Cuplikan Cerita UPH, Kegiatan Seni dan Budaya

Bertemu Ayu Utami

Di Times Bookstore UPH Karawaci. Terima kasih kepada sang pemotret, seorang kawan saya yang sudah saya lupa siapa. saya sedang berusaha mengingat-ingat. yang jelas ia berjasa sekali memakai kamera hp-nya mengabadikan momen ini kemudian mengirimkannya pada saya😊🙏

Cerita pertemuan pertama.

Saat itu saya sedang tidur. Setengah sadar setengah pulas. Tiba-tiba datang kawan saya, orang Toraja, Arni namanya. Membangunkan saya tergesa-gesa dan bilang, “Mace, cepat kau bangun. Segera ke Times. Ada Sri Utami di sana.” Saya kaget bangun.

Sri Utami? Memangnya kenapa dengan Sri Utami? Sri Utami adalah salah satu kawan kamar saya di tahun pertama sewaktu kami di kamar 3805 dan saat itu kami sudah beda kamar beda lantai. Apa istimewanya dia kalai sekarang dia lagi di sana.

“Itu Sri Utami yang penulis itu. Cepat.” Ia sendiri kelihatan tak sabar.

Saya bangun ogah-ogahan. Maunya terus tidur karena saya baru saja pulang SOW di perpustakaan. Saya masih belum mengerti hubungan antara nama Sri Utami dan penulis. Setelah bangun dan mulai mikir-mikir, baru saya tiba-tiba teringat. Jangan-jangan Ayu Utami, penulis novel Saman.

Kebetulan juga kawan saya, Sri Utami, membuat nama akun facebooknya dengan nama Ayu Utami, meski hampir semua kawan fasih mengingat namanya adalah Sri Utami. Saya menjadi yakin. Pasti Ayu Utami. Kawan saya ini mungkin antara kabur-kabur mendengar nama penulis itu dengan kawan kami, Sri di kampus.

Segera dengan cepat saya bergerak turun. Tak sempat mandi lagi. Hanya mencuci buku dan mengambil sembarang baju di lemari dan segera berlari ke luar asrama menuju times bookstore yang ada tepat di gerbang kampus.

Saya tiba dengan napas tinggal satu-satu. Masuk melalui pintu belakang toko twntunya Ternyata acaranya sudah usai. Tinggal kursi-kursi kosong berbalutkan kain putih yang elegan. Orang-orang sementara mengbrol satu sama lain. Nampak di bagian depan, ada orang berkerumun. Nah, itu dia. Pasti itu sang tamu yang sedang dikerumuni. Siapa laginkalau bukan dia. Saya menunggu dari jauh sambil berkeliling melihat-lihat buku yang dipajang saat itu. Cukup lama sampai kerumunan itu pelan-pelan berkurang.

Tinggal seorang bapak. Saya yakin itu pasti staf UPH kalau bukan maka dosen (yang jelas bukan dosen TC), dilihat dari pakaian yang ia kenakan. Saya mencoba mencuri dengar apa pertanyaannya, biar saya bisa belajar kalimat apa yang kira-kira akan saya pakai untuk jadi kalimat pertama saya menyapa sang penulis.

Saya mendengar ia kurang lebih bertanya demikian, “Mbak, saya ini masih kagum dengan cara Mbak menulis Saman. Apa yang ada di benak Mbak ketika menuliskannya?” Saat itu saya begitu kagum mendengar pertanyaannya. Dan kemudian karena sibuk memikirkan kalimat apa yang akan saya ucapkan kepada sang penulis, saya tidak memperhatikan apa jawaban Mbak Ayu kepada bapak tersebut.

Perbincangan dengan bapak itu selesai. Tinggal Mbak Ayu dengan beberapa staf Times Bookstores. Saya baru kemudian mendekat. Memperkenalkan diri dan meminta maaf kalau saya saya baru datang sehingga tak sempat mengikuti dari awal. Lantas, entah bagaimana yang saya tanyakan adalah bagaimana Mbak Ayu bisa memutuskan menjadi penulis, apakah sudah merupakan cita-cita dari kecil ataukah pernah ingin menjadi sesuatu baru kemudian beralih menjadi penulis. Yang saya ingat dari jawaban Mbak Ayu adalah cita-citanya sebelumnya adalah ingin menjadi pelukis. Tapi karena beberapa hal ia kemudian mengambil studi sastra dan merambah juga ke dunia jurnalis yang di tengah-tengahnya ia menulis buku itu.

Entah percakapan apa lagi atau mungkin hanya itu saja, saya kemudian mengambil satu buku yang saat itu dipajang, membayarnya di kasir, meminta tanda tangannya, dan foto bersama. Selesai hari itu,  dan saya merasa ada yang mekar dalam diri saya.

Pertemuan kedua, terjadi di tahun 2015. Ayu Utami dari Komunitas Salihara bersama Hivos menjadi sponsor utama festival pertama Komunitas Sastra Dusun Flobamora di Kupang. Karena saya bergabung dalam komunitas ini, maka tentu saja selama kurang lebih tiga hari di Kupang, meski tak intens karena hari-hari itu adalah hari-hari sekolah, pasti saya sempatkan diri datang ke festival terlibat dalam festival ini.

Sumber gambar: bilanganfu

Rasa senang saya dobel karena kedatangan Mbak Ayu Utami di Kupang ini, anak-anak murid saya di SMP-SMA Lentera Harapan Kupang pun bisa bertemu dan belajar berama Ayu Utami. Itu tepat berlangsung di hari kedua festival, Mbak Ayu menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan workshop menulis kreatif. Bahkan foto bersama mereka diunggah Mbak Ayu dalam satu akun media sosialnya.

 

Pertemuan ketiga inilah yang berlangsung di Salihara, tempat bergiat Mbak Ayu Utami dan rekan-rekannya.

Iklan
Merayakan Keseharian

Secuplik Kenangan: Malam, Jalan Kaki, dan Toko Buku

PRK yang biasanya bertempat di gedung SD Lentera di Bonipoi mulai tahun 2017 ini sudah pindah lokasi di hotel Astiti. Sudah lebih dekat dengan tempat tinggal saya di Naikoten. Malam ini adalah ibadahnya yang pertama untuk tahun 2017. Saya diantar saudara saya yang kemudian meneruskan perjalanannya ke rumah om di Kuanino.

Seusai ibadah, tepat pukul 8.30 pm. Saya keluar dari hotel dan berjalan kaki ke toko buku. Rasanya bahagia sekali berjalan kaki malam-malam ke toko buku.

Kenangan sewaktu kuliah di UPH dulu kembali menari-nari di benak. Kala itu biasanya di hari Jumat malam atau Sabtu malam, saya atau kadang dengan teman, biasa bepergian ke mall atau ke pasar malam atau ke toko buku di area mall atau toko buku lain di gerbang kampus. Semua tempat itu hanya ditempuh dengan berjalan kaki. Kita hanya perlu menyebrang jalan lalu sampai di tiga tempat pertama itu, sementara toko buku yang satunya lagi berada di dalam area kampus yang juga bisa diakses publik karena lokasinya tepat di depan jalan.

Jalan-jalan ke tempat itu bukan berarti pergi untuk berbelanja atau berfoya-foya. Terkadang atau lebih tepatnya sering, kami pergi tanpa uang serupiah pun di tangan. Hanya sekadar jalan-jalan atau sebut saja cuci mata. Atau mungkin juga kalau ada yang ingin membeli kebutuhan harian seperti pasta gigi atau shampoo atau sabun atau kopi atau gula atau teh (karena memang di sekitar asrama tak ada kios atau minimarket sehingga satu-satunya tempat belanja hanya di hypermart atau foodmart di area mall sekalipun itu hanya kebutuhan kecil seremeh shampoo atau pasta gigi) mungkin ia hanya akan membeli sesuai keperluan, selebihnya berjalan melihat-lihat lalu singgah di toko buku di mall dan kalau tak puas di sana maka perjalanan dilanjutkan lalu singgah lagi di toko buku kedua di gerbang kampus.

Nama toko buku itu Times Bookstores yang kini sudah berganti menjadi “Books & Beyond”.  Toko buku di gerbang kampus ini punya tempat tersendiri di hati saya. Banyak cerita pahit manis terjadi di sana. Bahkan mungkin ia ikut menjadi saksi salah satu dari momen-momen tak terlupakan di Karawaci.

Nyaris seperti yang baru saya alami hari ini. Jumat malam. Ikut ‘Friday Night’ (ibadah rutin mingguan mahasiswa asrama). Ibadah selesai. Antri di pintu keluar. Tak segera pulang ke asrama. Cepat-cepat ke taman. Menunggu. Melangkahkan kaki dengan riang dan penuh semangat. Menuju toko buku. Mendekam di sana. Larut. Suara pengumuman. Toko buku akan segera ditutup-harap transaksi diselesaikan. Lampu-lampu dipadamkan. Terkejut dan tertawa. Melangkah keluar. Meniti setapak di taman. Kembali ke asrama. Tidur dengan mimpi indah. 🙂 🙂

Demikian secuplik kenangan tentang berjalan kaki malam-malam ke toko buku.