Kegiatan Seni dan Budaya

Kapsul 20: Menengok Kembali MIWF 2017

Foto ini saya baru dapat semalam. Dikirim oleh seorang kawan yang wajahnya juga terpampang di foto tersebut๐Ÿ˜„. Foto-foto itu diambil saat kami mengikuti MIWF 2017. 

MIWF bagi saya adalah sebuah kegiatan yang punya kesan khusus dan istimewa. Kau tak hanya bertemu penulis-penulis dan pegiat-pegiat seni dari dalam maupun luar negeri, mereka yang sudah makan asam garam maupun yang baru memulai, penerbit dan editor, kawan-kawan baru, para relawan yang totalitas dalam bekerja (satu contoh: kami punya LO yang sangat keren, sampai-sampai saya nyaris lupa nama asli karena lebih sering kami panggil dengan LO Kece. setiap makan siang, kami pasti dibacakan puisi. belum lagi momen ketika kami mau pulang, ia bahkan mengejar sampai ke bandara demi memberikan oleh-oleh yang tak disangka-sangka๐Ÿ˜๐Ÿ™), hadirin yang sangat apresiatif, tapi yang paling terasa adalah kau juga bertemu mereka yang kemudian jadi sahabat dan saudara. Mereka seakan juga punya cara tersendiri menyambut dan bersahabat dengan para pendatang. Terlihat sekali bahwa atmosfer yang dibangun bukan sekadar rutinitas tahunan kemudian selesai. Ada nilai yang sedang mereka bangun, dan saya pikir itu sesuatu yang mengagumkan. 

Kalau kau suka dengan dunia tulis-menulis atau apapun yang berkaitan dengan kesenian/kebudayaan, dan sempat mengikuti kegiatan yang diprogramkan MIWF, dijamin kau tak akan pernah menyesal sepulangnya dari sana. Sebagai peserta biasa saja kau pasti senang dan merasa berlimpah, apalagi kau adalah peserta yang diundang khusus, contohnya saja kami walau hanya sebagai emerging writers, diperlakukannya bak raja ratu pangeran putri๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜. 

Intinya, pernah menjadi peserta EW MIWF 2017 adalah sebuah pengalaman berharga dan istimewa yang tak bisa ditukar dengan pengalaman lain. 

Jadi kalau kau yang ‘dilemparkan’ berposisi di sekitaran daerah timur Indonesia dan biasa melakoni yang namanya tulis-menulis, jangan tunda lama-lama lagi buat kirim karya ke MIWF. Seleksi penerimaan karya untuk EW MIWF 2018 sepertinya tak lama lagi akan berakhir. Cobalah saja dulu. Ada kutipan bagus dari Kk Maria Pankratia di bawah ini. Tengoklah…dan beraksilah segera.

Iklan
God's Story, Merayakan Keseharian

Pertama Kali Bisa Membaca

๐Ÿ™‹๐Ÿ™‹๐Ÿ™‹ Siapa yang masih ingat kapan dan seperti apa prosesnya ketika ia baru pertama kali bisa membaca? ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜ƒ ๐Ÿ˜Š

Maaf, foto yang ditampilkan adalah foto ponaan saya sedang memelototi katalog MIWF 2017๐Ÿ˜Š. Anggap saja dia mulai mencoba belajar membaca ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜†.

Saya tiba-tiba terdorong untuk menulis tentang pengalaman pertama kali bisa membaca karena ada kalimat yang merujuk ke sana saat ada satu obrolan dengan adik saya barusan.

Saya kemudian mengingat-ingat pengalaman saya sendiri saat pertama kali bisa membaca. Saya tahu persis, saya sudah bisa lancar membaca sebelum masuk kelas 1 SD. Terbilang istimewa karena di antara teman-teman seangkatan, banyak yang bahkan belum bisa mengeja huruf (sombong sedikit๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜Ž). Masih terbayang jelas di benak saya, setiap kali ada acara kumpul-kumpul keluarga atau kumpul-kumpul sekampung๐Ÿ™Š๐Ÿ˜…, saya selalu ditunjuk-tunjuk atau dibilang, “Dia sudah bisa baca,  oh ya, betul, dia sudah lancar membaca, wow, sudah bisa ya padahal belum sekolah.” Waktu itu, saya punya alasan untuk besar kepala dan menepuk dada sendiri๐Ÿ˜œ.

Saat liburan panjang sebelum masuk kelas 1 SD, saya dibawa tante saya berlibur cukup lama ke rumah mereka di kota, tepatnya Walikota (Kupang). Di sana, kawan-kawan baru saya kaget mengetahui saya sudah lancar membaca meski saya belum masuk SD. Pikir mereka, saya dari desa, pasti tidak bisa membaca๐Ÿ˜„๐Ÿ˜…. Kami pun bermain uji baca. Yang bertindak jadi penguji adalah anak-anak besar, begitu kami menyebut mereka yang dari kelas 3 ke atas. Pesertanya saya dan beberapa anak dari kelas 2 ke bawah. Performance saya baik-baik saja. Tidak malu-maluin amat begitulah๐Ÿ˜‰.

Dari bermain uji baca, kami pun mulai mengobrol apa saja kata-kata yang pertama kali kami bisa baca. Setiap orang membeberkan kata pertama mereka. Cukup beragam. Saya tak ingat semua. Ada yang bilang mama, ada yang bilang papa, ada yang bilang buku, ada yang bilang namanya sendiri, dan sebagainya. Saya sendiri tak mau kalah. “Kopi susu,” saya bilang. Semua tertawa. “Kok bisa?” tanya mereka. Lantas saya pun mulai bercerita. Kenapa sampai kata ‘kopi susu’ yang saya baca pertama kali.

Di tahun-tahun itu, ada satu makanan ringan yang cukup top markotop namanya Kopi Susu. Bungkusannya sebesar telapak tangan orang dewasa. Bentuk isinya sebesar kelereng dengan lubang sebesar lidi di tengah. Berisi kurang lebih 25 biji (kurang pasti juga sih) sebungkus. Sayang, karena sekarang saya bukan penikmat makanan ringan maka saya jelas kesusahan mau menyamakannya dengan makanan ringan jenis apa๐Ÿ˜•(Tunggu saja, saya akan buat riset kecil-kecilan mengenai rupa-rupa makanan ringan saat ini). Harganya 50 rupiah atau 25 malah jangan-jangan๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜.

Awal-awal baru belajar mengenal huruf dan angka, karena suka sekali akan makanan ringan itu, bapak pasti membelikannya untuk saya sebagai hadiah seusai belajar. Kopi susu itulah yang menjadi motivasi saya mau belajar. Makanya dari mengenal huruf, lalu mengeja, hingga kemudian kata yang diperkenalkan bapak kepada saya bukan papa, bukan mama, bukan buku, bukan nama saya, bukan yang lain, melainkan KOPI SUSU. Jadilah KOPI SUSU yang menjadi batu loncatan saya belajar membaca kata, lalu kalimat-kalimat lainnya, lalu kemudian bisa menulis panjang seperti yang saya tulis sekarang ini. ๐Ÿ‘ŒHidup KOPI SUSU. ๐Ÿ‘ˆ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘.

Ponaan saya yang baru berusia setahun saja sudah melirik-lirik profil para penulis peserta MIWF 2017 dan berpikir akan menjadi salah satu dari mereka. Nah, kamu kapan memulai? Ayo,  segera tulis pengalaman pertama kali kamu bisa membaca. Ditunggu ceritanya๐Ÿ‘Œ๐Ÿ’ช๐Ÿ‘๐Ÿ˜Š๐Ÿ™.

Demikian secuplik cerita pengalaman bagaimana proses saya pertama kali bisa membaca๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜Ž๐Ÿ™.

Kau sendiri, bagaimana? (kalau kau sempat baca๐Ÿ˜๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚)  Masih ingat pengalaman bagaimana proses pertama kali bisa membaca? Apa kata yang pertama kali bisa dibaca?

๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘‰ Bagikan di kolom komentar๐Ÿ‘‡, atau tuliskan saja di blog pribadimu atau status akun-akun media sosialmu (kok nyuruh-nyuruh ya, repot amat, cerita lu ya cerita lu, jangan sewenang-wenang. siapa yang mo ikut-ikutan mesti repot-repot nulis cerita segala ๐Ÿ˜€ // Ok, tak masalah, mau nulis silakan, tidak pun bukan masalah. it’s not a big deal :D) atau boleh saja kok diam-diam susun ceritanya sendiri di kepalamu dan tersenyumlah. God bless you๐Ÿ™๐Ÿ˜ป๐Ÿ˜˜.