Berita Petang

Di akhir sesi Emerging Writers 2017, seorang peserta diskusi mengangkat tangan dan berkata kalau ia tertarik dengan salah satu cerpen saya yang diulas Bapak Budi Darma berjudul Berita Petang. 🙂 Ia bilang, kalau bisa didapatkan di mana, ia ingin membacanya. Kami sempat berkenalan sesudahnya. Kepadanya saya bilang, “Kebetulan cerpen itu baru saja dimuat di Rubrik Budaya Harian Fajar Makassar Edisi 14 Mei 2017 barusan. Kalau ada korannya, mungkin saya bisa kasih. Tapi kalau tidak pun, saya janji akan mempostingnya di blog biar bisa dibaca.” Nah, sekarang, saya memenuhi janji saya. Btw, nama kakaknya, sayang 😦 dan maaf, ingatan saya tak begitu bagus.  

Selamat membaca... ♥♥♥

***

4e347-20170514_222513

Sumber foto:mgp

Berita petang di televisi mengabarkan seorang buruh TKI mati terlindas truk pengangkut kelapa sawit. Suara perempuan pembawa berita itu pun menyebut nama korban. Terdengar tak asing, kupelototi lagi layar televisi. Terpampang jelas foto adikku di sana. Terkesiap, aku hanya menganga. Cepat kuambil ponsel yang sejak siang tadi tak kutengok. Puluhan pesan dan panggilan telepon masuk tak terbaca. Panik seketika menyergap, aku terduduk di lantai.

Adikku, satu-satunya adik laki-laki di rumah. Dulunya dia anak pintar. Pernah sewaktu SD, dua sampai tiga tahun berturut-turut kami meraih peringkat pertama di kelas masing-masing. Kuingat betul suatu kali seusai penerimaan rapor, di kantin sekolah, para orang tua ramai membicarakan kami berdua. Lalu ada komentar kakak kelas, seorang anak laki-laki bertubuh jangkung berkulit kuning langsat yang wajahnya serupa pemeran tokoh Jack dalam film Titanic, yang di kemudian hari waktu SMA tak henti-henti mengejar ingin aku menjadi pacarnya, berkomentar, “Wih, keren, ya. Kakak beradik sama-sama mendapat rangking satu.”

Walau komentarnya tak dihiraukan, dalam hatiku menguar rasa bangga tak terkira. Tahu saja, bapak dan ibu kami dulunya tak sempat tamat SD. Tapi dua anaknya justru dikerahkan betul-betul untuk berprestasi. Pelajaran dasar membaca dan berhitung bahkan sudah kami kuasai sebelum masuk TK. Ibu mengenalkan huruf, bapak mengenalkan angka. Paduan sempurna.

Sayang, semakin beranjak besar dan punya banyak kawan, adikku semakin lebih banyak bermain daripada belajar. Berbekal ketapel, siang hari mereka berburu burung, malam hari beralih ke kelelawar. Nilainya pun merosot.

Orang-orang mulai membandingkannya denganku yang suka belajar dan membaca. Mereka kerap menjulukinya seorang pemalas dan bodoh. Menertawakannya ketika pagi-pagi ia beriringan denganku berangkat ke sekolah. “Masih ke sekolah? Untuk apa kalau tak dapat nilai bagus seperti kakakmu?”

Lambat laun, mendekati kelas besar SD, ia pun benar-benar malas belajar. Nyaris tak pernah mau lagi menyentuh buku di rumah. Ia terpaksa saja pergi ke sekolah. Baginya ke sekolah hanyalah untuk bertemu kawan-kawan. Sekolah adalah tempatnya bermain. Ruangan kelas adalah siksa neraka.

Pernah suatu kali di rumah tetangga, sementara mereka beristirahat seusai bermain sepak bola, ada seorang berkelakar, “Kau mesti rajin belajar seperti kakakmu. Biar jadi orang pintar.”

Ia lantas mengangkat bahu dan membalas, “Memangnya kalau pintar juga buat apa?” yang sontak membuat orang terpingkal-pingkal.

Cerita tentang kejadian itu terbawa sampai ke rumah dan langsung pula disambut tawa membahana.

Sekejap saja sudah tersiar ke seantero kampung. Di mana ia berpapasan dengan orang, selalu ungkapan itulah yang dilontarkan padanya. “Eh, Emon, buat apa pintar, ya?” atau “Halo, Mon, pintar juga memangnya buat apa?” atau “Orang itu mesti kayak Emon. Kalau pintar tak ada gunanya, ya, lebih baik tak usah belajar. Bukankah begitu, Mon?” Mereka tertawa dan berlalu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Bila sudah keterlaluan, maka hanya ibulah pembelanya. Adikku sendiri tak suka ambil pusing apa kata orang. Ia hanya menganggapnya sebagai angin lalu.

Sementara aku, mau saja terseret dengan laku orang-orang. Ikut mengolok ketika mereka mengolok. Ikut tertawa kala mereka tertawa. Sampai suatu peristiwa seperti telak menghantamku. Membuatku menanggung penyesalan teramat dalam. Bahkan diam-diam menangis sedih sepanjang malam sampai tenggorokanku sakit tak tertahankan.

Hari itu pengumuman kelulusan SMP. Setelah setiap hari selama tiga tahun bersama kawan-kawan seangkatannya menempuh antara empat atau lima kilometer berjalan kaki, pada hari istimewa itu ia justru dinyatakan tidak lulus. Ketika kawan-kawannya yang lain berjingkrak gembira karena lulus, ia justru mendekam hampir sepanjang hari dalam bilik kandang ayam di belakang rumah kalau saja ibu tak membujuknya keluar.

Tak ada ujian susulan untuk peserta UN yang tidak lulus tahun itu. Demi memperoleh ijazah murni, maka mengulang lagi ia tahun berikutnya. Jadilah empat tahun ia belajar di SMP. Empat tahun berjalan kaki bolak-balik setiap pagi dan siang antara rumah dan sekolah.

Memasuki masa SMA, kabar dan perkembangannya tak lagi intens kuikuti. Aku mendapat beasiswa, mesti melanjutkan sekolah di Jakarta. Sesekali saja kami bicara via telepon. Itupun hanya berlangsung beberapa menit dan berupa basa-basi tak penting. Ialah yang tak mau bicara lama-lama denganku. Sering dalam pembicaraan, begitu terdengar aku mulai ingin bercerita tentang kegiatan di kampus atau di organisasi yang kuikuti, ia pasti buru-buru bilang akan pergi, atau mau melakukan sesuatu. Begitu juga bila ada hal mengenainya yang ingin kutanyai.

Di kelas akhir SMA, aku mencoba bertanya padanya mau buat apa setelah tamat. Pikirku, barangkali aku dapat membantunya. Ia bilang akan berhenti sekolah.

“Tak mau lanjut kuliah?”

“Sudah cukup di SMA.”

Aku terus mendesak. Sayang menurutku kalau hanya di bangku SMA. Kalaupun tidak lanjut, setidaknya ia harus melakukan sesuatu. Kutanyai lagi.

“Tidak buat apa-apa. Hanya mau rehat otak dulu,” jawabnya enteng.

Jawabannya membuatku heran, apa yang mau ia rehatkan. Toh, selama ini juga ia lebih banyak bermain-main.

“Baiklah. Rehat otak. Setelah itu, mau kan lanjut sekolah?” kubujuk ia penuh harap. “Setahun lagi aku lulus. Masalah biaya sudah lebih ringan.”

Ia mendengus.

“Tak mau lagi saya berhubungan dengan yang namanya baca tulis,” kilahnya.

Beralih aku menghubungi bapak, mengecek jangan-jangan merekalah yang menghalangi ia melanjutkan sekolah. Pertanyaanku dengan tegas dibantah.

“Siapa yang menghalangi. Lagipula tak ada cukup uang untuk ia bersekolah. Sudah bertahun-tahun curah hujan di sini tak menentu. Hampir semua mata air sudah mulai mengering. Mau cari makan saja susah.” Bapak berdiam sebentar sebelum melanjutkan. “Atau, apakah menurutmu orang sedungu dia bisa dipercaya pihak-pihak pemberi beasiswa?”

Kalimat bapak tak sanggup kusahuti. Kata-kataku tersekat di kerongkongan. Itu pertanyaan paling menyesakkan telinga yang pernah kudengar dari mulut bapak.

Waktu bergulir begitu cepat.

“Mereka sudah berangkat,” kata bapak ketika aku menanyakan kabar adikku beberapa bulan kemudian.

“Berangkat?” shock, aku tak mengerti maksud bapak. “Ke mana?”

“Malaysia,” bapak menjawab datar. “Dengan beberapa kawannya yang lain.”

Nyaris histeris, aku tak lagi mendengar uraian panjang bapak. Bercampur aduk segala yang  berkelebat di kepala. Kenapa aku tak dikabari sebelum ia pergi. Kalau saja aku tahu, setidaknya kami bisa berembuk. Akan kuajak dia ke Jakarta. Akan kubantu ia mendapat perkerjaan yang layak. Mungkin bisa sebagai security di kampus atau asrama mahasiswa.

Meski kesal, aku mencoba menghubunginya. Ia malah dengan bangga mengabari, mereka sudah di Kalimantan. Siap menempuh perjalanan menuju Malaysia. Ia mengejekku yang katanya juara kelas bahkan juara sekolah tapi hanya bergerak di dalam negeri.

“Sewaktu di sekolah, saya bukan anak yang pintar-pintar amat. Tapi lihat, sebentar lagi tempat kerja saya sudah di luar negeri. Sementara kau sendiri bagaimana?” ia terus terkekeh. “Selamat berenang-renang di Indonesia,” ucapnya disertai ledekan mengakhiri percakapan.

Tiada lagi komunikasi kami sejak hari itu sampai setahun kemudian aku lulus, bekerja dua tahun di bawah kontrak beasiswa, dan sekarang sementara mengikuti kelas pembekalan guna melanjutkan kuliah di luar.

Di televisi, berita sudah beralih ke topik lain. Berusaha semampu mungkin menyibak air mata yang merebak, satu per satu pesan masuk dan panggilan di ponsel kubuka dan kubaca. Tak ada yang lebih pedih dari pesan masuk paling akhir.

Dari ibu. “Sudahlah. Tak usahlah ditanggapi. Jalani saja hidupmu dengan gembira. Bukannya semua sudah terbaca sejak awal. Kau memang tak pernah peduli dengan adikmu.”

Kupang, September 2016

Serangan Asma

*Cerpen Serangan Asma adalah salah satu cerpen yang saya kirimkan kepada panitia  MIWF 2017 dan saya bacakan kutipannya dalam acara Under The Poetic Star di  Main Plaza, Fort Rotterdam, Makassar. Cerpen ini dipersembahkan untuk: 1) Adik saya, seorang penderita asma, 2) Lentera Harapan Kupang, 3) Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

IMG_20170520_145207

Sumber gambar: Dok MIWF

Selamat membaca….:)

***

Aku membaca sebuah kisah pendek dan menangis(1). Sebuah  kisah yang melemparkanku kembali kepada beberapa tahun silam. Kala itu aku baru saja mencoba menjadi seorang manusia berguna setelah bertahun-tahun dirundung rasa bersalah teramat dalam hingga di waktu-waktu tertentu terkadang muncul pikiran, sepertinya sepanjang hidup, aku tak akan pernah mengampuni diriku.

“Ini saatnya kau menulis,” serta merta terdengar suara yang tak lagi asing.

Menutup buku, aku mengangkat muka. Di depanku duduk berdampingan dua remaja laki-laki.

Aku merasa lemas. “Kenapa mesti kisah ini?”

“Setidaknya kau punya bahan menulis sekarang,” serempak riang suara mereka.

“Bagaimana bisa aku menulis?” aku menggeleng pelan.

 Seorang di antara keduanya mendekat.

“Lihat aku, dan tulislah tentangku,” katanya. “Aku akan berada di sini sampai kau selesai menulis.”

Ia adikku. Satu-satunya adik laki-laki di rumah. Aku baru saja mencoba mengenal dunia dengan seluk-beluknya ketika ia didiagnosa mengidap asma. Hampir sepanjang hidupnya, penyakit itu seolah tak pernah mau membiarkannya merasa senang walau hanya sebentar. Setiap selesai bermain-main, napasnya selalu berbunyi aneh kemudian ia akan masuk ke rumah, berbaring di tempat tidur sambil berkesah dadanya sakit.

Begitu juga di waktu-waktu tertentu ketika ada acara keluarga, atau perayaan natal-tahun baru, perayaan paskah, atau perayaan 17-an, atau entah kegiatan apa saja yang dibuat di sekitar rumah, sementara semua orang berjalan ke sana ke mari, sibuk berlarian mengambil barang ini dan barang itu, anak-anak berceloteh riang sambil bermain menunggu orang tua mereka yang semangat bekerja di tempat acara diadakan, adikku hanya akan tinggal sendiri di rumah, berbaring di  tempat tidur sambil sesekali mengeluarkan suara keluhan. Bila ingin menghibur diri atau sekadar tahu keadaan di luar, maka sambil bergelung selimutnya, ia akan duduk di samping jendela kamar dan menonton dari jauh.

Ia memang harus sendiri. Tak ada ibu, tak ada bapak, juga aku. Ia yang dipanggil ibu sudah lama tak bersama kami. Ia pergi meninggalkan rumah semenjak aku baru mengenal dunia taman kanak-kanak dan adikku berusia dua tahun. Pergi entah ke mana dengan menumpang truk kuning di kala gerimis baru saja mereda. Sedang bapak, sebagai kepala keluarga mestilah ia menghadirkan diri di tempat acara diadakan. Sementara aku, tentu juga tak bisa. Tak mau aku dikungkung menyendiri dan tak bisa berbuat apa-apa dalam ruangan sempit bersama seorang anak yang terus saja mengeluh dadanya sakit. Aku tidak tahan mendengar celoteh riang anak-anak di luar kalau tak segera menggabungkan diri bersama mereka.

Suatu hari saat masih SD, di jalan sepulang sekolah tiba-tiba adikku terserang asma. Beberapa kawan menahannya agar tak jatuh. Aku yang berada jauh di belakang mereka datang menyusul. Kami menuntunnya menepi. Ia dibaringkan di bawah sebatang pohon di pinggir jalan. Kancing baju bagian atasnya dilepas. Aku mengambil buku dari dalam tas. Badannya kukipas-kipas. Anak-anak lain yang datang berkerumun kusuruh menjauh agar ia mendapat ruang bernapas.

Sambil menjagainya di bawah pohon itu, aku berdoa kepada Tuhan agar jangan dulu mengambilnya. Aku masih ingin menebus dosa.

Sehari sebelumnya ketika menjerang air di dapur, aku memintanya membawakan termos untuk kutuangkan air yang sudah mendidih. Penolakannya membuatku kesal. Ia kusiram dengan setengah gayung air panas. Seketika ia menangis histeris. Tak ingin dipusingkan dengan suara tangisnya, ia kutinggalkan, pergi bermain di luar.

Sore harinya sekembalinya dari tempat bermain, baru kutahu hampir seluruh leher dan dadanya melepuh. Sekujur tubuhku disabet berkali-kali dengan rotan oleh bapak. “Seharian ini adikmu terluka dan menangis seorang diri di rumah sementara kau bermain-main di luar sana tak peduli,” bentak bapak di antara sabetan rotannya.

Malamnya menjelang mau tidur, masih sempat-sempat ia bertanya kepada bapak, apa besok ia tetap berangkat ke sekolah. Kata bapak sebaiknya pergi saja, toh yang terluka bukan kaki dan tangan.

Demikianlah hingga siang hari di bawah pohon di pinggir jalan itu, bahkan di sela-sela napasnya yang berbunyi aneh dan dadanya yang bergerak turun naik, lukanya masih merah mentah terlihat di balik baju seragamnya.

Teman-teman yang bersama kami sudah pergi dan tinggal aku sendiri menjaganya hingga sejam kemudian lewat seorang tetangga. Adikku digendong pulang ke rumah. Aku berada di belakang mereka sambil terus menggulirkan doa. Minta diberi kesempatan menebus dosa.

Sayangnya, janjiku menebus dosa hanyalah janji semata. Setiap kali ia kesulitan sesuatu dan memintai tolong, tak selalu dengan segera aku datang dan membantunya. Hidupku seolah adalah hidupku sendiri dan hidupnya adalah hidupnya. Hampir selalu begitu.

Suatu kali lain di masa kuliah, aku pulang liburan. Ketika masa liburan berakhir dan akan kembali ke kampus di Jakarta, saudara-saudara sepupu dan anak-anak tetangga antusias bahkan berebutan mengantarku ke bandara, hanya ia seorang yang diam dan tak keluar sepatah kata pun dari mulutnya. Ketika ia kutanya kenapa hanya diam, apa tak mau ikut antar, ia menjawab pendek, “Mau, tapi dada sakit.” Jawaban yang sontak membuat kerongkonganku sakit. Perjalanan kembali ke kampus terasa pahit.

Setibanya di kampus aku dikirimi pesan. Aku memintamu membawakanku inhaler. Kau datang justru membawa buku panduan penderita asma. Sakitku sudah parah. Aku tak lagi butuh buku. Membaca pesan singkat itu, rasa-rasanya aku ingin mati. Betapa telah banyak keteledoran kuperbuat.

Beberapa bulan kemudian, menjelang pengumuman kelulusan SMA, kudengar asmanya kembali kambuh. Di hari pengumuman kelulusan, ia tak ikut berangkat ke sekolah karena dadanya sakit. Pada siang hari teman-temannya pulang membawa kabar ia lulus. Sore hari ketika kutelepon, di antara deru napasnya ia berseru senang bisa lulus SMA. Katanya ia mau juga mendapat beasiswa dan lanjut sekolah di Jawa, tapi sakitnya seperti tak mengizinkan. Semenit kemudian tak terdengar lagi suaranya. Diganti samar-samar suara ribut dan panik. Sambungan telepon terputus dan meninggalkan padaku tanda tanya penuh kecemasan. Beberapa menit kemudian aku dihubungi kembali. Suara seorang perempuan entah siapa. Tanda tanya itu terjawab, “Adikmu baru saja meninggalkan kita.”

“Sudah, ini saja yang bisa kutulis,” kataku menatapnya. “Kuharap kau memaafkanku.”
Ia tersenyum. Melambaikan tangan dan berbalik pergi.

“Giliranku sekarang,” kata seorang yang lainnya sambil bergerak mendekati.

Ia salah satu muridku di tahun pertama aku baru belajar menjadi seorang guru. Anak pindahan dari sekolah negeri. Duduk di bangku kelas 2 SMP. Menurut pengakuan orangtuanya, lebih tepat ibunya, anak yang biasa disapa Nuel itu mengidap asma sejak kecil.

Di kelas, ia seorang yang suka mengusili teman-temannya kemudian berkilah ketika ditanyai. Karena sifatnya itulah ia tidak disukai teman sekelasnya dan juga para guru. Jangankan kawan dan guru, ibu kandungnya sendiri bahkan menolak dan membencinya sejak kematian bapaknya yang mengalami kecelakaan suatu siang ketika ingin menjemputnya semasa ia SD.

Ia tahu ibunya sendiri tak suka padanya. Maka itu lebih sering ia menghabiskan waktu di luar bersama para pemuda kampungnya. Kumpul-kumpul dan entah melakukan apa hingga larut malam.

Tak hanya sering terlambat dan tidak mengerjakan PR, ia pun satu-satunya siswa SMP yang merokok. Bibirnya selalu hitam setiap pagi datang ke sekolah. Setiap guru piket yang bertugas di depan gerbang sekolah pasti akan melihatnya terburu-buru membuang permen karet menjelang ia mendekati gerbang. Beberapa kali disidak dan selalu kedapatan bungkusan rokok, korek api, dan permen karet selain tablet obat asma dalam tas kumalnya.

Di tahun itu, peraturan sekolah mengharuskan setiap siswa yang terlambat lebih dari tiga kali tidak diikutkan dalam KBM dua jam pertama. Mereka akan membaca buku dan mengerjakan tugas-tugas perpustakaan. Selalu ketika aku berkunjung ke perpustakaan pagi hari, kudapati buku bacaannya hanya satu, dan menurut petugas penjaga perpustakaan, memang hanya itu satu-satunya buku yang ia baca selama berada di sana. Buku Sayonara Narkoba oleh Fanny J Poyk, yang juga putri seorang sastrawan beken asal NTT, Gerson Poyk.

Di kelasnya saat kami mempelajari materi sinopsis, buku itulah yang ia pilih. Buku itu pun sudah pernah kubaca sebelumnya dan aku tahu persis isinya. Di tugas yang ia kumpulkan, penyusunan sinopsisnya sungguh jauh di luar dugaan. Walau dengan gaya bahasa sederhana khas anak SMP, tapi mampu merangkum setiap cerita dalam buku. Aku tahu ia telah membaca bukunya dengan baik.

Di buku tugasnya kuberi nilai tinggi, juga kutuliskan hampir setengah halaman berisi apresiasi untuk usahanya. Kuakhiri tulisanku dengan tanda tangan, cap hari tanggal, dan sebuah ikon senyum. Kupanggil ia menemuiku di ruang guru. Mengobrol sebentar dan kutanyai sedikit tentang asmanya. Semula ia tak mau bercerita. Ia justru menatapku dingin seolah bermusuhan.

“Kau tak perlu menatap seperti itu,” kataku. Kepadanya lanjut kubilang, aku pun punya adik yang sejak kecil mengidap asma. Bisa kumengerti sedikit bagaimana pergumulan para penderita asma. Mendengar itu, ia pun membuka suara dan bercerita walau hanya sepotong-sepotong.

Buku tugasnya kukembalikan. Ia menerimanya, membaca catatanku, dan berulang-ulang mengucap terima kasih.

Beberapa hari kemudian, saat jam mengajar di kelasnya, anak-anak kuberi tugas berdiskusi kelompok dan aku berkeliling mengawasi. Lagi-lagi tanpa sepengetahuanku, ia berbuat usil dengan mengikatkan tali rafia pada kaki salah seorang temannya dan disambungkan dengan kaki kursi, membuat temannya terjatuh ketika hendak beranjak bahkan sampai bibirnya berdarah. Sebagai konsekuensi, ia kuminta menulis refleksi seusai ia dan anak yang terjatuh tersebut bertemu denganku dan kami mengadakan rekonsiliasi di ruang konseling.

Refleksinya ia tulis di buku tugasnya. Di dalam refleksinya ia menyatakan penyesalan dan ungkapan maaf telah berbuat ulah saat kegiatan pembelajaran, serta berjanji tak akan mengulanginya. Membubuhkan tanda tangan dan hari tanggal, buku itu kusimpan di laci meja kerjaku. Berniat mengembalikannya nanti melalui wali kelasnya.

Mengingat dan mengenang adikku, aku terdorong memasukkan ia dalam cerita yang sedang kutulis tentang sahabat dekatku yang juga adalah wali kelasnya. Walau di sana ia bukanlah tokoh utama, perannya masih terbilang baik. Kuselesaikan cerita itu dengan niat mendamaikan antara ia dan wali kelasnya yang nyaris putus asa menghadapi lakunya seorang. Tentu nama para tokoh tidak kucantumkan sesuai nama asli. Cerita itu kukirim ke sebuah koran lokal. Tak berselang lama, pada suatu hari Minggu, cerita dengan judul Ibu Guru ketika HUT Mateos(2) dimuat. Aku senang bukan main. Kutunjukan cerita itu kepada sahabatku. Ia langsung menerimanya dan membaca.

“Aku tahu, ini kau mau menghubungkanku dengan Nuel, kan?” katanya sambil melotot padaku yang hanya kutanggapi dengan tawa.

Malam itu aku tak sabar menunggu pagi. Ingin segera kutunjukkan cerita itu kepada Nuel.  Besoknya di hari Senin, dengan semangat menggebu aku berangkat ke sekolah. Di tasku sudah kukantongi koran hari Minggu kemarin. Di gerbang sekolah, walau bukan jadwal piket, aku ikut berdiri menyambut siswa. Sengaja aku menanti kedatangannya. Namun hingga di saat bel berdentang panjang tanda masuk pun, tak juga ia muncul.

Pukul tujuh lewat, para siswa di kelas sementara bersiap memulai pelajaran. Karena belum waktuku masuk mengajar, aku membereskan tugas administrasi di ruang guru. Sang wali kelas pun sementara ada bersamaku di ruangan itu. Ia pun belum waktunya mengajar dan sementara merapikan file-file di meja kerjanya. Tiba-tiba telepon sekolah berdering. Sang wali kelas, karena yang paling dekat, ialah yang mengangkat teleponnya. Semula sapaan yang diberikan bernada gembira dan manis. Tapi kalimat yang datang kemudian cukup mengagetkan. Ungkapan terkejut dan seolah tak percaya. Anak murid kami bernama Nuel telah dipanggil pulang semalam kira-kira pukul sebelas setelah sebelumnya ketika terserang asma, ia dengan panik menelan sekaligus beberapa tablet obat asma sehingga mesti dilarikan ke rumah sakit. Di rumah sakit itulah menjelang embusan napas terakhirnya, kepada sang ibu ia mengaku telah mengisap habis belasan batang rokok di rumah kawannya.

Kisah ini nyata, dan aku sendiri pun nyaris tak percaya.

“Percaya atau tidak, semua sudah terjadi,” katanya dengan suara bergetar. Ia kemudian pelan-pelan berbalik pergi.

“Bagaimana, bisa dipahami kisahnya?” tanya sang instruktur dari depan.

“Giliranmu!” sikut kawan yang duduk di sampingku.

“Ada apa?”

“Ah, kau membaca sebuah kisah pendek dan menangis?” sang kawan menatapku heran dan bingung.

Saat kau mendapat serangan asma, ….(3)” Demikian kisah pendek karangan seorang penulis Israel itu kubaca ulang.

Kupang, September 2016

Keterangan:

(1) Kutipan kalimat pembuka cerita mini Berputar karya Eric Lofa, pada kelas menulis Komunitas Sastra Dusun Flobamora

(2) Cerpen Anaci Tnunay, Timor Ekspress Minggu, 12 Februari 2012

(3) Diterjemahkan dari Asthma Attack karya Etgar Keret oleh AN Wibisana, pengampu kelas menulis Komunitas Sastra Dusun Flobamora

Foto-foto KBM Pelengkap Standar PTK

Standar PTK No. 41 Bagian 2: Proses pembelajaran di 1-2 kelas

Karena kalau bekerja dengan Ms Word, saya agak susah mengedit sekaligus menambahkan keterangan, dan karena lebih sering terbiasa dengan wordpress dan memang terasa lebih mudah inilah saya menaruh foto-foto kebutuhan KBM di blog ini untuk nanti baru diprintscreen untuk dicetak.

Baiklah, berikut ini beberapa KBM yang sempat terekam…

Mata Pelajaran Fisika

Kelas 8 membuat pesawat sederhana

Kelas 8 membuat poster materi cahaya

Kelas 8 membuat poster tata surya

                 Kelas 9 melakukan percobaan bandul sederhana: menghitung frekuensi, periode dan jumlah getaran

Sumber foto: Febri A. Dami

Bahasa Indonesia

Kelas 8 saling berbagi cerita seusai membaca novel remaja terjemahan

Sumber Foto: Anaci

Mulok/Pangan Lokal

Kegiatan memasak dan menyajikan makanan oleh kelas 8 dan kelas 9

Sumber foto: Aryani

Munida

{Cerpen ini dimuat dalam Jurnal Sastra Santarang, edisi 51, Juli 2016}

:Dari dan untuk tiga perempuan: Muni, Nita, dan Widi Berbelina

13708220_522396224551937_7959299340003415686_o

Sampul depan Jurnal Sastra Santarang, ed 51, Jul’16. Sumber gambar: File Santarang

Munida sementara serius memindai buku yang hendak dibelinya ketika suara cempreng seseorang dekat di telinganya, mengalahkan instrumen You Raise Me Up yang tengah mengalun. “Harganya sudah begini mau bilang apa lagi. Toko ini bukan punya saya, bisa kasih turun harga semau beta semau lu.”

Munida mengangkat muka.

Persis di sampingnya, seorang penjaga toko sedang memelototi dua gadis berseragam SMA yang berwajah tegang menekuri harga buku serupa yang dipegang Munida. Buku panduan masuk SNMPTN.

“Bahkan kalaupun ada diskon 30 persen, jumlah uang kami berdua tak cukup,” salah seorang di antaranya berujar lirih.

“Maklumlah, ilmu memang mahal, Nona,” balas sang penjaga entah dari mana kata itu ia kutip.

Merasa terdorong, Munida mengambil satu lagi di antara beberapa eksemplar yang masih tergeletak di rak pajangan. “Kalian berdua ingin sekali buku ini?”

“Lebih dari ingin, Kak,” sahut salah satunya cepat seraya terkekeh.

Munida tercekat. Sekelebat, kisah tiga tahun silam menari-nari di depan matanya. Persis bulan-bulan begini. Pertengahan April.

*

Hari baru beranjak malam ketika Munida pulang dari kebun kala itu. Keringatnya bercucuran setelah menapaki beberapa tanjakan dengan dua bakul besar berisi cabe di pikulannya. Di rumah, seorang papalele sudah menunggu sejak tadi. Beberapa menit berlangsung transaksi jual beli, dan papalele itu keluar membawa karung berisi cabe di atas motornya. Sambil berangin-angin di teras samping rumah, ia menghitung kembali lembaran-lembaran uang di tangannya.

“Kira-kira sudah berapa banyak kau kumpul dalam bulan-bulan terakhir ini?” tanya ibunya dari dapur.

Ibunya juga baru tiba dari kebun yang sama tapi ia pulang lebih dahulu demi menyiapkan makan malam mereka sekeluarga.

“Masih butuh sejuta lebih,” sahutnya tanpa menoleh. “Kata beberapa kakak mahasiswa yang kutanyai, siap-siap saja uang masuknya tiga juta.”

“Bapak tambahkan 300 ribu kalau pak Samuel membayar lemari pesanannya,” timpal bapak yang baru muncul dari halaman. “Kalaupun belum cukup, mungkin bapak pergi melaut mencari kepiting. Oh ya, si Ama bilang besok ia datang lagi.”

“Apa ia bilang begitu? Di mana ketemu Bapak?” Munida serta-merta bertanya balik. Matanya memicing. Tadi si Ama tak bilang padanya.

“Ya, tadi ketemu di jalan. Katanya ia barusan dari sini. Cabenya bagus-bagus. Dan ia lupa bilang kalau besok mau datang lagi, jadi Bapak dititipi pesan.”

“Kalau begitu, Munida. Kau naikkan harganya saja. Beruntung kita ia yang butuh,” seru ibu dari dalam.

Munida tak berkomentar. Ada deru sepeda motor terdengar memasuki halaman.

“Sepertinya si Ama datang lagi,”

Sepeda motor hampir memasuki teras belakang. Eliya, kakak laki satu-satunya yang bekerja di kota turun dari motor dan menyalami seisi orang rumah.

“Ganjil benar hari ini kau muncul mendadak,” ibunya menyeletuk.

Kakaknya hanya menyeringai masam. Namun tak juga bilang apa-apa.

Munida sendiri menyambut gembira kedatangan kakaknya. Sebab ia dan  ibunya akan mendapat tenaga bantuan dari seorang yang muda, kuat, dan energik. Kedatangan kakaknya seperti bala bantuan yang baru saja diturunkan. Sebab ia dan ibunya memang cukup kewalahan dengan hasil panen. Benih-benih cabe yang ia dan ibunya semaikan pada lubang-lubang galian bapaknya beberapa bulan sebelumnya memang berbuah lebat. Munida sudah berangan-angan kelak uang hasil penjualan bagiannya akan ia simpan untuk pendaftaran masuk perguruan tinggi.

Kakaknya sudah lama bekerja di kota. Kira-kira setahun lebih setamatnya ia dari STM. Munida tak tahu persis kakaknya bekerja apa dan di mana. Sebab kabar yang datang selalu simpang siur. Kadang ia dengar sebagai supir bemo, kadang di bengkel sepeda motor, kadang sebagai pegawai toko, kadang sebagai pekerja di perusahaan mebel, kadang di bank sebagai satpam, bahkan ada yang bilang ia kuliah. Entah mana di antara sekian banyak kabar itu yang benar.

“Sudah di mana kau sekarang, atau sudah tak ada lagi makanya kau pulang tak berkabar?” tanya ibunya di sela-sela makan malam. “Kalau tak ada pekerjaan sekarang, baguslah kau bisa bantu-bantu di kebun, panen cabe. Pas lagi panenannya melimpah kali ini. Adikmu mau kumpul uang buat lanjut sekolah katanya.”

Kakaknya tersenyum kecut. Lantas menoleh tanpa ekspresi ke arah Munida. Tak seperti biasanya ia diam begitu.

Seusai makan malam pun, tak ada bincang-bincang dengan bapak atau ibunya. Ia langsung tepekur menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit sambil mengepulkan asap rokoknya hingga jauh malam.

Sepertinya ia ada masalah, ibu berbisik lirih mengamati tingkah anak sulungnya.

Keesokan siang sepulang sekolah, Munida mendapati ibunya masih belum pergi ke kebun. Ia sementara duduk di bangku ruang tengah dan mencoret-coret sesuatu di atas selembar kertas. Biasanya di jam-jam begitu ibunya sudah di kebun lebih dahulu, dan Munida hanya tinggal makan siang yang sudah disiapkan lantas menyusul.

Bapaknya tentu sudah di padang menggembalakan sapi-sapi milik seorang kaya di kampungnya atau kalau dapat tawaran sampingan entah menggergaji kayu, entah menyerut kayu, entah mengerjakan pesanan perabot rumah tangga seperti lemari meja kursi, entah menggali lubang tanaman, entah mengiris tuak, atau pekerjaan lain apa saja yang bisa dikerjakan di waktu senggang maka akan ia kerjakan.

“Kakakmu sudah dengan bapak ke padang hari ini,” jelas ibu tanpa ditanya. “Dari sana ia akan ke kebun membantumu memetik cabe.”

Munida mengangguk, “Saya akan senang mendapat bantuannya.”

Cepat-cepat ia mengganti seragamnya lalu segera makan.

“Munida,” panggil ibu yang kemudian suaranya seolah tertahan.

Munida yang sedang menyuapkan makanan ke mulut sontak berhenti dan menoleh. Ada nada ungkapan tersisa dari panggilan ibunya yang belum ia keluarkan.

Melihat ibunya terdiam dan tak melanjutkan bicara, Munida tak mau membuang waktu, ia meneruskan makannya. Ia mesti cepat-cepat ke kebun memetik cabe. Si Ama sudah berjanji akan datang lagi mengambil bagiannya. Tentu sebagian uang hasil penjualan adalah untuk tabungan ia mendaftar masuk perguruan tinggi nanti. Satu atau dua bulan lagi.

Saat-saat itu bahkan di sela-sela persiapan ujian akhir nasionalnya yang tinggal dua minggu, ia justru lebih rajin. Sepulang sekolah, ia akan cepat-cepat menyantap makanannya. Satu dua buku catatan ia masukan ke tas kain di bahunya, lalu bak anak kijang yang lincah, ia akan bergerak lari menuju kebun yang berjarak 2-3 kilo dari rumah. Di sana ia akan duduk beristirahat dalam sebuah gubuk kecil di tengah kebun sambil mempelajari kembali bukunya. Barulah kemudian ketika matahari sudah mulai mendingin ia akan turun memetik cabe untuk ditaruh dalam bakul, lalu akan dipikulnya kembali menuju rumah yang mana sudah ditunggui para papalele atau mamalele yang biasanya berebutan mendapat hasil kebun terbaik.

Malam seusai si Ama membayar hasil panenannya, Munida mandi dan tak sempat makan ia langsung pamit menuju rumah kawannya yang hanya berseberangan jalan. Ada tugas belajar kelompok yang dianjurkan guru-guru di sekolah. Tugas itu sewaktu awal kesepakatan di sekolah mau dikerjakan siang sepulang sekolah atau sore. Tetapi kawan-kawan sekelompoknya paham kondisi keluarga Munida yang langsung ke kebun sepulang sekolah dan baru balik menjelang malam. Maka kemudian kesepakatan terakhir adalah malam sepulang Munida dari kebun.

Ada sesuatu yang janggal tercium ketika Munida mengetuk pintu sepulangnya dari belajar kelompok. Mata ibu sembab. Munida tahu jelas ibunya baru saja habis menangis. Tentu sebab berita yang dibawa sang kakak.

“Ada sesuatu yang mesti yang kau tahu dari kakakmu,” ibunya berkata dingin.

Betul sudah yang ia duga. Ia melongok jauh ke dalam. Bapak dan kakaknya diam merenung. Keduanya tak ada yang nampak merokok.

“Apa kau kenal Raeni? Ia pacar kakakmu. Sudah hamil dua bulan.”

Bagi Munida tak ada berita yang lebih mengagetkan dari yang disampaikan ibunya malam itu. Raeni, kawan seangkatan Munida. Pernah dulu mereka satu SMP. Masuk SMA, anak itu lebih memilih bersekolah di kota. Ia masuk SMK jurusan tata kecantikan. Bapaknya orang berada yang serta-merta membelikan rumah berhalaman luas untuk tempat huni anak perempuannya. Bukan sesuatu yang mengherankan sebab selain menjabat sebagai kepala desa di desa tetangga, bapak Reni juga juragan sapi. Rumahnya di antara beberapa kampung itu adalah yang paling besar serupa istana. Punya banyak kendaraan. Satu sedan, dua pick up, dua bus, tiga truk, dan tiga bemo angkutan desa. Sepeda motor tak terhitung. Hampir setiap anak buahnya –kalau tidak semua –satu-satu punya tunggangan sendiri.

Masalah kehamilan ini, kata ibunya, masih dirahasiakan keluarga sang perempuan. Kerena sebentar lagi, seperti Munida, sang perempuan mesti ikut ujian nasional. “Mereka menuntut harus segera diurus perkawinan keduanya. Kalau bisa langsung setelah anaknya mengikuti ujian,” tersendat-sendat ibunya bertutur.

Munida melihat kelender yang tergantung di dinding tembok. Ujian akhir nasional dilaksanakan dua minggu lagi. Sedang Mei atau Juni pendaftaran masuk perguruan tinggi dibuka.

“Belum-belum mereka sudah minta kita mesti siap dari sekarang.”

“Siap?” Munida tak menangkap maksud ibunya.

“Total denda dan belis 120 juta.”

*

“Buku ini sudah kakak bayar buat kami masing-masing?” tanya gadis yang berdiri tepat di sampingnya dengan mata berbinar. Ia menatap tak percaya Munida melepas begitu saja beberapa ratus ribu demi tiga buku yang duanya diberikan kepada ia dan temannya.

“Kakak tidak keberatan, kan?” satunya lagi bertanya sambil menyelisik Munida yang berkaos pendek, jeans kumal, bersandal jepit dengan sebuah tas kain tenun kecil yang disampirkan di bahu kanannya.

Tak berniat membeberkan kisahnya, Munida hanya tersenyum kecil seraya memasukkan buku yang baru dibelinya ke dalam tas. Ia menepuk bahu kedua remaja itu lantas berlalu meninggalkan keduanya yang sibuk menerka-nerka seolah baru saja bertemu malaikat. Mereka tidak tahu, beberapa hari lalu kepingan ringgit Munida baru saja dialihkan ke rupiah sekembalinya dari negeri jiran.

Kupang, April 2016

Perdebatan Menulis

“Apakah kau pikir ini adalah inginku agar aku berhenti menulis?”

“Ya, itu keinginanmu sendiri untuk berhenti menulis,” tampak tenang kawannya menyahuti.

“Aku tak pernah tak ingin menulis. Kau tahu itu.”

“Kau yang memutuskannya sendiri. Kau yang menarik diri untuk tidak menulis. Jujur sajalah.”

“Aku sudah jujur. Jelas ini bukan inginku untuk berhenti menulis.”

“Kau sudah lama sekali terlena dan terbuai dengan kenyamanan hidup yang ditawarkan dunia,” sinis sang kawan menyahut.

“Jangan salah. Bahkan aku sendiri tersiksa. Kau dengar itu, aku tersiksa. Sebab sudah lama sekali rasanya aku tidak menulis.”

“Oh, kau merasa juga rupanya,” tersenyum sang kawan mengejek. “Betul-betul tak kusangka kau bisa tersiksa karena tak menulis,” lanjutnya seraya melempar pandang ke arah lain. “Lantas kenapa kau tidak menulis untuk menghentikan penderitaan itu?”

“Aku tak punya waktu untuk menulis.”

“Hah, tak punya waktu? Klasik betul alasannya.”

“Ya, terserah apa pendapatmu. Memangnya kenapa?”

“Apa kau tahu? Dengar, itu karena kau saja yang tak meluangkan waktu buat menulis.”

“Apa? Tak meluangkan waktu? Coba kau ulangi kata-katamu,” ia mulai terlihat marah.

“Kau yang tak meluangkan waktu buat menulis.”

“Hah? Dengar baik-baik. Kau tahu apa tentangku? Kau tahu apa tentang waktuku? Kau tahu apa tentang tuntutan pekerjaanku? Kau tahu apa tentang maunya teman-temanku? Kau tahu apa tentang harapan keluarga dan tetangga-tetanggaku di rumah? Kau tahu apa tentang keletihanku sehabis bekerja? Kau tahu apa tentang penyakit dalam tubuhku? Hah, kau tahu apa?” ia sudah memasuki tahap nyaris kerasukan sebab teriakannya kali ini sudah nyaris berupa lolongan.

“Aku tahu,” suara sang kawan yang masih terdengar tenang. “Maka itu aku bilang, kau sendiri yang tak mau meluangkan waktu buat menulis.”

“Aih… Sungguh membuat gusar,” kini suaranya merendah. Bernada menggerutu.

“Ok, baiklah. Menurutmu, kenapa kau tak menulis selain alasan tak punya waktu?”

“Aku… Aku sudah seperti tak bisa berpikir lagi. Aha, Apa kau pikir orang yang menulis hanya perlu mengambil pena dan kertas lalu menulis, atau menghidupkan komputer atau laptop kemudian mengetik?”

“Ya.”

“Bodoh.”

“Aku tidak bodoh. Menulis itu tidak susah. Kau hanya perlu melakukannya tiap hari.”

“Lalu yang kau tulis, aku bangun pagi-pagi lalu ke kantor. Pulang-pulang sudah capek. Remuk rasanya raga ini. Otakku tak lagi mampu berpikir. Jadi aku memulih langsung tidur saja. Besok pagi aku akan ke kantor lagi. Di sana pekerjaannya menumpuk. Aku bekerja sampai letih lalu aku pulang dan karena merasa capek aku langsung tidur. Besoknya aku bangun lagi dengan malas pergi ke kantor lalu bekerja. Apa hanya itu-itu saja yang akan kau tulis?”

“Nah, apa susahnya. Kau sudah membuat kurang lebih satu paragraf,” kembali sang kawan menanggapi.  “Ya sudah, kalau begitu teruskan paragraf selanjutnya.”

“Paragraf selanjutnya? Apa maumu kutulis lagi mengulang paragraf sebelumnya?”

“Kalau yang kau lakukan dan kau mengerti setiap harinya seperti itu, ya berarti kau tak lebih dari sesosok mayat hidup. Kau tahu Zombie? Nah, itu kau,” kata sang kawan dengan tegas tanpa tedeng aling-aling.

“Enak saja kau bilang aku Zombie?” ia melotot. Dua bola bulat itu seperti mau meloncat keluar.

“Nah, kalau kau bukan Zombie, lalu apa?”

“Aku manusia. Yang ingin dalam setiap apa yang dikerjakan benar-benar punya arti dan memberi manfaat. Bukan hanya sekadar bekerja. ”

“Kau menanam arti begitu?”

“Apa pula bahasamu itu? Aku tak mengerti.”

“Kau mau memberi arti dalam pekerjaanmu. Maksudku supaya yang kau kerjakan itu ada maknanya, dan setidaknya meninggalkan kesan bagi orang lain. Memberi manfaat atau menginspirasi orang di sekitarmu.”

“Kau tahu sekali,” kini ia mengembangkan senyumnya dengan lebar.

“Maka tulislah yang kau harapkan, atau setidaknya buat refleksilah terhadap yang kau kerjakan.”

“Boleh tidak kau yang tuliskan?” tersenyum nyengir.

Lho, kok malah aku yang kau suruh tulis? Sudah terbalikah dunia?”  kawannya kaget disodorkan tugas serupa itu tanpa rasa bersalah dari sang pemberi.  “Kenapa tak kau saja. Tadi sudah kau buat satu paragraf itu. Kan kau yang memulainya. Harus pula kau menyelesaikannya.”

“Aku sudah tak bisa.”

“Aku bilang, lanjutkan!”

“Aku tak bisa.”

“Coba dilanjutkan!”

“Lanjutkan dengkulmu. Aku tak punya kata lagi.”

“Coba dilanjutkan!”

“Ya, dan begitu orang membacanya, baru satu kalimat dibaca langsung meremukannya dan pergi dengan mengumpat kesal, ‘tulisan sampah’, “apaan ini, unek-unek tak berbobot’.”

“Coba saja kau lanjutkan.”

“Aku tak paham maksudmu, kawan. Terima kasih.”

“Lalu kenapa kau kelihatan tertekan begini?”

“Sudah kukatakan, tidak menulis membuatku sakit.”

“Baiklah. Mungkin aku cukup mengerti. Hmm, sekarang coba jawab pertanyaanku. Apakah kau membaca?”

“Aku suka sekali membaca. Hanya seperti yang kubilang, aku tak punya cukup waktu buat membaca.”

“Nah, itu dia. Di situ letak kesedihannya. “

“Kenapa memang?”
“Ya, jelas kau tak bisa menulis lancar kalau kau tak membaca.”

“Hubungannya?”

“Waduh, dari mana kau tahu susunan kata lalu kalimat lalu paragraf yang baik kalau bukan dari hasil membaca?” nyaris meringis ia menerangkan. “Orang menulis bukan karena ia sekadar ingin menulis. Tapi karena ia suka membaca, banyak membaca, plus segala indranya ia pertajam untuk menangkap semua kejadian di sekitarnya. Lalu karena di dalam kepala dan hatinya banyak sudah terisi apa yang diresapinya, maka mau tak mau agar kepalanya jangan meledak, ya ia mesti meluapkannya, ia mesti belajar berbagi kepada orang lain, ya.. dalam bentuk tulisan. Ia menulis. Dan jadilah ia penulis yang baik.”

“Ceramah yang panjang.”

“Ya, sudah bisa jadi satu paragraf.”

“Ya, aku tangkap maksudmu. Aku memang jarang membaca.”

“Maka itu yang menyedihkan. Memprihatinkan betul.”

“Demikian membaca dan menulis itu harus berjalan beriringan setiap hari,” ia bergumam.

“Sudah harus. Walau hanya sebentar,” gumamannya disahuti.

Momen selanjutnya, hanya keheningan yang melingkupi keduanya. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya.

“Ehm, tapi apakah sempat kau pikirkan apa yang kau baca?” keheningan pun sirna seketika.

“Aha, mungkin itu yang tidak. Aku hanya membaca lewat dan selesai. Sekalipun aku menikmati bacaannya.”

“Apa yang kau baca?”

“Ya, apa yang menarik dan ingin kubaca, ya, kubaca.”

“Berarti kau membaca. Bagus, setidaknya kau masih membaca,” suara sang kawan lebih tepat sebagai gumaman. “Hanya kau tak bisa lagi menulis katamu. Berarti kau tidak menyatu, atau kurang menyatu dengan yang kau baca. Kau hanya membaca asal membaca. Dan kau juga tak mau membiarkan diri tenggelam dalam perenungan akan apa yang kau baca.”

“Ya, aku memang kurang merenung,” jawaban yang diiringi anggukan kepala.

Yup. Benar. Maka dapatlah itu penyebabnya. Kau kurang merenung.”

“Memangnya ada pengaruhnya menulis dengan merenung?”

“Apakah kau tak sadar bahwa pertanyaanmu itu membuatku gusar?”

“Eehh…hmm…ya?”

“Ya, mestinya kau sadar. Berkontemplasi, kau tahu itu membuat tulisanmu sedikit lebih berisi. Tidak berkontemplasi membuatmu tulisanmu kering garing seperti kerupuk.”

“Kurasa bukan hanya karena itu,” ia berkata pelan sembari menekuri lantai.

“Lalu apa?”

“Karena seseorang tak tahu atau tak menghayati motivasinya, kenapa dan untuk apa ia menulis.”

“Lalu sebaiknya?” tersenyum kecil.

“Kenalilah motif kenapa dan untuk apa kau menulis.”

“Nah, itu. Kau saja tahu. Ya, betul katamu, kenali motivasimu. Sama seperti kau merenungkan kenapa dan untuk apa kau kepalang nongol di muka bumi.”

“Oh, kau pernah tak menerima kau nongol di muka bumi?” dengan wajah terenyak ia bertanya.

“Ya. Dulu.”

“Tapi sekarang tak terbayang sudah berapa banyak buku karya penulis-penulis andal dipoles di tanganmu, bukan?”

“Maka itu, menulislah kembali. Yakin, pasti akan kubantu poles.”

Tawa lepas keduanya dibebaskan ke udara.

Kupang, Januari 2016,

Di tengah-tengah membaca “Sanctuary of the Soul” oleh Richard J Foster

*  Tentang kepala saya yang gaduh. Mungkin seperti halnya salah satu judul buku Aan Mansyur, ‘Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia  🙂

Rumusan Menulis*

hqdefault

Sumber gambar : i.ytimg.com

‘Kalau bukan kusadari hidupku adalah sebuah cerita persinggahan yang dituliskan, maka mungkin aku sudah membuat diriku berakhir sebelum ending yang dimaksud sang penulis.’

 

‘Maksudmu?’

‘Tak kau temui aku lagi di sini sekarang. Sebab aku pasti sudah lama mati. Ya, mati yang bukan karena tiba saatku mati. Tapi ini mati, mati yang datangnya kujemput sendiri.’

“Apakah begini sudah baik pembukaannya?” ia akhirnya bergumam. Sendiri ia dalam ruangan. Tak ada yang menanggapinya.

Ia sedang mencoba mengerjakan tugas dari kelas menulis yang diprogramkan kampus. Program yang sudah lama ia dambakan ada di kampusnya. Maka tak heran ketika diumumkan bahwa akan ada kelas menulis itu, ia malah orang pertama yang mendaftar. Dan setelah berlangsung beberapa kali pertemuan itu, para peserta diberi tugas. Menulis sebuah cerita pendek. Oleh trainer-nya, mereka diminta membuat cerita yang mesti berangkat dari pengalaman pribadi.

Setelah pikirannya dibawa mengelana pada potongan-potongan kenangan, dapatlah ia sebuah ide. “Bagus,” soraknya. Cerita ini ingin ia buka dengan dialog. Biar menggigit, begitu kata sang trainer. Namun kalimat yang ia tulis hanya berhenti sampai di situ. Selanjutnya ia seperti merasa buntu. Tak tahu lagi bagaimana atau dengan kata-kata apa lagi mesti ia lanjutkan.

Otaknya mendadak sumpek. Seperti hawa bulan Oktober yang menggerahkan. Atmosfer dalam kamar sewanya yang di lantai dua ini pun berasa sesak. Suara berisik kipas angin dirasainya sangat mengganggu. Ia mengulurkan tangan lantas memencet tombol off. Hening seketika.

Bergerak ia menuju jendela. Menarik gorden dan membukanya lebar-lebar. Udara malam berhembus masuk. Di langit tak ada satu pun kerlip bintang. Mendadak ia merindukan kampung halamanya yang di kala malam justru penuh bertaburan bintang.

Kembali ke meja belajar, jendela tetap ia biarkan terbuka. Biarlah, pikirnya. Toh tak ada yang akan memanjati pagar berkawat duri di depan lantas harus pula merangkaki dinding tembok baru bisa sampai ke jendela kamarnya. Kecuali ada orang iseng melempar kerikil ke dalam. Kalau itu terjadi, ya tinggal kembali ditutup jendelanya.

Ia menatap layar laptop yang baru memunculkan beberapa baris kalimat percakapan tadi. Di sana ada dua tokoh sedang bercakap. Ia belum memutuskan, apakah keduanya cewek, ataukah cowok, ataukah satu cewek dan satu cowok. Kalau satu cewek dan satu cowok, manakah yang cewek dan manakah yang cowok. Itu sama rumitnya dengan tiap pagi kau mesti memikirkan, apakah kau memilih masak nasi dan lauk, ataukah nasi saja lalu membeli lauk, ataukah membeli nasi dan lauk sekalian di luar, atukah mi instan saja, ataukah jajan gorengan di pinggir jalan.

Ampun, apa hubungannya penokohan cewek-cowok dengan nasi-lauk. Ya, sudah. Intinya ada dua tokoh bercakap. Satunya menceritakan kisah hidup atau pengalaman pribadinya, dan yang lain berperan sebagai orang bloon yang tak tahu-menahu tentang keadaan kawannya itu.

‘Apa betul yang kau maksudkan adalah bunuh diri?’

Memang tepat sekali tokoh kedua ini berperan sebagai orang bloon. Pertanyaan yang diajukannya saja jelas-jelas menunjukan kalau ia orang bloon. Yup, cocok sekali.

Ok, lalu kira-kira apa tanggapan tokoh pertama. Apakah ia mesti menjawab, ‘ya’ ataukah mesti tertawa, atau perlu mengamuk marah karena jengkel.

Kalau mau ditelisik, jelas dua tokoh itu adalah gambaran kepribadiannya. Dua karakter yang sedang bercokol dalam dirinya. Yang satunya adalah ia yang mungkin sudah sejak lama berpikir untuk menghabisi hidupnya. Satunya lagi adalah tentang ia yang sudah merasa tak diterima sejak lahir bahkan oleh dua manusia yang bersepakat membuatnya. Maka ia menganggap dirinya adalah makhluk bloon yang paling menjengkelkan dan yang tak pernah diinginkan di muka bumi. Oleh orang yang membuatnya saja sudah demikian, apalagi orang-orang lain.

Sewaktu kanak dulu, sering tak sengaja ia memergoki ayah dan ibunya bertengkar hanya karena pembicaraan tentang ia yang terlontar keluar ke bumi bukan sebagai anak laki-laki tapi justru perempuan. Di rumah sudah ada lima perempuan. Mau ayahnya kali ini adalah ada setidaknya satu anak laki-laki di rumah untuk meneruskan marga keluarganya. Tapi justru yang keluar bukan jantan, malah lagi-lagi betina, demikian umpat ayahnya.

Rasa-rasanya ia ingin berteriak balik kepada kedua orangtuanya. Ingin menggugat bahkan ia sendiri pun tak pernah menghendaki dirinya muncul di bumi apalagi di keluarga yang tak pernah menginginkannya. Lima orang kakaknya pun seperti batu. Mereka melihat tapi tak pernah menganggap penting masalah ini. Lebih-lebih dua di antaranya yang sudah berkeluarga. Walau begitu ia tak pernah menaruh amarah pada mereka, toh bukan mereka juga yang salah.

‘Kalau pikiranku pendek, ya.’

Mungkin begitu mestinya tokoh pertama menyahut.

‘Untungnya tidak. Lantas apa yang kau lakukan?’

‘Kau tahu suaraku tidak bagus-bagus amat kalau menyanyi. Kau pernah mendengar sendiri bukan? Saat menyanyi suaraku selalu bengkok ke kiri atau kanan, bahkan terkadang jauh sekali dari nada yang semestinya. Liriknya pun, ah.. yang kutahu asal nyambung.’

‘Bukan pernah malahan, tapi sering. Kau tak ada hujan tak ada angin tiba-tiba saja bernyanyi.’

‘Di rumah dulu, cara aku melampiaskan segala gundah adalah dengan bernyanyi di kamar mandi sewaktu mandi.’

‘Kau lucu.’

‘Tidak di saat itu. Karena pada dasarnya aku memang tak diinginkan di rumah, maka kau tahulah, segala yang kuperbuat, apapun itu adalah selalu salah. Aku dimarahi habis-habisan. Katanya aku berteriak kayak orang kesetanan. Padahal aku hanya bernyanyi sebagaimana orang bernyanyi. Tak keras-keras amat juga. Hanya memang suaraku ya  demikian adanya.’

“Apakah mesti begini kutulis?” lagi-lagi ia bergumam.

‘Semenjak itu, tak pernah lagi aku mandi di kamar mandi di rumah.’

‘Lalu di mana kau mandi? Atau apa kau memutuskan tak pernah mandi lagi?’

‘Bodoh,’ semprot tokoh pertama kesal. ‘Mana mungkin aku tak mandi. Ya jelas, mandilah. Setiap subuh dan petang aku memilih pergi ke lembah untuk mandi di sana. Ada pancuran dengan sebuah drum penampung yang katanya sudah didudukan di sana di sebelum aku lahir bahkan sekarang pun ia masih ada walau sudah penuh lumut.’

‘Kenapa mesti setiap subuh dan petang mesti mandi di sana? Apakah kau tak takut dengan hantu-hantu yang bergentayangan?’

‘Apakah kau tak mengerti maksud ceritaku? Aku mandi di lembah biar bisa bebas bernyanyi. Tak ada yang melarangku. Tak ada juga yang perlu merasa terganggu. Bahkan ketika aku kadang sampai tak tahan dan meluapkan parau suaraku sepuas hati.’

Di sini tiba-tiba dirasainya matanya panas. Ah, kenangan itu sungguh merasuk. Ia seorang perempuan. Rasa sedih yang pekat sanggup mengalahkan ketakutannya berangkat pagi-pagi sekali saat hari masih gelap ke lembah atau pada petang menjelang malam. Di sana terkadang ditemuinya satu dua orang petani yang berangkat pagi-pagi sekali atau pulangnya kemalaman. Sekalipun begitu, di antara mereka tak ada yang pernah mau mandi di sana. Mereka semua mandi di rumah. Dengan air yang memang ada juga dialirkan di perkampungan. Hanya ia satu-satunya orang yang mandi di pancuran di lembah itu.

‘Apakah orang-orang tak menganggapmu aneh?’

‘Tak hanya dianggap aneh. Justru dibilang bersekutu dengan setan penunggu lembah’

Aih, kenapa ini cerpen isinya dialog semua?” ia mengumpat setelah mencermati baik-baik isi tulisan. “Bagaimana narasinya?”

Ia mengambil kertas dan bolpoin. Membuat coret-coret tak beraturan. Sampai kepalanya jatuh terkulai di atas meja barulah ia sadar, lantas mematikan laptop, menutup jendela, dan pergilah ia tidur.

***

Kubilang padamu, catat. Bahwa syair lagu yang kudengar di toko buku yang baru saja kukunjungi tadi benar-benar menyihirku. Syair dengan alunan lagunya sungguh perpaduan yang membawaku sejenak mencicipi secuil nirwana dunia. Bagaimana tidak, ia melagukan kisah seperti yang pernah dan sedang kualami.

Sekarang aku betul-betul ingin bertaruh. Siapa yang mau bertaruh denganku? Bahwa pasti para pencipta atau pelagu ini adalah malaikat utusan Tuhan yang didatangkan untuk menolong setiap insan yang sedang dilanda gundah. Mereka pasti punya hati yang besar nan luas nan lapang untuk orang-orang semacam aku yang baru saja menemui jalan buntu lantas berpikir ini sudah jalan satu-satunya, berhenti, dan matilah.

Aku yang sementara berdiri di depan kasir tadi, bersiap hendak membayar, mendadak terkesima ketika dari speaker mengalun lagu itu, lantas dengan saksama menyendengkan telinga.

Hingga lagu berakhir. Aku menarik napas.

Dan Bernyanyilah, dari grup band Musikimia,” kata sang kasir tersenyum.

“Keren sekali, aku jadi dapat sebuah rumusan menulis. Tuliskan apa yang kau rasakan, dan rasakan apa yang kutuliskan.” Aku berucap spontan. Jelas saja kegirangan.

“Neng suka menulis?” sebuah sapaan terdengar tepat di belakangku.

Aku menoleh. Oh, untunglah toko tak sedang ramai. Tak banyak antrian. Hanya seorang pemuda di belakangku itulah. Ia tersenyum sopan.

“Saya blogger. Kebetulan kemarin sempat saya baca, mereka sementara menyelenggarakan lomba menulis cerpen tentang inspirasi lagu ini,” jelasnya.

“Benarkah? Ah, Aku sungguh tak percaya. Kalau benar itu ada, maka aku mesti ikut.”

“Benar. Sebentar, saya buka linknya.” Ia sibuk mengetik, mengklik, dan scrolling di layar handphone-nya.

“Nah, ketemu. Ini, kalau kau tak percaya. Baca saja!” tanpa sungkan ia menyodorkan HP-nya ke tanganku.

Benar sekali. Tulisan di layar HP itu sungguh membuatku nyaris seperti tak lagi menapaki lantai.

Amazing. Aku akan menulis sebuah cerita. Tapi bukan semata-mata karena dan untuk mengikuti lomba ini. Aku menulis sebagai tanda ucapan terima kasihku untuk mereka, para malaikat utusan Tuhan yang dikirimkan datang menghibur jiwaku yang gundah, dan menyemangatiku kembali untuk mewarnai hidup.”

Sang blogger itu tersenyum.

“Oh, tolong. Terserah mau kau nilai apa tentang lakuku sekarang. Tapi lagu ini bagiku sungguh menggugah.” Demikian kuminta pengertiannya.

Sekarang aku akan melanjutkan ceritaku. Nikmati saja prosesnya. Kau hanya perlu menuliskan apa yang kau rasakan, lalu merasakan apa yang kau tuliskan.

Sungguh kalimat lagu yang mencerahkan. Tak ada lagi yang namanya jalan buntu. Dalam proses menulis, ataupun problem kehidupan.

***

Kalau memang sampai waktunya sebuah cerita harus berakhir, dengan kata lain ia sudah tiba pada ending-nya, jangan lagi ia ditahan-tahan. Lepaskan, dan tutup. Di situ letak daya pikatnya. Cerita tambahan yang dipanjang-panjangkan hanya akan merusak makna. Orang yang membacanya pun tidak lagi tertarik. Demikian yang terngiang di telinganya kata-kata sang trainer tentang ending cerita.

Kini di matanya, tokoh pertama dan kedua dilihatnya saling menghampiri dan berangkulan.

‘Kau seorang mahasiswi yang hebat,’ suara itu menggema di kepalanya.

HP di sampingnya bergetar. Sebuah pesan suara terdengar, “Bernyanyilah, senandungkan suara isi hati, bila kau terluka. Dengarkan alunan lagu yang mampu menyembuhkan lara hati. Warnai hidupmu kembali. Ayo, apa peduli kita dengan suara kita yang tak merdu ini. Asal segala larut gundah terluapkan, dan pintu-pintu lain pun dikuakan.” Dari sang blogger yang menginfokan lomba menulis sore tadi di toko buku.

*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DanBernyanyilah yang diselenggarakan oleh Musikimia, Nulisbuku.com dan Storial.co

 

Usai Pesta Pernikahan Silpa

Cerpen ini tergabung dalam Antologi Sastrawan NTT “Cerita dari Selat Gonsalu” Terbitan Kantor Bahasa Prop NTT 2015

Belum seminggu berlalu sejak pesta pernikahan Silpa digelar. Sore itu ia duduk menghadap tungku api di dapur. Menjaga sebuah periuk besar berisi air. Daster pink bermotif bunga pemberian kawan kuliahnya sebagai kado pernikahan itu terentang menutupi permukaan lantai tanah yang didudukinya. Selembar kipas berbahan anyaman daun lontar di tangan kanan diayunkan sekenanya. Menggiring angin menghembuskan api. Nyala api menjilat-jilat pantat periuk. Asapnya mengepul menyesaki dapur. Asap yang betul-betul menoreh perih di mata. Tapi baginya, rasa perih di mata itu baik. Sengaja dibiarkannya menyatu dengan ketakutan dan sakit hati yang mencekam. Melebur dalam bulir air matanya yang merebak keluar.

Suhu di dapur sungguh menggerahkan bahkan panas. Tapi badan Silpa gemetar. Bergetar dalam isakan tangis.

Air yang dijerangkannya dalam periuk besar itu sudah mendidih sejak tadi. Namun ia tak peduli. Ia terus saja mengipasi api. Sebab rasa-rasanya ia tak sanggup beranjak dari tempatnya sekarang. Suara teriakan dan bentakan serta makian yang terdengar dari ujung ruang tamu seakan menekannya hingga tak kuat, sekalipun hanya untuk beranjak dari tempat duduknya. Di sana para paman suaminya sedang bertikai hebat. Sekalipun belum begitu mengusai bahasa daerah suaminya, namun sedikit-sedikit ia bisa menangkap maksud dari kata-kata yang dilontarkan seorang akan lain.

Dirinya tersangkut di sana. Bukan saja disangkut-pautkan, tapi ditembak sebagai penyebab utama. Di sana namanya berulangkali disebut disertai nominal rupiah yang tentu diucapkan dalam bahasa Indonesia. Hal itulah yang mengiris-iris hatinya. Namanya bersanding dengan rupiah. Sudah jadi apakah dirinya sekarang yang belum sempat disadarinya?

Lewat pintu sempit di samping dapur ia menoleh ke suaminya yang sedang berpeluh membelah kayu di halaman. Kenapa ia seakan tak peduli pada pertikaian hebat para pamannya yang terus menyebut nama istrinya dengan umpatan demikian kasar. Betapa suaminya menanggapi situasi itu semacam ia mendengar sambil lalu sebuah perselisihan para bocah berebutan kelereng atau gasing.

Mendadak ia kangen ibunya, juga bapak, dan saudara-saudaranya. Mereka sudah pulang seminggu lalu setelah mengantarnya ke rumah ini beserta dengan sejumlah perabotan rumah tangga di hari usai pesta pernikahannya. Dan ah, mestinya ia ingat, “Ibu suamimu adalah ibumu sekarang. Sanaknya adalah sanakmu juga,” pesan ibunya.

Sambil tetap mengipasi api, Silpa mencuri pandang ke arah ibu mertuanya yang duduk tak jauh darinya. Ia tak bersuara. Hanya sibuk mengupasi kulit kacang kering di atas nyiru. Perempuan yang telah lama ditinggal pergi suaminya itu sudah merasa bersyukur pernikahan putra tunggalnya dapat terlaksana atas tanggungan saudara-saudara laki-lakinya. “Kau tak usah kuatir. Kau satu-satunya saudara perempuan kami. Putramu adalah tanggung jawab kami. Kami akan menyelesaikannya,” itu penegasan salah satu di antara mereka sebelum pesta pernikahan digelar.

Pernyataan itu yang dipegangnya sehingga ia tak perlu merasa ikut campur akan penyelesaian masalah. “Aku tak bisa berbicara banyak lagi sekarang. Sebab itu urusan mereka,” ia pernah berkata beberapa hari yang lalu menanggapi gelagat yang sudah mulai tercium sejak usai pesta pernikahan.

“Hai, Silpa… Kenapa kau biarkan api terus berkobar begitu?” teriakan suaminya yang tiba-tiba nyaris membuatnya terjengkang dari bangku kecil yang diduduki.

Spontan Silpa melihat tungku di depannya. Kaget ia nyala apa memang berkobar. Menjilat-jilat tak hanya pantat periuk, tapi badan periuk bahkan hingga ke penutupnya yang juga sudah hitam berjelaga.

“Kau tidak lihat bagaimana capeknya aku membelah setumpuk kayu itu hanya untuk kau boros-boroskan macam begini?” dengan murka suaminya menunjuk setumpuk kayu yang sudah dibelah di luar.

Tanpa menoleh ke arah suaminya, Silpa cepat-cepat menyerakan kembali potongan-potongan kayu itu agar tak bertumpuk dan berkurang nyala apinya. Segera ia memaksa diri bangkit dan menyeret kakinya menuju ke kamar mandi. Menghindari sorot tajam mata suaminya, serta tatapan sayu ibu mertuanya. Di kamar mandi itulah ia mencipratkan bergayung-gayung air ke wajahnya. Airmatanya menderas turun seturut air yang jatuh ke lantai kamar mandi.

***

Belum seminggu ini pula Silpa mulai mengakrabi kampung ini dan para penduduknya. Dahulu ia pernah diajak datang. Tapi hanya untuk menengok sebentar kemudian pergi lagi. Dahulu ketika ia datang, sambutan keluarga calon suaminya begitu hangat. Begitu mengenangkan. Sehingga dipikirnya mereka akan menerima dengan hangat juga ketika ia jadi menikah nanti.

Aku tak sabar menanti hari selesainya sekolahku. Dambanya ketika itu. Agar tak ada hambatan aku bisa bergabung dengan kekasih hatiku dan keluarganya. Ah, keluarga besar yang menyenangkan.

Maka dijalaninya masa kuliah sebaik-baiknya dengan angan bahagia yang tak sekejap pun menghilang dari benak. Setelah ini, ia akan menikah. Bukankah itu sempurna? Ia tersenyum membayangkan hari depan.

Proses kuliahnya memang tak mudah. Tugasnya banyak. Dosennya galak. Sebentar saja terlambat mengumpulkan tugas, nilai berkurang. Bahkan bisa-bisa tidak lulus mata kuliah bersangkutan. Sedang ia tidak mau tidak lulus. Sebab itu akan semakin memperlama masa kuliahnya. Sedang ia ingin cepat-cepat selesai. Maka di kepalanya selalu digaung-gaungkan, “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Lalu ia akan merasa antusias menjalani hari-hari perkuliahannya. Segala tugas diusahakannya selesai dan dikumpul tepat waktu. Kalau ada ujian ia akan belajar semalam suntuk biar nilainya tidak fail.

Kerja kerasnya pun membuatnya mengembangkan senyum pada suatu hari. Ia dikukuhkan sebagai salah seorang wisudawati di kampusnya. Demikianlah pada hari itu juga diadakan pesta syukuran wisuda di rumah ayah ibunya. Ia mengundang sanak saudara, teman-teman, dan para tetangga, para dosen yang membimbing dan menguji hasil tugas akhirnya, teman dari saudara-saudarinya, hingga ketika yang datang pun tak sekadar para undangan, tapi bahkan mereka yang disebut rompe* pun hadir memeriahkan acara pestanya. Sebuah pesta syukuran wisuda yang sangat meriah. Dengan spanduk ucapan selamat berukuran raksasa, aneka makanan yang berlimpah ruah, beberapa petak tenda beratap terpal, paketan sound system lengkap yang speakernya disusun berundak-undak, dan kumpulan berbagai lagu dari para artis internasional, nasional, hingga artis lokal yang berbahasa indah maupun yang hanya meracau dalam iringan satu dua alat musik lalu disebut lagu.

Malam itu juga di tengah hingar-bingar pesta, oleh sang pemandu acara diumumkan dengan bangga bahwa setelah satu hari bahagia ini, akan segera disusul lagi hari bahagia lainnya yaitu acara maso minta* dan pernikahan sang bintang kita malam ini’ bulan depan. Semua hadirin spontan riuh bertepuk tangan. Tak sedikit pula yang bersuit gembira. Serta-merta dari atas panggung diperkenalkan seorang laki-laki yang sejak siang tadi terlihat selalu mendampingi Silpa baik di area kampus hingga di tempat pesta, di ruang dandan, di dapur, maupun di depan ketika Silpa maju menyampaikan pidato, ataupun ketika mereka terjun melantai bersama di arena dansa. Silpa menyunggingkan senyumnya yang menawan, dan sang lelaki sambil membungkukan badannya ia memberikan senyum hormat kepada para hadirin.

Sementara di antara bangku hadirin, ada beberapa gadis yang berdecak kagum dan saling berbisik, “Betapa beruntungnya jadi Silpa”. Seorang yang lain pun menyambung, “Ya, setelah tamat kuliah langsung dapat calon dan menikah”. Lalu mereka pun saling mengangguk satu sama lain. Masing-masing mengembangkan senyum. Berbeda cara senyum, namun melambangkan hal yang sama. Mereka ingin juga seberuntung Silpa.

***

“”Hallo…Hallo… Siapa yang lagi di dalam?” terdengar suara orang menggedor pintu kamar mandi. “Bisa lebih cepat keluar?”

“Sebentar. Ini saya, Silpa,” suara serak menyahut dari dalam.

Tak lama pintu kamar mandi terkuak. Wajah sinis seorang sepupu suaminya menyambut.

“Kakak, kau menangis?” pria yang kira-kira sebaya dengannya ini menyelisik kedua matanya yang merah dan sembab. Ia pun tersenyum sinis. “Biar… Biar tahu rasa kau. Siapa suruh penetapan belis*-mu tingginya selangit.” Mukanya berubah dingin. “Lihat, kalian buat bapakku sudah saling cakar dengan saudara-saudara sekandungnya sendiri.” Mulutnya pun bergetar.

Belum sempat Silpa merespons, terdengar suara teriakan keras dari ruang tamu. Pemuda yang sedari tadi hendak masuk ke kamar mandi kini berbalik lari menuju sumber suara. Penasaran, Silpa pun menyusul masuk. Di sana didapatinya paman tertua suaminya, ayah sang pemuda tadi, sedang terperonyok di pojok ruang menadah pukulan dan tendangan dari saudara-saudaranya yang lain. Sang pemuda nampak bergerak maju ingin menolong ayahnya.

“Kalian, Anak-anak. Jangan ikut campur urusan orang tua. Biar kami kakak beradik menyelesaikan ini,” hardik salah satu pamannya disertai sentakan keras menariknya kembali ke belakang.

Pemuda itu berbalik, mengedarkan pandangan sekilas lalu tiba tepat di muka suami Silpa yang berdiri tak jauh. “Ini semua ulahmu,” ia menunjuk dan dalam sekali lompat sudah di depan orang yang ditujunya. Silpa bergerak hendak menarik tangan suaminya agar menjauh. Kalah cepat. Tinju pemuda itu sudah melayang tepat di muka suaminya. Tubuh laki-laki yang belum seminggu menikah itu limbung ke tanah. Persis di depan istrinya Silpa dan para pamannya yang masih ribut bertikai soal pelunasan belis.

Keterangan

*rompe : rombongan pesta, ada sebutan tak resmi untuk orang-orang yang akan hadir dalam setiap pesta walau tak mendapat undangan langsung karena mereka hanya ingin bergabung dalam acara bebas (dansa dan tari-tarian lainnya)

*maso minta : lamaran atau peminangan

*belis : mahar