Kegiatan Seni dan Budaya

LIFEs Hari Pertama

IMG20171019184621LIFEs adalah salah satu kegiatan yang diadakan Komunitas Salihara di Jakarta. LIFEs itu sendiri adalah singkatan dari Literature and Ideas FEStival.  Kegiatan ini berlangsung selama hampir sebulan penuh, dari tanggal 7 hingga 28 Oktober 2017. Di antara beberapa kegiatan itu terselip di antaranya sesi Forum Penulis Muda Indonesia yang berlangsung dari Kamis, 19 hingga Minggu 22 Oktober 2017. Nah, saya mendapat undangan untuk yang forum itu. Tidak tahu kenapa dan dari segi mana dilihat sehingga saya ikut diundang. Untuk itu, saya ucapkan terima kasih saja kepada Komunitas Salihara dan Yayasan Lontar.

Dari Kupang saya dan Kak Dicky (Christian Dicky Senda) baru berangkat di Kamis pagi. Sementara ada beberapa kawan dari luar Jakarta ada yang sudah berangkat lebih dahulu sehari sebelumnya. Kami tiba siang hari di Salihara dan bertemu dengan 12 (-1) orang lainnya yang juga diundang untuk sesi yang sama, serta berkenalan dengan beberapa di antara panitia kegiatan ini. Mereka antara lain Rebbeca, Mbak Wikan dan Mbak Nina dari Lontar.

Tak berapa beristirahat lama, kami langsung mengikuti sesi yang sudah diagendakan untuk hari itu. Berikut beberapa cuplikan di Hari Pertama mengikuti kegiatan LIFEs.

Sesi Satu: Sebelum buku diterbitkan

Sesi tersebut menghadirkan Mbak Dewi Noviami sebagai moderator, Pak Anton Kurnia dari Penerbit Baca dan Mbak Mirna Yulistianty dari GPU sebagai narasumber.

Mbak Mirna mengisahkan serba-serbi penertbitan di Gramedia Pustaka Utam
Sekilas tentang Jurnal Ruang, salah satu teman main GPU

Break

Break ini hanya berlangsung kira-kira 20 menit. Ada penganan dan teh kopi disediakan di dekat pintu keluar black box theater. Jakarta sedang hujan saat itu sehingga hampir semua peserta diskusi hanya menikmati penganannya di sekitaran lorong itu.

Di sela-sela sesi break itu, ternyata ada yang didatangi untuk diwawancarai terkait #LakoatKujawas dari Mollo, TTS.

Sesi Dua: Setelah buku diterbitkan

Sesi dua masih tetap dengan moderator Mbak Dewi, menghadirkan narasumber Pak Aldo Zirsov dari Goodreads Indonesia dan Mr John McGlyn dari The Lontar  Foundation.

Sesi Malam: Perayaan HUT ke-30 Yayasan Lontar dan Pembacaan Karya

Goenawan Mohamad (sungguh malang kalau kau tak kenal siapa beliau… 😉😄)
John McGlynn dari Yayasan Lontar

Mari tersenyum lebar😜😍😆. Dalam rangka merayakan HUT ke-30 Yayasan Lontar, mereka membagikan hadiah buku. Tak disangka saya kecipratan dapat buku Antologi Cerpen😍😎😙.

Hari pertama ditutup dengan menikmati makan malam bersama di Kedai Salihara. Selain kami anggota forum penulis muda di situ, ada dua kawan baru dari sekitaran Jakarta yang katanya tiba-tiba ‘tersesat’ saja di Salihara malam itu😄.

Catatan Film

Menonton Film “Nokas”

*Dari kacamata bocah melihat keterlibatan bocah 😉 🙂

Nokas adalah sebuah film dokumenter karya seorang sineas muda NTT, Manuel Alberto Maia atau yang biasa disapa dengan nama Abe.

Film ini akhirnya diputar di rumah sendiri, kota Kupang, pada tanggal 17-18 Februari 2017 tepatnya di Taman Budaya NTT, setelah sebelumnya mengikuti beberapa ajang di antaranya Eurasia International Film Festival di Kazakhstan pada 27 September 2016 dan Singapore International Film Festival 2016. Di Indonesia, Nokas ini pun masuk dalam daftar nominasi FFI 2016 yakni dalam 5 besar Film Dokumenter Panjang Terbaik.

Film Nokas di sini bercerita tentang realita yang terjadi di tanah Timor, dan NTT pada umumnya yakni belis. Belis ini sendiri sebenarnya bukan hal asing dan baru di masyarakat NTT. Hampir semua orang menjelang pernikahannya, pasti belis selalu menjadi salah satu pokok pembicaraan yang tak bisa diabaikan begitu saja.

Demikian juga Nokas, sang tokoh utama dalam film ini. Ia ingin menikah namun diperhadapkan dengan kenyataan bahwa ada tuntutan belis dari keluarga sang perempuan, serta biaya pernikahan yang tidak sedikit untuk ukuran seorang petani sederhana dari pinggiran kota Kupang,  di mana ia harus berjuang memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut.

Memang sudah harus menjadi tanggung jawab mereka yang akan menikah, mengurus segala macam keperluan seperti pergi merencanakan ini dan itu, memastikan tanda pengenal identitas aman, membuat foto gandeng, mengabari setiap sanak yang tinggal di daerah lain lalu sekaligus mengundang untuk acara kumpul keluarga.

Nah, di dalam kisah ini, Nokas harus pergi mengabari ibunya yang tinggal di Pulau Semau, sebuah pulau kecil yang terletak di bagian barat pulau Timor dan masih tergolong dalam wilayah kabupaten Kupang. Ia pergi mengabari sekaligus mengundang agar nantinya mereka ikut dalam acara kumpul keluarga.

Ibunya yang berada di Semau bersama keluarga barunya yang juga hidup pas-pasan bahkan di bawah standar tak bisa ikut serta mempersiapkan pernikahan putranya di Kupang. Maka dari Pulau Semau, ia hanya menitipkan seekor babi yang diangkut dengan sepeda motor butut menuju pelabuhan.

7898efaae9c0cd87ab6894acbb4ab9f5
Sumber: qubicle

Dari film dokumenter berdurasi 76 menit itu, yang paling berkesan bagi saya adalah adegan ketika Nokas dan sang bocah mengangkut babi menuju pelabuhan menggunakan sepeda motor butut tersebut.

Saat mau berangkat, Nokaslah yang mengemudi motor dan sang bocah yang duduk di bagian belakang motor untuk memegang babi. Entah mungkin karena kepayahan, di tengah jalan, mereka berhenti dan meletakan babi itu di jalan.

Perjalanan selanjutnya, gantian sang bocahlah yang mengemudi motor. Pertama-tama saya pikir, sang bocah hanya berdiri menahan motor sementara Nokas memandangi babi yang tergeletak di jalan sambil merenungi perjuangan hidupnya. Ternyata kemudian sang bocah itu justru menghidupkan mesin motor dan dengan dengan wajah serius (sure, yang ini benar-benar tampak natural dan saya suka…:D), ia memainkan gas berulang-ulang, mencoba memastikan motor itu sudah siap dilajukan kembali.

Setelah sepeda motor itu meraung-raung sebentar karena gasnya dimain-mainkan oleh sang bocah, Nokas pun mengangkat babi itu, menuju motor, dan duduk di belakang dengan tetap mengapit babi pemberian ibunya, mereka melaju menuju pelabuhan.

Kegiatan Seni dan Budaya

Panggung Perempuan Biasa

Sabtu, 16 Juli 2016, tanggal yang cantik sekaligus menjadi hari istimewa bagi Perempuan Biasa. Di tanggal yang cantik ini, mereka menghadirkan panggung khusus perempuan bagi para penikmat seni dan sastra yang ada di Kupang.

perempuan-biasa2

Sebutan ‘Perempuan Biasa’ sendiri bermula dari sebuah judul monolog karya Abdi Keraf, disutradarai Lanny Koroh, dan dipentaskan Linda Tagie dalam acara “Kupang Pesta Monolog” pada bulan Maret 2016. Selanjutnya di bulan Mei, monolog Perempuan Biasa bersama Tubuh yang Palsu dari penulis yang sama dengan disponsori Taman Dedari Sikumana, diadakanlah pementasan Tour de Floresta, berturut-turut mengelilingi kota Maumere, Larantuka, Lembata, dan berakhir di Kupang. Tak berakhir hanya di sana, sebuah panggung khusus perempuan pun digagas. Maka menjadilah di Sabtu, 16 Juli 2016,  momentum Perempuan Biasa kembali bergaung di Kupang, NTT.

Mengusung tema “Panggung Perempuan Biasa, para perempuan baik perempuan NTT maupun luar NTT diberikan panggung istimewa untuk bedah buku dan pementasan seni. Acara bedah buku diadakan pukul 10.30 bertempat di SMP St Yoseph Kupang. Buku yang dibedah adalah karya seorang penulis perempuan Bali, Sri Jayantini, berjudul Bunga Perjalanan, sebuah kumpulan puisi dan prosa.

Bersama dua rekan lainnya Kaka Monika Arundhati dan Ibu Santri Djahimo, seorang dosen Bahasa Inggris dari Undana, kami yang adalah perempuan biasa (benar-benar biasa saya bilang, sebab contohnya saya sendiri walau suka dengan kegiatan baca tulis tapi diri ini sendiri pun belum pernah punya pengalaman membedah buku orang lain. Paling hanya pernah mengikuti acara bedah buku orang lain, itupun sebagai peserta atau penonton), diminta dan dipercayakan ambil bagian dalam bedah buku tersebut yang alhamdulillah berjalan baik. (Mungkin rangkuman pembedahan buku ada bagian tersendiri di Catatan Buku). Dihadiri kurang lebih 50-an orang, bedah buku disertai tanya jawab dan diskusi berlangsung hangat dan seru.

13723886_936570169822902_8705708169217603201_o
Sumber:Dok Perempuan Biasa

Sebelumnya, sebelum acara bedah buku dimulai maksudnya, sempat ada pengalungan salendang penyambutan dari sang tuan rumah, kepsek SMP St Yoseph sekaligus koordinator Dusun Flobamora, Romo Amanche Frank untuk kedatangan sang penulis perempuan Bali, Ibu Sri Jayantini juga kepada sang ibu dosen yang menjadi salah satu pembedah, Ibu Santri Djahimo.

Dilanjutkan pada malam hari, pukul 06.00, bertempat di Taman Dedari Sikumana, pementasan seni “Panggung Perempuan Biasa” dibuka. Ucapan salam penyambutan dan terima kasih dihaturkan koordinator Perempuan Biasa kepada para guest star baik yang dari Bali maupun Maumere, Lembata, dan komunitas di luar Perempuan Biasa. Dari Bali, hadir Ibu Sri Jayantini yang pagi harinya bukunya dibedah, dan Kaka April Artison yang ketika di atas panggung tampil memukau dalam monolog Pidato Tujuh Menit namun yang saya salut adalah ia berkali-kali mengenalkan dirinya sebagai ibu rumah tangga. Berikut dari Maumere, Komunitas Sastra Kahe tampil membawakan teater berjudul Du’a Buhu Gelo atau yang berarti Perempuan Kentut Kemiri.

13726751_1236254166399048_4733074006768862398_n
Sumber: Dok Perempuan Biasa, Foto Bedi Roma

Di luar Perempuan Biasa, ada juga mereka dari Komunitas hip-hop United of EX sebagai pembuka malam “Panggung Perempuan Biasa”. Tak lupa pula kepada pemetik sasando yang manis nan imut, Nona Virginia, seorang siswi SMP St Yoseph Kupang, membawakan lagu Mai Fali e… dan Haleluya.

Dari Perempuan Biasa sendiri, selain tiga buah tarian daerah NTT, sebuah puisi Perempuan dalam Doa oleh Febtian Candradevi Nugroho serta dua monolog dihadirkan kepada penonton diselingi tarian daerah dan sasando.

Monolog Perempuan Paling Bahagia dari Perempuan Biasa benar-benar menegaskan, saya perempuan biasa yang paling bahagia bisa menyaksikan pementasan seni “Panggung Perempuan Biasa” di malam istimewa tersebut. Kolaborasi yang indah dan megah antara penulis naskah Linda Tagie, sutradara Lanny Koroh, aktris Santji Muskanan, yang sempat saya dengar kata orang ia sudah nyaris sekelas Happy Salma, serta kru pendukung lain seperti Kaka Elin Taopan di bagian soundtrack, dan mereka yang lain di belakang layar cukup membuat saya nyaris tak bernapas hingga saya sadar saya baru menarik napas ketika sang aktris menyudahi monologianya yang keren atau yang orang Kupang bilang ‘babatu mangan‘.

Demikian juga ketika Perempuan Rembulan karya Yahya Ado yang dipentaskan Linda Tagie. Kisah tentang kehidupan seorang perempuan yang ketika mendapati suaminya ‘menyeleweng’, tak bisa berbantah banyak, ia pun memutuskan hijrah ke negeri orang, tekawe. Di sana baru didapatinya satu penyakit telah menggerogotinya sejak ia masih bersama sang suami. HIV/Aids sudah mendekam lama dalam tubuhnya sementara selama ini ia tak pernah berhubungan dengan seorang laki-laki mana pun. Lagi-lagi, entahkah ini mau disebut pengorbanan ataukah pembodohan ataukah pembiaran ataukah ketakpedulian ataukah penindasan ataukah kelaliman ataukah kekejaman ataukah kekurangajaran ataukah atau yang lainnya.

Kalau di sesi diskusi sempat saya dengan lontaran kalimat dari seorang komentator atau mau kalau boleh disebut kritikus ketika mengomentari penampilan April Artison dalam ngalor ngidul Pidato Tujuh Menit yang mengisahkan tentang pengabdian bertahun-tahun seorang guru honorer, bahwa tugas seni adalah menggugah, maka benarlah di malam pementasan seni “Panggung Perempuan Biasa” ini, saya tergugah akan sesuatu.

Terima kasih “Panggung Perempuan Biasa”. Telah engkau hadirkan panggung ‘sakral’ khusus perempuan untuk Kota Karang. Sekali lagi, sujud syukur dan kagum saya kepada Dia Sang Penyelenggara Kehidupan. Karena Dia dan untuk Dia pula, saya ingin menyampaikan salam salut penuh hormat saya kepada Kaka Lanny Koroh yang tergerak menyelenggarakan kegiatan ini, juga tak lupa kepada semua yang sudah terlibat. 🙂 :3

Kupang,  17 Juli ’16

13754650_1236253949732403_3131672240899387180_n
Sumber: Dok Perempuan Biasa, foto Bedi Roma
Tokoh Idola

Dua Aktor Idola

Kalau saya ditanya–walau mungkin saja tak akan pernah ada orang yang mau bertanya tentang hal ini–Siapa aktor idola anda, aktor Indonesia maksudnya? Maka akan saya jawab, “Sejak kecil, aktor Indonesia yang saya idolakan hanya dua orang. Christian Sugiono dan Nicholas Saputra.” Kebetulan juga ba’i* kandung saya dari pihak bapak namanya Kristian, plus ipar sulungnya bernama Nikolas.

2799960572_1a8f67e2e520150813_151811

Pertama kali melihat kedua aktor ini, saya seperti kena setrum tiba-tiba. Saya biasa lebih dulu mengetahui nama dan foto mereka pertama kali halaman koran yang meliput khusus tentang selebriti, barulah di tivi ketika tampang orang itu terlihat barulah saya ingat, oh ini orang yang pernah saya lihat di koran.

Aktor pertama, karena ketika pertama lihat fotonya, saya langsung menyukai lesung pipinya dan matanya yang keren–karena saya pun meyakini saya punya lesung pipi dan mata yang mirip dengannya. Aktor kedua karena saya suka rambut ikalnya, karena rambut saya pun ikal yang mirip-mirip. Aktor kedua ini pun mendapat porsi lebih karena perannya di film AADC itulah, ia serupa sosok misterius dengan tatap matanya yang seolah tersimpan sebuah kelam 🙂

Di kemudian hari, bertahun-tahun mengidolakan mereka, saya pun terbawa saja–yang saya percayai atas pimpinan Tuhan–akhirnya bisa bertemu langsung dengan mereka. Baru saya dapati tak tahunya ternyata dua orang ini punya kemiripan.  Ternyata selain di dunia entertain mereka juga entah terseret entah memang juga punya minat di situ, rupanya kedua orang ini ada keterkaitannya dengan dunia tulis-menulis–begitulah saya menyebutnya, selain di kemudian hari ternyata kawan main peran sang aktor kedua di AADC menjadi istri aktor pertama.

Aktor pertama, CS saya melihatnya pertama kali di UPH, Lippo Karawaci. Waktu itu Festival Penerimaan Mahasiswa Baru (welcoming new students)–tahun berapa saya agak lupa. Dia salah seorang narasumber dalam satu diskusi. Topik diskusinya benarnya saya agak lupa. Hanya seingat saya ia menyebut-nyebut tentang ‘wikipedia’. Kalau tak salah ia sempat mengatakan ia bekerja di Wikipedia atau seorang penulis lepas atau kontributor atau apalah istilahnya di Wikipedia–ternyata setelah mencoba mengecek di internet, barulah saya dapat info jelasnya CS waktu itu adalah duta Wikipedia Indonesia.

2802557198_7fbcf88501

Diskusi itu berlangsung di Cafe of Art UPH yang satu gedung dengan kantin kampus, Food Junction. Jadi tak sengaja waktu saya dan kawan saya pergi mengambil makan siang, tepat di lantai dasar ketika melewati Cafe of Art, saya melihat ada deretan kursi tersusun rapi dan beberapa orang sementara duduk menyimak. Ketika saya menoleh ke arah panggung, baru saya tahu. Ada CS ternyata di sana.

Keberadaanya memang tak begitu menarik perhatian, sebab di samping kiri kanan panggung, banyak berlalu-lalang para mahasiswa yang keluar masuk kantin. Selain mungkin karena tampang para aktor/aktris di sini tak beda-beda jauh dengan para mahasiswanya, dan banyak sudah para mereka (pekerja seni) yang juga adalah bagian dari kampus ini, atau juga sering diundang manggung di sini. Jelaslah kedatangan CS itupun menjadi sesuatu yang biasa, membuat saya yang awalnya sumringah mengetahui keberadaannya di kampus pun ikutan merasa biasa.

2801664351_8858eb951e

Pada kawan, saya berbisik, “Itu aktor idola saya dulu.”

Ia tertawa sebentar, “Terus, sekarang tidak lagi?”

Tanggapannya saya sambut dengan ketawa pula.

Sang kawan saya ajak ikut berdiri sebentar mendengarkan kira-kira apa yang sedang ia bicarakan. Sebentar saja kawan saya sudah bosan karena itu tentang menulis. Ia memang tak begitu tertarik dengan dunia-menulis.

Ia mengajak lanjut mengambil makan siang yang saya tangguhkan, “Duluan saja, saya belum lapar. Nanti baru saya nyusul.” Padahal sebenarnya perut saya pun sementara keroncongan.

Ketika kawan saya naik ke lantai atas–tempat makanan kami ada di lantai atas–saya segera mencari tempat duduk untuk ikut mendengarkan pemaparannya tentang penulisan di wikipedia. Diskusi itu di ruangan terbuka sehingga siapa saja bisa mengikutinya. Kebetulan juga peserta yang mendengarkan pemaparannya tidaklah banyak. Banyak kursi yang tak diduduki.

Saya mengikuti sampai selesai. Bahkan sampai sesi tanya jawab walau sekarang kalau kau tanyakan pada saya apa materinya dan apa-apa saja yang didiskusikan jelas saja saya sudah lupa, karena waktu itu mungkin saya lebih fokus pada lesung pipi sang aktor, cara ia menatap para audience, dan ternyata suaranya juga bukan main kerennya. 😀

Hanya begitu saja kisah pertemuan saya dengan aktor idola pertama. Dia berbicara di atas panggung sana dan saya hanya seorang mahasiswi semester awal-awal yang tidak populer sama sekali, yang duduk di bangku peserta sambil mengagumi dari jauh. Dalam hati saya salut benar. Betapa keren ia yang sudah tampangnya rupawan juga mau terjun di dunia tulis-menulis. Pikir selama ini para artis hanya mengandalkan tampang fisik. Dan ini, sudah bertampang keren, pintar pula. Entahlah terserah apa yang kau pikir, tapi pintar versi saya adalah mereka yang ikut ambil bagian dalam dunia tulis-menulis. Entah terlibat langsung atau sebagai apresiator.

Waktu itu, sebagai mahasiswa kere yang tak punya HP kamera jelas saja tak ada fotonya yang sempat saya abadikan (Sumber foto CS dalam tulisan ini pun baru saya ambil dari sini, sepertinya diupload anak UPH juga yang waktu itu hadir). Saya hanya mengamati dari jauh ketika mereka foto bersama narasumber dan moderator atau MC. Tak ada yang heboh di antara para peserta diskusi meminta foto. Tak ada sama sekali.

Usai sesi foto, ditemani beberapa orang mungkin panitia festival, CS menikmati makanannya di kantin kampus lantai dasar. Melihat mereka makan, saya pun segera naik ke lantai atas mengambil ransum makan siang saya.

Berbeda dengan aktor pertama, kali ini pertemuan dengan aktor kedua justru meninggalkan kesan tersendiri. 😉 🙂 Pertemuan kami bukanlah di area kampus elite nan mentereng yang menjadikan keberadaannya tampak biasa di antara seribu rupa manusia yang mirip-mirip. Kali ini pertemuannya dibungkus sabana yang membentang luas dan pemandangan yang serba lepas. Sumba, NTT.

Feel-nya beda,” komentar seorang kawan saat mendengar cuplikan cerita pengalaman saya selang beberapa hari kemudian ketika kembali ke Kupang.  “Dibanding UPH.”

Pertemuan ini pun masih berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Waktu itu sungguh saya merasa terhormat diberi kepercayaan dari kawan-kawan Komunitas Sastra Dusun Flobamora  (Dunia Sunyi Flores Sumba/Sabu Timor/Rote Alor) di Kupang membawakan workshop menulis cerita pendek pada satu kegiatan yang diselenggarakan satu lembaga, Arts for Women Indonesia yang ketuanya adalah kawan baik dari sang aktor.

img_20150816_190941

Semula saya tak berpikir bahwa akan ada aktor itu di sana. Jadi saya dengan santai dan tenang mengerjakan bagian saya. Sampai menjelang usai kegiatan, ketika dengan beberapa kawan di samping saya yang sementara memilah-milah karangan terbaik hasil workshop, dan saya mengangkat kepala sekadar untuk menarik napas. Ketika melihat ke arah pintu masuk, ada saya lihat satu sosok dengan tampang yang berbeda sendiri dari yang lain. Ia sementara duduk tegak menyamping dari arah pandang saya sambil mengobrol dengan beberapa orang di sana. Saya sempat berpikir sebentar mengingat-ingat siapakah gerangan orang tersebut, sebelum akhirnya saya lalu tercekat tiba-tiba. Omg, itu kan sang aktor idola. Saya seketika itu seperti lupa bagaimana cara bernapas.

Kawan-kawan yang duduk berdekatan dengan saya sampai kaget dengan ekspresi saya yang tak mereka duga sebelumnya. Kata mereka setelahnya, “Kau di kelas tampak begitu berwibawa sampai datang orang itu, Anaci.”

Ah, biarlah. 😀

Namanya juga didatangi tiba-tiba aktor idola. Sebenarnya semalam sebelumnya saya sempat mendengar bisik-bisik bahwa sang aktor akan datang. Tapi, yah, namanya kebiasaan saya kalau mendengar sesuatu yang sambil lalu, saya tidak pernah menaruh perhatian khusus. Jadi bisik-bisik yang sambil lalu sama sekali tak tersimpan di kepala. Tak ada pikiran saya sampai ke sana tentang sang aktor. Sudah. Titik. Semua berjalan baik di kelas sampai ketika setelah beberapa lama menunduk membaca beberapa cerpen karya kawan-kawan dan saya mengangkat kepala sebentar untuk sekadar mengambil napas itulah.

Selanjutnya oleh kawan-kawan saya yang baik hati lagi pengertian itu, saya ditepuk-tepuk pundaknya untuk kembali fokus kepada tugas saya yang belum selesai. Memilah karangan-karangan terbaik untuk diberikan cenderamata.

Seusai acara pemberian cenderamata. Oleh sang pemimpin penyelenggara kegiatan, sang aktor dipanggil dan dipersilakan membacakan salah satu cerpen yang ia pilih sendiri berlatar sabana dari buku kumpulan cerpen “Hari-hari Salamander” bagi peserta workshop–ingat, bagi peserta workshop, bukan pemateri ;). Waktu ia membaca, barulah saya tahu satu hal lagi tambahan, suaranya. Amboi, suaranya. Saya serupa mendengar suara malaikat utusan Tuhan yang begitu indah di telinga saya. Saya tak lagi hanya fokus pada rambut ikalnya seperti sewaktu saya melihatnya pertama kali. Kali ini level–begitu kata kawan saya seorang penulis juga–sang aktor meningkat. Tampakan dirinya dari jauh juga suaranya. Sayang sekali saking terpukaunya, saya lupa kalau harus merekam suaranya sewaktu membaca cerpen itu. Sayang sekali.

13112883_10206365846038807_3439331675290002765_o

Selesai ia membaca cerpen ia kembali ke kawan kami sang ketua penyelenggara kegiatan duduk. Saya kembali mengobrol dengan beberapa peserta workshop tentang cerpen-cerpen hasil karya mereka tadi. Tiba-tiba saya melihat kawan kami itu tangannya melambai ke arah saya sambil suaranya memanggil, “Anaci, sini.”

Segera saya hentikan obrolan kami, lalu beranjak ke arah mereka.

Saya tersenyum gugup.

“Nih, kenalin, Anaci, yang bawain workshop cerpen tadi,” kata kawan kami sang ketua penyelenggara kegiatan tersebut dengan santai.

Saya justru yang tidak santai.

“Oh, begitu.. Niko,” ia tersenyum dan mengulurkan tangan.

“Anaci,” saya menyambut tangannya dengan gugup. Saya tak yakin suara saya terdengar.

Diam sejenak setelahnya.

Mungkin kawan kami menangkap kegugupan saya, “Nah, Anaci, ceritain dong sama ka’ Niko, kamu dari mana, dari komunitas apa, bikin kegiatan apa-apa aja di sana.”

Waduh. Saya meringis dalam hati.

Sementara saya tak yakin suara saya akan terdengar normal.

Tapi karena menyadari ia sedang dalam sikap memandang saya seolah menunggu, saya pun mengeluarkan suara. Berusaha keras menunjukan ekspresi tenang dengan suara yang normal. Saya mengenalkan sedikit tentang Dusun Flobamora yang baru saja dengan dukungan Salihara menyelenggarakan festival sastra perdananya di Kupang, Festival Sastra Santarang. Seperti biasa ketika berinteraksi, dengan siapa pun saya akan melihat ke arah lawan bicara, dan tepat saat yang sama ia memang juga memang demikian. Dan astaga… lagi-lagi saya tercekat. Matanya yang dulu saya bilang kelam itu justru memikat sekali.  Di sini saya seperti melihat mata Tuhan. Mata Tuhan yang memandang dengan lembut, yang membuat sesuatu berpendar dalam diri saya.

Syukurlah, tak berapa lama momen itu, tiba-tiba datang beberapa peserta workshop meminta mengambil gambar bersamanya. Demikian disudahilah sedikit perbincangan yang saya sendiri pun seperti tidak sadar apa saja kalimat-kalimat yang sudah meluncur keluar dari mulut saya. Karena orang-orang memang sedang minta foto bersama, demikian saya pun dapat foto yang berdua.

img_20150821_203537
Salah satu foto di hari selanjutnya 🙂

Demikianlah kisah pertemuan dengan aktor kedua di hari pertama selesai.

(Bersambung) – cerita sambungannya adalah pada hari kedua dan hari ketiga inilah yang membuat saya seperti berasa kelu…  😉 :v 😀

Catatan:

* kakek

Kegiatan Seni dan Budaya

Pameran Lukisan “Oko Mama: Bianglala Rupa Flobamorata”

poster-pameran-ntt
Sumber: Poster Galeri Nasional Indonesia

Pameran Lukisan “Oko Mama: Bianglala Rupa Flobamorata” merupakan salah satu program  Pameran Keliling Karya Pilihan Koleksi Galeri Nasional Indonesia (GNI). Program ini sesuai yang dituliskan di website mereka, bertujuan untuk memperkenalkan karya-karya seni rupa koleksi negara yang disimpan oleh Galeri Nasional Indonesia sehingga dapat langsung dilihat dan diapresiasi oleh masyarakat luas di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Pada pameran ini, selain ditampilkan karya pilihan koleksi GNI, juga ditampilkan karya  perupa wilayah setempat yang dipilih dan disajikan secara berdampingan dalam satu ruang pameran.

Pada tahun 2014, NTT mendapat kesempatan menjadi salah satu tempat tujuan dari program tersebut. Di Kupang, pameran ini dibuka selama seminggu dari tanggal 28 April – 3 Mei 2014, bertempat di Taman Budaya Prov NTT. Dibuka dari pukul 09.00 – 17.09 wita.

Pada pameran “Oko Mama: Bianglala Rupa Flobamorata” ini, terdapat 40 karya yang dipajang. Karya-karya tersebut antara lain 20 lukisan karya para maestro seni rupa Indonesia dan Internasional yang menjadi koleksi Galeri Nasional Indonesia serta 20 karya perupa pilihan Nusa Tenggara Timur.

Saya sendiri senang dan bersyukur sempat berkunjung ke sana walau baru pergi di hari terakhir pameran karena itu tepat di hari Sabtu. Hari-hari lainnya saya tak sempat karena melihat waktu buka yang hanya sampai di pukul 17.00. Saya cukup senang karena walau di hari terakhir, saya masih sempat mendapat katalognya.

20170202_203336

Dari beberapa karya yang dipajang di sana, hampir semuanya tentu bagus, menarik, punya cerita uniknya sendiri. Namun di antara mereka, ada satu yang paling saya suka. Karya itu berupa lukisan. Hasil karya seorang pelukis NTT yakni Fecky Messah. Lukisan itu diberi judul Red My World yang ‘anehnya’ bisa diterjemahkan menjadi (atau mungin adalah terjemahan dari) Dunia Merah.

Red My World (Dunia Merah) oleh Fecky Messsah. 2013.                               Cat minyak di kanvas. 155 cm x 120 cm.

Ada beberapa alasan saya menyukai lukisan tersebut. Berikut ini saya uraikan alasan-alasannya.

Pertama, objek lukisan itu adalah seorang bocah. Saya sangat menyukai sesuatu yang beraroma bocah terutama dalam seni. Entah itu cerita, film, foto, lagu, ataupun lukisan. Saya sendiri punya kumpulan cerpen yang juga bercerita tentang bocah. Judulnya Persinggahan Bocah Indigo, atau dapat disingkat dengan PIB. PIB itupun adalah cerpen pertama saya yang dipublish di media cetak ketika saya masih duduk di bangku kuliah semester 6. 🙂

Kedua, saya menyukai warna merah. Lukisan Red My World atau Dunia Merah ini dilatarbelakangi oleh warna merah. Selain selimut yang membungkus sang bocah, juga tampakan alam di baliknya yang juga berwarna merah. Alam yang di atas tampak lebih merah terang daripada di bagian bawahnya yang nampak lebih gelap. Di bagian bawahnya, tampak juga bebatuan yang tandus, ditemani beberapa batang pohon kering tak berdaun. Lukisan ini benar-benar menggambarkan NTT yang sebagian besar wilayahnya kering, gersang, dan panas.

Ketiga, saya suka cara sang bocah memandang. Pada lukisan tersebut, ia mengarahkan matanya ke arah kiri bawah. Ia seperti bukan sedang melihat sesuatu, melainkan sedang berpikir atau mengenang. Ada sebuah catatan kenangan yang terpancar dari pandangan matanya. Mungkin ia sedang mengenang orang-orang terkasihnya yang baru saja meninggalkan dunia, atau adiknya yang merengek kelaparan namun tak tersedia cukup makanan di rumah, atau kakeknya yang berjalan berbungkuk-bungkuk mencari hasil-hasil hutan yang mungkin dapat dimakan, atau tetangganya yang baru tadi pagi datang memarahi ibunya karena memukul anaknya yang usil, atau keinginannya bersekolah tak dapat diteruskan karena tenaganya dibutuhkan di rumah demi membantu bapak dan ibunya di kebun atau ladang-ladang yang bahkan tak lagi mampu menumbuhkan tanaman.

Keempat, dari sosok sang bocah, terlihat ia bukan seorang anak yang hidup hanya untuk bersenang-senang dan menganggap hidup ini memang berjalan apa adanya tanpa perlu diperjuangkan. Badannya yang kurus dengan telapak tangannya yang nampak lebih besar, cukup menggambarkan bahwa ia adalah seorang pekerja keras. Tangannya yang masih berumur muda itu mungkin sudah berpengalaman dalam membongkar batu, menggali tanah, memotong kayu, mendorong kereta, menarik binatang-binatang ternak, mengangkat apapun itu yang berbeban berat. Ia memang bocah yang luar biasa.

Demikian beberapa alasan saya kenapa saya menyukai lukisan Red My World atau Dunia Merah. Seandainya saya boleh diberi kesempatan menamai lukisan itu, maka akan saya namai Bocah dalam Balutan Merah.

Ia bocah, hidup di alam yang penuh tantangan, namun berani menghadapi dan menjalaninya. Demikian berlama-lama memandang lukisan ini, saya jatuh cinta pada bocah. Salut untuk Bapak Fecky Messah.