MIWF 2017

Cerpen saya masuk Antologi “Dari Timur 2” yang akan diterbitkan GPU

Sebelumnya sudah ada cerpen-cerpen saya yang ikut diseleksi kemudian dimasukan dalam sebuah antologi atau jurnal dan diterbitkan. Seorang penulis, biasanya kalau tulisannya ikut dimuat dalam sebuah buku dan diterbitkan, perasaannya tentulah senang dan berpikir setidaknya dalam hidupnya ia telah mengekalkan suatu arti dalam hidupnya.

Demikian yang saya rasakan setiap cerpen saya ikut dimuat dalam antologi dan diterbitkan. Tapi kali ini ada yang berbeda dan lebih istimewa. Kalau biasanya buku yang di dalamnya ada tulisan saya itu adalah hasil dari inisiatif beberapa komunitas kecil atau badan bahasa provinsi, maka kali ini yang akan menerbitkan buku antologi di mana di dalamnya ada satu cerpen saya adalah Gramedia Pustaka Utama (GPU).

Buku yang akan diterbitkan itu adalah sebuah antologi sajak dan cerpen. Judulnya Dari Timur 2. Maksudnya adalah Dari Timur vol.2. Sebelumnya sudah ada Dari Timur vol.1. Buku-buku ini berisi karya para penulis yang pernah lolos kurasi sebagai emerging writers di acara MIWF. Sebagai salah satu alumnis EW MIWF tahun 2017, saya pun diundang mengirimkan karya. Ada dua karya saya kirim. Syukur, salah satunya lolos sehingga bisa ikut dimasukan dalam buku antologi yang akan diterbitkan GPU ini.

Rasanya bahagia sekali akhirnya ada tulisan yang diterbitkan oleh GPU. Tahulah, GPU alias gramedia adalah nama yang cukup ‘silau’ di mata seorang yang masih merangkak di dalam dunia kepenulisan.

Luapan bahagia ini rasa-rasanya seperti, kalaupun kau mati hari ini bahkan detik ini, setidaknya ada tulisanmu yang pernah diterbitkan gramedia” (seolah-olah ini sudah tujuan hidup😄😅).

Sudahlah, apapun itu, saya tahu ini adalah salah satu percik kebaikan Tuhan yang diberikan kepada saya melalui orang-orang di MIWF dan pihak gramedia dan biarlah semuanya dikembalikan hanya kepada Dia yang memberi. #A4J. Soli Deo Gloria.

Iklan
Merayakan Keseharian

Cerita Pagi Hari dari Kota Daeng

Ini tempat di mana saya mencatat kembali mimpi semalam 🙂 😀

Saya sementara mengikuti kegiatan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2017. Hari ini adalah hari ketiga saya berada di Kota Daeng. Senang sekali berada di sini. Pengalaman beberapa hari ini bagi saya berkesan baik (terpujilah Tuhan semesta alam). Akan saya tuliskan di sini tapi belum sekarang 😀

Pagi ini (18/5’17), saya membuka wordpress karena satu mimpi saya yang unik…:D Saking uniknya, sepertinya ada yang kurang kalau tak dipahatkan…:D Tak apalah, ya,  sedikit saya ceritakan tentang mimpi saya semalam.  😀

Jadi begini, entah bagaimana, (ya, bukankah hampir setiap mimpi yang singgah di tidur seseorang biasanya tidak memiliki alur yang jelas) saya dituduh membuat laporan (semacam berita acara pelaksanaan) palsu tentang suatu kegiatan di sekolah (dalam ingatan buram saya kegiatan itu seperti ujian di sekolah). Ada beberapa poin yang saya tuliskan di atas selembar kertas tersebut. Oleh karena tulisan itu, saya dituduh orang-orang (banyak sekali),  sebut saja dari segala penjuru mata angin. Saya sedih,  dan menangis (tentu saja) 😀

Saya ingin membela diri.  Tapi tak bisa keluar suara. Saya hanya diam menerima dengan pasrah tuduhan-tuduhan mereka.  Bahkan saya akan diadili (:D, ast*g*, apa saya terlalu memikirkan tentang segala yang berkaitan dengan hukum-hukaman atau adil-mengadili?). Saya kemudian diseret dan dibawa kepada seorang yang lebih berkuasa, demikian yang saya dengar. Anehnya sama sekali tak ada secuil pun rasa takut dalam diri saya.  Saya mengikuti saja apa seruan orang-orang banyak itu. Di sebuah tanah lapang,  ada dua orang bapak berdiri. Satunya memakai baju batik berwarna coklat, satunya lagi memakai baju kemeja kotak-kotak berwarna softpink. Mereka adalah Ahok dan Jokowi.  (w.o.w…:D). Keduanya menyambut saya. Bahkan Ahok dengan tangannya menarik saya berdiri di sebelah kanannya (what a privilege for me…:D), juga menerima selembar kertas yang disodorkan kepadanya. Kami membacanya bersama-sama. Ada dua poin utama di atas (memang disediakan dua nomor dan saya tinggal mengisi dua nomor instruksi tersebut.  Selanjutnya ada 10 nomor di bawahnya lagi. Tulisan tersebut hanya sampai di nomor Tujuh. Selanjutnya tiga nomor di bawahnya masih kosong.  Kedua bapak tersebut mempelajari tulisan itu dengan saksama. Jokowi mengomentari, di sini memang tidak terbaca kesalahannya. Mungkin, tentang tiga nomor yang tak ada itu, komputer itu kan, kalau membaca tulisan yang menyesatkan, ia akan otomatis mengahapusnya.

Mendengar komentar Jokowi, Ahok manggut-manggut tapi tetap diam. Ia menarik saya dan memeluk saya dengan lengan kanannya sambil tangan kirinya memegang lembar kertas tersebut. “Apa yang mau kau katakan?” tanyanya.

“Saya memang tidak mengisi tiga nomor tersebut,” saya menjawab dengan yakin.

Ia masih tetap diam.  Pelan-pelan ia menoleh kepada saya, “Saya tahu,  kau tidak salah. Tidak benar apa yang dituduhkan orang-orang padamu,” ia tersenyum.  “Pergilah kembali,  dan tuliskan apa yang benar,” lengannya pun melepas saya.  Tepat pada saat itu, alarm saya berbunyi.  Saya harus segera bangun.

@kamar kapsul,  tempat unik dengan orang-orang unik nan keren nan baik hati… 😇