Letter to My Daughter dan Kritikus Adinan

Berikut sedikit catatan setelah membaca dua buku karya dua orang sesepuh. Letter to My Daughter oleh Maya Angelou dan Kritikus Adinan oleh Budi Darma. Baiklah saya anggap kedua orang ini satunya ibunda satunya lagi bapak. 😀 Toh, dalam Letter to My DaughterMaya Angelou sudah membaptis saya sebagai salah satu anak perempuannya di antara anak-anak perempuan yang tersebar di bawah kolong langit ini, sementara Bapak Budi Darma adalah seorang yang mengulas karya-karya kami di salah satu sesi  MIWF 2017, sebuah kegiatan tahunan yang diadakan Rumata’ ArtSpace, dalam satu kalimat yang ia lontarkan sebelum kami tampil, ia menyebut kami sebagai anak-anaknya… ♥  😊 😀

Mari kita mulai dari Letter to My Daughter. Maaf, saya tidak membuat ringkasannya lagi sebab  itu sudah ada di independent  dan allreaders selain beberapa tautan yang saya sertakan dalam tulisan ini. Sebaliknya karena buku ini serupa surat,  maka catatan saya pun dalam bentuk surat balasan singkat. 😊

Dear, Ibunda Maya Angelou

Terima kasih untuk suratnya. Telah saya baca sampai selesai. Terima kasih, bahwa saya adalah salah satu anak perempuan yang beruntung mendapat surat darimu. Terima kasih telah berbagi ceritamu yang luar biasa dengan kami, anak-anak perempuan di berbagai belahan dunia, apalagi contohnya saya yang nama tempat asalnya saja tak pernah kau dengar atau bayangkan bahkan dalam mimpi sekalipun. 😀  🙂

Cerita tentangmu luar biasa. Sungguh mengagumkan. Betapa peristiwa-peristiwa yang singgah dalam hidupmu membuatmu semakin kuat dan tegar. Biarlah dari ceritamu kami anak-anak perempuan di berbagai belahan dunia ini belajar meneladani semangat yang telah kau tunjukkan.

Salam hormat penuh kasih,

Anice  🙂  🙂

Baiklah, tak hanya berupa balasan surat. Sebelum mengakhiri, saya ingin juga mengutip bagian yang paling saya suka di bagian pengantar (hal. ix).

Hidupku sudah lama, dan memercayai bahwa kehidupan menyukai orang-orang yang hidup, maka aku berani mencoba banyak hal, kadang dengan gemetar, tetapi tetap memberanikan diri. Di sini, aku hanya memasukkan kejadian-kejadian dan pelajaran-pelajaran yang menurutku berguna. Aku tidak menjelaskan bagaimana aku menggunakan solusi-solusi karena aku tahu kau pintar, kreatif, banyak akal, dan kau akan menggunakannya di saat yang tepat.

Maya Angelou tahu saja, saya tak begitu suka membaca petuah-petuah yang bersifat memaksa semacam kata orang-orang yang bilang harus begini begitu seolah-olah manusia di dunia ini seragam segala-galanya sampai yang paling detail sekalipun.

Selanjutnya kita melangkah ke buku kedua, Kritikus Adinan, kumpulan cerita Bapak Budi Darma.

Buku ini saya bawa pesiar-pesiar ke Malang tapi tak sempat diselesaikan. Baru sempat dibaca lagi ketika sudah mulai memasuki masa liburan. Di hari pertama liburan, saya bawa jalan-jalan lagi ke Sekolah Lapangan Nekamese, salah satu tempat wisata di Kupang. Baru di sanalah sambil menunggu anak-anak wali salah seorang rekan guru , Ibu Pia M, yang sementara berenang, sempat saya buka lagi dan lanjutkan.

Kritikus Adinan di bawah lopo di area Sekolah Lapangan Nekamese

Kritikus Adinan dengan latar beberapa anak-anak wali Ibu Pia yang sedang berenang sementara anak-anak lainnya di bawah lopo seberang atau berjalan-jalan menikmati area sekitar SL Nekamese

Kritikus Adinan diterbitkan Bentang Pustaka pada Mei 2017. Pernah diterbitkan juga dengan judul Laki-laki Lain dalam Secarik Kertas pada tahun 2018. Di dalamnya terdiri atas 15 cerita. Dua di antaranya yakni Kritikus Adinan (yang menjadi judul buku) dan Bambang Subali Sudiman dapat dibilang cerita yang panjang.

Buku ini dibuka dengan pengantar yang menarik, Pengarang dan Obsesinya. Menceritakan tentang sang penulis ketika mengikuti beberapa kegiatan yang juga dihadiri para pekerja seni lain, membawanya kepada hasil perenungan terkait pertanyaan-pertanyaan yang kerapkali singgah dan berkecamuk dalam kepalanya terutama mengenai hakikat   kehidupan.

Kesimpulan saya seusai menuntaskan buku ini adalah saya tak habis berpikir. 😀 Memang inilah seorang Budi Darma, dengan keistimewaan dan perspektifnya. Hampir semua cerita ini memberikan ending yang serupa. Menyisakan sesuatu untuk terus dipikirkan sendiri oleh pembaca. Kalau kau tak mau berpikir maka kau bingung. Ya, jelas bingung seperti halnya yang sedang saya alami sekarang. Cerita-ceritanya seperti hanya ada dalam mimpi. Seperti ketika kau mengalami mimpi di malam hari, dan sebagaimana dalam mimpi, film yang dihadirkan kepadamu agak tak begitu jelas alurnya, absurd, dari mana dan hendak ke mana, siapa sosok jelas dalam film itu dan apa maksud kehadirannya hanya menyisakan kepadamu pertanyaan-pertanyaan tatkala kau bangun di pagi hari. Agak berbau horor dan bernuansa gelap. Agak menyeramkan sebenarnya sewaktu membaca, tapi saya menikmati saja sebab cerita-cerita semacam inilah cerita bergizi bagi jiwa, membawa untuk lebih dalam lagi menghayati tentang hidup, bukan basa-basi yang sekadar lewat lalu lenyap.

Di luar itu, yang cukup mengganggu bagi saya — namun sebenarnya di situlah salah satu letak kelebihan sekaligus ciri khas Bapak Budi Darma — sewaktu membaca adalah nama-nama yang disematkan kepada tokoh-tokoh dalam ceritanya. Dalam beberapa cerita, karena tidak memberi nama secara langsung, misalnya Ani, Beni, Candra, Dedi, dsb, kita harus bersabar dan mengikuti saja sebutan panjang yang disematkan sang penulis seperti Penyair Besar, Penyair Kecil, Prajurit Terendah, Jenderal Tertinggi, Laki-laki Setengah Umur, Laki-laki Berbaju Hitam, Laki-laki Berbaju Putih, Laki-laki Tua Ompong, Laki-laki Bermata Besar-Berkuping Besar-Bertangan Besar. Agak ribet dan cukup membuat pusing juga bacanya. 😀 But, it’s ok. 😉 🙂

Demikian sedikit catatan terkait Kritikus Adinan dari Bapak Budi Darma. Btw, saya sendiri adalah salah satu pengagum bapak ini sejak mengenal yang namanya sastra. Jangan heran lantas melontarkan tanya, “kok bisa?” kalau kau pernah mendengar satu pengalaman konyol saya beberapa tahun silam, ketika hanya karena mau memotret langsung wajah bapak satu ini dengan kamera yang saya bawa, saya mesti melakukan aksi lompat pagar di belakang gedung IKJ atau DKJ entahlah saya tak begitu bisa membedakan antara keduanya (mungkin cerita khusus tentang ini akan ada di postingan lainnya 😀 :)). Salam hormat penuh kasih padamu, Bapak Budi Darma.

NB: Bonus foto saya bersama Bapak Budi Darma seusai sesi kami di MIWF 2017, 19 Mei 2017 di Museum I La Galigo, Fort Rotterdam, Makassar 😉 🙂

IMG20170519121150

 

 

Cinta yang Marah, Trilogi Soekram, dan Pulang

IMG_20170520_205624

Bersama buku puisi Cinta yang Marah dengan penulisnya, M. Aan Mansyur

Salah satu dari sekian buku yang saya bawa pulang dari MIWF 2017 berjudul Cinta yang Marah. Buku bersampul merah ini berisi puisi-puisi Aan Mansyur, penulis puisi-puisi Rangga (;) :D) dalam film AADC2, dan juga merupakan salah satu kurator dalam seleksi emerging writers MIWF 2017. Buku puisi ini salah satu dari empat buku yang baru diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dan diluncurkan di MIWF 2017.

Setelah sebelumnya pernah dihadirkan Melihat Api Bekerja yang disertai ilustrasi-ilustrasi unik, maka buku puisi lain dengan penulis yang sama kali ini pun dihadirkan dengan disertakan potongan-potongan berita peristiwa Mei ’98. Saya mengakui walau saya menulis cerpen dan menikmati puisi,  tapi justru di sini saya lebih terdorong membaca dan mengikuti potongan berita-berita dalam buku bersampul merah ini. 🙂 😀

Dari potongan berita-berita inipun ‘memaksa’ saya mau tak mau mesti kembali melanjutkan dua novel yang sudah saya beli tahun 2016 lalu tapi belum sempat saya selesaikan.  Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono dan Pulang karya Leila S Chudori. Dua novel yang pernah saya intip kemudian saya tutup karena menurut saya tak begitu menarik (baru saya sesali kemudian setelah intens mengenal mereka… :D)

IMG20170527152023Soekram, trilogi ini awalnya saya pikir serupa trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Tetapi rupanya berbeda. Soekram di sini berisi tiga cerita berbeda yang tidak ada sangkut paut satu sama lain selain bahwa ia adalah tokoh rekaan seorang pengarang yang sudah mati (begitu ia mengaku).

Di cerita pertama, Pengarang Telah Mati, Soekram adalah seorang dosen muda yang baru pulang dari luar negeri diperhadapkan dengan huru-hara kota Jakarta Mei 98 yang mana para mahasiswa terlibat demo dan ia sendiri walau awalnya tak tahu-menahu tentang keriuhan itu dipaksa mahasiswanya ikut memberi pendapat dalam rapat-rapat yang digelar. Ia serupa tokoh pasif yang bercerita apa saja yang tampak oleh matanya dan yang ia rasakan. Sewaktu membaca ini saya masih agak sedikit kesal kenapa cerita-cerita dengan latar belakang tersebut masih baru menyentuh hanya tentang tokoh-tokoh yang palingan menjadi korban saat terjadinya peristiwa tersebut, tanpa atau kurang berani menyentuh, misalnya, tokoh utama adalah tentara atau polisi yang bertugas.

Berikut cerita kedua, Pengarang Belum Mati, adalah cerita yang cukup rumit menurut saya. Tokoh Aku, sang editor, seperti baru tahu kalau sahabatnya, pengarang tokoh rekaan Soekram, sebenarnya belum mati. Lalu draft-draft cerita Soekram ditemukan kembali, berlatar belakang tahun 1965 dan cerita ini serupa membaca sebuah catatan mimpi yang terkadang seolah tidak terang ujung pangkalnya. Ada keikutsertaan Soekram dalam rapat-rapat organisasi, ada ayahnya di kampung pengagum sosok pemimpin besar revolusi dan pengikut partai tanda segeitiga kepala banteng, adiknya yang ditangkap polisi karena membela petani, seorang teman kulihnya, Maria, yang pandai berdeklamasi, yang lalu membawanya mengenal Nengah, seorang anak Bali, kunjungan ke gua, dan yang agak membingungkan adalah aulia, yang katanya adalah sahabat dan gurunya, lalu tentang padang pasir, ada tiadanya larangan mengunyah pasir. Jelas bagian kedua buku ini seperti sebuah catatan spontan tentang mimpi, yang unik dan cukup entah dimengerti atau tidak tetap saja ia sebuah karya yang aduhai.

Di cerita ketiga, Pengarang Tak Pernah Mati, Soekram mengembangkan sendiri ceritanya. Dalam cerita yang ia ciptakan, ia bertemu Datuk Meringgih, juga Siti Nurbaya di tanah Minang. Bagian ini agak menggelitik. Sebab cerita asli karangan Marah Rusli ini ‘dipelintir habis-habisan’ oleh Soekram menjadi kisah Siti Nurbaya versi Soekram, sebuah cerita unik tentang kisah cinta atau kekaguman seorang remaja perjamuan terhadap seorang tua yang adalah paman sahabatnya.

Demikian kurang lebihnya sinopsis tentang Trilogi Soekram ini. Selanjutnya adalah kejeniusan pengarang, dalam hal ini Sapardi Djoko Damono, menempatkan pikiran-pikiran liarnya. Memanfaatkan sesuatu yang sederhana hingga bisa tercipta sebuah trilogi yang patut diacungi jempol.

Buku berikutnya adalah Pulang karya Leila S Chudori. Saya sudah tak begitu ingat kapan tepatnya buku ini saya beli. Seingat saya, seusai membeli dan membawa pulang buku ini, saya sempatkan diri membaca saat itu juga. Sekilas mengamati secara cepat dan keseluruhan buku ini bagi saya bagus karena menyertakan referensi-referensi penting untuk selanjutnya bisa dikenal dan dicaritahu pembaca. Hanya ketika baru awal-awal membaca, saya sudah memutuskan untuk tak melanjutkan. Dalam hati saya mengomel, kenapa selalu buku-buku sastra yang dipuja-puji bagus, yang mendapat berbagai penghargaan mesti (sering) dibumbui yang bersifat dewasa.  Bagaimana saya bisa rekomendasikan anak-anak SMP untuk membaca sebuah cerita yang  bagus kalau patokan cerita yang bagus selalu seperti itu. Begitu pikir saya (:D) sewaktu membaca di awal-awal buku Pulang mengisahkan tentang pertemuan Dimas Suryo dan Viviane di antara keriuhan mahasiswa Sorbonne Mei 1968. Jadilah buku itu saya simpan untuk beberapa lama hingga setelah membaca Cinta yang Marah dengan alasan bahwa buku Pulang ini juga menyimpan kisah tentang sekalian peristiwa ‘65 (seperti halnya Ronggeng Dukuh Paruk) dan peristiwa Mei ’98 (cerita pertama trilogi Soekram).

Dengan kembali mengambil Pulang dan tekad menuntaskan cerita-cerita berlatar peristiwa ’65 dan ’98 itulah, baru kemudian muncul rasa kagum dan salut saya atas usaha dan keberanian penulis novel Pulang. Novel ini sungguh luar biasa. Menyajikan dengan terang (setidaknya tidak terlalu gelap :D, ah, saya pun sebenarnya tak terlalu tahu apa itu terang dan gelap di sini). Novel ini tak hanya kaya, tapi juga ideal. Patut ia mendapat penghargaan KLA 2013. Namun justru terlalu ideal dan sangat ideal itu pula yang menurut saya adalah kekurangannya, kekurangan yang positif bisa jadi. Rasanya seperti mustahil menemukan dalam kehidupan nyata di mana orang-orang berpikiran dan berpendapat ideal. Apa-apa selalu diingatkan dengan nama seorang tokoh ini tokoh itu, masakan ini masakan itu punya filosopinya masing-masing. Andai saja setiap orang, siapapun dia di dunia nyata punya karakter seperti tokoh-tokoh dalam Pulang. Sungguh, intelek sekali orang-orang yang bahkan kita jumpai di pinggir jalan atau di atas bemo atau di dalam pasar atau di mana saja. 😀

Selain kekurangan terlalu ideal itu, bagi saya kekurangan lainnya adalah katanya ia bicara Indonesia, tapi disayangkan bahwa Indonesia yang dibicarakan di sini tiada lain dan tiada bukan hanya berkisar di seputaran pulau Jawa. Paling juga ada nama Sumatra ia sisipkan dengan adanya tokoh Risjaf, atau Sulawesi dengan nama kopinya yang harum mewangi itu. Sayang sekali bahwa hanya itu Indonesia yang ia tahu dan resapi. Sementara Indonesia bukan hanya sebatas itu, bukan? 🙂 Tapi, sudahlah. Mungkin memang harus begitu. Dan biar begitu supaya dapat dikatakan bahwa, baiklah, kalau tokoh-tokoh dalam novel itu terlalu sempurna untuk ditemui di dunia nyata, maka secara keseluruhan novel itu tidaklah sempurna. Ini masih kerja manusia. Kalau terlalu sempurna, bisa-bisa membuat orang tak percaya, ini hasil kerja manusia ataukah makhluk apa, kok bisa sebegini sempurna? Maka, belajar dari kekurangan (yang bagi saya juga justru di saat yang sama kekurangan tersebut menjadi kelebihan novel ini sebab ia  masih mau menunjukkan biarlah supaya orang membaca ini apa adanya, janganlah terlalu sempurna karena kalau terlalu sempurna bisa membuat orang tak percaya dan menganggap ini terlalu membual) ini, mungkin bisa menantang ada lagi orang-orang dari bagian Indonesia yang lain untuk berani membuat cerita dengan latar serupa yang selama ini belum terdengar secara luas dan terbuka, supaya jangan dikira bahwa yang bergejolak pada saat-saat itu hanyalah di daerah-daerah yang itu-itu saja, sebab di titik-titik Indonesia yang lain di luar sana, pernah terjadi juga peristiwa serupa yang memakan banyak sekali korban, mereka-mereka yang sebenarnya tak tahu menahu tentang situasi politik yang ada namun ikut-ikutan dituduh hingga akhirnya mesti mati sia-sia, baik dari yang terlibat secara langsung atau pun sebagai sanak ataupun sebagai keturunan yang pada persitiwa tersebut, bahkan sama sekali belum direncanakan oleh orangtuanya pun, harus ikut-ikutan didiskriminasi hampir dalam segala aspek khususnya urusan negara atau pemerintah. 

Demikian kurang lebih banyak hal baru yang dapat dipelajari dari novel Pulang, baik isi maupun teknik penulisannya. Sedemikian amazing novel ini sampai membuat saya lupa alasan pertama kenapa saya tidak segera menyelesaikan langsung bacaan ini begitu saya baca. Tternyata baru saya sadar ada yang jauh lebih berharga daripada sekadar alasan misalnya kau tak mau melanjutkan makananmu yang disajikan ala resto bintang 5 hanya karena kau melihat ingus kuning atau mendengar atau membaui kentut seseorang di sampingmu. Permisalan lainnya adalah begini,  ketika kau membaca Pulang, dari dua hal yang disodorkan padamu yakni jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kisah kelam di balik tragedi ’65 dan ’98, manakah hal paling penting, utama, dan urgent yang kira-kira mau disampaikan penulis, adalah pilihan masing-masing pembaca. (y) Selamat membaca,  selamat memilih, selamat belajar.😇😉😊

Kronik Kematian yang Telah Diramalkan (Chronicle of A Death Foretold) dari Gabriel Garcia Marquez

20170303_181507Pengantar

Pada hari ketika mereka hendak membunuhnya, Santiago Nazar bangun pukul lima tiga puluh pagi untuk menyambut kedatangan kapal uskup yang akan melintasi sungai setempat. Dalam versi Bahasa Inggrisnya tertulis, On the day they were going to kill him, Santiago Nasar got up at five-thirty in the morning to wait for the boat the bishop was coming on*.

Kalimat di atas adalah kalimat pertama dalam Kronik Kematian yang Telah Diramalkan. Kalimat pembuka yang akan menjadi kalimat legendaris setidaknya bagi saya :D, dari Gabriel Garcia Marquez. Sebelumnya buku dengan pengarang tersebut yang sering didengar dan digaung-gaungkan orang adalah 100 Tahun Kesunyian, atau 100 Years of Solitude. Bahkan di kelas Dusun Flobamora, buku ini punya cerita tersendiri di antara beberapa anggotanya… 😀

Tapi yang saya mau tuliskan di sini bukan tentang 100 Tahun Kesunyian. Buku itu saya baca di awal-awal tapi baru beberapa halaman tak sempat selesai karena agak terkesan suram bagi saya…:D Mungkin nanti kalau sempat akan dilanjutkan lagi karena sudah menemukan keindahan Marquez yang lain melalui kisah Santiago Nasar ini.

Buku keren ini dialihbahasakan dari judul Chronicle of A Death Foretold tahun 1981 (di buku cetaknya ditulis 1978) dan diterbitkan Selasar Surabaya Publishing dengan cetakan pertama tahun 2009.

Terdiri dari lima bagian atau bab. Walau hanya ditulis dalam 174 halaman, saya butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan cerita ini. Butuh waktu lama juga untuk mencoba mengerti apalagi sampai menuliskanya sebagaimana yang terbaca sekarang.

Cerita ini dibuat dengan alur yang cukup rumit. Kerumitan ini bukan lantas menjadi kekurangan, justru sebaliknya terbaca kecerdasan sang pengarang. Kita sebagai pembacalah yang dituntut menyusun kronologis peristiwa dalam kejadian terbunuhnya Santiago Nazar pada pagi-pagi hari Senin di bulan Februari, sehari setelah semalam sebelumnya ada sebuah pesta pernikahan yang paling meriah yang pernah diadakan di kota kecil tersebut.

Sebenarnya saya agak bingung mau membuat catatan ini seperti apa. Mau buat sesuai kronologis peristiwanya ataukah mengurutkannya sesuatu struktur buku ataukah dari tokoh ataukah dari yang lainnya. Tapi sebaiknya saya akan memulai dengan mengenalkan tokoh-tokohnya terlebih dahulu. Bagi saya ini penting sebab cerita ini melibatkan banyak sekali tokoh. Setelah itu baru akan dilanjutkan dengan struktur buku per bab, baru kemudian kronologis dan lainnya. 🙂

Tokoh

Tentu tokoh utama adalah Santiago Nasar, seorang pemuda berumur 21 tahun keturunan Arab. Ia anak tunggal. Tinggal bersama ibunya setelah beberapa tahun sebelumnya ayahnya meninggal, serta juga dengan dua pelayan di rumah, seorang pelayan tua dengan anaknya. Mereka memiliki peternakan sapi yang diwariskan sang ayah. Santiago Nasar juga punya beberapa pucuk senjata dengan jenis berbeda.

Ia berteman baik dengan tokoh aku, sang penutur cerita, dan seorang mahasiswa kedokteran bernama Christo Bedoya. Bersama tokoh aku mereka suka mengunjungi rumah hiburan sejak remaja. Selain itu, SN juga diceritakan suka mengganggu anak pelayan di rumah mereka.

Sampai adanya kisah dalam Kronik Kematian yang Telah Diramalkan ini berkaitan dengan Angel Vicario, seorang gadis cantik nan sederhana di kota itu yang sempat menjadi istri beberapa jam oleh seorang pendatang asing bernama Bayardo San Roman, seorang pemuda berusia 30 tahun, putra seorang jenderal dari kota lain. Dari bagian itu pula hadir dua saudara Angela, Pedro dan Pablo yang merasa panas hati ketika mendengar kabar saudara perempuan mereka yang baru saja menikah diantar pulang suaminya karena didapati bukan lagi seorang perawan, dan penyebabnya adalah Santiago Nasar. Masih dengan pakaian pesta mereka, mereka pun mengambil pisau jagal babi dan menunggu Santiago Nasar untuk membunuhnya. Mereka melakukannya dengan terang-terangan bahkan dengan mengumumkan kepada setiap orang yang mereka temui. Mereka yang mendengarnya menganggap itu bualan belaka oleh para pemabuk. Sebagian walaupun sangsi tetap berusaha memperingatkan Santiago Nasar. Namun ketika upaya itu baru mau dilakukan, Santiago Nasar justru sudah berdarah-darah dengan ususnya yang terburai  berjalan pulang ke arah rumahnya.

Struktur Buku Per Bab

Bab Satu (hal 3-34)

Pada hari ketika mereka hendak membunuhnya Santiago Nazar bangun pukul lima tiga puluh pagi untuk menyambut kedatangan kapal uskup yang akan melintasi sungai setempat. Sebelumnya dia bermimpi berjalan di antara rumpun pohon berkayu ketika hujan rintik-rintik turun, dan untuk sesaat dia merasa bahagia di dalam mimpinya, namun begitu bangun, dia merasakan seluruh tubuhnya kecipratan kotoran burung. “He was always dreaming about trees,Placida Linero, ibunya, mengatakan padaku dua puluh tujuh tahun kemudian, sambil mengingat-ingat detail Senin yang mengenaskan itu. Demikian pembuka di bab satu. “The week before, he’d dreamed that he was alone in a tinfoil airplane and flying through the almond trees without bumping into anything,” dia bercerita kepadaku.

Cerita bab satu ini selain lebih kepada pengenalan sosok Santiago Nasar seperti yang sudah disinggung di atas, juga mencoba mengisahkan bagaimana sikap dan bawaan Santiago Nasar di mata orang-orang rumah dan orang-orang terdekatnya hari Senin pagi, beberapa jam sebelum ia terbunuh. Kisahan-kisahan yang diungkapkan 27 tahun kemudian sejak hari ia dibunuh. Diungkapkan mulai dari sang ibunda, dua pelayan rumah, ibu dan adik perempuan sang penutur cerita, tetangga-tetangga, dan beberapa kenalan.

Bab ini kemudian ditutup dengan kepanikan dan kesedihan ibu tokoh aku yang berlari keluar rumah sambil menggenggam tangan adik bungsunya dengan tujuan memperingatkan Placida Linero tentang keselamatan putranya, namun di tengah jalan ada seseorang yang berlari dari arah berlawanan memanggil, “Don’t bother yourself, Luisa Santiaga,” he shouted as he went by. “They’ve already killed him.”

Bagian Dua (hal 35-68)

Dibuka dengan pengenalan sosok Bayardo san Roman, lelaki yang baru mengembalikan pasangan pengantinnya itu, datang pertama kali di kota ini pada bulan Agustus tahun sebelumnya, atau enam bulan sebelum pernikahan berlangsung. Kemunculannya dengan penampilan yang menyolok itu cukup menarik perhatian. “He looked like fairy,” Magdalena Oliver, seorang penumpang yang bersamanya di kapal selama perjalanan berkata. “And it was a pity, because I could  have buttered him and eaten him alive.”

Bab kedua ini menyajikan bagaimana mula sejak kedatangan Bayardo, perkenalannya dengan Angela Vicario, upayanya mencoba mengambil hati Angela, persiapan pesta pernikahan sampai merobohkan pagar di halaman dan meminjam rumah tetangga demi arena dansa, dan tiba hari pernikahan ketika pengantin perempuan menolak berdandan dalam gaun pengantin sampai dia melihat kehadiran calon suaminya, I would have been happy even if he hadn’t come, but never if he abandoned me dressed up (lazim bahwa tidak ada penderitaan yang lebih memalukan daripada seorang perempuan yang diputuskan cintanya dalam gaun pengantin. bisa dibandingkan, lebih memalukan dan menyedihkan mana, diputuskan cinta dalam gaun pengantin sebelum menikah daripada sudah ada pemberkatan nikah dan diadakan pesta meriah lantas beberapa jam kemudian diantar pulang ke rumah orang tau–wow.:)), hingga kedua pengantin berangkat ke rumah impian seusai pesta, hingga diakhiri dengan pengakuan Angel Vicario ketika ditanya dua saudara kembarnya, tell us who it was, “Santiago Nasar.”

Bagian Ketiga (69-101)

Dibuka dengan para pengacara berdiri di dekat tesis pembunuhan yang masuk akal atas dasar pembelaan kehormatan, yang ditegakkan oleh pengadilan dengan keyakinan baik, dan si kembar menyatakan pada akhir persidangan bahwa mereka akan melakukannya lagi seratus kali seratus untuk alasan yang sama.

Bab tiga ini walau ada juga sempat menyinggung beberapa tokoh namun lebih menyorot kepada aksi menunggu dua Vicario bersaudara di pagi hari itu sebelum mereka membunuh Santiago Nasar, orang yang lima jam sebelumnya mereka masih sempat minum dan bernyanyi-nyanyi bersama. Ditambahkan juga dengan kepingan-kepingan informasi dari beberapa saksi yang sempat melihat laku orang-orang sebelum kriminilatas itu terjadi.

Ditutup dengan kedatangan si biarawati, salah satu adik perempuan tokoh aku masuk ke kamar tidur, berusaha membangunkan salah satu adik laki-laki lain dari tokoh aku dengan jeritan kemarahannya, “They’ve killed Santiago Nasar.”

Bagian Empat (103-137)

Dibuka dengan Kerusakan yang diduga oleh pisau-pisau itu baru awal dari tindakan autopsi yang dilakukan secara buruk oleh Bapa Carmen Amador yang menyadari ternyata dialah yang menerima kewajiban ini karena DR Dionisio Iguaran tidak berada di tempat. “It was as if we killed him all over again after he was dead,” pendeta berumur itu bercerita padaku di tempat peristirahatannya di Calafell.

Bab empat ini lebih banyak menyajikan kisah sesudah terjadinya pembunuhan pagi itu. Bagaimana jasad itu kemudian dipertontonkan kepada umum di tengah-tengah ruang tamu dan anjing-anjing tak berhenti melolong sampai-sampai oleh perintah ibu sang korban, anjing-anjing itu pun ikut dibantai mati. Kemudian beranjak kepada dua kembar Vicario yang ditahan. Lalu apa yang terjadi dengan Bayardo sendiri sepulangnya dari mengantarkan kembali istrinya ke rumah orang tua, hingga kepada Angel Vicario yang oleh ibunya ia dibelikan rumah untuk tinggal menenangkan diri di sebuah desa yang terpanggang garam Karibia. Dari sana ia menulis surat tanpa henti ke alamat Bayardo.

Demikian bab empat ini diakhiri dengan kedatangan kembali Bayardo San Roman di tahun ke-17 di rumah Angel Vicario pada tengah hari di bulan Agustus dengan membawa sekoper pakaian untuk tinggal di sana dan satu koper lagi yang serupa, berisi hampir dua ratus surat yang telah dituliskan Angela untuknya. Surat-surat itu tersusun rapi sesuai tanggal dalam beberapa bundel yang dikat dengan pita-pita berwarna dan semuanya belum dibuka.

Bagian Kelima (139-174)

Selama bertahun-tahun kami tidak membicarakan hal lain. Tindakan sehari-hari kami, yang didominasi oleh begitu banyak kebiasaan linear, tiba-tiba berputar di sekitar satu jenis ketertarikan tunggal. Bercerita tentang mereka yang berusaha menyusun begitu banyak mata rantai kejadian tersebut. Demikian pembuka bab lima.

Selanjutnya banyak saksi dihadirkan demi memperoleh sedetail-detailnya detik-detik menjelang pembunuhan tersebut hingga masa sekaratnya. Ternyata seusai tubuhnya ditikam dua bersaudara Vicario, Santiago Nasar masih sempat-sempatnya sambil memegang ususnya yang berjuntaian dan terburai keluar, ia berjalan mengelilingi lingkar rumah untuk bisa masuk melalui pintu dapur,  sempat bertemu dengan beberapa tetangga yang melihatnya dengan terpana. Bibi penutur, Wenefrida Marquez berteriak kepadanya, “Santiago, my son. What has happened to you?” Santiago menjawab, “They’ve killed me, dear Wene,” sebelum terjungkal pada langkah terkahir tapi segera bangun lagi. sekalipun dalam keadaan sekarat, ia akhirnya masuk ke rumahnya melalu pintu belakang, jatuh tertelungkup di lantai dapur.

Demikian cerita sesuai struktur buku per bab.  Berikutnya adalah kronologi kejadian sebagai hasil membaca supaya lebih jelas. 🙂

Kronologi Kejadian

Cerita tentang kejadian naas pagi hari di bulan Februari itu mungkin tidak ada kalau saja pada enam bulan sebelumnya tidak datang seorang lelaki asing dan misterius bernama Bayardo San Roman di kota kecil yang penduduknya saling kenal dan dekat satu sama lain.

Bayardo bertemu dengan Angel Vicario. Ketika melihatnya pertama kali di suatu siang, ia langsung memutuskan ia akan menikahi gadis itu. Menurut hasil penelusuran, Bayardo memang sengaja bertualang dari satu tempat ke tempat lain demi mencari seorang perempuan yang patut dinikahi, hingga di kota itulah ia bertemu Angel Vicario.  Pesta pernikahan pun diselenggarakan enam bulan kemudian yakni tepat pada bulan Februari. Sebuah pesta pernikahan yang paling meriah yang pernah terjadi dalam sejarah kota kecil itu. Diselenggarakan pada hari Minggu malam. Pesta meriah dengan 40 ekor kalkun, 11 ekor babi, dan empat ekor sapi, serta 205 peti alkohol selundupan dikeluarkan untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang di alun-alun kota. Pesta itu berlangsung hingga lewat tengah malam.

Pada pukul 10-an malam, kedua pengantin dengan mobl hadiah mereka menuju rumah paling indah di kota itu, yang dibeli dengan harga 10 ribu peso dari seorang duda yang bahkan ia sendiri masih keberatan menjualnya. Sementara itu sejumlah  lelaki, masih terbilang kerabat dan sahabat dekat sang tuan pesta, bahkan dua saudara pengantin perempuan sendiri, yang masih kurang puas dengan pesta pernikahan melanjutkan pestanya lagi di sebuah rumah bordir hingga dinihari serta tidak tahu-menahu tentang pengantin perempuan yang beberapa jam kemudian dikembalikan oleh suaminya ke rumah orang tauanya karena didapati istrinya tidak lagi perawan.

Sang ibu menampar putrinya, dan pada saat yang sama, Angel Vicario yang sebelumya tidak ada perasaan cinta dengan lelaki asing yang sempat menjadi suaminya selama beberapa jam itu baru menyadari bahwa lelaki itu telah menjadi bagian dirinya. Ibu Angela menyuruh memanggil kedua abang kembar putrinya dan mengabari tentang kejadian malam itu. Kedua abangnya datang dan bertanya siapa penyebab ketidakperawanannya dan keluarlah dari mulut Angela Vicario, Santiago Nasar (penutup bagian dua).

Mendengar nama itu, maka menjadi panaslah hati mereka. Masih dengan pakaian pesta semalam, mereka mengambil pisau jagal dan mencari Santiago Nasar demi membunuhnya, sebagai pembalasan atas kehormatan adik mereka yang telah direnggut. Kedua kakak beradik itu secara terang-terangan mengumumkan kepada penduduk yang mereka temui bahwa mereka sedang mencari Santiago Nasar untuk membunuhnya. Santiago Nasar sendiri malam itu berpesta dengan riang dan bahkan sempat-sempatnya punya ide menggoda kedua pangantin di rumah bukit mereka, kemudian pulang untuk tidur sejam sebelum ia minta dibangunkan demi ikut menyambut kedatangan sang uskup.

Pagi hari ketika ia bangun, ia sempat memimum kopinya bahkan sempat menggoda sang pelayan muda. Masih dengan setelan pestanya, ia keluar ikut menyambut kedatangan sang uskup. Seusai berada di sana bersama rombongan, ia berjalan pulang dengan Christo Bedoya, berniat mengganti baju terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah sang tokoh aku yang ibunya sedang membuat kue ubi.

Sementara kesibukan pagi dengan kedatangan uskup itu berlangsung, telah tersiar kabar di setiap penjuru kota itu bahwa Angela Vicario sudah dikembalikan ke rumah orang tuanya oleh pasangan yang baru dinikahinya semalam, dan sekarang dua saudara kembar Vicario sedang menungggu Santiago untuk membunuhnya.

Santiago sendiri berjalan dengan santai dan tak tahu menahu tentang rumor yang beredar mengenai dirinya. Ia sempat singgah di rumah tunangannya, Flora Miguel. Saat itulah, kawannya, Christo Bedoya yang bersamanya lepas pandang karena sempat bertemu dengan seorang sanak Santiago tahu tentang perencanaan Vicario bersaudara. Ia berusaha menyelamatkannya, namun ia sempat dibuat kelabakan dengan beberapa kejadian kecil di sekelilingnya, pada menit-menit sementara ia berusaha mencoba menyusuri jalanan mencari Santiago Nasar itulah, kawannya terbunuh. Hanya terpisah beberapa menit kemudian mendapati bahwa orang yang baru saja berjalan bergandengan tanganmu tewas mengenaskan karena dibunuh.

Ibu Santiago Nasar sendiri bangun pagi-pagi hari itu dan mendapati Christo Bedoya di kamar putranya kemudian beberapa menit kemudian dibuat panik karena berita yang beredar. Ia keluar dan bertanya kepada pelayan, di mana putranya. Sudah masuk di dalam, jawab mereka.

Perempuan tua itu percaya putranya sudah berada di dalam rumah sehingga ketika melihat dua Vicario bersaudara yang berlari datang dengan pisau terhunus, menyangka akan membunuh putranya di dalam rumah, segera ia berlari ke pintu dan menutup pintu dan memasang palang kayu. Tak tahunya putranya masih sementara di luar dan sedang berusaha menjangkau pintu beberapa detik sebelum pintu itu ditutup dan dikunci ibunya dari dalam.

Santiago berteriak sambil berusaha menggedor-gedor pintu minta dibukakan, sementara teriakan sang putra justru disangka ibunya adalah teriakan putranya yang sudah berada di dalam dan mencoba mengejek dua Vicario bersaudara yang sia-sia datang dengan pisau terhunus.

Di saat itulah, pemuda 21 tahun itu pun ditikam di depan pintu rumahnya sendiri yang dalam keadaan tertutup karena dikunci ibunya dari dalam. Ia ditikam dalam keadaan berdiri bersandar pada daun pintu.

Orang-orang di kota kecil itu yang mulanya hanya mendengar rumor itu dan menganggapnya bualan para pemabuk yag tak akan ada benarnya, hanya membicarakannya dari mulut ke mulut, sebagian memilih diam, sebagian memilih memperingatkan sang korban, namun akhirnya entah bagaimana seolah dikendalikan oleh sebuah kekuatan di luar mereka sehingga mereka pun bahkan tak sempat mencegah tindakan pembunuhan pagi hari Senin di bulan Februari itu.

Seusai menuntaskan rencana mereka, dua Vicario bersaudara kembali berlari pulang menuju gereja guna menyerahkan diri kepada pastur sementara mereka juga diserbu sekelompok imigran Arab yang adalah orang-orang sekomunias Santiago Nasar. SN sendiri seusai ditinggalkan dua bersaudara di depan pintu utama rumahnya, melihat ususnya yang terburai keluar, memegangnya dan memasukkannya kembali ke dalam perut, sambil berjalan terhuyung-huyung mengelilingi rumahnya demi masuk melalui pintu belakang. Ia melewati tetangga-tetangga yang melihatnya dengan terpana.

Tentang Bayardo, pada malam sepulangnya dari rumah dengan berjalan kaki mengantar kembali perempuan yang dinikahinya beberapa jam lalu, ia pun mengunci diri dengan beberapa botol alkohol hingga pingsan lima hari dan selama itu tak ada seorang pun yang teringat akan dia hingga di hari Sabtu berikutnya. Keluarga Bayardo datang dan membawanya pergi.

Di minggu-minggu awal, Angela menulis sutar kepada Bayardo. Demikian bulan-bulan berikutnya. Surat-surat itu tak pernah dibalas, namun demikian Angela terus menulis selama 17 tahun. Di tahun ke-17 itulah, pada suatu tengah hari di bulan Agustus sebagaimana bulan munculnya Bayardo di kota lama Angela, Bayardo yang sudah tua, mulai gemuk, dan bergundul itu muncul di rumah Angela dengan dua koper berisi pakaian dan sekoper surat Angela.

Selama masa 17 tahun itu pun, Angela Vicario dalam masa menenangkan dirinya, terkadang datang juga beberapa sepupunya singgah termasuk sang penutur cerita apabila dalam perjalanan.

Demikian sekilas tentang kronologi peristiwa. 10 tahun berikutnya tak lagi diceritakan bagaimana kelanjutan hidup dari tokoh-tokoh tersebut selain pada tahun ke-27 itulah tokoh aku yang terbaca sebagai kawan baik Santiago Nasar sekaligus sepupu Angela Vicario, menelusuri kembali keping cerita dari berbagai saksi hingga diperoleh susunan cerita sebenarnya, kecuali bahwa apakah benar pengakuan Angela Vicario pada malam pernikahannya.

sedikit cuap-cuap

Peran penutur cerita tak banyak menonjol selama berjalannya cerita itu selain bahwa sebelumnya terjadinya peristiwa pagi hari Senin di bulan Februari itu, ia sering bersama Santiago Nasar, dan bahkan pada malam pesta pernikahan berlangsung, namun ketika tengah terjadi kejadian kriminal itu, ia sedang berada dalam pangkuan kehangatan Maria Alejandrina Cervantes, semacam mami bagi pemuda-pemuda kurang hiburan tersebut :p

Cerita ini meski alurnya rumit, sebenarnya penutur hanya ingin berusaha mengumpulkan kepingan cerita yang terserak di antara para saksi yang tersebar di berbagai sudut kota. Di akhir cerita, kita memang mendapat gambaran jelas mengenai kronologi ceritanya seperti di atas. Hanya tentang apakah benar Angela Vicario itu tidak perawan, atau kalau memang Angela tidak lagi demikian maka apakah penyebabnya, atau kalau memang ada orang (manusia) sebagai penyebab maka apakah SN adalah benar pelakunya seperti yang dikatakan Angela, tidak benar-benar terang disajikan. Bagian itulah yang cukup menimbulkan pertanyaan di akhir cerita.

Mengenai pernikahan Angel Vicario dan Bayardo San Roman yang langsung berpisah setelah menikah, saya pun pernah bertemu dengan kisah pengalaman yang mirip. Hanya tidak seekstrim Bayardo dan Angel yang hanya berlangsung dua jam. Sebab kalau di pengalaman saya (berkenaaan salah satu mempelainya masih terbilang saudara sekaligus tetangga saya), status suami istri mereka sempat berlangsung beberapa hari. Sebelumnya sudah terjadi satu peristiwa sebagai penyebab perpisahan mereka.

Peristiwa itu terjadi kira-kira dua tahun lalu. Saking berkesannya, saya sempat membahasakannya ke dalam cerpen Usai Pesta Pernikahan Silpa. Cerita penyebab itu kalau mau dibilang, bisa jadi berdasarkan 90-an persen kisah nyata.

*Sumber Bahasa Inggris saya dapat dari sini

Menyelami Keindahan “To Kill a Mockingbird” bersama Harper Lee

20170126_223911To Kill a Mockingbird pertama kali terbit tahun 1960 di Amerika dengan latar cerita tahun 1930-an. Kala itu Indonesia masih tertatih-tatih dalam masa suramnya. Banyak penduduknya apalagi di pelosok selatan pulau Timor masih berkelana di hutan-hutan dan tidak mengenal apa itu buku apalagi teks bacaan. Sementara nun jauh di bagian selatan Amerika, seorang gadis kecil sudah bisa membaca dengan sendirinya ketika ia menyadari keberadaan dirinya sampai-sampai ia tak tahu sejak kapan ia gemar membaca. Bukankah orang tak pernah gemar bernapas?” demikian hasil perenungannya ketika ia diminta gurunya untuk jangan lagi diajari membaca di rumah.

Gadis kecil itu adalah Jean Louse Finch yang biasa dipanggil Scout. Seorang gadis tomboi berumur enam tahun. Scout inilah tokoh utama sekaligus narator dalam cerita To Kill a Mockingbird yang keren ini.

Scout dan Jeremy adalah dua kakak beradik yang ditinggal mati sang ibu karena serangan jantung tatkala si kakak berusia enam dan adiknya dua tahun. Di rumah mereka tinggal bersama Atticus, sang ayah yang adalah seorang pengacara, serta pengasuh mereka seorang perempuan negro bernama Calpurnia yang datang bekerja pagi hari dan pulang sore.

Durasi dalam cerita ini berkisar kurang lebih tiga tahun. Dibuka dengan menengok kejadian-kejadian masa lalu yang menyebabkan tangan sang kakak, Jem, patah di bagian siku sehingga lengan kirinya nampak  sedikit lebih pendek dari yang kanan. Ada tiga hal yang diperdebatkan. Scout berkeras penyebabnya adalah keluarga Ewell, Jem justru menghubungkannya dengan Dill yang penasaran dengan Boo Radley. Menanggapi itu, Scout pun melemparkan kembali kenangan kepada sejarah masa lampau, menghubungkannya dengan kedatangan leluhur mereka ke tepi sungai Alabama lalu membangun kediaman yang kemudian dinamai Finch’s Landing.

Beranjak dari pengenalan silsilah keluarga Finch dan sejarah Maycomb itulah, cerita utama dalam buku ini mulai bergulir. Tepat pada liburan musim panas sebelum Scout memulai hari pertama sekolahnya yang sarat akan kejutan baik dengan ibu guru, salah satu anggota keluarga Ewell, juga salah seorang Cunningham. Liburan musim panas yang ditandai dengan kedatangan teman bermain mereka, Dill asal Meridian, Mississippi.

Di awal cerita saya merasa terhibur akan tingkah dua anak Maycomb ini, ditambah Dill kala musim panas. Tingkah paling menonjol mereka adalah rasa penasaran mereka terhadap rumah tetangga, sebuah keluarga misterius di Radley Place. Rasa penasaran itu pun mendorong mereka mengintip dan berusaha mencari segala macam cara bagaimana bisa membuat Boo Radley yang konon dikurung 15 tahun itu memunculkan diri. Ceritanya, Mr Arthur Radley, demikian nama Boo Radley, sewaktu remaja pernah membuat masalah bersama teman-teman gengnya dan akan dikirim ke sekolah kejuruan. Oleh ayahnya, ia dikurung hanya di dalam kamar dan semenjak itu ia tak pernah lagi keluar melihat atau merasakan sinar matahari.

Setiap pergi atau pulang sekolah, kedua anak ini melewati Radley Place dengan berlari kencang. Mereka tak mau berlama-lama di depan rumah angker dan misterius itu. Sampai suatu hari Scout menemukan permen karet di ceruk pohon ek depan rumah Radley. Beberapa hari berikutnya mereka menemukan lagi kejutan-kejutan lain yang sepertinya sengaja ditujukan kepada mereka. Mereka mengambil dan menganggapnya sebagai hadiah dari seseorang yang tak mereka kenal. Kejutan dari orang tak dikenal itu berhenti ketika Mr. Nathan Radley menutup ceruk itu dengan semen, padahal hari itu mereka sudah berniat menaruh surat di sana. Gagalnya pemberian surat ucapan terima kasih itu membuat kedua kakak beradik tersebut menangis diam-diam.

Peristiwa berikutnya yaitu ketika Atticus ditunjuk pengadilan Maycomb untuk membela perkara seorang kulit hitam bernama Tom Robinson yang dituduh memerkosa putri keluarga Ewell yang berkulit putih. Sejak berita itu tersebar, kedua anak itu selalu mendapat gangguan dan hinaan baik dari kawan sekolah, saudara, ataupun tetangga mereka yang berkulit putih. Katanya Finch yang adalah keluarga terpandang lebih mencintai orang kulit hitam dan justru mempermalukan ras sendiri. Gangguan, ejekan, dan hinaan yang bertubi-tubi datang menghampiri, membuat kedua anak itu sampai tak tahan ayahnya dikatai demikian. Menurut Scout, ia harus membereskanya dengan cara memukul anak-anak yang mengganggunya. Tangannya sudah mengepal siap memukul Cecil Jacobs di sekolah namun ditahan karena mengingat nasihat ayahnya, lalu di hari natal ia menyerang anak sepupunya, Francis, sampai jarinya robek. Sementara kepada tetangga mereka, Mrs. Dubose, Jem melampiaskannya dengan memotong kuncup-kuncup semak kamelianya sampai berserakan di tanah menggunakan tongkat mayoret Scout yang baru dibeli. Konsekuensi atas perbuatan itu datang kemudian. Jem harus membaca dua jam untuk Mrs. Dubose di kamarnya setiap sepulang sekolah dan di hari Sabtu selama sebulan, dan selang sebulan kemudian Mrs. Dubose meninggal.

Berbeda dengan sesama mereka kulit putih, kedua anak Atticus Finch ini justru diterima dengan baik bahkan sangat dihormati di kalangan orang kulit hitam. Sangat tampak dari bagaimana mereka berdua disambut suatu hari Minggu ketika diajak Calpurnia ke gereja First Purchase, tempat beribadah orang kulit hitam di Maycomb.

Sekalipun demikian, perlu dicatat bahwa tidak semua orang kulit putih menentang Atticus. Ada banyak juga warga Maycomb yang diam-diam mendukung tindakan dan keputusan Atticus membela Tom Robinson mengingat latar belakang dan cara hidup keluarga Ewell yang seperti sampah selama sekian generasi.

Satu malam sebelum sidang digelar, empat laki-laki mendatangi penjara tempat Tom Robinson ditahan. Malam itu nyaris terjadi hal yang tak diinginkan pada Atticus atau Tom Robinson kalau saja tidak ada ketiga tokoh cilik ini, terutama Scout yang memunculkan dirinya dan berdialog cerdas dengan salah seorang kenalan lama mereka, Mr. Cunningham.

Hari digelarnya sidang di pengadilan pun tiba. Banyak orang berbondong-bondong menyesaki gedung pengadilan. Tak mendapat tempat, tiga tokoh cilik ini bergabung dengan orang-orang kulit hitam di balkon dan mengikuti jalannya persidangan. Cerita sidang di ruang pengadilan ini sendiri dalam buku yang saya baca mendapat porsi 70-an halaman. Semua apa yang terjadi di dalam gedung pengadilan dipaparkan dengan jelas, mulai dari pengantar sebelum memulai sidang, memanggil saksi, pertanyaan pembela, gerak-gerik warga, respons saksi, keberatan terdakwa, sekilas rapat dewan juri, hingga usai pembacaan putusan. Di bagian inilah Harper Lee bermain-main dengan ilmu yang sempat digelutinya di bangku kuliah.

Proses sidang yang dipaparkan langsung membuat pembaca seolah sedang ikut menyaksikan langsung di dalam ruang pengadilan. Melalui kecerdasan Atticus menggali fakta, walau kesimpulannya tak dijelaskan langsung, pembaca digiring mengetahui seperti apa kejadian yang benar dan logis. Sayang, di akhir cerita, seperti halnya realita yang terjadi di masa sekarang, sekalipun bahkan di mata masyarakat awam, saat sidang, jelas-jelas bias dibedakan mana pihak yang bersalah dan mana yang tak bersalah, siapakah pihak yang akan keluar sebagai pemenang dan siapakah yang kalah, namun ketika tiba pada detik-detik pembacaan putusan, apa yang jelas-jelas terbaca saat sidang bisa bertolak belakang. Sepertinya dalam kasus Tom Robinson, dalam setengah tidurnya samar-samar Scout mendengar Tom Robinson diputuskan bersalah…bersalah…bersalah. Atticus meninggalkan ruangan, dan keluarga Ewell boleh menegakkan kepala sebagai pemenang.

Kehidupan Maycomb kembali berjalan normal sambil menunggu rencana pihak Atticus ingin naik banding hingga terdengar kabar, Tom Robinson berniat kabur dari penjara dan ditembak mati polisi. Bob Ewell, gelandangan berkulit putih itu melanjutkan hidupnya dengan santunan pemerintah sambil sesekali tampil di muka umum mencegat Atticus, meludahi mukanya, dan  mengancam ingin membunuhnya, bahkan menakut-nakuti istri almarhum Tom Robinson.

Momen berikutnya yang menyentak terjadi di malam seusai acara Hallowen yang diadakan di auditorium sekolah. Scout yang berperan sebagai daging ham pada panggung sandiwara pulang berjalan kaki bersama Jem dengan tetap menggunakan kostumnya. Keduanya menyusuri gelap malam dari sekolah menuju rumah mereka. Jarak antara sekolah dan rumah tak begitu jauh. Mereka hanya perlu menyebrangi tikungan dan melewati Radley Place. Di tengah jalan, mereka merasa seseorang sedang mengikuti dari belakang. Tak lama kemudian mereka disergap. Perkelahian terjadi di dalam gelap. Dengan kostum daging hamnya, Scout terselamatkan hidupnya dari pisau yang disabetkan ke tubuhnya.

Putra-putri pengacara Atticus bisa saja mati terbunuh bila saja tak hadir seorang laki-laki bertubuh kurus dan bermuka pucat yang muncul dalam malam gelap menyelamatkan meraka. Setelah keadaan hening sebentar, Scout merangkak ke tempat yang dikiranya jalan. Di sana agak lebih terang. Dilihatnya Jem digotong lelaki penyelamat mereka menuju rumah. Malam itu, tangan Jem dinyatakan patah. Penyerang mereka, Bob Ewell pun mati di tempat dengan sebilah pisau dapur tertancap di tubuhnya.

Di bagian inilah rasanya saya enggan meninggalkan buku ini. Scout menggambarkan penyelamat mereka yang duduk diam di pojok sebagai mungkin seorang petani dari desa yang kebetulan datang menonton acara hallowen di sekolah dan sedang berada di sekitar area sekolah ketika mendengar teriakan mereka. Tak tahunya ketika melihat dengan saksama ciri-ciri fisiknya yang tampak sangat pucat tak pernah terkena matahari, barulah disadari, orang itulah Mr. Arthur Radley atua Boo Radley yang selama ini menjadi sosok misterius dan menakutkan di benak mereka. Boo Radley inilah yang menaruh hadiah-hadiah di ceruk pohon ek di depan rumah mereka sebelum Mr. Nathan menutup ceruk itu dengan semen. Dialah yang tanpa sepengetahuan siapa-siapa, menyelinap keluar dan menyampirkan selimut di bahu Scout ketika kedua kakak beradik itu sedang asyik menonton orang dewasa sibuk membantu memadamkan api di rumah Miss Maudie. Pada akhirnya Boo Radley yang pemalu ini memunculkan diri menjawab rasa penasaran mereka, dan ajaibnya ialah yang menjaga nyawa kedua kakak beradik Scout dan Jem dari incaran Bob Ewell.

Bagian akhir cerita ini memperlihatkan bagaimana dalam kekalutan pikirannya, Atticus tetap ingin segera menyelesaikan masalah kematian Bob Ewell. Disangkanya putranyalah yang menusuk Bob Ewell. Perdebatannya dengan Mr. Tate menunjukkan integritas hidupnya.

Dalam perdebatan inilah keluar pernyataan tegas dari Mr. Tate. Menggugah sekaligus mengharukan. Pernyataan yang membuat Atticus setelah duduk tapekur sejenak, akhirnya berpaling, “Scout, ” katanya. “Mr. Ewell jatuh tertimpa pisaunya. Bisakah kau mengerti?”

Seorang Jean Louse Finch pun bukan anak kebanyakan untuk tidak mengerti. Ia tahu, membunuh Mockingbird adalah dosa, seperti yang dijelaskan ayahnya dulu yang juga dipertegas Miss Maudie. Kehadiran mockingbird tidak mengganggu ketentraman siapa-siapa. Mereka tak pernah mengusik atau merusak tanaman orang lain. Kehadiran mereka tak lain dan tak bukan, adalah membuat lagu untuk dinikmati. Maka dalam kasus ini, Scout sangat tahu, siapa yang dimaksud mockingbird. Boo Radley–setelah sebelumnya Tom Robinson–adalah mockingbird itu. Ada refleksi Scout di sana. Para tetangga saling mengunjungi dan memberi hadiah. Boo Radley adalah tetangga mereka, yang bahkan sudah memberi mereka nyawa pun, tapi tak ada apa-apa yang dapat mereka berikan sebagai balasan.

**

Harper Lee bagi saya adalah seorang yang jenius. Karakter Scout yang dikisahkannya walau masih kanak-kanak, pikirannya luar biasa cerdas dan brilian. Namun tetap jujur dan bersikap apa adanya. Ada sesuatu yang terasa begitu lekat dan berkesan bagi saya yakni pertanyaannya yang selalu identik dengan “…itu apa?” untuk satu hal baru yang baru ia dengar.

Scout bukannya bodoh dan tak suka membaca, tapi justru sebaliknya. Membaca sudah menjadi bagian dari hidupnya seperti halnya bernapas. Ia sendiri tak menyadari itu sampai hari pertama sekolahnya gurunya menegurnya dan memintanya untuk jangan lagi diajari ayahnya membaca. Ia heran dan bingung sebab sepengetahuannya, sedari kecil ia memang tak pernah diajari membaca oleh ayahnya ataupun oleh orang lain. Membaca kutipan pasar saham di The Mobile Register yang disuruh ibu gurunya  memang bukan sesuatu yang sulit untuk seorang Scout yang sudah terbiasa membaca RUU yang akan disahkan menjadi UU milik ayahnya, atau buku harian Lorenzo Dow atau apapun yang kebetulan dibaca dibaca ayahnya ketika ia meringkuk dalam pangkuannya setiap malam. Di hari pertama bersekolah itulah ia mencoba merenung dan menyadari dirinya belum pernah gemar membaca. Bukankah orang tak pernah gemar bernapas? demikian pikirnya. Lucunya dan ini yang suka (bahkan cinta setengah mati dengan penulisnya) adalah untuk seorang Scout yang bahkan membaca adalah seperti bernapas, masih banyak hal yang belum ia ketahui dan ia tak sungkan bertanya, selalu dengan frasa khasnya, ‘…itu apa?Apa itu pecinta nigger, apa itu wanita jalang, memerkosa itu apa, Cal? Ular permukaannya seperti apa? Anak blasteran itu apa? Bagusnya, setiap pertanyaannya tak ditanggapi dengan sikap marah, atau jengkel oleh orang-orang yang ditanyai, melainkan selalu dijawab dengan sabar dan penuh pengertian.

Satu hal yang berkesan bagi saya sebagai pembaca adalah bahwa di berbagai belahan dunia ini ada orang-orang yang memiliki keserupaan sekalipun itu adalah hal yang paling kecil dan seremeh kata, ‘…itu apa?’. Maksud saya adalah ini ada sedikit hubungannya dengan pengalaman pribadi saya (tersenyum sajalah, tak apa). Sewaktu SMP, demikian mungkin ada juga di masa-masa selain itu tapi bagi saya yang paling melekat dalam benak adalah masa SMP, karena suka bertanya ‘itu apa, seperti apa, dan bagaimana itu’ untuk hal-hal tertentu yang tak ditahui, saya sampai dikomentari seorang teman, ‘Ah kau ini, rajin baca, tapi hal-hal kecil begini saja kau tak tahu’ dengan nada yang kalau meniru cara berpikir Scout, seolah saya seorang buruan polisi atau musuh aktivis HAM karena menyelundupkan TKW ilegal ke Malaysia (agak ngawur). Kalimat kawan saya itu membuat saya merenung panjang.

Dalam gaya bertutur, Harper Lee jelas sangat cermat. Tidak secara gamblang dan tersurat ia memberitahu pembaca seperti apa dan bagaimana peristiwa sebenarnya. Ia pandai menempatkan pembaca bukan orang-orang bodoh untuk menganilisis dan menyimpulkan. Mungkin seperti itulah yang digaung-gaungkan para motivator menulis, show, don’t tell! Jelas. Hampir terdapat dalam keseluruhan cerita, namun bagian paling menonjol menurut saya (karena bagi saya bagian itulah yang paling berkesan) adalah pada adegan perdebatan sherif dan Atticus tentang kematian Bob Ewell. Tak harus dituliskan jelas bagaimana ia tertusuk pisau, tapi pembaca tentu tahu seperti apa dan bagaimana. Mengenai penyelesaiannya, pembaca pun tentu akan mengerti dan berkata, memang demikianlah seharusnya yang terjadi. Sebuah contoh kasus luar biasa yang bisa dihadapi dalam realita keseharian. Dunia ini tidak dipandang sekadar hitam dan putih dengan mata fana kita. Di bagian akhir cerita inilah mata saya berasa panas. Harper Lee berhasil. Saya mencintainya.

‘Bocah Indigo’ dari Alexandria

20160806_160424

Judul     : Christ The Lord: Out of Egypt 
                  (Kristus Tuhan : Meninggalkan Mesir)
Penulis  : Anne Rice
Penerbit : GPU, Jakarta
Ukuran   : 392 hal, 20 cm
Tahun    : 2016

Dalam terjemahan Indonesia, buku ini adalah cetakannya yang kedua setelah sebelumnya pernah terbit di tahun 2006. Cetakan pertama dan kedua ini terentang waktu 10 tahun. Berkisah tentang tahun-tahun tersembunyi Yesus semasa kecil yang tidak dituliskan dalam Injil.

Pernah ada juga novel serupa tentang tahun-tahun yang hilang dalam kehidupan Yesus sebelum ia memulai masa pelayanan namun itu versi usia dewasanya. Novel itu berjudul Yesus, ditulis oleh Deepak Chopra.

Sementara tokoh Yesus dalam buku ini berusia antara 7-8 tahun. Kisahnya dibuka dengan sekelompok kanak-kanak kota Alexandria yang sedang bermain menjelang sore hari. Tanpa sengaja ketika seorang anak bernama Eleazar berlari hendak menabrak Yesus, ada semacam kekuatan yang terlepas dari dalam diri Yesus membuat anak tersebut jatuh tak berdaya di atas tanah berpasir dan mati seketika. Hampir semua anak yang ada di tempat kejadian menuduh dan menyalahkan Yesus. Suasanya menjadi riuh seketika.

Yesus hanya diam dan terpana. Dengan pikiran kanak-kanaknya, ia mencoba menganalisis kejadian yang baru dialaminya meski seakan tiada jawaban. Oleh dorongan sepupu perempuannya, Salome Kecil, Yesus pun berlari menuju rumah Eleazar, berdoa untuknya dan memintanya kembali bangun. Pelan-pelan kemudian Eleazar bergerak bangun. Sementara Yesus sendiri tiba-tiba merasa lemah dan pusing.

Melihat Yesus di depannya, Eleazar pun turun dari tempat tidur dan langsung menubruknya. Terus menonjok, menindih, memukul, menampar, menghantamkan kepalanya ke tanah, menendangnya lagi, dan lagi sambil meneriakinya, “Anak Daud. Anak Daud.”

Insiden ini mengakibatkan perdebatan sengit antara orang tua Eleazar dan keluarga Yesus. Keluarga Galilea — demikian mereka dikenal di Mesir — ini diusir. Insiden yang bertepatan dengan kematian Herodes. Semakin membulatkan keputusan Yusuf untuk membawa pulang keluarga besarnya ke tanah Israel, tepatnya ke Nazaret.

Mereka pulang tepat di masa-masa pergolakan antara rakyat dan tentara Romawi. Kengerian demi kengerian selama di perjalanan itu tak luput dari mata Yesus. Di mana-mana ia melihat para pria bertempur dan mati. Batu dan tombak berseliweran di atas kepala dan bahu mereka. Teriakan histeris dan jeritan terdengar hampir di seluruh penjuru negeri. Mayat-mayat bergelimpangan seperti tumpukan bulu wol berdarah yang siap dicuci. Tampakan-tampakan yang membuatnya merasa sedih, takut, dan terkadang menangis seorang diri.

Berbagai potongan cerita singgah dalam hidupnya. Kedua orang tuanya Maria dan Yusuf, serta paman dan kakaknya pun tidak secara terang-terangan bercerita kepadanya tentang latar belakang kelahirannya. Mereka hanya menghadirkan potongan-potongan cerita dan berharap kelak ialah yang memberi jawaban. Adakalanya ia ingin berbicara dengan seseorang demi mengungkapkan segala gundah. Namun ia tahu bahwa jelas tak ada seorang pun di dunia ini  yang dapat ia jadikan tempat untuk mencurahkan isi hati, dan tak akan pernah ada.

Yesus tumbuh sebagai anak yang penuh rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang mendorongnya memanfatkan setiap kesempatan yang menghampirinya. Ketika setahun kemudian situasi di Yudea cukup terkendali, mereka sekeluarga pun berangkat ke Yerusalem demi ikut merayakan paskah. Seusai perayaan paskah, sementara anggota  keluarganya sibuk mendiskusikan jadwal kepulangan, dan ayah ibunya sendiri berangkat ke pasar, ia meminta izin kepada pamannya untuk kembali ke Bait Allah demi ikut mendengarkan ajaran para guru di Beranda Salomo.

Di sana dicarinya seorang rabi yang paling tua untuk bertanya tentang sejarah delapan tahun lampau. Betapa hatinya bagai teriris sembilu mendapati jawaban ratusan anak kecil dibunuh Herodes secara kejam pada masa itu hanya karena kelahiran dirinya. Sedu sedan merambati dirinya. Tubuhnya bergetar dan tak bisa berhenti menjerit. Ia terus menangis pilu. Tangisan pilu yang mengantarnya jatuh pingsan selama tiga hari. Selama itu pula ia tetap aman dalam perawatan para rabi di Bait Allah tersebut sampai kedua orang tuanya datang dan membawanya pulang.

Dalam waktu setahun itu pula, ada beberapa harapan dan doanya secara tak disadari dikabulkan Tuhan. Ketika ia benar-benar berdoa meminta kesembuhan paman Eklopas, ketika ia berdoa untuk orang buta yang di beranda Bait Allah, ketika ia berharap hujan mereda, atau ketika ia sangat berharap melihat salju dan beberapa hari kemudian Tuhan pun menurunkan salju di pagi-pagi hari.

Meski tanda-tanda yang dikisahkan dalam buku ini sebagai yang istimewa dari Yesus, mereka hanyalah tanda-tanda versi penulisnya. Sebab dalam injil, Yohanes menulis, tanda air berubah anggur pada perkawinan di Kana itulah sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itulah Ia menyatakan kemuliaan-Nya (2:11).

Bagi saya tidaklah salah dalam kisah ini Anne Rice menyelipkan keistimewaan Yesus. Sesuai pengakuannya sendiri, ini hanyalah fiksi. Fiksi yang sudah didahului dengan penelitian yang cermat dan rinci tentunya. Sebagai contoh yang dapat dibaca misalnya pada peta perjalanan Yesus sekeluarga dari Alexandria menuju kota Nazaret, atau penggunaan bahasa yang mereka pakai di saat tertentu, atau tentang kebudayaan dan latar kehidupan orang Israel kala itu sehingga bisa dikatakan ‘nyambung’ dengan kisah di Injil ketika Yesus berusia dewasa. Lihat saja di dalam Injil bagaimana Yesus di bait Allah pada masa dewasanya begitu marah terhadap transaksi jual beli di pelataran Bait Allah. Dalam buku ini diceritakan Yesus semasa kecilnya sudah menyaksikan hal transaksi jual beli antar pedagang dan bagaimana mereka mengambil untung yang tidak patut, dan semua itu disaksikan dari dekat. Tapi waktu itu karena ia hanyalah seorang anak kecil, maka sebagaimana sifat ibunya, meski ia heran dan  bertanya-tanya, serta dalam hati ia memprotes keras, tapi tetap semua itu hanya disimpannya di dalam hati.

Sungguh keren Anne Rice menguraikan kisah ini. Bahkan ketika membaca, saya pun merasa terdorong menengok dengan lebih cermat denah/peta antara Yerusalem dan Mesir. Sebelumnya tidak ada rasa ingin tahu tentang peta Israel dan Mesir meski sudah sejak kecil saya tahu bahwa pada setiap bagian akhir Alkitab LAI selalu dilengkapi dengan peta dunia sekitar Israel-Mesir.

Memang sebelumnya sudah sering saya dengar bahwa jarak antara Mesir dan Israel itu tak sejauh Indonesia-Amerika misalnya. Dan keluarga besar Yesus dalam buku ini pun hanya menempuh perjalanan dari kota Alexandria ke tanah suci Israel hanya sehari dengan kapal, kemudian empat hari hari untuk bisa pergi ke Bait Allah di Yerusalem dengan perjalanan darat, dan hanya beberapa hari lagi untuk tiba di kota Nazaret. Berbeda dengan perjalanan eksodus orang Israel di zaman Musa selama 40 tahun itu.

Di tengah-tengah saya membaca, datang kawan saya yang mengatakan kalau ia telah menonton filmnya. Memang pada buku ini juga disertakan catatan kecil, telah difilmkan dengan judulThe Young Messiah”. Saya jadi makin terpacu untuk cepat menyelesaikan buku ini. Sebagai reward untuk diri sendiri, selesai membaca saya pun menonton filmnya.

Demikian halnya untuk setiap cerita yang dipublikasikan dalam bentuk buku juga film. Maka jelas apapun opini orang, saya tetap berpendirian bahwa kisah tersebut lebih enak dinikmati dalam buku dibanding film. Di film saya hanya perlu untuk sekadar mendapat gambaran tentang bentuk atau model orang-orang atau latar dan segala bentuk visual lainnya.

Untuk kisah ini, esensi ceritanya jauh berbeda antara buku dan film. Bila dalam bukunya, Yesus Kecil tak begitu lagi ‘diindahkan’ oleh orang-orang kerajaan atau para tentara Romawi karena cerita tentang masa kelahirannya sudah lama dilupakan orang, maka di dalam film, malah cerita tentang pencarian dan pengejaran tentang Yesus Kecil justru menjadi konflik utama cerita. Bila kisah Yesus Kecil di dalam buku ini lebih menonjolkan sisi kemanusiaan Yesus sebagai seorang anak kecil yang polos, sering merasa takut dan gugup, sering merasa heran dan suka bertanya-tanya tentang apa saja, dan tidak jarang juga menangis sebagai ekspresi rasa takut dalam kesendiriannya, maka di film, Yesus lebih ditonjolkan sebagai anak yang berani dan siap menaklukan segala rintangan.

Selain itu, hanya di dalam bukulah ada gambaran yang jelas bahwa keluarga Yesus adalah keluarga pekerja yang rajin. Para pria yang bekerja sesungguh hati sehingga tak pernah sepi pesanan orang-orang ternama –itu juga salah satu faktor yang membuat iri keluarga-keluarga lain di kota Alexandria, serta para perempuan yang pandai dan kreatif dalam menenun dan bisa menginspirasi perempuan lain di Nazaret ketika mereka pulang. Yesus Kecil bersama sepupu-sepupunya yang lain walau masih tergolong anak-anak, mereka tetap ikut membantu entah mengangkat batu atau kayu, atau juga ikut mengecat pola-pola yang sudah digambar. Sementara Salome Kecil, ia dengan tekun dan telaten ikut membantu ibunya dan bibi-bibinya dalam mengurusi bayi-bayi yang rewel. “Ia seorang gadis kecil yang sibuk sekarang,” komentar Yesus mengenainya ketika di Nazaret, komunikasi antara keduanya sudah tak seintens sebagaimana waktu di Alexandria.

Selanjutnya mengenai Salome Kecil, satu hal yang berenang-renang di kepala saya selama membaca buku ini adalah kalau saja saya boleh berandai, maka saya ingin berandai menjadi Salome Kecil, sepupu perempuan Yesus dalam cerita ini. Betapa indahnya bermain atau berinteksi langsung dengan Yesus Kecil. Sama-sama merasa heran atau takut kemudian menangis yang tiada hentinya.:)

Atau kalau bukan Salome Kecil, maka bolehlah Yakobus, atau salah satu di antara sepupunya pun tak apalah.

Perlu diingat bahwa Yakobus sebagai kakak tiri dan para sepupu hanyalah tokoh rekaan versi penulis demi membuat cerita ini jadi lebih hidup. Mereka jelas tak ada dalam Injil. Walau memang hanya ada nama Yakobus, tapi dalam buku ini ia justru diperkenalkan sebagai anak dari istri pertama Yusuf yang meninggal sebelum bertunangan dengan Maria.

Demikian tokoh-tokoh rekaan tersebut dihadirkan demi mempertegas bahwa buku ini bukan kitab baru atau injil baru seperti yang sudah ditekankan sang penulisnya. Namun rasa-rasanya saya ingin menjadikan buku ini sebagai kitab tersendiri. :D. Tapi jelas tidak mungkin. Maka, baiklah buku ini harus masuk dalam daftar  buku favorit saya. Musti. Kenapa?

Ada dua alasan. Pertama, buku ini tokoh utamanya Yesus. Yesus yang saya yakini betul-betul sebagai jalan, kebenaran, dan hidup. Kedua, buku ini berkisah tentang masa kanak-kanak Yesus walau hanya setahun kisahnya yang diangkat dalam cerita.

Saya menyukai sekali cerita kanak-kanak yang bukan kanak-kanak. (?) 🙂 Maksudnya? (?)

Ok, maksudnya cerita dengan tokoh kanak-kanak tapi jalan pikirannya melampaui ia yang adalah seorang kanak-kanak. Kata lainnya kalau merujuk kepada pemahaman umum psikologi, orang menyebut anak-anak jenius atau anak yang unik dan istimewa sebagai anak-anak indigo.

Mungkin kebanyakan orang mengira anak indigo adalah semacam memiliki indra keenam, bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain secara kasat mata, atau mereka yang bisa mengetahui tentang masa lampau tanpa mereka sendiri terlibat di sana.

Indigo tidak sebatas itu. Kata ‘indigo’ dalam artinya yang harafiah adalah nila atau ungu. Anak-anak yang beraura ungu itulah yang diindetikkan dengan anak indigo. Istilah ‘indigo’ inipun hanya fenomena yang baru trend di tahun 1990-an. Secara pasti pun ia belum dikaji dengan ilmiah.

Hanya pernah dalam satu buku yang saya baca sewaktu kuliah – saya lupa judulnya, buku itu ada di perpustakaan kampus – seorang anak indigo diartikan sebagai anak kecil yang berjiwa dewasa. Meski mereka bisa bermain dan bersikap sebagaimana anak-anak kecil lainnya, tapi dalam diri mereka ada satu keunikan luar biasa yang bisa membuat mereka dapat berpikir atau berbicara atau bersikap sebagaimana orang dewasa berusia puluhan tahun. Mereka umumnya anak-anak yang terlahir jenius. Ada yang bisa berbicara beberapa bahasa sekaligus tanpa pernah diajarkan, ada yang pandai menganalisis masalah kehidupan dan bisa memberikan solusi dengan bijak, ada pula yang pandai berbicara entah berpidato atau bekhotbah di depan ribuan massa, ada yang memiliki cara berpikir melampuai usianya yang masih bocah, dan segala kejeniusan lainnya (contoh-contoh ini di luar mereka yang kecil-kecil pandai melihat masa lalu – tanpa tahu-menahu akan masa depan – dan mengeruk keuntungan pribadi darinya). Menilik pemahaman tersebut, maka bolehlah saya bilang tokoh Yesus di buku ini tergolong sebagai ‘bocah indigo’.

Mengakhiri catatan singkat ini, berikut saya kutipkan perenungan Yesus di halaman terakhir ketika ia baru perlahan-lahan mendapat benang merah dari segala peristiwa yang selama ini menjadi bahan pertanyaannya.

“Aku berdiri dan keluar. Senja mulai turun. Aku menyusuri jalanan menuju perbukitan, dan mendaki ke tempat yang rumputnya terasa lembut dan tak terganggu. Ini tempat favoritku, tak jauh dari pepohonan yang sering kudatangi untuk beristirahat.

Aku memandang beberapa bintang yang mulai muncul dalam keremangan senja.

Lahir untuk mati, pikirku. Ya, lahir untuk mati. Untuk apa lagi aku terlahir dari seorang wanita? Untuk apa aku diciptakan dalam bentuk daging dan darah kalau aku tidak ditakdirkan untuk mati? Rasa sakit yang kurasakan sangatlah menyakitkan, sehingga aku hampir tak tahan. Aku akan pulang sambil menangis kalau aku tidak segera berhenti memikirkannya. Tapi tidak, itu tak boleh terjadi. Tidak, jangan lagi.

Kapan lagi para malaikat akan datang padaku dengan cahaya sangat menyilaukan sehingga aku tidak takut lagi? Kapankah malaikat akan memenuhi langit dengan nyanyiannya sehingga aku bisa melihat mereka? Kapankah malaikat akan datang dalam mimpiku?

Keheningan meliputiku, tepat saat kurasa jantungku akan meledak.

Jawaban itu datang sekaan-akan muncul dari bumi, seakan-akan dari bintang, rumput yang lembut, pepohonan, dan malam yang kian menjelang.

Aku tidak dikirim ke sini untuk menemukan malaikat. Aku tidak dikirim ke sini untuk memimpikan mereka. Aku tidak dikirim ke sini untuk mendengar mereka bernyanyi. Aku dikirim ke sini untuk hidup. Bernapas, berekeringat, haus, dan kadang menangis.

Semua hal yang terjadi padaku, semua hal besar maupun kecil, adalah sesuatu yang harus kupelajari. Ada ruangan untuk itu di dalam kehendak Tuhan yang tak terbatas, dan aku harus mencari pelajaran di dalamnya, tak peduli betapa sulitnya.

Aku hampir tertawa.

Semua ini sangat sederhana, sangat indah.

….

Sepertinya seluruh dunia memelukku. Mengapa aku pernah berpikiran bahwa aku sendirian? 

Aku ada dalam pelukan bumi, pelukan bintang-bintang, pelukan mereka yang mencintaiku, tak peduli apa yang mereka pikirkan atau pahami.

“Bapa,” kataku. “Aku anak-Mu.”

(Yesus bin Yusuf, 7-8 tahun “Kristus Tuhan: Meninggalkan Mesir, hal. 361-363)

Membaca “Elang” Wilson Nadeak

20170303_181444Cuaca Kupang hari ini menyenangkan. Sedikit mendung sehingga tidak begitu panas. Mungkin karena subuh tadi turun hujan. Saya baru saja menyelesaikan kumpulan cerpen Nilson Nadeak berjudul “Elang”. Buku ini sudah terbit lama sekali, tahun 1997, oleh Lembaga Literatur Baptis. Seminggu lalu saya menemukannya di Kalam Hidup, satu toko buku rohani di Kupang.

Walau cerpen-cerpen ini ditulis pada masa yang ‘lampau’, bahasa yang terbaca seolah ditulis masa kini. Sudah matang sekali penggarapan ceritanya malahan. Dari 10 cerpen dengan 157 halaman di dalamnya, idenya cukup beragam.

Cerpen yang dibuka dengan perburuan elang cukup menggelitik sekaligus menggambarkan keadaan desanya yang memperihatinkan. Dua pemuda yang niat awalnya mau menjerat ayam hutan. Hasil jeratan yang sudah ada di depan mata justru diterkam elang. Mulailah perburuan elang yang terbang mengangkasa itu hanya dengan berbekal ketapel dan batu-batu kali. Di tengah perburuan,  terbacalah keadaan kampungnya dulu dilanda kemarau bekepanjangan, wabah, dan malapetaka silih berganti sampai para penduduk satu per satu harus mati di rumah sendiri tanpa dikuburkan.  Berikutnya dua cerita terkait masalah penulisan – redakur surat kabar dan ghostwriter, satu cerita terkait pekerjaan, tiga cerpen terkait masalah pernikahan, satu cerita bernuansa gelap dan mistis, satu cerita lagi berlatar New York, serta satu cerita masalah rumah tangga berjudul “Kereta Api”.

Cerpen terakhir ini bagi saya juga sungguh berkesan. Kesan saya bukan pada tokoh utama, melainkan pada  seorang perempuan malam yang ada di stasiun kereta api. Ketulusannya membantu tokoh istri yang ingin minggat dari rumah sungguh menggugah. Sekalipun tokoh istri ingin tetap dan duduk menanti datangnya kereta api subuh, sang perempuan malam tetap mendesak agar ia segera meninggalkan tempat itu mengingat saat-saat sebelum subuh selalu rawan karena banyak laki-laki hidung belang yang berkeliaran di sekitar stasiun. Atas desakan dan cerita-cerita mengerikan dari perempuan malam itulah, tokoh istri mau dibawa ke gubuk kumuh sang perempuan malam. Di gubuk itulah ia aman beristirahat sampai terdengar bunyi peluit kereta api subuh.

Catatan Pendek “Art of Novel” Milan Kundera

Saat manusia berpikir, Tuhan tertawa. Pepatah lama Yahudi yang disitir Milan Kundera dalam pidatonya ketika menerima Jerusalem Prize ini dikutip kembali Anton Kurnia dalam bagian pengantar kumpulan esai MK yang diberi judul Art of Novel.
Buku ini terbit di Indonesia sudah lama, tahun 2002. Dasarnya saya saja yang kudet.11118107_376424579209316_991198498_n

Awal mula ketika melihat buku ini di meja anak murid saya sewaktu sesi SSR di kelas, saya pikir ini buku sejenis tips menulis. Sebelumnya yang pernah ada di kepala saya tentang MK adalah segala sesuatu yang identik dengan tawa, lelucon, humor, atau sejenisnya. Maka itu saya pikir, Art of Novel pun adalah seni novel atau tips menulis novel yang berkaitan dengan tawa, lelucon, dan humor. Nyatanya tidak. Tapi ini justru kumpulan esai MK tentang persepsinya melihat kembali sejarah novel Eropa.

Saya sempat heran kenapa anak murid saya yang baru kelas 7 bisa membaca buku semacam ini. Tapi kemudian ia bilang ini buku pamannya yang adalah seorang pendeta. Tentang sang paman, kami pernah bertemu sewaktu SLC dan sewaktu ia ada keperluan di sekolah. Bersyukur ia seorang yang pengertian, dan tidak marah karena saya meminjam buku ini cukup lama. Sebenarnya awal-awal begitu melihat isinya, langsung mau saya kembalikan, tapi karena judulnya yang memikat inilah membuat saya untuk menyimpannya saja dulu sebelum benar-benar menyediakan waktu buat membacanya.

Buku ini dibagi dalam 7 bagian. Saya akan menulis sedikit tentangnya sekadar mengingatkan saya karena yang saya tahu tentang saya adalah saya tidak punya ingatan yang cukup kuat akan buku-buku yang dibaca (btw, jangan terlalu kayak begitu juga sih). Apalagi buku ini yang tergolong ‘berat’ bagi saya, sebab untuk mengerti isinya kau mestinya juga sudah akrab dengan buku-buku atau nama-nama orang yang disebut-sebut di sini. Itulah kenapa dalam tulisan ini saya menautkan link-link terkait. Biar supaya lebih mudah terhubung apabila kening berkerut sewaktu membaca. 🙂

Bagian pertama, Warisan Carventes yang Tak Dihargai

Carventes ini bernama lengkap Miguel de Cervantes Saavedra, seorang pengarang berkebangsaan Spanyol. Melalui esai ini, MK mulai memberikan pandangannya terhadap sejarah novel Eropa.

Dibuka dengan kilas balik pandangan Husserl mengenai keutamaan filsafat sebagai ilmu yang pertama kalinya dalam sejarah mempertanyaakan dunia bukan hanya untuk kepuasan atau kebutuhan praktis, melainkan karena gairah untuk mengetahui apa yang telah menyebabkan umat manusia tercekam—maaf bila pertanyaan klasik ini diulang lagi.

Menurut MK, penemu dunia modern tak hanya seperti Galileo dan Descartes, tapi juga Cervantes. Sayangnya, Cervantes dilupakan oleh dua fenomenolog itu, Husserl dan Heidegger, untuk dipertimbangkan dalam kesimpulan mereka mengenai dunia modern. Lewat Carvanteslah seni agung Eropa mengambil peran dalam investigasi eksistensi.

Ia juga prihatin atas kematian novel-–kata ‘novel’ di sini diperlakukan seolah-olah ia manusia. Kematiannya merupakan kesedihan tersendiri bagi MK. Bukan saja kesedihan, tetapi seperti ketakutan sehingga ia berpikir bahwa masa depan adalah hakim yang adil bagi karya dan perilaku manusia. Namun kemudian ia berefleksi, jika masa depan bukan suatu nilai baginya, lalu untuk apa ia bekerja yang kemudian dengan tulus diakuinya bahwa ia edan dengan jawaban ia bekerja bukan untuk apa-apa, melainkan buat warisan turunan Carventas. Wow

Bagain dua, Dialog tentang Seni Novel

Mengenai seni novel, menurutnya, setiap novel di setiap masa berpusat pada teka-teki diri. Sewaktu menjawab pertanyaan Christian Salmon tentang maksud ‘perangkap’ dalam novelnya, Unbearable Lightness of Being, MK mengatakan, hidup adalah perangkap. Kita lahir tanpa ditanyai, terkunci di dalam tubuh yang tak pernah kita pilih, dan ditakdirkan untuk mati.

Memikirkan keyakinan MK tentang hidup itu, saya teringat John Piper dalam kumpulan 33 renungannya, ia membuat judul bukunya sebagai, Life is a Vapor, hidup adalah uap. Sementara saya entah dari sumber mana, saya meyakini bahwa hidup itu persinggahan. Itulah kenapa sewaktu memikirkan judul untuk kemunculan seorang bocah indigo, saya menaruh judul persinggahan:). Entah mungkin lain lagi kata orang tentang hidup. Mungkin ada yang bilang ziarah, perjalanan, piknik, tamasya, liburan, kekosongan, kehampaan, permainan, lelucon, sandiwara, pertandingan, perlombaan, perjuangan, pengutusan, atau beribu kata lainnya.

Selanjutnya, di bagian kedua yang banyak juga disinggung tentang dunia Kafka (bukan judul novel Haruki Murakami, Kafka on the Shore), menurut MK, sebuah novel bukan mempelajari realitas melainkan eksistensi. Dan eksistensi bukan apa yang terjadi, eksistensi adalah dunia kemungkinan-kemungkinan manusia, manusia bisa menjadi apa saja selama ia mampu melakukan apapun yang ia inginkan. Berbicara mengenai kemungkinan yang lebih baik dari realitas, MK berpendapat jika penulis memperhatikan situasi historis sebuah kemungkinan yang segar dan membuka pikiran umat manusia, dia akan menggambarkan hal tersebut apa adanya. Kesetiaan terhadap realitas sejarah adalah hal penting kedua sebagaimana penghargaan atas nilai novel. Seorang novelis bukanlah seorang ahli sejarah dan juga bukan nabi: dia adalah orang yang mengeksplorasi eksistensi.

Bagian tiga, Catatan-catatan yang Terinspirasi oleh ‘The Sleepwalkers’

The Sleepwalkers adalah novel trilogi karya Hermann Broch yang terdiri dari Pasenow (Romantisme) berlatar 1888, Esch (Anarki) 1903, Huguenau (Realisme) 1918. Berikut disajikan kemungkinan-kemungkinan manusia dalam menghadapi proses di dunia dalam hal ini diwakili dalam trilogi The Sleepwalkers.

Kemungkinan Pasenow, tentang perasaan sentimental berkaitan dengan saudara laki-lakinya yang meninggal dalam duel sampai kepada ketika di malam pernikahannya didapatinya istrinya tak mencintainya. Berikut kemungkinan Esch, nilai-nilai warisan dari masa ketika gereja mendominasi seluruh segi kehidupan manusia telah mulai goyah dan perlahan menghilang. Namun bagi Pasenow (apa benar Pasenow atau Esch yang ia maksud), nilai-nilai tersebut masih jelas. Ia tahu kewarganeraannya, kepada siapa ia harus percaya, dan siapa Tuhannya. Bagi Esch, nilai-nilai itu topeng. [Saya suka kata topeng. Waktu kuliah dulu, saya pernah buat puisi –kalau mau dibilang puisi– tentang topeng. Saya taruh tulisan itu di blog. Beberapa bulan kemudian di perpustakaan kampus, The Johannes Oentoro Library UPH Karawaci, saya menemukan satu buku tebal seperti Alkitab model lama-kalau sekarang ya mirip KBBI. Itu buku literatur full bahasa Inggris yang judulnya saya lupa–akan saya coba mengingat-ingat kembali:). Di dalam buku itu ada puisi tentang topeng juga, judulnya We Wear The Mask oleh Paul Laurence Dunbar. Waktu itu saya senang sekali. Ternyata bukan saya seorang yang terkaing-kaing tentang topeng..:p] Ia menghargai apa yang disebut peraturan, loyalitas, dan pengorbanan, namun apa yang sebenarnya diwakili oleh kata-kata itu? Pengorbanan untuk apa? Tuntutan macam apakah peraturan itu? Esch sama sekali tidak tahu. Jika nilai telah kehilangan isi konkretnya, apa lagi yang tersisa? Yang tinggal hanya suatu bentuk kosong, suatu perintah yang tak lagi diindahkan.

Sedikit mengenai Esch, ia bukan orang yang disenangi di tempat kerjanya. Ia berselisih dengan rekan kerjanya sehingga dipecat. Menurut Esch, penyebab kekacauan hidupnya adalah Nentwig, seorang penjaga toko buku. Nentwig diadukan ke polisi sebagai bentuk pengabdiannya kepada hukum dan peraturan. Tapi yang terjadi kemudian Nentwig malah mengajak minum Esch dan keduanya berbaikan. Dia akhir cerita Bertrand, seorang homoseksual dan pembangkang perintah-perintahTuhan justru yang Esch laporkan ke polisi dengan alasan untuk menyelamatkan dunia.

Kemungkinan Huguenau, Esch dan Bertrand saling mengadu ke polisi. Esch melakukan tindak tersebut untuk menyelamatkan dunia, sementara Bertrand melakukannya untuk menyelamatkan karirnya. Huguenau, seorang arriviste yang tidak mengenal dosa—awih, siapa memang manusia yang tak mengenal dosa—merasa senang dan dikatakan kalau ialah yang membunuh Esch tanpa dibebani rasa bersalah sedikitpun.

Tanpa melupakan Broch, ada juga Doctor Faustus karya Thomas Mann. Novel yang mampu mewakili dan menghadirkan sejarah kehidupan musik Jerman selama beberapa abad, sekaligus melalui karakter tokoh, sang dokter magis yang mengadakan perjanjian dengan setan ini, penulis ingin menceritakan kekejaman negaranya, Jerman.

Selanjutnya masih dalam bagian ini dibahas mengenai di balik kausalitas, kebingungan-kebingungan karena sistem dan persepsi yang dicampuradukan, serta belantara simbol-simbol. (Sengaja saya taruh di sini untuk mengingatkan saja, terutama tentang sistem dan persepsi yang dicampuradukan. Saya masih bisa membayangkannya, hanya untuk membahasakannya yang agak susah)

Bagian empat, Dialog tentang Seni Komposisi

Berisi diskusi CS dan MK mengenai beberapa segi artistik novel The Book of Laughter and Forgetting, masalah-masalah kerajinan novel, terutama arsitekturnya. Di bab ini saya tercengang sebab perhitungan matematika Milan Kundera, kemudian berlanjut kepada halaman berikut tentang musik. Ia betul-betul tahu seluk beluk musik dan penjelasan proses kreatifnya berhubungan dengan persoalan tempo dalam musik. Harusnya tidak mengherankan, sebab sebelum tertarik kepada sastra, MK sudah menekuni musik hingga usianya yang ke-25. Pantaslah pengetahuannya tentang musik begitu detail. Btw, ada juga saya kenal orang Indonesia yang seperti beliau, keahliannya dalam musik, arsitek, bahasa, dll juga tak kalah keren dan memukau. Cari tahu saja, siapa Bapak Stephen Tong –pernah sekali di sela-sela mempersiapkan skripsi saat kulah saya menulis tentang beliau 😉 🙂

Ditanya mengenai novel-novel karyanya, MK mengaku kalau dalam hal tertentu, The Farewell Party adalah novel yang paling ia sayangi. Ia merasa lebih gembira dan lebih menikmati ketika menulis novel ini. Btw (btw lagi ;)), saat membaca buku ini, bertepatan juga di sekolah adalah masa-masa kami mengadakan farewell party baik dengan anak-anak murid yang sebentar lagi lulus, yang naik kelas, ataupun dengan guru-guru yang ingin menggarap di lain ladang.

Bagian lima, Tempat Tersembunyi

Dibuka dengan kutipan puisi Jan Skácel,

Penyair tak menciptakan puisi
Puisi ada di balik dunia
Ia ada di sana selama-lamanya
Penyair hanyalah menemukannya

Bagian ini lebih banyak membahas tentang karya Kafka yang secara keseluruhan adalah penglihatan tentang apa yang ada di tempat tersembunyi sebagaimana puisi yang kekal abadi dan sunyi tersimpan dalam kegelapan sehingga untuk menemukannya penyair harus ‘menembus dinding di balik sesuatu’.

Puisi sekaligus kesimpulan di atas membawa saya kepada sebuah renungan tentang imajinasi dari John Piper dalam bukunya Life is a Vapor (hal 55). Walau di sini terlihat yang lebih disoroti MK adalah penyair dengan puisinya, namun sebenarnya tak hanya mereka, tapi juga pelukis, pemahat, para ilmuwan, serta para pekerja kreatif lainnya. Mereka tidaklah menciptakan sesuatu yang baru ataupun semakin memperindah keindahan yang sudah ada dalam kekekalan abadi. Mereka hanya menjadikan keindahan itu lebih terlihat. Keistimewaan mereka adalah mereka mampu menembus kabut kusam dari persepsi kita yang fana, tidak sempurna, dan dicemari dosa, dan menolong kita melihat keindahan Allah sebagaimana adanya.

MK kemudian menanggapi para komentator Kafka yang menerangkan bahwa novel-novel Kafka sebagai parabel religius, ataupun yang menurut pandangan orang-orang bahwa karya-karya Kafka adalah gagasan sosiologis atau politis yang mengkritik kapitalisme. Menurut MK, Kafka tidak menulis alegori-alegori religius, tetapi fenomena kafkian tersebut memang tak bisa terpisahkan dari dimensi teologisnya atau lebih tepatnya pseudoteologis. Sementara mengenai ideologi, karya Kafka justru menyajikan satu kenyataan fundamental manusia dan dunianya. Mungkin inilah yang dinamakan disajikan sebagaimana adanya.

Dari cuplikan-cuplikan kisah di bagian lima ini, terkesan kalau MK ingin menunjukan bahwa ada semacam lelucon di balik kisah-kisah yang hampir mirip dengan (kalau dengan kacamata saya) cerita-cerita bocah yang polos, menyedihkan, memprihatinkan, penuh ironi, membuat gemas, geram, dan bisa geleng-geleng kepala sambil bergumam, “Kok bisa, ya?” Contoh kisah itu seperti sang insinyur dari Praha, atau pengukur tanah K, atau penyair A, atau juga kisah seorang ibu bersama anaknya.

Jadi, seserius apapun kita mau memaknai hidup, mau banting tulang, peras keringat, kuras tenaga, terengah-engah mendaki gunung, tertatih-tatih merangkak, berasa putus ada dan mau depresi karena problem hidup tak kunjung selesai seperti labirin tak berujung, ada baiknya kita perlu berhenti sebentar. Berkacalah dan tertawalah. Tertawakan dirimu. Dirimu sendiri, bukan orang lain –biarkanlah orang lain menertawai dirinya sendiri. Tertawalah dan ingat, segala sesuatu adalah sia-sia, seperti kata Pengkhotbah. :p 😀 😀

Bagian enam, Enam Puluh Tiga

Bermula dari kekecewaan MK atas hasil terjemahan buku-bukunya terutama The Joke ke dalam bahasa dunia barat, oleh ajakan seorang kawannya, MK menulis kamusnya sendiri yang berjumlah 63 kata. Kamus untuk novel-novelnya. Kumpulan kata-kata kunci, kata-kata bermasalah, kata-kata yang ia cintai, dan jadilah kamus mini tersebut. Dimulai dari kata ada (being) dan berakhir dengan yang tiada (non being).

Bagian ketujuh, Pidato Jerusalem: Novel dan Eropa

Di sinilah terdapat kutipan pepatah lama Yahudi yang keren itu, Saat manusia berpikir, Tuhan tertawa. Pada bagian terakhir inilah adalah isi pidato MK saat dianugerahi Jerusalem Prize tahun 1985.

Di bagian ini, saya ingin mengulang apa yang dituliskan Anton Kurnia dalam pengantarnya tentang tiga iblis versi MK. Iblis pertama adalah agelaste, mereka yang tak bisa tertawa. Kaum ini mengancam seni novel karena tak mampu menerima kebenaran terbuka. Mereka menolak kebenaran sebagai pencarian dan mengharamkan pertanyaan. Iblis kedua adalah mereka yang menerima ide-ide tanpa berpikir. Ini semacam virus yang meracuni kebutuhan manusia akan pembebasan, berolah nalar, bertanya, dan berimajinasi. Sementara yang ketiga, kitsch alias minor art, yang menyalin kebodohan menerima ide tanpa berpikir ke dalam bahasa keindahan dan perasaan. Kitsch mendiktekan gaya hidup yang musti diikuti setiap orang agar menjadi normal dan tak ketinggalan zaman. Setiap orang musti ngepop dan gaul agar tidak aneh.

Nah, coba renungkan tiga jenis iblis ini. Jangan dulu celingukkan mencari dan menuduh orang lain. Coba lihat pertama-tama ke dalam dirimu. Jangan-jangan kau penganut salah satu di antara ketiganya…:)

Demikian ringkasan saya atas buku Art of Novel. Sejujurnya saya menyadari, catatan ini belum sepenuhnya mewakili isi buku tersebut. Semoga seiring berjalannya waktu, wawasan saya makin bertambah sehingga bisa saya perbaiki bolong-bolong dalam catatan pendek ini… 🙂

Oh, ya, sebelum menutup. Ada yang mau saya tambahkan. Ini di luar isi buku. Selama membaca, saya cukup terganggu dengan penempatan kata ‘di’ pada teks-teks buku ini. Terdapat banyak sekali ketidaksesuaian. Padahal penerbit dan pencetaknya adalah Jalasutra. Itu saja. Sekian dan terima kasih. 🙂