Catatan Film

Menonton Film “Nokas”

*Dari kacamata bocah melihat keterlibatan bocah ūüėČ ūüôā

Nokas adalah sebuah film dokumenter karya seorang sineas muda NTT, Manuel Alberto Maia atau yang biasa disapa dengan nama Abe.

Film ini akhirnya diputar di rumah sendiri, kota Kupang, pada tanggal 17-18 Februari 2017 tepatnya di Taman Budaya NTT, setelah sebelumnya mengikuti beberapa ajang di antaranya Eurasia International Film Festival di Kazakhstan pada 27 September 2016 dan Singapore International Film Festival 2016. Di Indonesia, Nokas ini pun masuk dalam daftar nominasi FFI 2016 yakni dalam 5 besar Film Dokumenter Panjang Terbaik.

Film Nokas di sini bercerita tentang realita yang terjadi di tanah Timor, dan NTT pada umumnya yakni belis. Belis ini sendiri sebenarnya bukan hal asing dan baru di masyarakat NTT. Hampir semua orang menjelang pernikahannya, pasti belis selalu menjadi salah satu pokok pembicaraan yang tak bisa diabaikan begitu saja.

Demikian juga Nokas, sang tokoh utama dalam film ini. Ia ingin menikah namun diperhadapkan dengan kenyataan bahwa ada tuntutan belis dari keluarga sang perempuan, serta biaya pernikahan yang tidak sedikit untuk ukuran seorang petani sederhana dari pinggiran kota Kupang,  di mana ia harus berjuang memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut.

Memang sudah harus menjadi tanggung jawab mereka yang akan menikah, mengurus segala macam keperluan seperti pergi merencanakan ini dan itu, memastikan tanda pengenal identitas aman, membuat foto gandeng, mengabari setiap sanak yang tinggal di daerah lain lalu sekaligus mengundang untuk acara kumpul keluarga.

Nah, di dalam kisah ini, Nokas harus pergi mengabari ibunya yang tinggal di Pulau Semau, sebuah pulau kecil yang terletak di bagian barat pulau Timor dan masih tergolong dalam wilayah kabupaten Kupang. Ia pergi mengabari sekaligus mengundang agar nantinya mereka ikut dalam acara kumpul keluarga.

Ibunya yang berada di Semau bersama keluarga barunya yang juga hidup pas-pasan bahkan di bawah standar tak bisa ikut serta mempersiapkan pernikahan putranya di Kupang. Maka dari Pulau Semau, ia hanya menitipkan seekor babi yang diangkut dengan sepeda motor butut menuju pelabuhan.

7898efaae9c0cd87ab6894acbb4ab9f5
Sumber: qubicle

Dari film dokumenter berdurasi 76 menit itu, yang paling berkesan bagi saya adalah adegan ketika Nokas dan sang bocah mengangkut babi menuju pelabuhan menggunakan sepeda motor butut tersebut.

Saat mau berangkat, Nokaslah yang mengemudi motor dan sang bocah yang duduk di bagian belakang motor untuk memegang babi. Entah mungkin karena kepayahan, di tengah jalan, mereka berhenti dan meletakan babi itu di jalan.

Perjalanan selanjutnya, gantian sang bocahlah yang mengemudi motor. Pertama-tama saya pikir, sang bocah hanya berdiri menahan motor sementara Nokas memandangi babi yang tergeletak di jalan sambil merenungi perjuangan hidupnya. Ternyata kemudian sang bocah itu justru menghidupkan mesin motor dan dengan dengan wajah serius (sure, yang ini benar-benar tampak natural dan saya suka…:D), ia memainkan gas berulang-ulang, mencoba memastikan motor itu sudah siap dilajukan kembali.

Setelah sepeda motor itu meraung-raung sebentar karena gasnya dimain-mainkan oleh sang bocah, Nokas pun mengangkat babi itu, menuju motor, dan duduk di belakang dengan tetap mengapit babi pemberian ibunya, mereka melaju menuju pelabuhan.

Iklan
Kegiatan Seni dan Budaya

Pameran Lukisan “Oko Mama: Bianglala Rupa Flobamorata”

poster-pameran-ntt
Sumber: Poster Galeri Nasional Indonesia

Pameran Lukisan “Oko Mama: Bianglala Rupa Flobamorata” merupakan salah satu program¬† Pameran Keliling Karya Pilihan Koleksi Galeri Nasional Indonesia (GNI). Program ini sesuai yang dituliskan di website mereka, bertujuan untuk memperkenalkan karya-karya seni rupa koleksi negara yang disimpan oleh Galeri Nasional Indonesia sehingga dapat langsung dilihat dan diapresiasi oleh masyarakat luas di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Pada pameran ini, selain ditampilkan karya pilihan koleksi GNI, juga ditampilkan karya¬† perupa wilayah setempat yang dipilih dan disajikan secara berdampingan dalam satu ruang pameran.

Pada tahun 2014, NTT mendapat kesempatan menjadi salah satu tempat tujuan dari program tersebut. Di Kupang, pameran ini dibuka selama seminggu dari tanggal 28 April – 3 Mei 2014, bertempat di Taman Budaya Prov NTT. Dibuka dari pukul 09.00 – 17.09 wita.

Pada pameran “Oko Mama: Bianglala Rupa Flobamorata” ini, terdapat 40 karya yang dipajang. Karya-karya tersebut antara lain 20 lukisan karya para maestro seni rupa Indonesia dan Internasional yang menjadi koleksi Galeri Nasional Indonesia serta 20 karya perupa pilihan Nusa Tenggara Timur.

Saya sendiri senang dan bersyukur sempat berkunjung ke sana walau baru pergi di hari terakhir pameran karena itu tepat di hari Sabtu. Hari-hari lainnya saya tak sempat karena melihat waktu buka yang hanya sampai di pukul 17.00. Saya cukup senang karena walau di hari terakhir, saya masih sempat mendapat katalognya.

20170202_203336

Dari beberapa karya yang dipajang di sana, hampir semuanya tentu bagus, menarik, punya cerita uniknya sendiri. Namun di antara mereka, ada satu yang paling saya suka. Karya itu berupa lukisan. Hasil karya seorang pelukis NTT yakni¬†Fecky Messah. Lukisan itu diberi judul Red My World yang ‘anehnya’ bisa diterjemahkan menjadi (atau mungin adalah terjemahan dari) Dunia Merah.

Red My World (Dunia Merah) oleh Fecky Messsah. 2013.                               Cat minyak di kanvas. 155 cm x 120 cm.

Ada beberapa alasan saya menyukai lukisan tersebut. Berikut ini saya uraikan alasan-alasannya.

Pertama, objek lukisan itu adalah seorang bocah. Saya sangat menyukai sesuatu yang beraroma bocah terutama dalam seni. Entah itu cerita, film, foto, lagu, ataupun lukisan. Saya sendiri punya kumpulan cerpen yang juga bercerita tentang bocah. Judulnya¬†Persinggahan Bocah Indigo, atau dapat disingkat dengan PIB. PIB itupun adalah cerpen pertama saya yang dipublish di media cetak ketika saya masih duduk di bangku kuliah semester 6. ūüôā

Kedua, saya menyukai warna merah. Lukisan Red My World atau Dunia Merah ini dilatarbelakangi oleh warna merah. Selain selimut yang membungkus sang bocah, juga tampakan alam di baliknya yang juga berwarna merah. Alam yang di atas tampak lebih merah terang daripada di bagian bawahnya yang nampak lebih gelap. Di bagian bawahnya, tampak juga bebatuan yang tandus, ditemani beberapa batang pohon kering tak berdaun. Lukisan ini benar-benar menggambarkan NTT yang sebagian besar wilayahnya kering, gersang, dan panas.

Ketiga, saya suka cara sang bocah memandang. Pada lukisan tersebut, ia mengarahkan matanya ke arah kiri bawah. Ia seperti bukan sedang melihat sesuatu, melainkan sedang berpikir atau mengenang. Ada sebuah catatan kenangan yang terpancar dari pandangan matanya. Mungkin ia sedang mengenang orang-orang terkasihnya yang baru saja meninggalkan dunia, atau adiknya yang merengek kelaparan namun tak tersedia cukup makanan di rumah, atau kakeknya yang berjalan berbungkuk-bungkuk mencari hasil-hasil hutan yang mungkin dapat dimakan, atau tetangganya yang baru tadi pagi datang memarahi ibunya karena memukul anaknya yang usil, atau keinginannya bersekolah tak dapat diteruskan karena tenaganya dibutuhkan di rumah demi membantu bapak dan ibunya di kebun atau ladang-ladang yang bahkan tak lagi mampu menumbuhkan tanaman.

Keempat, dari sosok sang bocah, terlihat ia bukan seorang anak yang hidup hanya untuk bersenang-senang dan menganggap hidup ini memang berjalan apa adanya tanpa perlu diperjuangkan. Badannya yang kurus dengan telapak tangannya yang nampak lebih besar, cukup menggambarkan bahwa ia adalah seorang pekerja keras. Tangannya yang masih berumur muda itu mungkin sudah berpengalaman dalam membongkar batu, menggali tanah, memotong kayu, mendorong kereta, menarik binatang-binatang ternak, mengangkat apapun itu yang berbeban berat. Ia memang bocah yang luar biasa.

Demikian beberapa alasan saya kenapa saya menyukai lukisan Red My World atau Dunia Merah. Seandainya saya boleh diberi kesempatan menamai lukisan itu, maka akan saya namai Bocah dalam Balutan Merah.

Ia bocah, hidup di alam yang penuh tantangan, namun berani menghadapi dan menjalaninya. Demikian berlama-lama memandang lukisan ini, saya jatuh cinta pada bocah. Salut untuk Bapak Fecky Messah.

Refleksi

Kebenaran Tidak Memihak*

ethiopia_innocent_prayers_of_a_young_child_3405971322
Sumber: childrensministry

*Doa seorang bocah untuk semua insan di muka bumi

Sang maha tahu. Kau penguasa jagat raya. Kau yang bertakhta dalam keagungan-Mu. Kau satu-satunya yang kudus.

Kami hanya manusia yang banyak cemarnya. Jikalau yang kami percayai sebagai kebenaran sekarang ini adalah adalah salah, jikalau kebenaran sejati adalah memang tidak mungkin benar-benar kami ketahui, dan kendatipun kami ngotot bahwa kebenaran sejati adalah kebenaran yang kami yakini, maafkanlah kami.

Jikalau kami tetap bersikukuh bahwa yang benar-benar-benar adalah kebenaran yang kami punya serta kami mengatakan bahwa kebenaran yang orang lain yakini sebagai kebenaran bukanlah kebenaran, toh, itulah kami. Kami hanya manusia. Kami terbatas pemikirannya. Kami tidak tahu. Kami hanya makhluk kecil di tengah-tengah bola bumi yang merupakan satu titik kecil di alam semesta yang kami pelajari dan kami bilang itulah alam semesta.

Kau yang maha tahu. Kau penguasa jagad raya. Kau penguasa alam semesta. Alam semesta yang mungkin lebih besar dan luas melampaui apa yang pernah kami tahu, tolong. Tolong kami. Jangan hukum kami. Berkatilah semua insan di muka bumi ini tanpa kecuali. Laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang besar, tua dan muda, yang masing-masing ngotot dan bersihkukuh akan keyakinannya. Semuanya, semuanya,  tolong. Tolong. Tolong kami.

Kami hidup dan dibesarkan dalam sebuah keyakinan yang menyatakan bahwa keyakinan kami adalah yang paling benar, bahwa kebenaran yang kami agungkan adalah yang kebenaran sejati, yang adalah benar-benar-benar. Dan itu tak bisa digoyahkan oleh apapun juga.

Semua perkataan dan keyakinan yang bertentangan dengan yang kami percayai adalah salah. Itu adalah filsafat kosong,  sebut kami. Tak boleh dipercayai, karena itu semua tak bermakna dan hanya bualan belaka. Pokoknya tak ada yang benar selain yang kami yakini. Dan kami harus berusaha membawa dan mempengaruhi orang-orang sebanyak mungkin untuk masuk dan turut berbagian dalam lingkungan kami. Karena itulah pesan yang kami terima dan mesti kami pertanggungjawabkan. Orang yang berbahagia menurut kepercayaan kami adalah mereka yang membawa semakin banyak orang untuk percaya dan menerima apa yang kami yakini sebagai kebenaran yang memang benar.

Oh… Kau  maha tahu. Kau penguasa segalanya. Sungguh, aku sendiri pun seorang buta dan tak tahu apa-apa.

Lalu apa jadinya bila orang tak menerima kebenaran kami? Kami menyebut mereka bebal. Kami menyebut mereka orang yang hina, kami menyebut mereka orang yang bludek. Kami menyebut mereka kafir, tak bertuhan. Kami menghakimi mereka bahwa ketika mereka mati nanti, mereka takkan mendapat tempat yang indah  melainkan mendapat tempat yang mengerikan, penuh ratap tangis dan gertak gigi.

Kami hanya manusia yang lemah yang tak tahu apa-apa, tetapi kami begitu yakinnya akan kepercayaan kami bahwa siapa yang percaya dan menerima kebenaran kami, bagaimanapun kehidupannya di bumi ini, kalau dia mati, dia sudah pasti mendapat tempat yang amat sangat baik, yang indah tiada taranya. Itu sudah pasti, kata kami. Tidak mungkin tidak. Kami harus percaya karena itu yang dikatakan dalam kebenaran kami.

Kau penguasa alam semesta. Jika orang-orang belum percaya dan menerima kebenaran yang kami yakini, bahwa itulah kebenaran sejati, toh semua mereka adalah kami juga, kami manusia. Sayangilah kami. Sayangilah juga mereka. Karena kami semua satu.

Saat seseorang lahir di permukaan bumi ini, indranya  sudah ditanamkan dan diyakinkan oleh lingkungannya bahwa inilah yang benar dan itu salah. Berangkat dari situlah dia akan terus mengingat dan meyakini apa yang pertama kali dia dengar, sehingga tidak mudah menerima dan mengakui kebenaran yang diberikan orang lain padanya.

Kau sang maha tahu, Kau penguasa jagad raya dan segala isinya.

Jika yang kami anut dan yakini itu salah, serta mereka yang adalah bagian diri kami¬† itu juga salah, maafkanlah kami. Ampunilah kami. Justru karena ketidaktahuan kami, Kaulah yang harus ‚Äėberbangga‚Äô bahwa Kaulah sang maha tahu yang tahu segala-galanya dan tiada seorang manusia pun yang mampu menyingkapkan kebenaran yang sebenar-benarnya.

Kau, Sang maha tahu. Aku mengungkapkannya pada-Mu seperti ini karena aku orang lemah. Aku tak tahu apa-apa.

Begitupun, mengikuti batas-batas yang dibuat alam dan orang-orang, seorang seperti aku juga tak mau meninggalkan tradisi keluarga serta orang di dekatku. Karena batas-batas itulah, aku akan dihujat sebagai pengkhianat karena mempertanyakan dan menyuarakan isi hatiku.

Kau tahu, aku akan dikucilkan, aku akan disingkirkan sebagai orang yang melawan kehendak dan norma satu institusi.

Kau, Kau pencipta dan pemilik semesta. Kau sang maha tahu. Sebagai manusia yang ingin hidupnya bermakna dan memberi makna, aku ingin punya landasan selama aku menumpang hidup di muka bumi ini. Dan tentunya, tiada landasan yang kuat selain semua yang telah diberikan padaku sejak aku masa kanak-kanak, remaja hingga masa sekarang ini. Dengan semua penyerapan yang kutahu masih kurang ini, aku dikuatakan untuk terus hidup dengan memberikan makna. Dan bila aku keluar atau masih terombang-ambing akan tiang penyangga yang menopang aku, bagaimana aku hidup? Apa yang menjadi landasanku serta apa yang harus kuperjuangkan? Untuk apa aku mesti berusaha sekuat tenaga? Demi apa aku bekerja keras? Demi apa dan siapa, sampai aku mesti berkorban dan menahan derita padahal aku hanya menumpang sebentar saja di muka bumi?

Kau pemilik segala. Kau sang maha tahu.

Kami ini manusia yang tidak tahu apa-apa. Tolong kami. Satukan kami. Biarkan kami hidup berdampingan dengan damai. Biarkan kami saling menyayangi. Jangan Kau buat kami saling memusuhi oleh karena perdebatan yang tak akan pernah henti ini. Jangan biarkan kami saling menyakiti. Jangan biarkan kami saling memusnahkan, oleh karena ketidaktahuan ini.

Mengapa orang-orang yang adalah bagian diri kami juga, berusaha keras memusnahkan orang lain yang tidak meyakini kebenaran yang mereka yakini? Karena menurut yang mereka yakini, barang siapa yang tidak meyakini apa yang mereka yakini, harus dimusnahkan dari muka bumi ini. Maka itulah, mereka mengerjakannya. Mereka mencintai pekerjaan itu. Bagi mereka, itu pekerjaan paling mulia. Mulia karena memperjuangkan yang benar. Mereka bilang, kerjakan dengan tulus! Karena itulah yang terbaik dan terpuji!

Ya.. ketika mereka mengerjakannya, mereka benar-benar mendedikasikan hidup mereka untuk itu. Mereka punya hati dan niat yang tulus untuk itu, sama seperti seseorang yang tahu panggilan pelayanannya dalam keyakinan yang kami anut.

Ya..siapa bilang mereka adalah orang jahat? Siapa bilang. Mereka bukan orang jahat, kataku. Mereka adalah manusia seperti kami juga. Kami yang ketika tahu bahwa yang ini yang benar, ya harus diperjuangkan. Perjuangkan sampai titik darah penghabisan! Itu semboyan setiap insan di muka bumi dalam memperjuangkan kebenaran.

Ya..Mereka orang-orang yang sama seperti kami. Hanya saja yang mereka terima berbeda dari kami. Padahal kami sama, kami hanya manusia. Manusia yang sesungguhnya tidak tahu apa-apa tapi berlagak tahu.

Oh. Kau sang maha tahu. Kau penguasa alam semesta.

Maafkan kami, ampuni kami. Sayangi kami, cintailah kami. Kami semuanya. Semua orang yang ada di muka bumi ini. Semuanya. Tanpa kecuali.

Amin.

#Anak dari Sang Pemilik Kehidupan Alam Abadi

Lippo Karawaci, Senin, 15 Maret 2010