Cuplikan Cerita Lentera, Merayakan Keseharian

Mengenakan Kain Tenun Bermotif Amarasi di Commissioning Day SMP-SMA Lentera Kupang Tahun ’18

Di acara commissioning day kelas 9 dan 12 SMP-SMA Lentera Harapan Kupang, dress code guru-guru adalah pakaian berbahan tenun daerah NTT (wajib buat orang asli NTT dan pilihan bagi yang dari luar NTT). Kebetulan saya punya kain Amarasi juga beberapa kain dari daerah lain. Hanya semuanya belum dijahit menjadi baju atau rok atau apapun. So, saya antarkan kain yang bermotif daerah Amarasi ke kawan saya yang selain guru, ia juga biasa menjahit baju-baju pesanan orang. Akhirnya kain saya itu dipermaklah jadi rok panjang yang kemudian saya kenakan di acara commissioning tersebut.

Sepengetahuan saya, ini pertama kali saya mengenakan pakaian berbahan kain tenun Amarasi di acara resmi. Bukan karena apa-apa, tapi hanya karena sebelum-sebelumnya saya merasa kain semacam itu sakral😝 sehingga hanya boleh dipakai di saat-saat tertentu😄.

Dan kali ini, ceritanya, di acara commissioning tahun 2018 ini saya dapat tugas sebagai MC. Tentu banyak hal yang perlu dipersiapkan, tentu salah satunya penampakan (alias penampilan yang langsung secara kasat mata harus rapi dan menariklah).

Beruntung saya punya satu kain itu, kalau tidak mungkin saya pasti pontang-panting san-sini mencari kain atau pakaian apapun yang bercorak motif daerah NTT demi keberlangsungan acara tersebut.

Iklan
Cuplikan Cerita Lentera, Merayakan Keseharian

Cerita UNBK SMP 2018

Tahun ini untuk pengawasan silang pelaksanaan UN, para pengawas dari SMP Lentera Harapan ditugaskan di SMP Kristen Citra Bangsa Kupang. Sama seperti di SMP Lentera Harapan, SMP Kristen Citra Bangsa ini pun punya tiga sesi ujian. Sebagai salah satu pengawas, bagian saya adalah mengawas di sesi I selama empat hari berlangsungnya UNBK.

Sementara dimuat post ini, UNBK sudah berjalan tiga hari. Besok, Kamis (26/4), adalah hari terakhir UNBK. Berharap pelaksanaan UNBK hari terakhir berjalan baik sebagaimana tiga hari yang sudah lewat. Anak-anak pun kiranya sudah mempersiapkan diri dengan baik untuk mengerjakan bagian mereka sebelum akhirnya mereka bisa bernapas lega untuk kemudian kembali mempersiapkan diri memasuki tingkatan yang lebih tinggi. 😚😊🙏🙏😇

Cuplikan Cerita Lentera

Kapsul 69: Personal Retreat GSK SMP/A Lentera Harapan Kupang “18

Sebagaimana air yang terus mengalir, biarlah segala yang busuk dalam diri terus dialirkan keluar dan yang baru yang lebih segar akan datang menggantikannya.

Tema personal retreat kali ini adalah Diadopsi Allah. Bagian yang mengikutinya adalah pengampunan. Sebagai stimulannya, peserta diajak menonton sebuah film berjudul October Baby. Seusai menonton, peserta diminta membuat refleksi terkait film tersebut serta menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan. Ada dua topik yang boleh dipilih. Satunya tentang “Diadopsi sebagai Keluarga Allah, dan satunya lagi tentang “Pengampunan“.

Tepat pukul 12.00 siang, peserta dipersilakan makan siang. Menu makan siangnya ikan bakar (di Kupang, kau tidak akan kesulitan mendapat menu ikan bakar semacam ini — ikannya segar-segar, boo‘😄).

Seusai makan siang, dilanjutkan sharing dalam kelompok kecil yang sudah ditentukan. Di dalam kelompok itulah setiap orang berbagi refleksi apa yang diperolehnya terkait dengan tema retreat ini. Saya sendiri mengambil bagian pertama, Diadopsi sebagai Keluarga Allah. Seperti tokoh utama, bahkan sudah diadopsi sebagai keluarga pun, saya masih saja meragukan seberapa besar kasih Allah terhadap saya. Masih ingin melihat yang lain yang belum tentu secara total mencurahkan kasihnya kepada saya padahal. Untuk itulah dari sini saya makin dikuatkan agar 👉👇 sepenuh hati mempercayakan hidup kepada Dia yang sudah mengadopsi kamu sebagai anak-Nya. Demikian satu dari beberapa poin yang saya tulis dan saya bagikan di sini😉😘.

Cuplikan Cerita Lentera

Kapsul 57: Kegiatan Student Led Conference (SLC) Semester Genap TP 2017-2018

El Harp Kupang

IMG-20180323-WA0016Student Led Conference a.k.a SLC merupakan program tahunan SLH Kupang. Di setiap pertengahan semester genap, para orang tua siswa diundang melihat hasil belajar siswa yang dipresentasikan siswa dalam bentuk portofolio, galery walk, dan performence siswa.

Disebut student led conference karena dalam kesempatan ini, siswalah yang berperan aktif melaporkan hasil belajarnya selama ini. Siswa mulai memimpin orang tua sejak dari pintu masuk hingga kegiatan SLC tersebut selesai.

Pertama-tama siswa memulai dari menyapa dan mengenalkan sang wali kelas kepada orang tua.  Barulah kemudian siswa menuntun orang tua menuju pojok portofolio untuk melihat hasil belajar siswa. Di pojok tersebut, siswa mempresentasikan proses dan hasil setiap mata pelajaran yang sudah dikumpulkan dalam satu-dua map folder. Orang tua boleh bertanya dan berdiskusi dengan siswa terkait perkembangan siswa terkait pembelajaran atau apapun menyangkut masalah belajar di sekolah tersebut.

Dari pojok portofolio, siswa dan orang tua beranjak ke pojok galery walk. Di pojok ini siswa menunjukkan…

Lihat pos aslinya 376 kata lagi

Cuplikan Cerita Lentera

Kapsul 54: Pembuatan Slogan/Poster berdasarkan Butir-butir Profil Lulusan SLH

Tujuan dari pembelajaran pembuatan poster ini adalah siswa sendiri bisa mengampanyekan butir-butir profil lulusan SLH. Plakat yang memuat profil Lulusan SLH jangan jadi pajangan saja di tembok. Tapi penting dibaca dan bisa dihidupi dalam keseharian mereka.

Ada beberapa contoh poster yang bagus lainnya, tapi sudah terlanjur saya kembalikan sebelum sempat memotretnya. Mungkin ke depan, mereka bisa membuatnya dalam bentuk digital agar lebih mudah dipromosikan. Hanya sayang, kalau dalam bentuk digital, kenikmatan dalam proses tentu terasa berbeda. Feel-nya beda maksudnya😉😄.

Cuplikan Cerita Lentera

Kapsul 53: Daftar Film yang diangkat dari Novel Anak-anak

Saya ingin mendaftar beberapa film yang ceritanya diangkat dari novel anak-anak. Rencananya, dalam beberapa pertemuan yang masih sisa di semester dua ini, film-film tersebut akan dinonton dengan terlebih dahulu mereka sudah melihat langsung bukuya dan membaca isinya. Hanya sayang, bahwa tidak semua anak bisa memiliki novel-novel tersebut. Paling hanya gurunya dan beberapa siswa kalau kebetulan bukunya dijual di Kupang. Tapi kalau tidak, mereka hanya bisa mendengar gambaran cerita dari guru. Masakan harus difotokopi? Tidak mungkin, kan.

Berikut beberapa novel tersebut beserta dengan filmnya:

  1. Oliver Twist dari Charles Dickens
  2. To Kill a Mockingbird dari Harper Lee
  3. Chirst the Lord: Out of Egypt dari Anne Rice
  4. Sang Singa, Sang Penyihir dan Lemari dari CS Lewis
  5. Petualangan Tom Sawyer dari Mark Twain
  6. Petualangan Huckleberry Finn dari Mark Twain
  7. Seri Little House dari Laura Ingals
  8. Bersambung… (mata saya sudah cukup berat untuk melanjutkan)

Ngomong-ngomong sementara saya memahatkan beberapa daftar di sini, saya menemukan sebuah proyek dari anak-anak Batchelor Middle School, Bloomington, Indiana. Mereka memainkan cerita Petualangan Tom Sawyer dari Mark Twain dengan luar biasa. Maka itulah film itu saya sematkan di sini biar sekalian bisa dinikmati.

Cuplikan Cerita Lentera

Kapsul 35a: Chapel Siswa SMP Lentera, “Usaha Mencari Jawaban: Kebenaran Allah” 

Job and friends

Saya mendapat tugas menjadi pembicara di chapel siswa SMP Kamis, 1 Maret 2018 dengan tema Usaha Mencari Jawaban: Kebenaran Allah. Bacaannya terambil dari salah satu kitab hikmat yakni Ayub pasal 3 hingga 14 tentang percakapan antara Ayub dan ketiga sahabatnya. Melanjutkan bacaan minggu sebelumnya Ayub pasal 1-2. Jadi ini adalah minggu kedua setelah menyelesaikan Amsal.

Pertama kali melihat jadwal dan tema khotbah, pikiran saya seperti pertama kali melihat pengumuman Penempatan Praktikum Mengajar Pertama sewaktu kuliah. Kaget dan merasa tak berdaya. Syukurnya, hanya terjadi sebentar.

Dua minggu sebelum hari H, ketika Amsal 31 dibahas di chapel, saya pun mulai membaca-baca bagian saya. Seminggu kemudian Kitab Ayub pasal 1-2 oleh partner saya, Ibu Zimry. Rencana saya sudah harus segera dibuat bahan PPT belum juga terlaksana.

Saya masih menikmati di proses membaca. Karena bagian saya cukup panjang dari pasal 3-14, saya pun malas membaca detail ayat-ayatnya. Saya lebih memilih mencari pembahasannya di buku atau internet. Alasannya biar sudah dibantu tafsirannya daripada saya yang harus baca dan caritahu diri. Tapi saya pikir-pikir masakan saya membicarakan sesuatu yang saya sendiri belum baca? Maka dengan itu, saya memutuskan membaca semuanya, niatnya pasal 3-14, tapi saking asyiknya saya sampai lewat, bahkan sempat berpikir akan lebih fokus membahas pasal 16.

Ternyata saya jatuh cinta dengan dialog-dialog itu meski terhadap isinya, saya malah jengkel dengan pandangan-pandangan para sahabat Ayub. Saya kesal sendiri dengan tuduhan sok tahu mereka terkait keadaan Ayub. Tapi bagaimana pun, demikianlah yang ditunjukkan. Keadaan Ayub itu seperti peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga, jatuh lagi tertimpa lagi, jatuh lagi tertimpa lagi, berkali-berkali, hingga rasanya alangkah baik bila tak pernah hidup dan menghirup aroma matahari.

Mungkin saya lebih menikmati membaca dan mencari referensi sampai saya tak sempat mempersiapkan bahan PPT untuk membantu saya dalam khotbah. Mendekati hari H, saya baru mulai mencoba membuatnya. Sayang, karena masih belum yakin, saya pun menyimpannya sementara dan menunda besok saja. H-2 itu niat saya melanjutkan. Tak tahunya, rencana keluarga untuk syukuran wisuda adik fix dibuat. Jelas tak sempat lagi saya buka-buka file untuk melanjutkan. Persiapan rumah tangga meski kecil-kecilan, dan ‘knutu-knutu’ tetap bukan sesuatu yang tidak penting dan boleh ditinggal. Barulah di hari Rabu setelah acara knutu-knutu itu selesai, saya pun menyempatkan diri bersiap. Alhasil saya baru tidur ketika ayam-ayam di kandang dan di kejauhan terdengar saling bersahutan.

Meski merasa sedikit lemah pagi harinya ketika datang dari Penfui ke Naikoten dan sempat merasa khawatir jangan-jangan saya bisa pingsan pagi harinya, saya bersyukur bisa tiba dengan selamat di naikoten dan segera masuk kelas, dan yang penting adalah bahwa firman Tuhan dapat tersampaikan dengan baik. Saya sendiri merasa senang bisa berbagi dengan anak-anak di chapel siswa.

tears

Di chapel kali ini, saya membukanya dengan berbagi cerita pengalaman apa yang pernah membuat saya menangis selama dua minggu, yakni cerita tentang gagalnya saya dalam olimpiade kimia tingkat propinsi sewaktu SMA sehingga saya tak bisa ke Jakarta. Hari ketika saya mendapat pengumuman bahwa saya tidak lolos padahal saya sudah belajar dengan sungguh-sungguh bahkan juga berpuasa, sempat membuat saya berpikir bahwa dunia ini sudah berakhir ‘di sini’. Hidup ini tak ada artinya lagi. Selain pengalaman lama itu, saya punya cerita yang baru saja saya alami dua hari belakangan yang sebagian ceritanya diketahui juga oleh kelas-kelas yang saya masuki hari kemarinnya dan saya merasa terberkati sekali di Sesi Bakar hari itu. Berikut baru saya tanyai apa pengalaman terkait penderitaan yang membuat mereka berpikir seakan-akan dunia berakhir hari itu juga.

Dari sana kami beranjak melihat kisah Ayub. Kisah penderitaan Ayub yang bertubi-tubi itu hingga didatangi para sahabat dan mendebatnya dengan pandangan teologis ngawur mereka. Bagusnya di sini adalah perdebatan dan diskusi mereka itu disajikan dalam bentuk puisi yang ternyata indah luar biasa.

Mengapa og benar menderita

Merujuk kepada tema, Usaha Mencari Jawaban, saya berpikir tentu untuk mencari jawaban, pastilah karena dari sebuah pertanyaan. Maka dari yang ditentukan pasal 3 sampai 14, saya kemudian memilih pasal 10 yang berjudul “Apakah Maksud Allah dengan Penderitaan?” untuk membacakannya dalam bentuk puisi diiringi instrumen Pass Me Not, O Gentle Saviour milik Fanny Crosby.

Sebagai eksegesisis, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan terkait kisah ini antara lain, “Apa maksud Allah dengan penderitaan yang ditimpakan kepada manusia, bahkan kepada orang-orang benar sekalipun?”,Apakah kemalangan selalu merupakan hukuman ilahi atas suatu kesalahan?”

Menjawab pertanyaan semacam itu, ketiga sahabat Ayub berpendapat bahwa kemalangan-kemalangan Ayub adalah bukti bahwa ia pernah melakukan suatu dosa tertentu dan karena itulah ia dijatuhi hukuman. Kata mereka juga, nasib baik selalu merupakan ganjaran ilahi atas perbuatan yang positif, dan bahwa bila Ayub mau membuang apa yang dianggap sebagai dosa-dosanya, dengan segera ia akan kembali bernasib baik.

Saya membaca kalimat-kalimat yang mereka ucapkan, dan terus terang saya sendiri ikut merasa dongkol. Saya membayangkan bagaimana kalau saya yang ada di pihak Ayub, tentu saya akan mengusir mereka pergi jauh-jauh. Sepintar apapun mereka, jelas mereka punya pandagan teologi yang tidak benar. Secara ringkas bisa dibuat perbandingan antara mereka dan iblis sebagai berikut.

Perbandigan teologi iblis dan para sahabat Ayub

Dengan melihat pada teologi ibilis dan para sahabat Ayub yang salah tersebut, lantas apa jawaban yang benarnya?

Sebagai pelaku, Ayub memang tak tahu. Tapi sebagai pembaca, di awal kisah di pasal 1-2, sudah diceritakan bahwa Allah mengizinkan Ayub dicobai. Allah mengizinkan. Itu adalah kedaulatan Allah. Di dalam kedaulatan Allah, penderitaan adalah baik adanya.

Seseorang dikatakan menang apabila ia sudah melewati satu ujian atau tantangan. Ia tidak bisa dikatakan menang apabila hidupnya nyaman-nyaman di dalam kamar saja, bukan? Pembahasan mengenai ini akan lebih kau pahami dengan membaca buku-buku semisal Iman, Penderitaan, dan Hak Asasi Manusia, atau Ujian, Pencobaan, dan Kemenangan, atau Allah, Kebebasan, dan Kejahatan, atau Kedaulatan Allah. Masih banyak lagi buku-buku lain, hanya di sini saya menyebutkan yang sejauh ini sudah saya baca dan masih sempat ingat.

Intinya adalah ujian, pencobaan, dan penderitaan adalah keharusan proses yang mutlak. Diberikan dengan maksud untuk mendapat kemenangan dan konsumasi (penyempurnaan). Dalam hal ini, Kristus, yang adalah Anak Allah pun telah mengalaminya, Ia menjadi contoh dan teladan dalam hal mendapat ujian, pencobaan, dan penderitaan. Kristus adalah teladan segala Zaman. Ia belajar taat hingga menjadi sempurna. Ia menang atas maut, dan di dalam Dia, kita ikut dimenangkan.

3 pertanyaan Ayub

Lanjut melihat ke pasal 14, ada lagi beberapa pertanyaan yang diajukan Ayub yang semuanya bisa dijawab bila seseorang mengenal Yesus Kristus. Pertanyaan itu antara lain seperti yang ditampilkan di samping.

Sekali lagi, jawaban untuk pertanyaan itu jelas ketika seseorang mengenal Kristus, bukan? Di dalam Kristus kita menang, di dalam Kristus kita hidup, di dalam Kristus ada jawaban. Bahkan Ia sendiri pernah berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup”. Apa lagi yang perlu diragukan daripada ini?

Saya teringat dengan sebuah buku yang pernah saya baca berjudul All Truth is God’s Truth atau yang diterjemahkan dengan Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah yang pernah saya buat rangkumannya di blog ini juga -> Rangkuman Buku Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah. Di bagian penutup buku itu, tepatnya di bab 8 dituliskan judul Kristus: Sang Kebenaran.

Dalam pergumulan menghadapi sendiri penderitaanya, Ayub bertanya-tanya mencari jawaban kebenaran meski dalam usaha pencariannya ia tetap tidak berdosa. Jawaban itu sudah ada sekiranya ia mengenal Kristus yang adalah Sang Kebenaran. Jangan kau protes, Bagaimana ia bisa mengenal Yesus sementara Yesus kan baru muncul di PB? Bukan, bukan itu maksudnya. Yesus yang dimaksudkan di sini bukan sekadar satu sosok berdaging yang baru dilahirkan di Betlehem dan dibesarkan di perkampungan Nasaret itu, melainkan lebih kepada Ia yang sudah ada bersama-sama dengan Allah bahkan sebelum dunia dijadikan. Di dalam Dialah terletak jawaban. Di dalam Dialah ada jawaban.

Lagi-lagi saya teringat dengan sebuah lagu lama yang ketika masih kecil sering kami nyanyikan bersama di rumah bersama mama saya yang konon sewaktu muda bersuara sangat merdu. Lagunya berjudul Kala KuCari Damai.

Di dalam buku Iman, Penderitaan, dan Hak Asasi Manusia, tertulis bahwa ketika datang penderitaan yang paling penting adalah bagaimana kita bereaksi kepada Tuhan. Biarlah dengan penderitaan, kita meminta kepada Tuhan agar terus membentuk kita. Baiknya dalam kesulitan dan penderitaan, kita harus mengetahui bahwa:

1. Hari ini bukan hari yang final. Ya, jangan seperti saya yang waktu gagal dalam olimpiade kimia sehingga tak jadi berangkat ke Jakarta itu sudah jadi hari yang final, bahwa dunia sudah berakhir di hari itu. 🙂

2. Tuhan masih ada. Percayalah. Kau tahu seberapa besar percayamu, bukan? Tuhan tidak memberi beban kepada seseorang melebihi kemampuan yang dapat diitanggungnya.

3. Saya tak seorang diri. Jangan percaya bisikan setan bahwa tak seorang pun mengerti..tak seorang pun mengerti.. Kau tahu, bahwa orang yang tak percaya Tuhan sekalipun setidaknya masih percaya bahwa ia tak sendiri maka ia bisa menggaungkan lagu-lagu populer, You are not Alone, masakan kau kalah dan loyo?

4. Penderitaan akan menjadi kemenangan. Ketika kau berhasil melewatinya, bahkan ketika kau hanya sekadar bertahan saja, kau sudah menang. Kau tahu, seseorang tidak bisa dikatakan menang bila ia hidup nyaman-nyaman di dalam kamar yang enak-enak saja, bukan?

Demikian itu 4 poin dari buku tersebut. Saya ingin menambahkan sedikit dari versi saya. Entah versi saya ini pernah saya baca di mana yang jelas bukan murni keluar dari kepala saya, tapi sedikit banyak sudah cukup menolong saya.

1. Jangan melihat kesulitan, penderitaan, atantangan apapun sebagai hal yang “seolah-olah adalah sesuatu yang luar biasa”. Pandanglah bahwa hal itu adalah sesuatu yang biasa, bukan luar biasa. Sesuatu yang mesti terjadi dengan alasan, maksud,dan tujuan tertentu. Pakailah, manfaatkanlah untuk merenung dan bertanya, apa yang mau Tuhan ajarkan padaku dari hal ini atau kejadian ini atau insiden ini. Saya sendiri berkali-kali mengalaminya dan selalu mengajukan pertanyaan ini yang membuat saya merasa jadi lebih tenang dan kemudian bisa tersenyum kembali dan merasa bersyukur meski sebelumnya saya sudah menangis-menangis sampai mata bengkak.

2. Penderitaan/kesulitan/kesesakan hanyalah ‘aksesoris’ biasa dalam kehidupan. Sesuatu yang memang harus ada untuk terus memurnikan imanmu kepada Kristus. Kalau bukan aksesoris, ya sebut saja bumbu kehidupan yang membuat ini jadi berasa hidup. Bayangkan sebuah masakan tidak ada bumbu, kau tahu betapa tawar masakan tersebut dan jadinya tidak enak dicicipi, bukan? Jadi bersyukur sajalah ketika datang penderitaan, kesulitan, kesesakan, dan berbagai ujian itu. Bersyukur bahwa semua itu terjadi sebab Tuhan cinta. Mungkin kau berbuat salah maka Ia menegur, kalaupun tidak salah, maka Ia mau membuatmu semakin murni.

Supaya bahwa kau punya landasanya, bacalah 2 Kor 4:16-18!

Berikut, sebagai penutup. Kau tentu mengenal siapa sosok di bawah ini, bukan?

fanny-crosby
Ya, dia sosok yang salah satu lagunya saya pakai sebagai instrumen pengiring saya baca puisi pasal 10. Dialah nama yang sering tercantum di banyak lagu-lagu Kidung Jemaat, Fanny Crosby. Fanny Crosby mengalami kebutaan gara-gara dokter yang menanganinya tidak bekerja dengan baik. Ia tumbuh besar dengan mata yang buta. Meski buta, ia menghasilkan lebih dari 1000 puisi sekuler dan lebih dari 8000 ribuan syair lagu/kidung pujian kepada Tuhan. Suatu kali ketika ia ditanya seorang pendeta yang merasa iba kepadanya, ia memberi pernyataan yang cukup menyentak. “Bila aku dilahirkan kembali, aku tetap meminta dilahirkan buta. Agar nanti ketika hidupku selesai di bumi, orang yang kupandang pertama kami adalah juruselamatku, Yesus Kristus.” Satu pernyataan yang mengagumkan.

Saya pikir inilah contoh dan maksud dari

Yohanes 9:13. Bahwa ketika seorang menderita, bukan karena kesalahan ia atau orang tuanya semata, melainkan melaluinya juga kerajaan Allah dinyatakan.

Demikian catatan hasil baca-baca dan perenungan yang bisa saya bagikan. Kiranya memberkati.

Demikianlah, berkat memang diberikan bukan untuk dipendam dan dinikmati sendiri, melainkan dibagi sehingga dapat dinikmati juga oleh orang lain dan mereka kemudian melihat bukan kepadamu seorang melainkan kepada Dia sang sumber itu, Sang Kebenaran.