Merayakan Keseharian

Momen Kairos 3 (13/6) Baca-Rita

 

Mau promosi stiker NASA 😉

Pertemuan yang di gambar ini jadinya memang sudah malam. Rencana awal kemarin, seusai mengajar di kelas Rabu Gembira, saya akan lanjut bertandang ke rumah Esty bersama Lala dan dua kawan lainnya. Ternyata dua kawan lainnya tak jadi ikut. Maka jadilah saya dan Lala memonopoli waktu Esty seharian ini. Selain kenyang cerita, kami juga kenyang makan. Tak hanya itu, saya sempat juga bertemu dan mendapat cerita khusus dari bapak Esty. Kami cukup nyambung karena bapak Esty adalah orang Amarasi, dari Marena-Baun😍😎. Inti dari semua ceritanya adalah andalkan dan tetap utamakan Tuhan. Meski singkat pertemuan itu, tapi saya selalu menyimpan khusus pesan-pesan beliau kalau ketemu :D. Pertama kali ketemu tahun 2010 di Jogja, beliau mendukung dan mendorong untuk saya terus menulis. Di tahun 2015, beliau terus mendorong untuk tetap bekerja keras dan selalu berdoa. Kali ini di masa tuanya, sama seperti Salomo di kitab Pengkhotbah, beliau menasihati agar tetap bersandar dan mengutamakan Tuhan, yang paling ditekankan adalah membaca alkitab, sebab firman Tuhan adalah makanan yang sangat penting bagi jiwa. “Masakan kita diinstruksikan makan 3 kali sehari lantas baca alkitab, berapa banyak sehari coba?” begitu katanya. Memang, bapak dan anak tidak jauh beda. Mereka sama-sama hidup untuk menginspirasi orang lain 👏👏😍.

Sampai sore kami di rumah Esty, karena cerita belum selesai-selesai juga, kami melanjutkan ke war-kon sekalian mau bertemu Ruru dan Itin. Cerita demi cerita dialirkan dari mulut Esty namun tak kunjung selesai. Ceritanya sungguh kaya. Jangan kau pikir kau baca banyak buku, nonton banyak film, pelototi vlog-vlog daily life negeri paman sam lantas kau tahu semua hal di sana. Jangan. Tidak semua yang ditampilkan adalah seperti demikian. Artinya, jangan kau hanya diperlihatkan, diceritakan, diajari, lantas kau sendiri bilang oh sudah..sudah saya sudah tahu. Alangkah baiknya kau pergi sendiri, alami dan rasakan. Biar kau tahu sendiri bagaimana rasanya ketika kau yang mengalaminya secara langsung. Jelas itu lebih berarti dan mengekal. 😉😄😅

Demikian satu momen berharga hari ini dibekukan dan dikekalkan.

Iklan
Merayakan Keseharian

Momen Kairos 2 (13/6): Mengajar di Kelas Rabu Gembira

Liburan sekolah sudah dimulai minggu ini. Lumayan liburnya sebulan. Rencana saya sebelumnya (lebih tepatnya beberapa hari belakangan ini), kalau memang minggu pertama saya belum pulang, maka alasan pertama dan yang menjadi satu-satunya alasan adalah banyak undangan pernikahan beberapa kawan di Lentera dan Dian.

Namun, siapa sangka kemarin saya diajak seorang kawan (Mona) menjadi relawan pengajar untuk anak-anak SD-SMP di sekitaran Naikolan. Katanya kami akan mengajari mereka penggunaan komputer khususnya microsoft word. Awalnya saya merasa bingung apa yang mau diajarkan sebab yang ada di kepala saya adalah semua anak-anak di Kupang tentu tidak asing lagi dan pasti sudah bisa dengan yang namanya miscrosoft word. Meski menjawab saya akan menyediakan waktu untuk itu namun jauh dalam hati tentu ada keraguan apakah saya bisa mengajari mereka atau tidak. Saya bukan guru TIK. Saya juga buta tentang penggunaan komputer kecuali yang dasar-dasar, ya, cukuplah. Saya terus bertanya apa lebih tepatnya yang mau diajarkan dan jawabannya adalah pembuatan daftar isi. Alamak😯! Saya sendiri pun sudah lupa cara pembuatan daftar isi itu kecuali kalau buka di internet, ya, dari tidak bisa sama sekali menjadi sangat bisa (plus sekali😜) dan langsung jadi master (kalau yang ini saya punya pengalaman memuaskan bagaimana memasang senar gitar sendiri hingga menyetem semua senarnya menjadi nada yang tepat, yang sebelumnya saya anggap itu hanya bisa dikerjakan para master yang ada di atas-atas-atas tambah atas lagi sana😂 berkat aplikasi yang tersedia gratis di playstore).

Ok, mengajari tentang pembuatan daftar isi sudah tak lagi menjadi masalah. Aman.

Paginya (maksudnya pagi tadi), saya bersiap pergi dengan semangat siap berbagi. Oleh Oma Te’o, seorang hamba Tuhan yang saat ini dipercaya mengelola kelas tersebut memimpin mereka lantas membagi kelompok. Saya kebagian mereka yang anak-anak baru. Artinya mereka yang baru pertama kali bergabung dalam kelas ini (Oh, ya, saya belum memperkenalkan nama kelas tersebut. Jadi kelas itu namanya Rabu Gembira. Sesuai namanya, kelas atau pertemuan belajar itu dilaksanakan setiap seminggu sekali yakni di hari Rabu).

Kelompok saya terdiri dari tujuh orang. Enam anak laki-laki dan satu perempuan. Setelah saya bawa mereka ke ruang tengah dan menanyakan kepada mereka terkait penggunaan dasar komputer, didapati bahwa mereka tidak seperti yang saya sangka sebelumnya. Meski tinggal di kota dan meski sudah di bangku SMP, bukan berarti mereka sudah bisa dengan lincah dan akrab dengan perangkat komputer. Buktinya dengan ketika dipanggil satu-satu untuk membuka microsoft word saja pun tetap gagal meski mencoba berkali-kali. Dari ke-7 anak tersebut, hanya satu yang dipanggil maju dan sekali mencoba langsung jadi yakni satu-satunya anak perempuan di kelompok itu. Dari situlah saya mulai menurunkan ekspektasi saya lantas memulai dari yang lebih dasar. Persiapan tentang pembuatan daftar isi saya simpan kembali. Padahal sebelumnya saya bahkan sempat berkonsultasi dengan guru TIK kelas 7 di Lentera. Niat memang saya ini, ya😅.

Komputer di rumah belajar tersebut hanya berjumlah tiga buah. Karena gurunya tiga orang, kami masing-masing memakai satu komputer untuk mengajar. Jadi sepanjang belajar, anak-anak secara bergiliran memakainya untuk belajar membuka-tutup ms word, mengetik, mengedit, dan menyimpan dokumen.

Meski terbatas, mereka terlihat antusias sekali. Senang melihat mereka mau benar-benar belajar. Saking semangatnya belajar, kami sampai tak ingat waktu pulang sehingga harus dipanggil berkumpul kembali ke kelas besar.

Sebelum pulang, ternyata dari mereka meminta Oma Te’o untuk menambah pertemuan khusus di hari libur ini menjadi dua kali pertemuan seminggu. Dan kesepakatannya selain Rabu adalah Kamis. Maka, doakanlah, besok saya akan mengajar lagi. Dan saya bersemangat untuk itu. Berbagi ilmu kepada mereka yang benar-benar membutuhkan jelas berbeda sekali dengan berbagi kepada mereka yang hanya mengikuti karena aturan atau perintah atau tekanan dsb😄.

Akhir dari postingan ini, tentu adalah rasa syukur dengan sukacita tak terhingga sebab Dia memilihkan waktu dan momen yang baik untuk menjadi bermakna. Biarlah segala kemuliaan kembali kepada Dia.

Catatan Buku

Buku “Dua Belas Pasang Mata” oleh Sakae Tsuboi

Buku ini ditemukan secara tak sengaja. Ceritanya, kami mengadakan rapat kenaikan kelas di ruang kelas 7.3, dan saya sibuk mengurus nilai di notebook hingga 44 menit kemudian baru saya sadar ternyata di laci meja depan saya ada sebuah buku menarik milik siswa.

Dua Belas Pasang Mata oleh Sakae Tsuboi. Saya belum pernah mendengar nama ini sebelumnya, juga judul bukunya (lebih baik mengaku jujur daripada sok😜😅). Pertama kali melihat sampulnya, saya langsung berpikir sepertinya buku ini bagus (karena ada gambar anak-anaknya😅). Segera saya baca catatan di sampul belakang. Astaga, tentang guru, dan guru baru pula, mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Segera tanpa menunggu lama saya bilang ke wali kelas ruang tersebut untuk meminjam. Demikian buku ini sudah dua hari di tangan saya. Jelas hari Senin ini mesti dikembalikan. Namun sebelum itu, perlu ia dipahatkan di blog ini😎😄

Buku Dua Belas Pasang Mata oleh Sakae Tsuboi ini terbagi menjadi 10 bab. Saya ngebut membacanya dari semalam–Jumat malam–sepulang PA hingga siang tadi–Sabtu siang–sudah selesai. Bagian awal cerita ini sungguh membuat saya tertawa sendiri di tengah malam. Bagaimana tidak, kisah ini mengingatkan saya akan masa kecil ketika baru masuk sekolah dulu juga bagaimana pengalaman ketika baru pertama kali menjadi guru😅.

Kisah ini dibuka dengan penggambaran latar desa tanjung di mana sang ibu guru, Miss Oishi akan mengabdi untuk tahun pertamanya. Waktu itu tahun 1928, dua bulan setelah pemilu, dan tempatnya adalah di desa yang mana penduduknya hanya sedikit orang dan kebanyakan bermata-pencaharian sebagai nelayan dan petani meski beberapa di antaranya ada yang menjadi tukang kayu, pesuruh/pengantar barang (seperti tukang pos di zaman sekarang), pedagang beras, atau pemilik restoran di kota.

Berhubung desa itu sangat terpencil, maka sekolah di sana diadakan hanya untuk anak-anak usia SD kelas 1-4, maka itu ia disebut sekolah cabang, dengan hanya dua guru untuk menangani empat kelas tersebut. Barulah nanti di tahun ke-5 atau mulai kelas 5, anak-anak desa tanjung mau tak mau harus pergi melanjutkan ke sekolah desa utama yang jaraknya 5 km perjalanan. Tidak ada kendaraan saat itu sehingga mereka harus menempuhnya dengan sandal jerami buatan tangan mereka sendiri yang pastinya rusak setiap hari, tetapi mereka justru bangga karena mengenakan sandal baru setiap hari.

Membaca ini saya jadi teringat dengan cerita orang tua saya (khususnya bapak dan saudara dan kawan-kawan sebayanya). Di masa mereka (kalau Jepang di kisah ini berlatar tahun 1928, maka bapak beserta saudara dan kawan2nya itu berlatar daerah selatan Amarasi di pulau Timor-NTT tahun 1960-an. Btw, kebetulan keduanya sama-sama di daerah pantai dan ada tanjung, kalau di Amarasi namanya Tanjung Pe’o, serta mata pencaharian penduduknya adalah bertani dan mencari ikan. Bapak dan semua mereka yang bersekolah harus menempuh perjalanan 8-10 km berjalan kaki. Masih bagus di Jepang jalan mereka rata, di kampung lama bapak letaknya di lembah, sementara sekolahnya berada di dataran tinggi, sehingga mau tak mau selama perjalanan pagi-pagi buta itu mereka hanya mendaki, mendaki, dan terus mendaki. Perjalanan baru terasa ringan ketika pulang sekolah karena jalanan selalu menurun. Jangankan di zaman bapak. Semasa SMP pun, saya dan kawan-kawan seangkatan masih sempat merasakan bagaimana pagi-pagi harus berjalan kaki dengan mendaki sejauh 4 km ke sekolah dengan tak boleh lupa membawa satu botol air untuk diisi di kamar mandi dan toilet sekolah. Beberapa kawan saya yang dari desa tetangga (Desa Sahraen namanya), mereka tentu lebih jauh lagi jaraknya, kira-kira 8-10-an km. Mereka juga berjalan kaki. Untungnya kami di masa itu adalah karena kami banyak jumlahnya sehingga jalannya pun beramai-ramai. Kalau dikira-kira mungkin jumlah kami lebih dari 100 untuk tiga angkatan (kelas 1, 2, dan 3), apalagi SMP itu satu-satunya SMP negeri dan punya 4 rombel untuk tiap angkatan. Meski perjalanan kami menuju sekolah melewati kebun dan ladang orang yang mana tidak ada rumah, tidak ada di antara kami yang takut melewati tempat tersebut karena banyak mobil, bus, truk, dan sepeda motor sesekali lewat. Bedanya adalah kalau anak-anak di Jepang kala itu masih menggunakan sandal jerami ke sekolah, kami setidaknya di awal tahun tahun 2000-an kala itu sudah menggunakan sepatu, meski sepatu kami hampir tiap dua-tiga bulan ganti karena selalu berlubang di bagian dasarnya😅.

Astaga, sepertinya saya sudah latah menggali kisah lama saya dan lupa dengan buku yang mestinya saya ceritakan di sini.

Baiklah, mari kembali ke topik awal😉.

Meski perjalanan dari desa tanjung menuju sekolah itu jauh namun mereka selalu bersemangat setiap pagi. Di tahun-tahun pergantian guru, mereka selalu penasaran seperti apa tampakan guru baru yang akan mengajar di sekolah baru tersebut. Niat mereka mau mengusili sang guru baru sangat lucu. Percakapan-percakapan mereka persis digambarkan sebagaimana layaknya percakapan anak-anak sekolah di kampung (karena saya pernah menjadi anak sekolah di kampung dan saya tahu persis itu benar adanya😜😅). Bagaimana keluguan dan kekolotan mereka saat terbengong-bengong karena berniat mengerjai sang guru baru, justru mereka yang dikerjai balik. Sang guru muncul dengan sepeda dan meluncur cepat melewati mereka setelah mengucap salam kemudian segera menghilang tanpa mereka duga.

Tidak hanya membuat anak-anak yang baru masuk sekolah desa utama bengong, namun penduduk desa tanjung pun menjadi heboh sendiri karena selain bersepeda, sang ibu guru pun berpakaian gaya barat. Katanya ibu guru kali ini kelewat modern😅.

Di kelas satu sekolah cabang, Ibu Guru bertemu dengan 12 murid. Ke-12 anak inilah yang kemudian membentuk cerita dalam kehidupan sang ibu guru hingga 20-an tahun ke depannya.

Sepertinya saya terlalu banyak bercuap-cuap tentang bagian awal cerita ini tanpa pernah sampai ke inti cerita? Memang😅😄. Karena saya begitu menikmati bagian awal ceritanya sampai rasanya tak mau beranjak.

Kalau di bab pertama tentang perkenalan, maka di bab dua tentang adanya badai yang melanda desa tanjung, lalu kecelakaan yang menimpa Ibu Guru. Dari kecelakaan itu, di bab tiga Ibu Guru mulai tidak masuk sekolah. Dari sepuluh hari, lalu setengah bulan, Ibu Guru tak datang-datang. Anak-anak muridnya setiap hari bergerombol di samping sepedanya yang tersandar dengan berdebu di tembok depan ruang guru. Bapak Guru menjadi satu-satunya yang mengajar di sekolah dengan empat kelas tersebut. Pelajaran lain tidak masalah, kecuali musik. Bapak Guru bergumul betul setiap menjelang hari Sabtu, semacam ada ketegangan tersendiri untuk jam pelajaran ke-3 itu (saya tahu persis ini perasaan😅😂). Pergumulan ini memaksanya untuk berlatih bermain organ dibantu istrinya, meski kelak ia bisa namun tak selincah Ibu Guru.

Anak-anak murid meski merasa senang dengan perkembangan Bapak Guru mereka tetap kurang puas. Kerinduan mereka akan Ibu guru semakin tak tertahankan. Suatu hari di perjalanan sepulang sekolah, mereka berdiskusi untuk mengunjungi Ibu Guru di rumahnya. Rumah Ibu Guru letaknya di Desa Pohon Pinus, berjarak 8 km dari desa mereka. Berhubung di antara mereka belum ada yang berpengalaman dalam berjalan kaki, anak2 kelas satu itu pun tidak bisa membayangkan dengan baik seberapa jauh sebenarnya jarak tersebut. Karena hanya Nita (salah satu murid laki-laki paling ribut dan beringus di kelas) satu-satunya yang pernah pergi ke kota dengan menumpang bus melewati Desa Pohon Pinus, ialah yang kemudian dikerubungi. Untuk lebih merasakan suasana percakapan mereka, berikut halaman buku yang sempat difoto (semoga saya tak dituduh melanggar hak cipta😟).

Mereka sudah mencapai kesepakatan akan berangkat ke rumah Ibu Guru. Hanya Sanae dan Kotoe yang tidak bersuara. Sanae memang pendiam, sebaliknya Kotoe masih bingung. Ia anak sulung dengan empat adik perempuan dan laki-laki. Sejak usia tiga tahun, ialah yang disuruh mengasuh adik2nya setiap pulang sekolah. Kalau ia pergi tentu nenek dan ibunya tak mengizinkan. Maka diputuskan, semua mereka akan pergi diam-diam tanpa memberitahukan keluarga. Mereka hanya akan pergi untuk makan siang kemudian akan mengendap diam-diam meninggalkan rumah. Semua temannya melakukan itu, sempat makan siang dan diam-diam mengendap keluar. Kotoe malah sepeninggalan temannya, ia menyembunyikan tasnya di rerumputan dan menunggu teman-temannya yang pergi makan siang kembali. Benar, hanya beberapa menit kemudian satu per satu anak muncul. Di antara mereka hanya Nita yang cukup cerdik untuk mengisi penuh saku2 baju dan celananya dengan kacang buncis kering untuk dibagika2kan kepada kawan2nya. Ke-12 anak kelas 1 SD cabang itu pun berangkat ke Desa Pohon Pinus sambil mengunyah kacang dan bercakap2 mengenai keadaan gurunya.

Perjalanan ini adalah pengalaman pertama kali mereka berjalan kaki sendirian. Mereka sangat menikmatinya dan tidak merasa bosan karena banyak pemandangan baru yang mereka temui.

Kesenangan itu tiba-tiba berubah menjadi kecemasan, sebab tampak dari jauh serombongan anak sekolah yang lebih tua, para murid sekolah utama yang baru pulang. Mereka saling pandang dengan waswas karena takut ketahuan.

“Sembunyi! Sembunyi!” Seruan Masuno membuat ke-11 anak lainnya lari ke tengah gerumbulan rumput pampa yang tak jauh dari situ. Gerakan mereka selincah monyet. Rumput-rumput bergemerisik dengan hebatnya.

“Diam! Jangan bersuara!” Masuno berkata sambil menekuk bibirnya yang tipis dan memelototi teman-temannya dengan kedua matanya yang panjang dan menjungkit itu. Bahkan Takaechi dan Tadashi (Masuno itu perempuan sementara Takaechi dan Tadashi ini laki2 lho ya😜–anice) langsung diam dan tak berani bergerak. Gerumbulan rumput pampa, yang hampir dua kali tinggi anak2 itu, bergemerisik sedikit akibat ke-12 anak di dalamnya. Untunglah, berkat kecerdikan Masuno, keberadaan mereka tidak ketahuan oleh murid-murid yang lewat itu. Masuno bisa membuat teman-teman sekelasnya menurut seperti anak kucing, cukup dengan dipelototi.

Mereka meneruskan perjalanan. Meski mulai meragukan penjelasan Nita bahwa jarak itu dekat, mereka tetap maju selangkah demi selangkah. Satu per satu sandal jerami yang dipakai mulai rusak. Tak ada yang punya uang jadi tak mungkin membeli sandal baru.

Sebenarnya tinggal satu belokan lagi mereka sudah bisa melihat pohon pinus, hanya mereka tidak tahu. Tiba-tiba Kotoe mulai menangis. Mungkin karena belum makan siang sehingga ia lebih dulu lelah dibanding kawan2nya. Dia berjongkok di pinggir jalan dan menangis keras2. Misako dan Fujiko jadi ikut terisak2. Anak2 lainnya berhenti dan memandangi anak2 perempuan yang menangis itu. Mereka sendiri ingin menangis dan tak tahu mesti mengatakan apa untuk menghibur mereka yang menangis. Harusnya ada seseorang yang mengusulkan, “Ayo, kita pulang!” tetapi tak ada satu pun yang sanggup berkata begitu.

Beberapa lama berdiri dalam keadaan seperti itu sampai mereka tak tahan lagi dan ingin pulang. Tanpa sadar mereka berdiri menghadap ke arah mereka datang. Sekonyong-konyong muncul sebuah bus dengan membunyikan klaksonnya. Tak disangka di dalam bus itu ada Ibu Guru. Demikianlah Ibu Guru itu melihat mereka, turun, dan membawa mereka ke rumahnya untuk dijamu makan. Di sanalah mereka bercengkrama dan melepas kangen hingga sore hari, barulah kemudian mereka diantar pulang Ibu Guru dengan perahu.

Ke-12 anak itu tidak tahu bagaimana orang tua dan seisi kampung sempat heboh sejak siang tadi karena ketidakmunculan mereka sejak sehabis makan siang. Beberapa bapak dan pemuda sampai diutus ke kota untuk mencari mereka namun tak menemukan hasil. Dan barulah di maghrib itu mereka muncul dari arah pantai. Tiada seorang pun yang menduga sebelumnya bahwa mereka pergi mengunjungi Ibu Guru di Desa Pohon Pinus.

Mengenai cerita kunjungan anak-anak dan sampai ada yang menangis, saya pun punya pengalaman serupa:D. Tiga tahun lalu ketika saya menjadi wali kelas 7.1, suatu hari saya sakit sehingga izin tidak ke sekolah. Saya tak tahu-menahu hingga besoknya di sekolah baru saya mendapat cerita dari anak2 wali saya. Ternyata, kemarin ketika saya tidak masuk, beberapa anak laki-laki dan perempuan bersepakat mengunjungi saya. Mereka mendengar kalau tempat kos saya letaknya tak jauh dari sekolah, tepat berhadapan dengan satu SD negeri. Mereka hanya perlu keluar dari gerbang sekolah, mengambil jalan sebelah kanan, lalu berbelok kanan lagi untuk menuju ke sebuah SD yang ada di belakang SMP. Mereka dengan PD dan riang gembira berjalan. Setibanya mereka di SD yang dimaksud, ada satu tulisan di ujung pagar tembok SD, “Stop! Di sini jalan buntu!” Melihat kalimat itu, serta merta mereka merasa takut. Mereka pikir mereka tersesat. Waktu itu pukul tiga sore dan keadaan sekitar sementara sepi. Ada yang langsung bilang ingin pulang, ada yang tetap mau meneruskan kegiatan berkunjung. Mereka sempat panas menimbang begini-begitu. Sampai ternyata ada yang menangis. Dan yang menangis itu adalah anak laki-laki paling ribut dan paling banyak ditegur guru di kelas. Karena ada yang menangis itulah kemudian mereka tak lagi melanjutkan niat mereka berkunjung. Mereka pun pulang. Padahal kalau mereka tahu, pada saat mereka berdiri dan menimbang-nimbang pulang atau lanjut, sebenarnya itu tepat di depan pagar tempat saya kos😄.

Nah, catatan ini sudah demikian panjang sementara yang saya komentari baru sampai di bab tiga. Sudahlah, tak apa. Toh, ini tiga bab emas dari buku ini menurut saya. Bab-bab selanjutnya bagi saya tidaklah semenarik tiga bab pertama, jadinya akan saya singgung sedikit saja (istilahnya ‘lari2’).

Bab empat tentang perpisahan. Berhubung kaki Ibu Guru belum benar2 pulih sehingga tidak memungkinkan kembali mengajar di desa tanjung, maka Ibu Guru pun pergi pamit. Ibu Guru dipindahkan ke sekolah desa utama. Bab lima dan enam menceritakan empat tahun kemudian, ketika anak2 kelas satu dulu sekarang sudah masuk kelas 5 dan mulai bersekolah di desa utama. Mereka bertemu kembali dengan guru kesayangan mereka, Miss Oishi yang biasaereka sebut dengan Ibu Guru. Bab lima, Gambar Bunga diambil sebagai judul sebab ada satu anak di antaranya yang berkeinginan punya kotak makan siang bergambar bunga teratai namun tak kesampaian karena ibunya kemudian meninggal ketika melahirkan. Si anak lalu tak lagi bersekolah. Ia diangkut ke kota menjadi pekerja (entah dari penjaga restoran kemudian geisha(?)). Sebagian bab enam dan seterusnya, cerita mulai bernada muram. Tentang tuduhan keterlibatan rekan Ibu Guru atau Miss Oishi dalam kelompok “merah“, lalu timbul perang yang mengharuskan para lelaki baik bapak-bapak, pemuda, bahkan remaja laki-laki untuk ikut ambil bagian.

Hari-hari berlalu dan menjadi semakin sulit. Para lelaki dan pemuda yang direkrut untuk pergi ke medan perang sebagian besar tidak kembali dengan selamat. Namun demikian, anak laki-laki di desa-desa itu, sudah dari kecil diindoktriasi bahwa betapa bangga dan betapa terhormatnya seorang laki-laki mati di medan perang. Ibu Guru yang kini sudah berganti status menjadi Mrs Oishi yang bergumul hebat dengan anak2 muridnya dulu direkrut menjadi tentara, lalu suaminya sendiri yang mati karena perang, tak bisa membendung semangat putranya sendiri untuk bergabung dalam ketentaraan. Ia merasa sia-sia menjadi guru karena tak berhasil menyadarkan anak-anak muridnya bahkan putranya sendiri terkait keterlibatan dalam perang.

Syukurlah bahwa pada Agustus 1945, perang dinyatakan berakhir dengan kekalahan ada di pihak mereka, Jepang. Mrs Oishi kembali mengajar atas bantuan mantan anak muridnya, Sanae, yang kini sudah menjadi guru. Dari ke-12 anak itu, ada yang berhasil seperti Sanae, Masuno, dan Kotsuro, ada yang mati karena penyakit (Kotoe) dan juga di medang perang (Nita dan Tadashi), ada yang buta sebab perang (Isokichi), dan ada yang meneruskan hidup biasa setelah usai perang. Mereka bersepakat membuat perayaan untuk sang guru yang mulai kembali mengajar di SD cabang.

Membaca bagian-bagian akhir buku ini, terutama tentang kalah perang dan akhirnya perang dinyatakan berakhir, demikian saya ikut bersyukur. Dengan menyerahnya Jepang inilah, puji syukur, alhamdulillah, Indonesia akhirnya bebas dari jajahan dan menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Tentara-tentara baik di Jepang, baik yang dikirim ke medan-medan perang termasuk Indonesia, akhirnya angkat tangan, dan kembali dengan kepala tertunduk ke negara mereka.

Menutup buku ini, saya jadi membayangkan, jangan-jangan ada Nita, Isokichi, Takaichi, Tadashi, atau Kichiji, di antara para pasukan yang datang di Indonesia, dan mereka termasuk di dalam pasukan seperti yang dikisahkan Lise Kristensen dalam buku The Little Captive, atau mungkin ada yang terus di Kupang dan lebih khusus lagi merengsek masuk sampai ke Amarasi dan sempat meninggalkan anak dari darah mereka😒. Hari ini di Kupang, terdapat banyak sekali lubang perlindungan dan gua-gua yang dinamai lubang jepang atau gua jepang😣😒😔.

Terakhir sekali, “Terima kasih kepada Nona Faye RP, kamu pintar sekali memilih buku.”

Cuplikan Cerita Lentera

Cerita Momen Pengumuman Kelulusan SMP Kristen 1 (SLH) Kupang — Bagian 1

Pagi-pagi ketika sedang mempersiapkan diri untuk acara pengumuman kelulusan di pukul 10.00 wita nanti, ada satu kawan saya yang menunjukkan pesan masuk dari seorang murid. Isinya adalah foto rekapan nilai tertinggi per sekolah. Tak disangka, ternyata nama SMP Kristen 1 alias SMP Lentera Harapan Kupang bertengger di urutan pertama. Sontak saja kami kaget. Kenapa? Karena kami tak tahu-menahu hal itu sebelumnya. Memang di hari Jumat kemarin, kami sudah sempat diberi tahu kepala sekolah terkait nilai anak-anak, tapi tentang perbandingan nilai dengan sekolah-sekolah lain tidak ada sama sekali pemberitahuan. Saking kagetnya, kami sampai menjulurkan kepala serentak dan nyaris merusak beberapa barang yang ada di meja piket😅😂.

Rasa girang menjadi penyemangat tersendiri seharian itu hingga kemudian saya teringat dengan masa-masa awal ketika Lentera baru pertama kali masuk di Kupang.

Tahun 2011 adalah masa pengalihan manajemen beberapa sekolah di bawah Yupenkris GMIT Kupang ke YPPH salah satunya adalah SMP Kristen 1 Kupang. Tahun pertama ketika kami datang, sekolah ini masih meninggalkan dua angkatannya yakni yang duduk di bangku kelas 8 dan kelas 9. Siswa kelas 8 waktu itu hanya satu kelas berjumlah 22 orang. Sementara siswa kelas 9 terdiri dari tiga kelas dan berjumlah kurang lebih 80/90-an orang (saya kurang ingat berapa persisnya).

Tahun-tahun awal itu punya tantangan dan pergumulan tersendiri. Bagaimana kami yang rata-rata baru lulus (memang ada beberapa di antara kami yang sudah pernah setahun dua tahun mengabdi di tempat lain) harus menyesuaikan diri dengan karakter anak-anak remaja yang kalau tak salah dengar mereka masuk ke sekolah ini pun adalah pilihan terakhir mereka alias tak tahu ke mana lagi harus mendaftar karena rata-rata sekolah sudah ditutup pendaftarannya.

Mengajar mereka butuh kesabaran ekstra. Terlalu banyak faktor yang perlu dipertimbangkan untuk mendongkrak mereka belajar. Banyak di antara mereka yang datang ke sekolah tanpa tahu alasan pasti kenapa harus ke sekolah. Banyak yang tinggal bukan dengan orang tua kandung. Atau bahkan dengan orang tua sekali pun, keadaan kemampuan ekonomi dapat dibilang penuh perjuangan untuk dapat sekadar bertahan hidup. Maka untuk membeli alat tulis saja susah apalagi membeli buku paket. Tak hanya itu, jejak-jejak sekolah lama pun masih melekat erat dalam dada mereka. Ada pemberontakan kecil-kecilan seperti keinginan untuk bolos, suka alpa, memaki secara terang-terangan, merokok atau minum-minum di luar jam sekolah. Sebagian besar di antara mereka jarang membaca buku. Banyak hal (dalam hal ini wawasan/pengetahuan umum) kurang mereka tahu.

Sewaktu persiapan UN, mereka ‘digodok’ habis-habisan. Kala itu UN masih menjadi penentu kelulusan. Hampir setiap hari mereka diberikan jam tambahan di sekolah.

Hingga UN itu datang. Karena sekolah menghidupkan yang namanya integritas, semua ujian baik sekolah dan nasional dilaksanakan dengan menganut asas kejujuran. Tak ada contekan atau semacamnya demi membantu siswa saat UN.

Ketika datang pengumuman hasil UN, kami semua membeku. Hasilnya adalah 60-an persen. Ini artinya banyak yang tidak lulus. 20-an orang waktu itu kalau tidak salah. Sempat membeku dan seperti hilang sadar, kami diingatkan kembali untuk bersyukur dan berbangga. Setidaknya kami tahu bahwa mereka yang lulus adalah benar-benar lulus murni. Tak ada permainan dan kecurangan di dalamnya.

Dalam sekejap saja, berita kelulusan dari SMP Kristen 1 Kupang langsung tersebar. Katanya, ini pertama kali dalam sejarah, presentasi kelulusan SMP Kristen 1 Kupang tidak mencapai 100 persen sementara semua siswa dari sekolah lain di Kupang atau mungkin NTT lulus 100 persen.

Sampai ada kabar yang saya dengar, katanya ini menjadi tamparan buat kesombongan dan ‘kesokpintaran’ kami. “Baru saja lulus, belum ada pengalaman, ‘sok pintar sok hebat’ sampai mereka yang sudah lebih dahulu mengabdi harus disingkirkan. Lihat itu hasil UN-nya.” Kalimat ini begitu tajam dan kejam kalau memang ditujukkan kepada kami. Dalam hal ini kami tidak tahu apa-apa. Hanya mengikuti instruksi, ditempatkan di sekolah ‘A’, sekolah ‘B’ dst.

Proses seleksi yang diadakan pihak yayasan pun tak pernah ada di benak saya sebelumnya. Saya baru tahu bahwa tiga guru lama yang akan bersama kami adalah para guru terpilih. Dan memang pada kenyataannya, seiring berjalannya waktu, sampai detik ini bahwa benar mereka adalah guru-guru berdedikasi tinggi. Mereka adalah orang-orang yang cinta Tuhan, cinta anak-anak, dan mau terus belajar mengembangkan diri untuk pengajaran, yang juga rendah hati dan ‘manis selalu’ (mereka kemudian menjadi kawan-kawan baik kami😉).

Anak-anak kami yang tidak lulus, kami urus baik-baik. Sebagian ada yang mengurus paket B, sebagian memilih mengulang. Meski banyak cibiran dari orang-orang seberang (entah seberang mana yang saya maksud, intinya adalah mereka yang iri dengan keberadaan Lentera di Kupang) anak-anak kami tak ada yang memperlihatkan rasa ketidaksukaan atau mungkin rasa marahnya kepada sekolah, ‘gara-gara guru2 sok idealis inilah saya tidak lulus, coba sekolah ini tidak beralih, pasti saya lulus.” Tidak. Tidak pernah saya dapati ada sorot mata yang menyiratkan demikian. Mereka tahu betapa kami mengasihi dan mendoakan mereka. Mereka tahu kami ikut menangis bersama mereka. Mereka tahu kami mengasihi mereka meski ini sakit dan berasa pahit. Mereka tahu bahwa rasa kasih tidak harus diungkapkan lewat membantunya lulus tapi secara curang. Mereka tahu bahwa kejujuran adalah hal penting yang harus mereka pegang. Mereka tahu, ada nilai penting ‘yang lebih penting’ dari sekadar angka dan tanda ‘lulus’ di selembar kertas yang mau ditanamkan gurunya dalam diri mereka.

(Bersambung…)

God's Story

Ezra, Nehemia, dan Ester

Saya sudah selesai membaca buku Ezra dan Nehemia. Baru-baru ini. Lalu melanjutkan ke Ester dan Ayub (sekarang sudah selesai Ayub dan akan melanjutkan ke Mazmur). Tapi  dua hari lalu ketika ditanyai kembali apa kisah pokok dari buku Esra dan Nehemia, ingatan saya sudah tak seterang sewaktu membaca. Jadilah sebelum melanjutkan ke Mazmur, saya kebut diri saya membaca ulang Ezra dan Nehemia. Alhasil, setelah menundukkan diri di bawah kebutan, dalam sehari dua kitab itu bisa selesai. Untungnya keduanya tidak panjang. Ezra hanya 10 pasal dan Nehemia hanya 13. Keduanya menceritakan hal yang sama dengan beda sudut pandang. Tentang tahun pertama Raja Persia berkuasa dan orang-orang buangan (orang Israel) disuruh kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali bait suci yang sudah runtuh, bait suci yang pernah sangat megah di zaman Salomo, yang hampir setiap bagiannya bersalutkan emas (alamak😘).

Setelah membaca ulang kedua buku ini, dan ketika dipikir-pikir kembali, sepertinya saya tidak sadar sewaktu membaca kemarin-kemarin. Kok bisa-bisa tidak ada satupun kesan yang tinggal setelah membaca Ezra dan Nehemia yang pertama kali (meski bukan yang pertama karena pernah sewaktu kuliah ada tugas membaca hanya waktu istilahnya saya baca lari-lari demi mencapat nilai :p :)).

Kali ini setidaknya ada sedikit yang ditangkap dan diingat. Tentu saya tak perlu menuliskan ringkasan di sini karena sudah banyak bertebaran di internet. Saya hanya mau meninggalkan apa yang berkelabakan di kepala seusai membaca. Tidak kritis-kritis amat dan tidak aneh-aneh. Hanya sekadar meninggalkan jejak bahwa saya sudah selesai membaca 😉 🙂 Saya sekadar ingin menuliskan saja, sebab hanya dengan menulis sesuatu akan lebih bertahan lama (isi kepala saya semua pun tak saya keluarkan di sini).

Sebelum membaca, sangkaan awal yang sempat singgah di kepala saya adalah di dalam buku Ezra dan Nehemia termuat kisah ketika mereka dalam masa pembuangan. Nyatanya hanya sempat disinggung sedikit di awal, selebihnya adalah para orang buangan itu oleh sang Raja Koresh, mereke diizinkan kembali ke Yerusalem dengan menyertakan kepada mereka banyak bekal.

Terlepas dari beberapa gelombang yang berbeda dengan pemimpin dan tantangan  masing-masing, bagi saya ada satu hal yang menarik di awal kisah. Bagaimana bisa sewaktu di tahun pertama pemerintahannya, Koresh, raja Persia langsung memerintah orang-orang Israel pulang ke daerahnya. Sejak membaca dari bagian akhir 2 Tawarikh dan langsung kepada buku awal Ezra, kita melihat seakan-akan begitu baiknya dan begitu murah hatinya si raja Persia ini. Mujizat betul :p :D. Kira-kira apa yang menggerakkan hatinya sehingga ia bisa mengeluarkan dekret sedemikian rupa? Belum bisa kita jawab (meski ada sedikit bocoran di awal tentang seseorang bernama Yeremia) karena baru di buku-buku berikutnya akan kita temukan bahwa sebenarnya di balik perintah Raja Koresh, ada doa-doa yang terus dipanjatkan orang-orang Israel dalam masa pembuangan itu dan Tuhan pun tidak tinggal diam melihat kesengsaraan mereka. Pada waktu yang tepat, ia menggerakkan hari si raja dan memerintahkan orang-orang Israel pulang membangun bait suci mereka. Tak hanya itu. Bahkan ia juga memerintah agar orang-orang yang pulang itu pun dibekali dengan bahan-bahan yang nantinya akan dipakai dalam pembagunan tersebut. Kurang baik apa coba?

Merenungkan ini, saya jadi teringat dengan kisah Ester. Sewaktu Ester bergumul bagaimana mengatakan permasalahannya kepada raja sementara untuk menghadap raja pun bukan sembarang waktu, sebab hanya mereka yang kepadanya diulurkan tongkat raja barulah boleh meghadap. Keputusan selanjutnya yang diambil adalah ia dan orang-orangnya harus berpuasa. Harus berpuasa. Setelah melewati masa puasa maka ia akan menghadap. Apapun yang akan terjadi biarlah terjadi. Dengan itu, Tuhan membuat skenarionya jadi lebih indah. Setelah lewat masa puasa, Ester mengenakan pakaian ratu dan berdiri di pelataran dalam istana raja. Bertepatan saat itu raja pun bersemayam di takhta dalam istana yang langsung menghadap pintu istana. Ketika melihat Ester, sang ratu, berkenanlah raja kepadanya lalu mengulurkan tongkatnya. Ester ditanyai masalahnya, bukan hanya ditanyai, bahkan raja pun meyakinkan bahwa  setengah kerajaan pun akan diberikan kepadanya bila itu adalah permintaannya. Bayangkan! 😀

Tak hanya sampai di sana. Malam harinya, raja tak dapat tidur sehingga ia ingin membunuh waktu dengan dititahkan untuk dibawakannya kepadanya kitab pencatatan sejarah dan dibacakan. Baru saat itu ia teringat kalau ia belum memberikan penghormatan apa-apa kepada Mordekhai, orang yang pernah menyelamatkan nyawanya. Demikian plot cerita berbalik dari yang dirancang manusia. Mordekhai dihormati, diarak di lapangan kota, lalu kaumnya diselamatkan. Sebaliknya Haman, ia disulakan pada tiang yang dibangunnya sendiri, yang sedianya adalah tiang untuk memancang Mordekhai.

 

 

 

 

 

 

 

Merayakan Keseharian

Mengenakan Kain Tenun Bermotif Amarasi di Commissioning Day SMP-SMA Lentera Kupang Tahun ’18

 

Di acara commissioning day kelas 9 dan 12 SMP-SMA Lentera Harapan Kupang, dress code guru-guru adalah pakaian berbahan tenun daerah NTT (wajib buat orang asli NTT dan pilihan bagi yang dari luar NTT). Kebetulan saya punya kain Amarasi juga beberapa kain dari daerah lain. Hanya semuanya belum dijahit menjadi baju atau rok atau apapun. So, saya antarkan kain yang bermotif daerah Amarasi ke kawan saya yang selain guru, ia juga biasa menjahit baju-baju pesanan orang. Akhirnya kain saya itu dipermaklah jadi rok panjang yang kemudian saya kenakan di acara commissioning tersebut.

Sepengetahuan saya, ini pertama kali saya mengenakan pakaian berbahan kain tenun Amarasi di acara resmi. Bukan karena apa-apa, tapi hanya karena sebelum-sebelumnya saya merasa kain semacam itu sakral😝 sehingga hanya boleh dipakai di saat-saat tertentu😄.

Dan kali ini, ceritanya, di acara commissioning tahun 2018 ini saya dapat tugas sebagai MC. Tentu banyak hal yang perlu dipersiapkan, tentu salah satunya penampakan (alias penampilan yang langsung secara kasat mata harus rapi dan menariklah).

Beruntung saya punya satu kain itu, kalau tidak mungkin saya pasti pontang-panting san-sini mencari kain atau pakaian apapun yang bercorak motif daerah NTT demi keberlangsungan acara tersebut.

MIWF 2017

Cerpen saya masuk Antologi “Dari Timur 2” yang akan diterbitkan GPU

Sebelumnya sudah ada cerpen-cerpen saya yang ikut diseleksi kemudian dimasukan dalam sebuah antologi atau jurnal dan diterbitkan. Seorang penulis, biasanya kalau tulisannya ikut dimuat dalam sebuah buku dan diterbitkan, perasaannya tentulah senang dan berpikir setidaknya dalam hidupnya ia telah mengekalkan suatu arti dalam hidupnya.

Demikian yang saya rasakan setiap cerpen saya ikut dimuat dalam antologi dan diterbitkan. Tapi kali ini ada yang berbeda dan lebih istimewa. Kalau biasanya buku yang di dalamnya ada tulisan saya itu adalah hasil dari inisiatif beberapa komunitas kecil atau badan bahasa provinsi, maka kali ini yang akan menerbitkan buku antologi di mana di dalamnya ada satu cerpen saya adalah Gramedia Pustaka Utama (GPU).

Buku yang akan diterbitkan itu adalah sebuah antologi sajak dan cerpen. Judulnya Dari Timur 2. Maksudnya adalah Dari Timur vol.2. Sebelumnya sudah ada Dari Timur vol.1. Buku-buku ini berisi karya para penulis yang pernah lolos kurasi sebagai emerging writers di acara MIWF. Sebagai salah satu alumnis EW MIWF tahun 2017, saya pun diundang mengirimkan karya. Ada dua karya saya kirim. Syukur, salah satunya lolos sehingga bisa ikut dimasukan dalam buku antologi yang akan diterbitkan GPU ini.

Rasanya bahagia sekali akhirnya ada tulisan yang diterbitkan oleh GPU. Tahulah, GPU alias gramedia adalah nama yang cukup ‘silau’ di mata seorang yang masih merangkak di dalam dunia kepenulisan.

Luapan bahagia ini rasa-rasanya seperti, kalaupun kau mati hari ini bahkan detik ini, setidaknya ada tulisanmu yang pernah diterbitkan gramedia” (seolah-olah ini sudah tujuan hidup😄😅).

Sudahlah, apapun itu, saya tahu ini adalah salah satu percik kebaikan Tuhan yang diberikan kepada saya melalui orang-orang di MIWF dan pihak gramedia dan biarlah semuanya dikembalikan hanya kepada Dia yang memberi. #A4J. Soli Deo Gloria.