Cuplikan Cerita Lentera

Cerita Momen Pengumuman Kelulusan SMP Kristen 1 (SLH) Kupang — Bagian 1

Pagi-pagi ketika sedang mempersiapkan diri untuk acara pengumuman kelulusan di pukul 10.00 wita nanti, ada satu kawan saya yang menunjukkan pesan masuk dari seorang murid. Isinya adalah foto rekapan nilai tertinggi per sekolah. Tak disangka, ternyata nama SMP Kristen 1 alias SMP Lentera Harapan Kupang bertengger di urutan pertama. Sontak saja kami kaget. Kenapa? Karena kami tak tahu-menahu hal itu sebelumnya. Memang di hari Jumat kemarin, kami sudah sempat diberi tahu kepala sekolah terkait nilai anak-anak, tapi tentang perbandingan nilai dengan sekolah-sekolah lain tidak ada sama sekali pemberitahuan. Saking kagetnya, kami sampai menjulurkan kepala serentak dan nyaris merusak beberapa barang yang ada di meja piket😅😂.

Rasa girang menjadi penyemangat tersendiri seharian itu hingga kemudian saya teringat dengan masa-masa awal ketika Lentera baru pertama kali masuk di Kupang.

Tahun 2011 adalah masa pengalihan manajemen beberapa sekolah di bawah Yupenkris GMIT Kupang ke YPPH salah satunya adalah SMP Kristen 1 Kupang. Tahun pertama ketika kami datang, sekolah ini masih meninggalkan dua angkatannya yakni yang duduk di bangku kelas 8 dan kelas 9. Siswa kelas 8 waktu itu hanya satu kelas berjumlah 22 orang. Sementara siswa kelas 9 terdiri dari tiga kelas dan berjumlah kurang lebih 80/90-an orang (saya kurang ingat berapa persisnya).

Tahun-tahun awal itu punya tantangan dan pergumulan tersendiri. Bagaimana kami yang rata-rata baru lulus (memang ada beberapa di antara kami yang sudah pernah setahun dua tahun mengabdi di tempat lain) harus menyesuaikan diri dengan karakter anak-anak remaja yang kalau tak salah dengar mereka masuk ke sekolah ini pun adalah pilihan terakhir mereka alias tak tahu ke mana lagi harus mendaftar karena rata-rata sekolah sudah ditutup pendaftarannya.

Mengajar mereka butuh kesabaran ekstra. Terlalu banyak faktor yang perlu dipertimbangkan untuk mendongkrak mereka belajar. Banyak di antara mereka yang datang ke sekolah tanpa tahu alasan pasti kenapa harus ke sekolah. Banyak yang tinggal bukan dengan orang tua kandung. Atau bahkan dengan orang tua sekali pun, keadaan kemampuan ekonomi dapat dibilang penuh perjuangan untuk dapat sekadar bertahan hidup. Maka untuk membeli alat tulis saja susah apalagi membeli buku paket. Tak hanya itu, jejak-jejak sekolah lama pun masih melekat erat dalam dada mereka. Ada pemberontakan kecil-kecilan seperti keinginan untuk bolos, suka alpa, memaki secara terang-terangan, merokok atau minum-minum di luar jam sekolah. Sebagian besar di antara mereka jarang membaca buku. Banyak hal (dalam hal ini wawasan/pengetahuan umum) kurang mereka tahu.

Sewaktu persiapan UN, mereka ‘digodok’ habis-habisan. Kala itu UN masih menjadi penentu kelulusan. Hampir setiap hari mereka diberikan jam tambahan di sekolah.

Hingga UN itu datang. Karena sekolah menghidupkan yang namanya integritas, semua ujian baik sekolah dan nasional dilaksanakan dengan menganut asas kejujuran. Tak ada contekan atau semacamnya demi membantu siswa saat UN.

Ketika datang pengumuman hasil UN, kami semua membeku. Hasilnya adalah 60-an persen. Ini artinya banyak yang tidak lulus. 20-an orang waktu itu kalau tidak salah. Sempat membeku dan seperti hilang sadar, kami diingatkan kembali untuk bersyukur dan berbangga. Setidaknya kami tahu bahwa mereka yang lulus adalah benar-benar lulus murni. Tak ada permainan dan kecurangan di dalamnya.

Dalam sekejap saja, berita kelulusan dari SMP Kristen 1 Kupang langsung tersebar. Katanya, ini pertama kali dalam sejarah, presentasi kelulusan SMP Kristen 1 Kupang tidak mencapai 100 persen sementara semua siswa dari sekolah lain di Kupang atau mungkin NTT lulus 100 persen.

Sampai ada kabar yang saya dengar, katanya ini menjadi tamparan buat kesombongan dan ‘kesokpintaran’ kami. “Baru saja lulus, belum ada pengalaman, ‘sok pintar sok hebat’ sampai mereka yang sudah lebih dahulu mengabdi harus disingkirkan. Lihat itu hasil UN-nya.” Kalimat ini begitu tajam dan kejam kalau memang ditujukkan kepada kami. Dalam hal ini kami tidak tahu apa-apa. Hanya mengikuti instruksi, ditempatkan di sekolah ‘A’, sekolah ‘B’ dst.

Proses seleksi yang diadakan pihak yayasan pun tak pernah ada di benak saya sebelumnya. Saya baru tahu bahwa tiga guru lama yang akan bersama kami adalah para guru terpilih. Dan memang pada kenyataannya, seiring berjalannya waktu, sampai detik ini bahwa benar mereka adalah guru-guru berdedikasi tinggi. Mereka adalah orang-orang yang cinta Tuhan, cinta anak-anak, dan mau terus belajar mengembangkan diri untuk pengajaran, yang juga rendah hati dan ‘manis selalu’ (mereka kemudian menjadi kawan-kawan baik kami😉).

Anak-anak kami yang tidak lulus, kami urus baik-baik. Sebagian ada yang mengurus paket B, sebagian memilih mengulang. Meski banyak cibiran dari orang-orang seberang (entah seberang mana yang saya maksud, intinya adalah mereka yang iri dengan keberadaan Lentera di Kupang) anak-anak kami tak ada yang memperlihatkan rasa ketidaksukaan atau mungkin rasa marahnya kepada sekolah, ‘gara-gara guru2 sok idealis inilah saya tidak lulus, coba sekolah ini tidak beralih, pasti saya lulus.” Tidak. Tidak pernah saya dapati ada sorot mata yang menyiratkan demikian. Mereka tahu betapa kami mengasihi dan mendoakan mereka. Mereka tahu kami ikut menangis bersama mereka. Mereka tahu kami mengasihi mereka meski ini sakit dan berasa pahit. Mereka tahu bahwa rasa kasih tidak harus diungkapkan lewat membantunya lulus tapi secara curang. Mereka tahu bahwa kejujuran adalah hal penting yang harus mereka pegang. Mereka tahu, ada nilai penting ‘yang lebih penting’ dari sekadar angka dan tanda ‘lulus’ di selembar kertas yang mau ditanamkan gurunya dalam diri mereka.

(Bersambung…)

Refleksi

Kapsul 73: Melihat Perayaan Paskah Bersama Kel Besar Lippo Group Kupang dari Novel “Kekekalan” Milan Kundera

Tahun ini adalah tahun pertama diadakannya perayaan paskah bersama Kel Besar Lippo Group (LG) di Kupang sejak SLH masuk di Kupang tahun 2011, kemudian disusul Siloam Hospital, Lippo Plaza, dan yang lain-lain tahun-tahun berikut.

Sebagai salah satu bagian di dalamnya, saya hanya ingin melihat kegiatan hari ini dari sudut pandang novel ‘Kekekalan‘ Milan Kundera. Ini tidak sama sekali berkaitan dengan penyelenggara, panitia, atau siapa pun mereka, tetapi lebih kepada my personal reflection😉😊.

Bertahun-tahun sebelumnya, bila mengikuti perayaan semacam ini, pasti jauh dalam hati saya ada semacam rasa bangga. Toh, di kota sekecil Kupang ini, bekerja di bawah payung LG punya nama dan harga tersendiri.

Ketika kau masih meraba-raba identitas, dan menemukan bahwa kau ada dalam satu lingkaran tertentu yang seolah ketika orang menyebut namamu, langsung melekat dengan institusi tertentu, kau langsung merasa seolah itu sudah kau. Dirimu melekat dengan atribut itu. Seolah-olah hanya itu, satu-satunya tempat kau melekat. Seolah-olah atribut itulah napasmu, dan bila bukan dengan itu kau tak bisa hidup.

Berkaca dari novel ‘Kekekalan‘ Milan Kundera, ada dua pribadi kakak beradik yang digambarkan berbeda. Sang adik mengagul-agulkan ‘penambahan‘ sebagai pecinta kucing. Ingin dikenal dan dilekatkan dirinya dengan atribut sebagai pecinta kucing. Sementara sang kakak lebih memilih jalan ‘pengurangan‘. Mengurangi segala yang terlihat di luar, sebaliknya lebih berusaha melihat ke dalam.

Apa maksudnya penambahan dan pengurangan ini?

Dari sisi penambahan, biasanya seseorang selalu berusaha menambahkan dirinya dengan atribut ini atau atribut itu. Ingin dikenal dengan sebutan ini atau sebutan itu. Mereka bergabung dengan berbagai komunitas atau kumpulan apa pun itu, yang membangun atau pun hanya sekadar senang-senang, hanya demi sebuah identitas diri atau untuk mengeruk keuntungan pribadi. Mereka kemudian bangga menyebut dirinya sebagai ini atau itu. Bahkan sebagai follower sekali pun tanpa ikut berkarya sebagaimana yang diidolakan. Hanya sekadar bangga menyebut diri saya adalah *…ersers (maksudnya sebutan untuk pengikut fanatik orang atau kelompok tertentu yang diidolakan). Contoh saja: walkers, kpopers, beliebers, dll (maaf kalo yang salah tulis, saya belum mengecek pengejaannya).

Sementara dari sisi pengurangan, seseorang sudah tidak melihat atribut-atribut yang dipasang sebagai pembentuk identitas dirinya, yang kemudian serakah mengeruk untuk dirinya sendiri. Ia sudah lepas dari pandangan tersebut. Ia tak lagi sibuk menambal-nambal dirinya dengan bergabung mengikuti ini atau itu, hanya untuk dikenal sebagai “oh, dia itu walkers lho, a/ oh, dia itu penggila anu, a/ oh, kau boleh sentuh ‘ininya dia’ dia bisa meradang, dan meraung lebih dari singa betina, a/ oh, dia itu *…ers juga, kan, ya,” dst. Dia tidak sekadar bergabung untuk numpang majang, mendapat madu yang banyak, atau melirik-lirik mangsa. Sebaliknya ia memang mungkin tetap mengikuti tapi dengan alasan dan tujuan berbeda, ingin mengurangkan segala ego yang melekat dan kembali menemukan dirinya lebih dalam lagi. Ingin belajar lebih tentang apa yang bisa dilakukan dan bagaimana melakukannya agar serupa dengan yang diikuti, dikagumi, diidolakan, dipuja, atau bahkan yang disembahnya. Pada mereka inilah, akan kau lihat ada spirit dari kedalaman mereka yang terpancar keluar. Buah mereka, sesederhana sebuah sapaan atau senyum pun tentu punya nilai yang berbeda.

Cuplikan Cerita Lentera

Kapsul 69: Personal Retreat GSK SMP/A Lentera Harapan Kupang “18

Sebagaimana air yang terus mengalir, biarlah segala yang busuk dalam diri terus dialirkan keluar dan yang baru yang lebih segar akan datang menggantikannya.

Tema personal retreat kali ini adalah Diadopsi Allah. Bagian yang mengikutinya adalah pengampunan. Sebagai stimulannya, peserta diajak menonton sebuah film berjudul October Baby. Seusai menonton, peserta diminta membuat refleksi terkait film tersebut serta menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan. Ada dua topik yang boleh dipilih. Satunya tentang “Diadopsi sebagai Keluarga Allah, dan satunya lagi tentang “Pengampunan“.

Tepat pukul 12.00 siang, peserta dipersilakan makan siang. Menu makan siangnya ikan bakar (di Kupang, kau tidak akan kesulitan mendapat menu ikan bakar semacam ini — ikannya segar-segar, boo‘😄).

Seusai makan siang, dilanjutkan sharing dalam kelompok kecil yang sudah ditentukan. Di dalam kelompok itulah setiap orang berbagi refleksi apa yang diperolehnya terkait dengan tema retreat ini. Saya sendiri mengambil bagian pertama, Diadopsi sebagai Keluarga Allah. Seperti tokoh utama, bahkan sudah diadopsi sebagai keluarga pun, saya masih saja meragukan seberapa besar kasih Allah terhadap saya. Masih ingin melihat yang lain yang belum tentu secara total mencurahkan kasihnya kepada saya padahal. Untuk itulah dari sini saya makin dikuatkan agar 👉👇 sepenuh hati mempercayakan hidup kepada Dia yang sudah mengadopsi kamu sebagai anak-Nya. Demikian satu dari beberapa poin yang saya tulis dan saya bagikan di sini😉😘.

Cuplikan Cerita Lentera

Kapsul 54: Pembuatan Slogan/Poster berdasarkan Butir-butir Profil Lulusan SLH

Tujuan dari pembelajaran pembuatan poster ini adalah siswa sendiri bisa mengampanyekan butir-butir profil lulusan SLH. Plakat yang memuat profil Lulusan SLH jangan jadi pajangan saja di tembok. Tapi penting dibaca dan bisa dihidupi dalam keseharian mereka.

Ada beberapa contoh poster yang bagus lainnya, tapi sudah terlanjur saya kembalikan sebelum sempat memotretnya. Mungkin ke depan, mereka bisa membuatnya dalam bentuk digital agar lebih mudah dipromosikan. Hanya sayang, kalau dalam bentuk digital, kenikmatan dalam proses tentu terasa berbeda. Feel-nya beda maksudnya😉😄.

Cuplikan Cerita Lentera, Cuplikan Cerita UPH

Kapsul 6: Bertemu Pak Parapak dan Ibu Ban Garcia

IMG20180131155526.jpg

Sore tadi sepulang sekolah, kami guru-guru SDH dan SLH berkesempatan bertemu dengan Pak Jonathan Parapak. Beliau adalah rektor UPH di Karawaci Tangerang sekaligus salah satu dari pendiri Perkantas. Dalam pertemuan singkat itu, beliau menyampaikan maksud kedatangan dan beberapa hal terkait perkembangan SDH-SLH di Kupang. Selain mengapresiasi SDH dan SLH yang sudah memberi dampak bagi Kupang, beliau pun menambahkan beberapa pesan selayaknya orang tua kepada anak.

Terkait bapak ini, saya sendiri sebenarnya punya satu kesan khusus.

Pernah suatu kali saya baru saja keluar dari Books & Beyond (waktu itu namanya Times Bookstores) yang terletak di gedung A, satu gedung dengan rektorat, beliau juga baru saja keluar dari lift. Kami berpapasan di pintu keluar gedung A. Beliau berjalan pelan-pelan. Karena tahu beliau menuju gedung asrama, tempat tinggalnya di kampus (kami satu asrama, tapi punya beliau yang VIP tentunya. beda lift), saya pun sengaja berjalan perlahan-lahan. Maksud saya, ya, menemani sekalian siapa tahu bisa mengobrol langsung. Taman kampus tidak terlalu ramai tidak juga terlalu sepi. Jam normal sore, kira-kira pukul 16.00.

Merasa seseorang menguntitnya agak lama belakang, sudah setengah perjalanan, kira-kira 150 meter, beliau menoleh perlahan.

“Mau lebih dulu?” beliau bertanya. Karena saat itu kami sedang berada di setapak tunggal di taman.

Saya menggeleng dan terkekeh saja. “Tidak apa-apa, Pak,” begitu saya bilang.

“Saya jalannya pelan-pelan,” katanya.

Saya tidak tahu mau jawab apa. Jadi saya mempercepat langkah saya bermaksud menjajari langkahnya. Cukup muat ternyata setapaknya. Entah saya yang memulai atau beliau, akhirnya tercapai niat saya. Setelah biasanya hanya bisa mendengar dari mimbar chapel, akhirnya saya bisa mengobrol langsung dengan beliau. Obrolannya tidak berat-berat amat memang, karena hanya berupa basa-basi. Di pelataran depan gedung D, nampak mahasiswa teknologi pangan sedang mengadakan bazar kerak telur dan es goreng. Beliau menawarkan saya singgah melihat-lihat. Karena tak punya uang, dan kesannya sok SKSD juga kalau saya iyakan untuk singgah bersama-sama dengan rektor, saya pun menolak dengan sopan. Beliau singgah menengok bazar, saya melanjutkan perjalanan ke gedung asrama.

Demikian satu kesan saya tentang Bapak Parapak.

Selanjutnya, selesai beliau menyampaikan beberapa pesan kepada guru-guru, karena mesti ada jadwal wawancara dengan satu koran di Jakarta, beliau pun mengembalikan mik.

IMG20180131161651.jpg

Pertemuan dilanjutkan dengan Ibu Ban, seorang pembibing spirirual growth dari UPH. Beliau orang Filipina. Dulu alharhum suaminya yang juga berasal dari negara yang sama, adalah seorang teolog yang cukup berpengaruh di Asia Tenggara, yang juga pengajar di kelas teologi kami. Sepeninggal suaminya, ia masih tetap melayani mahasiswa hingga alumni dari UPH yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia termasuk Kupang.

Ada beberapa hal penting yang disampaikan Ibu Ban Garcia. Dari yang bersifat esensial hingga berupa hal-hal praktis.

Di antara yang disampaikan, ada satu hal yang saya pikir istimewa. Meski itu hanya sempat disinggung saja. Tentang facing a task unfinished. Katanya perlu dibaca. Reflektif sekali. Karena itulah saya mencatat dan segera mencarinya dan mendapatnya. Terima kasih kepada Ibu Ban. Tuhan berkati selalu pekerjaan pelayaannya.

Berikut lagu “Facing a task unfinished” dari youtube dan syairnya yang saya cuplik dari gettymusic.

Facing a task unfinished 
That drives us to our knees
A need that, undiminished
Rebukes our slothful ease
We, who rejoice to know Thee
Renew before Thy throne
The solemn pledge we owe Thee
To go and make Thee known

Where other lords beside Thee
Hold their unhindered sway
Where forces that defied Thee
Defy Thee still today
With none to heed their crying
For life, and love, and light
Unnumbered souls are dying
And pass into the night

We go to all the world
With kingdom hope unfurled
No other name has power to save
But Jesus Christ The Lord

We bear the torch that flaming
Fell from the hands of those
Who gave their lives proclaiming
That Jesus died and rose
Ours is the same commission
The same glad message ours
Fired by the same ambition
To Thee we yield our powers

We go to all the world
With kingdom hope unfurled
No other name has power to save
But Jesus Christ The Lord. 

atau video yang sekalian dengan liriknya:

https://www.youtube.com/watch?v=zOpt_bulJxY

Cuplikan Cerita Lentera, Kegiatan Pengembangan Guru

Kegiatan Profesional Development Semester Genap 2017/2018 SLH Kupang

Sudah menjadi program SLH setiap awal semester diadakan profesional development (PD). Pembicara untuk setiap PD bergantian dari Tim Professional Development and Curriculum Enrichment (PDCE) yang dibentuk YPPH maupun dari sister school, sebutan untuk sekolah-sekolah di bawah naungan YPPH baik SDH maupun SDH untuk saling berbagi dengan SLH tertentu.

Bila semester sebelumnya SLH Kupang didatangi Tim PDCE dan SPH Cikarang, maka semester kali ini dari SPH Kemang Village dengan pembicara Ibu Riama Agustina Sinaga dan Ms Laura Dale Lee. Bila semester sebelumnya fokus PD adalah assesment as a blessings, maka kali ini lebih berfokus kepada pendisiplinan siswa dan strategi belajar untuk “struggling learner’.

Mengenai pendisiplinan pada sesi hari pertama, Ibu Agnes dan Ms Laura berbagi tentang perbedaan punishment atau hukuman dan consequences atau konsekuensi. Meski ini bukan lagi sebuah hal baru, tapi menurut beberapa testimoni beberapa guru, PD ini mengingatkan dan menyegarkan kembali akan bentuk pendisiplinan yang selama ini sudah diberikan kepada siswa.

Sebagai guru, penting sekali kita memahami perbedaan dua hal ini agar penerapannya tidak salah kaprah. Dibanding punishment atau hukuman, kenapa tidak sebaiknya yang diberikan kepada siswa adalah konsekuensi. Bahkan pemberian konsekuensi pun, bukan sembarang konsekuensi. Perlu dipertimbangkan dua hal berikut yakni natural consequences atau konsekuensi alami dan logical consequences atau consekuensi logis. Apa maksudnya? Penjelasan berikut mungkin bisa memberi gambaran. Konsekuensi natural yakni konsekuensi sebab akibat atau hasil dari sebuah tindakan yang terjadi secara alami. Contoh: seorang anak sudah diperingatkan mengenai waktu berangkat field trip, tapi kemudian datang terlambat, dan akibatnya adalah ia ditinggal pergi. Dengan demikian si anak belajar, bila saya datang terlambat dari waktu yang sudah ditetapkan, maka saya tidak ditinggal. Saya tidak berangkat bersama-sama dengan teman saya. Konsekuensi logis yakni akibat yang diterima dari suatu tindakan melanggar peraturan atau kesepakatan. Akibat atau konsekuensi tersebut harus bisa diterima, maauk akal, dan berhubungan dengan perilaku tersebut. Contoh: seorang anak yang sudah bersepakat dengan orang tua akan bermain PS hanya selama sejam sehari, melewatkan hingga dua jam, maka jatah main hari besoknya tidak boleh dipakai. Demikian sedikit catatan dari kegiatan PD hari pertama.

Mengenai strategi untuk ‘struggling learner’, sebutan untuk mengganti ‘slow learner’ atau pelajar yang lambat, pada hari kedua, Ibu Agnes dan Ms Laura membagikan banyak cerita terkait hal ini terutama tentang pentingnya persiapan guru. Satu hal menarik yang ditunjukkan yang bisa menjadi contoh adalah penggunaan attractive notebooks.

Penggunaan attractive notebooks hanyalah salah satu cara membuat siswa yang digolongkan dalam ‘struggling learner’ agar lebih menikmati belajar. Ada masih banyak cara lain yang bisa dipelajari di buku-buku tentang strategi mengajar atau di internet terutama yang direkomendasikan sekali adalah pinterest. Hanya perlu diingat bahwa tidak semua metode dan strategi mengajar di sana dijiplak mentah-memtah untuk diterapkan. Kau boleh mempelajari contoh-contoh di sana, pelajari, baru sesuaikan dengan situasi kelasmu sendiri👌💪. 

Bersyukur bahwa untuk PD kali ini, SLH tidak sendiri. Tapi beberapa perwakilan guru dari sekolah-sekolah tetangga yang berada di bawah naungan Yapenkris Nehemia Kupang juga ikut diundang. Sekolah tersebut antara lain SMA Kristen 1 Kupang, SMK Kristen 1 Kupang, dan SMK Kristen 2 Kupang. Berharap, bapak/ibu guru tersebut bisa memperoleh hal bermanfaat dari kegiatan PD SLH Kupang ini dan membagikannya kepada sekolah masing-masing. Soli Deo Gloria. 


 

Cuplikan Cerita Lentera

Seminar Orang Tua Siswa SLH Kupang Semester Genap 2017/2018

Di SLH Kupang, kegiatan profesional development (PD) untuk guru selalu dibarengi dengan seminar orang tua siswa. Bila di seminar orang tua sebelumnya, tema seminar adalah hikmat yang memimpin, maka semester ini tema semi adalah discipline with encouraging words atau pendisiplinan dengan kata-kata yang membangun.

Seminar tersebut dihadiri oleh para orang tua siswa SLH Kupang, baik dari TK, SD, SMP, maupun SMA. Berlangsung pada hari Kamis, 25 Januari 2018, pada pukul 17.30-hingga 18.15 wita. Dibuka dengan menyanyikan sebuah pujian dan doa.

Seminar dengan dua pembicara ini dibagi menjadi dua sesi. Namun sebelum masuk kepada sesi seminar, dengan dipandu MS Laura Dale Lee, para orang tua siswa diajak melakukan sebuah permainan kecil dengan instruksi, “stand up if… ” berkaitan dengan jumlah anak yang dimiliki peserta masing-masing. Sebuah trik menarik perhatian peserta di awal kegiatan yang baik.

Sesi pertama dimulai oleh Ibu Agnes Sinaga, mengingatkan kembali landasan atau fondasi orang tua dalam memberikan pendisiplinan kepada anak-anak. Firman Tuhan seperti yang terdapat dalam: Ul 6, Ef 5:21-33, Kol 3:21, Ef 5:22, Kel 20: 12, ditekankan bukan sebagai tempelan belaka, melainkan menjadi pedoman orang tua dalam bertanggungjawab mendidik anak yang sudah dipercayakan Tuhan kepada mereka. Berangkat dari memegang Firman Tuhan sebagai landasan, maka kau akan menemukan strategi atau teknik untuk membantu pendisiplinan anak.

Menyambung dari hal tersebut, sesi kedua pun dimulai. Ms Laura sebagai pembicara dengan translator Ibu Sabrina Nalle membagikan empat tips  yang perlu diperhatikan oleh orang tua.

Empat hal tersebut antara lain:

  1. Focus Attention (perhatian penuh)
  2. Individual affirmation (penguatan pribadi)
  3. Genuine accepptance (penghargaan yang tulus)
  4. Physical aaffection (sentuhan kasih sayang)

Dalam menyampaikan empat hal tersebut, beliau menyertakannya dengan cerita pengalaman dan kasus yang pernah ditemui sehingga bisa diikuti dengan baik oleh para orang tua siswa.

Di sesi tanya jawab, para orang tua dipersilakan mengajukan pertanyaan dengan menuliskannya pada secarik kertas yang dibagikan panitia saat mendaftar masuk, yang kemudian disortir panitia agar pertanyaan yang mirip dapat disatukan. Hal ini untuk mengantisipasi kericuhan saat sesi tanya jawab berlangsung. Bentuk pengajuan pertanyaan ini bisa dinggap bekerja dengan baik.

Seminar selesai tepat waktu, ditutup dengan doa, dan para peserta pun meninggalkan ruangan dengan tertib.

Para panitia langsung mengadakan evaluasi saat itu juga kemudian doa pulang. Syukur kepada Tuhan, seminar berjalan baik hingga akhir.