Berita Petang

Di akhir sesi Emerging Writers 2017, seorang peserta diskusi mengangkat tangan dan berkata kalau ia tertarik dengan salah satu cerpen saya yang diulas Bapak Budi Darma berjudul Berita Petang. 🙂 Ia bilang, kalau bisa didapatkan di mana, ia ingin membacanya. Kami sempat berkenalan sesudahnya. Kepadanya saya bilang, “Kebetulan cerpen itu baru saja dimuat di Rubrik Budaya Harian Fajar Makassar Edisi 14 Mei 2017 barusan. Kalau ada korannya, mungkin saya bisa kasih. Tapi kalau tidak pun, saya janji akan mempostingnya di blog biar bisa dibaca.” Nah, sekarang, saya memenuhi janji saya. Btw, nama kakaknya, sayang 😦 dan maaf, ingatan saya tak begitu bagus.  

Selamat membaca... ♥♥♥

***

4e347-20170514_222513

Sumber foto:mgp

Berita petang di televisi mengabarkan seorang buruh TKI mati terlindas truk pengangkut kelapa sawit. Suara perempuan pembawa berita itu pun menyebut nama korban. Terdengar tak asing, kupelototi lagi layar televisi. Terpampang jelas foto adikku di sana. Terkesiap, aku hanya menganga. Cepat kuambil ponsel yang sejak siang tadi tak kutengok. Puluhan pesan dan panggilan telepon masuk tak terbaca. Panik seketika menyergap, aku terduduk di lantai.

Adikku, satu-satunya adik laki-laki di rumah. Dulunya dia anak pintar. Pernah sewaktu SD, dua sampai tiga tahun berturut-turut kami meraih peringkat pertama di kelas masing-masing. Kuingat betul suatu kali seusai penerimaan rapor, di kantin sekolah, para orang tua ramai membicarakan kami berdua. Lalu ada komentar kakak kelas, seorang anak laki-laki bertubuh jangkung berkulit kuning langsat yang wajahnya serupa pemeran tokoh Jack dalam film Titanic, yang di kemudian hari waktu SMA tak henti-henti mengejar ingin aku menjadi pacarnya, berkomentar, “Wih, keren, ya. Kakak beradik sama-sama mendapat rangking satu.”

Walau komentarnya tak dihiraukan, dalam hatiku menguar rasa bangga tak terkira. Tahu saja, bapak dan ibu kami dulunya tak sempat tamat SD. Tapi dua anaknya justru dikerahkan betul-betul untuk berprestasi. Pelajaran dasar membaca dan berhitung bahkan sudah kami kuasai sebelum masuk TK. Ibu mengenalkan huruf, bapak mengenalkan angka. Paduan sempurna.

Sayang, semakin beranjak besar dan punya banyak kawan, adikku semakin lebih banyak bermain daripada belajar. Berbekal ketapel, siang hari mereka berburu burung, malam hari beralih ke kelelawar. Nilainya pun merosot.

Orang-orang mulai membandingkannya denganku yang suka belajar dan membaca. Mereka kerap menjulukinya seorang pemalas dan bodoh. Menertawakannya ketika pagi-pagi ia beriringan denganku berangkat ke sekolah. “Masih ke sekolah? Untuk apa kalau tak dapat nilai bagus seperti kakakmu?”

Lambat laun, mendekati kelas besar SD, ia pun benar-benar malas belajar. Nyaris tak pernah mau lagi menyentuh buku di rumah. Ia terpaksa saja pergi ke sekolah. Baginya ke sekolah hanyalah untuk bertemu kawan-kawan. Sekolah adalah tempatnya bermain. Ruangan kelas adalah siksa neraka.

Pernah suatu kali di rumah tetangga, sementara mereka beristirahat seusai bermain sepak bola, ada seorang berkelakar, “Kau mesti rajin belajar seperti kakakmu. Biar jadi orang pintar.”

Ia lantas mengangkat bahu dan membalas, “Memangnya kalau pintar juga buat apa?” yang sontak membuat orang terpingkal-pingkal.

Cerita tentang kejadian itu terbawa sampai ke rumah dan langsung pula disambut tawa membahana.

Sekejap saja sudah tersiar ke seantero kampung. Di mana ia berpapasan dengan orang, selalu ungkapan itulah yang dilontarkan padanya. “Eh, Emon, buat apa pintar, ya?” atau “Halo, Mon, pintar juga memangnya buat apa?” atau “Orang itu mesti kayak Emon. Kalau pintar tak ada gunanya, ya, lebih baik tak usah belajar. Bukankah begitu, Mon?” Mereka tertawa dan berlalu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Bila sudah keterlaluan, maka hanya ibulah pembelanya. Adikku sendiri tak suka ambil pusing apa kata orang. Ia hanya menganggapnya sebagai angin lalu.

Sementara aku, mau saja terseret dengan laku orang-orang. Ikut mengolok ketika mereka mengolok. Ikut tertawa kala mereka tertawa. Sampai suatu peristiwa seperti telak menghantamku. Membuatku menanggung penyesalan teramat dalam. Bahkan diam-diam menangis sedih sepanjang malam sampai tenggorokanku sakit tak tertahankan.

Hari itu pengumuman kelulusan SMP. Setelah setiap hari selama tiga tahun bersama kawan-kawan seangkatannya menempuh antara empat atau lima kilometer berjalan kaki, pada hari istimewa itu ia justru dinyatakan tidak lulus. Ketika kawan-kawannya yang lain berjingkrak gembira karena lulus, ia justru mendekam hampir sepanjang hari dalam bilik kandang ayam di belakang rumah kalau saja ibu tak membujuknya keluar.

Tak ada ujian susulan untuk peserta UN yang tidak lulus tahun itu. Demi memperoleh ijazah murni, maka mengulang lagi ia tahun berikutnya. Jadilah empat tahun ia belajar di SMP. Empat tahun berjalan kaki bolak-balik setiap pagi dan siang antara rumah dan sekolah.

Memasuki masa SMA, kabar dan perkembangannya tak lagi intens kuikuti. Aku mendapat beasiswa, mesti melanjutkan sekolah di Jakarta. Sesekali saja kami bicara via telepon. Itupun hanya berlangsung beberapa menit dan berupa basa-basi tak penting. Ialah yang tak mau bicara lama-lama denganku. Sering dalam pembicaraan, begitu terdengar aku mulai ingin bercerita tentang kegiatan di kampus atau di organisasi yang kuikuti, ia pasti buru-buru bilang akan pergi, atau mau melakukan sesuatu. Begitu juga bila ada hal mengenainya yang ingin kutanyai.

Di kelas akhir SMA, aku mencoba bertanya padanya mau buat apa setelah tamat. Pikirku, barangkali aku dapat membantunya. Ia bilang akan berhenti sekolah.

“Tak mau lanjut kuliah?”

“Sudah cukup di SMA.”

Aku terus mendesak. Sayang menurutku kalau hanya di bangku SMA. Kalaupun tidak lanjut, setidaknya ia harus melakukan sesuatu. Kutanyai lagi.

“Tidak buat apa-apa. Hanya mau rehat otak dulu,” jawabnya enteng.

Jawabannya membuatku heran, apa yang mau ia rehatkan. Toh, selama ini juga ia lebih banyak bermain-main.

“Baiklah. Rehat otak. Setelah itu, mau kan lanjut sekolah?” kubujuk ia penuh harap. “Setahun lagi aku lulus. Masalah biaya sudah lebih ringan.”

Ia mendengus.

“Tak mau lagi saya berhubungan dengan yang namanya baca tulis,” kilahnya.

Beralih aku menghubungi bapak, mengecek jangan-jangan merekalah yang menghalangi ia melanjutkan sekolah. Pertanyaanku dengan tegas dibantah.

“Siapa yang menghalangi. Lagipula tak ada cukup uang untuk ia bersekolah. Sudah bertahun-tahun curah hujan di sini tak menentu. Hampir semua mata air sudah mulai mengering. Mau cari makan saja susah.” Bapak berdiam sebentar sebelum melanjutkan. “Atau, apakah menurutmu orang sedungu dia bisa dipercaya pihak-pihak pemberi beasiswa?”

Kalimat bapak tak sanggup kusahuti. Kata-kataku tersekat di kerongkongan. Itu pertanyaan paling menyesakkan telinga yang pernah kudengar dari mulut bapak.

Waktu bergulir begitu cepat.

“Mereka sudah berangkat,” kata bapak ketika aku menanyakan kabar adikku beberapa bulan kemudian.

“Berangkat?” shock, aku tak mengerti maksud bapak. “Ke mana?”

“Malaysia,” bapak menjawab datar. “Dengan beberapa kawannya yang lain.”

Nyaris histeris, aku tak lagi mendengar uraian panjang bapak. Bercampur aduk segala yang  berkelebat di kepala. Kenapa aku tak dikabari sebelum ia pergi. Kalau saja aku tahu, setidaknya kami bisa berembuk. Akan kuajak dia ke Jakarta. Akan kubantu ia mendapat perkerjaan yang layak. Mungkin bisa sebagai security di kampus atau asrama mahasiswa.

Meski kesal, aku mencoba menghubunginya. Ia malah dengan bangga mengabari, mereka sudah di Kalimantan. Siap menempuh perjalanan menuju Malaysia. Ia mengejekku yang katanya juara kelas bahkan juara sekolah tapi hanya bergerak di dalam negeri.

“Sewaktu di sekolah, saya bukan anak yang pintar-pintar amat. Tapi lihat, sebentar lagi tempat kerja saya sudah di luar negeri. Sementara kau sendiri bagaimana?” ia terus terkekeh. “Selamat berenang-renang di Indonesia,” ucapnya disertai ledekan mengakhiri percakapan.

Tiada lagi komunikasi kami sejak hari itu sampai setahun kemudian aku lulus, bekerja dua tahun di bawah kontrak beasiswa, dan sekarang sementara mengikuti kelas pembekalan guna melanjutkan kuliah di luar.

Di televisi, berita sudah beralih ke topik lain. Berusaha semampu mungkin menyibak air mata yang merebak, satu per satu pesan masuk dan panggilan di ponsel kubuka dan kubaca. Tak ada yang lebih pedih dari pesan masuk paling akhir.

Dari ibu. “Sudahlah. Tak usahlah ditanggapi. Jalani saja hidupmu dengan gembira. Bukannya semua sudah terbaca sejak awal. Kau memang tak pernah peduli dengan adikmu.”

Kupang, September 2016

Serangan Asma

*Cerpen Serangan Asma adalah salah satu cerpen yang saya kirimkan kepada panitia  MIWF 2017 dan saya bacakan kutipannya dalam acara Under The Poetic Star di  Main Plaza, Fort Rotterdam, Makassar. Cerpen ini dipersembahkan untuk: 1) Adik saya, seorang penderita asma, 2) Lentera Harapan Kupang, 3) Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

IMG_20170520_145207

Sumber gambar: Dok MIWF

Selamat membaca….:)

***

Aku membaca sebuah kisah pendek dan menangis(1). Sebuah  kisah yang melemparkanku kembali kepada beberapa tahun silam. Kala itu aku baru saja mencoba menjadi seorang manusia berguna setelah bertahun-tahun dirundung rasa bersalah teramat dalam hingga di waktu-waktu tertentu terkadang muncul pikiran, sepertinya sepanjang hidup, aku tak akan pernah mengampuni diriku.

“Ini saatnya kau menulis,” serta merta terdengar suara yang tak lagi asing.

Menutup buku, aku mengangkat muka. Di depanku duduk berdampingan dua remaja laki-laki.

Aku merasa lemas. “Kenapa mesti kisah ini?”

“Setidaknya kau punya bahan menulis sekarang,” serempak riang suara mereka.

“Bagaimana bisa aku menulis?” aku menggeleng pelan.

 Seorang di antara keduanya mendekat.

“Lihat aku, dan tulislah tentangku,” katanya. “Aku akan berada di sini sampai kau selesai menulis.”

Ia adikku. Satu-satunya adik laki-laki di rumah. Aku baru saja mencoba mengenal dunia dengan seluk-beluknya ketika ia didiagnosa mengidap asma. Hampir sepanjang hidupnya, penyakit itu seolah tak pernah mau membiarkannya merasa senang walau hanya sebentar. Setiap selesai bermain-main, napasnya selalu berbunyi aneh kemudian ia akan masuk ke rumah, berbaring di tempat tidur sambil berkesah dadanya sakit.

Begitu juga di waktu-waktu tertentu ketika ada acara keluarga, atau perayaan natal-tahun baru, perayaan paskah, atau perayaan 17-an, atau entah kegiatan apa saja yang dibuat di sekitar rumah, sementara semua orang berjalan ke sana ke mari, sibuk berlarian mengambil barang ini dan barang itu, anak-anak berceloteh riang sambil bermain menunggu orang tua mereka yang semangat bekerja di tempat acara diadakan, adikku hanya akan tinggal sendiri di rumah, berbaring di  tempat tidur sambil sesekali mengeluarkan suara keluhan. Bila ingin menghibur diri atau sekadar tahu keadaan di luar, maka sambil bergelung selimutnya, ia akan duduk di samping jendela kamar dan menonton dari jauh.

Ia memang harus sendiri. Tak ada ibu, tak ada bapak, juga aku. Ia yang dipanggil ibu sudah lama tak bersama kami. Ia pergi meninggalkan rumah semenjak aku baru mengenal dunia taman kanak-kanak dan adikku berusia dua tahun. Pergi entah ke mana dengan menumpang truk kuning di kala gerimis baru saja mereda. Sedang bapak, sebagai kepala keluarga mestilah ia menghadirkan diri di tempat acara diadakan. Sementara aku, tentu juga tak bisa. Tak mau aku dikungkung menyendiri dan tak bisa berbuat apa-apa dalam ruangan sempit bersama seorang anak yang terus saja mengeluh dadanya sakit. Aku tidak tahan mendengar celoteh riang anak-anak di luar kalau tak segera menggabungkan diri bersama mereka.

Suatu hari saat masih SD, di jalan sepulang sekolah tiba-tiba adikku terserang asma. Beberapa kawan menahannya agar tak jatuh. Aku yang berada jauh di belakang mereka datang menyusul. Kami menuntunnya menepi. Ia dibaringkan di bawah sebatang pohon di pinggir jalan. Kancing baju bagian atasnya dilepas. Aku mengambil buku dari dalam tas. Badannya kukipas-kipas. Anak-anak lain yang datang berkerumun kusuruh menjauh agar ia mendapat ruang bernapas.

Sambil menjagainya di bawah pohon itu, aku berdoa kepada Tuhan agar jangan dulu mengambilnya. Aku masih ingin menebus dosa.

Sehari sebelumnya ketika menjerang air di dapur, aku memintanya membawakan termos untuk kutuangkan air yang sudah mendidih. Penolakannya membuatku kesal. Ia kusiram dengan setengah gayung air panas. Seketika ia menangis histeris. Tak ingin dipusingkan dengan suara tangisnya, ia kutinggalkan, pergi bermain di luar.

Sore harinya sekembalinya dari tempat bermain, baru kutahu hampir seluruh leher dan dadanya melepuh. Sekujur tubuhku disabet berkali-kali dengan rotan oleh bapak. “Seharian ini adikmu terluka dan menangis seorang diri di rumah sementara kau bermain-main di luar sana tak peduli,” bentak bapak di antara sabetan rotannya.

Malamnya menjelang mau tidur, masih sempat-sempat ia bertanya kepada bapak, apa besok ia tetap berangkat ke sekolah. Kata bapak sebaiknya pergi saja, toh yang terluka bukan kaki dan tangan.

Demikianlah hingga siang hari di bawah pohon di pinggir jalan itu, bahkan di sela-sela napasnya yang berbunyi aneh dan dadanya yang bergerak turun naik, lukanya masih merah mentah terlihat di balik baju seragamnya.

Teman-teman yang bersama kami sudah pergi dan tinggal aku sendiri menjaganya hingga sejam kemudian lewat seorang tetangga. Adikku digendong pulang ke rumah. Aku berada di belakang mereka sambil terus menggulirkan doa. Minta diberi kesempatan menebus dosa.

Sayangnya, janjiku menebus dosa hanyalah janji semata. Setiap kali ia kesulitan sesuatu dan memintai tolong, tak selalu dengan segera aku datang dan membantunya. Hidupku seolah adalah hidupku sendiri dan hidupnya adalah hidupnya. Hampir selalu begitu.

Suatu kali lain di masa kuliah, aku pulang liburan. Ketika masa liburan berakhir dan akan kembali ke kampus di Jakarta, saudara-saudara sepupu dan anak-anak tetangga antusias bahkan berebutan mengantarku ke bandara, hanya ia seorang yang diam dan tak keluar sepatah kata pun dari mulutnya. Ketika ia kutanya kenapa hanya diam, apa tak mau ikut antar, ia menjawab pendek, “Mau, tapi dada sakit.” Jawaban yang sontak membuat kerongkonganku sakit. Perjalanan kembali ke kampus terasa pahit.

Setibanya di kampus aku dikirimi pesan. Aku memintamu membawakanku inhaler. Kau datang justru membawa buku panduan penderita asma. Sakitku sudah parah. Aku tak lagi butuh buku. Membaca pesan singkat itu, rasa-rasanya aku ingin mati. Betapa telah banyak keteledoran kuperbuat.

Beberapa bulan kemudian, menjelang pengumuman kelulusan SMA, kudengar asmanya kembali kambuh. Di hari pengumuman kelulusan, ia tak ikut berangkat ke sekolah karena dadanya sakit. Pada siang hari teman-temannya pulang membawa kabar ia lulus. Sore hari ketika kutelepon, di antara deru napasnya ia berseru senang bisa lulus SMA. Katanya ia mau juga mendapat beasiswa dan lanjut sekolah di Jawa, tapi sakitnya seperti tak mengizinkan. Semenit kemudian tak terdengar lagi suaranya. Diganti samar-samar suara ribut dan panik. Sambungan telepon terputus dan meninggalkan padaku tanda tanya penuh kecemasan. Beberapa menit kemudian aku dihubungi kembali. Suara seorang perempuan entah siapa. Tanda tanya itu terjawab, “Adikmu baru saja meninggalkan kita.”

“Sudah, ini saja yang bisa kutulis,” kataku menatapnya. “Kuharap kau memaafkanku.”
Ia tersenyum. Melambaikan tangan dan berbalik pergi.

“Giliranku sekarang,” kata seorang yang lainnya sambil bergerak mendekati.

Ia salah satu muridku di tahun pertama aku baru belajar menjadi seorang guru. Anak pindahan dari sekolah negeri. Duduk di bangku kelas 2 SMP. Menurut pengakuan orangtuanya, lebih tepat ibunya, anak yang biasa disapa Nuel itu mengidap asma sejak kecil.

Di kelas, ia seorang yang suka mengusili teman-temannya kemudian berkilah ketika ditanyai. Karena sifatnya itulah ia tidak disukai teman sekelasnya dan juga para guru. Jangankan kawan dan guru, ibu kandungnya sendiri bahkan menolak dan membencinya sejak kematian bapaknya yang mengalami kecelakaan suatu siang ketika ingin menjemputnya semasa ia SD.

Ia tahu ibunya sendiri tak suka padanya. Maka itu lebih sering ia menghabiskan waktu di luar bersama para pemuda kampungnya. Kumpul-kumpul dan entah melakukan apa hingga larut malam.

Tak hanya sering terlambat dan tidak mengerjakan PR, ia pun satu-satunya siswa SMP yang merokok. Bibirnya selalu hitam setiap pagi datang ke sekolah. Setiap guru piket yang bertugas di depan gerbang sekolah pasti akan melihatnya terburu-buru membuang permen karet menjelang ia mendekati gerbang. Beberapa kali disidak dan selalu kedapatan bungkusan rokok, korek api, dan permen karet selain tablet obat asma dalam tas kumalnya.

Di tahun itu, peraturan sekolah mengharuskan setiap siswa yang terlambat lebih dari tiga kali tidak diikutkan dalam KBM dua jam pertama. Mereka akan membaca buku dan mengerjakan tugas-tugas perpustakaan. Selalu ketika aku berkunjung ke perpustakaan pagi hari, kudapati buku bacaannya hanya satu, dan menurut petugas penjaga perpustakaan, memang hanya itu satu-satunya buku yang ia baca selama berada di sana. Buku Sayonara Narkoba oleh Fanny J Poyk, yang juga putri seorang sastrawan beken asal NTT, Gerson Poyk.

Di kelasnya saat kami mempelajari materi sinopsis, buku itulah yang ia pilih. Buku itu pun sudah pernah kubaca sebelumnya dan aku tahu persis isinya. Di tugas yang ia kumpulkan, penyusunan sinopsisnya sungguh jauh di luar dugaan. Walau dengan gaya bahasa sederhana khas anak SMP, tapi mampu merangkum setiap cerita dalam buku. Aku tahu ia telah membaca bukunya dengan baik.

Di buku tugasnya kuberi nilai tinggi, juga kutuliskan hampir setengah halaman berisi apresiasi untuk usahanya. Kuakhiri tulisanku dengan tanda tangan, cap hari tanggal, dan sebuah ikon senyum. Kupanggil ia menemuiku di ruang guru. Mengobrol sebentar dan kutanyai sedikit tentang asmanya. Semula ia tak mau bercerita. Ia justru menatapku dingin seolah bermusuhan.

“Kau tak perlu menatap seperti itu,” kataku. Kepadanya lanjut kubilang, aku pun punya adik yang sejak kecil mengidap asma. Bisa kumengerti sedikit bagaimana pergumulan para penderita asma. Mendengar itu, ia pun membuka suara dan bercerita walau hanya sepotong-sepotong.

Buku tugasnya kukembalikan. Ia menerimanya, membaca catatanku, dan berulang-ulang mengucap terima kasih.

Beberapa hari kemudian, saat jam mengajar di kelasnya, anak-anak kuberi tugas berdiskusi kelompok dan aku berkeliling mengawasi. Lagi-lagi tanpa sepengetahuanku, ia berbuat usil dengan mengikatkan tali rafia pada kaki salah seorang temannya dan disambungkan dengan kaki kursi, membuat temannya terjatuh ketika hendak beranjak bahkan sampai bibirnya berdarah. Sebagai konsekuensi, ia kuminta menulis refleksi seusai ia dan anak yang terjatuh tersebut bertemu denganku dan kami mengadakan rekonsiliasi di ruang konseling.

Refleksinya ia tulis di buku tugasnya. Di dalam refleksinya ia menyatakan penyesalan dan ungkapan maaf telah berbuat ulah saat kegiatan pembelajaran, serta berjanji tak akan mengulanginya. Membubuhkan tanda tangan dan hari tanggal, buku itu kusimpan di laci meja kerjaku. Berniat mengembalikannya nanti melalui wali kelasnya.

Mengingat dan mengenang adikku, aku terdorong memasukkan ia dalam cerita yang sedang kutulis tentang sahabat dekatku yang juga adalah wali kelasnya. Walau di sana ia bukanlah tokoh utama, perannya masih terbilang baik. Kuselesaikan cerita itu dengan niat mendamaikan antara ia dan wali kelasnya yang nyaris putus asa menghadapi lakunya seorang. Tentu nama para tokoh tidak kucantumkan sesuai nama asli. Cerita itu kukirim ke sebuah koran lokal. Tak berselang lama, pada suatu hari Minggu, cerita dengan judul Ibu Guru ketika HUT Mateos(2) dimuat. Aku senang bukan main. Kutunjukan cerita itu kepada sahabatku. Ia langsung menerimanya dan membaca.

“Aku tahu, ini kau mau menghubungkanku dengan Nuel, kan?” katanya sambil melotot padaku yang hanya kutanggapi dengan tawa.

Malam itu aku tak sabar menunggu pagi. Ingin segera kutunjukkan cerita itu kepada Nuel.  Besoknya di hari Senin, dengan semangat menggebu aku berangkat ke sekolah. Di tasku sudah kukantongi koran hari Minggu kemarin. Di gerbang sekolah, walau bukan jadwal piket, aku ikut berdiri menyambut siswa. Sengaja aku menanti kedatangannya. Namun hingga di saat bel berdentang panjang tanda masuk pun, tak juga ia muncul.

Pukul tujuh lewat, para siswa di kelas sementara bersiap memulai pelajaran. Karena belum waktuku masuk mengajar, aku membereskan tugas administrasi di ruang guru. Sang wali kelas pun sementara ada bersamaku di ruangan itu. Ia pun belum waktunya mengajar dan sementara merapikan file-file di meja kerjanya. Tiba-tiba telepon sekolah berdering. Sang wali kelas, karena yang paling dekat, ialah yang mengangkat teleponnya. Semula sapaan yang diberikan bernada gembira dan manis. Tapi kalimat yang datang kemudian cukup mengagetkan. Ungkapan terkejut dan seolah tak percaya. Anak murid kami bernama Nuel telah dipanggil pulang semalam kira-kira pukul sebelas setelah sebelumnya ketika terserang asma, ia dengan panik menelan sekaligus beberapa tablet obat asma sehingga mesti dilarikan ke rumah sakit. Di rumah sakit itulah menjelang embusan napas terakhirnya, kepada sang ibu ia mengaku telah mengisap habis belasan batang rokok di rumah kawannya.

Kisah ini nyata, dan aku sendiri pun nyaris tak percaya.

“Percaya atau tidak, semua sudah terjadi,” katanya dengan suara bergetar. Ia kemudian pelan-pelan berbalik pergi.

“Bagaimana, bisa dipahami kisahnya?” tanya sang instruktur dari depan.

“Giliranmu!” sikut kawan yang duduk di sampingku.

“Ada apa?”

“Ah, kau membaca sebuah kisah pendek dan menangis?” sang kawan menatapku heran dan bingung.

Saat kau mendapat serangan asma, ….(3)” Demikian kisah pendek karangan seorang penulis Israel itu kubaca ulang.

Kupang, September 2016

Keterangan:

(1) Kutipan kalimat pembuka cerita mini Berputar karya Eric Lofa, pada kelas menulis Komunitas Sastra Dusun Flobamora

(2) Cerpen Anaci Tnunay, Timor Ekspress Minggu, 12 Februari 2012

(3) Diterjemahkan dari Asthma Attack karya Etgar Keret oleh AN Wibisana, pengampu kelas menulis Komunitas Sastra Dusun Flobamora

Perdebatan Menulis

“Apakah kau pikir ini adalah inginku agar aku berhenti menulis?”

“Ya, itu keinginanmu sendiri untuk berhenti menulis,” tampak tenang kawannya menyahuti.

“Aku tak pernah tak ingin menulis. Kau tahu itu.”

“Kau yang memutuskannya sendiri. Kau yang menarik diri untuk tidak menulis. Jujur sajalah.”

“Aku sudah jujur. Jelas ini bukan inginku untuk berhenti menulis.”

“Kau sudah lama sekali terlena dan terbuai dengan kenyamanan hidup yang ditawarkan dunia,” sinis sang kawan menyahut.

“Jangan salah. Bahkan aku sendiri tersiksa. Kau dengar itu, aku tersiksa. Sebab sudah lama sekali rasanya aku tidak menulis.”

“Oh, kau merasa juga rupanya,” tersenyum sang kawan mengejek. “Betul-betul tak kusangka kau bisa tersiksa karena tak menulis,” lanjutnya seraya melempar pandang ke arah lain. “Lantas kenapa kau tidak menulis untuk menghentikan penderitaan itu?”

“Aku tak punya waktu untuk menulis.”

“Hah, tak punya waktu? Klasik betul alasannya.”

“Ya, terserah apa pendapatmu. Memangnya kenapa?”

“Apa kau tahu? Dengar, itu karena kau saja yang tak meluangkan waktu buat menulis.”

“Apa? Tak meluangkan waktu? Coba kau ulangi kata-katamu,” ia mulai terlihat marah.

“Kau yang tak meluangkan waktu buat menulis.”

“Hah? Dengar baik-baik. Kau tahu apa tentangku? Kau tahu apa tentang waktuku? Kau tahu apa tentang tuntutan pekerjaanku? Kau tahu apa tentang maunya teman-temanku? Kau tahu apa tentang harapan keluarga dan tetangga-tetanggaku di rumah? Kau tahu apa tentang keletihanku sehabis bekerja? Kau tahu apa tentang penyakit dalam tubuhku? Hah, kau tahu apa?” ia sudah memasuki tahap nyaris kerasukan sebab teriakannya kali ini sudah nyaris berupa lolongan.

“Aku tahu,” suara sang kawan yang masih terdengar tenang. “Maka itu aku bilang, kau sendiri yang tak mau meluangkan waktu buat menulis.”

“Aih… Sungguh membuat gusar,” kini suaranya merendah. Bernada menggerutu.

“Ok, baiklah. Menurutmu, kenapa kau tak menulis selain alasan tak punya waktu?”

“Aku… Aku sudah seperti tak bisa berpikir lagi. Aha, Apa kau pikir orang yang menulis hanya perlu mengambil pena dan kertas lalu menulis, atau menghidupkan komputer atau laptop kemudian mengetik?”

“Ya.”

“Bodoh.”

“Aku tidak bodoh. Menulis itu tidak susah. Kau hanya perlu melakukannya tiap hari.”

“Lalu yang kau tulis, aku bangun pagi-pagi lalu ke kantor. Pulang-pulang sudah capek. Remuk rasanya raga ini. Otakku tak lagi mampu berpikir. Jadi aku memulih langsung tidur saja. Besok pagi aku akan ke kantor lagi. Di sana pekerjaannya menumpuk. Aku bekerja sampai letih lalu aku pulang dan karena merasa capek aku langsung tidur. Besoknya aku bangun lagi dengan malas pergi ke kantor lalu bekerja. Apa hanya itu-itu saja yang akan kau tulis?”

“Nah, apa susahnya. Kau sudah membuat kurang lebih satu paragraf,” kembali sang kawan menanggapi.  “Ya sudah, kalau begitu teruskan paragraf selanjutnya.”

“Paragraf selanjutnya? Apa maumu kutulis lagi mengulang paragraf sebelumnya?”

“Kalau yang kau lakukan dan kau mengerti setiap harinya seperti itu, ya berarti kau tak lebih dari sesosok mayat hidup. Kau tahu Zombie? Nah, itu kau,” kata sang kawan dengan tegas tanpa tedeng aling-aling.

“Enak saja kau bilang aku Zombie?” ia melotot. Dua bola bulat itu seperti mau meloncat keluar.

“Nah, kalau kau bukan Zombie, lalu apa?”

“Aku manusia. Yang ingin dalam setiap apa yang dikerjakan benar-benar punya arti dan memberi manfaat. Bukan hanya sekadar bekerja. ”

“Kau menanam arti begitu?”

“Apa pula bahasamu itu? Aku tak mengerti.”

“Kau mau memberi arti dalam pekerjaanmu. Maksudku supaya yang kau kerjakan itu ada maknanya, dan setidaknya meninggalkan kesan bagi orang lain. Memberi manfaat atau menginspirasi orang di sekitarmu.”

“Kau tahu sekali,” kini ia mengembangkan senyumnya dengan lebar.

“Maka tulislah yang kau harapkan, atau setidaknya buat refleksilah terhadap yang kau kerjakan.”

“Boleh tidak kau yang tuliskan?” tersenyum nyengir.

Lho, kok malah aku yang kau suruh tulis? Sudah terbalikah dunia?”  kawannya kaget disodorkan tugas serupa itu tanpa rasa bersalah dari sang pemberi.  “Kenapa tak kau saja. Tadi sudah kau buat satu paragraf itu. Kan kau yang memulainya. Harus pula kau menyelesaikannya.”

“Aku sudah tak bisa.”

“Aku bilang, lanjutkan!”

“Aku tak bisa.”

“Coba dilanjutkan!”

“Lanjutkan dengkulmu. Aku tak punya kata lagi.”

“Coba dilanjutkan!”

“Ya, dan begitu orang membacanya, baru satu kalimat dibaca langsung meremukannya dan pergi dengan mengumpat kesal, ‘tulisan sampah’, “apaan ini, unek-unek tak berbobot’.”

“Coba saja kau lanjutkan.”

“Aku tak paham maksudmu, kawan. Terima kasih.”

“Lalu kenapa kau kelihatan tertekan begini?”

“Sudah kukatakan, tidak menulis membuatku sakit.”

“Baiklah. Mungkin aku cukup mengerti. Hmm, sekarang coba jawab pertanyaanku. Apakah kau membaca?”

“Aku suka sekali membaca. Hanya seperti yang kubilang, aku tak punya cukup waktu buat membaca.”

“Nah, itu dia. Di situ letak kesedihannya. “

“Kenapa memang?”
“Ya, jelas kau tak bisa menulis lancar kalau kau tak membaca.”

“Hubungannya?”

“Waduh, dari mana kau tahu susunan kata lalu kalimat lalu paragraf yang baik kalau bukan dari hasil membaca?” nyaris meringis ia menerangkan. “Orang menulis bukan karena ia sekadar ingin menulis. Tapi karena ia suka membaca, banyak membaca, plus segala indranya ia pertajam untuk menangkap semua kejadian di sekitarnya. Lalu karena di dalam kepala dan hatinya banyak sudah terisi apa yang diresapinya, maka mau tak mau agar kepalanya jangan meledak, ya ia mesti meluapkannya, ia mesti belajar berbagi kepada orang lain, ya.. dalam bentuk tulisan. Ia menulis. Dan jadilah ia penulis yang baik.”

“Ceramah yang panjang.”

“Ya, sudah bisa jadi satu paragraf.”

“Ya, aku tangkap maksudmu. Aku memang jarang membaca.”

“Maka itu yang menyedihkan. Memprihatinkan betul.”

“Demikian membaca dan menulis itu harus berjalan beriringan setiap hari,” ia bergumam.

“Sudah harus. Walau hanya sebentar,” gumamannya disahuti.

Momen selanjutnya, hanya keheningan yang melingkupi keduanya. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya.

“Ehm, tapi apakah sempat kau pikirkan apa yang kau baca?” keheningan pun sirna seketika.

“Aha, mungkin itu yang tidak. Aku hanya membaca lewat dan selesai. Sekalipun aku menikmati bacaannya.”

“Apa yang kau baca?”

“Ya, apa yang menarik dan ingin kubaca, ya, kubaca.”

“Berarti kau membaca. Bagus, setidaknya kau masih membaca,” suara sang kawan lebih tepat sebagai gumaman. “Hanya kau tak bisa lagi menulis katamu. Berarti kau tidak menyatu, atau kurang menyatu dengan yang kau baca. Kau hanya membaca asal membaca. Dan kau juga tak mau membiarkan diri tenggelam dalam perenungan akan apa yang kau baca.”

“Ya, aku memang kurang merenung,” jawaban yang diiringi anggukan kepala.

Yup. Benar. Maka dapatlah itu penyebabnya. Kau kurang merenung.”

“Memangnya ada pengaruhnya menulis dengan merenung?”

“Apakah kau tak sadar bahwa pertanyaanmu itu membuatku gusar?”

“Eehh…hmm…ya?”

“Ya, mestinya kau sadar. Berkontemplasi, kau tahu itu membuat tulisanmu sedikit lebih berisi. Tidak berkontemplasi membuatmu tulisanmu kering garing seperti kerupuk.”

“Kurasa bukan hanya karena itu,” ia berkata pelan sembari menekuri lantai.

“Lalu apa?”

“Karena seseorang tak tahu atau tak menghayati motivasinya, kenapa dan untuk apa ia menulis.”

“Lalu sebaiknya?” tersenyum kecil.

“Kenalilah motif kenapa dan untuk apa kau menulis.”

“Nah, itu. Kau saja tahu. Ya, betul katamu, kenali motivasimu. Sama seperti kau merenungkan kenapa dan untuk apa kau kepalang nongol di muka bumi.”

“Oh, kau pernah tak menerima kau nongol di muka bumi?” dengan wajah terenyak ia bertanya.

“Ya. Dulu.”

“Tapi sekarang tak terbayang sudah berapa banyak buku karya penulis-penulis andal dipoles di tanganmu, bukan?”

“Maka itu, menulislah kembali. Yakin, pasti akan kubantu poles.”

Tawa lepas keduanya dibebaskan ke udara.

Kupang, Januari 2016,

Di tengah-tengah membaca “Sanctuary of the Soul” oleh Richard J Foster

*  Tentang kepala saya yang gaduh. Mungkin seperti halnya salah satu judul buku Aan Mansyur, ‘Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia  🙂

Telah Datang Pertolongan #nulisbuku

Niat awal saya memang kalau saya menerbitkan buku, maka buku pertama saya adalah sebuah novel. Namun niat itu berubah ketika suatu hari di sekolah pada mata pelajaran Bahasa Indonesia saya mengajar materi menulis cerpen dan buku referensi untuk anak-anak kelas 7 SMP tidak ada selain yang berjudul ‘Kiat Menulis Cerita pendek’ yang dalamnya juga dilampirkan contoh cerpen beberapa para penulis lainnya.

Di tengah berlangsungnya proses pembelajaran, beberapa anak laki-laki terkikik dan tampak ribut. Setelah saya cek, rupanya keributan kecil itu disebabkan buku ‘Kiat Menulis Cerita pendek’. Pada salah satu cerpen berkisah tentang tentang kehidupan sebuah rumah tangga di mana suami istri dalam rumah tersebut sedang membuka usaha kecil-kecilan. Di dalam cerpen tersebut terdapat narasi yang menurut saya dan memang sebenarnya belum sesuai untuk dibaca anak-anak SMP.

Dari peristiwa di ruang kelas itu saya jadi prihatin. Di satu pihak kita ingin anak-anak sejak dini dikenalkan dengan sastra. Namun ketika disodorkan malah cerita-cerita tersebut bertemakan cerita orang dewasa tentang perselingkuhan dan percekcokan rumah tangga antara suami istri. Tidak salah memang tema-tema seperti diangkat, sebab memang demikian realita yang terjadi, hanya untuk sasaran pembaca anak sekolahan semestinya juga perlu dipikirkan. Dan untuk sastra anak seperti yang saya harapkan masih sangat minim.

Hal ini menggugah saya kenapa tidak saya bukukan saja cerpen-cerpen saya yang sudah tersebar di beberapa surat kabar minggu, jurnal sastra, blog pribadi, maupun yang pernah saya ikutkan dalam lomba nasional. Toh, cerita yang saya buat berkisah tentang kehidupan anak dan segala problemanya.

Tidak mau kejadian di ruang kelas tersebut berulang, maka waktu itu saya akhirnya naskah cerpen saya print sendiri, saya foto kopi hingga 10 kopian lalu dijilid. Proses itu saya kerjakan sendiri demi terlihat seperti sebuah buku. Kemudian saya beri gambar dan menambahkan beberapa kata di depan sampulnya supaya tampak seperti buku. Naskah itu saya bagikan kepada anak-anak.

Lama kelamaan naskah fotokopian seperti itu tetap membuat saya tidak puas. Anak-anak yang membaca pun sepertinya agak kesusahan juga sebab jilidannya yang panjang cukup mengganggu ketika mereka membaca. Hal ini membuat saya berpikir untuk mencari penerbit mana yang kira-kira bisa membuat naskah ini menjadi sebuah buku. Ya, benar-benar sebuah buku antologi cerpen. Tidak hanya berupa semacam fotokopian seperti ini.

Saya ingin mengajukan ke penerbit namun dari profil penerbit-penerbit yang saya baca, saya tahu bahwa sepertinya tema cerita seperti punya saya ini sepertinya sulit diterima. Biasanya mereka menerima cerita-cerita dengan tema-tema romantis, atau tema-tema yang memang sedang digandrungi pasar, apalagi kalau dengan sasaran pembaca anak SMP/SMA. Pastilah cerita-cerita teenlit atau chicli yang diburu. Akhirnya naskah saya tetap menjadi naskah fotokopian biasa, yang kadang memang dipinjam anak-anak buat baca-baca kala istirahat.

Hingga suatu hari saya mengikuti sebuah lomba yakni Kompetensi Menulis Nusantara, sebuah lomba menulis yang diadakan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerjasama dengan nulisbuku. Dari sinilah saya bertemu dengan nulisbuku. Karena penasaran maka saya mencoba mencari profil nulisbuku.com lewat internet. Lalu munculah websitenya. Ketika membuka dan membaca bagian FAQ dan layanan (service) dari nulisbuku.com, saya entah kenapa saya langsung jatuh hati. Tertarik untuk menerbitkan kumpulan cerpen saya lewat nulisbuku.com saja. Penyajian informasi yang transparan, menerbitkan buku tidak harus tergantung selera penerbit atau selera pasar.

Ini dia, telah datang pertolongan buat saya. Begitu saya kirim email ke nulisbuku, saya pikir, mungkin saja sama dengan penerbit buku yang lain, yang biasanya pasti beberapa hari baru dibalas atau mungkin bahkan diabaikan saja dan tak pernah ditanggapi. Namun tak saya sangka bahkan tak sampai sejam kemudian email saya langsung mendapat tanggapan dari admin nulisbuku. Wah, saya begitu kaget dan senang. Ternyata berhubungan dengan nulisbuku tidak sesulit dan serumit yang saya bayangkan. Respons yang cepat dan ramah dari admin@nulisbuku.com membuat saya semakin terkesan. Hingga pada liburan natal tahun lalu, saya intens mempersiapkan naskah saya untuk siap terbit di nulisbuku.

Terima kasih nulisbuku. Hadirmu yang tidak membatasi ruang imajinasi penulis dan tidak menuntut harus sesuai selera pasar, kini naskah-naskah saya yang tercecer telah berbentuk buku dengan tulisan indah di sampul depan Persinggahan Bocah Indigo”.

Gambar

Foto di atas adalah foto para desainer dan ilustrator buku ‘Persinggahan Bocah Indigo’. Mereka adalah siswa SMP dan SMA (kecuali desainer) yang sudah lebih dulu membaca cerpen saya lalu dibuat ilustrasi. Cerita jelasnya dapat anda baca di https://anicetunayt.wordpress.com/2013/05/20/persinggahan-bocah-indigo-2/

Orang-orang Malam Pecinta Malam

Petugas locker  itu mengangguk dan tersenyum  padaku. Dengan sigap ia menerima Smart Card[1]-ku, dan balik menyodorkan sekeping koin.

Segera kupilih satu kotak locker[2]. Menyelipkan koin agar bisa kubuka pintu locker. Barang bawaanku kumasukan, lantas kucopot kunci yang bertengger di pintu locker. Aku pun menuju meja petugas untuk diinput nomor locker tempat barang bawaanku dititipkan.

“Silakan, cicik[3],” katanya seraya mengembalikan Smart Card.

Kugesekkan Smart Card tersebut ke Card Reader. Kubuka pintunya lalu melangkah masuk. Lokasi yang kutuju ada di lantai dua. Dalam ruang kaca. Sebenarnya itu ruang diskusi. Tapi karena hari sudah malam, biasanya sepi. Itu yang kusuka. Sebab aku butuh keheningan. Segala sakit dapat kulepas di sana. Tanpa takut. Tanpa ragu.

Beberapa buku sebagai teman, kubawa turun. Kuletakkan di atas meja. Kuambil satu dan segera tenggelam di dalamnya. Hmm… tidak. Kubuka saja laptop.  Menuliskan segala yang bergelayut dan menggerus-gerus pedih.

Itu yang biasa kulakukan di sini saat hari malam. Saat orang-orang malah keluar darinya dan terbang pulang ke sarang, dormitory. Kadang aku mengantongi teh kotak atau kopi kaleng, dan kusembunyikan dalam tas laptop. Bakal kukakatakan pada security, di sini perlengkapan laptop entah charger, entah cool pad, entah mouse klik. Dan bapak tanggung itu entah percaya dengan aktingku entah malas berurusan panjang, sehingga aku akan melenggang masuk tanpa dicurigai membawa sesuatu yang nantinya bisa mengundang semut berkeriapan di area perpustakaan yang terkenal sangat bersih dan terjaga itu.

Seperti malam-malam biasanya, di dalam ruang kaca ini aku sendiri. Ingin kuselesaikan naskah ceritaku tentang orang-orang malam yang begitu cinta pada malam, hingga memimpikan kalau bisa dunia hanya terdiri atas malam. Selalu malam. Atau pun kalau ada siang, ia hanya seperdelapan hari, 3 jam.  Selebihnya malam. Biar dunia ini indah dan  jauh dari kebisingan.  Entah khayalan macam apa itu, begitulah yang ingin kutulis dalam ceritaku. Sebab yang kuamati dalam keseharianku, orang-orang terlalu sibuk, tak tahu apa yang mereka kejar. Saking sibuknya, mereka tampak seperti robot bernyawa. Bekerja dengan cermat namun tanpa jiwa. Tiada hati.  Kering garing kriuk olahannya.

Aku sudah menyiapkan sekaleng Nescafe yang kubeli tadi di Food Court kampus.

Di luar gerimis  mulai turun. Titik-titik air berpercikan di antara dinding kaca jendela.

Malam mulai merambat. Kelap-kelip lampu kota menaburi pekat malam. Surga kini semakin merapat. Artinya ide-ide liar dan kegilaanku mulai terpacu. Semakin memanas. Aku mesti gesit menangkap dan memasaknya hingga matang.

Tengah aku bekerja, kuendus satu sosok bayangan menghampiri. Seorang laki-laki. Anak kuliahan. Mungkin sebayaku.  Ia memilih ruang kaca di seberang.

Walau tak persis di sebelahku, sepertinya aku mulai merasa terganggu. Sebab dinding kaca ini polos dan tembus pandang hingga 2-3 ruang sekalipun. Orang bisa saling mengamati antar ruang. Dan tak enak memang bila melakukan sesuatu dan serasa diamat-amati.

Biasanya aku nyaman karena di area lantai dua ini hanya ada aku. Sendiri. Tapi kali ini duniaku serasa dirobek. Konsentrasiku pecah. Aku tak lagi bebas berekspresi. Tak bebas lagi meratap padahal butuh. Tak lagi puas mengeluarkan air mata padahal ingin. Tak lagi pulang dorm membawa kelegaan habis menangis. Sebab, yang kubutuhkan dari kesendirian malam di ruang kaca ini adalah memecahkan air mata yang ingin berbicara setelah lama-lama menampung sakit[4], yang finalnya bisa menganakkan sebuah cerita. Namun dengan datangnya lelaki itu, segala yang ingin kuluapkan di ruang kaca itu tiba-tiba saja tertahan, tak bisa keluar. Malam-malamku yang sempurna kini dikacaukannya. Sirna sudah kedamaianku. Risau karenanya.

Objek perhatianku malah beralih padanya.  Biar begitu tetap kujaga ia tak boleh tahu.  Aku berpura-pura mengedit huruf  yang sebenarnya bisa ditunda.

Sedikit kulihat lelaki itu mengeluarkan peralatannya. Gulungan karton dalam sebuah tas panjang bundar berwarna hitam, serta beberapa pensil coret. Tak lama, ia keluar lagi. Kemudian muncul kembali dengan buku-buku tebal. Setelah membolak-balik beberapa halaman ia pun duduk diam. Terpaku. Lama. Tanpa melakukan apa-apa. Kupikir mungkin ia sedang melamun.

Lama tepekur ia pun menarik napas kemudian menunduk penuh perhatian pada kertas kartonnya. Ia menggambar.

Aku menonton.

***

Tak hanya semalam itu. Esok malamnya ketika aku baru saja beberapa menit di situ, ia pun datang. Memilih tempat yang sama. Dengan laku yang sama pula. Ia menggambar. Aku berhenti. Menonton dari jauh.

            Kupikir hanya dua malam itu. Mungkin sedang ada tugas kuliah. Tapi tidak. Malam-malam selanjutnya ia begitu. Menggambar. Dan  entah, aku pun berlaku yang sama seperti sebelumnya. Menonton.

Sebenarnya bisa saja aku terus berseteru dengan tulisanku tanpa harus merasa terusik. Tapi aku memang tak suka terlihat lakuku yang mungkin sebentar bisa menarik perhatian. Tak mau aku ia tahu. Risih rasanya. Akibat aku tanggung, selalu pulang dengan dada yang sesak dan berat. Menampung sakit itu lagi. Resah dalam derap langkahku.

***

Malam mulai merambat. Kelap-kelip lampu kota menaburi pekat malam. Pengunjung perpustakaan kian berkurang. Satu per satu mulai beranjak keluar. Suara bising kendaraan di luar gedung pun makin menyayup. Hanya beberapa mahasiswa yang masih setia dengan tumpukan buku-buku dan laptopnya di deretan meja-meja, serta para cleaning service yang sibuk membereskan ruangan, juga petugas perpustakaan yang  membawa buku-buku di atas kereta dorong untuk segera ditata sesuai kategorinya.

Sebentar lagi keadaan mulai sepi. Hening. Surga makin merapat. Aku baru saja mau memulai menikmati duniaku ketika kudengar pintu kaca berderit. Ah, manusia itu lagi.  Hanya datang sebagai pengusik. Kapan ia tak usah datang lagi? Dalam hati aku mengumpat kesal.

Bertekad plus bersumpah-sumpah tak peduli kehadirannya, kugeser kursiku membelakanginya. Anggap saja dia tak ada. Atau pun kalau ada, anggap saja dia pun sibuk dengan dunianya dan sedikitpun tak memperhatikan walau sekadar untuk melirik. Ini perpustakaan. Tempat terindah yang pernah aku temui sejak aku tahu aku di bumi. Di sinilah bisa kualami secuil surga. Bercinta dengan malam, mengandung ide, menganakkan cerita dengan keheningan sebagai saksi. Tak boleh ada seorang manusia pun yang berhak mengambil keindahan ini dariku.

Kukuatkan hatiku dengan kalimat itu berulang-ulang. Dan aku pun mulai terbenam dengan draft ceritaku.

***

Tak sadar waktu sudah hampir pukul 11 malam. Tumben sekali alarm HP tak bergetar. Biasanya ia pasti berisik di angka 10 lebih sedikit. Kucari-cari dalam tas laptop. Tak ada. Panik. Di mana ia kutaruh?

Kini aku mesti pulang. Sekarang. Ini sudah jam malam. Jam batas masuk dorm.

Harus cepat masuk kamar bila tak mau melanggar peraturan dorm yang ujung-ujungnya bisa mendapat hadiah surat cinta menggigit dari pihak universitas.

Cepat-cepat aku mengembalikan beberapa buku ke tempat penyimpanan sementara. Mengambil tas laptop dan menapaki tangga kayu menuju lantai 3, gerbang perpustakaan. Kugesekan Smart Card. Pintu pun terbuka. Aku keluar, dan segera berlari ke arah lift.  Kupencet angka 1. Nomor itu berkedip. Pintu lift terbuka. Aku masuk. Aman. Tinggal meluncur turun.

Tapi tidak. Pintu lift yang sudah mau tertutup itu tiba-tiba berdebuk keras. Satu sosok datang menyerempet. Terjepit. Lalu mengaduh. Lift pun membuka mulutnya kembali. Huh… Dia lagi, tetangga seberang ruang kaca. Dalam hati aku hanya tersenyum. Berasa puas seorang manusia sepertinya ditimpa sakit serupa itu.

Gubrak… senyumku pun lenyap.

Isi tas kain yang sedang dipapahnya jatuh semua. Gambar-gambarnya berceceran. Cekatan ia menunduk dan meraup segera. Hampir tak menyisakanku sedikit waktu untuk dapat  menengok gambar-gambarnya.

“Permisi, angkanya belum dipencet,” kataku baru sadar kalau sedari masuknya laki-laki itu, tak kurasakan ada getaran lift sedikit jua.

“Ooh, ya, sorry…sorry,” serta merta dipencetnya angka 1 dan terasa lift mulai bergerak perlahan-lahan ke bawah.

Saat monitor menunjukan angka 1, lift berlenting. Pintunya terbuka. Astaga… Semua tampak gelap. Pekat.

“Oh, apakah kita salah lantai? Ini basement barangkali,” seruku panik.

“Hmm….? Sepertinya tidak. Sedang mati lampu barangkali. Lihat, monitor tidak tertera angka. Tombol-tombol di sini tak ada yang menyala,” selembar sahutan tenang yang hanya bisa kudengar tanpa melihat muka.

“Sepertinya lift kita menggantung. Sebentar, coba saya lihat seberapa jauh kita dari lantai,” suara itu meneruskan. “Hmm… kira-kira semeter. Ayo, kita harus melompat turun,” ajakannya yang terdengar ditujukan ke arahku.

“Oh, tidak. Bagaimana mungkin?” spontan aku menyahut. Takut dan panik, aku malah tak bisa berdiri tenang.

Ah, pulang… Hari begini gelap, bagaimana aku bisa pulang. Sudah makin telat malahan. Andai saja aku bawa HP, setidaknya pada teman sekamar kukabari keadaanku sekarang yang sedang sekarat.

“Tak apa. Mari kubantu. Maaf, saya Jo.” Kurasai hangat tangannya yang dijulurkan.

“Lib…Libry.” Kusebut namaku dengan terbata, lalu menyambut tangannya.

“Yuk, Libry. Barengan sampai hitungan ketiga.”

Pada hitungan ketiga tubuh kami bertumbukan dengan lantai dengan selang waktu yang sangat singkat tanpa sempat menerapkan konsep impuls guna memperlama. Sakit tapi melegakan. Rasanya ingin kucium bumi sepuas-puasnya. Seperti lepas kangen sudah lama mengambang di udara dan tak menapaki bumi.

            Di lantai yang melegakan itu kami berdua duduk. Membisu dibungkus malam.

***

            “Hmm… Gelap begitu pekat,” katamu lirih seraya mengarahkan cahaya senter HP yang serupa butiran kelereng, bahkan tak mampu menembusi pekatnya malam. “Sedang bulan dan bintang terhalang asap tebal. Kau, mari kuantar pulang,” kau melanjutkan.

“Hah…? Apa kita harus menggerapai dalam gelap? Tidak, terima kasih. Aku ingin diselimuti malam. Sebentar saja. Kau, pulanglah duluan.”

Senyap sesudahnya.

“Kulihat lukisanmu gelap semua,” kupecah kehehingan.

“Iya, semua bercerita tentang malam.”

“Malam…? Oh, ya, aku pun sedang menulis cerita tentang orang malam pecinta malam.”

“Suka kau pada malam?” tanyamu.

Desah nafas saja yang terdengar.

“Hanya malam yang mau menemani menangis,” akhirnya kusahuti. Tak tahu kenapa harus kukatakan itu padamu.

            “Siang itu terlalu angkuh. Dia pongah seperti puncak menara pencakar langit,” giliranmu.

“Hanya malam yang bisa mengerti,” aku.

 “Siang selalu menampakkan kepalsuan. Tapi malam… malam tak pernah ingin kita bertopeng.”

“Apa saat kau berkata begitu, kau sedang tak bertopeng pada malam?” tanya yang seolah-olah ingin menyelidik.

“Tanyakan pada malam dan biar ia menjawab,” kau menyahut.

Malam, sungguh kuharap kau seperti dalam ceritaku. Sepederlapan hari lamanya. Jangan cepat datang pagi. Sebab kini sedang kualami secuil surga.

“Aku tak ingin tidur. Sebab sayang bila kulewatkan,” aku bergumam pelan.

“Benar, malam itu mengenalkanmu pada dirimu. Jangan ketika datang malam kau lantas meninggalkannya dan tertidur,” kau menanggapi.

Ah, betapa kau mendengar suaraku yang sangat pelan itu.

Hari terus malam. Kita lanjut menikmatinya dalam diam. Dengan malam kulanjutkan ceritaku yang tertunda. Tak ingat lagi aku pulang dorm, walau bentang jarak hanya 300 meter.

Malam itu mengenalkanmu pada dirimu… Tiba-tiba patah kata itu kembali terngiang tengah aku bekerja.

Sontak aku berhenti. Kupandangi kau di sebelahku. Tak jelas rupamu kulihat memang. Tapi kutahu kau asyik melukis dalam gelap.

Malam mengenalkanku pada diriku? Apa? Benar demikian? Kalau begitu seperti apa diriku? Aku mendebat pikiranku sendiri.

 “Malam itu misteri. Menunjukan padamu bahwa kau sendiri tak akan pernah tahu seperti apa dirimu. Selamanya kau hanya akan menebak-nebak,” jawabmu seperti sudah membaca kepalaku sambil terus asyik menggambar.

***

Berita heboh di TV. Stasiun TV Nasional menghimbau semua orang berdiam saja dalam rumah. Sebab hari ini terjadi peristiwa aneh. Matahari tak pernah muncul walau sudah hampir tengah hari.  Hari harusnya siang nampak seperti malam. Lampu-lampu bahkan tak mampu menerangi kota.

Hingga sore hari, saat di jam tangan setiap orang dan jam dinding di tiap rumah mengarah pada pukul 03.00 pm, matahari pelan-pelan menampakkan dirinya. Dan tengoklah, di setiap gedung-gedung pemerintah maupun swasta, di bawah kemegahan papan nama gedung itu pastilah ditemukan lukisan misterius dengan background hitam disertai entahkah itu sebaris puisi, entah kalimat apa…

“Mestilah malam lebih panjang

Biar banyaklah waktu kau merenung

Apa sudah  dengan hati kau bekerja

Sudah yang terbaikkah kau tabur?  

Untuk apa berlelah-lelah di siang hari mengejar kesemuan belaka,

  hingga tak sepenggal napas pun kau hembuskan untuknya?”

***

Malam berikutnya, seperti jam-jam malam biasanya aku datang. Kutinggalkan Smart Card di meja petugas, dan segera menuju satu kotak locker setelah menerima koin yang diberikan petugas.

“Eh, Maaf, cik Libry,” panggilan petugas locker perpustakaan menghentikan langkahku. “Semalam cicik tidak mengembalikan kunci locker sehingga barang-barangnya diambil petugas.”

Oh, my God. Kuingat sekarang… Semalam tak sadar HP kutinggal di sana serta beberapa alat tulis.

“Oh, ya. Ini… tadi barusan juga ada titipan buat cicik,” katanya sembari merunduk membuka laci meja kerjanya. Lantas kembali menegakan kepala. Menyodorkan padaku sebuah gulungan.

Dengan ragu kuterima gulungan itu. Membawanya ke deretan lemari locker. Tulisan tinta perak di atas lembaran karton hitam.

“Jangan takut mencintai malam. Tetap terjagalah walau dalam malam, sebab dalam malam aku ada.”  Ttd, Jo.

Juli, 2012

 Notes:

  1. Smart Card : Kartu mahasiswa
  2. Locker : Deretan rak berkunci sebagai tempat penitipan barang pengunjung perpustakaan
  1. Cicik : Panggilan kakak perempuan untuk orang Tionghoa
  2. Membahasakan sepenggal kutipan puisi Mario F Lawi, ‘Suaraku adalah jerit pecah airmatamu menampung sakit,’ dari Maka Cinta pun Jadi.

Cerpen “Persinggahan Bocah Indigo”

Pos Kupang, Minggu, 14 Maret 2010

MATAHARI kira-kira berada pada derajat ke-45 dilihat dari posisinya terbit. Di bawah pohon asam di sebuah pekarangan rumah berdinding bebak, dalam buaian angin sepoi-sepoi basah, orang-orang ramai berkumpul.
Perempuan yang sudah beruban dan berkonde, dan yang masih kencang wajahnya, mencari kutu kepala.
Sedang makhluk berkumis berjenggot, yang sudah botak beruban hingga yang masih merah-merah mukanya, menikmati legitnya laru gula, laru putih serta membakar daging babi sebagai teman minum.
Sesekali ada beberapa perempuan datang dan ikut membakar daging babi, membumbuinya dengan garam dan cabe merah lalu memasukan ke dalam mulutnya.

Mereka mengobrol ria, tertawa terpingkal-pingkal. Suara tawa mereka melintasi jalanan, melewati rumah-rumah penduduk hingga sampai di ujung lapangan. Mereka menyebut kegiatan keseharian itu sebagai menikmati hidup.

Sedang anak-anak mereka yang masih kecil, yang belum waktunya ikut serta dalam program pemerintah Wajib Belajar Sembilan Tahun’ dibiarkan berkeriapan di bawah matahari yang mulai panas, sambil sesekali meraup debu tanah merah lalu menghamburkannya ke udara. Mereka berteriak-teriak senang.

Dari arah timur, muncul seorang bocah perempuan seumuran anak- anak yang sedang bermain itu, dengan buku kecil di tangannya, buku lusuh yang sudah tak bersampul lagi.

Mengenai buku lusuh itu, bocah ini menerimanya dari tangan seorang perempuan muda yang dijumpainya di jalanan pinggir kota beberapa tahun lalu.

Dan, karena buku lusuh itulah, bocah ini mulai merasa dan berpikir bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang bukan hanya untuk dirinya sendiri, ditambah lagi dengan satu buku kecil yang didapatkannya secara cuma-cuma, maka sudah sepantasnya iapun membagikannya kepada orang lain, mesti juga dengan tanpa mengharapkan imbalan.

Maka itulah, dengan perizinan ibunya, ia berniat mengembara dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dengan buku lusuhnya. Dan tempat dia berada sekarang adalah tempat keduanya setelah yang pertama di sebuah perladangan yang tak jauh dari rumahnya yang mana ia diterima baik disana.

Kemunculan bocah perempuan ini sungguh mengejutkan orang- orang yang sedang menikmati hidup di bawah pohon asam itu mengingat mereka tidak pernah melihat sang bocah sebelumnya. Semua mereka yang berkegiatan menghentikan keasyikannya sejenak lantas menoleh ke arah bocah asing’ ini. Dengan heran dan sinis mereka menatap apa yang ada di tangan sang bocah.

Sang bocah diam sejenak, mencoba menenangkan dirinya sebelum bergabung dengan mereka. Ia masih mengira-ngira reaksi apa yang akan ditunjukan orang-orang disitu. Beberapa menit berlalu ditemani perasaan mencekam dalam diri sang bocah. Maklum ini adalah kali pertama dia datang untuk turut dalam perkumpulan keseharian orang-orang disitu.

Saat masing-masing mereka kembali asyik dengan kegiatannya, sang bocah perempuan ini mengajukan idenya. Ia berkehendak menceritakan kisah-kisah inspiratif kepada mereka di sela-sela kegiatan itu serta mengajak mereka berkomentar tentangnya. Mereka yang banyak itu lantas tertawa berbarengan lalu melanjutkan kegiatannya tanpa mengacuhkan suara dan kehadiran sang bocah.

Seseorang diantaranya yang belum selesai ketawa memaksakan diri bersuara. Ia menyuruh sang bocah lebih baik pergi dan bergabung dengan kelompok anak-anak mereka, bermain debu tanah merah di bawah terik matahari yang makin lama makin panas itu.

Bego! Orang aneh” umpat sang ketua kelompok sambil mencomot sepotong daging babi yang baru dikeluarkan dari bara api lalu melicinkan tenggorokannya dengan satu setengah mug air berwarna itu.
Umpatan sang ketua disambut pula dengan tawa dan cercaan dari para pria dan wanita pada sang bocah.

Kenapa dia datang untuk menawarkan pembicaraan yang berbeda? Kenapa pula dia datang mesti dengan buku? Kenapa tidak makanan? Kenapa tidak laru atau sopi? Kenapa tidak bumbu-bumbu buat daging babi biar makin sedap? Kenapa tidak yang lain, yang menggairahkan kita mungkin? Kenapa perlu pikir macam-macam? Apa dia pikir itu menarik? Yang bisa menarik perhatian kita? Hah?” semprot sang ketua itu kesal.

Orang disini tak perlu merubah cara-cara yang sudah mendarah daging, kalau menikmati hidup ya bicara hal-hal yang menyenangkan kita. Apa ini, acara kesenangan, kita malah bicara hal yang susah-susah? Yang berat-berat? Apalagi mau pegang buku? Kita semua sudah begini baik, kenapa dia sendiri yang begitu?” Kini sang ketua bernada heran sambil melirik pada sang bocah.

Harusnya dia lupakan ide gila itu, kubur rapat-rapat dan tak menyisakan cela. Dan buku itu, harusnya dia buang ke jalanan, dilindas truk dan motor, atau ke tungku, dilahap api, menjadi abu dan kemudian lenyap tak berbekas. Kalau tidak, buang saja buku jelek itu ke kali, biar luluh lantak, hanyut bersama air kali yang mengalir menuju laut, lenyap disitu. Kemudian beramai-ramai kita membakar babi, minum laru gula, laru putih, bersenang-senang sepanjang hari, sepanjang malam tanpa harus berpikir macam- macam.” Seperti ayam betina kehilangan anaknya, ia terus berkotek-kotek sambil menoleh pada kumpulan orang-orang yang diam mendengarkan.

Kita sudah baik. Jagung ada, ubi kayu ada, air ada biar coklat dan kuning warnanya, toh masih bisa dipakai mandi, cuci, masak, minum. Toh tubuh kita sehat dan kuat. Justru dengan menempuh jarak berkilo-kilo untuk mencari air di kali di bawah sana, tubuh bertambah kuat, otot bertambah keras, malah kita lebih kuat dari orang-orang lain di luar pulau. Sudah terbukti kita menjadi orang kuat di tanah Jawa, di Bali, di Jakarta, di tanah rantau manapun.

Dengan bekerja sebagai tukang pukul orang, orang pulang kampung mengantongi banyak uang, juga cerita-cerita hebat.
Sedang pakaian ada melekat di badan. Tali dari daun gewang dan bebaknya masih bisa untuk melindungi badan dari terik matahari, guyuran hujan, tiupan angin malam.

Kita disini sapi ada, babi ada, ayam ada. Kalau perlu uang tinggal tangkap satu ekor dua ekor, jual dan terima uang.
Saat hari mulai gelap, kita ada lampu pelita, kayu kering dan daun- daun kering ada untuk jadi api unggun. Bulan juga lagi terang dan bisa sekedar untuk melihat pekarangan di waktu malam atau jalan- jalan keliling kampung.

Sedang anak-anak kita yang kita sekolahkan demi memenuhi kewajiban pemerintah dapat BKM* tiap semester, kita sendiri dikasih RASKIN** tiap 3 bulan, dan kalau beruntung, subsidi BBM 100 ribu tiap bulan itu berjalan terus, apalagi yang kurang? Apa lagi? Ayo apa lagi?” Ia berkoar terus sembari merentangkan kedua tangannya. Mulutnya penuh dengan daging babi bakar.

Bocah perempuan ini terpana. Ia menatap nanar ke arah sang ketua. Begitu heran dirinya akan reaksi demikian. Saat ia menyapu pandang sekilas pada orang-orang banyak itu, mereka hanya tampak melongo. Sedang anak-anak kecil di bawah terik matahari masih asyik dengan permainan mereka tanpa tahu menahu persoalan disini.
Hidup sudah enak, kenapa tidak disyukuri? Kenapa tidak dinikmati? Terima saja hidup ini, nikmati saja! Rasakan sentuhan lembut angin sepoi basah! Jarang-jarang orang mengalami kesenangan seperti kita, menikmati hidup di bawah pohon ditingkahi sejuknya belaian angin semilir.

Orang sudah begini enak, tidak bersyukur malah berlelah-lelah. Heran aku dengan orang-orang macam bocah perempuan yang baru lahir kemarin sore itu,” kata sang ketua itu lagi sambil menggeleng-geleng kepala. Nadanya mulai mereda. Tapi kemudian…

Ah! Dasar orang gila!” teriak sang ketua, lantang, sambil menoleh pada teman-temannya yang diam menatapnya.

Kenapa mesti ada perubahan? Kenapa mesti ada pembaharuan? Kenapa orang tidak menikmati hidup saja” umpat sang ketua kelompok itu lagi sembari meludah jarak jauh, berbunyi keras, mencipratkan ludah merah, coklat dan kuning, bercampur. Jadilah warna keruh itu menyentuh tanah dan kering seketika saking panasnya tanah disitu.

Oh…!” desah sang bocah sambari menarik napas. Ia berdiri mamatung, diam tanpa berniat membantah ucapan menyengat itu.
Mereka bilang aku orang aneh. Mereka bilang aku gila. Mereka bilang aku cari susah, cari lelah, tidak menikmati hidup” batin bocah itu lagi.

Apakah kalau lakuku begini, itu mencerminkan aku tidak menikmati hidup? Apa aku perlu menikmati hidup yang harus dengan cara mereka? Apa aku harus menyangkali dan menyingkirkan energi yang bersarang dalam tubuhku, yang direncanakan dan disediakan padaku sebelum diriku hadir di bumi, lantas turut bergabung untuk bersama-sama kami menikmati hidup dengan laku yang sama? Apa aku perlu mengkhianati dan meninggalkannya? Apa aku perlu bergabung agar dilihat menikmati hidup, padahal aku tahu aku hanya berpura-pura?” ia bertanya- tanya dalam hati. Tak ada seorangpun disitu yang mengetahui pergulatan batin sang bocah.

Ya sudah! Kalau ini kengerian buat mereka, biarlah ini keindahan buatku. Biarlah energi dalam diriku tetap menjadi alasan aku datang di planet bumi yang gersang ini. Aku menikmati hidup dengan menawarkan apa yang ada padaku. Entah diperhatikan, entah dipedulikan, entah dihargai, entah ditanggapi, aku tak peduli, aku menikmatinya.

Aku tetap berusaha. Dalam usahaku, aku tahu akan ada banyak air mata tumpah dari dua bola bulat di wajahku. Biarkan! Aku menikmati hidup!” ia mengangkat alis matanya dan meregangkan kedua sudut bibirnya.

Aku menikmati hidup dengan laku seperti ini karena kehendak kehidupan. Aku menikmati hidup dengan laku seperti ini karena mau dan untuk menunjukan kehidupan. Aku mau menikmati hidup demi kehidupan itu sendiri.” tegas sang bocah dalam hatinya, dengan keyakinan penuh.

Bocah perempuan ini pelan-pelan berbalik badan. Ke arah darimana ia muncul, kakinya diayunkan menuju ke sana. Demikianlah, sang bocah meninggalkan tempat itu, pulang.
Sedang orang-orang itu, yang menikmati hidup di bawah pohon, tetap melanjutkan kesenangannya. *

Keterangan
* BKM: Beasiswa Kurang Mampu
** Raskin: Beras untuk Keluarga Miskin