Pertama Kali Bisa Membaca

🙋🙋🙋 Siapa yang masih ingat kapan dan seperti apa prosesnya ketika ia baru pertama kali bisa membaca? 😄😃 😊

Maaf, foto yang ditampilkan adalah foto ponaan saya sedang memelototi katalog MIWF 2017😊. Anggap saja dia mulai mencoba belajar membaca 😉😆.

Saya tiba-tiba terdorong untuk menulis tentang pengalaman pertama kali bisa membaca karena ada kalimat yang merujuk ke sana saat ada satu obrolan dengan adik saya barusan.

Saya kemudian mengingat-ingat pengalaman saya sendiri saat pertama kali bisa membaca. Saya tahu persis, saya sudah bisa lancar membaca sebelum masuk kelas 1 SD. Terbilang istimewa karena di antara teman-teman seangkatan, banyak yang bahkan belum bisa mengeja huruf (sombong sedikit😜😎). Masih terbayang jelas di benak saya, setiap kali ada acara kumpul-kumpul keluarga atau kumpul-kumpul sekampung🙊😅, saya selalu ditunjuk-tunjuk atau dibilang, “Dia sudah bisa baca,  oh ya, betul, dia sudah lancar membaca, wow, sudah bisa ya padahal belum sekolah.” Waktu itu, saya punya alasan untuk besar kepala dan menepuk dada sendiri😜.

Saat liburan panjang sebelum masuk kelas 1 SD, saya dibawa tante saya berlibur cukup lama ke rumah mereka di kota, tepatnya Walikota (Kupang). Di sana, kawan-kawan baru saya kaget mengetahui saya sudah lancar membaca meski saya belum masuk SD. Pikir mereka, saya dari desa, pasti tidak bisa membaca😄😅. Kami pun bermain uji baca. Yang bertindak jadi penguji adalah anak-anak besar, begitu kami menyebut mereka yang dari kelas 3 ke atas. Pesertanya saya dan beberapa anak dari kelas 2 ke bawah. Performance saya baik-baik saja. Tidak malu-maluin amat begitulah😉.

Dari bermain uji baca, kami pun mulai mengobrol apa saja kata-kata yang pertama kali kami bisa baca. Setiap orang membeberkan kata pertama mereka. Cukup beragam. Saya tak ingat semua. Ada yang bilang mama, ada yang bilang papa, ada yang bilang buku, ada yang bilang namanya sendiri, dan sebagainya. Saya sendiri tak mau kalah. “Kopi susu,” saya bilang. Semua tertawa. “Kok bisa?” tanya mereka. Lantas saya pun mulai bercerita. Kenapa sampai kata ‘kopi susu’ yang saya baca pertama kali.

Di tahun-tahun itu, ada satu makanan ringan yang cukup top markotop namanya Kopi Susu. Bungkusannya sebesar telapak tangan orang dewasa. Bentuk isinya sebesar kelereng dengan lubang sebesar lidi di tengah. Berisi kurang lebih 25 biji (kurang pasti juga sih) sebungkus. Sayang, karena sekarang saya bukan penikmat makanan ringan maka saya jelas kesusahan mau menyamakannya dengan makanan ringan jenis apa😕(Tunggu saja, saya akan buat riset kecil-kecilan mengenai rupa-rupa makanan ringan saat ini). Harganya 50 rupiah atau 25 malah jangan-jangan😱😍.

Awal-awal baru belajar mengenal huruf dan angka, karena suka sekali akan makanan ringan itu, bapak pasti membelikannya untuk saya sebagai hadiah seusai belajar. Kopi susu itulah yang menjadi motivasi saya mau belajar. Makanya dari mengenal huruf, lalu mengeja, hingga kemudian kata yang diperkenalkan bapak kepada saya bukan papa, bukan mama, bukan buku, bukan nama saya, bukan yang lain, melainkan KOPI SUSU. Jadilah KOPI SUSU yang menjadi batu loncatan saya belajar membaca kata, lalu kalimat-kalimat lainnya, lalu kemudian bisa menulis panjang seperti yang saya tulis sekarang ini. 👌Hidup KOPI SUSU. 👈👍👏👏.

Ponaan saya yang baru berusia setahun saja sudah melirik-lirik profil para penulis peserta MIWF 2017 dan berpikir akan menjadi salah satu dari mereka. Nah, kamu kapan memulai? Ayo,  segera tulis pengalaman pertama kali kamu bisa membaca. Ditunggu ceritanya👌💪👏😊🙏.

Demikian secuplik cerita pengalaman bagaimana proses saya pertama kali bisa membaca😘😎🙏.

Kau sendiri, bagaimana? (kalau kau sempat baca😝😅😂)  Masih ingat pengalaman bagaimana proses pertama kali bisa membaca? Apa kata yang pertama kali bisa dibaca?

👉👉 Bagikan di kolom komentar👇, atau tuliskan saja di blog pribadimu atau status akun-akun media sosialmu (kok nyuruh-nyuruh ya, repot amat, cerita lu ya cerita lu, jangan sewenang-wenang. siapa yang mo ikut-ikutan mesti repot-repot nulis cerita segala 😀 // Ok, tak masalah, mau nulis silakan, tidak pun bukan masalah. it’s not a big deal :D) atau boleh saja kok diam-diam susun ceritanya sendiri di kepalamu dan tersenyumlah. God bless you🙏😻😘. 

Iklan

Libur Panjang Sekolah

IMG20171225222600Bila kau seorang guru, jelas liburanmu mengikuti masa liburan anak sekolah. Libur panjang sekolah yang ditunggu-tunggu dalam setahun tentu liburan seusai penerimaan rapor semesteran, antara bulan Juni-Juli dan Desember-Januari. Meski sama-sama merupakan liburan semester, untuk liburan masa Desember-Januari saya lebih suka menyebutnya liburan natal. Lebih manis kedengarannya.

Meski dua liburan panjang ini sama-sama berdurasi tiga minggu, isi dalamnya tentu berbeda. Bila di liburan Juni-Juli, itu tepat di musim kemarau, cukup panas, tak banyak kegiatan, hanya kalian orang sekolahan saja yang liburan sementara para pekerja lain tetap melakukan pekerjaan mereka hingga cukup membuat iri; sementara di liburan natal, tepat di saat musim hujan baru memulai, tanah-tanah menjadi basah dan lembab, segala yang hijau memunculkan keberadaannya, menyejukkan mata, hampir semua pekerja mendapat jatah liburan, mereka yang terpencar di bawah kolong langit kembali ke kampung halaman demi bertemu dan berkumpul dengan keluarga walau kadang hanya sehari-dua hari, berbagai kegiatan bersama di gereja, di rumah-rumah tetangga dan keluarga, ibadah rumahan malam natal dan malam tahun baru di mana semua anggota keluarga mesti duduk bersama-sama meski tak sampai sejam, bertemu sanak juga teman lama yang kadang tak disangka, melihat perubahan ini dan itu, jadi pelajaran dan inspirasi, dan sebagainya, dan sebagainya.

Saking banyaknya kegiatan di masa liburan natal, saya yang sewaktu pulang ke rumah membawa serta banyak buku untuk direncanakan baca, batal. Meski disayangkan karena sudah memberati punggung malah tak dibaca, saya tetap tak menyesal. Momen-momen yang sudah disinggung di atas tentu tak bisa berulang dan ditunda. Sementara baca-baca buku dan tulis-tulisnya bisa ditunda, tak mesti di masa liburan natal, kan? Beriman saja diberi umur panjang oleh Tuhan 🙂

Sebagaimana baca-baca buku dan tulis-tulis, demikian juga nonton-nonton. Selama liburan, paketan data 4G dan entertainment tak terpakai. Maka, sepulang liburan inilah saya manfaatkan. Tak boleh terbuang percuma. Enak saja t*****s**, sudah bayar mahal malah tak terpakai. Jadilah, film The Hours yang pernah saya dengar dan ingin sekali menonton sejak tahun 2009/2010 (waktu itu saya hanya sempat dapat beberapa potongan filmnya di youtube) dan berjanji mengakses film lengkapnya namun setelah itu saya tak ingat lagi, hingga jelang masuk liburan ini barulah saya bisa menonton dan mengetahui cerita The Hours seutuhnya. Astaga, lama sekali. Padahal di masa awal-awal ketika tertarik dengan dunia menulis, Virginia Woolf adalah salah satu idola saya, bahkan saya sampai memasang fotonya sebagai foto profil di akun facebook saya sebagai foto profil pertama (kalau tak salah karena itu adalah masa awal-awal orang mulai menggunakan facebook).

Meski mengidolakannya, saya dengan jujur juga malu mengaku bahwa buku berjudul Mrs. Dalloway yang ditonjolkan dalam film ini belum pernah saya baca. Maka di sini saya sertakan link e-booknya, Mrs. Dalloway dari adelaide.edu agar nanti mudah saya buka dan baca.

👌🙏😊

 

 

God Alone

God Alone

God and God alone

Created all these things we call our own

From the mighty to the small

The glory in them all

Is God’s and God’s alone

For God and God alone

***

Sabtu, 30 Desember 2017 @Nunbaun, Kretan.

Tuhan, tak ada potret tentang sesuatu itu. Tapi kutahu Kau mencatat. Kekalkanlah. Kekalkanlah. Tak ada alasan bermegah ataupun mengisut. Berdirilah saja tegak. Tataplah mereka. Mungkin saja mereka melihatmu dan bersyukur telah pernah ada kau. Tunduklah lalu tengadah. Tangkupkan tangan. Sebab segala adalah dari Dia oleh Dia dan kepada Dia.

🙏🙏🙏😇😇😇🙏🙏🙏😇😇😇🙏🙏🙏

Bahan Bacaan Liburan Natal

Sekilas tentang buku-buku yang direncanakan baca dan dituliskan kembali:

IMG20171227190819.jpg1. Drama Doktrin oleh Kevin J Vanhoozer. Buku ini merupakan Suatu Pendekatan Kanonik-Linguistik pada Theologi Kristen.  Saya baru menengok bagian pedahuluannya. Cukup banyak dan agak berat isinya. Baru baca pendahuluan tapi serasa sudah membaca pembahasan babnya. Selama membaca buku ini, pensil selalu di tangan kanan saya. Kenapa? Untuk saya menandai dan mencoret-coret bagian pinggirannya demi saya bisa mengerti.

Dari bab pertama, ditekankan kepada ingin menjelaskan secara tepat apa yang telah Allah kerjakan di atas panggung sejarah dunia. Ialah Kabar Baik. Injil adalah “drama terbesar yang pernah dipanggungkan….” Ada panggung kosmik dan alur cerita kovenan; ada konflik; ada klimaks; ada penyelesaian. Kemudian beberapa poin berikut yang saya buat terpisah: 1) Bila teks Akitab bersifat narasi maka, drama/teater, sebaliknya lebih menunjukkan daripada menceritakan. Kita pun mesti tak membuat perbedaan tegas antara ‘kata’ dan ‘tindakan’. Bagaimanapun teater adalah ‘bahasa tindakan’, dan tugas dramawan adalah ‘mengajar melalui tindakan’ (hal 64) 2) Sementara dunia berada dalam drama penebusan yang terus menerus berlangsung ini, dunia yang menjadi panggung teater kita, apa adegan kita sebagai aktor yang mesti kita mainkan sementara menurut pendapat buku ini, Allah dan manusia adalah aktor dan pemirsa secara bergantian?  (hal 74) 3) Dunia adalah teater tindakan, bukan hanya perenungan; sebuah teater bagi operasi-operasi di mana perang kosmis sedang diperjuangkan di banyak medan budaya. Karena itu drama doktrin melibatkan pergumulan mengenai cara terbaik untuk mempertontonkan kemuridan seseorang” (hal 78).

2. Belum Kalah oleh Avent Saur. Buku ini adalah sekumpulan esai penulis selama menjalankan panggilannya sebagai imam yang juga bekerja sebagai wartawan di sebuah koran lokal di Flores. Berisi tulisan-tulisannya yang pernah dimuat di koran tersebut mengenai orang-orang yang didiagnosis mengalami gangguan kejiwaan di sekitaran daratan Flores. Orang-orang tersebut disebutnya dengan orang-orang yang Belum Kalah. Diceritakan bahwa sekalipun sudah ada himbauan agar tidak ada lagi pemasungan, namun di Flores masih dijumpai banyak sekali orang-orang sakit yang dipasung, ataupun dibiarkan berkeliaran tak terurus baik oleh keluarga maupun pemerintah melalui dinas sosial. Tanggapan sekilas saya, buku-buku dengan isi semacam ini langka, pemahaman yang dibagikan kepada pembaca baik, mengajak kita agar tidak serta-merta membuang muka terhadap orang-orang belum kalah. Hanya saja teknik pembahasaan dan penyusunan kumpulan esai ini karena hanya sekadar melampirkan tulisan-tulisan yang pernah dimuat di koran membuat bacaan ini jadi sedikit membosankan bagi saya.

3. Vegetarian, sebuah novel dari penulis Korea Selatan, Han Kang, yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Deborah Smith. Buku ini terdiri dari tiga bagian cerita. Menceritakan tentang satu orang tokoh dari tiga sudut berbeda. Bagian pertama dari sudut pandang sang suami, bagian kedua intens bersama sang ipar laki-laki, dan yang ketiga bersama saudara perempuannya. Dari tiga bagian cerita ini, saya lebih menyukai bagian pertama karena menceritakan tentang pergumulan suaminya ketika pertama mendapati tingkah aneh istrinya (meski dari awal perkenalan sudah ada tampak gejala-gejala keanehan itu). Satu bagian yang paling berjejak dalam kepala saya yakni terdapat pada paragraf 3 halaman 57.

It was early in the morning, still dark. Driven by a strange compulsion, I pulled back the blanket covering my wife. I fumbled in the pitch-back darkness, but there was no watery blood, no ripped intestines. I could hear the other patient’s sleeping breath coming in little gasps, but my wife unnaturally silent. I felt an odd trembling inside myself, and reached out with my index finger to touch her philtrum. She was alive. (Vegetarian, p 57)

4. The Goldfinch oleh Donna Tartt. Buku ini baru beberapa halaman awal yang saya baca meski sudah beli beberapa bulan lalu. Rencananya mau diselesaikan di masa liburan ini.

5. Sai Rai oleh Dicky Senda. Sai Rai adalah sekumpulan cerita pendek, dan penulisnya ini adalah juga salah satu anggota di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, satu komunitas tempat saya bergabung. Bukunya sudah selesai saya baca. Niatnya mau buat ulasan. Tapi lihat saja sendiri. Seperti yang saya tuliskan di atas, liburan natal begini mana sempat duduk untuk baca-baca kembali dan buat tulisannya.

6. Kekekalan oleh Milan Kundera. Novel ini terbilang unik. Sudah selesai saya baca. Awalnya agak rumit dimengerti, tapi perlahan-lahan akhirnya bisa diikuti dan dimengerti mau dibawa ke mana cerita ini. Membaca buku ini, ponsel pintar saya harus selalu di dekat saya. Kenapa? Tentu, saya butuh referensi.

7. Benjor, Opera Sabun, dan Cerita-cerita oleh Bayu Pratama. Buku ini berisi kumpulan cerita pendek, dengan penulisnya adalah salah satu anggota Komunitas Akar Pohon, sebuah komunitas sastra di Mataram. Ia juga salah satu peserta yang lolos dalam seleksi emerging writers MIWF bersama dengan saya tahun 2017. Hanya ini buku yang terpakai sesuai tujuan. Niatnya dibaca dan terlaksana. Cerita-cerita ini rata-rata sudah pernah diterbitkan di beberapa media baik cetak atau online. Sebagian sudah saya pernah baca juga sebelum buku ini diterbitkan.

Baca Buku di Momen Natal?  

Gaya doang bawa banyak buku. Niatnya baca-baca dan tulis-tulis selama liburan. Baca-baca yang belum dibaca, dan tulis-tulis yang sudah dibaca sebagai pengingat. Nyatanya, ah, tahulah kalau liburan di masa natal, beda kalau liburannya Juli. Namanya saja liburan masa natal. Tentu saja akan ada banyak acara natalnya. Natal umum, natal rayon ini rayon itu, natal keluarga ini keluarga itu :D.
Banyak bertemu sanak, kawan lama, dsb. Kalau mau dihitung, yah, anggap saja nilainya sama dengan membaca beberapa buku begitulah. Ataupun kalau beda, baca-baca dan tulis-tulis tentang buku-buku ini setidaknya masih bisa ditunda tak apalah. Untuk buku-buku itu, masih ada kesempatan lain. Tapi semacam bertemu mereka yang terpencar di sana sini, mengunjungi beberapa tempat baru ataupun tempat lama yang sudah berubah jadi lebih baik, serta mengalami berbagai hal tepat di saat udara sejuk begini (ini mah tak bisa digambarkan😄) tak ada di luburan-liburan lain. Momen-momen model begini hanya bisa kau temukan di liburan masa natal ini.

***

Catatan ini saya buat di salah satu kebun jagung milik keluarga. Pemandangannya langsung ke arah pesisir laut selatan yang di pinggiran pantainya sedang dibangun jalan negara di masa pemerintahan presiden Jokowi.

Di foto ini nampak ba’i saya, paman dari bapak. Ia baru saja selesai mencabuti gulma-gulma yang sedang tumbuh liar menyaingi tanaman jagungnya dan sedang duduk beristirahat. Kesehariannya hanya begitu dan begitu. Tak pernah ia tinggal seharian di rumah kecuali sakit. Saya melihatnya dan berpikir, sepertinya ia tak pernah bosan dengan rutinitasnya. Mungkin, sudah begitu bentuk ibadahnya.

Pementasan Drama dalam Ibadah Natal GMIT Siloam Kretan Retraen 2017

Ibadah natal di GMIT Siloam Kretan Retraen kali ini ditutup dengan pementasan drama singkat. Naskah ceritanya diambil dari kisah Alkitab. Tidak berkaitan langsung dengan cerita kelahiran Yesus Kristus tapi masih berhubungan, apa dan bagaimana harusnya lakumu di muka bumi ini kalau Kristus sudah menebus dan membebaskan kamu dari hukuman kekal itu? Salah satu contohnya adalah “Teladanilah sikap orang Samaria yang murah hati”.

Puji dan hormat hanya kepada Tuhan🙏 Andi Tnunay dalam pementasan drama singkat di acara Natal GMIT Siloam Kretan Retraen 2017

Naskah ini dipilih dan dikembangkan para Pemuda GMIT Siloam Retraen. Pemainnya pun dari mereka semua. Salah satu pelakonnya adalah adik laki-laki saya. Ia berperan sebagai orang yang sedang bepergian dan menjadi korban penyamun yang kemudian ditolong oleh orang Samaria itu.

Ini adalah pertama kali saya melihatnya bermain lakon. Untuk ukuran seorang pemula, saya menganggapnya ia luar biasa. Rasa percaya dirinya cukup mengagumkan. Menjadi modal utama selama ia berakting. Gerak-gerik tubuhnya, gaya berjalan caranya berdialog, menjadi lebih hidup, nyaris lebih hidup dari tokoh yang ada dalam cerita alkitab.

Karena aktingnya selama mereka membawakan lakon singkat tadi, ia malah seolah-olah yang jadi pemeran utamanya. Aneh bukan? Ya, karena mestinya yang pemeran utama dalam cerita itu adalah Si Orang Samaria itu. Ini justru kebalikannya. Saking menonjolnya si orang bepergian yang jadi korban itu, ia malah yang akhirnya seakan disorot-sorot sebagai pelaku utama😀😄.

Drama mereka meski singkat, bersyukur bisa menarik perhatian. Sayang, perhatian penonton lebih terarah kepada peristiwa atau adegan, bukan kepada pesan yang ditinggalkan. Ditambah lagi saat pementasan bertepatan juga dengan mati lampu sehingga beberapa bagian lakon itu kurang jelas diikuti. Para penonton tidak bisa melihat dengan jelas siapa para pelakon yang terlibat dan apa saja tugas mereka dalam lakon tersebut.

Meski demikian, lakon yang dipentaskan berlangsung baik hingga selesai. Meski mati lampu, jemaat masih dengan setia duduk di tempat masing-masing dan mengikuti pementasan tersebut.

Sempat saya jepret beberapa adegannya, sayang hampir semuanya gelap karena mati lampu itu. Sesuai rencana ingin merekam (buat video) kerena permintaan si bungsu yang adalah mahasiswa baru karena kali ini ia tidak merayakan natal bersama kami dan ingin melihat penampilan kakaknya, tapi karena gelap maka rencana itupun tak jadi dijalankan. Biarlah ia nanti melihat hasil jepretannya saja. Foto di atas itulah satu-satunya yang bisa diperlihatkan karena sisanya gelap semua. Semoga ia melihat dan ikut merasa bersyukur sebagaimana malam ini saya melihat dan bersyukur kepada Tuhan atas satu talenta kecil yang Ia percayakan pada adik saya yang sering terkena serangan asma ini.

Segala puji dan hormat dihaturkan kembali hanya kepada-Nya.