Berjalan Naik Melalui Eskalator Turun

Membaca cerita Etgar Keret yang bagian ini, saya jadi teringat satu pengalaman saya ketika di UPH. Saat itu saya dan seorang kawan mau berkunjung ke perpustakaan kampus. Pintu perpustakaan kampus kami itu terletak di lantai 3 gedung C. Untuk sampai ke sana orang bisa menggunakan lift atau bisa juga lewat eskalator.  

Waktu itu tepat hari Sabtu. Sesudah menikmati makan pagi di FJ, kami pun berjalan menuju perpustakaan. Memang karena hari Sabtu, maka keadaan sekitar kampus sepi. Paling yang berkeliaran di sekitar kampus hanyalah kami para mahasiswa asrama dan para security atau satu-dua mahasiswa lain yang datang. 

Di lantai dasar, entah liftnya aktif atau tidak,  seingat saya dua eskalator di gedung C sementara berjalan sesuai fungsi masing-masing.  Satunya naik, ya, satunya turun.  

Melihat keadaan sekitar yang sepi,  saya mengajak bahkan menantang kawan yang bersama saya untuk mencoba berjalan naik melalui eskalator yang bergerak turun.  Ia tidak mau. Saya mendesaknya agar berdua kami mencoba.  Ia tetap tidak mau dan bilang,  “Sudah, kalau berani, kau saja yang jalan.” 

Baiklah,  saya bilang. 

Saya pun berdiri di ujung eskalator dan mulai mengamat-amati.  Saya mencoba membayangkan kira-kira seperti apa rasanya berjalan naik di atas eskalator yang bergerak turun.  Saya melihat sepertinya mudah saja dan tidak terlalu sulit. Toh,  kita hanya berjalan naik seperti menaiki tangga biasa. 

“Ayo,  lewat sini saja.  Tak usah cari masalah,” kawan saya bergerak sudah mau menaiki eskalator satunya lagi yang bergerak naik.  Mungkin ia melihat saya yang masih merenung, mungkin dipikirnya saya ragu melaksanakan niat saya.  

“Kau tunggu saja di sini dan lihat saya sampai di atas,” begitu saya bilang padanya.  

Ia tertawa. Dari tawanya ia yakin saya tidak sedang bersungguh-sungguh. 😀

Tidak menunggu lama lagi, saya  seret kaki kanan saya ke salah satu anak tangga eskalator yang bergerak konsisten tersebut. Begitu saya berada di sana, baru saya tahu, ini tidak mudah memang. Saya harus bergerak cepat. Lebih cepat dan harus cepat. Bahkan sudah lebih cepat dan makin cepat pun, rasanya lama sekali untuk mencapai puncak. Saya terengah-engah. Ingin rasanya berhenti sejenak baru melanjutkan lagi. 

Tapi tidak bisa. Kalau kau berhenti, kau bisa-bisa turun lagi ke bawah dan kalah (kalau tidak pusing dan jatuh lalu terjepit dan apa yang terjadi selanjutnya kau tanggung sudah). 

Maka,  mau tidak mau, meski terengah-engah, saya mesti memacu diri saya untuk terus merangkak naik. Harus. Tidak bisa tidak. Demikianlah yang saya lakukan. Sambil bergerak naik, kau tahu, rasanya saya dan Tuhan dekat sekali (maksudnya, sama seperti menurut cerita Jem dan Scout kepada Bill dalam To Kill a Mockingbird, supaya terhindar dari bertemu ‘uap panas’ ketika sedang berjalan sendirian di malam hari, orang2 Maycom perlu mengucapkan mantera ala Maycomb)  😀 Alhasil, saya sampai juga di ujung eskalator lantai 2. 

Dari sana, dengan pandangan yang mengabur karena pusing, saya melihat kawan saya di bawah tertawa terbahak-bahak.  Memang betul katanya, saya hanya cari masalah. Soalnya sesampainya kami di ruang perpustakaan yang keren itu, saya tak bisa berkonsentrasi mengerjakan tugas yang dari semalam sudah saya rencanakan harus selesai di hari itu…   😀

Demikian secuplik kisah pengalaman konyol. Saya tidak mau bilang bodoh..(:D), sebab hanya dengan begitu setidaknya saya pernah punya pengalaman unik untuk mengomentari sebuah adegan kecil dalam cerita penulis Israel ini…:D. 

Kemudian katanya lagi tentang “Just like in life”. Maksudnya berjalan naik melalui eskalator yang bergerak turun benar-benar menggambarkan kehidupan kita sebagai manusia di muka bumi. Eskalator menggambarkan arus kehidupan yang terus berjalan. Kita tidak bisa hanya duduk berdiam diri, menunggu, dan menonton. Kita juga tidak bisa berlambat-lambat (ini saya bicara untuk diri saya..:D) Sebab kalau seperti itu yang kau lakukan, maka yang ada adalah kau mati. 

Jadi, ketika kau dibawa keluar menghirup aroma bumi, sama dengan kakimu sudah ditempatkan pada anak tangga eskalator yang konsisten bergerak turun itu. Jangan lagi menoleh ke belakang seperti istri Lot. Kau harus memacu dirimu terus bergerak. Mau tak mau.  Meski terengah, teruslah merangkak.  Cepat dan jangan berlambat-lambat.  🙂 🙂  Perumpaan ini hanyalah versi saya.  Jauh dari sempurna tentunya. 🙂 

Charity berbeda dengan Justice

http://www.idpelago.com/kesaksian-basuki-tjahaja-purnama-bagi-mereka-yang-mempertanyakannya-keimanannya-kepada-tuhan/

  • PR Matematika.  Seorang anak kecil menyodorkan PR Matematikanya padamu minta dibantu.  Kau membantunya dengan cara langsung mengerjakan supaya ia bisa dapat nilai baik atau setidaknya ia terbebas dari kemarahan gurunya dibanding kau membantunya pelan2 dengan bersama-sama mengerjakan sambil kau menjelaskan cara mengerjakan lengkap dengan konsepnya.
  • Bantuan untuk orang miskin.  Kau punya uang berlebih, artinya uangmu lebih dari cukup.  Kau terpanggil membantu orang-orang miskin. Apakah kau langsung datang dan memberikan begitu saja uangmu kepada mereka lantas bilang, “Ini uang.  Pakailah untuk beli makan dan minum. Belilah pakaian.  Buatlah rumah,” lalu kau pun pergi.  Kau tahu,  uang itu akan habis.  Kondisi mereka akan tetap melarat terus melarat sekalipun dibantu beribu-ribu kali.  Bandingkan dengan kau panggil mereka,  ajak mereka buat sesuatu. Berikan mereka modal untuk bekerja mengusahakan sesuatu. Pantau mereka dan berikan evaluasi.  Mungkin akan lambat memang pertumbuhan mereka, tapi setidaknya level mereka sudah naik beberapa tingkat dari sebelumnya.
  • Cinta lingkungan. Daripada hanya ajakan memungut sampah-sampah berserakan,  maka sekalian juga ajaklah orang menamam pohon, bunga-bunga, dan aneka tanaman lainnya.
  • Curahan kegembiraan.  Banyak sekali orang bilang mereka mau merayakan kegembiraan atas prestasi ini prestasi itu, atas pencapaian ini dan pencapaian itu, bersyukur audah bisa buat ini buat itu.  Lalu menghamburlah rupiah-rupiah demi makanan enak dan joget-joget sehari semalam/tiga hari tiga malam/tujuh hari tujuh malam,  dsb,  lalu selesai itu, ya, sudah,  selesai.  Orang2 yang tadinya makan-makan enak dan berjoget ria akan pulang ke rumah,  bertemu kembali dengan realita hidup, menghadapi kerjaan yang begitu menumpuk,  bertemu rekan kerja atau tetangga yang menyebalkan, menghadapi tuntutan anak minta uang jajan, menghadapi keluhan-keluhan klien, mengomeli jalanan yang rusak parah, mengomeli jembatan penghubung antar kota yang rubuh,  mengomeli sungai yang terus meluap, mengomeli tiadanya air bersih untuk minum dan keperluan lainnya,  mengomeli kumuhnya fasilitas-fasilitas umum, dan segala macam kompleksitas hidup lainnya. //// Akan lebih baik curahan kegembiraan itu ditandai dengan aksi keluarga menanam sebanyak-banyaknya pohon di satu tempat tertentu (kau sudah memberikan sumbangsih untuk jutaan manusia di muka bumi), atau penyediaan bahan untuk memperbaiki jalan lintasan desa yang berlubang sana-sini (pemberianmu tidak habis dinikmati hanya dalam sehari semalam/tiga hari semalam/tujuh hari tujuh malam), atau kalau kau memang suka yang ada banyak orang ya buat saja semacam festival atau workshop yang kegiatanya hanya beberapa hari tapi sarat nilai dan berefek panjang nan abadi, atau mungkin pengadaan bahan untuk perbaikan fasilitas2 umum misalnya bak air untuk setiap beberapa rumah di daerahmu kalau memang daerahmu termasuk daerah yang kekurangan air bersih, atau pengadaan buku untuk perpustakaan warga (pemberianmu tidak hanya selesai di hari ini saja tapi jelas berefek kekal dalam hidup seseorang), atau dengan memberikan beasiswa untuk seseorang yang punya hasrat besar bersekolah namun terkendala biaya atau memang  beasiswa terlalu besar dan namanya agak horor maka sederhanakanlah dengan sebutan menyekolahkan sesorang (uang pestamu tak habis dalam sehari semalam atau tiga atau tujuh u mereka lulang dan mungkin akan menggunjing tentang keluargamu tapi kalau dengan menyekolahkan seseorang jelas pemberianmu akan terpatri dalam hidup seseorang,  hal-hal lainnya yang masih banyak lagi, akan saya tambahkan kalau dapat.

Sampai di sini saja dulu. Untuk diketahui, tulisan ini bersifat spontan. Hanya sebagai tanggapan personal seusai membaca satu cuplikan berita Ahok. Saya menulisnya untuk refleksi pribadi.  Biar menjadi pegangan saya. Bukan sebagai sindiran atau pandangan meremehkan  bagi yang selama ini bermain-main dan berbangga-bangga di ranah charity. Toh,  saya termasuk salah satunya.

Bukannya saya bilang charity tidak begitu penting. Charity sendiri pun bernilai abadi ketika ia dilakukan dengan tulus dan penuh cinta. Setiap kita pun harus memberikan apresiasi buat mereka yang sudah melakukannya.

Maksud saya di sini adalah melakukan charity itu lalu melihat ke depan, daripada terus berkutat (mati-matian) hanya di bagian itu (terus-menerus tak kunjung selesai) padahal selain itu ada juga hal-hal lain yang butuh uluran tanganmu dan buah pikirmu, bukankah lebih baik sekalian melakukan justice.

Sekalipun begitu,  perlu diingat, justice pun tak akan bernilai abadi ketika ia hanya dilakukan sekadar mencari nama atau motif-motif lainnya.  Ia mestilah lahir dari panggilan terdalam hatimu.

Bersyukur dan Bangga Menjadi Saya

im-proud-to-be-me-1-638

Sumber: slideshare

Saya bersyukur dan bangga menjadi diri saya yang adalah saya. Yes, I’m proud to be me. I’am happy to be me. 🙂 Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menjadi saya atau sebaliknya. Hanya saya yang bisa menjadi saya, tak bisa orang lain. Saya pun tak bisa menjadi orang lain, sekuat dan segila apapun saya mengagumi atau mengidolakannya.

Mereka saya kagumi. Mungkin karena ketenangannya, keteladanannya, kedisiplinannnya, kekonsistenannya, dan segala macam hal yang menjadi keunggulan mereka. Syukurnya (praise God), tidak ada rasa iri saya akan hal itu. Saya tahu itu adalah bagian mereka, bidang mereka, atau porsi mereka. Saya juga tentunya dengan diri saya dan keberadaan saya.

a4ced82b3311bbd09eb3851de0fd4240

Sumber: pinterest

Saya (dalam kelemahan) belajar meneledani hal-hal baik dari orang tanpa perlu meninggalkan saya yang adalah saya. Akan sangat bukan hanya konyol tapi menjijikkan kalau saya berlaku dengan meniru-niru gaya orang lain.

Sejauh ini yang saya syukuri adalah bahwa dalam hal yang paling kecil pun Tuhan masih menunjukkan mujizat-mujizat-Nya. Saya sungguh kagum kepada Dia Sang Pengada dan Pemberi Hidup.

Patutlah Dia, patutlah Dia, yang dilihat dan bukan saya. Saya hanyalah saya yang dikehendaki-Nya menjalani bagian yang memang bagian saya dan bukan orang lain. Toh, dalam perbedaan, kita semua bermuara kepada Satu (hanya satu) Penulis Cerita.

Kepuasan Seorang Guru

20170117_130836Setiap guru tentu mengalami kepuasan tersendiri setiap kali keluar dari kelas. Kepuasan itu mungkin berbeda satu dengan yang lain. Kepuasan itu tidak bisa dirasakan orang lain. Hanya ia sendiri (dan Tuhan) yang merasakannya. Di saat-saat seperti itu, hatinya seakan-akan meluap-luap karena keharuan dan kebahagiaan.

20170313_100914Saya mengalaminya. Maka itu saya menuliskannya. Tentu tidak semua dan memang tidak setiap kelas yang dimasuki, hasilnya seperti demikian. Ada kalanya di kelas tertentu kita merasa gagal dan rasanya garing sekali. Rasanya seperti robot yang digerakan mesin dan hanya dipakai untuk mengisi dua sesi dalam kelas tersebut. Tetapi bila di dalam kelas tersebut kau pakai waktu baik-baik, benar-benar tahu dan menyadari bahwa dua sesi tersebut adalah waktu terbaik kau menabur, maka tentu kepuasan dan kelegaan dan sukacitalah yang kau dapat… 🙂 🙂 🙂

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Utang dan Anugerah*

77c17681e826f8e2e33cca4ab04d09e1*This is the reason why I’ve to write… and I’ll keep writing in the rest of my life…

“Astaga. Ternyata kau. Sedang buat apa di sini?”

“Mau bertemu Tuhan. Ingin minta maaf.”

Mata sang penanya membelalak.

“Kau tahu aturan bercanda. Kalau kau bercanda seperti itu lagi, aku tak segan-segan menamparmu. Tak peduli, apa yang kau pikirkan tentangku.”

“Silakan saja kau menampar. Kau tak mengerti persoalan yang sedang melandaku.”

Sebuah tamparan keras melayang. Bunyi mendesing terdengar di telinga sang gadis.

“Kenapa kau memutuskan mau bertemu Tuhan dengan cara ini?”

“Karena aku tak mampu membayar utang-utangku.”

“Memangnya kau berutang apa saja?”

 “Aku bangun pagi dan merasakan udara segar, lantas mendengar suara burung berkicau di pagi hari. Harum segar bunga-bunga di taman. Hati dan pikiranku begitu damai. Namun aku tak perlu membayar apa-apa, satu rupiah pun.”

 “Maksudmu?”

“Semalam aku berkumpul dengan kawan-kawanku di kafe CoffeBooks, di pinggir kota di tepi pantai. Kami berdiskusi tentang buku-buku dan tentang kepenulisan dari zaman batu hingga zaman digital sekarang ini. Kami hanya perlu membayar untuk secangkir kopi yang kami minum masing-masing. Suasana dan keakraban yang dinikmati, kami tak membayarnya. Satu rupiah pun tidak.”

“Masih belum kutangkap apa yang kau maksud.”

 

“Aku tiba di rumah dan kemudian hujan turun. Membasahi beberapa anakan pohon yang kutanam di belakang rumah beberapa hari lalu dan juga bunga-bunga di taman depan rumah. Aku masuk dan menikmati secangkir susu hangat sebagai penetral tadi sudah minum kopi di kafe, lantas membuka sebuah novel untuk dibaca. Untuk kebahagiaan itu, aku tak perlu membayar apa-apa.”

“Ya, Tuhan. Kau sudah membawar biaya kredit rumah dan listrik, serta membeli buku dan kopi gula, apa kau hanya pergi tersenyum kepada sang penjual lantas memberimu gratis?”

“Memang. Benda-benda itu aku memang membelinya. Tapi kenikmatan dan kepuasan yang kualami, aku tak perlu membayarnya dengan apapun. Semua itu kudapatkan gratis.”

“Semua orang di dunia bisa juga mendapatkan gratis dan tak sampai berpikir bahwa itu adalah utang.”

20160814_160228“Aku mengendarai sepeda motor dan berpikir, indah sekali dan nyaman sekali bisa mengendarai sepeda motor ini. Bisa bepergian ke mana kusuka dan kapan pun aku butuh. Aku hanya perlu sekali saja menyediakan uang belasan juta untuk memilikinya, lalu beberapa puluh ribu untuk bisa sampai ke tempat tujuan dengan pasti.”

“Pikiranmu melantur memang.”

“Malam-malam ketika aku melihat kelap-kelip bintang di langit. Angin malam yang berhembus lembut. Aku merasa suasana sekelilingku begitu tenteram. Namun aku tak perlu membayar apa-apa untuk dapat merasakan ketenangan dan kedamaian malam itu.”

“Sudah kubilang, orang-orang lain juga mendapatkan apa yang kau dapatkan itu, dan mereka tak berpikir bahwa itu adalah utang sehingga harus dibayar.”

“Aku suka suasana malam kalau berada di jalan raya di kota. Aku suka melihat kelap-kelip cahaya lampu mobil dan cahaya lampu kenderaan yang berlalu lalang. Aku hanya perlu berada di pinggir jalan atau di atas sepeda motor yang kuparkir atau berada di dalam satu ruangan dan menatap jalanan. Aku tak membayar apa-apa untuk keindahan yang kunikmati itu.”

“Aku bingung dengan jalan pikiranmu.”

“Aku suka suasana pada malam hari di rumah. Malam itu selalu membuat tenang. Memberikan keluluasan untuk membaca dan berpikir, atau melakukan apa saja yang menyenangkan tanpa gangguan. Dengan adanya penerang di malam hari, aku boleh melakukan hal-hal itu sebelum beranjak tidur. Aku tak perlu membayar apa-apa.”

“Apa kau tak membayar listrik setiap bulannya?”

“Aku membayar setiap bulan. Tapi aku tidak  membayar suasana yang kuperoleh saat bisa melakukan beberapa hal itu sebelum beranjak beristirahat di malam hari.”

“Pikiranmu ribet dan ruwet.”

“Aku merasa berutang setiap kali pulang liburan. Entah di masa-masa paskah saat ada perlombaan pemuda gereja, atau di malam-malam ibadah natal, atau di malam kunci tahun, atau di hari-hari minggu. Saat kami semua seisi keluarga, dari bapak, ibu, saya dan adik-adik semua pergi bersama ke gereja untuk beribadah. Aku merasakan betul betapa indah, betapa hangat, betapa damai dan tenteram momen-momen itu. Namun untuk momen-momen berharga itu, aku tak perlu membayar apa-apa.”

“Apa kau tak memberikan persembahan?”

“Apakah kau bertanya untuk persembahan yang seribu dua ribu yang hanya cukup untuk membeli satu potong pisang goreng itu sebanding dengan momen-momen berharga bersama keluarga?”

“Hmm…”

“Di gereja, aku bertemu dan menyapa orang-orang, bersekutu, dan menyanyi bersama. Ada hal lain yang aneh dan lembut datang menghampiri. Semua itu walau kurasakan begitu dekat, mistis, aneh, lembut, menenangkan, begitu menegangkan. Aku merasakannya demikian, sekalipun tak dapat kugambarkan apakah sesungguhnya itu. Aku tak begitu tahu. Tapi yang jelas, bahwa itu sangatlah indah dan agung. Aku mendapatkannya. Aku tak membayarnya. Bahkan kalau kubayar pun, aku tak tahu harus seberapa besar dan bagaimana aku mampu membayarnya. Rasa-rasanya seumur hidup aku tak mampu membayarnya. Ah, aku ingin mati saja. Aku ingin bertemu Tuhan. Aku mau minta maaf kepada-Nya. Aku ingin mengatakan pada-Nya, aku tak mampu membayar semua utangku yang teramat banyak ini.”

Kali ini tangisnya pecah.  Sesenggukan tak mau berhenti.

“Aku suka membaca buku. Buku-buku itu menyadarkanku bahwa di dunia ini bukan aku saja yang merasa aneh. Ada banyak orang di luar sana yang sama aneh denganku dan merasa orang-orang di sekeliling mereka yang tak benar-benar memahami mereka. Aku membaca cerita mereka dan merasa bahagia, menemukan orang yang sama penderitaannya dan merasa senang. Ternyata aku tidak sendiri. Namun hanya itu yang bisa kulakukan. Aku hanya mampu membayar beberapa puluh ribu untuk buku yang bercerita tentang mereka. Kebahagiaan yang kuperoleh saat aku tahu bahwa kami adalah orang-orang yang senasib, aku tak membayarnya. Satu rupiah pun aku tak kukeluarkan.”

Si penanya hanya diam.

20161205_174059“Suatu hari, pernah sekali ketika aku terjebak dalam rutinitas hingga nyaris mencapai tiik jenuh, tiba-tiba handphone bergetar menandakan pesan masuk. Kabar dari salah seorang sanak mengundang datang ke rumah karena mereka sementara mengadakan acara kecil-kecilan di rumah. Aku yang sebelumnya sudah bermata redup dan merasa hidup sudah mau mendekati puncak kekeringan, berasa seperti berada di padang gurun yang tiba-tiba ditetesi air. Segera kupersiapkan diri datang ke tempat dipanggil. Di sana aku mendapatkan kesegaran kembali setelah bertemu. Bercerita sebentar dengan mereka. Bermain-main dengan ponaan. merasakan suasana hangat dan damai di antara kami. Hari itu, dan tak hanya hari itu, tapi memang seringkali seperti itu. Sering aku mendapatkan momen-momen itu, namun aku tak perlu mengeluarkan bayaran apapun.”

“Kau mengeluarkan uang untuk bensin motormu, bukan.”

“Apakah itu bisa dihitung dan sebanding dengan yang diperoleh?”

“Kalau kubilang kau sudah membayar, selalu kau beralasan sebanding…sebanding. Kalau masalah sebanding, tentu tak sebandinglah,” ia mendengus.

“Aku berutang pada kenangan. Ketika masih kecil dulu, karena kesukaanku adalah membaca buku atau belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah, sementara di rumah banyak pekerjaan rumah tangga yang mesti kulakukan, aku lantas berpikir alangkah indahnya berada di tempat di mana kau tak perlu merasa repot-repot mencucui piring, repot-repot menyapu rumah dan halaman, repot-repot mengambil air untuk mengisi bak-bak air minum atau bak mandi, repot-repot memberi makan ayam, repot-repot memikirkan tentang uang jajan atau uang untuk mendapatkan makanan. Alangkah indah bahwa semua itu sudah tersedia, dan yang perlu kau lakukan hanyalah belajar dan belajar, membaca buku dan membaca.

Lantas, di masa SMA, aku mendengar kabar, ada satu institusi yang menyediakan segala fasilitas dan keperluan, tak perlu memikiran biaya pendidikan karena memang sudah disediakan, kau hanya tinggal belajar dan belajar, lapangan pekerjaan untukmu pun tersedia ketika kau menyelesaikan pendidikan itu dengan upah yang lumayan. Pekerjaan itupun memang sesuai mimpimu kala kau berada di bangku SMP.

10593379_702093706511917_843151614_n

Sumber: IfyClub

Tempat belajarnya pun ada di sebuah kota yang selama ini bahkan ada di mimpimu pun tak pernah. Adakah hal lain yang lebih indah? Apalagi yang mesti kau tunggu? Kau mendapatkan itu. Selama empat tahun, terlalu banyak pengalaman luar biasa kau alami. Hal-hal bergizi kau dapat. Tak hanya memuaskan raga, tapi pikiran dan hatimu. Berapa banyak yang kau bayar untuk semua itu?

“Uang saku setiap bulan apa tak ada?”

“Apakah seratus dua ratus ribu per bulan mampu membayar semua fasilitas dan biaya belajar di tempat elite semacam itu?”

“Lagi-lagi itu alasanmu.”

“Bapak yang mula-mula keberatan melepasku sebab memikirkan setelah empat tahun, entah aku akan terlempar ke belahan pulau mana, mesti bergumul siang malam sampai ia akhirnya mengeluarkan suara, kau boleh mengambil kesempatan ini. Apa yang kubayar untuk pergumulan bapak? Apakah seuprit dari upah setiap bulan mampu melunasi ketika ia bertekuk lutut dan bergumul mencari keputusan terbaik hingga dengan mata berkaca melepasku pergi?”

“Teruskan saja igaunmu selama aku masih mendengar. Mungkin sebentar lagi aku mau beranjak.”

“Aku berutang kepada penemu komputer, penemu mesin printer, dan mesin fotokopi. Sebagai guru, aku membuat soal-soal ulangan dan ujian untuk anak-anak murid. Aku senang karena seusai mengetik soal-soal, aku mencetaknya di mesin printer, lalu pergi ke mesin fotokopi, tinggal diperbanyak. Jadilah soal-soal itu untuk diberikan kepada anak-anak.”

“Kau membayar kepada penjaga printer dna fotokopinya bukan?”

“Aku membayar. Seribu rupiah untuk setiap cetakan, dan 200 rupiah untuk setiap kopian. Tapi aku tak membayar untuk betapa cepat dan mudahnya sampai lembaran-lembaran soal itu jadi.”

“Ok.. masih ada?”

“Aku berutang kepada penemu internet. Aku hanya perlu membayar beberapa puluh ribu untuk paket data sebulan dan aku bisa terhubung dengan orang-orang di berbagai belahan dunia dalam waktu yang sangat singkat. Aku bisa bertanya jawab dengan mereka selayaknya sedang berhadapan dengan orang-orang di dekatku.”

“Aku berlangganan dengan beberapa newsletter dari dalam maupun luar negeri. Setiap mereka menerbitkan tulisan mereka, tentu aku pun dapat pemberitahuan, bisa kuakses dengan cepat dan mudah. Banyak hal kudapatkan dari sana. Dan untuk semua itu, aku tak perlu membayar apa-apa selain data paket sebulan itu. Atau pun tak pakai paketan data, maka di sekolah ada wifi. Banyak hal manfaat kuperoleh, dan aku tak membayar apa-apa.”

“Kau sudah membayar dengan jam kerja kamu di sekolah. Bayangkan bagaimana seandainya kau tak bekerja di sana, bagaimana bisa kau dapatkan akses wifi gratis?”

“Aku menonton video lagu yang keren, lirik lagunya yang menyentuh hingga ke sanubari, dan performa mereka yang keren dan luar biasa membauat mataku bisa dengan cepat berasa panas sampai mengalir air mata. Aku menangis karena merasa begitu bahagia dan terharu. Namun, untuk kebahagiaan itu, aku tak perlu mengeluarkan bayaran apapun.

Film-film bagus. Cerita-cerita yang luar biasa dengan akting para pemain yang sungguh-sungguh menghayati peran sehingga seolah itu memang terjadi di dunia nyata. Cerita yang indah, keren, dan luar biasa, membawaku  seolah ikut mengalaminya di sana. Mataku lagi-lagi berasa panas, entah sedih, marah, kesal, kecewa, senang, aku bisa merasa lega setelahnya. Dan untuk kelegaan itu, aku memperolehnya tanpa membayar. Satu rupiah pun tak dikeluarkan.”

“Masih ada?”

“Aku pernah mengidolakan seseorang. Ia masih seorang anak manusia.  Anak manusia yang sama terbatasnya dengan setiap anak manusia lain di muka bumi. Secara status, dalam bentuk apapun status itu, dengan kacamata orang-orang yang tinggal di permukaan bumi dan kuyakini seluruh daging, tulang, dan darahku, kami tak akan pernah bertemu, toh, suatu kali kami bertemu juga di suatu tempat. Namun aku tak perlu membayar apa-apa untuk pertemuan itu. Bukan hanya pertemuan yang sekilas, tapi bahkan juga untuk setiap interaksinya. Aku merasa seperti di atas awan, tapi tak ada bayaran yang perlu kuberikan.”

“Kau sudah membayarnya sebelum-sebelumnya. Kau membayar buku-buku yang kau baca, kau membayar laptop yng kau pakai menulis, serta waktu-waktu yang kau pakai untuk membaca dan menulis.”

“Aku hanya membayar buku-buku dan laptop. Saat membaca dan menulis, aku tak membayar. Harusnya, tepatnya, aku membayar saat membaca dan menulis itu.”

“Kenapa kau perlu membayar saat membaca dan menulis?”

“Karena ada banyak manfaat yang aku peroleh saat melakukan keduanya. Harusnya dan mestinya aku membayar.”

“Hmm…”

“Adakalanya  aku merasa sedih, dan murung. Tiba-tiba ada orang datang menyapa dan berbicara sebentar. Mengingatkanku kembali kepada momen-momen menyenangkan sehingga membuat hatiku kembali bergembira. Aku tak membayar apa-apa untuk itu.”

“Kau pernah mentraktir mereka dengan es krim.”

“Apakah es krim itu mampu membayar lunas utangku pada mereka?”

Si penanya tertawa.

“Suatu insiden membuatku nyaris putus asa dan merasa tak ada lagi yang memperhatikan dan tak mempedulikanku. Tiba-tiba datang panggilan telepon dari orang yang jauh di seberang lautan dan menanyakan kabarku. Aku mengelak dan berkata semuanya dalam keadaan baik. Tapi entah bagaimana ia bisa menangkap nada dalam suaraku dan akhirnya menemukan bahwa aku tak dalam keadaan baik-baik. Mau tak mau aku pun bercerita dan mengeluarkan segala yang mengganjal. Lega seusai berungkap, dan aku tak membayar untuk itu.”

“Orang itu sudah membayar biaya telepon.”

“Memang orang itulah yang membayar. Bukan aku. Maka itu aku yang berutang.”

“Kau berutang pada orang itu.”

“Bukan.”

“Lantas pada apa?”

“Pada sesuatu yang lain, mengapa ia menghubungiku pada saat yang tepat?”

“Kau terlalu banyak berpikir. Hal yang seharusnya tak perlu direpotkan, justru membuatmu begitu repot dan ribet.”

“Ketika perutku terasa sakit atau kebelet ingin pipis. Tentunya harus segera menuju toilet. Berasa lega dan nyaman setelah mengeluarkan apa yang mau dikeluarkan. Keluar dari toilet dengan perasaaan yang lebih nyaman dibanding dengan muka yang pucat pasi ketika menuju ke sana. Dan untuk kelegaan dan kenyamanan itu, aku tak membayar.”

“Kau membayar air, sabun, dan tisu bukan? Apalagi kalau kau di kamar toilet di tempat wisata.”

“Aku membayar seribu dua ribu untuk air, sabun, dan tisu. Tapi bukan kelegaan dan kenyamanan itu. Apakah seribu dua ribu sebanding dengan kelegaan yang kuperoleh?”

“Di jalan raya, hanya hitungan milidetik aku nyaris diserempet mobil tangki. Aku hanya tersentak sebentar, memandang ke muka sang supir dengan terkejut, terus berlalu dengan selamat tanpa satu inchi anggota tubuhku lecet. Kau tahu, aku tak membayar satu rupiah pun untuk beberapa milidetik yang telah menyelamatkan hidupku.”

“Itu salahmu. Kau yang ceroboh dan kurang berhati-hati.”

“Maka untuk akibat kecerobohanku di jalan raya yang seharunya bisa merenggut nyawaku, aku tak membayarnya. Itu utangku.”

“Maka itu, kau harus membayarnya dengan lebih berhati-hati lagi lain kali.”

“Baiklah. Tapi, bagaimana dengan utang-utangku yang lain?

“Kau harus membayarnya dengan kebaikan.”

“Apakah itu cukup? Apakah itu sebanding dengan segala sesuatu yang kuperoleh? Apakah itu mampu melunasi semua utangku yang teramat banyak dan tak terhitung?”

Ia berpikir. Tampaknya ia berpikir keras.

“Belum lagi dengan segala kesalahan yang kuperbuat hampir setiap hari. Nyaris tiada hari yang berlalu tanpa aku sendiri berbuat sesuatu yang salah. Kesalahan aktif maupun pasif.”

Si penanya, setelah berpikir keras, bulat bola matanya tiba-tiba membesar. Ia tersenyum. Sepertinya baru menemukan ide cemerlang.

“Aku baru saja mendapat ide.”

“Apa itu?”

“Sepertinya kau perlu membuat list. Setiap memperoleh kepuasan, kelegaan, kenyamanan, kedamaian, ketenangan, kebahagiaan, intinya setiap sukacita yang kau dapat, kau harus mencatatnya.

Lalu setiap kali kau membuat kesalahan, memang harus pula kau mencatatnya. Itu adalah utang-utangmu yang memang mesti kau bayar.

Lantas, karena kau pikir, segala utangmu yang tak mampu kau bayar dengan uang, dengan rupiah yang kau bilang tak seberapa itu, buatlah kebaikan-kabaikan. Taburkanlah lebih banyak lagi kebaikan.

Setiap kali kau membuat kebaikan, catatlah, dan akan lebih baik kau beri tanda centang untuk menandai sudah seberapa banyak kebaikan kau buat sebagai bayaran. Kupikir, dariku itu cukup.”

“Cukup? Maksudmu itu sudah cukup?”

“Ya.”

“Berapa harga untuk setiap sukacita? Berapa harga untuk setiap kesalahan? Lalu, berapa harga untuk setiap kebaikan yang kuperbuat? Apakah segala kebaikan dan kesalehanku mampu menutupi setiap utang atas berkat dan bayaran untuk segala kesalahan? Apakah menurutmu itu sebanding?”

“Kau terlalu banyak bertanya. Kau terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak. Sudah, pikirkan sendiri. Aku jadi pusing sekarang gara-gara pikiranmu yang berkecamuk itu.”

“Apakah kau tak mau membantuku?”

“Sudah kubilang, pikirkan saja sendiri. Semoga berhasil. Kau kutinggal sekarang. Setidaknya kau sudah berungkap. Dengan sudah berungkap begitu, aku percaya kau tak lagi berniat menjatuhkan diri dari gedung tinggi ini lagi.”

Si penanya itupun beranjak pergi. Meninggalkan sang gadis seorang diri bergumul dengan pikiran-pikirannya.

**

Kau seorang anak manusia. Kau sesungguhnya tidak mampu memecahkan misteri apa sesungguhnya dan mengapa.

Utang anak manusia sebenarnya bukan hanya tentang semua yang diterima dan dinikmati ditambah dengan kesalahan sehari-hari Ini tentang segala sesuatu yang diterima dan dinikmati bertolak belakang dengan keberadaannya di tengah-tengah kecacatan keseluruhan semesta. Ini adalah tentang ketidakmampuannya sebagai puncak ciptaan. Mau berusaha sebagaimana rupa pun, ia memang tetap tak mampu membayar. Tak akan pernah bisa menutupi bukan hanya kesalahan-kesalahan keseharian dan utang-utang atas segala yang diterima dan dinikmati, tapi atas ketidakmampuannya sebagai bagian dari kecacatan keseluruhan keberadaan semesta.

Maka itulah, Dia yang maha harus mewujud manusia untuk bisa membayarnya lunas. Harus Dia yang tak bercacat dan harus dalam kehinaan pula lahir-mati-Nya. Keindahan dan keagungan apa lagi yang lebih dari pada ini?

Sekian.

*Niat awal saya hanya ingin menulis tentang pengalaman baru yang seolah tiada habisnya. Setiap hari tampak baru dan begitu ajaib–setidaknya di mata saya demikian. Mungkin hanya beberapa kalimat.

Nyatanya, seusai menulis, saya pun kaget bisa jadi sepanjang dan seruwet ini. Sebagai yang menulis, saya tentu merasa senang bisa selesai menuliskannya. Mungkin ini pun adalah utang (momen kairos di mana Anda perlu menunduk sejenak dan mengucap terima kasih kepada Sang Pembuat Cerita Abadi) saya.

Thank you for today, Lord of Universe. The maker of heaven and earth. #FastWritingPractice.

Minggu, 12 Februari 2017, Pukul 22.32 Wita

Refleksi Wawancara ‘Literasi Media’*

*[Literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Kemampuan untuk melakukan hal ini ditujukan agar pemirsa sebagai konsumen media (termasuk anak-anak) menjadi sadar (melek) tentang cara media dikonstruksi (dibuat) dan diakses (wikipedia)]

Rabu, 3 Agustus 2016, saya diwawancarai seseorang terkait literasi media di kalangan pelajar SMP. Topik ini berkaitan dengan studi doktoralnya. Orang tersebut sedang menjalani masa pendidikan di salah satu PTN di Bandung.

Saya tahu sekali saya bukan orang yang berkompeten di bagian ini. Saya seorang yang jarang menonton televisi. Selain di rumah tak ada televisi, saya juga tidak punya cukup waktu duduk berhadap-hadapan dengan benda itu. Hanya sesekali saya menonton kalau di akhir pekan saya berkunjung ke rumah om saya. Itupun lebih sering acara olahraga dan film di jam-jam yang agak larut. Demikian saya tidak begitu yakin menjadi narasumber yang baik. Saya nyaris bilang tidak siap ketika diberitahu kepsek.

Namun alasan yang ia kemukakan kalau sebelumnya ia sudah menghubungi KPID Prov NTT, dan dari situlah nama saya didapat. Mungkin karena saya salah satu peserta seminar “Literasi Media” yang diadakan KPID Prov NTT dua atau tiga tahun lalu. Jelas saya harus siap. Saya punya tanggung jawab untuk berbagi.

Sedikit yang saya ingat tentang materinya, kita harus selektif terhadap tayangan media khususnya televisi. Media televisi punya pengaruh yang besar kepada masyarakat. Sekarang, tak hanya anak-anak dan remaja yang dengan mudah dipengaruhi televisi, tapi bahkan juga orang dewasa. Begitu kuat pengaruhnya sampai-sampai tayangan yang tidak penting dan tak layak pun mesti disiarkan dalam waktu yang lama dan berulang-ulang. Seakan-akan kita mau saja dijejalkan dengan berbagai macam kebohongan. Kita seakan terbuai dan terhibur dengan tipuan-tipuan palsu yang terus diberondongkan di depan mata kita. Tak sampai di situ. Di dalam layanan iklan pun, tidak jarang ada eksploitasi-eksploitasi terselubung yang mengandung SARA juga gender. Saya ingat di seminar waktu itu juga ditayangkan salah satu contoh iklan parfum yang memang jelas sekali terbaca bentuk eksploitasinya.

Refleksi saya terkait wawancara tadi adalah kegiatan literasi media ini semestinya terus digaungkan. Harus ada banyak pihak yang perlu diajak bekerjasama dengan KPID. Sasasarannya pun jangan hanya kepada para pelajar tapi juga menjangkau kepada semua kalangan.Serta kalau di sekolah, terutama saya sebagai guru Bahasa Indonesia, peluang saya besar di dalam kelas untuk memperkenalkan anak-anak mengenai literasi media. Literasi media kini tidak hanya menyangkut televisi saja, melainkan juga internet.

Mendoakan Resolusi Tahun Baru

1

Sumber: shutterstock

Sharing:

Biasanya pada malam pergantian tahun, keluarga besar kami berkumpul dan berdoa bersama. Sebagai seorang anak, saya hanya ikut-ikutan saja. Kesan saya dari acara itu adalah sambil menunggu lonceng gereja berdentang, kami anak-anak akan bermain atau bernyanyi atau menonton atau yang sudah remaja saling bercerita tentang teman-temannya, sementara para orang tua akan mengobrol tentang silsilah keluarga, cuaca, dan masalah lain-lainnya.

Saya tak pernah diminta -atau sebenarnya diminta tapi saya yang lupa dan kurang sadar- mengenai resolusi atau perbaikan diri atau pembaruan. Setahu saya pada malam pergantian tahun masuk tahun baru, keluarga besar berkumpul untuk selesai berdoa bersama,  kami kemudian makan-makan dengan daging anjing, lalu pulang untuk esok pagi sepulang gereja orang-orang saling berjabatan tangan.

Begitu pemikiran yang saya bawa bahkan sampai kuliah pun demikian. Belum ada kesadaran saya untuk membuat tahun baru berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Pada tahun 2009 masuk 2010, saya merayakan pergantian tahun baru di Karawaci. Waktu itu kami beberapa orang keluar Benton Junction untuk melihat kembang api yang dinyalakan di seputaran Lippo Karawaci.

Saat itu, entah ada dorongan apa dalam hati saya, sehingga membuat saya berdoa, “Tuhan, saat saya masih usia 20, sebelum menginjak benar usia 21, saya sudah harus menghasilkan sebuah karya.

“Itu tekad saya. Komitmen saya. Doa saya, yang saya ungkapkan di depan Times Bookstore–kini berubah nama menjadi ‘Books and Beyond’–, tepat beberapa detik sebelum jarum kecil menunjuk pada angka 12.

Setelah itu saya pulang dan berdoa lagi kamar, berdoa untuk hal ini. Puji Tuhan, doa saya dikabulkan. Pada akhir Maret tahun 2010, beberapa minggu sebelum ulang tahun saya tepat 21 tahun, cerpen pertama saya berjudul “Persinggahan Bocah Indigo” dimuat di Pos Kupang Minggu. Saya ingat doa saya di malam pergantian tahun baru itu. Saya percaya Tuhan yang bekerja untuk hal ini.

Sejak saat itu saya percaya doa di malam pergantian tahun punya daya yang luar biasa. Malam pergantian tahun baru berikutnya tahun 2010, saya mulai menaikan doa-doa dan mimpi saya tentang apa saja. Waktu itu  saya berdoa khusuk untuk sayembara novel di DKJ di TIM.

Pertengahan Januari 2011, saya pergi untuk mengikuti malam penganugerahan pemenang. Di jalan besar Cikini Raya, Jakarta, saya mengalami kecelakaan. Saya jatuh saat turun dari KOPAJA. Kaki kiri saya terkilir dan harus pincang-pincang saat berjalan.

Saat itu dalam hati saya bergumam, “Wah, sepertinya saya bakal masuk nih. Tuhan membuat saya menangis lebih dulu sebelum saya harus tertawa gembira”.

Saya pun makin percaya doa di malam pergantian tahun baru punya daya ampuh yang luar biasa. Saya berpikiran untuk menaikan doa-doa lagi di malam pergantian tahun baru waktu mendatang.

Namun sayang, hasil yang saya dengar tidak seperti yang saya harapkan. Di antara 5 karya dari antara 300-an yang dibacakan kutipannya, saya tidak termasuk. Malam itu saya berjalan pulang dengan kaki pincang ke tempat kawan saya yang kuliah di IKJ. Untung ada teman kuliahnya orang Bali yang tinggal serumah dan bisa mengurut yang terkilir. Malam itu juga langsung dibereskan kakiku. Aku harus histeris menahan sakit.

Sedih memang, tapi mau tidak mau saya harus merenung kembali. Apa yang telah saya lakukan ini?

Saya kemudian menyadari bahwa sebenarnya saya selama ini memang sengaja hanya memanfaatkan doa di malam pergantian tahun baru, dan malah mengabaikan doa yang semestinya saya lakukan tiap hari tiap saat. Saya kurang sungguh-sungguh berdoa untuk proses keikutsertaan saya dalam sayembara itu, tetapi saat malam tahun baru cara dan gaya saya saat berdoa persis mengikuti cara saya berdoa tahun lalu (ini tak perlu diberitahu). Ketika malam pergantian tahun lewat, saya tidak sungguh-sungguh lagi berdoa. Pikir saya, ah, yang penting kan saya sudah berdoa dengan sungguh-sungguh di malam tanggal 1 Januari itu kok.

Dalam berdoa juga, perhatian saya bukan fokus pada doa itu melainkan pada waktu, momen, dan cara atau gaya, serta kata-kata yang mesti saya ucapkan. Saya merasa, saya berlaku bukan lagi seperti manusia yang berpribadi yang berdoa kepada Tuhan yang juga adalah pribadi, melainkan seperti robot kepada kepada alat yang sudah diprogramkan. Saya pikir berdoa untuk resolusi-resolusi dan harapan-harapan di malam pergantian tahun baru, pasti dengan otomotis dikabulkan Tuhan sekalipun didoakan tanpa hati yang sungguh-sungguh.

Hal lain yang saya renungkan adalah motivasi saya ketika saya berdoa di malam pergantian tahun baru 2010 masuk 2011 itu. Saya kemudian menelisik masuk ke kedalaman diri saya. Saya dapati, motivasi doa saya salah. Bahwa doa saya itu sebenarnya tujuannya tidak kepada kemuliaan Tuhan sendiri, melainkan untuk kesenangan saya pribadi. Bukankah Tuhan mau mengabulkan doa dan memperkenankannya kalau doa kita itu memang tulus untuk Tuhan dan bukan keinginan daging kita sendiri.

Tahun 2009 masuk 2010 yang mengenai cerpen, motivasi saya adalah saya mau berkarya untuk Tuhan. Saya menyadari Tuhan sudah memberikan talenta yang unik pada saya. Maka itu tanggung jawab saya adalah mengembangkan talenta saya itu. Sebenarnya saya ragu. Dan selama itu memang saya bergumul dengan Tuhan mengenai talenta itu. Tuhan seakan menunjukan tanda kalau memang ada karyaku yang dipublikasikan sebelum April 2010, maka memang benar aku punya talenta di situ dan itu berarti aku harus berkarya, maka karyaku adalah untuk Tuhan.

Sedangkan doa di malam pergantian tahun baru 2010 masuk 2011, yang saya pikirkan mengenai sayembara itu adalah hadiah uangnya dan nama saya yang akan mulai bersinar. Memprihatinkan bukan diri saya ini?

Saya begitu mementingkan diri saya sendiri. Mengandalkan kekuatan dan pengalaman dan mitos yang tidak bernilai kekal. Lupa dan malah abai bahwa dorongan untuk berdoa dengan tulus adalah pekerjaan Roh Kudus. Itupun anugerah. Doa tidak harus dan tidak hanya punya kuasa saat malam tahun baru saja. Tidak harus hanya saat diiringi dentuman kembang api-akhirnya satu rahasia cara berdoa saya buka.

Kalau ini sampai terjadi lagi, maka sudah jelas menunjukan bahwa hubungan saya dengan Tuhan sangat dangkal. Maka itu kini penting sekali mendekatkan diri kepada Tuhan, di dalam doa dan puji-pujian kepada Dia. Hubungan yang dekat dan intim dengan Tuhan pasti membuahkan hikmat, sehingga dalam pikir, tutur, dan laku kita pun pasti benar dan menjadi berkat bagi orang lain. Bukankah harapan kita sebagai pengikut Kristus adalah menjadi berkat, sebagai garam dan terang dunia bagi orang lain?

Akhirnya, kesimpulan dari sharing saya ini adalah bahwa berdoa tentang resolusi atau perubahan atau mimpi atau apapun itu, bukan hanya didoakan sungguh-sungguh pada malam pergantian tahun baru saja lalu pada hari selanjutnya tidak peduli lagi dengan doa ataupun kalau berdoa hanya asal sekadar berdoa.  Dalam berdoa mestilah dengan segenap hati, kapan saja dan di mana saja. Berkaitan dengan tahun baru, maka membuat resolusi dan mendoakan resolusi  tidak hanya di malam pergantian tahun baru saja, melainkan resolusi apa yang sudah kita sepakati dengan diri sendiri terus didoakan sekaligus dikerjakan (diperjuangkan). Hal ini tentunya tidak bisa berjalan kalau kita tidak dekat dengan Tuhan sekaligus takut penuh akan Dia. Sehingga biarlah resolusi apapun itu, kita tahu motivasinya adalah untuk kemuliaan Tuhan semata. Sebab dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dialah kita diciptakan.