Catatan Buku, God's Story, Merayakan Keseharian

Bahan Bacaan Liburan Natal

Sekilas tentang buku-buku yang direncanakan baca dan dituliskan kembali:

IMG20171227190819.jpg1. Drama Doktrin oleh Kevin J Vanhoozer. Buku ini merupakan Suatu Pendekatan Kanonik-Linguistik pada Theologi Kristen.  Saya baru menengok bagian pedahuluannya. Cukup banyak dan agak berat isinya. Baru baca pendahuluan tapi serasa sudah membaca pembahasan babnya. Selama membaca buku ini, pensil selalu di tangan kanan saya. Kenapa? Untuk saya menandai dan mencoret-coret bagian pinggirannya demi saya bisa mengerti.

Dari bab pertama, ditekankan kepada ingin menjelaskan secara tepat apa yang telah Allah kerjakan di atas panggung sejarah dunia. Ialah Kabar Baik. Injil adalah “drama terbesar yang pernah dipanggungkan….” Ada panggung kosmik dan alur cerita kovenan; ada konflik; ada klimaks; ada penyelesaian. Kemudian beberapa poin berikut yang saya buat terpisah: 1) Bila teks Akitab bersifat narasi maka, drama/teater, sebaliknya lebih menunjukkan daripada menceritakan. Kita pun mesti tak membuat perbedaan tegas antara ‘kata’ dan ‘tindakan’. Bagaimanapun teater adalah ‘bahasa tindakan’, dan tugas dramawan adalah ‘mengajar melalui tindakan’ (hal 64) 2) Sementara dunia berada dalam drama penebusan yang terus menerus berlangsung ini, dunia yang menjadi panggung teater kita, apa adegan kita sebagai aktor yang mesti kita mainkan sementara menurut pendapat buku ini, Allah dan manusia adalah aktor dan pemirsa secara bergantian?  (hal 74) 3) Dunia adalah teater tindakan, bukan hanya perenungan; sebuah teater bagi operasi-operasi di mana perang kosmis sedang diperjuangkan di banyak medan budaya. Karena itu drama doktrin melibatkan pergumulan mengenai cara terbaik untuk mempertontonkan kemuridan seseorang” (hal 78).

2. Belum Kalah oleh Avent Saur. Buku ini adalah sekumpulan esai penulis selama menjalankan panggilannya sebagai imam yang juga bekerja sebagai wartawan di sebuah koran lokal di Flores. Berisi tulisan-tulisannya yang pernah dimuat di koran tersebut mengenai orang-orang yang didiagnosis mengalami gangguan kejiwaan di sekitaran daratan Flores. Orang-orang tersebut disebutnya dengan orang-orang yang Belum Kalah. Diceritakan bahwa sekalipun sudah ada himbauan agar tidak ada lagi pemasungan, namun di Flores masih dijumpai banyak sekali orang-orang sakit yang dipasung, ataupun dibiarkan berkeliaran tak terurus baik oleh keluarga maupun pemerintah melalui dinas sosial. Tanggapan sekilas saya, buku-buku dengan isi semacam ini langka, pemahaman yang dibagikan kepada pembaca baik, mengajak kita agar tidak serta-merta membuang muka terhadap orang-orang belum kalah. Hanya saja teknik pembahasaan dan penyusunan kumpulan esai ini karena hanya sekadar melampirkan tulisan-tulisan yang pernah dimuat di koran membuat bacaan ini jadi sedikit membosankan bagi saya.

3. Vegetarian, sebuah novel dari penulis Korea Selatan, Han Kang, yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Deborah Smith. Buku ini terdiri dari tiga bagian cerita. Menceritakan tentang satu orang tokoh dari tiga sudut berbeda. Bagian pertama dari sudut pandang sang suami, bagian kedua intens bersama sang ipar laki-laki, dan yang ketiga bersama saudara perempuannya. Dari tiga bagian cerita ini, saya lebih menyukai bagian pertama karena menceritakan tentang pergumulan suaminya ketika pertama mendapati tingkah aneh istrinya (meski dari awal perkenalan sudah ada tampak gejala-gejala keanehan itu). Satu bagian yang paling berjejak dalam kepala saya yakni terdapat pada paragraf 3 halaman 57.

It was early in the morning, still dark. Driven by a strange compulsion, I pulled back the blanket covering my wife. I fumbled in the pitch-back darkness, but there was no watery blood, no ripped intestines. I could hear the other patient’s sleeping breath coming in little gasps, but my wife unnaturally silent. I felt an odd trembling inside myself, and reached out with my index finger to touch her philtrum. She was alive. (Vegetarian, p 57)

4. The Goldfinch oleh Donna Tartt. Buku ini baru beberapa halaman awal yang saya baca meski sudah beli beberapa bulan lalu. Rencananya mau diselesaikan di masa liburan ini.

5. Sai Rai oleh Dicky Senda. Sai Rai adalah sekumpulan cerita pendek, dan penulisnya ini adalah juga salah satu anggota di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, satu komunitas tempat saya bergabung. Bukunya sudah selesai saya baca. Niatnya mau buat ulasan. Tapi lihat saja sendiri. Seperti yang saya tuliskan di atas, liburan natal begini mana sempat duduk untuk baca-baca kembali dan buat tulisannya.

6. Kekekalan oleh Milan Kundera. Novel ini terbilang unik. Sudah selesai saya baca. Awalnya agak rumit dimengerti, tapi perlahan-lahan akhirnya bisa diikuti dan dimengerti mau dibawa ke mana cerita ini. Membaca buku ini, ponsel pintar saya harus selalu di dekat saya. Kenapa? Tentu, saya butuh referensi.

7. Benjor, Opera Sabun, dan Cerita-cerita oleh Bayu Pratama. Buku ini berisi kumpulan cerita pendek, dengan penulisnya adalah salah satu anggota Komunitas Akar Pohon, sebuah komunitas sastra di Mataram. Ia juga salah satu peserta yang lolos dalam seleksi emerging writers MIWF bersama dengan saya tahun 2017. Hanya ini buku yang terpakai sesuai tujuan. Niatnya dibaca dan terlaksana. Cerita-cerita ini rata-rata sudah pernah diterbitkan di beberapa media baik cetak atau online. Sebagian sudah saya pernah baca juga sebelum buku ini diterbitkan.

Iklan
Catatan Buku, Merayakan Keseharian

Sekilas tentang Membaca

Buku-buku terbitan Momentum

Liburan mid semester sudah usai. Buku-buku yang rencananya dibaca selama liburan belum juga selesai😢.

Abis, bacanya pake tengok-tengok internet segala, sih.”

“Biar. Supaya apa yang kau baca itu, pengetahuanmu utuh. Bukan baca satu sumber saja, ketemu istilah asing atau nama orang baru pun kau berlalu saja sok tahu begitu, padahal sewaktu selesai, baru kau bingung sendiri, apa sih sebenarnya yang saya baca tadi?” 😊

“Tapi kan jadi lama dan panjang. Apalagi kalo di wikipedia. Godaannya banyak amat. Satu kata bergoyang-goyang minta didatangi, satu kata lain tak mau kalah juga minta perhatian. Mana sesampainya di sana, ternyata ada pula anak cucu mereka yang lainnya juga cari perhatian minta disinggahi. Demikianlah persinggahanmu jadi beranak-pinak hingga berjam-jam kemudian baru kau sadar, sebenarnya tadi saya simpan buku sementara untuk buka internet ini buat cari kata apa sih?” 😱😭

Catatan Buku, Catatan Film

“Boo Radley” dan “Radley Place” versi Anice

Telah banyak novel bagus (yang sudah dibaca maupun yang belum, yang diketahui maupun tidak sama sekali), dan masih akan datang juga novel-novel bagus. Tapi parsetan dengan semua itu. Saya hanya punya satu novel yang menjadi favorit, To Kill a Mockingbird dari Harper Lee. Dan betapa senang hati saya ketika di bagian pembuka film Almost Famous, Cameron Crowe menampilkan tokoh utama dan ibunya yang membicarakan tokoh-tokoh dalam To Kill a Mockingbird, sekaligus lewat tokoh sang ibu, ia menegaskan bahwa Boo Radley adalah tokoh paling menarik dalam novel karya Harper Lee itu. Saya setuju dengannya 100 persen♥♥♥.

boo radley

Memang tokoh favorit saya adalah Jean Louse alias Scout, tetapi cerita itu akan kurang berkesan kalau tak ada Boo Radley dengan pekarangan Radley Place di sana. Di ulasan-ulasan lain tentang Too Kill a Mockingbird, mereka lebih menyoroti tentang sang ayah yang membela orang kulit hitam. Tapi bagi saya, itu adalah kisah mereka di sana (Amerika) pada waktu itu (tahun 1930-an). Saya kurang memiliki kedekatan dengan kisah-kisah demikian. Ketertarikan saya dan kedekatan saya adalah keseharian Jean Louse bersama abangnya, Jem, dan kawan bermain mereka, Dill, dengan tempat misterius yang mereka sebut Radley Place.

Radley Place terletak tiga rumah di sebelah selatan rumah mereka. Tempat itu adalah batas jarak bermain musim panas tatkala Scout berusia enam tahun dan Jem hampir sepuluh. Sekalipun rumah itu terbilang tetangga mereka, namun di benak Scout, tempat yang aneh dan menyeramkan. Menurutnya, Radley Place dihuni makhluk tak dikenal yag gambarannya saja cukup membuat mereka menjaga kelakuan selama berhari-hari.

Radley Place tak pernah dibuka pada siang hari atau pada hari Minggu (sebuah kebiasaan yang bertentangan dengan Maycomb di mana pada hari-hari Minggu pintu rumah dibuka untuk dikunjungi pada sore hari).

Sekalipun misterius dan menyeramkan, tempat itulah yang harus mereka lalui setiap pergi dan pulang sekolah kalau tak mau mengitari kota yang jaraknya lebih jauh beberapa kali lipat. Namun karena menganggapnya misterius dan menyeramkan, setiap kali pergi atau pulang sekolah, mereka selalu melewati tempat itu dengan berlari.

Kata orang-orang, bahkan orang negro tak akan melewati Radley Place malam-malam, sebab lebih baik melintas ke trotoar seberang dan bersiul sambil berjalan. Pekarangan sekolah Maycomb berbatasan dengan sisi belakang tanah Radley; dari kandang ayam Radley, pohon kacang pecan yang tinggi menggugurkan buahnya ke pekarangan sekolah, tetapi kacang-kacang itu bertebaran tak tersentuh oleh anak-anak. Kacang pecan Radley bisa mematikan. Bola bisbol yang terpukul masuk ke halaman rumah Radley berarti hilang dan tak perlu dipertanyakan. (hal 23)

Kedua kakak beradik itupun tak mau berurusan banyak dengan tetangga mereka apalagi setelah diperingatkan ayah mereka, Atticus, selain bahwa pohon di depan rumah Radley memiliki ceruk yang di sana sering ditemukan permen, dan aneka permaianan, boneka sabun, medali berkarat, atau keping tua koin Indian, dan barang-barang itu (kecuali permen yang langsung dikunyah) disimpan dalam satu peti khusus. Suatu kali ketika Jem dan Scout bersepakat memberikan surat permintaan terima kasih, ternyata di ceruk pohon itu sudah ditutupi semen oleh sang kakak dari keluarga Radley. Sedih mereka bukan main.

Dengan kedatangan kawan bermain musim panas mereka, Dill, intensitas mereka dengan Radley Place semakin meningkat. Kepada Dill, mereka teruskan cerita tentang situasi tetangga mereka yang mereka dengar dari cerita orang-orang dewasa yang beredar.

Katanya, di dalam rumah itu tinggal sosok hantu jahat. Makanannya adalah tupai dan kucing yang disantapnya mentah-mentah. Matanya melotot, giginya kuning, dan air liurnya menetes hampir sepanjang waktu. Setiap kejahatan di Maycomb, selalu yang dipelototi adalah penghuni Radley Place, walaupun pada akhirnya diketahui jelas adalah ulah orang lain.

Bersama Dill, mereka pun menduga-duga kira-kira apa yang sedang terjadi di dalam rumah. Mengisi waktu liburan musim panas dengan bermain peran, di antaranya memerankan penghuni Radley Place. Saling menantang satu sama lain, siapa berani berlari masuk ke halamannya, siapa berani melewai gerbangnya, siapa berani menyentuh pintu rumahnya, hingga memunculkan perdebatan dan ejekan tentang kepercayaan tentang sesuatu yang disebut sebagai uap panas (kalau di Indonesia biasa disebut kuntilanak atau kalau di Kupang dengan buntiana–mungkin dari kata perempuan bunting anak kecil barangkali…:D, kalau kau berjalan dan tiba-tiba merasa bulu kudukmu merinding maka diduga dianya ada di sekitar situ, dan peringatan karena dia biasanya berdiri merentang di jalan-jalan yang sepi, maka kalau nasibmu menabrak dia maka kau bisa-bisa jatuh sakit. Maka itu, kalau Di Maycomb, dua kakak beradik ini punya mantra untuk mengusir uap panas, maka kita orang-orang sini (dan mungkin termasuk saya (:D)) mengusirnya dengan mengucap diam-diam doa Bapa Kami atau berkomat-kamit, ‘dalam nama Yesus,’ berkali-kali… 🙂 :D). Selama bersama Dill, selalu saja ada ide untuk kalau bisa memancing keluar orang yang disebut sebagai Boo Radley. Hingga di suatu malam, tanpa keikutsertaan Scout, Jem dan Dill berangkat sendirian demi mendekat ke jendela rumah yang diduga adalah tempat Boo Radley berada. Misi gagal. Justru yang terjadi adalah sang kakak dari keluarga Radley keluar membawa senapan dan membuat bunyi tembakan di malam sepi yang tentu saja mengagetkan warga Maycomb. Jem dan Dill berusaha keluar melewati pagar kawat belakang yang bersisian dengan pekarangan sekolah, sayang celananya tersangkut. Takut dikejar, ia tinggalkan celananya di sana. Keduanya mendekati kerumunan di depan rumah Radley dengan Jem yang tak bercelana. Kepada sang ayah, mereka mengaku sedang bermain dan taruhan, yang tentu saja membuat tante Dill geram. Malam itu sebubarnya kerumuman, sekalipun takut dan tak pernah sepanjang hidupnya menyentuh pekarangan Radley, Jem nekat keluar malam-malam demi mengambil kembali celananya yang tertinggal. Scout menunggu abangnya dengan gelisah, namun lega dan ikut senang ketika abangnya pulang dengan sudah bercelana. Anehnya, Jem tak bicara apa-apa tentang bagaimana ia mendapatkan kembali celananya itu. Hingga mendekati akhir cerita, barulah ia mengaku kepada Scout, malam itu ketika ia tiba di pagar belakang rumah Radley, didapatinya celana yang tadi tersangkut itu sudah dalam keadaan terlipat rapi, hanya ketika ia menengok ke sekitar tak ada tanda siapa-siapa di sana. Hal itulah yang membuat dia bungkam bertahun-tahun.

Di malam Halloween, terjadi insiden sepulangnya Jem dan Scout dari gedung sekolah. Dalam lingkup kegelapan, kedua kakak beradik ini menyusuri jalan pulang ke rumah. Di tengah jalan mendekati pohon di depan Radley Place, mereka disergap orang tak dikenal. Scout jatuh tergiling-guling, tangannya digencet keras, dan Jem pingsan hingga tangannya patah. Mereka mungkin saja bisa mati kalau saja tak datang seseorang lain yang muncul di dalam gelap itu. Jem yang pingsan diseret oleh seseorang menuju rumah. Scout meraba-raba dalam gelap dan melangkah mengikuti mereka menuju rumah. Saat kostumnya dibuka, barulah ia tahu yang menyeret Jem adalah seorang lelaki desa yang mungkin saja datang di acara Halloween dan belum pulang. Lelaki itu diam saja semenjak tiba.

Dokter dan sheriff Maycomb yang ditelpon datang. Setelah melihat penyerang anak-anak yang tergeletak di bawah pohon depan rumah Radley, ia datang dan mencoba mencari informasi detail dari Scout. Scout menceritakannya sebagaimana yang ia tahu. Ketika ditanya sheriff, siapa orang baru yang terhuyung-huyung dan terengah-engah dan batuk-batuk seperti mau mati, setelah Scout merasa lepas dari gencetan sang penyerang, ditunjuknya lelaki yang sedang berdiri di sudut itu. Orang desa itu bersandar di dinding. Perawakannya kurus, tangannya putih, putih pucat yang tak pernah kena matahari, wajahnya putih, seputih tangannya, bercelana keki yag dikotori pasir, berkemeja deniim yang robek, pipinya cekung, mulutnya lebar, ada lekukan dangkal di pelipisnya, dan mata kelabunya demikian tak berwarna sehingga Scout sempat mengira dia buta, serta rambutnya yang lepek dan tipis. Saat Scout menudingnya, telapak tangan orang itu bergerak sedikit, meninggalkan noda keringat berminyak pada dinding, dan dia mengaitkan jempolnya pada ikat pinggangnya. Tubuhnya terguncang bersama kejang kecil yang aneh, seolah- dia mendengar kuku menggaruk papan. Namun saat Scout mulai memandangnya dengan takjub, ketegangan perlahan mengendur dari wajahnya, bibirnya membuka menjadi senyuman malu-malu, dan sosok tetangga yang selama ini hanya samar-samar di benaknya baru malam itu hadir nyata di depannya. Demikian dengan spontan ia menyapa, “Boo,” yang segera dikoreksi ayahnya, “Mr. Arthur, Sayang. Jean Louse, ini Mr. Arthur Radley…”

Mr. Arthur alias Boo inilah yang telah menyelamatkan nyawa kakak beradik Finch dari serangan preman mabuk di malam Halloween. Sayang bahwa di kejadian itu, bukan sementara libur musim panas sehingga Dill tak ikut berada bersama mereka.

***

Berbicara tentang Radley Place, saya pun punya cerita tentang Radley Place versi saya, sebut saja Radley Place versi Anice. 😀

Radley Place pertama adalah Sonaf di desa kami. Sonaf dalam bahasa Dawan (Timor) berarti istana raja. Lokasi sonaf itu tepat di depan rumah saya. Ia tidak besar sebagaimana sonaf-sonaf pada umumnya karena hanya merupakan tempat singgah sang raja kalau berkunjung mengawasi para pekerjanya yang tersebar di berbagai pelosok kerajaan sewaktu wilayah kecamatan masih berbentuk kerajaan. Sonaf itu tak lagi berpenghuni. Ia hanyalah sebuah gedung tua dengan pekarangan yang tak terawat dan atap-atap seng yang sudah merapuh. Pintu dan jendela ruang tamu pun sudah terbongkar satu-satu. Sekali-sekali memang pewaris-pewaris raja datang menengok, tapi itupun hanya sebentar, dan untuk mengambil hasil tanaman yang kebetulan sedang pada musimnya. Orang-orang sering bilang, jauh di dalam kamar-kamar tersembunyi ada sepasang manusia dengan peliharaan binatang aneh yang tidur di atas tumpukan emas. Katanya kalau kau ingin kaya, datangi saja tempat itu tepat di jam 12 malam. Hanya tak ada orang yang berani karena mereka tahu pasti harus ada tumbal untuk itu.

Luas sonaf adalah satu lokasi kompleks rumah-rumah kami, 7500 m2. Di kompleks rumah kami, tanah dengan luas 7500 m2 itu bisa diisi 12 rumah. Rumah kami tepat berada di sisi timur sonaf. Area itu ditumbuhi rerumpun pisang, kelapa, aneka pohon buah dan obat, serta juga semak-semak. Bagian ini tidak terlalu menakutkan. Hanya yang menjadi senter pembicaraan baik anak-anak kecil maupun orang dewasa adalah bagian depan sonaf yang langsung berhadapan dengan kebun-kebun kelapa, atau pinang, rerimbun pohon pisang, dan beberapa pohon besar, serta sebuah danau kecil. Tak ada orang yang akan melewati bagian depan sonaf itu di malam hari sekalipun itu adalah jalan lintas desa. Apabila lewat, maka harus berdua. Atau orang akan memilih melintasi bagian belakang sonaf yang samping kirinya berjejer rumah-rumah.

Sama seperti cerita Scout tentang Radley Place dan sekolah, semenyeramkan apapun sonaf bagi orang-orang desa, kami tetap harus pulang pergi melewati bagian depan sonaf. Dari rumah, saya harus berjalan 25 meter ke arah utara di mana di situ ada pertigaan. Dari pertigaan, saya tinggal berjalan lurus saja ke arah barat sejauh 200 meter dan tiba di sekolah.

Sewaktu duduk di bangku TK dan SD, di hari-hari pertama sekolah, saya harus diantar orang tua melewati sonaf. Melewati lebar sonaf yang berukuran 100 meter itulah saya akan merasa lega dan bisa berjalan sendiri ke sekolah. Kalau sepulang sekolah, setiap anak yang akan melewati sonaf harus saling menunggu satu sama lain barulah beramai-ramai kami melewati sonaf. Begitu rutinitas kami setiap hari selama di bangku TK dan SD. Pernah sekali (saya lupa kelas berapa), kelas kami terlambat keluar, anak-anak lain sudah pulang lebih dahulu. Karena di kelas kami, tinggal kami dua orang yang rumahnya harus melewati sonaf, maka kami memilih jalur melewati belakang sonaf, di mana pertama-tama kami harus menuju ke selatan, barulah melintasi belakang sonaf, kemudian kembali ke utara. Kalau memang dalam keadaan terpaksa dan mendesak harus melintasi bagian depan sonaf, maka saya melakukan apa yang juga dilakukan Scout ketika melewati Radley Place, berlari, hingga tiba di ujung sonaf yang berbatasan langsung dengan lapangan desa, dan baru merasa lega. 😀 Namun itu hanya berlaku untuk siang hari, tak pernah di waktu malam.

Radley Place kedua adalah satu rumah di puncak bukit di daerah Walikota, Kupang. Waktu itu saya belum bersekolah. Saya sempat lama tinggal di Walikota bersama tante saya. Kalau di sonaf, kami tak pernah mengisengi tempat itu, kebalikan di Walikota, ketika tiba senjad hari, bocah-bocah yang tinggal di Jalan Sam Ratulangi (saya lupa Jalan Sam Ratulangi nomor berapa, kala itu masih sepi) mulai berkumpul di jalan di bawah bukit. Kerumuman itu terdiri dari anak-anak yang hampir semuanya berada di kisaran usia yang tidak terpaut jauh.

Aksi yang dilakukan di sana adalah berencana siapa yang memimpin, siapa yang mengatur kapan harus jalan dan kapan harus kembali berlari menjauh. Kemudian beberapa anak akan mengambil batu-batu kecil dan melemparinya ke halaman rumah. Di antara mereka saling menantang, siapa yang berani berjalan memasuki pekarangan rumah, siapa yang berani menyentuh pintu rumah, siapa yang bisa melempari dengan batu mengenai salah satu daun jendela, siapa yang bisa melempari dan mengenai atap rumah dan sebagainya. Apabila salah satu di antaranya berhasil mengenai sasaran, maka semua kami akan berdecak kagum, bertepuk tangan, lalu berlari secepat dan sejauh mungkin menghindari rumah tersebut, menunggu apa atau siapa yang akan keluar dari dalam rumah itu. Bila rumah itu tetap diam, maka pelan-pelan kami akan mendekat lagi untuk beberapa orang di antara kami kembali saling menantang dan mengulangi lagi aksi melempar dengan batu kecil atau berteriak mengganggu siapa yang di dalam rumah agar berani keluar memunculkan diri.

Sampai saya meninggalkan Walikota untuk masuk sekolah, saya tak pernah tahu apa latar belakang rumah di puncak bukit Walikota itu menarik perhatian kami. Hanya samar-samar saya ingat bahwa setiap sore akan ada beberapa pasang burung merpati yang beterbangan di atap rumah tersebut.

Demikian sedikit cuplikan tentang Boo Radley dan Radley Place versi Anice, bertolak dari tokoh Boo Radley yang ditegaskan Cameron Crowe melalui salah satu tokoh filmnya sebagai tokoh paling menarik dalam buku To Kill a Mockingbird karya Harper Lee.

Catatan Buku

Tentang “Bertopeng” dari “Pengakuan” Anton Chekhov*

20170307_202712 - CopyCuplikan Satu

Di balkon duduk seorang perempuan cantik, gemuk; sukar menebak usianya, tetapi ia masih muda, dan masih lama lagi muda… Pakaiannya mewah. Di masing-masing tangannya melingkar sebentuk gelang besar, dan pada dadanya tergantung bros berlian. Di dekatnya tergeletak mantel bulu berharga seribu rubel. Di koridor menanti pesuruhnya yang berpakaian garis-garis, dan di halaman berdiri sepasang kuda hitam beserta kereta saljunya lengjap dengan kain penutup kaki dari kulit beruang. Wajahnya yang cantik dan tampak kenyang, dan segala sesuatunya, menyatakan: “Aku bahagia dan kaya.” Tetapi pembaca, jangan percaya!

“Aku cuma bertopeng,” pikir perempuan itu. “Besok atau lusa Baron akan jadi Nadine, dan akan dicabutnya semua ini dariku…”

Cuplikan Dua

Di dekat meja main duduk seorang laki-laki gemuk mengenakan mantel besar; dagunya bertingkat tiga, dan tangannya putih. Di sampingnya terdapat onggokan uang. Ia kalah, tetapi ia tidak muram. Sebaliknya, ia tersenyum. Bagi dia tak ada artinya kalah seribu-dua ribu. Di kamar makan beberapa orang bujang sedang menyiapkan kerang, sampanya, dan daging burung kuau. Ia senang makan malam banyak. Sesudah makan malam ia akan berkereta menemui si dia. Si dia Bukankah hidupnya senang? Bahagia! Tetapi cobalah lihat, tetek bengek apa yang meruyak di otaknya yang telah menjadi gemuk itu!

“Aku cuma bertopeng. Datang kontrole, dan orang-orang akan tahu aku cuma sebuah topeng…”

Cuplikan Tiga

Seorang petani yang sedang mabuk berjalan menyusuri dusun, menyanyi dan menjeritkan harmonika. Pada wajahnya ada rasa haru bercampur mabuk. Ia tertawa terkekeh-kekeh dan menari-nari. Hidupnya sedang rupanya? Sama sekali tidak, ia cuma bertopeng.

“O, ingin rasanya aku makan,” pikirnya.

Cuplikan Empat

Seorang profesor, dokter yang masih muda, sedang memberikan kuliah pengantar. Ia menyatakan bahwa tidak ada yang lebih membahagiakan daripada mengabdi kepada ilmu pengetahuan. “Ilmu adalah segalanya!” katanya, “dia itulah hidup!” Dan orang-orang percaya kepadanya….

Padahal ia bisa dikatakan bertopeng jika sekiranya orang-orang itu mendengar apa yang dikatakannya kepada sang istri sesudah kuliah itu. Ia mengatakan kepada istrinya: “Aku sekarang profesor, Sayang. Seorang profesor punya praktek sepuluh kali lebih banyak daripada dokter biasa. Sekarang aku bisa mendapat dua puluh ribu setahun.”

Demikian empat dari tujuh cuplikan kisah di bawah judul “Bertopeng” dalam sekumpulan cerita pendek Pengakuan” (lihat keterangan di bawah!)

Ok, apakah mungkin topeng itu indah?

“Kenakanlah topengmu. Tak apa. Pakailah. Supaya ketika orang melihatmu, mereka berpendapat kamu adalah orang yang paling baik, lebih baik dari yang lain. Kamu adalah orang yang paling berbahagia di muka bumi. Tertawalah! Tertawalah sampai puas. Tak apa. Sebab kamu bahagia.” 🙂 🙂

Siapakah orang-orang dewasa yang kau jumpai dalam hidupmu yang tak bertopeng? Baiklah kukatakan padamu, hampir semuanya, termasuk saya. Dalam porsi kecil maupun besar. Biasanya orang-orang bertopeng itu menganggap diri mereka lebih baik, lebih hebat, lebih bahagia, lebih merasa berkuasa dari orang lain.

Mereka bertopeng lantas menertawakan orang-orang tak bertopeng. Mereka mengatai orang-orang yang tak bertopeng sebagai orang lugu, polos, dan dungu. Kata mereka, kalau kau bertopeng, kau pintar.

pexels-photo-92129
Sumber ilustrasi: pexels

Mereka bangga mereka bukanlah orang-orang lugu, polos, dan dungu. Mereka bangga dan memukul dada berulang-ulang, mereka hebat, mereka orang keren, mereka pintar, mereka pandai, mereka cerdik, mereka berkuasa, dan mereka bahagia.

Dengan topeng, mereka berusaha memegang kendali ingin mengganti peran Tuhan. Anak-anak kecil ataupun orang-orang yang tak bertopeng mereka tindas, menganggap layaknya sapi, atau babi, atau anjing, atau kambing, atau apapun yang bisa dipergunakan dan dimanfaatkan atau diperjualbelikan demi kepuasan ego semata.

Orang-orang bertopeng itu, kau lihat mereka, kalau mereka tertawa, biarpun mereka pikir mereka lebih baik, lebih hebat, lebih pandai, lebih pintar, lebih keren, lebih jago, lebih cerdik, dan lebih segalanya, jangan kau percaya mereka sedang berbahagia. Sesungguhnya, dalam tertawa, mereka sementara menangis dalam derita tak terperikan. Merekalah semestinya orang-orang yang patut dikasihani.

Berbahagilah kau yang tak bertopeng. Tetap berlakulah dengan murni sebagaimana adanya dirimu. Sebab padamulah sorga berada.

* Keterangan:

Dari 24 judul dalam sekumpulan cerpen berjudul Pengakuan dari Anton Chekhov, ada satu yang diberi judul Bertopeng. Walaupun judul ini bukan satu-satunya yang terbaik, tapi saya memang sengaja hanya menyoroti bagian ini. Saya selalu suka tulisan yang berkaitan dengan topeng. Baik itu puisi, prosa, ataupun teater. Maka itulah, dari buku Pengakuan yang diterbitkan KPG  tahun 2004 ini, saya tidak membuat ulasan sebagaimana biasanya orang membuat ulasan buku. Kalau ulasan yang lebih bagus atau lebih lengkap, silakan Anda berkunjung ke:

  1. Parade Ironi Anton Chekhov dari Bisikanbusuk,
  2. Book Review Pengakuan Anton Chekhov dari Mshabibi
  3. Pengakuan Anton Chekhov dalam cerpen-cerpennya dari Duniadibingkaisenja
  4. Mendialogkan “Pengakuan” Anton Chekhov dari Kompasiana
  5. Resensi Buku Pengakuan Karya Anton Chekhov dari Sundanita

Sementara di sini, saya hanya sekadar memahatkan bagian Bertopeng dan bercuap sedikit tentang topeng’. Semoga dimengerti. 🙂

Catatan Buku

The Kreutzer Sonata_Sonata Berujung Maut oleh Leo Tolstoy

20170302_004106-1Belajar dari pengalaman-pengalaman yang telah lewat, maka untuk merawat ingatan, ada baiknya tulislah walau sedikit dan sederhana buku apa yang kau baca, sekalipun niat awal membacamu adalah hanya untuk mendapatkan apa yang disebut orang sebagai pleasure.

Baiklah, untuk catatan buku kali ini adalah tentang The Kreutzer Sonata atau yang dalam terjemahan Bahasa Indonesia ditulis Sonata Berujung Maut dari salah satu penulis favorit, Leo Tolstoy.

Berbeda dengan Anna Karenina (AK) yang nasibnya berakhir tragis karena pilihannya sendiri, di mana ia yang semula memilih menikung dengan seorang opsir muda ababil (:p :D) yang diikuti dengan kecamuk pikirannya yang tak berujung sehingga memilih menabrakkan diri ke kereta, maka pada Sonata Berujung Maut (SBM), karena depresi dan kecemburuan yang aneh, sang suami akhirnya memilih untuk membunuh sang istri dengan pedang. Kedua cerita ini nyaris mirip. Tentang permasalahan rumah tangga. Kalau di AK, cerita lebih banyak menyorot kecamuk pikiran sang istri, maka di SBM lebih menyorot kecamuk pikiran sang suami.

Buku ini semula saya pikir akan sebagus Anna Karenina atau Kebangkitan atau Perang dan Damai, atau Hadji Murad, ternyata di tengah-tengah membaca, saya jadi merasa bosan sendiri.

Dibuka dengan perjalanan sang tokoh aku di hari kedua dengan kereta api, kemudian bertemu dengan beberapa penumpang lalu mereka bercakap-cakap tentang cinta, perkawinan, perceraian, perbedaan pandangan antara laki-laki dan perempuan, dan seterusnya menyangkut hidup (sangat tampak ciri khas cerita Rusia zaman itu, orang-orang bertemu, berkumpul, dan berdiskusi tentang segala sesuatu dari paling prinsip hingga tetek bengek), ia akhirnya bercakap-cakap dengan sang pencerita, pria tua berambut abu-abu, sebagai penutur utama buku ini. Sementara ia (sang tokoh aku) di sini hanya diam dan pasif mendengarkan.

leo-tolstoy-about-families
Kalimat di atas adalah kalimat pembuka dalam Anna Karenina. Sumber gambar: Russia Insider

Saya membacanya semacam kisah dalam novel ini adalah tumpahan isi hati sang penulis sendiri. Begitu cerewet seolah-olah sang penulis ingin mengeluarkan semua isi kepalanya lewat tokoh Pozdnyshev itu. Kata lainnya, numpang curhat…:D Memang sepertinya tak begitu bagus untuk disebut novel. Mungkin saja begitu, makanya novel ini kurang dibicarakan dibanding novel Leo Tolstoy lainnya.

Namun bagaimanapun saya tetap mengapresiasi. Setidaknya bila kisah ini memang curhatan sang penulus, setidaknya ia sudah melakukannya dengan cara yang kreatif. Ia ciptakan tokoh-tokoh, ia pikirkan latar peristiwa pembuka, ia hadirkan tokoh-tokoh pendamping untuk membuka percakapan, ia mengolah berbagai bidang ilmu tinggi ikut masuk di dalamnya, ia atur (mungkin juga melakukan bongkar pasang) alur dan plot cerita, juga mengemas sedemikian rupa hingga jadilah The Kreutzer Sonata atau Sonata Berujung Maut ini.

Sementara kau yang membaca, apa coba yang sudah yang kau lakukan? Kata orang Kupang, Baca ko pikir ko mangarti… Jangan kau curhat, bukannya curhat untuk mendapat lega dan solusi, tapi malah mengambinghitakan orang lain sebagai penyebab segala salah (baca gosip) 🙂

Catatan Buku

Menyelami Keindahan “To Kill a Mockingbird” bersama Harper Lee

20170126_223911To Kill a Mockingbird pertama kali terbit tahun 1960 di Amerika dengan latar cerita tahun 1930-an. Kala itu Indonesia masih tertatih-tatih dalam masa suramnya. Banyak penduduknya apalagi di pelosok selatan pulau Timor masih berkelana di hutan-hutan dan tidak mengenal apa itu buku apalagi teks bacaan. Sementara nun jauh di bagian selatan Amerika, seorang gadis kecil sudah bisa membaca dengan sendirinya ketika ia menyadari keberadaan dirinya sampai-sampai ia tak tahu sejak kapan ia gemar membaca. Bukankah orang tak pernah gemar bernapas?” demikian hasil perenungannya ketika ia diminta gurunya untuk jangan lagi diajari membaca di rumah.

Gadis kecil itu adalah Jean Louse Finch yang biasa dipanggil Scout. Seorang gadis tomboi berumur enam tahun. Scout inilah tokoh utama sekaligus narator dalam cerita To Kill a Mockingbird yang keren ini.

Scout dan Jeremy adalah dua kakak beradik yang ditinggal mati sang ibu karena serangan jantung tatkala si kakak berusia enam dan adiknya dua tahun. Di rumah mereka tinggal bersama Atticus, sang ayah yang adalah seorang pengacara, serta pengasuh mereka seorang perempuan negro bernama Calpurnia yang datang bekerja pagi hari dan pulang sore.

Durasi dalam cerita ini berkisar kurang lebih tiga tahun. Dibuka dengan menengok kejadian-kejadian masa lalu yang menyebabkan tangan sang kakak, Jem, patah di bagian siku sehingga lengan kirinya nampak  sedikit lebih pendek dari yang kanan. Ada tiga hal yang diperdebatkan. Scout berkeras penyebabnya adalah keluarga Ewell, Jem justru menghubungkannya dengan Dill yang penasaran dengan Boo Radley. Menanggapi itu, Scout pun melemparkan kembali kenangan kepada sejarah masa lampau, menghubungkannya dengan kedatangan leluhur mereka ke tepi sungai Alabama lalu membangun kediaman yang kemudian dinamai Finch’s Landing.

Beranjak dari pengenalan silsilah keluarga Finch dan sejarah Maycomb itulah, cerita utama dalam buku ini mulai bergulir. Tepat pada liburan musim panas sebelum Scout memulai hari pertama sekolahnya yang sarat akan kejutan baik dengan ibu guru, salah satu anggota keluarga Ewell, juga salah seorang Cunningham. Liburan musim panas yang ditandai dengan kedatangan teman bermain mereka, Dill asal Meridian, Mississippi.

Di awal cerita saya merasa terhibur akan tingkah dua anak Maycomb ini, ditambah Dill kala musim panas. Tingkah paling menonjol mereka adalah rasa penasaran mereka terhadap rumah tetangga, sebuah keluarga misterius di Radley Place. Rasa penasaran itu pun mendorong mereka mengintip dan berusaha mencari segala macam cara bagaimana bisa membuat Boo Radley yang konon dikurung 15 tahun itu memunculkan diri. Ceritanya, Mr Arthur Radley, demikian nama Boo Radley, sewaktu remaja pernah membuat masalah bersama teman-teman gengnya dan akan dikirim ke sekolah kejuruan. Oleh ayahnya, ia dikurung hanya di dalam kamar dan semenjak itu ia tak pernah lagi keluar melihat atau merasakan sinar matahari.

Setiap pergi atau pulang sekolah, kedua anak ini melewati Radley Place dengan berlari kencang. Mereka tak mau berlama-lama di depan rumah angker dan misterius itu. Sampai suatu hari Scout menemukan permen karet di ceruk pohon ek depan rumah Radley. Beberapa hari berikutnya mereka menemukan lagi kejutan-kejutan lain yang sepertinya sengaja ditujukan kepada mereka. Mereka mengambil dan menganggapnya sebagai hadiah dari seseorang yang tak mereka kenal. Kejutan dari orang tak dikenal itu berhenti ketika Mr. Nathan Radley menutup ceruk itu dengan semen, padahal hari itu mereka sudah berniat menaruh surat di sana. Gagalnya pemberian surat ucapan terima kasih itu membuat kedua kakak beradik tersebut menangis diam-diam.

Peristiwa berikutnya yaitu ketika Atticus ditunjuk pengadilan Maycomb untuk membela perkara seorang kulit hitam bernama Tom Robinson yang dituduh memerkosa putri keluarga Ewell yang berkulit putih. Sejak berita itu tersebar, kedua anak itu selalu mendapat gangguan dan hinaan baik dari kawan sekolah, saudara, ataupun tetangga mereka yang berkulit putih. Katanya Finch yang adalah keluarga terpandang lebih mencintai orang kulit hitam dan justru mempermalukan ras sendiri. Gangguan, ejekan, dan hinaan yang bertubi-tubi datang menghampiri, membuat kedua anak itu sampai tak tahan ayahnya dikatai demikian. Menurut Scout, ia harus membereskanya dengan cara memukul anak-anak yang mengganggunya. Tangannya sudah mengepal siap memukul Cecil Jacobs di sekolah namun ditahan karena mengingat nasihat ayahnya, lalu di hari natal ia menyerang anak sepupunya, Francis, sampai jarinya robek. Sementara kepada tetangga mereka, Mrs. Dubose, Jem melampiaskannya dengan memotong kuncup-kuncup semak kamelianya sampai berserakan di tanah menggunakan tongkat mayoret Scout yang baru dibeli. Konsekuensi atas perbuatan itu datang kemudian. Jem harus membaca dua jam untuk Mrs. Dubose di kamarnya setiap sepulang sekolah dan di hari Sabtu selama sebulan, dan selang sebulan kemudian Mrs. Dubose meninggal.

Berbeda dengan sesama mereka kulit putih, kedua anak Atticus Finch ini justru diterima dengan baik bahkan sangat dihormati di kalangan orang kulit hitam. Sangat tampak dari bagaimana mereka berdua disambut suatu hari Minggu ketika diajak Calpurnia ke gereja First Purchase, tempat beribadah orang kulit hitam di Maycomb.

Sekalipun demikian, perlu dicatat bahwa tidak semua orang kulit putih menentang Atticus. Ada banyak juga warga Maycomb yang diam-diam mendukung tindakan dan keputusan Atticus membela Tom Robinson mengingat latar belakang dan cara hidup keluarga Ewell yang seperti sampah selama sekian generasi.

Satu malam sebelum sidang digelar, empat laki-laki mendatangi penjara tempat Tom Robinson ditahan. Malam itu nyaris terjadi hal yang tak diinginkan pada Atticus atau Tom Robinson kalau saja tidak ada ketiga tokoh cilik ini, terutama Scout yang memunculkan dirinya dan berdialog cerdas dengan salah seorang kenalan lama mereka, Mr. Cunningham.

Hari digelarnya sidang di pengadilan pun tiba. Banyak orang berbondong-bondong menyesaki gedung pengadilan. Tak mendapat tempat, tiga tokoh cilik ini bergabung dengan orang-orang kulit hitam di balkon dan mengikuti jalannya persidangan. Cerita sidang di ruang pengadilan ini sendiri dalam buku yang saya baca mendapat porsi 70-an halaman. Semua apa yang terjadi di dalam gedung pengadilan dipaparkan dengan jelas, mulai dari pengantar sebelum memulai sidang, memanggil saksi, pertanyaan pembela, gerak-gerik warga, respons saksi, keberatan terdakwa, sekilas rapat dewan juri, hingga usai pembacaan putusan. Di bagian inilah Harper Lee bermain-main dengan ilmu yang sempat digelutinya di bangku kuliah.

Proses sidang yang dipaparkan langsung membuat pembaca seolah sedang ikut menyaksikan langsung di dalam ruang pengadilan. Melalui kecerdasan Atticus menggali fakta, walau kesimpulannya tak dijelaskan langsung, pembaca digiring mengetahui seperti apa kejadian yang benar dan logis. Sayang, di akhir cerita, seperti halnya realita yang terjadi di masa sekarang, sekalipun bahkan di mata masyarakat awam, saat sidang, jelas-jelas bias dibedakan mana pihak yang bersalah dan mana yang tak bersalah, siapakah pihak yang akan keluar sebagai pemenang dan siapakah yang kalah, namun ketika tiba pada detik-detik pembacaan putusan, apa yang jelas-jelas terbaca saat sidang bisa bertolak belakang. Sepertinya dalam kasus Tom Robinson, dalam setengah tidurnya samar-samar Scout mendengar Tom Robinson diputuskan bersalah…bersalah…bersalah. Atticus meninggalkan ruangan, dan keluarga Ewell boleh menegakkan kepala sebagai pemenang.

Kehidupan Maycomb kembali berjalan normal sambil menunggu rencana pihak Atticus ingin naik banding hingga terdengar kabar, Tom Robinson berniat kabur dari penjara dan ditembak mati polisi. Bob Ewell, gelandangan berkulit putih itu melanjutkan hidupnya dengan santunan pemerintah sambil sesekali tampil di muka umum mencegat Atticus, meludahi mukanya, dan  mengancam ingin membunuhnya, bahkan menakut-nakuti istri almarhum Tom Robinson.

Momen berikutnya yang menyentak terjadi di malam seusai acara Hallowen yang diadakan di auditorium sekolah. Scout yang berperan sebagai daging ham pada panggung sandiwara pulang berjalan kaki bersama Jem dengan tetap menggunakan kostumnya. Keduanya menyusuri gelap malam dari sekolah menuju rumah mereka. Jarak antara sekolah dan rumah tak begitu jauh. Mereka hanya perlu menyebrangi tikungan dan melewati Radley Place. Di tengah jalan, mereka merasa seseorang sedang mengikuti dari belakang. Tak lama kemudian mereka disergap. Perkelahian terjadi di dalam gelap. Dengan kostum daging hamnya, Scout terselamatkan hidupnya dari pisau yang disabetkan ke tubuhnya.

Putra-putri pengacara Atticus bisa saja mati terbunuh bila saja tak hadir seorang laki-laki bertubuh kurus dan bermuka pucat yang muncul dalam malam gelap menyelamatkan meraka. Setelah keadaan hening sebentar, Scout merangkak ke tempat yang dikiranya jalan. Di sana agak lebih terang. Dilihatnya Jem digotong lelaki penyelamat mereka menuju rumah. Malam itu, tangan Jem dinyatakan patah. Penyerang mereka, Bob Ewell pun mati di tempat dengan sebilah pisau dapur tertancap di tubuhnya.

Di bagian inilah rasanya saya enggan meninggalkan buku ini. Scout menggambarkan penyelamat mereka yang duduk diam di pojok sebagai mungkin seorang petani dari desa yang kebetulan datang menonton acara hallowen di sekolah dan sedang berada di sekitar area sekolah ketika mendengar teriakan mereka. Tak tahunya ketika melihat dengan saksama ciri-ciri fisiknya yang tampak sangat pucat tak pernah terkena matahari, barulah disadari, orang itulah Mr. Arthur Radley atua Boo Radley yang selama ini menjadi sosok misterius dan menakutkan di benak mereka. Boo Radley inilah yang menaruh hadiah-hadiah di ceruk pohon ek di depan rumah mereka sebelum Mr. Nathan menutup ceruk itu dengan semen. Dialah yang tanpa sepengetahuan siapa-siapa, menyelinap keluar dan menyampirkan selimut di bahu Scout ketika kedua kakak beradik itu sedang asyik menonton orang dewasa sibuk membantu memadamkan api di rumah Miss Maudie. Pada akhirnya Boo Radley yang pemalu ini memunculkan diri menjawab rasa penasaran mereka, dan ajaibnya ialah yang menjaga nyawa kedua kakak beradik Scout dan Jem dari incaran Bob Ewell.

Bagian akhir cerita ini memperlihatkan bagaimana dalam kekalutan pikirannya, Atticus tetap ingin segera menyelesaikan masalah kematian Bob Ewell. Disangkanya putranyalah yang menusuk Bob Ewell. Perdebatannya dengan Mr. Tate menunjukkan integritas hidupnya.

Dalam perdebatan inilah keluar pernyataan tegas dari Mr. Tate. Menggugah sekaligus mengharukan. Pernyataan yang membuat Atticus setelah duduk tapekur sejenak, akhirnya berpaling, “Scout, ” katanya. “Mr. Ewell jatuh tertimpa pisaunya. Bisakah kau mengerti?”

Seorang Jean Louse Finch pun bukan anak kebanyakan untuk tidak mengerti. Ia tahu, membunuh Mockingbird adalah dosa, seperti yang dijelaskan ayahnya dulu yang juga dipertegas Miss Maudie. Kehadiran mockingbird tidak mengganggu ketentraman siapa-siapa. Mereka tak pernah mengusik atau merusak tanaman orang lain. Kehadiran mereka tak lain dan tak bukan, adalah membuat lagu untuk dinikmati. Maka dalam kasus ini, Scout sangat tahu, siapa yang dimaksud mockingbird. Boo Radley–setelah sebelumnya Tom Robinson–adalah mockingbird itu. Ada refleksi Scout di sana. Para tetangga saling mengunjungi dan memberi hadiah. Boo Radley adalah tetangga mereka, yang bahkan sudah memberi mereka nyawa pun, tapi tak ada apa-apa yang dapat mereka berikan sebagai balasan.

**

Harper Lee bagi saya adalah seorang yang jenius. Karakter Scout yang dikisahkannya walau masih kanak-kanak, pikirannya luar biasa cerdas dan brilian. Namun tetap jujur dan bersikap apa adanya. Ada sesuatu yang terasa begitu lekat dan berkesan bagi saya yakni pertanyaannya yang selalu identik dengan “…itu apa?” untuk satu hal baru yang baru ia dengar.

Scout bukannya bodoh dan tak suka membaca, tapi justru sebaliknya. Membaca sudah menjadi bagian dari hidupnya seperti halnya bernapas. Ia sendiri tak menyadari itu sampai hari pertama sekolahnya gurunya menegurnya dan memintanya untuk jangan lagi diajari ayahnya membaca. Ia heran dan bingung sebab sepengetahuannya, sedari kecil ia memang tak pernah diajari membaca oleh ayahnya ataupun oleh orang lain. Membaca kutipan pasar saham di The Mobile Register yang disuruh ibu gurunya  memang bukan sesuatu yang sulit untuk seorang Scout yang sudah terbiasa membaca RUU yang akan disahkan menjadi UU milik ayahnya, atau buku harian Lorenzo Dow atau apapun yang kebetulan dibaca dibaca ayahnya ketika ia meringkuk dalam pangkuannya setiap malam. Di hari pertama bersekolah itulah ia mencoba merenung dan menyadari dirinya belum pernah gemar membaca. Bukankah orang tak pernah gemar bernapas? demikian pikirnya. Lucunya dan ini yang suka (bahkan cinta setengah mati dengan penulisnya) adalah untuk seorang Scout yang bahkan membaca adalah seperti bernapas, masih banyak hal yang belum ia ketahui dan ia tak sungkan bertanya, selalu dengan frasa khasnya, ‘…itu apa?Apa itu pecinta nigger, apa itu wanita jalang, memerkosa itu apa, Cal? Ular permukaannya seperti apa? Anak blasteran itu apa? Bagusnya, setiap pertanyaannya tak ditanggapi dengan sikap marah, atau jengkel oleh orang-orang yang ditanyai, melainkan selalu dijawab dengan sabar dan penuh pengertian.

Satu hal yang berkesan bagi saya sebagai pembaca adalah bahwa di berbagai belahan dunia ini ada orang-orang yang memiliki keserupaan sekalipun itu adalah hal yang paling kecil dan seremeh kata, ‘…itu apa?’. Maksud saya adalah ini ada sedikit hubungannya dengan pengalaman pribadi saya (tersenyum sajalah, tak apa). Sewaktu SMP, demikian mungkin ada juga di masa-masa selain itu tapi bagi saya yang paling melekat dalam benak adalah masa SMP, karena suka bertanya ‘itu apa, seperti apa, dan bagaimana itu’ untuk hal-hal tertentu yang tak ditahui, saya sampai dikomentari seorang teman, ‘Ah kau ini, rajin baca, tapi hal-hal kecil begini saja kau tak tahu’ dengan nada yang kalau meniru cara berpikir Scout, seolah saya seorang buruan polisi atau musuh aktivis HAM karena menyelundupkan TKW ilegal ke Malaysia (agak ngawur). Kalimat kawan saya itu membuat saya merenung panjang.

Dalam gaya bertutur, Harper Lee jelas sangat cermat. Tidak secara gamblang dan tersurat ia memberitahu pembaca seperti apa dan bagaimana peristiwa sebenarnya. Ia pandai menempatkan pembaca bukan orang-orang bodoh untuk menganilisis dan menyimpulkan. Mungkin seperti itulah yang digaung-gaungkan para motivator menulis, show, don’t tell! Jelas. Hampir terdapat dalam keseluruhan cerita, namun bagian paling menonjol menurut saya (karena bagi saya bagian itulah yang paling berkesan) adalah pada adegan perdebatan sherif dan Atticus tentang kematian Bob Ewell. Tak harus dituliskan jelas bagaimana ia tertusuk pisau, tapi pembaca tentu tahu seperti apa dan bagaimana. Mengenai penyelesaiannya, pembaca pun tentu akan mengerti dan berkata, memang demikianlah seharusnya yang terjadi. Sebuah contoh kasus luar biasa yang bisa dihadapi dalam realita keseharian. Dunia ini tidak dipandang sekadar hitam dan putih dengan mata fana kita. Di bagian akhir cerita inilah mata saya berasa panas. Harper Lee berhasil. Saya mencintainya.

Merayakan Keseharian

Membeli Buku

Seseorang baru saja pulang dari toko buku. Buku yang baru dibeli ia letakkan di atas meja ruang tengah.
“Kak, sudah beli bukunya kok tak dibaca?” adiknya bertanya.
Sang kakak yang sedang mengetik di laptop menoleh. “Sudah saya baca isinya. Biar saja dulu di situ. Atau kalau kau mau baca, silakan.”
“Sudah baca? Terus, kenapa beli lagi?”
“Buku yang saya baca dulu itu punya anak murid.”
“Buku yang sama? Judul, isi, dan pengarangnya?”
“Iya.”
“Sudah baca semua halamannya sampai selesai?”
“Iya.”
“Aneh,” ia bergumam. “Kenapa beli lagi kalau begitu?”
“Biar punya sendiri.”
“Buat apa coba?”
“Ya, buat disimpan.”
“Saya tak mengerti.”
“Biar jadi milik sendiri.”
“Walah. Tidak akan ada orang yang lihat juga kok bukunya.”

Sang kakak berkerut kening sebentar. Ia kemudian tertawa. “Apakah tujuan saya membeli buku adalah supaya dilihat orang?”