Cuplikan Cerita Lentera

Kapsul 34: Berkat Sesi BaKar 


Merasa terberkati sekali dengan adanya sesi bakar di kelas👍👏🙏😍😚😇. 


Iklan
Cuplikan Cerita Lentera, Cuplikan Cerita UPH

Kapsul 6: Bertemu Pak Parapak dan Ibu Ban Garcia

IMG20180131155526.jpg

Sore tadi sepulang sekolah, kami guru-guru SDH dan SLH berkesempatan bertemu dengan Pak Jonathan Parapak. Beliau adalah rektor UPH di Karawaci Tangerang sekaligus salah satu dari pendiri Perkantas. Dalam pertemuan singkat itu, beliau menyampaikan maksud kedatangan dan beberapa hal terkait perkembangan SDH-SLH di Kupang. Selain mengapresiasi SDH dan SLH yang sudah memberi dampak bagi Kupang, beliau pun menambahkan beberapa pesan selayaknya orang tua kepada anak.

Terkait bapak ini, saya sendiri sebenarnya punya satu kesan khusus.

Pernah suatu kali saya baru saja keluar dari Books & Beyond (waktu itu namanya Times Bookstores) yang terletak di gedung A, satu gedung dengan rektorat, beliau juga baru saja keluar dari lift. Kami berpapasan di pintu keluar gedung A. Beliau berjalan pelan-pelan. Karena tahu beliau menuju gedung asrama, tempat tinggalnya di kampus (kami satu asrama, tapi punya beliau yang VIP tentunya. beda lift), saya pun sengaja berjalan perlahan-lahan. Maksud saya, ya, menemani sekalian siapa tahu bisa mengobrol langsung. Taman kampus tidak terlalu ramai tidak juga terlalu sepi. Jam normal sore, kira-kira pukul 16.00.

Merasa seseorang menguntitnya agak lama belakang, sudah setengah perjalanan, kira-kira 150 meter, beliau menoleh perlahan.

“Mau lebih dulu?” beliau bertanya. Karena saat itu kami sedang berada di setapak tunggal di taman.

Saya menggeleng dan terkekeh saja. “Tidak apa-apa, Pak,” begitu saya bilang.

“Saya jalannya pelan-pelan,” katanya.

Saya tidak tahu mau jawab apa. Jadi saya mempercepat langkah saya bermaksud menjajari langkahnya. Cukup muat ternyata setapaknya. Entah saya yang memulai atau beliau, akhirnya tercapai niat saya. Setelah biasanya hanya bisa mendengar dari mimbar chapel, akhirnya saya bisa mengobrol langsung dengan beliau. Obrolannya tidak berat-berat amat memang, karena hanya berupa basa-basi. Di pelataran depan gedung D, nampak mahasiswa teknologi pangan sedang mengadakan bazar kerak telur dan es goreng. Beliau menawarkan saya singgah melihat-lihat. Karena tak punya uang, dan kesannya sok SKSD juga kalau saya iyakan untuk singgah bersama-sama dengan rektor, saya pun menolak dengan sopan. Beliau singgah menengok bazar, saya melanjutkan perjalanan ke gedung asrama.

Demikian satu kesan saya tentang Bapak Parapak.

Selanjutnya, selesai beliau menyampaikan beberapa pesan kepada guru-guru, karena mesti ada jadwal wawancara dengan satu koran di Jakarta, beliau pun mengembalikan mik.

IMG20180131161651.jpg

Pertemuan dilanjutkan dengan Ibu Ban, seorang pembibing spirirual growth dari UPH. Beliau orang Filipina. Dulu alharhum suaminya yang juga berasal dari negara yang sama, adalah seorang teolog yang cukup berpengaruh di Asia Tenggara, yang juga pengajar di kelas teologi kami. Sepeninggal suaminya, ia masih tetap melayani mahasiswa hingga alumni dari UPH yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia termasuk Kupang.

Ada beberapa hal penting yang disampaikan Ibu Ban Garcia. Dari yang bersifat esensial hingga berupa hal-hal praktis.

Di antara yang disampaikan, ada satu hal yang saya pikir istimewa. Meski itu hanya sempat disinggung saja. Tentang facing a task unfinished. Katanya perlu dibaca. Reflektif sekali. Karena itulah saya mencatat dan segera mencarinya dan mendapatnya. Terima kasih kepada Ibu Ban. Tuhan berkati selalu pekerjaan pelayaannya.

Berikut lagu “Facing a task unfinished” dari youtube dan syairnya yang saya cuplik dari gettymusic.

Facing a task unfinished 
That drives us to our knees
A need that, undiminished
Rebukes our slothful ease
We, who rejoice to know Thee
Renew before Thy throne
The solemn pledge we owe Thee
To go and make Thee known

Where other lords beside Thee
Hold their unhindered sway
Where forces that defied Thee
Defy Thee still today
With none to heed their crying
For life, and love, and light
Unnumbered souls are dying
And pass into the night

We go to all the world
With kingdom hope unfurled
No other name has power to save
But Jesus Christ The Lord

We bear the torch that flaming
Fell from the hands of those
Who gave their lives proclaiming
That Jesus died and rose
Ours is the same commission
The same glad message ours
Fired by the same ambition
To Thee we yield our powers

We go to all the world
With kingdom hope unfurled
No other name has power to save
But Jesus Christ The Lord. 

atau video yang sekalian dengan liriknya:

https://www.youtube.com/watch?v=zOpt_bulJxY

Cuplikan Cerita Lentera

Sharing Buku di Chapel Guru

Sharing buku di sesi kesaksian chapel guru sebelumnya sudah dimulai Ibu Elise Lobo, kepsek kami. Ada dua buku yang ia bagikan di dua waktu yang berbeda. Sayang sekali saya hanya sempat mengingat salah satunya yakni Perjumpaan dengan Salib Kristus yang ditulis oleh Yohan Candawasa. Meski ditulis orang Indonesia dan berbahasa Indonesia, buku ini justru ia beli di Melbourne ketika terpilih sebagai salah satu peserta mewakili guru math SMP di NTT mengikuti program belajar sebulan di sana.

Menurut kesaksiannya, nilai yang ia dapat dari buku tersebut melampaui segala pengalaman dan cerita yang mungkin ia saksikan dari perjalanannya. Bukan sekadar pemandangan, bukan sekadar mencecap aneka rasa masakan, bukan sekadar mempraktekkan Bahasa Inggris, bukan sekadar bertemu orang baru dan bertukar cerita, bukan sekadar bertukar budaya dan menambah wawasan, bukan sekadar metode mengajar baru.

“Saya pikir, saya dibawa Tuhan jauh-jauh ke sana hanya untuk bisa bertemu buku ini,” katanya.

Tepat katanya👌. Saya sebagai rekan kerja sekaligus kawan dekat bisa melihat itu.

***

Hari ini, Selasa, 30 Januari 2018, ada lagi guru yang maju memberi kesaksian berupa sharing buku. Ibu Ria, seorang guru Agama, maju dan berbagi buku yang berjudul Air Mata Pernikahan. Buku tersebut ditulis Billy Kristanto. Dengan gaya khasnya ia mulai mengulas dari bagian sampul buku. Apa makna di balik gambar sambul buku serta latar belakang sampai ia memilih merogoh koceknya demi buku tersebut.

Menurutnya, meski ada beberapa hal penting mengenai isi buku itu, namun ia hanya akan membagikan dua yang paling penting. Sebenarnya saya kurang jelas menangkap maksudnya, jadi saya hanya mencoba menguraikan kembali apa yang terdengar. Pertama, ketika pertama kali Hawa diadakan, keluar pujian dari mulut Adam, kemudian ketika mereka jatuh dalam dosa, justru keluar dari mulut yang sama keluar tuduhan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak ada penyelesaian. Kedua, pernikahan bukan satu-satunya solusi untuk penyelesaian masalah. (kurang lebih begitu). Intinya yang saya tangkap adalah bukan berarti kau sedih dan berpikir menikah agar kau merasa bahagia, atau bukan karena kau selalu merasa kesepian dan berpikir harus menikah agar kau punya teman, atau bukan berarti kau miskin dan berpikir bahwa jalan keluarnya adalah menikah supaya kau bisa kaya (ini contoh versi saya). Bila masalah itu sudah ada dalam dirimu, maka tidak menikah atau menikah pun tetap saja sama. Jadi pernikahan bukanlah satu-satunya yang mesti kita tuju. Pernikahan kita bukan pusat dan inti kehidupan orang percaya. Kalau begitu apa dan bagaimana penyelesaiannya? Jawabannya adalah Kristus. Ia adalah dasar dari pernikahan. Bahwa oleh Kristus, pernikahan sebenarnya adalah melambangkan pernikahan antara Allah dan kita sebagai jemaat-Nya.

Demikian yang bisa saya tulis. Semoga saya tidak salah mendengar karena waktu sharing ini pikiran saya agak melenceng, “Sebentar nanti saya mau buat postingan tentang sharing buku ah..kebetulan hari ini di kelas ada siswa sharing buku, sekarang di chapel guru ada juga guru sharing buku. Lumayan buat postingan baru.” Maka ini akibat yang saya terima gara-gara semangat mau buat postingan baru tapi justru abai dengan materi di depan mata yang diniatkan posting.

Catatan Buku, Cuplikan Cerita Lentera

Sharing Buku di Sesi BaKar

Sharing buku di sesi BaKar ini sudah mulai dilakukan tahun lalu, namun saya baru mulai memahatkannya sekarang. Karena semester ini baru dua orang yang khusus berbagi tentang buku, maka dua orang siswa inilah pembuka untuk edisi sharing buku di sesi BaKar. 

Sharing Buku “Laut Bercerita” 

Sharing buku di kelas 9.1 pada pertengahan Januari 2018 dari seorang siswa bernama Jesicca Rambu Loya. Buku yang ia baca berjudul Laut Bercerita, ditulis oleh Leila S Chudori. Buku ini mengangkat kisah tentang seorang mahasiswa bernama Biru Laut, sahabat, dan keluarganya saat kerusuhan 1998. Selain sinopsis yang ia bagikan, menurutnya ia senang membaca buku ini karena akhirnya bisa sedikit mengetahui kisah-kisah di balik kerusuhan 1998 yang selama ini terkesan ditutup-tutupi dan mungkin tak banyak orang tahu. Namun, ia juga menyayangkan adanya beberapa bagian cerita yang bisa membatasi pelajar SMP untuk membaca buku tersebut.

***

Sharing buku “Natisha” 

Sharing buku berikutnya oleh Silvia Ndapatamu pada hari Selasa, 30 Januari 2018. Buku yang ia baca adalah Natisha oleh Khrisna Pabichara. Buku berlatar Makassar ini menceritakan tentang kisah Tutu, Rangka, dan Natisha. Tidak hanya bercerita tentang kisah cinta yang romantis sebagaimana novel-novel remaja umumnya, namun membaurkan antara pengkhianatan, dendam, dan juga budaya Makassar misalnya ilmu parakang yang bisa membuat kaya, awet muda, kebal, dll.

Sama seperti Jessica, Silvia pun menyukai bagian sejarah dan budayanya, namun menyangkan beberapa cerita yang menurutnya belum bebas dibaca pelajar SMP.

Cuplikan Cerita Lentera

Sesi BaKar (Baca Karya) ala Lentera Kupang

Di kelas 9.1, Jesicca berbagi tentang buku yang dibaca berjudul Laut Bercerita oleh Leila S Chudori, sementara Jovan membaca pantun yang dibuat sendiri

Di kelas, kami ada sesi rutin yang disebut BaKar. Kata BaKar merupakan akronim dari baca karya.

Ceritanya, ketika sesi ini baru awal-awal dimulai, saya sendiri selalu menggunakan kata ‘baca karya’ untuk mengingatkan siswa yang mendapat giliran baca. Hingga suatu hari seorang siswa mengajukan tangannya dan berkata, “Ibu, bagaimana kalau penggunaan kata baca karya ini diganti dengan BaKar, kan artinya masih tetap, baca karya.”

Mendengar itu, sontak saya teringat sesuatu, menyayangkan kenapa saya sendiri tak terpikirkan akronim ini, padahal model-model baca karya atau bicara karya seperti ini di Kupang sudah pernah dibuat dan saya sendiri pernah mengikutinya. Memang sudah cukup lama. Beberapa tahun yang lalu pernah ada pertemuan rutin antara penikmati-penikmat sastra di Kupang. Satu acara bulanan tersebut mereka namai Babasa, yang katanya merupakan akronim dari Baca dan Baomong Sastra. Kegiatan itu baik dan patut diapresiasi. Ia semacam festival kecil-kecilan. Hanya beberapa kali berlangsung, dan kemudian tak terdengar lagi.

Lantas terhadap usulan siswa tersebut, tentu saja langsung disambut baik. Saya menuliskannya di sini sebagai bentuk apresiasi saya terhadap usulan ini. Terima kasih kepada Rick. Sstt..kamu dipakai Dia😊.

Kata BaKar pas sekali di sini. Ia tidak hanya merupakan akronim baca karya, tapi bisa juga berarti membakar semangat seusai SSR dan sebelum memulai pelajaran. Jadi waktu saya yang 90 menit per pertemuan itu, demikian saya pakai untuk SSR, mengisi jurnal baca, dan BaKar sebelum masuk ke materi belajar.

Satu hal yang saya syukuri dari sesi BaKar adalah anak-anak belajar bertanggungjawab sebab mereka sudah tahu kapan giliran mereka dan artinya harus siap, belajar mengapresiasi sebab ketika ada teman berdiri dan membacakan karya di depan itu berarti mereka harua diam dan memperhatikan serta memberi apresiasi tentunya apalagi bagi mereka itu karya yang bagus, serta bisa belajar mengerti. Belajar mengerti karena dari hasil karya mereka bisa dibaca apa yang sedang berenang di benak mereka. Intinya, ada banyak hal positif dan membangun dari sesi BaKar kami di kelas.

Sesi BaKar ini, anak-anak dipersilakan membuat karya tulis apa saja selama itu adalah hasil karya siswa tersebut. Mereka bisa membuat cerpen, puisi, pantun, cerita pengalaman berkesan, sharing buku, sharing film, atau bahkan menampilkan monolog. Meski tidak sebagus dan sekeren para profesional, bagi saya mereka sudah berusaha mengerjakan bagian mereka dengan baik. Ada beberapa karya mereka sudah saya kumpul. Berharap bisa segera dibagikan. Kalau bukan di sini, maka di blog sekolah👌. Doa saya menyertai mereka🙏😇. Imanuel.

Cuplikan Cerita Lentera, Kegiatan Pengembangan Guru

Kegiatan Profesional Development Semester Genap 2017/2018 SLH Kupang

Sudah menjadi program SLH setiap awal semester diadakan profesional development (PD). Pembicara untuk setiap PD bergantian dari Tim Professional Development and Curriculum Enrichment (PDCE) yang dibentuk YPPH maupun dari sister school, sebutan untuk sekolah-sekolah di bawah naungan YPPH baik SDH maupun SDH untuk saling berbagi dengan SLH tertentu.

Bila semester sebelumnya SLH Kupang didatangi Tim PDCE dan SPH Cikarang, maka semester kali ini dari SPH Kemang Village dengan pembicara Ibu Riama Agustina Sinaga dan Ms Laura Dale Lee. Bila semester sebelumnya fokus PD adalah assesment as a blessings, maka kali ini lebih berfokus kepada pendisiplinan siswa dan strategi belajar untuk “struggling learner’.

Mengenai pendisiplinan pada sesi hari pertama, Ibu Agnes dan Ms Laura berbagi tentang perbedaan punishment atau hukuman dan consequences atau konsekuensi. Meski ini bukan lagi sebuah hal baru, tapi menurut beberapa testimoni beberapa guru, PD ini mengingatkan dan menyegarkan kembali akan bentuk pendisiplinan yang selama ini sudah diberikan kepada siswa.

Sebagai guru, penting sekali kita memahami perbedaan dua hal ini agar penerapannya tidak salah kaprah. Dibanding punishment atau hukuman, kenapa tidak sebaiknya yang diberikan kepada siswa adalah konsekuensi. Bahkan pemberian konsekuensi pun, bukan sembarang konsekuensi. Perlu dipertimbangkan dua hal berikut yakni natural consequences atau konsekuensi alami dan logical consequences atau consekuensi logis. Apa maksudnya? Penjelasan berikut mungkin bisa memberi gambaran. Konsekuensi natural yakni konsekuensi sebab akibat atau hasil dari sebuah tindakan yang terjadi secara alami. Contoh: seorang anak sudah diperingatkan mengenai waktu berangkat field trip, tapi kemudian datang terlambat, dan akibatnya adalah ia ditinggal pergi. Dengan demikian si anak belajar, bila saya datang terlambat dari waktu yang sudah ditetapkan, maka saya tidak ditinggal. Saya tidak berangkat bersama-sama dengan teman saya. Konsekuensi logis yakni akibat yang diterima dari suatu tindakan melanggar peraturan atau kesepakatan. Akibat atau konsekuensi tersebut harus bisa diterima, maauk akal, dan berhubungan dengan perilaku tersebut. Contoh: seorang anak yang sudah bersepakat dengan orang tua akan bermain PS hanya selama sejam sehari, melewatkan hingga dua jam, maka jatah main hari besoknya tidak boleh dipakai. Demikian sedikit catatan dari kegiatan PD hari pertama.

Mengenai strategi untuk ‘struggling learner’, sebutan untuk mengganti ‘slow learner’ atau pelajar yang lambat, pada hari kedua, Ibu Agnes dan Ms Laura membagikan banyak cerita terkait hal ini terutama tentang pentingnya persiapan guru. Satu hal menarik yang ditunjukkan yang bisa menjadi contoh adalah penggunaan attractive notebooks.

Penggunaan attractive notebooks hanyalah salah satu cara membuat siswa yang digolongkan dalam ‘struggling learner’ agar lebih menikmati belajar. Ada masih banyak cara lain yang bisa dipelajari di buku-buku tentang strategi mengajar atau di internet terutama yang direkomendasikan sekali adalah pinterest. Hanya perlu diingat bahwa tidak semua metode dan strategi mengajar di sana dijiplak mentah-memtah untuk diterapkan. Kau boleh mempelajari contoh-contoh di sana, pelajari, baru sesuaikan dengan situasi kelasmu sendiri👌💪. 

Bersyukur bahwa untuk PD kali ini, SLH tidak sendiri. Tapi beberapa perwakilan guru dari sekolah-sekolah tetangga yang berada di bawah naungan Yapenkris Nehemia Kupang juga ikut diundang. Sekolah tersebut antara lain SMA Kristen 1 Kupang, SMK Kristen 1 Kupang, dan SMK Kristen 2 Kupang. Berharap, bapak/ibu guru tersebut bisa memperoleh hal bermanfaat dari kegiatan PD SLH Kupang ini dan membagikannya kepada sekolah masing-masing. Soli Deo Gloria.