Secuplik Kesan

Kemeriahan Honda DBL East Nusa Tenggara Series 2017 ini baru saja berakhir Sabtu, 30 September 2017. Senang Lentera Harapan Kupang bisa ikut ambil bagian di dalamnya bahkan hingga menyabet beberapa juara sekaligus. Pertama, juara 1 loop 3×3 competition dengan three point oleh Amin Bannesi hingga membuat kedudukan skor antara SMA Kristen 2 Kupang dan SMA Lawan (saya lupa SMA manaπŸ˜‰) menjadi 4-3. Kedua, Adriel Geraldo Elim terpilih sebagai Most Valuable Player (MVP) putra. Ketiga, Tim Basket SMA Kristen 2 Kupang atau yang dikenal dengan SMA Lentera Harapan Kupang ini boleh menjadi Pemenang 1 Honda DBL East Nusa Tenggara Serias 2017 untuk putra. Keempat, bahkan pendukung Tim Basket Lentera pun mendapat apresiasi sebagai suporter terbaik dan terdisiplinπŸ‘πŸ‘πŸ‘.
Dalam pertandingan ini, sujud syukur saya sendiri melihat ada kemuliaan Tuhan dinyatakan di sana seperti yang saya buat sedikit refleksinya Di Pertandingan Basket, Aku Melihat Tuhan. Kenapa bisa demikian? Sebab saya walau tidak intens, saya pun mengikuti sedikit banyak perkembangan beberapa di antara para pemainnya.

πŸ‘ŒBerikut cuplikan kesan beberapa pemain basket SMA Kristen 2 (Lentera Harapan) Kupang yang kemarin baru saja meraih Juara 1 dalam Honda DBL East Nusa Tenggara Series 2017. Tidak semua pemainnya memang. Hanya yang saya kenal dekat karena mereka alumni SMP Lentera Harapan Kupang. Tulisan ini hanya sebagai bentuk apresiasi kecil-kecilan yang bersifat personalπŸ˜ƒπŸ˜ŠπŸ˜‡.

Adriel Geraldo Elim (Aldo) 

Aldo, seorang anak yang diberkati. Dialah inspirator kenapa ilustrasi isi buku kumpulan cerpen saya, Persinggahan Bocah Indigo, semuanya dibuat anak-anak SMP dan SMA Lentera Harapan Kupang. Latar belakang persisnya sudah saya tulis di Ilustrator Cerpen Persinggahan Bocah Indigo

Karena bakat menggambarnya ini pun ia pernah mewakili SMP Kristen 1 Kupang (SMP Lentera Harapan) mengikuti lomba mendesain gambar kantin sehat yang diadakan BPOM Kupang dan keluar sebagai juara 2. Selain menggambar ia juga jago dalam bermusik. Sewaktu materi Musikalisasi Puisi di Bahasa Indonesia kelas 9 saja terlihat bahwa ia sendiri menguasai beberapa alat musik sekaligus. Bukan saja mengenai alat musik. Tapi ia sendiri pernah memimpin tim PAR sekolah minggu dari GMIT Silo Naikoten 1 Kupang, sebagai dirigen mengikuti lomba paduan suara yang diadakan Bank TLM dan keluar sebagai juara 1. Waktu itu ia masih di bangku SMP, ketika saya membaca berita ini di koran dan mengetahui dirigennya adalah anak ini, sungguh saya salut luar biasa. Pada saat yang sama, saya benar-benar menaruh hormat pada kedua orangtuanya. Betapa luar biasa mereka mendidik sang anak. Kalau tak salah lomba itu diadakan sewaktu libur sekolah. Sewaktu masuk dan saya menyalaminya, ia malah heran bagaimana saya bisa tahu sementara itu masa liburan sekolah.

Seusai pengumuman hasil UN SMP

Di akhir bangku SMP, saya lagi-lagi merasa salut dan bangga plus senang, bahwa di tengah ngototnya ia ingin menjadi pemain basket profesional, ia adalah salah satu dari dua siswa kelas 9 yang menjadi peraih nilai tertinggi nilai UN di mata pelajaran yang saya asuh, Bahasa Indonesia.

Amin Bannesi (Amin)

Semenjak keluar meninggalkan desa tempat lahir saya dan bertemu dengan orang-orang sekampung di tempat lain, entah itu di Kupang atau di luar Kupang, belum pernah saya mendengar ada yang bangga menyebut dirinya sebagai Orang Retraen. Baru ketika saya masuk kelas 7.3 waktu itu, teman-teman satu kelas Amin selalu memanggilnya dengan sebutan Orang Retraen. Ia sendiri tampak senang dan bangga sekali dengan itu.

Karena dia inilah saya pun ketika memperkenalkan diri mulai menyebut Retraen sebagai kampung sayaπŸ˜„. Kalau tidak, sebelumnya karena agak malas menjelaskan kepada orang, saya bilang saja tempat atau kampung saya itu di Buraen. Singkat. Selesai. Lebih mudah dikenal orang karena itu adalah pusatnya Amarasi Selatan dan memang nama tempat itu dulu juga sudah ada di peta-peta. Demikianlah, walau baru kelas 7 (kelas 1 SMP) kala itu, dia sudah memberikan pelajaran yang luar biasa kepada saya, bagaimana kau harus bangga akan tempat pertama kau mengirup aroma tanahπŸ˜„πŸ˜˜πŸ˜‡.

Selain itu, Amin juga adalah salah satu peserta anggota PAR SM GMIT Silo Naikoten 1 yang bersama-sama dengan Aldo mengikuti lomba PS di Bank TLM dan menyabet juara 1 itu. Mereka memang anak-anak SM yang rajin. Saat ini sementara mengikuti kelas katekisasi kalau tak salah saya dengar kemarin. Biarlah iman, karakter, dan semangat mereka tetap terjaga dan berada di koridor yang benar.

Andrew Edward Johannes (Andrew)

Andrew, kapten tim ini. Di kelas 7 sesuai KTSP, ada pelajaran mengenai puisi. Setelah mempelajari materi puisi, saya memberikan tugas rumah kepada mereka untuk menulis dua puisi yamg akan dibacakan di pertemuan berikutnya. Satu puisi mereka boleh pilih dari beberapa nama penyair yang saya sebutkan serta satu puisi lagi adalah karya mereka sendiri.

Dari puisi-puisi yang ditulis, puisi karya Andrew adalah salah satu yang menarik dan berkesan. Kalimat puisi seutuhnya sudah saya lupa. Akan tetapi, ada pilihan kata Andrew mengenai hujan yang digambarkannya sebagai awan menangis, merupakan pilihan kata yang menurut saya luar biasa untuk seorang anak kelas  7 apalagi kala itu sewaktu membacakan ia membawakannya dengan ekspresi yang sungguh sekaliπŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ˜ŠπŸ‘.

Jevon Djami Hau (Jevon) 

Statusnya sekarang adalah anggota elektif menulis. Awalnya hampir saja ia tak masuk (mencari ikon/simbol peace tapi tidak ada😊). Saya kurang percaya apakah ia benar-benar ingin bergabung atau karena ada motivasi lainπŸ˜‰. Walau sempat diragukan, ia telah membuktikan dirinya dengan membuat sebuah tulisan yang cukup baik di blognya, WeAreReady. Memang walau masih terdapat beberapa kekurangan terkait hal teknis, namun isinya sudah bagus. Reflektif. πŸ‘ sebab itulah yang diharapkanπŸ‘πŸ‘.

Wahyu Cristanto (Wahyu) 

Wahyu, seorang penutur Bahasa Indonesia yang baik. Ketika teman-teman lainnya adakalanya berbicara dengan guru menggunakan dialeg Kupang, ia tetap tenang menggunakan Bahasa Indonesia yang baik. Ada satu hal lain lagi yang saya ingat. Suatu hari ketika sekolah mengadakan puasa bersama untuk siswa kelas 9, ia saya lihat sewaktu istirahat pun ia ke mana-mana tetap mengantongi satu botol kecil. “Apa itu?” saya tanya. “Obat kumur,” katanya. “Buat apa?” terus saya cecari. Setelah ia jawab baru saya sadar, oh iya, kenapa juga mesti saya tanya. Agak o* juga saya. πŸ˜€ 

Selain pemain basket untuk DBL ini, ia juga adalah satu-satunya siswa SMA Lentera yang terpilih tahun lalu menjadi anggota Paskibra tingkat Kota dan bertugas sebagai penggerek bendera sayap (apakah benar sebutannya demikian?) kiri. Tahun ini, sebagai kakak, ia pun secara sukarela menjadi pelatih bagi beberapa adiknya di Lentera sebelum mereka mengikuti seleksi. Syukurlah, dua di antaranya lolos, Jenny dan Ellen.

Kurang lebih dua bulan lalu, salah satu mahasiswa TC UPH, kampus yang sama dengan saya, datang tergopoh-gopoh menghampiri saya. Ia menceritakan dengan rasa kagum dan takjub terkait penulisan anak-anak kelas 12 yang diawasinya. Saya lupa apa latar belakangnya, tapi kalau tak salah itu pertemuan pertama mereka dan sesi itu khusus perkenalan. Katanya, ia hanya meminta anak-anak untuk menuliskan apa kira-kira yang menjadi impian mereka beberapa tahun ke depan. Sementara mereka menulis, ia berkeliling dan membaca tulisan anak-anak. Betapa ia kaget dan takjub dengan cara berbahasa anak-anak dalam menulis. Salah satu dari beberapa anak yang ia kagumi tulisannya adalah Wahyu. Saking terkagum-kagumnya, ia sampai memotret lembaran kertas berisi tulisan Wahyu dan kawan-kawannya. Sewaktu menunjukkan pada saya foto berisi tulisan-tulisan itu pun matanya berbinar-binar karena rasa senang dan takjub. Mendengar itu, saya tentu ikut bahagia. Tentu. Terima kasih kepada Ibu Susy yang sudah menginfokan😚. 

Windi Bell (Inka) 

Dari semua yang saya buatkan cuplikannya ini, hanya Inka inilah yang tidak seangkatan mereka.

Inka, demikian ia disapa. Nama yang tertera di daftar hadirnya tidak ada kata Inka di sana. Nama resmi atau nama yang terdaftar adalah Windy Bell. Ia adalah anak wali saya ketika masuk kelas 7. Kami di kelas 7.3 yang kemudian oleh penghuninya, Messy dkk, kelas itu dinamai Seth Star.

Terkait anak satu ini, semula karena namanya yang di daftar resmi itu, saya mengira ia adalah seorang perempuan sehingga kartu selamat datang yang saya siapkan pun mengikuti warna yang sudah saya pilah untuk dibedakan antara yang laki-laki dan perempuan. Untungnya anak ini tingkat pengertiannya bagus. Ia tidak begitu terganggu dengan adanya kesalahan itu. Ia tetap tenang menerima kartu selamat datang dan berbaur dengan siswa yang lain. Ketika mengenalkan diri di kelas dan menyebut diri Inka, saya bertanya dari mana nama itu, ia hanya menjawab dirinya sendiri pun tidak tahu. Hanya kalau di rumah dan di lingkungan bermainnya ia selalu dipanggil Inka maka ia mengikuti saja nama panggilan itu.

Tapi di kelas 7.3, karena melihat tampangnya mirip-mirip putra seorang aktor hollywood, Will Smith, saya pun kadang iseng-iseng memanggilnya dengan nama Jaden Smith.

Inka ini pun pernah tergabung dalam satu grup olimpiade, SMP atau SMA, saya agak lupa. Tapi intinya dia juga punya kemampuan yang bagus di bidang sains, lebih spesifik di bidang apa saya agak lupa juga, tapi kalau tidak salah ingat, sepertinya di Math atau Fisika atau mungkin Biologi? Tunggulah, akan saya pastikan. Kalau sudah, tulisan ini akan direvisi😊.

Demikian cuplikan kesan terhadap beberapa anggota Tim Basket SMA Lentera Harapan Kupang. Bukan berarti dengan hanya mereka yang saya ciduk di sini, lantas pikirmu hanya mereka saja yang istimewa. Tidak. Saya tak punya pandangan semacam itu. Saya percaya setiap orang punya keunikan dan kesan masing-masing. Kalau di sini hanya mereka yang saya ambil, alasannya adalah selain menjadi bintang lapangan, mereka juga bintang di kelas saya, kelas Bahasa Indonesia, juga kelas elektif menulis, juga anak wali. Para anggota yang lain mungkin saja adalah bintang di kelas math, atau sains, atau seni budaya, atau lainnya, dan itu adalah keunggulan mereka masing-masingπŸ˜ŠπŸ™πŸ˜‡πŸ™.

Sudahlah. Saya sepertinya terlalu banyak cuap-cuap. Kesimpulannya, saya hanya ingin memberi apresiasi. Terima kasih telah menunjukkan bahwa bukan kalian yang dilihat, melainkan Dia yang hidup dalam kalian. Itulah yang terpenting dan berharga dari semua apa yang pernah ada di dunia. Jagalah dan lanjutkan semangat itu. Sebagai Lentera, teruslah bersinar. Sebagai Eagles, teruslah terbang dan jangan mudah menjadi lesu. Sebab kau tahu kenapa dan kepada siapa kau mengabdi. 

Cat: Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tuliskan, tentang hasil pengamatan bagaimana semangat itu tumbuh sejak dini dan terus dipelihara melewati banyak proses hingga beroleh buah sekarang, hanya kalau seperti itu maka mungkin bisa jadi satu buku khususπŸ˜‰πŸ˜œπŸ˜Ž.

Btw, sebelum menutup. Masih ada satu hal lagi yang mau juga saya pahatkan di sini. Bersyukur sekali mengingat dalam suatu obrolan tak resmi, ada satu celetukan yang terlontar keluar dari mulut seorang siswa, “Wah, Ibu, yang kemarin tu, kotong tahu betul, bukan kotong yang bermain. Itu Tuhan yang bermain.” Anak itu, inisialnya JN, mengomentari hasil pertandingan antara Tim Lentera dan Regina Pacis BajawaπŸ‘ŒπŸ‘πŸ‘ . SDG.  

Iklan

Menemukan Mutiara Berharga

PearlFacts

Sumber ilustrasi: National Geographic

Apa kau tahu perbedaan orang yang sudah menemukan kunci rahasia mendapat mutiara berharga dengan mereka yang belum? Baiklah, berikut ini penjabaran versi saya. Bukan ilmu paten. Hanya sedikit hasil yang diperoleh setelah proses berkelana saya πŸ˜‰ πŸ™‚

Mereka yang belum tentu masih akan mencari-cari dalam gelap, tak jua ketemu, mencari ke sana kemari, jatuh bangun ia, tertatih-tatih merangkak, meraba-raba, menduga, ketika mendapat sesuatu, ia pikir itu sudah yang ia cari, beberapa waktu kemudian baru ia sadar ternyata bukan. Maka pergilah ia mencari lagi, tertatih lagi, merangkak lagi, meraba-raba lagi, putus asa tak luput menghampiri.

Sementara mereka yang sudah menemukan kunci rahasia dan mendapat mutiara berharga itu memang tak harus lagi mencari-cari atau meraba-raba dalam gelap, tak harus lagi mengejar-ngejar. Memangnya apalagi yang mau dikejar kalau yang berharga itu sudah ia temukan? Tapi, apakah elok bahwa setelah mendapat yang berharga itu ia lantas tidur-tiduran dan mengkhayal kapan tiba waktunya ia disambut masuk gerbang kerajaan yang didamba-dambakan itu? Tidak. Sebab bila begitu, maka teranglah sesungguhnya ia belum mendapat mutiara berharga itu. Sebaliknya, kalau benar ia sudah mendapat, maka ia tentu tidak akan tinggal diam, melainkan keluar meninggalkan tempatnya sendiri sekalipun itu adalah istana yang megah–yang tak akan dipandangnya lagi sebagai yang paling berharga– pergi bersiar demi orang lain pun bisa mendapatkan mutiara berharga itu dan merasakan sukacita yang sama seperti dirinya. Segala terjal jalan dan onak duri yang mungkin ia temui bukan lagi seolah-olah kiamat, melainkan hanyalah ornamen-ornamen yang menjadi pelangi bagi jalannya. Putus asa, apa itu? Tak lagi ia kenal.

Perjalanan itu, memang belum usai. Ia masih harus terus berjalan. Namun bukan untuk dirinya sendiri lagi ia berjalan. Perjalanannya sekarang adalah untuk merangkul, merangkum mereka yang masih mencari-cari. Ia sesungguhnya bebas dan bahagia melakukannya.

Kupang, 26 September 2017

Lagi, Sebuah Teladan, Ketika Hidupmu sudah bukan tentang Engkau

Di dua sesi pertama pagi tadi di kelas 8.3, sempat saya bagikan cerita tentang semangat sang bapak ini. Betapa kobar semangatnya tak pernah surut sejak ia berumur lima (lima, hanya sebuah angka, mungkin juga tiga, mungkin juga satu, siapa benar-benar tahu). Sudah uzur dia, tapi semangatnya masih menyala-nyala menyiarkan kabar baik serta membereskan ‘akar pohon’ yang mulai membusuk. 

Nama bapak tua ini adalah Stephen Tong. Kalau merasa asing dengan namanya, silakan, ketik saja nama itu di mesin pencari google. Meski begitu, saya yakin internet belumlah terang-seterang-terangnya menyediakan semua info tentang beliau. Saya bersyukur sekali, dalam masa hidup saya yang seperti uap ini, pernah bertemu dengan orang semacam beliau, intens berada dalam lingkarannya, dan akhirnya menemukan apa yang selama ini saya cari setelah berkelana ke sana ke mari.

Satu hal perlu saya bagikan (kalau-kalau kau sempat membaca), bahwa ketika kau bisa membedakan hal mana yang paling utama dan mana yang tidak, mana yang paling berharga dan mana yang tidak, mana yang lebih dahulu dan mana yang belakangan, rasanya melegakan sekali, bahagia sekali, takjub sekali, “Oh, inikah?” πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡ Ini bukan lagi tentang saya. Tidak. Tentang saya sudah selesai. Tentang saya sudah tak ada lagi yang perlu dirisaukan. Tapi ini adalah mengenai kelanjutannya. Bagaimana penemuan berharga ini saya teruskan pada engkau sekalian agar mungkin dahagamu pun sekali terpuaskan dan sesudah itu selesai😚. Adalah tugas saya. Adalah tanggung jawab saya. SDG. πŸ˜‡πŸ™πŸ˜‡πŸ™πŸ˜‡πŸ™

Catatan: foto KKR Refo500 di Papua, diambil dari grup WA. Sudah juga dipublikasi melalui akun fb @reformedinjili

Proyek UTS Kelas 9

UTS kelas 9 kali ini,  mata pelajaran Bahasa Indonesia berkolaborasi dengan Fisika dan SBK.  Siswa-siswa membuat satu produk berupa pesawat sederhana yang ada rangkaian listriknya dengan memanfaatkan bahan bekas. Produk tersebut rencananya akan dibalut dengan gambar motif tenunan daerah NTT (begitu yang saya tangkap. akan saya perbaiki bila info ini salah). Itu bagian dari materi pelajaran Fisika dan SBK (Saya kurang tahu-belum tanya soalnya😘, kalau akan ada program lanjutan terkait produk-produk itu). Lalu, di bagian apa mata pelajaran Bahasa Indonesia?

Nah, materi pelajaran Bahasa Indonesia untuk proyek ini adalah membuat laporan hasil pengamatan serta mengkritik/memuji suatu karya (seni/produk) dengan bahasa yang lugas dan santun (demikian bunyi salah satu KD dalam pelajaran Bahasa Indonesia kelas 9  di KTSP). Jadi, tugas laporan serta membuat kritikan/pujian ini akan dikerjakan kalau proyek sudah selesai. 

Karena berkolaborasi, maka untuk sesi tiga mata pelajaran ini, siswa mengerjakan proyek tersebut. Mereka hanya diperkenankan bekerja di sekolah, khususnya pada mata pelajaran terkait. Sudah menjadi aturan sekolah bahwa setiap tugas yang dikerjakan dalam kelompok harus diselesaikan di sekolah. Hari ini, di satu sesi terakhir mata pelajaran saya, tepatnya sesi ke-4, siswa/i kelas 9.4 saya persilakan untuk mengerjakan proyek UTS mereka. Mereka mulai berkumpul dalam kelompok yang sudah ditentukan. Mengeluarkan barang bawaan mereka dan mulai bekerja. Salut dan senang melihat mereka bekerja dengan sungguh-sungguh. 
Di antara mereka, bahkan ada satu siswa yang paginya mengaku sakit (dan memang wajahnya terlihat pucat) mengatakan tetap datang ke sekolah karena mengingat tanggungjawabnya dalam proyek itu. Saya mendengar pengakuannya dan segera berlalu. Barulah di saat KBM itu saya lihat ternyata bagian dia memang cukup penting dalam kelompok mereka. Saya teringat pengakuannya pagi tadi. Luar biasa😚. Saya berdoa, semoga kegigihannya tetap datang ke sekolah walau dalam keadaan sakit sebab teringat akan proyek mereka ini bukan hanya untuk mendapat nilai baik semata, tapi adalah sikap tanggungjawabnya yang sudah merasuk dalam dirinyaπŸ˜„πŸ™πŸ˜‡. Demikian tulisan singkat ini. Mau ia tetap datang karena nilai atau karena tanggung jawab, saya tak benar-benar tahu, tapi minimal ia telah mengajarkan satu hal untuk saya, seorang ia saja mau meninggalkan sakitnya demi kepentingan bersamaπŸ˜±πŸ˜„πŸ˜š.
Catatan: Tulisan ini awalnya hanya untuk memahatkan salah satu sesi KBM hari ini di kelas 9.4. Tapi jadinya malah ke refleksi tentang siswa yang mengaku sakit tapi tetap datang ke sekolah demi proyek UTS.

Berbagi. Tak hanya Indah, tapi adalah Mulia

Bersyukur kepada Tuhan. Baru sadar selama ini ternyata saya berteman dengan salah satu dari sesama pengguna wordpress yang sangat luar biasa. πŸ‘πŸ˜‡ Salut kepada sang pemilik cerita yang sudah berbagi, Mas ShiqA, dan terutama kepada Dia, Sumber Harapan yang empunya rancangan terbaik.
πŸ˜‡”Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan ‘buta’?” Ia yang ditanyai pun menjawab,Β “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.“πŸ˜‡πŸ˜š (http://www.bibleforandroid.com)
Terima kasih, sudah berbagi, Mas. Diberkatilah Anda selalu agar terus menjadi inspirasi bagi orang lain. πŸ™πŸ˜šΒ Berbagi, tak hanya indah, tapi juga mulia. Salam…Β πŸ™πŸ˜‡πŸ˜Š

Sumber gambar : kompas.com Saya mulai mengidap skizofrenia sejak tahun 2011. Sejak menderita skizofrenia, sedikit demi sedikit banyak perilaku dan sikap yang berubah. Kehidupan menjadi lebih sulit dijalani dengan berbagai halusinasi dan delusi. Saya telah menjalani banyak pengobatan, baik alternatif maupun medis. Tapi tidak menunjukkan hasil apapun. Setidaknya baru di pertengahan tahun 2015 saya baru menunjukkanΒ […]

melalui 7 Tips untuk Penderita Skizofrenia β€”

Sebuah Nilai

Disapa dengan sebutan “Pak” 😊

Kalau sesuatu itu sudah benar, maka segala sangkaan, segala tafsiran, segala dugaan, atau penyangkalan apapun itu, tak akan pernah mengurangi nilai dari sesuatu yang sudah benar-benar tersebut. Contoh: Kalau kamu seorang perempuan, dan dalam satu percakapan, kau disapa sebagai “pak”, toh, kau tidak serta merta berubah menjadi bapak-bapak, atau berkurang nilaimu sebagai seorang anak perempuan, bukan? 😊 (ini yang saya alami πŸ˜„) Kalau kau adalah seorang manusia, dan kau dimaki atau dicerca misalnya dengan sebutan nama-nama binatang (tidak saya alami sih memang..namanya juga pemisalan), toh, kau tidak serta-merta berubah atau berkurang nilaimu dari manusia menjadi binatang, bukan?

Saya ingat dalam satu sesi di konvensi Refo500 kemarin di Kupang, Bapak Sucipto Subeno memaparkan dengan sangat baik beberapa contoh terkait hal ini. Sesuatu yang sudah pada hakikatnya benar itu dimisalkan begini, kalau kau itu sudah jelas cantik, atau sudah jelas tampan, atau pintar misalnya, ketika orang mengataimu jelek, buruk, atau bodoh, kau tentu tidak serta merta berubah jadi jelek, buruk, atau bodoh, maka itu kau tidak perlu jadi berang dan berbalik matamu memelototi orang itu lalu menghantam dia sampai babak belur. Kalau kau melakukan itu, maksudnya jadi berang lalu menghantam orang tersebut, itu berarti kau benar-benar seperti yang dikatai. Kau memang jelek, buruk, dan bodoh. πŸ˜„πŸ˜€

Contoh lain, warna biru tidak serta menjadi pudar atau berubah warna jadi hijau ketika 99 dari 100 orang beramai-ramai mengatakan itu warna hijau atau putih.

Jadi, demikianlah, ketika banyak orang di muka bumi ini terseret dan beramai-ramai mengusung dan mengampanyekan sesuatu yang jauh dari apa yang benar, bukan berarti yang diusung atau yang dikampanyekan itu adalah benar. Maka itu, jadilah berhikmat dan kerjakan apa yang menjadi bagianmu, bukan ikut-ikutan sekadar mendapat kepuasan sementara lalu setelah itu haus lagi, lalu mencari lagi, puas sebentar saja, lalu haus lagi, mencari lagi, dan begitu seterusnya.

Demikian yang saya pelajari pagi ini ketika membuka satu obrolan di grup kecil tempat saya bergabung.

Hidupku Bukan lagi tentang Aku, Melainkan Dia yang Mengutus Aku

Kalau bukan karena sesuatu yang teramat penting dan teramat berharga, kalau bukan untuk sesuatu yang teramat penting dan teramat berharga melebihi apapun di dunia, kenapa orang seperti ia mesti berpayah-payah? Apa yang ia cari? Apa yang ia kejar?
Bukankah ia seorang yang pandai dan berbakat dalam berbagai bidang? Bukankah semua bakatnya bisa dipakai untuk misalnya ia menumpuk harta kekayaan lalu di masa tua begini ia bisa hanya tinggal tidur-tiduran enak di sebuah vila bagus di satu tempat yang dikelilingi pemandangan indah dan bersantai menikmati kebahagiaan hari tua bersama istri dan anak cucu… ???…???…???

Berikut adalah beberapa foto yang saya ambil dari grup wa Panlok Refo500 Kupang dikirim salah satu anggota panitia pusat. Foto-foto ini adalah foto KKR di Manado yang merupakan rangkaian kegiatan Konvensi dan Kebaktian Nasional 500 Tahun Reformasi di 17 Kota Indonesia.

Foto-foto ini hanya sebagai refleksi saya untuk selalu ingat dan terjaga, “Hal apalagi yang kau cari, apa lagi yang perlu kau kejar? Tentang kau sendiri, sudah selesai. Urusan surga bukan lagi urusanmu. Semua sudah diselesaikan dalam Ia yang direncanakan-Nya di atas salib. Tugasmu, cerita agung itu hidup dari setiap kerjamu (apapun itu). Karena dan untuk itulah kau dipanggil.

 😘😘😍😘😍😍😘😍😘😍😘😘