Cuplikan Cerita Lentera, Merayakan Keseharian

Mengenakan Kain Tenun Bermotif Amarasi di Commissioning Day SMP-SMA Lentera Kupang Tahun ’18

Di acara commissioning day kelas 9 dan 12 SMP-SMA Lentera Harapan Kupang, dress code guru-guru adalah pakaian berbahan tenun daerah NTT (wajib buat orang asli NTT dan pilihan bagi yang dari luar NTT). Kebetulan saya punya kain Amarasi juga beberapa kain dari daerah lain. Hanya semuanya belum dijahit menjadi baju atau rok atau apapun. So, saya antarkan kain yang bermotif daerah Amarasi ke kawan saya yang selain guru, ia juga biasa menjahit baju-baju pesanan orang. Akhirnya kain saya itu dipermaklah jadi rok panjang yang kemudian saya kenakan di acara commissioning tersebut.

Sepengetahuan saya, ini pertama kali saya mengenakan pakaian berbahan kain tenun Amarasi di acara resmi. Bukan karena apa-apa, tapi hanya karena sebelum-sebelumnya saya merasa kain semacam itu sakral๐Ÿ˜ sehingga hanya boleh dipakai di saat-saat tertentu๐Ÿ˜„.

Dan kali ini, ceritanya, di acara commissioning tahun 2018 ini saya dapat tugas sebagai MC. Tentu banyak hal yang perlu dipersiapkan, tentu salah satunya penampakan (alias penampilan yang langsung secara kasat mata harus rapi dan menariklah).

Beruntung saya punya satu kain itu, kalau tidak mungkin saya pasti pontang-panting san-sini mencari kain atau pakaian apapun yang bercorak motif daerah NTT demi keberlangsungan acara tersebut.

Iklan
Cuplikan Cerita Lentera, Merayakan Keseharian

Cerita UNBK SMP 2018

Tahun ini untuk pengawasan silang pelaksanaan UN, para pengawas dari SMP Lentera Harapan ditugaskan di SMP Kristen Citra Bangsa Kupang. Sama seperti di SMP Lentera Harapan, SMP Kristen Citra Bangsa ini pun punya tiga sesi ujian. Sebagai salah satu pengawas, bagian saya adalah mengawas di sesi I selama empat hari berlangsungnya UNBK.

Sementara dimuat post ini, UNBK sudah berjalan tiga hari. Besok, Kamis (26/4), adalah hari terakhir UNBK. Berharap pelaksanaan UNBK hari terakhir berjalan baik sebagaimana tiga hari yang sudah lewat. Anak-anak pun kiranya sudah mempersiapkan diri dengan baik untuk mengerjakan bagian mereka sebelum akhirnya mereka bisa bernapas lega untuk kemudian kembali mempersiapkan diri memasuki tingkatan yang lebih tinggi. ๐Ÿ˜š๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜‡

Merayakan Keseharian

Kapsul 81: Akhirnya Kembali (bersorak)

Akhirnya kembali lagi

Akhirnya bisa kembali lagi. Setelah seminggu lamanya terserang flu, hari ini saya bisa kembali membuka blog ini. Sebenarnya selama beristirahat karena flu, saya sempat membuka-buka blog, tapi keinginan menulis itu seperti tak ada. Bahkan membaca saja saya paksakan harus. Bukan terpaksa sebenarnya, karena memang hiburan saya selama istirahat itu adalah membaca dan menonton. Aneh saja saya tak buat apa-apa.ย 

Banyak yang saya baca dan saya tonton, tapi yang mau saya sematkan di sini adalah satu cerpen dari Albert Camus yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berjudulย Tamu. Kalau mau akses yang versi bahasa Inggris, ada juga di The Guest. Saya tak menyematkan link dari bahasa asli karena saya sendiri tidak mengerti bahasanya:D.ย 

Terlepas dari isi cerita, saya suka bagian yang dikutip di bawah ini:ย 

For some time he lay on his couch watching the sky gradually close over, listening to the silence. It was this silence that had seemed painful to him during the first days here, after the war. He had requested a post in the little town at the base of the foothills separating the upper plateaus from the desert. There, rocky walls, green and black to the north, pink and lavender to the south, marked the frontier of eternal summer. He had been named to a post farther north, on the plateau itself. In the beginning, the solitude and the silence had been hard for him on these wastelands peopled only by stones. Occasionally, furrows suggested cultivation, but they had been dug to uncover a certain kind of stone good for building. The only plowing here was to harvest rocks. Elsewhere a thin layer of soil accumulated in the hollows would be scraped out to enrich paltry village gardens. This is the way it was: bare rock covered three quarters of the region. Towns sprang up, flourished, then disappeared; men came by, loved one another or fought bitterly, then died. No one in this desert, neither he nor his guest, mattered. And yet, outside this desert neither or them, Daru knew, could have really lived.

Beberapa saat ia merebahkan diri di dipannya, memandang langit yang makin gelap, mendengarkan kesunyian. Kesunyian yang menyiksanya sejak hari pertama ia tinggal di tempat ini, setelah perang. Ia mohon agar ditempatlkan di kota kecil di kaki bukit, yang terletak di antara dataran tinggi dan gurun. Di sana, dinding-dinding batu, hijau kehitaman di sebelah utara, jambon dan lembayung muda di sisi selatan, menandai tapal batas musim panas yang kekal. Tapi justru di dataran tinggi ini ia ditempatkan. Pada mulanya, terasa berat baginya menghadapi kesunyian dan kesendirian di hamparan tanah kosong yang dihuni hanya oleh batu-batu. Sesekali tampak bekas galur-galur pada tanah cadas bekas digaru. Tapi tak ada yang bisa diperbuat pada lapisan tipis tanah yang menutup batu-batu, yang hanya cocok untuk bahan bangunan. Jadi satu-satunya yang bisa dihasilkan di daerah ini adalah memanen batu. Di beberapa tempat, orang lain menggarap lapisan tipis tanah yang memenuhi cekungan dan menanaminya dengan tetumbuhan seadanya yang bisa tumbuh di sana.ย Begitulah keadaannya. Hamparan batu menutupi tiga per empat bagian wilayah ini. Kota-kota tumbuh, berkembang, dan kemudian hilang; orang-orang datang, saling mencintai atau saling membenci, dan kemudian mati. Tak seorang pun di gurun ini, baik dirinya sendiri atau si Arab tamunya, punya arti. Dan, sebaliknya, di luar gurun, Daru tahu itu, tak ada seorang pun yang benar-benar hidup.

Alasan ini berkesan bagi saya karena tak lain tak bukan hamparan permukaan bumi semacam ini sama seperti di Kupang :D. Jadi karena tanah ini kaya batu, apa salahnya kita dirikan perusahan batu, batu karang maksudnya, bukan batu mulia:D ๐Ÿ˜‰ :).ย 

Merayakan Keseharian

Kapsul 55: Berkenalan dengan Primitive Technology*

*PeDe sekali saya pake kata berkenalan๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜…

Berawal dari Discover, saya kemudian dibawa berkunjung ke primitive technology.

Di sana tak hanya berupa tulisan, tapi juga disertai video. Melihat video sepintas, saya lewatkan untuk membaca-baca tulisan lainnya saja masih di blog tersebut. Ternyata hampir semua postingan dalam blog tersebut selalu disematkan juga video-video yang sudah diupload di youtube.

Belum selesai membaca memang, tapi saya putuskan beralih ke video youtube. Baru di sana saya bisa melihat dengan lebih jelas (sebelumnya lihat dari blog agak terpotong), orang ini ternyata luar biasa dan teramat keren.

Meski lahir di zaman yang, silakan kau menyebutnya sendiri, ia bisa dengan lincahnya mengerjakan segala sesuatu yang hanya bersumber dari alam. Bagaimana ia membangun gubuk, bagaimana ia membuat pemotong, bagaimana ia membuat tungku api, bagaimana ia membuat periuk tanah, bagaimana ia menanam singkong dan kentang, bagaimana ia membuat api (sering saya diceritakan bapak saya tentang kehidupan mereka di masa dulu, hanya saya belum pernah membayangkan seperti apa itu dan baru dari video inilah saya akhirnya punya gambaran jelas ternyata caranya digosok-gosok begitu๐Ÿ˜…)

Karena penasaran, atau bilang saja kepo, saya mencoba mencari tahu apakah memang keseharian hidup orang ini seperti yang dia tuliskan di wordpress dan yang ada di video, ternyata didapati bahwa melakukan hal-hal semacam itu adalah hobinya. Ia punya kehidupan lain juga dengan dunia modern. Ya, tentu saja, buktinya ia menulis di wordpress dan mengedit video untuk diupload di youtube, dan kau sendiri bisa menjadi follower di wordpress dan subscriber channel youtube-nya. Oh, ya, dan kalau tak salah baca, di salah satu tanggapan kepada seorang penanya, ia pun bahkan sementara menulis buku terkait pengalamannya beraktivitas di alam dengan fasilitas-fasilitas serupa di zaman batu ini.

Meski sebenarnya ini bukan yang pertama kali saya tahu cerita tentang orang-orang dunia modern yang mulai bergerak hidup dengan konsep kembali ke alam, tapi bagi saya ini adalah yang paling menarik karena selain beraktivitas di alam dengan fasilitas ala zaman batu, ia juga memadukannya dengan kehidupan modern misalnya seperti menulis di blog, mengupload video di youtube, dan membagikannya kepada dunia. Tidak seperti yang mungkin pernah kau dengar kaum-kaum tertentu yang sama sekali tak mau tersentuh dunia modern, seperti di Timor sini ada Boti, atau di Amerika sana ada Amish.

Untuk selanjutnya, bila kau mau tahu lebih dekat seperti apa atau bagaimana kerja primitive technology itu, silakan ka berkunjung ke dua akunnya: blog Primitive Technology dan channel Youtube Primitive Technology

Demikian catatan hari ini, kapsul 55.

Merayakan Keseharian

Kapsul 40: Menguak Kisah Derita

Sebenarnya ‘Menguak Kisah Derita‘ ini mau saya posting hari Minggu kemarin. Tapi karena tidak sempat maka barulah hari ini diposting.

Alasan apa dan tujuan apa judul postingan ini?

Tidak ada maksud apa-apa selain kaget dan kagum saja dengan judul atau tema kebaktian hari minggu kemarin itu. Suka saja dengan kata-katanya. Literer sekali. Menguak Kisah Derita๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜Š.

Dalam pengantarnya sang pendeta mengaitkan minggu sengsara Yesus ini dengan kisah Ayub, yang kebetulan hari Kamis lalu di chapel siswa saya bawakan, juga sempat saya alami yang namanya remah-remah derita itu.

Jadi, di sini saya hanya ingin sekadar memahatkan bahwa sepertinya hal ini mau mengingatkan dan menyadarkan saya bahwa minggu-minggu derita ini benar-benar mengena di saya.

Syukurlah, bahwa remah-remah derita ini tidak serta merta membuat saya harus meratap apalagi harus sampai berlarut-larut. Sebaliknya derita-derita ini bagi saya mesti dirayakan. Dinikmati dan dijalani.

Ya, itu sudah salibmu. Kau yang mesti memikulnya. Bukan orang lain, dan memang tidak bisa orang lain. So, mari kita Merayakan Derita. Tentunya dengan bersukacita๐Ÿ‘Œ๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™ .

Catatan Buku, Merayakan Keseharian

Kapsul 35c: Hasil Tukaran Kado, Buku “Dilarang Jatuh Cinta”

Hangout kami kali ini cukup istimewa karena ada tukaran kadonya. Acara ini diiniasi oleh entah siapa yang jelas bukan saya.

Sebelumnya saya tak berharap muluk-muluk akan dapat apa dari siapa. Bagi saya adalah hubungan persahabatan kami sehat dan bertumbuh baik.

Tak dinyana, dalam acara tukar kado ini saya mendapat buku. Judul buku ini, Dilarang Jatuh Cinta.

Buku ini sebelumnya sudah pernah saya baca. Pertama kali tahu buku ini dari salah satu kawan sekaligus adik tingkat yang sempat ditempatkan mengajar setahun di SLH Kupang, namanya Emm Pelawi.

Waktu itu, ia mendapat tugas di chapel siswa SMP dan dalam sesi khotbahnya ia sempat berbagi salah satu ilustrasi yang menarik. Ia saya dekati seusai chapel dan bertanya dari mana ia dapat ilustrasi menarik itu. Ia kemudian menunjukkan sebuah buku kepada saya. Dilarang Jatuh Cinta yang ditulis oleh pasangan Josua Iwan Wahyudi dan Vonny Cicilia Thamrin.

Saya pun meminjamnya. Buku itu tipis dan ditulis dengan gaya bahasa yang ringan karena memang ditujukan kepada muda-mudi dan para remaja. Saya sendiri merasa tertarik dengan buku itu karena ilustrasi cerita di setiap babnya. Tapi kemudian saya sadar, meski ditulis dengan gaya bahasa yang ringan dan tidak banyak mencantumkan ayat-ayat, buku itu punya prinsip yang alkitabiah sekali.

Saya tak lama membacanya. Ketika buku itu saya kembalikan dan saya tanyai di mana ia membelinya karena saya pun ingin memiliki sendiri, katanya buku itu ia beli langsung dari penulisnya. Kebetulan penulisnya yang perempuan adalah seorang yang pernah aktif di HOPE, salah satu program di bawah Fakultas Liberal Art UPH, dan kawan saya, Eim, pernah juga aktif membantu di sana saat SOW (kalau tak salah, akan dikonfirmasi๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜Š), maka ketika diketahui bahwa orang yang bersamanya sudah menulis buku, ia pun membeli buku itu.

Tahu begitu, saya pun kemudian melupakan keinginan memiliki buku itu. Saya pun entah kenapa tak berpikir mencari di internet. Siapa tahu ada dijual di mana begitu.

Buku milik Eim itu ternyata tidak hanya berhenti di tangan saya sebagai peminjam. Buku itu kemudian berpindah-pindah di tangan kawan-kawan saya di sekolah. Mungkin karena menarik dan memang bagus apalagi untuk seorang guru yang membimbing remaja-remaja di sekolah, ternyata tanpa saya tahu beberapa kawan saya mencari-cari buku tersebut di internet dan memesannya beramai-ramai๐Ÿ˜„๐Ÿ˜….

Di antara kami berempat saja, dua orang sudah memiliki buku tersebut. Maka harapan sang pemberi, buku itu mau tak mau mesti jatuh di tangan saya atau kawan saya yang satunya. Demikianlah semesta berkehendak, buku itu akhirnya jatuh ke tangan saya๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜‡.

Senang sekali tentunya. Syukur kepada Tuhan untuk kado kecil ini. Terima kasih karena Ia menggerakkan hati kawan-kawan saya menginisiasi acara tukar kado (entah dalam rangka apa juga saya tak tahu๐Ÿ˜๐Ÿ˜…). Buku Dilarang Jatuh Cinta tentu tidak saja untuk saya sendiri. Saya punya saudara-saudara kandung dan sepupu yang akan saya pinjamkan buku ini ke mereka supaya mereka belajar jangan terjebak dan ikut terseret berlarut-larut dalam kegalauan tak perlu.

Saya tak mereview secara detail isi buku ini. Sebagai pelengkapnya, saya hanya mau mengarahkan kalau kau ingin mengetahui lebih lanjut garis besar buku ini, silakan berkunjung ke Review Book: Dilarang Jatuh Cinta dari DesianaHalim atau bisa juga ke Dilarang Jatuh Cinta oleh The Courier of God. Kiranya bermanfaat๐Ÿ˜˜๐Ÿ™๐Ÿ˜‡ dan semuanya dikembalikan hanya kepada-Nya๐Ÿ™๐Ÿ˜‡.

Merayakan Keseharian

Kapsul 35b: Tempat Karaoke, Salah Satu Hangout Sehat

Mungkin sebagian orang memandang tempat karaoke sebagai tempat yang tidak baik. Mereka memandang tempat karaoke lebih kepada sesuatu yang bersifat negatif secara moral. Saya pun sewaktu kecil pernah berpikir begitu karena sering membaca berita-berita di koran, aksi-aksi maksiat banyak ditemukan di tempat-tempat karaoke.

Hingga sewaktu kuliah, saya diajak kakak sepupu saya dan kawan-kawan kelasnya pergi ke tempat karaoke di supermall Karawaci. Meski mall itu menjadi satu-satunya tempat belanja kebutuhan harian kami, saya kikuk sekali ketika memasuki ruangan yang serba remang itu.

Sepanjang di sana, saya hanya mendengar dan menonton aksi kakak sepupu saya dan kawan-kawannya. Mereka bernyanyi dan berjoget. Itu biasa saja bagi saya. Toh, di kampung halaman saya, menyanyi dan berjoget itu sudah biasa dilakukan di acara-acara pesta. Dari anak kecil hingga orang tua. Dan saya salah satu anak kecil yang terbilang kuat menonton bahkan bisa sampai pagi. Hanya duduk dan menonton. Bedanya dengan di tempat karaoke, peralatan menyanyinya lebih lengkap berikut ruangannya yang remang dan tertutup.

Hanya sekali itu ke tempat karaoke dan setelah itu saya tidak lagi ke sana. Menurut saya itu bukan tempat pelampiasan saya mencari hiburan.

Baru di tahun pertama atau kedua penempatan di Kupang, SLH dikunjungi guru-guru SPH (saya lupa SPH mana) dalam rangka PD, sebuah program untuk sekolah-sekolah di bawah naungan YPPH. Setelah PD selama dua hari, kami semua diajak makan malam bersama di X2. Sebagai acara penutup, semua kami diajak masuk ruang-ruang karaoke yang sudah dibooking. Beberapa ruang dibooking selama beberapa jam.

Saya ingat saya masuk di ruangan yang cukup besar yang memuat beberapa orang sekaligus di sana, dan tak ingat apakah saya ikut nimbrung menyanyi atau tidak. Acara karaoke itu selesai dan kami pun pulang untuk keesokan harinya mengikuti seminar orang tua di aula El Tari sebagai lanjutan rangkaian PD rutin di Lentera.

Cukup dulu saya menulis tentang awal-awal perkenalan dengan tempat nongkrong yang disebut tempat karaoke ini. Sebab saya ingin memahatkan momen bermakna di antara saya dan sahabat-sahabat saya. Kami berempat ini sering ditraktir atau mentraktir atau saling patungan berkaraoke di salah satu tempat karaoke di Kupang. Saya ingin menyebut tempatnya namun berasa tak enak juga (ingin menghormati juga) dengan seorang rekan yang bekas rumahnya itulah tempat karaoke itu.

Satu hal yang saya sukai dari cara hangout kami itulah berkaraoke itu. Kenapa, selain dengan bebas menyanyikan lagu-lagu kesukaan tanpa mengganggu tetangga (apalagi saya anak kos๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜„๐Ÿ˜…), kami bebas dari kesempatan bergosip.

Terang saja, saya seorang yang tidak suka dengan hal semacam itu. Saya suka merasa terganggu dan merasa bersalah dengan diri sendiri kalau sudah membicarakan keburukan orang. Saya pun senang dan bersyukur, kawan-kawan saya ini pun demikian halnya dengan saya. Tanpa upacara dan ritual resmi, kami semacam punya aturan tak tertulis untuk bila itu tak berhubungan dengan kami, maka alangkah baik tak dibicarakan.

Karena kami berempat punya kecenderungan menyukai aktivitas menyanyi dan menari, berkaraoke memang tepat sebagai wadah itu.

Tidak sering kami melakukannya. Sepengetahuan saya, biasanya satu kali satu semester. Tahun 2017 lalu di bulan Januari dan Oktober, sementara tahun 2018 baru kali ini.

Kawan-kawan saya memang unik.

Lala, ialah yang paling jago untuk dua hal ini, menyanyi sekaligus menari. Suaranya nyaring, pronounciation-nya perfect abis. kalau menari gerakannya luwes. Intinya ia punya talenta dalam dua bidang ini. Hanya ketika diminta untuk mengembangkannya menjadi lebih profesional, ia menolak. Katanya ia hanya mau itu sebagai media berekspresi saja.

Elise, punya talenta di bidang tarik suara, bermain musik, juga menari. Suaranya bagus, bening, dan renyah didengar. Di Lentera, sebelum sibuk sebagai kepsek, ia adalah pelatih EL Harp Choir. Membawa anak-anak bimbingannya mempersembahkan lagu-lagu pujian di berbagai gereja di Kota Kupang. Ia juga pintar bermain musik. Gitar bisa, keyborad bisa, alat musik lain kalau mau berlatih juga, saya yakin betul ia pasti bisa. Bahkan baru-baru ini, tepatnya di bulan bahasa kemarin tahun 2017, ketika dari Kantor Bahasa NTT mengadakan lomba yang salah satunya musikalisasi puisi, ia memimpin tiga kawan saya yang lain ikut mengambil bagian dan berhasil keluar sebagai harapan 1 dari belasan peserta.

Selain itu, sewaktu kuliah ia juga salah satu anak UKM Tari di UPH. Mereka pernah tampil membawakan tarian (daerah apa begitu saya lupa) di Graha Bakti Budaya TIM Jakarta.

Frida, punya talenta di bidang tari. Ia seorang dancer saat masih di SMA Mercusuar Kupang. Mereka biasa menjadi penari mengiring salah satu grup band yang lumayan populer di Kupang waktu itu, grup band kawan-kawan baik di sekolahnya (grup band itu pernah tampil di SMA saya di Oekabiti kala saya kelas 2 atau 3, yang sontak mrmbuat anak-anak perempuan yang populer di sekolah dengan antusias membicarakan para personilnya dan membangga-banggakan kalau mereka sempat berkenalan dan akan saling kontak-kontakan๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚). Sekarang di sekolah, Frida selain menjadi guru matematika, ia juga adalah guru SBK khusus seni tari dan pelatih elektif modern dance.

Baru-baru di ajang Honda DBL series NTT 2017, ia membawa anak-anaknya tampil memberi dukungan kepada tim eagles, tim basket SMA Lentera Harapan Kupang. Meski di akhir, tim cheerleaders yang dipimpinnya tak mendapat juara, saya tetap mengapresiasi kerja dan usaha mereka. Tidak masuknya mereka sebagai juara bukan karena penampilan yang buruk atau kurang kreatif, melainkan perbedaan perspektif nilai dari para juri. Terlihat saat para juara itu tampil di malam final. Saya mengerti, bagaimana pun kita memang perlu ada nilai dan prinsip yang mesti tetap dipegang. Dan saya tahu, dia cukup bijak untuk hal ini๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜„๐Ÿ˜Š.

Berikut mengenai saya.

Ketahuilah bahwa meski ibunda saya bersuara emas, yang sewaktu muda sampai membawa grup paduan suara dan vokal grupnya ke mana-mana dan pulang menggondol juara, saya sebagai putrinya ternyata tidak mewarisi bakat bagusnya ini. Suara saya sangat pas-pasan, kalau tidak kasar untuk dikatakan sumbang (tidak sumbang-sumbang amat kok, saya juga sering menyanyi di kamar mandi dan sesekali ikut bergabung di PS/VG di gereja).

Berikut terkait menari. Meski ayahanda alias bapak saya sewaktu muda bahkan hingga sekarang masih sering saya dengar ia terkenal dengan goyangan mautnya di pesta-pesta nikahan sebagai raja dansa, saya sebagai putrinya hanya cukup puas duduk diam sebagai penonton yang tak kenal istilah mengantuk bahkan bisa sampai pagi hari.

Jadilah gabungan talenta ibunda dan ayahanda ini kemudian menjadi sedang-sedang saja ketika menurun kepada putrinya๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜„. Saya jadi tidak jago kedua-duanya. Tapi ini bukanlah sebuah kesedihan yang mesti saya ratapi. Lucu juga kalau saya harus meratap dan meminta harus jadi ahli di kedua bidang ini๐Ÿ˜„๐Ÿ˜…. So, santai saja. Talenta bukan hanya di dua hal ini. Buktinya, saya bisa menuliskan ini kembali kepadamu. Satu hal yang tak bisa dilakukan bapak dan mama saya..upppsss…๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜„๐Ÿ˜….

Ok, mari kembali ke topik awal, berkaraoke, salah satu hangout sehat. Beberapa minggu sebelumnya, kami sudah diajak Lala. Ketika ditentukan tanggalnya saya ikut mengiyakan saja. Saya tak sempat ingat kalau nanti di satu hari sebelumnya (tanggal 28/2) adalah hari wisuda adik saya, dan pagi di hari H (1/3) adalah jadwal saya membawakan khotbah di chapel siswa SMP. Dua hal beruntun yang ternyata cukup menguras tenaga dan pikiran dan emosi. Saya tak menyangka akan seletih itu di hari H. Belum lagi saya mesti mempersiapkan kado kecil-kecilan yang akan ditukarkan. Dengan sedikit beristirahat sorenya, saya kemudian bersiap pergi menjemput Frida untuk singgah membeli kado dan barulah terus ke tempat karaoke.

Kami tiba lebih dahulu ternyata. Satu ruangan kecil kami pesan sambil menunggu kedatangan Lala dan Elise.

Hal berbeda dan istimewa dari karaokean kali ini, yang mendorong saya menuliskannya, adalah karena ada tukaran kadonya. Sebenarnya tukaran kado sudah biasa dilakukan baik di kuliah maupun di sekolah, baik saat natal atau valentine atau momen apalah itu, tapi kali ini bagi saya lebih istimewa karena hanya di antara kami berempat. Dan lebih istimewanya, masing-masing kami mendapat yang sesuai. Saya tak akan membeberkan apa yang didapat ketiga kawan saya itu. Tapi kalau saya, jelas saya senang karena mendapat apa yang pernah timbul dalam benak saya tahun ajaran lalu meski tidak secara intens mengulang-ulangnya serupa tak ada hp dan terus mengulang-ulang beli hp. Tentang kado hasil tukaran itu, saya tuliskan di postingan berikut, Kapsul 35c: Hasil Tukaran Kado, Buku Dilarang Jatuh Cinta๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜„. Banyak ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘ untukmu kalau kau masih sanggup membaca sampai di sini๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜š.