Dua Kegiatan Diskusi Bertema Tragedi ’65

Ada dua kegiatan diskusi bertema tragedi ’65 yang sempat saya ikuti dalam dua-tiga bulan terakhir. Kegiatan pertama bertempat di aula Fakultas Teologi UKAW Kupang. Kegiatan tersebut berupa Diskusi dengan tema Mari Bacarita ’65 oleh Cahaya Mata Generasi Muda. Berlangsung Sabtu, 14 Januari 2017.

Sehari sebelumnya ada juga kegiatan, hanya saya tidak ikut. Saya baru sempat hadir di hari kedua yakni pada diskusi “Mari Bacarita ’65” tersebut. Narasumber hari itu adalah seorang nenek dari Baun, Amarasi Barat, bermarga Bureni, nama tepatnya saya tak begitu ingat. Beliau hadir sebagai salah satu saksi dari sekian banyak korban tragedi ’65. Tak hanya itu, ada dua lagi narasumber lain. Saya hanya tahu jelas dan ingat salah satunya, Bapak Matheos Viktor Messakh. Seorang lainnya dipanggil dengan Kak Atta  sebagai salah satu dari perempuan-perempuan GMIT yang selama ini mendampingi opa-oma korban tragedi ’65 (correct me if I’m wrong) :).

Awalnya saya sempat berniat untuk tidak pergi menghadiri diskusi tersebut sebab dari kabar yang saya dengar, undangan terbatas untuk tiap komunitas hanya bisa diwakili dua orang. Hari Sabtu pagi saya bangun dan melakukan aktivitas seperti biasa sebab dalam pikiran saya dari Dusun Flobamora dari hari Jumat kemarinnya sudah ada yang mewakili. Namun kemudian saya mendapat kabar kalau tidak semua perwakilan komunitas datang. Siapa yang berminat datang dipersilakan. Tentulah dengan sesegera mungkin saya bersiap dan melaju ke tempat tersebut. Tak apalah peduli amat dibilang peserta cadangan :D, hanya mengisi kekosongan, bagi saya selama itu sesuatu yang baik dan bermanfaat, mau jadi ‘penyusup’ pun akan saya lakukan…:D.

Di sana selama mendengarkan tanya-jawab dari moderator dan para narasumber, sungguh saya merasa bersyukur bisa hadir hari itu walau sedikit terlambat sehingga melewatkan sesi perkenalan (jadinya saya tak begitu tahu siapa moderator dan para narasumber selain Pak Matheos). Di hari Sabtu itulah akhirnya saya punya gambaran yang sedikit lebih terang dari yang sebelum-sebelumnya.

Selama masa saya kecil, sebelum saya bisa membaca, pengetahuan tentang PKI berkisar antara film yang diputar setiap tanggal 31 September malam (yang jadi pembicaraan anak-anak kecil dan orang dewasa seantero kampung keesokan harinya di tanggal 1 Oktober) dan cerita-cerita gelap yang dituturkan bapak atau  beberapa bai saya yang tersisa. Maksud kata gelap di sini adalah cerita mereka hanya mengungkit sepotong-sepotong, semacam tiba-tiba mengingat sesuatu dan terlontar kata-kata mereka yang berkaitan dengan PKI atau ‘lubang buaya’, atau mars PKI, dan karena penasaran ketika kami anak-anak atau cucu-cucunya bertanya lanjut, mereka akan langsung mengalihkan pembicaraan dan tak mau lagi membahasnya. Namun cukup lumayan dari sentilan-sentilan itu saya tahu bahwa kenapa saya tidak mengenal bai kandung saya dan saudara-saudaranya yang. Ternyata bahwa mereka memang ikut ditembak mati di ‘hutan besar’ dan dibuang masuk ke lubang buaya, dan nenek kandung saya pun adalah seorang yang harus menjalankan tugas wajib lapor, dan bahwa bapak saya karena merekalah yang setiap hari menempuh jarak berkilo-kilo untuk ke sekolah yang dekat dengan kantor polisi, ia dan beberapa saudara sepupunya yang lain bertugas sebagai pengantar bekal (yang disiapkan para ibu di kampung) tiap hari kepada bapak dan om-omnya yang sementara dalam tahanan.

Sementara di pelajaran IPS di sekolah, seperti apa teks yang tertulis di buku paket, seorang anak yang ditunjuk guru akan diminta untuk dibacakan keras-keras kepada siswa-siswa yang lain untuk mencatatnya. Mencatat paling sedikit halaman lima halaman setiap pelajaran adalah hal biasa. Catatan itu dibawa pulang ke rumah, dipelajari, dihafal, hingga nanti dari sana akan keluar soal-soal untuk dijawab. Mungkin saya termasuk seorang anak yang baik dan rajin dan taat bersekolah…:D. Demikian saya muku menghafal apa yang tertulis di buku-buku teks pelajaran IPS (maksud saya di sini lebih kepada pelajaran sejarah) :). Karena menurut buku komunis adalah biang kerok kekacauan negara sehingga harus dibumihangskan dari tanah Indonesia, demikian di masa-masa itu hingga di masa-masa selanjutnya saya ikut melaknat bai-bai saya yang terlibat dan mati ditembak sehingga meninggalkan anak-istrinya. Saya menyayangkan kenapa mereka harus terlibat sehingga bapak saya dan sepupu-sepupunya harus menjadi yatim sejak masih ingusan, sampai cucu-cucunya pun tidak tahu-menahu dan tidak punya bayangan sama sekali seperti apa rupa bai-bai mereka–maafkan saya yang buta dan bodoh 😦

Bersambung (biar ada draft dulu sebagai pemicu untuk nanti dilanjutkan…daripada tidak ada sama sekali…:))

Kegiatan kedua baru saja terjadi pada hari Sabtu malam, (18/3) di Taman Dedari Sikumana, Kupang. Kegiatan ini diawali lebih dahulu dengan pemutaran sebuah film berjudul Pulau Buru Tanah Air Beta. Bicara Pulau Buru saya tak begitu tahu lebih detail selain bahwa itu adalah tempat dibuangnya sastrawan kenamaan Indonesia, Bapak alm Pramoedya Ananta Toer. 

Rupanya sebelum pemutaran film inti tersebut, disajikan juga cuplikan tentang apa itu dan seperti apa itu Lekra. Judul cuplikan itu agak sedikit rumit di kepala saya karena memakai ejaan lama. Saya sudah mencoba mencarinya di google tapi tak ada temuan.

Bersambung (biar ada draft dulu sebagai pemicu untuk nanti dilanjutkan…daripada tidak ada sama sekali…:))

** Akan ada banyak hal yang saya tuliskan nanti di sini sebagai pengingat (setidaknya bagi saya merekam momen), tapi pesan utama dari dua diskusi tersebut adalah pelajarilah sejarah yang benar. Pelajari. Bukan untuk lu jadi pintar lalu berbangga diri. Tapi supaya kesalahan masa lalu jangan lagi terulang di masa sekarang. Supaya kita jangan lagi dibodohi dan dipermainkan oleh oknum-oknum tak berperikemanusiaan. Supaya manusia adalah manusia sebagai makhluk yang mulia dan bukan binatang. Pesan utama ini (bentuk bold) disampaikan Bapak Matheos Messak pada Diskusi Mari Bacarita ’65 dan  ditegaskan lagi oleh Kak Lia Wetangterah, salah satu pendamping korban-korban tragedi ’65 di area Kupang, NTT, pada diskusi usai menonton film Pulau Buru, Tanah Air Beta.

Panggung Perempuan Biasa

Sabtu, 16 Juli 2016, tanggal yang cantik sekaligus menjadi hari istimewa bagi Perempuan Biasa. Di tanggal yang cantik ini, mereka menghadirkan panggung khusus perempuan bagi para penikmat seni dan sastra yang ada di Kupang.

perempuan-biasa2

Sebutan ‘Perempuan Biasa’ sendiri bermula dari sebuah judul monolog karya Abdi Keraf, disutradarai Lanny Koroh, dan dipentaskan Linda Tagie dalam acara “Kupang Pesta Monolog” pada bulan Maret 2016. Selanjutnya di bulan Mei, monolog Perempuan Biasa bersama Tubuh yang Palsu dari penulis yang sama dengan disponsori Taman Dedari Sikumana, diadakanlah pementasan Tour de Floresta, berturut-turut mengelilingi kota Maumere, Larantuka, Lembata, dan berakhir di Kupang. Tak berakhir hanya di sana, sebuah panggung khusus perempuan pun digagas. Maka menjadilah di Sabtu, 16 Juli 2016,  momentum Perempuan Biasa kembali bergaung di Kupang, NTT.

Mengusung tema “Panggung Perempuan Biasa, para perempuan baik perempuan NTT maupun luar NTT diberikan panggung istimewa untuk bedah buku dan pementasan seni. Acara bedah buku diadakan pukul 10.30 bertempat di SMP St Yoseph Kupang. Buku yang dibedah adalah karya seorang penulis perempuan Bali, Sri Jayantini, berjudul Bunga Perjalanan, sebuah kumpulan puisi dan prosa.

Bersama dua rekan lainnya Kaka Monika Arundhati dan Ibu Santri Djahimo, seorang dosen Bahasa Inggris dari Undana, kami yang adalah perempuan biasa (benar-benar biasa saya bilang, sebab contohnya saya sendiri walau suka dengan kegiatan baca tulis tapi diri ini sendiri pun belum pernah punya pengalaman membedah buku orang lain. Paling hanya pernah mengikuti acara bedah buku orang lain, itupun sebagai peserta atau penonton), diminta dan dipercayakan ambil bagian dalam bedah buku tersebut yang alhamdulillah berjalan baik. (Mungkin rangkuman pembedahan buku ada bagian tersendiri di Catatan Buku). Dihadiri kurang lebih 50-an orang, bedah buku disertai tanya jawab dan diskusi berlangsung hangat dan seru.

Sebelumnya, sebelum acara bedah buku dimulai maksudnya, sempat ada pengalungan salendang penyambutan dari sang tuan rumah, kepsek SMP St Yoseph sekaligus koordinator Dusun Flobamora, Romo Amanche Frank untuk kedatangan sang penulis perempuan Bali, Ibu Sri Jayantini juga kepada sang ibu dosen yang menjadi salah satu pembedah, Ibu Santri Djahimo.

Dilanjutkan pada malam hari, pukul 06.00, bertempat di Taman Dedari Sikumana, pementasan seni “Panggung Perempuan Biasa” dibuka. Ucapan salam penyambutan dan terima kasih dihaturkan koordinator Perempuan Biasa kepada para guest star baik yang dari Bali maupun Maumere, Lembata, dan komunitas di luar Perempuan Biasa. Dari Bali, hadir Ibu Sri Jayantini yang pagi harinya bukunya dibedah, dan Kaka April Artison yang ketika di atas panggung tampil memukau dalam monolog Pidato Tujuh Menit namun yang saya salut adalah ia berkali-kali mengenalkan dirinya sebagai ibu rumah tangga. Berikut dari Maumere, Komunitas Sastra Kahe tampil membawakan teater berjudul Du’a Buhu Gelo atau yang berarti Perempuan Kentut Kemiri.

Di luar Perempuan Biasa, ada juga mereka dari Komunitas hip-hop United of EX sebagai pembuka malam “Panggung Perempuan Biasa”. Tak lupa pula kepada pemetik sasando yang manis nan imut, Nona Virginia, seorang siswi SMP St Yoseph Kupang, membawakan lagu Mai Fali e… dan Haleluya.

Dari Perempuan Biasa sendiri, selain tiga buah tarian daerah NTT, sebuah puisi Perempuan dalam Doa oleh Febtian Candradevi Nugroho serta dua monolog dihadirkan kepada penonton diselingi tarian daerah dan sasando.

Monolog Perempuan Paling Bahagia dari Perempuan Biasa benar-benar menegaskan, saya perempuan biasa yang paling bahagia bisa menyaksikan pementasan seni “Panggung Perempuan Biasa” di malam istimewa tersebut. Kolaborasi yang indah dan megah antara penulis naskah Linda Tagie, sutradara Lanny Koroh, aktris Santji Muskanan, yang sempat saya dengar kata orang ia sudah nyaris sekelas Happy Salma, serta kru pendukung lain seperti Kaka Elin Taopan di bagian soundtrack, dan mereka yang lain di belakang layar cukup membuat saya nyaris tak bernapas hingga saya sadar saya baru menarik napas ketika sang aktris menyudahi monologianya yang keren atau yang orang Kupang bilang ‘babatu mangan‘.

Demikian juga ketika Perempuan Rembulan karya Yahya Ado yang dipentaskan Linda Tagie. Kisah tentang kehidupan seorang perempuan yang ketika mendapati suaminya ‘menyeleweng’, tak bisa berbantah banyak, ia pun memutuskan hijrah ke negeri orang, tekawe. Di sana baru didapatinya satu penyakit telah menggerogotinya sejak ia masih bersama sang suami. HIV/Aids sudah mendekam lama dalam tubuhnya sementara selama ini ia tak pernah berhubungan dengan seorang laki-laki mana pun. Lagi-lagi, entahkah ini mau disebut pengorbanan ataukah pembodohan ataukah pembiaran ataukah ketakpedulian ataukah penindasan ataukah kelaliman ataukah kekejaman ataukah kekurangajaran ataukah atau yang lainnya.

Kalau di sesi diskusi sempat saya dengan lontaran kalimat dari seorang komentator atau mau kalau boleh disebut kritikus ketika mengomentari penampilan April Artison dalam ngalor ngidul Pidato Tujuh Menit yang mengisahkan tentang pengabdian bertahun-tahun seorang guru honorer, bahwa tugas seni adalah menggugah, maka benarlah di malam pementasan seni “Panggung Perempuan Biasa” ini, saya tergugah akan sesuatu.

Terima kasih “Panggung Perempuan Biasa”. Telah engkau hadirkan panggung ‘sakral’ khusus perempuan untuk Kota Karang. Sekali lagi, sujud syukur dan kagum saya kepada Dia Sang Penyelenggara Kehidupan. Karena Dia dan untuk Dia pula, saya ingin menyampaikan salam salut penuh hormat saya kepada Kaka Lanny Koroh yang tergerak menyelenggarakan kegiatan ini, juga tak lupa kepada semua yang sudah terlibat. 🙂 :3

Kupang,  17 Juli ’16

Daftar Kegiatan Seni dan Budaya di NTT Tahun 2015

Semester dua tahun 2015 ini saya merasa begitu bersyukur. Kenapa? Sebab saya boleh berkesempatan terlibat dalam beberapa kegiatan yang menurut saya adalah gerakan-gerakan positif anak-anak muda untuk daerahnya, daerah NTT.

Berikut beberapa daftar kegiatan seni dan budaya yang saya hadiri selama enam bulan kedua tahun 2015 antara lain:

  1. Diawali dengan kegiatan Festival Sastra Santarang pada awal Juni di Kupang.
  2. Berikutnya walau hanya sebagai tamu saya senang bisa hadir di salah satu  Festival dan Konser Musik Budaya NTT bersama Ivan Nestroman di GOR Flobamora Oepoi Kupang pada pertengahan Juni.
  3. Selanjutnya Festival Pakariang-Pesta Kreativitas dan Permainan Tradisional Anak Kupang pada akhir Juli di Pantai Lasiana, Kupang.
  4. Disusul KITONG-Kunjungan Inspirasi Timor untuk Berbagi pada akhir Juli-awal Agustus di Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang.
  5. Lalu Pauhingu Seni:Sumba Art Gathering dan Sumba Trail pada pertengahan Agustus di Sumba Timur-NTT.
  6. Disusul kemudian dengan kegiatan Temu II Sastrawan NTT di Ende pada awal Oktober.
  7. Sepulang dari Ende, karena sekolah masih libur mid term dan saya sementara atak ada kegiatan, saya pun sempat menyusup ke Temu MPU yang diadakan di hotel Pelangi, Kupang.
  8. Berikutnya masih di bulan Oktober yakni di penghujungnya ada Satellite Event UWRF 2015 dan
  9. Festival Budaya Melanesia di Taman Budaya Prov NTT
  10. Menyusul kemudian Pameran Lukisan ‘Aku NTT’ Ubed Mashonev pada pertengahan November
  11. Hingga di penghujung November 2015 tepatnya tanggal 21, diadakan Apresiasi Seni (Sastra) di  Grand Mutiara Ballroom Kupang.

Wow, lumayan ada sebelas kegiatan selama enam bulan kedua tahun 2015.

Pada masing-masing kegiatan itu, sudah ada sedikit cerita dan kesan saya mengenai kegiatan-kegiatan ini. Jelas saya tidak menceritakannya secara detail serupa laporan, melainkan lebih kepada kesan seorang partisipan…:)

Intinya semua kegiatan itu keren dan mantap. Salam salut dan dan respect saya pada Anda sekalian, Anak-anak muda penggerak kegiatan-kegiatan positif di NTT. Teruslah bersinar, teruslah bercahaya. Pancarkan apa yang sudah diberikan sang pemilik dan penciptamu kepadamu.

Pauhingu Seni: Sumba Art Gathering dan Sumba Trail 2015 (II)

– Lanjutan dari bagian I

Hari berikutnya, Kamis, 13 Agustus 2016, tiba bagian saya membawakan workshop menulis cerpen. Workshop itu bertempat di Wisma Cendana, Waingapu. Saat itu, bertepatan para pasuka kan pengibar bendera untuk upacara 17-an binaan kabupaten juga bertepatan sedang memakai tempaat itu sebagai  tempat karantina mereka. Untungnya, ruangan tempat workshop kami berada di lantai dua.

20150813_120619Pemandangan dari depan hotel tersebut sangat memukau. Bentangan Sumba Timur begitu indah terlihat dari balkon hotel tersebut.

Workshop itu sendiri berjalan baik (Praise God :)). Pesertanya memang tak banyak karena dibatasi hanya yang mengirim karya dan lolos kurasi saja. Di antara mereka pun lebih banyak peserta perempuan karena visi-misi PWAG mengharapkan demikian. Di workshop itu, saya menyadari diri saya bukanlah seorang pakar cerpen. Setelah berbagi materi-materi dasar menulis cerpen sekaligus menceritakan proses kreatif pribadi, saya pun meminta Kak Dicky, Kak Eka, dan Diana untuk ikut berbagi proses kreatif mereka dalam menulis. Setelah itu, kepada para peserta workshop, mereka diminta untuk menulis cerpen spontan, yang baru ataupun boleh sebagai revisi cerpen sebelumnya yang dikirim, dan akan dikumpulkan dalam waktu yang sudah ditentukan (saya agak lupa berapa lama :D).

Seusai mereka mengumpulkan karya mereka, saya dan keempat kawan yang bergabung dalam Dusun Flobamora  itu sedang membaca dna memiliah tulisan terbaik untuk diumumkan.

Sudah hampir selesai ketika suatu ketika saya mengangkat kepala, beberapa meter di depan saya terlihat satu sosok yang paling menonjol dari semua tampakan-tampakan orang di sana. Saya memicingkan kepala untuk mengingat-ingat siapa gerangan orang tersebut.

Kemudian barulah kemudian kesadaran saya tergugah, dan saya seakan lupa bernapas untuk sesaat. Aktor keren Indonesia, Nicholas Saputra, sementara duduk menyamping dari arah pandang saya dan asyik mengobrol dengan beberapa orang panitia PWAG. Saya seketika lupa dengan apa yang sebenarnya sedang saya lakukan dengan barang-barang di pangkuan saya, lembaran-lembaran kertas milik peserta workshop.

Ah, memang, pengalih dunia yang berhasil. Makhluk Tuhan paling indah sudah itu orang…:p

Ok, mari, kembali ke topik.

20150813_151811Kegiatan sepenuhnya belum selesai. Saya dan kawan-kawan memilah dan berdiskusi menentukan tiga karya terbaik. Kepada mereka PWAG telah menyediakan hadiah berupa buku-buku.

Seusai pengumuman dan penyerahan hadiah, sebagai penutup workshop cerpen, sang aktor membacakan sebuah cerpen berlatar Sumba karya Lisa Febriyanti dari antologi berjudul Hari-hari Salamander terbitan PBP Publising. Saking terpukau akan penampaka di depan, saya sampai lupa harus merekam suaranya sewaktu membacakan cerpen tersebut.

Kami beristirahat sebentar seusai workshop. Sorenya dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter dari PWAG tentang dua orang perempuan penyintas dari Flores berjudul Masih Ada Asa. Film ini berkaitan dengan kekerasan pada perempuan terutama dalam kekerasan seksua. Jumlah peserta saat itu jauh lebih banyak daripada siang harinya. Seusai pemutaran film, acara pun dilanjutkan dengan berdiskusi. Diskusi kali ini dipandu seorang Vikaris dengan menghadirkan Kak Olin Monteiro sebagai produser, dan Ibu Pendeta Irene Umbu Lolo sebagai seorang aktivis perempuan di Sumba. Diskusi berlangsung baik, penuh semangat dan tampak hidup.

Hari sudah malam ketika diskusi itu usai. Kami tak langsung pulang ke hotel tempat kami menginap. Kami melanjutkan acara makan malam di sebuah tempat makan di pinggir pantai. Di sana saya sempat bertemu dengan penduduk lokal. Namun ketika berbincang-bincang sebentar, baru saya tahu mereka bukan orang asli Sumba melainkan Sabu. Konon, banyak orang Sabu yang sudah lama menetap di pulau Sumba. Itu hanya nama suku. Secara karakteristik fisik, orang Sumba dan orang Sabu sebenarnya tak jauh berbeda.

Keesokan paginya, kami sarapan di hotel. Menjelang siang, bersama panitia PWAG dan panitia lokal, kami berkumpul di pelataran salah satu hotel tempat panitia dan sang aktor menginap. Diskusi internal tentang seputaran leadership, bagaimana mengelola gerakan-gerakan anak muda agar memberi dampak positif kepada masyarakat, bagaimana menjalin komunikasi antar komunitas yang sudah terbentuk demi mencapai tujuan bersama, dsb.

Tak lama berdiskusi, keluarlah sang aktor dari markasnya. Ia memang tak bergabung bersama kami. Hanya menikmati kopi tak berapa jauh dari kumpulan kami.

Seusai diskusi kecil itu, dengan dua mobil, kami diajak mencari makan siang sebelum melanjutkan acara diskusi buku di SMAN2 Waingapu. Kami semua berada di satu mobil bersama sang aktor. Ia duduk di samping supir. Saya tepat berada di belakangnya.

Dalam perjalanan, setiap orang mengobrol seperti biasa. Saya seperti merasa tak percaya sementara berada dalam satu mobil kecil bersama sang aktor keren. :p 😀 Demikian pula di tempat makan. Duduk di meja panjang dan berada di ujung, kami tepat saling berhadapan. Ketika semua orang sudah duduk dan sendok-garpu dibagikan, ialah yang duduk di hadapan saya menerimanya lantas menyodorkannya kepada saya. Saya seperti merasa shock. Namun tetap saya usahakan menyambut sodoran dengan ‘profesional’ walau dengan tangan gemetar, bahkan untuk mengucapkan kata terima kasih saja mulut saya pun gemetar.

Saya menikmati makanan siang dengan baik, tetapi jauh di dalam, hati saya bergemuruh hebat. 😀 Saya seperti orang linglung saat itu. Saya sementara duduk dan menikmati makanan, tapi jiwa dan pikiran seperti tak ada bersama raga saya di bumi. 😀

Bersambung….

Pauhingu Seni: Sumba Art Gathering dan Sumba Trail 2015 (I)

Kegiatan PAUHINGU SENI: Sumba Art Gathering dan Sumba Trail adalah pogram dari PWAG Indonesia yang berada di bawah Arts for Women dan bekerjasama dengan Humba Ailulu, satu komunitas seni yang digagas orang-orang muda di Sumba Timur dan Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

Kegiatan PAUHINGU SENI ini lebih dikhususkan kepada pengembangan dan pemberdayaan perempuan. Namun tak hanya terbatas kepada kaum perempaun, melainkan kaum muda baik laki-laki maupun perempuan pun dapat turut ikut andil di dalamnya. Pengembangan dan pemberdayaan ini dilaksanakan melalui seni dan sastra.

Sebelumnya seusai kegiatan Festival Sastra Santarang di Kupang, di Dusun Flobamora sudah ada diskusi kecil-kecilan tentang akan adanya kegiatan tersebut di Sumba. Dari PWAG yang berada di bawah Arts for Women sendiri mau menjalin kerja sama dengan Dusun Flobamora yang telah sukses menyelenggarakan Festival Sastra Santarang.

Awalnya saya tak berpikir akan ikut ke sana. Toh, waktu itu saya sementara menikmati masa liburan sekolah di kampung halaman dan tak hendak berpikir yang berat-berat. 😀

Tak tahunya, ketika diskusi Dusun Flobamora berakhir, saya pun akhirnya mengiyakan tawaran teman-teman untuk mewakili Dusun Flobamora memberikan workshop menulis cerpen di salah satu sesi kegiatan Sumba Art Gathering dan Sumba Trail tersebut.

Pada hari Rabu, tanggal 12 Agustus 2016, saya berangkat dari Kupang. Waktu itu saya berangkat satu pesawat dengan kakak Fransiska Eka. Ia seorang penulis asal Ende yang baru saja balik dari US, dan kembali ke Indonesia. Kami baru berkenalan dan saling menyapa ketika berjalan menuju pesawat. Katanya ia baru saja balik dari Surabaya mengikuti satu kegiatan Indonesian Youth kalau tak salah. Kami duduk di seat yang berbeda dan berjauhan sehingga tak memungkinkan kami berkomunikasi. Kami baru bersama lagi ketika turun di bandara Umbu Mehangkunda, Waingapu. Sembari menunggu jemputan untuk dibawa ke hotel tempat menginap barulah kami melanjutkan percakapan.

Sesampainya di hotel, kami berdua jadinya sekamar. Kami lalu bertemu dengan Kak Dicky Senda, perwakilan dari Dusun Flobamora juga yang akan menjadi salah satu pembicara di sesi yang berbeda. Kak Diky juga sudah lebih dahulu tiba beberapa hari sebelumnya. Tak lama kemudian datang Diana, seorang anggota Dusun Flobamora yang sewaktu menjadi mahasiswa, kami sudah sering bertemu dan hingga kini ia sudah kembali ke kampung halamannya di Mauliru, Sumba Timur.

Kegiatan pertama hari itu dimulai siang hari menonton film dokumenter bersama di aula STIE Kriswina Sumba. Film dokumenter yang diputar adalah Payung Hitam, tentang dua perempuan penyintas di Jawa. Informasi selengkapnya tentag film ini bisa diakses di sini. Seusai menonton film dokumenter tersebut, acara dilanjutkan dengan diskusi. Mayoritas peserta diskusi tersebut adalah mahasiwa/i baru STIE Kriswina Sumba yang sedang dalam masa orientasi siswa (sebuah aksi MOS yang baik dan positif. (Jadi teringat UPH yang memang setiap kali masa MOS yang dikenal dengan dengan sebutan festival WNS, mahasiswa baru selalu dihadirkan materi-materi dan aktivitas-aktivitas yang keren dan positif).

Seusai kegiatan di aula STIE Kriswina Sumba, rencananya kami akan beristirahat sebelum nanti sore harinya kami akan melanjutkan kegiatan berikutnya yaitu diskusi anak muda dan budaya di tempat yang sama di mana Kak Dicky dari Dusun Flobamora adalah salah satu pembicaranya.

Namun sebelum kegiatan dimulai, siang itu kami bersepakat akan jalan-jalan dulu sebelum mengikuti kegiatan berikut. Diana pun membawa kami jalan-jalan ke luar kota Waingapu dengan sepeda motornya. Kam berboncengan bertiga melintasi kota Waingapu menuju satu pantai di luar kota.

Sepanjang jalan, saya melihat banyak sekali kuda yang merumput dan nampaknya dilepas begitu saja. Di Kupang apalagi di Amarasi saya memang sering melihat kuda, tetapi jelas tak sebanyak yang di Sumba. Di tempat ini, melihat kawanan kuda seolah melihat kawanan anak ayam dari beberapa induk sekaligus. Jumlahnya memang tak terhitung. Warnanya pun tidak seperti kuda-kuda di Amarasi pada umumnya. Saya sampai salah mengira (kalau ini ampun-ampunan memang… :D) kawanan itu adalah kawanan sapi (padahal saya tumbuh besar di Amarasi dengan binatang ternak yang namanya sapi itu :p. Sapinya Amarasi itu terkenal se-Indonesia sampai-sampai Bapak Jokowi sewaktu belum menjabat sebagai presiden RI, beliau semasa kampanyanya sempat menyinggahi Kecamatan Amarasi dan berdialog dengan para tetua Amarasi tentang pertenakan sapi. Sebagai salah satu anak Amarasi, saya bangga tentunya..;) :).

Ok, mari kita lanjut.

Kami dibawa ke Patung Maria yang yang tingginya kira-kira dua meter dan lokasinya tepat di pinggir pantai. Untuk bisa sampai di patung itu berdiri, kami harus melewati pekarangan rumah orang.

Udara hari itu cerah. Angin bertiup pelan. Pemandangan dari area patung Maria berbatik Sumba itu begitu teduh dan menyenangkan mata.

Kami berbagi cerita tentang berbagai hal mulai dari kepenulisan hingga di luar daripada itu. Hingga entah beberapa lama, kami menyudahi sesi obrolan kami dan berboncengan pulang dengan Diana sebagai pengemudinya.

Hari itu saya baru sadar bahwa terakhir kali berboncengan tiga orang seperti itu adalah ketika saya mengikuti MOS di SMA. Betapa beberapa pelanggaran kami buat hari itu. Sudah berboncengan bertiga, tak ada satu pun dari kami memakai helm. Bersyukur semuanya berjalan baik hingga kembali pulang ke Waingapu dan mengikuti acara selanjutnya.

Di kota Waingapu, ternyata masih ada waktu sejam sebelum kegiatan kedua di STIE dimulai. Kami pun diajak Diana mengunjungi Kampung Raja di Prailiu. Melihat taman bacaan yang dikelola oleh seorang anggota Humba Ailulu. Taman baca itu sudah saya ikuti perkembangannya di media sosial, di facebook. Hari itu akhirnya saya bisa melihatnya langsung. Sebuah taman baca yang mungil. Tak lama berbicang dengan sang pengelola, datang Mrs Sarah beserta bayinya. Ia seorang perempuan Australia yang menikah dengan salah seorang Putra Raja Prailiu dan sementara menetap di sana.

Sudah menjelang maghrib ketika kami sadar kami harus mengikuti satu acara di Aula STIE Kristen Waingapu. Kak Dicky adalah salah satu pembicaranya, bersanding dengan Kak Jonathan Hani, seorang anggota DPR yang juga adalah anggota Humba Ailulu bersama Kak Umbu Nababan yang juga penggagas AH Community, serta seorang perempuan Sumba yang bergiat dalam seni tari daerah Sumba.

Inti diskusi mereka hari itu adalah untuk mendorong dan menyemangai pemuda-pemuda Sumba menjaga dan melestarikan budaya yang diwariskan leluhur. Punya karakter memiliki dan bangga terhadapnya, namun tak hanya terbatas sampai di situ saja, tentu mereka diajak untuk memperkenalkan budaya mereka sebagai identitas mereka yang tak boleh dilunturkan begitu saja.

Bersambung …. (bagian II)

KITONG_ Kupang Bagarak_Geng Motor Imut_SM3T

Seusai Pakariang di Pantai Lasiana, dilanjutkan dengan KITONG, akronim dari Kunjungan Inspirasi Timor untuk Berbagi. KITONG juga dalam dialek Kupang, artinya KITA (SEMUA).

poster

Sumber: KITONGNTT

Demikian yang dikutip dari blognya, KITONG digagas untuk mengajak para profesional muda untuk satu hari datang, mengunjungi dan memberikan inspirasi bagi anak-anak sekolah di sekolah-sekolah terpilih di Pulau Timor (Tentang KITONG)

Walaupun tak disebutkan eksplisit siapa penggasnya, tapi ide ini setahu saya dimantapkan dalam sebuah pertemuan di antara beberapa pemuda dengan para pendidik SM3T di markas Geng Motor Imut. Hasilnya beberapa komunitas pun bekerjasama seperti yang disebutkan dalam KITONGNTT untuk daerah Fatuleu Barat, kabupaten Kupang.

Kunjungan ke sana dalam rangka berbagi inspirasi dengan anak-anak yang ada di Fatuleu Barat. Kegiatannnya dijadwalkan Jumat, 31 Juli-Minggu, 2 Agustus 2015. Kegiatan utama sebenarnya adalah pada hari Sabtu, sebab Jumat adalah perjalanan ke tempat tujuan dan Minggu adalah semacam wisata dan perjalanan pulang ke Kupang.

Hari Jumat sore itu jadwal kami di sekolah biasanya ada chapel guru. Sore itu kami meminta izin pulang lebih dahulu demi bisa mempersiapkan diri dan berkumpul di markas Geng Motor Imut yang ada di daerah Oebufu.

Hari itu, dari Lentera saya ingat saya, Rucita, Frida, Ka Meildy, dan Olan ikut berkumpul di sana. Tak lama kemudian datang satu truk, kami pun naik dan menuju Fatuleu Barat. Karena itu adalah perjalanan pertama saya ke daerah Fatuleu, maka saya menganggapnya jauh padahal sebenarnya tidak juga.

Kami tiba di daerah tujuan ketika hari sudah malam. Dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk tidur di rumah warga. Teman menginap saya Ka Echy, seorang kakak dari Perkumpulan Pikul. Pikul sendiri adalah sebuah organisasi non-profit, non-pemerintah yang diberi mandat untuk memperkuat kapasitas lokal di NTT.

Besoknya kami mulai bangun pagi untuk bersiap beraksi. Saya mendapat kesempatan di SMPN 4. Rekan saya untuk berbagi nanti adalah seorang guru dari SMP Abdi Kasih Bangsa, Mrs. Vero, demikian ia dipanggil. Bagian kami adalah dengan berbagi dengan guru-gurunya. Semula saya merasa agak keberatan karena pikir saya lebih suka bertemu dengan anak-anak, tapi yang ada malah guru. Sedih pada mulanya. Tapi kemudian ketika sudah terlibat dalam sharing dan saling berbagi satu sama lain, suasana itupun mencair dan saya pun mulai menikmati. Selesai dengan guru-guru, sisa waktu kami pun kami pakai untuk berkeliling ke kelas yang kosong.

Di kelas yang kosong itulah kami masuk. Bagian menyenangkan pun terjadi. Kami berinteraksi dalam bahasa Inggris dengan anak-anak di dua ruang kelas 7 walaupun Bahasa Inggris saya berlepotan dan terpatah-patah (sementara Mrs. Vero jelas bisa karena memang beliau adalah lulusan Pendidikan Bahasa Inggris…:D)

Seusai kelas inspirasi dan pulang ke markas, ternyata di sana telah dimulai semacam ada acara sambutan yang di sana ada juga bapak bupati. Beberapa sambutan disampaikan namun tak begitu saya ingat.

Hari sudah sore ketika acara tersebut sudah mau selesai. Agenda selanjutnya adalah beristirahat untuk nanti berwisata ke gunung batu Fatuleu yang lumayan trend pada hari Minggu. Namun sore di hari Sabtu itu saya dan teman-teman Lentera pamit pulang. Ada juga Mrs Vero turut bersama kami. Tak apa tak sempat ke gunung batu Fatuleu saat itu. Kebahagiaan kami adalah bisa berbagi dengan anak-anak dan guru-guru di Fatuleu Barat. Terima kasih, KITONG…:)

Festival Pakariang dari Kupang Bagarak

11692526_1471329813166467_891780728499836122_n

Sumber: Page Fb Festival Pakariang

Pakariang, Pesta Permainan dan Kreativitas Anak Kupang. Demikian slogan yang dibawa Komunitas Kupang Bagarak bekerjasama dengan beberapa Komunitas di Kupang. Festival ini diadakan dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang ditetapkan tanggal 25 Juli. Kegiatan ini bertempat di Lasiana tepatnya di area pinggiran pantai. Bertepatan dengan kegiatan tersebut, berbagai macam permaianan anak tradisional diadakan.

Informasi mengenai kegiatan ini lebih lengkapnya dapat Anda baca di beberapa link berikut: KupangBagarak, SavanaParadise, dan CV Ariston Kupang.

img_20150727_103456

Sebagian dari Tim Lentera Harapan Kupang: Asty, Anaci, Meildy, Rucita

Saya berkesempatan mengikuti kegiatan tersebut selama dua hari. Hari pertama sedianya saya bersama beberapa kawan mendampingi anak-anak disabilitas. Pada hari H, rupanya tak banyak dari mereka yang datang. Karena pertahanan dapur kekurangan personil, saya pun bergabung di sana. Rasanya cukup lumayan. Saya mengingat cerita-cerita yang saya baca ketika para tentara atau pejuang-pejuang bertempur dan ada orang-orang tertentu bertempur di dapur demi menyediakan makanan bagi para pejuang. 😀

Di hari yang sama itupun saya punya kesan tak terlupakan yaitu ketika dalam perjalanan dari Naikoten menuju Pantai Lasiana. Pagi itu bersama kawan, kami melajukan sepeda motor mengikuti lajur jalan Timor Raya. Di jalan raya tersebut saya melihat hampir sepanjang tepi kiri kanan jalan dijaga ketat oleh polisi. Kami bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi. Saya melajukan motor dengan pelan ingin melihat. Di depan apotek Oesapa, karena kawan saya ingin membeli obat, saya pun  memarkir motor agak ke pinggir. Kawan saya masuk membeli obat di apotek sementara saya menunggu di seberang kiri jalan yang sepi. Tak berapa lama kemudian lewat beberapa mobil dengn bunyi klakson militer. Ternyata di antara beberapa mobil yang lewat salah satunya adalah mobil yang memuat Bapak Jokowi. Jendela kacanya terbuka dan tangannya sementara dilambaikan. Saya berdiri terpukau di pinggir jalan. Tak percaya apa yang baru saja saya lihat. Baru saja bapak presiden lewat. Saya sementara berdiri di tepi jalan sebelah kiri. Posisi yang pas sesuai dengan posisi bapak Jokowi duduk. Ia baru saja lewat dan melambaikan tangan. Sayang, karena tak sempat menyangka, bahkan saya pun tak sempat mengangkat tangan saya untuk balas melambaikan tangan. Saya baru bisa mengeluarkan kata ‘Bapak Jokowi’ ketika mobilnya sudah jauh lewat, dan iring-iringan di belakangnya melewati tempat saya berdiri. Saya menoleh ke belakang saya kalau-kalau ada orang di belakang saya yang mungkin melihat saya. Syukurlah tak ada seorangpun selain satu kios kosong yang sementara tertutup pintunya.

Teman saya yang baru selesai membeli obat di apotek tak percaya kalau yang barusan lewat adalah Jokowi. Kami melanjutkan perjalanan walaupun sedikit macet hingga tiba di gerbang pantai Lasiana dan berbelok masuk. Di sana sudah hadir beberapa panitia. Karena menunggu anak-anak di bawah bimbingan kak Yafas belum datang itulah kami menggabungkan diri di dapur.

Keesokan harinya hari Minggu, paginya tidak seramai hari kemarin. Keikutsertaan kami di situ masih sesuai yang kemarin, namun karena kawan saya yang bertugas di bagian penerangan lalu lintas belum datang, saya diminta tolong mendampingi stand bagian itu. Beberapa saat ketika ia datang, saya pun didatangi seorang kakak dari STAKN untuk membantu di bagian bercerita. Walaupun sempat dilanda ragu karena tak ikut latihan dan belum tahu seluk beluk cerita, saya mengiyakan saja. Sebab nampak di arena panggung boneka sudah berkumpulan anak-anak kecil yang lucu dan imut menanti kapan adanya panggung boneka.

Sebenarnya secara keseluruhan kegiatannya seru dan menarik. Sangat cocok untuk arena keriangan anak-anak–namanya saja pesta anak-anak. Hanya bagi saya agak terlalu riuh dan jadinya kegiatan kurang terkontrol dengan baik. Terdapat banyak perubahan mendadak dari beberapa peserta yang sudah diundang ataupun dari panitia sendiri. Sedihnya ada yang beranggapan, toh, panitia pun adalah relawan, tak bisa mereka diatur-atur. Berharap kalau ke depannya masih ada kegiatan semacam ini, koordinasi antar panitia lebih diperhatikan lagi. Sekalipun sebagai seorang sukarelawan, bukan berarti kita datang dan hanya bekerja sekadarnya.

Terlepas dari itu, sure, secara pribadi saya angkat topi untuk penggagas dan semua mereka yang telibat baik panitia maupun mereka yang sudah mau membawa anak-anaknya datang ke arena ini termasuk wakil kepala sekolah saya di SMP LenteraHarapanKupang, Bapak Hengky Hailitik–saya agak terharu ketika melihat beliau dengan istrinya membawa putri kecil mereka, Syallum, datang. 😀 🙂 🙂