Kencan Buku, Diskusi Sastra di TamNos, dan Sekilas tentang Oi

Sabtu, 14 Oktober 2017. Malam ini di tempat kencan buku Taman Nostalgia Kupang atau yang disebut TamNos sedikit berbeda. Selain digelar lapak baca gratis, ada juga diskusi tentang proses kreatif. Sebagai narasumber maka dihadirkan dua pekerja kreatif yakni Frater Deri Saba dan juga Pater Milto Seran. 

Diskusi tepat dimulai pukul 08.03 wita. Dibuka Kak Gusti Fahik yang kemudian dimoderatori Kk Efry Tanouf. Sebagai pengantar, Deri Saba pun menjelaskan sedikit tentang latar belakang ia menulis, kenapa yang ditulisnya adalah cerpen, kenapa dan bagaimana proses sampai buku cerpen Ingatan adalah Belati itu jadi, dan tentang apa pula cerita-cerita yang ada di dalamnya. Demikianlah diskusi itu mengalir dan terus berlangsung diselilingi dengan beberapa tanya jawab juga masukan dari beberapa peserta yang hadir. 

Kira-kira sejam lebih berlalu, diskusi dengan narasumber kedua pun berlanjut. Oleh moderator, Pater Milto Seran diperkenalkan sebagai seorang imam yang selama tiga tahun terakhir ini tinggal di Rusia😱😘 (Walau sekarang sudah tak begitu-begitu amat, tapi saya pernah memfavoritkan Rusia sebagai negara yang ingin saya pelajari bahasanya, datangi tempatnya, tinggal di sana, merasakan langsung kulturnya, bahkan kalau bisa dapat keluarga dari nama sana biar nama saya jadi ikut berubah sebab saya suka kerumitan ejaan nama orang-orangnya😄😅. Semua itu bermula dari cerpen dan novel para sastrawannya walau tahunya cuman Leo Tolstoy, Anton Chekov, dan Fyodor Dostoyevsky). 
Pater Milto ini pum memulainya dengan mengatakan dirinya tidak datang untuk berbicara melainkan sebaliknya ingin belajar dari kawan-kawan pegiat literasi yang ada di Kupang. Kemudian ia pun mulai bercerita sedikit mengenai yang diketahuinya mengenai Rusia zaman sekarang dan dilanjutkan dengan tanya jawab terkait beda sastra Rusia saat ini dengan yang sudah biasa dikenal dunia. 

Menanggapi salah satu pertanyaan mengenai sastra Rusia selain yang sudah beredar atau yang umum dikenal, Pater pun mengeluarkan satu buku berukuran kecil namun bersampul tebal dan bagus. Buku tersebut berisi kumpulan puisi Sergei Yesenin, seorang penyair Rusia. Puisi-puisi di sana tertulis dalam bahasa Rusia. 

Baiklah, mari belajar puisi Rusia karya Sergey Yesenin yang dibacakan langsung dalam bahasa Rusia oleh Pater Milto Seran. 

Berikut ini adalah puisi Sergey Yesenin dalam bahasa Rusia yang dibaca tadi.  Berikut pula adalah terjemahannya dalam bahasa Indonesia oleh orang yang sama tersebut😊. 

Diskusi yang cukup serius itu terus berlanjut hingga kira-kira pukul 11 pm. Setelah itu diskusi bebas diberikan. Siapa yang mau lanjut bersama siapa bicara apa dipersilakan. Tidak lagi pakai moderator segala. Saya sendiri bergerombol dengan kawan-kawan Dusun bicara tentang sesuatu yang tentunya tak perlu saya beberkan di sini😄sebab cukup privat dan sangat penting. 

Tak berapa lama kemudian bergabunglah salah seorang anggota Oi dari Alor. Oi adalah satu ormas yang ada di Indonesia, bermula dari para simpatisan atau penggemar (kalau benar sebutan saya) atau orang-orang muda lingkaran Iwan Fals, yang oleh Iwan Fals sendiri mereka dianggap sebagai anak-anaknya😊😘😚. Diskusi kecil-kecilan terjadi. Dari hasil sharing itu, dapat disimpulkan, kegiatan yang sudah mereka jalankan kurang lebih tujuh bulan itu sangat inspiratif dan membangun. Walau di Alor yang adalah kabupaten dibanding Kupang yang adalah ibukota provinsi, gerakan mereka sungguh luar biasa, sangat patut diapresiasi, juga diteladani. Salah satu motto atau slogan mereka yang saya ingat adalah SOPAN. Seni, Olahraga, Pendidikan, Akhlak, dan Niaga, adalah bidang-bidang yang ingin mereka garap. Mantap, semua bidang-penting mereka perhatikan. Kalau dilihat dari kacamata penilaian sekolah semua ranah terangkum sudah. Kognitif masuk, psikomotor masuk, afektif masuk. Komplit 👍👏. 

Salam kenal untuk, OI👌👏👊. Selamat berkarya demi kemajuan bangsa💪, demi Indonesia💪🙏😇 . 

Iklan

Sekilas tentang Membaca

Buku-buku terbitan Momentum

Liburan mid semester sudah usai. Buku-buku yang rencananya dibaca selama liburan belum juga selesai😢.

Abis, bacanya pake tengok-tengok internet segala, sih.”

“Biar. Supaya apa yang kau baca itu, pengetahuanmu utuh. Bukan baca satu sumber saja, ketemu istilah asing atau nama orang baru pun kau berlalu saja sok tahu begitu, padahal sewaktu selesai, baru kau bingung sendiri, apa sih sebenarnya yang saya baca tadi?” 😊

“Tapi kan jadi lama dan panjang. Apalagi kalo di wikipedia. Godaannya banyak amat. Satu kata bergoyang-goyang minta didatangi, satu kata lain tak mau kalah juga minta perhatian. Mana sesampainya di sana, ternyata ada pula anak cucu mereka yang lainnya juga cari perhatian minta disinggahi. Demikianlah persinggahanmu jadi beranak-pinak hingga berjam-jam kemudian baru kau sadar, sebenarnya tadi saya simpan buku sementara untuk buka internet ini buat cari kata apa sih?” 😱😭

Kunjungan ke Rumah Kreatif Oebobo

Salah satu karya hasil daur ulang sampah plastik di Rumah Kreatif Oebobo, Kupang

Senin, 9 Oktober 2017 adalah agenda anak-anak kelas 8.1 bersama Ibu Ari berkunjung ke Rumah Kreatif Oebobo. Kebetulan hari itu adalah hari libur setelah penerimaan narrative report pada Kamis, 5/10 sebelumnya. Karena libur itulah saya nebeng ikut.

Anak-anak berkumpul di sekolah pukul 9 dan baru berangkat kira-kira pukul 10. Setelah anak-anak bersama guru pendamping mereka, Ibu Ari, berangkat menggunakan dua bemo, saya pun dengan sepeda motor menjemput kawan saya karena rencana kami seusai dari rumah kreatif Oebobo kami punya agenda melanjutkan perjalanan ke Babau.

Rumah Kreatif Oebobo tidak jauh letaknya dari rumah kawan saya. Jalan masuk ke sana bisa dari dua tempat yakni lorong kecil depan Kantor PU atau bisa juga dari lorong Jalan Bakti Karang samping Kantor Pos. Karena itulah sesampainya di tempat saya biasa menjemput, kawan saya tidak ada dan ketika ditelpon ia malah sudah berada di tempat yang akan kami tuju.

Begitu saya sampai di sana, ternyata anak-anak sudah duduk manis mendengarkan pemaparan dari sang tuan rumah, Bapak Pit Pah, yang ternyata adalah saudara sepupu dari salah satu kawan kami di Lentera, kepsek TK. Beliau begitu hangat menyambut anak-anak. Memperkenalkan sejak kapan beliau memulai kerja kreatif ini hingga diundang ke mana-mana, serta hasil karyanya ini bahkan bukan saja dipesan di dalam negeri tapi juga sudah dikirim ke berbagai negara. Berbekal apa? Hanya sampah-sampah plastik pada awalnya.

Btw, apa itu Rumah Kreatif Oebobo? Ah, sudah pasti dari cerita di atas, kau bisa menyimpulkan sendiri😊. Rumah Kreatif Oebobo adalah tempat di mana para pekerja kreatif memanfaatkan sampah-sampah plastik seperti kemasan kopi sachet atau nutrisari dll untuk diolah menjadi berbagai karya yang bernilai. Dengan kata lain, di Rumah Kreatif Oebobo inilah dikerjakan daur ulang sampah plastik menjadi menjadi aneka karya atau produk bernilai. Hasil-hasil karya atau produk tersebut terlihat berupa tempat tatakan minuman, tempat tissue, nampan, tas, kotak persembahan, dll.

Rumah Kreatif Oebobo ini dimulai oleh Bapak Piter Pah yang kemudian menggandeng kawan-kawan dari PERSANI. Rumah ini juga sekaligus sebagai tempat belajar bagi yang mau belajar mengolah sampah-sampah plastik menjadi benda bernilai dan terbuka bagi siapa saja. Terbuka setiap hari kecuali Minggu dari pagi hingga sore. Selain itu setiap Sabtu pagi mereka juga menggelar karya-karya mereka di arena Car Free Day jalan El Tari tepatnya di depan Stikes Nusantara Kupang.

Demikian sekilas mengenai nebeng kunjungan ke Rumah Kreatif Oebobo. Selain yang telah dituliskan di atas, ada lagi sebenarnya satu cerita, yang bagi saya cukup inspiratif, tapi mungkin belum saatnya ditulis di sini. Akan menyusul di postingan lain. Hanya tetap doa saya, Tuhan memberkati orang-orang yang memperkenankan hati-Nya🙏😇.

Sabtu Bahagia😇

Sabtu, 7 Oktober 2017, telah dengan resmi dibuka Kampung Literasi yang bertempat di SMPN 16 Kupang. Sebuah kegiatan positif yang patut diapresiasi👏👏. Kegiatan ini mendatangkan Jurnalis Tempo, Bapak Mustafa Ismail, serta Ibu Mezra E Pellondou, penggagas dan pendiri UKIM.

Saya tidak mengikuti kegiatannya secara keseluruhan. Soalnya rencana awal memenuhi undangan kegiatan ini pun sekaligus saya mau bertemu kawan baik saya, Lala, yang adalah juga alumni UPH dan pernah kami bersama-sama di Lentera sebelum ia mengikuti daddy-nya tes PNS/ASN dan lulus hingga ditempatkan di sekolah ini. Sejak ia pindah kami jarang bertemu maka itulah momen ini sekalian dimanfaatkan😀😄😅. Jadilah di tengah-tengah kegiatan saya pergi bertemu dengannya dan ditraktir makan di kantin sekolah mereka😄.

Seusai acara pembukaan, sebelum kelas menulisnya dimulai, para undangan diajak menikmati suguhan dari Kafe ala SMPN 16 Kupang😊.

 

Sementara di halaman sekolah, kawan-kawan dari Komunitas Sastra Dusun Flobamora menggelar berbagai buku bacaan untuk boleh dipinjam dan dibaca gratis. Ada buku-buku baik dari Dusun Flobamora, atau milik pribadi sebagian anggota seperti Romo Amanche, Mas Abu, Bang Abdul, dll.

Kira-kira sejam kemudian, ketika saya dan kawan-kawan Dusun menyusul ke aula, kelas menulis sudah dimulai. Kami hanya mengamati dan mengikuti dari belakang. Hanya sebentar saya di sana sebab saya mesti pamit pulang.

Melanjutkan agenda hari Sabtu siang yang sudah direncanakan. Memulai satu langkah baru. Mempraktekkan apa yang sudah diajari Pak Haryadi kurang lebih sebulan lalu. Belajar bertanam hidropnok.

Ada juga beberapa buku terbitan Momentum (sedikit promosi, ini penerbit buku-buku Kristen terpercaya😊) yang dikeluarkan Ibu Endang dan ditawarkan mau dijual ke anggota Persekutuan Reformed Kupang (PRK) saja dulu yang nanti uangnya semua disumbangkan untuk kebutuhan pelayanan di PRK.

Malamnya, seperti biasa di TamNos, kawan-kawan yang bergerak di pustaka jalanan, begitu mereka menyebutnya😄, ada dari Leko Pustaka, Dusun Flobamora, ada juga kadang dari Secangkir Kopi, Buku bagi NTT, Tas Pustaka, dll yang dengan berbagai nama walau sebenarnya orang-orang di dalamnya sebenarnya sama, menggelar buku-buku tepat di bawah tangga TamNos untuk dibaca siapa saja. Kegiatan itu dinamai Kencan Buku.  

Kencan buku itu sudah berlangsung selama empat minggu (artinya sudah 4 x berjalan di tiap hari Sabtu malam). Kegiatannya dimulai sore hingga katanya sampai bosan walau selama ini paling juga usai di pukul 23 atau 24.

Dari pertama kali buka hingga yang kemarin, baru pertama kali hujan turun sementara orang sedang asyik membaca. Padahal malam kemarin, kita sedang menerima tamu. Tamunya, ya, jurnalis Tempo, Pak Mustafa Ismail, yang jadi narasumber di SMPN 16, Ibu Mezra Pellondou, juga Pak Benny Mauko, kepsek SMPN 16 yang tentu harus mendamping sang tamu dari Tempo, datang menyambangi kami di TamNos.

Penyerahan buku dari Bapak Mustafa untuk Dusun Flobamora🙏

Baru saja mereka datang beberapa menit, titik-titik hujan pun turun menyapa lembaran-lembaran buku yang sedang dibaca dan sampul-sampul buku yang sedang digelar. Serempak semua orang yang ada di tempat kencan buku itu bergerak kilat meraup buku-buku untuk dimasukkan dalam kotak kardus. Jelas kardus tidak tahan air. Maka dibungkuslah kardus-karsus itu dengan bekas spanduk milik SMPK St Yoseph yang dipakai menggelar buku. Dengan segera buku-buku itu dilarikan ke rumah Bapak Thea (bapak yang putranya bernama Thea😄) yang tak jauh dari situ.

😱😄😅😂

Semuanya sibuk menggendong buku, tas, kardus, dan spanduk menuju rumah Bapak Thea sampai-sampai melupakan ke mana para tamu mencari tempat berteduh. Lokasi sekitar TamNos yang biasanya banyak orang berseliweran langsung jadi sepi. Beberapa mencari tempat berteduh di bawah pohon di pinggir jalan, sebagian besar menuju tempat penjual salome. Ternyata di sanalah para tamu kami berteduh sementara. Dengan segera mereka bergabung bersama kami menuju tempat Bapak Thea.
Setiba kami di tempat Bapak Thea, kami atau sebenarnya saya sendiri kali ya😄, agak sungkan bagaimana mengajak para tamu untuk masuk karena saya sendiri baru juga di sana. Jadilah kami yang lain berdiri di luar di depan kios sambil kawan-kawan lain memilah-milah buku tanggung jawab masing-masing.

Sampai beberapa lama kemudian, diajaklah kami masuk ke, katanya itu tempat meeting para penghuni penginapan. Menurut yang saya lihat, tempat itu lumayan bagus dan tenang untuk berdiskusi.

Di situlah diskusi yang hidup berlangsung. Senang saya mengikuti diskusi semacam itu. Ada orang baru datang dengan pengalamannya untuk berbagi dan dengan orang-orang lain ia mau untuk saling bertukar pikiran. Walau saya lebih ke menjadi pendengar, itu bukan masalah sebab saya lebih suka memerankan bagian itu 😄.

Cukup. Mungkin ini saja. Awalnya saya buka wordpress hanya untuk memahatkan foto-foto dengan keterangan (caption) masing-masing.  Tapi jadinya malah cerita panjang. Sudahlah. Akui dan terima sajalah apa yang sudah terjadi. Btw, Terima kasih untuk gerimis yang mengusir kami dari TamNos sehingga bisa ada semacam kelas diskusi yang lebih tenang dibanding di TamNos dengan orang-orang yang berlalu-lalang😄😊.

Secuplik Kesan

Kemeriahan Honda DBL East Nusa Tenggara Series 2017 ini baru saja berakhir Sabtu, 30 September 2017. Senang Lentera Harapan Kupang bisa ikut ambil bagian di dalamnya bahkan hingga menyabet beberapa juara sekaligus. Pertama, juara 1 loop 3×3 competition dengan three point oleh Amin Bannesi hingga membuat kedudukan skor antara SMA Kristen 2 Kupang dan SMA Lawan (saya lupa SMA mana😉) menjadi 4-3. Kedua, Adriel Geraldo Elim terpilih sebagai Most Valuable Player (MVP) putra. Ketiga, Tim Basket SMA Kristen 2 Kupang atau yang dikenal dengan SMA Lentera Harapan Kupang ini boleh menjadi Pemenang 1 Honda DBL East Nusa Tenggara Serias 2017 untuk putra. Keempat, bahkan pendukung Tim Basket Lentera pun mendapat apresiasi sebagai suporter terbaik dan terdisiplin👏👏👏.
Dalam pertandingan ini, sujud syukur saya sendiri melihat ada kemuliaan Tuhan dinyatakan di sana seperti yang saya buat sedikit refleksinya Di Pertandingan Basket, Aku Melihat Tuhan. Kenapa bisa demikian? Sebab saya walau tidak intens, saya pun mengikuti sedikit banyak perkembangan beberapa di antara para pemainnya.

👌Berikut cuplikan kesan beberapa pemain basket SMA Kristen 2 (Lentera Harapan) Kupang yang kemarin baru saja meraih Juara 1 dalam Honda DBL East Nusa Tenggara Series 2017. Tidak semua pemainnya memang. Hanya yang saya kenal dekat karena mereka alumni SMP Lentera Harapan Kupang. Tulisan ini hanya sebagai bentuk apresiasi kecil-kecilan yang bersifat personal😃😊😇.

Adriel Geraldo Elim (Aldo) 

Aldo, seorang anak yang diberkati. Dialah inspirator kenapa ilustrasi isi buku kumpulan cerpen saya, Persinggahan Bocah Indigo, semuanya dibuat anak-anak SMP dan SMA Lentera Harapan Kupang. Latar belakang persisnya sudah saya tulis di Ilustrator Cerpen Persinggahan Bocah Indigo

Karena bakat menggambarnya ini pun ia pernah mewakili SMP Kristen 1 Kupang (SMP Lentera Harapan) mengikuti lomba mendesain gambar kantin sehat yang diadakan BPOM Kupang dan keluar sebagai juara 2. Selain menggambar ia juga jago dalam bermusik. Sewaktu materi Musikalisasi Puisi di Bahasa Indonesia kelas 9 saja terlihat bahwa ia sendiri menguasai beberapa alat musik sekaligus. Bukan saja mengenai alat musik. Tapi ia sendiri pernah memimpin tim PAR sekolah minggu dari GMIT Silo Naikoten 1 Kupang, sebagai dirigen mengikuti lomba paduan suara yang diadakan Bank TLM dan keluar sebagai juara 1. Waktu itu ia masih di bangku SMP, ketika saya membaca berita ini di koran dan mengetahui dirigennya adalah anak ini, sungguh saya salut luar biasa. Pada saat yang sama, saya benar-benar menaruh hormat pada kedua orangtuanya. Betapa luar biasa mereka mendidik sang anak. Kalau tak salah lomba itu diadakan sewaktu libur sekolah. Sewaktu masuk dan saya menyalaminya, ia malah heran bagaimana saya bisa tahu sementara itu masa liburan sekolah.

Seusai pengumuman hasil UN SMP

Di akhir bangku SMP, saya lagi-lagi merasa salut dan bangga plus senang, bahwa di tengah ngototnya ia ingin menjadi pemain basket profesional, ia adalah salah satu dari dua siswa kelas 9 yang menjadi peraih nilai tertinggi nilai UN di mata pelajaran yang saya asuh, Bahasa Indonesia.

Amin Bannesi (Amin)

Semenjak keluar meninggalkan desa tempat lahir saya dan bertemu dengan orang-orang sekampung di tempat lain, entah itu di Kupang atau di luar Kupang, belum pernah saya mendengar ada yang bangga menyebut dirinya sebagai Orang Retraen. Baru ketika saya masuk kelas 7.3 waktu itu, teman-teman satu kelas Amin selalu memanggilnya dengan sebutan Orang Retraen. Ia sendiri tampak senang dan bangga sekali dengan itu.

Karena dia inilah saya pun ketika memperkenalkan diri mulai menyebut Retraen sebagai kampung saya😄. Kalau tidak, sebelumnya karena agak malas menjelaskan kepada orang, saya bilang saja tempat atau kampung saya itu di Buraen. Singkat. Selesai. Lebih mudah dikenal orang karena itu adalah pusatnya Amarasi Selatan dan memang nama tempat itu dulu juga sudah ada di peta-peta. Demikianlah, walau baru kelas 7 (kelas 1 SMP) kala itu, dia sudah memberikan pelajaran yang luar biasa kepada saya, bagaimana kau harus bangga akan tempat pertama kau mengirup aroma tanah😄😘😇.

Selain itu, Amin juga adalah salah satu peserta anggota PAR SM GMIT Silo Naikoten 1 yang bersama-sama dengan Aldo mengikuti lomba PS di Bank TLM dan menyabet juara 1 itu. Mereka memang anak-anak SM yang rajin. Saat ini sementara mengikuti kelas katekisasi kalau tak salah saya dengar kemarin. Biarlah iman, karakter, dan semangat mereka tetap terjaga dan berada di koridor yang benar.

Andrew Edward Johannes (Andrew)

Andrew, kapten tim ini. Di kelas 7 sesuai KTSP, ada pelajaran mengenai puisi. Setelah mempelajari materi puisi, saya memberikan tugas rumah kepada mereka untuk menulis dua puisi yamg akan dibacakan di pertemuan berikutnya. Satu puisi mereka boleh pilih dari beberapa nama penyair yang saya sebutkan serta satu puisi lagi adalah karya mereka sendiri.

Dari puisi-puisi yang ditulis, puisi karya Andrew adalah salah satu yang menarik dan berkesan. Kalimat puisi seutuhnya sudah saya lupa. Akan tetapi, ada pilihan kata Andrew mengenai hujan yang digambarkannya sebagai awan menangis, merupakan pilihan kata yang menurut saya luar biasa untuk seorang anak kelas  7 apalagi kala itu sewaktu membacakan ia membawakannya dengan ekspresi yang sungguh sekali👏👏👏👍😊👏.

Jevon Djami Hau (Jevon) 

Statusnya sekarang adalah anggota elektif menulis. Awalnya hampir saja ia tak masuk (mencari ikon/simbol peace tapi tidak ada😊). Saya kurang percaya apakah ia benar-benar ingin bergabung atau karena ada motivasi lain😉. Walau sempat diragukan, ia telah membuktikan dirinya dengan membuat sebuah tulisan yang cukup baik di blognya, WeAreReady. Memang walau masih terdapat beberapa kekurangan terkait hal teknis, namun isinya sudah bagus. Reflektif. 👍 sebab itulah yang diharapkan👏👏.

Wahyu Cristanto (Wahyu) 

Wahyu, seorang penutur Bahasa Indonesia yang baik. Ketika teman-teman lainnya adakalanya berbicara dengan guru menggunakan dialeg Kupang, ia tetap tenang menggunakan Bahasa Indonesia yang baik. Ada satu hal lain lagi yang saya ingat. Suatu hari ketika sekolah mengadakan puasa bersama untuk siswa kelas 9, ia saya lihat sewaktu istirahat pun ia ke mana-mana tetap mengantongi satu botol kecil. “Apa itu?” saya tanya. “Obat kumur,” katanya. “Buat apa?” terus saya cecari. Setelah ia jawab baru saya sadar, oh iya, kenapa juga mesti saya tanya. Agak o* juga saya. 😀 

Selain pemain basket untuk DBL ini, ia juga adalah satu-satunya siswa SMA Lentera yang terpilih tahun lalu menjadi anggota Paskibra tingkat Kota dan bertugas sebagai penggerek bendera sayap (apakah benar sebutannya demikian?) kiri. Tahun ini, sebagai kakak, ia pun secara sukarela menjadi pelatih bagi beberapa adiknya di Lentera sebelum mereka mengikuti seleksi. Syukurlah, dua di antaranya lolos, Jenny dan Ellen.

Kurang lebih dua bulan lalu, salah satu mahasiswa TC UPH, kampus yang sama dengan saya, datang tergopoh-gopoh menghampiri saya. Ia menceritakan dengan rasa kagum dan takjub terkait penulisan anak-anak kelas 12 yang diawasinya. Saya lupa apa latar belakangnya, tapi kalau tak salah itu pertemuan pertama mereka dan sesi itu khusus perkenalan. Katanya, ia hanya meminta anak-anak untuk menuliskan apa kira-kira yang menjadi impian mereka beberapa tahun ke depan. Sementara mereka menulis, ia berkeliling dan membaca tulisan anak-anak. Betapa ia kaget dan takjub dengan cara berbahasa anak-anak dalam menulis. Salah satu dari beberapa anak yang ia kagumi tulisannya adalah Wahyu. Saking terkagum-kagumnya, ia sampai memotret lembaran kertas berisi tulisan Wahyu dan kawan-kawannya. Sewaktu menunjukkan pada saya foto berisi tulisan-tulisan itu pun matanya berbinar-binar karena rasa senang dan takjub. Mendengar itu, saya tentu ikut bahagia. Tentu. Terima kasih kepada Ibu Susy yang sudah menginfokan😚. 

Windi Bell (Inka) 

Dari semua yang saya buatkan cuplikannya ini, hanya Inka inilah yang tidak seangkatan mereka.

Inka, demikian ia disapa. Nama yang tertera di daftar hadirnya tidak ada kata Inka di sana. Nama resmi atau nama yang terdaftar adalah Windy Bell. Ia adalah anak wali saya ketika masuk kelas 7. Kami di kelas 7.3 yang kemudian oleh penghuninya, Messy dkk, kelas itu dinamai Seth Star.

Terkait anak satu ini, semula karena namanya yang di daftar resmi itu, saya mengira ia adalah seorang perempuan sehingga kartu selamat datang yang saya siapkan pun mengikuti warna yang sudah saya pilah untuk dibedakan antara yang laki-laki dan perempuan. Untungnya anak ini tingkat pengertiannya bagus. Ia tidak begitu terganggu dengan adanya kesalahan itu. Ia tetap tenang menerima kartu selamat datang dan berbaur dengan siswa yang lain. Ketika mengenalkan diri di kelas dan menyebut diri Inka, saya bertanya dari mana nama itu, ia hanya menjawab dirinya sendiri pun tidak tahu. Hanya kalau di rumah dan di lingkungan bermainnya ia selalu dipanggil Inka maka ia mengikuti saja nama panggilan itu.

Tapi di kelas 7.3, karena melihat tampangnya mirip-mirip putra seorang aktor hollywood, Will Smith, saya pun kadang iseng-iseng memanggilnya dengan nama Jaden Smith.

Inka ini pun pernah tergabung dalam satu grup olimpiade, SMP atau SMA, saya agak lupa. Tapi intinya dia juga punya kemampuan yang bagus di bidang sains, lebih spesifik di bidang apa saya agak lupa juga, tapi kalau tidak salah ingat, sepertinya di Math atau Fisika atau mungkin Biologi? Tunggulah, akan saya pastikan. Kalau sudah, tulisan ini akan direvisi😊.

Demikian cuplikan kesan terhadap beberapa anggota Tim Basket SMA Lentera Harapan Kupang. Bukan berarti dengan hanya mereka yang saya ciduk di sini, lantas pikirmu hanya mereka saja yang istimewa. Tidak. Saya tak punya pandangan semacam itu. Saya percaya setiap orang punya keunikan dan kesan masing-masing. Kalau di sini hanya mereka yang saya ambil, alasannya adalah selain menjadi bintang lapangan, mereka juga bintang di kelas saya, kelas Bahasa Indonesia, juga kelas elektif menulis, juga anak wali. Para anggota yang lain mungkin saja adalah bintang di kelas math, atau sains, atau seni budaya, atau lainnya, dan itu adalah keunggulan mereka masing-masing😊🙏😇🙏.

Sudahlah. Saya sepertinya terlalu banyak cuap-cuap. Kesimpulannya, saya hanya ingin memberi apresiasi. Terima kasih telah menunjukkan bahwa bukan kalian yang dilihat, melainkan Dia yang hidup dalam kalian. Itulah yang terpenting dan berharga dari semua apa yang pernah ada di dunia. Jagalah dan lanjutkan semangat itu. Sebagai Lentera, teruslah bersinar. Sebagai Eagles, teruslah terbang dan jangan mudah menjadi lesu. Sebab kau tahu kenapa dan kepada siapa kau mengabdi. 

Cat: Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tuliskan, tentang hasil pengamatan bagaimana semangat itu tumbuh sejak dini dan terus dipelihara melewati banyak proses hingga beroleh buah sekarang, hanya kalau seperti itu maka mungkin bisa jadi satu buku khusus😉😜😎.

Btw, sebelum menutup. Masih ada satu hal lagi yang mau juga saya pahatkan di sini. Bersyukur sekali mengingat dalam suatu obrolan tak resmi, ada satu celetukan yang terlontar keluar dari mulut seorang siswa, “Wah, Ibu, yang kemarin tu, kotong tahu betul, bukan kotong yang bermain. Itu Tuhan yang bermain.” Anak itu, inisialnya JN, mengomentari hasil pertandingan antara Tim Lentera dan Regina Pacis Bajawa👌👍👏 . SDG.  

Kawan jadi Saudara

Namanya Ria. Cukup begitu saja disebut. Kami baru berkenalan setahun lalu😄. Tapi, seperti yang pernah dituliskan ada satu kawan lain di satu postingan facebook tentangnya, rasanya pertemanan ini sudah seperti seabad😄😅. Perkenalan kami bermula dari Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Intens berlanjut karena hampir setiap minggu ada kelas diskusi di Dusun Flobamora yang sementara ini bermarkas di SMPK St Yoseph Naikoten, Kupang.

Ia orang Nagakeo dan tinggalnya di Ende, walau banyak yang ketika pertama kali bertemu mengira ia orang Bugis atau Jawa atau Mataram. Ia penyuka K-Pop, band-band indie, film-film berkelas yang tak banyak ditonton orang-orang, penggemar berat beberapa penulis Indonesia yang sementara bersinar gemilang sekarang namun tak perlu saya sebutkan nama-namanya😄. Ada satu hal, dari dialah saya jadi lebih tahu siapa dan seperti apa itu SNSD serta juga seseorang bernama Changmin😄.

Postingan ini singkat saja. Memang tidak sedetail-detailnya cerita kami disiarkan di sini. Intinya adalah saya hanya ingin memahatkan momen kebersamaan kami seminggu lebih ini😄. Momen bersama kawan yang sudah jadi saudara😀😊😚.

Selamat kepada Tim Basket SMA Kristen 2 (Lentera Harapan) Kupang, Pemenang Honda DBL East Nusa Tenggara Series 2007

SMA Kristen 2 Kupang (Lentera Harapan) baru dua tahun belakangan ini berpartisipasi dalam Honda DBL yang untuk NTT baru dimulai tahun 2013 (kalau tak salah)😊

Setahun lalu Tim Lentera pernah mengikutkan diri juga. Sayang baru awal-awal masuk babak penyisihan langsung gugur. Padahal sewaktu roadshow DBL di sekolah, salah satu harian yang digandeng acara besar ini langsung menulis, “Tim Lentera Siap Menggebrak”. Wow, kedengaran berani sekali. Maka itu, untuk mendukung, di pertandingan pertama tahun lalu melawan SMA Katolik Giovani, hampir semua guru, beberapa siswa, dan beberapa orang tua pergi ke GOR.

Baru saja memasuki lapangan, tampang-tampang mereka langsung menarik perhatian. Bagaimana tidak, mereka dibilang sekumpulan anak-anak ganteng di sekolah. Sayang, ternyata yang dikatakan media sebelumnya, “Lentera Siap Menggebrak” terjawab sebaliknya seketika. Lentera harus pulang tanpa ada kesempatan bermain lagi di DBL tahun itu. Mimpi salah seorang pemainnya yang dipelihara sejak SMP harus diterima kenyataan pahitnya. Jatuh bertelut ia dan menangis di lantai GOR. Begitu besar mimpinya bermain di DBL tahun itu pupus. Betapa ia sudah betul-betul jatuh cinta pada basket sejak dari SMP sekalipun ada banyak bakat yang Tuhan titipkan padanya (tentang ini ada keping cerita lain yang juga akan saya tulis).

Namun dengan melewati banyak gejolak, pribadi setiap mereka dibentuk dan ditempa habis-habisan. Maksud saya bukan semacam kesengajaan penyiksaan diri, tapi adalah secara natural berjalan saja sampai terbentuklah pribadi-pribadi luar biasa, yang kemudian mewakili SMA Kristen 2 Kupang (Lentera Harapan) berlaga di Honda DBL Kupang tahun ini. Karakter mereka sebelum, selama, dan setelah pertandingan dengan memegang predikat sebagai Pemenang Honda DBL East Nusa Tenggara Series 2017 di Kupang ini benar-benar memberikan kepuasan dan kebanggan tersendiri. Mereka telah menunjukkan sikap sebagaimana yang diharapkan dan didoakan. Tema-tema sekolah biarlah terus terpatri dalam dada mereka🙏🙏🙏😇😇😇