Cuplikan Cerita Lentera

Merayakan Online Commissioning Lentera Harapan Kupang (Senior)

WhatsApp Image 2020-06-04 at 11.53.46Tahun 2020 kelak akan sangat berkesan bagi seantero manusia di muka bumi ini termasuk bagi warga Lentera Harapan Kupang. Di sela-sela kegiatan WFH dan HBL, ada satu kegiatan utama yang diselipkan di antaranya yakni commissioning, pengutusan khusus untuk para lulusan kelas 9 dan kelas 12. Seperti biasa acara commissioning ini akan dirayakan secara khidmat dan meriah dan bermakna di awal-awal bulan Mei. Pada saat-saat seperti itu, setiap siswa kelas 9 dan kelas 12 beserta para guru terutama panitia akan mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadapi hari istimewa tersebut. Momen itu pun kelak akan diingat sepanjang masa oleh semua yang hadir terutama para lulusan tentunya. Momen yang akan dikenang-kenang sebagai momen paling mewah dari Sekolah Lentera Harapan Kupang yang pada hari-hari biasanya lebih mengutamakan kesederhanaan dibanding sesuatu yang bernuansa kemeriahan.

Melihat momen-momen commissioning kakak-kakak kelas, tentu sebagai lulusan, anak-anak tahun ini pun ingin juga mengalami momen commissioning semacam itu. Sayangnya, tahun ini memilih masanya sendiri untuk menjadi berbeda. Tidak dapat dipungkiri, setiap agenda manusia di bawah kolong langit ini harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Demikian halnya dengan commissioning Lentera Harapan Kupang.

Commissioning ini diadakan secara online. Para panitia yang sudah sangat baik merancang acara ini jauh-jauh hari sekarang harus bekerja keras mengubah bagaimana cara commissioning tetap berjalan tanpa mengurangi makna commissioning itu sendiri. Alhasil, jadilah video commissioning yang akan ditonton anak-anak di rumah beserta orang tua di rumah mereka di hari yang ditentukan.

Hari Sabtu, 09 Mei 2020 adalah hari yang ditentukan itu. Pagi-pagi saya bangun ternyata password untuk menuju video itu belum diberikan. Bahkan kami para guru wali kelas pun ikut penasaran seperti apa video commissioning online itu. Baru tepat  pukul 07.00 wita, password dikiriman kepada para guru untuk diteruskan kepada para murid. Lalu mulailah kami menikmati acara demi acara yang dipandu oleh video ini. Astaga… Saya benar-benar mengapresiasi kerja keras para panitia. Mereka sungguh sangat baik mengerjakan tugas mereka. Seribu jempol buat mereka. Terima kasih kepada Tuhan yang menghadirkan atmosfer Lentera yang teduh di kota karang yang garang dan panas ini.

Cuplikan Cerita Lentera

16 Maret 2020, Datang Sebuah Kejutan (Sekadar Menengok Kembali)

Hari itu, Senin, 16 April 2020. Sore, ketika sesi closing bersama wali kelas dialihkan semua ke lapangan

Di hari Senin pagi, tanggal 16 Maret 2020, KBM di sekolah berjalan normal. Saya masih masuk mengajar pagi di kelas 8.1, mereview sekilas tentang sebuah film yang sudah kami tonton bersama pertemuan sebelumnya, The Litlle Big Master, sebelum mereka harus membuat teks ulasannya sebagai tugas sumatif mereka. Siangnya kembali melanjutkan di kelas 9.1 untuk persiapan USBN dan UN.

Saya memang tidak ingat apakah di kelas waktu saya memegang ponsel atau tidak. Intinya, waktu istirahat kedua, pukul 13.10 kira-kira, barulah saya menengok ponsel saya. Ada informasi baru dan penting yang masuk pukul 12.42. Urgent, baca dengan saksama sampai selesai. Begitu judul pengumuman itu. Diberi bold pula. Tersentak. Begitu mendadak. Tapi mau bilang apa. Namun sesuai instruksi, anak-anak jangan dulu dikasih tahu. Nanti akan ada sesi closing baru mereka dikasih tahu, biar mereka tidak heboh. Masih ada dua sesi untuk jam pembelajaran.Biarkan mereka tetap tenang.

Bel tanda istirahat kedua usai, saya tetap masuk melanjutkan pembelajaran. Meski melanjutkan sesi seperti biasa, jauh dalam hati saya, merasa trenyuh. Kira-kira kapan keadaan ini berakhir. Benarkah hanya 14 hari seperti yang diinfokan sementara wabah (waktu itu belum ditetapkan WHO sebagai pandemik) ini akan cepat selesai dan situasi sudah akan membaik di tanggal 30 Maret?

Pembelajaran usai dan tiba sesi closing bersama anak-anak WK. Datang pengumuman baru. Kepsek minta waktu untuk sesi closing digabungkan saja semua kelas di lapangan basket. Rata-rata para WK setuju. Memang, biar sumber pengarahan tunggal. Demikian, pada sesi closing, anak-anak diminta berbaris menuju lapangan. Namun sebelumnya, telah lebih dulu dibagikan surat pemberitahuan. Sambil berjalan dalam barisan menuju lapangan, mereka membaca sekilas surat tersebut dengan sorot mata bertanya-tanya.

“Ada yang mungkin bertanya-tanya, kenapa kita dikumpulkan tiba-tiba di sini?” kata kepsek setelah memberi salam kepada semua siswa yang sudah berbaris rapi sesuai kelas masing-masing.

“Melihat situasi negara kita saat ini yang mungkin juga telah kalian ketahui, maka besok (Selasa), kalian tidak perlu datang ke sekolah. Tapi nanti mulai hari Rabu, kalian akan belajarnya dari rumah. Model belajarnya bagaimana, itulah nanti yg akan dipersiapkan bapak/ibu gurumu besok di sekolah. Kalian tunggu kabar saja di grup whatsapp kelas masing-masing.”

Demikian isi pengumuman sore itu, Senin, 16 April 2020.

Hari ini, sudah sebulan berjalan sejak hari itu. Pembelajaran jarak jauh dilaksanakan. Guru mempersiapkan materi dan memantau dari rumah, disebut work from home. Siswa belajar dan mengerjakan tugas-tugas dari rumah, disebut sebagai home based learning.

Banyak suka duka di sana. Kalau mau diuraikan satu per satu, tentu bisa menjadi sebuah buku atau bahkan lebih. Saya sendiri menyesal, kenapa tak dari awal-awal mengisi blog ini dengan cerita suka-duka itu. Tentu kalau dikumpulkan sudah bisa menjadi satu buku malahan.

Antara senang bisa libur dan terkejut karena mendadak

Di foto ketiga ini adalah wajah-wajah mereka saat itu. Lihat baik-baik. Adakah gurat sedih atau senang di sana?

Kalau mau dikomentari dalam dialeg Kupang akan seperti, “Itu awal-awal dong senang tu.” Kenapa? Karena kata mereka, “Iya, lumayan sonde harus bangun pagi,” atau “Baek su ee, bisa belajar dari rumah sa,” atau “Asyek, buat libur sa su,” dsb.. dsb…


Sekarang barulah, “Aih, be sonde ada uang lai ni, snde dapat uang jajan.” “Aih, be belajar sendiri be sonde konsen. Be mangantok.” dsb.. dsb.. dsb… ️💪💪😇

 

Cuplikan Cerita Lentera

Cerita Momen Pengumuman Kelulusan SMP Kristen 1 (SLH) Kupang — Bagian 1

Pagi-pagi ketika sedang mempersiapkan diri untuk acara pengumuman kelulusan di pukul 10.00 wita nanti, ada satu kawan saya yang menunjukkan pesan masuk dari seorang murid. Isinya adalah foto rekapan nilai tertinggi per sekolah. Tak disangka, ternyata nama SMP Kristen 1 alias SMP Lentera Harapan Kupang bertengger di urutan pertama. Sontak saja kami kaget. Kenapa? Karena kami tak tahu-menahu hal itu sebelumnya. Memang di hari Jumat kemarin, kami sudah sempat diberi tahu kepala sekolah terkait nilai anak-anak, tapi tentang perbandingan nilai dengan sekolah-sekolah lain tidak ada sama sekali pemberitahuan. Saking kagetnya, kami sampai menjulurkan kepala serentak dan nyaris merusak beberapa barang yang ada di meja piket😅😂.

Rasa girang menjadi penyemangat tersendiri seharian itu hingga kemudian saya teringat dengan masa-masa awal ketika Lentera baru pertama kali masuk di Kupang.

Tahun 2011 adalah masa pengalihan manajemen beberapa sekolah di bawah Yupenkris GMIT Kupang ke YPPH salah satunya adalah SMP Kristen 1 Kupang. Tahun pertama ketika kami datang, sekolah ini masih meninggalkan dua angkatannya yakni yang duduk di bangku kelas 8 dan kelas 9. Siswa kelas 8 waktu itu hanya satu kelas berjumlah 22 orang. Sementara siswa kelas 9 terdiri dari tiga kelas dan berjumlah kurang lebih 80/90-an orang (saya kurang ingat berapa persisnya).

Tahun-tahun awal itu punya tantangan dan pergumulan tersendiri. Bagaimana kami yang rata-rata baru lulus (memang ada beberapa di antara kami yang sudah pernah setahun dua tahun mengabdi di tempat lain) harus menyesuaikan diri dengan karakter anak-anak remaja yang kalau tak salah dengar mereka masuk ke sekolah ini pun adalah pilihan terakhir mereka alias tak tahu ke mana lagi harus mendaftar karena rata-rata sekolah sudah ditutup pendaftarannya.

Mengajar mereka butuh kesabaran ekstra. Terlalu banyak faktor yang perlu dipertimbangkan untuk mendongkrak mereka belajar. Banyak di antara mereka yang datang ke sekolah tanpa tahu alasan pasti kenapa harus ke sekolah. Banyak yang tinggal bukan dengan orang tua kandung. Atau bahkan dengan orang tua sekali pun, keadaan kemampuan ekonomi dapat dibilang penuh perjuangan untuk dapat sekadar bertahan hidup. Maka untuk membeli alat tulis saja susah apalagi membeli buku paket. Tak hanya itu, jejak-jejak sekolah lama pun masih melekat erat dalam dada mereka. Ada pemberontakan kecil-kecilan seperti keinginan untuk bolos, suka alpa, memaki secara terang-terangan, merokok atau minum-minum di luar jam sekolah. Sebagian besar di antara mereka jarang membaca buku. Banyak hal (dalam hal ini wawasan/pengetahuan umum) kurang mereka tahu.

Sewaktu persiapan UN, mereka ‘digodok’ habis-habisan. Kala itu UN masih menjadi penentu kelulusan. Hampir setiap hari mereka diberikan jam tambahan di sekolah.

Hingga UN itu datang. Karena sekolah menghidupkan yang namanya integritas, semua ujian baik sekolah dan nasional dilaksanakan dengan menganut asas kejujuran. Tak ada contekan atau semacamnya demi membantu siswa saat UN.

Ketika datang pengumuman hasil UN, kami semua membeku. Hasilnya adalah 60-an persen. Ini artinya banyak yang tidak lulus. 20-an orang waktu itu kalau tidak salah. Sempat membeku dan seperti hilang sadar, kami diingatkan kembali untuk bersyukur dan berbangga. Setidaknya kami tahu bahwa mereka yang lulus adalah benar-benar lulus murni. Tak ada permainan dan kecurangan di dalamnya.

Dalam sekejap saja, berita kelulusan dari SMP Kristen 1 Kupang langsung tersebar. Katanya, ini pertama kali dalam sejarah, presentasi kelulusan SMP Kristen 1 Kupang tidak mencapai 100 persen sementara semua siswa dari sekolah lain di Kupang atau mungkin NTT lulus 100 persen.

Sampai ada kabar yang saya dengar, katanya ini menjadi tamparan buat kesombongan dan ‘kesokpintaran’ kami. “Baru saja lulus, belum ada pengalaman, ‘sok pintar sok hebat’ sampai mereka yang sudah lebih dahulu mengabdi harus disingkirkan. Lihat itu hasil UN-nya.” Kalimat ini begitu tajam dan kejam kalau memang ditujukkan kepada kami. Dalam hal ini kami tidak tahu apa-apa. Hanya mengikuti instruksi, ditempatkan di sekolah ‘A’, sekolah ‘B’ dst.

Proses seleksi yang diadakan pihak yayasan pun tak pernah ada di benak saya sebelumnya. Saya baru tahu bahwa tiga guru lama yang akan bersama kami adalah para guru terpilih. Dan memang pada kenyataannya, seiring berjalannya waktu, sampai detik ini bahwa benar mereka adalah guru-guru berdedikasi tinggi. Mereka adalah orang-orang yang cinta Tuhan, cinta anak-anak, dan mau terus belajar mengembangkan diri untuk pengajaran, yang juga rendah hati dan ‘manis selalu’ (mereka kemudian menjadi kawan-kawan baik kami😉).

Anak-anak kami yang tidak lulus, kami urus baik-baik. Sebagian ada yang mengurus paket B, sebagian memilih mengulang. Meski banyak cibiran dari orang-orang seberang (entah seberang mana yang saya maksud, intinya adalah mereka yang iri dengan keberadaan Lentera di Kupang) anak-anak kami tak ada yang memperlihatkan rasa ketidaksukaan atau mungkin rasa marahnya kepada sekolah, ‘gara-gara guru2 sok idealis inilah saya tidak lulus, coba sekolah ini tidak beralih, pasti saya lulus.” Tidak. Tidak pernah saya dapati ada sorot mata yang menyiratkan demikian. Mereka tahu betapa kami mengasihi dan mendoakan mereka. Mereka tahu kami ikut menangis bersama mereka. Mereka tahu kami mengasihi mereka meski ini sakit dan berasa pahit. Mereka tahu bahwa rasa kasih tidak harus diungkapkan lewat membantunya lulus tapi secara curang. Mereka tahu bahwa kejujuran adalah hal penting yang harus mereka pegang. Mereka tahu, ada nilai penting ‘yang lebih penting’ dari sekadar angka dan tanda ‘lulus’ di selembar kertas yang mau ditanamkan gurunya dalam diri mereka.

(Bersambung…)

Cuplikan Cerita Lentera, Merayakan Keseharian

Cerita UNBK SMP 2018

Tahun ini untuk pengawasan silang pelaksanaan UN, para pengawas dari SMP Lentera Harapan ditugaskan di SMP Kristen Citra Bangsa Kupang. Sama seperti di SMP Lentera Harapan, SMP Kristen Citra Bangsa ini pun punya tiga sesi ujian. Sebagai salah satu pengawas, bagian saya adalah mengawas di sesi I selama empat hari berlangsungnya UNBK.

Sementara dimuat post ini, UNBK sudah berjalan tiga hari. Besok, Kamis (26/4), adalah hari terakhir UNBK. Berharap pelaksanaan UNBK hari terakhir berjalan baik sebagaimana tiga hari yang sudah lewat. Anak-anak pun kiranya sudah mempersiapkan diri dengan baik untuk mengerjakan bagian mereka sebelum akhirnya mereka bisa bernapas lega untuk kemudian kembali mempersiapkan diri memasuki tingkatan yang lebih tinggi. 😚😊🙏🙏😇

Cuplikan Cerita Lentera

Kapsul 69: Personal Retreat GSK SMP/A Lentera Harapan Kupang “18

Sebagaimana air yang terus mengalir, biarlah segala yang busuk dalam diri terus dialirkan keluar dan yang baru yang lebih segar akan datang menggantikannya.

Tema personal retreat kali ini adalah Diadopsi Allah. Bagian yang mengikutinya adalah pengampunan. Sebagai stimulannya, peserta diajak menonton sebuah film berjudul October Baby. Seusai menonton, peserta diminta membuat refleksi terkait film tersebut serta menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan. Ada dua topik yang boleh dipilih. Satunya tentang “Diadopsi sebagai Keluarga Allah, dan satunya lagi tentang “Pengampunan“.

Tepat pukul 12.00 siang, peserta dipersilakan makan siang. Menu makan siangnya ikan bakar (di Kupang, kau tidak akan kesulitan mendapat menu ikan bakar semacam ini — ikannya segar-segar, boo‘😄).

Seusai makan siang, dilanjutkan sharing dalam kelompok kecil yang sudah ditentukan. Di dalam kelompok itulah setiap orang berbagi refleksi apa yang diperolehnya terkait dengan tema retreat ini. Saya sendiri mengambil bagian pertama, Diadopsi sebagai Keluarga Allah. Seperti tokoh utama, bahkan sudah diadopsi sebagai keluarga pun, saya masih saja meragukan seberapa besar kasih Allah terhadap saya. Masih ingin melihat yang lain yang belum tentu secara total mencurahkan kasihnya kepada saya padahal. Untuk itulah dari sini saya makin dikuatkan agar 👉👇 sepenuh hati mempercayakan hidup kepada Dia yang sudah mengadopsi kamu sebagai anak-Nya. Demikian satu dari beberapa poin yang saya tulis dan saya bagikan di sini😉😘.

Cuplikan Cerita Lentera

Kapsul 57: Kegiatan Student Led Conference (SLC) Semester Genap TP 2017-2018

El Harp Kupang

IMG-20180323-WA0016Student Led Conference a.k.a SLC merupakan program tahunan SLH Kupang. Di setiap pertengahan semester genap, para orang tua siswa diundang melihat hasil belajar siswa yang dipresentasikan siswa dalam bentuk portofolio, galery walk, dan performence siswa.

Disebut student led conference karena dalam kesempatan ini, siswalah yang berperan aktif melaporkan hasil belajarnya selama ini. Siswa mulai memimpin orang tua sejak dari pintu masuk hingga kegiatan SLC tersebut selesai.

Pertama-tama siswa memulai dari menyapa dan mengenalkan sang wali kelas kepada orang tua.  Barulah kemudian siswa menuntun orang tua menuju pojok portofolio untuk melihat hasil belajar siswa. Di pojok tersebut, siswa mempresentasikan proses dan hasil setiap mata pelajaran yang sudah dikumpulkan dalam satu-dua map folder. Orang tua boleh bertanya dan berdiskusi dengan siswa terkait perkembangan siswa terkait pembelajaran atau apapun menyangkut masalah belajar di sekolah tersebut.

Dari pojok portofolio, siswa dan orang tua beranjak ke pojok galery walk. Di pojok ini siswa menunjukkan…

Lihat pos aslinya 376 kata lagi

Cuplikan Cerita Lentera

Kapsul 54: Pembuatan Slogan/Poster berdasarkan Butir-butir Profil Lulusan SLH

Tujuan dari pembelajaran pembuatan poster ini adalah siswa sendiri bisa mengampanyekan butir-butir profil lulusan SLH. Plakat yang memuat profil Lulusan SLH jangan jadi pajangan saja di tembok. Tapi penting dibaca dan bisa dihidupi dalam keseharian mereka.

Ada beberapa contoh poster yang bagus lainnya, tapi sudah terlanjur saya kembalikan sebelum sempat memotretnya. Mungkin ke depan, mereka bisa membuatnya dalam bentuk digital agar lebih mudah dipromosikan. Hanya sayang, kalau dalam bentuk digital, kenikmatan dalam proses tentu terasa berbeda. Feel-nya beda maksudnya😉😄.

Cuplikan Cerita Lentera

Kapsul 53: Daftar Film yang diangkat dari Novel Anak-anak

Saya ingin mendaftar beberapa film yang ceritanya diangkat dari novel anak-anak. Rencananya, dalam beberapa pertemuan yang masih sisa di semester dua ini, film-film tersebut akan dinonton dengan terlebih dahulu mereka sudah melihat langsung bukuya dan membaca isinya. Hanya sayang, bahwa tidak semua anak bisa memiliki novel-novel tersebut. Paling hanya gurunya dan beberapa siswa kalau kebetulan bukunya dijual di Kupang. Tapi kalau tidak, mereka hanya bisa mendengar gambaran cerita dari guru. Masakan harus difotokopi? Tidak mungkin, kan.

Berikut beberapa novel tersebut beserta dengan filmnya:

  1. Oliver Twist dari Charles Dickens
  2. To Kill a Mockingbird dari Harper Lee
  3. Chirst the Lord: Out of Egypt dari Anne Rice
  4. Sang Singa, Sang Penyihir dan Lemari dari CS Lewis
  5. Petualangan Tom Sawyer dari Mark Twain
  6. Petualangan Huckleberry Finn dari Mark Twain
  7. Seri Little House dari Laura Ingals
  8. Bersambung… (mata saya sudah cukup berat untuk melanjutkan)

Ngomong-ngomong sementara saya memahatkan beberapa daftar di sini, saya menemukan sebuah proyek dari anak-anak Batchelor Middle School, Bloomington, Indiana. Mereka memainkan cerita Petualangan Tom Sawyer dari Mark Twain dengan luar biasa. Maka itulah film itu saya sematkan di sini biar sekalian bisa dinikmati.

Cuplikan Cerita Lentera

Kapsul 35a: Chapel Siswa SMP Lentera, “Usaha Mencari Jawaban: Kebenaran Allah” — Belajar dari Kisah Penderitaan Ayub

Job and friends

Saya mendapat tugas menjadi pembicara di chapel siswa SMP Kamis, 1 Maret 2018 dengan tema Usaha Mencari Jawaban: Kebenaran Allah. Bacaannya terambil dari salah satu kitab hikmat yakni Ayub pasal 3 hingga 14 tentang percakapan antara Ayub dan ketiga sahabatnya. Melanjutkan bacaan minggu sebelumnya Ayub pasal 1-2. Jadi ini adalah minggu kedua setelah menyelesaikan Amsal.

Pertama kali melihat jadwal dan tema khotbah, pikiran saya seperti pertama kali melihat pengumuman Penempatan Praktikum Mengajar Pertama sewaktu kuliah. Kaget dan merasa tak berdaya. Syukurnya, hanya terjadi sebentar.

Dua minggu sebelum hari H, ketika Amsal 31 dibahas di chapel, saya pun mulai membaca-baca bagian saya. Seminggu kemudian Kitab Ayub pasal 1-2 oleh partner saya, Ibu Zimry. Rencana saya sudah harus segera dibuat bahan PPT belum juga terlaksana.

Saya masih menikmati di proses membaca. Karena bagian saya cukup panjang dari pasal 3-14, saya pun malas membaca detail ayat-ayatnya. Saya lebih memilih mencari pembahasannya di buku atau internet. Alasannya biar sudah dibantu tafsirannya daripada saya yang harus baca dan caritahu diri. Tapi saya pikir-pikir masakan saya membicarakan sesuatu yang saya sendiri belum baca? Maka dengan itu, saya memutuskan membaca semuanya, niatnya pasal 3-14, tapi saking asyiknya saya sampai lewat, bahkan sempat berpikir akan lebih fokus membahas pasal 16.

Ternyata saya jatuh cinta dengan dialog-dialog itu meski terhadap isinya, saya malah jengkel dengan pandangan-pandangan para sahabat Ayub. Saya kesal sendiri dengan tuduhan sok tahu mereka terkait keadaan Ayub. Tapi bagaimana pun, demikianlah yang ditunjukkan. Keadaan Ayub itu seperti peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga, jatuh lagi tertimpa lagi, jatuh lagi tertimpa lagi, berkali-berkali, hingga rasanya alangkah baik bila tak pernah hidup dan menghirup aroma matahari.

Mungkin saya lebih menikmati membaca dan mencari referensi sampai saya tak sempat mempersiapkan bahan PPT untuk membantu saya dalam khotbah. Mendekati hari H, saya baru mulai mencoba membuatnya. Sayang, karena masih belum yakin, saya pun menyimpannya sementara dan menunda besok saja. H-2 itu niat saya melanjutkan. Tak tahunya, rencana keluarga untuk syukuran wisuda adik fix dibuat. Jelas tak sempat lagi saya buka-buka file untuk melanjutkan. Persiapan rumah tangga meski kecil-kecilan, dan ‘knutu-knutu’ tetap bukan sesuatu yang tidak penting dan boleh ditinggal. Barulah di hari Rabu setelah acara knutu-knutu itu selesai, saya pun menyempatkan diri bersiap. Alhasil saya baru tidur ketika ayam-ayam di kandang dan di kejauhan terdengar saling bersahutan.

Meski merasa sedikit lemah pagi harinya ketika datang dari Penfui ke Naikoten dan sempat merasa khawatir jangan-jangan saya bisa pingsan pagi harinya, saya bersyukur bisa tiba dengan selamat di naikoten dan segera masuk kelas, dan yang penting adalah bahwa firman Tuhan dapat tersampaikan dengan baik. Saya sendiri merasa senang bisa berbagi dengan anak-anak di chapel siswa.

tears

Di chapel kali ini, saya membukanya dengan berbagi cerita pengalaman apa yang pernah membuat saya menangis selama dua minggu, yakni cerita tentang gagalnya saya dalam olimpiade kimia tingkat propinsi sewaktu SMA sehingga saya tak bisa ke Jakarta. Hari ketika saya mendapat pengumuman bahwa saya tidak lolos padahal saya sudah belajar dengan sungguh-sungguh bahkan juga berpuasa, sempat membuat saya berpikir bahwa dunia ini sudah berakhir ‘di sini’. Hidup ini tak ada artinya lagi. Selain pengalaman lama itu, saya punya cerita yang baru saja saya alami dua hari belakangan yang sebagian ceritanya diketahui juga oleh kelas-kelas yang saya masuki hari kemarinnya dan saya merasa terberkati sekali di Sesi Bakar hari itu. Berikut baru saya tanyai apa pengalaman terkait penderitaan yang membuat mereka berpikir seakan-akan dunia berakhir hari itu juga.

Dari sana kami beranjak melihat kisah Ayub. Kisah penderitaan Ayub yang bertubi-tubi itu hingga didatangi para sahabat dan mendebatnya dengan pandangan teologis ngawur mereka. Bagusnya di sini adalah perdebatan dan diskusi mereka itu disajikan dalam bentuk puisi yang ternyata indah luar biasa.

Mengapa og benar menderita

Merujuk kepada tema, Usaha Mencari Jawaban, saya berpikir tentu untuk mencari jawaban, pastilah karena dari sebuah pertanyaan. Maka dari yang ditentukan pasal 3 sampai 14, saya kemudian memilih pasal 10 yang berjudul “Apakah Maksud Allah dengan Penderitaan?” untuk membacakannya dalam bentuk puisi diiringi instrumen Pass Me Not, O Gentle Saviour milik Fanny Crosby.

Sebagai eksegesisis, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan terkait kisah ini antara lain, “Apa maksud Allah dengan penderitaan yang ditimpakan kepada manusia, bahkan kepada orang-orang benar sekalipun?”,Apakah kemalangan selalu merupakan hukuman ilahi atas suatu kesalahan?”

Menjawab pertanyaan semacam itu, ketiga sahabat Ayub berpendapat bahwa kemalangan-kemalangan Ayub adalah bukti bahwa ia pernah melakukan suatu dosa tertentu dan karena itulah ia dijatuhi hukuman. Kata mereka juga, nasib baik selalu merupakan ganjaran ilahi atas perbuatan yang positif, dan bahwa bila Ayub mau membuang apa yang dianggap sebagai dosa-dosanya, dengan segera ia akan kembali bernasib baik.

Saya membaca kalimat-kalimat yang mereka ucapkan, dan terus terang saya sendiri ikut merasa dongkol. Saya membayangkan bagaimana kalau saya yang ada di pihak Ayub, tentu saya akan mengusir mereka pergi jauh-jauh. Sepintar apapun mereka, jelas mereka punya pandagan teologi yang tidak benar. Secara ringkas bisa dibuat perbandingan antara mereka dan iblis sebagai berikut.

Perbandigan teologi iblis dan para sahabat Ayub

Dengan melihat pada teologi ibilis dan para sahabat Ayub yang salah tersebut, lantas apa jawaban yang benarnya?

Sebagai pelaku, Ayub memang tak tahu. Tapi sebagai pembaca, di awal kisah di pasal 1-2, sudah diceritakan bahwa Allah mengizinkan Ayub dicobai. Allah mengizinkan. Itu adalah kedaulatan Allah. Di dalam kedaulatan Allah, penderitaan adalah baik adanya.

Seseorang dikatakan menang apabila ia sudah melewati satu ujian atau tantangan. Ia tidak bisa dikatakan menang apabila hidupnya nyaman-nyaman di dalam kamar saja, bukan? Pembahasan mengenai ini akan lebih kau pahami dengan membaca buku-buku semisal Iman, Penderitaan, dan Hak Asasi Manusia, atau Ujian, Pencobaan, dan Kemenangan, atau Allah, Kebebasan, dan Kejahatan, atau Kedaulatan Allah. Masih banyak lagi buku-buku lain, hanya di sini saya menyebutkan yang sejauh ini sudah saya baca dan masih sempat ingat.

Intinya adalah ujian, pencobaan, dan penderitaan adalah keharusan proses yang mutlak. Diberikan dengan maksud untuk mendapat kemenangan dan konsumasi (penyempurnaan). Dalam hal ini, Kristus, yang adalah Anak Allah pun telah mengalaminya, Ia menjadi contoh dan teladan dalam hal mendapat ujian, pencobaan, dan penderitaan. Kristus adalah teladan segala Zaman. Ia belajar taat hingga menjadi sempurna. Ia menang atas maut, dan di dalam Dia, kita ikut dimenangkan.

3 pertanyaan Ayub

Lanjut melihat ke pasal 14, ada lagi beberapa pertanyaan yang diajukan Ayub yang semuanya bisa dijawab bila seseorang mengenal Yesus Kristus. Pertanyaan itu antara lain seperti yang ditampilkan di samping.

Sekali lagi, jawaban untuk pertanyaan itu jelas ketika seseorang mengenal Kristus, bukan? Di dalam Kristus kita menang, di dalam Kristus kita hidup, di dalam Kristus ada jawaban. Bahkan Ia sendiri pernah berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup”. Apa lagi yang perlu diragukan daripada ini?

Saya teringat dengan sebuah buku yang pernah saya baca berjudul All Truth is God’s Truth atau yang diterjemahkan dengan Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah yang pernah saya buat rangkumannya di blog ini juga -> Rangkuman Buku Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah. Di bagian penutup buku itu, tepatnya di bab 8 dituliskan judul Kristus: Sang Kebenaran.

Dalam pergumulan menghadapi sendiri penderitaanya, Ayub bertanya-tanya mencari jawaban kebenaran meski dalam usaha pencariannya ia tetap tidak berdosa. Jawaban itu sudah ada sekiranya ia mengenal Kristus yang adalah Sang Kebenaran. Jangan kau protes, Bagaimana ia bisa mengenal Yesus sementara Yesus kan baru muncul di PB? Bukan, bukan itu maksudnya. Yesus yang dimaksudkan di sini bukan sekadar satu sosok berdaging yang baru dilahirkan di Betlehem dan dibesarkan di perkampungan Nasaret itu, melainkan lebih kepada Ia yang sudah ada bersama-sama dengan Allah bahkan sebelum dunia dijadikan. Di dalam Dialah terletak jawaban. Di dalam Dialah ada jawaban.

Lagi-lagi saya teringat dengan sebuah lagu lama yang ketika masih kecil sering kami nyanyikan bersama di rumah bersama mama saya yang konon sewaktu muda bersuara sangat merdu. Lagunya berjudul Kala KuCari Damai.

Di dalam buku Iman, Penderitaan, dan Hak Asasi Manusia, tertulis bahwa ketika datang penderitaan yang paling penting adalah bagaimana kita bereaksi kepada Tuhan. Biarlah dengan penderitaan, kita meminta kepada Tuhan agar terus membentuk kita. Baiknya dalam kesulitan dan penderitaan, kita harus mengetahui bahwa:

1. Hari ini bukan hari yang final. Ya, jangan seperti saya yang waktu gagal dalam olimpiade kimia sehingga tak jadi berangkat ke Jakarta itu sudah jadi hari yang final, bahwa dunia sudah berakhir di hari itu. 🙂

2. Tuhan masih ada. Percayalah. Kau tahu seberapa besar percayamu, bukan? Tuhan tidak memberi beban kepada seseorang melebihi kemampuan yang dapat diitanggungnya.

3. Saya tak seorang diri. Jangan percaya bisikan setan bahwa tak seorang pun mengerti..tak seorang pun mengerti.. Kau tahu, bahwa orang yang tak percaya Tuhan sekalipun setidaknya masih percaya bahwa ia tak sendiri maka ia bisa menggaungkan lagu-lagu populer, You are not Alone, masakan kau kalah dan loyo?

4. Penderitaan akan menjadi kemenangan. Ketika kau berhasil melewatinya, bahkan ketika kau hanya sekadar bertahan saja, kau sudah menang. Kau tahu, seseorang tidak bisa dikatakan menang bila ia hidup nyaman-nyaman di dalam kamar yang enak-enak saja, bukan?

Demikian itu 4 poin dari buku tersebut. Saya ingin menambahkan sedikit dari versi saya. Entah versi saya ini pernah saya baca di mana yang jelas bukan murni keluar dari kepala saya, tapi sedikit banyak sudah cukup menolong saya.

1. Jangan melihat kesulitan, penderitaan, atantangan apapun sebagai hal yang “seolah-olah adalah sesuatu yang luar biasa”. Pandanglah bahwa hal itu adalah sesuatu yang biasa, bukan luar biasa. Sesuatu yang mesti terjadi dengan alasan, maksud,dan tujuan tertentu. Pakailah, manfaatkanlah untuk merenung dan bertanya, apa yang mau Tuhan ajarkan padaku dari hal ini atau kejadian ini atau insiden ini. Saya sendiri berkali-kali mengalaminya dan selalu mengajukan pertanyaan ini yang membuat saya merasa jadi lebih tenang dan kemudian bisa tersenyum kembali dan merasa bersyukur meski sebelumnya saya sudah menangis-menangis sampai mata bengkak.

2. Penderitaan/kesulitan/kesesakan hanyalah ‘aksesoris’ biasa dalam kehidupan. Sesuatu yang memang harus ada untuk terus memurnikan imanmu kepada Kristus. Kalau bukan aksesoris, ya sebut saja bumbu kehidupan yang membuat ini jadi berasa hidup. Bayangkan sebuah masakan tidak ada bumbu, kau tahu betapa tawar masakan tersebut dan jadinya tidak enak dicicipi, bukan? Jadi bersyukur sajalah ketika datang penderitaan, kesulitan, kesesakan, dan berbagai ujian itu. Bersyukur bahwa semua itu terjadi sebab Tuhan cinta. Mungkin kau berbuat salah maka Ia menegur, kalaupun tidak salah, maka Ia mau membuatmu semakin murni.

Supaya bahwa kau punya landasanya, bacalah 2 Kor 4:16-18!

Berikut, sebagai penutup. Kau tentu mengenal siapa sosok di bawah ini, bukan?

fanny-crosby
Ya, dia sosok yang salah satu lagunya saya pakai sebagai instrumen pengiring saya baca puisi pasal 10. Dialah nama yang sering tercantum di banyak lagu-lagu Kidung Jemaat, Fanny Crosby. Fanny Crosby mengalami kebutaan gara-gara dokter yang menanganinya tidak bekerja dengan baik. Ia tumbuh besar dengan mata yang buta. Meski buta, ia menghasilkan lebih dari 1000 puisi sekuler dan lebih dari 8000 ribuan syair lagu/kidung pujian kepada Tuhan. Suatu kali ketika ia ditanya seorang pendeta yang merasa iba kepadanya, ia memberi pernyataan yang cukup menyentak. “Bila aku dilahirkan kembali, aku tetap meminta dilahirkan buta. Agar nanti ketika hidupku selesai di bumi, orang yang kupandang pertama kami adalah juruselamatku, Yesus Kristus.” Satu pernyataan yang mengagumkan.

Saya pikir inilah contoh dan maksud dari:

Yohanes 9:13. Bahwa ketika seorang menderita, bukan karena kesalahan ia atau orang tuanya semata, melainkan melaluinya juga kerajaan Allah dinyatakan.

Demikian catatan hasil baca-baca dan perenungan yang bisa saya bagikan. Kiranya memberkati.

Demikianlah, berkat memang diberikan bukan untuk dipendam dan dinikmati sendiri, melainkan dibagi sehingga dapat dinikmati juga oleh orang lain dan mereka kemudian melihat bukan kepadamu seorang melainkan kepada Dia sang sumber itu, Sang Kebenaran.