Refleksi

Kapsul 37a: Belajar dari Hizkia, Raja yang Pamer Kekayaan kepada Orang Asing

Ketika Raja Hizkia sakit, ia berdoa meminta pertolongan Tuhan. Ketika melalui perantaraan nabi Yesaya, ia beroleh kesembuhan, lupalah ia akan Tuhan.

Terhadap para utusan dari negeri Babel, ia perlihatkan seluruh isi istana dan daerah kerajaan. Pikirnya, asal ada damai dan keamanan selama aku hidup, ketika mendengar apa yang dikatakan Yesaya terkait nasib kerajaannya di masa depan.

Kenapa ia berpikir begitu? Untuk apa? Aneh saja bagi saya seorang raja memperlihatkan seisi istana dan daerah kekuasaannya kepada tamu dengan maksud merasa damai dan keamanan. Apa yang aman dan damai dari pamer-pamer kekayaan? Bukankah sebaliknya kita akan merasa terancam kalau orang lain tahu seberapa banyak kekayaan kita dan tahu betul di mana letak-letak barang dan lumbung-lumbung berharga?

Jelas, saya kurang menangkap apa maksud Raja Hizkia memperlihatkan isi istana dan daerah kekuasaannya kepada para utusan negeri Babel ini sampai kemudian diperingatkan nabi bahwa semua isi istana dan perbendaharaan itu akan diangkit ke Babel tanpa sisa. Apa hubungan dengan masa sebelum dan sesudahnya?

Dari hasil membaca-baca di internet, saya kemudian menemukan beberapa tulisna yang cukup menjawab. Namun akan saya simpan dua di sini sebagai pengingat.

Satu, dari seword, Surat Terbuka untuk Eep Saefullah Fatah. Mengena sekali untuk kita sebagai orang-orang Indonesia di masa-masa ini. Tulisan ini terkait situasi politik yang terjadi di Indonesia. Seseorang bisa dengan sangat giat bekerja mencari kepuasan pribadi hanya untuk sementara, tanpa memikirkan apa yang bakal terjadi 2-3-4-5-6 tahun ke depan dan seterusnya.

Kedua, oleh Bigman Sirait, Umur Panjang yang Menciptakan Persoalan Baru. Sewaktu sakit, minta kesembuhan dari Tuhan. Ketika kesembuhan diberikan, bukannya hidup kemudian dipakai dan diisi sebaik-sebaiknya sebagai ungkapan terima kasih, malah cari aman untuk diri sendiri tanpa memikirkan nasib anak cucu.

Demikian sedikit catatan mengenai kisah Raja Hizkia yang secara bodoh dan sembrono memamerkan isi istana dan kerajaannya kepada para tamu dari negeri jauh. Kiranya menjadi pembelajaran bagi saya dan kamu, kita semua.

Iklan
Cuplikan Cerita UPH, God's Story

Kapsul 21: Buku “Living His Story”

Buku berisi kumpulan refleksi dari para alumni ini diterbitkan tahun 2017 lalu dalam rangka Dies Natalis ke-10 Teachers College UPH.

Saya lupa buku itu saya dapat lewat siapa. Saya hanya ingat bahwa para penulis dijanjikan mendapat satu jilid ketika terbit. Entah bagaimana buku itu bisa sampai di tangan saya, saya tak ingat persis.

Saya hanya sempat membaca beberapa tulisan di dalamnya, kemudian entah terselip di mana, saya sama sekali tak pernah melihatnya lagi. Saya pun jadi lupa kalau saya pernah ikut menyumbang tulisan untuk buku itu. 

Baru hari ini, sementara para siswa kelas 9 mengikuti simulasi UNBK dan kami para guru jadi punya waktu lowong, saya iseng-iseng berkunjung ke perpustakaan mini salah satu kelas. Barulah di sana saya melihat buku ini terjepit di antara buku-buku bacaan siswa lainnya. Selain terjepit, bagian tepinya juga sudah berdebu. Kelihatan sekali buku ini sudah lama tak dibaca. Kasihan dia😟. Tak menunggu lama, langsung saja saya amankan😉😊. 

Terima kasih kepada Dia, Sang Pembuat Cerita😘🙏😇. 

Catatan Buku, Merayakan Keseharian

Kapsul 15: Membaca Novel Sidney Sheldon

Novel ini tergeletak di atas meja anak murid saya di kelas. Mereka baru saja membacanya saat SSR. Sementara mereka mempersiapkan materi presentasi kelompok, saya berjalan keliling dan iseng mengambil satu buku yang ada di atas meja. 

Baru membaca bab-bab awal buku, dan saya sudah tidak bisa begitu saja melepaskan tanpa tahu kelanjutan ceritanya. Saya pun meminjam buku anak murid saya untuk melanjutkan baca di rumah. 

Sementara saya menulis ini, saya masih dalam proses membaca. Belum selesai. Tapi karena keperluan pembaharuan postingan blog inilah saya menuliskannya. 

Kau mungkin saja berpikir,  “Gaya doang. Buku belum selesai dibaca, malah pamer. Kemarin buku lain juga begitu. Belum juga selesai baca, malah pamer kalau sedang membaca.”

Iya, saya tahu buku apa yang kau maksud. Pasti tentang Allah, Kebebasan, dan kejahatan. Memang, saat itu saya sedang membacanya. Setelah menulis itupun, saya melanjutkan membacanya. Tapi, buku itu banyak sekali proposisi-proposisi yang membutuhkan daya nalar dan konsentrasi yang tinggi, maka di tengah-tengah membaca, saya merasa tidak kuat melanjutkan. Saya hanya tertarik di bagian pendahuluan serta bagian satu saja karena di dalamnya disebutkan beberapa sastrawan yang namanya tidak asing seperti Milton dengan “Paradise Lost“nya, Dostoyevsky dengan “The Brothers Karamazov” tentang penyiksaan oleh bangsa Turki, serta nama-nama lain seperti Thomas Hardy, Hopkins, T.S Eliot, Peter De Vries, dan John Updike. Selain itu setelahnya, banyak proposisi-proposisi itu membuat saya seperti hanya ‘gaya doang‘ baca buku ini. Saya menghabiskannya tanpa mengerti simpul-simpul di dalamnya. Hanya inti atau tujuan besar buku ini yang sudah menjadi pegangan saya sebelumnya yang saya pahami. Bahwa Allah berdaulat atas dunia ciptaannya. Dalam sejarah, terjadinya kejahatan atau penderitaan di dunia bukanlah sebuah misteri, melainkan hal yang mungkin dan sudah sewajarnya. 

Karena buku yang sempat buat pusing itulah, biarlah kali ini saya kembali imbangi dengan novel Sidney Sheldon dari anak murid saya. Pada akhirnya, saya ingin bilang, “Thanks to Timothy Kevin”🙏😊. 

Catatan Buku, Merayakan Keseharian

Kapsul 11: Sedang Membaca “God, Freedom, and Evil”

Orang yang jarang baca biasanya suka pamer kalau sedang membaca satu buku. Contohnya saya yang saat ini sedang membaca buku “God, Freedom, and Evil” atau yang diterjemahkan sebagai “Allah, Kebebasan, dan Kejahatan.”

Saya malu sebenarnya bilang begini. Tapi apa boleh buat. Saya sudah komit untuk menerbitkan satu tulisan setiap menelan satu kapsul tiap hari.

Berhubung tulisan yang saya rencakan diterbitkan hari ini belum jadi, maka, “ya, sudah, pamerkan saja buku yang sementara kau pegang di tanganmu.”

Saya belum bisa menulis ulasannya karena belum selesai membaca. Meski sebenarnya ini bukan yang pertama kali dibaca karena di mata kuliah etika dulu juga sudah, hanya, ya, saya mesti menerima bahwa ada sesuatu yang bolong mungkin di otak saya sehingga membuat ingatan saya tentang isi buku ini tak begitu bagus. Itulah kenapa saya memutuskan membaca lagi.

Lagipula, terlalu sering membaca berita-berita (kehebohan terkini) dan artikel-artikel yang hanya bombastis di judul, membuat hari-harimu jadi terasa runyam. Berita-berita haboh dan artikel judul bombastis itu hanya membuat penasaran yang menyeretmu klik sana-klik sini, terbenam-tenggelam, lalu kemudian baru kau sadar dan menyesali waktumu terbuang hanya untuk sampah-sampah tak bernilai itu (meski sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menurutkan keinginan mata hanya karena judul yang sengaja dibuat bombastis, ‘5 hal yang belum kau tahu tentang mengikat tali sepatu’ misalnya, atau ‘si kakak bertemu adiknya yang baru pulang sekolah. Begini yang dikatakan di adik, bikin haru‘,  atau ‘kecewa! si dogi menggigit sandal tuannya hingga putus’.  Omg, kalau begitu, lantas kenapa tak dibuat atau digolongkan saja ke dalam cerpen sekalian, atau humor, atau apa kek, yang penting bukan, ah, apa ya, saya juga kurang tahu mestinya di bagian mana.

Kalau macam begini, baiklah kubilang, membaca cerpen-cerpen di koran minggu atau di media-media online atau membaca novel, atau nonton film, sungguh jauh lebih bermanfaat. Terlalu jauh.

Nah, tapi, tidak enak betul hanya baca-baca fiksi. Berasa ada yang kurang kalau lama-lama tak bersentuhan dengan buku non fiksi juga. Meski begitu, tidak semua buku non fiksi memuaskan hati dan pikiran. Hanya buku-buku tertentu yang kalau dibaca, kita seperti menemukan dunia baru yang rasanya berat untuk kita keluar kembali. Yang kalau sudah selesai dibaca, ada semacam kepuasan batin yang tak ternilai harganya yang menetap dan tidak mudah menguap begitu saja. Nah, akhirnya, saya baru dapat perbandingan yang tepat. Membaca berita-berita kekinian yang menghebohkan dan artikel berjudul bombastis itu, abis baca langsung menguap dan lenyap tak berbekas. Beda dengan kalau kau baca cerita (sastra) atau buku-buku non fiksi begini, abis baca pun masih ada bekasnya yang bahkan saat kau tidur, ataupun berdiri, ataupun berjalan, ataupun berlari, ataupun melakukan apa saja, ia masih seakan-akan terus hidup dan bercokol dalam dirimu tak mau keluar-keluar. Ada yang bersifat kekal dari yang kau baca.

Maka inilah salah satu dari sekian buku-buku yang memberi nilai kekal itu. Buku “God, Freedom, and Evil” atau dalam bahasa Indonesianya yaitu “Allah, Kebebasan, dan Kejahatan“.

Hanya ingat, seperti yang sudah saya bilang di awal, saya belum menulis ulasannya karena masih dalam proses membaca. Meski begitu, saya senang kalau kau juga mau mencarinya dan membacanya. Sejauh ini bagi saya bagus, kok. Kau hanya butuh konsentrasi yang tinggi saat membacanya. Soalnya buku ini banyak memuat silogisme di sana sampai bisa buat kau pusing-pusing untuk menghubungkan😄👌👍💪.

Merayakan Keseharian

Kapsul 9: Doa untuk Sahabat

Semangat untukmu. Semangat. Bila kau sudah menaruh semua percayamu kepada Tuhan, hal apa lagi yang perlu kau takutkan? Tidak ada, kan?

Semua proses sudah kau jalani. Kata orang, pengalaman itu disebut sebagai asam garam, maka asam garam itu sudah kau cecapi, bukan?

Bukan hal mudah berada di pihakmu. Tapi aku bisa belajar dan mengerti bagaimana bila berada di posisimu.

Sudah larut malam. Tapi yang ada di pikiranku, adalah bagaimana hatimu sekarang.

Kuatlah. Kuatlah. Teguhkan hatimu. Jalan di depan mungkin tidak mudah, tapi bukan berarti ia tak bisa dilewati. Cerita Yosua biarlah menguatkanmu.

Aku pun percaya, kau sudah mendoakan, sudah melewati berbagai proses sebelum sampai ke tahap itu. Maka, tentu Dia tak akan tinggal diam. Dia bukan Allah yang mati, sampai tak tahu-menahu pergumulan hambanya. Ia terlalu amat tahu. Percayalah, Ia pasti membimbingmu melewatinya😘💪💪🙏🙏🙏😇.

Buat: CcNov’💝

Merayakan Keseharian

Kapsul 7: Kayu Cendana dalam Kisah Salomo dan Ratu Syeba

Kunjungan Ratu Syeba. Sumber: ancient origin

Niat awal saya untuk kapsul 7 sebenarnya mau melanjutkan tentang “Facing a task unfinished“. Tapi kemudian otak saya terseret saja dan beralih kepada kisah kuno Raja Salomo dan Ratu Syeba.

Bagian menarik menurut saya di sini adalah disebutkan kayu cendana di dalamnya. Saya mencoba mengecek, adakah lagi di bagian lain disebutkan mengenai kayu cendana, dan ternyata tidak selain kisah dalam kisah kunjungan Ratu Syeba saja. Penulisan kayu cendana hanya ada di 1 Raja-Raja 10 dan 2 Taw 9 (selain Mazm 45).

Bagian menarik di sini karena saya sendiri heran kenapa selama ini membaca kisah kunjungan Ratu Syeba namun tidak menaruh perhatian kalau di sana ada juga penulisan kayu cendana. Beberapa hari lalu atau kalau bukan ya minggu-minggu lalu, saya sempat berpikir karena penasaran dan ingin mencari tahu sejarah adanya pohon cendana di pulau Timor. Bermula dari membaca cuplikan-cuplikan sejarah perang yang pernah terjadi di pulau Timor, yang bermula dari datangnya pedagang-pedagang ke Pulau Timor ini.

Sewaktu baru pertama kali keluar dari tanah Timor ini, baru saya tahu bahwa orang-orang di luar sana terkadang menganggap Kupang atau pulau Timor ini seolah tidak ada apa-apanya yang patut dibanggakan (kesan saya pernah begitu). Padahal sebenarnya ada banyak hal dan dari berbagai sudut yang merupakan keunikan dari Kupang dan pulau Timor ini. Ya, saya percaya setiap tempat di bawah kolong langit, di manapun adanya punya keunikan masing-masing dan tiada duanya. Demikian juga Kupang dan Pulau yang Timor ini.

Nama Kupang hanyalah sebagian kecil dari Pulau Timor. Kupanh sekarang terdiri atas dua (entah apa sebutannya, nanti baru saya cari tahu sebentar) yaitu Kota dan Kabupaten. Daerah kota ada di tengah daratan. Sementara bagian pinggirannya atau pesisir pantai masih tergolong kabupaten. Selebihnya daratan tempat Kupang berdiri ini disebut Sebagai Pulau Timor. Membentang dari ujung barat yang merupakan area kabupaten Kupang hingga ujung timur yang disebut dengan Timlr Leste dan kini berdiri sebagai negara sendiri.

Dulu sekali, jauh sebelum kau dan saya lahir, orang-orang dari negeri jauh sana berlomba-lomba datang dan singgah di Kupang atau daratan Pulau Timor.

Nah, coba, kenapa kira-kira mereka mau datang ke Timor? Meski datang mungkin hanya untuk sekadar singgah? Kenapa mereka perlu datang ke Pulau yang disebut Pulai Timor? Pastinya, niat mereka tidak sesuci Robert Morrison atau Hudson Taylor mendatangi Tiongkok misalnya.

Kedatangan mereka pasti ada maunya. Mereka tahu, Pulau Timor punya harta karun pada tanahnya. Apakah itu? Pohon cendana.

Ya, cendana pernah membuat pulau ini dikenal dan dipuja-puji di dunia sebagai nusa cendana.  Namun, sekarang, di manakah cendana itu? Masih adakah? Saya waktu kecil sering sekali ketika kami yang lagi asyik bermain tiba-tiba membaui satu bauan yang kami tak tahu apa itu. Baru pada suatu kali, ada seorang om menjelaskan kepada kami bahwa itu wangi cendana. Baru saya tahu , oh itu wangi cendana? Kami pun terus mengendus-ngendus biar bisa lebih banyak mencium wangi cendana.

Cendana sekarang sudah jarang bahkan nyaris tak ada pernah lagi saya lihat. Cendana, meski dalam artikel nationalgeographic ditulis merupakan tanaman asli Pulau Timor, ia sebenarnya sudah ada di zaman Raja-Raja, sudah dipakai Salomo dalam membangun istana, dan dituliskan saat kunjungan Ratu Syeba.

Kesimpulannya, cendana tidak hanya ada di Pulai Timor. Cendana belum tentu juga merupakan tanaman asli pulau Timor. Jadi, boleh bangga tapi jangan overdosis. Boleh bangga bahwa cendana di Pulau Timor pernah digila-gilai bangsa-bangsa di dunia, tapi ia pun sudah pernah ada dan dipakai di masa pemerintahan Raja Salomo, tepatnya disebutkan pada kisah kunjungan Ratu Syeba.

Merayakan Keseharian

Kapsul 5: Terlaksana. Hari Khusus tentang Sharing Buku

Berbahagialah. Hari ini khusus untuk postingan sharing buku. 

Sebenarnya setelah ini mestinya kau cepat-cepat tidur. Besok masih ada hari. Pula sesuai agenda, sorenya ada pertemuan dengan rektor kampus tempat kau pernah tersaruk-saruk di sana. Rehatlah segera! 👌