Esai, Lomba

The Johannes Oentoro Library UPH Karawaci: Peduli Warisan Budaya Daerah sekalipun Berskala Global Campus

johannes-oentoro-library-uph-3-large
Sumber: http://noesis.co.id

Oleh: Anaci Tnunay*

Suatu kali di awal masa kuliah tahun 2007, di The Johannes Oentoro Library UPH Karawaci, saya melihat Indonesian Heritage, yakni ensiklopedi yang memuat berbagai macam informasi mengenai seluk beluk negara dan bangsa Indonesia. Ensiklopedi terbitan Archipelago Press Singapura yang dalam edisi bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Warisan Indonesia ini dikemas dalam 10 jilid. Judul tiap jilidnya antara lain Sejarah Awal, Manusia dan Lingkungan, Sejarah Modern Awal, Tetumbuhan, Margasatwa, Arsitektur, Seni Rupa, Seni Pertunjukan, Agama dan Upacara, serta Bahasa dan Sastra. Tak hanya itu, pada bagian lain saya juga menemukan kumpulan tulisan dalam buku Manusia dan Kebudayaan di Indonesia yang disusun Koentjoroningrat. Dari buku-buku itulah saya mengenal dan menganggumi keindahan kebudayan Indonesia, yang beragam dan unik, yang tersebar dari ujung barat Sumatera hingga ujung timur Papua.

203832881_ae4aea6bca
Sumber: uph

Buku-buku tersebut hanya memuat sedikit dari begitu banyaknya kebudayaan daerah di Indonesia, namun dapat membuat saya tak berhenti mengagumi kekreatifan orang-orang terdahulu. Mereka dapat menciptakan karya seni yang indah serta menetapkan aturan-aturan yang kemudian menjadi adat istiadat di daerah masing-masing, – tentunya ini di luar sumber daya alam yang telah tersedia. Tapi itulah kenyataannya, bahwa pada tiap daerah yang mana masih lagi terdiri dari berbagai suku, masing-masing mempunyai lagu, tarian, hasil seni rupa, kepercayan, bahasa, cerita rakyat dan adat istiadat yang berbeda. Dan ketika tiap kebudayaan daerah tersebut diperkenalkan, kita akan berdecak kagum bahwa betapa luar biasanya kebudayaan bangsa Indonesia. Berangkat dari sinilah timbul rasa bangga dalam diri saya sebagai bagian dari Indonesia.

Contoh pengalaman di atas, saya kira telah menggambarkan peran sebuah perpustakaan dalam pelestarian kebudayaan lokal. Sebagaimana yang diungkapkan Basuki (1993, hal. 11) bahwa perpustakaan memiliki fungsi kultural, yakni sebagai wahana pelestarian khasanah budaya bangsa atau masyarakat tempat perpustakaan berada serta meningkatkan nilai dan apresiasi budaya dari masyarakat sekitar perpustakaan melalui penyediaan bahan bacaan, seminar, pameran atau penyelenggaraan kegiatan yang sesuai.

Dengan adanya bahan bacaan seperti buku-buku, ensiklopedi, koran, serta terbitan berseri (majalah, buletin, warta, jurnal, newsletter, warkat warta, risalah laporan tahunan, bulanan, mingguan) mengenai sejarah dan kebudayaan daerah di Indonesia ataupun penyelenggaraan kegiatan yang sesuai, para pengguna perpustakaan dapat mengenal lebih dekat tentang warisan kebudayaan daerahnya sendiri dan atau kebudayaan daerah lain dalam kawasan nusantara. Hingga pada gilirannya, mampu menumbuhkan rasa cinta dan penghargaan terhadap kebudayan daerah sebagai bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia.

perpus-fk
Sumber: library.uph.edu

Dalam menyediakan bahan bacaan ataupun menyelenggarakan kegiatan berkaitan dengan kebudayan daerah, tidak hanya oleh perpustakaan nasional atau perpustakaan umum atau perpustakaan daerah, melainkan semua jenis perpustakaan termasuk perpustakaan perguruan tinggi. Sebab selain perpustakaan perguruan tinggi merupakan bagian dari perpustakaan, yang perannya adalah ikut menentukan dan mempengaruhi tercapainya tujuan kultural perpustakaan, para pengguna perpustakaan perguruan tinggi juga adalah orang-orang yang datang dari berbagai latar belakang budaya berbeda, apalagi jika perguruan tinggi tersebut adalah perguruan tinggi berskala global campus.

Justru perguruan tinggi seperti inilah yang dituntut tetap ikut berkontrubusi dalam pelestarian kebudayaan daerah Indonesia. Misalnya selain menyediakan bahan bacaan dalam bentuk karya cetak, perlu juga mengadakan seminar, pameran atau kegiatan-kegiatan tertentu berkaitan dengan kebudayaan daerah di Indonesia.

Mengapa demikian?

Sebab, perguruan tinggi berskala global campus adalah perguruan tinggi yang dalam proses pelaksanaan pendidikannya, lebih banyak berkenaan dengan segala hal berbau global. Dikuatirkan mahasiswa sebagai generasi muda akan mengabaikan segala hal berbau lokal. Mungkin masih lebih baik dikatakan mengabaikan. Bagaimana jadinya kalau sampai mahasiswa membenci bahkan memandang remeh budaya-budaya lokal di Indonesia, dan malah sebaliknya mengagungkan globalisasi yang adalah cita-cita perguruan tinggi tempat mereka belajar?

Mencegah jangan sampai kemungkinan itu terjadi, budaya global dan budaya lokal mestilah berjalan seimbang. Memang sebagai lembaga pendidikan, perguruan tinggi mutlak membuka diri terhadap perubahan dunia dan dituntut berpikir global. Kendati demikian perguruan tinggi tidak boleh melepaskan diri dari akar kebudayaan lokal.

Mengutip berita dari website UGM (2010), Dr. Wening Udasmoro, MHum, DEA., dalam seminar yang bertajuk Membangun Sinergi Lokal Global dengan Berpijak pada Warisan Budaya di Jogjakarta mengatakan “Lokalitas dan globalitas, keduanya berguna untuk menjawab kebutuhan manusia”.

Meresponi pandangan tersebut, maka dalam tugasnya menunjang cita-cita dan visi perguruan tinggi, perpustakaan tersebut tidak boleh hanya menyediakan bahan bacaan mengenai kebudayaan masyarakat luar negeri atau teknologi industri dunia global, menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi luar negeri, mengadakan Inter Library Loan, memiliki langganan online database dari berbagai disiplin ilmu, menggunakan security system yang canggih, menyediakan fasilitas belajar yang lengkap dan selalu berfungsi optimal, memberi pelayanan sirkulasi peminjaman buku dengan sistem komputerisasi, menggunakan katalog dalam pencarian buku. Namun perpustakaan juga harus tetap melaksanakan fungsi kulturalnya.

Seperti halnya yang terjadi di The Johannes Oentoro Library-UPH, selain menyediakan bahan bacaan tentang kebudayaan daerah Indonesia, juga menekankan kebudayaan lokal dalam tema Perpustakaan dan Kebudayaan pada Library Annual Event (LIBANEV) tahun 2011. Penekanan ini terlihat dari berbagai kegiatan yang diselenggarakan.

dscn1900
Sumber: library.uph.edu
5656601731_a79a38c7e3
Sumber:The Johannes Oentoro Library

Penyelenggaraan kegiatan tersebut di antaranya pameran batik Banten, seminar batik Indonesia dan batik Banten, kompetesi menulis kreatif tentang Peran Perpustakaan dalam Preservasi Kebudayaan Lokal khusus untuk mahasiswa UPH. Khusus penyelenggaraan kompetisi menulis kreatif inipun telah turut membuat para peserta yang berpartisipasi mau tak mau harus mempelajari tentang kebudayaan lokal. Proses ini secara tidak langsung telah memberi pengaruh kepada mahasiswa untuk mengenal kebudayaan lokal.

Penyelanggaraan kegiatan tersebut patut disambut gembira. Namun alangkah baik bila dalam upaya mewujudkan fungsi kulturalnya, perpustakaan perguruan tinggi semacam Johanes Oentoro Library-UPH tidak hanya terbatas pada buku non-fiksi atau ensiklopedi atau terbitan berseri kebudayaan daerah saja. Masih ada banyak bahan bacaan lain yang berguna misalnya karya-karya sastra klasik Indonesia. Hal ini patut dipertimbangkan sebab biasanya lembaga pendidikan berskala global, seperti yang terjadi di The Johannes Oentoro Library-UPH malah lebih banyak menyediakan karya sastra klasik luar negeri dibanding karya sastra klasik dalam negeri. Padahal dari karya sastra tersebut, mahasiswa sebagai pembaca setidaknya dapat mengenal budaya daerah yang diambil sebagai latar dalam cerita.

Memang tak dipungkiri bahwa koleksi perpustakaan harus mencerminkan ‘isi’ perguruan tinggi (Naibaho, 2011, np). Sehingga dalam hal ini, The Johannes Oentoro Library lebih banyak menyediakan karya sastra asing daripada karya sastra klasik dalam negeri sebab fakultas yang dimilikinya di sini adalah sastra Inggris dan bukannya sastra Indonesia. Namun bukan berarti karya sastra klasik Indonesia tidak terlalu diperlukan. Mengingat perpustakaan juga memiliki fungsi sebagai tempat rekreasi, para pengguna dapat memanfaatkannya untuk membaca karya sastra sebagai ‘hiburan’.

Pengadaan bahan koleksi seperti itu, diharapkan para mahasiswa dapat mengenal lebih dekat kebudayaaan lokal di Indonesia, diikuti timbulnya rasa kagum dan bangga akan keberagaman, keunikan dan keindahannya. Sehingga pada gilirannya akan meningkat rasa cinta dan rasa penghargaan mahasiswa terhadap kebudayaan lokal tersebut.

Memiliki penghargaan yang tinggi terhadap kebudayaan lokal penting. Sebab keberagaman dan keunikan kebudayaan lokal inilah ciri khas kebudayaan Indonesia, yang kerapkali disebut berkontrubusi terhadap identitas bangsa. Berperan sebagai identitas bangsa, kebudayaan lokal membawa Indonesia terlihat unik serta mampu menunjukkan kepada dunia akan eksistensi bangsa Indonesia. Dalam hal ini, yang lebih diharapkan adalah mahasiswa sebagai tonggak kepemimpinan bangsa. Mereka perlu memiliki pijakan yang kuat untuk tampil dan mempertahankan keunikan kebudayaan bangsa Indonesia.

Dengan menjalankan hal-hal seperti yang telah dipaparkan di atas, maka upaya The Johannes Oentoro Library-UPH dalam menunjukan kepedulian terhadap warisan kebudayaan lokal Indonesia akan terlihat lebih stabil dan konsisten. Tidak hanya sekedar melengkapi koleksi periodikal perpustakaan atau kegiatannya yang hanya terwujud di Library Annual Event tahun 2011.

Mahasiswa sebagai bagian dari Universitas Pelita Harapan, yang dalam visi-misinya menuju global campus tidak serta merta menaruh ambisi sepenuhnya kepada globalisasi lantas mengabaikan dan memandang remeh budaya lokal. Biarlah dengan berpijak pada akar budaya bangsa Indonesia, mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan mengenal dan menghargai identitas bangsanya. Sehingga dalam praktiknya di dunia kerja, ia tak kehilangan identitas melainkan dapat secara tegas menunjukan eksistensi bangsa Indonesia di tengah menderasnya arus globalisasi.

Referensi

Basuki, S. (1993). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Universitas terbuka, Depdikbud.

Grehenson, G. (2010). Identitas Budaya Lokal Semakin Menguat. Portal Universitas Gajah Mada: Fakultas Ilmu Budaya. Diambil 17 Maret 2011 dari http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=2549

Koentjoroningrat (Red). (1995). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.

Naibaho, K. (2011). Perpustakaan sebagai Salah Satu Indikator Utama dalam Mendukung Universitas Bertaraf Internasional. Artikel blog staf Universitas Indonesia. Diambil 16 Maret 2011 dari https://staff.blog.ui.ac.id/clara/

Soebadyo., Ave, J., Setyawati (Red). (2002). Indonesian Heritage (Edisi bahasa Indonesia, volume 1-10). Jakarta: Buku Antar Bangsa untuk Grolier International, Inc.

Catatan:

*Pemenang ke-3 Kompetisi Library Annual Event (LIBANEV) UPH Karawaci 2011

*****

Library Annual Event (LibAnEv UPH) 2011_The Johannes Oentoro Library UPH Karawaci

5660640542_b315f2f9ac
Sumber: JO Library UPH
5660590354_936f873ec2
Sumber: JO Library UPH

The winners of library annual event 2011 competitions

 

Iklan
Esai

PETERPAN: Makna dalam Karya – dikenang & dinanti

PETERPAN. Hampir seantero anak muda di tanah air mengetahui tentang grup band ini, atau paling tidak pernah mendengar salah satu lagunya. Ini bisa dilihat dari menjamurnya karya-karya mereka hingga ke daerah-daerah, diputar lewat pesawat televisi, lewat radio, di angkutan umum baik dengan CD yang asli maupun bajakan. Dari para pendengar itu, tak jarang pula yang sudah tentu mengetahui siapa-siapa saja personel awal band ini yakni Ariel (vokalis merangkap gitaris), Uki (gitaris), Lukman (gitaris), dan Reza (drummer), Andhika (pemain keyboard), serta Indra (pemain gitar bass). Jika nama personel itu tak diketahui semua, setidaknya mereka pasti mengetahui sang vokalis Ariel, yang namanya biasa terpampang di video klip sebagai pencipta lagu/lirik.

Saya sendiri adalah salah seorang yang menyukai karya-karya Peterpan. Pertama kali saya mendengar lagu-lagu Peterpan saat masa SMP namun saya tak begitu menaruh perhatian khusus pada grup band ini. Barulah saat masuk SMA, ketika band ini begitu membumi dan dipasang di bus yang saya naiki ke sekolah dan dari sekolah, lagu-lagu band ini jadi begitu familier di telinga. Begitu juga saat menonton televisi, video klip Peterpan selalu dihadirkan kepada pemirsa lewat pesawat televisi. Lagi, seolah ingin ikut mempopulerkan grup band ini, kawula-kawula muda di kota Kupang yang sangat demen dengan acara kirim-kirim salam lewat radio, pun selalu me-request diputarkan lagu-lagu Peterpan untuk yang dikirimi salam. Tak ketinggalan pula, surat kabar atau majalah remaja di edisi tertentu, pasti ada tersisipkan nama grup band satu ini.

Didorong rasa penasaran, saya mulai mencari tahu tentang profil Peterpan. Ternyata grup band ini berasal dari Bandung. Lalu tentang asal nama “Peterpan”. Peterpan adalah salah satu judul film animasi tahun 1953 produksi Walt Disney yang bercerita tentang seorang anak lelaki yang tak pernah tumbuh dewasa karangan J.M Barrie. Namun, konon bukan inti cerita itu yang mau diambil grup band ini. Maksud mereka adalah merekapun ingin bisa terbang sebagaimana yang ada dalam dongeng tersebut. Arti nama dari grup band ini tertanam rapat-rapat di benak saya sehingga saya berkesimpulan sendiri, Peterpan adalah grup band yang suka sekali berfilosopi. Terbukti dari tak hanya pada nama grup, tapi juga dalam setiap lagu mereka, yang tak mudah dipahami hanya dengan sekali mengikuti liriknya.

Namun, cukup mengejutkan bagi saya yang terlanjur terdoktrin dengan filosopi nama grup band Peterpen, saat ungkapan Ariel di suatu hari bahwa nama Peterpan hanya terbersit begitu saja tanpa pencarian panjang. Satu hal yang di pikiran saya agak janggal, bagaimana mungkin lirik-lirik lagu yang dibawakan begitu bermakna, nama band yang adalah identitas satu company hanya diambil begitu saja? Ya, tapi kalau itulah kenyataan pengalaman mereka, memangnya saya berkepentingan apa.

Begitulah awal saya mengenal Peterpan. Sayapun mulai mengikuti perkembangannya, namun informasi yang saya dapat tidaklah selengkap dan sedetail para penggemar beratnya yang menamakan diri “Sahabat Peterpan”. Saya hanya menyukai karya-karya Peterpan. Dan dalam penulisan inipun, saya menyajikannya dari kacamata seorang penikmat musik Indonesia.

Peterpan, seperti yang diketahui, bahwa masyarakat luas menganggap Peterpan adalah salah satu grup band papan atas tanah air. Itu adalah satu fakta yang tak bisa dibantah. Media-media cetak ataupun elektronik selalu menyebutnya band papan atas entah indikator-indikator apa yang dipakai untuk menyebutnya demikian.

Namun bila dicermati, selama hadirnya grup band yang resmi terbentuk 01 September 2000 ini, mereka selalu membenah diri dan berusaha mengembangkan kualitas musik mereka. Mulai dari perbaikan gubahan lirik lagu, komposisi nada, teknik vokal, serta kombinasi antara semuanya demi tercipta harmoni. Pembenahan ini bisa dilihat dari perbedaan ketika pertama kali Peterpan merilis album “Taman Langit” dengan yang waktu-waktu sesudahnya hingga di album “Sebuah Nama Sebuah Cerita”.

Kalau benar kata Suherman dalam ulasannya mengenai lima album terbaik 2010 di Jakartabeat.net bahwa “Sebuah musik dikatakan bagus dan jenius ketika ia mampu membuat pendengarnya bisa berkontemplasi (merenung) di dalamnya,” maka Peterpan adalah salah satu kelompok musik yang patut dikatakan berhasil.

Lagu atau nyanyian tidak sekedar hiburan (walau dibuat untuk menghibur), namun ia sebagaimana buku cerita yang menyenangkan, juga adalah salah satu sarana yang daripadanya kita dapat belajar merefleksikan arti suatu keberadaan. Walau tema yang dibawakan berkisar tema pop tentang percintaan muda-mudi sekalipun.

Sebuah lagu tidak hanya pada nadanya yang mengena, atau amazing-nya petikan jemari pada gitar, atau merdunya suara vokalis, atau liriknya yang puitis dan mengandung makna tertentu. Tetapi kombinasi dari kesemuanya itulah yang mampu menghasilkan suatu harmoni yang indah dan bermutu. Pada Peterpan, dapat kita nikmati nada pembukanya yang menarik, komposisi nadanya, suara vokalis yang berkarakter kuat dan pembawaannya yang memukau, serta lirik lagu yang puitis dan bermakna.

Namun tak disangkali, bahwa dalam satu nyanyian dari suatu kelompok musik, ada salah satu di antara beberapa hal itu yang bisa menjadi ciri khas atau keunggulannya. Ini bisa saja menonjol dari musiknya, atau suara dan pembawaan penyanyinya atau malah pada lirik lagunya. Dan untuk Peterpan, lirik lagulah yang menjadi keunggulan mereka. Susunan kata yang baik, disertakan majas yang membuatnya jadi indah dan puitis, inilah keindahan yang ditemukan dalam lirik lagu Peterpan. Tak hanya keindahan kata-kata, tetapi juga makna yang terkandung di dalamnya pun patut direnungkan dan dipelajari. Ariel, sang vokalis yang lebih banyak disebut sebagai pencipta sebagian besar lagu Peterpan dapat dibilang sangat terampil memberi makna dalam suatu kata atau kalimat.

Di tengah hilangnya makna dan pudarnya arti dari sebuah ungkapan, Peterpen hadir dan tetap mempertahankan keunikan mereka. Tak perlu lagu yang panjang, namun keindahan dan makna dari setiap liriknya memberi arti tersendiri bagi para penikmatnya. Lagu yang dibawakan selalu menimbulkan ruang untuk merehatkan diri sejenak dan merenungkan makna apa yang disampaikan dari lagu mereka. Layaknya sebuah sajak yang harus dibaca berkali-kali, mesti dipikirkan, dihayati, direnungkan benar-benar agar kita bisa memahami makna sesungguhnya dan mengerti apa yang dimaksudkan sang penyair. Dan ketika kita dapat menangkap maksudnya, lirik lagunya bisa benar-benar menggugah perasaan. Ini hal positif dari Peterpan yang jarang atau malah tidak diperhatikan sama sekali oleh grup band lain di Indonesia masa kini.

Tak hanya indah di telinga pendengar, namun pada video klip Peterpan pun terlihat sangat elegan. Mereka menggarapnya dengan baik sekali. Konsep cerita dibuat dengan pemaknaan yang mendalam, tidak sekedar bergerak di permukaan. Para pemeran videopun terlihat benar-benar menghayati perannya. Walau ceritanya tentang patah hati, atau yang menunjukan kepedihan hidup sekalipun, video klip mereka tak terlihat cengeng sebagaimana yang diperlihatkan band-band tanah air sekarang.

Perhatikan saja video-video klip belakangan ini. Baik yang dijual di toko-toko musik maupun yang diputar lewat acara televisi. Mereka begitu cengengnya memperlihatkan ekspresi sang bintang ketika ditinggal kekasih misalnya. Seakan masyarakat penonton adalah orang-orang lugu, yang ketika melihat bintang video menangis mengasihani diri, ikut pula sesenggukan dengan pemeran video tersebut. Tahukan mereka kalau hal ini bukannya membuat orang menghayati cerita lagu tersebut, malahan menimbulkan tertawaan akan ekspresi lebay mereka? Atau kalau bukan itu, malah ada video klip yang liriknya bercerita tentang kisah sedih atau kekecewaan tetapi para bintang melakoninya dengan senyum-senyam. Aneh memang.

Kita masih bisa tersenyum karena di tengah-tengah kegalauan ini, Indonesia masih punya Peterpan. Pada video klip Peterpan, visualisasi disajikan apa adanya, layaknya yang dialami dan dirasakan manusia. Misalnya reaksi sedih atau kecewa seseorang saat melihat sang kekasih pergi dengan orang lain atau tersenyum mengingat kenangan masa lalu yang indah atau ketegaran seseorang untuk terus melangkah meski banyak tantangan. Untuk video-video klip ini, benar-benar hasil kerja yang bila ditonton oleh orang tuna rungu sekalipun, akan tersedia ruang baginya untuk merenung dan menghayati makna cerita lagu tersebut. Dapat dikatakan, perpaduan antara lagu dan video klip karya Peterpan memang nyaris sempurna.

Karena kerja keras mereka itulah, maka tidak heran bila Peterpan banyak mendapat apresiasi dari pihak pemerhati musik baik yang ada di dalam maupun di luar negeri. Di antaranya diapresiasi sebagai grup band paling top SCTV Music Awards, artis favorit Indonesia MTV Asia Awards, sebagai band terbaik, album terbaik, grafis desain album terbaik dan karya produksi terbaik ‘Bintang di Surga’ Anugerah Musik Indonesia (AMI), sebagai video klip terdahsyat “Walau Habis Terang”, di Dahsyatnya Awards.

Hingga di tengah persoalan pelik yang harus dihadapi, grup band yang bernaung di bawah Musica Studios ini walau tak sedang aktif, sang vokalis Ariel ikut dinobatkan dalam Rolling Stone The 50 Greatest Indonesian Singers. Menurut majalah musik Rolling Stone Indonesia di edisi bulan Desember 2010 ini, penyanyi yang memiliki karakter kuat, piawai dalam teknik vokal, dan menguasai seni panggung dengan baik, itulah yang menjadi kriteria pemilihannya. Lebih menakjubkan lagi, Ariel yang berusia 29 tahun adalah yang termuda dari 50 penyanyi tersebut.

Terlepas dari penghargaan formal, belakangan ini sempat terjadi kesimpangsiuran berita bahwa sepeninggal Andika dan Indra di akhir tahun 2006, nama grup band bakal diganti. Kabar inipun didukung dengan terbentuknya logo grup bergambar bulu. Tersiar kabar, nama grup band akan diganti, sehingga personilnya ingin mengikat image mereka dengan gambar. Dan akhirnya dipilihlah gambar bulu, yang menggambarkan impian mereka. Namun hingga akhir tahun 2010 nama grup band itu masih kita kenal sebagaimana mula ia terbentuk. Konon, penundaan penggantian nama tersebut dipicu oleh masalah yang menimpa Ariel.

Apapun itu, entah mau berganti nama atau tidak, masyarakat penikmat dan penggemar karya-karya Peterpan ingin agar grup band ini tetap terus berkarya. Penggantian nama hanyalah simbol, namun visi misi dari grup mereka tetaplah dipertahankan dan dikembangkan. Biarlah logo bergambar bulu, semakin menegaskan kepada dunia bahwa grup band ini masih tetap ingin terbang.

Kesungguhan grup band ini dalam menggarap lagu dan membuat video klip, mengarahkan ide kreatif dan keterampilan mereka untuk memberikan yang terbaik, itulah yang akan selalu dikenang dan dinantikan para penikmat maupun penggemarnya. Karena sebuah karya yang bagus tidak akan lekang oleh waktu. Ia tetap akan jadi sejarah. Lebih khusus kita sebut saja sejarah musik Indonesia. Meskipun, yang diminati hanya kalangan tertentu. Namun jauh lebih baik memiliki karya seni yang berkualitas dengan sedikit peminatnya daripada karya picisan yang laris manis di pasaran yang tak mendidik. Begitulah kira-kira kata seorang budayawan Indonesia beberapa tahun lalu, dan di sini saya mengaitkannya dengan musik yang juga adalah karya seni.

Akan tetapi persoalan ini dikembalikan kepada sang pembuat karya, apakah ia ingin berkarya hanya karena ingin mencari sesuap nasi, ataukah jiwanya terpanggil untuk bergelut di dunia seni dan memberikan sesuatu yang menginspirasi masyarakat?
Saya sebagai salah satu dari sekian banyak penikmat dan penggemar karya-karya Peterpan berharap, grup band ini termasuk yang kedua.

Kalau grup band berlogo bulu ini memang terpanggil untuk terus mengembangkan potensi mereka, maka nantikanlah mereka! Mereka tak akan takut melangkah. Mereka pasti terus berjalan walau terang itu habis.
Justru dari segala problema inilah, karya mereka mungkin jauh lebih bagus karena mereka sudah mengalami bagaimana rasanya panas api yang membakar tubuh.

Esai, Lomba

Warna-warni di Teachers College UPH*

Print
Sumber: HeSheep

Senin, 15 November 2010

[KARAWACI] Mahasiswa Teachers College Universitas Pelita Harapan (TC-UPH) Karawaci kembali memeriahkan bulan bahasa tahun 2010 dengan mengadakan aneka perlombaan. Tahun ini merupakan tahun kedua TC menyelenggarakan kegiatan tersebut. Kegiatan perlombaan ini dimulai sejak Senin 8 November 2010 dan berakhir pada hari Kamis 18 November 2010 yang sekaligus merupakan puncak acara bulan bahasa 2010.

Tema bulan bahasa tahun 2010 ini adalah warna-warni Indonesia. Menurut Intan A. Sarasawati, ketua panitia bulan bahasa 2010, warna-warni tersebut menyatakan dua hal yakni talenta dan kebudayaan. Para mahasiswa TC merupakan orang-orang yang kreatif. Mereka mempunyai talenta di berbagai bidang, seperti menyanyi, menari, menggambar, merancang busana, membaca puisi, membuat pantun dan menulis. Sedangkan untuk kebudayaan, warna-warni mencerminkan mahasiswa TC berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang beragam budayanya.
“Ya, mahasiswa TC itu, dari Sabang sampai Merauke, semuanya ada. Mereka itu kreatif sekali di bidang masing-masing. Makanya di event kali ini, kita menyatukan semua warna warni yang ada, mulai dari perlombaan hingga acara puncak hari Kamis mendatang,” katanya.

Peserta lomba adalah para mahasiswa TC yang terdiri dari kelas Pendidikan Dasar Indonesia (ID1), Pendidikan Dasar Inggris (EDI), Matematika Indonesia (IMM1), Matematika Inggris (EMM1), Biologi Indonesia (IMB1), Biologi Inggris (EMB1), Sosial Indonesia (IMS1), serta Sosial Inggris (EMS1). Tiap kelas pada tiap angkatan diharapkan mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti lomba-lomba tersebut.

Kegiatan perlombaan ini diadakan di area TC, waktunya di atas pukul 16.00 WIB sampai selesai sehingga tidak mengganggu jalannya perkuliahan. Adapun lomba-lomba tersebut meliputi sayembara gambar, debat, lip sync lagu daerah, berbalas pantun, musikalisai puisi, vokal grup lagu daerah, costplay “merah putih” dan jurnalistik. Selain lomba-lomba tersebut, ada juga satu lomba yang tidak hanya diikuti mahasiswa TC melainkan terbuka untuk semua mahasiswa UPH, yakni lomba fotografer. Sejauh ini, sudah terdapat beberapa mahasiswa dari fakultas lain yang turut berpartisipasi.

Adapun juri setiap perlombaan, selain para dosen dan staf TC, juga didatangkan dari berbagai fakultas dan departemen di UPH misalnya Fakultas Seni Musik, Faculty of Liberal Art dan Johannes Oentoro Library, bahkan khusus untuk lomba jurnalistik, salah seorang jurinya adalah jurnalis sebuah media massa nasional di Jakarta.

dsc01127
Peserta Costplay

Khusus pada hari Jumat (12/11), lomba yang diadakan adalah costplay. Dalam perlombaan tersebut, terdapat 10 peserta yang tampil gagah dan anggun menampilkan karya mereka. Aspek yang dinilai dalam costplay selain menampilkan minimal lima ornamen daerah, mesti juga dilengkapi dengan unsur merah putih. Keseluruhan kostum yang digunakan haruslah hand made kecuali kaos/kemeja atau rok/celana dan alas kaki, karena faktor itulah yang diharapkan dari lomba costplay. Walaupun hanya dengan buatan tangan, para peserta tersebut dapat menunjukan berbagai ornamen unik dan megah yang mewakili daerah-daerah di Indonesia. Satu peserta bisa memakai kebaya dan lurik dari Jawa, ornamen ondel-ondel dari Jakarta, rumbai-rumbai dan kontaif dari Papua, menyampirkan ulos dari Sumatera Utara, sarung dari Sabu, mengalungkan manik kata dan kandaure dari Toraja, melilitkan pending dari Timor serta ornamen lainnya.

dsc01086
Salah satu peserta yang memakai kain adat dari Amarasi (laki-laki)

Selain menampilkan perpaduan ornamen daerah, para peserta juga harus percaya diri ketika memeragakan busana yang dipakainya, juga menjawab pertanyaan yang diajukan juri dengan jelas dan lancar. Sebelum menjawab pertanyaan, peserta lebih dahulu mengenalkan apa nama ornamen dan berasal dari daerah manakah ornamen tersebut.

Hari Sabtu (13/11), telah dikeluarkan pengumuman hasil penjurian lomba costplay. Di antara 10 peserta tersebut, diambil enam (6) peserta terbaik yang akan tampil di puncak acara bulan bahasa hari Kamis mendatang. Menurut salah satu juri lomba costplay, diharapkan di acara puncak nanti, para nomine tersebut harus tampil lebih baik dari yang sebelumnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tak dinyana, ternyata di balik kesibukan menggeluti kuliah agar nantinya menjadi seorang guru Kristen yang profesional, para mahasiswa TC juga memiliki potensi yang luar biasa dalam bidang seni dan komunikasi. Hal ini terlihat dari kekreatifan mereka menggarap ide untuk menggambar, musikalisasi puisi, mengolah vokal, mencipta pantun, berdebat, menampilkan gerakan indah, dan yang mengaggumkan, mereka pun dapat merancang busana dan ornamen daerah, memadukannya serta memeragakannya. Inilah talenta yang dipercayakan Tuhan dan mahasiswa TC telah menggunakannya dengan bertanggung jawab.

dsc01129Puncak acara bulan bahasa yang akan diadakan hari Kamis 18 November, menurut Intan, tak akan kalah meriahnya. Acara tersebut akan berlangsung siang hari, yakni pada pukul 11.30 WIB sampai pukul 13.30 WIB. Intan menambahkan, saat ini para mahasiswa yang terlibat dalam puncak acara tersebut sangat intens dalam mengikuti latihan, di antaranya menari, choir dan teater. Selain itu, para peserta costplay, lip sync dan musikalisasi puisi, yang berhasil sebagai nomine pun akan memeriahkan acara istimewa tersebut dengan menunjukan kebolehan mereka.

Rencananya, pada hari Kamis nanti, akan didirikan juga stan-stan daerah dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB, berlokasi di area kampus UPH tepatnya di plaza gedung D. Stan-stan tersebut mengenalkan kekhasan dan keunikan budaya tiap daerah di Indonesia, meliputi pakaian, makanan khas, musik, miniatur objek wisata, dan yang lainnya.

Dalam mempersiapkan puncak acara bulan bahasa 2010, para panitia telah bekerja dengan baik, membagikan selebaran kepada mahasiswa UPH, juga memasang spanduk di area kampus. Para dosen dan staf dari TC pun tidak tinggal diam. Mereka juga memberikan undangan kepada rekan dosen dan staf dari fakultas lain di UPH. Hal ini agar semua warga UPH turut menyaksikan acara bulan bahasa 2010 yang diselenggarakan Teachers College. (AT)

*Juara 1 Lomba Jurnalistik pada kegiatan Bulan Bahasa Teachers College UPH tahun 2010