Cerita Pagi Hari dari Kota Daeng

Ini tempat di mana saya mencatat kembali mimpi semalam πŸ™‚ πŸ˜€

Saya sementara mengikuti kegiatanΒ Makassar International Writers Festival (MIWF) 2017. Hari ini adalah hari ketiga saya berada di Kota Daeng. Senang sekali berada di sini. Pengalaman beberapa hari ini bagi saya berkesan baik (terpujilah Tuhan semesta alam). Akan saya tuliskan di sini tapi belum sekarang πŸ˜€

Pagi ini (18/5’17), saya membuka wordpress karena satu mimpi saya yang unik…:D Saking uniknya, sepertinya ada yang kurang kalau tak dipahatkan…:D Tak apalah, ya, Β sedikit saya ceritakan tentang mimpi saya semalam. Β πŸ˜€

Jadi begini, entah bagaimana, (ya, bukankah hampir setiap mimpi yang singgah di tidur seseorang biasanya tidak memiliki alur yang jelas) saya dituduh membuat laporan (semacam berita acara pelaksanaan) palsu tentang suatu kegiatan di sekolah (dalam ingatan buram saya kegiatan itu seperti ujian di sekolah). Ada beberapa poin yang saya tuliskan di atas selembar kertas tersebut. Oleh karena tulisan itu, saya dituduh orang-orang (banyak sekali), Β sebut saja dari segala penjuru mata angin. Saya sedih, Β dan menangis (tentu saja) πŸ˜€

Saya ingin membela diri. Β Tapi tak bisa keluar suara. Saya hanya diam menerima dengan pasrah tuduhan-tuduhan mereka. Β Bahkan saya akan diadili (:D, ast*g*, apa saya terlalu memikirkan tentang segala yang berkaitan dengan hukum-hukaman atau adil-mengadili?). Saya kemudian diseret dan dibawa kepada seorang yang lebih berkuasa, demikian yang saya dengar. Anehnya sama sekali tak ada secuil pun rasa takut dalam diri saya. Β Saya mengikuti saja apa seruan orang-orang banyak itu. Di sebuah tanah lapang, Β ada dua orang bapak berdiri. Satunya memakai baju batik berwarna coklat, satunya lagi memakai baju kemeja kotak-kotak berwarna softpink. Mereka adalah Ahok dan Jokowi. Β (w.o.w…:D). Keduanya menyambut saya. Bahkan Ahok dengan tangannya menarik saya berdiri di sebelah kanannya (what a privilege for me…:D), juga menerima selembar kertas yang disodorkan kepadanya. Kami membacanya bersama-sama. Ada dua poin utama di atas (memang disediakan dua nomor dan saya tinggal mengisi dua nomor instruksi tersebut. Β Selanjutnya ada 10 nomor di bawahnya lagi. Tulisan tersebut hanya sampai di nomor Tujuh. Selanjutnya tiga nomor di bawahnya masih kosong. Β Kedua bapak tersebut mempelajari tulisan itu dengan saksama. Jokowi mengomentari, di sini memang tidak terbaca kesalahannya. Mungkin, tentang tiga nomor yang tak ada itu, komputer itu kan, kalau membaca tulisan yang menyesatkan, ia akan otomatis mengahapusnya.

Mendengar komentar Jokowi, Ahok manggut-manggut tapi tetap diam. Ia menarik saya dan memeluk saya dengan lengan kanannya sambil tangan kirinya memegang lembar kertas tersebut. “Apa yang mau kau katakan?” tanyanya.

“Saya memang tidak mengisi tiga nomor tersebut,” saya menjawab dengan yakin.

Ia masih tetap diam. Β Pelan-pelan ia menoleh kepada saya, “Saya tahu, Β kau tidak salah. Tidak benar apa yang dituduhkan orang-orang padamu,” ia tersenyum. Β “Pergilah kembali, Β dan tuliskan apa yang benar,” lengannya pun melepas saya. Β Tepat pada saat itu, alarm saya berbunyi. Β Saya harus segera bangun.

@kamar kapsul, Β tempat unik dengan orang-orang unik nan keren nan baik hati… πŸ˜‡

Charity berbeda dengan Justice

Sumber: gntap

πŸ˜€ Menjalani keseharian, dan lagi-lagi diingatkan… ‘charity’, tanpanya, kehidupan ini memang tak bisa berlangsung…:D Lakukanlah dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, segenap akal budimu, dan segenap kekuatanmu. Ia pun bernilai kekal… W.o.w… πŸ™‚ πŸ™‚

 

ANICE

http://www.idpelago.com/kesaksian-basuki-tjahaja-purnama-bagi-mereka-yang-mempertanyakannya-keimanannya-kepada-tuhan/

  • PRMatematika. Seorang anak kecil menyodorkan PR Matematikanya padamu minta dibantu. Kau membantunya dengan cara langsung mengerjakan supaya ia bisa dapat nilai baik atau setidaknya ia terbebas dari kemarahan gurunya dibanding kau membantunya pelan2 dengan bersama-sama mengerjakan sambil kau menjelaskan cara mengerjakan lengkap dengan konsepnya.
  • Bantuanuntukorangmiskin. Kau punya uang berlebih, artinya uangmu lebih dari cukup. Kau terpanggil membantu orang-orang miskin. Apakah kau langsung datang dan memberikan begitu saja uangmu kepada mereka lantas bilang, β€œIni uang. Pakailah untuk beli makan dan minum. Belilah pakaian. Buatlah rumah,” lalu kau pun pergi. Kau tahu, uang itu akan habis. Kondisi mereka akan tetap melarat terus melarat sekalipun dibantu beribu-ribu kali. Bandingkan dengan kau panggil mereka, ajak mereka buat sesuatu. Berikan mereka modal untuk bekerja mengusahakan sesuatu. Pantau mereka dan berikan evaluasi. Mungkin akan lambat memang pertumbuhan mereka, tapi setidaknya level mereka sudah naik beberapa tingkat dari sebelumnya.
  • Cinta

Lihat pos aslinya 502 kata lagi

Selamat Ulang Tahun Ke-8, ANICE… πŸ˜ŠπŸ˜πŸ™Β 

🎈 Happy Birthday!

Β πŸ”₯ πŸ”₯Β  πŸ”₯Β  πŸ’Ÿ πŸ’Ÿ πŸ’Ÿ πŸ’Ÿ πŸ’Ÿ πŸ’Ÿ 🍰🍰🍰🍰🍰🍰🍰🍰 🍰🍰🍰🍰🍰🍰🍰🍰 🍰🍰🍰🍰🍰🍰🍰🍰 🍰🍰🍰🍰🍰🍰🍰🍰 πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ’Ÿ πŸ’Ÿ πŸ’Ÿ πŸ’Ÿ πŸ’Ÿ πŸ’ŸΒ πŸ‘‘πŸ‘‘

🎈 Happy Birthday!

Β πŸ”₯ πŸ”₯Β  πŸ”₯ πŸ“Β  πŸ“Β  πŸ“Β  πŸ“Β  πŸ“Β  πŸ“ πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚ πŸŽ‚πŸ“πŸŽ‚πŸ“πŸŽ‚πŸ“πŸŽ‚πŸ“ πŸ“πŸŽ‚πŸ“πŸŽ‚πŸ“πŸŽ‚πŸ“πŸŽ‚ πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚ πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸ“πŸŽ‚πŸ“πŸŽ‚πŸ“πŸŽ‚πŸ“πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚πŸŽ‚

Tidak sengaja saya buka-buka bagianΒ tentang blog, Β dan menemukan kolom komentar ini, Β barulah saya baca dan kembali diingatkan, delapan tahun lalu, Β seperti hari ini, Β 5 Mei, Β adalah hari di mana saya pertama kali mengadakanΒ ANICE. Β Tidak terasa memang, Β sudah delapan tahun. Β Selamat ulang tahun, ANICE. Β Jadilah, sebagaimana garam, ia mengawetkan dan memberi rasa… Β πŸŽ‚πŸŽπŸŽ‰πŸŽŠπŸ™πŸŽˆ

 

 

 

Inspirasi Cerita dari KKR Paskah 2017

Saya punya utang cerita dari kegiatan KKR ini.  Hanya satu kebiasaan buruk saya yang suka menunda-nunda, bahkan sampai hari ini pun cerita itu belum jadi, padahal waktu itu semangat saya seperti mendapat hadiah idaman tak terduga :p. Semoga dengan membuat ‘tanda ingat’ ini di sini, saya segera menyelesaikannya… Hmm………… … (tanda titik-titik adalah tanda sudah berapa hari lewat sejak saya berjanji :D.

Pusing Papagi di Hari Pertama USBN

Lonceng gereja berdentang. Sudah yang ketiga kali. Orang-orang di dalam gereja mulai mengumandangkan hymne, dilanjutkan dengan sahutan berbalas-balasan.

Ini paskah kedua, katanya.

20170208_081256Berseberangan dari samping kiri gedung gereja, hanya terpisah jalan selebar empat meter lalu tembok gedung sekolah, anak-anak kelas 9 duduk dengan tegang dan tampak serius menghadapi soal Agama.

Saya duduk di depan mereka. Beberapa meter di sampingΒ  ada juga rekan mengawas. Saya baru saja selesai mengisi lembar pernyataan untuk keperluan administrasi. Tak ada lagi yang saya lakukan seusai menyambar dua potong kue lezat borneo dengan segelas aqua (terima kasih sudah menyediakan.. sangatlah berarti bagi saya) selain duduk dan mengamati wajah anak-anak di depan.

Kepala saya tambah pusing lama-lama memandangi mereka. Pagi tadi saja saya hampir ambruk (lagi, setelah insiden penerimaan rapor tahun 2012 dulu) saat berdiri di aula pimpin devotion. Omongan saya jadi agak ngawur tadi (dengan hati yang paling rendah, maafkan dan ampunilah..). Syukurnya hanya sebentar karena diberi kursi untuk duduk (terima kasih:)). Syukurnya lagi, pusing ini tidak terjadi saat berkendara (alhamdulillah).Β 

Pikir-pikir dan merenung, kenapa coba, bisa pusing sedemikian?

. .. … …. ….. …… …… ……. ……. ………

Ok, sekarang baru tahu kenapa.

Bukankah gejalanya sudah dari semalam setelah sore harinya dan setengah empat hingga bahkan maghrib lewat pun, kau masih sibuk bara’o dan ba’angkut pupuk kandang dan gali sana-sini demi katanya tamanmu itu, lalu bukannya minum air putih terlebih dahulu, kau malah langsung bergabung dengan acara minum kopi, lalu pagi tadi lagi datang ke sekolah menempuh perjalanan berpuluh-puluh kilo dengan perut kosong bahkan tanpa segelas air putih pun. Sekarang kau pikir… dan kau rasa sudah!

Baiklah, itu pelajaran. Jangan lagi terulang. Syukurlah, sekarang kau bahkan dapat memahatkan momen papagi ini…:)

Thanks to God…

***

17 - 3Berhala Bunga

Sorenya ia begitu sibuk dengan bunga-bunga hingga lewat tengah malam.

Paginya ia ditemukan mati terkapar karena kehabisan tenaga.

W.o.w… Sepertinya insiden papagiΒ  hari ini membawa hikmah… πŸ˜€ πŸ™‚ β™₯β™₯β™₯

Mawar di Depan Rumah

17 - 2

17 - 3

Usia pohonmu sudah lebih dari sepuluh. Kala itu, aku masih sempat sangsi, apa kau bisa sementara tanah di sekitaranmu hanya secuil di antara batu-batu karang. Namun, hari ini kau membuktikan, meski akarmu harus selalu bertumbukan dengan karang, kau tetap tumbuh.

Penampakanmu menyejukkan mata. Semerbak aromamu membuatku mabuk kepayang. πŸ˜€ Lebih dari itu, keberadaanmu meneduhkan kepala menentramkan hati. Indah. Sayang, seumpama ratu, kau anggun sekaligus angkuh. Ingin kurengkuh engkau tapi tak dapat. Baiklah dari jauh kupandangi engkau. Diam-diam mengagumi sambil menghaturkan syukur tak terkira kepada Sang Pencipta.

Kau sudah menjadi kau yang adalah kau. Adakah yang lebih baik yang bisa lagi kau berikan? Tidak. Kurasa cukup…. πŸ˜‰ πŸ™‚

https://plus.google.com/115129233788994026573/posts/JL8XLdjxZQL?_utm_source=1-2-2

Hari Kedua Ujian Sekolah dan Beberapa Kesedihan

Hari ini ujian sekolah hari kedua dan mata pelajaran sesi pertama yang diujikan adalah Bahasa Indonesia. Kemarin kedua lutut saya lecet karena sempat terjadi  insiden kecil sepulang dari melayat  di rumah salah satu murid di kelas 8 di daerah Lasiana, pikir saya, tak akan berdampak apa-apa. Toh, semalam sudah dikompres tante saya dan pasti akan baik-baik saja. Nyatanya ketika pagi tadi bangun, lutut kanan saya susah sekali digerakan. Bahkan untuk beranjak bangun dari tempat tidur pun, perlu perjuangan seperti mengangkat batu seberat satu ton.

Jadilah dengan berat hati (terlalu amat berat) saya meminta izin tidak masuk sekolah. Sedih saya bertubi-tubi sebenarnya.

Kesedihan pertama, saya tak hadir justru di hari mata pelajaran saya diujikan. Baiklah di sini saya katakan, kalau kau seorang guru, di masa-masa ujian di sekolah, kau pasti merasa ‘sedikit istimewa’ ketika hari atau jam di mana mata pelajaranmu diujikan (entah orang lain merasa begitu atau tidak, saya sendiri merasakannya..:D). Kau sambil duduk diam-diam mengalirkan doa dan membayangkan bagaimana, ya, apakah mereka bisa mengerjakannya dengan baik atau tidak? Apakah SiA bisa mencapai di atas 90-an, apakah SiB bisa mencapai setidaknya tidak lagi di bawah 60 atau 50? Bagaimana SiIni dan SiItu, dan sebagainya.

Kesedihan kedua, saya sedikit menyesal. Kenapa saya begitu ceroboh. Sebelumnya saya terlalu bersemangat mengetahui tentang sesuatu dan saya menyambutnya dengan teramat gembira yang setelah saya pikir-pikir agak berlebihan…:p. Hal-hal seperti demikian sudah terjadi berulang kali dan saya selalu menyesal setiap kali terlalu gembira. Berulang-ulang saya mengingatkan diri agar lebih menahan diri dan mengontrol diri dan menguasai diri kalau memang ada sesuatu yang membuatmu harus senang atau gembira atau apalah itu (saya jadi tak suka menyebutnya). Beberapa pengalaman sudah membuktikan, ada kalanya berhasil (lega, syukur alhamdulillah), adakalanya lepas kontrol.

Kesedihan ketiga, janji saya dengan seorang kawan saya jadi dibatalkan hari ini. Sebenarnya pertemuan itu sudah harus kemarin tapi karena ada berita duka itulah, kami bersepakat membicarakannya hari ini (Selasa,04/04). Tapi karena hari kondisi saya demikian, jadilah urusan itu ditunda lagi. Saya berharap ia masih punya rasa percaya pada saya dan tidak menganggap saya selalu mengada-ada dengan berbagai alasan seperti yang biasa ia lontarkan tentang saya…:):)

Kesedihan keempat, btw, belum ada info ke rumah orang tua saya tentang insiden ini. Saya tak mau kalau info tak penting ini sedikit mengganggu adik bungsu saya yang sementara menjalani masa ujian nasionalnya.

Kesedihan kelima, bahwa saya sudah memahatkan momen hari ini dalam 400-an kata tapi tidak merasa pasti apakah coretan ini berguna atau tidak…:(

Hanya memang bahwa di antara kesedihan-kesedihan itu, jauh dalam lubuk hati saya, ada rasa syukur tak terhingga sebab area insiden itu terjadi adalah di pelataran sebuah rumah dan keadaan saat itu sepi kecuali bahwa hanya ada tiga kawan yang sedang berada bersama saya pergi melayat. 

Sebagaimana kejadian-kejadian atau insiden apapun yang datang mengunjungi (mendatangimu sekadar say hallo), mestilah direfleksikan kembali, ada hal penting apa yang mau diajarkan padamu. Mungkin pula bisa jadi cerita kelak kalau seseorang lain ditimpa hal yang sama, kau setidaknya menguatkannya bahwa kau sendiri telah melaluinya.