Cinta yang Marah, Trilogi Soekram, dan Pulang

IMG_20170520_205624

Bersama buku puisi Cinta yang Marah dengan penulisnya, M. Aan Mansyur

Salah satu dari sekian buku yang saya bawa pulang dari MIWF 2017 berjudul Cinta yang Marah. Buku bersampul merah ini berisi puisi-puisi Aan Mansyur, penulis puisi-puisi Rangga (;) :D) dalam film AADC2, dan juga merupakan salah satu kurator dalam seleksi emerging writers MIWF 2017. Buku puisi ini salah satu dari empat buku yang baru diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dan diluncurkan di MIWF 2017.

Setelah sebelumnya pernah dihadirkan Melihat Api Bekerja yang disertai ilustrasi-ilustrasi unik, maka buku puisi lain dengan penulis yang sama kali ini pun dihadirkan dengan disertakan potongan-potongan berita peristiwa Mei ’98. Saya mengakui walau saya menulis cerpen dan menikmati puisi,  tapi justru di sini saya lebih terdorong membaca dan mengikuti potongan berita-berita dalam buku bersampul merah ini. ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ˜€

Dari potongan berita-berita inipun โ€˜memaksaโ€™ saya mau tak mau mesti kembali melanjutkan dua novel yang sudah saya beli tahun 2016 lalu tapi belum sempat saya selesaikan.  Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono dan Pulang karya Leila S Chudori. Dua novel yang pernah saya intip kemudian saya tutup karena menurut saya tak begitu menarik (baru saya sesali kemudian setelah intens mengenal mereka… :D)

IMG20170527152023Soekram, trilogi ini awalnya saya pikir serupa trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Tetapi rupanya berbeda. Soekram di sini berisi tiga cerita berbeda yang tidak ada sangkut paut satu sama lain selain bahwa ia adalah tokoh rekaan seorang pengarang yang sudah mati (begitu ia mengaku).

Di cerita pertama, Pengarang Telah Mati, Soekram adalah seorang dosen muda yang baru pulang dari luar negeri diperhadapkan dengan huru-hara kota Jakarta Mei 98 yang mana para mahasiswa terlibat demo dan ia sendiri walau awalnya tak tahu-menahu tentang keriuhan itu dipaksa mahasiswanya ikut memberi pendapat dalam rapat-rapat yang digelar. Ia serupa tokoh pasif yang bercerita apa saja yang tampak oleh matanya dan yang ia rasakan. Sewaktu membaca ini saya masih agak sedikit kesal kenapa cerita-cerita dengan latar belakang tersebut masih baru menyentuh hanya tentang tokoh-tokoh yang palingan menjadi korban saat terjadinya peristiwa tersebut, tanpa atau kurang berani menyentuh, misalnya, tokoh utama adalah tentara atau polisi yang bertugas.

Berikut cerita kedua, Pengarang Belum Mati, adalah cerita yang cukup rumit menurut saya. Tokoh Aku, sang editor, seperti baru tahu kalau sahabatnya, pengarang tokoh rekaan Soekram, sebenarnya belum mati. Lalu draft-draft cerita Soekram ditemukan kembali, berlatar belakang tahun 1965 dan cerita ini serupa membaca sebuah catatan mimpi yang terkadang seolah tidak terang ujung pangkalnya. Ada keikutsertaan Soekram dalam rapat-rapat organisasi, ada ayahnya di kampung pengagum sosok pemimpin besar revolusi dan pengikut partai tanda segeitiga kepala banteng, adiknya yang ditangkap polisi karena membela petani, seorang teman kulihnya, Maria, yang pandai berdeklamasi, yang lalu membawanya mengenal Nengah, seorang anak Bali, kunjungan ke gua, dan yang agak membingungkan adalah aulia, yang katanya adalah sahabat dan gurunya, lalu tentang padang pasir, ada tiadanya larangan mengunyah pasir. Jelas bagian kedua buku ini seperti sebuah catatan spontan tentang mimpi, yang unik dan cukup entah dimengerti atau tidak tetap saja ia sebuah karya yang aduhai.

Di cerita ketiga, Pengarang Tak Pernah Mati, Soekram mengembangkan sendiri ceritanya. Dalam cerita yang ia ciptakan, ia bertemu Datuk Meringgih, juga Siti Nurbaya di tanah Minang. Bagian ini agak menggelitik. Sebab cerita asli karangan Marah Rusli ini โ€˜dipelintir habis-habisanโ€™ oleh Soekram menjadi kisah Siti Nurbaya versi Soekram, sebuah cerita unik tentang kisah cinta atau kekaguman seorang remaja perjamuan terhadap seorang tua yang adalah paman sahabatnya.

Demikian kurang lebihnya sinopsis tentang Trilogi Soekram ini. Selanjutnya adalah kejeniusan pengarang, dalam hal ini Sapardi Djoko Damono, menempatkan pikiran-pikiran liarnya. Memanfaatkan sesuatu yang sederhana hingga bisa tercipta sebuah trilogi yang patut diacungi jempol.

Buku berikutnya adalah Pulang karya Leila S Chudori. Saya sudah tak begitu ingat kapan tepatnya buku ini saya beli. Seingat saya, seusai membeli dan membawa pulang buku ini, saya sempatkan diri membaca saat itu juga. Sekilas mengamati secara cepat dan keseluruhan buku ini bagi saya bagus karena menyertakan referensi-referensi penting untuk selanjutnya bisa dikenal dan dicaritahu pembaca. Hanya ketika baru awal-awal membaca, saya sudah memutuskan untuk tak melanjutkan. Dalam hati saya mengomel, kenapa selalu buku-buku sastra yang dipuja-puji bagus, yang mendapat berbagai penghargaan mesti (sering) dibumbui yang bersifat dewasa.  Bagaimana saya bisa rekomendasikan anak-anak SMP untuk membaca sebuah cerita yang  bagus kalau patokan cerita yang bagus selalu seperti itu. Begitu pikir saya (:D) sewaktu membaca di awal-awal buku Pulang mengisahkan tentang pertemuan Dimas Suryo dan Viviane di antara keriuhan mahasiswa Sorbonne Mei 1968. Jadilah buku itu saya simpan untuk beberapa lama hingga setelah membaca Cinta yang Marah dengan alasan bahwa buku Pulang ini juga menyimpan kisah tentang sekalian peristiwa โ€˜65 (seperti halnya Ronggeng Dukuh Paruk) dan peristiwa Mei โ€™98 (cerita pertama trilogi Soekram).

Dengan kembali mengambil Pulang dan tekad menuntaskan cerita-cerita berlatar peristiwa โ€™65 dan โ€™98 itulah, baru kemudian muncul rasa kagum dan salut saya atas usaha dan keberanian penulis novel Pulang. Novel ini sungguh luar biasa. Menyajikan dengan terang (setidaknya tidak terlalu gelap :D, ah, saya pun sebenarnya tak terlalu tahu apa itu terang dan gelap di sini). Novel ini tak hanya kaya, tapi juga ideal. Patut ia mendapat penghargaan KLA 2013. Namun justru terlalu ideal dan sangat ideal itu pula yang menurut saya adalah kekurangannya, kekurangan yang positif bisa jadi. Rasanya seperti mustahil menemukan dalam kehidupan nyata di mana orang-orang berpikiran dan berpendapat ideal. Apa-apa selalu diingatkan dengan nama seorang tokoh ini tokoh itu, masakan ini masakan itu punya filosopinya masing-masing. Andai saja setiap orang, siapapun dia di dunia nyata punya karakter seperti tokoh-tokoh dalam Pulang. Sungguh, intelek sekali orang-orang yang bahkan kita jumpai di pinggir jalan atau di atas bemo atau di dalam pasar atau di mana saja. ๐Ÿ˜€

Selain kekurangan terlalu ideal itu, bagi saya kekurangan lainnya adalah katanya ia bicara Indonesia, tapi disayangkan bahwa Indonesia yang dibicarakan di sini tiada lain dan tiada bukan hanya berkisar di seputaran pulau Jawa. Paling juga ada nama Sumatra ia sisipkan dengan adanya tokoh Risjaf, atau Sulawesi dengan nama kopinya yang harum mewangi itu. Sayang sekali bahwa hanya itu Indonesia yang ia tahu dan resapi. Sementara Indonesia bukan hanya sebatas itu, bukan? ๐Ÿ™‚ Tapi, sudahlah. Mungkin memang harus begitu. Dan biar begitu supaya dapat dikatakan bahwa, baiklah, kalau tokoh-tokoh dalam novel itu terlalu sempurna untuk ditemui di dunia nyata, maka secara keseluruhan novel itu tidaklah sempurna. Ini masih kerja manusia. Kalau terlalu sempurna, bisa-bisa membuat orang tak percaya, ini hasil kerja manusia ataukah makhluk apa, kok bisa sebegini sempurna? Maka, belajar dari kekurangan (yang bagi saya juga justru di saat yang sama kekurangan tersebut menjadi kelebihan novel ini sebab ia  masih mau menunjukkan biarlah supaya orang membaca ini apa adanya, janganlah terlalu sempurna karena kalau terlalu sempurna bisa membuat orang tak percaya dan menganggap ini terlalu membual) ini, mungkin bisa menantang ada lagi orang-orang dari bagian Indonesia yang lain untuk berani membuat cerita dengan latar serupa yang selama ini belum terdengar secara luas dan terbuka, supaya jangan dikira bahwa yang bergejolak pada saat-saat itu hanyalah di daerah-daerah yang itu-itu saja, sebab di titik-titik Indonesia yang lain di luar sana, pernah terjadi juga peristiwa serupa yang memakan banyak sekali korban, mereka-mereka yang sebenarnya tak tahu menahu tentang situasi politik yang ada namun ikut-ikutan dituduh hingga akhirnya mesti mati sia-sia, baik dari yang terlibat secara langsung atau pun sebagai sanak ataupun sebagai keturunan yang pada persitiwa tersebut, bahkan sama sekali belum direncanakan oleh orangtuanya pun, harus ikut-ikutan didiskriminasi hampir dalam segala aspek khususnya urusan negara atau pemerintah. 

Demikian kurang lebih banyak hal baru yang dapat dipelajari dari novel Pulang, baik isi maupun teknik penulisannya. Sedemikian amazing novel ini sampai membuat saya lupa alasan pertama kenapa saya tidak segera menyelesaikan langsung bacaan ini begitu saya baca. Tternyata baru saya sadar ada yang jauh lebih berharga daripada sekadar alasan misalnya kau tak mau melanjutkan makananmu yang disajikan ala resto bintang 5 hanya karena kau melihat ingus kuning atau mendengar atau membaui kentut seseorang di sampingmu. Permisalan lainnya adalah begini,  ketika kau membaca Pulang, dari dua hal yang disodorkan padamu yakni jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kisah kelam di balik tragedi ’65 dan ’98, manakah hal paling penting, utama, dan urgent yang kira-kira mau disampaikan penulis, adalah pilihan masing-masing pembaca. (y) Selamat membaca,  selamat memilih, selamat belajar.๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜Š

Iklan

“Mata yang Enak Dipandang” Ahmad Tohari

DSC_0387_thumb[1]

“Bagaimana aku bisa mengenali mata orang-orang yang suka memberi?”
“Mata orang yang suka memberi memang beda.”
“Seperti apa bedanya?”
“Mata orang yang suka memberi, kata teman-teman yang melek, enak dipandang. Ya, kukira betul; mata orang yang suka memberi memang enak dipandang.”

Begitu kutipan dialog versi saya membaca “Mata yang Enak Dipandang” dari Ahmad Tohari. Membaca cerpen ini saya merasa ada kedekatan tertentu antara kami. :p ๐Ÿ˜€

Kedekatan pertama, kalau ditanya ada bagian-bagian di muka saya yang paling saya sukai, maka salah satunya adalah mata. Sejak bisa membedakan mana mata mana mulut mana hidung, saya mengakui saya suka mata saya. Saya pun suka sekali melihat mata orang-orang yang menurut saya bagus.

Di antara tetangga-tetangga di kampung saya, ada satu keluarga yang mata anak-anak mereka sangat bagus. Antara mereka dan sesama sepupu mereka. Mungkin itu dari keturunan sang nenek atau ba’i. Mata mereka bulat seperti bola pimpong, dianugerahi bulu mata yang panjang tebal dan melengkung ke atas. Bila dipandang lebih jauh ke dalam, bola mata mereka seperti bersinar dan ada layar bergambar sehingga bisa dianggap sebagai tivi yang siap ditonton.

Sewaktu kecil pula, entah umur berapa, ketika membaca koran yang dibeli bapak saya, ada berita tentang mata seorang artis yang katanya akan ditawarkan beberapa miliar kalau dia mati. Seperti yang dikatakan di koran itu, sang artis memiliki mata sangat bagus. Karena penasaran saya sampai memelototi gambar itu beberapa lama karena ingin tahu sebagus apa matanya, tapi tidak ketemu-ketemu juga bagian apa dari matanya yang bagus. Artis itu adalah artis india Aishwarya Rai.

Selain AishwaryaRay, ada pula artis atau aktor lain di Indonesia yang saya suka bahkan mengidolakannya ‘tu mati punya’ gara-gara melihat matanya di tv dan koran ditambah pula kesukaannya akan peran-peran yang berkaitan dengan buku terutama sastra. Siapa lagi kalau bukan the one and only, Nicholas Saputra? ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜‰ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Dalam buku ini pula, pada cerpen pertama, melalui kisah seorang pengemis tua yang buta dan penuntunnya, Ahmad Tohari menggambarkan orang yang suka memberi memiliki mata yang enak dipandang. Mungkin menurutnya, mata orang-orang baik hati memiliki pancaran tersendiri sehingga bisa keluar kesimpulan dari orang-orang cilik tersebut.

Kedekatan kedua, kalimat pembuka cerpen, ‘Di bawah matahari pukul satu siang, Mirta berdiri di seberang jalan depan stasiun’ menjadi gambaran yang manis dan terasa begitu akrab apalagi bagi saya orang Kupang di bawah langit Kupang. Saya merasa seolah sayalah yang tengah berdiri di bawah matahari pukul satu siang itu. Tak dikatakan di sini musim hujan atau kemarau, tapi kira-kira sudah terbayangkanlah bagaimana rasa panasnya bila bunyi kalimatnya seperti itu.

Kedekatan yang ketiga terlihat dalam dialog antara Mirta dan Tarsa, sang penuntun. Membaca kedunguan dan kepolosan dan kecemasan Tarsa, sebagaimana tokoh Rasus dkk dalam Ronggeng Dukuh Paruk yang mengencingi tanah sekitar batang singkong, tokoh bocah-tokoh yang ada dalam kepala saya seperti berlesatan keluar ingin menunjukan diri. Mereka ingin diakui bahwa mereka pun ada dan tak kalah berkesan dari Tarsa ataupun Rasus. Baiklah, semoga mereka segera mewujud. Biar puas dan lega mereka dan saya pun tak dibuat pusing tujuh keliling gara-gara kericuhan mereka.

Demikian hanya ‘Mata yang Enak Dipandang‘ dalam kumpulan cerpen ini ย yang saya ambil. Cerpen lainnya yang berjumlah 14 ini pun tak kalah menarik. Masing-masing menghadirkan keunikannya sendiri tanpa kehilangan ciri khas penulisnya, bertemakan kehidupan orang-orang kecil dengan latar kampung yang di desa ataupun kampung di tengah kota.