Makanan Bergizi ala Teachers’ Gathering bersama EduTraC Kupang

      ***Saya tak akan menuliskannya dengan judul ala media mainstream, misalnya, Rayakan Hari Guru, EduTraC bikin Teachers’ Gathering  😅😜😄

Hujan mengguyur Kupang setelah pukul 03.00 sore. Dengan mantel membungkus tubuh, saya memacu motor menuju tempat diadakannya Teachers’ Gathering, tepatnya di Kafe KupangKoe di daerah Oebobo, Kupang. Saya tiba belasan menit lewat dari waktu yang ditentukan yakni pukul 04.00 sore.

Sebelumnya saya sudah berjanji pada diri sendiri harus tiba di tempat acara sebelum waktu yang ditentukan. Sudah saya kirimkan pesan ke kawan saya, kami harus tiba sebelum pukul 04.00 sore. Sayang meski sudah bersiap sejak awal tapi karena hujan turun mendadak sebelum pukul 04, saya akhirnya menunggu sebentar dengan membuka-buka buku yang sementara dalam masa baca. Berpikir mungkin saja sebentar lagi hujan  reda. Sayang, mendekat pukul 04.00 sore itupun tak ada tanda-tanda hujan mereda. Maka bermodal tekad, saya membungkus ransel saya dengan mantelnya, lalu mengambil mantel untuk saya sendiri untuk kemudian memacu motor menerobos hujan.

IMG20171125162220.jpgSaya tiba ketika meja kursi sementara dikeringkan oleh mereka yang hadir lebih dulu di sana. Awalnya direncanakan meja kursi itu bertempat di luar, tapi karena di hujan maka dipindahkan di dalam teras.

Selesai orang mengatur tempat, saya menuju meja registrasi. Entahlah karena ini pertama kali, intinya hari itu (25/11/17) hanya dengan 15 ribu rupiah kau sudah mendapat materi berikut kudapannya. Seusai registrasi, saya memilih tempat paling depan dekat tempat stopkontak. 

Tak berselang lama, satu dua orang mulai datang, menempati kursi-kursi yang disediakan. Pengunjung yang sudah hadir disuguhi alunan musik, entahlah instrumen apa saya kurang hafal, sambil menunggu kedatangan peserta yang lain.

Acara dibuka beberapa menit kemudian. Saya tak sempat menengok jam. Ibu Elise sebagai pembawa acara membukanya dengan ucapan selamat datang kepada peserta. Dilanjutkan doa oleh Pak Grefer Pollo.

IMG20171125165030.jpgSebelum kesempatan diberikan kepada Pak Hengky sebagai pemateri, kami saling berkenalan satu sama lain karena peserta yang datang berasal dari sekolah yang berbeda baik di Kota Kupang maupun Kabupaten Kupang. Cara berkenalan kami tidak seperti biasanya sebab ada games kecil-kecilan dan sederhana yang dipandu sang pembawa acara😊. Saya sempat mengingat beberapa nama antara lain: Pak Ferdy Kana, guru SMP Kristen Mercusuar yang juga adalah Ketua MGMP Matematika SMP se-Kota Kupang, Pak Yapi dari SMPN 18, Pak Frans, Ibu Grace, Pak Yandry, Pak Yadi, Ibu Isabella, Ibu Maria, Ibu Sherly, Ibu Andry, Ibu Ery, serta beberapa nama lain yang tak sempat saya ingat, juga beberapa kawan saya dari Lentera yang baru menyusul kemudian.

Kami melakukan tes kekuatan otak/konsentrasi sebelum mikrofon benar-benar diberikan kepada Pak Hengky 🙂 n.b: backsound video ini bagus, Faded dari Alan Walker, satu DJ favorit saya bermula dari lagu Alone yang keren itu :3 😉

Seusai tes kekuatan otak/konsentrasi yang cukup seru itu walau banyak di antara peserta yang sudah pernah melakukannya, kami semua diminta berdiri untuk bersama-sama menyanyikan lagu Jasamu Guru ciptaan Isfanhari. Sebuah lagu edukatif yang memang sekarang jarang atau hampir tak terdengar meski pernah berjaya karena tayang di TVRI tahun 1990-an. Kami menyanyikannya bersama diiringi musik oleh Pak Grefer.

IMG20171125170910.jpgDengan selesai bernyanyi bersama itulah, saatnya mikrofon diberikan kepada Pak Hengky sebagai pemateri hari itu.

Pak Hengky membukanya dengan bertanya demi mengenal lebih dekat audiens. Siapa yang sudah paling lama mengajar dan siapa yang baru saja terjun ke dalam dunia mengajar. Di antara peserta yang hadir, terdapat seorang yang sudah lama terjun dalam dunia mengajar yakni lebih dari 27 tahun. Beliau adalah Pak Frans (saya lupa dari SMP mana, akan saya tanyakan setelah ini, tapi yang jelas adalah SMP Negeri :)). Berikutnya menuju yang paling muda, belum sampai setahun mengajar. Banyak ternyata. Paling banyak berasal dari Sekolah Kasih Karunia, salah satu sekolah swasta yang berlokasi di Kabupaten Kupang. Demikianlah peserta Teachers’ Gathering hari itu beragam. Dari sekolah negeri maupun swasta, dari yang sudah makan asam garam hingga yang paling ‘hijau’ termasuk saya. Dengan ada wadah semacam ini, para guru bisa berkumpul bersama untuk saling berbagi dan melengkapi satu sama lain.

Selanjutnya beranjak dari pengenalan audies itu, kami diajak menyaksikan video pertama, I am a teacher and I believe I can make a difference.

Memang video tersebut berbahasa Inggris. Tapi Pak Hengky pun menjelaskan garis besar terjemahannya. Lagipula kalimat-kalimatnya masih terbilang sederhana sehingga sebenarnya mudah diikuti. Ada penjelasan singkat mengenai video tersebut. Saya tak perlu menuliskan di sini. Silakan baca dan resapi sendiri. Lebih bertahan lama kalau kau yang mencerna dan menemukan maknanya sendiri, bukan? 😊 Intinya adalah keyakinanmu sebagai seorang guru, dengan kacamata yang kau pakai untuk melihat keistimewaan dan keunikan setiap murid, kau dapat memberi warna berbeda dalam hidup mereka.

IMG20171125171830.jpgMasuk kepada penjelasan, Pak Hengky memaparkan tentang tantangan-tantangan pendidikan masa kini. Ada dua poin penting yang ditampilkan di layar.  Sayang karena saat itu matahari sore mulai memunculkan cahayanya sehingga saya tak bisa dengan jelas membaca apa yang tertera layar tersebut. Tapi dari penjelasan lisan saya sempat menangkap kalau tak salah itu dua-duanya berkaitan dengan perkembangan teknologi. Dilanjutkan dengan perbedaan perkembangan generasi demi generasi. Dari generasi masa lampau hingga generasi sekarang yang dikenal dengan sebutan alpha. Ada teorinya. Silakan cari di internet, ini salah satunya -> Generasi XYZalpha atau bisa juga di Sejarah Perkembangan Teknologi Informasi. Bahkan ada satu film baru berjudul The Circle (yang merupakan adaptasi dari novel Dave Eggers berjudul sama) sempat disinggung berkaitan dengan kecanggihan teknologi di masa yang akan datang, serta kabar terbaru tentang Anthony Levandowski dengan Artificial Intelligence atau yang dikenal dengan konsep agama barunya, The Way of Future.

Dengan pengantar demikian, masuklah peserta diajak berpikir bersama.

Mencermati fenomena perkembangan teknologi sedemikian, di mana siswa lebih bisa dengan cepat dan mudah mengakses segala pengetahuan, kita sebagai guru sudah sampai sejauh mana? Masih relevankah kehadiran seorang guru di dalam kelas? Masihkah keberadaan guru di kelas atau sekolah dibutuhkan?

Peserta diajak berefleksi sejenak sebelum kemudian dilanjutkan dengan menonton bersama video berikutnya, Because of a Teacher.

Secara garis besar, video tersebut menunjukkan siswa dapat merasa aman, menjadi pembaca, pemecah masalah atau pemberi solusi, ilmuwan, pencatat sejarah,  aktif (bergerak), bekerja melalui jaringan, menemukan talente unik masing-masing, berkomunikasi global, jatuh cinta dengan kegiatan membaca sehingga menjadi pembelajar sepanjang hayat, semua itu dapat terjadi karena pengaruh seorang guru. Melalui murid-muridnyalah, seorang guru dapat mengubah dunia.

Dengan video tersebut, pertanyaan pengantar di atas terjawab. Bahwa:

Meski perkembangan teknologi mau sehebat apapun, kehadiran seorang guru tetap diperlukan. Keberadaan kita sebagai seorang guru tetap dibutuhkan. Karena keberadaan kita melampaui sekadar a+b+u=abu atau 1+1=2.

TG

Sumber foto: Dok EduTraC

Relevansinya dengan profil Kota Kupang saat ini (karena memang fokus pembahasan ini baru dimaksudkan hanya dalam lingkup Kota Kupang), sesuai data statistik, diperkirakan ± 120.000 jiwa adalah usia belajar (5-19 tahun). Sebagai guru, itulah ladang yang kau garap. Sementara itu di media massa atau media sosial tersebar beragam perilaku anak-anak usia belajar ini. Contohnya bisa kau amati di lingkungan sekitar.  Melihat gambaran profil dan situasi tersebut, di manakah kau yang bilang, I am a teacher and I believe I can make a difference”? Bukankah sebagai guru, kau mesti punya kepedulian dan passion yang lebih tentang ini? (Telak! Teguran sekaligus peringatan). Lantas, apa yang bisa kau suarakan, tentang bagaimana menjadi seorang guru yang berkualitas? Selanjutnya cobalah saksikan video berikut!

Sedikit gambaran dari video tersebut (bukan rangkuman sebab saya hanya ambil bagian tertentu) adalah tidak susah sebenarnya menjadi guru berkualitas.

Mengajarlah dengan hati. Buatlah aksi. Ajarlah dirimu sendiri terlebih dahulu, dan jadilah inspirasi.

Guru biasa menasihati, guru yang baik menjelaskan, guru yang unggul mendemonstrasikan, guru yang hebat menginspirasi. Bermainlah bersama mereka, belajar bersama mereka, berpikir bersama mereka, bimbing mereka, biarkan mereka berpikir di luar kotak. Hanya kau yang mampu melakukannya. Karena kau seorang guru. Buatlah mereka percaya para diri mereka. Pengaruh seorang guru yang hebat tak mudah lekang oleh waktu.  Maka, buatkan aksi mulai hari ini. Jangan tunggu orang lain berubah. Hanya kau yang bisa membuat perubahan itu. Change yourself first and inspire other.

Btw, ini kalimat dong su ke mau ganti Mario Teguh sa … 😀 Biar, toh, itu video di atas juga judulnya motivasi buat guru.  Ringkasnya adalah

guru yang baik mengajar, guru yang hebat menginspirasi.

Demikianlah sesi pemateri sampai di sini. Beliau tak banyak menceramahi harus begini harus begitu. Tapi seperti yang diikuti, beliau lebih kepada memberi api semangat kepada para guru yang mungkin apinya hampir padam.

Tibalah waktunya untuk peserta saling berdiskusi. Peserta diminta duduk dalam berkelompok. Sayang, mungkin bagian ini salah satu yang menjadi catatan untuk pengurus –EduTraC– nanti perbaikan ke depannya. Memang pembentukan kelompok tak sericuh anak-anak murid di kelas ketika diminta duduk berkelompok. Tapi mungkin perlu dipikirkan strategi pembagian kelompok diskusi agar ini pun menjadi contoh langsung kepada bapak/ibu guru tentang teknik pembentukan kelompok agar bisa diterapkan dalam pembelajaran di kelas sebagaimana games kreatif di awal tadi (Saya menulis ini pun juga sebagai refleksi saya terhadap kelas PKB yang saya fasilitasi kemarin di SMPN 16. Karena beberapa hal teknis, rencana saya membentuk kelompok itu tak jadi hingga saya menyesal setengah mati–untung tidak mampus 😉 😄).

Di sesi diskusi ini, ada tiga pertanyaan diberikan sebagai panduan. 1) Hal baru apa yang diperoleh dari materi yang baru saja disampaikan? 2) Apa yang bisa kita suarakan untuk pendidikan Kota Kupang yang lebih baik? 3) Apa yang bisa kita lakukan untuk menjadikan Kota Kupang sebagai salah satu kota pendidikan yang berkualitas?

Meski tak ada games atau strategi untuk pembentukan kelompok, peserta memang tetap diarahkan untuk berbaur dan peserta pun adalah orang-orang bijak nan terpilih yang dengan gesit segera bergerak untuk berbaur. Dari yang sudah kenyang makan asam garam bergabung dengan masih hijau –termasuk saya–, dari yang di sekolah negeri berbaur dengan sekolah swasta. Di kelompok kami sendiri ada enam orang dengan sekolah berbeda.

IMG20171125181717.jpgSesi diskusi berjalan seru ketika kudapan dengan minuman yang dipesan sebelumnya di meja registrasi mulai diedarkan. Ada pisang rebus, singkong rebus, ubi jalar rebus, ubi goreng, pisang goreng. Intinya semua kudapan itu berupa pangan lokal. Bahkan minumannya pun minuman sehat. Daftar minuman sudah ada di meja registrasi ketika kita mendaftar. Saya sendiri bahkan ketika baru datang dan saat disodorkan daftar pilihan minuman, saya mencari-cari di mana yang ada tulisan kopi. Membaca dengan cermat dari atas ke bawah lalu mengulang lagi dari bawah ke atas tapi sungguh tak ada tulisan kopi saya temukan. Yang ada hanya beraneka jenis teh, beraneka minuman jahe, serta beraneka pilihan jus. Saya sempat bertanya, kenapa tak ada kopi padahal tempat ini jelas-jelas adalah kafe dan namanya saja KupangKoe (+pi?:D). Oleh Ibu Welly yang adalah koordinator EduTraC ini saya dijawab, Untuk bapak/ibu guru tidak disediakan kopi. Semuanya harus minuman sehat. 😅😂 Okelah kalau begitu. Demikian saya memesan jus alpukat untuk malam yang sejuk itu 😄.

IMG20171125181730.jpgBeberapa menit diskusi berjalan. Saya tak melihat jam mulai dan berakhirnya. Tapi sepertinya tak sampai setengah jam. Setiap perwakilan kelompok diminta mempresentasikan hasil diskusi. Ada Pak Yapi, Pak Frans, Ibu Grace, dan Ibu Sherly maju mewakili kelompok masing-masing.

Menanggapi tiga pertanyaan yang diajukan, datang beragam jawaban dari kelompok-kelompok diskusi tersebut. Kelompok pertama memberikan jawaban untuk pertanyaan tersebut yakni guru yang baik menjelaskan, guru yang hebat menginspirasi, maka tempatkanlah dirimu untuk menginspirasi bukan sekadar menjelaskan. Berikutnya kelompok dua, guru seharusnya menjadi inspirator dan motivator untuk peserta didik. Kelompok berikutnya maju dan menyatakan rasa syukurnya sebab kegiatan semacam ini sangat baik sebagai penyegaran buat para guru terutama yang tua atau senior. Mendukung apa yang baru saja dikatakan Pak Yapi sebelumnya, perlunya perkumpulan seperti ini agar baik yang sudah lama terjun dalam dunia mengajar ataupun yang baru mau masuk bisa saling berbagi satu sama lain. Jawaban untuk pertanyaannya, yakni guru tak hanya mengajar tapi juga menjadi motivator, tak mengandalkan kemampuan sendiri tapi juga perlu dan harus berusaha mengoptimalkan potensi setiap siswanya. Kelompok berikutnya maju dan memberi jawaban yang tak jauh berbeda dari tiga kelompok sebelumnya.

Berikutnya jawaban untuk pertanyaan kedua dan ketiga. Sebelumnya hampir semua peserta mengatakan untuk meniadakan kata Kota Kupang mengingat mereka yang datang tak hanya yang mengajar di kota melainkan juga di kabupaten. Jadilah Kota Kupang diperluas menjadi Kupang (merangkum kota dan kabupaten) bahkan katanya kalau bisa daratan Timor sekalian atau bahkan NTT😄.

Jadi apa yang bisa disuarakan bersama untuk dunia pendidikan di wilayah Kupang khususnya atau NTT umumnya yang lebih baik, serta apa yang bisa dilakukan untuk menjadikan Kupang atau NTT sebagai basis pendidikan yang berkualitas? Demikian rangkuman jawaban para peserta diskusi:

a) Bangun kesadaran guru agar berada dalam satu komunitas, baik komunitas yang dibentuk pemerintah ataupun non pemerintah. Dari pemerintah sendiri seperti yang baru-baru mulai digencarkan yakni MGMP. Dari non pemerintah bisa seperti yang dilakukan EduTraC ini.

b)  Guru harus mau rugi sedikit. Mau merogoh koceknya untuk belajar mengembangkan pengetahuannya. Bisa seperti yang sementara dilakukan. Anda datang ke tempat Kafe KupangKoe ini dengan bersedia merogoh kocek 15 ribu. Nah, ini baru 15 ribu. Kalau bisa, jangan sungkan juga untuk kegiatan serupa ini dengan biaya yang misalnya lebih jauh di atas 😄.

c) Membangun kerja-sama guru, orang tua, dan pemerintah demi bersama-sama memperhatikan peserta didik.

d) Bangun kesadaran guru untuk terus menggali potensi kreativitas yang (entahlah maksudnya di sini potensi kreativitas guru atau siswa, saya kurang dengar di sini karena ada gangguan teknis :))

e) Mau apapun dan bagaimanapun, karakter guru haruslah dibentuk terlebih dahulu. Segala inpirasi dan motivasi untuk siswa haruslah dimulai dari diri sang guru. Ia sendiri mau belajar atau tidak. Jangan sampai ia menuntut siswanya menjadi pembelajar seumur hidup, sementara ia kalau buat kesalahan dan mendapat sedikit kritikan saja ia berbalik melabrak dengan mata melotot.

f) Membangun taman baca dan perpustakaan yang lebih banyak. Dapat dilihat bahwa selama ini justru mereka yang bukan gurulah yang dengan intens dan giat-giatnya membangun taman-taman baca atau perpustakaan serta bersemangat memotivasi orang-orang untuk membaca. Di mana guru yang adalah pemberi inspirasi?

g) Perlunya banyak pelatihan atau workshop bagi guru-guru. Tidak hanya seminar formal yang menjual sertifikat semata untuk peserta lalu materi seminar hanyalah mengulang kembali teori-teori atau tips-tips yang bisa kau baca sendiri di internet.

h) Mungkin perlu adanya studi banding antar sekolah dalam kota atau kabupaten atau antara sekolah swasta dan negeri.

h) Berikut yang terakhir adalah pesan ‘sponsor’😄. “Ingat, kalau ada kegiatan serupa ini lagi, jangan kami dilupakan,” begitu pesannya (Ibu Sherly) sebelum ia mengembalikan mikrofon kepada pamateri😄.

Demikianlah presentasi hasil diskusi dari bapak/ibu guru yang catchy abis. Untuk tanggapan balik, sempat disinggung collaborative learning dan collaborative teaching, namun saya lebih tertarik kepada video yang diputar, I am A Teacher.  

Acara hari itu berakhir di pukul 19.00 wita sesuai kesepakatan. Tak banyak buang waktu untuk mendapat penyegaran luar biasa di hari guru, bukan? Saya bersyukur sekali, EduTraC menjadi penawar rasa sakit saya karena kemarin (Jumat, 25/11), demi memperingati hari guru kami berdiri di tengah aspal menatang panas di siang bolong berjam-jam sampai benar-benar seperti berada dalam kolam keringat sebelum kemudian berjalan menyusuri jalanan sepanjang beberapa kilo untuk kemudian tiba di garis akhir yang ditentukan lalu pulang dan menyesal bahwa belum semua perlengkapan EBAS siap di posisi masing-masing hingga di hari Senin (27/11) inilah baru kami tergopoh-gopoh menyelesaikan.

Sedikit refleksi saya, terang saja, sebenarnya kegiatan serupa ini bukanlah sesuatu yang baru karena PD rutin di Lentera biasa dibawakan serupa ini dan orang-orangnya mereka juga yang memang diberkati untuk bekerja di bagian ini. Saya merasakan bagaimana semangat saya sebagai guru pun dipupuk dalam PD-PD yang ada di sekolah baik yang dibawakan pihak internal sekolah maupun Tim PDCE tiap awal semester. Terkadang saya berpikir untuk menuliskan dan membagikannya agar orang-orang lain pun bisa mendapatkan seperti yang saya dapatkan dari PD-PD di sekolah. Hanya terkadang ketika berpikir demikian, datang juga bisikan, tak perlu, tak perlu, biarkan saja, biarkan mereka dengan mereka, dan kalian dengan kalian. Maka, pikiran-pikiran yang terbersit untuk berbagi materi-materi di PD pun perlahan-lahan layu lalu mati. Sekarang dengan adanya Teacher’s Gathering yang mengikutsertakan para guru dari sekolah-sekolah lain ini, kesampaian juga niat berbagi semangat menjadi guru ini. Mari, ucapkan terima kasih kepada Teachers’ Gathering dari EduTraC yang telah memberi warna berbeda di Kupang dalam rangka memaknai hari guru di tahun 2017. Biarlah Tuhan tetap dan terus berkarya melalui adamu🙏🙏🙏😊😇.

IMG-20171125-WA0069.jpg

Bersama tiga dari lima pengurus EduTraC. Dua di antaranya pernah menjadi petinggi Lentera Harapan Kupang :D, sementara satunya masih bersama kami

Sementara di bawah ini hanya bonus foto. Anggap saja sebagai hiasan dinding blog ini. Aksesoris begitulah.  🙂

Buku yang saya pegang itu judulnya Kekekalan. Ditulis oleh Milan Kundera. Untuk membaca buku itu, kalau kau seorang yang kurang membaca kayak saya, setidaknya ada HP di tangan. Biar sedikit-sedikit bisa buka  google 😀 🙂

Iklan

Inspirator Ilustrasi Isi Buku Kumcer Persinggahan Bocah Indigo

Pesan masuk dari sang pelatih basket Lentera Kupang di grup whatsapp 😘😇

Anak ini, namanya Adriel Geraldo Elim. Biasa dipanggil Aldo, di rumah maupun di sekolah. Bagaimana pun, ia punya kesan tersendiri bagi saya.

Ia adalah inspirator ilustrasi buku pertama saya, sebuah kumpulan cerpen berjudul Persinggahan Bocah Indigo. Melalui dialah saya terpikirkan agar semua ilustrasi isi buku kumpulan cerpen saya adalah karya anak-anak murid yang saya ajar di SMP Lentera. Memang gambar mereka sederhana dan tak sekeren para ilustrator profesional. Tapi saya bangga merekalah ilustrator isi buku pertama saya. Ceritanya sudah saya tuliskan di tempat lain di blog ini.

Selain inspirator tadi, ia juga adalah salah satu peraih nilai tertinggi UN Bindo SMP beberapa tahun lalu. Memang UN bukan penentu dan bukan pula yang dikejar-kejar, tapi keberhasilan itu bagi saya punya nilai tersendiri.

Bulan September lalu ia dinobatkan sebagai MVP dalam ajang Honda DBL NTT series 2017. Dengan itu kemarin ia berangkat ke Surabaya untuk mengikuti kegiatan apalah itu selanjutnya. Dan hari ini, tepatnya malam ini, barulah datang kabar, di antara 300 lebih peserta se-Indonesia ia salah satu yang lolos dalam 50 besar untuk DBL Camp.  Adalah sebuah kebanggaan juga keharuan yang melingkupi saya sekarang. Terpujilah Engkau yang merangkai cerita ini. Betapa bagaimana dulu pernah di bangku SMP ia pernah mengungkapkan ingin menjadi pemain basket sebagaimana Michael Jordan dan semacam mereka itulah, dan kini ia sedang pelan-pelan bergerak ke arah sana. Dengan menulis sedikit cuap-cuap ini, saya hanya bisa mendoakan, Tuhan kiranya tetap berkarya di dalam perjalanan hidupnya 😊😘😍🙏😇.

Kejutan Manis di Hari Guru Tahun 2017

IMG20171124101717Ceritanya ini adalah sebuah kejutan yang dipersiapkan siswa sebelumnya bersama hanya beberapa orang guru (dengar-dengar katanya mereka hanya bertiga). Kami yang lain tak tahu-menahu persiapan ini.

Siang itu saya sementara sibuk megepak soal-soal EBAS. Tiba-tiba masuk si gadis ayu yang namanya sesuai parasnya itu, Ayu, ke ruangan dengan membawa sebuah payung. Mengajak saya mengikutinya. Saya tak mau. Alasannya masih ada banyak kerjaan yang harus dibereska. Padanya saya perlihatkan beribu-jibun tumpukan kertas dan map. Ia tetap berdiri meminta sedikit mendesak saya mengikutinya. Saya tetap tak mau. Kami berdebat panjang dan cukup lama hingga akhirnya sayalah yang mesti mengalah.

IMG20171124100954

Ternyata di lapangan SMA, banyak sudah bapak-ibu guru dengan umbrella girl dan umbrella man masing-masing.

IMG20171124101144

IMG20171124101029

Tak berapa lama seusai pementasan kecil-kecilan dari beberapa siswa, setiap guru didatangi siswa-siswi. Di tangan mereka masing-masing tergenggam sebuah rahasia. Di hadapan guru-guru yang dituju itulah baru dibuka rahasia itu. Ada buah karya tangan mereka sebagai ucapan selamat hari guru kepada bapak/ibu gurunya. Ah, manis sekali.

IMG20171124101511

IMG20171124101755IMG20171124101730IMG20171124101654IMG20171124101549IMG20171124101242

Terima kasih kepada pencetus ide ini serta yang berjerih payah di baliknya. Kejutan manis sekali. Sungguh manis. Maafkan kita yang sempat kesal di awal-awal. 🙂

Senin (20/11) ini DatangJuga

Pepatah lama, “Tak ada rotan, akar pun jadi”, maka aplikasinya di kelas PKB kami kali ini adalah “Tak ada penggaris kecil, maka palang kayu pun jadi”. 👏👏👏👍👊😄😘😍😇

Akhirnya hari Senin (20/11) ini datang juga. Hampir seminggu ini saya harap-harap cemas, andai saja ini sudah di hari Senin kembali. Artinya saya sudah melewati hari Sabtu-Minggu yang sepertinya menegangkan. Dan memang menegangkan di awal-awal. Saya mempersiapkan diri baik sekali. Tapi karena sesuatu hal, notebook saya tiba-tiba lola ketika saya mau sampaikan materi, hingga sambungan hdmi-vga untuk terhubung ke ldc proyektor tak berfungsi, sampai harus meminjam laptop milik peserta lain, pembagian kelompok belajar yang tak sesuai rencana, buyar sudah semua persiapan yang awalnya saya sudah dengen pede dan yakin pasti berhasil.

Hari pertama berjalan baik tapi jauh dalam hati saya tahu ada yang kurang. Rasanya garing sekali. Hingga malam sepulangnya dari sana, saking kepikiran saya sampai nyaris tak bisa lagi bergerak meski hanya untuk mandi. Saya lupa kalau saya dan partner IN saya mesti ada persiapan buat besok. Ketika ia datang, saya bahkan belum sempat mandi saking teparnya. Kami berbagi cerita bagaimana kami di kelas masing-masing. Saya berefleksi banyak di situ. Sesudah berdiskusi apa-apa saja yang akan kami lakukan besok dan ketika ia pulang, barulah saya bergerak mandi. Sesudah itu jiwa raga mulai kembali segar. Saya mau buat sesuatu. Sayang malah tertidur😄.

Besoknya hari kedua, meski sempat putus asa kemarin karena bahan ppt yang sudah saya siapkan sebaik-baiknya versi saya tak maksimal ditayangkan karena masalah notebook saya, pagi itu saya bangun dan tetap buat juga bahan ppt. Meski ppt bukan satu-satunya cara tapi saya pikir untuk hal-hal semacam ini ppt itulah yang efektif. Meski sesudah itu masalah notebook saya tak terselesaikan, bahan ppt yang saya siapkan tetap ditayangkan atas pengertian dan bantuan dua orang peserta yang meminjamkan saya laptop mereka. Ibu Faizah Latsitarda dari SMPN 11 Kupang di hari pertama, dan Pak Ahmad dari SMPN 8 Kupang di hari kedua🙏🙏😘😇.

Hari kedua tak setegang hari pertama. Karena bila kemarin skenario yang saya siapkan tak sesuai ketika di lapangan dan saya tidak terlalu siap menerima, maka di hari kedua saya sudah lebih siap dengan kemungkinan situasi yang akan terjadi. Karena sudah cukup mengenal dekat beberapa di antara bapak/ibu guru, saya merasa sudah jauh lebih baik ketika berinteraksi dengan mereka. Karena kemarin belum mengenal medan dengan baik di mana saya berpikir karena sudah memberi pesan saya butuh beberapa alat dan bahan, meski tak dibalas saya pikir disiapkan namun ternyata tidak, saya akhirnya berpikir dan berserah, ya sudah, dikerjakan saja dengan apa yang ada. Hari kedua itu sudah berbeda karena apa yang saya butuh itu sudah disediakan, kekurangan-kekurangan hari kemarin pun sudah diperbaiki misalnya bila di hari pertama peserta masih berada di level membaca literal lalu berbagi kepada kelompok lain maka di hari kedua ini mereka sudah bergerak masuk ke membaca kritis bahkan membaca kreatif. Saya senang melihat perkembangan ini. Saya juga sempat berbagi tentang model UTS di Lentera yang sudah berjalan dua tahunan ini, juga tentang sesi BaKar setiap memulai pembelajaran Bahasa Indonesia, hingga ketika memasuki materi Profesional KK F tentang Apresiasi Puisi dan Prosa, saya berbagi sedikit cerita tentang sebuah cerpen yang terinspirasi dari seorang mantan anak murid di Lentera tahun pertama, bagaimana asal muasalnya sampai mewujud kepada cerpen berikut tentang Serangan Asma yang akhirnya dibacakan di Panggung Under the Poetic Star di MIWF 2017. Dari cerita itu dapat dihubungkan dengan bagaimana peran guru juga orang tua terhadap psikologis anak. Ah, akhirnya kelas PKB kami yang kemarin di hari pertama rasanya mati, justru di hari kedua jadi lebih hidup dan bermakna.

Kelompok Legenda membagikan materi tentang Struktur Batin Puisi 👏💪😇

Sebenarnya di persiapan saya untuk hari kedua itu, saya justru menyiapkan video berbeda punya orang lain. Namun entah bagaimana, di kelas PKB hari kedua itu, cerita saya tentang inspirasi menulis cerita Serangan Asma itu keluar begitu saja. Mengalir tanpa saya sendiri merencanakannya demikian. Lancar sampai usai. Peserta di kelas saya tahu mereka terkesan terlihat dari air muka mereka di akhir saya menutup cerita. Tapi maksud saya bercerita itu bukan untuk membuat mereka terkesan. Saya pun tak tahu bagaimana bermula dan berakhir, tahu-tahu saja saya sudah selesai dan kami semua sama-sama menarik napas.
Saya tak menulis di sini tentang testimoni kecil-kecilan yang diberikan. Tapi intinya adalah sesuatu yang baik. Menyemangati. Terkadang apa yang dianggap sesuatu yang sudah biasa-biasa saja di Lentera, di luar sana memang luar biasa. Alangkah baik bila sesuatu yang positif dan baik ini ditebarkan. Niscaya semangat belajar anak-anak tak perlu diragukan lagi.

Baiklah, mungkin sampai di sini saja dulu cuap-cuap tak penting saya. Sekarang, bapak/ibu peserta PKB di kelas kami sementara menjalani masa ON mereka selama 20 jam. Meski tak bersama-sama, saya hanya turut meniupkan doa untuk mereka. Semoga waktu pelaksanaan ON ini dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menelaah tugas-tugas mereka yang selanjutnya akan berdampak pada penerapan pembelajaran di kelas masing-masing🙏🙏🙏.

Saya di sini pun masih sementara membaca umpan balik sesi IN 1. Meski hampir semua memberi tanda no. 1 untuk smiley face, namun saat membaca bagian uraian, saya jadi berkaca dan mendapati masih banyak kekurangan saya. Ada beberapa hal yang baru saya ingat bahwa seharusnya itulah yang saya konsepkan, siapkan, lalu terapkan. Tapi karena sudah berlalu, maka saya refleksikan saja. Diusahakan agar bisa diperbaiki di sesi IN 2 nanti. Kiranya pertolongan Tuhan tak hanya berhenti sampai di sini. Terima kasih kepada yang melalui mereka saya melihat pertolongan Tuhan. Ibu Elise, Ibu Ria, Pak Alfons, Ibu Faizah, Pak Ahmad, dan beberapa yang lain tak mungkin saya sebutkan satu per satu. Biarlah segala yang baik dan agung dikembalikan hanya kepada Dia. Kepada Dia semata.

Mengawas USM

Salah satu hal paling menyenangkan dari engkau menjadi guru adalah kau duduk saja tapi dianggap mengerjakan tugas mulia😄😅.  

Memang menyedihkan kalau kau bekerja di saat seharusnya libur. Hanya kalau selama pekerjaan itu adalah mengawas anak-anak yang sementara mengikuti tes (di sini anak-anak mengikuti USM UPH), maka mari. Saya siap. 

Di Balik Lomba Musikalisasi Puisi antar Guru pada Semarak Bulan Bahasa 2017

Semarak Bulan Bahasa di Kupang rutin diadakan oleh Kantor Bahasa NTT.  Kalau setahun sebelumnya puncak acara dilaksanakan di Lippo Plaza Kupang, maka tahun ini tempatnya di Taman Budaya Gerson Poyk, Kupang.

IMG-20171027-WA0038.jpg

Kepsek SMA Lentera Harapan Kupang (ketiga dari kanan) turut hadir memberikan dukungan. Foto ini diambil seusai babak penyisihian, Jumat (27/10)

Ada beberapa hal yang dilombakan (bagusnya lomba-lomba itu merangkum beragam kategori dari anak usia dini hingga guru-guru😘😍) antara lain: mewarnai untuk anak Paud, orasi untuk siswa SD, menulis resensi untuk siswa SMP, cerdas-cermat untuk siswa SMA, IHaNi untuk mahasiswa S1, dan musikalisasi puisi untuk guru SMP/SMA/SMK/MA (sayang guru TK/SD tak disertakan).

Tim Musikalisasi Puisi SMP dan SMA. Mereka antara lain: Nathaly, Dwi, Elise, John (SMP) dan Jessie, Debima, Daud, dan Zimri (SMA)

Kalau tak salah, menurut saya baru kali ini kegiatan lomba-lomba dari Kantor Bahasa NTT ikut melibatkan guru-guru. Untuk kategori ini menurut saya patut diapresiasi👏👏👏. Dengan demikian guru-guru yang selama ini punya potensi dan menyimpannya diam-diam akhirnya terungkap juga (ini hasil pengamatan pribadi terhadap kawan-kawan saya sendiri👀👍👏🙏😄.

Dua peserta lomba menulis resensi, Ayu Oenunu dan Jessika Rambu

Terkait lomba-lomba untuk semarak bulan bahasa ini, dari Lentera Harapan Kupang, ada siswa SD ikut lomba orasi, siswa SMP siap mengikuti lomba menulis resensi, siswa SMA harusnya bisa ikut cerdas-cermat hanya telat memberikan informasi sehingga tak jadi, serta para gurunya juga langsung menyambut antusias lomba musikalisasi. Bahkan untuk yang terakhir, saking antusiasnya, saya sampai harus beberapa kali ‘deal’ dengan Pak Ardy, salah satu panitia dari Kantor Bahasa yang menjadi narahubung lomba musikalisasi ini.

Ceritanya, pada saat brosur lomba itu dibagikan di grup WA, sorenya seusai doa pulang, saya langsung didatangi lima kawan saya. “Kami mau ikut lomba musikalisasi puisi,” hampir serempak suara mereka ditambah lagi dengan mata yang berbinar-binar.

Respons cepat mereka saya sambut gembira tentunya. Hanya sayang bagaimana mungkin lima orang sementara di brosur tertulis maksimal empat orang untuk satu tim.

Ini mereka lima sekawan 😄

“Tak bisakah? Kami mau tampil seangkatan soalnya. Mewakili guru SMA.” 😄😅😄.

Oh, ya, SMA. Baik. Kalau SMP langsung terbentuk saat surat itu tiba di tangan kepsek berhubung ia juga adalah seorang pemusik andal😄. Saya menerima surat itu langsung dengan nama-nama anggota tim MP. Lengkap empat orang termasuk saya.

Nah, ini SMA harusnya juga 4 orang malah 5. Karena memang diminta jadi PIC, saya kemudian bertanya kepada Pak Ardy via WA. Jawabnya, akan dibicarakan di temu teknis nanti. Saya tahu pasti itu sebenarnya sebuah keberatan yang halus🙏😄.

Esoknya atau beberapa hari setelah itu, ada lagi pengajuan, dari SMA ada lagi yang mau ikut lomba musikalisasi puisi. Wah, sementara di persyaratan satu sekolah hanya boleh kirim satu tim. Bagaimana ini?

Pada suatu hari di sela-sela satu kegiatan literasi di salah satu SMP negeri di Kupang, tak sengaja saya bertemu Pak Ardy, sang narahubung lomba musikalisasi puisi, dan mencoba menanyakan terkait
di brosur persyaratan lomba ditulis peserta hanya boleh berjumlah 2-4 orang per tim, sementara kami malah siap lima, lalu satu sekolah hanya boleh mengirimkan satu tim, kami malah minta kalau boleh dua tim.

Sebagaimana jawaban kemarin melalui HP, akan didiskusikan di temu teknis. Atau kalau tim yang satunya lagi mau tampil, boleh sebagai bagian ekshibisi di final nanti. Ah, bagaimanapun itu sudah penolakan yang halus. Wajarlah. Itu sudah terpampang di brosur yang tersebar. Masakan yang sudah tertulis harus diotak-atik lagi?

Maka jadilah demikian. Salah satu dari mereka yang 5 orang itu haruslah dengan rela melepaskan diri. Lima sekawan, sebutan bebas saya saja untuk mereka😄, tak lagi utuh kali ini.

Karena sudah fix empat orang dalam tim mereka, latihan pun dimulai. Setiap sore sepulang sekolah, di salah satu ruang kelas paling ujung itulah mereka pakai. Baru latihan permulaan saja mereka sudah memukau sampai-sampai hampir menciutkan semangat guru-guru SMP mengikuti lomba ini. Begitu pengakuan yang saya dengar.

Namun begitu, adalah tanggung jawab dan niat hati mereka dari awal untuk mengikuti lomba ini. Tim SMA sudah beberapa hari lebih dulu ketika tim SMP baru memulai latihan perdananya. Karena ada satu undangan kegiatan lain di Jakarta yang sebelumnya saya pikir belum pasti ternyata jadi dan saya mesti berangkat sementara latihan persiapan lomba mesti tetap berjalan. Lomba tinggal beberapa hari lagi. Saya minta digantikan dan merekomendasikan beberapa kawan saya. Saya percaya mereka bisa bahkan jauh di atas saya dalam hal berlagu.

Di hari diadakan temu teknis, baru kami tahu, seharusnya setiap tim mempersiapkan 2 dari 4 puisi yang sudah dimusikalisasi. Alasannya, puisi untuk penyisihan berbeda dengan nanti di babak final. Siapkan 2, siapa tahu masuk final, begitu katanya. Nah, selama ini kawan-kawan hanya mempersiapkan satu. Jadilah, dalam 2 hari itu mereka ngebut membuat musikalisasi puisi yang satu lagi untuk, yah siapa tahu masuk final. Cukup menegangkan dan banyak kejadian lucu selama 2 hari itu. Walau saya tidak masuk tim, saya tetap ada bersama mereka memberi dukungan tentunya serta ikut mengalami momen-momen itu terutama di tim SMP.  Momen bagaimana ketika ada satu nada yang sudah teramat bagus dan sangat bagus, demikian kami menyepakatinya, tiba-tiba terlupakan tanpa sempat direkam dan tiada satu orang pun di antara kami berlima mengingatnya. Sama sekali seakan tak pernah ada, tak pernah dibuat. Berbagai upaya dilakukan tapi sungguh nada itu tak kunjung kembali. Rasanya, saat itu kami ingin menangisinya bersama-sama😄😅😂.

Ada lagi ketika salah seorang anggota bertanya, apakah musikalisasi puisi harus ditampilkan seperti orang kerasukan? 😅😂😄 Saya menjawab, saya pun kurang tahu. Beberapa kali (dua kali tepatnya😄) mengikuti workshop musikalisasi puisi baik di Kupang bersama seorang bernama Fileski yang awal-awal ia saya kagumi tapi sekarang sudah tak lagi 😅 maupun baru-baru ini di Jakarta tepatnya di Salihara pada kegiatam LIFEs bersama penyair Adimas Imanuel dan pemusik Sri Hanuraga dan para pemateri ini tak pernah menyinggung sedikitpun tentang hal-hal samacam kerasukan dan saya pun lupa atau memang tak sempat berpikir untuk menanyakan hal itu. Begitu juga kebersamaan singkat pernah semobil dengan dua orang kawakan, Ari-Reda sewaktu MIWF 2017 (kalau ini mah pamer namanya 😎😅), tak ada unsur-unsur kerasukan dalam musikalisasi puisi mereka. Kawan kami itu, sebut saja P, yang awalnya tak suka ada unsur-unsur begituan di dalam penampilan musikalisasi puisi mereka, ketika satu waktu dirasa memang sepertinya boleh juga dicoba kemudian memeragakan salah satu kutipan yang sontak membuat kami terperangah. Itu bukan dirinya. Sungguh tak bisa dipercaya. Tak mungkin hal seperti itu akan ditampilkan di panggung. Sebab kalau yang begitu dipentaskan di panggung, percaya saja, itu bukan lagi namanya musikalisasi puisi tapi sudah akan berubah nama jadi lawakan paling konyol sepanjang sejarah😄😅😂😎😅😂.

Sudah. Demikian tentang masa persiapan. Kita akan lanjut dengan masa pementasan.

Babak penyisihan berlangsung hari Jumat, 27 Oktober 2017. Tim SMP mendapat nomor undian ke-11 sementara Tim SMA di nomor undian ke-16. Berhubung hari itu adalah hari efektif, maka kelas tetap tak bisa ditinggal pergi begitu saja. Kelas harus tetap berjalan. Mesti ada yang memantau, kita hanya pergi saat mau tampil saja kemudian bisa kembali. Kebetulan tempat lomba tidak begitu jauh dari sekolah. Paling keluar dari kelas 20 menit untuk kemudian kembali. Maka harus ada di antara mereka delapan orang itu yang punya jam kosong untuk bisa bergantian berjaga dan memantau di tempat lomba. Ternyata setelah cek and ricek, urusannya malah jadi agak ribet dan pelik.

Disepakati saya yang sekalian mendampingi siswa mengikuti lomba sekalian memantau dan melaporkan perkembangan lomba musikalisasi puisi. Toh, semua lomba ada di satu lokasi yakni di Taman Budaya Gerson Poyk, Kupang.

Hari Jumat, tanggal 27 Oktober 2017 itu, saya mendampingi dua siswi SMP mengikuti lomba menulis resensi yang katanya akan dimulai pukul delapan pagi sehingga sudah dari pagi-pagi di sesi satu saya izin tidak masuk kelas.
Karena sementara para siswa mengikuti lomba menulis resensi yang beberapa jam itu tak mungkin saya berjaga di pintu mengawasi mereka. Sayalah yang akan memantau waktu kapan perlombaan musikalisasi puisi dimulai, bagaimana perkembangannya, sudah di nomor undian ke berapakah penampilan yang sedang berlangsung, dsb. Saya kurang tahu bagaimana tingkat ketenangan hati mereka sementara mengajar di dalam kelas dan mengikuti laporan saya yang masuk dari menit ke menit, tapi saya merasa mereka sepertinya ada juga sedikit debar-debarnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ayu dan Jessika, dua siswi peserta lomba menulis resensi yang ternyata jadwal lomba mereka diundur karena ruangan mereka masih dipakai adik-adik Paud untuk lomba mewarnai duduk di samping saya dan dengan gelisah terus bertanya di mana bapak-ibu guru yang ikut lomba musikalisasi puisi. Sudah beberapa tim yang tampil dan terus berlanjut tanpa henti. Mereka merasa was-was sebab sesuai pengumuman peserta yang tidak muncul pada panggilan ke-3 akan didiskualifikasi. Mereka takut apabila itu terjadi pada bapak-ibu gurunya.

Hingga di nomor undian 6 lalu melangkah ke nomor 7, melihat bapak-ibu gurunya belum tampak, dua anak ini beranjak mengecek di luar, bahkan karena hari itu memang saya izinkan membawa HP, salah satunya sampai menelpon atau entah mengirim pesan kepada wali kelasnya yang juga adalah salah satu dalam tim musikalisasi puisi ini. Bayangkan, betapa mereka yang seharusnya lebih berkonsentrasi untuk lomba mereka sampai ikut merasa was-was, nomor urut bapak ibu gurunnya sudah mau dipanggil tapi kok tak ada tanda-tanda tampak.

Giliran nomor undian 8 tampil di mana peserta nomor 9 harus berdiri di samping panggung untuk bersiap. Sementara nomor 8 tampil dan nomor 9 sudah berdiri di tempat yang diharuskan, saya mencoba mencari tanda-tanda penampakan nomor undian 10. Tapi sepertinya mereka tidak hadir.

Kalau tadinya saya hanya duduk dan berdiri di tempat sambil sesekali mengambil gambar, kali ini saya bangkit dan berdiri di dekat pintu agar bisa menengok ke luar. Kawan-kawan saya belum juga nampak. Saya kirimkan pesan ke grup. Ada yang membalas. Mereka sementara di perjalanan menuju tempat lomba.

Tak lama kemudian, terdengar dari pelantang, nomor undian 9 dipanggil tampil. Nomor 10 bersiap di samping panggung. Tiga kali digaungkan, tak juga ada tanda-tanda muncul peserta nomor undian 10. Pada waktu itulah saya lihat Ayu dan Jessika muncul di lobi dengan muka berseri menunjuk dua gurunya yang baru saja tiba. Mereka masuk tepat nomor undian 11 diminta bersiap di sisi kanan panggung. Sementara nomor 9 tampil, dua kawan yang lain masih juga belum tiba. Saya menelpon tapi tak diangkat. Peserta nomor undian 9 hampir selesai ketika terlihat dua kawan lain dalam Tim SMP ini muncul lagi-lagi didahului dua siswi kami yang juga belum mulai lomba menulis resensinya. Keduanya datang dan tak sempat duduk ataupun mengambil jeda sejenak. Langsung mengeluarkan gitar dan maju di panggung karena memang sudah dipanggil tampil. Tim ini kalau boleh saya bilang sebagai orang Kupang, dong tarek napas di atas panggung. 

Sementara mereka tampil, muncullah Tim SMA yang mendapat nomor undian 16. Mereka berempat datang bersamaan. Ada serta mereka sang kepsek. Kalau tim SMP tadi datang dengan motor datangnya, maka kemungkinan tim SMA ini dengan mobil. Peduli amat mau pakai apa, yang penting lega sudah tugas saya sebagai pemantau dan reporter.

IMG20171027105146

Tim SMP dengan puisi “Padamu Jua”

IMG20171027104909

Mumpung lomba menulis resensi belum dimulai, dua siswi ini ikut merekam penampilan bapak-ibu gurunya

Selesai tim SMP ini tampil, baru saya dengar cerita, dua orang kedua ternyata sempat nyasar cukup jauh sebelum akhirnya mereka berani bertanya di mana letak taman budaya yang dimaksud🙈🙉😄😅.

IMG20171027110635

Tim SMA dengan puisi “Doa”

Penampilan mereka di tengan keterbatasan itu, puji Tuhan, alhamdulillah,  memuaskan. Sujud syukur, dari semua peserta, mereka keluar sebagai peserta ke-3 dan ke-4 terbaik di babak penyisihan. Mereka akan tampil lagi di babak final, Sabtu (28/10). Membawakan musikalisasi puisi yang baru disiapkan setelah hari temu teknis, dua hari. Ajib.

Bila di babak penyisihan tim SMP membawakan puisi Padamu Jua, maka di babak final mereka akan menampilkan puisi Doa. Sedangkan tim SMA di babak penyisihan dengan puisi Doa, di babak final mereka maju dengan Kembalikan Indonesia Padaku. 

Penampilan mereka di babak final ini bagi saya menakjubkan mengingat waktu latihan hanya dua hari di jam sepulang sekolah. Mengenai penampilan mereka, akan saya tampilkan videonya. Silakan menyaksikan sendiri dan berikan penilaian Anda.

Tentu video ini bukan untuk dicari jumlah like terbanyak atau komentar terbaik😄😍. Ini hanya sebagai apresiasi saya atas kerja keras mereka sekalipun mereka bukan menduduki juara 1, 2, 3, dst, meski memang Tim SMP menjadi pemenang harapan 2 sementara Tim SMA tidak di dalam jajaran itu, toh itu hanya masalah angka. Urutan atau angka itu bukan ukuran atau penentu. Demikian yang saya tahu dan saya percayai dan juga mungkin Anda sekalian, bukan? 😄😎

Catatan, untuk video kedua (tim SMA) kalau kau menemukan ada satu kejanggalan terkait isi puisi di situ, abaikan saja. Kesalahan itu sudah diakui sang pengucapnya. Kami sudah menganggapnya sebuah momen yang punya arti tersendiri bagi kami. Katanya, dari situ penampilan selanjutnya sudah jadi blunder😄😊. Semoga Bapak Taufik Ismail tidak marah. Satu hal yang lucu adalah, ada satu komentar di antara kawan-kawan, jangan-jangan itu ramalan buat Jakarta😅😂mengingat Jakarta paling santer muncul di media-media dengan berbagai masalahnya seolah-olah Indonesia hanyalah Jakarta (iya, dong. itu kan ibukota🙈🙉). Mungkin begitu🙊😄.

Ada juga hal-hal indah yang tak lupa mau saya pahatkan. Status WA satu kawan saya. Namanya juga status WA, akan kau lihat di mana lagi kalau sudah lewat 24 jam?  😎😎😎

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.