Kunjungan ke Rumah Kreatif Oebobo

Salah satu karya hasil daur ulang sampah plastik di Rumah Kreatif Oebobo, Kupang

Senin, 9 Oktober 2017 adalah agenda anak-anak kelas 8.1 bersama Ibu Ari berkunjung ke Rumah Kreatif Oebobo. Kebetulan hari itu adalah hari libur setelah penerimaan narrative report pada Kamis, 5/10 sebelumnya. Karena libur itulah saya nebeng ikut.

Anak-anak berkumpul di sekolah pukul 9 dan baru berangkat kira-kira pukul 10. Setelah anak-anak bersama guru pendamping mereka, Ibu Ari, berangkat menggunakan dua bemo, saya pun dengan sepeda motor menjemput kawan saya karena rencana kami seusai dari rumah kreatif Oebobo kami punya agenda melanjutkan perjalanan ke Babau.

Rumah Kreatif Oebobo tidak jauh letaknya dari rumah kawan saya. Jalan masuk ke sana bisa dari dua tempat yakni lorong kecil depan Kantor PU atau bisa juga dari lorong Jalan Bakti Karang samping Kantor Pos. Karena itulah sesampainya di tempat saya biasa menjemput, kawan saya tidak ada dan ketika ditelpon ia malah sudah berada di tempat yang akan kami tuju.

Begitu saya sampai di sana, ternyata anak-anak sudah duduk manis mendengarkan pemaparan dari sang tuan rumah, Bapak Pit Pah, yang ternyata adalah saudara sepupu dari salah satu kawan kami di Lentera, kepsek TK. Beliau begitu hangat menyambut anak-anak. Memperkenalkan sejak kapan beliau memulai kerja kreatif ini hingga diundang ke mana-mana, serta hasil karyanya ini bahkan bukan saja dipesan di dalam negeri tapi juga sudah dikirim ke berbagai negara. Berbekal apa? Hanya sampah-sampah plastik pada awalnya.

Btw, apa itu Rumah Kreatif Oebobo? Ah, sudah pasti dari cerita di atas, kau bisa menyimpulkan sendiri๐Ÿ˜Š. Rumah Kreatif Oebobo adalah tempat di mana para pekerja kreatif memanfaatkan sampah-sampah plastik seperti kemasan kopi sachet atau nutrisari dll untuk diolah menjadi berbagai karya yang bernilai. Dengan kata lain, di Rumah Kreatif Oebobo inilah dikerjakan daur ulang sampah plastik menjadi menjadi aneka karya atau produk bernilai. Hasil-hasil karya atau produk tersebut terlihat berupa tempat tatakan minuman, tempat tissue, nampan, tas, kotak persembahan, dll.

Rumah Kreatif Oebobo ini dimulai oleh Bapak Piter Pah yang kemudian menggandeng kawan-kawan dari PERSANI. Rumah ini juga sekaligus sebagai tempat belajar bagi yang mau belajar mengolah sampah-sampah plastik menjadi benda bernilai dan terbuka bagi siapa saja. Terbuka setiap hari kecuali Minggu dari pagi hingga sore. Selain itu setiap Sabtu pagi mereka juga menggelar karya-karya mereka di arena Car Free Day jalan El Tari tepatnya di depan Stikes Nusantara Kupang.

Demikian sekilas mengenai nebeng kunjungan ke Rumah Kreatif Oebobo. Selain yang telah dituliskan di atas, ada lagi sebenarnya satu cerita, yang bagi saya cukup inspiratif, tapi mungkin belum saatnya ditulis di sini. Akan menyusul di postingan lain. Hanya tetap doa saya, Tuhan memberkati orang-orang yang memperkenankan hati-Nya๐Ÿ™๐Ÿ˜‡.

Iklan

Secuplik Kesan

Kemeriahan Honda DBL East Nusa Tenggara Series 2017 ini baru saja berakhir Sabtu, 30 September 2017. Senang Lentera Harapan Kupang bisa ikut ambil bagian di dalamnya bahkan hingga menyabet beberapa juara sekaligus. Pertama, juara 1 loop 3×3 competition dengan three point oleh Amin Bannesi hingga membuat kedudukan skor antara SMA Kristen 2 Kupang dan SMA Lawan (saya lupa SMA mana๐Ÿ˜‰) menjadi 4-3. Kedua, Adriel Geraldo Elim terpilih sebagai Most Valuable Player (MVP) putra. Ketiga, Tim Basket SMA Kristen 2 Kupang atau yang dikenal dengan SMA Lentera Harapan Kupang ini boleh menjadi Pemenang 1 Honda DBL East Nusa Tenggara Serias 2017 untuk putra. Keempat, bahkan pendukung Tim Basket Lentera pun mendapat apresiasi sebagai suporter terbaik dan terdisiplin๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘.
Dalam pertandingan ini, sujud syukur saya sendiri melihat ada kemuliaan Tuhan dinyatakan di sana seperti yang saya buat sedikit refleksinya Di Pertandingan Basket, Aku Melihat Tuhan. Kenapa bisa demikian? Sebab saya walau tidak intens, saya pun mengikuti sedikit banyak perkembangan beberapa di antara para pemainnya.

๐Ÿ‘ŒBerikut cuplikan kesan beberapa pemain basket SMA Kristen 2 (Lentera Harapan) Kupang yang kemarin baru saja meraih Juara 1 dalam Honda DBL East Nusa Tenggara Series 2017. Tidak semua pemainnya memang. Hanya yang saya kenal dekat karena mereka alumni SMP Lentera Harapan Kupang. Tulisan ini hanya sebagai bentuk apresiasi kecil-kecilan yang bersifat personal๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜‡.

Adriel Geraldo Elim (Aldo) 

Aldo, seorang anak yang diberkati. Dialah inspirator kenapa ilustrasi isi buku kumpulan cerpen saya, Persinggahan Bocah Indigo, semuanya dibuat anak-anak SMP dan SMA Lentera Harapan Kupang. Latar belakang persisnya sudah saya tulis di Ilustrator Cerpen Persinggahan Bocah Indigo

Karena bakat menggambarnya ini pun ia pernah mewakili SMP Kristen 1 Kupang (SMP Lentera Harapan) mengikuti lomba mendesain gambar kantin sehat yang diadakan BPOM Kupang dan keluar sebagai juara 2. Selain menggambar ia juga jago dalam bermusik. Sewaktu materi Musikalisasi Puisi di Bahasa Indonesia kelas 9 saja terlihat bahwa ia sendiri menguasai beberapa alat musik sekaligus. Bukan saja mengenai alat musik. Tapi ia sendiri pernah memimpin tim PAR sekolah minggu dari GMIT Silo Naikoten 1 Kupang, sebagai dirigen mengikuti lomba paduan suara yang diadakan Bank TLM dan keluar sebagai juara 1. Waktu itu ia masih di bangku SMP, ketika saya membaca berita ini di koran dan mengetahui dirigennya adalah anak ini, sungguh saya salut luar biasa. Pada saat yang sama, saya benar-benar menaruh hormat pada kedua orangtuanya. Betapa luar biasa mereka mendidik sang anak. Kalau tak salah lomba itu diadakan sewaktu libur sekolah. Sewaktu masuk dan saya menyalaminya, ia malah heran bagaimana saya bisa tahu sementara itu masa liburan sekolah.

Seusai pengumuman hasil UN SMP

Di akhir bangku SMP, saya lagi-lagi merasa salut dan bangga plus senang, bahwa di tengah ngototnya ia ingin menjadi pemain basket profesional, ia adalah salah satu dari dua siswa kelas 9 yang menjadi peraih nilai tertinggi nilai UN di mata pelajaran yang saya asuh, Bahasa Indonesia.

Amin Bannesi (Amin)

Semenjak keluar meninggalkan desa tempat lahir saya dan bertemu dengan orang-orang sekampung di tempat lain, entah itu di Kupang atau di luar Kupang, belum pernah saya mendengar ada yang bangga menyebut dirinya sebagai Orang Retraen. Baru ketika saya masuk kelas 7.3 waktu itu, teman-teman satu kelas Amin selalu memanggilnya dengan sebutan Orang Retraen. Ia sendiri tampak senang dan bangga sekali dengan itu.

Karena dia inilah saya pun ketika memperkenalkan diri mulai menyebut Retraen sebagai kampung saya๐Ÿ˜„. Kalau tidak, sebelumnya karena agak malas menjelaskan kepada orang, saya bilang saja tempat atau kampung saya itu di Buraen. Singkat. Selesai. Lebih mudah dikenal orang karena itu adalah pusatnya Amarasi Selatan dan memang nama tempat itu dulu juga sudah ada di peta-peta. Demikianlah, walau baru kelas 7 (kelas 1 SMP) kala itu, dia sudah memberikan pelajaran yang luar biasa kepada saya, bagaimana kau harus bangga akan tempat pertama kau mengirup aroma tanah๐Ÿ˜„๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜‡.

Selain itu, Amin juga adalah salah satu peserta anggota PAR SM GMIT Silo Naikoten 1 yang bersama-sama dengan Aldo mengikuti lomba PS di Bank TLM dan menyabet juara 1 itu. Mereka memang anak-anak SM yang rajin. Saat ini sementara mengikuti kelas katekisasi kalau tak salah saya dengar kemarin. Biarlah iman, karakter, dan semangat mereka tetap terjaga dan berada di koridor yang benar.

Andrew Edward Johannes (Andrew)

Andrew, kapten tim ini. Di kelas 7 sesuai KTSP, ada pelajaran mengenai puisi. Setelah mempelajari materi puisi, saya memberikan tugas rumah kepada mereka untuk menulis dua puisi yamg akan dibacakan di pertemuan berikutnya. Satu puisi mereka boleh pilih dari beberapa nama penyair yang saya sebutkan serta satu puisi lagi adalah karya mereka sendiri.

Dari puisi-puisi yang ditulis, puisi karya Andrew adalah salah satu yang menarik dan berkesan. Kalimat puisi seutuhnya sudah saya lupa. Akan tetapi, ada pilihan kata Andrew mengenai hujan yang digambarkannya sebagai awan menangis, merupakan pilihan kata yang menurut saya luar biasa untuk seorang anak kelas  7 apalagi kala itu sewaktu membacakan ia membawakannya dengan ekspresi yang sungguh sekali๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ˜Š๐Ÿ‘.

Jevon Djami Hau (Jevon) 

Statusnya sekarang adalah anggota elektif menulis. Awalnya hampir saja ia tak masuk (mencari ikon/simbol peace tapi tidak ada๐Ÿ˜Š). Saya kurang percaya apakah ia benar-benar ingin bergabung atau karena ada motivasi lain๐Ÿ˜‰. Walau sempat diragukan, ia telah membuktikan dirinya dengan membuat sebuah tulisan yang cukup baik di blognya, WeAreReady. Memang walau masih terdapat beberapa kekurangan terkait hal teknis, namun isinya sudah bagus. Reflektif. ๐Ÿ‘ sebab itulah yang diharapkan๐Ÿ‘๐Ÿ‘.

Wahyu Cristanto (Wahyu) 

Wahyu, seorang penutur Bahasa Indonesia yang baik. Ketika teman-teman lainnya adakalanya berbicara dengan guru menggunakan dialeg Kupang, ia tetap tenang menggunakan Bahasa Indonesia yang baik. Ada satu hal lain lagi yang saya ingat. Suatu hari ketika sekolah mengadakan puasa bersama untuk siswa kelas 9, ia saya lihat sewaktu istirahat pun ia ke mana-mana tetap mengantongi satu botol kecil. “Apa itu?” saya tanya. “Obat kumur,” katanya. “Buat apa?” terus saya cecari. Setelah ia jawab baru saya sadar, oh iya, kenapa juga mesti saya tanya. Agak o* juga saya. ๐Ÿ˜€ 

Selain pemain basket untuk DBL ini, ia juga adalah satu-satunya siswa SMA Lentera yang terpilih tahun lalu menjadi anggota Paskibra tingkat Kota dan bertugas sebagai penggerek bendera sayap (apakah benar sebutannya demikian?) kiri. Tahun ini, sebagai kakak, ia pun secara sukarela menjadi pelatih bagi beberapa adiknya di Lentera sebelum mereka mengikuti seleksi. Syukurlah, dua di antaranya lolos, Jenny dan Ellen.

Kurang lebih dua bulan lalu, salah satu mahasiswa TC UPH, kampus yang sama dengan saya, datang tergopoh-gopoh menghampiri saya. Ia menceritakan dengan rasa kagum dan takjub terkait penulisan anak-anak kelas 12 yang diawasinya. Saya lupa apa latar belakangnya, tapi kalau tak salah itu pertemuan pertama mereka dan sesi itu khusus perkenalan. Katanya, ia hanya meminta anak-anak untuk menuliskan apa kira-kira yang menjadi impian mereka beberapa tahun ke depan. Sementara mereka menulis, ia berkeliling dan membaca tulisan anak-anak. Betapa ia kaget dan takjub dengan cara berbahasa anak-anak dalam menulis. Salah satu dari beberapa anak yang ia kagumi tulisannya adalah Wahyu. Saking terkagum-kagumnya, ia sampai memotret lembaran kertas berisi tulisan Wahyu dan kawan-kawannya. Sewaktu menunjukkan pada saya foto berisi tulisan-tulisan itu pun matanya berbinar-binar karena rasa senang dan takjub. Mendengar itu, saya tentu ikut bahagia. Tentu. Terima kasih kepada Ibu Susy yang sudah menginfokan๐Ÿ˜š. 

Windi Bell (Inka) 

Dari semua yang saya buatkan cuplikannya ini, hanya Inka inilah yang tidak seangkatan mereka.

Inka, demikian ia disapa. Nama yang tertera di daftar hadirnya tidak ada kata Inka di sana. Nama resmi atau nama yang terdaftar adalah Windy Bell. Ia adalah anak wali saya ketika masuk kelas 7. Kami di kelas 7.3 yang kemudian oleh penghuninya, Messy dkk, kelas itu dinamai Seth Star.

Terkait anak satu ini, semula karena namanya yang di daftar resmi itu, saya mengira ia adalah seorang perempuan sehingga kartu selamat datang yang saya siapkan pun mengikuti warna yang sudah saya pilah untuk dibedakan antara yang laki-laki dan perempuan. Untungnya anak ini tingkat pengertiannya bagus. Ia tidak begitu terganggu dengan adanya kesalahan itu. Ia tetap tenang menerima kartu selamat datang dan berbaur dengan siswa yang lain. Ketika mengenalkan diri di kelas dan menyebut diri Inka, saya bertanya dari mana nama itu, ia hanya menjawab dirinya sendiri pun tidak tahu. Hanya kalau di rumah dan di lingkungan bermainnya ia selalu dipanggil Inka maka ia mengikuti saja nama panggilan itu.

Tapi di kelas 7.3, karena melihat tampangnya mirip-mirip putra seorang aktor hollywood, Will Smith, saya pun kadang iseng-iseng memanggilnya dengan nama Jaden Smith.

Inka ini pun pernah tergabung dalam satu grup olimpiade, SMP atau SMA, saya agak lupa. Tapi intinya dia juga punya kemampuan yang bagus di bidang sains, lebih spesifik di bidang apa saya agak lupa juga, tapi kalau tidak salah ingat, sepertinya di Math atau Fisika atau mungkin Biologi? Tunggulah, akan saya pastikan. Kalau sudah, tulisan ini akan direvisi๐Ÿ˜Š.

Demikian cuplikan kesan terhadap beberapa anggota Tim Basket SMA Lentera Harapan Kupang. Bukan berarti dengan hanya mereka yang saya ciduk di sini, lantas pikirmu hanya mereka saja yang istimewa. Tidak. Saya tak punya pandangan semacam itu. Saya percaya setiap orang punya keunikan dan kesan masing-masing. Kalau di sini hanya mereka yang saya ambil, alasannya adalah selain menjadi bintang lapangan, mereka juga bintang di kelas saya, kelas Bahasa Indonesia, juga kelas elektif menulis, juga anak wali. Para anggota yang lain mungkin saja adalah bintang di kelas math, atau sains, atau seni budaya, atau lainnya, dan itu adalah keunggulan mereka masing-masing๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿ˜‡๐Ÿ™.

Sudahlah. Saya sepertinya terlalu banyak cuap-cuap. Kesimpulannya, saya hanya ingin memberi apresiasi. Terima kasih telah menunjukkan bahwa bukan kalian yang dilihat, melainkan Dia yang hidup dalam kalian. Itulah yang terpenting dan berharga dari semua apa yang pernah ada di dunia. Jagalah dan lanjutkan semangat itu. Sebagai Lentera, teruslah bersinar. Sebagai Eagles, teruslah terbang dan jangan mudah menjadi lesu. Sebab kau tahu kenapa dan kepada siapa kau mengabdi. 

Cat: Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tuliskan, tentang hasil pengamatan bagaimana semangat itu tumbuh sejak dini dan terus dipelihara melewati banyak proses hingga beroleh buah sekarang, hanya kalau seperti itu maka mungkin bisa jadi satu buku khusus๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜Ž.

Btw, sebelum menutup. Masih ada satu hal lagi yang mau juga saya pahatkan di sini. Bersyukur sekali mengingat dalam suatu obrolan tak resmi, ada satu celetukan yang terlontar keluar dari mulut seorang siswa, “Wah, Ibu, yang kemarin tu, kotong tahu betul, bukan kotong yang bermain. Itu Tuhan yang bermain.” Anak itu, inisialnya JN, mengomentari hasil pertandingan antara Tim Lentera dan Regina Pacis Bajawa๐Ÿ‘Œ๐Ÿ‘๐Ÿ‘ . SDG.  

Selamat kepada Tim Basket SMA Kristen 2 (Lentera Harapan) Kupang, Pemenang Honda DBL East Nusa Tenggara Series 2007

SMA Kristen 2 Kupang (Lentera Harapan) baru dua tahun belakangan ini berpartisipasi dalam Honda DBL yang untuk NTT baru dimulai tahun 2013 (kalau tak salah)๐Ÿ˜Š

Setahun lalu Tim Lentera pernah mengikutkan diri juga. Sayang baru awal-awal masuk babak penyisihan langsung gugur. Padahal sewaktu roadshow DBL di sekolah, salah satu harian yang digandeng acara besar ini langsung menulis, “Tim Lentera Siap Menggebrak”. Wow, kedengaran berani sekali. Maka itu, untuk mendukung, di pertandingan pertama tahun lalu melawan SMA Katolik Giovani, hampir semua guru, beberapa siswa, dan beberapa orang tua pergi ke GOR.

Baru saja memasuki lapangan, tampang-tampang mereka langsung menarik perhatian. Bagaimana tidak, mereka dibilang sekumpulan anak-anak ganteng di sekolah. Sayang, ternyata yang dikatakan media sebelumnya, “Lentera Siap Menggebrak” terjawab sebaliknya seketika. Lentera harus pulang tanpa ada kesempatan bermain lagi di DBL tahun itu. Mimpi salah seorang pemainnya yang dipelihara sejak SMP harus diterima kenyataan pahitnya. Jatuh bertelut ia dan menangis di lantai GOR. Begitu besar mimpinya bermain di DBL tahun itu pupus. Betapa ia sudah betul-betul jatuh cinta pada basket sejak dari SMP sekalipun ada banyak bakat yang Tuhan titipkan padanya (tentang ini ada keping cerita lain yang juga akan saya tulis).

Namun dengan melewati banyak gejolak, pribadi setiap mereka dibentuk dan ditempa habis-habisan. Maksud saya bukan semacam kesengajaan penyiksaan diri, tapi adalah secara natural berjalan saja sampai terbentuklah pribadi-pribadi luar biasa, yang kemudian mewakili SMA Kristen 2 Kupang (Lentera Harapan) berlaga di Honda DBL Kupang tahun ini. Karakter mereka sebelum, selama, dan setelah pertandingan dengan memegang predikat sebagai Pemenang Honda DBL East Nusa Tenggara Series 2017ย di Kupang ini benar-benar memberikan kepuasan dan kebanggan tersendiri. Mereka telah menunjukkan sikap sebagaimana yang diharapkan dan didoakan. Tema-tema sekolah biarlah terus terpatri dalam dada mereka๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡

Presentasi Materi Resensi

Di kelas 9.2, kelompok Elen dkk mempresentasikan materi mereka mengenai penulisan resensi. Cara penyampaian mereka tenang, jelas, runut, dan dapat langsung dimengerti. Salah satu di antara anggota kelompok ini yakni Elen sendiri sangat (teramat sangat) baik dalam menjelaskan materi mereka. Anak ini membawakannya dengan cantik sekali. Di akhir presentasi, ketika ingin menunjukan kepada teman-temannya penjelasan penulisan resensi dari satu video youtube, speaker yang disiapkan ternyata tidak berfungsi dengan baik. Volume suara orang yang memaparkan video tersebut tidak terdengar untuk seisi kelas. Maka di sinilah Ayu tampil membacakan resensinya mengenai satu buku yang ia baca seminggu lalu, novel To Kill a Mockingbird buah pena (begitu kata Ayu) dari Harper Lee๐Ÿ‘๐Ÿ™๐Ÿ˜‡.

Resensi yang dibacakan Ayu bagus. Bahasanya tidak rumit-rumit amat dan lebih dapat dimengerti. Kawan-kawan Elen dkk pun langsung melihat contoh resensi yang ditulis langsung oleh kawan mereka. Lebih mengena. Lebih nyata.

Kejadian di kelas ini sederhana namun ada sesuatu yang bisa dipelajari. Andai saja speaker dari kelompok Elen berfungsi baik, maka mungkin saja Ayu tak sempat berbagi resensi buku To Kill a Mockingbird yang sudah ia buat dengan sudah berpayah-payah sampai pukul 23.03 wita๐Ÿ˜Š. Kawan-kawan Elen pun tak harus menganggap penulisan resensi adalah sesuatu yang berada jauh di atas awan-awan sana yang susah dijangkau. Tapi mereka melihat bahwa ada teman mereka sendiri saja sudah baik dalam menulis resensi. Maka amat tidak mungkin mereka tak bisa. Dengan kepercayaan itu, mungkin mulai kembali masuk sekolah seusai libur mid semester ini, mereka sudah bisa menulis resensi buku sendiri dari setiap buku yang mereka baca saat SSR.

Di Pertandingan Basket, Aku Melihat Tuhan

Melihat Tuhan adalah ketika melihat seseorang bekerja atau melakukan sesuatu dengan tekun dan sungguh dengan hatinya tertuju bukan kepada siapa-siapa atau apa-apa, melainkan hanya kepada Dia Sang Empunya. Meski ia masih punya banyak kekurangan namun ia berusaha semaksimal mungkin mengerjakan yang terbaik dirinya bisa mencapainya, sehingga setelah itu semuanya dikembalikan hanya kepada Yang Empunya. SDG.

Sesi foto bersama seusai pertandingan semifinal Honda DBL East Nusa Tenggara Series 2017 antara SMA Kristen 2 Kupang (SMA Lentera Harapan) dan SMA N 1 Soe๐Ÿ˜š๐Ÿ™.

Kalimat judul di atas terbersit pertama kali di menit ke-7 saat menonton pertandingan semifinal DBL antar SMA tahun 2017 di Kupang. Mungkin bagimu, judul tulisan ini berlebihan sekali. Ah, bukan apa peduliku, toh ini memang apa yang berenang-renang di kepalaku. Bahkan di menit-menit awal itupun, tetap kalimat itu terus berlagu. Peduli apa sebentar anak-anak akan lolos semi final ini dan bertanding lagi di final atau tidak, nyatanya aku melihat kerja Tuhan ada di situ, dan ini penting untuk aku menyaksikannya bagimu๐Ÿ˜Š.

Sementara, di pinggir lapangan berdiri para pemandu sorak, anak-anak tim dance putri SMA Lentera Harapan, di bawah bimbingan Ibu Frida, seorang kawan dekat๐Ÿ˜„, yang saya tahu betul ia selalu dan terus mengingatkan anak-anaknya tentang semua yang terkait seruan inti dari tema sekolah Lentera dari tahun ke tahun itu๐Ÿ˜š.

Menemukan Mutiara Berharga

PearlFacts

Sumber ilustrasi: National Geographic

Apa kau tahu perbedaan orang yang sudah menemukan kunci rahasia mendapat mutiara berharga dengan mereka yang belum? Baiklah, berikut ini penjabaran versi saya. Bukan ilmu paten. Hanya sedikit hasil yang diperoleh setelah proses berkelana saya ๐Ÿ˜‰ ๐Ÿ™‚

Mereka yang belum tentu masih akan mencari-cari dalam gelap, tak jua ketemu, mencari ke sana kemari, jatuh bangun ia, tertatih-tatih merangkak, meraba-raba, menduga, ketika mendapat sesuatu, ia pikir itu sudah yang ia cari, beberapa waktu kemudian baru ia sadar ternyata bukan. Maka pergilah ia mencari lagi, tertatih lagi, merangkak lagi, meraba-raba lagi, putus asa tak luput menghampiri.

Sementara mereka yang sudah menemukan kunci rahasia dan mendapat mutiara berharga itu memang tak harus lagi mencari-cari atau meraba-raba dalam gelap, tak harus lagi mengejar-ngejar. Memangnya apalagi yang mau dikejar kalau yang berharga itu sudah ia temukan? Tapi, apakah elok bahwa setelah mendapat yang berharga itu ia lantas tidur-tiduran dan mengkhayal kapan tiba waktunya ia disambut masuk gerbang kerajaan yang didamba-dambakan itu? Tidak. Sebab bila begitu, maka teranglah sesungguhnya ia belum mendapat mutiara berharga itu. Sebaliknya, kalau benar ia sudah mendapat, maka ia tentu tidak akan tinggal diam, melainkan keluar meninggalkan tempatnya sendiri sekalipun itu adalah istana yang megah–yang tak akan dipandangnya lagi sebagai yang paling berharga– pergi bersiar demi orang lain pun bisa mendapatkan mutiara berharga itu dan merasakan sukacita yang sama seperti dirinya. Segala terjal jalan dan onak duri yang mungkin ia temui bukan lagi seolah-olah kiamat, melainkan hanyalah ornamen-ornamen yang menjadi pelangi bagi jalannya. Putus asa, apa itu? Tak lagi ia kenal.

Perjalanan itu, memang belum usai. Ia masih harus terus berjalan. Namun bukan untuk dirinya sendiri lagi ia berjalan. Perjalanannya sekarang adalah untuk merangkul, merangkum mereka yang masih mencari-cari. Ia sesungguhnya bebas dan bahagia melakukannya.

Kupang, 26 September 2017

Proyek UTS Kelas 9

UTS kelas 9 kali ini,  mata pelajaran Bahasa Indonesia berkolaborasi dengan Fisika dan SBK.  Siswa-siswa membuat satu produk berupa pesawat sederhana yang ada rangkaian listriknya dengan memanfaatkan bahan bekas. Produk tersebut rencananya akan dibalut dengan gambar motif tenunan daerah NTT (begitu yang saya tangkap. akan saya perbaiki bila info ini salah). Itu bagian dari materi pelajaran Fisika dan SBK (Saya kurang tahu-belum tanya soalnya๐Ÿ˜˜, kalau akan ada program lanjutan terkait produk-produk itu). Lalu, di bagian apa mata pelajaran Bahasa Indonesia?

Nah, materi pelajaran Bahasa Indonesia untuk proyek ini adalah membuat laporan hasil pengamatan serta mengkritik/memuji suatu karya (seni/produk) dengan bahasa yang lugas dan santun (demikian bunyi salah satu KD dalam pelajaran Bahasa Indonesia kelas 9  di KTSP). Jadi, tugas laporan serta membuat kritikan/pujian ini akan dikerjakan kalau proyek sudah selesai. 

Karena berkolaborasi, maka untuk sesi tiga mata pelajaran ini, siswa mengerjakan proyek tersebut. Mereka hanya diperkenankan bekerja di sekolah, khususnya pada mata pelajaran terkait. Sudah menjadi aturan sekolah bahwa setiap tugas yang dikerjakan dalam kelompok harus diselesaikan di sekolah. Hari ini, di satu sesi terakhir mata pelajaran saya, tepatnya sesi ke-4, siswa/i kelas 9.4 saya persilakan untuk mengerjakan proyek UTS mereka. Mereka mulai berkumpul dalam kelompok yang sudah ditentukan. Mengeluarkan barang bawaan mereka dan mulai bekerja. Salut dan senang melihat mereka bekerja dengan sungguh-sungguh. 
Di antara mereka, bahkan ada satu siswa yang paginya mengaku sakit (dan memang wajahnya terlihat pucat) mengatakan tetap datang ke sekolah karena mengingat tanggungjawabnya dalam proyek itu. Saya mendengar pengakuannya dan segera berlalu. Barulah di saat KBM itu saya lihat ternyata bagian dia memang cukup penting dalam kelompok mereka. Saya teringat pengakuannya pagi tadi. Luar biasa๐Ÿ˜š. Saya berdoa, semoga kegigihannya tetap datang ke sekolah walau dalam keadaan sakit sebab teringat akan proyek mereka ini bukan hanya untuk mendapat nilai baik semata, tapi adalah sikap tanggungjawabnya yang sudah merasuk dalam dirinya๐Ÿ˜„๐Ÿ™๐Ÿ˜‡. Demikian tulisan singkat ini. Mau ia tetap datang karena nilai atau karena tanggung jawab, saya tak benar-benar tahu, tapi minimal ia telah mengajarkan satu hal untuk saya, seorang ia saja mau meninggalkan sakitnya demi kepentingan bersama๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜š.
Catatan: Tulisan ini awalnya hanya untuk memahatkan salah satu sesi KBM hari ini di kelas 9.4. Tapi jadinya malah ke refleksi tentang siswa yang mengaku sakit tapi tetap datang ke sekolah demi proyek UTS.