Cuplikan Cerita UPH, God's Story

Kapsul 21: Buku “Living His Story”

Buku berisi kumpulan refleksi dari para alumni ini diterbitkan tahun 2017 lalu dalam rangka Dies Natalis ke-10 Teachers College UPH.

Saya lupa buku itu saya dapat lewat siapa. Saya hanya ingat bahwa para penulis dijanjikan mendapat satu jilid ketika terbit. Entah bagaimana buku itu bisa sampai di tangan saya, saya tak ingat persis.

Saya hanya sempat membaca beberapa tulisan di dalamnya, kemudian entah terselip di mana, saya sama sekali tak pernah melihatnya lagi. Saya pun jadi lupa kalau saya pernah ikut menyumbang tulisan untuk buku itu. 

Baru hari ini, sementara para siswa kelas 9 mengikuti simulasi UNBK dan kami para guru jadi punya waktu lowong, saya iseng-iseng berkunjung ke perpustakaan mini salah satu kelas. Barulah di sana saya melihat buku ini terjepit di antara buku-buku bacaan siswa lainnya. Selain terjepit, bagian tepinya juga sudah berdebu. Kelihatan sekali buku ini sudah lama tak dibaca. Kasihan dia😟. Tak menunggu lama, langsung saja saya amankan😉😊. 

Terima kasih kepada Dia, Sang Pembuat Cerita😘🙏😇. 

Iklan
Cuplikan Cerita UPH, Kegiatan Seni dan Budaya

Bertemu Ayu Utami

Di Times Bookstore UPH Karawaci. Terima kasih kepada sang pemotret, seorang kawan saya yang sudah saya lupa siapa. saya sedang berusaha mengingat-ingat. yang jelas ia berjasa sekali memakai kamera hp-nya mengabadikan momen ini kemudian mengirimkannya pada saya😊🙏

Cerita pertemuan pertama.

Saat itu saya sedang tidur. Setengah sadar setengah pulas. Tiba-tiba datang kawan saya, orang Toraja, Arni namanya. Membangunkan saya tergesa-gesa dan bilang, “Mace, cepat kau bangun. Segera ke Times. Ada Sri Utami di sana.” Saya kaget bangun.

Sri Utami? Memangnya kenapa dengan Sri Utami? Sri Utami adalah salah satu kawan kamar saya di tahun pertama sewaktu kami di kamar 3805 dan saat itu kami sudah beda kamar beda lantai. Apa istimewanya dia kalai sekarang dia lagi di sana.

“Itu Sri Utami yang penulis itu. Cepat.” Ia sendiri kelihatan tak sabar.

Saya bangun ogah-ogahan. Maunya terus tidur karena saya baru saja pulang SOW di perpustakaan. Saya masih belum mengerti hubungan antara nama Sri Utami dan penulis. Setelah bangun dan mulai mikir-mikir, baru saya tiba-tiba teringat. Jangan-jangan Ayu Utami, penulis novel Saman.

Kebetulan juga kawan saya, Sri Utami, membuat nama akun facebooknya dengan nama Ayu Utami, meski hampir semua kawan fasih mengingat namanya adalah Sri Utami. Saya menjadi yakin. Pasti Ayu Utami. Kawan saya ini mungkin antara kabur-kabur mendengar nama penulis itu dengan kawan kami, Sri di kampus.

Segera dengan cepat saya bergerak turun. Tak sempat mandi lagi. Hanya mencuci buku dan mengambil sembarang baju di lemari dan segera berlari ke luar asrama menuju times bookstore yang ada tepat di gerbang kampus.

Saya tiba dengan napas tinggal satu-satu. Masuk melalui pintu belakang toko twntunya Ternyata acaranya sudah usai. Tinggal kursi-kursi kosong berbalutkan kain putih yang elegan. Orang-orang sementara mengbrol satu sama lain. Nampak di bagian depan, ada orang berkerumun. Nah, itu dia. Pasti itu sang tamu yang sedang dikerumuni. Siapa laginkalau bukan dia. Saya menunggu dari jauh sambil berkeliling melihat-lihat buku yang dipajang saat itu. Cukup lama sampai kerumunan itu pelan-pelan berkurang.

Tinggal seorang bapak. Saya yakin itu pasti staf UPH kalau bukan maka dosen (yang jelas bukan dosen TC), dilihat dari pakaian yang ia kenakan. Saya mencoba mencuri dengar apa pertanyaannya, biar saya bisa belajar kalimat apa yang kira-kira akan saya pakai untuk jadi kalimat pertama saya menyapa sang penulis.

Saya mendengar ia kurang lebih bertanya demikian, “Mbak, saya ini masih kagum dengan cara Mbak menulis Saman. Apa yang ada di benak Mbak ketika menuliskannya?” Saat itu saya begitu kagum mendengar pertanyaannya. Dan kemudian karena sibuk memikirkan kalimat apa yang akan saya ucapkan kepada sang penulis, saya tidak memperhatikan apa jawaban Mbak Ayu kepada bapak tersebut.

Perbincangan dengan bapak itu selesai. Tinggal Mbak Ayu dengan beberapa staf Times Bookstores. Saya baru kemudian mendekat. Memperkenalkan diri dan meminta maaf kalau saya saya baru datang sehingga tak sempat mengikuti dari awal. Lantas, entah bagaimana yang saya tanyakan adalah bagaimana Mbak Ayu bisa memutuskan menjadi penulis, apakah sudah merupakan cita-cita dari kecil ataukah pernah ingin menjadi sesuatu baru kemudian beralih menjadi penulis. Yang saya ingat dari jawaban Mbak Ayu adalah cita-citanya sebelumnya adalah ingin menjadi pelukis. Tapi karena beberapa hal ia kemudian mengambil studi sastra dan merambah juga ke dunia jurnalis yang di tengah-tengahnya ia menulis buku itu.

Entah percakapan apa lagi atau mungkin hanya itu saja, saya kemudian mengambil satu buku yang saat itu dipajang, membayarnya di kasir, meminta tanda tangannya, dan foto bersama. Selesai hari itu,  dan saya merasa ada yang mekar dalam diri saya.

Pertemuan kedua, terjadi di tahun 2015. Ayu Utami dari Komunitas Salihara bersama Hivos menjadi sponsor utama festival pertama Komunitas Sastra Dusun Flobamora di Kupang. Karena saya bergabung dalam komunitas ini, maka tentu saja selama kurang lebih tiga hari di Kupang, meski tak intens karena hari-hari itu adalah hari-hari sekolah, pasti saya sempatkan diri datang ke festival terlibat dalam festival ini.

Sumber gambar: bilanganfu

Rasa senang saya dobel karena kedatangan Mbak Ayu Utami di Kupang ini, anak-anak murid saya di SMP-SMA Lentera Harapan Kupang pun bisa bertemu dan belajar berama Ayu Utami. Itu tepat berlangsung di hari kedua festival, Mbak Ayu menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan workshop menulis kreatif. Bahkan foto bersama mereka diunggah Mbak Ayu dalam satu akun media sosialnya.

 

Pertemuan ketiga inilah yang berlangsung di Salihara, tempat bergiat Mbak Ayu Utami dan rekan-rekannya.

Cuplikan Cerita Lentera, Cuplikan Cerita UPH

Kapsul 6: Bertemu Pak Parapak dan Ibu Ban Garcia

IMG20180131155526.jpg

Sore tadi sepulang sekolah, kami guru-guru SDH dan SLH berkesempatan bertemu dengan Pak Jonathan Parapak. Beliau adalah rektor UPH di Karawaci Tangerang sekaligus salah satu dari pendiri Perkantas. Dalam pertemuan singkat itu, beliau menyampaikan maksud kedatangan dan beberapa hal terkait perkembangan SDH-SLH di Kupang. Selain mengapresiasi SDH dan SLH yang sudah memberi dampak bagi Kupang, beliau pun menambahkan beberapa pesan selayaknya orang tua kepada anak.

Terkait bapak ini, saya sendiri sebenarnya punya satu kesan khusus.

Pernah suatu kali saya baru saja keluar dari Books & Beyond (waktu itu namanya Times Bookstores) yang terletak di gedung A, satu gedung dengan rektorat, beliau juga baru saja keluar dari lift. Kami berpapasan di pintu keluar gedung A. Beliau berjalan pelan-pelan. Karena tahu beliau menuju gedung asrama, tempat tinggalnya di kampus (kami satu asrama, tapi punya beliau yang VIP tentunya. beda lift), saya pun sengaja berjalan perlahan-lahan. Maksud saya, ya, menemani sekalian siapa tahu bisa mengobrol langsung. Taman kampus tidak terlalu ramai tidak juga terlalu sepi. Jam normal sore, kira-kira pukul 16.00.

Merasa seseorang menguntitnya agak lama belakang, sudah setengah perjalanan, kira-kira 150 meter, beliau menoleh perlahan.

“Mau lebih dulu?” beliau bertanya. Karena saat itu kami sedang berada di setapak tunggal di taman.

Saya menggeleng dan terkekeh saja. “Tidak apa-apa, Pak,” begitu saya bilang.

“Saya jalannya pelan-pelan,” katanya.

Saya tidak tahu mau jawab apa. Jadi saya mempercepat langkah saya bermaksud menjajari langkahnya. Cukup muat ternyata setapaknya. Entah saya yang memulai atau beliau, akhirnya tercapai niat saya. Setelah biasanya hanya bisa mendengar dari mimbar chapel, akhirnya saya bisa mengobrol langsung dengan beliau. Obrolannya tidak berat-berat amat memang, karena hanya berupa basa-basi. Di pelataran depan gedung D, nampak mahasiswa teknologi pangan sedang mengadakan bazar kerak telur dan es goreng. Beliau menawarkan saya singgah melihat-lihat. Karena tak punya uang, dan kesannya sok SKSD juga kalau saya iyakan untuk singgah bersama-sama dengan rektor, saya pun menolak dengan sopan. Beliau singgah menengok bazar, saya melanjutkan perjalanan ke gedung asrama.

Demikian satu kesan saya tentang Bapak Parapak.

Selanjutnya, selesai beliau menyampaikan beberapa pesan kepada guru-guru, karena mesti ada jadwal wawancara dengan satu koran di Jakarta, beliau pun mengembalikan mik.

IMG20180131161651.jpg

Pertemuan dilanjutkan dengan Ibu Ban, seorang pembibing spirirual growth dari UPH. Beliau orang Filipina. Dulu alharhum suaminya yang juga berasal dari negara yang sama, adalah seorang teolog yang cukup berpengaruh di Asia Tenggara, yang juga pengajar di kelas teologi kami. Sepeninggal suaminya, ia masih tetap melayani mahasiswa hingga alumni dari UPH yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia termasuk Kupang.

Ada beberapa hal penting yang disampaikan Ibu Ban Garcia. Dari yang bersifat esensial hingga berupa hal-hal praktis.

Di antara yang disampaikan, ada satu hal yang saya pikir istimewa. Meski itu hanya sempat disinggung saja. Tentang facing a task unfinished. Katanya perlu dibaca. Reflektif sekali. Karena itulah saya mencatat dan segera mencarinya dan mendapatnya. Terima kasih kepada Ibu Ban. Tuhan berkati selalu pekerjaan pelayaannya.

Berikut lagu “Facing a task unfinished” dari youtube dan syairnya yang saya cuplik dari gettymusic.

Facing a task unfinished 
That drives us to our knees
A need that, undiminished
Rebukes our slothful ease
We, who rejoice to know Thee
Renew before Thy throne
The solemn pledge we owe Thee
To go and make Thee known

Where other lords beside Thee
Hold their unhindered sway
Where forces that defied Thee
Defy Thee still today
With none to heed their crying
For life, and love, and light
Unnumbered souls are dying
And pass into the night

We go to all the world
With kingdom hope unfurled
No other name has power to save
But Jesus Christ The Lord

We bear the torch that flaming
Fell from the hands of those
Who gave their lives proclaiming
That Jesus died and rose
Ours is the same commission
The same glad message ours
Fired by the same ambition
To Thee we yield our powers

We go to all the world
With kingdom hope unfurled
No other name has power to save
But Jesus Christ The Lord. 

atau video yang sekalian dengan liriknya:

https://www.youtube.com/watch?v=zOpt_bulJxY

Cuplikan Cerita Lentera, Cuplikan Cerita UPH

Cerita Pertama Kali Praktikum Mengajar atau PPL 1 di SDH Lippo Karawaci

Saya teringat pengalaman ini ketika di kegiatan Profesional Development (PD) buat guru-guru SMP/SMA Lentera Harapan Kupang hari ini, Ibu Agnes sempat berbagi pengalamannya pertama kali mengajar di SPH Kemang Village di mana dengan mesti berbahasa Inggris.

Ibu Agnes, guru SPH Kemang Village, membawakan materi PD hari pertama di aula SMA Lentera Harapan Kupang, Kamis, 25 Januari 2018

Pengalaman saya ini terjadi antara bulan September-Oktober 2008. Kami mahasiswa semester 3 di UPH Teachers Colege mesti menjalankan praktikum pertama. Praktikum ini akan dilaksanakan selama 2 minggu di bulan Oktober. Awal masuk semester 3, kami sudah menunggu dengan was-was. Bertanya-tanya, di sekolah manakah nanti saya akan ditempatkan, kelas berapa, mata pelajaran apa, seperti apa situasi kelasnya, siswa-siswinya, guru mentornya, dsb.

Hari mendebarkan itu tiba. Sore-sore, heboh anak-anak saling mengabarkan via SMS, penempatan praktikum mahasiswa/i semester 3 sudah ditempel di papan pengumuman. Saya yang sementara berada di tempat SOW di lapangan basket meski ingin sekali segera ke sana tapi berhubung jam kerja belum selesai maka mau tak mau harus menahan diri dan hanya bisa menerka-nerka. Begitu jam kerja selesai, saya langsung bergerak cepat ke TC hall,  begitu kami menyebut satu ruangan besar di lantai 6 gedung B yang menjadi area tempat segala aktivitas Techers College berlangsung.

Di sana, tepatnya di depan papan pengumuman, masih terlihat banyak anak berkerumun. Anak-anak kelas 2IMMI banyak juga uang di sana. Salah satu di antara kerumunan itu yang saya masih ingat jelas adalah Elise, kawan sekamar saya di 3805, yang sekarang adalah kepsek ki di SMP LH Kupang. Tak sabar saya mendelati kerumunan itu. Ikut berdesak-desakan di dalamnya.

Setelah melalui perjuangan yang cukup berat karena ukuran saya yang pendek, saya akhirnya bisa melihat nama saya. Sekolah tempat praktikum: SDH Lippo Karawaci, kelas: 8, mata pelajaran Agama dan Bahasa Inggris, mentor: Sebut saja Ibu Novie (saya lupa nama belakangnya) . Mendapati yang info mata pelajaran itu, saya lemas seketika itu juga. Kedua mata pelajaran itu masalahnya, terutama Bahasa Inggris. Di SDH Lippo Karawaci pula, yang mana kami tahu di sekolah itu rata-rata anak berbicara bahasa Inggris sebagaimana anak-anak Indonesia berbicara Bahasa Indonesia. Saya lemas karena saya pun sangat tahu kemampuan saya dalam berbahasa Inggris saat itu, semester 3, baru setahun lebih telinga ini akrab dengan yang namanya Bahasa Inggris.

Saya ingat sekali dalam keadaan lemas itu saya hanya berdiri diam, tak berkata apa-apa, tak bergerak dan tak bergeser pun. Hanya diam di tempat lalu tak lama kemudian seperti baru sadar saya kembali melihat lagi, apakah benar saya tak salah membaca? Namun, lagi-lagi tak ada yang salah. Itu sudah benar apa yang terpampang.

Elise, waktu itu sempat menengok ke arah saya dan mungkin mendapati muka saya yang pucat, kemudian ia pun mencoba menengok nama saya. Baru di sana ia mengerti. Ia tahu, pasti Bahasa Inggris yang membuat saya shock dan terlihat lemas itu. Mengerti situasi itu, ia pun mengatakan beberapa patah kata yang intinya adalah apa yang sudah terpampang di sini jelas tak bisa diubah lagi, tentu sudah direncanakan, Tuhan pasti maksud tertentu di balik itu, terima saja dan persiapkan diri. Kalau Tuhan punya maksud tertentu, pasti Ia bantu. Pasti bisa dilewati. Kata-katanya memang bekerja dengan baik. Meski masih ada ragu dan bertanya-tanya diam-diam, saya pun mulai menerima tugas itu dan mulai mempersiapkan diri. Meski apa sih kemajuan yang bisa didapat dalam waktu dua minggu? Tak banyak. Karena kau kan tudak seharian saja berada di kamar untuk hanya belajar. Kuliah, SOW, semua kegiatan kerohanian masih berjalan normal. Hanya bisa di sela-sela waktu itulah saya menyempatkan diri membaca buku mengenai Bahasa Inggris di perpustakaan, mencari bahan atau materi-materi pelajaran bahasa inggris kelas 8 di internet, mendengarkan kaset /CD Bahasa Inggris di ruang audio-visual, begitu saya menyebut satu ruangan khusus di lantai 4 samping perpustakaan, atau malam-malam sebelum tidur saya menyetel chanel radio yang berbahasa Inggris. Begitu intens saya mempersiapkan diri selama dua atau tiga minggu itu meski nyatanya tak begitu banyak perkembangan berarti.

Hari mendebarkan itupun tiba. Kami satu tim SDH Lippo Karawaci berangkat pagi-pagi hari dengan angkot carteran. Jaraknya tak begitu jauh, paling antara satu sampai dua kilometer, tapi karena menghindari macet di daerah Islamic Center dan jalan Imam Bonjol tempat bis-bis yang pulang pergi area Jakarta, kami memilih berangkat pagi-pagi sekali.

Sekolah tersebut berada di lingkungan perumahan yang cukup asri. Perumahan Lippo tentunya. Sekolah juga masih sepi ketika kami tiba di sana. Hanya ada security yang pertama-tama menyambut kami. Karena masih sepi,  kami bebas dan dengan leluasa berjalan mengelilingi area sekitar sekolah. Sambil melihat-lihat sambil menerka-nerka. Seperti apakah kira-kira anak-anak di sana?

Beberapa lama kemudian, satu per satu anak pun mulai datang, demikian juga guru-gurunya. Anak-anak ini, tampaknya mereka manis-manis. Melihat kami, mereka memberi salam dan berlalu menuju kelas masing-masing. Mereka tampak tenang-tenang saja. Pikir saya sebelumnya, mereka akan terkejut melihat masih pagi sudah ramai orang berkumpul di sekolah. Tapi tidak. Laku mereka biasa saja. Mungkin karena sudah SMP dan SMA, mereka tampak tenang, lebih dewasa, dan lebih tahu bagaimana bersikap.

20 menit sebelum pukul 07.00, kami diminta berkumpul di satu ruangan, beda SMP dengan SMA, untuk devosi pagi sekaligus penyambutan dan perkenalan. Di situ kami pun dipertemukan dengan mentor masing-masing. Ibu Novie, seorang yang masih muda. Ketika mengetahui saya orang Kupang, ia pun bilang kalau salah satu orangnya juga adalah orang Flores. Saya agak lupa-lupa ingat, entah itu bapaknya atau ibunya. Ibu Novie adalah mentor saya untuk mata pelajaran bahasa Inggris. Karena ia juga adalah wali kelas 8b, maka saya pun ditempatkan berada di ruangan itu. Sementara untuk pelajaran Agama, saya mendapat mentor Ibu Ullie. Beliau seorang Batak. Juga wali kelas 8. Minggu pertama saya full mengikuti Miss Novie di pelajaran Bahasa Inggris. Seminggu berikutnya barulah saya bersama Ibu Ullie untuk pelajaran agama.

Minggu pertama berjalan baik. Begitupun minggu kedua. Namun dari dua minggu di kelas berbeda itu, banyak hal yang membuat kaya itu justru saya alami di pelajaran Bahasa Inggris. Pengalaman ini baiklah saya ceritakan di postingan berikut.

Cuplikan Cerita Lentera, Cuplikan Cerita UPH, Merayakan Keseharian

Mengawas USM

Salah satu hal paling menyenangkan dari engkau menjadi guru adalah kau duduk saja tapi dianggap mengerjakan tugas mulia😄😅.  

Memang menyedihkan kalau kau bekerja di saat seharusnya libur. Hanya kalau selama pekerjaan itu adalah mengawas anak-anak yang sementara mengikuti tes (di sini anak-anak mengikuti USM UPH), maka mari. Saya siap. 

Cuplikan Cerita UPH, God's Story, Refleksi

Menonton “When the fashion model met the designer – Sydney – talk” di YouTube

Awalnya saya hanya buka youtube dengan maksud ingin melanjutkan tontonan kemarin tentang reformasi. Ternyata dari beberapa video yang nongol ada tertulis nama Tracy Trinita.

Nama ini tidak asing. Sebab beliau adalah salah satu dosen semasa kami kuliah di Teachers College UPH Lippo Karawaci. Beliau seorang dosen teologi waktu itu.

Semula ketika baru pertama kali beliau bergabung di Teachers College, kakak-kakak angkatan dan beberapa kawan heboh. Mereka seperti melihat dewi dari khayangan turun ke bumi. Saya sendiri merasa biasa-biasa saja. Toh, bukankah orang-orang di UPH itu rata-rata begitu perawakannya.

Ternyata, bukan itu yang mereka hebohkan. Bukan perawakannya yang tinggi atau cantik wajahnya yang membuat mereka heboh luar biasa. Ini tentang latar belakangnya.

Apa latar belakangnya, saya tanya. Model, kata mereka. Oh, memangnya kenapa kalau model. Saya memang kuper kalau tentang yang begituan. Kau tidak tahu? itu modelbukan model biasa. Sudah model internasional kali dia itu. Model berkelas. Sudah melanglang buana jadi model di NY dan Paris sana. Dan sekarang, dia jadi dosen kita di TC. Dosen teologi. Bayangkan, seorang model internasional jadi dosen teologi.

Saya manggut-manggut walau tak bisa ikut terpesona dengan berita yang saya dengar. Mungkin karena walau namanya mentereng, saya yang memang kurang mengenal. Ya, iyalah…memangnya sejak kapan saya tertarik melihat wajah model-model. Kalaupun mungkin wajahnya pernah nongol di majalah remaja contohnya Aneka Yes yang dulu sewaktu SMA sempat beberapa kali saya beli, saya pasti tak memperhatikan karena memang lebih tertarik dengan cerita-cerita di dalam majalah itu.

Singkat cerita, beliau memang sempat beberapa lama berada bersama kami di TC UPH. Beliau memang tidak mengajar di kelas saya tepatnya, tapi beliau sering ada bersama kami dalam beberapa kegiatan terutama yang berkaitan dengan kelas teologi. Beliau berbaur bersama kami para mahasiswa untuk berdiskusi. Kerendahan hatinya dan semangatnya berbagi terpancar dari wajah dan setiap gerak-geriknya. Saya waktu itu nyaris tak percaya kalau beliau pernah menjadi model internasional.

Saya sempat penasaran dan ingin mencari tahu bagaimana bisa beliau yang sudah menjadi model keren beken itu bisa memutuskan belajar teologi lantas menjadi penginjil dan pengajar. Tapi rasa penasaran saya hanya sampai di situ dan tidak saya lanjutkan dengan mencari tahu.

Baru malam ini, kurang lebih tujuh atau delapan tahun kemudian, tanpa sengaja nongol namanya di tampilan lembar pertama youtube yang saya buka. Baru pertama kali inilah saya dengar kesaksiannya tentang alasan ia berpindah haluan dari seorang model keren beken di jagad internasional menjadi seorang penginjil.

Walau terlambat, saya bersyukur baru malam ini saya mendengar kesaksiannya. Sebab dengan inilah saya bisa mengerti betul bagaimana pergumulannya dan mendukung dan mengagumi keputusannya. Sebuah keputusan besar dan memang teramat penting dalam kehidupan manusia.

Beberapa hari lalu, saya baru (walau sudah lama dan berulang-ulang saya diperdengarkan) disingkap tentang apa yang paling penting dalam hidup dan apa yang adalah sampah di dunia. Ternyata selama ini saya terlalu larut dalam kebodohan saya namun anehnya saya malah bangga. Kau tahu, saya bergetar ketika mendapati hal ini. Saya merinding. Sebab apa? Sebab saya tahu, sedikit lagi saja, pasti saya jatuh ke lubang yang paling kelam. Sujud syukur, Tuhan menangkap saya sebelum terlanjur jatuh. Sungguh, Tuhan luar biasa. Tuhan maha besar. Terpujilah Nama-Nya.

 🙏😇😊

Cuplikan Cerita UPH, Refleksi

Berjalan Naik Melalui Eskalator Turun

Membaca cerita Etgar Keret yang bagian ini, saya jadi teringat satu pengalaman saya ketika di UPH. Saat itu saya dan seorang kawan mau berkunjung ke perpustakaan kampus. Pintu perpustakaan kampus kami itu terletak di lantai 3 gedung C. Untuk sampai ke sana orang bisa menggunakan lift atau bisa juga lewat eskalator.

Waktu itu tepat hari Sabtu. Sesudah menikmati makan pagi di FJ, kami pun berjalan menuju perpustakaan. Memang karena hari Sabtu, maka keadaan sekitar kampus sepi. Paling yang berkeliaran di sekitar kampus hanyalah kami para mahasiswa asrama dan para security atau satu-dua mahasiswa lain yang datang.

Di lantai dasar, entah liftnya aktif atau tidak,  seingat saya dua eskalator di gedung C sementara berjalan sesuai fungsi masing-masing.  Satunya naik, ya, satunya turun.

Melihat keadaan sekitar yang sepi,  saya mengajak bahkan menantang kawan yang bersama saya untuk mencoba berjalan naik melalui eskalator yang bergerak turun.  Ia tidak mau. Saya mendesaknya agar berdua kami mencoba.  Ia tetap tidak mau dan bilang,  “Sudah, kalau berani, kau saja yang jalan.”

Baiklah,  saya bilang.

Saya pun berdiri di ujung eskalator dan mulai mengamat-amati.  Saya mencoba membayangkan kira-kira seperti apa rasanya berjalan naik di atas eskalator yang bergerak turun.  Saya melihat sepertinya mudah saja dan tidak terlalu sulit. Toh,  kita hanya berjalan naik seperti menaiki tangga biasa.

“Ayo,  lewat sini saja.  Tak usah cari masalah,” kawan saya bergerak sudah mau menaiki eskalator satunya lagi yang bergerak naik.  Mungkin ia melihat saya yang masih merenung, mungkin dipikirnya saya ragu melaksanakan niat saya.

“Kau tunggu saja di sini dan lihat saya sampai di atas,” begitu saya bilang padanya.

Ia tertawa. Dari tawanya ia yakin saya tidak sedang bersungguh-sungguh. 😀

Tidak menunggu lama lagi, saya  seret kaki kanan saya ke salah satu anak tangga eskalator yang bergerak konsisten tersebut. Begitu saya berada di sana, baru saya tahu, ini tidak mudah memang. Saya harus bergerak cepat. Lebih cepat dan harus cepat. Bahkan sudah lebih cepat dan makin cepat pun, rasanya lama sekali untuk mencapai puncak. Saya terengah-engah. Ingin rasanya berhenti sejenak baru melanjutkan lagi.

Tapi tidak bisa. Kalau kau berhenti, kau bisa-bisa turun lagi ke bawah dan kalah (kalau tidak pusing dan jatuh lalu terjepit dan apa yang terjadi selanjutnya kau tanggung sudah).

Maka,  mau tidak mau, meski terengah-engah, saya mesti memacu diri saya untuk terus merangkak naik. Harus. Tidak bisa tidak. Demikianlah yang saya lakukan. Sambil bergerak naik, kau tahu, rasanya saya dan Tuhan dekat sekali (maksudnya, sama seperti menurut cerita Jem dan Scout kepada Bill dalam To Kill a Mockingbird, supaya terhindar dari bertemu ‘uap panas’ ketika sedang berjalan sendirian di malam hari, orang2 Maycom perlu mengucapkan mantera ala Maycomb)  😀 Alhasil, saya sampai juga di ujung eskalator lantai 2.

Dari sana, dengan pandangan yang mengabur karena pusing, saya melihat kawan saya di bawah tertawa terbahak-bahak.  Memang betul katanya, saya hanya cari masalah. Soalnya sesampainya kami di ruang perpustakaan yang keren itu, saya tak bisa berkonsentrasi mengerjakan tugas yang dari semalam sudah saya rencanakan harus selesai di hari itu…   😀

Demikian secuplik kisah pengalaman konyol. Saya tidak mau bilang bodoh..(:D), sebab hanya dengan begitu setidaknya saya pernah punya pengalaman unik untuk mengomentari sebuah adegan kecil dalam cerita penulis Israel ini…:D.

Kemudian katanya lagi tentang “Just like in life”. Maksudnya berjalan naik melalui eskalator yang bergerak turun benar-benar menggambarkan kehidupan kita sebagai manusia di muka bumi. Eskalator menggambarkan arus kehidupan yang terus berjalan. Kita tidak bisa hanya duduk berdiam diri, menunggu, dan menonton. Kita juga tidak bisa berlambat-lambat (ini saya bicara untuk diri saya..:D) Sebab kalau seperti itu yang kau lakukan, maka yang ada adalah kau mati.

Jadi, ketika kau dibawa keluar menghirup aroma bumi, sama dengan kakimu sudah ditempatkan pada anak tangga eskalator yang konsisten bergerak turun itu. Jangan lagi menoleh ke belakang seperti istri Lot. Kau harus memacu dirimu terus bergerak. Mau tak mau.  Meski terengah, teruslah merangkak.  Cepat dan jangan berlambat-lambat.  🙂 🙂  Perumpaan ini hanyalah versi saya.  Jauh dari sempurna tentunya. 🙂