Merayakan Keseharian

Mom, After 25 Years

Mama, berbaju hijau dengan tangan kanannya di dada ๐Ÿ™‚

Gambar ini diambil pada malam Kebaktian Natal Rayon Kanaan Jemaat Siloam Retraen, Senin (30/12/19).

Malam itu saya benar-benar terpukau.๐Ÿ˜ฑ Sungguh terpukau. Ini kali pertama dalam hidup saya mendengar kolaborasi mama bernyanyi dengan orang lain dan terdengar suaranya yang khas menonjol di antara suara-suara lainnya. Di sini saya baru mengakui, benar memang kata orang-orang, suara mama memang merdu aduhai.๐Ÿ˜ญ Saya sampai membuka mata lebar-lebar, memasang telinga baik-baik, dan tidak sadar mulut saya juga ikut menganga.

Kau tentu bertanya, memangnya selama ini saya di mana sampaiย  tak pernah mendengar suara mama kalau bernyanyi?

Ok, saya mengerti bila kau bertanya demikian. Mari, saya jelaskan.

Masalah kalau mama bernyanyi itu jelas, hampir setiap hari saya dengar kalau di rumah. Bahkan tidak jarang saya ikut pula menyanyi-menyanyi bersama mama. Semasa masih SD, kami biasanya menyanyi bersama di ruang tengah. Mama, bapak, saya, serta Andi, adik nomor 2. Kami menyanyi-menyanyi saja tanpa iringan musik. Lagu-lagunya biasa dari kidung jemaat ataupun buku catatan lagu punya mama semasa muda. Di masa itu, bila ada waktu-waktu bernyanyi seperti itu, maka itu adalah waktu-waktu bahagia yang pernah saya ingat bila berkumpul bersama mama.

Sebelumnya, saya lupa kapan pastinya, tapi yang jelas, ketika saya mulai masuk usia 5 tahun, mama saya sakit. Sampai hari ini, saya tidak menyimpan memori apapun sama sekali tentang masa-masa dan keadaan mama sebelum sakit. Intinya ketika saya mulai mengingat, saya hanya tahu bahwa mama tidak seperti mama teman-teman saya yang lain atau saudara-saudara sepupu saya atau anak-anak tetangga yang lain.

Bapak juga sering mengulang-ulang cerita tentang dia dan dua saudaranya yang lain (Titi Yorim dan Oma Bella yang kala itu masih berusia 5 tahun) yang sudah menjadi yatim-piatu sejak usia di bawah 10 tahun. Katanya, kalau ada acara-acara pesta keluarga, anak-anak yang punya orang tua akan mendapat pelayanan makanan lebih dahulu atau dengan porsi lebih karena mereka dipanggil dan diberikan langsung oleh orang tua mereka. Sementara an kome, sebutan untuk anak-anak yatim/piatu atau anak yang tak punya orang tua, akan ditinggal belakangan atau kalau dikasihpun hanya dengan porsi yang ala kadarnya. Cerita tentang masa kecil bapak itu dikaitkan dengan kami, saya dan adik-adik, yang kalau ada acara-acara keluarga selalu tak ada mama karena mama dalam keadaan sakit dan tak bisa hadir dan turut bekerja di dapur mengurusi makanan. Cerita itu terus tertanam dalam kepala saya sehingga setiap acara-acara besar keluarga, saya selalu mengira bahwa kawan-kawan saya selalu kekenyangan dan saya sendiri selalu kelaparan.

Merayakan Keseharian

Lagu dari Fil 3:13-14

Lagu yang saya dengar sewaktu belum sekolah. Waktu itu ikut menyanyi tanpa tahu artinya apa dan dari mana sumbernya.

Berikut kutipan lirik lagunya yang saya ingat:

“aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
dan berlari-lari (lari-lari-lari-lari-lari-lari-lari-lari) pada tujuan, memperoleh hadiah (hadiah, memperoleh hadiah,hadiah), yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Catatan:

Pagi tadi bacaan devosinya diambil dari sini. Sontak saya teringat akan lagu masa kecil yang pernah saya dengar dan saya nyanyikan ini.

Diberkatilah ia yang pernah mengajarkannya kepada saya dan menyanyikannya bersama saya. Meski sekarang ia terkungkung sakit, syukur saya tetap kepada Tuhan yang telah menghadirkannya di tengah-tengah dunia ini. ๐Ÿ˜๐Ÿ™๐Ÿ˜‡

Merayakan Keseharian

Evaluasi Minggu Pertama Libur

Terpujilah Kau, Pemilik Langit Bumi dan Segala Isinya. Minggu pertama libur kali ini sangat memuaskan. Selalu ada momen berharga setiap harinya. Semuanya tak melulu tentang sukacita dengan rasa manis-manisnya, namun ada juga dukacita dengan segala rasanya baik sedih, kaget, tegang, ragu, takut, marah, geram, miris, hingga ada yang rasa-rasanya ingin mengutuk. Semua diizinkan terjadi. Mau tidak mau, terima tidak terima, tetaplah bahwa hari ini ketika tanganmu masih memegang pena dan menulis di kertas, atau mengetikkan huruf-huruf pada layar hp dan menuliskannya di sini, itu semua semata-mata karena anugerah-Nya. Thanks to You, God Almighty๐Ÿ™๐Ÿ˜‡.

Merayakan Keseharian

Momen Kairos 3 (13/6) Baca-Rita

 

Mau promosi stiker NASA ๐Ÿ˜‰

Pertemuan yang di gambar ini jadinya memang sudah malam. Rencana awal kemarin, seusai mengajar di kelas Rabu Gembira, saya akan lanjut bertandang ke rumah Esty bersama Lala dan dua kawan lainnya. Ternyata dua kawan lainnya tak jadi ikut. Maka jadilah saya dan Lala memonopoli waktu Esty seharian ini. Selain kenyang cerita, kami juga kenyang makan. Tak hanya itu, saya sempat juga bertemu dan mendapat cerita khusus dari bapak Esty. Kami cukup nyambung karena bapak Esty adalah orang Amarasi, dari Marena-Baun๐Ÿ˜๐Ÿ˜Ž. Inti dari semua ceritanya adalah andalkan dan tetap utamakan Tuhan. Meski singkat pertemuan itu, tapi saya selalu menyimpan khusus pesan-pesan beliau kalau ketemu :D. Pertama kali ketemu tahun 2010 di Jogja, beliau mendukung dan mendorong untuk saya terus menulis. Di tahun 2015, beliau terus mendorong untuk tetap bekerja keras dan selalu berdoa. Kali ini di masa tuanya, sama seperti Salomo di kitab Pengkhotbah, beliau menasihati agar tetap bersandar dan mengutamakan Tuhan, yang paling ditekankan adalah membaca alkitab, sebab firman Tuhan adalah makanan yang sangat penting bagi jiwa. “Masakan kita diinstruksikan makan 3 kali sehari lantas baca alkitab, berapa banyak sehari coba?” begitu katanya. Memang, bapak dan anak tidak jauh beda. Mereka sama-sama hidup untuk menginspirasi orang lain ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ˜.

Sampai sore kami di rumah Esty, karena cerita belum selesai-selesai juga, kami melanjutkan ke war-kon sekalian mau bertemu Ruru dan Itin. Cerita demi cerita dialirkan dari mulut Esty namun tak kunjung selesai. Ceritanya sungguh kaya. Jangan kau pikir kau baca banyak buku, nonton banyak film, pelototi vlog-vlog daily life negeri paman sam lantas kau tahu semua hal di sana. Jangan. Tidak semua yang ditampilkan adalah seperti demikian. Artinya, jangan kau hanya diperlihatkan, diceritakan, diajari, lantas kau sendiri bilang oh sudah..sudah saya sudah tahu. Alangkah baiknya kau pergi sendiri, alami dan rasakan. Biar kau tahu sendiri bagaimana rasanya ketika kau yang mengalaminya secara langsung. Jelas itu lebih berarti dan mengekal. ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜„๐Ÿ˜…

Demikian satu momen berharga hari ini dibekukan dan dikekalkan.

Merayakan Keseharian

Momen Kairos 2 (13/6): Mengajar di Kelas Rabu Gembira

Liburan sekolah sudah dimulai minggu ini. Lumayan liburnya sebulan. Rencana saya sebelumnya (lebih tepatnya beberapa hari belakangan ini), kalau memang minggu pertama saya belum pulang, maka alasan pertama dan yang menjadi satu-satunya alasan adalah banyak undangan pernikahan beberapa kawan di Lentera dan Dian.

Namun, siapa sangka kemarin saya diajak seorang kawan (Mona) menjadi relawan pengajar untuk anak-anak SD-SMP di sekitaran Naikolan. Katanya kami akan mengajari mereka penggunaan komputer khususnya microsoft word. Awalnya saya merasa bingung apa yang mau diajarkan sebab yang ada di kepala saya adalah semua anak-anak di Kupang tentu tidak asing lagi dan pasti sudah bisa dengan yang namanya miscrosoft word. Meski menjawab saya akan menyediakan waktu untuk itu namun jauh dalam hati tentu ada keraguan apakah saya bisa mengajari mereka atau tidak. Saya bukan guru TIK. Saya juga buta tentang penggunaan komputer kecuali yang dasar-dasar, ya, cukuplah. Saya terus bertanya apa lebih tepatnya yang mau diajarkan dan jawabannya adalah pembuatan daftar isi. Alamak๐Ÿ˜ฏ! Saya sendiri pun sudah lupa cara pembuatan daftar isi itu kecuali kalau buka di internet, ya, dari tidak bisa sama sekali menjadi sangat bisa (plus sekali๐Ÿ˜œ) dan langsung jadi master (kalau yang ini saya punya pengalaman memuaskan bagaimana memasang senar gitar sendiri hingga menyetem semua senarnya menjadi nada yang tepat, yang sebelumnya saya anggap itu hanya bisa dikerjakan para master yang ada di atas-atas-atas tambah atas lagi sana๐Ÿ˜‚ berkat aplikasi yang tersedia gratis di playstore).

Ok, mengajari tentang pembuatan daftar isi sudah tak lagi menjadi masalah. Aman.

Paginya (maksudnya pagi tadi), saya bersiap pergi dengan semangat siap berbagi. Oleh Oma Te’o, seorang hamba Tuhan yang saat ini dipercaya mengelola kelas tersebut memimpin mereka lantas membagi kelompok. Saya kebagian mereka yang anak-anak baru. Artinya mereka yang baru pertama kali bergabung dalam kelas ini (Oh, ya, saya belum memperkenalkan nama kelas tersebut. Jadi kelas itu namanya Rabu Gembira. Sesuai namanya, kelas atau pertemuan belajar itu dilaksanakan setiap seminggu sekali yakni di hari Rabu).

Kelompok saya terdiri dari tujuh orang. Enam anak laki-laki dan satu perempuan. Setelah saya bawa mereka ke ruang tengah dan menanyakan kepada mereka terkait penggunaan dasar komputer, didapati bahwa mereka tidak seperti yang saya sangka sebelumnya. Meski tinggal di kota dan meski sudah di bangku SMP, bukan berarti mereka sudah bisa dengan lincah dan akrab dengan perangkat komputer. Buktinya dengan ketika dipanggil satu-satu untuk membuka microsoft word saja pun tetap gagal meski mencoba berkali-kali. Dari ke-7 anak tersebut, hanya satu yang dipanggil maju dan sekali mencoba langsung jadi yakni satu-satunya anak perempuan di kelompok itu. Dari situlah saya mulai menurunkan ekspektasi saya lantas memulai dari yang lebih dasar. Persiapan tentang pembuatan daftar isi saya simpan kembali. Padahal sebelumnya saya bahkan sempat berkonsultasi dengan guru TIK kelas 7 di Lentera. Niat memang saya ini, ya๐Ÿ˜….

Komputer di rumah belajar tersebut hanya berjumlah tiga buah. Karena gurunya tiga orang, kami masing-masing memakai satu komputer untuk mengajar. Jadi sepanjang belajar, anak-anak secara bergiliran memakainya untuk belajar membuka-tutup ms word, mengetik, mengedit, dan menyimpan dokumen.

Meski terbatas, mereka terlihat antusias sekali. Senang melihat mereka mau benar-benar belajar. Saking semangatnya belajar, kami sampai tak ingat waktu pulang sehingga harus dipanggil berkumpul kembali ke kelas besar.

Sebelum pulang, ternyata dari mereka meminta Oma Te’o untuk menambah pertemuan khusus di hari libur ini menjadi dua kali pertemuan seminggu. Dan kesepakatannya selain Rabu adalah Kamis. Maka, doakanlah, besok saya akan mengajar lagi. Dan saya bersemangat untuk itu. Berbagi ilmu kepada mereka yang benar-benar membutuhkan jelas berbeda sekali dengan berbagi kepada mereka yang hanya mengikuti karena aturan atau perintah atau tekanan dsb๐Ÿ˜„.

Akhir dari postingan ini, tentu adalah rasa syukur dengan sukacita tak terhingga sebab Dia memilihkan waktu dan momen yang baik untuk menjadi bermakna. Biarlah segala kemuliaan kembali kepada Dia.

Merayakan Keseharian

Mengenakan Kain Tenun Bermotif Amarasi di Commissioning Day SMP-SMA Lentera Kupang Tahun ’18

 

Di acara commissioning day kelas 9 dan 12 SMP-SMA Lentera Harapan Kupang, dress code guru-guru adalah pakaian berbahan tenun daerah NTT (wajib buat orang asli NTT dan pilihan bagi yang dari luar NTT). Kebetulan saya punya kain Amarasi juga beberapa kain dari daerah lain. Hanya semuanya belum dijahit menjadi baju atau rok atau apapun. So, saya antarkan kain yang bermotif daerah Amarasi ke kawan saya yang selain guru, ia juga biasa menjahit baju-baju pesanan orang. Akhirnya kain saya itu dipermaklah jadi rok panjang yang kemudian saya kenakan di acara commissioning tersebut.

Sepengetahuan saya, ini pertama kali saya mengenakan pakaian berbahan kain tenun Amarasi di acara resmi. Bukan karena apa-apa, tapi hanya karena sebelum-sebelumnya saya merasa kain semacam itu sakral๐Ÿ˜ sehingga hanya boleh dipakai di saat-saat tertentu๐Ÿ˜„.

Dan kali ini, ceritanya, di acara commissioning tahun 2018 ini saya dapat tugas sebagai MC. Tentu banyak hal yang perlu dipersiapkan, tentu salah satunya penampakan (alias penampilan yang langsung secara kasat mata harus rapi dan menariklah).

Beruntung saya punya satu kain itu, kalau tidak mungkin saya pasti pontang-panting san-sini mencari kain atau pakaian apapun yang bercorak motif daerah NTT demi keberlangsungan acara tersebut.

Cuplikan Cerita Lentera, Merayakan Keseharian

Cerita UNBK SMP 2018

Tahun ini untuk pengawasan silang pelaksanaan UN, para pengawas dari SMP Lentera Harapan ditugaskan di SMP Kristen Citra Bangsa Kupang. Sama seperti di SMP Lentera Harapan, SMP Kristen Citra Bangsa ini pun punya tiga sesi ujian. Sebagai salah satu pengawas, bagian saya adalah mengawas di sesi I selama empat hari berlangsungnya UNBK.

Sementara dimuat post ini, UNBK sudah berjalan tiga hari. Besok, Kamis (26/4), adalah hari terakhir UNBK. Berharap pelaksanaan UNBK hari terakhir berjalan baik sebagaimana tiga hari yang sudah lewat. Anak-anak pun kiranya sudah mempersiapkan diri dengan baik untuk mengerjakan bagian mereka sebelum akhirnya mereka bisa bernapas lega untuk kemudian kembali mempersiapkan diri memasuki tingkatan yang lebih tinggi. ๐Ÿ˜š๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜‡

Merayakan Keseharian

Kapsul 81: Akhirnya Kembali (bersorak)

Akhirnya kembali lagi

Akhirnya bisa kembali lagi. Setelah seminggu lamanya terserang flu, hari ini saya bisa kembali membuka blog ini. Sebenarnya selama beristirahat karena flu, saya sempat membuka-buka blog, tapi keinginan menulis itu seperti tak ada. Bahkan membaca saja saya paksakan harus. Bukan terpaksa sebenarnya, karena memang hiburan saya selama istirahat itu adalah membaca dan menonton. Aneh saja saya tak buat apa-apa.ย 

Banyak yang saya baca dan saya tonton, tapi yang mau saya sematkan di sini adalah satu cerpen dari Albert Camus yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berjudulย Tamu. Kalau mau akses yang versi bahasa Inggris, ada juga di The Guest. Saya tak menyematkan link dari bahasa asli karena saya sendiri tidak mengerti bahasanya:D.ย 

Terlepas dari isi cerita, saya suka bagian yang dikutip di bawah ini:ย 

For some time he lay on his couch watching the sky gradually close over, listening to the silence. It was this silence that had seemed painful to him during the first days here, after the war. He had requested a post in the little town at the base of the foothills separating the upper plateaus from the desert. There, rocky walls, green and black to the north, pink and lavender to the south, marked the frontier of eternal summer. He had been named to a post farther north, on the plateau itself. In the beginning, the solitude and the silence had been hard for him on these wastelands peopled only by stones. Occasionally, furrows suggested cultivation, but they had been dug to uncover a certain kind of stone good for building. The only plowing here was to harvest rocks. Elsewhere a thin layer of soil accumulated in the hollows would be scraped out to enrich paltry village gardens. This is the way it was: bare rock covered three quarters of the region. Towns sprang up, flourished, then disappeared; men came by, loved one another or fought bitterly, then died. No one in this desert, neither he nor his guest, mattered. And yet, outside this desert neither or them, Daru knew, could have really lived.

Beberapa saat ia merebahkan diri di dipannya, memandang langit yang makin gelap, mendengarkan kesunyian. Kesunyian yang menyiksanya sejak hari pertama ia tinggal di tempat ini, setelah perang. Ia mohon agar ditempatlkan di kota kecil di kaki bukit, yang terletak di antara dataran tinggi dan gurun. Di sana, dinding-dinding batu, hijau kehitaman di sebelah utara, jambon dan lembayung muda di sisi selatan, menandai tapal batas musim panas yang kekal. Tapi justru di dataran tinggi ini ia ditempatkan. Pada mulanya, terasa berat baginya menghadapi kesunyian dan kesendirian di hamparan tanah kosong yang dihuni hanya oleh batu-batu. Sesekali tampak bekas galur-galur pada tanah cadas bekas digaru. Tapi tak ada yang bisa diperbuat pada lapisan tipis tanah yang menutup batu-batu, yang hanya cocok untuk bahan bangunan. Jadi satu-satunya yang bisa dihasilkan di daerah ini adalah memanen batu. Di beberapa tempat, orang lain menggarap lapisan tipis tanah yang memenuhi cekungan dan menanaminya dengan tetumbuhan seadanya yang bisa tumbuh di sana.ย Begitulah keadaannya. Hamparan batu menutupi tiga per empat bagian wilayah ini. Kota-kota tumbuh, berkembang, dan kemudian hilang; orang-orang datang, saling mencintai atau saling membenci, dan kemudian mati. Tak seorang pun di gurun ini, baik dirinya sendiri atau si Arab tamunya, punya arti. Dan, sebaliknya, di luar gurun, Daru tahu itu, tak ada seorang pun yang benar-benar hidup.

Alasan ini berkesan bagi saya karena tak lain tak bukan hamparan permukaan bumi semacam ini sama seperti di Kupang :D. Jadi karena tanah ini kaya batu, apa salahnya kita dirikan perusahan batu, batu karang maksudnya, bukan batu mulia:D ๐Ÿ˜‰ :).ย 

Merayakan Keseharian

Kapsul 55: Berkenalan dengan Primitive Technology*

*PeDe sekali saya pake kata berkenalan๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜…

Berawal dari Discover, saya kemudian dibawa berkunjung ke primitive technology.

Di sana tak hanya berupa tulisan, tapi juga disertai video. Melihat video sepintas, saya lewatkan untuk membaca-baca tulisan lainnya saja masih di blog tersebut. Ternyata hampir semua postingan dalam blog tersebut selalu disematkan juga video-video yang sudah diupload di youtube.

Belum selesai membaca memang, tapi saya putuskan beralih ke video youtube. Baru di sana saya bisa melihat dengan lebih jelas (sebelumnya lihat dari blog agak terpotong), orang ini ternyata luar biasa dan teramat keren.

Meski lahir di zaman yang, silakan kau menyebutnya sendiri, ia bisa dengan lincahnya mengerjakan segala sesuatu yang hanya bersumber dari alam. Bagaimana ia membangun gubuk, bagaimana ia membuat pemotong, bagaimana ia membuat tungku api, bagaimana ia membuat periuk tanah, bagaimana ia menanam singkong dan kentang, bagaimana ia membuat api (sering saya diceritakan bapak saya tentang kehidupan mereka di masa dulu, hanya saya belum pernah membayangkan seperti apa itu dan baru dari video inilah saya akhirnya punya gambaran jelas ternyata caranya digosok-gosok begitu๐Ÿ˜…)

Karena penasaran, atau bilang saja kepo, saya mencoba mencari tahu apakah memang keseharian hidup orang ini seperti yang dia tuliskan di wordpress dan yang ada di video, ternyata didapati bahwa melakukan hal-hal semacam itu adalah hobinya. Ia punya kehidupan lain juga dengan dunia modern. Ya, tentu saja, buktinya ia menulis di wordpress dan mengedit video untuk diupload di youtube, dan kau sendiri bisa menjadi follower di wordpress dan subscriber channel youtube-nya. Oh, ya, dan kalau tak salah baca, di salah satu tanggapan kepada seorang penanya, ia pun bahkan sementara menulis buku terkait pengalamannya beraktivitas di alam dengan fasilitas-fasilitas serupa di zaman batu ini.

Meski sebenarnya ini bukan yang pertama kali saya tahu cerita tentang orang-orang dunia modern yang mulai bergerak hidup dengan konsep kembali ke alam, tapi bagi saya ini adalah yang paling menarik karena selain beraktivitas di alam dengan fasilitas ala zaman batu, ia juga memadukannya dengan kehidupan modern misalnya seperti menulis di blog, mengupload video di youtube, dan membagikannya kepada dunia. Tidak seperti yang mungkin pernah kau dengar kaum-kaum tertentu yang sama sekali tak mau tersentuh dunia modern, seperti di Timor sini ada Boti, atau di Amerika sana ada Amish.

Untuk selanjutnya, bila kau mau tahu lebih dekat seperti apa atau bagaimana kerja primitive technology itu, silakan ka berkunjung ke dua akunnya: blog Primitive Technology dan channel Youtube Primitive Technology

Demikian catatan hari ini, kapsul 55.

Merayakan Keseharian

Kapsul 40: Menguak Kisah Derita

Sebenarnya ‘Menguak Kisah Derita‘ ini mau saya posting hari Minggu kemarin. Tapi karena tidak sempat maka barulah hari ini diposting.

Alasan apa dan tujuan apa judul postingan ini?

Tidak ada maksud apa-apa selain kaget dan kagum saja dengan judul atau tema kebaktian hari minggu kemarin itu. Suka saja dengan kata-katanya. Literer sekali. Menguak Kisah Derita๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜Š.

Dalam pengantarnya sang pendeta mengaitkan minggu sengsara Yesus ini dengan kisah Ayub, yang kebetulan hari Kamis lalu di chapel siswa saya bawakan, juga sempat saya alami yang namanya remah-remah derita itu.

Jadi, di sini saya hanya ingin sekadar memahatkan bahwa sepertinya hal ini mau mengingatkan dan menyadarkan saya bahwa minggu-minggu derita ini benar-benar mengena di saya.

Syukurlah, bahwa remah-remah derita ini tidak serta merta membuat saya harus meratap apalagi harus sampai berlarut-larut. Sebaliknya derita-derita ini bagi saya mesti dirayakan. Dinikmati dan dijalani.

Ya, itu sudah salibmu. Kau yang mesti memikulnya. Bukan orang lain, dan memang tidak bisa orang lain. So, mari kita Merayakan Derita. Tentunya dengan bersukacita๐Ÿ‘Œ๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™ .