Menengok Sarang

Kalau ada yang mesti ditulis, lantas apa yang perlu ditulis? Terlalu banyak. Rasanya mau tahambur saja dari ini kepala. Tapi kalau begitu, maka mungkin sangat beracakan. Tidak jelas. Maka, sudahlah saja. Sampai di sini. Setidaknya sarang ini tidak masih diingat untuk didatangi. Setidaknya, sudah saya sempatkan diri untuk menengok. Membersihkan debu-debu yang menempel di kursi, meja, kasur, menyapu, mengepel lantai, memperbaki letak taplak yang sudah bergeser, dan sebagainya, dan sebagainya (agak hyper tak apa), biar kalau misalnya ada pengunjung yang sempat singgah karena memang nyasar sampai di sini, ataupun yang memang mau berniat datang, setidaknya tahu bahwa sarang ini ada pengurusnya. πŸ™‚ Maafkan saya (meminta maaf kepada diri sendiri dan Tuhan, walau sebenarnya tak perlulah saya membagi-bagi seperti ini, diri sendiri dan Tuhan). Sepertinya saya ini suka timbul tenggelam (???????)

Tulisan Menengok Sarang ini sebenarnya mau saya sudahi di sini saja. Tapi, entahlah mungkin karena tulisan di atas sebagai pemantik sudah ada, maka beginilah, rasanya saya ingin menulis terus. Walaupun mungkin tulisannya kurang nyambung dengan paragraf di atas. Sebab tulisan di paragraf pertama bersoal tentang kebingungan saya maunya menambahkan sesuatu yang baru di sarang ini agar nampak diperbarui begitu, tapi apa yang mesti ditempatkan? apa perlu pot berisi tanaman tertentu? apa daun-daun yang terlalu rimbun perlu dipangkas? apa susunan batu pagar di taman perlu diubah? apa warna cat temboknya perlu diganti? atau apa mestinya? Sementara yang berikut ini saya ingin bersoal tentang angin ribut yang baru saja mereda. Saya senang sekali akhirnya angin ribut ini mereda. Angin ribut? Ya, angin ribut, demikian saya mau menyebutnya karena ini mengingatkan saya akan pengalaman saya semasa kecil saya, setiap kali angin bertiup kencang, para orang tua akan melarang kami bermain-main di bawah pohon besar atau jangan coba-coba pergi sendiri ke mata air karena kalau angin ribut begini biasanya setan-setan di bawah pohon akan keluar mencari anak-anak kecil untuk ditangkap :D.

Alasan saya senang karena angin ribut sudah mereda adalah angin ribut itu tidak lagi menerbangkan debu ke mana-mana. Sampai di sini mungkin kau bingung dan bertanya, lantas apa hubungannya? Ok, untuk diketahui, saya seorang yang lahir besar dan sekarang ini pun selalu berada di area tanah merah. Kau tahu sendirilah bagaimana sifat dari tanah merah itu. Bila sudah masuk musim kemarau, tanah yang tadinya di musim hujan dihampari semua yang hijau-hijau pelan-pelan akan mati kekeringan dan hanya menyisakan tanah botak. Tanah yang tadinya padat dan mengeras pelan-pelan akan berubah debu serupa tepung. Bayangkan saja ketika ditiup angin. Masalahnya bukan hanya menyangkut kebersihan baju, celana, dan dinding rumah, atau pakaian yang bergelantungan di tempat jemuran, tapi adalah hidung kamu mau tak mau harus ikut pula menghirup tepung tanah merah itu. Efeknya itulah yang saya alami sekarang.

Sudah, itu saja. Sekadar menyapa “hai” pada sarang saya ini biar jangan ia merasa diabaikan. Bisa ngambek ia ntar… 😊😚😊

Iklan

Share Your Story Here

Buka-buka wordpress. Katanya, share your story here. Sebagai salah satu pengguna yang sudah cukup lama, saya baru tahu kalau ada kalimat impulsif semacam itu di wordpress. Jangan-jangan sudah lama hanya saya saja yang baru sadar. Terlambat sadar. πŸ˜€

Btw, kalimat semacam itu tiada bedanya dengan di facebook dan bbm, what do you think? πŸ˜€ Memangnya kalau saya lagi mikir, apa perlu sekali kau tahu? Kepo mati ee…😜

Share your story here, setidaknya masih bisa diterimalah. Toh, perjalanan hidup kita ini adalah cerita.

Ok. Tapi bagaimana kalau saya tak punya cerita hari ini? πŸ˜‰πŸ˜Š

Tak mungkinlah.

Benar. Tak mungkin seseorang tak punya cerita selama nafasnya masih keluar masuk hidung mulut. Sekalipun mungkin ia buta, tuli, lumpuh, atau dalam keadaan sakit apapun itu.

Bahkan tak punya cerita pun adalah sebuah cerita.

Contoh saja saya hari ini. πŸ˜€ Saya tak punya cerita hari ini. Tapi tetap saja saya bisa buat cerita hari ini tentang saya tak punya cerita hari ini begitu ditanya, what’s your story today? Share it here!

Ok. So, this is my story today. That I have no story to tell you. πŸ˜€πŸ˜œπŸ˜Š

Jadi, berhentilah membaca. Tak ada lagi yang perlu kau tahu.

Masih membaca juga? Apa guna?

Ada.

Apa?

Sebuah kesimpulan.

Apa itu?

Tak ada cerita hari ini bukan berarti benar-benar tak ada.

Biarpun basi, saya akui.

Basi?

Sudah ditulis di atas,Β kan?

😝😊

Katanya kau mengakui. Lantas?

Tapi saat ini, biar saya simpan untuk diri sendiri dulu. Sepertinya terlalu sakral untuk diumbar-umbar di sini. πŸ˜‰πŸ˜Š

😱😱😱, Halo, pembaca, kau mungkin bertanya, sekalipun mungkin di pikiranmu pertanyaan itu sama sekali tak terbersit, biar, saya mau pede-pede saja berpikir begitu biar ada bahan tulisan, lalu kenapa mesti kau tulis di sini kalau tak mau berbagi cerita hari ini? 😏

Ya, beginilah cara saya menikmati cerita saya hari ini. Daripada kau, punya cerita besar tak diceritakan.

😱😱😱 Sebenarnya kalimat itu patut ditujukan pada saya. Teguran telak buat saya. Punya cerita besar, tak mau berbagi.

Tak mau atau malas?

Dua-duanya. πŸ˜–πŸ˜ πŸ˜£

Nyasar, lalu Penasaran akan Korea Utara

Michal HunSaya tak tahu apakah penting dan apakah etis saya memposting ini di blog. Hanya sepertinya memang menarik untuk menyimpannya di sini sebagai penanda jalan-jalan hari ini. Tak penting kau tahu bagaimana awalnya saya bisa nyasar di sini, tetapi biasanya sesuatu yang jarang disingkap itu justru memancing rasa ingin tahu yang besar. Itulah kenapa hampir seharian ini saya menghabiskan waktu hanya untuk membaca tentang negara satu ini. Aneh memang, satu tempat yang jauh di sana kok kepengen sekali saya ketahui sementara di daerah dekat tempat asal saya saja ada banyak juga hal yang belum saya ketahui dan kenali dengan baik., padahal dalam tubuh mereka tersimpan banyak cerita yang tak kalah aduhai wow 😦

Ok, mungkin itu nanti. Segala sesuatu ada waktunya. πŸ™‚ Sekarang, sementara yang ada adalah tentang negara satu ini, Korea Utara.

Pada awal melihat di boredpanda, selain foto-fotonya, saya justru kemudian terbawa untuk membaca komentar-komentar di bawahnya. Dari komentar-komentar itulah saya menemukan lagi situs-situs lainnya. Demikianlah beberapa link berikut, sebutlah sebagai penemuan hari ini. πŸ˜‰ πŸ™‚

NK photos

NK reise/

Photos from inside NK

Vice Guide to NK

These are Generations

Sebegitu yang diperoleh dari kolom komentar. Selebihnya saya korek-korek lagi dari google πŸ™‚

surprising facts NK

fascinating facts NK

26 facts about NK

bizarre-facts NK

atau bisa dibaca-baca juga di wikipedia kalau mau tahu lebih banyak.

Sekian.

Catatan: Sebenarnya niat saya bukan untuk menyebarkannya menjadi lebih banyak lagi. bahkan kalau bisa postingan ini cukup sampai di sini saja. tak ada lagi orang yang membaca selain saya. tapi kalau misalnya kau adalah seorang yang nyasar sampai di sini, maka harapan saya semoga kau mengabaikannya dan selamat melanjutkan jalan-jalanmu ke tempat yang mungkin lebih baik dan berguna…Β  πŸ˜€ πŸ˜‰ πŸ™‚

 

Silaturahmi di Media Sosial dan ‘Dunia Nyata’

Disclaimer: Tulisan di bawah ini masih dalam kategori draft. Beracakkan tentunya. Tapi lebih baik ada, karena dengan demikian saya akan ingat dan tentu memperbaikinya jadi lumayan lebih baik.

sumber gambar saya temukan di satu blog wordpress, hanya tak dicantumkan sumbernya, jadi ini masih dalam pencarian sumber asli

Saya tak bisa mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan. Di masa-masa sekarang, di tengah menderasnya arus informasi, saya seperti kelimpungan mau membaca dan menyimak mana yang lebih dahulu dan mana yang kemudian atau menjawab dan membalas pesan siapa lalu menunda punya siapa.

Ketika saya memilih mengikuti atau menjawab yang satu dan menyimpan yang lain untuk nanti, ternyata sudah ada hal lain yang lebih baru yang akhirnya hal lain yang sudah disimpan untuk ditengok itupun terbengkalai dan dilupakan. Jadi bingung dan tak tahu lagi harus bagaimana.

Sumber: pinterest

Menyangkut media sosial yang berseliweran sekarang, saya adalah seorang yang tak bisa menghandel (atauΒ menghandle, sepertinya penggunaan bahasa ini belum tepat deh, saya akan memperbaikinya ;):)) beberapa akun-akun itu sekaligus. Maka itu, memang setiap trend media sosial tertentu awal-awal saya biasanya ikutan mendaftar, namun beberapa lama berada dalam dunia semacam itu membuat kepala saya menjadi penuh sesak dan berasa riuh. Ingin rasa-rasanya pergi menyepi ke suatu kampung yang tak dijangkau jaringan internet sama sekali (sayangnya bahkan di kampung tempat tinggal bapak ibu saya sekarang pun di kebun-kebun atau ladang-ladang atau pelosok mana pun itu semuanya sudah terjangkau aliran pemancar berwarna merah itu sehingga di mana pun kau berada selalu saja kau tergoda membuka ponsel dan terseret masuk ke dalam riuhnya dunia media sosial:..p). Sekali kau terseret masuk, kau susah untuk kembali keluar. Sesuatu seperti menarik-narik dan menahanmu untuk tetap berada di sana. Namun ketika kau berhasil keluar, yang ada adalah (selalu) penyesalan.

Ya, saya selalu menyesal setiap kali berlama-lama berada di media sosial sekalipun akun media sosial yang saya punya sekarang sudah jauh berkurang daripada dulu. Sebelum-sebelumnya, setiap tahu ada trend media sosial yang baru muncul, saya selalu mendaftarkan diri di sana. Namun karena kepala saya tak sanggup hidup di dunia yang riuh semacam itu, lama-lama akun-akun itu tak lagi saya tengok, dan alhasil saya lupa jalan masuk. Kini tinggallahΒ facebook danΒ google+ selain mungkin alamat email dan kalau di ponsel ada whatsapp dan bbm untuk kalangan terbatas.

Berbeda halnya dengan facebook atau bermain-main di dunia media sosial, saya selalu merasa lega dan puas ketika berada di dunia yang lebih adem seperti blog pribadi ini. Rasanya lebih tenang teduh…:D Kau tak harus terburu-buru mengambil beribu-ribu informasi dalam waktu sekejap yang hanya memberati dan membebani otakmu karena kau hanya sekadar tahu tanpa sempat merenung. Bukankah demikian, di facebook dan akun-akun media sosial lainnya, kau memang akan tahu banyak hal, tapi kau hanya sampai pada tahap tahu, lalu sudah, selesai? Bagus kalau kau tahu itu dan pelajari lebih lanjut lalu merenungkannya lalu ada hal berguna daripadanya yang dapat kau terapkan dalam perjalanan hidupmu.

Ampun dah, saya tidak sedang bermaksud bercuap-cuap bahwa timeline facebook sama sekali tak ada gunanya karena hanya sekadar penyajian informasi. Tapi begini, Β seumpama membaca koran ataupun majalah ataupun buku-buku, ia hanya bersifat scanning, kecuali dari scanning itu ada di antaranya hal-hal berguna yang kau pilah dan simpan, lalu kau tutup timeline facebook untuk segera kau beranjak kepada bacaan atau informasi yang bermanfaat tersebut. Demikian itu yang saya coba terapkan walaupun lebih banyak di antaranya adalah tergoda untuk berlama-lama di facebook lalu kemudian menutupnya dengan menyesal diam-diam, sudah berapa lama saya berada di sana.

berbagai media sosial

Sumber: dreamstime

Sebenarnya akun-akun media sosial semacam itu berguna juga untuk saling sapa, saling tegur atau silaturahmi (sebut sajalah begitu), hanya sebagaimana dunia nyata, kunjungan atau silatuhrahmi ke rumah orang yang baiknya dan tepatnya dan beretikanya adalah kau memang tak boleh berlama-lama di sana. Tidak etis dan memang tak baik pengaruhnya baik untuk pengunjung atau sang tuan rumah. Masalahnya, kau tahu aturan dan anjuran itu, tapi ketika kau sudah berada dalam cengkeraman ‘kebersamaan’ itu, kau lalu terseret hingga lupa waktu. Ketika pulang atau keluar dari pekarangnya, barulah kau mengeluh, aduh sudah terlalu lama sampai berjam-jam saya di sana. Coba hanya sebentar saja, mungkin ada beberapa hal yang mungkin sudah selesai saya kerjakan. Kalau terlalu lama begini, lain kali sang tuan rumah juga tak akan mau saya berkunjung lagi, karena kalau sekali berkunjung saya sudah mengambil berapa lama waktu yang mungkin sudah ia setting untuk melakukan berbagai macam pekerjaan. Saya hanya mengganggu saja, demikian juga saya pun meninggalkan berapa banyak pekerjaan yang semestinya saya selesaikan.

Akhir dari cuap-cuap ini, tentu saya mesti bilang, bahwa saling berkunjung itu perlu memang. Demi tali kekeluargaan dan persahabatan dan kebersamaan dan hal sejenisnya. Tapi janganlah berlama-lama. Tak etislah, baik untuk tuan rumah atau kau sendiri sebagai pengunjung.

Saya sendiri merasa senang dan bersyukur dan merasa lega dan puas kalau berkunjung ke rumah orang terutama keluarga, sahabat, dan kenalan, atau siapapun itu yang mengundang dan mengharapkan kedatangann saya. Ada rasa tertentu yang diperoleh di sana yang bahkan tak bisa dijelaskan atau dibayar atau digantikan dengan apapun. Hanya saja, kalau terlalu berlama-lama di sana, saya jadi merasa tak enak ataupun jadinya timbul sedikit penyesalan kenapa terlalu berlama-lama, toh sebentar saja pun kita semua sudah sama-sama merasa terberkati. πŸ™‚