Cinta yang Marah, Trilogi Soekram, dan Pulang

IMG_20170520_205624

Bersama buku puisi Cinta yang Marah dengan penulisnya, M. Aan Mansyur

Salah satu dari sekian buku yang saya bawa pulang dari MIWF 2017 berjudul Cinta yang Marah. Buku bersampul merah ini berisi puisi-puisi Aan Mansyur, penulis puisi-puisi Rangga (;) :D) dalam film AADC2, dan juga merupakan salah satu kurator dalam seleksi emerging writers MIWF 2017. Buku puisi ini salah satu dari empat buku yang baru diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dan diluncurkan di MIWF 2017.

Setelah sebelumnya pernah dihadirkan Melihat Api Bekerja yang disertai ilustrasi-ilustrasi unik, maka buku puisi lain dengan penulis yang sama kali ini pun dihadirkan dengan disertakan potongan-potongan berita peristiwa Mei ’98. Saya mengakui walau saya menulis cerpen dan menikmati puisi,  tapi justru di sini saya lebih terdorong membaca dan mengikuti potongan berita-berita dalam buku bersampul merah ini. 🙂 😀

Dari potongan berita-berita inipun ‘memaksa’ saya mau tak mau mesti kembali melanjutkan dua novel yang sudah saya beli tahun 2016 lalu tapi belum sempat saya selesaikan.  Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono dan Pulang karya Leila S Chudori. Dua novel yang pernah saya intip kemudian saya tutup karena menurut saya tak begitu menarik (baru saya sesali kemudian setelah intens mengenal mereka… :D)

IMG20170527152023Soekram, trilogi ini awalnya saya pikir serupa trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Tetapi rupanya berbeda. Soekram di sini berisi tiga cerita berbeda yang tidak ada sangkut paut satu sama lain selain bahwa ia adalah tokoh rekaan seorang pengarang yang sudah mati (begitu ia mengaku).

Di cerita pertama, Pengarang Telah Mati, Soekram adalah seorang dosen muda yang baru pulang dari luar negeri diperhadapkan dengan huru-hara kota Jakarta Mei 98 yang mana para mahasiswa terlibat demo dan ia sendiri walau awalnya tak tahu-menahu tentang keriuhan itu dipaksa mahasiswanya ikut memberi pendapat dalam rapat-rapat yang digelar. Ia serupa tokoh pasif yang bercerita apa saja yang tampak oleh matanya dan yang ia rasakan. Sewaktu membaca ini saya masih agak sedikit kesal kenapa cerita-cerita dengan latar belakang tersebut masih baru menyentuh hanya tentang tokoh-tokoh yang palingan menjadi korban saat terjadinya peristiwa tersebut, tanpa atau kurang berani menyentuh, misalnya, tokoh utama adalah tentara atau polisi yang bertugas.

Berikut cerita kedua, Pengarang Belum Mati, adalah cerita yang cukup rumit menurut saya. Tokoh Aku, sang editor, seperti baru tahu kalau sahabatnya, pengarang tokoh rekaan Soekram, sebenarnya belum mati. Lalu draft-draft cerita Soekram ditemukan kembali, berlatar belakang tahun 1965 dan cerita ini serupa membaca sebuah catatan mimpi yang terkadang seolah tidak terang ujung pangkalnya. Ada keikutsertaan Soekram dalam rapat-rapat organisasi, ada ayahnya di kampung pengagum sosok pemimpin besar revolusi dan pengikut partai tanda segeitiga kepala banteng, adiknya yang ditangkap polisi karena membela petani, seorang teman kulihnya, Maria, yang pandai berdeklamasi, yang lalu membawanya mengenal Nengah, seorang anak Bali, kunjungan ke gua, dan yang agak membingungkan adalah aulia, yang katanya adalah sahabat dan gurunya, lalu tentang padang pasir, ada tiadanya larangan mengunyah pasir. Jelas bagian kedua buku ini seperti sebuah catatan spontan tentang mimpi, yang unik dan cukup entah dimengerti atau tidak tetap saja ia sebuah karya yang aduhai.

Di cerita ketiga, Pengarang Tak Pernah Mati, Soekram mengembangkan sendiri ceritanya. Dalam cerita yang ia ciptakan, ia bertemu Datuk Meringgih, juga Siti Nurbaya di tanah Minang. Bagian ini agak menggelitik. Sebab cerita asli karangan Marah Rusli ini ‘dipelintir habis-habisan’ oleh Soekram menjadi kisah Siti Nurbaya versi Soekram, sebuah cerita unik tentang kisah cinta atau kekaguman seorang remaja perjamuan terhadap seorang tua yang adalah paman sahabatnya.

Demikian kurang lebihnya sinopsis tentang Trilogi Soekram ini. Selanjutnya adalah kejeniusan pengarang, dalam hal ini Sapardi Djoko Damono, menempatkan pikiran-pikiran liarnya. Memanfaatkan sesuatu yang sederhana hingga bisa tercipta sebuah trilogi yang patut diacungi jempol.

Buku berikutnya adalah Pulang karya Leila S Chudori. Saya sudah tak begitu ingat kapan tepatnya buku ini saya beli. Seingat saya, seusai membeli dan membawa pulang buku ini, saya sempatkan diri membaca saat itu juga. Sekilas mengamati secara cepat dan keseluruhan buku ini bagi saya bagus karena menyertakan referensi-referensi penting untuk selanjutnya bisa dikenal dan dicaritahu pembaca. Hanya ketika baru awal-awal membaca, saya sudah memutuskan untuk tak melanjutkan. Dalam hati saya mengomel, kenapa selalu buku-buku sastra yang dipuja-puji bagus, yang mendapat berbagai penghargaan mesti (sering) dibumbui yang bersifat dewasa.  Bagaimana saya bisa rekomendasikan anak-anak SMP untuk membaca sebuah cerita yang  bagus kalau patokan cerita yang bagus selalu seperti itu. Begitu pikir saya (:D) sewaktu membaca di awal-awal buku Pulang mengisahkan tentang pertemuan Dimas Suryo dan Viviane di antara keriuhan mahasiswa Sorbonne Mei 1968. Jadilah buku itu saya simpan untuk beberapa lama hingga setelah membaca Cinta yang Marah dengan alasan bahwa buku Pulang ini juga menyimpan kisah tentang sekalian peristiwa ‘65 (seperti halnya Ronggeng Dukuh Paruk) dan peristiwa Mei ’98 (cerita pertama trilogi Soekram).

Dengan kembali mengambil Pulang dan tekad menuntaskan cerita-cerita berlatar peristiwa ’65 dan ’98 itulah, baru kemudian muncul rasa kagum dan salut saya atas usaha dan keberanian penulis novel Pulang. Novel ini sungguh luar biasa. Menyajikan dengan terang (setidaknya tidak terlalu gelap :D, ah, saya pun sebenarnya tak terlalu tahu apa itu terang dan gelap di sini). Novel ini tak hanya kaya, tapi juga ideal. Patut ia mendapat penghargaan KLA 2013. Namun justru terlalu ideal dan sangat ideal itu pula yang menurut saya adalah kekurangannya, kekurangan yang positif bisa jadi. Rasanya seperti mustahil menemukan dalam kehidupan nyata di mana orang-orang berpikiran dan berpendapat ideal. Apa-apa selalu diingatkan dengan nama seorang tokoh ini tokoh itu, masakan ini masakan itu punya filosopinya masing-masing. Andai saja setiap orang, siapapun dia di dunia nyata punya karakter seperti tokoh-tokoh dalam Pulang. Sungguh, intelek sekali orang-orang yang bahkan kita jumpai di pinggir jalan atau di atas bemo atau di dalam pasar atau di mana saja. 😀

Selain kekurangan terlalu ideal itu, bagi saya kekurangan lainnya adalah katanya ia bicara Indonesia, tapi disayangkan bahwa Indonesia yang dibicarakan di sini tiada lain dan tiada bukan hanya berkisar di seputaran pulau Jawa. Paling juga ada nama Sumatra ia sisipkan dengan adanya tokoh Risjaf, atau Sulawesi dengan nama kopinya yang harum mewangi itu. Sayang sekali bahwa hanya itu Indonesia yang ia tahu dan resapi. Sementara Indonesia bukan hanya sebatas itu, bukan? 🙂 Tapi, sudahlah. Mungkin memang harus begitu. Dan biar begitu supaya dapat dikatakan bahwa, baiklah, kalau tokoh-tokoh dalam novel itu terlalu sempurna untuk ditemui di dunia nyata, maka secara keseluruhan novel itu tidaklah sempurna. Ini masih kerja manusia. Kalau terlalu sempurna, bisa-bisa membuat orang tak percaya, ini hasil kerja manusia ataukah makhluk apa, kok bisa sebegini sempurna? Maka, belajar dari kekurangan (yang bagi saya juga justru di saat yang sama kekurangan tersebut menjadi kelebihan novel ini sebab ia  masih mau menunjukkan biarlah supaya orang membaca ini apa adanya, janganlah terlalu sempurna karena kalau terlalu sempurna bisa membuat orang tak percaya dan menganggap ini terlalu membual) ini, mungkin bisa menantang ada lagi orang-orang dari bagian Indonesia yang lain untuk berani membuat cerita dengan latar serupa yang selama ini belum terdengar secara luas dan terbuka, supaya jangan dikira bahwa yang bergejolak pada saat-saat itu hanyalah di daerah-daerah yang itu-itu saja, sebab di titik-titik Indonesia yang lain di luar sana, pernah terjadi juga peristiwa serupa yang memakan banyak sekali korban, mereka-mereka yang sebenarnya tak tahu menahu tentang situasi politik yang ada namun ikut-ikutan dituduh hingga akhirnya mesti mati sia-sia, baik dari yang terlibat secara langsung atau pun sebagai sanak ataupun sebagai keturunan yang pada persitiwa tersebut, bahkan sama sekali belum direncanakan oleh orangtuanya pun, harus ikut-ikutan didiskriminasi hampir dalam segala aspek khususnya urusan negara atau pemerintah. 

Demikian kurang lebih banyak hal baru yang dapat dipelajari dari novel Pulang, baik isi maupun teknik penulisannya. Sedemikian amazing novel ini sampai membuat saya lupa alasan pertama kenapa saya tidak segera menyelesaikan langsung bacaan ini begitu saya baca. Tternyata baru saya sadar ada yang jauh lebih berharga daripada sekadar alasan misalnya kau tak mau melanjutkan makananmu yang disajikan ala resto bintang 5 hanya karena kau melihat ingus kuning atau mendengar atau membaui kentut seseorang di sampingmu. Permisalan lainnya adalah begini,  ketika kau membaca Pulang, dari dua hal yang disodorkan padamu yakni jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kisah kelam di balik tragedi ’65 dan ’98, manakah hal paling penting, utama, dan urgent yang kira-kira mau disampaikan penulis, adalah pilihan masing-masing pembaca. (y) Selamat membaca,  selamat memilih, selamat belajar.😇😉😊

Berita Petang

Di akhir sesi Emerging Writers 2017, seorang peserta diskusi mengangkat tangan dan berkata kalau ia tertarik dengan salah satu cerpen saya yang diulas Bapak Budi Darma berjudul Berita Petang. 🙂 Ia bilang, kalau bisa didapatkan di mana, ia ingin membacanya. Kami sempat berkenalan sesudahnya. Kepadanya saya bilang, “Kebetulan cerpen itu baru saja dimuat di Rubrik Budaya Harian Fajar Makassar Edisi 14 Mei 2017 barusan. Kalau ada korannya, mungkin saya bisa kasih. Tapi kalau tidak pun, saya janji akan mempostingnya di blog biar bisa dibaca.” Nah, sekarang, saya memenuhi janji saya. Btw, nama kakaknya, sayang 😦 dan maaf, ingatan saya tak begitu bagus.  

Selamat membaca... ♥♥♥

***

4e347-20170514_222513

Sumber foto:mgp

Berita petang di televisi mengabarkan seorang buruh TKI mati terlindas truk pengangkut kelapa sawit. Suara perempuan pembawa berita itu pun menyebut nama korban. Terdengar tak asing, kupelototi lagi layar televisi. Terpampang jelas foto adikku di sana. Terkesiap, aku hanya menganga. Cepat kuambil ponsel yang sejak siang tadi tak kutengok. Puluhan pesan dan panggilan telepon masuk tak terbaca. Panik seketika menyergap, aku terduduk di lantai.

Adikku, satu-satunya adik laki-laki di rumah. Dulunya dia anak pintar. Pernah sewaktu SD, dua sampai tiga tahun berturut-turut kami meraih peringkat pertama di kelas masing-masing. Kuingat betul suatu kali seusai penerimaan rapor, di kantin sekolah, para orang tua ramai membicarakan kami berdua. Lalu ada komentar kakak kelas, seorang anak laki-laki bertubuh jangkung berkulit kuning langsat yang wajahnya serupa pemeran tokoh Jack dalam film Titanic, yang di kemudian hari waktu SMA tak henti-henti mengejar ingin aku menjadi pacarnya, berkomentar, “Wih, keren, ya. Kakak beradik sama-sama mendapat rangking satu.”

Walau komentarnya tak dihiraukan, dalam hatiku menguar rasa bangga tak terkira. Tahu saja, bapak dan ibu kami dulunya tak sempat tamat SD. Tapi dua anaknya justru dikerahkan betul-betul untuk berprestasi. Pelajaran dasar membaca dan berhitung bahkan sudah kami kuasai sebelum masuk TK. Ibu mengenalkan huruf, bapak mengenalkan angka. Paduan sempurna.

Sayang, semakin beranjak besar dan punya banyak kawan, adikku semakin lebih banyak bermain daripada belajar. Berbekal ketapel, siang hari mereka berburu burung, malam hari beralih ke kelelawar. Nilainya pun merosot.

Orang-orang mulai membandingkannya denganku yang suka belajar dan membaca. Mereka kerap menjulukinya seorang pemalas dan bodoh. Menertawakannya ketika pagi-pagi ia beriringan denganku berangkat ke sekolah. “Masih ke sekolah? Untuk apa kalau tak dapat nilai bagus seperti kakakmu?”

Lambat laun, mendekati kelas besar SD, ia pun benar-benar malas belajar. Nyaris tak pernah mau lagi menyentuh buku di rumah. Ia terpaksa saja pergi ke sekolah. Baginya ke sekolah hanyalah untuk bertemu kawan-kawan. Sekolah adalah tempatnya bermain. Ruangan kelas adalah siksa neraka.

Pernah suatu kali di rumah tetangga, sementara mereka beristirahat seusai bermain sepak bola, ada seorang berkelakar, “Kau mesti rajin belajar seperti kakakmu. Biar jadi orang pintar.”

Ia lantas mengangkat bahu dan membalas, “Memangnya kalau pintar juga buat apa?” yang sontak membuat orang terpingkal-pingkal.

Cerita tentang kejadian itu terbawa sampai ke rumah dan langsung pula disambut tawa membahana.

Sekejap saja sudah tersiar ke seantero kampung. Di mana ia berpapasan dengan orang, selalu ungkapan itulah yang dilontarkan padanya. “Eh, Emon, buat apa pintar, ya?” atau “Halo, Mon, pintar juga memangnya buat apa?” atau “Orang itu mesti kayak Emon. Kalau pintar tak ada gunanya, ya, lebih baik tak usah belajar. Bukankah begitu, Mon?” Mereka tertawa dan berlalu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Bila sudah keterlaluan, maka hanya ibulah pembelanya. Adikku sendiri tak suka ambil pusing apa kata orang. Ia hanya menganggapnya sebagai angin lalu.

Sementara aku, mau saja terseret dengan laku orang-orang. Ikut mengolok ketika mereka mengolok. Ikut tertawa kala mereka tertawa. Sampai suatu peristiwa seperti telak menghantamku. Membuatku menanggung penyesalan teramat dalam. Bahkan diam-diam menangis sedih sepanjang malam sampai tenggorokanku sakit tak tertahankan.

Hari itu pengumuman kelulusan SMP. Setelah setiap hari selama tiga tahun bersama kawan-kawan seangkatannya menempuh antara empat atau lima kilometer berjalan kaki, pada hari istimewa itu ia justru dinyatakan tidak lulus. Ketika kawan-kawannya yang lain berjingkrak gembira karena lulus, ia justru mendekam hampir sepanjang hari dalam bilik kandang ayam di belakang rumah kalau saja ibu tak membujuknya keluar.

Tak ada ujian susulan untuk peserta UN yang tidak lulus tahun itu. Demi memperoleh ijazah murni, maka mengulang lagi ia tahun berikutnya. Jadilah empat tahun ia belajar di SMP. Empat tahun berjalan kaki bolak-balik setiap pagi dan siang antara rumah dan sekolah.

Memasuki masa SMA, kabar dan perkembangannya tak lagi intens kuikuti. Aku mendapat beasiswa, mesti melanjutkan sekolah di Jakarta. Sesekali saja kami bicara via telepon. Itupun hanya berlangsung beberapa menit dan berupa basa-basi tak penting. Ialah yang tak mau bicara lama-lama denganku. Sering dalam pembicaraan, begitu terdengar aku mulai ingin bercerita tentang kegiatan di kampus atau di organisasi yang kuikuti, ia pasti buru-buru bilang akan pergi, atau mau melakukan sesuatu. Begitu juga bila ada hal mengenainya yang ingin kutanyai.

Di kelas akhir SMA, aku mencoba bertanya padanya mau buat apa setelah tamat. Pikirku, barangkali aku dapat membantunya. Ia bilang akan berhenti sekolah.

“Tak mau lanjut kuliah?”

“Sudah cukup di SMA.”

Aku terus mendesak. Sayang menurutku kalau hanya di bangku SMA. Kalaupun tidak lanjut, setidaknya ia harus melakukan sesuatu. Kutanyai lagi.

“Tidak buat apa-apa. Hanya mau rehat otak dulu,” jawabnya enteng.

Jawabannya membuatku heran, apa yang mau ia rehatkan. Toh, selama ini juga ia lebih banyak bermain-main.

“Baiklah. Rehat otak. Setelah itu, mau kan lanjut sekolah?” kubujuk ia penuh harap. “Setahun lagi aku lulus. Masalah biaya sudah lebih ringan.”

Ia mendengus.

“Tak mau lagi saya berhubungan dengan yang namanya baca tulis,” kilahnya.

Beralih aku menghubungi bapak, mengecek jangan-jangan merekalah yang menghalangi ia melanjutkan sekolah. Pertanyaanku dengan tegas dibantah.

“Siapa yang menghalangi. Lagipula tak ada cukup uang untuk ia bersekolah. Sudah bertahun-tahun curah hujan di sini tak menentu. Hampir semua mata air sudah mulai mengering. Mau cari makan saja susah.” Bapak berdiam sebentar sebelum melanjutkan. “Atau, apakah menurutmu orang sedungu dia bisa dipercaya pihak-pihak pemberi beasiswa?”

Kalimat bapak tak sanggup kusahuti. Kata-kataku tersekat di kerongkongan. Itu pertanyaan paling menyesakkan telinga yang pernah kudengar dari mulut bapak.

Waktu bergulir begitu cepat.

“Mereka sudah berangkat,” kata bapak ketika aku menanyakan kabar adikku beberapa bulan kemudian.

“Berangkat?” shock, aku tak mengerti maksud bapak. “Ke mana?”

“Malaysia,” bapak menjawab datar. “Dengan beberapa kawannya yang lain.”

Nyaris histeris, aku tak lagi mendengar uraian panjang bapak. Bercampur aduk segala yang  berkelebat di kepala. Kenapa aku tak dikabari sebelum ia pergi. Kalau saja aku tahu, setidaknya kami bisa berembuk. Akan kuajak dia ke Jakarta. Akan kubantu ia mendapat perkerjaan yang layak. Mungkin bisa sebagai security di kampus atau asrama mahasiswa.

Meski kesal, aku mencoba menghubunginya. Ia malah dengan bangga mengabari, mereka sudah di Kalimantan. Siap menempuh perjalanan menuju Malaysia. Ia mengejekku yang katanya juara kelas bahkan juara sekolah tapi hanya bergerak di dalam negeri.

“Sewaktu di sekolah, saya bukan anak yang pintar-pintar amat. Tapi lihat, sebentar lagi tempat kerja saya sudah di luar negeri. Sementara kau sendiri bagaimana?” ia terus terkekeh. “Selamat berenang-renang di Indonesia,” ucapnya disertai ledekan mengakhiri percakapan.

Tiada lagi komunikasi kami sejak hari itu sampai setahun kemudian aku lulus, bekerja dua tahun di bawah kontrak beasiswa, dan sekarang sementara mengikuti kelas pembekalan guna melanjutkan kuliah di luar.

Di televisi, berita sudah beralih ke topik lain. Berusaha semampu mungkin menyibak air mata yang merebak, satu per satu pesan masuk dan panggilan di ponsel kubuka dan kubaca. Tak ada yang lebih pedih dari pesan masuk paling akhir.

Dari ibu. “Sudahlah. Tak usahlah ditanggapi. Jalani saja hidupmu dengan gembira. Bukannya semua sudah terbaca sejak awal. Kau memang tak pernah peduli dengan adikmu.”

Kupang, September 2016

Serangan Asma

*Cerpen Serangan Asma adalah salah satu cerpen yang saya kirimkan kepada panitia  MIWF 2017 dan saya bacakan kutipannya dalam acara Under The Poetic Star di  Main Plaza, Fort Rotterdam, Makassar. Cerpen ini dipersembahkan untuk: 1) Adik saya, seorang penderita asma, 2) Lentera Harapan Kupang, 3) Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

IMG_20170520_145207

Sumber gambar: Dok MIWF

Selamat membaca….:)

***

Aku membaca sebuah kisah pendek dan menangis(1). Sebuah  kisah yang melemparkanku kembali kepada beberapa tahun silam. Kala itu aku baru saja mencoba menjadi seorang manusia berguna setelah bertahun-tahun dirundung rasa bersalah teramat dalam hingga di waktu-waktu tertentu terkadang muncul pikiran, sepertinya sepanjang hidup, aku tak akan pernah mengampuni diriku.

“Ini saatnya kau menulis,” serta merta terdengar suara yang tak lagi asing.

Menutup buku, aku mengangkat muka. Di depanku duduk berdampingan dua remaja laki-laki.

Aku merasa lemas. “Kenapa mesti kisah ini?”

“Setidaknya kau punya bahan menulis sekarang,” serempak riang suara mereka.

“Bagaimana bisa aku menulis?” aku menggeleng pelan.

 Seorang di antara keduanya mendekat.

“Lihat aku, dan tulislah tentangku,” katanya. “Aku akan berada di sini sampai kau selesai menulis.”

Ia adikku. Satu-satunya adik laki-laki di rumah. Aku baru saja mencoba mengenal dunia dengan seluk-beluknya ketika ia didiagnosa mengidap asma. Hampir sepanjang hidupnya, penyakit itu seolah tak pernah mau membiarkannya merasa senang walau hanya sebentar. Setiap selesai bermain-main, napasnya selalu berbunyi aneh kemudian ia akan masuk ke rumah, berbaring di tempat tidur sambil berkesah dadanya sakit.

Begitu juga di waktu-waktu tertentu ketika ada acara keluarga, atau perayaan natal-tahun baru, perayaan paskah, atau perayaan 17-an, atau entah kegiatan apa saja yang dibuat di sekitar rumah, sementara semua orang berjalan ke sana ke mari, sibuk berlarian mengambil barang ini dan barang itu, anak-anak berceloteh riang sambil bermain menunggu orang tua mereka yang semangat bekerja di tempat acara diadakan, adikku hanya akan tinggal sendiri di rumah, berbaring di  tempat tidur sambil sesekali mengeluarkan suara keluhan. Bila ingin menghibur diri atau sekadar tahu keadaan di luar, maka sambil bergelung selimutnya, ia akan duduk di samping jendela kamar dan menonton dari jauh.

Ia memang harus sendiri. Tak ada ibu, tak ada bapak, juga aku. Ia yang dipanggil ibu sudah lama tak bersama kami. Ia pergi meninggalkan rumah semenjak aku baru mengenal dunia taman kanak-kanak dan adikku berusia dua tahun. Pergi entah ke mana dengan menumpang truk kuning di kala gerimis baru saja mereda. Sedang bapak, sebagai kepala keluarga mestilah ia menghadirkan diri di tempat acara diadakan. Sementara aku, tentu juga tak bisa. Tak mau aku dikungkung menyendiri dan tak bisa berbuat apa-apa dalam ruangan sempit bersama seorang anak yang terus saja mengeluh dadanya sakit. Aku tidak tahan mendengar celoteh riang anak-anak di luar kalau tak segera menggabungkan diri bersama mereka.

Suatu hari saat masih SD, di jalan sepulang sekolah tiba-tiba adikku terserang asma. Beberapa kawan menahannya agar tak jatuh. Aku yang berada jauh di belakang mereka datang menyusul. Kami menuntunnya menepi. Ia dibaringkan di bawah sebatang pohon di pinggir jalan. Kancing baju bagian atasnya dilepas. Aku mengambil buku dari dalam tas. Badannya kukipas-kipas. Anak-anak lain yang datang berkerumun kusuruh menjauh agar ia mendapat ruang bernapas.

Sambil menjagainya di bawah pohon itu, aku berdoa kepada Tuhan agar jangan dulu mengambilnya. Aku masih ingin menebus dosa.

Sehari sebelumnya ketika menjerang air di dapur, aku memintanya membawakan termos untuk kutuangkan air yang sudah mendidih. Penolakannya membuatku kesal. Ia kusiram dengan setengah gayung air panas. Seketika ia menangis histeris. Tak ingin dipusingkan dengan suara tangisnya, ia kutinggalkan, pergi bermain di luar.

Sore harinya sekembalinya dari tempat bermain, baru kutahu hampir seluruh leher dan dadanya melepuh. Sekujur tubuhku disabet berkali-kali dengan rotan oleh bapak. “Seharian ini adikmu terluka dan menangis seorang diri di rumah sementara kau bermain-main di luar sana tak peduli,” bentak bapak di antara sabetan rotannya.

Malamnya menjelang mau tidur, masih sempat-sempat ia bertanya kepada bapak, apa besok ia tetap berangkat ke sekolah. Kata bapak sebaiknya pergi saja, toh yang terluka bukan kaki dan tangan.

Demikianlah hingga siang hari di bawah pohon di pinggir jalan itu, bahkan di sela-sela napasnya yang berbunyi aneh dan dadanya yang bergerak turun naik, lukanya masih merah mentah terlihat di balik baju seragamnya.

Teman-teman yang bersama kami sudah pergi dan tinggal aku sendiri menjaganya hingga sejam kemudian lewat seorang tetangga. Adikku digendong pulang ke rumah. Aku berada di belakang mereka sambil terus menggulirkan doa. Minta diberi kesempatan menebus dosa.

Sayangnya, janjiku menebus dosa hanyalah janji semata. Setiap kali ia kesulitan sesuatu dan memintai tolong, tak selalu dengan segera aku datang dan membantunya. Hidupku seolah adalah hidupku sendiri dan hidupnya adalah hidupnya. Hampir selalu begitu.

Suatu kali lain di masa kuliah, aku pulang liburan. Ketika masa liburan berakhir dan akan kembali ke kampus di Jakarta, saudara-saudara sepupu dan anak-anak tetangga antusias bahkan berebutan mengantarku ke bandara, hanya ia seorang yang diam dan tak keluar sepatah kata pun dari mulutnya. Ketika ia kutanya kenapa hanya diam, apa tak mau ikut antar, ia menjawab pendek, “Mau, tapi dada sakit.” Jawaban yang sontak membuat kerongkonganku sakit. Perjalanan kembali ke kampus terasa pahit.

Setibanya di kampus aku dikirimi pesan. Aku memintamu membawakanku inhaler. Kau datang justru membawa buku panduan penderita asma. Sakitku sudah parah. Aku tak lagi butuh buku. Membaca pesan singkat itu, rasa-rasanya aku ingin mati. Betapa telah banyak keteledoran kuperbuat.

Beberapa bulan kemudian, menjelang pengumuman kelulusan SMA, kudengar asmanya kembali kambuh. Di hari pengumuman kelulusan, ia tak ikut berangkat ke sekolah karena dadanya sakit. Pada siang hari teman-temannya pulang membawa kabar ia lulus. Sore hari ketika kutelepon, di antara deru napasnya ia berseru senang bisa lulus SMA. Katanya ia mau juga mendapat beasiswa dan lanjut sekolah di Jawa, tapi sakitnya seperti tak mengizinkan. Semenit kemudian tak terdengar lagi suaranya. Diganti samar-samar suara ribut dan panik. Sambungan telepon terputus dan meninggalkan padaku tanda tanya penuh kecemasan. Beberapa menit kemudian aku dihubungi kembali. Suara seorang perempuan entah siapa. Tanda tanya itu terjawab, “Adikmu baru saja meninggalkan kita.”

“Sudah, ini saja yang bisa kutulis,” kataku menatapnya. “Kuharap kau memaafkanku.”
Ia tersenyum. Melambaikan tangan dan berbalik pergi.

“Giliranku sekarang,” kata seorang yang lainnya sambil bergerak mendekati.

Ia salah satu muridku di tahun pertama aku baru belajar menjadi seorang guru. Anak pindahan dari sekolah negeri. Duduk di bangku kelas 2 SMP. Menurut pengakuan orangtuanya, lebih tepat ibunya, anak yang biasa disapa Nuel itu mengidap asma sejak kecil.

Di kelas, ia seorang yang suka mengusili teman-temannya kemudian berkilah ketika ditanyai. Karena sifatnya itulah ia tidak disukai teman sekelasnya dan juga para guru. Jangankan kawan dan guru, ibu kandungnya sendiri bahkan menolak dan membencinya sejak kematian bapaknya yang mengalami kecelakaan suatu siang ketika ingin menjemputnya semasa ia SD.

Ia tahu ibunya sendiri tak suka padanya. Maka itu lebih sering ia menghabiskan waktu di luar bersama para pemuda kampungnya. Kumpul-kumpul dan entah melakukan apa hingga larut malam.

Tak hanya sering terlambat dan tidak mengerjakan PR, ia pun satu-satunya siswa SMP yang merokok. Bibirnya selalu hitam setiap pagi datang ke sekolah. Setiap guru piket yang bertugas di depan gerbang sekolah pasti akan melihatnya terburu-buru membuang permen karet menjelang ia mendekati gerbang. Beberapa kali disidak dan selalu kedapatan bungkusan rokok, korek api, dan permen karet selain tablet obat asma dalam tas kumalnya.

Di tahun itu, peraturan sekolah mengharuskan setiap siswa yang terlambat lebih dari tiga kali tidak diikutkan dalam KBM dua jam pertama. Mereka akan membaca buku dan mengerjakan tugas-tugas perpustakaan. Selalu ketika aku berkunjung ke perpustakaan pagi hari, kudapati buku bacaannya hanya satu, dan menurut petugas penjaga perpustakaan, memang hanya itu satu-satunya buku yang ia baca selama berada di sana. Buku Sayonara Narkoba oleh Fanny J Poyk, yang juga putri seorang sastrawan beken asal NTT, Gerson Poyk.

Di kelasnya saat kami mempelajari materi sinopsis, buku itulah yang ia pilih. Buku itu pun sudah pernah kubaca sebelumnya dan aku tahu persis isinya. Di tugas yang ia kumpulkan, penyusunan sinopsisnya sungguh jauh di luar dugaan. Walau dengan gaya bahasa sederhana khas anak SMP, tapi mampu merangkum setiap cerita dalam buku. Aku tahu ia telah membaca bukunya dengan baik.

Di buku tugasnya kuberi nilai tinggi, juga kutuliskan hampir setengah halaman berisi apresiasi untuk usahanya. Kuakhiri tulisanku dengan tanda tangan, cap hari tanggal, dan sebuah ikon senyum. Kupanggil ia menemuiku di ruang guru. Mengobrol sebentar dan kutanyai sedikit tentang asmanya. Semula ia tak mau bercerita. Ia justru menatapku dingin seolah bermusuhan.

“Kau tak perlu menatap seperti itu,” kataku. Kepadanya lanjut kubilang, aku pun punya adik yang sejak kecil mengidap asma. Bisa kumengerti sedikit bagaimana pergumulan para penderita asma. Mendengar itu, ia pun membuka suara dan bercerita walau hanya sepotong-sepotong.

Buku tugasnya kukembalikan. Ia menerimanya, membaca catatanku, dan berulang-ulang mengucap terima kasih.

Beberapa hari kemudian, saat jam mengajar di kelasnya, anak-anak kuberi tugas berdiskusi kelompok dan aku berkeliling mengawasi. Lagi-lagi tanpa sepengetahuanku, ia berbuat usil dengan mengikatkan tali rafia pada kaki salah seorang temannya dan disambungkan dengan kaki kursi, membuat temannya terjatuh ketika hendak beranjak bahkan sampai bibirnya berdarah. Sebagai konsekuensi, ia kuminta menulis refleksi seusai ia dan anak yang terjatuh tersebut bertemu denganku dan kami mengadakan rekonsiliasi di ruang konseling.

Refleksinya ia tulis di buku tugasnya. Di dalam refleksinya ia menyatakan penyesalan dan ungkapan maaf telah berbuat ulah saat kegiatan pembelajaran, serta berjanji tak akan mengulanginya. Membubuhkan tanda tangan dan hari tanggal, buku itu kusimpan di laci meja kerjaku. Berniat mengembalikannya nanti melalui wali kelasnya.

Mengingat dan mengenang adikku, aku terdorong memasukkan ia dalam cerita yang sedang kutulis tentang sahabat dekatku yang juga adalah wali kelasnya. Walau di sana ia bukanlah tokoh utama, perannya masih terbilang baik. Kuselesaikan cerita itu dengan niat mendamaikan antara ia dan wali kelasnya yang nyaris putus asa menghadapi lakunya seorang. Tentu nama para tokoh tidak kucantumkan sesuai nama asli. Cerita itu kukirim ke sebuah koran lokal. Tak berselang lama, pada suatu hari Minggu, cerita dengan judul Ibu Guru ketika HUT Mateos(2) dimuat. Aku senang bukan main. Kutunjukan cerita itu kepada sahabatku. Ia langsung menerimanya dan membaca.

“Aku tahu, ini kau mau menghubungkanku dengan Nuel, kan?” katanya sambil melotot padaku yang hanya kutanggapi dengan tawa.

Malam itu aku tak sabar menunggu pagi. Ingin segera kutunjukkan cerita itu kepada Nuel.  Besoknya di hari Senin, dengan semangat menggebu aku berangkat ke sekolah. Di tasku sudah kukantongi koran hari Minggu kemarin. Di gerbang sekolah, walau bukan jadwal piket, aku ikut berdiri menyambut siswa. Sengaja aku menanti kedatangannya. Namun hingga di saat bel berdentang panjang tanda masuk pun, tak juga ia muncul.

Pukul tujuh lewat, para siswa di kelas sementara bersiap memulai pelajaran. Karena belum waktuku masuk mengajar, aku membereskan tugas administrasi di ruang guru. Sang wali kelas pun sementara ada bersamaku di ruangan itu. Ia pun belum waktunya mengajar dan sementara merapikan file-file di meja kerjanya. Tiba-tiba telepon sekolah berdering. Sang wali kelas, karena yang paling dekat, ialah yang mengangkat teleponnya. Semula sapaan yang diberikan bernada gembira dan manis. Tapi kalimat yang datang kemudian cukup mengagetkan. Ungkapan terkejut dan seolah tak percaya. Anak murid kami bernama Nuel telah dipanggil pulang semalam kira-kira pukul sebelas setelah sebelumnya ketika terserang asma, ia dengan panik menelan sekaligus beberapa tablet obat asma sehingga mesti dilarikan ke rumah sakit. Di rumah sakit itulah menjelang embusan napas terakhirnya, kepada sang ibu ia mengaku telah mengisap habis belasan batang rokok di rumah kawannya.

Kisah ini nyata, dan aku sendiri pun nyaris tak percaya.

“Percaya atau tidak, semua sudah terjadi,” katanya dengan suara bergetar. Ia kemudian pelan-pelan berbalik pergi.

“Bagaimana, bisa dipahami kisahnya?” tanya sang instruktur dari depan.

“Giliranmu!” sikut kawan yang duduk di sampingku.

“Ada apa?”

“Ah, kau membaca sebuah kisah pendek dan menangis?” sang kawan menatapku heran dan bingung.

Saat kau mendapat serangan asma, ….(3)” Demikian kisah pendek karangan seorang penulis Israel itu kubaca ulang.

Kupang, September 2016

Keterangan:

(1) Kutipan kalimat pembuka cerita mini Berputar karya Eric Lofa, pada kelas menulis Komunitas Sastra Dusun Flobamora

(2) Cerpen Anaci Tnunay, Timor Ekspress Minggu, 12 Februari 2012

(3) Diterjemahkan dari Asthma Attack karya Etgar Keret oleh AN Wibisana, pengampu kelas menulis Komunitas Sastra Dusun Flobamora