Di Balik Lomba Musikalisasi Puisi antar Guru pada Semarak Bulan Bahasa 2017

Semarak Bulan Bahasa di Kupang rutin diadakan oleh Kantor Bahasa NTT.  Kalau setahun sebelumnya puncak acara dilaksanakan di Lippo Plaza Kupang, maka tahun ini tempatnya di Taman Budaya Gerson Poyk, Kupang.

IMG-20171027-WA0038.jpg

Kepsek SMA Lentera Harapan Kupang (ketiga dari kanan) turut hadir memberikan dukungan. Foto ini diambil seusai babak penyisihian, Jumat (27/10)

Ada beberapa hal yang dilombakan (bagusnya lomba-lomba itu merangkum beragam kategori dari anak usia dini hingga guru-guru😘😍) antara lain: mewarnai untuk anak Paud, orasi untuk siswa SD, menulis resensi untuk siswa SMP, cerdas-cermat untuk siswa SMA, IHaNi untuk mahasiswa S1, dan musikalisasi puisi untuk guru SMP/SMA/SMK/MA (sayang guru TK/SD tak disertakan).

Tim Musikalisasi Puisi SMP dan SMA. Mereka antara lain: Nathaly, Dwi, Elise, John (SMP) dan Jessie, Debima, Daud, dan Zimri (SMA)

Kalau tak salah, menurut saya baru kali ini kegiatan lomba-lomba dari Kantor Bahasa NTT ikut melibatkan guru-guru. Untuk kategori ini menurut saya patut diapresiasi👏👏👏. Dengan demikian guru-guru yang selama ini punya potensi dan menyimpannya diam-diam akhirnya terungkap juga (ini hasil pengamatan pribadi terhadap kawan-kawan saya sendiri👀👍👏🙏😄.

Dua peserta lomba menulis resensi, Ayu Oenunu dan Jessika Rambu

Terkait lomba-lomba untuk semarak bulan bahasa ini, dari Lentera Harapan Kupang, ada siswa SD ikut lomba orasi, siswa SMP siap mengikuti lomba menulis resensi, siswa SMA harusnya bisa ikut cerdas-cermat hanya telat memberikan informasi sehingga tak jadi, serta para gurunya juga langsung menyambut antusias lomba musikalisasi. Bahkan untuk yang terakhir, saking antusiasnya, saya sampai harus beberapa kali ‘deal’ dengan Pak Ardy, salah satu panitia dari Kantor Bahasa yang menjadi narahubung lomba musikalisasi ini.

Ceritanya, pada saat brosur lomba itu dibagikan di grup WA, sorenya seusai doa pulang, saya langsung didatangi lima kawan saya. “Kami mau ikut lomba musikalisasi puisi,” hampir serempak suara mereka ditambah lagi dengan mata yang berbinar-binar.

Respons cepat mereka saya sambut gembira tentunya. Hanya sayang bagaimana mungkin lima orang sementara di brosur tertulis maksimal empat orang untuk satu tim.

Ini mereka lima sekawan 😄

“Tak bisakah? Kami mau tampil seangkatan soalnya. Mewakili guru SMA.” 😄😅😄.

Oh, ya, SMA. Baik. Kalau SMP langsung terbentuk saat surat itu tiba di tangan kepsek berhubung ia juga adalah seorang pemusik andal😄. Saya menerima surat itu langsung dengan nama-nama anggota tim MP. Lengkap empat orang termasuk saya.

Nah, ini SMA harusnya juga 4 orang malah 5. Karena memang diminta jadi PIC, saya kemudian bertanya kepada Pak Ardy via WA. Jawabnya, akan dibicarakan di temu teknis nanti. Saya tahu pasti itu sebenarnya sebuah keberatan yang halus🙏😄.

Esoknya atau beberapa hari setelah itu, ada lagi pengajuan, dari SMA ada lagi yang mau ikut lomba musikalisasi puisi. Wah, sementara di persyaratan satu sekolah hanya boleh kirim satu tim. Bagaimana ini?

Pada suatu hari di sela-sela satu kegiatan literasi di salah satu SMP negeri di Kupang, tak sengaja saya bertemu Pak Ardy, sang narahubung lomba musikalisasi puisi, dan mencoba menanyakan terkait
di brosur persyaratan lomba ditulis peserta hanya boleh berjumlah 2-4 orang per tim, sementara kami malah siap lima, lalu satu sekolah hanya boleh mengirimkan satu tim, kami malah minta kalau boleh dua tim.

Sebagaimana jawaban kemarin melalui HP, akan didiskusikan di temu teknis. Atau kalau tim yang satunya lagi mau tampil, boleh sebagai bagian ekshibisi di final nanti. Ah, bagaimanapun itu sudah penolakan yang halus. Wajarlah. Itu sudah terpampang di brosur yang tersebar. Masakan yang sudah tertulis harus diotak-atik lagi?

Maka jadilah demikian. Salah satu dari mereka yang 5 orang itu haruslah dengan rela melepaskan diri. Lima sekawan, sebutan bebas saya saja untuk mereka😄, tak lagi utuh kali ini.

Karena sudah fix empat orang dalam tim mereka, latihan pun dimulai. Setiap sore sepulang sekolah, di salah satu ruang kelas paling ujung itulah mereka pakai. Baru latihan permulaan saja mereka sudah memukau sampai-sampai hampir menciutkan semangat guru-guru SMP mengikuti lomba ini. Begitu pengakuan yang saya dengar.

Namun begitu, adalah tanggung jawab dan niat hati mereka dari awal untuk mengikuti lomba ini. Tim SMA sudah beberapa hari lebih dulu ketika tim SMP baru memulai latihan perdananya. Karena ada satu undangan kegiatan lain di Jakarta yang sebelumnya saya pikir belum pasti ternyata jadi dan saya mesti berangkat sementara latihan persiapan lomba mesti tetap berjalan. Lomba tinggal beberapa hari lagi. Saya minta digantikan dan merekomendasikan beberapa kawan saya. Saya percaya mereka bisa bahkan jauh di atas saya dalam hal berlagu.

Di hari diadakan temu teknis, baru kami tahu, seharusnya setiap tim mempersiapkan 2 dari 4 puisi yang sudah dimusikalisasi. Alasannya, puisi untuk penyisihan berbeda dengan nanti di babak final. Siapkan 2, siapa tahu masuk final, begitu katanya. Nah, selama ini kawan-kawan hanya mempersiapkan satu. Jadilah, dalam 2 hari itu mereka ngebut membuat musikalisasi puisi yang satu lagi untuk, yah siapa tahu masuk final. Cukup menegangkan dan banyak kejadian lucu selama 2 hari itu. Walau saya tidak masuk tim, saya tetap ada bersama mereka memberi dukungan tentunya serta ikut mengalami momen-momen itu terutama di tim SMP.  Momen bagaimana ketika ada satu nada yang sudah teramat bagus dan sangat bagus, demikian kami menyepakatinya, tiba-tiba terlupakan tanpa sempat direkam dan tiada satu orang pun di antara kami berlima mengingatnya. Sama sekali seakan tak pernah ada, tak pernah dibuat. Berbagai upaya dilakukan tapi sungguh nada itu tak kunjung kembali. Rasanya, saat itu kami ingin menangisinya bersama-sama😄😅😂.

Ada lagi ketika salah seorang anggota bertanya, apakah musikalisasi puisi harus ditampilkan seperti orang kerasukan? 😅😂😄 Saya menjawab, saya pun kurang tahu. Beberapa kali (dua kali tepatnya😄) mengikuti workshop musikalisasi puisi baik di Kupang bersama seorang bernama Fileski yang awal-awal ia saya kagumi tapi sekarang sudah tak lagi 😅 maupun baru-baru ini di Jakarta tepatnya di Salihara pada kegiatam LIFEs bersama penyair Adimas Imanuel dan pemusik Sri Hanuraga dan para pemateri ini tak pernah menyinggung sedikitpun tentang hal-hal samacam kerasukan dan saya pun lupa atau memang tak sempat berpikir untuk menanyakan hal itu. Begitu juga kebersamaan singkat pernah semobil dengan dua orang kawakan, Ari-Reda sewaktu MIWF 2017 (kalau ini mah pamer namanya 😎😅), tak ada unsur-unsur kerasukan dalam musikalisasi puisi mereka. Kawan kami itu, sebut saja P, yang awalnya tak suka ada unsur-unsur begituan di dalam penampilan musikalisasi puisi mereka, ketika satu waktu dirasa memang sepertinya boleh juga dicoba kemudian memeragakan salah satu kutipan yang sontak membuat kami terperangah. Itu bukan dirinya. Sungguh tak bisa dipercaya. Tak mungkin hal seperti itu akan ditampilkan di panggung. Sebab kalau yang begitu dipentaskan di panggung, percaya saja, itu bukan lagi namanya musikalisasi puisi tapi sudah akan berubah nama jadi lawakan paling konyol sepanjang sejarah😄😅😂😎😅😂.

Sudah. Demikian tentang masa persiapan. Kita akan lanjut dengan masa pementasan.

Babak penyisihan berlangsung hari Jumat, 27 Oktober 2017. Tim SMP mendapat nomor undian ke-11 sementara Tim SMA di nomor undian ke-16. Berhubung hari itu adalah hari efektif, maka kelas tetap tak bisa ditinggal pergi begitu saja. Kelas harus tetap berjalan. Mesti ada yang memantau, kita hanya pergi saat mau tampil saja kemudian bisa kembali. Kebetulan tempat lomba tidak begitu jauh dari sekolah. Paling keluar dari kelas 20 menit untuk kemudian kembali. Maka harus ada di antara mereka delapan orang itu yang punya jam kosong untuk bisa bergantian berjaga dan memantau di tempat lomba. Ternyata setelah cek and ricek, urusannya malah jadi agak ribet dan pelik.

Disepakati saya yang sekalian mendampingi siswa mengikuti lomba sekalian memantau dan melaporkan perkembangan lomba musikalisasi puisi. Toh, semua lomba ada di satu lokasi yakni di Taman Budaya Gerson Poyk, Kupang.

Hari Jumat, tanggal 27 Oktober 2017 itu, saya mendampingi dua siswi SMP mengikuti lomba menulis resensi yang katanya akan dimulai pukul delapan pagi sehingga sudah dari pagi-pagi di sesi satu saya izin tidak masuk kelas.
Karena sementara para siswa mengikuti lomba menulis resensi yang beberapa jam itu tak mungkin saya berjaga di pintu mengawasi mereka. Sayalah yang akan memantau waktu kapan perlombaan musikalisasi puisi dimulai, bagaimana perkembangannya, sudah di nomor undian ke berapakah penampilan yang sedang berlangsung, dsb. Saya kurang tahu bagaimana tingkat ketenangan hati mereka sementara mengajar di dalam kelas dan mengikuti laporan saya yang masuk dari menit ke menit, tapi saya merasa mereka sepertinya ada juga sedikit debar-debarnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ayu dan Jessika, dua siswi peserta lomba menulis resensi yang ternyata jadwal lomba mereka diundur karena ruangan mereka masih dipakai adik-adik Paud untuk lomba mewarnai duduk di samping saya dan dengan gelisah terus bertanya di mana bapak-ibu guru yang ikut lomba musikalisasi puisi. Sudah beberapa tim yang tampil dan terus berlanjut tanpa henti. Mereka merasa was-was sebab sesuai pengumuman peserta yang tidak muncul pada panggilan ke-3 akan didiskualifikasi. Mereka takut apabila itu terjadi pada bapak-ibu gurunya.

Hingga di nomor undian 6 lalu melangkah ke nomor 7, melihat bapak-ibu gurunya belum tampak, dua anak ini beranjak mengecek di luar, bahkan karena hari itu memang saya izinkan membawa HP, salah satunya sampai menelpon atau entah mengirim pesan kepada wali kelasnya yang juga adalah salah satu dalam tim musikalisasi puisi ini. Bayangkan, betapa mereka yang seharusnya lebih berkonsentrasi untuk lomba mereka sampai ikut merasa was-was, nomor urut bapak ibu gurunnya sudah mau dipanggil tapi kok tak ada tanda-tanda tampak.

Giliran nomor undian 8 tampil di mana peserta nomor 9 harus berdiri di samping panggung untuk bersiap. Sementara nomor 8 tampil dan nomor 9 sudah berdiri di tempat yang diharuskan, saya mencoba mencari tanda-tanda penampakan nomor undian 10. Tapi sepertinya mereka tidak hadir.

Kalau tadinya saya hanya duduk dan berdiri di tempat sambil sesekali mengambil gambar, kali ini saya bangkit dan berdiri di dekat pintu agar bisa menengok ke luar. Kawan-kawan saya belum juga nampak. Saya kirimkan pesan ke grup. Ada yang membalas. Mereka sementara di perjalanan menuju tempat lomba.

Tak lama kemudian, terdengar dari pelantang, nomor undian 9 dipanggil tampil. Nomor 10 bersiap di samping panggung. Tiga kali digaungkan, tak juga ada tanda-tanda muncul peserta nomor undian 10. Pada waktu itulah saya lihat Ayu dan Jessika muncul di lobi dengan muka berseri menunjuk dua gurunya yang baru saja tiba. Mereka masuk tepat nomor undian 11 diminta bersiap di sisi kanan panggung. Sementara nomor 9 tampil, dua kawan yang lain masih juga belum tiba. Saya menelpon tapi tak diangkat. Peserta nomor undian 9 hampir selesai ketika terlihat dua kawan lain dalam Tim SMP ini muncul lagi-lagi didahului dua siswi kami yang juga belum mulai lomba menulis resensinya. Keduanya datang dan tak sempat duduk ataupun mengambil jeda sejenak. Langsung mengeluarkan gitar dan maju di panggung karena memang sudah dipanggil tampil. Tim ini kalau boleh saya bilang sebagai orang Kupang, dong tarek napas di atas panggung. 

Sementara mereka tampil, muncullah Tim SMA yang mendapat nomor undian 16. Mereka berempat datang bersamaan. Ada serta mereka sang kepsek. Kalau tim SMP tadi datang dengan motor datangnya, maka kemungkinan tim SMA ini dengan mobil. Peduli amat mau pakai apa, yang penting lega sudah tugas saya sebagai pemantau dan reporter.

IMG20171027105146

Tim SMP dengan puisi “Padamu Jua”

IMG20171027104909

Mumpung lomba menulis resensi belum dimulai, dua siswi ini ikut merekam penampilan bapak-ibu gurunya

Selesai tim SMP ini tampil, baru saya dengar cerita, dua orang kedua ternyata sempat nyasar cukup jauh sebelum akhirnya mereka berani bertanya di mana letak taman budaya yang dimaksud🙈🙉😄😅.

IMG20171027110635

Tim SMA dengan puisi “Doa”

Penampilan mereka di tengan keterbatasan itu, puji Tuhan, alhamdulillah,  memuaskan. Sujud syukur, dari semua peserta, mereka keluar sebagai peserta ke-3 dan ke-4 terbaik di babak penyisihan. Mereka akan tampil lagi di babak final, Sabtu (28/10). Membawakan musikalisasi puisi yang baru disiapkan setelah hari temu teknis, dua hari. Ajib.

Bila di babak penyisihan tim SMP membawakan puisi Padamu Jua, maka di babak final mereka akan menampilkan puisi Doa. Sedangkan tim SMA di babak penyisihan dengan puisi Doa, di babak final mereka maju dengan Kembalikan Indonesia Padaku. 

Penampilan mereka di babak final ini bagi saya menakjubkan mengingat waktu latihan hanya dua hari di jam sepulang sekolah. Mengenai penampilan mereka, akan saya tampilkan videonya. Silakan menyaksikan sendiri dan berikan penilaian Anda.

Tentu video ini bukan untuk dicari jumlah like terbanyak atau komentar terbaik😄😍. Ini hanya sebagai apresiasi saya atas kerja keras mereka sekalipun mereka bukan menduduki juara 1, 2, 3, dst, meski memang Tim SMP menjadi pemenang harapan 2 sementara Tim SMA tidak di dalam jajaran itu, toh itu hanya masalah angka. Urutan atau angka itu bukan ukuran atau penentu. Demikian yang saya tahu dan saya percayai dan juga mungkin Anda sekalian, bukan? 😄😎

Catatan, untuk video kedua (tim SMA) kalau kau menemukan ada satu kejanggalan terkait isi puisi di situ, abaikan saja. Kesalahan itu sudah diakui sang pengucapnya. Kami sudah menganggapnya sebuah momen yang punya arti tersendiri bagi kami. Katanya, dari situ penampilan selanjutnya sudah jadi blunder😄😊. Semoga Bapak Taufik Ismail tidak marah. Satu hal yang lucu adalah, ada satu komentar di antara kawan-kawan, jangan-jangan itu ramalan buat Jakarta😅😂mengingat Jakarta paling santer muncul di media-media dengan berbagai masalahnya seolah-olah Indonesia hanyalah Jakarta (iya, dong. itu kan ibukota🙈🙉). Mungkin begitu🙊😄.

Ada juga hal-hal indah yang tak lupa mau saya pahatkan. Status WA satu kawan saya. Namanya juga status WA, akan kau lihat di mana lagi kalau sudah lewat 24 jam?  😎😎😎

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Iklan

Gebyar Literasi ala MGMP Bindo SMP Kota Kupang

Gebyar Literasi adalah kegiatan pertama Komunitas MGMP Chairil Bindo SMP Kota Kupang. Komunitas ini sendiri baru terbentuk tahun 2017 dengan Bapak Ariyandi Benygerius Mauko dari SMPN 16 sebagai ketua serta beberapa pengurus inti lainnya dari SMPN 13 Kupang, SMPN 8 Kupang, dan SMP Kristen Citra Bangsa Kupang.

Kegiatan gebyar literasi ini diadakan pada Kamis, 26 Oktober 2017 di Taman Nostalgia (Tamnos) Kupang. Melibatkan hampir semua SMP di Kota Kupang baik negeri maupun swasta.

IMG20171026162304

Adapun kegiatan utama yang dilakukan hari itu adalah siswa menemukan nilai karakter dari sebuah bacaan yang diberikan untuk kemudian mengalihwahanakannya kepada bentuk lain seperti puisi, komik, cerita baru, dll. Sebuah kegiatan sederhana memang. Semua kita bisa sering melakukannya sendiri-sendiri di sekolah. Namun yang perlu diapresiasi dari kegiatan gebyar literasi ini adalah kegiatan sederhana ini dikemas dengan menarik sehingga tidak membuat siswa ataupun guru sebagai pendamping merasa bosan.

IMG20171026163013

IMG-20171031-WA0047.jpg

 

IMG20171026163048IMG20171026163115

Selama anak-anak melakukan kerja mereka, ada juga diselilingi dengan beberapa pementasan yang disuguhkan baik dari SMPN 16 Kupang, Univ Muhammadiyah Kupang, juga tamu dari kelompok Teater Nara Larantuka yang mampir di Taman Nostalgia.

IMG20171026165212

IMG-20171031-WA0021.jpgIMG-20171031-WA0018.jpgIMG20171026171643IMG20171026171930IMG20171026173730IMG20171026174817IMG20171026180155

IMG-20171031-WA0011.jpg

LIFEs Hari Pertama

LIFEs adalah salah satu kegiatan yang diadakan Komunitas Salihara di Jakarta. LIFEs itu sendiri adalah singkatan dari Literature and Ideas FEStival.  Kegiatan ini berlangsung selama hampir sebulan penuh, dari tanggal 7 hingga 28 Oktober 2017. Di antara beberapa kegiatan itu terselip di antaranya sesi Forum Penulis Muda Indonesia yang berlangsung dari Kamis, 19 hingga Minggu 22 Oktober 2017. Nah, saya mendapat undangan untuk yang forum itu. Tidak tahu kenapa dan dari segi mana dilihat sehingga saya ikut diundang. Untuk itu, saya ucapkan terima kasih saja kepada Komunitas Salihara dan Yayasan Lontar.

Dari Kupang saya dan Kak Dicky (Christian Dicky Senda) baru berangkat di Kamis pagi. Sementara ada beberapa kawan dari luar Jakarta ada yang sudah berangkat lebih dahulu sehari sebelumnya. Kami tiba siang hari di Salihara dan bertemu dengan 12 (-1) orang lainnya yang juga diundang untuk sesi yang sama, serta berkenalan dengan beberapa di antara panitia kegiatan ini. Mereka antara lain Rebbeca, Mbak Wikan dan Mbak Nina dari Lontar.

Tak berapa beristirahat lama, kami langsung mengikuti sesi yang sudah diagendakan untuk hari itu. Berikut beberapa cuplikan di Hari Pertama mengikuti kegiatan LIFEs.

Sesi Satu: Sebelum buku diterbitkan

Sesi tersebut menghadirkan Mbak Dewi Noviami sebagai moderator, Pak Anton Kurnia dari Penerbit Baca dan Mbak Mirna Yulistianty dari GPU sebagai narasumber.

Mbak Mirna mengisahkan serba-serbi penertbitan di Gramedia Pustaka Utam

Sekilas tentang Jurnal Ruang, salah satu teman main GPU

Break

Break ini hanya berlangsung kira-kira 20 menit. Ada penganan dan teh kopi disediakan di dekat pintu keluar black box theater. Jakarta sedang hujan saat itu sehingga hampir semua peserta diskusi hanya menikmati penganannya di sekitaran lorong itu.

Di sela-sela sesi break itu, ternyata ada yang didatangi untuk diwawancarai terkait #LakoatKujawas dari Mollo, TTS.

Sesi Dua: Setelah buku diterbitkan

Sesi dua masih tetap dengan moderator Mbak Dewi, menghadirkan narasumber Pak Aldo Zirsov dari Goodreads Indonesia dan Mr John McGlyn dari The Lontar  Foundation.

Sesi Malam: Perayaan HUT ke-30 Yayasan Lontar dan Pembacaan Karya

Goenawan Mohamad (sungguh malang kalau kau tak kenal siapa beliau… 😉😄)

John McGlynn dari Yayasan Lontar

Mari tersenyum lebar😜😍😆. Dalam rangka merayakan HUT ke-30 Yayasan Lontar, mereka membagikan hadiah buku. Tak disangka saya kecipratan dapat buku Antologi Cerpen😍😎😙.

Hari pertama ditutup dengan menikmati makan malam bersama di Kedai Salihara. Selain kami anggota forum penulis muda di situ, ada dua kawan baru dari sekitaran Jakarta yang katanya tiba-tiba ‘tersesat’ saja di Salihara malam itu😄.

Kencan Buku, Diskusi Sastra di TamNos, dan Sekilas tentang Oi

Sabtu, 14 Oktober 2017. Malam ini di tempat kencan buku Taman Nostalgia Kupang atau yang disebut TamNos sedikit berbeda. Selain digelar lapak baca gratis, ada juga diskusi tentang proses kreatif. Sebagai narasumber maka dihadirkan dua pekerja kreatif yakni Frater Deri Saba dan juga Pater Milto Seran.

Diskusi tepat dimulai pukul 08.03 wita. Dibuka Kak Gusti Fahik yang kemudian dimoderatori Kk Efry Tanouf. Sebagai pengantar, Deri Saba pun menjelaskan sedikit tentang latar belakang ia menulis, kenapa yang ditulisnya adalah cerpen, kenapa dan bagaimana proses sampai buku cerpen Ingatan adalah Belati itu jadi, dan tentang apa pula cerita-cerita yang ada di dalamnya. Demikianlah diskusi itu mengalir dan terus berlangsung diselilingi dengan beberapa tanya jawab juga masukan dari beberapa peserta yang hadir.

Kira-kira sejam lebih berlalu, diskusi dengan narasumber kedua pun berlanjut. Oleh moderator, Pater Milto Seran diperkenalkan sebagai seorang imam yang selama tiga tahun terakhir ini tinggal di Rusia😱😘 (Walau sekarang sudah tak begitu-begitu amat, tapi saya pernah memfavoritkan Rusia sebagai negara yang ingin saya pelajari bahasanya, datangi tempatnya, tinggal di sana, merasakan langsung kulturnya, bahkan kalau bisa dapat keluarga dari nama sana biar nama saya jadi ikut berubah sebab saya suka kerumitan ejaan nama orang-orangnya😄😅. Semua itu bermula dari cerpen dan novel para sastrawannya walau tahunya cuman Leo Tolstoy, Anton Chekov, dan Fyodor Dostoyevsky).
Pater Milto ini pum memulainya dengan mengatakan dirinya tidak datang untuk berbicara melainkan sebaliknya ingin belajar dari kawan-kawan pegiat literasi yang ada di Kupang. Kemudian ia pun mulai bercerita sedikit mengenai yang diketahuinya mengenai Rusia zaman sekarang dan dilanjutkan dengan tanya jawab terkait beda sastra Rusia saat ini dengan yang sudah biasa dikenal dunia.

Menanggapi salah satu pertanyaan mengenai sastra Rusia selain yang sudah beredar atau yang umum dikenal, Pater pun mengeluarkan satu buku berukuran kecil namun bersampul tebal dan bagus. Buku tersebut berisi kumpulan puisi Sergei Yesenin, seorang penyair Rusia. Puisi-puisi di sana tertulis dalam bahasa Rusia.

Baiklah, mari belajar puisi Rusia karya Sergey Yesenin yang dibacakan langsung dalam bahasa Rusia oleh Pater Milto Seran.

Berikut ini adalah puisi Sergey Yesenin dalam bahasa Rusia yang dibaca tadi.  Berikut pula adalah terjemahannya dalam bahasa Indonesia oleh orang yang sama tersebut😊.

Diskusi yang cukup serius itu terus berlanjut hingga kira-kira pukul 11 pm. Setelah itu diskusi bebas diberikan. Siapa yang mau lanjut bersama siapa bicara apa dipersilakan. Tidak lagi pakai moderator segala. Saya sendiri bergerombol dengan kawan-kawan Dusun bicara tentang sesuatu yang tentunya tak perlu saya beberkan di sini😄sebab cukup privat dan sangat penting.

Tak berapa lama kemudian bergabunglah salah seorang anggota Oi dari Alor. Oi adalah satu ormas yang ada di Indonesia, bermula dari para simpatisan atau penggemar (kalau benar sebutan saya) atau orang-orang muda lingkaran Iwan Fals, yang oleh Iwan Fals sendiri mereka dianggap sebagai anak-anaknya😊😘😚. Diskusi kecil-kecilan terjadi. Dari hasil sharing itu, dapat disimpulkan, kegiatan yang sudah mereka jalankan kurang lebih tujuh bulan itu sangat inspiratif dan membangun. Walau di Alor yang adalah kabupaten dibanding Kupang yang adalah ibukota provinsi, gerakan mereka sungguh luar biasa, sangat patut diapresiasi, juga diteladani. Salah satu motto atau slogan mereka yang saya ingat adalah SOPAN. Seni, Olahraga, Pendidikan, Akhlak, dan Niaga, adalah bidang-bidang yang ingin mereka garap. Mantap, semua bidang-penting mereka perhatikan. Kalau dilihat dari kacamata penilaian sekolah semua ranah terangkum sudah. Kognitif masuk, psikomotor masuk, afektif masuk. Komplit 👍👏.

Salam kenal untuk, OI👌👏👊. Selamat berkarya demi kemajuan bangsa💪, demi Indonesia💪🙏😇 .

Awal Mula Ikut Serta MIWF 2017

MIWF adalah satu festival sastra tahunan yang ada Indonesia sejak tahun 2011. MIWF sendiri adalah singkatan dari Makassar International Writers Festival. Awal mula saya mendengar dan mengetahui MIWF ketika pada tahun 2013 ada beberapa kawan penulis dari NTT, sesama anggota Komunitas Sastra Dusun Flobamora terpilih sebagai emerging writers (EW) dan diundang ke sana. Mereka di antaranya Mario F Lawi, Christian Dicky Senda, dan Amanche Frank. Hanya saja waktu itu saya kurang punya keinginan untuk tahu lebih lanjut tentang MIWF. Di tahun 2014, ada lagi satu anggota Dusun Flobamora yang terpilih, Saddam HP. Disusul tahun 2015, dua orang lagi terpilih, mereka adalah 2F (versi saya ;)), Anastasia Fransiska Eka dan Felix Nesi.

Sampai saat itupun saya belum terpikirkan untuk nanti ikut mengirimkan karya saya tahun berikutnya kalau-kalau juga bisa masuk. 😀 Entahlah, belum merasa terpanggil barangkali. Ketika keluar pengumuman untuk seleksi karya taun 2016, saya masih saja mengganggapnya tidak serius. Tak ada persiapan. Dikirimi SMS dan pesan via messenger bahkan ditanyai dan dianjurkan oleh kawan dari Lentera yang mengetahui MIWF ini, saya akhirnya untuk menghargai undangan dan anjuran mereka, saya kirimkan saja beberapa cerpen yang ada tanpa banyak berharap. Saya melupakannya setelah itu.

Ketika pengumuman hasil seleksi emerging writers MIWF 2016 keluar, itupun saya lupa kalau saya pernah ikut mengirimkan karya, sampai ada satu catatan kecil dari salah satu alumni EW, Kak Dicky Senda yang membagikan pengumuman itu, bahwa berturut-turut sejak tahun 2013, 2014, 2015, dari NTT selalu ada yang lolos seleksi EW MIWF, dan baru kali inilah di tahun 2016 tiada seorang pun yang mewakili NTT. Catatan itu sederhana, tidak bernada keluhan atau negatif lainnya. Saya saja yang sewaktu membaca catatan kecil pengiring pengumuman itu tiba-tiba baru teringat kalau saya pun sebenarnya pernah ikut mengirimkan, dan juga tersadar kalau cerpen yang saya kirimkan pun hanya asal-asalan. Saya jadi merasa bersalah dan menyadari betapa tidak bertanggungjawabnya saya. Sedih jadinya. Dari situlah saya berjanji kepada diri saya sendiri, persiapkan diri untuk ikut mengirimkan karya tahun depan. Lolos atau tidak pun, paling tidak saya sudah lebih sungguh mempersiapkan karyanya jauh-jauh hari. Beruntungnya juga, di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, ada kelas setiap minggu, membahas baik cerpen, baik puisi, dan tulisan kreatif lainnya. Kelas minggunan itu cukup memberi saya banyak kemajuan  untuk memperbaiki cerpen-cerpen saya sebelumnya.

Dalam proses waktu bergulir, saya sempat lupa mau saya apakan cerpen-cerpen itu. Hingga kemudian datang kabar, ada lagi pembukaan seleksi EW MIWF tahun 2017, bahkan di kelas Dusun Flobamora pun sering dibicarakan, dan oleh kawan-kawan saya didorong untuk ikut mengirim. Di luar itu, saya pikir saya sudah jauh lebih siap untuk mengirim. Anehnya, cerpen dan segala kelengkapan yang diminta walau sudah siap tidak segera saya kirim. Alasannya cukup sepele, agak takut-takut. Saya baru mengirimnya beberapa hari sebelum tanggal penutupan. Itupun atas peringatan seorang kakak yang menjadi pembimbing kami di kelas Dusun Flobamora, Mas Abu Wibisana, “Anggap saja batas pengirimannya adalah beberapa hari sebelumnya. Jangan sampai terjadi kesalahan teknis di hari dead line sehingga karya yang sudah jadi malah tak bisa terkirim,” katanya.  Maka terjadilah sesuai yang disarankan. 😀

Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini saya mengirim lalu tidak segera melupakan walau tidak terus-terusan juga saya mengingatnya. Mendekati hari pengumuman, saya tahu bahwa akan ada pengumuman seleksi EW MIWF karena saya menandainya di kelender. Namun bertepatan di hari pengumuman, saya lumayan sibuk karena terlibat dalam kegiatan paskah dari GRII. Sampai larut malam, saya tak sempat menengok email atau media sosial untuk mengetahui hasil seleksi itu. Barulah keesokan paginya ketika saya bangun, sesudah mengaktifkan paket data, barulah masuk pesan-pesan terkait lolosnya saya sebagai salah satu peserta Emerging Writers MIWF 2017.

Emerging Writers MIWF 2017

Sumber: twimgmiwf17

Antara percaya dan tidak, sebab saya baru saja bangun tidur. Walau masih pagi-pagi subuh, kabar bahagia ini tentu saja membuat saya harus berseru kaget, melompat turun dari tempat tidur dan langsung terduduk di lantai. Mata saya berasa panas dan basah. 😀 (saya mengakui saja apa yang benar terjadi). Rupanya seruan kaget saya membuat adik saya ikut pula terkejut. Tergopoh ia datang menengok. Ia mengira saya baru saja melihat ular atau tikus atau serangga bermata besar apa. Saya tidak peduli. Saya tunjukkan padanya pesan dengan brosur di atas. Ia kelihatan bingung. Peduli amat.

Saya lagi senang. Kau mengerti saja. Begitu saya bilang.

Ia masih saja belum mengerti.

Saya akan ke Makassar. Saya melanjutkan.

Kok bisa?

Saya lolos seleksi menulis.

Oh, lalu kapan ke Makassar?  Ia sudah mulai mengerti situasi.

Bulan Mei nanti.

Baiklah, bagus sudah, katanya lalu berbalik pergi.

Saya melanjutkan keasyikan saya memelototi nama-nama yang tertera di gambar itu. Hanya ada satu nama yang saya kenal. Kak Maria Pankratia. Ia juga orang NTT, dari Ende, tempat saya pernah mengikuti kegiatan Temu II Sastrawan NTT. Kak Maria juga salah satu anggota Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Saya senang juga bangga. Tepat seminggu sebelumnya, tanggal 11 April, hari istimewa saya (♥ 🙂) tak sengaja kami bertemu di sebuah jajaran depot makan. Mungkin itu salah satu pertanda kami akan bertemu lagi di ajang MIWF. Saya menganggap itu sebuah kado istimewa dari Tuhan. Sungguh seperti itulah yang memang pada dasarnya saya harapkan. Daripada mendapat kado dari manusia, adalah lebih berharga kado langsung dari Tuhan. Istimewa yang benar-benar istimewa bukan? 😀

Terima kasih kepada Sang Penyelenggara Kehidupan. 🙂

 

Dua Kegiatan Diskusi Bertema Tragedi ’65

Ada dua kegiatan diskusi bertema tragedi ’65 yang sempat saya ikuti dalam dua-tiga bulan terakhir. Kegiatan pertama bertempat di aula Fakultas Teologi UKAW Kupang. Kegiatan tersebut berupa Diskusi dengan tema Mari Bacarita ’65 oleh Cahaya Mata Generasi Muda. Berlangsung Sabtu, 14 Januari 2017.

Sehari sebelumnya ada juga kegiatan, hanya saya tidak ikut. Saya baru sempat hadir di hari kedua yakni pada diskusi “Mari Bacarita ’65” tersebut. Narasumber hari itu adalah seorang nenek dari Baun, Amarasi Barat, bermarga Bureni, nama tepatnya saya tak begitu ingat. Beliau hadir sebagai salah satu saksi dari sekian banyak korban tragedi ’65. Tak hanya itu, ada dua lagi narasumber lain. Saya hanya tahu jelas dan ingat salah satunya, Bapak Matheos Viktor Messakh. Seorang lainnya dipanggil dengan Kak Atta  sebagai salah satu dari perempuan-perempuan GMIT yang selama ini mendampingi opa-oma korban tragedi ’65 (correct me if I’m wrong) :).

Awalnya saya sempat berniat untuk tidak pergi menghadiri diskusi tersebut sebab dari kabar yang saya dengar, undangan terbatas untuk tiap komunitas hanya bisa diwakili dua orang. Hari Sabtu pagi saya bangun dan melakukan aktivitas seperti biasa sebab dalam pikiran saya dari Dusun Flobamora dari hari Jumat kemarinnya sudah ada yang mewakili. Namun kemudian saya mendapat kabar kalau tidak semua perwakilan komunitas datang. Siapa yang berminat datang dipersilakan. Tentulah dengan sesegera mungkin saya bersiap dan melaju ke tempat tersebut. Tak apalah peduli amat dibilang peserta cadangan :D, hanya mengisi kekosongan, bagi saya selama itu sesuatu yang baik dan bermanfaat, mau jadi ‘penyusup’ pun akan saya lakukan…:D.

Di sana selama mendengarkan tanya-jawab dari moderator dan para narasumber, sungguh saya merasa bersyukur bisa hadir hari itu walau sedikit terlambat sehingga melewatkan sesi perkenalan (jadinya saya tak begitu tahu siapa moderator dan para narasumber selain Pak Matheos). Di hari Sabtu itulah akhirnya saya punya gambaran yang sedikit lebih terang dari yang sebelum-sebelumnya.

Selama masa saya kecil, sebelum saya bisa membaca, pengetahuan tentang PKI berkisar antara film yang diputar setiap tanggal 31 September malam (yang jadi pembicaraan anak-anak kecil dan orang dewasa seantero kampung keesokan harinya di tanggal 1 Oktober) dan cerita-cerita gelap yang dituturkan bapak atau  beberapa bai saya yang tersisa. Maksud kata gelap di sini adalah cerita mereka hanya mengungkit sepotong-sepotong, semacam tiba-tiba mengingat sesuatu dan terlontar kata-kata mereka yang berkaitan dengan PKI atau ‘lubang buaya’, atau mars PKI, dan karena penasaran ketika kami anak-anak atau cucu-cucunya bertanya lanjut, mereka akan langsung mengalihkan pembicaraan dan tak mau lagi membahasnya. Namun cukup lumayan dari sentilan-sentilan itu saya tahu bahwa kenapa saya tidak mengenal bai kandung saya dan saudara-saudaranya yang. Ternyata bahwa mereka memang ikut ditembak mati di ‘hutan besar’ dan dibuang masuk ke lubang buaya, dan nenek kandung saya pun adalah seorang yang harus menjalankan tugas wajib lapor, dan bahwa bapak saya karena merekalah yang setiap hari menempuh jarak berkilo-kilo untuk ke sekolah yang dekat dengan kantor polisi, ia dan beberapa saudara sepupunya yang lain bertugas sebagai pengantar bekal (yang disiapkan para ibu di kampung) tiap hari kepada bapak dan om-omnya yang sementara dalam tahanan.

Sementara di pelajaran IPS di sekolah, seperti apa teks yang tertulis di buku paket, seorang anak yang ditunjuk guru akan diminta untuk dibacakan keras-keras kepada siswa-siswa yang lain untuk mencatatnya. Mencatat paling sedikit halaman lima halaman setiap pelajaran adalah hal biasa. Catatan itu dibawa pulang ke rumah, dipelajari, dihafal, hingga nanti dari sana akan keluar soal-soal untuk dijawab. Mungkin saya termasuk seorang anak yang baik dan rajin dan taat bersekolah…:D. Demikian saya muku menghafal apa yang tertulis di buku-buku teks pelajaran IPS (maksud saya di sini lebih kepada pelajaran sejarah) :). Karena menurut buku komunis adalah biang kerok kekacauan negara sehingga harus dibumihangskan dari tanah Indonesia, demikian di masa-masa itu hingga di masa-masa selanjutnya saya ikut melaknat bai-bai saya yang terlibat dan mati ditembak sehingga meninggalkan anak-istrinya. Saya menyayangkan kenapa mereka harus terlibat sehingga bapak saya dan sepupu-sepupunya harus menjadi yatim sejak masih ingusan, sampai cucu-cucunya pun tidak tahu-menahu dan tidak punya bayangan sama sekali seperti apa rupa bai-bai mereka–maafkan saya yang buta dan bodoh 😦

Bersambung (biar ada draft dulu sebagai pemicu untuk nanti dilanjutkan…daripada tidak ada sama sekali…:))

Kegiatan kedua baru saja terjadi pada hari Sabtu malam, (18/3) di Taman Dedari Sikumana, Kupang. Kegiatan ini diawali lebih dahulu dengan pemutaran sebuah film berjudul Pulau Buru Tanah Air Beta. Bicara Pulau Buru saya tak begitu tahu lebih detail selain bahwa itu adalah tempat dibuangnya sastrawan kenamaan Indonesia, Bapak alm Pramoedya Ananta Toer. 

Rupanya sebelum pemutaran film inti tersebut, disajikan juga cuplikan tentang apa itu dan seperti apa itu Lekra. Judul cuplikan itu agak sedikit rumit di kepala saya karena memakai ejaan lama. Saya sudah mencoba mencarinya di google tapi tak ada temuan.

Bersambung (biar ada draft dulu sebagai pemicu untuk nanti dilanjutkan…daripada tidak ada sama sekali…:))

** Akan ada banyak hal yang saya tuliskan nanti di sini sebagai pengingat (setidaknya bagi saya merekam momen), tapi pesan utama dari dua diskusi tersebut adalah pelajarilah sejarah yang benar. Pelajari. Bukan untuk lu jadi pintar lalu berbangga diri. Tapi supaya kesalahan masa lalu jangan lagi terulang di masa sekarang. Supaya kita jangan lagi dibodohi dan dipermainkan oleh oknum-oknum tak berperikemanusiaan. Supaya manusia adalah manusia sebagai makhluk yang mulia dan bukan binatang. Pesan utama ini (bentuk bold) disampaikan Bapak Matheos Messak pada Diskusi Mari Bacarita ’65 dan  ditegaskan lagi oleh Kak Lia Wetangterah, salah satu pendamping korban-korban tragedi ’65 di area Kupang, NTT, pada diskusi usai menonton film Pulau Buru, Tanah Air Beta.

Panggung Perempuan Biasa

Sabtu, 16 Juli 2016, tanggal yang cantik sekaligus menjadi hari istimewa bagi Perempuan Biasa. Di tanggal yang cantik ini, mereka menghadirkan panggung khusus perempuan bagi para penikmat seni dan sastra yang ada di Kupang.

perempuan-biasa2

Sebutan ‘Perempuan Biasa’ sendiri bermula dari sebuah judul monolog karya Abdi Keraf, disutradarai Lanny Koroh, dan dipentaskan Linda Tagie dalam acara “Kupang Pesta Monolog” pada bulan Maret 2016. Selanjutnya di bulan Mei, monolog Perempuan Biasa bersama Tubuh yang Palsu dari penulis yang sama dengan disponsori Taman Dedari Sikumana, diadakanlah pementasan Tour de Floresta, berturut-turut mengelilingi kota Maumere, Larantuka, Lembata, dan berakhir di Kupang. Tak berakhir hanya di sana, sebuah panggung khusus perempuan pun digagas. Maka menjadilah di Sabtu, 16 Juli 2016,  momentum Perempuan Biasa kembali bergaung di Kupang, NTT.

Mengusung tema “Panggung Perempuan Biasa, para perempuan baik perempuan NTT maupun luar NTT diberikan panggung istimewa untuk bedah buku dan pementasan seni. Acara bedah buku diadakan pukul 10.30 bertempat di SMP St Yoseph Kupang. Buku yang dibedah adalah karya seorang penulis perempuan Bali, Sri Jayantini, berjudul Bunga Perjalanan, sebuah kumpulan puisi dan prosa.

Bersama dua rekan lainnya Kaka Monika Arundhati dan Ibu Santri Djahimo, seorang dosen Bahasa Inggris dari Undana, kami yang adalah perempuan biasa (benar-benar biasa saya bilang, sebab contohnya saya sendiri walau suka dengan kegiatan baca tulis tapi diri ini sendiri pun belum pernah punya pengalaman membedah buku orang lain. Paling hanya pernah mengikuti acara bedah buku orang lain, itupun sebagai peserta atau penonton), diminta dan dipercayakan ambil bagian dalam bedah buku tersebut yang alhamdulillah berjalan baik. (Mungkin rangkuman pembedahan buku ada bagian tersendiri di Catatan Buku). Dihadiri kurang lebih 50-an orang, bedah buku disertai tanya jawab dan diskusi berlangsung hangat dan seru.

Sebelumnya, sebelum acara bedah buku dimulai maksudnya, sempat ada pengalungan salendang penyambutan dari sang tuan rumah, kepsek SMP St Yoseph sekaligus koordinator Dusun Flobamora, Romo Amanche Frank untuk kedatangan sang penulis perempuan Bali, Ibu Sri Jayantini juga kepada sang ibu dosen yang menjadi salah satu pembedah, Ibu Santri Djahimo.

Dilanjutkan pada malam hari, pukul 06.00, bertempat di Taman Dedari Sikumana, pementasan seni “Panggung Perempuan Biasa” dibuka. Ucapan salam penyambutan dan terima kasih dihaturkan koordinator Perempuan Biasa kepada para guest star baik yang dari Bali maupun Maumere, Lembata, dan komunitas di luar Perempuan Biasa. Dari Bali, hadir Ibu Sri Jayantini yang pagi harinya bukunya dibedah, dan Kaka April Artison yang ketika di atas panggung tampil memukau dalam monolog Pidato Tujuh Menit namun yang saya salut adalah ia berkali-kali mengenalkan dirinya sebagai ibu rumah tangga. Berikut dari Maumere, Komunitas Sastra Kahe tampil membawakan teater berjudul Du’a Buhu Gelo atau yang berarti Perempuan Kentut Kemiri.

Di luar Perempuan Biasa, ada juga mereka dari Komunitas hip-hop United of EX sebagai pembuka malam “Panggung Perempuan Biasa”. Tak lupa pula kepada pemetik sasando yang manis nan imut, Nona Virginia, seorang siswi SMP St Yoseph Kupang, membawakan lagu Mai Fali e… dan Haleluya.

Dari Perempuan Biasa sendiri, selain tiga buah tarian daerah NTT, sebuah puisi Perempuan dalam Doa oleh Febtian Candradevi Nugroho serta dua monolog dihadirkan kepada penonton diselingi tarian daerah dan sasando.

Monolog Perempuan Paling Bahagia dari Perempuan Biasa benar-benar menegaskan, saya perempuan biasa yang paling bahagia bisa menyaksikan pementasan seni “Panggung Perempuan Biasa” di malam istimewa tersebut. Kolaborasi yang indah dan megah antara penulis naskah Linda Tagie, sutradara Lanny Koroh, aktris Santji Muskanan, yang sempat saya dengar kata orang ia sudah nyaris sekelas Happy Salma, serta kru pendukung lain seperti Kaka Elin Taopan di bagian soundtrack, dan mereka yang lain di belakang layar cukup membuat saya nyaris tak bernapas hingga saya sadar saya baru menarik napas ketika sang aktris menyudahi monologianya yang keren atau yang orang Kupang bilang ‘babatu mangan‘.

Demikian juga ketika Perempuan Rembulan karya Yahya Ado yang dipentaskan Linda Tagie. Kisah tentang kehidupan seorang perempuan yang ketika mendapati suaminya ‘menyeleweng’, tak bisa berbantah banyak, ia pun memutuskan hijrah ke negeri orang, tekawe. Di sana baru didapatinya satu penyakit telah menggerogotinya sejak ia masih bersama sang suami. HIV/Aids sudah mendekam lama dalam tubuhnya sementara selama ini ia tak pernah berhubungan dengan seorang laki-laki mana pun. Lagi-lagi, entahkah ini mau disebut pengorbanan ataukah pembodohan ataukah pembiaran ataukah ketakpedulian ataukah penindasan ataukah kelaliman ataukah kekejaman ataukah kekurangajaran ataukah atau yang lainnya.

Kalau di sesi diskusi sempat saya dengan lontaran kalimat dari seorang komentator atau mau kalau boleh disebut kritikus ketika mengomentari penampilan April Artison dalam ngalor ngidul Pidato Tujuh Menit yang mengisahkan tentang pengabdian bertahun-tahun seorang guru honorer, bahwa tugas seni adalah menggugah, maka benarlah di malam pementasan seni “Panggung Perempuan Biasa” ini, saya tergugah akan sesuatu.

Terima kasih “Panggung Perempuan Biasa”. Telah engkau hadirkan panggung ‘sakral’ khusus perempuan untuk Kota Karang. Sekali lagi, sujud syukur dan kagum saya kepada Dia Sang Penyelenggara Kehidupan. Karena Dia dan untuk Dia pula, saya ingin menyampaikan salam salut penuh hormat saya kepada Kaka Lanny Koroh yang tergerak menyelenggarakan kegiatan ini, juga tak lupa kepada semua yang sudah terlibat. 🙂 :3

Kupang,  17 Juli ’16