ternyata, bagaimana kalau bapak memang tak jadi pulang. Rasa takut itu bisa kuat sekali melanda. Hari bisa menjadi semakin remang, semakin gelap, dan kami masih menunggu. Begitu membaca gerak tubuh bapak dari jauh, ah, sungguh tak terkira rasa bahagia itu. 

Asal kau tahu saja, setiap sore mendekati gelap, setelah menunggu bapak lama tak datang-datang, dan begitu ia baru muncul kepalanya saja di ujung jalan, bisa saat itu juga aku menganggap diri adalah orang paling beruntung di dunia. Tidak ada seorang anak pun di muka bumi ini yang sebahagia aku. 

Cerita-cerita

Cerita 2: Bapak Pergi Mencari Ibu

Kakak Beradik Abdullah
Ilustrasi: Lukisan “Kakak dan Adik” oleh Basuki Abdullah. Sumber: Koleksi Galeri Nasional

Bapak sudah bangun pagi-pagi sekali ketika kokok ayam mulai bersahutan. Ia menjerang air dan memasak bubur dari tepung jagung. Rasanya lezat karena bapak memasaknya dengan rempah-rempah yang diraciknya sendiri.

Selesai makan, kupikir aku akan mandi sendiri. Rupanya bapak tak membiarkan. Ia turun tangan. Mengisi ember mandi, dan aku dimandikan. Dengan seragam taman kanak-kanak yang berwarna ungu muda lengkap dengan sepatu hitam dan kaos kaki putih, aku diantar bapak dan Anoh hingga ke jalan raya. Mengantar dengan pandangan mereka hingga memastikan aku sudah masuk gerbang sekolah.

Sebenarnya aku bisa saja berjalan sendiri. Hanya masalahnya di sonaf. Satu area luas dengan satu rumah kosong yang sudah lama terbengkalai itu terkenal angker dan banyak setannya. Itulah kenapa aku minta diantar. Bagiku asal saja sudah lewat sonaf maka segala menjadi aman. Dari rumahku sendiri, orang harus berjalan 25 meter ke arah timur menuju di jalan raya. Dari sana orang hanya perlu menempuh 200 meter ke sekolah. Antara rumah dan sekolah hanya ada sonaf kemudian lapangan desa sebagai pemisah.

Siang sepulang sekolah hari itu, tak kudapati Anoh tidak bermain di halaman menyambutku seperti biasanya. Pintu dan jendela rumah semua tertutup rapat. Hanya pintu samping rumah yang digantung gembok tanpa dikunci.

Aku membuka pintu dan masuk ke ruang tengah. Segera menuju sampiran, tempat aku menggantung pakaian seragam sekolah. Di dekatnya di atas meja bundar. Kutemukan ada secarik kertas yang di atasnya ada sebatang pensil. Sebuah memo dari bapak. Makanan ada di lemari. Setelah itu susul adik di tempat Titi. Bapak pergi mencari ibu. Aku makan dengan perasaan kosong. Makanan di hadapanku tawar. Kutelan dengan rasa sakit di kerongkongan. Serasa ada batu besar yang mengganjal di dalamnya. Tak kuhabiskan makananku. Kusimpan kembali ke dalam lemari.

Aku beranjak keluar dari dapur. Menutup pintu dan menggemboknya kembali. Dengan berlari kencang aku langsung menuju tempat Titi, adik bapak yang rumahnya di ujung kampung. Di sana adikku sedang bermain. Seorang diri ia menyusun serutan kayu, sedang berusaha membangun rumah-rumahan.

“Rosina, kamu bermain dengan adik,” Titi menyambut. “Bapak baru saja datang lalu pergi lagi. Ia mau mencari ibu.”

Hanya mengangguk, aku segera bergabung dengan Anoh. Ia sedang bermain rumah-rumahan dengan bahan bekas-bekas hasil pahatan dan serutan Titi.

Aku melengkapi rumah-rumahannya dengan perabotan, kandang-kandang, pedagang, kios-kios, dan beberapa orang tokoh sebagai pemilik rumah dan ternak, para pekerja, dan pedagang. Kami menjalankan cerita tentang petani dan peternak dengan segala ternak mereka yang berkandang-kandang.

Bosan dengan cerita petani, peternak, dan pedagang, aku membuat cerita tentang bapak ibu guru dan anak-anak sekolah. Anoh tidak suka cerita tentang sekolah. Belum lama mendengarku bercerita, ia langsung berdiri, dan pergi melempari burung-burung yang sedang bercicit di atas pohon.

Ia pergi menghampiri Titi yang sementara bekerja. Tapi Titi sendiri tak mau kami mendekat. “Awas kena mata,” disuruhnya kami menjauh. Serutan atau hasil pahatan kaya bisa berbahaya, katanya. “Atau kalian mau menonton tivi?”

Tidak mau siang-siang begini di dalam rumah nonton tv, kubilang. Memang jauh lebih enak bermain di luar. Kami menuju belakang rumah. Melempari asam yang yang sedang lebat berbuah. Anoh ikut-ikutan melempar walau lemparannya tak pernah lebih dari semeter tingginya. Kami kemudian duduk-duduk di bawah pohon asam sambil menikmati buahnya yang sudah jatuh. Rasanya begitu masam. Tak sampai dua biji kumakan, aku membuangnya kembali. Tak kutahu lagi mau buat apa, aku jadi bosan. Rasanya sepi sekali. Aku ingin punya teman main lain selain Anoh.

Di sekeliling rumah Titi ada juga beberapa rumah saudara jauh yang punya anak seumuranku dan Anoh. Kami bergerak pindah ke depan rumah titi. Di situ ada rumah sepupu tertua bapak. Salah satu anaknya walaupun serumuran denganku tapi ia belum bersekolah. Kata ibunya, mau langsung masuk SD, tidak perlu masuk TK. Toh, sekolah TK kan sekolah bermain. Kalau menyangkut bermain, cukup saja di rumah. Beberapa kakak-kakaknya saja begitu. Satu orang laki-laki dan tiga perempuan tak ada yang bersekolah di TK dulu baru masuk SD.

Maka, sengaja mengumpan sepupu jauhku itu keluar rumah, aku bernyanyi. Lagu-lagu sekolah minggu yang riang kukumandangkan. Keras-keras walau nada suaraku sumbang.

Tak berhasil. Aku sengaja meneriaki Anoh. Juga tak berhasil. Namun tiba2 ada yang menarik perhatianku dari arah satu pohon delima yang membuatku diam. Aku menemukan satu pemandangan yang ganjil. Mendekat. Ternyata sebuah sarang burung. Menoleh ke Anoh yang sedang merangkak mendekat, kusuruh ia berhenti. Anoh tak mau. Ia terus saja datang. Ia kusuruh pelan2. Semakin mendekat, kutunjukan ia sarang burung. Ia berteriak senang. Pada saat yang sama, ketika aku menoleh sekilas, anak tetanggaku mengintip dari samping rumahnya. Kubiarkan ia. Toh, aku sudah punya bahan mainan baru. Sengaja tak kutolehkan kepalaku lagi menengoknya. Lima menit kemudian, ia sudah di belakang kami. Dari dalam kantong bajunya ia keluarkan kantong plastik bening berisi dua atau tiga sendok gula pasir.

Ayo, kita ambil asam, ia mengajak. Kami kembali lagi ke pohon asam di belakang rumah Titi. Siang itu kami menikmati manisan asam sambil mengarang cerita tentang ibu yang sudah dua hari tak pulang rumah. Kami berandai-andai kira-kira apa yang ia lakukan sekarang. 

Bosan bercerita, kami pergi ke rumahnya. Keluarganya punya produksi minyak kelapa, dan itu merupakan mata pencaharian mereka. Di sana kami kebagian ampas minyak. Rasanya gurih. Kami menikmatinya sambil bermain ayunan di samping rumahnya. Sore hari, aku dan adik diberi lagi ampas minyak oleh mamanya. Kami membawanya pulang dengan sukacita ke rumah titi dan memakannya dengan nasi.

Ketika hari sudah mau gelap, kami pun memilih bermain di jalan depan rumah. Biar lebih mudah melihat kalau bapak datang. Namun beberapa lama ditunggu pun, bapak tak kunjung muncul. Padahal ayam-ayam sudah naik ke peraduannya. Lampu di rumah Titi juga rumah-rumah tetangga lain sudah dinyalakan.

Kami dipanggil Titi untuk segera masuk ke dalam. “Di sini saja sambil nonton TV.”
TV hitam putih di dalam rumah sudah dihidupkan. Di lantai ruang tengah sudah dibentangkan sehelai tikar beranyam daun lontar dan kami disuruh duduk di sana.
Sementara kami menonton Titi sibuk dapur. Kudengar ia memotong2 kayu lantas membawanya masuk ke dalam. Mungkin sedang memasak.

Titi adalah adik bapak. Satu2nya adik laki2nya. Kata bapak ia pernah menjadi mahasiswa hukum. Tapi karena bermasalah dengan dosen, ia pun memutuskan berhenti dan kembali ke kampung. Membangun rumah sendiri walupun belum menikah dan membeli tivi hitam putih. sehingga kalau sudah mendekati jam 9 malam, rumahnya ini biasanya jadi ramai karena para tetangga yang datang menonton seusai makan malam di rumah masing2.

Dengan TV di depan kami, Anoh sedikit lebih tidak gelisah dibanding sore tadi. Matanya betul-betul melotot ke arah layar TV. Sementara aku biarpun itu siaran hiburan anak dari TVRI, pikiranku tak juga bisa tenang. Biarpun mataku memang ke arah tv, tapi tetap harap-harap cemas kapan bapak member salam atau memanggil kami dari luar. Rasanya lama sekali. Malam seakan semakin bertambah larut tanpa ada tanda2 bapak kembali.

Tak lama Titi membawakan kami masing-masing setengah muk teh hangat sementara ia sendiri secangkir besar kopi hitam. Sembari menghirup kopinya, titi ikut menemani kami menonton tv.

Teh di muk plastikku hampir habis ketika dari luar terdengar suara sapaan bapak. Meletakan gelas, aku langsung menghambur ke pintu. Anoh pun tertatih-tatih mengekor di belakang. Wajah bapak terlihat letih. Keringatnya bercucuran. Tapi senyumnya langsung merekah tatkala melihat Anoh yang berlari kecil menyambutnya.

Kata bapak, tak ada petunjuk jelas hari ini. Ibu hilang tak meninggalkan jejak. Bapak ikut pula disuguhkan kopi oleh Titi. Setelah menghabiskan kopinya, kami bertiga berjalan pulang ke rumah. Di sana rumah kami gelap karena lampu belum dinyalakan.

Cerita-cerita

Kapsul 10, Sebuah cerita: Ibu Pergi Saat Hujan

Usiaku beranjak lima tahun kala itu. Baru masuk TK dua bulan. Sewaktu pulang sekolah, bersama dua orang temanku, Rosi dan Karlina, kami berjalan pulang sambil bermain air hujan yang menggenang di tengah lapangan. Kami mencoba mencari berudu untuk ditangkap. Sementara itu gerimis masih menitik turun. Rerumputan dan daun-daun hijau yang tumbuh di lapangan, disela bunga-bungaan liar memberi pemandangan dari jauh seolah-olah diselimuti permadani yang terhampar dari ujung ke ujung.

Tiba di ujung timur lapangan, dekat pinggiran sonaf*, sebuah truk mendekati kami dari belakang. Truk itu berwarna kuning. Aku melihat sekilas dalam hujan, ibuku ada di atas truk kuning itu. Duduk di depan, persis di samping supir.

Ibu melihatku dari atas tempat duduknya yang dalam pandanganku waktu itu sangatlah menjulang tinggi. Ia tersenyum padaku lantas melambaikan tangannya. Wajahnya nampak begitu cantik.

Aku balas melambaikan tangan dan berseru gembira, “Ibu…”

Truk kuning itu terus berlalu. Ibu masih hanya tetap melambaikan tangannya.

Pikirku mungkin ibu baru saja pulang entah dari mana dan ia akan kembali ke rumah mendahuluiku. Aku pun meneruskan kegiatan berburu berudu di genangan air hujan bersama dua orang temanku.

Bosan berburu berudu, kami mencoba bermain-main air dengan daun talas. Memetik helai-helai daun talas, menaruh sepercik air di atasnya lalu berusaha membasahi dengan meniup atau mengucek-nguceknya. Sekalipun tak berhasil, kami tetap ingin saling menantang siapa di antara kami berhasil membasahi maka dialah yang keluar sebagai pemenang. Bila ada yang berseru dia berhasil maka kami akan ramai-ramai menengoknya, tetapi orang yang berseru berhasil itu sendiri akan berlari menghindar. Ini membuat kami saling berkejaran, diiringi dengan tawa berderai. Kami tahu bahwa ia sebenarnya tidak berhasil membasahi daun talas.

Puas bermain-main daun talas, kami meneruskan perjalanan kembali ke rumah masing-masing.

Baru di jalanan depan rumah, seperti biasa Anoh, adikku laki-laki yang berusia tiga tahun  berjingkrak-jingkrak dan berseru senang menyambut.

“Hore, kakak datang…kakak datang…”

Segera kugandeng tangannya. Kami masuk ke dalam.

Siang itu untuk pertama kalinya ibu tak ada di rumah ketika aku pulang sekolah.

Kepada Anoh yang kutanyai, ia justru bertanya balik, kakak tidak lihat di mana ibu? “Tadi pergi ke sana,” tangannya menunjuk ke arah sekolah.

Seusai berganti seragam, aku menuju dapur. Di dalam lemari ada satu panci penuh potongan-potongan labu kuning berbentuk dadu yang sudah direbus. Kaumbil beberapa di piring dan memakannya di luar bersama Anoh.

Siang itu kami bermain seharian saja di halaman depan demi menunggu ibu pulang. Sambil menunggu, kami bermain dengan gembira. Tidak sedikit anak-anak tetangga yang bergabung dengan kami, atau juga anak-anak dari daerah atas yang lewat pergi mengambil air di pancuran di seberang jalan aspal, singgah sebentar dan bergabung. Di antara pengambil air itu, ada yang hanya singgah sebentar, bergabung, lalu meneruskan perjalanan mengambil air. Ada yang sampai lupa waktu sampai ibunya atau kakaknya harus datang menyusulnya dengan rotan, satu kebasan dikenai di betis lalu sang anak akan histeris sambil terbirit-birit membawa ember atau jergennya menuju pancuran.

Tak hanya bermain di di depan, kami pun menyebrang jalan depan rumah masuk ke daerah samping sonaf. Ada beraneka buah di sana yang bisa diambil untuk dimakan. Asyik bermain hingga  matahari pelan-pelan menghilang di ufuk barat, namun tanda kemunculan ibu belum juga nampak.

Kawan-kawan bermain kami sudah diteriaki pulang ke rumah masing-masing. Tinggal aku dan Anoh. Kami berpikir ibu sudah tak lagi datang, kami segera berpindah tempat ke ujung jalan yang mengarah ke kebun-kebun penduduk, duduk menunggu bapak.

Hari sudah hampir gelap. Nyanyian jangkrik lamat-lamat mulai terdengar. Ayam-ayam sudah naik ke pohon nangka di belakang rumah.

Kami duduk dengan gelisah. Di rumah para tetangga, lampu-lampu sudah dinyalakan. Hanya rumah kami saja yang masih gelap. Belum ada satu lampu pun yang menyala. Kami tak berani menyalakannya. Sebab dari dulu bapak tak mau kami bermain-main dengan listrik sekalipun itu hanya menekan tombol saklar. Kalau kami nekat menyelakan, bisa-bisa bapak marah lalu memukul kami.

Jendela-jendela rumah pun masih terbuka. Mereka terlalu tinggi dijangkau. Bisa-bisa kami yang jatuh sewaktu berusaha menjangkau daun jendelanya yang terbuka mengarah ke luar. Biarlah tetap terbuka. Lagipula tak akan ada pencuri yang masuk.

Kenapa bapak belum juga balik dari kebun. Kami berandai-andai, bagamana kalau bapak atau ibu dua-duanya tak datang. Di detik itulah suara tangis Enoh melengking. Aku berusaha menenangkan tapi tak dapat. Ia mulai memanggil-manggil bapak dan ibu. Hatiku ikut pula tersayat-sayat. Jadi takut, bagaimana kalau mereka benar-benar tak ada yang muncul malam ini. Bagaimana kami akan makan, bagaimana aku mesti sekolah, dengan siapa lagi kami tinggal, bagaimana dengan rumah ini, banyak pertanyaan berkelepatan di kepala sementara Anoh masih menggaungkan tangisannya.

Samar-samar mataku menangkap sosok  bapak di ujung jalan. Aku tahu betul cara berjalan bapak. Rasanya, saat-saat seperti itu adalah seperti surga sedang mendekat.

 Aku dan Anoh gembira bukan main. Kami segera saja berlari menyambutnya. Bapak heran melihat sisa-sisa isakan Anoh.

“Ada apa?” ia bertanya.

“Ibu belum pulang,” sahutku sambil memegang bahu Emon.

Bapak diam sebentar. Ia memandangi kami bergantian. “Memangnya ibu ke mana?”

“Tidak tahu,” aku dan adik menggeleng bersamaan.

Bapak menuntun kami menuju rumah. Di beranda samping, ia berhenti sebentar lalu melihat sekeliling. Lampu-lampu di rumah orang sudah menyala semua, kudengar bapak bergumam.

Ia menurunkan bakul yang dijinjingnya. Mengeluarkan botol air dari sana lantas meneguk sisa-sisa air dari dalamnya.

Beberapa saat itu kami semua hanya diam di dalam gelap kecuali sisa-sisa isakan Anoh yang sudah dengan tempo lambat terdengar.

“Kalian benar-benar tidak tahu ibu di mana?” mata bapak menelisik ke arahku.

Aku menoleh ke adik yang duduk dalam pangkuan bapak. Ekspresi mukanya datar. Bola matanya tidak berbicara apa-apa.

Kami diam lagi. Ada sesuatu yang menahanku ketika sebenarnya aku ingin bersuara.

“Bapak, tadi aku melihat ibu,” akhirnya keluar juga suaraku meski takut-takut.

“Kapan? Di mana?” sambar bapak cepat.

“Sepulang sekolah tadi di lapangan dekat sonaf. Ibu ada di dalam sebuah truk. Duduk di depan, dekat om supir,” seperti sebuah laporan aku memberitahu bapak.

Mata bapak mendelik ke arahku lagi. Pelan-pelan ia kemudian bangkit dari duduknya, berjalan ke arah rumah tetangga.

Kudengar suara bapak bertanya kepada salah seorang di sana. Tidak ada yang melihat, mereka bilang.

Bapak kembali ke rumah. Kami yang menunggu di halaman samping digiring masuk. Bapak lalu menutup jendela-jendela, menyalakan lampu, lalu kami dimandikan. Di ruang tengah sambil duduk menunggu bapak mandi, aku mengambil buku-buku dan memperlihatkannya pada Anoh. Ia berminat hanya sebentar lantas meninggalkanku untuk bermain-main di lantai. Seusai bapak mandi dan berganti pakaian, kami bertiga masuk ke dapur. Di sana ada sebuah balai-balai kecil. Aku dan Anoh duduk di atasnya untuk bermain sambil bernyanyi-nyanyi. Sementara bapak memasak untuk makan malam kami.

*Sonaf: istana raja