Kencan Buku, Diskusi Sastra di TamNos, dan Sekilas tentang Oi

Sabtu, 14 Oktober 2017. Malam ini di tempat kencan buku Taman Nostalgia Kupang atau yang disebut TamNos sedikit berbeda. Selain digelar lapak baca gratis, ada juga diskusi tentang proses kreatif. Sebagai narasumber maka dihadirkan dua pekerja kreatif yakni Frater Deri Saba dan juga Pater Milto Seran. 

Diskusi tepat dimulai pukul 08.03 wita. Dibuka Kak Gusti Fahik yang kemudian dimoderatori Kk Efry Tanouf. Sebagai pengantar, Deri Saba pun menjelaskan sedikit tentang latar belakang ia menulis, kenapa yang ditulisnya adalah cerpen, kenapa dan bagaimana proses sampai buku cerpen Ingatan adalah Belati itu jadi, dan tentang apa pula cerita-cerita yang ada di dalamnya. Demikianlah diskusi itu mengalir dan terus berlangsung diselilingi dengan beberapa tanya jawab juga masukan dari beberapa peserta yang hadir. 

Kira-kira sejam lebih berlalu, diskusi dengan narasumber kedua pun berlanjut. Oleh moderator, Pater Milto Seran diperkenalkan sebagai seorang imam yang selama tiga tahun terakhir ini tinggal di Rusia😱😘 (Walau sekarang sudah tak begitu-begitu amat, tapi saya pernah memfavoritkan Rusia sebagai negara yang ingin saya pelajari bahasanya, datangi tempatnya, tinggal di sana, merasakan langsung kulturnya, bahkan kalau bisa dapat keluarga dari nama sana biar nama saya jadi ikut berubah sebab saya suka kerumitan ejaan nama orang-orangnya😄😅. Semua itu bermula dari cerpen dan novel para sastrawannya walau tahunya cuman Leo Tolstoy, Anton Chekov, dan Fyodor Dostoyevsky). 
Pater Milto ini pum memulainya dengan mengatakan dirinya tidak datang untuk berbicara melainkan sebaliknya ingin belajar dari kawan-kawan pegiat literasi yang ada di Kupang. Kemudian ia pun mulai bercerita sedikit mengenai yang diketahuinya mengenai Rusia zaman sekarang dan dilanjutkan dengan tanya jawab terkait beda sastra Rusia saat ini dengan yang sudah biasa dikenal dunia. 

Menanggapi salah satu pertanyaan mengenai sastra Rusia selain yang sudah beredar atau yang umum dikenal, Pater pun mengeluarkan satu buku berukuran kecil namun bersampul tebal dan bagus. Buku tersebut berisi kumpulan puisi Sergei Yesenin, seorang penyair Rusia. Puisi-puisi di sana tertulis dalam bahasa Rusia. 

Baiklah, mari belajar puisi Rusia karya Sergey Yesenin yang dibacakan langsung dalam bahasa Rusia oleh Pater Milto Seran. 

Berikut ini adalah puisi Sergey Yesenin dalam bahasa Rusia yang dibaca tadi.  Berikut pula adalah terjemahannya dalam bahasa Indonesia oleh orang yang sama tersebut😊. 

Diskusi yang cukup serius itu terus berlanjut hingga kira-kira pukul 11 pm. Setelah itu diskusi bebas diberikan. Siapa yang mau lanjut bersama siapa bicara apa dipersilakan. Tidak lagi pakai moderator segala. Saya sendiri bergerombol dengan kawan-kawan Dusun bicara tentang sesuatu yang tentunya tak perlu saya beberkan di sini😄sebab cukup privat dan sangat penting. 

Tak berapa lama kemudian bergabunglah salah seorang anggota Oi dari Alor. Oi adalah satu ormas yang ada di Indonesia, bermula dari para simpatisan atau penggemar (kalau benar sebutan saya) atau orang-orang muda lingkaran Iwan Fals, yang oleh Iwan Fals sendiri mereka dianggap sebagai anak-anaknya😊😘😚. Diskusi kecil-kecilan terjadi. Dari hasil sharing itu, dapat disimpulkan, kegiatan yang sudah mereka jalankan kurang lebih tujuh bulan itu sangat inspiratif dan membangun. Walau di Alor yang adalah kabupaten dibanding Kupang yang adalah ibukota provinsi, gerakan mereka sungguh luar biasa, sangat patut diapresiasi, juga diteladani. Salah satu motto atau slogan mereka yang saya ingat adalah SOPAN. Seni, Olahraga, Pendidikan, Akhlak, dan Niaga, adalah bidang-bidang yang ingin mereka garap. Mantap, semua bidang-penting mereka perhatikan. Kalau dilihat dari kacamata penilaian sekolah semua ranah terangkum sudah. Kognitif masuk, psikomotor masuk, afektif masuk. Komplit 👍👏. 

Salam kenal untuk, OI👌👏👊. Selamat berkarya demi kemajuan bangsa💪, demi Indonesia💪🙏😇 . 

Iklan

Awal Mula Ikut Serta MIWF 2017

MIWF adalah satu festival sastra tahunan yang ada Indonesia sejak tahun 2011. MIWF sendiri adalah singkatan dari Makassar International Writers Festival. Awal mula saya mendengar dan mengetahui MIWF ketika pada tahun 2013 ada beberapa kawan penulis dari NTT, sesama anggota Komunitas Sastra Dusun Flobamora terpilih sebagai emerging writers (EW) dan diundang ke sana. Mereka di antaranya Mario F Lawi, Christian Dicky Senda, dan Amanche Frank. Hanya saja waktu itu saya kurang punya keinginan untuk tahu lebih lanjut tentang MIWF. Di tahun 2014, ada lagi satu anggota Dusun Flobamora yang terpilih, Saddam HP. Disusul tahun 2015, dua orang lagi terpilih, mereka adalah 2F (versi saya ;)), Anastasia Fransiska Eka dan Felix Nesi.

Sampai saat itupun saya belum terpikirkan untuk nanti ikut mengirimkan karya saya tahun berikutnya kalau-kalau juga bisa masuk. 😀 Entahlah, belum merasa terpanggil barangkali. Ketika keluar pengumuman untuk seleksi karya taun 2016, saya masih saja mengganggapnya tidak serius. Tak ada persiapan. Dikirimi SMS dan pesan via messenger bahkan ditanyai dan dianjurkan oleh kawan dari Lentera yang mengetahui MIWF ini, saya akhirnya untuk menghargai undangan dan anjuran mereka, saya kirimkan saja beberapa cerpen yang ada tanpa banyak berharap. Saya melupakannya setelah itu.

Ketika pengumuman hasil seleksi emerging writers MIWF 2016 keluar, itupun saya lupa kalau saya pernah ikut mengirimkan karya, sampai ada satu catatan kecil dari salah satu alumni EW, Kak Dicky Senda yang membagikan pengumuman itu, bahwa berturut-turut sejak tahun 2013, 2014, 2015, dari NTT selalu ada yang lolos seleksi EW MIWF, dan baru kali inilah di tahun 2016 tiada seorang pun yang mewakili NTT. Catatan itu sederhana, tidak bernada keluhan atau negatif lainnya. Saya saja yang sewaktu membaca catatan kecil pengiring pengumuman itu tiba-tiba baru teringat kalau saya pun sebenarnya pernah ikut mengirimkan, dan juga tersadar kalau cerpen yang saya kirimkan pun hanya asal-asalan. Saya jadi merasa bersalah dan menyadari betapa tidak bertanggungjawabnya saya. Sedih jadinya. Dari situlah saya berjanji kepada diri saya sendiri, persiapkan diri untuk ikut mengirimkan karya tahun depan. Lolos atau tidak pun, paling tidak saya sudah lebih sungguh mempersiapkan karyanya jauh-jauh hari. Beruntungnya juga, di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, ada kelas setiap minggu, membahas baik cerpen, baik puisi, dan tulisan kreatif lainnya. Kelas minggunan itu cukup memberi saya banyak kemajuan  untuk memperbaiki cerpen-cerpen saya sebelumnya.

Dalam proses waktu bergulir, saya sempat lupa mau saya apakan cerpen-cerpen itu. Hingga kemudian datang kabar, ada lagi pembukaan seleksi EW MIWF tahun 2017, bahkan di kelas Dusun Flobamora pun sering dibicarakan, dan oleh kawan-kawan saya didorong untuk ikut mengirim. Di luar itu, saya pikir saya sudah jauh lebih siap untuk mengirim. Anehnya, cerpen dan segala kelengkapan yang diminta walau sudah siap tidak segera saya kirim. Alasannya cukup sepele, agak takut-takut. Saya baru mengirimnya beberapa hari sebelum tanggal penutupan. Itupun atas peringatan seorang kakak yang menjadi pembimbing kami di kelas Dusun Flobamora, Mas Abu Wibisana, “Anggap saja batas pengirimannya adalah beberapa hari sebelumnya. Jangan sampai terjadi kesalahan teknis di hari dead line sehingga karya yang sudah jadi malah tak bisa terkirim,” katanya.  Maka terjadilah sesuai yang disarankan. 😀

Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini saya mengirim lalu tidak segera melupakan walau tidak terus-terusan juga saya mengingatnya. Mendekati hari pengumuman, saya tahu bahwa akan ada pengumuman seleksi EW MIWF karena saya menandainya di kelender. Namun bertepatan di hari pengumuman, saya lumayan sibuk karena terlibat dalam kegiatan paskah dari GRII. Sampai larut malam, saya tak sempat menengok email atau media sosial untuk mengetahui hasil seleksi itu. Barulah keesokan paginya ketika saya bangun, sesudah mengaktifkan paket data, barulah masuk pesan-pesan terkait lolosnya saya sebagai salah satu peserta Emerging Writers MIWF 2017.

Emerging Writers MIWF 2017

Sumber: twimgmiwf17

Antara percaya dan tidak, sebab saya baru saja bangun tidur. Walau masih pagi-pagi subuh, kabar bahagia ini tentu saja membuat saya harus berseru kaget, melompat turun dari tempat tidur dan langsung terduduk di lantai. Mata saya berasa panas dan basah. 😀 (saya mengakui saja apa yang benar terjadi). Rupanya seruan kaget saya membuat adik saya ikut pula terkejut. Tergopoh ia datang menengok. Ia mengira saya baru saja melihat ular atau tikus atau serangga bermata besar apa. Saya tidak peduli. Saya tunjukkan padanya pesan dengan brosur di atas. Ia kelihatan bingung. Peduli amat.

Saya lagi senang. Kau mengerti saja. Begitu saya bilang.

Ia masih saja belum mengerti.

Saya akan ke Makassar. Saya melanjutkan.

Kok bisa?

Saya lolos seleksi menulis.

Oh, lalu kapan ke Makassar?  Ia sudah mulai mengerti situasi.

Bulan Mei nanti.

Baiklah, bagus sudah, katanya lalu berbalik pergi.

Saya melanjutkan keasyikan saya memelototi nama-nama yang tertera di gambar itu. Hanya ada satu nama yang saya kenal. Kak Maria Pankratia. Ia juga orang NTT, dari Ende, tempat saya pernah mengikuti kegiatan Temu II Sastrawan NTT. Kak Maria juga salah satu anggota Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Saya senang juga bangga. Tepat seminggu sebelumnya, tanggal 11 April, hari istimewa saya (♥ 🙂) tak sengaja kami bertemu di sebuah jajaran depot makan. Mungkin itu salah satu pertanda kami akan bertemu lagi di ajang MIWF. Saya menganggap itu sebuah kado istimewa dari Tuhan. Sungguh seperti itulah yang memang pada dasarnya saya harapkan. Daripada mendapat kado dari manusia, adalah lebih berharga kado langsung dari Tuhan. Istimewa yang benar-benar istimewa bukan? 😀

Terima kasih kepada Sang Penyelenggara Kehidupan. 🙂

 

Dua Kegiatan Diskusi Bertema Tragedi ’65

Ada dua kegiatan diskusi bertema tragedi ’65 yang sempat saya ikuti dalam dua-tiga bulan terakhir. Kegiatan pertama bertempat di aula Fakultas Teologi UKAW Kupang. Kegiatan tersebut berupa Diskusi dengan tema Mari Bacarita ’65 oleh Cahaya Mata Generasi Muda. Berlangsung Sabtu, 14 Januari 2017.

Sehari sebelumnya ada juga kegiatan, hanya saya tidak ikut. Saya baru sempat hadir di hari kedua yakni pada diskusi “Mari Bacarita ’65” tersebut. Narasumber hari itu adalah seorang nenek dari Baun, Amarasi Barat, bermarga Bureni, nama tepatnya saya tak begitu ingat. Beliau hadir sebagai salah satu saksi dari sekian banyak korban tragedi ’65. Tak hanya itu, ada dua lagi narasumber lain. Saya hanya tahu jelas dan ingat salah satunya, Bapak Matheos Viktor Messakh. Seorang lainnya dipanggil dengan Kak Atta  sebagai salah satu dari perempuan-perempuan GMIT yang selama ini mendampingi opa-oma korban tragedi ’65 (correct me if I’m wrong) :).

Awalnya saya sempat berniat untuk tidak pergi menghadiri diskusi tersebut sebab dari kabar yang saya dengar, undangan terbatas untuk tiap komunitas hanya bisa diwakili dua orang. Hari Sabtu pagi saya bangun dan melakukan aktivitas seperti biasa sebab dalam pikiran saya dari Dusun Flobamora dari hari Jumat kemarinnya sudah ada yang mewakili. Namun kemudian saya mendapat kabar kalau tidak semua perwakilan komunitas datang. Siapa yang berminat datang dipersilakan. Tentulah dengan sesegera mungkin saya bersiap dan melaju ke tempat tersebut. Tak apalah peduli amat dibilang peserta cadangan :D, hanya mengisi kekosongan, bagi saya selama itu sesuatu yang baik dan bermanfaat, mau jadi ‘penyusup’ pun akan saya lakukan…:D.

Di sana selama mendengarkan tanya-jawab dari moderator dan para narasumber, sungguh saya merasa bersyukur bisa hadir hari itu walau sedikit terlambat sehingga melewatkan sesi perkenalan (jadinya saya tak begitu tahu siapa moderator dan para narasumber selain Pak Matheos). Di hari Sabtu itulah akhirnya saya punya gambaran yang sedikit lebih terang dari yang sebelum-sebelumnya.

Selama masa saya kecil, sebelum saya bisa membaca, pengetahuan tentang PKI berkisar antara film yang diputar setiap tanggal 31 September malam (yang jadi pembicaraan anak-anak kecil dan orang dewasa seantero kampung keesokan harinya di tanggal 1 Oktober) dan cerita-cerita gelap yang dituturkan bapak atau  beberapa bai saya yang tersisa. Maksud kata gelap di sini adalah cerita mereka hanya mengungkit sepotong-sepotong, semacam tiba-tiba mengingat sesuatu dan terlontar kata-kata mereka yang berkaitan dengan PKI atau ‘lubang buaya’, atau mars PKI, dan karena penasaran ketika kami anak-anak atau cucu-cucunya bertanya lanjut, mereka akan langsung mengalihkan pembicaraan dan tak mau lagi membahasnya. Namun cukup lumayan dari sentilan-sentilan itu saya tahu bahwa kenapa saya tidak mengenal bai kandung saya dan saudara-saudaranya yang. Ternyata bahwa mereka memang ikut ditembak mati di ‘hutan besar’ dan dibuang masuk ke lubang buaya, dan nenek kandung saya pun adalah seorang yang harus menjalankan tugas wajib lapor, dan bahwa bapak saya karena merekalah yang setiap hari menempuh jarak berkilo-kilo untuk ke sekolah yang dekat dengan kantor polisi, ia dan beberapa saudara sepupunya yang lain bertugas sebagai pengantar bekal (yang disiapkan para ibu di kampung) tiap hari kepada bapak dan om-omnya yang sementara dalam tahanan.

Sementara di pelajaran IPS di sekolah, seperti apa teks yang tertulis di buku paket, seorang anak yang ditunjuk guru akan diminta untuk dibacakan keras-keras kepada siswa-siswa yang lain untuk mencatatnya. Mencatat paling sedikit halaman lima halaman setiap pelajaran adalah hal biasa. Catatan itu dibawa pulang ke rumah, dipelajari, dihafal, hingga nanti dari sana akan keluar soal-soal untuk dijawab. Mungkin saya termasuk seorang anak yang baik dan rajin dan taat bersekolah…:D. Demikian saya muku menghafal apa yang tertulis di buku-buku teks pelajaran IPS (maksud saya di sini lebih kepada pelajaran sejarah) :). Karena menurut buku komunis adalah biang kerok kekacauan negara sehingga harus dibumihangskan dari tanah Indonesia, demikian di masa-masa itu hingga di masa-masa selanjutnya saya ikut melaknat bai-bai saya yang terlibat dan mati ditembak sehingga meninggalkan anak-istrinya. Saya menyayangkan kenapa mereka harus terlibat sehingga bapak saya dan sepupu-sepupunya harus menjadi yatim sejak masih ingusan, sampai cucu-cucunya pun tidak tahu-menahu dan tidak punya bayangan sama sekali seperti apa rupa bai-bai mereka–maafkan saya yang buta dan bodoh 😦

Bersambung (biar ada draft dulu sebagai pemicu untuk nanti dilanjutkan…daripada tidak ada sama sekali…:))

Kegiatan kedua baru saja terjadi pada hari Sabtu malam, (18/3) di Taman Dedari Sikumana, Kupang. Kegiatan ini diawali lebih dahulu dengan pemutaran sebuah film berjudul Pulau Buru Tanah Air Beta. Bicara Pulau Buru saya tak begitu tahu lebih detail selain bahwa itu adalah tempat dibuangnya sastrawan kenamaan Indonesia, Bapak alm Pramoedya Ananta Toer. 

Rupanya sebelum pemutaran film inti tersebut, disajikan juga cuplikan tentang apa itu dan seperti apa itu Lekra. Judul cuplikan itu agak sedikit rumit di kepala saya karena memakai ejaan lama. Saya sudah mencoba mencarinya di google tapi tak ada temuan.

Bersambung (biar ada draft dulu sebagai pemicu untuk nanti dilanjutkan…daripada tidak ada sama sekali…:))

** Akan ada banyak hal yang saya tuliskan nanti di sini sebagai pengingat (setidaknya bagi saya merekam momen), tapi pesan utama dari dua diskusi tersebut adalah pelajarilah sejarah yang benar. Pelajari. Bukan untuk lu jadi pintar lalu berbangga diri. Tapi supaya kesalahan masa lalu jangan lagi terulang di masa sekarang. Supaya kita jangan lagi dibodohi dan dipermainkan oleh oknum-oknum tak berperikemanusiaan. Supaya manusia adalah manusia sebagai makhluk yang mulia dan bukan binatang. Pesan utama ini (bentuk bold) disampaikan Bapak Matheos Messak pada Diskusi Mari Bacarita ’65 dan  ditegaskan lagi oleh Kak Lia Wetangterah, salah satu pendamping korban-korban tragedi ’65 di area Kupang, NTT, pada diskusi usai menonton film Pulau Buru, Tanah Air Beta.

Panggung Perempuan Biasa

Sabtu, 16 Juli 2016, tanggal yang cantik sekaligus menjadi hari istimewa bagi Perempuan Biasa. Di tanggal yang cantik ini, mereka menghadirkan panggung khusus perempuan bagi para penikmat seni dan sastra yang ada di Kupang.

perempuan-biasa2

Sebutan ‘Perempuan Biasa’ sendiri bermula dari sebuah judul monolog karya Abdi Keraf, disutradarai Lanny Koroh, dan dipentaskan Linda Tagie dalam acara “Kupang Pesta Monolog” pada bulan Maret 2016. Selanjutnya di bulan Mei, monolog Perempuan Biasa bersama Tubuh yang Palsu dari penulis yang sama dengan disponsori Taman Dedari Sikumana, diadakanlah pementasan Tour de Floresta, berturut-turut mengelilingi kota Maumere, Larantuka, Lembata, dan berakhir di Kupang. Tak berakhir hanya di sana, sebuah panggung khusus perempuan pun digagas. Maka menjadilah di Sabtu, 16 Juli 2016,  momentum Perempuan Biasa kembali bergaung di Kupang, NTT.

Mengusung tema “Panggung Perempuan Biasa, para perempuan baik perempuan NTT maupun luar NTT diberikan panggung istimewa untuk bedah buku dan pementasan seni. Acara bedah buku diadakan pukul 10.30 bertempat di SMP St Yoseph Kupang. Buku yang dibedah adalah karya seorang penulis perempuan Bali, Sri Jayantini, berjudul Bunga Perjalanan, sebuah kumpulan puisi dan prosa.

Bersama dua rekan lainnya Kaka Monika Arundhati dan Ibu Santri Djahimo, seorang dosen Bahasa Inggris dari Undana, kami yang adalah perempuan biasa (benar-benar biasa saya bilang, sebab contohnya saya sendiri walau suka dengan kegiatan baca tulis tapi diri ini sendiri pun belum pernah punya pengalaman membedah buku orang lain. Paling hanya pernah mengikuti acara bedah buku orang lain, itupun sebagai peserta atau penonton), diminta dan dipercayakan ambil bagian dalam bedah buku tersebut yang alhamdulillah berjalan baik. (Mungkin rangkuman pembedahan buku ada bagian tersendiri di Catatan Buku). Dihadiri kurang lebih 50-an orang, bedah buku disertai tanya jawab dan diskusi berlangsung hangat dan seru.

Sebelumnya, sebelum acara bedah buku dimulai maksudnya, sempat ada pengalungan salendang penyambutan dari sang tuan rumah, kepsek SMP St Yoseph sekaligus koordinator Dusun Flobamora, Romo Amanche Frank untuk kedatangan sang penulis perempuan Bali, Ibu Sri Jayantini juga kepada sang ibu dosen yang menjadi salah satu pembedah, Ibu Santri Djahimo.

Dilanjutkan pada malam hari, pukul 06.00, bertempat di Taman Dedari Sikumana, pementasan seni “Panggung Perempuan Biasa” dibuka. Ucapan salam penyambutan dan terima kasih dihaturkan koordinator Perempuan Biasa kepada para guest star baik yang dari Bali maupun Maumere, Lembata, dan komunitas di luar Perempuan Biasa. Dari Bali, hadir Ibu Sri Jayantini yang pagi harinya bukunya dibedah, dan Kaka April Artison yang ketika di atas panggung tampil memukau dalam monolog Pidato Tujuh Menit namun yang saya salut adalah ia berkali-kali mengenalkan dirinya sebagai ibu rumah tangga. Berikut dari Maumere, Komunitas Sastra Kahe tampil membawakan teater berjudul Du’a Buhu Gelo atau yang berarti Perempuan Kentut Kemiri.

Di luar Perempuan Biasa, ada juga mereka dari Komunitas hip-hop United of EX sebagai pembuka malam “Panggung Perempuan Biasa”. Tak lupa pula kepada pemetik sasando yang manis nan imut, Nona Virginia, seorang siswi SMP St Yoseph Kupang, membawakan lagu Mai Fali e… dan Haleluya.

Dari Perempuan Biasa sendiri, selain tiga buah tarian daerah NTT, sebuah puisi Perempuan dalam Doa oleh Febtian Candradevi Nugroho serta dua monolog dihadirkan kepada penonton diselingi tarian daerah dan sasando.

Monolog Perempuan Paling Bahagia dari Perempuan Biasa benar-benar menegaskan, saya perempuan biasa yang paling bahagia bisa menyaksikan pementasan seni “Panggung Perempuan Biasa” di malam istimewa tersebut. Kolaborasi yang indah dan megah antara penulis naskah Linda Tagie, sutradara Lanny Koroh, aktris Santji Muskanan, yang sempat saya dengar kata orang ia sudah nyaris sekelas Happy Salma, serta kru pendukung lain seperti Kaka Elin Taopan di bagian soundtrack, dan mereka yang lain di belakang layar cukup membuat saya nyaris tak bernapas hingga saya sadar saya baru menarik napas ketika sang aktris menyudahi monologianya yang keren atau yang orang Kupang bilang ‘babatu mangan‘.

Demikian juga ketika Perempuan Rembulan karya Yahya Ado yang dipentaskan Linda Tagie. Kisah tentang kehidupan seorang perempuan yang ketika mendapati suaminya ‘menyeleweng’, tak bisa berbantah banyak, ia pun memutuskan hijrah ke negeri orang, tekawe. Di sana baru didapatinya satu penyakit telah menggerogotinya sejak ia masih bersama sang suami. HIV/Aids sudah mendekam lama dalam tubuhnya sementara selama ini ia tak pernah berhubungan dengan seorang laki-laki mana pun. Lagi-lagi, entahkah ini mau disebut pengorbanan ataukah pembodohan ataukah pembiaran ataukah ketakpedulian ataukah penindasan ataukah kelaliman ataukah kekejaman ataukah kekurangajaran ataukah atau yang lainnya.

Kalau di sesi diskusi sempat saya dengan lontaran kalimat dari seorang komentator atau mau kalau boleh disebut kritikus ketika mengomentari penampilan April Artison dalam ngalor ngidul Pidato Tujuh Menit yang mengisahkan tentang pengabdian bertahun-tahun seorang guru honorer, bahwa tugas seni adalah menggugah, maka benarlah di malam pementasan seni “Panggung Perempuan Biasa” ini, saya tergugah akan sesuatu.

Terima kasih “Panggung Perempuan Biasa”. Telah engkau hadirkan panggung ‘sakral’ khusus perempuan untuk Kota Karang. Sekali lagi, sujud syukur dan kagum saya kepada Dia Sang Penyelenggara Kehidupan. Karena Dia dan untuk Dia pula, saya ingin menyampaikan salam salut penuh hormat saya kepada Kaka Lanny Koroh yang tergerak menyelenggarakan kegiatan ini, juga tak lupa kepada semua yang sudah terlibat. 🙂 :3

Kupang,  17 Juli ’16

Daftar Kegiatan Seni dan Budaya di NTT Tahun 2015

Semester dua tahun 2015 ini saya merasa begitu bersyukur. Kenapa? Sebab saya boleh berkesempatan terlibat dalam beberapa kegiatan yang menurut saya adalah gerakan-gerakan positif anak-anak muda untuk daerahnya, daerah NTT.

Berikut beberapa daftar kegiatan seni dan budaya yang saya hadiri selama enam bulan kedua tahun 2015 antara lain:

  1. Diawali dengan kegiatan Festival Sastra Santarang pada awal Juni di Kupang.
  2. Berikutnya walau hanya sebagai tamu saya senang bisa hadir di salah satu  Festival dan Konser Musik Budaya NTT bersama Ivan Nestroman di GOR Flobamora Oepoi Kupang pada pertengahan Juni.
  3. Selanjutnya Festival Pakariang-Pesta Kreativitas dan Permainan Tradisional Anak Kupang pada akhir Juli di Pantai Lasiana, Kupang.
  4. Disusul KITONG-Kunjungan Inspirasi Timor untuk Berbagi pada akhir Juli-awal Agustus di Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang.
  5. Lalu Pauhingu Seni:Sumba Art Gathering dan Sumba Trail pada pertengahan Agustus di Sumba Timur-NTT.
  6. Disusul kemudian dengan kegiatan Temu II Sastrawan NTT di Ende pada awal Oktober.
  7. Sepulang dari Ende, karena sekolah masih libur mid term dan saya sementara atak ada kegiatan, saya pun sempat menyusup ke Temu MPU yang diadakan di hotel Pelangi, Kupang.
  8. Berikutnya masih di bulan Oktober yakni di penghujungnya ada Satellite Event UWRF 2015 dan
  9. Festival Budaya Melanesia di Taman Budaya Prov NTT
  10. Menyusul kemudian Pameran Lukisan ‘Aku NTT’ Ubed Mashonev pada pertengahan November
  11. Hingga di penghujung November 2015 tepatnya tanggal 21, diadakan Apresiasi Seni (Sastra) di  Grand Mutiara Ballroom Kupang.

Wow, lumayan ada sebelas kegiatan selama enam bulan kedua tahun 2015.

Pada masing-masing kegiatan itu, sudah ada sedikit cerita dan kesan saya mengenai kegiatan-kegiatan ini. Jelas saya tidak menceritakannya secara detail serupa laporan, melainkan lebih kepada kesan seorang partisipan…:)

Intinya semua kegiatan itu keren dan mantap. Salam salut dan dan respect saya pada Anda sekalian, Anak-anak muda penggerak kegiatan-kegiatan positif di NTT. Teruslah bersinar, teruslah bercahaya. Pancarkan apa yang sudah diberikan sang pemilik dan penciptamu kepadamu.

Festival Sastra dan Temu II Sastrawan NTT

Namanya mungkin terbilang keren. Ah, tak tahulah. Mau keren atau tidak, saya hanya mau menuliskan kembali kisah keikutsertaan saya dalam kegiatan Temu II Sastrawan NTT (begitu ia dikasih nama) ini. Saya tidak  mengatakan diri saya salah seorang dari sastrawan/ti NTT. Hanya saya memang mendapat undangan untuk ikut serta. Begitulah kira-kira. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kantor Bahasa NTT.

 

Baik, mari dimulai. Namun sebelumnya, perlu diketahui, bahwa tulisan ini hanyalah sebuah cerita pengalaman mengikuti kegiatan Festival Sastra dan Temu II Sastrawan NTT. Bukan serupa liputan jurnalistik dengan segala kaidahnya. Jadi, harapan saya, ikutilah saja alirannya ke mana ia membawamu. Terima kasih atas pengertiannya.

Festival Sastra dan Temu II Sastrawan NTT. Dari namanya, mungkin telah engkau ketahui, bahwa telah ada pertemuan sebelumnya yakni Temu I. Tentang itu, saya hanya tahu bahwa itu memang ada, di tahun 2013, katanya diadakan di Kupang. Saya ikut menyertakan satu cerpen saya dalam satu antologinya, Kematian Sasando. Tapi tentang ada temu-temu segala saya kurang tahu. Dan itu sudah lewat, tidak begitu penting lagi dibahas sekarang.

Mengenai Festival Sastra dan Temu II Sastrawan NTT tahun 2015 ini, kegiatannya tak lagi di Kupang, tapi di luar, tepatnya di Kota Ende. Dan kali ini pun, mereka yang karyanya dimuat mendapat undangan untuk menghadiri kegiatan yang diselenggarakan.

Sesuai agenda, kegiatannya berlangsung dari Kamis, 8 Oktober hingga Sabtu, 10 Oktober 2015. Sementara di hari Jumat, tanggal 9 Oktober, di sekolah kami baru pembagian narrative report tengah semester. Saya minta izin untuk ikut berangkat hari Kamis bersama teman-teman lain dari Kupang, toh, semua kelengkapan administrasi sudah beres tinggal dari bagian kurikulum mencetak dan nanti dibagikan di hari Jumat. Surat dari Kantor Bahasa saya tunjukan ke pimpinan sekolah sebagai bukti kuat ada nama saya juga diundang di sana. Saya dipanggil dan kami berdiskusi. Pimpinan sendiri memberi apresiasi. Dari sini, sudah saya paham ke mana arah keputusannya. 😀 Jelas, mana yang harus lebih diprioritaskan. Saya diberi pertimbangan ini itu. Karena sedih dan ada sedikit rasa kecewa, saya memutuskan untuk membatalkan keikutsertaan saya, tiket saya tidak usah dipesan. Tidak, bukan begitu. Menurut kami, Anaci berangkat saja Jumat siang, sesudah pembagian narrative. Tidak ikut sehari lebih baik dari pada tidak sama sekali. Berkatnya Anaci, sayang tak dimanfaatkan. Lagian , di Jumat siang, semua kegiatan sekolah sudah selesai. Kamu bisa berangkat dengan tenang. Daripada berangkat Kamis dengan belum membagikan narrative, pasti ada ketidaktenangan selama mengikuti kegiatan. Ah tahu saja mereka.

(Btw, dalam percakapan itu, saya menuliskan saja sebagaimana yang terjadi, pimpinan saya, kepsek dan wakasek, karena kami berdiskusi dalam suasana santai, dan kebetulan mereka adalah kakak angkatan saya dan kawan saya sewaktu kuliah, maka bila mereka memanggil saya langsung dengan nama Anaci, dan bukan Ibu Anaci, adalah biasa. Kami berdiskusi dalam keadaan santai dan itu menunjukkan keakraban kami. Akan sangat berbeda dan terkesan kaku sekali bahkan aneh saja seandainya dalam diskusi kecil kami mereka memanggil saya dengan Ibu Anaci).

Waktu itu, saya mengikuti saran mereka walau dengan berat hati. Saya memesan tiket sehari lebih telat dibanding kawan-kawan saya yang lain. Mereka tanggal 8, sementara saya tanggal 9. Kemudian di sekolah saya jadi lebih diam sebagai bentuk protes saya. Beberapa hari kemudian, saya berefleksi dan baru menyadari, sudah benar pertimbangan dan keputusan kedua pimpinan saya, Pak Grefer Pollo sebagai kepsek dan Ibu Elise Lobo, sebagai wakaseknya. Apa yang mereka katakan dan sarankan memang benar. Saya adalah seorang wali kelas, dan tugas utama saya belum selesai, masakan di hari pembagian narrative report, hari di mana saya mesti bertemu dan berkomunikasi dengan orang tua anak wali saya, masakan saya malah tinggalkan mereka dan pergi menghadiri kegiatan yang di sana juga bukan saya pelakon utamanya. Di mana posisi dan keberadaan saya lebih diperlukan. Merenungkan ini, saya benar-benar bersyukur atas kebijakan yang diberikan kedua pimpinan saya. Sehingga di hari Jumat, ketika pembagian narrative report, saya sudah siap dan semangat, siap membagikan narrativer report, tidak terlalu terburu-buru karena tiket saya pukul 1 siang, sementara acara pembagian narrative dimulai pukul 9 pagi hingga pukul 11. Setelah semua berjalan baik, saya yang sudah menyiapkan perlengkapan, tak perlu pulang lagi ke rumah, melainkan dengan bawaan yang sudah ada, oleh seorang adik angkatan dari UPH Teachers College yang sedang menjalankan praktikum terakhirnya di Kupang, saya diantar ke bandara. Dan benarlah, saya berangkat dengan kelegaan luar biasa. Tak ada beban memberati pundak saya. Rasanya istimewa sekali hari itu.

Saya tiba di bandara Ende ketika sedang berlangsung diskusi di aula UniFlor. Saya menelpon panitia dan pikir saya, satu dari antara merekalah yang akan menjemput saya. Ternyata, yang datang adalah Diana dan Ke Eka. Duo kawan saya yang gokil abis sewaktu kegiatan Sumba Art Gathering. Entah bagaimana mereka bisa melobi panitia sampai merekalah yang datang dan membawa saya ke hotel. Dari sana, barulah kami bertiga menuju gedung UniFlor. Saya tak begitu mengikuti dengan baik kegiatan di sana karena mungkin juga baru datang sehingga saya perlu beradaptasi dengan tempatnya. Hanya mendengar sedikit ketika berlangsung tanya jawab antara peserta dan pemateri, kemudian kami kembali ke hotel untuk kemudian katanya bersiap untuk makan malam di rumah ketua yayasan (begitu sih bilangnya).

Ketika hari menjelang maghrib, kami sudah bersiap sambil menunggu Ka Eka dari rumahnya. Ketika ia datang, kami bukannya langsung keluar, malah berada di dalam kamar saya dan bernostalgia tentang Sumba Art Gathering di bulan Agustus lalu. Saking asyiknya bercerita sampai kami lupa harus berangkat ke rumah ketua yayasan UniFlor. Ketika kami keluar dari kamar, hotel sudah sepi. Jadinya kami menumpang angkot (saya lupa dengan nama apa mereka menyebutnya di sana, apakah angkot apakah bemo:)) yang langsung mengantar kami ke tempat tujuan. Beberapa menit kami tiba, acara pun dimulai dengan sambutan dan beberapa penulis membacakan karyanya lalu makan malam. Sehabis makan, acara baca-baca karya dilanjutkan. Kami bertiga menggunakan waktu itu dengan keluar berjalan-jalan di area sekitar. Kami menuju satu pelataran entah itu perkantoran atau apapun itu yang jelas ada mesin ATM. Pelataran itu baik untuk kami duduk-duduk di situ meski hanya tidak ada bangku dan hanya serupa tepi paving block sebagai alas duduk kami. Cukup lama sampai kami kemudian ditegur entah petugas entah siapa di situ dan kami pun pulang ke rumah ketua yayasan itu yang mana acara baca-baca karya masih sedang berlangsung. Kami berbaur kembali dengan mereka yang ada di rumah itu sambil mendengarkan orang-orang menampilkan karya mereka.

Keesokan paginya karena mesti bangun pagi-pagi untuk berangkat ke Puncak Kelimutu, wisata sastra begitu tertulis di agendanya, kami pun segera pulang ke hotel dengan bis yang disediakan. Di kamar, seusai membasuh muka kaki tangan, niat saya mau membaca beberap buku yang saya beli di pameran siangnya tak jadi karena langsung jatuh tertidur. Tidak  menyadari lagi keriuhan di luar. Beruntungnya sudah saya setel alarm. Saya bangun tepat waktu. Dengan dua bis, kami berangkat ke Kelimutu pagi-pagi sekali ketika hari masih gelap. Kak Eka tak ikut bersama kami, ada yang kurang jadinya. Perjalanan menuju ke sana melewati jalan-jalan yang berliku dan di pinggirannya terdapat jurang yang curam seperti yang ada di film-film atau mimpi. 😀 Tidak dekat ternyata. Mendekati tempat tujuan, kepala saya berasa pening, mungkin terlalu banyak melihat ke luar. Saya ingat ketika masih kecil kalau bepergian jauh, saya selalu diingatkan agar jangan terlalu sering menengok keluar jendela. Pandangan harus selalu lurus ke depan. Itu dapat mencegah kamu mabuk, begitu saya dibilangkan. Maka, mendekati tempat tujuan, saya harus mau tak mau mengurangis intensitas saya menengok ke luar padahal justru di tempat-tempat itulah yang pemandangannya hijau bagus karena semakin mendekat ke arah pegunungan. Saya sempat tertidur sebelum benar-benar tiba di tempat tujuan.

Tempat perhentian bis serupa di bila kita bepergian ke daerah Puncak Bogor kalau di Jawa. Kami hanya turun beristirahat sebentar untuk minum atau ke toilet dan barulah melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki demi ke Puncak Kelimutu. Satu-satu kami mulai mendaki jalanan yang sepanjang jalannya kami  ditemani desiran pohon cemara. Karena pemandangannya yang menyejukkan dan menentramkan hati, tiada letih sedikitpun terasa. Kami singgah di dua tepian danau Kelimutu yang dipagar dengan besi. Cukup menyeramkan seandainya tak dipagari. Tapi betapa waktu itu saya bisa berdiri dekat-dekat, sementara sekarang ketika membayangkan, saya jadi merasa ngeri, kok bisa saya sedekat itu dengan tepiannya (sambil berdoa minta dijauhkan segala mimpi buruk-amin).

1424583_10206015387837571_5012343631197885513_nDari tepian itu, kami menapaki lagi tangga seribu, begitu mereka menyebutnya, hingga ke Puncak Kelimutu. Dari tugu di puncak itulah, katanya kita bisa melempar pandang ke segala arah dan benar saja, itulah puncak tertinggi Kelimutu.

Anehnya di sana, saya seperti hilang sadar. Orang-orang begitu bersibuk ria, dan saya pun seperti tak menyadari keberadaan saya di sana. Serupa sebatang kayu kering, saya hanya bergerak ke sana-kemari tanpa mengerti betul-betul kenapa dan untuk apa. Saya pusing. Mungkin terlalu banyak orang. Tak ada ruang bagi saya untuk lebih menikmati. Hanya satu konsep yang saya bawa, cerita kedatangan saya ke Puncak Kelimutu tiada lain dan tiada bukan adalah melihat kebesaran ciptaan Allah. Hanya itu yang saya pegang. Namun ketika terlalu banyak orang bergerak ke sana ke mari dan saya pun ikut-ikutan bergerak ke sana ke mari, serta tak memberikan ruang kepada diri saya sendiri untuk berefleksi, jadilah hanya euforia yang terjadi. Di perjalanan pulang, saya tahu bahwa entah kapanpu itu saya pasti datang lagi, entah sendiri ataupun dengan orang-orang lain tapi dalam jumlah yang lebih kecil. Mesti.

Sepulang dari sana, mungkin karena letih, saya dengan Diana sempat tertidur hingga bus harus berhenti beberapa lama di tengah jalan karena berada dalam antrian panjang berhubung ada sisi jalan yang sementara diperbaiki.

Malamnya, acara dilanjutkan di Pantai Taman Ria, Ende. Sebelumnya karena Diana sudah lebih dahulu pulang berhubung ada acara lain yang harus ia ikuti, saya diajak Ka Eka jalan-jalan ke Pasar Ende, ke lapangan Pancasila, tempat Bung Karno menemukan ilham pancasila, kemudian ke situs rumah pengasingannya, sayang sudah tutup. Kami kemudian berjalan kaki ke Pantai Taman Ria.

12122780_10205199317076312_5132009350216555941_nAcara di sana sekaligus malam penutupan Temu II Sastrawan NTT. Acaranya seperti Babasa kalau di Kupang, tapi sedikit lebih formal, ah, sebut saja semi formal begitu kali ya. Ada babaca karya sendiri ataupun karya orang lain, makan-makan, babaca karya, musikalisasi puisi, hingga sambutan-sambutan penutupan. Saya sendiri sempat membaca puisi Ibu Mezra Pellondou dari antologi yang diterbitkan Kantor Bahasa. Seperti antologi Temu I, saya pun paling menyukai puisi-puisi Ibu Mezra. Kalau tahun lalu, saya suka puisinya, Orang-orang Gila itu Meneriakimu Gila; teruntuk Tius Natun, maka kali ini, puisinya yang saya pilih adalah Nazarku Cacad, ya Tuhan* Demikian liriknya.

Tuhan, inilah nazarku
Binatang cacad
Yang telah hilang sepasang matanya
Kaki-kakinya pun lenyap
Begitu pula tangan-tangannya

Semalam seekor jantan yang kupersiapkan untukMu
telah dicuri oleh seekor betina liar
Betina itu melarikannya
ke tengah hutan belukar
Aku telah mengejarnya
Mereka lenyap
Aku menangis sepanjang malam
di tengah rumput-rumput tropis yang kering

Tuhan, inilah nazarku
Binatang cacad
Yang tak bisa kukatakan seekor
Karena ekornya pun telah lenyap
Kugunting dan telah kupakai
Untuk mengikat sang jantan
Kutambatkan di mezbahMu
Agar ia jangan pergi
Namun seperti yang kukatakan
Seperti yang Engkau ketahui sekarang
Seekor jantan yang kupersiapkan padamu itu
Telah dicuri betina liar

Tuhan, terimalah nazar cacadku ini
Jangan lagi Engkau mengutukku
Apalagi jika Engkau tahu bahwa
Aku baru saja memeriksanya
Ternyata kelaminnya pun tak dimilikinya lagi
Aku tidak bisa menyebut
Jantan atau betina yang telah kupersembahkan padaMu ini

Tuhan, terimalah nazar cacadku ini
Kutuklah aku jika Engkau dapati aku
Mempersembahkannya dengan tidak tulus
Amin.

Kupang, 6 Januari 2014

(Diambil dari antologi puisi sastrawan NTT, Nyanyian Sasando terbitan kantor bahasa prov NTT 2015)

Oh, ya, sebelum menutup, sebagai informasi tambahan, bahwa di kegiatan Temu II Sastrawan NTT inilah terjadi dua peristiwa penting dalam sejarah sastra NTT. Maafkan saya, tak menuliskannya secara lebih detail sebab saya pun hanya mendapat informasi sekilas saja karena keterlambatan saya sehari itu. Saya tiba di Ende ketika acara penting itu sudah usai. Dua peristiwa penting itu adalah dinobatkan Bapak Gerson Poyk sebagai perintis sastra dan sastrawan NTT serta tanggal kelahirannya di 16 Juli ditetapkan sebagai hari sastra NTT. Itulah yang dibacakan di malam penutupan Temu II Sastrawan NTT.

Sepulangnya kami dari Pantai Taman Ria, bukannya langsung beristirahat. Kami masih bersibuk ria mengamati Pak Polisi Buang Sine yang sedang menggambar sketsa wajah orang Bapak Gerson Poyk. Terutama saya mengamati saja dengan takjub. Sungguh bapak ini luar biasa. Pak Polisi yang bukan saja menulis, tapi juga jago menggambar wajah orang dengan persis sekali wajah aslinya. Salute… 🙂 Demikianlah akhir cerita malam itu. Kami pun pulang keesokan harinya beberapa jam setelah sarapan.

Sekalian Lampiran

Puisi Mezra Pellondou

Orang-orang Gila itu Meneriakimu Gila
: Tius Natun
Lelaki Timor yang gagah menerjang panas dengan kaki telanjang
Di saat semua orang terpulas di kamarnya yang panas. Teramat panas.
Atau di saat orang-orang kantor, pedagang dan pengangguran mondar-mandir
Lelaki itu memang sedang berjalan di bawah langit Kupang yang selalu tanpa
Mendung
Apalagi hujan.

Tidak sekadar berjalan
Tangan lelaki itu menggali lubang demi lubang
Sepanjang jalanan protokol kota Kupang
Yang kerontang dan terlalu ajaib jika sebatang pohon pun mampu tumbuh

Namun tidak bagi lelaki itu; opa Tius
Tetangga dan sahabat memanggilmu demikian
Lelaki itu mencoba melakukan keajaiban dari pada menunggu keajaiban
Tangan opa Tius menciduk tanah, menggali bongkahan batu
Dan astaga… ia menanam satu demi satu jalanan protokol itu
Dengan akasia, lontar, kayu besi, kedondong, turi, kemang dan ribuan jenis ribuan perdu
Setelah itu langkahnya tidak berhenti ia terus berjalan
Menanam setiap sudut kota Kupang dengan anakan yang diambilnya dari rumahnya
Setiap orang yang melihatnya meneriaknya gila, menganggapnya bermimpi di siang
bolong

Opa Tius terus saja berjalan, tidak sekadar berjalan
Terus saja menanam, tidak sekadar menanam
Astaga… kali ini lelaki itu membawa air dan menyiram setiap tanaman yang telah
Diatanamnya
Dibelai-belai, diamat-amati, disayang-sayang seperti menimang seorang bayi
begitulah
Kasihnya tumbuh sepanjang jalan trotoar, protokol, dan setiap sudut kota
Orang-orang terus memanggilnya gila, bahkan tidak sedikit yang membunyikan
klakson
Bukan untuk menyapanya namun untuk menyemburkan asap knalpot mereka yang robek
Dan tertawa sinis

Opa Tius terus saja tersenyum
Terus saja berjalan, terus saja menanam, terus saja menyiram
Bagai seonggok renta yang dilupakan orang, opa Tius tidak butuh pujian namun
Tidak pernah menolak makian dan teriakan orang-orang

Sekarang jika setiap orang melewati jalan-jalan protokol dengan senyuman
Memandang hijaunya pepohonan
Atau yang sengaja berteduh dan bermain di bawah pohon di sudut-sudut kota Kupang
Akankah mereka tahu bahwa keindahan alam itu dibangun dengan keringat seorang lelaki yang kini renta?
Jika orang-orang kantor, pedagang dan pengangguran mondar-mandir di jalan-jalan
yang kini menghijau itu…pernahkah mereka berpikir barangkali mereka adalah seorang yang meneriaki gila pada lelaki renta itu?

Jika sekarang pemerintah bangkit dengan semangat clean and greeen-nya , mampukah mata mereka melek bahwa seorang lelaki telah membuka jalan dan tak seorang pun bila menutupnya? Bahwa lelaki itu telah lebih dahulu melakukan semua itu tanpa menunggu sebait perda ataupun undang-undang?

Kupang, Januari 2010.

Terdapat dalam antologi puisi sastrawan NTT “Senja di Kota Kupang” terbitan Kantor Bahasa Prov. NTT.

 

 

 

Pauhingu Seni: Sumba Art Gathering dan Sumba Trail 2015 (II)

– Lanjutan dari bagian I

Hari berikutnya, Kamis, 13 Agustus 2016, tiba bagian saya membawakan workshop menulis cerpen. Workshop itu bertempat di Wisma Cendana, Waingapu. Saat itu, bertepatan para pasuka kan pengibar bendera untuk upacara 17-an binaan kabupaten juga bertepatan sedang memakai tempaat itu sebagai  tempat karantina mereka. Untungnya, ruangan tempat workshop kami berada di lantai dua.

20150813_120619Pemandangan dari depan hotel tersebut sangat memukau. Bentangan Sumba Timur begitu indah terlihat dari balkon hotel tersebut.

Workshop itu sendiri berjalan baik (Praise God :)). Pesertanya memang tak banyak karena dibatasi hanya yang mengirim karya dan lolos kurasi saja. Di antara mereka pun lebih banyak peserta perempuan karena visi-misi PWAG mengharapkan demikian. Di workshop itu, saya menyadari diri saya bukanlah seorang pakar cerpen. Setelah berbagi materi-materi dasar menulis cerpen sekaligus menceritakan proses kreatif pribadi, saya pun meminta Kak Dicky, Kak Eka, dan Diana untuk ikut berbagi proses kreatif mereka dalam menulis. Setelah itu, kepada para peserta workshop, mereka diminta untuk menulis cerpen spontan, yang baru ataupun boleh sebagai revisi cerpen sebelumnya yang dikirim, dan akan dikumpulkan dalam waktu yang sudah ditentukan (saya agak lupa berapa lama :D).

Seusai mereka mengumpulkan karya mereka, saya dan keempat kawan yang bergabung dalam Dusun Flobamora  itu sedang membaca dna memiliah tulisan terbaik untuk diumumkan.

Sudah hampir selesai ketika suatu ketika saya mengangkat kepala, beberapa meter di depan saya terlihat satu sosok yang paling menonjol dari semua tampakan-tampakan orang di sana. Saya memicingkan kepala untuk mengingat-ingat siapa gerangan orang tersebut.

Kemudian barulah kemudian kesadaran saya tergugah, dan saya seakan lupa bernapas untuk sesaat. Aktor keren Indonesia, Nicholas Saputra, sementara duduk menyamping dari arah pandang saya dan asyik mengobrol dengan beberapa orang panitia PWAG. Saya seketika lupa dengan apa yang sebenarnya sedang saya lakukan dengan barang-barang di pangkuan saya, lembaran-lembaran kertas milik peserta workshop.

Ah, memang, pengalih dunia yang berhasil. Makhluk Tuhan paling indah sudah itu orang…:p

Ok, mari, kembali ke topik.

20150813_151811Kegiatan sepenuhnya belum selesai. Saya dan kawan-kawan memilah dan berdiskusi menentukan tiga karya terbaik. Kepada mereka PWAG telah menyediakan hadiah berupa buku-buku.

Seusai pengumuman dan penyerahan hadiah, sebagai penutup workshop cerpen, sang aktor membacakan sebuah cerpen berlatar Sumba karya Lisa Febriyanti dari antologi berjudul Hari-hari Salamander terbitan PBP Publising. Saking terpukau akan penampaka di depan, saya sampai lupa harus merekam suaranya sewaktu membacakan cerpen tersebut.

Kami beristirahat sebentar seusai workshop. Sorenya dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter dari PWAG tentang dua orang perempuan penyintas dari Flores berjudul Masih Ada Asa. Film ini berkaitan dengan kekerasan pada perempuan terutama dalam kekerasan seksua. Jumlah peserta saat itu jauh lebih banyak daripada siang harinya. Seusai pemutaran film, acara pun dilanjutkan dengan berdiskusi. Diskusi kali ini dipandu seorang Vikaris dengan menghadirkan Kak Olin Monteiro sebagai produser, dan Ibu Pendeta Irene Umbu Lolo sebagai seorang aktivis perempuan di Sumba. Diskusi berlangsung baik, penuh semangat dan tampak hidup.

Hari sudah malam ketika diskusi itu usai. Kami tak langsung pulang ke hotel tempat kami menginap. Kami melanjutkan acara makan malam di sebuah tempat makan di pinggir pantai. Di sana saya sempat bertemu dengan penduduk lokal. Namun ketika berbincang-bincang sebentar, baru saya tahu mereka bukan orang asli Sumba melainkan Sabu. Konon, banyak orang Sabu yang sudah lama menetap di pulau Sumba. Itu hanya nama suku. Secara karakteristik fisik, orang Sumba dan orang Sabu sebenarnya tak jauh berbeda.

Keesokan paginya, kami sarapan di hotel. Menjelang siang, bersama panitia PWAG dan panitia lokal, kami berkumpul di pelataran salah satu hotel tempat panitia dan sang aktor menginap. Diskusi internal tentang seputaran leadership, bagaimana mengelola gerakan-gerakan anak muda agar memberi dampak positif kepada masyarakat, bagaimana menjalin komunikasi antar komunitas yang sudah terbentuk demi mencapai tujuan bersama, dsb.

Tak lama berdiskusi, keluarlah sang aktor dari markasnya. Ia memang tak bergabung bersama kami. Hanya menikmati kopi tak berapa jauh dari kumpulan kami.

Seusai diskusi kecil itu, dengan dua mobil, kami diajak mencari makan siang sebelum melanjutkan acara diskusi buku di SMAN2 Waingapu. Kami semua berada di satu mobil bersama sang aktor. Ia duduk di samping supir. Saya tepat berada di belakangnya.

Dalam perjalanan, setiap orang mengobrol seperti biasa. Saya seperti merasa tak percaya sementara berada dalam satu mobil kecil bersama sang aktor keren. :p 😀 Demikian pula di tempat makan. Duduk di meja panjang dan berada di ujung, kami tepat saling berhadapan. Ketika semua orang sudah duduk dan sendok-garpu dibagikan, ialah yang duduk di hadapan saya menerimanya lantas menyodorkannya kepada saya. Saya seperti merasa shock. Namun tetap saya usahakan menyambut sodoran dengan ‘profesional’ walau dengan tangan gemetar, bahkan untuk mengucapkan kata terima kasih saja mulut saya pun gemetar.

Saya menikmati makanan siang dengan baik, tetapi jauh di dalam, hati saya bergemuruh hebat. 😀 Saya seperti orang linglung saat itu. Saya sementara duduk dan menikmati makanan, tapi jiwa dan pikiran seperti tak ada bersama raga saya di bumi. 😀

Bersambung….