God's Story

Melihat Pasyur Masa Kini

Pasyur, atau dalam NIV dan KJV ditulis Pashhur dan Pashur, adalah seorang imam yang menjabat kepala di rumah Tuhan di masa Nabi Yeremia. Sewaktu mendengar nubuatan Yeremia tentang kemurkaan Tuhan, ia dengan serta merta memukul dan memasung Yeremia di pintu gerbang Benyamin di atas rumah Tuhan.

Meski ketika usai membaca kisah ini saya sendiri agak merasa janggal, sebab orang datang memberitahu apa yang benar, ia malah disiksa. Tapi kemudian saya menyadari, di masa sekarang, sebenarnya ini bukan sesuatu ganjil dan langka. Alangkah banyak dari kita yang hanya mau memanjakan telinga ketika mendengar khotbah dan pengajaran di ibadah gereja ataupun persekutuan-persekutuan. Kita lebih suka ia yang mengajar atau berkhobah di depan sana hanya bicara yang baik dan menyenangkan telinga saja, memotivasi kita untuk terus maju dan sukses tanpa mau terbuka kepada teguran yang keras akan keburukan-keburukan kita.

Bahkan sekarang ini juga para pengajar diminta membicarakan yang baik-baik dan berupa hiburan (bukan berarti hiburan itu tidak perlu, tapi toh dalam iman kita sudah punya harapan kok) saja sesuai kebutuhan mereka yang mendengar. Seorang akan minta kesuksesan studi, seorang yang lain minta kesembuhan dari sakit panu, seorang yang lain minta jodoh, seorang yang lain minta kaya, seorang lain minta yang berbeda demikian seterusnya. Justru kalau seorang HT yang mengajar dan menegur dengan keras, ia malah akan ditolak atau ditinggalkan, bahkan dicaci-maki, atau mungkin juga akan sesadis Pasyur di zaman Yeremia ini. Ia yang mau membersihkan borok untuk diobati justru kita tolak dan siksa, sementara ia yang datang bermanis-manis dalam kepalsuan justru kita sanjung-panjung (Ah,sungguh manusia ini memang terlalu). Demikianlah laku kita sebagai contoh Pasyur/Pashhur/Pashur zaman sekarang.

Iklan
God's Story

Ezra, Nehemia, dan Ester

Saya sudah selesai membaca buku Ezra dan Nehemia. Baru-baru ini. Lalu melanjutkan ke Ester dan Ayub (sekarang sudah selesai Ayub dan akan melanjutkan ke Mazmur). Tapi  dua hari lalu ketika ditanyai kembali apa kisah pokok dari buku Esra dan Nehemia, ingatan saya sudah tak seterang sewaktu membaca. Jadilah sebelum melanjutkan ke Mazmur, saya kebut diri saya membaca ulang Ezra dan Nehemia. Alhasil, setelah menundukkan diri di bawah kebutan, dalam sehari dua kitab itu bisa selesai. Untungnya keduanya tidak panjang. Ezra hanya 10 pasal dan Nehemia hanya 13. Keduanya menceritakan hal yang sama dengan beda sudut pandang. Tentang tahun pertama Raja Persia berkuasa dan orang-orang buangan (orang Israel) disuruh kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali bait suci yang sudah runtuh, bait suci yang pernah sangat megah di zaman Salomo, yang hampir setiap bagiannya bersalutkan emas (alamak😘).

Setelah membaca ulang kedua buku ini, dan ketika dipikir-pikir kembali, sepertinya saya tidak sadar sewaktu membaca kemarin-kemarin. Kok bisa-bisa tidak ada satupun kesan yang tinggal setelah membaca Ezra dan Nehemia yang pertama kali (meski bukan yang pertama karena pernah sewaktu kuliah ada tugas membaca hanya waktu istilahnya saya baca lari-lari demi mencapat nilai :p :)).

Kali ini setidaknya ada sedikit yang ditangkap dan diingat. Tentu saya tak perlu menuliskan ringkasan di sini karena sudah banyak bertebaran di internet. Saya hanya mau meninggalkan apa yang berkelabakan di kepala seusai membaca. Tidak kritis-kritis amat dan tidak aneh-aneh. Hanya sekadar meninggalkan jejak bahwa saya sudah selesai membaca 😉 🙂 Saya sekadar ingin menuliskan saja, sebab hanya dengan menulis sesuatu akan lebih bertahan lama (isi kepala saya semua pun tak saya keluarkan di sini).

Sebelum membaca, sangkaan awal yang sempat singgah di kepala saya adalah di dalam buku Ezra dan Nehemia termuat kisah ketika mereka dalam masa pembuangan. Nyatanya hanya sempat disinggung sedikit di awal, selebihnya adalah para orang buangan itu oleh sang Raja Koresh, mereke diizinkan kembali ke Yerusalem dengan menyertakan kepada mereka banyak bekal.

Terlepas dari beberapa gelombang yang berbeda dengan pemimpin dan tantangan  masing-masing, bagi saya ada satu hal yang menarik di awal kisah. Bagaimana bisa sewaktu di tahun pertama pemerintahannya, Koresh, raja Persia langsung memerintah orang-orang Israel pulang ke daerahnya. Sejak membaca dari bagian akhir 2 Tawarikh dan langsung kepada buku awal Ezra, kita melihat seakan-akan begitu baiknya dan begitu murah hatinya si raja Persia ini. Mujizat betul :p :D. Kira-kira apa yang menggerakkan hatinya sehingga ia bisa mengeluarkan dekret sedemikian rupa? Belum bisa kita jawab (meski ada sedikit bocoran di awal tentang seseorang bernama Yeremia) karena baru di buku-buku berikutnya akan kita temukan bahwa sebenarnya di balik perintah Raja Koresh, ada doa-doa yang terus dipanjatkan orang-orang Israel dalam masa pembuangan itu dan Tuhan pun tidak tinggal diam melihat kesengsaraan mereka. Pada waktu yang tepat, ia menggerakkan hari si raja dan memerintahkan orang-orang Israel pulang membangun bait suci mereka. Tak hanya itu. Bahkan ia juga memerintah agar orang-orang yang pulang itu pun dibekali dengan bahan-bahan yang nantinya akan dipakai dalam pembagunan tersebut. Kurang baik apa coba?

Merenungkan ini, saya jadi teringat dengan kisah Ester. Sewaktu Ester bergumul bagaimana mengatakan permasalahannya kepada raja sementara untuk menghadap raja pun bukan sembarang waktu, sebab hanya mereka yang kepadanya diulurkan tongkat raja barulah boleh meghadap. Keputusan selanjutnya yang diambil adalah ia dan orang-orangnya harus berpuasa. Harus berpuasa. Setelah melewati masa puasa maka ia akan menghadap. Apapun yang akan terjadi biarlah terjadi. Dengan itu, Tuhan membuat skenarionya jadi lebih indah. Setelah lewat masa puasa, Ester mengenakan pakaian ratu dan berdiri di pelataran dalam istana raja. Bertepatan saat itu raja pun bersemayam di takhta dalam istana yang langsung menghadap pintu istana. Ketika melihat Ester, sang ratu, berkenanlah raja kepadanya lalu mengulurkan tongkatnya. Ester ditanyai masalahnya, bukan hanya ditanyai, bahkan raja pun meyakinkan bahwa  setengah kerajaan pun akan diberikan kepadanya bila itu adalah permintaannya. Bayangkan! 😀

Tak hanya sampai di sana. Malam harinya, raja tak dapat tidur sehingga ia ingin membunuh waktu dengan dititahkan untuk dibawakannya kepadanya kitab pencatatan sejarah dan dibacakan. Baru saat itu ia teringat kalau ia belum memberikan penghormatan apa-apa kepada Mordekhai, orang yang pernah menyelamatkan nyawanya. Demikian plot cerita berbalik dari yang dirancang manusia. Mordekhai dihormati, diarak di lapangan kota, lalu kaumnya diselamatkan. Sebaliknya Haman, ia disulakan pada tiang yang dibangunnya sendiri, yang sedianya adalah tiang untuk memancang Mordekhai.

 

 

 

 

 

 

 

God's Story

Kapsul 59: Sidi

Hari ini banyak anak remaja dan pemuda yang ditahbiskan, disahkan menjadi anggota sidi gereja. Saya teringat cerita unik saya waktu sidi juga adik bungsu saya setahun lalu. Hanya dua di antara kami yang bagi saya berkesan. Punya saya cukup sedih. Adik saya kebalikannya. Ya, masa dia sekarang adalah masa kebalikan dari saya seumuran dia.

Cerita lengkap, bagusnya dibuat cerpen saja kali ya… Doakan, semoga api roh suci tetap berkobar untuk saya terus menulis😄😉💪🙏😇.

God's Story

Kapsul 56: Lomba Mengembangkan Cerita Alkitab

Seri cerita Narnia khususnya tentang Singa, Penyihir, dan Lemari karangan CS Lewis adalah yang pertama kali muncul di kepala saya ketika seorang kawan bertanya kepada saya tentang lomba menulis cerita paskah. Cerita ini adalah cerita terbaik yang akan terus saya rekomendasikan kepada anak-anak murid saya. Meski berupa fiksi dengan memuat tokoh anak-anak dan dunia binatang dan makhluk-makhluk aneh di dunia lain, cerita ini jelas membawa pesan paskah di dalamnya.

Rupanya kawan saya menanyakan cerita paskah tersebut sekaligus ingin meminta saya ikut membantu di gerejanya menjadi salah satu penilai dalam lomba menulis cerita paskah yang akan diikuti anak-anak sekolah minggunya. Bentuk lomba menulis cerita paskah pun sebenarnya belum mereka matangkan akan seperti apa bentuknya. Mendengar itu saya usulkan saja membuat lomba semacam mengembangkan cerita tentang peristiwa-peristiwa kecil saat masa kematian dan kebangkitan Yesus. Kebetulan di sekolah kami sedang belajar tentang novel dan anak-anak belajar tentang novel Christ Lord: Out of Egypt, juga terinsipirasi dari majalah Litera, memanfaatkan ruang kosong dalam alkitab untuk dikembangkan ke dalam bentuk cerita baru.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Kawan saya setuju. Kami pun berembuk memutuskan topik cerita apa yang akan dikembangkan anak-anak sekolah minggunya yang mengikuti lomba tersebut. Pilihan jatuh kepada Simon dari Kirene dan Yusuf dari Arimatea.

Hari ini kami mengadakan Technical Meeting. Tentu sebagai salah satu penilai harus hadir memberi sedikit penjelasan dan dorongan semangat mengenai lomba tersebut. Dorongan-dorongan semacam, kau tahulah, kalau hari ini kau membaca sebuah buku bagus dan merasa sangat terberkati olehnya, bersyukurlah bahwa buku itu sempat ditulis. Bayangkan bagaimana bila bahwa buku itu tidak pernah ditulis. Kau tak akan pernah tahu bagaimana gelapnya dunia ini, bukan?

Maka itu, menulislah selama kau masih bernapas. Pahatkanlah sesuatu selama masa singgahmu di planet ini. Pahatkan dan konekkan ia dengan kekekalan. Kau hidup dengan berbuat begitu😊😘 . Berharap setelah ini siapa tahu dari antara peserta lomba ada yang mau mengembangkan diri di dunia tulis-menulis😉😊😇.

God's Story

Kapsul 51: Mengapa Allah Murka Kepada Uza dan Membunuhnya di Tempat

https://forwhatsaiththescriptures.org/2015/01/25/god-unfair-uzzah/

*Sebenarnya saya ingin reblog (karena sesama pengguna wordpress), tapi dari sumber sendiri tidak menyediakan tombol share atau reblog jadi saya share manual saja.

Ceritanya, saya membaca 1 Tawarikh 13 dan di ayat 9, ada catatan tentang Uza yang mengulurkan tangan ingin menjaga tabut Allah karena lembu-lembu yang menarik kereta tergelincir. Anehnya, Allah justru marah dan membunuh Uza di tempat. Kisah ini pun sebenarnya sudah dicatat juga di 2 Samuel 6, hanya sepertinya waktu itu tak begitu saya perhatikan.

Lanjut kepada kisah Uza. Nah, sebagai pembaca awam, tentu saya bertanya kenapa harus seekstrim itu Allah bertindak, kan? Dan setelah mencari-cari jawaban sebentar, saya menemukan tulisan tersebut.

God's Story

Kapsul 50: William Maillis (11 tahun), “Iman dan Sains itu sejalan, tak terpisahkan”

Di usia 11 tahun, William Maillis sudah menamatkan sekolah dan masuk perguruan tinggi. Di usianya yang masih sangat muda ini ia bukan hanya ingin menjadi astrofisikawan, ia malah sudah menjadi seorang astrofisikawan. Dalam dialog seperti yang ditampilkan HCHCMedia ini, kau dapat melihat bagaimana cara ia mengungkapkan pikirannya serta bagaimana ia menanggapi pertanyaan sang moderator atau para audiensnya. Dari dialog ini pun, kau bisa melihat bahwa meski ia sudah banyak mengetahui berbagai hal terkait semesta ini pun, menurutnya masih banyak hal yang belum kita tahu dan itulah kenapa ia masih ingin terus mempelajarinya.

Sepanjang dialognya, banyak pernyataan penting memang, tapi ada satu yang ingin saya pahatkan di sini. Kalimat itulah yang saya pakai sebagai judul di sini. Bahwa iman dan sains itu sejalan. Mereka tak bisa dipisahkan. Pernyataan yang kemudian ditanggapi sang moderator, “Maksudmu, yang satu melengkapi yang lain, begitu?” Ya, memang begitu maksudnya.

Selain itu, dari video ini juga, yang luar biasa bagi saya juga adalah bahkan para profesor yang ada di sana pun tak sungkan-sungkan bertanya pada William, seorang anak usia 11 tahun. Pertanyaan mereka bukan semata karena mereka tak tahu tapi memang karena mereka ingin banyak mendapat sharing dari seorang jenius usia 11 tahun. Inilah gunanya sbeuah pertemuan antar manusia. Teknologi dapat berkembang dan mungkin bisa lebih pintar dari manusia. Tapi pengalaman unik setiap anak manusia di muka bumi ini tak akan tergantikan oleh robot yang katanya akan lebih pintar dari manusia. Jadi, kesimpulannya, manusia dan keunikannya tetap tak akan tergantikan.