Selamat kepada Tim Basket SMA Kristen 2 (Lentera Harapan) Kupang, Pemenang Honda DBL East Nusa Tenggara Series 2007

SMA Kristen 2 Kupang (Lentera Harapan) baru dua tahun belakangan ini berpartisipasi dalam Honda DBL yang untuk NTT baru dimulai tahun 2013 (kalau tak salah)😊

Setahun lalu Tim Lentera pernah mengikutkan diri juga. Sayang baru awal-awal masuk babak penyisihan langsung gugur. Padahal sewaktu roadshow DBL di sekolah, salah satu harian yang digandeng acara besar ini langsung menulis, “Tim Lentera Siap Menggebrak”. Wow, kedengaran berani sekali. Maka itu, untuk mendukung, di pertandingan pertama tahun lalu melawan SMA Katolik Giovani, hampir semua guru, beberapa siswa, dan beberapa orang tua pergi ke GOR.

Baru saja memasuki lapangan, tampang-tampang mereka langsung menarik perhatian. Bagaimana tidak, mereka dibilang sekumpulan anak-anak ganteng di sekolah. Sayang, ternyata yang dikatakan media sebelumnya, “Lentera Siap Menggebrak” terjawab sebaliknya seketika. Lentera harus pulang tanpa ada kesempatan bermain lagi di DBL tahun itu. Mimpi salah seorang pemainnya yang dipelihara sejak SMP harus diterima kenyataan pahitnya. Jatuh bertelut ia dan menangis di lantai GOR. Begitu besar mimpinya bermain di DBL tahun itu pupus. Betapa ia sudah betul-betul jatuh cinta pada basket sejak dari SMP sekalipun ada banyak bakat yang Tuhan titipkan padanya (tentang ini ada keping cerita lain yang juga akan saya tulis).

Namun dengan melewati banyak gejolak, pribadi setiap mereka dibentuk dan ditempa habis-habisan. Maksud saya bukan semacam kesengajaan penyiksaan diri, tapi adalah secara natural berjalan saja sampai terbentuklah pribadi-pribadi luar biasa, yang kemudian mewakili SMA Kristen 2 Kupang (Lentera Harapan) berlaga di Honda DBL Kupang tahun ini. Karakter mereka sebelum, selama, dan setelah pertandingan dengan memegang predikat sebagai Pemenang Honda DBL East Nusa Tenggara Series 2017Β di Kupang ini benar-benar memberikan kepuasan dan kebanggan tersendiri. Mereka telah menunjukkan sikap sebagaimana yang diharapkan dan didoakan. Tema-tema sekolah biarlah terus terpatri dalam dada merekaπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

Iklan

Presentasi Materi Resensi

Di kelas 9.2, kelompok Elen dkk mempresentasikan materi mereka mengenai penulisan resensi. Cara penyampaian mereka tenang, jelas, runut, dan dapat langsung dimengerti. Salah satu di antara anggota kelompok ini yakni Elen sendiri sangat (teramat sangat) baik dalam menjelaskan materi mereka. Anak ini membawakannya dengan cantik sekali. Di akhir presentasi, ketika ingin menunjukan kepada teman-temannya penjelasan penulisan resensi dari satu video youtube, speaker yang disiapkan ternyata tidak berfungsi dengan baik. Volume suara orang yang memaparkan video tersebut tidak terdengar untuk seisi kelas. Maka di sinilah Ayu tampil membacakan resensinya mengenai satu buku yang ia baca seminggu lalu, novel To Kill a Mockingbird buah pena (begitu kata Ayu) dari Harper LeeπŸ‘πŸ™πŸ˜‡.

Resensi yang dibacakan Ayu bagus. Bahasanya tidak rumit-rumit amat dan lebih dapat dimengerti. Kawan-kawan Elen dkk pun langsung melihat contoh resensi yang ditulis langsung oleh kawan mereka. Lebih mengena. Lebih nyata.

Kejadian di kelas ini sederhana namun ada sesuatu yang bisa dipelajari. Andai saja speaker dari kelompok Elen berfungsi baik, maka mungkin saja Ayu tak sempat berbagi resensi buku To Kill a Mockingbird yang sudah ia buat dengan sudah berpayah-payah sampai pukul 23.03 wita😊. Kawan-kawan Elen pun tak harus menganggap penulisan resensi adalah sesuatu yang berada jauh di atas awan-awan sana yang susah dijangkau. Tapi mereka melihat bahwa ada teman mereka sendiri saja sudah baik dalam menulis resensi. Maka amat tidak mungkin mereka tak bisa. Dengan kepercayaan itu, mungkin mulai kembali masuk sekolah seusai libur mid semester ini, mereka sudah bisa menulis resensi buku sendiri dari setiap buku yang mereka baca saat SSR.

Di Pertandingan Basket, Aku Melihat Tuhan

Melihat Tuhan adalah ketika melihat seseorang bekerja atau melakukan sesuatu dengan tekun dan sungguh dengan hatinya tertuju bukan kepada siapa-siapa atau apa-apa, melainkan hanya kepada Dia Sang Empunya. Meski ia masih punya banyak kekurangan namun ia berusaha semaksimal mungkin mengerjakan yang terbaik dirinya bisa mencapainya, sehingga setelah itu semuanya dikembalikan hanya kepada Yang Empunya. SDG.

Sesi foto bersama seusai pertandingan semifinal Honda DBL East Nusa Tenggara Series 2017 antara SMA Kristen 2 Kupang (SMA Lentera Harapan) dan SMA N 1 SoeπŸ˜šπŸ™.

Kalimat judul di atas terbersit pertama kali di menit ke-7 saat menonton pertandingan semifinal DBL antar SMA tahun 2017 di Kupang. Mungkin bagimu, judul tulisan ini berlebihan sekali. Ah, bukan apa peduliku, toh ini memang apa yang berenang-renang di kepalaku. Bahkan di menit-menit awal itupun, tetap kalimat itu terus berlagu. Peduli apa sebentar anak-anak akan lolos semi final ini dan bertanding lagi di final atau tidak, nyatanya aku melihat kerja Tuhan ada di situ, dan ini penting untuk aku menyaksikannya bagimu😊.

Sementara, di pinggir lapangan berdiri para pemandu sorak, anak-anak tim dance putri SMA Lentera Harapan, di bawah bimbingan Ibu Frida, seorang kawan dekatπŸ˜„, yang saya tahu betul ia selalu dan terus mengingatkan anak-anaknya tentang semua yang terkait seruan inti dari tema sekolah Lentera dari tahun ke tahun itu😚.

Sejak Hari Itu

Sejak hari itu, ada yang berbeda. Rasanya jadi berbeda. Melihat sesuatu jadi lebih berbeda. Melakukan sesuatu pun jadi berbeda. Segala kutipan emas yang pernah dibaca ataupun didengar jadi terang benderang, “oh, ini toh maksudnya”, “kutipan ini, emas, ambil dan pakai. kutipan ini, bukan emas, buang”. Tapi ketahuilah, yang kumaksud di sini, adalah lebih berharga daripada sekadar emas. 

Menemukan Mutiara Berharga

PearlFacts

Sumber ilustrasi: National Geographic

Apa kau tahu perbedaan orang yang sudah menemukan kunci rahasia mendapat mutiara berharga dengan mereka yang belum? Baiklah, berikut ini penjabaran versi saya. Bukan ilmu paten. Hanya sedikit hasil yang diperoleh setelah proses berkelana saya πŸ˜‰ πŸ™‚

Mereka yang belum tentu masih akan mencari-cari dalam gelap, tak jua ketemu, mencari ke sana kemari, jatuh bangun ia, tertatih-tatih merangkak, meraba-raba, menduga, ketika mendapat sesuatu, ia pikir itu sudah yang ia cari, beberapa waktu kemudian baru ia sadar ternyata bukan. Maka pergilah ia mencari lagi, tertatih lagi, merangkak lagi, meraba-raba lagi, putus asa tak luput menghampiri.

Sementara mereka yang sudah menemukan kunci rahasia dan mendapat mutiara berharga itu memang tak harus lagi mencari-cari atau meraba-raba dalam gelap, tak harus lagi mengejar-ngejar. Memangnya apalagi yang mau dikejar kalau yang berharga itu sudah ia temukan? Tapi, apakah elok bahwa setelah mendapat yang berharga itu ia lantas tidur-tiduran dan mengkhayal kapan tiba waktunya ia disambut masuk gerbang kerajaan yang didamba-dambakan itu? Tidak. Sebab bila begitu, maka teranglah sesungguhnya ia belum mendapat mutiara berharga itu. Sebaliknya, kalau benar ia sudah mendapat, maka ia tentu tidak akan tinggal diam, melainkan keluar meninggalkan tempatnya sendiri sekalipun itu adalah istana yang megah–yang tak akan dipandangnya lagi sebagai yang paling berharga– pergi bersiar demi orang lain pun bisa mendapatkan mutiara berharga itu dan merasakan sukacita yang sama seperti dirinya. Segala terjal jalan dan onak duri yang mungkin ia temui bukan lagi seolah-olah kiamat, melainkan hanyalah ornamen-ornamen yang menjadi pelangi bagi jalannya. Putus asa, apa itu? Tak lagi ia kenal.

Perjalanan itu, memang belum usai. Ia masih harus terus berjalan. Namun bukan untuk dirinya sendiri lagi ia berjalan. Perjalanannya sekarang adalah untuk merangkul, merangkum mereka yang masih mencari-cari. Ia sesungguhnya bebas dan bahagia melakukannya.

Kupang, 26 September 2017

…. and The Questions

Ceritanya, saya baru menyadari ada tulisan semacam ini di buku yang saya beli bulan Mei lalu di Makassar tepatnya di kegiatan MIWF 2017. Buku ini awalnya hanya tergeletak di atas meja karena saya sendiri belum sempat membacanya. Bukan karena tidak tertarik. Justru sebaliknya karena saya sangat teramat sangat menyukai ilustrasi-ilustrasi dalam buku ini, saya pun penasaran mencaritahu lebih lagi di internet tentang pembuat buku ini, Lala Bohang, teman kamar saya sewaktu di kegiatan MIWF 2017. Dari hasil pencarian itulah saya akhirnya menemukan blognya dan saya lebih intens memelototi blognya. Saya masih ingat sekali bahkan di Malang saat saya mengikuti satu kegiatan dari kemendikbud pun, di sela-sela waktu istirahat atau malam menjelang tidur, lembaran di layar hp yang akan saya buka adalah blognya tersebutπŸ˜„. Waktu itu masih hangat (anggap saja begitu) saya baru mengenal dan saya begitu penasaran seperti apa ia selain yang saya lihat di MIWF 2017 itu. Lumayan tulisan lamanya cukup banyak dan karena waktu yang terbatas saya hanya bisa membaca sesempatnya saja sehingga kau tahu saja, itu makan waktu berhari-hariπŸ˜„. 

Sayangnya intense mengikuti blog itu hanya sewaktu di Malang. Sepulangnya ke Kupang, karena ada buku baru lagi yang saya beli, perhatian saya malah kembali teralihkan. Dua buku Lala Bohang tetap tersimpan di atas meja bersama buku-buki lain yang belum sempat saya baca. 

Sampai hari ini, ketika ada seorang kawan saya melihat buku itu dan bilang ia salah satu yang mengagumi Lala Bohang sebagai seorang kreatif, saya pun ikut melirik buku itu, mengambilnya, membuka lembar per lembar dari awal, dan menyadari ada tulisan samacam itu di lembar pertamanya. Saya membacanya dan tertawa, mengingat pengalaman sewaktu kecil terkait hal bertanyaπŸ˜„πŸ˜…. 

(Bersambung… 😊)

#Catatan: Terima kasih kepada kawan yang kemudian jadi saudara, Ria… πŸ™ πŸ˜„πŸ˜‡

Lagi, Sebuah Teladan, Ketika Hidupmu sudah bukan tentang Engkau

Di dua sesi pertama pagi tadi di kelas 8.3, sempat saya bagikan cerita tentang semangat sang bapak ini. Betapa kobar semangatnya tak pernah surut sejak ia berumur lima (lima, hanya sebuah angka, mungkin juga tiga, mungkin juga satu, siapa benar-benar tahu). Sudah uzur dia, tapi semangatnya masih menyala-nyala menyiarkan kabar baik serta membereskan ‘akar pohon’ yang mulai membusuk. 

Nama bapak tua ini adalah Stephen Tong. Kalau merasa asing dengan namanya, silakan, ketik saja nama itu di mesin pencari google. Meski begitu, saya yakin internet belumlah terang-seterang-terangnya menyediakan semua info tentang beliau. Saya bersyukur sekali, dalam masa hidup saya yang seperti uap ini, pernah bertemu dengan orang semacam beliau, intens berada dalam lingkarannya, dan akhirnya menemukan apa yang selama ini saya cari setelah berkelana ke sana ke mari.

Satu hal perlu saya bagikan (kalau-kalau kau sempat membaca), bahwa ketika kau bisa membedakan hal mana yang paling utama dan mana yang tidak, mana yang paling berharga dan mana yang tidak, mana yang lebih dahulu dan mana yang belakangan, rasanya melegakan sekali, bahagia sekali, takjub sekali, “Oh, inikah?” πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡ Ini bukan lagi tentang saya. Tidak. Tentang saya sudah selesai. Tentang saya sudah tak ada lagi yang perlu dirisaukan. Tapi ini adalah mengenai kelanjutannya. Bagaimana penemuan berharga ini saya teruskan pada engkau sekalian agar mungkin dahagamu pun sekali terpuaskan dan sesudah itu selesai😚. Adalah tugas saya. Adalah tanggung jawab saya. SDG. πŸ˜‡πŸ™πŸ˜‡πŸ™πŸ˜‡πŸ™

Catatan: foto KKR Refo500 di Papua, diambil dari grup WA. Sudah juga dipublikasi melalui akun fb @reformedinjili