Merayakan Keseharian

Lagu dari Fil 3:13-14

Lagu yang saya dengar sewaktu belum sekolah. Waktu itu ikut menyanyi tanpa tahu artinya apa dan dari mana sumbernya.

Berikut kutipan lirik lagunya yang saya ingat:

“aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
dan berlari-lari (lari-lari-lari-lari-lari-lari-lari-lari) pada tujuan, memperoleh hadiah (hadiah, memperoleh hadiah,hadiah), yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Catatan:

Pagi tadi bacaan devosinya diambil dari sini. Sontak saya teringat akan lagu masa kecil yang pernah saya dengar dan saya nyanyikan ini.

Diberkatilah ia yang pernah mengajarkannya kepada saya dan menyanyikannya bersama saya. Meski sekarang ia terkungkung sakit, syukur saya tetap kepada Tuhan yang telah menghadirkannya di tengah-tengah dunia ini. πŸ˜πŸ™πŸ˜‡

Merayakan Keseharian

Evaluasi Minggu Pertama Libur

Terpujilah Kau, Pemilik Langit Bumi dan Segala Isinya. Minggu pertama libur kali ini sangat memuaskan. Selalu ada momen berharga setiap harinya. Semuanya tak melulu tentang sukacita dengan rasa manis-manisnya, namun ada juga dukacita dengan segala rasanya baik sedih, kaget, tegang, ragu, takut, marah, geram, miris, hingga ada yang rasa-rasanya ingin mengutuk. Semua diizinkan terjadi. Mau tidak mau, terima tidak terima, tetaplah bahwa hari ini ketika tanganmu masih memegang pena dan menulis di kertas, atau mengetikkan huruf-huruf pada layar hp dan menuliskannya di sini, itu semua semata-mata karena anugerah-Nya. Thanks to You, God AlmightyπŸ™πŸ˜‡.

Merayakan Keseharian

Momen Kairos 3 (13/6) Baca-Rita

 

Mau promosi stiker NASA πŸ˜‰

Pertemuan yang di gambar ini jadinya memang sudah malam. Rencana awal kemarin, seusai mengajar di kelas Rabu Gembira, saya akan lanjut bertandang ke rumah Esty bersama Lala dan dua kawan lainnya. Ternyata dua kawan lainnya tak jadi ikut. Maka jadilah saya dan Lala memonopoli waktu Esty seharian ini. Selain kenyang cerita, kami juga kenyang makan. Tak hanya itu, saya sempat juga bertemu dan mendapat cerita khusus dari bapak Esty. Kami cukup nyambung karena bapak Esty adalah orang Amarasi, dari Marena-Baun😍😎. Inti dari semua ceritanya adalah andalkan dan tetap utamakan Tuhan. Meski singkat pertemuan itu, tapi saya selalu menyimpan khusus pesan-pesan beliau kalau ketemu :D. Pertama kali ketemu tahun 2010 di Jogja, beliau mendukung dan mendorong untuk saya terus menulis. Di tahun 2015, beliau terus mendorong untuk tetap bekerja keras dan selalu berdoa. Kali ini di masa tuanya, sama seperti Salomo di kitab Pengkhotbah, beliau menasihati agar tetap bersandar dan mengutamakan Tuhan, yang paling ditekankan adalah membaca alkitab, sebab firman Tuhan adalah makanan yang sangat penting bagi jiwa. “Masakan kita diinstruksikan makan 3 kali sehari lantas baca alkitab, berapa banyak sehari coba?” begitu katanya. Memang, bapak dan anak tidak jauh beda. Mereka sama-sama hidup untuk menginspirasi orang lain πŸ‘πŸ‘πŸ˜.

Sampai sore kami di rumah Esty, karena cerita belum selesai-selesai juga, kami melanjutkan ke war-kon sekalian mau bertemu Ruru dan Itin. Cerita demi cerita dialirkan dari mulut Esty namun tak kunjung selesai. Ceritanya sungguh kaya. Jangan kau pikir kau baca banyak buku, nonton banyak film, pelototi vlog-vlog daily life negeri paman sam lantas kau tahu semua hal di sana. Jangan. Tidak semua yang ditampilkan adalah seperti demikian. Artinya, jangan kau hanya diperlihatkan, diceritakan, diajari, lantas kau sendiri bilang oh sudah..sudah saya sudah tahu. Alangkah baiknya kau pergi sendiri, alami dan rasakan. Biar kau tahu sendiri bagaimana rasanya ketika kau yang mengalaminya secara langsung. Jelas itu lebih berarti dan mengekal. πŸ˜‰πŸ˜„πŸ˜…

Demikian satu momen berharga hari ini dibekukan dan dikekalkan.

Merayakan Keseharian

Momen Kairos 2 (13/6): Mengajar di Kelas Rabu Gembira

Liburan sekolah sudah dimulai minggu ini. Lumayan liburnya sebulan. Rencana saya sebelumnya (lebih tepatnya beberapa hari belakangan ini), kalau memang minggu pertama saya belum pulang, maka alasan pertama dan yang menjadi satu-satunya alasan adalah banyak undangan pernikahan beberapa kawan di Lentera dan Dian.

Namun, siapa sangka kemarin saya diajak seorang kawan (Mona) menjadi relawan pengajar untuk anak-anak SD-SMP di sekitaran Naikolan. Katanya kami akan mengajari mereka penggunaan komputer khususnya microsoft word. Awalnya saya merasa bingung apa yang mau diajarkan sebab yang ada di kepala saya adalah semua anak-anak di Kupang tentu tidak asing lagi dan pasti sudah bisa dengan yang namanya miscrosoft word. Meski menjawab saya akan menyediakan waktu untuk itu namun jauh dalam hati tentu ada keraguan apakah saya bisa mengajari mereka atau tidak. Saya bukan guru TIK. Saya juga buta tentang penggunaan komputer kecuali yang dasar-dasar, ya, cukuplah. Saya terus bertanya apa lebih tepatnya yang mau diajarkan dan jawabannya adalah pembuatan daftar isi. Alamak😯! Saya sendiri pun sudah lupa cara pembuatan daftar isi itu kecuali kalau buka di internet, ya, dari tidak bisa sama sekali menjadi sangat bisa (plus sekali😜) dan langsung jadi master (kalau yang ini saya punya pengalaman memuaskan bagaimana memasang senar gitar sendiri hingga menyetem semua senarnya menjadi nada yang tepat, yang sebelumnya saya anggap itu hanya bisa dikerjakan para master yang ada di atas-atas-atas tambah atas lagi sanaπŸ˜‚ berkat aplikasi yang tersedia gratis di playstore).

Ok, mengajari tentang pembuatan daftar isi sudah tak lagi menjadi masalah. Aman.

Paginya (maksudnya pagi tadi), saya bersiap pergi dengan semangat siap berbagi. Oleh Oma Te’o, seorang hamba Tuhan yang saat ini dipercaya mengelola kelas tersebut memimpin mereka lantas membagi kelompok. Saya kebagian mereka yang anak-anak baru. Artinya mereka yang baru pertama kali bergabung dalam kelas ini (Oh, ya, saya belum memperkenalkan nama kelas tersebut. Jadi kelas itu namanya Rabu Gembira. Sesuai namanya, kelas atau pertemuan belajar itu dilaksanakan setiap seminggu sekali yakni di hari Rabu).

Kelompok saya terdiri dari tujuh orang. Enam anak laki-laki dan satu perempuan. Setelah saya bawa mereka ke ruang tengah dan menanyakan kepada mereka terkait penggunaan dasar komputer, didapati bahwa mereka tidak seperti yang saya sangka sebelumnya. Meski tinggal di kota dan meski sudah di bangku SMP, bukan berarti mereka sudah bisa dengan lincah dan akrab dengan perangkat komputer. Buktinya dengan ketika dipanggil satu-satu untuk membuka microsoft word saja pun tetap gagal meski mencoba berkali-kali. Dari ke-7 anak tersebut, hanya satu yang dipanggil maju dan sekali mencoba langsung jadi yakni satu-satunya anak perempuan di kelompok itu. Dari situlah saya mulai menurunkan ekspektasi saya lantas memulai dari yang lebih dasar. Persiapan tentang pembuatan daftar isi saya simpan kembali. Padahal sebelumnya saya bahkan sempat berkonsultasi dengan guru TIK kelas 7 di Lentera. Niat memang saya ini, yaπŸ˜….

Komputer di rumah belajar tersebut hanya berjumlah tiga buah. Karena gurunya tiga orang, kami masing-masing memakai satu komputer untuk mengajar. Jadi sepanjang belajar, anak-anak secara bergiliran memakainya untuk belajar membuka-tutup ms word, mengetik, mengedit, dan menyimpan dokumen.

Meski terbatas, mereka terlihat antusias sekali. Senang melihat mereka mau benar-benar belajar. Saking semangatnya belajar, kami sampai tak ingat waktu pulang sehingga harus dipanggil berkumpul kembali ke kelas besar.

Sebelum pulang, ternyata dari mereka meminta Oma Te’o untuk menambah pertemuan khusus di hari libur ini menjadi dua kali pertemuan seminggu. Dan kesepakatannya selain Rabu adalah Kamis. Maka, doakanlah, besok saya akan mengajar lagi. Dan saya bersemangat untuk itu. Berbagi ilmu kepada mereka yang benar-benar membutuhkan jelas berbeda sekali dengan berbagi kepada mereka yang hanya mengikuti karena aturan atau perintah atau tekanan dsbπŸ˜„.

Akhir dari postingan ini, tentu adalah rasa syukur dengan sukacita tak terhingga sebab Dia memilihkan waktu dan momen yang baik untuk menjadi bermakna. Biarlah segala kemuliaan kembali kepada Dia.

Merayakan Keseharian

Mengenakan Kain Tenun Bermotif Amarasi di Commissioning Day SMP-SMA Lentera Kupang Tahun ’18

 

Di acara commissioning day kelas 9 dan 12 SMP-SMA Lentera Harapan Kupang, dress code guru-guru adalah pakaian berbahan tenun daerah NTT (wajib buat orang asli NTT dan pilihan bagi yang dari luar NTT). Kebetulan saya punya kain Amarasi juga beberapa kain dari daerah lain. Hanya semuanya belum dijahit menjadi baju atau rok atau apapun. So, saya antarkan kain yang bermotif daerah Amarasi ke kawan saya yang selain guru, ia juga biasa menjahit baju-baju pesanan orang. Akhirnya kain saya itu dipermaklah jadi rok panjang yang kemudian saya kenakan di acara commissioning tersebut.

Sepengetahuan saya, ini pertama kali saya mengenakan pakaian berbahan kain tenun Amarasi di acara resmi. Bukan karena apa-apa, tapi hanya karena sebelum-sebelumnya saya merasa kain semacam itu sakral😝 sehingga hanya boleh dipakai di saat-saat tertentuπŸ˜„.

Dan kali ini, ceritanya, di acara commissioning tahun 2018 ini saya dapat tugas sebagai MC. Tentu banyak hal yang perlu dipersiapkan, tentu salah satunya penampakan (alias penampilan yang langsung secara kasat mata harus rapi dan menariklah).

Beruntung saya punya satu kain itu, kalau tidak mungkin saya pasti pontang-panting san-sini mencari kain atau pakaian apapun yang bercorak motif daerah NTT demi keberlangsungan acara tersebut.

Cuplikan Cerita Lentera, Merayakan Keseharian

Cerita UNBK SMP 2018

Tahun ini untuk pengawasan silang pelaksanaan UN, para pengawas dari SMP Lentera Harapan ditugaskan di SMP Kristen Citra Bangsa Kupang. Sama seperti di SMP Lentera Harapan, SMP Kristen Citra Bangsa ini pun punya tiga sesi ujian. Sebagai salah satu pengawas, bagian saya adalah mengawas di sesi I selama empat hari berlangsungnya UNBK.

Sementara dimuat post ini, UNBK sudah berjalan tiga hari. Besok, Kamis (26/4), adalah hari terakhir UNBK. Berharap pelaksanaan UNBK hari terakhir berjalan baik sebagaimana tiga hari yang sudah lewat. Anak-anak pun kiranya sudah mempersiapkan diri dengan baik untuk mengerjakan bagian mereka sebelum akhirnya mereka bisa bernapas lega untuk kemudian kembali mempersiapkan diri memasuki tingkatan yang lebih tinggi. πŸ˜šπŸ˜ŠπŸ™πŸ™πŸ˜‡

Merayakan Keseharian

Kapsul 81: Akhirnya Kembali (bersorak)

Akhirnya kembali lagi

Akhirnya bisa kembali lagi. Setelah seminggu lamanya terserang flu, hari ini saya bisa kembali membuka blog ini. Sebenarnya selama beristirahat karena flu, saya sempat membuka-buka blog, tapi keinginan menulis itu seperti tak ada. Bahkan membaca saja saya paksakan harus. Bukan terpaksa sebenarnya, karena memang hiburan saya selama istirahat itu adalah membaca dan menonton. Aneh saja saya tak buat apa-apa.Β 

Banyak yang saya baca dan saya tonton, tapi yang mau saya sematkan di sini adalah satu cerpen dari Albert Camus yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berjudulΒ Tamu. Kalau mau akses yang versi bahasa Inggris, ada juga di The Guest. Saya tak menyematkan link dari bahasa asli karena saya sendiri tidak mengerti bahasanya:D.Β 

Terlepas dari isi cerita, saya suka bagian yang dikutip di bawah ini:Β 

For some time he lay on his couch watching the sky gradually close over, listening to the silence. It was this silence that had seemed painful to him during the first days here, after the war. He had requested a post in the little town at the base of the foothills separating the upper plateaus from the desert. There, rocky walls, green and black to the north, pink and lavender to the south, marked the frontier of eternal summer. He had been named to a post farther north, on the plateau itself. In the beginning, the solitude and the silence had been hard for him on these wastelands peopled only by stones. Occasionally, furrows suggested cultivation, but they had been dug to uncover a certain kind of stone good for building. The only plowing here was to harvest rocks. Elsewhere a thin layer of soil accumulated in the hollows would be scraped out to enrich paltry village gardens. This is the way it was: bare rock covered three quarters of the region. Towns sprang up, flourished, then disappeared; men came by, loved one another or fought bitterly, then died. No one in this desert, neither he nor his guest, mattered. And yet, outside this desert neither or them, Daru knew, could have really lived.

Beberapa saat ia merebahkan diri di dipannya, memandang langit yang makin gelap, mendengarkan kesunyian. Kesunyian yang menyiksanya sejak hari pertama ia tinggal di tempat ini, setelah perang. Ia mohon agar ditempatlkan di kota kecil di kaki bukit, yang terletak di antara dataran tinggi dan gurun. Di sana, dinding-dinding batu, hijau kehitaman di sebelah utara, jambon dan lembayung muda di sisi selatan, menandai tapal batas musim panas yang kekal. Tapi justru di dataran tinggi ini ia ditempatkan. Pada mulanya, terasa berat baginya menghadapi kesunyian dan kesendirian di hamparan tanah kosong yang dihuni hanya oleh batu-batu. Sesekali tampak bekas galur-galur pada tanah cadas bekas digaru. Tapi tak ada yang bisa diperbuat pada lapisan tipis tanah yang menutup batu-batu, yang hanya cocok untuk bahan bangunan. Jadi satu-satunya yang bisa dihasilkan di daerah ini adalah memanen batu. Di beberapa tempat, orang lain menggarap lapisan tipis tanah yang memenuhi cekungan dan menanaminya dengan tetumbuhan seadanya yang bisa tumbuh di sana.Β Begitulah keadaannya. Hamparan batu menutupi tiga per empat bagian wilayah ini. Kota-kota tumbuh, berkembang, dan kemudian hilang; orang-orang datang, saling mencintai atau saling membenci, dan kemudian mati. Tak seorang pun di gurun ini, baik dirinya sendiri atau si Arab tamunya, punya arti. Dan, sebaliknya, di luar gurun, Daru tahu itu, tak ada seorang pun yang benar-benar hidup.

Alasan ini berkesan bagi saya karena tak lain tak bukan hamparan permukaan bumi semacam ini sama seperti di Kupang :D. Jadi karena tanah ini kaya batu, apa salahnya kita dirikan perusahan batu, batu karang maksudnya, bukan batu mulia:D πŸ˜‰ :).Β