Share Your Story Here

Buka-buka wordpress. Katanya, share your story here. Sebagai salah satu pengguna yang sudah cukup lama, saya baru tahu kalau ada kalimat impulsif semacam itu di wordpress. Jangan-jangan sudah lama hanya saya saja yang baru sadar. Terlambat sadar. 😀

Btw, kalimat semacam itu tiada bedanya dengan di facebook dan bbm, what do you think? 😀 Memangnya kalau saya lagi mikir, apa perlu sekali kau tahu? Kepo mati ee…😜

Share your story here, setidaknya masih bisa diterimalah. Toh, perjalanan hidup kita ini adalah cerita.

Ok. Tapi bagaimana kalau saya tak punya cerita hari ini? 😉😊

Tak mungkinlah.

Benar. Tak mungkin seseorang tak punya cerita selama nafasnya masih keluar masuk hidung mulut. Sekalipun mungkin ia buta, tuli, lumpuh, atau dalam keadaan sakit apapun itu.

Bahkan tak punya cerita pun adalah sebuah cerita.

Contoh saja saya hari ini. 😀 Saya tak punya cerita hari ini. Tapi tetap saja saya bisa buat cerita hari ini tentang saya tak punya cerita hari ini begitu ditanya, what’s your story today? Share it here!

Ok. So, this is my story today. That I have no story to tell you. 😀😜😊

Jadi, berhentilah membaca. Tak ada lagi yang perlu kau tahu.

Masih membaca juga? Apa guna?

Ada.

Apa?

Sebuah kesimpulan.

Apa itu?

Tak ada cerita hari ini bukan berarti benar-benar tak ada.

Biarpun basi, saya akui.

Basi?

Sudah ditulis di atas, kan?

😝😊

Katanya kau mengakui. Lantas?

Tapi saat ini, biar saya simpan untuk diri sendiri dulu. Sepertinya terlalu sakral untuk diumbar-umbar di sini. 😉😊

😱😱😱, Halo, pembaca, kau mungkin bertanya, sekalipun mungkin di pikiranmu pertanyaan itu sama sekali tak terbersit, biar, saya mau pede-pede saja berpikir begitu biar ada bahan tulisan, lalu kenapa mesti kau tulis di sini kalau tak mau berbagi cerita hari ini? 😏

Ya, beginilah cara saya menikmati cerita saya hari ini. Daripada kau, punya cerita besar tak diceritakan.

😱😱😱 Sebenarnya kalimat itu patut ditujukan pada saya. Teguran telak buat saya. Punya cerita besar, tak mau berbagi.

Tak mau atau malas?

Dua-duanya. 😖😠😣

Seusai Tour Desa

Di mata air Kretan, Retraen, Amarasi Selatan

Kalau kemarin saya jadi tukang pos, maka hari ini saya beralih profesi. Sekalian juga mengistirahatkan badan, terutama pundak, yang sakit karena harus menahang setang motor kemarin sewaktu menjadi tukang pos. 🙂

Hari ini rumah kami dikunjungi sepupu-sepupu dari pihak mama. Empat anak dari tiga saudara perempuannya. Dua anak dari saudaranya Belo,  satu dari Soe, satu dari Oemofa. Keempat mereka sudah menjadi pemuda/i cakap. Salah satunya sudah dokter hewan,  sementara yang lainnya sementara di bangku kuliah, serta satunya lagi kemarin baru menyelesaikan masa SMA-nya.

Saya menikmati sekali hari ini menjadi guide mereka walaupun tour kami hanyalah berkeliling desa dengan berjalan kaki. Biar lebih menikmati suasana desa, katanya. Sambil berjalan saya mengandaikan alangkah indahnya bila desa tempat tinggal saya ini bisa jadi desa wisata. 😀 Sebenarnya bisa sekali. Tinggal kita mengelolanya saja. Toh, kemarin sewaktu saya berkeliling baru beberapa tempat saja di seputaran Amarasi, saya cukup menikmati bahkan dengan jalanan yang banyak berlubang itu. Saya yang orang asli sini saja suka melihat suasana desa-desa lain apalagi orang baru dari luar yang ingin sejenak meninggalkan kepenatan kota demi menghirup aroma desa. Hanya saja sayang, infrastruktur jalan di desa-desa ini memprihatinkan. Demikian juga penataan desanya. Rumah-rumah dan pekarangan yang saya lihat sekarang seolah hanya sekadar dibangun untuk melindungi diri dan hujan angin dan terik matahari. Tak lagi dirawat. Satu pot bunga di rumahpun bahkan tak ada, terutama di desa ini. Pekarangan rumahpun seolah sudah ditinggal beberapa bulan sehingga rumput dan semakpun bisa menjalar di mana-mana dan tak terjamah.

Saya ingat sewaktu saya SD, di desa ini hampir setiap rumah pasti ada bunga di depan rumahnya. Taman-taman di tempat-tempat umum seperti di gereja,  sekolah, klinik/postu, pasti selalu terawat. Setiap orang seperti berlomba di rumahnya harus tak boleh kosong tanpa tanaman. Bahkan pernah ada program desa atau kecamatan waktu itu, dari bagian PKK, mengharuskan setiap rumah untuk mengadakan dapur hidup. Saya ingat jelas suatu pagi,  para ibu PKK berkeliling dari satu rumah ke rumah lain, memeriksa dapur hidup di setiap rumah. Bagi yang tak punya, akan dikenakan denda.

Selain itu, ada lagi satu tempat yang saya kira, kalau seandainya masih eksis di hari-hari ini,  bisa-bisa ia dijadikan tempat wisata. Tempat itu, sonaf, begitu kami menyebutnya, adalah bekas tempat tinggal raja dulu.

Lokasi itu cukup luas.  Di dalamnya terdapat beraneka pohon buah dan bunga. Aliran air dari sumber air yang terletak di seberang jalannya pun lancar. Rumput hias yang hijau nan cantik menghampar memenuhi halaman depan dan samping. Tanaman pandan yang tumbuh di sekeliling pinggiran kolam kecil di pekarangan samping pun tak mau kalah dengan bunga-bunga lain menguarkan aroma khasnya.

Walau tempat itu cukup bagus dan menarik, oleh mereka yang semestinya tinggal dan merawatnya justru meninggalkannya terbengkalai. Petugas yang kepadanya diberi wewenang menjaga tak setiap hari berada di sana. Makin lama tempat itu semakin tak terurus.

Hari ini bisa kau lihat, tak ada lagi sisa-sisa keindahan yang dulu sewaktu SD pernah saya sanjung dan kagumi,  sekaligus saya takuti karena konon rumah itu semacam ada penunggu rahasianya yang membuat anak-anak kecil yang berangkat atau pergi ke sekolah tak pernah mau melewatinya seorang diri kalau tidak dengan berlari atau bahkan orang-orang dewasa pun akan berpikir berkali-kali lipat untuk melewatinya di malam hari. Tempat itu semacam radley place  di mata Scout dalam novel To Kill a Mockingbird. 

Hari ini, sonaf adalah simbol keruntuhan desa yang dulu pernah saya sanjung dan saya kagumi. Sebagaimana sonaf yang terlihat mati dan kerontang, maka demikian juga penampakan rumah-rumah di sekitaran desa. Mereka sudah nampak tua dan mati. Hanya beberapa saja yang masih terlihat mau merawat pekarangan rumahnya entah dengan menanam sayuran, entah dengan meletakan beberapa pot bunga di depan rumah, atau dengan cara-cara lainnya yang membuat suasana dan penampakan rumah menjadi lebih hidup.

Oh ya, tentang foto di atas, adalah satu-satunya yang sempat saya abadikan sebelum baterai hp saya melemah dan mati total. Ketiga orang tersebut adalah sepupu laki-laki saya dari tiga saudara perempuan ibu. Latar fotonya adalah mata air Kretan, sumber air yang kira-kira berjarak 200-300 meter dari rumah kami.

Anak-anak ini, selain manis-manis budi bahasa, laku, dan hati mereka (poin penting), sebagai pengagum Nicholas Saputra dan Chris Pine, saya akui cucu-cucu Bai Lewi dan Nene Pina tak boleh diragukan ketampanannya (sekaligus kecantikannya bagi yang cewek, eh, Sang Nona tak sempat saya ambil fotonya karena lowbat itulah) 😉😊😇

Jalan-jalan di Amarasi dan To Kill a Mockingbird

Ternyata tidak mudah memang berkeliling Amarasi. Medannya sungguh aduhai. Jalan-jalannya bahkan jalan lintasan desa sekalipun masih banyak berlubang. Ini jalan lintasan desa,  Bung,  bukan jalan gang atau lorong-lorong.

Saya tak sempat mengambil banyak foto memang. Sebab saya harus menyetir. Di belakang ada adik sepupu saya, bukannya tak bisa memotret, tapi ia seorang anak SD yang bahkan untuk melepas pegangan saja tak mau dia, apalagi memegang hp.

Badan ini jadi sakit.  Biarpun demikian, misi membaca To Kill a Mockingbird versi bahasa aslinya mesti tetap jalan. Bagus buku ini. Dalam dialognya, benar-benar menggunakan Bahasa Inggris sehari-hari. Saya mesti berpikir ulang,  ini maksud kalimatnya apa.  Sebab kalau dalam terjemahan Bahasa Indonesia, bahasanya lurus-lurus saja, dalam artian menggunakan Bahasa Indonesia yang baik, tidak terbaca dialegnya. Nah,  dalam versi aslinya inilah,  kau bisa merasakan langsung bunyi percakapan Scout,  Jem, Dill, dan teman sebaya mereka lainnya.

Tukang Pos

 

Liburan sekolah sudah seminggu lebih berlalu. Saya nyaris tak menyadarinya. Seminggu ini saya mengerjakan beberapa hal yang memang hanya bisa lancar dikerjakan saat liburan. Memang belum selesai benar-benar. Hanya, ya, setidaknya ada yang dibereskan daripada tidak sama sekali. Semoga hal baru yang dipelajari daripadanya benar-benar bertahan dan tak mudah meluap begitu saja.

Sekarang sudah memasuki minggu kedua. Saatnya sesuai agenda, saya akan mulai berkeliling Amarasi. Ada beberpa surat yang perlu saya sampaikan dari satu tempat ke tempat lain. Lumayan buat lebih mengenal pelosok-pelosok daerahnya. Toh, itu negeri tempat saya lahir, tapi selama ini saya hanya bolak-balik selatan-utara-selatan. Jarang bahkan terkadang hanya sekilas mengenal bagian barat atau timurnya. Baiklah, kegiatan ini jadilah ibadah.

Pusing dengan Doktrin Predestinasi?  

Menyelesaikan satu buku yang saya baca beberapa hari ini, saya pikir, bagian inilah yang paling berkesan. Tulisan singkat yang sangat mendukung keputusan saya setelah saya pun pernah dibuat pusing gegara sewaktu kuliah dan bahkan sesudahnya orang-orang di sekeliling saya masih suka sekali berdebat tentang doktrin predestinasi.

 If I am condemned not to love you in eternity, I can at least love you with all my power during this life ~ Francis de Sales

 

Amazing Kids

Tiga video keren hari ini 🙂 :3 :3 :3 🙂 :3 🙂 :3 🙂

I’d Do Anything dari cuplikan film Oliver. Akan lebih baik bila kau sudah membaca terlebih dahulu novel Oliver Twist yang ditulis oleh Charles Dickens 🙂 Walau sebenarnya dalam filmnya cerita tidak benar-benar serupa buku (biasalah) 🙂

Food Glorious Food
Sama. Dari cuplikan film yang sama, Oliver

Pie Jesu oleh Andrew Johnson

Bermula dari satu artikel milik sesama pengguna wordpress

Demikian tiga video hari ini, sebenarnya lebih terkait kepada bocah-bocah keren yang tentu sekarang mereka sudah tak lagi sebagai bocah. 🙂