Kegiatan Seni dan Budaya

Menulis Ulasan tentang Salihara

IMG_20180202_233603.jpg
muncul setelah tiga bulan berlalu 19/18/17 – 2/02/18

Kau pernah pergi ke suatu tempat, atau singgah sebentar di sana, lalu terus ke tempat lain. Tanpa kau sadari keberadaanmu pun diikuti selama di tanganmu tergenggam yang namanya telepon pintar.

Antara yang baik dan tidak. Tapi ini dunia sekarang yang kau hadapi. Tak ada lagi ruang pribadi untukmu. Kau pikir hanya Tuhan saja yang tahu keberadaanmu? Ah, apakah pembanding ini bersifat aple to aple? 

Antara senang atau tidak dengan apapun nama aplikasi ini, baiklah, dia membantu mengingatkan. Namun, apakah akan baik selalu begitu? Tak juga.

Tapi karena yang diminta di sini (permintaan yang muncul begitu saya membuka akun facebook saya) adalah Komunitas Salihara maka baiklah saya menyanggupinya. Saya bersedia menulis sedikit tentangnya. Tapi bukan di tempat yang diminta. Saya memilih menuliskannya di blog ini.

Ok, langsung mulai saja.

Pada bulan Oktober 2017 lalu, Komunitas Salihara pernah mengundang saya dan beberapa teman sebagai peserta Forum Penulis Muda Indonesia untuk mengikuti festival mereka yang disebut dengan LIFEs. Saya pun berangkat ke sana dari Kupang.

Setibanya di sana, kami disambut Mbak Wikan dari Yayasan Lontar dan Rebbeca yang adalah koordinator kegiatan LIFEs ini.

Komunitas Salihara ini punya beberapa gedung. Ada galeri, gedung teater, taman, kafe, butik, wisma, dan beberapa ruang lain lagi.

Nah, selama mengikuti kegiatan lifes itu, kami yang tergabung dalam FPMI menginap di Wisma Salihara. Terletak di salah satu gedung lantai 2 dan 3.
Keadaannya cukup tenang. Mungkin karena terletak agak ke dalam, tidak langsung berhadapan dengan jalan raya. Kami menikmati makan siang yang disajikan sambil menunggu kedatangan kawan-kawan lain.

Tak berapa lama, Mbak Ayu Utami, sebagai yang mengundang kami, datang. Di tangannya ada sekantung plastik botol-botol kecil kopi. Ukurannya seperti botol yogurt atau mungkin lebih kecil lagi.

Ada dua alasan saya senang dengan kedatangan itu.

Pertama, ini yang ketiga kalinya saya bertemu dengan Mbak Ayu. Pertemuan ketiga ini jauh lebih tenang. Tidak seheboh kali pertama ketika Mbak Ayu bertandang ke UPH dan saya sendiri adalah mahasiswa semester 5. Peristiwa itu masih terekam baik di kepala saya.

Alasan kedua, saya menyukai kopi. Apalagi kopi ini baru. Lumayan bisa cicip-cicip kopi baru.

Berbincang-bincang sebentar kemudian kami beristirahat sebelum memulai sesi sore itu hingga malam. Hari pertama Lifes itu berkisar tentang penerbitan buku serta acara perayaan ulang tahun Yayasan Lontar.

Cerita tentang hari pertama LIFEs sudah saya posting sebelumnya. Di LIFEs Hari Pertama. Berikutnya hari kedua, ketiga, hingga hari keempat sebagai hari terakhir, punya momen dan kesannya sendiri-sendiri. Akan menyusul tulisannya juga.

IMG20171022221137Namun secara keseluruhan, saya berterima kasih pernah dibawa ke Komunitas Salihara untuk melihat langsung dari dekat program-program mereka tentang kesenian dan kebudayaan. Meski tak semua bisa dipelajari hanya dalam tiga empat hari, tapi setidaknya punya gambaran tentang tempat mereka berkegiatan, aktivitas seperti apa saja yang dilakukan, bentuk kerja sama seperti apa yang mereka jalin dengan pihak lain, siapa orang-orang yang bisa diundang atau tertarik datang ke sana, seperti apa situasinya ketika kegiatan berlangsung, semangat dan mimpi apa yang ingin mereka sebarkan, dan berbagai hal lainnya. Tentunya, pengalaman saya mengikuti kegiatan di Komunitas Salihara sangat memperkaya.

Akhir kata, saya rekomendasikan saja kalau kau orang yang tinggal di sekitaran Jakarta dan berminat dengan kegiatan kesenian dan kebudayaan, silakan saja cek-cek agenda mereka di websitenya, salihara.org, siapa tahu kau tertarik dan mau bergabung, minimal ikut belajar saat mereka mengadakan workshop atau diskusi yang bersifat terbuka untuk umum.

Iklan