Cuap-cuap

Kapsul 47: Sebab Kerja adalah Ibadah

Kerja pun adalah ibadah, selama kau mengerjakannya dengan tulus tanpa mengeluh. Kau tahu, bahwa dalam kerjamu, ada sesuatu yang kau tabur di sana. Tiupkanlah doa padanya๐Ÿ˜˜๐Ÿ™.

Iklan
Cuap-cuap

Kapsul 39: Apa Pentingnya Kita?

Apa pentingnya kita?

Seberapa pentingkah kita?

Kenapa harus kita, kita?

kita melulu yang disorot?

Mau jadi dewa? Eh, dewi?

Kalo lu tuhan na coba lu terbang sekarang su…! Terbang bebas melayang tak menapak tanah?

Berkoar-koar terus bilang bisa segala tapi ketika diminta lompat kaki kosong dua meter sa sonde bisa ๐Ÿ˜๐Ÿ˜‘๐Ÿ˜.

(berbicara mengingatkan diri sendiri)

Cuap-cuap

Kapsul 25: Payah di Jalan

Saya kurang tahu, apakah ada anak-anak di kelas yang menyadari saya mengantuk atau kelelahan sekali hari ini? Memang saat bangun pagi tadi, mata saya terasa berat dan badan juga serasa remuk. Padahal semalam saya tidur cukup. Jadi, pasti gara-gara perjalanan pulkam kemarin.  

Hari Sabtu sore saya dan adik saya pulang kampung, di daerah selatan Amarasi. Kami tiba malam hari. Saking banyak hal yang dipercakapkan, kami baru tidur kira-kira pukul 12 pm. Besoknya sepulang gereja, saya dan adik saya sibuk ‘fukur2’ hingga kami baru makan pukul 2 sore. Karena hasil fukur kami lumayan berhasil, maka saya pun makan banyak sekali lantas kekenyangan dan nyaris tak bisa bergerak. Selesai itu saya mengerjakan beberapa hal, tak sempat beristirahat, dan langsung bersiap pulang. 

Sebenarnya perjalanan ini biasa saja kalau tidak hujan. Tapi karena kali ini karena perjalanan dilakukan tepat saat musim hujan, maka tidak heran di titik-titik tertentu saya harus bergumul keras dengan setir karena jalanan yang lubang dan becek, apalagi sewaktu saya lewat hari sudah mulai gelap. 

Selain becek dan berlubang, jalan itu juga sangat sempit. Sangat sempit sehingga kalau berpapasan dengan mobil, saya terkadang menghentikan laju motor dan membiarkan mobil itu lewat terlebih dahulu sebelum saya melanjutkan perjalanan. Rasanya mengerikan sekali dua-duanya berpasan dan saling melaju dengan cepat. 

Saya berharap (semoga tidak hanya tinggal harap), jalan itu segera diperbaiki. Diperlebar bagian kiri dan kanannya, ditutupi lubang-lubangnya dan dibuat rata, biar akses orang-orang kampung ke kota menjual hasil bumi dan orang-orang kota melihat-lihat sajian-sajian alam di Amarasi dan sekitarnya tak kepayahan gara-gara jalan berlubang, becek, dan sempit. 

Cuap-cuap, Merayakan Keseharian

Baca Buku di Momen Natal? ย 

Gaya doang bawa banyak buku. Niatnya baca-baca dan tulis-tulis selama liburan. Baca-baca yang belum dibaca, dan tulis-tulis yang sudah dibaca sebagai pengingat. Nyatanya, ah, tahulah kalau liburan di masa natal, beda kalau liburannya Juli. Namanya saja liburan masa natal. Tentu saja akan ada banyak acara natalnya. Natal umum, natal rayon ini rayon itu, natal keluarga ini keluarga itu :D.
Banyak bertemu sanak, kawan lama, dsb. Kalau mau dihitung, yah, anggap saja nilainya sama dengan membaca beberapa buku begitulah. Ataupun kalau beda, baca-baca dan tulis-tulis tentang buku-buku ini setidaknya masih bisa ditunda tak apalah. Untuk buku-buku itu, masih ada kesempatan lain. Tapi semacam bertemu mereka yang terpencar di sana sini, mengunjungi beberapa tempat baru ataupun tempat lama yang sudah berubah jadi lebih baik, serta mengalami berbagai hal tepat di saat udara sejuk begini (ini mah tak bisa digambarkan๐Ÿ˜„) tak ada di luburan-liburan lain. Momen-momen model begini hanya bisa kau temukan di liburan masa natal ini.

***

Catatan ini saya buat di salah satu kebun jagung milik keluarga. Pemandangannya langsung ke arah pesisir laut selatan yang di pinggiran pantainya sedang dibangun jalan negara di masa pemerintahan presiden Jokowi.

Di foto ini nampak ba’i saya, paman dari bapak. Ia baru saja selesai mencabuti gulma-gulma yang sedang tumbuh liar menyaingi tanaman jagungnya dan sedang duduk beristirahat. Kesehariannya hanya begitu dan begitu. Tak pernah ia tinggal seharian di rumah kecuali sakit. Saya melihatnya dan berpikir, sepertinya ia tak pernah bosan dengan rutinitasnya. Mungkin, sudah begitu bentuk ibadahnya.

Cuap-cuap, Merayakan Keseharian

Menyinggahi Bukit Cinta Penfui

Sudah beberapa konsep yang mau diposting. Sayang, kekuatan sinyal tak mendukung untuk menyertakan foto. Sementara kalau postingan tanpa foto, berasa seperti ada yang kurang.

Btw, apa yang mau saya tulis sebenarnya. Oh, ya, tentang salah satu bukit di daerah Penfui. Bukit itu oleh orang-orang sekarang lebih dikenal karena keindahan dan pemandangan dari sananya dibanding sejarahnya. Padahal, bukit itu menyimpan sejarah yang cukup bernilai.

Di sekitaran bukit itu banyak sekali terdapat gua-gua kecil dan lubang perlindungan juga tiang gantung. Bukit itu sangat luas. Sejauh memandang, kita dapat melihat hampir keseluruhan daerah kota dan kabupaten Kupang di bawahnya.

Saya pernah mendengar secuplik cerita tentang perang Penfui dari bacaan internet kalau tak salah. Hanya saya tak menyangka daerah perlindungan itu tepat di bukit yabg disebut orang bukit cinta itu. Aneh, bukit bersejarah itu lebih dikenal dengan embel-embel cintanya daripada sejarahnya. Kenapa tidak dinamakan saja bukit perlindungan atau apalah yang setidaknya mengingatkan orang akan sejarah perjuangan orang-orang Kupang mempertahankan tanah leluhurnya.

Yah, cukup sekian dulu cuap-cuap kali ini. Btw, selamat natal untuk kita semua. Salam damai๐ŸŒฑ๐ŸŒด๐ŸŒท๐Ÿ€๐ŸŒต๐ŸŒฟ๐ŸŒพ๐Ÿ˜Š

Cuap-cuap, Cuplikan Cerita Lentera, God's Story, Merayakan Keseharian

Inspirator Ilustrasi Isi Buku Kumcer Persinggahan Bocah Indigo

Pesan masuk dari sang pelatih basket Lentera Kupang di grup whatsapp ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜‡

Anak ini, namanya Adriel Geraldo Elim. Biasa dipanggil Aldo, di rumah maupun di sekolah. Bagaimana pun, ia punya kesan tersendiri bagi saya.

Ia adalah inspirator ilustrasi buku pertama saya, sebuah kumpulan cerpen berjudul Persinggahan Bocah Indigo. Melalui dialah saya terpikirkan agar semua ilustrasi isi buku kumpulan cerpen saya adalah karya anak-anak murid yang saya ajar di SMP Lentera. Memang gambar mereka sederhana dan tak sekeren para ilustrator profesional. Tapi saya bangga merekalah ilustrator isi buku pertama saya. Ceritanya sudah saya tuliskan di tempat lain di blog ini.

Selain inspirator tadi, ia juga adalah salah satu peraih nilai tertinggi UN Bindo SMP beberapa tahun lalu. Memang UN bukan penentu dan bukan pula yang dikejar-kejar, tapi keberhasilan itu bagi saya punya nilai tersendiri.

Bulan September lalu ia dinobatkan sebagai MVP dalam ajang Honda DBL NTT series 2017. Dengan itu kemarin ia berangkat ke Surabaya untuk mengikuti kegiatan apalah itu selanjutnya. Dan hari ini, tepatnya malam ini, barulah datang kabar, di antara 300 lebih peserta se-Indonesia ia salah satu yang lolos dalam 50 besar untuk DBL Camp. ย Adalah sebuah kebanggaan juga keharuan yang melingkupi saya sekarang. Terpujilah Engkau yang merangkai cerita ini. Betapa bagaimana dulu pernah di bangku SMP ia pernah mengungkapkan ingin menjadi pemain basket sebagaimana Michael Jordan dan semacam mereka itulah, dan kini ia sedang pelan-pelan bergerak ke arah sana. Dengan menulis sedikit cuap-cuap ini, saya hanya bisa mendoakan, Tuhan kiranya tetap berkarya di dalam perjalanan hidupnya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜๐Ÿ™๐Ÿ˜‡.

Cuap-cuap

Menengok Sarang

Kalau ada yang mesti ditulis, lantas apa yang perlu ditulis? Terlalu banyak. Rasanya mau tahambur saja dari ini kepala. Tapi kalau begitu, maka mungkin sangat beracakan. Tidak jelas. Maka, sudahlah saja. Sampai di sini. Setidaknya sarang ini tidak masih diingat untuk didatangi. Setidaknya, sudah saya sempatkan diri untuk menengok. Membersihkan debu-debu yang menempel di kursi, meja, kasur, menyapu, mengepel lantai, memperbaki letak taplak yang sudah bergeser, dan sebagainya, dan sebagainya (agak hyper tak apa), biar kalau misalnya ada pengunjung yang sempat singgah karena memang nyasar sampai di sini, ataupun yang memang mau berniat datang, setidaknya tahu bahwa sarang ini ada pengurusnya. ๐Ÿ™‚ Maafkan saya (meminta maaf kepada diri sendiri dan Tuhan, walau sebenarnya tak perlulah saya membagi-bagi seperti ini, diri sendiri dan Tuhan). Sepertinya saya ini suka timbul tenggelam (???????)

Tulisan Menengok Sarang ini sebenarnya mau saya sudahi di sini saja. Tapi, entahlah mungkin karena tulisan di atas sebagai pemantik sudah ada, maka beginilah, rasanya saya ingin menulis terus. Walaupun mungkin tulisannya kurang nyambung dengan paragraf di atas. Sebab tulisan di paragraf pertama bersoal tentang kebingungan saya maunya menambahkan sesuatu yang baru di sarang ini agar nampak diperbarui begitu, tapi apa yang mesti ditempatkan? apa perlu pot berisi tanaman tertentu? apa daun-daun yang terlalu rimbun perlu dipangkas? apa susunan batu pagar di taman perlu diubah? apa warna cat temboknya perlu diganti? atau apa mestinya? Sementara yang berikut ini saya ingin bersoal tentang angin ribut yang baru saja mereda. Saya senang sekali akhirnya angin ribut ini mereda. Angin ribut? Ya, angin ribut, demikian saya mau menyebutnya karena ini mengingatkan saya akan pengalaman saya semasa kecil saya, setiap kali angin bertiup kencang, para orang tua akan melarang kami bermain-main di bawah pohon besar atau jangan coba-coba pergi sendiri ke mata air karena kalau angin ribut begini biasanya setan-setan di bawah pohon akan keluar mencari anak-anak kecil untuk ditangkap :D.

Alasan saya senang karena angin ribut sudah mereda adalah angin ribut itu tidak lagi menerbangkan debu ke mana-mana. Sampai di sini mungkin kau bingung dan bertanya, lantas apa hubungannya? Ok, untuk diketahui, saya seorang yang lahir besar dan sekarang ini pun selalu berada di area tanah merah. Kau tahu sendirilah bagaimana sifat dari tanah merah itu. Bila sudah masuk musim kemarau, tanah yang tadinya di musim hujan dihampari semua yang hijau-hijau pelan-pelan akan mati kekeringan dan hanya menyisakan tanah botak. Tanah yang tadinya padat dan mengeras pelan-pelan akan berubah debu serupa tepung. Bayangkan saja ketika ditiup angin. Masalahnya bukan hanya menyangkut kebersihan baju, celana, dan dinding rumah, atau pakaian yang bergelantungan di tempat jemuran, tapi adalah hidung kamu mau tak mau harus ikut pula menghirup tepung tanah merah itu. Efeknya itulah yang saya alami sekarang.

Sudah, itu saja. Sekadar menyapa “hai” pada sarang saya ini biar jangan ia merasa diabaikan. Bisa ngambek ia ntar… ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜š๐Ÿ˜Š