Berjalan Naik Melalui Eskalator Turun

Membaca cerita Etgar Keret yang bagian ini, saya jadi teringat satu pengalaman saya ketika di UPH. Saat itu saya dan seorang kawan mau berkunjung ke perpustakaan kampus. Pintu perpustakaan kampus kami itu terletak di lantai 3 gedung C. Untuk sampai ke sana orang bisa menggunakan lift atau bisa juga lewat eskalator.  

Waktu itu tepat hari Sabtu. Sesudah menikmati makan pagi di FJ, kami pun berjalan menuju perpustakaan. Memang karena hari Sabtu, maka keadaan sekitar kampus sepi. Paling yang berkeliaran di sekitar kampus hanyalah kami para mahasiswa asrama dan para security atau satu-dua mahasiswa lain yang datang. 

Di lantai dasar, entah liftnya aktif atau tidak,  seingat saya dua eskalator di gedung C sementara berjalan sesuai fungsi masing-masing.  Satunya naik, ya, satunya turun.  

Melihat keadaan sekitar yang sepi,  saya mengajak bahkan menantang kawan yang bersama saya untuk mencoba berjalan naik melalui eskalator yang bergerak turun.  Ia tidak mau. Saya mendesaknya agar berdua kami mencoba.  Ia tetap tidak mau dan bilang,  “Sudah, kalau berani, kau saja yang jalan.” 

Baiklah,  saya bilang. 

Saya pun berdiri di ujung eskalator dan mulai mengamat-amati.  Saya mencoba membayangkan kira-kira seperti apa rasanya berjalan naik di atas eskalator yang bergerak turun.  Saya melihat sepertinya mudah saja dan tidak terlalu sulit. Toh,  kita hanya berjalan naik seperti menaiki tangga biasa. 

“Ayo,  lewat sini saja.  Tak usah cari masalah,” kawan saya bergerak sudah mau menaiki eskalator satunya lagi yang bergerak naik.  Mungkin ia melihat saya yang masih merenung, mungkin dipikirnya saya ragu melaksanakan niat saya.  

“Kau tunggu saja di sini dan lihat saya sampai di atas,” begitu saya bilang padanya.  

Ia tertawa. Dari tawanya ia yakin saya tidak sedang bersungguh-sungguh. 😀

Tidak menunggu lama lagi, saya  seret kaki kanan saya ke salah satu anak tangga eskalator yang bergerak konsisten tersebut. Begitu saya berada di sana, baru saya tahu, ini tidak mudah memang. Saya harus bergerak cepat. Lebih cepat dan harus cepat. Bahkan sudah lebih cepat dan makin cepat pun, rasanya lama sekali untuk mencapai puncak. Saya terengah-engah. Ingin rasanya berhenti sejenak baru melanjutkan lagi. 

Tapi tidak bisa. Kalau kau berhenti, kau bisa-bisa turun lagi ke bawah dan kalah (kalau tidak pusing dan jatuh lalu terjepit dan apa yang terjadi selanjutnya kau tanggung sudah). 

Maka,  mau tidak mau, meski terengah-engah, saya mesti memacu diri saya untuk terus merangkak naik. Harus. Tidak bisa tidak. Demikianlah yang saya lakukan. Sambil bergerak naik, kau tahu, rasanya saya dan Tuhan dekat sekali (maksudnya, sama seperti menurut cerita Jem dan Scout kepada Bill dalam To Kill a Mockingbird, supaya terhindar dari bertemu ‘uap panas’ ketika sedang berjalan sendirian di malam hari, orang2 Maycom perlu mengucapkan mantera ala Maycomb)  😀 Alhasil, saya sampai juga di ujung eskalator lantai 2. 

Dari sana, dengan pandangan yang mengabur karena pusing, saya melihat kawan saya di bawah tertawa terbahak-bahak.  Memang betul katanya, saya hanya cari masalah. Soalnya sesampainya kami di ruang perpustakaan yang keren itu, saya tak bisa berkonsentrasi mengerjakan tugas yang dari semalam sudah saya rencanakan harus selesai di hari itu…   😀

Demikian secuplik kisah pengalaman konyol. Saya tidak mau bilang bodoh..(:D), sebab hanya dengan begitu setidaknya saya pernah punya pengalaman unik untuk mengomentari sebuah adegan kecil dalam cerita penulis Israel ini…:D. 

Kemudian katanya lagi tentang “Just like in life”. Maksudnya berjalan naik melalui eskalator yang bergerak turun benar-benar menggambarkan kehidupan kita sebagai manusia di muka bumi. Eskalator menggambarkan arus kehidupan yang terus berjalan. Kita tidak bisa hanya duduk berdiam diri, menunggu, dan menonton. Kita juga tidak bisa berlambat-lambat (ini saya bicara untuk diri saya..:D) Sebab kalau seperti itu yang kau lakukan, maka yang ada adalah kau mati. 

Jadi, ketika kau dibawa keluar menghirup aroma bumi, sama dengan kakimu sudah ditempatkan pada anak tangga eskalator yang konsisten bergerak turun itu. Jangan lagi menoleh ke belakang seperti istri Lot. Kau harus memacu dirimu terus bergerak. Mau tak mau.  Meski terengah, teruslah merangkak.  Cepat dan jangan berlambat-lambat.  🙂 🙂  Perumpaan ini hanyalah versi saya.  Jauh dari sempurna tentunya. 🙂 

Andra & The Backbone di UPH Festival

Sumber: youtube

Masih dalam minggu UPH Festival (tepatnya UPH Fest yang ke berapa saya lupa 😉 :)) Penelope seharian itu tampak gembira.  Sejak bangun pagi tadi, ia tak henti-hentinya bersiul. Dari sewaktu mandi, berpakaian, berjalan menuju kampus, menikmati sarapannya di FJ, maupun menuju kelasnya. Tidak biasanya ia demikian.

Kami tahu, di kampus aktivitasnya padat. Tapi ketika tiba di kamar sore itu, tak ada sama sekali pada wajahnya tanda-tanda kelelahan.

Beberapa di antara kami saling melirik dengan air muka bertaya-tanya. Dia tidak sedang berulangtahun, kan? Menggeleng. Apa sedang jatuh cinta? Mengangkat bahu. Baru ditembak idolanya? Merentang tangan dan mengangkat bahu.

“Apa kalian sudah lihat sesuatu di lapangan basket?”

“Panggung…” seseorang di antara kami baru mau menjawab, justru jawabannya tak selesai karena langsung dipotong sang penanya.

“Panggung untuk Andra & The Backbone malam ini sudah jadi,” katanya terkekeh lantas melenggang  masuk ke kamar mandi.

(Bersambung…)

Catatan:

UPH Festival adalah acara tahunan yang diselenggarakan oleh Universitas Pelita Harapan (UPH) dalam rangka penerimaan mahasiswa baru UPH.  Tema UPH Festival setiap tahun berbeda. Contohnya tema tahun 2007 One Spirit, One UPH (kalau tak salah ingat), tahun 2008, “Let’s Shine!” kalau ini saya ingat betul karena saya termasuk salah satu mentor :D. 

Apa yang biasanya ada di UPH Festival? Ada beragam kegiatan. Positif dan membangun tentunya. Contohnya saja lihat UPH Festival 14 di tahun 2007, tahun ketika saya baru memulai persinggahan saya di UPH. 🙂

Berdiskusi

“Berapa lama kau akan di sana?” tanya bapak setelah diam yang lama.

“Empat tahun kuliah.”

“Lalu setelah itu?”

“Ke mana ditempatkan, tentu saya akan ke sana.”

1b56cf6b4a721d873d6b375e3edaf9d4

Sumber ilustrasi: pinterest

Bapak diam lagi. Tak berkata apa-apa setelah itu. Ia menarik napas dengan berat kemudian meraih kotak kacamatanya dan beranjak masuk ke dalam kamar.

SiA menunggu dengan gelisah. Menatap bisu pada berkas-berkas yang sementara berserakan di atas meja ruang tamu.

Di ruang tamu itu yang ada hanya diam. Di halaman, terdengar suara riuh adiknya bersama anak-anak tetangga melempari buah delima yang merah matang di salah satu rerantingnya.

Hari ini adalah ulang tahunnya. Namun belum ada tanda-tanda persiapan untuk ibadah nanti malam.

Bersambung… 🙂

Insiden Pukul Tiga Dini Hari (Bagian Dua)

*Kisah ini merupakan lanjutan dari Insiden Pukul Tiga Dini Hari (Bagian Satu)

Rasanya belum lama saya tertidur, ketika saya merasakan kedua kaki saya digoncang-goncang seseorang berikut nama saya dipanggil. Saya terkejut bangun. Menarik turun selimut yang menyelubungi seluruh muka saya. Kamar dalam keadaan gelap. Hanya setitik sinar dari mesin AC di pojok kamar dan secercah cahaya di pintu kamar yang dalam keadaan terbuka. Ada satu sosok sedang berdiri di samping tempat tidur. Elise ternyata sudah bangun.

“Bangun, Ci. Ayo, kita belajar,” ia berbisik pelan, biar tidak membangunkan tiga orang lain dalam kamar yang sementara lelap tertidur.

Saya tak segera menyahut. Sebaliknya saya meraba-raba bagian atas lemari di samping kepala saya mencari Hp yang biasa saya letakkan di sana. Memencet satu tombolnya dan berusaha melihat jam.

“Belum jam tiga,” kata saya.

“Ya, tak apa. Biar lebih banyak waktu kita membaca,” Elise yang masih berdiri menunggu di samping tempat tidur saya membalas.

Saya hanya bergumam pelan ketika kesadaran saya sudah pulih dan mendapati di seberang tempat tidur, Ulfi pun ternyata sementara terbaring dalam keadaan lelap.

Saya bergegas bangun sementara Elise dengan tenang menunggu. Saya mengambil buku yang mau dibaca di atas lemari yang juga berfungsi sebagai meja itu lalu menuruni tangga tempat tidur. Berdua kami menuju ruang tamu. Kami duduk di sofa di mana di sampingnya ada meja tivi dan mulai membaca dengan diam.

Suasana dini hari begitu hening dan bening. Hanya terdengar mesin AC ruang belakang. Tirai jendela semua dalam keadaan tertutup. Sebenarnya agak mencekam juga suasana di ruang tamu dini hari itu. Berada beberapa lama di sana, sudah sering kami dengar ungkapan atau bisik dari kakak-kakak tingkat tentang suasana mencekam di tempat ini apalagi di lorong koridornya. Apalagi ditambah dengan tiadanya angka empat di sepanjang susunan apartemen ini.

Hari itu adalah pertama kalinya kami bangun sepagi itu untuk belajar. Jauh dalam hati kami, sebenarnya kami saling tahu kami  dalam keadaan takut dan tidak merasa aman. Tetapi demi nilai kuis CAD, sengaja kami tampakkan bahwa kami dalam keadaan baik-baik saja. Semua ketakutan itu kami bungkus rapat-rapat dalam diam dan kesungguhan mencerna isi bacaan dalam buku Hurlock itu.

Elise dengan satu bukunya sendiri, saya pun dengan buku saya. Dua buku itu adalah buku pinjaman dari perpustakaan kampus.

Kami membaca dengan diam dan serius. Berusaha memahami setiap susunan kata dan pengertian dalam bab buku itu sebelum pukul lima, waktu di mana anak-anak lain akan bangun untuk mandi dan mulai sibuk, sehingga konsentrasi pasti terbagi. Sulit bagi kami yang sementara belajar untuk mencerna. Kami tak boleh lagi membuang waktu kami. Target kami haruslah mendapat nilai 10 apapun alasannya. Toh, hanya menjawab ‘benar’ atau ‘salah’, dan adalah sebuah penyesalan panjang yang tak termaafkan kalau kami tidak bisa memilih jawaban ‘B’ atau ‘S’ dengan tepat.

Kami membaca dengan diam dan sungguh-sungguh. Membaca diam, berpikir sebentar, mencatat poin-poin, dan membaca lagi. Di bagian tertentu bila ada kalimat dengan bahasa yang rumit dan sukar dipahami, maka kembali diulangi lagi dari awal. Diulang, diulang-ulang, begitu seterusnya sampai mengerti.

Kata Pak Nicho, sewaktu membaca buku itu, usahakan jangan dihafal. Sebaliknya berusahalah untuk memahami dan mengerti konsepnya. Itu akan lebih bertahan di ingatan dibanding sekadar hafal.

Saya sepenuhnya setuju dengan anjuran Pak Nicho. Maka itulah saya berusaha mempraktikkan. Berusaha memahami dan mengerti daripada hanya sekadar hafal. Lagipula, isi buku ini bagi saya sangat menarik. Kalimat dan gaya bahasanya membuat saya tenggelam dalam buku. Bahasan dalam buku seakan-akan melemparkan kembali saya kepada masa kanak-kanak. Kembali mengingat bagaimana ciri dan perilaku saya di masa kanak-kanak, menghubungkan dengan pembahasan dalam buku, serta berusaha memahami bagaimana seharusnya sikap pendidik dalam menghadapi dan menangani ciri dan perilaku-perilaku sedemikian.

Hihihihihihi…. hihihihihi…. hihihihi…

Terdengar suara ringkik tawa yang begitu dekat dan kencang. Terkejut, spontan kami berdua melonjak kaget. Elise yang dikenal dengan pembawaannya yang tenang dan bukan orang yang mudah panik sampai menjerit ketakutan. Saya terduduk kaku dan lesu di sofa. Tubuh saya seperti membeku. Rasanya saya sempat hilang sadar dan lupa di mana saya berada saat itu.

Suara ringkik tawa itu masih terus meraung. Makin lama makin kencang. Setelah pulih dari rasa kaget, saya baru mencoba berusaha menganalisis situasi.

Melihat sekeliling. Mulai membaca keadaan pelan-pelan. Kami masih dalam keadaan baik-baik dan masih duduk di sofa ruang tamu. Seiring terdengar suara ringkik tawa itu, ada juga bunyi benda bergetar di samping kiri tempat kami berada.

Tepatnya di atas meja tivi, di samping tivi, HP Ulfi sementara bergetar dan bergeser seiring suara yang dikeluarkan dari speaker-nya.

“Elise, itu bunyi alarm. HP Ulfi,” saya berusaha berkata walau dengan terbata.

“Kau bisa matikan,” kata saya melanjutkan sekaligus berusaha mengarahkannya untuk melihat ke arah meja tivi. Alasan saya memintanya untuk mematikan bunyi alarm menjengkelkan itu karena posisi duduk Elise yang memang paling dekat dan persis di samping meja tivi.

Namun Elise menggeleng keras. Ia bahkan tak mau menengok ke sana. Ia masih membenamkan wajahnya rapat-rapat di bahu kiri saya. Saya tahu, ia mungkin masih dalam keadaan shock. Sebab Hp itu berbunyi tepat di samping telinganya.

Sebenarnya suara ringkik tawa itu bukan hal baru di telinga kami, penghuni kamar 3805. Toh, sehari-hari nada dering HP itu sudah sering dan terbiasa diperdengarkan oleh sang pemilik Hp. Masalahnya suara ringkik tawa kuntilanak itu menggaung di tengah-tengah ruang tamu aparteman yang sunyi sepi yang konon banyak cerita horornya, dan itu tepat terjadi pada pukul tiga dini hari.

Karena merasa terganggu dengan bunyinya yang semakin lama semakin keras, maka mau tak mau, saya pun mengulurkan tangan, melewati badan Elis yang sudah menelungkup di sofa, berusaha menjangkau tempat HP itu berada demi mematikan bunyi menjengkelkan itu. Alhamdullilah. Alarm Hp itu pun mati.

“Sudah,” saya bilang. “Ayo, lanjut belajar.”

Walau tidak segera, Elise pun mengangkat kepala, mengelus dadanya, dan menarik napas. Katanya, ia mau melanjutkan membaca, tetapi rasa shock tadi masih mengganggunya. Ia takut kalau-kalau suara mengerikan itu terulang lagi.

Walaupun tidak mengatakannya secara terang-terangan, saya pun sebenarnya merasakan hal yang sama. Masih mau melanjutkan membaca, tapi untuk sampai mencerna dan memahami isi bacaan sepertinya agak sulit.

Duduk diam dan merenung sebentar, kami pun mengambil buku masing-masing dan mulai mencari sampai di mana tadi kami membaca, dan mulai perlahan-lahan kembali melanjutkan membaca dalam diam.

Kami sama-sama tahu, apapun yang terjadi, kami harus tetap membaca sampai selesai. Tak ada lagi waktu untuk membaca kalau bukan sekarang. Sebentar lagi anggota kamar lain akan bangun dari tidur dan mulai bersiap-siap. Kelas CAD adalah kelas pertama di hari itu setelah sarapan dan devotion. Waktu terbaik untuk belajar adalah sekarang. Tak bisa ditunda-tunda atau diulur lagi.

Kami pun tak lama kemudian terbenam kembali ke dalam bacaan. Membaca, berpikir sebentar, mencatat poin-poin, dan membaca lagi. Di bagian tertentu yang tampak rumit, diulang-ulang lagi sampai bisa.

Pikiran dan konsentrasi sudah mulai kembali menyatu dengan bahan bacaan di dalam buku ketika tiba-tiba suara ringkik tawa perempuan kuntilanak itu kembali terdengar. Kali ini saya sungguh jauh lebih kaget dan takut daripada yang sebelumnya. Saya benar-benar tak percaya akan pendengaran saya. Bagaimana bisa suara itu terdengar lagi sementara tadi alarm HP itu sudah jelas-jelas saya matikan. Saya sempat berpikir jangan-jangan memang ada pihak ketiga tak kasat mata yang sudah ikut campur.

Kalau tadi di kali pertama saya berani menyentuh Hp demi mematikan alarm itu, kali kedua ini saya malah lebih takut dan tak mau menyentuh lagi Hp itu. Elise sekali lagi saya minta agar dia saja yang mematikan. Namun seperti tadi, ia tetap menggeleng kepala dengan keras.

Saya pun tak segera mengambil alih. Saya tetap masih merasa takut. Saya benar-benar yakin jangan-jangan ada campur tangan pihak ketiga tak kasat mata, sehingga dugaan saya kali ini, bagaimana kalau ketika tangan saya menyentuh Hp dan terjadi sesuatu yang mengerikan. Namun lama-lama menunggu, suara ringkik tawa perempuan itu malah makin lama makin kencang dan menjengkelkan. Kalau terus dibiarkan maka tentu saja akan terus semakin kencang dan lebih kencang.

Elise sama sekali tak bisa bergerak mendekat ke sana. Ia benar-benar merapat ke arah saya dan tak mau bahkan untuk menengok sekalipun.

Akhirnya, lagi-lagi karena merasa kesal dan jengkel, saya pun berusaha menguatkan diri bergerak, demi mengusir rasa takut yang sudah demikian menguasai, saya keluarkan teriakan yang sangat kencang dan keras yang sanggup untuk membangunkan seisi anggota kamar 3805. Dengan suara teriakan yang keluar, setidaknya beban ketakutan saya terasa berkurang dan saya pun memberanikan diri mengulurkan tangan dan mengambil HP itu.

hp nokia symbian 3230

Seperti inilah model HP Ulfi saat itu. Sumber gambar: mouthshut

Kalau di kali pertama, saya hanya sekadar menengok layar dan menekan tombol lalu bunyi alarm itu segera diam, maka di kali kedua, Hp itu benar-benar saya ambil dan genggam seutuhnya ke dalam tangan saya. Layar HP itu benar-benar saya pelototi dan baru saya baca, ternyata di layar Hp yang sementara histeris dengan ringkik tawa perempuan kuntilanak itu, ada tertulis dua pilihan, znooze dan stop.

Saat itulah baru saya sadar, ternyata saat bunyi pertama kali, bukannya menghentikan bunyi alarm, tapi justru saya salah menekan di ombol snooze, hanya sekadar menunda. Itulah kenapa ringkik tawa perempuan kuntilanak mengerikan itu kembali menggaung di menit ke-15.

Dua pintu kamar yang tadi seperti mati dua-duanya terkuak. Muncul tergopoh-gopoh kawan-kawan kamar kami. Orang pertama yang keluar adalah fasilitator kamar yang adalah juga kakak sepupu saya, Kak Feby, yang disusul beberapa kawan lainnya. Baik dari kamar berenam maupun kamar berempat. Mereka semua menuju ruang tamu tempat kami berada.

Mereka ramai-ramai bertanya ada apa (sementara bunyi alarm HP itu sudah benar-benar  saya matikan).

Kami tak perlu menjelaskan.

Mereka hanya cukup melihat air mata kami yang sudah berurai dengan wajah pucat kami yang diliputi ketegangan dan ketakukan seperti baru habis melihat hantu.

Kami tak perlu menjelaskan. Cukup mengarahkan kepala mereka kepada Hp yang terletak di samping meja tivi.

Mereka sudah mengerti. Mereka cukup mengerti. Mereka maklum.

Kak Feby pun kembali masuk ke dalam kamar berempat dan memanggil Ulfi. Hanya ia satu-satunya yang tidak keluar sementara tujuh orang lainnya sudah berkumpul di ruang tamu bersama kami. Ulfi pun keluar kamar mengekor Kak Feby yang kembali ke ruang tamu. Bukannya keluar dengan minta maaf atau takut karena akan dimarahi baik oleh kami atau kakak kamar lain atau yang lainnya atau apapun itu, ia justru keluar kamar sambil tertawa nyengir.

“Kenapa, ada apa?” tanyanya tanpa bersalah. Ia masih dengan derai tawanya. Tanyanya langsung disambut Kak Feby. Menunjuk kepada muka kami yang masih berusaha pulih dari kengerian.

Baru kemudian ia mengaku, ia memang punya niat begadang seperti malam-malam biasanya. Hanya di antara pukul satu atau dua, ia tak sanggup menahan kantuk. Ia masih tetap berusaha terjaga mengingat janjinya untuk membangungkan kami di pukul tiga. Tapi karena benar-benar tak kuat, ia pun akhirnya memutuskan tidur dengan mengingat janjinya pada kami, ia pasang alarm khasnya tepat di pukul 03.00 wib. Agar bunyi alarm itu bisa membangunkan saya dan Elise yang berada di dua kamar berbeda, ia taruh Hp itu di meja tivi ruang tamu.

“Kan tidak pernah Hp itu saya taruh di ruang tamu. Hanya biar bisa terdengar, saya taruh di sini. Kalau di dalam kamar kan mana mungkin Elise yang ada di kamar sebelah mendengar,” katanya entah sebagai pembelaan diri atau memang benar pengakuannya demikian, walaupun kemungkinan kedua lebih mendekati benar, sebab sebagai teman sekamarnya, saya tahu, HP nokia panjang dan lonjong itu selaLu berada di bagian atas lemari pakaian yang untuk kami yang menempati tempat tidur atas memanfaatkannya sebagai meja.

“Hanya saya tidak menyangka kalian bangun sebelum jam tiga dan tidak menyadari ada Hp saya di dekat kalian,” sambungnya kemudian meminta maaf.

Demikian insiden pukul tiga dinihari itu diselesaikan. Semua kawan itu pun kembali masuk ke kamar. Melanjutkan tidur. Saya dan Elise pun melanjutkan baca. Kami membaca dengan baik hingga pukul lima ketika satu per satu mereka kamar mulai bangun dan bersiap mandi.

Mengenai nilai di kuis mata kuliah CAD hari itu, baik saya maupun Elise, sudah tak ingat lagi mendapat berapa. 🙂

Ulfi

Sebagaimana setiap orang adalah

unik

maka ia pun demikian.

Lincah, supel, dan pengertian

7420ad214fa70b8b76093a05f0f4df1b* Selanjutnya lebih lengkap tentangnya akan menyusul. Semoga ia tak keberatan 😀 🙂

Satu hal paling berkesan dengannya adalah tentang es krim cornetto. Agak konyol memang. 😀 Tapi bagaimana pun, karena ‘es krim’ itulah, ada juga cerita tentang kami selain Insiden Pukul Tiga Dini Hari itu.  😀 🙂

Student on Work (SoW)

sow

Sumber: FIP-UPH

Sebagai mahasiswa penerima beasiswa, setiap kami wajib wajib melakukan tugas kerja 2000 jam selama empat tahun studi. Sebagai perhitungan, maka dicicil per semester minimal mencapai 250 jam. Pekerjaan yang dilakukan boleh apa saja selama itu melatih skill mahasiswa/i dalam bersosialisasi, mengatur waktu, mengenal dunia kerja, berinteraksi dengan rekan kerja, atasan, ataupun orang-orang dari luar.

SoW ini selain melatih skill mahasiswa/i, juga sebagai bentuk pelayanan kepada orang lain baik di dalam lingkungan kampus maupun luar lingkungan kampus.

(Selanjutnya mengenai SoW menyusul) 😉 🙂 ♣♣♣

Insiden Pukul Tiga Dini Hari (Bagian Satu)

20170311_164250Hari sudah mau larut malam. Kira-kira pukul sepuluh atau sebelas. Saya baru saja pulang dari kelas Suab di salah kampung di daerah Kelapa Dua. Setelah mencuci muka dan kaki tangan, saya masuk ke kamar untuk mempersiapkan perlengkapan dan keperluan mata kuliah besoknya. Elise, kawan kamar di 3805 yang juga sekelas dengan saya di 2IMM1, Pendidikan Menengah Matematika-Indonesia, juga baru pulang dari kelas Suab di tempat berbeda (Daerah HarKit atau Bencongan mungkin) mengajak saya untuk belajar bersama di ruang tamu.

Waktu itu, di mata kuliah CAD, dengan seorang dosen muda lulusan S3 Amerika, namanya Bapak Nicho Sudibyo, beliau mengharuskan kami setiap sebelum mata kuliah dimulai, akan terlebih dahulu diadakan kuis. Kuis atau pretest 10 nomor dengan pilihan jawaban benar atau salah. Materi kuis itu diambil buku Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, yang ditulis Elizabeth B Hurlock. Satu bab untuk setiap pertemuan.

Sejauh ini, sudah beberapa kali kuisi itu diadakan setiap sebelum memulai kuliah, dan nilai kami selalu baik. Berkisar antara 9 atau 10. Maka itu, malam itu, walau dilanda keletihan karena memang selain kuliah dan tak boleh lupa dengan kewajiban SoW, kami tetap harus belajar. Nilai tinggi itu harus tetap dipertahankan. Tidak boleh sampai menurun hanya karena tak sempat menyediakan waktu untuk belajar.

20170311_155358

Namun karena keletihan itu tak bisa dilawan, kami sampai terkantuk-kantuk di sofa ruang tamu saat membaca buku itu, apalagi dengan ukuran huruf dalam buku itu memang terbilang sangat kecil, hampir sama dengan atau bahkan lebih kecil dari ukuran huruf di teks Alkitab. Setiap bab dalam buku itu biasanya berisi 20-an (tak kurang) hingga 40-an halaman, belum lagi dengan istilah-istilah psikologi yang tidak mudah diingat.

Elise pun memutuskan, bahwa daripada kami memaksa diri membaca dan berlama-lama tapi tidak efektif, alangkah baiknya kami beristirahat tidur dan bangun jam tiga pagi untuk melanjutkan membaca. Setidaknya tidak memaksa diri sedemikian rupa seperti sekarang.

Ok, saya mengiyakan.

Bertepatan juga di kamar 3805, ada seorang kawan kami yang suka begadang. Ia terkadang bahkan tidak tidur semalaman. Sangat sering ia baru memulai tidurnya di pukul delapan pagi setelah mengikuti devotion di pelataran kampus kalau tidak ada jam kuliah di pagi hari.

Kawan kami itu namanya Ulfi. Asal SMA Barana, Toraja. Ia anak 2EMB1, Pendidikan Menengah Biologi-English.

Di kamar 3805, hanya ia satu-satunya Anak English, sebutan yang disematkan kepada mereka yang mengambil jurusan dengan pengantar berbahasa Inggris. Dosennya lebih banyak dosen bule, mata kuliah disampaikan dalam Bahasa Inggris, serta semua tugas paper dan presentasi harus dikerjakan dan disampaikan dalam Bahasa Inggris. Maka itu kami sangat maklum karena memang ia harus banyak belajar, lebih ekstra dari kami yang mengambil jurusan dengan pengantar Bahasa Indonesia.

Kepada kami sebagai kawan kamar ia mengaku, katanya ia butuh suasana yang sunyi kalau belajar ataupun mengerjakan tugas. Di jam-jam tengah malam hingga mendekati pagi adalah jam-jam efektifnya. Biasanya di jam-jam itu, kalau kami terjaga, kami pasti mendapatinya sedang belajar, atau mengerjakan tugas, ataupun melakukan aktivitas lain bersama laptopnya.

Maka malam itu saya dan Elise bersepakat, meminta tolong untuk membangunkan kami di pukul tiga dinihari adalah satu pilihan yang tepat.

Kami pun meninggalkan ruang tamu dan menuju kamar berempat, kamar di mana saya dan Ulfi ditempatkan bersama dengan dua kakak tingkat kami.

Di dalam kamar, di atas tempat tidurnya yang berada di susunan atas, ia terlihat asyik mengerjakan sesuatu di laptopnya.

Kami pun mengemukakan maksud kami.

Ia mengangkat muka sebentar, menatap kami yang bermuka letih dan mengantuk, ia tersenyum dan menyahut, ya. Pendek.

Mungkin karena masih belum yakin dengan jawabannya, Elise sampai meyakinkannya kembali berkali-kali (mungkin terkesan sedikit memaksa :D) bahwa betul ia akan membangunkan kami di pukul tiga.

“Kalau kami tak bangun, tak apalah kau menggoncang-goncang kaki kami dengan keras atau boleh memercikan tetes-tetes air ke muka kami, atau apapun itu supaya kami bisa bangun.”

Ia tertawa keras kemudian menyahut, “Ok, deh. Tenang. Aman.” Terlihat sangat percaya diri saat memberikan jawaban itu lalu kembali melanjutkan kegiatannya di depan laptopnya. Jawaban percaya diri itu benar-benar meyakinkan kami.

Kami berdua pun beranjak tidur dengan benar-benar merasa yakin dan pasti akan dibangunkan Ulfi pada pukul tiga dini hari. Saya di kamar berempat, sekamar dengan Ulfi, dan Elise di kamar berenam. Lampu kamar kami masih dalam keadaan menyala saat saya menarik selimut menutupi seluruh wajah saya.

 Insiden Pukul Tiga Dini Hari (Bagian Dua) bersambung... :)