Merayakan Keseharian, Puisi

Beberapa Puisi Marilyn Lott

Puisi-puisi ini tak sengaja saya temukan di PoemHunter ketika mengutak-atik google ingin mencaritahu siapa itu Faust yang sering disebut-sebut di buku Milan Kundera. Entah terseret bagaimana saya akhirnya nyasar ketemu Marilyn Lott ini. Agak kontras dengan bacaan sebelumnya kenapa saya sampai mencaritahu siapa Faust sambil menekuri meja kosong dan berpikir tentang dongeng-dongeng dari ba’i-nenek di kampung yang hanya karena diceritakan kembali tanpa dituliskan makanya sampai sekarang punah perlahan-lahan sementara dongeng tentang Faust dari benua Eropa sana mungkin akan abadi sepanjang masa hingga sempat membuat pikiran jadi keruh, membaca sekilas beberapa puisi Marilyn Lott ini kemudian kembali meneduhkan saya. Ada banyak puisinya di sana. Seribu lebih. Tapi di sini saya hanya akan pahatkan beberapa sebagai penanda hari ini.

Puisi A Child’s Mind oleh Marilyn Lott

IMG_20171111_092659.jpg

Terjemahan bebasnya (versi saya) kira-kira begini: 

Pikiran Seorang Anak

Dunia begitu luas dengan segala keajaibannya
Sebab segala sesuatu adalah baru
Pikiran seorang anak adalah seperti spons
Atau seperti bunga berselimutkan embun pagi

Aku suka melihat mereka menanyakan
Segala hal

Kau tak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya

Dan apa yang akan diperlihatkan setiap hari

Mungkin kita pun semestinya
dengan suka membuka pikiran

Demi melihat dunia sebagaimana cara seorang anak melihatnya

Bagaimana betapa kerennya hidup ini sebenarnya

***

Puisi A Chat With The Lord oleh Marilyn Lott

IMG_20171111_101743.jpg

***

Puisi A Farmer’s Prayer oleh Marilyn Lott

Terjemahan bebasnya (versi saya) kira-kira begini: 

Doa Seorang Petani

Tuhan, tiliklah aku dengan kebaikan-Mu
Aku mengerjakan yang terbaik yang kubisa
Aku berusaha memberi makan istri dan anak-anakku
Dari tanah kering dan tandus ini
Aku bekerja dari pagi hingga sore
Dengan kesedihan pupuk yang tak lagi menyuburkan
Demi memberi makan dan pakaian istri dan anak-anakku
Aku mencintai mereka hingga terluka
Aku berdoa setiap hari sambil bekerja keras
Aku berdoa setiap hari padamu
Tolonglah saya, Tuhan, kumohon mengertilah
Aku melakukan apa yang kutahu mesti kulakukan
Tersenyumlah pada saya dan berilah aku kedamaian
Ketika tiba waktunya aku harus pergi
Dan menemukan juga kedamaian untuk mereka yang kusayang
Sebab betapa mereka kukasihi
Ketika waktunya datang menghampiri
Dengan tangan-Mu yang hangat dan dan penuh kasih
Tolong ambillah pelan-pelan dan tolonglah ingat
Ingatlah aku hanya seorang manusia

***

Puisi A Horse With No Name  oleh Marilyn Lott

Iklan
Puisi, ReBlog

Pengorbanan: Adakah Kepedihan seperti yang Kurasakan?

Anice Anaci

by George Herbert

jesus-suffering-org-arty Sumber gambar: thejaggedworddotcom

Oh, kalian semua, yang sedang lewat, yang memiliki mata dan
pikiran yang tajam
Akan hal-hal dunia ini, tapi bagiku kalian buta;
Bagiku, yang menatap yang aku ingin kau temukan:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Para pemimpin rakyatku yang mengajukan tuntutan
Melawan pencipta mereka; mereka menghendaki aku mati
Tiada lain yang mereka kehendaki, kecuali aku memberi
mereka roti
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Tanpa diriku setiap mereka, yang kini berani,
Padahal dulu sebagai budak di mesir.
Mereka pakai kuasa terhadap diriku, yang aku beri:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Muridku sendiri, yang bertugas membawa perbekalan,
Walau dia punya segala yang kupunya, juga tidak tahan
Untuk menjualku pula, dan mengiringku ke tiang salib:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Untuk tiga puluh keping perak dia pikirkan kematianku,
Siapa yang relakan tiga ratus harga wewangian,
Tiada setengah dari manisnya pengorbananku:
Adakah kepedihan seperti yang kurasakan?

Itu sebabnya jiwaku…

Lihat pos aslinya 1.524 kata lagi

Puisi

Ada Sesuatu dalam Dirimu, Kawan…

kawan…!

tahukah kamu?

jauh dalam dirimu ada satu benih kecil

amat kecil, kecil sekali…

dia tertidur, pulas, terlena dalam kenyamanannya

tak menyadari gejolak di luar

tak merasakan tempaan hebat dan keindahan di luar

kawan…!

kau tahu

dia mesti dikorek

dia mesti digelitik

dia mesti diusik dari kenyamanannya

dia mesti dilepas dari kungkungannya

dia mesti merasakan kegetiran hidup

kawan…!

biarkan dia terkorek

biarkan dia tergelitik

biarkan dia terusik

biarkan dia terlepas

biarkan dia merasakan getirnya kehidupan

karena haruslah demikian perjalanannya sebelum mencapai hakekat dirinya

kawan…!

demikianlah dia akan terjaga, bergerak

bangkit, berjalan, berkelana

lambat laun, kawan…!

kau akan tersenyum

bersyukur dia telah dikorek

telah digelitik

telah diusik keberadaanya

telah dilepaskan

telah mengalami kegetiran hidup

kini, kawan…!

lihatlah!

tiada lagi rasa tawar karena ada kamu

tiada lagi orang meraba-raba dalam gelap karena ada kamu

 

November 2009

 

Menulis, Puisi

Menulis adalah Caraku…

menulis
Sumber: indianareview

Kalau kau bertopeng, kau sakit

Tidak bertopeng, kau diinjak

Maka…

Menulis adalah caraku mengungkap jujur

Menulis adalah caraku melepaskan kesah

Menulis adalah caraku menyembuhkan perih

Menulis adalah caraku menghilangkan pedih

Menulis adalah caraku membunuh luka

Menulis adalah caraku mengisi lapar

Menulis adalah caraku membasuh dahaga

Menulis adalah caraku berdoa

That’s all…

Tuhan… Kurindu sangat kedekatan kita

Seperti semasa aku bocah dulu

Tak perlu segala doktrin untuk aku bisa berdoa.

Sungguh bagi-Mu,

segala tentangku tak ada yang tersembunyi.

 

Minggu, 20 Januari 2012

Puisi

Bocah-bocah Berkeriapan

Bocah-bocah berkeriapan

Bermandikan debu

Mengais rumput untuk sekadar mengganjal perut yang penuh cacing

Wajah dekil, hidung beringus

Siapakah yang mau membersihkan?

Kaki telanjang menyusuri trotoar

Menjajakan koran dari pintu ke pintu

Siapakah yang mau membeli?

Kutanya pagi namun enggan ia menjawab

Siang dan malam apalagi

Mereka mana mau peduli

Bocah-bocah berkeriapan

Sambil tertawa ia berkata,

Saya besar mau jadi kernet angkot

Tiap hari kemana-mana pegang duit, siapa tidak senang

Dan tawanya terus membahana

Pak, bu… Tentunya kau tidak hanya mau diam, bukan???

Puisi

Topeng

1PC-NO-EMOTION-Thicken-Quality-jabbawockeez-Ghost-Dance-Mask
Sumber gambar: aliexpress

*Topeng-topeng

Seorang gadis kecil
Ia imut dan lucu
Begitu manis
Aku menyukainya
Bahkan jatuh cinta padanya
Aku mencari tahu tentangnya
Rajin mengikuti setiap perkembangannya.

Hingga di suatu hari baik
Tak sengaja aku melewati tempat tinggalnya
Tak kusangka ia begitu buruk rupa
Ah, ini??

Rupanya ia memasang topeng setiap kali keluar rumah
Aku tak lagi suka padanya
Malahan aku jijik melihatnya
Membayangkannya, aku jadi muak

DASAR… MASIH BOCAH, SUDAH PINTAR MEMAKAI TOPENG

Aku mengumpat tentangnya
Aku terus menuju lapangan

Di sana… banyak sekali orang
Baru kutahu mereka pun bertopeng
Entah kenapa, ramai-ramai mereka memandangiku

Aku balik memandang mereka
Makin mendekati mereka untuk kutahu ada apa
Makin banyak pula yang menatap aneh padaku
Aku memarahi mereka
“Kenapa kalian pandangi aku begitu? Memangnya aku pakai topeng monster?”  dengan kasar kubentak mereka
“Eh, kok nyadar juga dia. Sudah tahu pakai topeng, pake marah-marah lagi,” sinis seorang pemuda, yang topengnya bertanduk rusa
“Hah? Aku? Bertopeng? Mana? Ya, sudah. Memangnya kau pikir kau tak bertopeng?
Kau yang bertopeng. Lihat, topengmu sendiri sudah bertanduk rusa. Berlapis dua lagi,”
balasku sengit.
“Lho, punyamu sendiri tanduknya aneh. Sudah berlapis banyak, berjuntai panjang begitu pula. Makanya kami di sini jadi heran.”
Hah…..? Lho, kok bisa?

by Anaci Tnunay

**Biar dibilang Aneh, Asal Aku Bahagia

Aku benci pakai topeng
Ke mana-mana selalu saja menempel, otomatis
Aku benci. Benar-benar benci
Kenapa hanya karena biar dilihat orang aku ini bagus, maka topeng ini kupasang

Oh Tuhan, kalau saja bisa kulepaskan topeng yang sudah melekat pada diri ini,
Biarlah dia lepas
Biar aku dibilang aneh
Biar aku dibilang gila
Asal aku sendiri bisa bahagia.

Hai, orang-orang bertopeng
Hai, orang-orang munafik

Dirimu tidak lebih aneh dariku
Bahkan mungkin lebih gila dariku
Kini aku mau lepas topengku,
Biar aku dibilang aneh
Biar aku dibilang gila
Asal aku bahagia

by Anaci Tnunay

“Saya menulis puisi ini sudah beberapa waktu yang lalu lantas saya tinggalkan mungkin sekitar tiga bulan. Tiba-tiba dua minggu lalu  di perpustakaan kampus saya temukan sebuah puisi dalam satu buku literature setebal Alkitab, yang mirip sekali dengan punya saya yang ini, maka sekalian saya mempostingnya. Kamu mesti tahu, saya belum pernah membaca puisi ini sebelumnya”   :(…. 🙂

***We Wear the Mask
by Paul Laurence Dunbar (1872-1906)

We wear the mask that grins and lies,
it hides our cheeks and shades our ayes-
this debt we pay to human guile;
with torn and bleeding hearts we smile,
and mouth with myriad subtleties.

Why should the world be over wise,
in counting all our tears and sighs?
nay, let them only see us, while
we wear the mask.

We smile, but, O great Christ, our cries
to the from tortured souls arise.
We sing, but oh the clay is vile
beneath our feat, and long the mile;
but let the world dream otherwise,
we wear the mask!

quote-we-wear-the-mask-that-grins-and-lies-it-hides-our-cheeks-and-shades-our-eyes-this-debt-we-pay-paul-laurence-dunbar-305236
Sumber: izquotes.com

Berikut ini hanya tambahan foto saya dan kawan-kawan sewaktu dalam acara prom night di  Teachers College UPH tahun 2011

262375_2155991944348_187477_n