Cerpen

Berita Petang

Di akhir sesi Emerging Writers 2017, seorang peserta diskusi mengangkat tangan dan berkata kalau ia tertarik dengan salah satu cerpen saya yang diulas Bapak Budi Darma berjudul Berita Petang. 🙂 Ia bilang, kalau bisa didapatkan di mana, ia ingin membacanya. Kami sempat berkenalan sesudahnya. Kepadanya saya bilang, “Kebetulan cerpen itu baru saja dimuat di Rubrik Budaya Harian Fajar Makassar Edisi 14 Mei 2017 barusan. Kalau ada korannya, mungkin saya bisa kasih. Tapi kalau tidak pun, saya janji akan mempostingnya di blog biar bisa dibaca.” Nah, sekarang, saya memenuhi janji saya. Btw, nama kakaknya, sayang 😦 dan maaf, ingatan saya tak begitu bagus.  

Selamat membaca... ♥♥♥

***

4e347-20170514_222513
Sumber foto:mgp

Berita petang di televisi mengabarkan seorang buruh TKI mati terlindas truk pengangkut kelapa sawit. Suara perempuan pembawa berita itu pun menyebut nama korban. Terdengar tak asing, kupelototi lagi layar televisi. Terpampang jelas foto adikku di sana. Terkesiap, aku hanya menganga. Cepat kuambil ponsel yang sejak siang tadi tak kutengok. Puluhan pesan dan panggilan telepon masuk tak terbaca. Panik seketika menyergap, aku terduduk di lantai.

Adikku, satu-satunya adik laki-laki di rumah. Dulunya dia anak pintar. Pernah sewaktu SD, dua sampai tiga tahun berturut-turut kami meraih peringkat pertama di kelas masing-masing. Kuingat betul suatu kali seusai penerimaan rapor, di kantin sekolah, para orang tua ramai membicarakan kami berdua. Lalu ada komentar kakak kelas, seorang anak laki-laki bertubuh jangkung berkulit kuning langsat yang wajahnya serupa pemeran tokoh Jack dalam film Titanic, yang di kemudian hari waktu SMA tak henti-henti mengejar ingin aku menjadi pacarnya, berkomentar, “Wih, keren, ya. Kakak beradik sama-sama mendapat rangking satu.”

Walau komentarnya tak dihiraukan, dalam hatiku menguar rasa bangga tak terkira. Tahu saja, bapak dan ibu kami dulunya tak sempat tamat SD. Tapi dua anaknya justru dikerahkan betul-betul untuk berprestasi. Pelajaran dasar membaca dan berhitung bahkan sudah kami kuasai sebelum masuk TK. Ibu mengenalkan huruf, bapak mengenalkan angka. Paduan sempurna.

Sayang, semakin beranjak besar dan punya banyak kawan, adikku semakin lebih banyak bermain daripada belajar. Berbekal ketapel, siang hari mereka berburu burung, malam hari beralih ke kelelawar. Nilainya pun merosot.

Orang-orang mulai membandingkannya denganku yang suka belajar dan membaca. Mereka kerap menjulukinya seorang pemalas dan bodoh. Menertawakannya ketika pagi-pagi ia beriringan denganku berangkat ke sekolah. “Masih ke sekolah? Untuk apa kalau tak dapat nilai bagus seperti kakakmu?”

Lambat laun, mendekati kelas besar SD, ia pun benar-benar malas belajar. Nyaris tak pernah mau lagi menyentuh buku di rumah. Ia terpaksa saja pergi ke sekolah. Baginya ke sekolah hanyalah untuk bertemu kawan-kawan. Sekolah adalah tempatnya bermain. Ruangan kelas adalah siksa neraka.

Pernah suatu kali di rumah tetangga, sementara mereka beristirahat seusai bermain sepak bola, ada seorang berkelakar, “Kau mesti rajin belajar seperti kakakmu. Biar jadi orang pintar.”

Ia lantas mengangkat bahu dan membalas, “Memangnya kalau pintar juga buat apa?” yang sontak membuat orang terpingkal-pingkal.

Cerita tentang kejadian itu terbawa sampai ke rumah dan langsung pula disambut tawa membahana.

Sekejap saja sudah tersiar ke seantero kampung. Di mana ia berpapasan dengan orang, selalu ungkapan itulah yang dilontarkan padanya. “Eh, Emon, buat apa pintar, ya?” atau “Halo, Mon, pintar juga memangnya buat apa?” atau “Orang itu mesti kayak Emon. Kalau pintar tak ada gunanya, ya, lebih baik tak usah belajar. Bukankah begitu, Mon?” Mereka tertawa dan berlalu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Bila sudah keterlaluan, maka hanya ibulah pembelanya. Adikku sendiri tak suka ambil pusing apa kata orang. Ia hanya menganggapnya sebagai angin lalu.

Sementara aku, mau saja terseret dengan laku orang-orang. Ikut mengolok ketika mereka mengolok. Ikut tertawa kala mereka tertawa. Sampai suatu peristiwa seperti telak menghantamku. Membuatku menanggung penyesalan teramat dalam. Bahkan diam-diam menangis sedih sepanjang malam sampai tenggorokanku sakit tak tertahankan.

Hari itu pengumuman kelulusan SMP. Setelah setiap hari selama tiga tahun bersama kawan-kawan seangkatannya menempuh antara empat atau lima kilometer berjalan kaki, pada hari istimewa itu ia justru dinyatakan tidak lulus. Ketika kawan-kawannya yang lain berjingkrak gembira karena lulus, ia justru mendekam hampir sepanjang hari dalam bilik kandang ayam di belakang rumah kalau saja ibu tak membujuknya keluar.

Tak ada ujian susulan untuk peserta UN yang tidak lulus tahun itu. Demi memperoleh ijazah murni, maka mengulang lagi ia tahun berikutnya. Jadilah empat tahun ia belajar di SMP. Empat tahun berjalan kaki bolak-balik setiap pagi dan siang antara rumah dan sekolah.

Memasuki masa SMA, kabar dan perkembangannya tak lagi intens kuikuti. Aku mendapat beasiswa, mesti melanjutkan sekolah di Jakarta. Sesekali saja kami bicara via telepon. Itupun hanya berlangsung beberapa menit dan berupa basa-basi tak penting. Ialah yang tak mau bicara lama-lama denganku. Sering dalam pembicaraan, begitu terdengar aku mulai ingin bercerita tentang kegiatan di kampus atau di organisasi yang kuikuti, ia pasti buru-buru bilang akan pergi, atau mau melakukan sesuatu. Begitu juga bila ada hal mengenainya yang ingin kutanyai.

Di kelas akhir SMA, aku mencoba bertanya padanya mau buat apa setelah tamat. Pikirku, barangkali aku dapat membantunya. Ia bilang akan berhenti sekolah.

“Tak mau lanjut kuliah?”

“Sudah cukup di SMA.”

Aku terus mendesak. Sayang menurutku kalau hanya di bangku SMA. Kalaupun tidak lanjut, setidaknya ia harus melakukan sesuatu. Kutanyai lagi.

“Tidak buat apa-apa. Hanya mau rehat otak dulu,” jawabnya enteng.

Jawabannya membuatku heran, apa yang mau ia rehatkan. Toh, selama ini juga ia lebih banyak bermain-main.

“Baiklah. Rehat otak. Setelah itu, mau kan lanjut sekolah?” kubujuk ia penuh harap. “Setahun lagi aku lulus. Masalah biaya sudah lebih ringan.”

Ia mendengus.

“Tak mau lagi saya berhubungan dengan yang namanya baca tulis,” kilahnya.

Beralih aku menghubungi bapak, mengecek jangan-jangan merekalah yang menghalangi ia melanjutkan sekolah. Pertanyaanku dengan tegas dibantah.

“Siapa yang menghalangi. Lagipula tak ada cukup uang untuk ia bersekolah. Sudah bertahun-tahun curah hujan di sini tak menentu. Hampir semua mata air sudah mulai mengering. Mau cari makan saja susah.” Bapak berdiam sebentar sebelum melanjutkan. “Atau, apakah menurutmu orang sedungu dia bisa dipercaya pihak-pihak pemberi beasiswa?”

Kalimat bapak tak sanggup kusahuti. Kata-kataku tersekat di kerongkongan. Itu pertanyaan paling menyesakkan telinga yang pernah kudengar dari mulut bapak.

Waktu bergulir begitu cepat.

“Mereka sudah berangkat,” kata bapak ketika aku menanyakan kabar adikku beberapa bulan kemudian.

“Berangkat?” shock, aku tak mengerti maksud bapak. “Ke mana?”

“Malaysia,” bapak menjawab datar. “Dengan beberapa kawannya yang lain.”

Nyaris histeris, aku tak lagi mendengar uraian panjang bapak. Bercampur aduk segala yang  berkelebat di kepala. Kenapa aku tak dikabari sebelum ia pergi. Kalau saja aku tahu, setidaknya kami bisa berembuk. Akan kuajak dia ke Jakarta. Akan kubantu ia mendapat perkerjaan yang layak. Mungkin bisa sebagai security di kampus atau asrama mahasiswa.

Meski kesal, aku mencoba menghubunginya. Ia malah dengan bangga mengabari, mereka sudah di Kalimantan. Siap menempuh perjalanan menuju Malaysia. Ia mengejekku yang katanya juara kelas bahkan juara sekolah tapi hanya bergerak di dalam negeri.

“Sewaktu di sekolah, saya bukan anak yang pintar-pintar amat. Tapi lihat, sebentar lagi tempat kerja saya sudah di luar negeri. Sementara kau sendiri bagaimana?” ia terus terkekeh. “Selamat berenang-renang di Indonesia,” ucapnya disertai ledekan mengakhiri percakapan.

Tiada lagi komunikasi kami sejak hari itu sampai setahun kemudian aku lulus, bekerja dua tahun di bawah kontrak beasiswa, dan sekarang sementara mengikuti kelas pembekalan guna melanjutkan kuliah di luar.

Di televisi, berita sudah beralih ke topik lain. Berusaha semampu mungkin menyibak air mata yang merebak, satu per satu pesan masuk dan panggilan di ponsel kubuka dan kubaca. Tak ada yang lebih pedih dari pesan masuk paling akhir.

Dari ibu. “Sudahlah. Tak usahlah ditanggapi. Jalani saja hidupmu dengan gembira. Bukannya semua sudah terbaca sejak awal. Kau memang tak pernah peduli dengan adikmu.”

Kupang, September 2016

Cerpen

Serangan Asma

*Cerpen Serangan Asma adalah salah satu cerpen yang saya kirimkan kepada panitia  MIWF 2017 dan saya bacakan kutipannya dalam acara Under The Poetic Star di  Main Plaza, Fort Rotterdam, Makassar. Cerpen ini dipersembahkan untuk: 1) Adik saya, seorang penderita asma, 2) Lentera Harapan Kupang, 3) Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

IMG_20170520_145207
Sumber gambar: Dok MIWF

Selamat membaca….:)

***

Aku membaca sebuah kisah pendek dan menangis(1). Sebuah  kisah yang melemparkanku kembali kepada beberapa tahun silam. Kala itu aku baru saja mencoba menjadi seorang manusia berguna setelah bertahun-tahun dirundung rasa bersalah teramat dalam hingga di waktu-waktu tertentu terkadang muncul pikiran, sepertinya sepanjang hidup, aku tak akan pernah mengampuni diriku.

“Ini saatnya kau menulis,” serta merta terdengar suara yang tak lagi asing.

Menutup buku, aku mengangkat muka. Di depanku duduk berdampingan dua remaja laki-laki.

Aku merasa lemas. “Kenapa mesti kisah ini?”

“Setidaknya kau punya bahan menulis sekarang,” serempak riang suara mereka.

“Bagaimana bisa aku menulis?” aku menggeleng pelan.

 Seorang di antara keduanya mendekat.

“Lihat aku, dan tulislah tentangku,” katanya. “Aku akan berada di sini sampai kau selesai menulis.”

Ia adikku. Satu-satunya adik laki-laki di rumah. Aku baru saja mencoba mengenal dunia dengan seluk-beluknya ketika ia didiagnosa mengidap asma. Hampir sepanjang hidupnya, penyakit itu seolah tak pernah mau membiarkannya merasa senang walau hanya sebentar. Setiap selesai bermain-main, napasnya selalu berbunyi aneh kemudian ia akan masuk ke rumah, berbaring di tempat tidur sambil berkesah dadanya sakit.

Begitu juga di waktu-waktu tertentu ketika ada acara keluarga, atau perayaan natal-tahun baru, perayaan paskah, atau perayaan 17-an, atau entah kegiatan apa saja yang dibuat di sekitar rumah, sementara semua orang berjalan ke sana ke mari, sibuk berlarian mengambil barang ini dan barang itu, anak-anak berceloteh riang sambil bermain menunggu orang tua mereka yang semangat bekerja di tempat acara diadakan, adikku hanya akan tinggal sendiri di rumah, berbaring di  tempat tidur sambil sesekali mengeluarkan suara keluhan. Bila ingin menghibur diri atau sekadar tahu keadaan di luar, maka sambil bergelung selimutnya, ia akan duduk di samping jendela kamar dan menonton dari jauh.

Ia memang harus sendiri. Tak ada ibu, tak ada bapak, juga aku. Ia yang dipanggil ibu sudah lama tak bersama kami. Ia pergi meninggalkan rumah semenjak aku baru mengenal dunia taman kanak-kanak dan adikku berusia dua tahun. Pergi entah ke mana dengan menumpang truk kuning di kala gerimis baru saja mereda. Sedang bapak, sebagai kepala keluarga mestilah ia menghadirkan diri di tempat acara diadakan. Sementara aku, tentu juga tak bisa. Tak mau aku dikungkung menyendiri dan tak bisa berbuat apa-apa dalam ruangan sempit bersama seorang anak yang terus saja mengeluh dadanya sakit. Aku tidak tahan mendengar celoteh riang anak-anak di luar kalau tak segera menggabungkan diri bersama mereka.

Suatu hari saat masih SD, di jalan sepulang sekolah tiba-tiba adikku terserang asma. Beberapa kawan menahannya agar tak jatuh. Aku yang berada jauh di belakang mereka datang menyusul. Kami menuntunnya menepi. Ia dibaringkan di bawah sebatang pohon di pinggir jalan. Kancing baju bagian atasnya dilepas. Aku mengambil buku dari dalam tas. Badannya kukipas-kipas. Anak-anak lain yang datang berkerumun kusuruh menjauh agar ia mendapat ruang bernapas.

Sambil menjagainya di bawah pohon itu, aku berdoa kepada Tuhan agar jangan dulu mengambilnya. Aku masih ingin menebus dosa.

Sehari sebelumnya ketika menjerang air di dapur, aku memintanya membawakan termos untuk kutuangkan air yang sudah mendidih. Penolakannya membuatku kesal. Ia kusiram dengan setengah gayung air panas. Seketika ia menangis histeris. Tak ingin dipusingkan dengan suara tangisnya, ia kutinggalkan, pergi bermain di luar.

Sore harinya sekembalinya dari tempat bermain, baru kutahu hampir seluruh leher dan dadanya melepuh. Sekujur tubuhku disabet berkali-kali dengan rotan oleh bapak. “Seharian ini adikmu terluka dan menangis seorang diri di rumah sementara kau bermain-main di luar sana tak peduli,” bentak bapak di antara sabetan rotannya.

Malamnya menjelang mau tidur, masih sempat-sempat ia bertanya kepada bapak, apa besok ia tetap berangkat ke sekolah. Kata bapak sebaiknya pergi saja, toh yang terluka bukan kaki dan tangan.

Demikianlah hingga siang hari di bawah pohon di pinggir jalan itu, bahkan di sela-sela napasnya yang berbunyi aneh dan dadanya yang bergerak turun naik, lukanya masih merah mentah terlihat di balik baju seragamnya.

Teman-teman yang bersama kami sudah pergi dan tinggal aku sendiri menjaganya hingga sejam kemudian lewat seorang tetangga. Adikku digendong pulang ke rumah. Aku berada di belakang mereka sambil terus menggulirkan doa. Minta diberi kesempatan menebus dosa.

Sayangnya, janjiku menebus dosa hanyalah janji semata. Setiap kali ia kesulitan sesuatu dan memintai tolong, tak selalu dengan segera aku datang dan membantunya. Hidupku seolah adalah hidupku sendiri dan hidupnya adalah hidupnya. Hampir selalu begitu.

Suatu kali lain di masa kuliah, aku pulang liburan. Ketika masa liburan berakhir dan akan kembali ke kampus di Jakarta, saudara-saudara sepupu dan anak-anak tetangga antusias bahkan berebutan mengantarku ke bandara, hanya ia seorang yang diam dan tak keluar sepatah kata pun dari mulutnya. Ketika ia kutanya kenapa hanya diam, apa tak mau ikut antar, ia menjawab pendek, “Mau, tapi dada sakit.” Jawaban yang sontak membuat kerongkonganku sakit. Perjalanan kembali ke kampus terasa pahit.

Setibanya di kampus aku dikirimi pesan. Aku memintamu membawakanku inhaler. Kau datang justru membawa buku panduan penderita asma. Sakitku sudah parah. Aku tak lagi butuh buku. Membaca pesan singkat itu, rasa-rasanya aku ingin mati. Betapa telah banyak keteledoran kuperbuat.

Beberapa bulan kemudian, menjelang pengumuman kelulusan SMA, kudengar asmanya kembali kambuh. Di hari pengumuman kelulusan, ia tak ikut berangkat ke sekolah karena dadanya sakit. Pada siang hari teman-temannya pulang membawa kabar ia lulus. Sore hari ketika kutelepon, di antara deru napasnya ia berseru senang bisa lulus SMA. Katanya ia mau juga mendapat beasiswa dan lanjut sekolah di Jawa, tapi sakitnya seperti tak mengizinkan. Semenit kemudian tak terdengar lagi suaranya. Diganti samar-samar suara ribut dan panik. Sambungan telepon terputus dan meninggalkan padaku tanda tanya penuh kecemasan. Beberapa menit kemudian aku dihubungi kembali. Suara seorang perempuan entah siapa. Tanda tanya itu terjawab, “Adikmu baru saja meninggalkan kita.”

“Sudah, ini saja yang bisa kutulis,” kataku menatapnya. “Kuharap kau memaafkanku.”
Ia tersenyum. Melambaikan tangan dan berbalik pergi.

“Giliranku sekarang,” kata seorang yang lainnya sambil bergerak mendekati.

Ia salah satu muridku di tahun pertama aku baru belajar menjadi seorang guru. Anak pindahan dari sekolah negeri. Duduk di bangku kelas 2 SMP. Menurut pengakuan orangtuanya, lebih tepat ibunya, anak yang biasa disapa Nuel itu mengidap asma sejak kecil.

Di kelas, ia seorang yang suka mengusili teman-temannya kemudian berkilah ketika ditanyai. Karena sifatnya itulah ia tidak disukai teman sekelasnya dan juga para guru. Jangankan kawan dan guru, ibu kandungnya sendiri bahkan menolak dan membencinya sejak kematian bapaknya yang mengalami kecelakaan suatu siang ketika ingin menjemputnya semasa ia SD.

Ia tahu ibunya sendiri tak suka padanya. Maka itu lebih sering ia menghabiskan waktu di luar bersama para pemuda kampungnya. Kumpul-kumpul dan entah melakukan apa hingga larut malam.

Tak hanya sering terlambat dan tidak mengerjakan PR, ia pun satu-satunya siswa SMP yang merokok. Bibirnya selalu hitam setiap pagi datang ke sekolah. Setiap guru piket yang bertugas di depan gerbang sekolah pasti akan melihatnya terburu-buru membuang permen karet menjelang ia mendekati gerbang. Beberapa kali disidak dan selalu kedapatan bungkusan rokok, korek api, dan permen karet selain tablet obat asma dalam tas kumalnya.

Di tahun itu, peraturan sekolah mengharuskan setiap siswa yang terlambat lebih dari tiga kali tidak diikutkan dalam KBM dua jam pertama. Mereka akan membaca buku dan mengerjakan tugas-tugas perpustakaan. Selalu ketika aku berkunjung ke perpustakaan pagi hari, kudapati buku bacaannya hanya satu, dan menurut petugas penjaga perpustakaan, memang hanya itu satu-satunya buku yang ia baca selama berada di sana. Buku Sayonara Narkoba oleh Fanny J Poyk, yang juga putri seorang sastrawan beken asal NTT, Gerson Poyk.

Di kelasnya saat kami mempelajari materi sinopsis, buku itulah yang ia pilih. Buku itu pun sudah pernah kubaca sebelumnya dan aku tahu persis isinya. Di tugas yang ia kumpulkan, penyusunan sinopsisnya sungguh jauh di luar dugaan. Walau dengan gaya bahasa sederhana khas anak SMP, tapi mampu merangkum setiap cerita dalam buku. Aku tahu ia telah membaca bukunya dengan baik.

Di buku tugasnya kuberi nilai tinggi, juga kutuliskan hampir setengah halaman berisi apresiasi untuk usahanya. Kuakhiri tulisanku dengan tanda tangan, cap hari tanggal, dan sebuah ikon senyum. Kupanggil ia menemuiku di ruang guru. Mengobrol sebentar dan kutanyai sedikit tentang asmanya. Semula ia tak mau bercerita. Ia justru menatapku dingin seolah bermusuhan.

“Kau tak perlu menatap seperti itu,” kataku. Kepadanya lanjut kubilang, aku pun punya adik yang sejak kecil mengidap asma. Bisa kumengerti sedikit bagaimana pergumulan para penderita asma. Mendengar itu, ia pun membuka suara dan bercerita walau hanya sepotong-sepotong.

Buku tugasnya kukembalikan. Ia menerimanya, membaca catatanku, dan berulang-ulang mengucap terima kasih.

Beberapa hari kemudian, saat jam mengajar di kelasnya, anak-anak kuberi tugas berdiskusi kelompok dan aku berkeliling mengawasi. Lagi-lagi tanpa sepengetahuanku, ia berbuat usil dengan mengikatkan tali rafia pada kaki salah seorang temannya dan disambungkan dengan kaki kursi, membuat temannya terjatuh ketika hendak beranjak bahkan sampai bibirnya berdarah. Sebagai konsekuensi, ia kuminta menulis refleksi seusai ia dan anak yang terjatuh tersebut bertemu denganku dan kami mengadakan rekonsiliasi di ruang konseling.

Refleksinya ia tulis di buku tugasnya. Di dalam refleksinya ia menyatakan penyesalan dan ungkapan maaf telah berbuat ulah saat kegiatan pembelajaran, serta berjanji tak akan mengulanginya. Membubuhkan tanda tangan dan hari tanggal, buku itu kusimpan di laci meja kerjaku. Berniat mengembalikannya nanti melalui wali kelasnya.

Mengingat dan mengenang adikku, aku terdorong memasukkan ia dalam cerita yang sedang kutulis tentang sahabat dekatku yang juga adalah wali kelasnya. Walau di sana ia bukanlah tokoh utama, perannya masih terbilang baik. Kuselesaikan cerita itu dengan niat mendamaikan antara ia dan wali kelasnya yang nyaris putus asa menghadapi lakunya seorang. Tentu nama para tokoh tidak kucantumkan sesuai nama asli. Cerita itu kukirim ke sebuah koran lokal. Tak berselang lama, pada suatu hari Minggu, cerita dengan judul Ibu Guru ketika HUT Mateos(2) dimuat. Aku senang bukan main. Kutunjukan cerita itu kepada sahabatku. Ia langsung menerimanya dan membaca.

“Aku tahu, ini kau mau menghubungkanku dengan Nuel, kan?” katanya sambil melotot padaku yang hanya kutanggapi dengan tawa.

Malam itu aku tak sabar menunggu pagi. Ingin segera kutunjukkan cerita itu kepada Nuel.  Besoknya di hari Senin, dengan semangat menggebu aku berangkat ke sekolah. Di tasku sudah kukantongi koran hari Minggu kemarin. Di gerbang sekolah, walau bukan jadwal piket, aku ikut berdiri menyambut siswa. Sengaja aku menanti kedatangannya. Namun hingga di saat bel berdentang panjang tanda masuk pun, tak juga ia muncul.

Pukul tujuh lewat, para siswa di kelas sementara bersiap memulai pelajaran. Karena belum waktuku masuk mengajar, aku membereskan tugas administrasi di ruang guru. Sang wali kelas pun sementara ada bersamaku di ruangan itu. Ia pun belum waktunya mengajar dan sementara merapikan file-file di meja kerjanya. Tiba-tiba telepon sekolah berdering. Sang wali kelas, karena yang paling dekat, ialah yang mengangkat teleponnya. Semula sapaan yang diberikan bernada gembira dan manis. Tapi kalimat yang datang kemudian cukup mengagetkan. Ungkapan terkejut dan seolah tak percaya. Anak murid kami bernama Nuel telah dipanggil pulang semalam kira-kira pukul sebelas setelah sebelumnya ketika terserang asma, ia dengan panik menelan sekaligus beberapa tablet obat asma sehingga mesti dilarikan ke rumah sakit. Di rumah sakit itulah menjelang embusan napas terakhirnya, kepada sang ibu ia mengaku telah mengisap habis belasan batang rokok di rumah kawannya.

Kisah ini nyata, dan aku sendiri pun nyaris tak percaya.

“Percaya atau tidak, semua sudah terjadi,” katanya dengan suara bergetar. Ia kemudian pelan-pelan berbalik pergi.

“Bagaimana, bisa dipahami kisahnya?” tanya sang instruktur dari depan.

“Giliranmu!” sikut kawan yang duduk di sampingku.

“Ada apa?”

“Ah, kau membaca sebuah kisah pendek dan menangis?” sang kawan menatapku heran dan bingung.

Saat kau mendapat serangan asma, ….(3)” Demikian kisah pendek karangan seorang penulis Israel itu kubaca ulang.

Kupang, September 2016

Keterangan:

(1) Kutipan kalimat pembuka cerita mini Berputar karya Eric Lofa, pada kelas menulis Komunitas Sastra Dusun Flobamora

(2) Cerpen Anaci Tnunay, Timor Ekspress Minggu, 12 Februari 2012

(3) Diterjemahkan dari Asthma Attack karya Etgar Keret oleh AN Wibisana, pengampu kelas menulis Komunitas Sastra Dusun Flobamora

Cerpen, Refleksi

Utang dan Anugerah*

77c17681e826f8e2e33cca4ab04d09e1*This is the reason why I’ve to write… and I’ll keep writing in the rest of my life…

“Astaga. Ternyata kau. Sedang buat apa di sini?”

“Mau bertemu Tuhan. Ingin minta maaf.”

Mata sang penanya membelalak.

“Kau tahu aturan bercanda. Kalau kau bercanda seperti itu lagi, aku tak segan-segan menamparmu. Tak peduli, apa yang kau pikirkan tentangku.”

“Silakan saja kau menampar. Kau tak mengerti persoalan yang sedang melandaku.”

Sebuah tamparan keras melayang. Bunyi mendesing terdengar di telinga sang gadis.

“Kenapa kau memutuskan mau bertemu Tuhan dengan cara ini?”

“Karena aku tak mampu membayar utang-utangku.”

“Memangnya kau berutang apa saja?”

 “Aku bangun pagi dan merasakan udara segar, lantas mendengar suara burung berkicau di pagi hari. Harum segar bunga-bunga di taman. Hati dan pikiranku begitu damai. Namun aku tak perlu membayar apa-apa, satu rupiah pun.”

 “Maksudmu?”

 

“Semalam aku berkumpul dengan kawan-kawanku di kafe CoffeBooks, di pinggir kota di tepi pantai. Kami berdiskusi tentang buku-buku dan tentang kepenulisan dari zaman batu hingga zaman digital sekarang ini. Kami hanya perlu membayar untuk secangkir kopi yang kami minum masing-masing. Suasana dan keakraban yang dinikmati, kami tak membayarnya. Satu rupiah pun tidak.”

“Masih belum kutangkap apa yang kau maksud.”

 

 

“Aku tiba di rumah dan kemudian hujan turun. Membasahi beberapa anakan pohon yang kutanam di belakang rumah beberapa hari lalu dan juga bunga-bunga di taman depan rumah. Aku masuk dan menikmati secangkir susu hangat sebagai penetral tadi sudah minum kopi di kafe, lantas membuka sebuah novel untuk dibaca. Untuk kebahagiaan itu, aku tak perlu membayar apa-apa.”

“Ya, Tuhan. Kau sudah membawar biaya kredit rumah dan listrik, serta membeli buku dan kopi gula, apa kau hanya pergi tersenyum kepada sang penjual lantas memberimu gratis?”

“Memang. Benda-benda itu aku memang membelinya. Tapi kenikmatan dan kepuasan yang kualami, aku tak perlu membayarnya dengan apapun. Semua itu kudapatkan gratis.”

“Semua orang di dunia bisa juga mendapatkan gratis dan tak sampai berpikir bahwa itu adalah utang.”

20160814_160228“Aku mengendarai sepeda motor dan berpikir, indah sekali dan nyaman sekali bisa mengendarai sepeda motor ini. Bisa bepergian ke mana kusuka dan kapan pun aku butuh. Aku hanya perlu sekali saja menyediakan uang belasan juta untuk memilikinya, lalu beberapa puluh ribu untuk bisa sampai ke tempat tujuan dengan pasti.”

“Pikiranmu melantur memang.”

“Malam-malam ketika aku melihat kelap-kelip bintang di langit. Angin malam yang berhembus lembut. Aku merasa suasana sekelilingku begitu tenteram. Namun aku tak perlu membayar apa-apa untuk dapat merasakan ketenangan dan kedamaian malam itu.”

“Sudah kubilang, orang-orang lain juga mendapatkan apa yang kau dapatkan itu, dan mereka tak berpikir bahwa itu adalah utang sehingga harus dibayar.”

“Aku suka suasana malam kalau berada di jalan raya di kota. Aku suka melihat kelap-kelip cahaya lampu mobil dan cahaya lampu kenderaan yang berlalu lalang. Aku hanya perlu berada di pinggir jalan atau di atas sepeda motor yang kuparkir atau berada di dalam satu ruangan dan menatap jalanan. Aku tak membayar apa-apa untuk keindahan yang kunikmati itu.”

“Aku bingung dengan jalan pikiranmu.”

“Aku suka suasana pada malam hari di rumah. Malam itu selalu membuat tenang. Memberikan keluluasan untuk membaca dan berpikir, atau melakukan apa saja yang menyenangkan tanpa gangguan. Dengan adanya penerang di malam hari, aku boleh melakukan hal-hal itu sebelum beranjak tidur. Aku tak perlu membayar apa-apa.”

“Apa kau tak membayar listrik setiap bulannya?”

“Aku membayar setiap bulan. Tapi aku tidak  membayar suasana yang kuperoleh saat bisa melakukan beberapa hal itu sebelum beranjak beristirahat di malam hari.”

“Pikiranmu ribet dan ruwet.”

“Aku merasa berutang setiap kali pulang liburan. Entah di masa-masa paskah saat ada perlombaan pemuda gereja, atau di malam-malam ibadah natal, atau di malam kunci tahun, atau di hari-hari minggu. Saat kami semua seisi keluarga, dari bapak, ibu, saya dan adik-adik semua pergi bersama ke gereja untuk beribadah. Aku merasakan betul betapa indah, betapa hangat, betapa damai dan tenteram momen-momen itu. Namun untuk momen-momen berharga itu, aku tak perlu membayar apa-apa.”

“Apa kau tak memberikan persembahan?”

“Apakah kau bertanya untuk persembahan yang seribu dua ribu yang hanya cukup untuk membeli satu potong pisang goreng itu sebanding dengan momen-momen berharga bersama keluarga?”

“Hmm…”

“Di gereja, aku bertemu dan menyapa orang-orang, bersekutu, dan menyanyi bersama. Ada hal lain yang aneh dan lembut datang menghampiri. Semua itu walau kurasakan begitu dekat, mistis, aneh, lembut, menenangkan, begitu menegangkan. Aku merasakannya demikian, sekalipun tak dapat kugambarkan apakah sesungguhnya itu. Aku tak begitu tahu. Tapi yang jelas, bahwa itu sangatlah indah dan agung. Aku mendapatkannya. Aku tak membayarnya. Bahkan kalau kubayar pun, aku tak tahu harus seberapa besar dan bagaimana aku mampu membayarnya. Rasa-rasanya seumur hidup aku tak mampu membayarnya. Ah, aku ingin mati saja. Aku ingin bertemu Tuhan. Aku mau minta maaf kepada-Nya. Aku ingin mengatakan pada-Nya, aku tak mampu membayar semua utangku yang teramat banyak ini.”

Kali ini tangisnya pecah.  Sesenggukan tak mau berhenti.

“Aku suka membaca buku. Buku-buku itu menyadarkanku bahwa di dunia ini bukan aku saja yang merasa aneh. Ada banyak orang di luar sana yang sama aneh denganku dan merasa orang-orang di sekeliling mereka yang tak benar-benar memahami mereka. Aku membaca cerita mereka dan merasa bahagia, menemukan orang yang sama penderitaannya dan merasa senang. Ternyata aku tidak sendiri. Namun hanya itu yang bisa kulakukan. Aku hanya mampu membayar beberapa puluh ribu untuk buku yang bercerita tentang mereka. Kebahagiaan yang kuperoleh saat aku tahu bahwa kami adalah orang-orang yang senasib, aku tak membayarnya. Satu rupiah pun aku tak kukeluarkan.”

Si penanya hanya diam.

20161205_174059“Suatu hari, pernah sekali ketika aku terjebak dalam rutinitas hingga nyaris mencapai tiik jenuh, tiba-tiba handphone bergetar menandakan pesan masuk. Kabar dari salah seorang sanak mengundang datang ke rumah karena mereka sementara mengadakan acara kecil-kecilan di rumah. Aku yang sebelumnya sudah bermata redup dan merasa hidup sudah mau mendekati puncak kekeringan, berasa seperti berada di padang gurun yang tiba-tiba ditetesi air. Segera kupersiapkan diri datang ke tempat dipanggil. Di sana aku mendapatkan kesegaran kembali setelah bertemu. Bercerita sebentar dengan mereka. Bermain-main dengan ponaan. merasakan suasana hangat dan damai di antara kami. Hari itu, dan tak hanya hari itu, tapi memang seringkali seperti itu. Sering aku mendapatkan momen-momen itu, namun aku tak perlu mengeluarkan bayaran apapun.”

“Kau mengeluarkan uang untuk bensin motormu, bukan.”

“Apakah itu bisa dihitung dan sebanding dengan yang diperoleh?”

“Kalau kubilang kau sudah membayar, selalu kau beralasan sebanding…sebanding. Kalau masalah sebanding, tentu tak sebandinglah,” ia mendengus.

“Aku berutang pada kenangan. Ketika masih kecil dulu, karena kesukaanku adalah membaca buku atau belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah, sementara di rumah banyak pekerjaan rumah tangga yang mesti kulakukan, aku lantas berpikir alangkah indahnya berada di tempat di mana kau tak perlu merasa repot-repot mencucui piring, repot-repot menyapu rumah dan halaman, repot-repot mengambil air untuk mengisi bak-bak air minum atau bak mandi, repot-repot memberi makan ayam, repot-repot memikirkan tentang uang jajan atau uang untuk mendapatkan makanan. Alangkah indah bahwa semua itu sudah tersedia, dan yang perlu kau lakukan hanyalah belajar dan belajar, membaca buku dan membaca.

Lantas, di masa SMA, aku mendengar kabar, ada satu institusi yang menyediakan segala fasilitas dan keperluan, tak perlu memikiran biaya pendidikan karena memang sudah disediakan, kau hanya tinggal belajar dan belajar, lapangan pekerjaan untukmu pun tersedia ketika kau menyelesaikan pendidikan itu dengan upah yang lumayan. Pekerjaan itupun memang sesuai mimpimu kala kau berada di bangku SMP.

10593379_702093706511917_843151614_n
Sumber: IfyClub

Tempat belajarnya pun ada di sebuah kota yang selama ini bahkan ada di mimpimu pun tak pernah. Adakah hal lain yang lebih indah? Apalagi yang mesti kau tunggu? Kau mendapatkan itu. Selama empat tahun, terlalu banyak pengalaman luar biasa kau alami. Hal-hal bergizi kau dapat. Tak hanya memuaskan raga, tapi pikiran dan hatimu. Berapa banyak yang kau bayar untuk semua itu?

“Uang saku setiap bulan apa tak ada?”

“Apakah seratus dua ratus ribu per bulan mampu membayar semua fasilitas dan biaya belajar di tempat elite semacam itu?”

“Lagi-lagi itu alasanmu.”

“Bapak yang mula-mula keberatan melepasku sebab memikirkan setelah empat tahun, entah aku akan terlempar ke belahan pulau mana, mesti bergumul siang malam sampai ia akhirnya mengeluarkan suara, kau boleh mengambil kesempatan ini. Apa yang kubayar untuk pergumulan bapak? Apakah seuprit dari upah setiap bulan mampu melunasi ketika ia bertekuk lutut dan bergumul mencari keputusan terbaik hingga dengan mata berkaca melepasku pergi?”

“Teruskan saja igaunmu selama aku masih mendengar. Mungkin sebentar lagi aku mau beranjak.”

“Aku berutang kepada penemu komputer, penemu mesin printer, dan mesin fotokopi. Sebagai guru, aku membuat soal-soal ulangan dan ujian untuk anak-anak murid. Aku senang karena seusai mengetik soal-soal, aku mencetaknya di mesin printer, lalu pergi ke mesin fotokopi, tinggal diperbanyak. Jadilah soal-soal itu untuk diberikan kepada anak-anak.”

“Kau membayar kepada penjaga printer dna fotokopinya bukan?”

“Aku membayar. Seribu rupiah untuk setiap cetakan, dan 200 rupiah untuk setiap kopian. Tapi aku tak membayar untuk betapa cepat dan mudahnya sampai lembaran-lembaran soal itu jadi.”

“Ok.. masih ada?”

“Aku berutang kepada penemu internet. Aku hanya perlu membayar beberapa puluh ribu untuk paket data sebulan dan aku bisa terhubung dengan orang-orang di berbagai belahan dunia dalam waktu yang sangat singkat. Aku bisa bertanya jawab dengan mereka selayaknya sedang berhadapan dengan orang-orang di dekatku.”

“Aku berlangganan dengan beberapa newsletter dari dalam maupun luar negeri. Setiap mereka menerbitkan tulisan mereka, tentu aku pun dapat pemberitahuan, bisa kuakses dengan cepat dan mudah. Banyak hal kudapatkan dari sana. Dan untuk semua itu, aku tak perlu membayar apa-apa selain data paket sebulan itu. Atau pun tak pakai paketan data, maka di sekolah ada wifi. Banyak hal manfaat kuperoleh, dan aku tak membayar apa-apa.”

“Kau sudah membayar dengan jam kerja kamu di sekolah. Bayangkan bagaimana seandainya kau tak bekerja di sana, bagaimana bisa kau dapatkan akses wifi gratis?”

“Aku menonton video lagu yang keren, lirik lagunya yang menyentuh hingga ke sanubari, dan performa mereka yang keren dan luar biasa membauat mataku bisa dengan cepat berasa panas sampai mengalir air mata. Aku menangis karena merasa begitu bahagia dan terharu. Namun, untuk kebahagiaan itu, aku tak perlu mengeluarkan bayaran apapun.

Film-film bagus. Cerita-cerita yang luar biasa dengan akting para pemain yang sungguh-sungguh menghayati peran sehingga seolah itu memang terjadi di dunia nyata. Cerita yang indah, keren, dan luar biasa, membawaku  seolah ikut mengalaminya di sana. Mataku lagi-lagi berasa panas, entah sedih, marah, kesal, kecewa, senang, aku bisa merasa lega setelahnya. Dan untuk kelegaan itu, aku memperolehnya tanpa membayar. Satu rupiah pun tak dikeluarkan.”

“Masih ada?”

“Aku pernah mengidolakan seseorang. Ia masih seorang anak manusia.  Anak manusia yang sama terbatasnya dengan setiap anak manusia lain di muka bumi. Secara status, dalam bentuk apapun status itu, dengan kacamata orang-orang yang tinggal di permukaan bumi dan kuyakini seluruh daging, tulang, dan darahku, kami tak akan pernah bertemu, toh, suatu kali kami bertemu juga di suatu tempat. Namun aku tak perlu membayar apa-apa untuk pertemuan itu. Bukan hanya pertemuan yang sekilas, tapi bahkan juga untuk setiap interaksinya. Aku merasa seperti di atas awan, tapi tak ada bayaran yang perlu kuberikan.”

“Kau sudah membayarnya sebelum-sebelumnya. Kau membayar buku-buku yang kau baca, kau membayar laptop yng kau pakai menulis, serta waktu-waktu yang kau pakai untuk membaca dan menulis.”

“Aku hanya membayar buku-buku dan laptop. Saat membaca dan menulis, aku tak membayar. Harusnya, tepatnya, aku membayar saat membaca dan menulis itu.”

“Kenapa kau perlu membayar saat membaca dan menulis?”

“Karena ada banyak manfaat yang aku peroleh saat melakukan keduanya. Harusnya dan mestinya aku membayar.”

“Hmm…”

“Adakalanya  aku merasa sedih, dan murung. Tiba-tiba ada orang datang menyapa dan berbicara sebentar. Mengingatkanku kembali kepada momen-momen menyenangkan sehingga membuat hatiku kembali bergembira. Aku tak membayar apa-apa untuk itu.”

“Kau pernah mentraktir mereka dengan es krim.”

“Apakah es krim itu mampu membayar lunas utangku pada mereka?”

Si penanya tertawa.

“Suatu insiden membuatku nyaris putus asa dan merasa tak ada lagi yang memperhatikan dan tak mempedulikanku. Tiba-tiba datang panggilan telepon dari orang yang jauh di seberang lautan dan menanyakan kabarku. Aku mengelak dan berkata semuanya dalam keadaan baik. Tapi entah bagaimana ia bisa menangkap nada dalam suaraku dan akhirnya menemukan bahwa aku tak dalam keadaan baik-baik. Mau tak mau aku pun bercerita dan mengeluarkan segala yang mengganjal. Lega seusai berungkap, dan aku tak membayar untuk itu.”

“Orang itu sudah membayar biaya telepon.”

“Memang orang itulah yang membayar. Bukan aku. Maka itu aku yang berutang.”

“Kau berutang pada orang itu.”

“Bukan.”

“Lantas pada apa?”

“Pada sesuatu yang lain, mengapa ia menghubungiku pada saat yang tepat?”

“Kau terlalu banyak berpikir. Hal yang seharusnya tak perlu direpotkan, justru membuatmu begitu repot dan ribet.”

“Ketika perutku terasa sakit atau kebelet ingin pipis. Tentunya harus segera menuju toilet. Berasa lega dan nyaman setelah mengeluarkan apa yang mau dikeluarkan. Keluar dari toilet dengan perasaaan yang lebih nyaman dibanding dengan muka yang pucat pasi ketika menuju ke sana. Dan untuk kelegaan dan kenyamanan itu, aku tak membayar.”

“Kau membayar air, sabun, dan tisu bukan? Apalagi kalau kau di kamar toilet di tempat wisata.”

“Aku membayar seribu dua ribu untuk air, sabun, dan tisu. Tapi bukan kelegaan dan kenyamanan itu. Apakah seribu dua ribu sebanding dengan kelegaan yang kuperoleh?”

“Di jalan raya, hanya hitungan milidetik aku nyaris diserempet mobil tangki. Aku hanya tersentak sebentar, memandang ke muka sang supir dengan terkejut, terus berlalu dengan selamat tanpa satu inchi anggota tubuhku lecet. Kau tahu, aku tak membayar satu rupiah pun untuk beberapa milidetik yang telah menyelamatkan hidupku.”

“Itu salahmu. Kau yang ceroboh dan kurang berhati-hati.”

“Maka untuk akibat kecerobohanku di jalan raya yang seharunya bisa merenggut nyawaku, aku tak membayarnya. Itu utangku.”

“Maka itu, kau harus membayarnya dengan lebih berhati-hati lagi lain kali.”

“Baiklah. Tapi, bagaimana dengan utang-utangku yang lain?

“Kau harus membayarnya dengan kebaikan.”

“Apakah itu cukup? Apakah itu sebanding dengan segala sesuatu yang kuperoleh? Apakah itu mampu melunasi semua utangku yang teramat banyak dan tak terhitung?”

Ia berpikir. Tampaknya ia berpikir keras.

“Belum lagi dengan segala kesalahan yang kuperbuat hampir setiap hari. Nyaris tiada hari yang berlalu tanpa aku sendiri berbuat sesuatu yang salah. Kesalahan aktif maupun pasif.”

Si penanya, setelah berpikir keras, bulat bola matanya tiba-tiba membesar. Ia tersenyum. Sepertinya baru menemukan ide cemerlang.

“Aku baru saja mendapat ide.”

“Apa itu?”

“Sepertinya kau perlu membuat list. Setiap memperoleh kepuasan, kelegaan, kenyamanan, kedamaian, ketenangan, kebahagiaan, intinya setiap sukacita yang kau dapat, kau harus mencatatnya.

Lalu setiap kali kau membuat kesalahan, memang harus pula kau mencatatnya. Itu adalah utang-utangmu yang memang mesti kau bayar.

Lantas, karena kau pikir, segala utangmu yang tak mampu kau bayar dengan uang, dengan rupiah yang kau bilang tak seberapa itu, buatlah kebaikan-kabaikan. Taburkanlah lebih banyak lagi kebaikan.

Setiap kali kau membuat kebaikan, catatlah, dan akan lebih baik kau beri tanda centang untuk menandai sudah seberapa banyak kebaikan kau buat sebagai bayaran. Kupikir, dariku itu cukup.”

“Cukup? Maksudmu itu sudah cukup?”

“Ya.”

“Berapa harga untuk setiap sukacita? Berapa harga untuk setiap kesalahan? Lalu, berapa harga untuk setiap kebaikan yang kuperbuat? Apakah segala kebaikan dan kesalehanku mampu menutupi setiap utang atas berkat dan bayaran untuk segala kesalahan? Apakah menurutmu itu sebanding?”

“Kau terlalu banyak bertanya. Kau terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak. Sudah, pikirkan sendiri. Aku jadi pusing sekarang gara-gara pikiranmu yang berkecamuk itu.”

“Apakah kau tak mau membantuku?”

“Sudah kubilang, pikirkan saja sendiri. Semoga berhasil. Kau kutinggal sekarang. Setidaknya kau sudah berungkap. Dengan sudah berungkap begitu, aku percaya kau tak lagi berniat menjatuhkan diri dari gedung tinggi ini lagi.”

Si penanya itupun beranjak pergi. Meninggalkan sang gadis seorang diri bergumul dengan pikiran-pikirannya.

**

Kau seorang anak manusia. Kau sesungguhnya tidak mampu memecahkan misteri apa sesungguhnya dan mengapa.

Utang anak manusia sebenarnya bukan hanya tentang semua yang diterima dan dinikmati ditambah dengan kesalahan sehari-hari Ini tentang segala sesuatu yang diterima dan dinikmati bertolak belakang dengan keberadaannya di tengah-tengah kecacatan keseluruhan semesta. Ini adalah tentang ketidakmampuannya sebagai puncak ciptaan. Mau berusaha sebagaimana rupa pun, ia memang tetap tak mampu membayar. Tak akan pernah bisa menutupi bukan hanya kesalahan-kesalahan keseharian dan utang-utang atas segala yang diterima dan dinikmati, tapi atas ketidakmampuannya sebagai bagian dari kecacatan keseluruhan keberadaan semesta.

Maka itulah, Dia yang maha harus mewujud manusia untuk bisa membayarnya lunas. Harus Dia yang tak bercacat dan harus dalam kehinaan pula lahir-mati-Nya. Keindahan dan keagungan apa lagi yang lebih dari pada ini?

Sekian.

*Niat awal saya hanya ingin menulis tentang pengalaman baru yang seolah tiada habisnya. Setiap hari tampak baru dan begitu ajaib–setidaknya di mata saya demikian. Mungkin hanya beberapa kalimat.

Nyatanya, seusai menulis, saya pun kaget bisa jadi sepanjang dan seruwet ini. Sebagai yang menulis, saya tentu merasa senang bisa selesai menuliskannya. Mungkin ini pun adalah utang (momen kairos di mana Anda perlu menunduk sejenak dan mengucap terima kasih kepada Sang Pembuat Cerita Abadi) saya.

Thank you for today, Lord of Universe, The Maker of Heaven and Earth. #FastWritingPractice.

Minggu, 12 Februari 2017, Pukul 22.32 Wita

Cerpen

Munida

{Cerpen ini dimuat dalam Jurnal Sastra Santarang, edisi 51, Juli 2016}

:Dari dan untuk tiga perempuan: Muni, Nita, dan Widi Berbelina

13708220_522396224551937_7959299340003415686_o
Sampul depan Jurnal Sastra Santarang, ed 51, Jul’16. Sumber gambar: File Santarang

Munida sementara serius memindai buku yang hendak dibelinya ketika suara cempreng seseorang dekat di telinganya, mengalahkan instrumen You Raise Me Up yang tengah mengalun. “Harganya sudah begini mau bilang apa lagi. Toko ini bukan punya saya, bisa kasih turun harga semau beta semau lu.”

Munida mengangkat muka.

Persis di sampingnya, seorang penjaga toko sedang memelototi dua gadis berseragam SMA yang berwajah tegang menekuri harga buku serupa yang dipegang Munida. Buku panduan masuk SNMPTN.

“Bahkan kalaupun ada diskon 30 persen, jumlah uang kami berdua tak cukup,” salah seorang di antaranya berujar lirih.

“Maklumlah, ilmu memang mahal, Nona,” balas sang penjaga entah dari mana kata itu ia kutip.

Merasa terdorong, Munida mengambil satu lagi di antara beberapa eksemplar yang masih tergeletak di rak pajangan. “Kalian berdua ingin sekali buku ini?”

“Lebih dari ingin, Kak,” sahut salah satunya cepat seraya terkekeh.

Munida tercekat. Sekelebat, kisah tiga tahun silam menari-nari di depan matanya. Persis bulan-bulan begini. Pertengahan April.

*

Hari baru beranjak malam ketika Munida pulang dari kebun kala itu. Keringatnya bercucuran setelah menapaki beberapa tanjakan dengan dua bakul besar berisi cabe di pikulannya. Di rumah, seorang papalele sudah menunggu sejak tadi. Beberapa menit berlangsung transaksi jual beli, dan papalele itu keluar membawa karung berisi cabe di atas motornya. Sambil berangin-angin di teras samping rumah, ia menghitung kembali lembaran-lembaran uang di tangannya.

“Kira-kira sudah berapa banyak kau kumpul dalam bulan-bulan terakhir ini?” tanya ibunya dari dapur.

Ibunya juga baru tiba dari kebun yang sama tapi ia pulang lebih dahulu demi menyiapkan makan malam mereka sekeluarga.

“Masih butuh sejuta lebih,” sahutnya tanpa menoleh. “Kata beberapa kakak mahasiswa yang kutanyai, siap-siap saja uang masuknya tiga juta.”

“Bapak tambahkan 300 ribu kalau pak Samuel membayar lemari pesanannya,” timpal bapak yang baru muncul dari halaman. “Kalaupun belum cukup, mungkin bapak pergi melaut mencari kepiting. Oh ya, si Ama bilang besok ia datang lagi.”

“Apa ia bilang begitu? Di mana ketemu Bapak?” Munida serta-merta bertanya balik. Matanya memicing. Tadi si Ama tak bilang padanya.

“Ya, tadi ketemu di jalan. Katanya ia barusan dari sini. Cabenya bagus-bagus. Dan ia lupa bilang kalau besok mau datang lagi, jadi Bapak dititipi pesan.”

“Kalau begitu, Munida. Kau naikkan harganya saja. Beruntung kita ia yang butuh,” seru ibu dari dalam.

Munida tak berkomentar. Ada deru sepeda motor terdengar memasuki halaman.

“Sepertinya si Ama datang lagi,”

Sepeda motor hampir memasuki teras belakang. Eliya, kakak laki satu-satunya yang bekerja di kota turun dari motor dan menyalami seisi orang rumah.

“Ganjil benar hari ini kau muncul mendadak,” ibunya menyeletuk.

Kakaknya hanya menyeringai masam. Namun tak juga bilang apa-apa.

Munida sendiri menyambut gembira kedatangan kakaknya. Sebab ia dan  ibunya akan mendapat tenaga bantuan dari seorang yang muda, kuat, dan energik. Kedatangan kakaknya seperti bala bantuan yang baru saja diturunkan. Sebab ia dan ibunya memang cukup kewalahan dengan hasil panen. Benih-benih cabe yang ia dan ibunya semaikan pada lubang-lubang galian bapaknya beberapa bulan sebelumnya memang berbuah lebat. Munida sudah berangan-angan kelak uang hasil penjualan bagiannya akan ia simpan untuk pendaftaran masuk perguruan tinggi.

Kakaknya sudah lama bekerja di kota. Kira-kira setahun lebih setamatnya ia dari STM. Munida tak tahu persis kakaknya bekerja apa dan di mana. Sebab kabar yang datang selalu simpang siur. Kadang ia dengar sebagai supir bemo, kadang di bengkel sepeda motor, kadang sebagai pegawai toko, kadang sebagai pekerja di perusahaan mebel, kadang di bank sebagai satpam, bahkan ada yang bilang ia kuliah. Entah mana di antara sekian banyak kabar itu yang benar.

“Sudah di mana kau sekarang, atau sudah tak ada lagi makanya kau pulang tak berkabar?” tanya ibunya di sela-sela makan malam. “Kalau tak ada pekerjaan sekarang, baguslah kau bisa bantu-bantu di kebun, panen cabe. Pas lagi panenannya melimpah kali ini. Adikmu mau kumpul uang buat lanjut sekolah katanya.”

Kakaknya tersenyum kecut. Lantas menoleh tanpa ekspresi ke arah Munida. Tak seperti biasanya ia diam begitu.

Seusai makan malam pun, tak ada bincang-bincang dengan bapak atau ibunya. Ia langsung tepekur menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit sambil mengepulkan asap rokoknya hingga jauh malam.

Sepertinya ia ada masalah, ibu berbisik lirih mengamati tingkah anak sulungnya.

Keesokan siang sepulang sekolah, Munida mendapati ibunya masih belum pergi ke kebun. Ia sementara duduk di bangku ruang tengah dan mencoret-coret sesuatu di atas selembar kertas. Biasanya di jam-jam begitu ibunya sudah di kebun lebih dahulu, dan Munida hanya tinggal makan siang yang sudah disiapkan lantas menyusul.

Bapaknya tentu sudah di padang menggembalakan sapi-sapi milik seorang kaya di kampungnya atau kalau dapat tawaran sampingan entah menggergaji kayu, entah menyerut kayu, entah mengerjakan pesanan perabot rumah tangga seperti lemari meja kursi, entah menggali lubang tanaman, entah mengiris tuak, atau pekerjaan lain apa saja yang bisa dikerjakan di waktu senggang maka akan ia kerjakan.

“Kakakmu sudah dengan bapak ke padang hari ini,” jelas ibu tanpa ditanya. “Dari sana ia akan ke kebun membantumu memetik cabe.”

Munida mengangguk, “Saya akan senang mendapat bantuannya.”

Cepat-cepat ia mengganti seragamnya lalu segera makan.

“Munida,” panggil ibu yang kemudian suaranya seolah tertahan.

Munida yang sedang menyuapkan makanan ke mulut sontak berhenti dan menoleh. Ada nada ungkapan tersisa dari panggilan ibunya yang belum ia keluarkan.

Melihat ibunya terdiam dan tak melanjutkan bicara, Munida tak mau membuang waktu, ia meneruskan makannya. Ia mesti cepat-cepat ke kebun memetik cabe. Si Ama sudah berjanji akan datang lagi mengambil bagiannya. Tentu sebagian uang hasil penjualan adalah untuk tabungan ia mendaftar masuk perguruan tinggi nanti. Satu atau dua bulan lagi.

Saat-saat itu bahkan di sela-sela persiapan ujian akhir nasionalnya yang tinggal dua minggu, ia justru lebih rajin. Sepulang sekolah, ia akan cepat-cepat menyantap makanannya. Satu dua buku catatan ia masukan ke tas kain di bahunya, lalu bak anak kijang yang lincah, ia akan bergerak lari menuju kebun yang berjarak 2-3 kilo dari rumah. Di sana ia akan duduk beristirahat dalam sebuah gubuk kecil di tengah kebun sambil mempelajari kembali bukunya. Barulah kemudian ketika matahari sudah mulai mendingin ia akan turun memetik cabe untuk ditaruh dalam bakul, lalu akan dipikulnya kembali menuju rumah yang mana sudah ditunggui para papalele atau mamalele yang biasanya berebutan mendapat hasil kebun terbaik.

Malam seusai si Ama membayar hasil panenannya, Munida mandi dan tak sempat makan ia langsung pamit menuju rumah kawannya yang hanya berseberangan jalan. Ada tugas belajar kelompok yang dianjurkan guru-guru di sekolah. Tugas itu sewaktu awal kesepakatan di sekolah mau dikerjakan siang sepulang sekolah atau sore. Tetapi kawan-kawan sekelompoknya paham kondisi keluarga Munida yang langsung ke kebun sepulang sekolah dan baru balik menjelang malam. Maka kemudian kesepakatan terakhir adalah malam sepulang Munida dari kebun.

Ada sesuatu yang janggal tercium ketika Munida mengetuk pintu sepulangnya dari belajar kelompok. Mata ibu sembab. Munida tahu jelas ibunya baru saja habis menangis. Tentu sebab berita yang dibawa sang kakak.

“Ada sesuatu yang mesti yang kau tahu dari kakakmu,” ibunya berkata dingin.

Betul sudah yang ia duga. Ia melongok jauh ke dalam. Bapak dan kakaknya diam merenung. Keduanya tak ada yang nampak merokok.

“Apa kau kenal Raeni? Ia pacar kakakmu. Sudah hamil dua bulan.”

Bagi Munida tak ada berita yang lebih mengagetkan dari yang disampaikan ibunya malam itu. Raeni, kawan seangkatan Munida. Pernah dulu mereka satu SMP. Masuk SMA, anak itu lebih memilih bersekolah di kota. Ia masuk SMK jurusan tata kecantikan. Bapaknya orang berada yang serta-merta membelikan rumah berhalaman luas untuk tempat huni anak perempuannya. Bukan sesuatu yang mengherankan sebab selain menjabat sebagai kepala desa di desa tetangga, bapak Reni juga juragan sapi. Rumahnya di antara beberapa kampung itu adalah yang paling besar serupa istana. Punya banyak kendaraan. Satu sedan, dua pick up, dua bus, tiga truk, dan tiga bemo angkutan desa. Sepeda motor tak terhitung. Hampir setiap anak buahnya –kalau tidak semua –satu-satu punya tunggangan sendiri.

Masalah kehamilan ini, kata ibunya, masih dirahasiakan keluarga sang perempuan. Kerena sebentar lagi, seperti Munida, sang perempuan mesti ikut ujian nasional. “Mereka menuntut harus segera diurus perkawinan keduanya. Kalau bisa langsung setelah anaknya mengikuti ujian,” tersendat-sendat ibunya bertutur.

Munida melihat kelender yang tergantung di dinding tembok. Ujian akhir nasional dilaksanakan dua minggu lagi. Sedang Mei atau Juni pendaftaran masuk perguruan tinggi dibuka.

“Belum-belum mereka sudah minta kita mesti siap dari sekarang.”

“Siap?” Munida tak menangkap maksud ibunya.

“Total denda dan belis 120 juta.”

*

“Buku ini sudah kakak bayar buat kami masing-masing?” tanya gadis yang berdiri tepat di sampingnya dengan mata berbinar. Ia menatap tak percaya Munida melepas begitu saja beberapa ratus ribu demi tiga buku yang duanya diberikan kepada ia dan temannya.

“Kakak tidak keberatan, kan?” satunya lagi bertanya sambil menyelisik Munida yang berkaos pendek, jeans kumal, bersandal jepit dengan sebuah tas kain tenun kecil yang disampirkan di bahu kanannya.

Tak berniat membeberkan kisahnya, Munida hanya tersenyum kecil seraya memasukkan buku yang baru dibelinya ke dalam tas. Ia menepuk bahu kedua remaja itu lantas berlalu meninggalkan keduanya yang sibuk menerka-nerka seolah baru saja bertemu malaikat. Mereka tidak tahu, beberapa hari lalu kepingan ringgit Munida baru saja dialihkan ke rupiah sekembalinya dari negeri jiran.

Kupang, April 2016

Cerpen

Perdebatan Menulis

“Apakah kau pikir ini adalah inginku agar aku berhenti menulis?”

“Ya, itu keinginanmu sendiri untuk berhenti menulis,” tampak tenang kawannya menyahuti.

Sumber: thephilosophyclub

“Aku tak pernah tak ingin menulis. Kau tahu itu.”

“Kau yang memutuskannya sendiri. Kau yang menarik diri untuk tidak menulis. Jujur sajalah.”

“Aku sudah jujur. Jelas ini bukan inginku untuk berhenti menulis.”

“Kau sudah lama sekali terlena dan terbuai dengan kenyamanan hidup yang ditawarkan dunia,” sinis sang kawan menyahut.

“Jangan salah. Bahkan aku sendiri tersiksa. Kau dengar itu, aku tersiksa. Sebab sudah lama sekali rasanya aku tidak menulis.”

“Oh, kau merasa juga rupanya,” tersenyum sang kawan mengejek. “Betul-betul tak kusangka kau bisa tersiksa karena tak menulis,” lanjutnya seraya melempar pandang ke arah lain. “Lantas kenapa kau tidak menulis untuk menghentikan penderitaan itu?”

“Aku tak punya waktu untuk menulis.”

“Hah, tak punya waktu? Klasik betul alasannya.”

“Ya, terserah apa pendapatmu. Memangnya kenapa?”

“Apa kau tahu? Dengar, itu karena kau saja yang tak meluangkan waktu buat menulis.”

“Apa? Tak meluangkan waktu? Coba kau ulangi kata-katamu,” ia mulai terlihat marah.

“Kau yang tak meluangkan waktu buat menulis.”

“Hah? Dengar baik-baik. Kau tahu apa tentangku? Kau tahu apa tentang waktuku? Kau tahu apa tentang tuntutan pekerjaanku? Kau tahu apa tentang maunya teman-temanku? Kau tahu apa tentang harapan keluarga dan tetangga-tetanggaku di rumah? Kau tahu apa tentang keletihanku sehabis bekerja? Kau tahu apa tentang penyakit dalam tubuhku? Hah, kau tahu apa?” ia sudah memasuki tahap nyaris kerasukan sebab teriakannya kali ini sudah nyaris berupa lolongan.

“Aku tahu,” suara sang kawan yang masih terdengar tenang. “Maka itu aku bilang, kau sendiri yang tak mau meluangkan waktu buat menulis.”

“Aih… Sungguh membuat gusar,” kini suaranya merendah. Bernada menggerutu.

“Ok, baiklah. Menurutmu, kenapa kau tak menulis selain alasan tak punya waktu?”

“Aku… Aku sudah seperti tak bisa berpikir lagi. Aha, Apa kau pikir orang yang menulis hanya perlu mengambil pena dan kertas lalu menulis, atau menghidupkan komputer atau laptop kemudian mengetik?”

“Ya.”

“Bodoh.”

“Aku tidak bodoh. Menulis itu tidak susah. Kau hanya perlu melakukannya tiap hari.”

“Lalu yang kau tulis, aku bangun pagi-pagi lalu ke kantor. Pulang-pulang sudah capek. Remuk rasanya raga ini. Otakku tak lagi mampu berpikir. Jadi aku memulih langsung tidur saja. Besok pagi aku akan ke kantor lagi. Di sana pekerjaannya menumpuk. Aku bekerja sampai letih lalu aku pulang dan karena merasa capek aku langsung tidur. Besoknya aku bangun lagi dengan malas pergi ke kantor lalu bekerja. Apa hanya itu-itu saja yang akan kau tulis?”

“Nah, apa susahnya. Kau sudah membuat kurang lebih satu paragraf,” kembali sang kawan menanggapi.  “Ya sudah, kalau begitu teruskan paragraf selanjutnya.”

“Paragraf selanjutnya? Apa maumu kutulis lagi mengulang paragraf sebelumnya?”

“Kalau yang kau lakukan dan kau mengerti setiap harinya seperti itu, ya berarti kau tak lebih dari sesosok mayat hidup. Kau tahu Zombie? Nah, itu kau,” kata sang kawan dengan tegas tanpa tedeng aling-aling.

“Enak saja kau bilang aku Zombie?” ia melotot. Dua bola bulat itu seperti mau meloncat keluar.

“Nah, kalau kau bukan Zombie, lalu apa?”

“Aku manusia. Yang ingin dalam setiap apa yang dikerjakan benar-benar punya arti dan memberi manfaat. Bukan hanya sekadar bekerja. ”

“Kau menanam arti begitu?”

“Apa pula bahasamu itu? Aku tak mengerti.”

“Kau mau memberi arti dalam pekerjaanmu. Maksudku supaya yang kau kerjakan itu ada maknanya, dan setidaknya meninggalkan kesan bagi orang lain. Memberi manfaat atau menginspirasi orang di sekitarmu.”

“Kau tahu sekali,” kini ia mengembangkan senyumnya dengan lebar.

“Maka tulislah yang kau harapkan, atau setidaknya buat refleksilah terhadap yang kau kerjakan.”

“Boleh tidak kau yang tuliskan?” tersenyum nyengir.

Lho, kok malah aku yang kau suruh tulis? Sudah terbalikah dunia?”  kawannya kaget disodorkan tugas serupa itu tanpa rasa bersalah dari sang pemberi.  “Kenapa tak kau saja. Tadi sudah kau buat satu paragraf itu. Kan kau yang memulainya. Harus pula kau menyelesaikannya.”

“Aku sudah tak bisa.”

“Aku bilang, lanjutkan!”

“Aku tak bisa.”

“Coba dilanjutkan!”

“Lanjutkan dengkulmu. Aku tak punya kata lagi.”

“Coba dilanjutkan!”

“Ya, dan begitu orang membacanya, baru satu kalimat dibaca langsung meremukannya dan pergi dengan mengumpat kesal, ‘tulisan sampah’, “apaan ini, unek-unek tak berbobot’.”

“Coba saja kau lanjutkan.”

“Aku tak paham maksudmu, kawan. Terima kasih.”

“Lalu kenapa kau kelihatan tertekan begini?”

“Sudah kukatakan, tidak menulis membuatku sakit.”

“Baiklah. Mungkin aku cukup mengerti. Hmm, sekarang coba jawab pertanyaanku. Apakah kau membaca?”

“Aku suka sekali membaca. Hanya seperti yang kubilang, aku tak punya cukup waktu buat membaca.”

“Nah, itu dia. Di situ letak kesedihannya. “

“Kenapa memang?”
“Ya, jelas kau tak bisa menulis lancar kalau kau tak membaca.”

“Hubungannya?”

“Waduh, dari mana kau tahu susunan kata lalu kalimat lalu paragraf yang baik kalau bukan dari hasil membaca?” nyaris meringis ia menerangkan. “Orang menulis bukan karena ia sekadar ingin menulis. Tapi karena ia suka membaca, banyak membaca, plus segala indranya ia pertajam untuk menangkap semua kejadian di sekitarnya. Lalu karena di dalam kepala dan hatinya banyak sudah terisi apa yang diresapinya, maka mau tak mau agar kepalanya jangan meledak, ya ia mesti meluapkannya, ia mesti belajar berbagi kepada orang lain, ya.. dalam bentuk tulisan. Ia menulis. Dan jadilah ia penulis yang baik.”

“Ceramah yang panjang.”

“Ya, sudah bisa jadi satu paragraf.”

“Ya, aku tangkap maksudmu. Aku memang jarang membaca.”

“Maka itu yang menyedihkan. Memprihatinkan betul.”

“Demikian membaca dan menulis itu harus berjalan beriringan setiap hari,” ia bergumam.

“Sudah harus. Walau hanya sebentar,” gumamannya disahuti.

Momen selanjutnya, hanya keheningan yang melingkupi keduanya. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya.

“Ehm, tapi apakah sempat kau pikirkan apa yang kau baca?” keheningan pun sirna seketika.

“Aha, mungkin itu yang tidak. Aku hanya membaca lewat dan selesai. Sekalipun aku menikmati bacaannya.”

“Apa yang kau baca?”

“Ya, apa yang menarik dan ingin kubaca, ya, kubaca.”

“Berarti kau membaca. Bagus, setidaknya kau masih membaca,” suara sang kawan lebih tepat sebagai gumaman. “Hanya kau tak bisa lagi menulis katamu. Berarti kau tidak menyatu, atau kurang menyatu dengan yang kau baca. Kau hanya membaca asal membaca. Dan kau juga tak mau membiarkan diri tenggelam dalam perenungan akan apa yang kau baca.”

“Ya, aku memang kurang merenung,” jawaban yang diiringi anggukan kepala.

Yup. Benar. Maka dapatlah itu penyebabnya. Kau kurang merenung.”

“Memangnya ada pengaruhnya menulis dengan merenung?”

“Apakah kau tak sadar bahwa pertanyaanmu itu membuatku gusar?”

“Eehh…hmm…ya?”

“Ya, mestinya kau sadar. Berkontemplasi, kau tahu itu membuat tulisanmu sedikit lebih berisi. Tidak berkontemplasi membuatmu tulisanmu kering garing seperti kerupuk.”

“Kurasa bukan hanya karena itu,” ia berkata pelan sembari menekuri lantai.

“Lalu apa?”

“Karena seseorang tak tahu atau tak menghayati motivasinya, kenapa dan untuk apa ia menulis.”

“Lalu sebaiknya?” tersenyum kecil.

“Kenalilah motif kenapa dan untuk apa kau menulis.”

“Nah, itu. Kau saja tahu. Ya, betul katamu, kenali motivasimu. Sama seperti kau merenungkan kenapa dan untuk apa kau kepalang nongol di muka bumi.”

“Oh, kau pernah tak menerima kau nongol di muka bumi?” dengan wajah terenyak ia bertanya.

“Ya. Dulu.”

“Tapi sekarang tak terbayang sudah berapa banyak buku karya penulis-penulis andal dipoles di tanganmu, bukan?”

“Maka itu, menulislah kembali. Yakin, pasti akan kubantu poles.”

Tawa lepas keduanya dibebaskan ke udara.

Kupang, Januari 2016,

Di tengah-tengah membaca “Sanctuary of the Soul” oleh Richard J Foster

*  Tentang kepala saya yang gaduh. Mungkin seperti halnya salah satu judul buku Aan Mansyur, ‘Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia  🙂

Cerpen

Rumusan Menulis*

hqdefault
Sumber gambar : i.ytimg.com

‘Kalau bukan kusadari hidupku adalah sebuah cerita persinggahan yang dituliskan, maka mungkin aku sudah membuat diriku berakhir sebelum ending yang dimaksud sang penulis.’

 

‘Maksudmu?’

‘Tak kau temui aku lagi di sini sekarang. Sebab aku pasti sudah lama mati. Ya, mati yang bukan karena tiba saatku mati. Tapi ini mati, mati yang datangnya kujemput sendiri.’

“Apakah begini sudah baik pembukaannya?” ia akhirnya bergumam. Sendiri ia dalam ruangan. Tak ada yang menanggapinya.

Ia sedang mencoba mengerjakan tugas dari kelas menulis yang diprogramkan kampus. Program yang sudah lama ia dambakan ada di kampusnya. Maka tak heran ketika diumumkan bahwa akan ada kelas menulis itu, ia malah orang pertama yang mendaftar. Dan setelah berlangsung beberapa kali pertemuan itu, para peserta diberi tugas. Menulis sebuah cerita pendek. Oleh trainer-nya, mereka diminta membuat cerita yang mesti berangkat dari pengalaman pribadi.

Setelah pikirannya dibawa mengelana pada potongan-potongan kenangan, dapatlah ia sebuah ide. “Bagus,” soraknya. Cerita ini ingin ia buka dengan dialog. Biar menggigit, begitu kata sang trainer. Namun kalimat yang ia tulis hanya berhenti sampai di situ. Selanjutnya ia seperti merasa buntu. Tak tahu lagi bagaimana atau dengan kata-kata apa lagi mesti ia lanjutkan.

Otaknya mendadak sumpek. Seperti hawa bulan Oktober yang menggerahkan. Atmosfer dalam kamar sewanya yang di lantai dua ini pun berasa sesak. Suara berisik kipas angin dirasainya sangat mengganggu. Ia mengulurkan tangan lantas memencet tombol off. Hening seketika.

Bergerak ia menuju jendela. Menarik gorden dan membukanya lebar-lebar. Udara malam berhembus masuk. Di langit tak ada satu pun kerlip bintang. Mendadak ia merindukan kampung halamanya yang di kala malam justru penuh bertaburan bintang.

Kembali ke meja belajar, jendela tetap ia biarkan terbuka. Biarlah, pikirnya. Toh tak ada yang akan memanjati pagar berkawat duri di depan lantas harus pula merangkaki dinding tembok baru bisa sampai ke jendela kamarnya. Kecuali ada orang iseng melempar kerikil ke dalam. Kalau itu terjadi, ya tinggal kembali ditutup jendelanya.

Ia menatap layar laptop yang baru memunculkan beberapa baris kalimat percakapan tadi. Di sana ada dua tokoh sedang bercakap. Ia belum memutuskan, apakah keduanya cewek, ataukah cowok, ataukah satu cewek dan satu cowok. Kalau satu cewek dan satu cowok, manakah yang cewek dan manakah yang cowok. Itu sama rumitnya dengan tiap pagi kau mesti memikirkan, apakah kau memilih masak nasi dan lauk, ataukah nasi saja lalu membeli lauk, ataukah membeli nasi dan lauk sekalian di luar, atukah mi instan saja, ataukah jajan gorengan di pinggir jalan.

Ampun, apa hubungannya penokohan cewek-cowok dengan nasi-lauk. Ya, sudah. Intinya ada dua tokoh bercakap. Satunya menceritakan kisah hidup atau pengalaman pribadinya, dan yang lain berperan sebagai orang bloon yang tak tahu-menahu tentang keadaan kawannya itu.

‘Apa betul yang kau maksudkan adalah bunuh diri?’

Memang tepat sekali tokoh kedua ini berperan sebagai orang bloon. Pertanyaan yang diajukannya saja jelas-jelas menunjukan kalau ia orang bloon. Yup, cocok sekali.

Ok, lalu kira-kira apa tanggapan tokoh pertama. Apakah ia mesti menjawab, ‘ya’ ataukah mesti tertawa, atau perlu mengamuk marah karena jengkel.

Kalau mau ditelisik, jelas dua tokoh itu adalah gambaran kepribadiannya. Dua karakter yang sedang bercokol dalam dirinya. Yang satunya adalah ia yang mungkin sudah sejak lama berpikir untuk menghabisi hidupnya. Satunya lagi adalah tentang ia yang sudah merasa tak diterima sejak lahir bahkan oleh dua manusia yang bersepakat membuatnya. Maka ia menganggap dirinya adalah makhluk bloon yang paling menjengkelkan dan yang tak pernah diinginkan di muka bumi. Oleh orang yang membuatnya saja sudah demikian, apalagi orang-orang lain.

Sewaktu kanak dulu, sering tak sengaja ia memergoki ayah dan ibunya bertengkar hanya karena pembicaraan tentang ia yang terlontar keluar ke bumi bukan sebagai anak laki-laki tapi justru perempuan. Di rumah sudah ada lima perempuan. Mau ayahnya kali ini adalah ada setidaknya satu anak laki-laki di rumah untuk meneruskan marga keluarganya. Tapi justru yang keluar bukan jantan, malah lagi-lagi betina, demikian umpat ayahnya.

Rasa-rasanya ia ingin berteriak balik kepada kedua orangtuanya. Ingin menggugat bahkan ia sendiri pun tak pernah menghendaki dirinya muncul di bumi apalagi di keluarga yang tak pernah menginginkannya. Lima orang kakaknya pun seperti batu. Mereka melihat tapi tak pernah menganggap penting masalah ini. Lebih-lebih dua di antaranya yang sudah berkeluarga. Walau begitu ia tak pernah menaruh amarah pada mereka, toh bukan mereka juga yang salah.

‘Kalau pikiranku pendek, ya.’

Mungkin begitu mestinya tokoh pertama menyahut.

‘Untungnya tidak. Lantas apa yang kau lakukan?’

‘Kau tahu suaraku tidak bagus-bagus amat kalau menyanyi. Kau pernah mendengar sendiri bukan? Saat menyanyi suaraku selalu bengkok ke kiri atau kanan, bahkan terkadang jauh sekali dari nada yang semestinya. Liriknya pun, ah.. yang kutahu asal nyambung.’

‘Bukan pernah malahan, tapi sering. Kau tak ada hujan tak ada angin tiba-tiba saja bernyanyi.’

‘Di rumah dulu, cara aku melampiaskan segala gundah adalah dengan bernyanyi di kamar mandi sewaktu mandi.’

‘Kau lucu.’

‘Tidak di saat itu. Karena pada dasarnya aku memang tak diinginkan di rumah, maka kau tahulah, segala yang kuperbuat, apapun itu adalah selalu salah. Aku dimarahi habis-habisan. Katanya aku berteriak kayak orang kesetanan. Padahal aku hanya bernyanyi sebagaimana orang bernyanyi. Tak keras-keras amat juga. Hanya memang suaraku ya  demikian adanya.’

“Apakah mesti begini kutulis?” lagi-lagi ia bergumam.

‘Semenjak itu, tak pernah lagi aku mandi di kamar mandi di rumah.’

‘Lalu di mana kau mandi? Atau apa kau memutuskan tak pernah mandi lagi?’

‘Bodoh,’ semprot tokoh pertama kesal. ‘Mana mungkin aku tak mandi. Ya jelas, mandilah. Setiap subuh dan petang aku memilih pergi ke lembah untuk mandi di sana. Ada pancuran dengan sebuah drum penampung yang katanya sudah didudukan di sana di sebelum aku lahir bahkan sekarang pun ia masih ada walau sudah penuh lumut.’

‘Kenapa mesti setiap subuh dan petang mesti mandi di sana? Apakah kau tak takut dengan hantu-hantu yang bergentayangan?’

‘Apakah kau tak mengerti maksud ceritaku? Aku mandi di lembah biar bisa bebas bernyanyi. Tak ada yang melarangku. Tak ada juga yang perlu merasa terganggu. Bahkan ketika aku kadang sampai tak tahan dan meluapkan parau suaraku sepuas hati.’

Di sini tiba-tiba dirasainya matanya panas. Ah, kenangan itu sungguh merasuk. Ia seorang perempuan. Rasa sedih yang pekat sanggup mengalahkan ketakutannya berangkat pagi-pagi sekali saat hari masih gelap ke lembah atau pada petang menjelang malam. Di sana terkadang ditemuinya satu dua orang petani yang berangkat pagi-pagi sekali atau pulangnya kemalaman. Sekalipun begitu, di antara mereka tak ada yang pernah mau mandi di sana. Mereka semua mandi di rumah. Dengan air yang memang ada juga dialirkan di perkampungan. Hanya ia satu-satunya orang yang mandi di pancuran di lembah itu.

‘Apakah orang-orang tak menganggapmu aneh?’

‘Tak hanya dianggap aneh. Justru dibilang bersekutu dengan setan penunggu lembah’

Aih, kenapa ini cerpen isinya dialog semua?” ia mengumpat setelah mencermati baik-baik isi tulisan. “Bagaimana narasinya?”

Ia mengambil kertas dan bolpoin. Membuat coret-coret tak beraturan. Sampai kepalanya jatuh terkulai di atas meja barulah ia sadar, lantas mematikan laptop, menutup jendela, dan pergilah ia tidur.

***

Kubilang padamu, catat. Bahwa syair lagu yang kudengar di toko buku yang baru saja kukunjungi tadi benar-benar menyihirku. Syair dengan alunan lagunya sungguh perpaduan yang membawaku sejenak mencicipi secuil nirwana dunia. Bagaimana tidak, ia melagukan kisah seperti yang pernah dan sedang kualami.

Sekarang aku betul-betul ingin bertaruh. Siapa yang mau bertaruh denganku? Bahwa pasti para pencipta atau pelagu ini adalah malaikat utusan Tuhan yang didatangkan untuk menolong setiap insan yang sedang dilanda gundah. Mereka pasti punya hati yang besar nan luas nan lapang untuk orang-orang semacam aku yang baru saja menemui jalan buntu lantas berpikir ini sudah jalan satu-satunya, berhenti, dan matilah.

Aku yang sementara berdiri di depan kasir tadi, bersiap hendak membayar, mendadak terkesima ketika dari speaker mengalun lagu itu, lantas dengan saksama menyendengkan telinga.

Hingga lagu berakhir. Aku menarik napas.

Dan Bernyanyilah, dari grup band Musikimia,” kata sang kasir tersenyum.

“Keren sekali, aku jadi dapat sebuah rumusan menulis. Tuliskan apa yang kau rasakan, dan rasakan apa yang kutuliskan.” Aku berucap spontan. Jelas saja kegirangan.

“Neng suka menulis?” sebuah sapaan terdengar tepat di belakangku.

Aku menoleh. Oh, untunglah toko tak sedang ramai. Tak banyak antrian. Hanya seorang pemuda di belakangku itulah. Ia tersenyum sopan.

“Saya blogger. Kebetulan kemarin sempat saya baca, mereka sementara menyelenggarakan lomba menulis cerpen tentang inspirasi lagu ini,” jelasnya.

“Benarkah? Ah, Aku sungguh tak percaya. Kalau benar itu ada, maka aku mesti ikut.”

“Benar. Sebentar, saya buka linknya.” Ia sibuk mengetik, mengklik, dan scrolling di layar handphone-nya.

“Nah, ketemu. Ini, kalau kau tak percaya. Baca saja!” tanpa sungkan ia menyodorkan HP-nya ke tanganku.

Benar sekali. Tulisan di layar HP itu sungguh membuatku nyaris seperti tak lagi menapaki lantai.

Amazing. Aku akan menulis sebuah cerita. Tapi bukan semata-mata karena dan untuk mengikuti lomba ini. Aku menulis sebagai tanda ucapan terima kasihku untuk mereka, para malaikat utusan Tuhan yang dikirimkan datang menghibur jiwaku yang gundah, dan menyemangatiku kembali untuk mewarnai hidup.”

Sang blogger itu tersenyum.

“Oh, tolong. Terserah mau kau nilai apa tentang lakuku sekarang. Tapi lagu ini bagiku sungguh menggugah.” Demikian kuminta pengertiannya.

Sekarang aku akan melanjutkan ceritaku. Nikmati saja prosesnya. Kau hanya perlu menuliskan apa yang kau rasakan, lalu merasakan apa yang kau tuliskan.

Sungguh kalimat lagu yang mencerahkan. Tak ada lagi yang namanya jalan buntu. Dalam proses menulis, ataupun problem kehidupan.

***

Kalau memang sampai waktunya sebuah cerita harus berakhir, dengan kata lain ia sudah tiba pada ending-nya, jangan lagi ia ditahan-tahan. Lepaskan, dan tutup. Di situ letak daya pikatnya. Cerita tambahan yang dipanjang-panjangkan hanya akan merusak makna. Orang yang membacanya pun tidak lagi tertarik. Demikian yang terngiang di telinganya kata-kata sang trainer tentang ending cerita.

Kini di matanya, tokoh pertama dan kedua dilihatnya saling menghampiri dan berangkulan.

‘Kau seorang mahasiswi yang hebat,’ suara itu menggema di kepalanya.

HP di sampingnya bergetar. Sebuah pesan suara terdengar, “Bernyanyilah, senandungkan suara isi hati, bila kau terluka. Dengarkan alunan lagu yang mampu menyembuhkan lara hati. Warnai hidupmu kembali. Ayo, apa peduli kita dengan suara kita yang tak merdu ini. Asal segala larut gundah terluapkan, dan pintu-pintu lain pun dikuakan.” Dari sang blogger yang menginfokan lomba menulis sore tadi di toko buku.

*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DanBernyanyilah yang diselenggarakan oleh Musikimia, Nulisbuku.com dan Storial.co

 

Cerpen

Usai Pesta Pernikahan Silpa

Cerpen ini tergabung dalam Antologi Sastrawan NTT “Cerita dari Selat Gonsalu” Terbitan Kantor Bahasa Prop NTT 2015

Belum seminggu berlalu sejak pesta pernikahan Silpa digelar. Sore itu ia duduk menghadap tungku api di dapur. Menjaga sebuah periuk besar berisi air. Daster pink bermotif bunga pemberian kawan kuliahnya sebagai kado pernikahan itu terentang menutupi permukaan lantai tanah yang didudukinya. Selembar kipas berbahan anyaman daun lontar di tangan kanan diayunkan sekenanya. Menggiring angin menghembuskan api. Nyala api menjilat-jilat pantat periuk. Asapnya mengepul menyesaki dapur. Asap yang betul-betul menoreh perih di mata. Tapi baginya, rasa perih di mata itu baik. Sengaja dibiarkannya menyatu dengan ketakutan dan sakit hati yang mencekam. Melebur dalam bulir air matanya yang merebak keluar.

Suhu di dapur sungguh menggerahkan bahkan panas. Tapi badan Silpa gemetar. Bergetar dalam isakan tangis.

Air yang dijerangkannya dalam periuk besar itu sudah mendidih sejak tadi. Namun ia tak peduli. Ia terus saja mengipasi api. Sebab rasa-rasanya ia tak sanggup beranjak dari tempatnya sekarang. Suara teriakan dan bentakan serta makian yang terdengar dari ujung ruang tamu seakan menekannya hingga tak kuat, sekalipun hanya untuk beranjak dari tempat duduknya. Di sana para paman suaminya sedang bertikai hebat. Sekalipun belum begitu mengusai bahasa daerah suaminya, namun sedikit-sedikit ia bisa menangkap maksud dari kata-kata yang dilontarkan seorang akan lain.

Dirinya tersangkut di sana. Bukan saja disangkut-pautkan, tapi ditembak sebagai penyebab utama. Di sana namanya berulangkali disebut disertai nominal rupiah yang tentu diucapkan dalam bahasa Indonesia. Hal itulah yang mengiris-iris hatinya. Namanya bersanding dengan rupiah. Sudah jadi apakah dirinya sekarang yang belum sempat disadarinya?

Lewat pintu sempit di samping dapur ia menoleh ke suaminya yang sedang berpeluh membelah kayu di halaman. Kenapa ia seakan tak peduli pada pertikaian hebat para pamannya yang terus menyebut nama istrinya dengan umpatan demikian kasar. Betapa suaminya menanggapi situasi itu semacam ia mendengar sambil lalu sebuah perselisihan para bocah berebutan kelereng atau gasing.

Mendadak ia kangen ibunya, juga bapak, dan saudara-saudaranya. Mereka sudah pulang seminggu lalu setelah mengantarnya ke rumah ini beserta dengan sejumlah perabotan rumah tangga di hari usai pesta pernikahannya. Dan ah, mestinya ia ingat, “Ibu suamimu adalah ibumu sekarang. Sanaknya adalah sanakmu juga,” pesan ibunya.

Sambil tetap mengipasi api, Silpa mencuri pandang ke arah ibu mertuanya yang duduk tak jauh darinya. Ia tak bersuara. Hanya sibuk mengupasi kulit kacang kering di atas nyiru. Perempuan yang telah lama ditinggal pergi suaminya itu sudah merasa bersyukur pernikahan putra tunggalnya dapat terlaksana atas tanggungan saudara-saudara laki-lakinya. “Kau tak usah kuatir. Kau satu-satunya saudara perempuan kami. Putramu adalah tanggung jawab kami. Kami akan menyelesaikannya,” itu penegasan salah satu di antara mereka sebelum pesta pernikahan digelar.

Pernyataan itu yang dipegangnya sehingga ia tak perlu merasa ikut campur akan penyelesaian masalah. “Aku tak bisa berbicara banyak lagi sekarang. Sebab itu urusan mereka,” ia pernah berkata beberapa hari yang lalu menanggapi gelagat yang sudah mulai tercium sejak usai pesta pernikahan.

“Hai, Silpa… Kenapa kau biarkan api terus berkobar begitu?” teriakan suaminya yang tiba-tiba nyaris membuatnya terjengkang dari bangku kecil yang diduduki.

Spontan Silpa melihat tungku di depannya. Kaget ia nyala apa memang berkobar. Menjilat-jilat tak hanya pantat periuk, tapi badan periuk bahkan hingga ke penutupnya yang juga sudah hitam berjelaga.

“Kau tidak lihat bagaimana capeknya aku membelah setumpuk kayu itu hanya untuk kau boros-boroskan macam begini?” dengan murka suaminya menunjuk setumpuk kayu yang sudah dibelah di luar.

Tanpa menoleh ke arah suaminya, Silpa cepat-cepat menyerakan kembali potongan-potongan kayu itu agar tak bertumpuk dan berkurang nyala apinya. Segera ia memaksa diri bangkit dan menyeret kakinya menuju ke kamar mandi. Menghindari sorot tajam mata suaminya, serta tatapan sayu ibu mertuanya. Di kamar mandi itulah ia mencipratkan bergayung-gayung air ke wajahnya. Airmatanya menderas turun seturut air yang jatuh ke lantai kamar mandi.

***

Belum seminggu ini pula Silpa mulai mengakrabi kampung ini dan para penduduknya. Dahulu ia pernah diajak datang. Tapi hanya untuk menengok sebentar kemudian pergi lagi. Dahulu ketika ia datang, sambutan keluarga calon suaminya begitu hangat. Begitu mengenangkan. Sehingga dipikirnya mereka akan menerima dengan hangat juga ketika ia jadi menikah nanti.

Aku tak sabar menanti hari selesainya sekolahku. Dambanya ketika itu. Agar tak ada hambatan aku bisa bergabung dengan kekasih hatiku dan keluarganya. Ah, keluarga besar yang menyenangkan.

Maka dijalaninya masa kuliah sebaik-baiknya dengan angan bahagia yang tak sekejap pun menghilang dari benak. Setelah ini, ia akan menikah. Bukankah itu sempurna? Ia tersenyum membayangkan hari depan.

Proses kuliahnya memang tak mudah. Tugasnya banyak. Dosennya galak. Sebentar saja terlambat mengumpulkan tugas, nilai berkurang. Bahkan bisa-bisa tidak lulus mata kuliah bersangkutan. Sedang ia tidak mau tidak lulus. Sebab itu akan semakin memperlama masa kuliahnya. Sedang ia ingin cepat-cepat selesai. Maka di kepalanya selalu digaung-gaungkan, “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Lalu ia akan merasa antusias menjalani hari-hari perkuliahannya. Segala tugas diusahakannya selesai dan dikumpul tepat waktu. Kalau ada ujian ia akan belajar semalam suntuk biar nilainya tidak fail.

Kerja kerasnya pun membuatnya mengembangkan senyum pada suatu hari. Ia dikukuhkan sebagai salah seorang wisudawati di kampusnya. Demikianlah pada hari itu juga diadakan pesta syukuran wisuda di rumah ayah ibunya. Ia mengundang sanak saudara, teman-teman, dan para tetangga, para dosen yang membimbing dan menguji hasil tugas akhirnya, teman dari saudara-saudarinya, hingga ketika yang datang pun tak sekadar para undangan, tapi bahkan mereka yang disebut rompe* pun hadir memeriahkan acara pestanya. Sebuah pesta syukuran wisuda yang sangat meriah. Dengan spanduk ucapan selamat berukuran raksasa, aneka makanan yang berlimpah ruah, beberapa petak tenda beratap terpal, paketan sound system lengkap yang speakernya disusun berundak-undak, dan kumpulan berbagai lagu dari para artis internasional, nasional, hingga artis lokal yang berbahasa indah maupun yang hanya meracau dalam iringan satu dua alat musik lalu disebut lagu.

Malam itu juga di tengah hingar-bingar pesta, oleh sang pemandu acara diumumkan dengan bangga bahwa setelah satu hari bahagia ini, akan segera disusul lagi hari bahagia lainnya yaitu acara maso minta* dan pernikahan sang bintang kita malam ini’ bulan depan. Semua hadirin spontan riuh bertepuk tangan. Tak sedikit pula yang bersuit gembira. Serta-merta dari atas panggung diperkenalkan seorang laki-laki yang sejak siang tadi terlihat selalu mendampingi Silpa baik di area kampus hingga di tempat pesta, di ruang dandan, di dapur, maupun di depan ketika Silpa maju menyampaikan pidato, ataupun ketika mereka terjun melantai bersama di arena dansa. Silpa menyunggingkan senyumnya yang menawan, dan sang lelaki sambil membungkukan badannya ia memberikan senyum hormat kepada para hadirin.

Sementara di antara bangku hadirin, ada beberapa gadis yang berdecak kagum dan saling berbisik, “Betapa beruntungnya jadi Silpa”. Seorang yang lain pun menyambung, “Ya, setelah tamat kuliah langsung dapat calon dan menikah”. Lalu mereka pun saling mengangguk satu sama lain. Masing-masing mengembangkan senyum. Berbeda cara senyum, namun melambangkan hal yang sama. Mereka ingin juga seberuntung Silpa.

***

“”Hallo…Hallo… Siapa yang lagi di dalam?” terdengar suara orang menggedor pintu kamar mandi. “Bisa lebih cepat keluar?”

“Sebentar. Ini saya, Silpa,” suara serak menyahut dari dalam.

Tak lama pintu kamar mandi terkuak. Wajah sinis seorang sepupu suaminya menyambut.

“Kakak, kau menangis?” pria yang kira-kira sebaya dengannya ini menyelisik kedua matanya yang merah dan sembab. Ia pun tersenyum sinis. “Biar… Biar tahu rasa kau. Siapa suruh penetapan belis*-mu tingginya selangit.” Mukanya berubah dingin. “Lihat, kalian buat bapakku sudah saling cakar dengan saudara-saudara sekandungnya sendiri.” Mulutnya pun bergetar.

Belum sempat Silpa merespons, terdengar suara teriakan keras dari ruang tamu. Pemuda yang sedari tadi hendak masuk ke kamar mandi kini berbalik lari menuju sumber suara. Penasaran, Silpa pun menyusul masuk. Di sana didapatinya paman tertua suaminya, ayah sang pemuda tadi, sedang terperonyok di pojok ruang menadah pukulan dan tendangan dari saudara-saudaranya yang lain. Sang pemuda nampak bergerak maju ingin menolong ayahnya.

“Kalian, Anak-anak. Jangan ikut campur urusan orang tua. Biar kami kakak beradik menyelesaikan ini,” hardik salah satu pamannya disertai sentakan keras menariknya kembali ke belakang.

Pemuda itu berbalik, mengedarkan pandangan sekilas lalu tiba tepat di muka suami Silpa yang berdiri tak jauh. “Ini semua ulahmu,” ia menunjuk dan dalam sekali lompat sudah di depan orang yang ditujunya. Silpa bergerak hendak menarik tangan suaminya agar menjauh. Kalah cepat. Tinju pemuda itu sudah melayang tepat di muka suaminya. Tubuh laki-laki yang belum seminggu menikah itu limbung ke tanah. Persis di depan istrinya Silpa dan para pamannya yang masih ribut bertikai soal pelunasan belis.

Keterangan

*rompe : rombongan pesta, ada sebutan tak resmi untuk orang-orang yang akan hadir dalam setiap pesta walau tak mendapat undangan langsung karena mereka hanya ingin bergabung dalam acara bebas (dansa dan tari-tarian lainnya)

*maso minta : lamaran atau peminangan

*belis : mahar

Cerpen

Di Golgota Angkuhku Tercabik

Oleh Anaci Tnunay
Malam itu kami menerobos gelap demi mencapai Yerusalem di pagi hari. Maksudku agar kami bisa melepaskan lelah sebentar, sebelum acara makan paskah senja nanti. Meletihkan memang menempuh perjalanan dari Kirene menuju Yerusalem. Tapi mengingat kami akan makan paskah bersama di sana membuat jauhnya perjalanan ini jadi tak ada artinya.
“Bersiaplah. Sebentar lagi kita akan sampai,” aku mengingatkan rombongan kecilku. Kedua anakku, Aleksander dan Rufus, serta ibu mereka, istriku.
Matahari menyembul malu-malu ketika nun jauh di sana, bubungan bait suci Yerusalem mulai nampak. Mungkin sejam atau dua jam lagi kami akan tiba.
Namun hingga sejam lebih berjalan, belum juga kami mencapai gerbang kota, tampak kira-kira 100 meter di depan, ada kegaduhan. Riuh rendah suara orang bersorak. Debu beterbangan oleh tapak-tapak kaki yang berlarian. Mendekat ke arah kami. Mereka baru saja ke luar dari gerbang.
Para serdadu berseragam lengkap dengan cambuk di tangan tampak menghalau massa yang berjalan di depan. Ingin memberi jalan kepada arak-arakkan. Belum jelas arak-arakan apa. Sebab tidak terdengar arak-arakaan yang meriah. Tapi ada semacam permainan olok-olok, ada amuk dan murka, ada juga serupa tangisan kepedihan.
“Aleksander, jaga ibumu dan adikmu! Aku akan melihat apa gerangan yang terjadi.” Kuberikan tali kekangan ke tangan anakku yang sulung.
“Akan disalibkan seorang pemberontak.” Seorang yang lewat rupanya menangkap rasa penasaranku.
“Huh.. Masih saja ada pemberontak di hari raya begini,” aku menggerutu kesal.
Kutinggalkan rombonganku sementara mereka menepi. Arak-arakan semakin mendekat.
Dengan peluh di sekujur badan, aku tiba di antara kerumunan. Mencoba menyibak. Namun pagar betis para serdadu cukup rapat untuk membiarkan orang sipil bisa melihat dari dekat. Hanya dari balik pundak mereka kulihat di tengah-tengah ada seorang pria terseok-seok menyeret salib di pundak-Nya. Di kepala-Nya tersemat anyaman semak duri. Darah mengucur turun ke wajah-Nya. Wajah yang penuh luka dan berlumur darah. Pakaian-Nya telah koyak. Dapat kulihat daging tubuh-Nya juga telah koyak. Berbalutkan lengket darah, keringat, dan debu yang menyatu.
Meski begitu, para serdadu makin menggila. Mereka melecut-Nya seperti keledai tunggangan yang malas berjalan. Bertubi-tubi cambuk di tangan mereka mendarat di tubuh-Nya. Sehingga tak hanya darah yang menyembur keluar menciprati jalanan pun tubuh para pecambuk. Tapi juga daging tubuh-Nya ikut tercerabut bersama ujung cambuk yang padanya diikatkan potongan-potongan kecil besi dan tulang belulang. Itulah kenapa tubuh-Nya koyak.
Tak ada belas kasihan di sana. Jangankan para serdadu. Massa yang menonton peristiwa ini pun tak kalah mengerikan. Mereka ikut mengolok-olok, meludahi, dan mencemooh-Nya. Dengan mata nyalang dan tangan dikepal, mereka meneriaki-Nya sebagai manusia paling bengis. Menyoraki-Nya sebagai manusia paling bejat sejagat.
Ya, mungkin Ia seorang penjahat yang bengis. Mungkin Ia penjahat paling bejat di kota, atau sedunia. Sampai bila sebegitu banyak caci orang-orang tumpah kepada-Nya, jelaslah Ia telah menanam kesakitan dan kemurkaan pada diri banyak orang. Kalau begitu, maka pantaslah Ia disesah serupa itu. Orang-orang yang memberontak haruslah mendapat hukuman berat biar jera. Agar orang di generasi berikutnya tak mencontohi perbuatan buruknya.
“Hai, Kau raja, kan? Raja itu kuat. Ayo, cepat Kau bangun. Jangan berpura-pura!” Olok sang serdadu disusul bentakan keras.
Rupanya Ia jatuh tertindih salib yang dipanggul-Nya. Selintas Ia diam. Tak bergerak.
“Bangun. Angkat salib-Mu. Terus berjalan!” Suara orang banyak memekakan telinga.
Pria itu bergerak. Terlihat jari-jari tangan-Nya berusaha meraup tanah pasir. Meremas sekuat tenaga. Menumpu pada kedua lengan-Nya. Berusaha bangun. Tapi salib itu tetap menindih-Nya. Tak bisa bangun. Dengan sisa tenaga-Nya Ia berusaha menggeser salib di punggung-Nya. Tidak kuat. Ia jatuh telungkup lagi.
“Apakah Ia benar tak kuat, ataukah Ia berpura-pura?” seorang serdadu bergumam.
“Suruhlah seorang budak membawa salib-Nya. Mungkin Ia benar tak kuat,” sahut rekannya.
Ah, sungguh. Memang benar Ia tak kuat. Toh, badannya sudah koyak. Ditendang dan dicambuki sepanjang jalan. Kepala tersemat anyaman duri. Darah tubuh-Nya tercecer sepanjang jalan. Luka dagingnya bahkan terburai dari tubuh-Nya. Harus pula berjalan dengan salib yang besar di atas pundak. Belum lagi tekanan batin-Nya yang dicaci, diludahi, dicemooh, dan disoraki orang banyak.
“Hei, kamu!” Seorang serdadu menunjuk ke arah kami dengan cambuknya.
Aku melihat ke kiri kanan memastikan siapa yang ia maksud.
“Hei…ya, kamu,” serdadu itu memelototkan mata. “Masih saja toleh sana sini,” gerutunya selesai bersamaan dengan tarikan kasarnya.
Aku menggeleng keras. “Aku? Aku bukan budak. Aku baru saja datang. Tak tahu menahu peristiwa ini,” tangkisku membela diri.
Sebuah sentakan keras di pangkal leherku. Mendorongku ke arah pria itu. Terhuyung aku hampir menindih tubuh-Nya yang berbebankan salib.
“Kau pikul salib itu. Iringi tuanmu. Ia raja orang Yahudi!” lantas mereka ramai terbahak.
Enak saja. Makiku dalam hati. Kata siapa Ia rajaku? Tidak. Aku tak merajakan seorang penjahat. Penjahat sebengis dan sebejat Dia. Sampai sebegitu banyak murka orang-orang tumpah kepada-Nya.
Tak segera aku mengangkat salib itu. Aku masih berdiri di samping-Nya. Mengamati dan menimbang bagian mana yang kira-kira paling ringan diangkat.
“Cepat! Jangan bengong.” Tangan besar serdadu membenamkan kepalaku mencium salib.
Aku mengulurkan tangan hendak mengangkat salib. Kutolehkan kepalaku ke muka pria sekarat itu. Astaga! Tepat di saat yang sama, Ia menoleh padaku. Mata-Nya. Tepat menembak mataku. Aku melihat mata-Nya. Darahku tersirap. Lemas tubuhku seketika. Tulangku serasa remuk. Telingaku berdengung kencang, lalu mengatup. Suara teriakan orang banyak, dan cambukan serta makian menjadi seperti suara yang lamat-lamat terdengar dari kejauhan. Ada apa ini? Ada apa? Aih, berat amat salib ini. Betul-betul menyiksa. Memalukan pula harus terseok-seok begini. Sungguh payah.
Aku Simon dari Kirene, orang Yahudi taat. Terhormat. Tak pantas aku memanggul salib ini. Semoga tak ada kenalanku melihat peristiwa memalukan ini lantas menceritakannya kepada kenalan dan sahabat-sahabatku yang lain sehingga aku yang nantinya menjadi bahan olok-olok lagi. Bagaimana pula dengan anak istriku yang baru saja menepi? Apakah mereka melihat peristiwa konyol bapak dan atau suaminya? Apa yang mereka pikirkan sekarang?
Baiklah nanti. Setelah ini, aku akan pergi menemui keluargaku. Memohon pengertian mereka memaafkanku. Semoga mereka tidak malu mengetahui peristiswa tadi. Lalu aku akan beristirahat sebentar, sebelum acara makan paskah senja nanti. Sebab untuk itulah aku berjerih payah di Kirene. Merayakan paskah bersama sanak di Yerusalem, kota tempat Tuhan menaruh nama-Nya untuk dikenang. Bukan untuk hal memalukan ini. Ikut terlibat dalam olok-olok seorang penjahat bejat yang telah merusak hati rakyat.
Aih, kenapa salib ini semakin menekan?
“Sampai di mana mesti kubawa salib ini?” Kutanyakan pada serdadu di sampingku.
“Jalan saja. Tak usah banyak tanya. Tanyakan saja pada-Nya,” sang serdadu menjawab sambil cambuknya diarahkan tepat ke kepala pria di depanku. “Bukankah Ia tuanmu yang tahu bakal ke mana kalian menuju?” lalu disambung dengan tawa.
Serdadu yang lain pun ikut tertawa dan mendorong pria itu dengan cambuk. Ada pula yang menjulurkannya tepat ke anyaman duri di kepala-Nya. Darah di kepala-Nya makin deras mengucur turun ke wajah. Rupa wajahnya tak jelas lagi. Toh, darah kering dan basah telah menyatu. Yang kering menggumpal, yang basah keluar lalu melengket.
“Cepat, hai Raja Yahudi. Kita sudah dekat Golgota.”
Golgota. Tempat tengkorak. Rupanya ke sanalah kami menuju. Dari jauh kulihat bukit di atas sana. Tinggi menjulang menunjukan keangkuhan dan kebanggaannya. Seolah-olah siap menampung sebanyak-banyaknya korban dipancang di sana.
Jalanan yang kutapaki sekarang pun mulai menanjak. Berbatu-batu dan berkelok. Kukerahkan diriku. Sedikit lagi tiba. Sedikit lagi. Aku akan menaruh salib ini. Lalu segera pulang. Tak peduli mau mereka apakan pria ini. Mau seperti apa Ia disalib. Bukan urusanku lagi. Aku hanya mau pulang. Tak sabar ingin berbaring melepaskan letih. Kubayangkan nikmatnya tumpukan jerami di bawah pohon. Tidur berangin-angin merasakan hembusan angin sepoi ditemani suara cicit burung.
“Cepat! Jangan kau melamun!”
Dorongan keras serdadu itu membuatku nyaris terhuyung bersama salib yang kupikul.
Kuperbaiki alas di pundak. Menetapkan hati. Lalu tapak demi tapak kuusahakan terus maju. Menarik salib di pundakku jangan sampai jatuh. Napasku terengah-engah. Kepala mulai pening. Mata pun berkunang-kunang.
Tiba-tiba kurasakan ada tangan di pundakku. Tangan siapa ini gerangan? Kutolehkan kepalaku mencari tahu. Oh, tidak. Dia lagi. Pria yang salib-Nya kupikul. Mata di antara kering luka di wajah-Nya itu, tepat menatapku. Ini kedua kalinya. Serasa aliran darahku berhenti. Membeku di dalam daging. Suara orang-orang dan serdadu perlahan mulai redup. Serasa yang kutahu di sekitarku hanya ada aku dan Dia. Tak ada apa-apa lagi yang kurasakan selain sentuhan tangan-Nya. Tak ada lagi yang membuatku berpaling oleh karena tatapan-Nya. Kini entah kenapa, salib yang kupikul jadi terasa ringan. Ada semacam beban beratku tersedot keluar. Meruap bersama angin. Kini dengan yakin, kuarahkan mataku ke puncak. Bersama-Nya kami menyusuri tanjakan penuh batu hingga tiba di puncak Golgota.
Selanjutnya tak sanggup kulukiskan perasaan aneh yang merasukku. Aku hanya melihat segala sesuatu yang terbentang di hadapanku seperti baru terbangun dari tidur panjang. Aksi-aksi para serdadu mengolok-Nya, membuang undi atas jubah-Nya, meminumkan-Nya anggur asam yang pahit ketika Ia berseru haus, seruan penyerahan diri-Nya menjelang kematian, atau ketika bumi bergoncang disusul runtuhnya bait suci kebanggaan kota, ataupun ketika lambung-Nya ditusuk tombak hingga keluar darah dan air. Semua terbaca satu per satu menggenapi nubuatan para nabi. Apakah ini benar waktunya? Jikalau ya, maka aku telah turut di dalam-Nya. Apakah yang telah kuperankan di sini?
“Ya Allah… tolong katakan padaku, apa yang telah kuperankan di sini?” dengan putus asa aku berteriak. Mengejutkan penjaga yang baru saja menyesali dan menyatakan sesuatu yang membuat perasaanku bertambah tak karuan.
“Ayah… Ayah!” itu pasti suara Aleksander. Ia muncul dari bawah bukit.
Aku bergerak turun mendapatinya. Wajahnya tampak gelisah.
“Ibu menyuruhku menyusulmu. Kami kuatir menunggumu makan paskah bersama. Hari sudah hampir petang. Bukankah Allah akan melenyapkan orang yang mengabaikan paskah?”
“Nak, …” ingin kuucapkan sesuatu. Tapi kata-kataku tertahan di kerongkongan.
“Ayah, kudengar tadi di perjalanan. Katanya kau ikut memikul salib sang pemberontak. Benarkan itu, ayah?” rasa ingin tahu Aleksander menyeruak keluar.
Hatiku terpukul. Apa mesti kujawab. Jawaban apa mesti kuberikan pada anakku. Aku mengasihinya. Aku ingin ia benar setia kepada Allah. Juga adiknya. Tapi sekarang, belum bisa kuberi jawaban itu pada anakku. Aku hanya memandangnya. Tersenyum kecil padanya. Kupegang pundaknya. Kami melangkah dalam bisu menuju penginapan.
Di sana, makan paskah sedang dipersiapkan. Kambing domba dan lembu telah dibantai. Sedang dalam api pembakaran. Tersedia juga roti tak beragi beserta sayur pahit.
Aku diam saja mengamati persiapan mereka. Bahkan hanya mematung ketika semua disajikan. “Bukan aku tak mau makan paskah di sini,” kataku akhirnya. “Tapi hari ini telah kusaksikan korban paskah sesungguhnya. Darahnya menciprati jalanan menuju tempat kematian.”
Mereka semua diam. Menatapku dengan bingung.
***
Ah, rasanya aku ingin saja makan sayur pahit. Sebanyak mungkin kutelan. Agar kutahu dan kunikmati betapa pahit hatiku sekarang. Bukan pahit karena seseorang atau kepada siapapun. Tapi karena diriku sendiri. Kukutuki diriku.
Siapa‬ aku, sampai begitu sombong dan angkuh? Siapa aku, hingga bisa membanggakan diri dan menganggap diri lebih besar di hadapan Tuhan. Siapa aku sampai begitu berlaku kurang ajar kepada Tuhan yang sudah menanggung segala kebejatanku? Siapa aku yang hanya sebentar saja memikul salib tapi menggerutu sepanjang jalan?
Sungguh. Aku malu kepada Tuhan. Ke mana mesti kutaruh mukaku sekarang? Ke mana harus kubawa hatiku yang telah menjadi seperti lilin habis terbakar, hancur luluh di dalam dada? Ke mana mesti kupalingkan jiwaku yang pedih ini? Rasanya aku tak sanggup lagi berdiri.
Ya, Allah. Apakah perlu aku mengadakan korban pendamaian dengan-Mu? Tidak. Tentu ini tak sebanding. Tiba-tiba sesuatu melintas di kepalaku. Mungkin ini lebih baik.
“Tunggulah sebentar, aku pergi mencari sayur.” Kutinggalkan mereka dalam kebingungan.
“Mau ke mana, Ayah? Aku ikut denganmu,” Rufus merajuk. Ia berlari menjajari langkahku.
“Kau yakin ikut denganku, Nak?”
“Yakin, Ayah.” Matanya berkilat-kilat menyahut.
“Yesus yang mati tadi itu Tuhan,” kataku begitu saja padanya. Rufus tidak menjawab. Ia hanya menatapku dengan sorot matanya yang aneh.
Tidak susah mencari pohon bergetah itu. Aku segera mengerat dan menampungnya pada tabung kecil yang kubawa.
“Ayah, kumohon. Jelaskan padaku apa maksudmu ‘Yesus yang mati tadi itu Tuhan’, dan apa hubungannya dengan yang akan kau lakukan ini?” Rufus yang sedari tadi memperhatikanku terlihat mendesak.
“Aku akan seperti Yesus.” Kataku mantap. “Kalau Yesus dengan cara disalibkan, maka aku dengan cara ini.” Kutunjukan padanya getah ipuh dalam tabung.
Tanpa diduga, Rufus yang selama ini patuh dan selalu menaruh hormat padaku, dengan sekali tebas, ia melayangkan tabung berisi getah yang sedang kupegang.
Ia berlutut di bawah kakiku, sambil menangis histeris.
“Ayah, ampuni aku. Biarlah setelah ini ayah menjatuhkan hukuman paling berat padaku. Tapi berikan padaku kesempatan mengemukakan satu hal,” erat ia memeluk kakiku.
“Apa yang mau kau katakan, cepat katakan!” aku menghardiknya dengan suara yang bergetar. Murkaku naik, tapi kebimbangan pun ikut melanda.
“Yesus yang ayah bilang Tuhan, ialah Mesias yang dinubuatkan para nabi. Hari ini darah-Nya tertumpah,” pilu suaranya. “Katakan padaku, itu yang ayah risaukan. Ayah takut karena ayah telah ikut berperan dalam penyaliban-Nya. Bukankah begitu, ayah?”
Ah, Rufus, remaja beliaku. Engkau begitu tahu yang kurisaukan. Kurasakan mataku basah.
Maka di senja hari paskah itu, seperti seorang anak yang tertangkap basah mencuri roti dan dipaksa mengakui kesalahan, aku menganggukan kepala kepada anakku dengan lelehan air mata di wajah. Tak kutahan diriku, aku segera menjatuhkan diriku padanya. Kupeluk anakku.
“Ayah, ampunilah atas kelancanganku. Tapi bukankah, ia yang atasnya nama-Nya disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Nya, lalu berbalik dari jalannya yang jahat, maka Ia akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosanya?* Ayah, sekali lagi. Aku mohon ampun. Aku mencintai ayah.”
Aku mengangguk. “Aku jadi merasa dekat sekali dengan Dia yang salib-Nya kupikul siang tadi.” Kuusap lembut rambutnya. “Baiklah, mari kita temui ibumu dan kakakmu.”
Setibanya di penginapan, kutangkap istriku sempat melihat mataku yang sembab. Sorot matanya bertanya-tanya. Aku mengerti. Tapi kepadanya aku hanya lemas menggeleng, lalu masuk ke dalam. Aku tak mampu bercerita. Tidak, aku belum mampu. Aku hanya bisa berlutut mendaraskan doa. Ya, Allah… Apa yang mesti kulakukan?
Aku tersedu sembari tanganku menorehkan kecamuk yang berkelebatan di benak.
“Telah kuperankan satu bagian dalam sengsara-Nya
Yang semula kutolak dengan angkuh yang tinggi
Hingga di Golgota Ia dipaku
Angkuhku tercabik
Mati
Jiwaku terbuka
Sengsara-Nya adalah karena dosaku
Darah-Nya untuk menebusku
Mati-Nya adalah agar aku beroleh hidup.”

Hanya itu yang bisa kusodorkan pada istriku. Setelah membaca ia mengangkat mukanya. Memandangku penuh pengertian. Dengan matanya ia memanggil kedua anak kami. Memeluk mereka, dan mendatangiku. Kami berpelukan.
“Akan kusaksikan kisah ini ke seluruh dunia!”
Mereka mengangguk bersemangat.

Catatan

* Teks Kitab Suci 2 Tawarikh 7:14

Cerpen

Messe, Putri Tuhan

{Cerpen ini dimuat dalam Jurnal Sastra Santarang edisi 32, Desember 2014}

10850244_376061002518794_7258195707627273746_n
Sampul depan Jurnal Sastra Santarang ed 32, Des’14. Sumber gambar: File Santarang

Messe menatap dengan geram setiap kali teman-temannya bercerita tentang bapak mereka. Katanya bapak mereka pergi berburu. Bapak mereka pergi melaut. Bapak mereka menasihatkan begini. Bapak mereka menasihatkan begitu. Bapak mereka melarang ini. Bapak mereka melarang itu. Selalu dengan nada bangga kalau bercerita. Tak jarang pula Messe melihat mereka sering bermanja ria, merengek minta sesuatu dari bapak mereka. Lalu bapak mereka akan merogoh kantong baju atau celananya, lantas mengeluarkan sekeping dua keping logam. Mereka akan menerimanya dengan tawa sumringah lantas berlari berjingkrak menuju gerobak es tong-tong atau kios gula-gula.

Tampakan-tampakan itu hanya memaksanya menelan pahit ludah. Bagaimana tidak, semua temannya mempunyai satu sosok laki-laki besar yang mereka panggil bapak. Hanya ia seorang yang tak tahu kepada siapa ia lemparkan panggilan itu.

Di rumah hanya ada ia dan ibu, serta tiga orang adiknya, seorang perempuan dan dua laki-laki yang masih kecil. Sejak ia keluar ke bumi dan menghirup aroma tanah, tak pernah ada sosok laki-laki besar di rumah. Ibu pun tak pernah menceritakan siapa pemberi benih dalam rahimnya, hingga melongok keluarlah empat anak manusia ke bumi. Terdengar ke telinganya gunjingan-gunjingan tetangga kalau mereka empat bersaudara dari satu ibu yang berbeda bapak. Bapak mereka masing-masing pergi meninggalkan ibu setelah menanam benih di rahim ibu.

Di sekolah teman-teman laki-lakinya sering mengolok dan mengejeknya sebagai anak haram. Tak berbapak, dari ibu seorang pelacur. Anak-anak yang tak berbapak adalah karena ibunya melacur dengan sembarang laki-laki. Sebab tidak mungkin seorang anak lahir hanya dari perempuan tanpa sentuhan laki-laki. Melainkan karena ada laki-laki dan ada perempuan itulah yang menganakan satu kepala muncul ke bumi. Mendengar olok-olok mereka, seperti ada perih yang menyusup di ulu hatinya. Tapi yang bisa ia lakukan adalah berdiam dan memendamnya. Kadang ada buliran bening menggantung di sudut matanya. Namun buru-buru akan ia usap dengan telapak tangannya atau ujung lengan bajunya. Tak pernah ia membalas mengolok apalagi memaki. Ia hanya diam-diam menguatkan dirinya dengan rajin bekerja dan rajin belajar demi membanggakan ibunya. Agar di sekolah ketika penerimaan rapor, orang-orang melihat bahwa ia anak haram, tak berbapak dari seorang ibu pelacur tapi ia berprestasi.

Beberapa minggu lagi natal tiba. Lagu-lagu natal sudah mulai dikumandangkan. Entah  di tape recorder para tetangga dengan speaker besar disusun berundak, atau digemakan lewat radio. Warta jemaat gereja mulai mengumumkan persiapan natal. Para orang tua terutama bapak-bapak yang punya simpanan uang sudah mulai membelikan baju-baju baru dan sepatu baru buat anak mereka. Anak-anak seusianya sudah ramai memperbincangkan baju natal, sepatu natal, serta kembang api yang dibelikan bapak mereka, atau meriam bambu yang sementara disiapkan kakak lelaki mereka. Anak-anak yang bersekolah di kota sudah pula berbondong-bondong datang berlibur. Menghabiskan liburan natalnya di rumah bersama keluarga. Di antara mereka ada yang mengabdikan dirinya menjadi pelayan gereja. Menjadi pembimbing anak-anak sekolah minggu. Mereka membawa lagu baru dari kota, atau tarian atau pertunjukan baru untuk dikenalkan dan dipentaskan anak sekolah minggu yang selalu menunggu dengan antusias setiap pertunjukan di malam natal.

Tidak ketinggalan pula Messe. Ia selalu menanti masa-masa menjelang natal maupun masa natal. Sebab selain ia merenungkan tentang Tuhan yang maha agung pernah juga menjadi bayi manusia, ia juga sangat senang mendapat bagian dalam talent show, istilah yang disebutkan kakak-kakak pembimbingnya untuk acara pertunjukan seusai kebaktian di malam natal. Talent show dapat berupa menyanyi solo, atau paduan suara anak sekolah minggu, atau menari, atau membaca puisi, atau bermain drama, atau bahkan ada beberapa pemuda akan mementaskan lawak yang membuat hadirin akan tergelak-gelak sambil menikmati makanan dan minuman mereka. Talent show menjadi acara yang ditunggu-tunggu setiap anak usai kebaktian natal. Bagi mereka itu momen tak terlupakan baik oleh mereka yang tampil ataupun yang hanya menonton. Sebab sesudah itu mereka akan memperbincangkannya di jalan-jalan sepulang acara natal, atau bahkan keesokan harinya pun acara talent show itu kerapkali menjadi bahan obrolan para ibu yang sedang ramai mencuci pakaian di perigi, atau anak-anak perempuan yang mengumpulkan kayu kering di ladang-ladang. Seperti halnya di talent show malam natal tahun lalu, Messe tampil menyanyi dan menari. Ia masih ingat, saat itu ia mengenakan dress kembang warna putih, berkaos tangan putih, stocking putih, bersepatu putih, serta bermahkota kertas karton berwarna emas. Bersama ketiga orang temannya mereka menyanyikan lagu Malam yang Indah sambil menari-nari mengikuti alunan musik. Malam itu ia merasa seperti malaikat. Keesokan harinya ramai perbincangan orang. Bahwa gadis haram, yang tak berbapak dan beribu pelacur itu tampil sempurna bak malaikat. Walau ia yang terkecil di antara keempat penari, tapi ialah yang paling terlihat percaya diri dan paling luwes bergerak. Sayang tak ada kamera atau handycam yang bisa mengabadikan momen malam itu. Di talent show kali ini Messe mendapat bagian lain. Ia akan tampil bermain drama. Dalam drama singkat itu ia mendapat peran sebagai Maria, perempuan yang melahirkan bayi Yesus. Tentunya tak lepas dengan tokoh Yusuf, pasangannya seperti yang diceritakan di kelas sekolah minggu. Diterimanya dengan perasaan yang beradu padu. Antara terkejut juga bahagia. Sudah sejak lama ia mendamba bermain drama. Peran apa saja ia dapat asal itu adalah bermain drama. Sebab selama ini ia hanya boleh puas tampil sebagai pembakar lilin di pohon terang, atau ikut serta dalam paduan suara, atau tampil menari, dan membaca puisi. Bermain peran bagi anak-anak sekolah minggu adalah sesuatu yang menakjubkan. Seolah itu puncak atau inti dari semua acara talent show. Setiap anak yang pernah ikut bermain drama setelahnya mereka merasa bak bintang film. Kepala mereka akan membengkak sebesar balon terbang. Sebab dari semua peserta talent show, para pemain drama itulah yang biasanya lebih disorot. Memikirkan kesehariannya sudah dikenyangkan dengan gunjingan anak haram, Messe ingin sekali menunjukan kemampuannya bermain drama. Ia berharap dengan kemampuan lainnya ini, setidaknya gunjingan bisa berganti sikap menghargai atau kalau perlu decak kagum.

Malam sepulangnya dari pembagian tugas bermain drama dengan peran sebagai Maria, ia duduk dan mulai membuka kitab yang bercerita tentang Maria ketika didatangi malaikat Gabriel. Ia penasaran dengan penjelasan kakak pembimbingnya di gereja sore tadi. Katanya, Maria waktu itu belum bersuamikan Yusuf, dan Yesus bukan anak kandung Yusuf. Maria adalah perempuan baik yang sama sekali tidak pernah berhubungan dengan laki-laki. Ia tersentak dengan pemaparan tadi. Lalu bagaimana Yesus bisa lahir, sementara untuk seorang anak bisa lahir ke dunia adalah karena ada laki-laki dan ada perempuan? Pertanyaan-pertanyaan itu berkelebat hebat di kepalanya. Walau ia tergolong anak rajin dan aktif setiap talent show di malam natal, ia sebenarnya tak begitu paham hubungan Yesus, Maria, dan Yusuf. Setahunya Yesus itu juru selamat yang menebus dosa umat manusia. Yesus adalah Tuhan. Maria adalah perempuan yang melahirkan Yesus, dan Yusuf adalah pasangannya. Pasangan berarti tak lain tak bukan adalah suaminya. Maka Yesus adalah anak Maria dan Yusuf. Walau Yesus adalah Tuhan, tapi Yesus lahir karena ada kedua orang itu. Demikianlah maka malam itu ia membolak-balik kitab yang mengisahkan tentang Maria, Yusuf, dan Yesus. Dibacanya berulang-ulang. Saking semangat ia mengkaji, lupa ia kalau belum makan. Bercampur lapar dan lelah ia membaca sampai tertidur di meja tempatnya belajar.

Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu Tuhan. Tuhan datang mengunjunginya sebagai Messe, bukan sebagai perawan Maria. Kunjungan itu terjadi ketika ia baru saja membaringkan diri hendak tidur. Lalu tiba-tiba tampaklah cahaya benderang menerangi seisi kamar. Ia terkejut dan segera bangun, demikian yang ia ingat dari mimpinya.

Dilihatnya Tuhan datang menghampiri. Mengulurkan tangan dan mengelus perutnya, serta berkata, “Di sini ada anakku yang kukasihi. Lahirkan ia dengan selamat. Rawatlah ia, dan biarkan ia tumbuh besar menjadi penyelamat bangsa-bangsa. Ia anak agung, lahir dari rahim seorang yang telah lama kupilihkan.”

“Apakah benar saya, Messe? Sedang saya tidak punya suami, bahkan untuk pacar sekalipun,” ia mengingat teman-teman sekolahnya yang saling mengganggu dengan memasangkan satu sama lain antara perempuan dan laki-laki.

“Jangan takut. Ini aku, Tuhan. Anak yang kau kandung tidak berbapak dunia. Sebab ia anakku,” dengan lembut suara Tuhan menyahutinya.

“Baiklah. Terjadilah padaku seperti yang kau kehendaki,” ucapan pasrah keluar dari mulut Messe.

Kemudian terjadilah seperti yang dirasainya. Isi dalam perutnya mulai menggeliat. Keesokan paginya ketika ia bangun, benar-benar bangun. Dengan takut-takut ia mengangkat ujung bajunya ke atas. Melihat dengan saksama perutnya. Rata. Masih seperti biasa. Tidak terlihat besar seperti perut ibunya, yang kata orang-orang ibunya hamil tiga bulan. Ingin ia pergi ke ibunya untuk menceritakan mimpinya. Namun segera diurungkan niatnya. Takut kalau-kalau ia menyinggung perasaan ibunya. Maka duduk dan bertelut ia berdoa. Meminta petunjuk Tuhan di surga.

Seusai berdoa, terbersitlah di pikirannya suatu ide. Kali ini ia jadi lebih menghayati perannya sebagai Maria, perempuan terpilih di antara banyak perempuan yang terserak di muka bumi. Baginya itu peran istimewa. Betapa agung menjadi ibunda Tuhan, batinnya. Sebab dari rahimnyalah sang Tuhan keluar dan menghirup aroma bumi.

Setiap sore seperti yang sudah ditentukan, ia selalu tepat waktu pergi ke gereja mengikuti sesi latihan. Dengan sungguh-sungguh ia memainkan bagiannya.

“Aku Maria. Aku mengandung. Tapi yang kukandung bukan berasal dari dunia. Janinku adalah benih dari Tuhan. Aku bukan pelacur,” katanya dengan nada bergetar pada suatu kali sesi latihan.

Rekan-rekannya yang sementara beraktivitas mendadak berhenti. Ruangan tempat latihan hening seketika.

“Messe, apakah itu seperti yang tertulis di naskahmu?” tegur satu pembimbingnya.

Messe berpaling. Ia melihat banyak tatapan mata ditujukan ke arahnya.  “Kini baru terbuka pikiranku, kak,” katanya dengan mata memerah. “Bahwa ibuku bukanlah seorang pelacur seperti yang dituduhkan orang-orang kepadanya.”

“Iya?” melongo wajah sang kakak pembimbingnya.

“Ibuku adalah Maria. Ia melahirkan kami empat anak-anaknya yang tak berbapak. Kakak tahu kenapa? Sebab ia mengandung benih yang ditanamkan Tuhan di perutnya. Jadi kami empat bersaudara bukan satu ibu dengan beda bapak. Tapi kami memang satu ibu dengan bapak kami ialah Tuhan. Aku salah satu anak Tuhan. Aku, putri Tuhan.” Ia tersenyum.

*Anaci Tnunay, pembelajar @Sekolah Lentera Harapan Kupang. Bukunya yang telah terbit, sebuah Antologi Cerpen berjudul ‘Persinggahan Bocah Indigo’ tahun 2013.

Cerpen

Ratapan Kemarau

[Cerpen ini masuk dalam 10 Cerpen Prospektif Lomba Obor Award 2013]

Sebuah gazebo di tengah taman kampus. Di sampingnya membentang diam sebuah danau kecil. Berair tenang. Baiklah di sana nanti malam, kami sepakat.

Mulanya adalah sejuk malam. Hening. Betapa tenang.

Kemudian ia pun pecah oleh keriuhan kami. Ini kali pertama aku kembali bersua dengan teman-teman kuliah dulu. Kegiatan tahunan kampuslah yang mempertemukan, setelah setamat kuliah setahun lalu masing-masing ditempatkan di berbagai pelosok nusantara.  Aku sendiri balik ke kotaku, disebut-sebut sebagai kota KASIH[1]. Sedang kawanku, berpencar dari ujung pulau Nias hingga ke Sentani-Papua ataupun yang terbentang antara pulau Timor hingga kota Tomohon. Berbagai cerita telah menguar ke udara. Disambut beragam respon para pendengar. Aku sendiri telah larut dalam reuni kecil itu. Aneka perasaan bebas saja ia mengalir. Entah tertawa-tawa terpingkal-pingkal. Mata yang basah turut berempati. Ataupun ikut bergidik mendengar cerita-cerita tidak biasa.

E…Usi[2]… Usi…

Samar-samar terdengar lengkingan suara. Mengalahkan keributan kecil kami. Mendayu-dayu. Histeris. Merembesi celah-celah udara hingga terdengar sangat menyayat hati. Awal mula kucoba mengabaikan. Kembali menghanyutkan diri dalam balutan ocehan dan gelak tawa.

Acara selesai. Satu per satu beranjak meninggalkan gazebo. Tinggal aku dan satu kawanku, orang Sulawesi bertugas di Sumatera.

Usi…aa…ee…..

Suara itu lagi. Semakin melengking. Membuat bulu kuduk merinding.

“Ah, suara apa itu?” kusendengkan telinga kiri, ingin mendengar dengan saksama.

“Itu suara teriakan orang. Ratapan tangis umat manusia karena kelaparan,” kawanku menyahut.

Kelaparan? Apa maksudnya? Ini area kampus. Dikelilingi gedung-gedung mewah. Di barat ada rumah sakit internasional. Di timur ada supermall. Di utara ada bank, ada pula lapangan kecil tempat landas helikopter. Tak ketinggalan di selatan ada arena pasar malam yang bertaburan panggung hiburan. Tak kurang bila dikatakan sebuah kawasan elite. Tak mungkin ada orang kelaparan di kawasan seelite ini.

“Maksudku kelaparan karena sengatnya kemarau panjang.”

“Ah, benarkah?” tanyaku tak percaya. “Ini sedang malam hari. Masakan ada orang berteriak malam-malam begini karena kemarau?”

Kulirik kawanku. Ia diam. Senyum kecil tersungging. Maka kulanjutkkan, “Hm, dan bukannya memang demikian, ini bulan Juli. Ya, memang saatnya kemarau. Tapi belum saatnya kemarau yang menyengat itu, bukan?”

“Wah, kau tak percaya rupanya,” hanya itu komentar yang terlontar dari mulutnya.

Keningku berkerut.

“Rupanya kau tak tahu?” ia kemudian melanjutkan, “Itu sebenarnya sebuah lagu. Sedang dinyanyikan anak-anak choir kampus. Mau dipentaskan di event internasional. Wah, parah kamu, nona,” ia tertawa renyah.

“Lagu yang bagus,” ungkapku. Tulus. Dan memang itu sebuah lagu yang indah. Tak kalah indah dengan lagu-lagu yang dinyanyikan Enya. Atau yang pernah kudengar Halleluya dalam The Messiah karya Handel. Namun suara nyanyian yang bagai tangisan dan ratapan itu terdengar begitu memilukan.

“Tapi, nyanyian apakah itu? Begitu menyayat hati. Ah, seperti terpendam sebuah cerita di dalamnya? Membuatku merinding,” kataku mengakui.

“Apa kau mau melihatnya? Mari, kita ke sana,” ia mengajak.

Tanpa aba-aba segera aku bangkit. Berdua kami melangkah pelan menuju sumber suara. Semakin dekat semakin jelas terdengar.

Di tengah satu ruang terbuka dalam arena kampus, di bawah siraman cahaya lampu yang temaram, tampak beberapa orang laki-laki dan perempuan berpakaian lusuh, dengan tubuh yang dibaluri penuh abu merayap-rayap dan berguling-guling di tanah bagai orang merintih kesakitan tak berdaya. Hampir semua mereka meratap. Kedua tangan menengadah ke langit. Seperti berusaha menggapai-gapai mencari pertolongan.

Kemudian berubah. Mengikuti aba-aba dan instruksi dari seorang laki-laki berbadan tegap yang berdiri di depan layaknya sutradara. Mereka kemudian berlaku seolah-olah sedang mendengar ada suara dari langit. Ekspresi wajah menduga-duga. Mata mereka mendelik ke berbagai arah, seakan sedang bersikap waspada karena berhadapan dengan makhluk ajaib tak kasat mata. Laku mereka tampak aneh sambil mengumandangkan lagu yang tadi kudengar dari kejauhan.

Aku heran. Penasaran. Ada apa gerangan dengan lagu ini? Ada cerita apa di baliknya? Sepertinya agak misterius. Terus terang, selama di kampus dulu pementasan teater adalah sesuatu yang tak rela kulewatkan. Sibuk dengan kegiatan kampus ataupun stress dengan tumpukan tugas yang menggunung bukanlah penghalang. Bila ada yang sedang pentas, maka aku tetap akan menyempatkan diri untuk bisa menonton. Bahkan sekalipun uang saku kiriman keluarga sedang menipis, aku akan melakukan apa saja entah meminjam atau berusaha mendekati seseorang agar bisa mendapatkan tiketnya. Demikian pula acara kompetisi paduan suara ataupun anak-anak fakultas musik yang mengadakan recital and concert sebagai ujian akhir. Maka bertemu momen-momen seperti ini, yang membuat berdiri bulu roma, bagiku adalah sebuah keindahan. Sungguh kagum dan salut ada orang menciptakan karya sedemikian rupa. Siapapun dan di manapun ia, tentulah ia orang hebat.

“Lagu itu berkisah tentang mengganasnya kemarau di sebuah daerah,” tuturan temanku tiba-tiba membuyarkan keindahan yang tengah kualami.

“Berarti sungguh malang daerah yang dilanda kemarau mengganas itu,” berkata lirih, aku nyaris menangis.

Kawanku menoleh. Ia tersenyum sedih.

“Apa kau tahu dari negara mana lagi itu berasal?” sementara pertanyaan itu kuajukan, sempat terlintas di benak, entah di manapun negara itu pastilah dalam bentangan benua Afrika. Mungkin Dogon, atau wilayah tetangganya.

“Kalau yang kudengar, katanya di Indonesia,” ia menyahut, yang kudengar seperti gumaman.

“Ah, kalau benar itu di Indonesia, mestinya lagu itu lebih cocoknya dari daerah NTT,” aku menyeletuk asal-asalan.

“Oh iya. Benar…benar. Tepat sekali. Ah, aku baru ingat. Iya, benar. Katanya lagu itu asalnya dari Nusa tengggara,” temanku bersemangat. Kemudian melanjutkan, “Tapi tepatnya tak kutahu di mana.”

Ups… jangan kau bercanda,” aku terkejut sendiri akan celetukanku yang spontan tadi.

Lho, bagaimana ini, kamu orang Nusa tenggara kok malah tidak tahu kalo itu lagu asalnya dari sana,” ia menggerutu.

Mendadak aku tak bisa berkutik. Seketika aku lemas. Bagaimana kalau itu benar? Oh, tidak. Kalau iya, maka aku…. aku pantas malu. Sangat malu. Sungguh.

Betapa tidak, -ah, kukutuk diriku dulu sebelum kubeberkan padamu- aku seonggok daging yang lahir dalam sambutan garang matahari, tumbuh besar dan telah lama berkarib kemarau, tapi tentang lagu kemarau yang menggagumkan, aku malah sama sekali tak tahu.

“Hayo, tak lama lagi lagu itu akan dinyanyikan di Beijing, China. Kamu orang daerah sendiri malah tidak tahu tentang lagu itu.”

Kata-kata kawanku yang terdengar biasa, bagiku itu seperti sebuah tamparan. Seperti menyisakan rasa perih di pipi. Ah, bukan. Tapi pedih. Di kedalaman hati.

Tuhan… batinku menjerit.

Kukutuk diriku habis-habisan. Telah bertahun-tahun aku bersahabat dengan kemarau. Dengan Desember yang selalu panas. Dengan natal yang sering tidak turun hujan. Dan hanya empat kali natal berulang kutinggal sementara negeri itu, kemudian kembali ke sana lagi untuk kembali melewati sekali masa natal yang panas tanpa hujan. Namun seperti kacang lupa kulit, aku telah lupa bahwa negeriku adalah negeri kemarau. Hingga ketika lagu kemarau maha karya anak negeriku yang dengan indah dan menganggumkan itu dikumandangan, aku celingukan berpikir itu sebuah lagu rakyat dari negeri antah berantah.

Justru kawanku orang luar lebih tahu. Balik menjelaskannya padaku. Akan dinyanyikan di event internasional pula oleh anak-anak choir kampus, adik-adik tingkat,  mereka yang bukan dari negeri kemarau. Sementera aku anak dari negeri kemarau tak tahu apa-apa. Bahkan seperti orang bloon, aku terheran-heran ketika mendengar mereka menyanyikannya.

***

Kegiatan kampus yang hampir sebulan itu pun usai. Masing-masing kembali ke tempat tugas, termasuk kawanku ke Sumatera dan aku ke negeriku sendiri, negeri kemarau.

Dengan pesawat kutinggalkan negeri hijau. Terbang melintasi awan. Memasuki zona negeriku, tampak dari atas kulihat padang berwarna pastel terbentang luas. Alangkah berbeda dengan negeri hijau yang baru saja kutinggalkan. Sudah kuputuskan, sesampainya di daratan nanti, akan kutanyai orang-orang di sana tentang sejarah lagu kemarau. Membayangkan itu, aku tak sabar. Ingin aku cepat tiba. Maka sekeluarnya dari bandara, segera kudekati salah seorang di lobi penyambutan.

“Maaf, pak. Apakah bapak pernah mendengar tentang lagu kemarau?”

“Lagu kemarau?” ia menggumam.

Aku mengangguk. Membesarkan bola mata. Bertanda aku senang mengharapkan jawabannya.

Ia mengerutkan kening. Makin heran menatapku. Terpancar ada tatapan curiga. Mencermatiku dari ubun kepala hingga jari kaki. Lalu ia buru-buru pamit. Berjalan menjauh.

Terkulai lemas aku ditinggal pergi.

Baiklah. Tak apa. Kukuatkan diriku. Mungkin aku salah orang. Kucari-cari lagi. Ah, mungkin saja ada anak-anak sekolahan tahu. Mereka biasanya belajar mata pelajaran Mulok-Muatan Lokal. Pelajaran yang memuat tentang sejarah-sejarah lokal, termasuk hasil-hasil karya lokal.

Dengan percaya diri kuhampiri beberapa remaja yang sedang bercengkrama di bawah pohon kom dekat tempat parkir. Respons yang sama mereka tunjukan. Menatapku heran dan curiga. Bahkan tawa ledekan sebagai bumbu.

Tidak ada kata putus asa. Kuputuskan menuju kantor pemerintahan, yang mengurus bagian budaya. Di depan orang-orang berpakaian necis dengan motif batik daerah, malahan aku dihujani makian. “Heh, kunyuk… buat apa tanya-tanya demikian. Pergi sana!”

Terdengar suara daun pintu dibanting keras. Tutup.

Mengikuti sebuah anjuran, terhadap pintu rumah yang menolakmu, kebaskanlah debunya dari kakimu sebelum kau tinggalkan dan keluar daripadanya, maka kukebaskan debu dari kakiku.

Sambil menonton lalu lalang di jalanan yang silau oleh kendaraan dan terik matahari yang membakar, aku meratapi kekonyolanku. Mulai berkecamuk dalam pikiran. Berasa pilu. Bertanya-tanya, di antara berjibun-jibun orang negeri ini, tak adakah yang tahu tentang karya anak negeri yang sudah berkarib kemarau ini? Apakah harus benar ada ungkapan, seorang nabi tidak dihargai di tanahnya sendiri? Karya anak negeri kemarau yang sudah merambah dunia nasional bahkan sebentar lagi internasional, tetapi justru tak dikenal sama sekali dan malah dianggap tiada oleh orang-orang negerinya sendiri.

“Oh, negeri kemarau,” lirih aku bergumam. Rasanya aku ingin meminta Tuhan mencairkanku dengan olahan terik matahari yang sedang membara. Membiarkan aku menguap. Melebur dalam panas. Mungkin demikian kepongahanku terbakar. Dan terbayar.

Di tengah keputusasaanku, bagai bertemu oase di padang gurun, tiba-tiba munculah seorang bocah laki-laki 7 tahunan.

“Kakak nona, apakah benar kakak sedang mencari-cari informasi tentang lagu kemarau?” ia menatapku dengan bola matanya yang lebar. Sorot menanti jawab.

Dengan sudut mata yang mulai basah, aku mengangguk. Tanpa keluar suara ajakan selanjutnya, ia berbalik melangkah pergi. Aku masih berdiri di tempat. Diam. Melihat ingin tahu, hendak ke mana bocah itu. Beberapa meter ia berjalan, ia tiba-tiba berhenti. Menoleh ke belakang.

“Kenapa kak nona diam saja tidak ikut saya?” ia bertanya heran. “Ayo, ikutlah saya!” lanjutnya bernada perintah.

Ya, Tuhan. Kenapa aku begitu menyedihkan? Mengumpat kesal pada diriku sendiri. Betapa dungunya aku dibanding anak kecil ini.

Aku bergerak. Berusaha menjajari langkahnya. Ia malah makin mempercepat.

Di sebuah pertigaan ia membelok ke arah timur. Aku terus mengekor. Tak lama, kami pun memasuki sebuah lorong sempit. Sisi kiri kanan kami adalah pagar-pagar batu dan sisa-sisa tanaman kering. Hingga kami pun tiba di sebuah gubuk kecil. Berdinding bebak[3]. Beratapkan gewang[4]. Kecil dan sempit. Seorang ibu berbadan kurus menyambut kami. Dua anaknya yang lain sedang bermain siki doka[5] di halaman samping gubuk.

“Kenapa kau begitu ingin tahu tentang lagu kemarau?” sang ibu bertanya dengan mata menyelidik. Nadanya menyiratkan sindiran seakan-akan aku telah begitu sangat menyakiti hatinya.

“Aku merasa berdosa. Aku tidak tahu perihal lagu kemarau. Padahal di Jawa adik-adik tingkat di kampusku saat ini sedang mempersiapkan diri menyanyikan lagu itu di negeri China,” dengan nada merendah aku mengaku.

“Masih ingatkah kau ketika dulu kita  harus tidur dengan perut kosong menahan lapar?” tanya yang langsung ditujukan padaku. “Kadang di tengah malam kita terjaga. Menyadari bahwa seharian penuh perut belum diisi sejumput makananpun?”

Aku tersentak. Demikian terkejut hingga aku tak sanggup bersuara. Semua kata tersempal di kerongkongan. Tiba-tiba begitu sakit.

“Pada saat tertentu, karena yang ada hanya jagung kering tak seberapa. Maka satu dua bulir jagung kering itu kugoreng tanpa minyak. Lalu kurendam beberapa jam agar kita bisa kita menyapa perut, setidaknya untuk bertahan menunggu datang hujan menyirami tanah kering negeri kita, atau menyegarkan kembali tanaman tomat yang telah mengering di ladang.” Matanya yang tajam menatapku lekat-lekat.

Sementara itu dua bocah yang sedang bermain tadi tiba-tiba menghentikan aktivitasnya dan beralih menatapku. Pula dari dalam gubuk, keluar seorang laki-laki renta berbadan kurus sambil terbatuk-batuk.

Aku tiba-tiba saja berasa pening.

“Aku ingin menulis. Sekalipun menulis takkan mendatangkan hujan dengan segera. Tapi setidaknya aku menuangkan rinduku,” sahutku pada bapak ketika ia membentakku karena selalu memegang pena dan lembaran kertas, bukan ember atau alat timba.

“Pergi sana. Cepat, kerjakan sesuatu. Daripada kau bengong menunggu hujan.” Ia mengambil rotan. Dan tak lama ujung rotan itu mendarat dengan hangat di pantatku. “Di ujung rotan ada emas,” katanya.

“Lihat. Apa yang pernah kau tulis,” samar-samar kulihat ibu itu menyodorkan selembar kertas usang padaku. Kemudian, “Dulu saat kau masih bocah.”

Aku masih tegak di hadapannya. Bergeming. Namun di dalam, detak jantung sedang riuh  bergemuruh.

***

Muntahan panas matahari. Cahayanya terang benderang menyilaukan mata. Udara pun menguarkan aroma kering tanah. Tepung halus debu merah beterbangan ditiup angin selatan, ikut pula terhirup ketika menarik napas. Dedaunan pohon telah meranggas. Tiada lagi tempat berteduh dari terik matahari menggarang. Pada segala penjuru saat mengedar pandang, hanya tinggal berbagai bentuk bilik bebak sebagai tempat bermukim para penduduk, dengan semak kering dan rumput ilalang berwarna pastel sebagai latar. Mungkin bila dikenai sepercik api maka terbakarlah seisi negeri.

Ini bulan Desember. Bahkan hampir berakhir. Sebentar lagi masuk tahun baru. Namun tak terlihat tanda-tanda bakal turun hujan membasahi tanah gersang negeri ini. Langit di atas sana masih sama. Bersih tak berawan.

Jauh di atas bukit gundul, sapi-sapi peliharaan pun hanya berdiri. Memandang lesu ke arah perkampungan. Menunggu datangnya makanan dari sang tuan. Sebab jangankan hijau, rumput-rumput menguning pun bahkan telah lama mengering. Mati. Daun lamtoro pun sudah tiada. Batang pohonnya pun sudah dikikis. Tampak mengering. Hanya tinggal sebagai kayu bakar.

Kebun tomat yang disiapkan para petani bulan September dengan harapan paling lambat akhir bulan Oktober atau awal November sudah turun hujan, tak bisa lagi diharapkan. Awal-awal sekali, anak-anak remaja diminta membantu. Diiming-imingi, setelah ini tomat akan berakar kuat, hingga nanti ketika datang hujan mengguyur negeri maka tumbuh suburlah tanaman tomat itu. Pada saat dijual nanti mereka akan dibelikan baju natal, serta buku-buku dan alat tulis sebagai persiapan menyambut pelajaran sekolah semester 2 di bulan Januari.

Maka pergilah anak-anak itu dengan gembira. Berlarian menuju ngarai sambil berdendang lagu-lagu sekolah minggu, lagu-lagu jelang natal, lagu-lagu yang sedang tren di radio, ataupunn lagu-lagu daerah tentang pemujaan alam. Di sana mereka mengeruk air dari ceruk ke dalam ember. Setelah ember-ember terisi, tali-talinya dikaitkan pada setiap ujung lelepak[6]. Lalu dengan peluh berceceran mereka menapaki kembali tanjakan menuju kebun tomat. Menyiram anakan tomat yang baru saja ditanam pada lubang-lubang sebesar kepalan tangan orang dewasa.

Satu bulan pertama sejak September, mereka bekerja penuh semangat. Memasuki Desember tanaman tomat mulai menua, namun langit belum juga menunjukkan tanda-tanda akan turun hujan. Mereka tetap bekerja, sekalipun letih tergambar di setiap wajah. Sebab dalam kepala mereka telah ditanamkan, ‘Mendayung sampai ke pulau, berlari sampai ke batas’. Hingga pertengahan Desember, karena tak jua turun hujan, suplai air dari hasil pikulan mereka sudah tak mencukupi. Tanaman-tanaman itu mulai melayu. Hingga yang terlihat kini adalah tangkai tomat yang sudah mati. Ah, betapa hampir tiga bulan mereka mengeruk air dari dasar ceruk.

“Ayah, di bahuku ada luka. Rasanya perih. Panas sekali. Seperti terbakar,” bisik seorang anak perempuan pada ayahnya di suatu malam.

Kala itu mereka baru saja selesai makan. Ah, makan…? Sepertinya itu kata yang sangat halus digunakan. Karena mereka sesungguhnya bukan makan. Sebab lebih tepat hanya sebagai pengganjal perut dengan jagung kering disangrai ibu mereka, yang dilarutkan dalam air dingin agar tak sekeras kerikil ketika dikunyah.

“Sini, akan ayah oleskan minyak pada bahumu,” bapaknya pergi mengubek-ubek lemari dan meja kecil di kamar tidurnya. Namun ia keluar dengan tangan hampa. “Tiada lagi minyak punya kita, nak,” katanya. Matanya sendu.

Ia menyingkap kerah baju anaknya. Hatinya trenyuh. Sebab bahu anak itu telah melepuh. Lantas ia memeluk anaknya. Meniup pelan-pelan bahu yang melepuh itu.

Merambat ke luar, orang-orang negeri, semuanya bermuram durja. Kanak-kanak berbadan kurus berperut buncit nampak bertelanjang dada dan bermain-main di halaman rumah. Mereka yang belum begitu paham akan keadaan negerinya hanya cekikikan ketika melihat temannya terantuk batu dan jatuh terguling. Para perempuan menutup kepala melindungi muka dari terik matahari. Bapak-bapak yang pergi ke ladang sekadar menengok, berjalan pulang dengan lesu. Ada buliran sedih di mata mereka. Merasa kecewa karena langit tak jua mau menurunkan tetesan hujan. Dengan suara lemah mereka bertegur sapa satu sama lain.

“Selamat sore, pak, sebentar kita pergi membersihkan gereja, natal sudah tiba,” sapa seorang bapak tua bertelanjang dada ketika melewati sebuah rumah.

“Ya, selamat sore. Ah, natal ya. Rasanya tidak seperti masa natal,” sahut bapak sang empunya rumah sambil tetap melakukan aktivitasnya mematahkan ranting-ranting pohon delima yang sudang mengering di dahannya.

Bapak yang memberi sapa hanya tertawa pahit dan melanjutkan perjalananan. Pikirannya berkecamuk. Momen natal yang biasanya selalu hujan kini hanya kenangan. Natal kali ini dilalui dalam kekeringan. Kue-kue natal, siapa yang sempat berpikir untuk membuat.  Ia menghela napas. Mendongak ke langit. Bersih tak berawan. Mestinya orang bisa melihat Tuhan bertakhta di atas langit. Tapi tidak. Tuhan seperti bersembunyi di balik lapisan-lapisan langit.

Lalu….

Tersiar kabar. Di bagian timur negeri, ada para pendeta beserta para majelis gereja mengadakan doa dan puasa. Namun ini seperti tak ada efeknya. Doa mereka kering sebagaimana tanah tempat mereka yang kering. Beberapa orang kemudian berkumpul bersama sanak-sanak saudara. Mereka bersekutu berdoa memohon datangnya hujan. Meraung-raung dalam setiap doa dan pujian mereka. Namun ini tak ubahnya suatu kekejian bagi yang melihat.

Hingga….

Terdengar desah panjang.

E…Usi… Manse ma’taen leuf. Hoi nameot naen le sa sa,[7] mendesing tiba-tiba sebuah suara dari antara berjibun umat manusia.

Suara itu terpental di langit. Turun kembali mendapati umat yang menanti.

E Usi… Uis amnanut am nauto. Thanik tankai Usi oh…”[8] Tak henti-hentinya umat manusia itu berseru.

***

“Masihkan kau bertanya dari mana dan bagaimana sejarah lagu kemarau itu?”

selidik sang ibu.

“Maaf, aku belum mengerti,” sahutku.

“Dalam dirimu ada sejarah lagu kemarau. Kau mengalaminya. Tapi kau menyangkal,” mata sang ibu tajam menusuk.

Sungguh. Kurasakan daging hatiku teriris sembilu.

“Nak, maukah kau memaafkan bapakmu?” ia melanjutkan.

Kupalingkan muka pada lelaki renta di sampingnya yang semenjak tadi hanya diam.

“Maafkan bapak. Bapak tak tahu kau bisa menulis sebaik ini,” matanya berkaca-kaca. Diarahkan berganti-gantian ke arahku dan pada lembaran kertas di tanganku. “Maksud bapak, kita tak boleh hanya diam menunggu hujan. Kalau hujan belum turun, kita siapkan ladang, siapkan benih. Sehingga ketika turun hujan kita sudah siap menanam. Jangan sampai beranggap, belum datang hujan lantas kita tidur. Dan ketika datang hujan baru kita panik membersihkan ladang atau kocar-kacir mencari benih,”

“Sudahlah. Kau, teruslah berkarya. Kami mau berkemas. Sepertinya ada yang datang,” kata sang ibu kemudian memanggil anak-anaknya masuk ke dalam gubuk.

Aku menoleh. Di ujung jalan tampak seseorang datang menghampiri.

“Akhirnya kau mau juga datang menyambangi mereka,” ia mama Rika, yang dengannya aku tinggal sedari kecil. “Itu berarti telah dengan sendirinya kau mengidahkan pengampunan. Terhadap keluargamu, terhadap negerimu,” ia melanjutkan.

“Aku hanya ingin tahu tentang lagu kemarau,” jawabku tegas.

“Ya, tak apa. Memang demikian, dengan kau telah menyadari bahwa negerimu negeri kemarau, artinya kau telah membuka diri dan siap melakukan sesuatu yang lebih berarti bagi negerimu,” papar mama Rika. “Oh, ya, mengenai keluargamu, karena kau telah menutup mata dalam waktu yang panjang, maka biar kujelaskan. Adik-adikmu meninggal karena busung lapar. Sebulan kemudian ibumu menyusul karena tak kuat ditinggalkan anak-anaknya. Bapakmu mencoba bertahan hidup. Tetapi ketika datang hujan, ia terlanjur rapuh dan ikut tumbang,” ia memelankan suaranya.

Aku berpaling. Gubuk itu telah tiada. Hanya terlihat dua batu nisan berukuran besar dan tiga lagi berukuran kecil.

Air mataku tumpah. Makin deras tatkala kulihat dari ujung jalan yang tadi pula, kawanku melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Sungguh  terharu.

“Sudah kuduga, pasti sepulangnya dari Jawa kau akan mencari-cari informasi tentang lagu kemarau,” ia berseru dari jauh.

“Bagaimana kau tahu?”

“Sudah kau dapat sejarah lagu kemarau?” ia malah balik bertanya saat mendekat.

“Ini…” kusodorkan padanya lembaran kertas usang di tanganku.


Keterangan:

  1. KASIH  : Kupang-Asri-Sehat-Indah-Hormanis
  2. Usi       :  Tuhan
  3. Bebak   : Anyaman batang daun gewang
  4. Gewang  : Sejenis daun palem yang sudah mengering
  5. Siki doka  : Jenis permainan tradisional yakni pemain melompat menggunakan satu kaki di setiap petak yang telah digambar sebelumnya di tanah; serupa permainan Engklek di Jawa
  6. 6. Lelepak  : Pemikul dari belahan batang bambu
  7. 7.   E…Usi manse ma’taen leuf. Hoi nameot naen le sa sa  :Tuhan…panas ini sungguh membara. Telah mengeringkan kami
  8. 8. E Usi Uis amnanut am nauto. Thanik tankai Usi oh… : Tuhan, Kau yang penguasa dan penyayang umat… Tolong, siramilah kami, dengan guyuran hujanmu, Tuhan.

*** Sumber inspirasi berasal dari lagu “Usi Apakaet” karya Jhon Thius, yang dipopulerkan oleh Nekmese Group (Soe-Timor), serta dinyanyikan kembali oleh Mazmur Choral Kupang pada Bandung International Choir Competition 2012 di Bandung dan oleh UPH Choir pada China International Chorus Festival and IFCM World Choral Summit 2012 di Beijing, China.