Menyinggahi Bukit Cinta Penfui

Sudah beberapa konsep yang mau diposting. Sayang, kekuatan sinyal tak mendukung untuk menyertakan foto. Sementara kalau postingan tanpa foto, berasa seperti ada yang kurang.

Btw, apa yang mau saya tulis sebenarnya. Oh, ya, tentang salah satu bukit di daerah Penfui. Bukit itu oleh orang-orang sekarang lebih dikenal karena keindahan dan pemandangan dari sananya dibanding sejarahnya. Padahal, bukit itu menyimpan sejarah yang cukup bernilai.

Di sekitaran bukit itu banyak sekali terdapat gua-gua kecil dan lubang perlindungan juga tiang gantung. Bukit itu sangat luas. Sejauh memandang, kita dapat melihat hampir keseluruhan daerah kota dan kabupaten Kupang di bawahnya.

Saya pernah mendengar secuplik cerita tentang perang Penfui dari bacaan internet kalau tak salah. Hanya saya tak menyangka daerah perlindungan itu tepat di bukit yabg disebut orang bukit cinta itu. Aneh, bukit bersejarah itu lebih dikenal dengan embel-embel cintanya daripada sejarahnya. Kenapa tidak dinamakan saja bukit perlindungan atau apalah yang setidaknya mengingatkan orang akan sejarah perjuangan orang-orang Kupang mempertahankan tanah leluhurnya.

Yah, cukup sekian dulu cuap-cuap kali ini. Btw, selamat natal untuk kita semua. Salam damai🌱🌴🌷🍀🌵🌿🌾😊

Iklan

Belajar Mengerti

Mama saya 12 bersaudara. Sama seperti jumlah anak-anak Yakub. Bedanya jumlah laki-laki dan perempuan. Dalam keluarga mama, mereka ada empat laki-laki dan delapan perempuan. Di antara mereka ada yang kembar. Salah satunya mama.

Semalam saya mendapat kabar, salah satu om dipanggil Tuhan. Sewaktu mendengar itu, saya tak tahu berespons apa. Lebih condong ke datar-datar saja. Toh, selama hidup, saya tak pernah bertemu beliau. Ia sudah merantau di Jakarta sebelum saya lahir, bahkan ketika adik-adiknya masih bocah, contohnya mama saya baru 12 tahun, dan bertahun-tahun di sana tak kembali.

Mama dan bapak menikah hingga lahir saya pun, mungkin ia tak pernah tahu. Nama saya pun mungkin tak pernah ia dengar. Entahlah.

Ia bekerja di Jakarta dan tak pernah pulang. Selama saya kuliah di Tangerang dan sering bolak-balik ke Jakarta pun, kami tidak pernah bertemu.

Pernah suatu kali libur natal tahun baru, saya bertanya ke sana-sini nomor hp-nya. Dapat. Menelpon untuk kalau bisa sempat berkunjung ke sana. Beberapa kali telpon. Katanya ia atau putranya atau mungkin satu anak buahnya (ia termasuk salah satu bos, kata orang begitu, di tempat kerjanya). Tapi ditunggu-tunggu, hari-hari libur makin menipis.

Syukur ada kawan kamar saya, orang Batak tinggal di Bogor, mengajak saya berlibur di rumahnya. Keluarganya yang baik hati itu membuat saya seperti berada di tengah keluarga sendiri. Mengisi hari libur dengan mengunjungi hampir semua saudara bersaudara mereka selama masa natal dan tahun baru di sana. Tak hanya berkunjung ke rumah-rumah bapa-mama tua mudanya, tapi juga beberapa tempat wisata sekitaran Bogor. Saya terlalu menikmati masa liburan di Bogor hingga lupa kalau sempat berharap pergi berlibur di rumah kakak mama itu. Ketika libur tinggal beberapa hari lagi, datang telpon dari om. Meminta maaf karena tak sempat menjemput. Saya iyakan saja. Toh, saya sudah berlibur di rumah kawan saya. Saya maklumi saja. Mungkin ia sibuk. Lagipula, siapa saya. Adik kandungnya sendiri ia tak lagi tahu-menahu, apalagi saya.

Sejak itu anggapan yang dulu pernah ada semakin kokoh. Menyebut ia, siapa itu? Apakah ada pengaruh? Tidak. Bahkan sekuku pun. Sudah saja. Mari bicara yang lain.

Dan, segala baru terang hari ini, ketika saudara-saudaranya yang lain berkumpul dan saling bertukar cerita. Baru saya tahu, ternyata ia punya alasan kenapa ia begitu abai terhadap saudara-saudarinya apalagi anak-anak mereka bahkan ayah-ibu kandungnya sendiri. Saya baru belajar mengerti. Yah, sedang belajar mengerti meski tak sepenuhnya setuju dengan tindakannya. Hanya mau belajar mengerti saja, dan berusaha menarik kembali rasa marah saya.

Kunjungan ke TK Lentera Harapan Kupang

Senin, 11 Desember 2017, beberapa siswa mewakili SMP Lentera Harapan Kupang diminta melayani di TK Lentera Harapan Kupang. Karen jarak SMP ke TK kurang lebih 3 km dan memakan waktu kira-kira 20 menit dengan mobil, maka kami berangkat pagi-pagi sekali.

Di sana, siswa-siswa SMP yang sudah mendapat tugas masing-masing mengerjakan bagian mereka. Ada yang bertugas sebagai MC, ada yang bertugas doa, bercerita, pemandu games, dsb. Puji Tuhan, kegiatan tersebut berjalan baik hingga selesai. Adek-adek TK senang dan merasa terberkati, kakak-kakak SMP pun puas dan bersyukur. 😊

Siap Post Test Modul KK D dan KK F

Baru-baru ini saya dipercaya menjadi fasilitator untuk salah satu kegiatan yang merupakan program Kemendikbud yakni PKB Moda Tatap Muka IN ON IN pola 20-20-20. Karena mata pelajaran kami Bahasa Indonesia, maka pusat belajarnya bertempat di sekolah yang dipimpin ketua komunitas MGMP yakni SMPN 16 Kupang.

IMG_20171203_132225.jpg

Sumber foto: Ibu Luisa Adu

Dari 10 modul dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, di PKB Moda Tatap Muka IN ON IN Pola 20-20-20 ini, hanya dua modul yang kami kaji yaitu Kelompok Kompetensi (KK) D dan F. Materi pedagogik untuk KK D adalah Rancangan Pembelajaran, dan materi profesionalnya adalah Keterampilan Berbahasa dan Kaidah Bahasa Indonesia. Sedangkan untuk KK F, materi pedagogiknya adalah Model Pembelajaran dan materi profesionalnya adalah Apresiasi Puisi dan Prosa.

10 KK

Apa saja isi materinya? Di bawah nanti akan disajikan sedikit gambaran besar mengenai materi dari kedua modul tersebut.

Tujuan saya menulis di sini adalah supaya mengingatkan saya yang hampir pernah mati berdiri 😉😅 saat persiapan, juga sebagai salah satu bentuk doa dan dukungan semangat kepada para peserta PKB yang besok (Selasa, 5/12/17) ini mengikuti post test di TUK yang sudah ditentukan.

Peserta PKB Bahasa Indonesia SMP se-Kota Kupang pada saat kegiatan penutupan PKB

Berikut gambaran besar modul KK D dan KK F: 

Materi pedagogik KK D: Rancangan Pembelajaran

Rancangan pembelajaran ini mencakup pendekatan, metode, dan teknik. Pendekatan merupakan sikap atau pandangan yang berupa asumsi, metode yaitu prosedur mencapai tujuan, sedangkan teknik adalah cara mencapai tujuan sesuai metode yang dipakai. Lebih detailnya mengenai jenis pendekatan, macam-macam metode dan teknik.

Materi profesional KK D: Keterampilan Berbahasa dan Kaidah Bahasa Indonesia

Dalam Bahasa Indonesia (juga semua bahasa di dunia), ada empat keterampilan dasar yang harus dikuasai setiap orang di muka bumi. Empat keterampilan bahasa tersebut adalah berbicara, menyimak, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan tersebut saling berkaitan satu sama lain. Dituntut agar setiap orang mesti mengusainya meski tak selamanya seseorang harus terampil sempurna di keempat bagian tersebut.

Materi pedagogik KK F: Model Pembelajaran

Model pembelajaran mencakup project based learning atau pembelajaran berbasis proyek, problem based learning atau pembelajaran berbasis masalah, dan discovery learning atau pembelajaran yang menekankan pada penemuan. Selanjutnya lebih detail dibahas tentang langkah-langkah, kelebihan dan kekurangan dari ketiga model tersebut.

Materi profesionalnya: Apresiasi Puisi dan Prosa

Apresiasi puisi dan prosa yaitu dengan memperhatikan unsur instrinsik dan ekstrinsiknya. Beberapa orang yang disebut sebagai ahli menggolongkannya ke dalam beberapa tingkatan atau tahapan.

Demikian secuplik gambaran atau garis besar dari Modul KK D dan KK F Bahasa Indonesia SMP, juga sepotong doa untuk peserta PKB yang akan menghadapi post test.  Selamat bersiap. Selamat berjuang.

 

 

 

Makanan Bergizi ala Teachers’ Gathering bersama EduTraC Kupang

      ***Saya tak akan menuliskannya dengan judul ala media mainstream, misalnya, Rayakan Hari Guru, EduTraC bikin Teachers’ Gathering  😅😜😄

Hujan mengguyur Kupang setelah pukul 03.00 sore. Dengan mantel membungkus tubuh, saya memacu motor menuju tempat diadakannya Teachers’ Gathering, tepatnya di Kafe KupangKoe di daerah Oebobo, Kupang. Saya tiba belasan menit lewat dari waktu yang ditentukan yakni pukul 04.00 sore.

Sebelumnya saya sudah berjanji pada diri sendiri harus tiba di tempat acara sebelum waktu yang ditentukan. Sudah saya kirimkan pesan ke kawan saya, kami harus tiba sebelum pukul 04.00 sore. Sayang meski sudah bersiap sejak awal tapi karena hujan turun mendadak sebelum pukul 04, saya akhirnya menunggu sebentar dengan membuka-buka buku yang sementara dalam masa baca. Berpikir mungkin saja sebentar lagi hujan  reda. Sayang, mendekat pukul 04.00 sore itupun tak ada tanda-tanda hujan mereda. Maka bermodal tekad, saya membungkus ransel saya dengan mantelnya, lalu mengambil mantel untuk saya sendiri untuk kemudian memacu motor menerobos hujan.

IMG20171125162220.jpgSaya tiba ketika meja kursi sementara dikeringkan oleh mereka yang hadir lebih dulu di sana. Awalnya direncanakan meja kursi itu bertempat di luar, tapi karena di hujan maka dipindahkan di dalam teras.

Selesai orang mengatur tempat, saya menuju meja registrasi. Entahlah karena ini pertama kali, intinya hari itu (25/11/17) hanya dengan 15 ribu rupiah kau sudah mendapat materi berikut kudapannya. Seusai registrasi, saya memilih tempat paling depan dekat tempat stopkontak. 

Tak berselang lama, satu dua orang mulai datang, menempati kursi-kursi yang disediakan. Pengunjung yang sudah hadir disuguhi alunan musik, entahlah instrumen apa saya kurang hafal, sambil menunggu kedatangan peserta yang lain.

Acara dibuka beberapa menit kemudian. Saya tak sempat menengok jam. Ibu Elise sebagai pembawa acara membukanya dengan ucapan selamat datang kepada peserta. Dilanjutkan doa oleh Pak Grefer Pollo.

IMG20171125165030.jpgSebelum kesempatan diberikan kepada Pak Hengky sebagai pemateri, kami saling berkenalan satu sama lain karena peserta yang datang berasal dari sekolah yang berbeda baik di Kota Kupang maupun Kabupaten Kupang. Cara berkenalan kami tidak seperti biasanya sebab ada games kecil-kecilan dan sederhana yang dipandu sang pembawa acara😊. Saya sempat mengingat beberapa nama antara lain: Pak Ferdy Kana, guru SMP Kristen Mercusuar yang juga adalah Ketua MGMP Matematika SMP se-Kota Kupang, Pak Yapi dari SMPN 18, Pak Frans, Ibu Grace, Pak Yandry, Pak Yadi, Ibu Isabella, Ibu Maria, Ibu Sherly, Ibu Andry, Ibu Ery, serta beberapa nama lain yang tak sempat saya ingat, juga beberapa kawan saya dari Lentera yang baru menyusul kemudian.

Kami melakukan tes kekuatan otak/konsentrasi sebelum mikrofon benar-benar diberikan kepada Pak Hengky 🙂 n.b: backsound video ini bagus, Faded dari Alan Walker, satu DJ favorit saya bermula dari lagu Alone yang keren itu :3 😉

Seusai tes kekuatan otak/konsentrasi yang cukup seru itu walau banyak di antara peserta yang sudah pernah melakukannya, kami semua diminta berdiri untuk bersama-sama menyanyikan lagu Jasamu Guru ciptaan Isfanhari. Sebuah lagu edukatif yang memang sekarang jarang atau hampir tak terdengar meski pernah berjaya karena tayang di TVRI tahun 1990-an. Kami menyanyikannya bersama diiringi musik oleh Pak Grefer.

IMG20171125170910.jpgDengan selesai bernyanyi bersama itulah, saatnya mikrofon diberikan kepada Pak Hengky sebagai pemateri hari itu.

Pak Hengky membukanya dengan bertanya demi mengenal lebih dekat audiens. Siapa yang sudah paling lama mengajar dan siapa yang baru saja terjun ke dalam dunia mengajar. Di antara peserta yang hadir, terdapat seorang yang sudah lama terjun dalam dunia mengajar yakni lebih dari 27 tahun. Beliau adalah Pak Frans (saya lupa dari SMP mana, akan saya tanyakan setelah ini, tapi yang jelas adalah SMP Negeri :)). Berikutnya menuju yang paling muda, belum sampai setahun mengajar. Banyak ternyata. Paling banyak berasal dari Sekolah Kasih Karunia, salah satu sekolah swasta yang berlokasi di Kabupaten Kupang. Demikianlah peserta Teachers’ Gathering hari itu beragam. Dari sekolah negeri maupun swasta, dari yang sudah makan asam garam hingga yang paling ‘hijau’ termasuk saya. Dengan ada wadah semacam ini, para guru bisa berkumpul bersama untuk saling berbagi dan melengkapi satu sama lain.

Selanjutnya beranjak dari pengenalan audies itu, kami diajak menyaksikan video pertama, I am a teacher and I believe I can make a difference.

Memang video tersebut berbahasa Inggris. Tapi Pak Hengky pun menjelaskan garis besar terjemahannya. Lagipula kalimat-kalimatnya masih terbilang sederhana sehingga sebenarnya mudah diikuti. Ada penjelasan singkat mengenai video tersebut. Saya tak perlu menuliskan di sini. Silakan baca dan resapi sendiri. Lebih bertahan lama kalau kau yang mencerna dan menemukan maknanya sendiri, bukan? 😊 Intinya adalah keyakinanmu sebagai seorang guru, dengan kacamata yang kau pakai untuk melihat keistimewaan dan keunikan setiap murid, kau dapat memberi warna berbeda dalam hidup mereka.

IMG20171125171830.jpgMasuk kepada penjelasan, Pak Hengky memaparkan tentang tantangan-tantangan pendidikan masa kini. Ada dua poin penting yang ditampilkan di layar.  Sayang karena saat itu matahari sore mulai memunculkan cahayanya sehingga saya tak bisa dengan jelas membaca apa yang tertera layar tersebut. Tapi dari penjelasan lisan saya sempat menangkap kalau tak salah itu dua-duanya berkaitan dengan perkembangan teknologi. Dilanjutkan dengan perbedaan perkembangan generasi demi generasi. Dari generasi masa lampau hingga generasi sekarang yang dikenal dengan sebutan alpha. Ada teorinya. Silakan cari di internet, ini salah satunya -> Generasi XYZalpha atau bisa juga di Sejarah Perkembangan Teknologi Informasi. Bahkan ada satu film baru berjudul The Circle (yang merupakan adaptasi dari novel Dave Eggers berjudul sama) sempat disinggung berkaitan dengan kecanggihan teknologi di masa yang akan datang, serta kabar terbaru tentang Anthony Levandowski dengan Artificial Intelligence atau yang dikenal dengan konsep agama barunya, The Way of Future.

Dengan pengantar demikian, masuklah peserta diajak berpikir bersama.

Mencermati fenomena perkembangan teknologi sedemikian, di mana siswa lebih bisa dengan cepat dan mudah mengakses segala pengetahuan, kita sebagai guru sudah sampai sejauh mana? Masih relevankah kehadiran seorang guru di dalam kelas? Masihkah keberadaan guru di kelas atau sekolah dibutuhkan?

Peserta diajak berefleksi sejenak sebelum kemudian dilanjutkan dengan menonton bersama video berikutnya, Because of a Teacher.

Secara garis besar, video tersebut menunjukkan siswa dapat merasa aman, menjadi pembaca, pemecah masalah atau pemberi solusi, ilmuwan, pencatat sejarah,  aktif (bergerak), bekerja melalui jaringan, menemukan talente unik masing-masing, berkomunikasi global, jatuh cinta dengan kegiatan membaca sehingga menjadi pembelajar sepanjang hayat, semua itu dapat terjadi karena pengaruh seorang guru. Melalui murid-muridnyalah, seorang guru dapat mengubah dunia.

Dengan video tersebut, pertanyaan pengantar di atas terjawab. Bahwa:

Meski perkembangan teknologi mau sehebat apapun, kehadiran seorang guru tetap diperlukan. Keberadaan kita sebagai seorang guru tetap dibutuhkan. Karena keberadaan kita melampaui sekadar a+b+u=abu atau 1+1=2.

TG

Sumber foto: Dok EduTraC

Relevansinya dengan profil Kota Kupang saat ini (karena memang fokus pembahasan ini baru dimaksudkan hanya dalam lingkup Kota Kupang), sesuai data statistik, diperkirakan ± 120.000 jiwa adalah usia belajar (5-19 tahun). Sebagai guru, itulah ladang yang kau garap. Sementara itu di media massa atau media sosial tersebar beragam perilaku anak-anak usia belajar ini. Contohnya bisa kau amati di lingkungan sekitar.  Melihat gambaran profil dan situasi tersebut, di manakah kau yang bilang, I am a teacher and I believe I can make a difference”? Bukankah sebagai guru, kau mesti punya kepedulian dan passion yang lebih tentang ini? (Telak! Teguran sekaligus peringatan). Lantas, apa yang bisa kau suarakan, tentang bagaimana menjadi seorang guru yang berkualitas? Selanjutnya cobalah saksikan video berikut!

Sedikit gambaran dari video tersebut (bukan rangkuman sebab saya hanya ambil bagian tertentu) adalah tidak susah sebenarnya menjadi guru berkualitas.

Mengajarlah dengan hati. Buatlah aksi. Ajarlah dirimu sendiri terlebih dahulu, dan jadilah inspirasi.

Guru biasa menasihati, guru yang baik menjelaskan, guru yang unggul mendemonstrasikan, guru yang hebat menginspirasi. Bermainlah bersama mereka, belajar bersama mereka, berpikir bersama mereka, bimbing mereka, biarkan mereka berpikir di luar kotak. Hanya kau yang mampu melakukannya. Karena kau seorang guru. Buatlah mereka percaya para diri mereka. Pengaruh seorang guru yang hebat tak mudah lekang oleh waktu.  Maka, buatkan aksi mulai hari ini. Jangan tunggu orang lain berubah. Hanya kau yang bisa membuat perubahan itu. Change yourself first and inspire other.

Btw, ini kalimat dong su ke mau ganti Mario Teguh sa … 😀 Biar, toh, itu video di atas juga judulnya motivasi buat guru.  Ringkasnya adalah

guru yang baik mengajar, guru yang hebat menginspirasi.

Demikianlah sesi pemateri sampai di sini. Beliau tak banyak menceramahi harus begini harus begitu. Tapi seperti yang diikuti, beliau lebih kepada memberi api semangat kepada para guru yang mungkin apinya hampir padam.

Tibalah waktunya untuk peserta saling berdiskusi. Peserta diminta duduk dalam berkelompok. Sayang, mungkin bagian ini salah satu yang menjadi catatan untuk pengurus –EduTraC– nanti perbaikan ke depannya. Memang pembentukan kelompok tak sericuh anak-anak murid di kelas ketika diminta duduk berkelompok. Tapi mungkin perlu dipikirkan strategi pembagian kelompok diskusi agar ini pun menjadi contoh langsung kepada bapak/ibu guru tentang teknik pembentukan kelompok agar bisa diterapkan dalam pembelajaran di kelas sebagaimana games kreatif di awal tadi (Saya menulis ini pun juga sebagai refleksi saya terhadap kelas PKB yang saya fasilitasi kemarin di SMPN 16. Karena beberapa hal teknis, rencana saya membentuk kelompok itu tak jadi hingga saya menyesal setengah mati–untung tidak mampus 😉 😄).

Di sesi diskusi ini, ada tiga pertanyaan diberikan sebagai panduan. 1) Hal baru apa yang diperoleh dari materi yang baru saja disampaikan? 2) Apa yang bisa kita suarakan untuk pendidikan Kota Kupang yang lebih baik? 3) Apa yang bisa kita lakukan untuk menjadikan Kota Kupang sebagai salah satu kota pendidikan yang berkualitas?

Meski tak ada games atau strategi untuk pembentukan kelompok, peserta memang tetap diarahkan untuk berbaur dan peserta pun adalah orang-orang bijak nan terpilih yang dengan gesit segera bergerak untuk berbaur. Dari yang sudah kenyang makan asam garam bergabung dengan masih hijau –termasuk saya–, dari yang di sekolah negeri berbaur dengan sekolah swasta. Di kelompok kami sendiri ada enam orang dengan sekolah berbeda.

IMG20171125181717.jpgSesi diskusi berjalan seru ketika kudapan dengan minuman yang dipesan sebelumnya di meja registrasi mulai diedarkan. Ada pisang rebus, singkong rebus, ubi jalar rebus, ubi goreng, pisang goreng. Intinya semua kudapan itu berupa pangan lokal. Bahkan minumannya pun minuman sehat. Daftar minuman sudah ada di meja registrasi ketika kita mendaftar. Saya sendiri bahkan ketika baru datang dan saat disodorkan daftar pilihan minuman, saya mencari-cari di mana yang ada tulisan kopi. Membaca dengan cermat dari atas ke bawah lalu mengulang lagi dari bawah ke atas tapi sungguh tak ada tulisan kopi saya temukan. Yang ada hanya beraneka jenis teh, beraneka minuman jahe, serta beraneka pilihan jus. Saya sempat bertanya, kenapa tak ada kopi padahal tempat ini jelas-jelas adalah kafe dan namanya saja KupangKoe (+pi?:D). Oleh Ibu Welly yang adalah koordinator EduTraC ini saya dijawab, Untuk bapak/ibu guru tidak disediakan kopi. Semuanya harus minuman sehat. 😅😂 Okelah kalau begitu. Demikian saya memesan jus alpukat untuk malam yang sejuk itu 😄.

IMG20171125181730.jpgBeberapa menit diskusi berjalan. Saya tak melihat jam mulai dan berakhirnya. Tapi sepertinya tak sampai setengah jam. Setiap perwakilan kelompok diminta mempresentasikan hasil diskusi. Ada Pak Yapi, Pak Frans, Ibu Grace, dan Ibu Sherly maju mewakili kelompok masing-masing.

Menanggapi tiga pertanyaan yang diajukan, datang beragam jawaban dari kelompok-kelompok diskusi tersebut. Kelompok pertama memberikan jawaban untuk pertanyaan tersebut yakni guru yang baik menjelaskan, guru yang hebat menginspirasi, maka tempatkanlah dirimu untuk menginspirasi bukan sekadar menjelaskan. Berikutnya kelompok dua, guru seharusnya menjadi inspirator dan motivator untuk peserta didik. Kelompok berikutnya maju dan menyatakan rasa syukurnya sebab kegiatan semacam ini sangat baik sebagai penyegaran buat para guru terutama yang tua atau senior. Mendukung apa yang baru saja dikatakan Pak Yapi sebelumnya, perlunya perkumpulan seperti ini agar baik yang sudah lama terjun dalam dunia mengajar ataupun yang baru mau masuk bisa saling berbagi satu sama lain. Jawaban untuk pertanyaannya, yakni guru tak hanya mengajar tapi juga menjadi motivator, tak mengandalkan kemampuan sendiri tapi juga perlu dan harus berusaha mengoptimalkan potensi setiap siswanya. Kelompok berikutnya maju dan memberi jawaban yang tak jauh berbeda dari tiga kelompok sebelumnya.

Berikutnya jawaban untuk pertanyaan kedua dan ketiga. Sebelumnya hampir semua peserta mengatakan untuk meniadakan kata Kota Kupang mengingat mereka yang datang tak hanya yang mengajar di kota melainkan juga di kabupaten. Jadilah Kota Kupang diperluas menjadi Kupang (merangkum kota dan kabupaten) bahkan katanya kalau bisa daratan Timor sekalian atau bahkan NTT😄.

Jadi apa yang bisa disuarakan bersama untuk dunia pendidikan di wilayah Kupang khususnya atau NTT umumnya yang lebih baik, serta apa yang bisa dilakukan untuk menjadikan Kupang atau NTT sebagai basis pendidikan yang berkualitas? Demikian rangkuman jawaban para peserta diskusi:

a) Bangun kesadaran guru agar berada dalam satu komunitas, baik komunitas yang dibentuk pemerintah ataupun non pemerintah. Dari pemerintah sendiri seperti yang baru-baru mulai digencarkan yakni MGMP. Dari non pemerintah bisa seperti yang dilakukan EduTraC ini.

b)  Guru harus mau rugi sedikit. Mau merogoh koceknya untuk belajar mengembangkan pengetahuannya. Bisa seperti yang sementara dilakukan. Anda datang ke tempat Kafe KupangKoe ini dengan bersedia merogoh kocek 15 ribu. Nah, ini baru 15 ribu. Kalau bisa, jangan sungkan juga untuk kegiatan serupa ini dengan biaya yang misalnya lebih jauh di atas 😄.

c) Membangun kerja-sama guru, orang tua, dan pemerintah demi bersama-sama memperhatikan peserta didik.

d) Bangun kesadaran guru untuk terus menggali potensi kreativitas yang (entahlah maksudnya di sini potensi kreativitas guru atau siswa, saya kurang dengar di sini karena ada gangguan teknis :))

e) Mau apapun dan bagaimanapun, karakter guru haruslah dibentuk terlebih dahulu. Segala inpirasi dan motivasi untuk siswa haruslah dimulai dari diri sang guru. Ia sendiri mau belajar atau tidak. Jangan sampai ia menuntut siswanya menjadi pembelajar seumur hidup, sementara ia kalau buat kesalahan dan mendapat sedikit kritikan saja ia berbalik melabrak dengan mata melotot.

f) Membangun taman baca dan perpustakaan yang lebih banyak. Dapat dilihat bahwa selama ini justru mereka yang bukan gurulah yang dengan intens dan giat-giatnya membangun taman-taman baca atau perpustakaan serta bersemangat memotivasi orang-orang untuk membaca. Di mana guru yang adalah pemberi inspirasi?

g) Perlunya banyak pelatihan atau workshop bagi guru-guru. Tidak hanya seminar formal yang menjual sertifikat semata untuk peserta lalu materi seminar hanyalah mengulang kembali teori-teori atau tips-tips yang bisa kau baca sendiri di internet.

h) Mungkin perlu adanya studi banding antar sekolah dalam kota atau kabupaten atau antara sekolah swasta dan negeri.

h) Berikut yang terakhir adalah pesan ‘sponsor’😄. “Ingat, kalau ada kegiatan serupa ini lagi, jangan kami dilupakan,” begitu pesannya (Ibu Sherly) sebelum ia mengembalikan mikrofon kepada pamateri😄.

Demikianlah presentasi hasil diskusi dari bapak/ibu guru yang catchy abis. Untuk tanggapan balik, sempat disinggung collaborative learning dan collaborative teaching, namun saya lebih tertarik kepada video yang diputar, I am A Teacher.  

Acara hari itu berakhir di pukul 19.00 wita sesuai kesepakatan. Tak banyak buang waktu untuk mendapat penyegaran luar biasa di hari guru, bukan? Saya bersyukur sekali, EduTraC menjadi penawar rasa sakit saya karena kemarin (Jumat, 25/11), demi memperingati hari guru kami berdiri di tengah aspal menatang panas di siang bolong berjam-jam sampai benar-benar seperti berada dalam kolam keringat sebelum kemudian berjalan menyusuri jalanan sepanjang beberapa kilo untuk kemudian tiba di garis akhir yang ditentukan lalu pulang dan menyesal bahwa belum semua perlengkapan EBAS siap di posisi masing-masing hingga di hari Senin (27/11) inilah baru kami tergopoh-gopoh menyelesaikan.

Sedikit refleksi saya, terang saja, sebenarnya kegiatan serupa ini bukanlah sesuatu yang baru karena PD rutin di Lentera biasa dibawakan serupa ini dan orang-orangnya mereka juga yang memang diberkati untuk bekerja di bagian ini. Saya merasakan bagaimana semangat saya sebagai guru pun dipupuk dalam PD-PD yang ada di sekolah baik yang dibawakan pihak internal sekolah maupun Tim PDCE tiap awal semester. Terkadang saya berpikir untuk menuliskan dan membagikannya agar orang-orang lain pun bisa mendapatkan seperti yang saya dapatkan dari PD-PD di sekolah. Hanya terkadang ketika berpikir demikian, datang juga bisikan, tak perlu, tak perlu, biarkan saja, biarkan mereka dengan mereka, dan kalian dengan kalian. Maka, pikiran-pikiran yang terbersit untuk berbagi materi-materi di PD pun perlahan-lahan layu lalu mati. Sekarang dengan adanya Teacher’s Gathering yang mengikutsertakan para guru dari sekolah-sekolah lain ini, kesampaian juga niat berbagi semangat menjadi guru ini. Mari, ucapkan terima kasih kepada Teachers’ Gathering dari EduTraC yang telah memberi warna berbeda di Kupang dalam rangka memaknai hari guru di tahun 2017. Biarlah Tuhan tetap dan terus berkarya melalui adamu🙏🙏🙏😊😇.

IMG-20171125-WA0069.jpg

Bersama tiga dari lima pengurus EduTraC. Dua di antaranya pernah menjadi petinggi Lentera Harapan Kupang :D, sementara satunya masih bersama kami

Sementara di bawah ini hanya bonus foto. Anggap saja sebagai hiasan dinding blog ini. Aksesoris begitulah.  🙂

Buku yang saya pegang itu judulnya Kekekalan. Ditulis oleh Milan Kundera. Untuk membaca buku itu, kalau kau seorang yang kurang membaca kayak saya, setidaknya ada HP di tangan. Biar sedikit-sedikit bisa buka  google 😀 🙂

Inspirator Ilustrasi Isi Buku Kumcer Persinggahan Bocah Indigo

Pesan masuk dari sang pelatih basket Lentera Kupang di grup whatsapp 😘😇

Anak ini, namanya Adriel Geraldo Elim. Biasa dipanggil Aldo, di rumah maupun di sekolah. Bagaimana pun, ia punya kesan tersendiri bagi saya.

Ia adalah inspirator ilustrasi buku pertama saya, sebuah kumpulan cerpen berjudul Persinggahan Bocah Indigo. Melalui dialah saya terpikirkan agar semua ilustrasi isi buku kumpulan cerpen saya adalah karya anak-anak murid yang saya ajar di SMP Lentera. Memang gambar mereka sederhana dan tak sekeren para ilustrator profesional. Tapi saya bangga merekalah ilustrator isi buku pertama saya. Ceritanya sudah saya tuliskan di tempat lain di blog ini.

Selain inspirator tadi, ia juga adalah salah satu peraih nilai tertinggi UN Bindo SMP beberapa tahun lalu. Memang UN bukan penentu dan bukan pula yang dikejar-kejar, tapi keberhasilan itu bagi saya punya nilai tersendiri.

Bulan September lalu ia dinobatkan sebagai MVP dalam ajang Honda DBL NTT series 2017. Dengan itu kemarin ia berangkat ke Surabaya untuk mengikuti kegiatan apalah itu selanjutnya. Dan hari ini, tepatnya malam ini, barulah datang kabar, di antara 300 lebih peserta se-Indonesia ia salah satu yang lolos dalam 50 besar untuk DBL Camp.  Adalah sebuah kebanggaan juga keharuan yang melingkupi saya sekarang. Terpujilah Engkau yang merangkai cerita ini. Betapa bagaimana dulu pernah di bangku SMP ia pernah mengungkapkan ingin menjadi pemain basket sebagaimana Michael Jordan dan semacam mereka itulah, dan kini ia sedang pelan-pelan bergerak ke arah sana. Dengan menulis sedikit cuap-cuap ini, saya hanya bisa mendoakan, Tuhan kiranya tetap berkarya di dalam perjalanan hidupnya 😊😘😍🙏😇.