Merayakan Keseharian, Puisi

Beberapa Puisi Marilyn Lott

Puisi-puisi ini tak sengaja saya temukan di PoemHunter ketika mengutak-atik google ingin mencaritahu siapa itu Faust yang sering disebut-sebut di buku Milan Kundera. Entah terseret bagaimana saya akhirnya nyasar ketemu Marilyn Lott ini. Agak kontras dengan bacaan sebelumnya kenapa saya sampai mencaritahu siapa Faust sambil menekuri meja kosong dan berpikir tentang dongeng-dongeng dari ba’i-nenek di kampung yang hanya karena diceritakan kembali tanpa dituliskan makanya sampai sekarang punah perlahan-lahan sementara dongeng tentang Faust dari benua Eropa sana mungkin akan abadi sepanjang masa hingga sempat membuat pikiran jadi keruh, membaca sekilas beberapa puisi Marilyn Lott ini kemudian kembali meneduhkan saya. Ada banyak puisinya di sana. Seribu lebih. Tapi di sini saya hanya akan pahatkan beberapa sebagai penanda hari ini.

Puisi A Child’s Mind oleh Marilyn Lott

IMG_20171111_092659.jpg

Terjemahan bebasnya (versi saya) kira-kira begini: 

Pikiran Seorang Anak

Dunia begitu luas dengan segala keajaibannya
Sebab segala sesuatu adalah baru
Pikiran seorang anak adalah seperti spons
Atau seperti bunga berselimutkan embun pagi

Aku suka melihat mereka menanyakan
Segala hal

Kau tak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya

Dan apa yang akan diperlihatkan setiap hari

Mungkin kita pun semestinya
dengan suka membuka pikiran

Demi melihat dunia sebagaimana cara seorang anak melihatnya

Bagaimana betapa kerennya hidup ini sebenarnya

***

Puisi A Chat With The Lord oleh Marilyn Lott

IMG_20171111_101743.jpg

***

Puisi A Farmer’s Prayer oleh Marilyn Lott

Terjemahan bebasnya (versi saya) kira-kira begini: 

Doa Seorang Petani

Tuhan, tiliklah aku dengan kebaikan-Mu
Aku mengerjakan yang terbaik yang kubisa
Aku berusaha memberi makan istri dan anak-anakku
Dari tanah kering dan tandus ini
Aku bekerja dari pagi hingga sore
Dengan kesedihan pupuk yang tak lagi menyuburkan
Demi memberi makan dan pakaian istri dan anak-anakku
Aku mencintai mereka hingga terluka
Aku berdoa setiap hari sambil bekerja keras
Aku berdoa setiap hari padamu
Tolonglah saya, Tuhan, kumohon mengertilah
Aku melakukan apa yang kutahu mesti kulakukan
Tersenyumlah pada saya dan berilah aku kedamaian
Ketika tiba waktunya aku harus pergi
Dan menemukan juga kedamaian untuk mereka yang kusayang
Sebab betapa mereka kukasihi
Ketika waktunya datang menghampiri
Dengan tangan-Mu yang hangat dan dan penuh kasih
Tolong ambillah pelan-pelan dan tolonglah ingat
Ingatlah aku hanya seorang manusia

***

Puisi A Horse With No Name  oleh Marilyn Lott

Iklan
Cuplikan Cerita Lentera, God's Story, Kegiatan Seni dan Budaya, Merayakan Keseharian

Di Balik Lomba Musikalisasi Puisi antar Guru pada Semarak Bulan Bahasa 2017

Semarak Bulan Bahasa di Kupang rutin diadakan oleh Kantor Bahasa NTT. ย Kalau setahun sebelumnya puncak acara dilaksanakan di Lippo Plaza Kupang, maka tahun ini tempatnya di Taman Budaya Gerson Poyk, Kupang.

IMG-20171027-WA0038.jpg
Kepsek SMA Lentera Harapan Kupang (ketiga dari kanan) turut hadir memberikan dukungan. Foto ini diambil seusai babak penyisihian, Jumat (27/10)

Ada beberapa hal yang dilombakan (bagusnya lomba-lomba itu merangkum beragam kategori dari anak usia dini hingga guru-guru๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜) antara lain: mewarnai untuk anak Paud, orasi untuk siswa SD, menulis resensi untuk siswa SMP, cerdas-cermat untuk siswa SMA, IHaNi untuk mahasiswa S1, dan musikalisasi puisi untuk guru SMP/SMA/SMK/MA (sayang guru TK/SD tak disertakan).

Tim Musikalisasi Puisi SMP dan SMA. Mereka antara lain: Nathaly, Dwi, Elise, John (SMP) dan Jessie, Debima, Daud, dan Zimri (SMA)

Kalau tak salah, menurut saya baru kali ini kegiatan lomba-lomba dari Kantor Bahasa NTT ikut melibatkan guru-guru. Untuk kategori ini menurut saya patut diapresiasi๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘. Dengan demikian guru-guru yang selama ini punya potensi dan menyimpannya diam-diam akhirnya terungkap juga (ini hasil pengamatan pribadi terhadap kawan-kawan saya sendiri๐Ÿ‘€๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ™๐Ÿ˜„.

Dua peserta lomba menulis resensi, Ayu Oenunu dan Jessika Rambu

Terkait lomba-lomba untuk semarak bulan bahasa ini, dari Lentera Harapan Kupang, ada siswa SD ikut lomba orasi, siswa SMP siap mengikuti lomba menulis resensi, siswa SMA harusnya bisa ikut cerdas-cermat hanya telat memberikan informasi sehingga tak jadi, serta para gurunya juga langsung menyambut antusias lomba musikalisasi. Bahkan untuk yang terakhir, saking antusiasnya, saya sampai harus beberapa kali ‘deal’ dengan Pak Ardy, salah satu panitia dari Kantor Bahasa yang menjadi narahubung lomba musikalisasi ini.

Ceritanya, pada saat brosur lomba itu dibagikan di grup WA, sorenya seusai doa pulang, saya langsung didatangi lima kawan saya. “Kami mau ikut lomba musikalisasi puisi,” hampir serempak suara mereka ditambah lagi dengan mata yang berbinar-binar.

Respons cepat mereka saya sambut gembira tentunya. Hanya sayang bagaimana mungkin lima orang sementara di brosur tertulis maksimal empat orang untuk satu tim.

Ini mereka lima sekawan ๐Ÿ˜„

“Tak bisakah? Kami mau tampil seangkatan soalnya. Mewakili guru SMA.” ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜…๐Ÿ˜„.

Oh, ya, SMA. Baik. Kalau SMP langsung terbentuk saat surat itu tiba di tangan kepsek berhubung ia juga adalah seorang pemusik andal๐Ÿ˜„. Saya menerima surat itu langsung dengan nama-nama anggota tim MP. Lengkap empat orang termasuk saya.

Nah, ini SMA harusnya juga 4 orang malah 5. Karena memang diminta jadi PIC, saya kemudian bertanya kepada Pak Ardy via WA. Jawabnya, akan dibicarakan di temu teknis nanti. Saya tahu pasti itu sebenarnya sebuah keberatan yang halus๐Ÿ™๐Ÿ˜„.

Esoknya atau beberapa hari setelah itu, ada lagi pengajuan, dari SMA ada lagi yang mau ikut lomba musikalisasi puisi. Wah, sementara di persyaratan satu sekolah hanya boleh kirim satu tim. Bagaimana ini?

Pada suatu hari di sela-sela satu kegiatan literasi di salah satu SMP negeri di Kupang, tak sengaja saya bertemu Pak Ardy, sang narahubung lomba musikalisasi puisi, dan mencoba menanyakan terkait
di brosur persyaratan lomba ditulis peserta hanya boleh berjumlah 2-4 orang per tim, sementara kami malah siap lima, lalu satu sekolah hanya boleh mengirimkan satu tim, kami malah minta kalau boleh dua tim.

Sebagaimana jawaban kemarin melalui HP, akan didiskusikan di temu teknis. Atau kalau tim yang satunya lagi mau tampil, boleh sebagai bagian ekshibisi di final nanti. Ah, bagaimanapun itu sudah penolakan yang halus. Wajarlah. Itu sudah terpampang di brosur yang tersebar. Masakan yang sudah tertulis harus diotak-atik lagi?

Maka jadilah demikian. Salah satu dari mereka yang 5 orang itu haruslah dengan rela melepaskan diri. Lima sekawan, sebutan bebas saya saja untuk mereka๐Ÿ˜„, tak lagi utuh kali ini.

Karena sudah fix empat orang dalam tim mereka, latihan pun dimulai. Setiap sore sepulang sekolah, di salah satu ruang kelas paling ujung itulah mereka pakai. Baru latihan permulaan saja mereka sudah memukau sampai-sampai hampir menciutkan semangat guru-guru SMP mengikuti lomba ini. Begitu pengakuan yang saya dengar.

Namun begitu, adalah tanggung jawab dan niat hati mereka dari awal untuk mengikuti lomba ini. Tim SMA sudah beberapa hari lebih dulu ketika tim SMP baru memulai latihan perdananya. Karena ada satu undangan kegiatan lain di Jakarta yang sebelumnya saya pikir belum pasti ternyata jadi dan saya mesti berangkat sementara latihan persiapan lomba mesti tetap berjalan. Lomba tinggal beberapa hari lagi. Saya minta digantikan dan merekomendasikan beberapa kawan saya. Saya percaya mereka bisa bahkan jauh di atas saya dalam hal berlagu.

Di hari diadakan temu teknis, baru kami tahu, seharusnya setiap tim mempersiapkan 2 dari 4 puisi yang sudah dimusikalisasi. Alasannya, puisi untuk penyisihan berbeda dengan nanti di babak final. Siapkan 2, siapa tahu masuk final, begitu katanya. Nah, selama ini kawan-kawan hanya mempersiapkan satu. Jadilah, dalam 2 hari itu mereka ngebut membuat musikalisasi puisi yang satu lagi untuk, yah siapa tahu masuk final. Cukup menegangkan dan banyak kejadian lucu selama 2 hari itu. Walau saya tidak masuk tim, saya tetap ada bersama mereka memberi dukungan tentunya serta ikut mengalami momen-momen itu terutama di tim SMP. ย Momen bagaimana ketika ada satu nada yang sudah teramat bagus dan sangat bagus, demikian kami menyepakatinya, tiba-tiba terlupakan tanpa sempat direkam dan tiada satu orang pun di antara kami berlima mengingatnya. Sama sekali seakan tak pernah ada, tak pernah dibuat. Berbagai upaya dilakukan tapi sungguh nada itu tak kunjung kembali. Rasanya, saat itu kami ingin menangisinya bersama-sama๐Ÿ˜„๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚.

Ada lagi ketika salah seorang anggota bertanya, apakah musikalisasi puisi harus ditampilkan seperti orang kerasukan? ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜„ Saya menjawab, saya pun kurang tahu. Beberapa kali (dua kali tepatnya๐Ÿ˜„) mengikuti workshop musikalisasi puisi baik di Kupang bersama seorang bernama Fileski yang awal-awal ia saya kagumi tapi sekarang sudah tak lagi ๐Ÿ˜… maupun baru-baru ini di Jakarta tepatnya di Salihara pada kegiatam LIFEs bersama penyair Adimas Imanuel dan pemusik Sri Hanuraga dan para pemateri ini tak pernah menyinggung sedikitpun tentang hal-hal samacam kerasukan dan saya pun lupa atau memang tak sempat berpikir untuk menanyakan hal itu. Begitu juga kebersamaan singkat pernah semobil dengan dua orang kawakan, Ari-Reda sewaktu MIWF 2017 (kalau ini mah pamer namanya ๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜…), tak ada unsur-unsur kerasukan dalam musikalisasi puisi mereka. Kawan kami itu, sebut saja P, yang awalnya tak suka ada unsur-unsur begituan di dalam penampilan musikalisasi puisi mereka, ketika satu waktu dirasa memang sepertinya boleh juga dicoba kemudian memeragakan salah satu kutipan yang sontak membuat kami terperangah. Itu bukan dirinya. Sungguh tak bisa dipercaya. Tak mungkin hal seperti itu akan ditampilkan di panggung. Sebab kalau yang begitu dipentaskan di panggung, percaya saja, itu bukan lagi namanya musikalisasi puisi tapi sudah akan berubah nama jadi lawakan paling konyol sepanjang sejarah๐Ÿ˜„๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚.

Sudah. Demikian tentang masa persiapan. Kita akan lanjut dengan masa pementasan.

Babak penyisihan berlangsung hari Jumat, 27 Oktober 2017. Tim SMP mendapat nomor undian ke-11 sementara Tim SMA di nomor undian ke-16. Berhubung hari itu adalah hari efektif, maka kelas tetap tak bisa ditinggal pergi begitu saja. Kelas harus tetap berjalan. Mesti ada yang memantau, kita hanya pergi saat mau tampil saja kemudian bisa kembali. Kebetulan tempat lomba tidak begitu jauh dari sekolah. Paling keluar dari kelas 20 menit untuk kemudian kembali. Maka harus ada di antara mereka delapan orang itu yang punya jam kosong untuk bisa bergantian berjaga dan memantau di tempat lomba. Ternyata setelah cek and ricek, urusannya malah jadi agak ribet dan pelik.

Disepakati saya yang sekalian mendampingi siswa mengikuti lomba sekalian memantau dan melaporkan perkembangan lomba musikalisasi puisi. Toh, semua lomba ada di satu lokasi yakni di Taman Budaya Gerson Poyk, Kupang.

Hari Jumat, tanggal 27 Oktober 2017 itu, saya mendampingi dua siswi SMP mengikuti lomba menulis resensi yang katanya akan dimulai pukul delapan pagi sehingga sudah dari pagi-pagi di sesi satu saya izin tidak masuk kelas.
Karena sementara para siswa mengikuti lomba menulis resensi yang beberapa jam itu tak mungkin saya berjaga di pintu mengawasi mereka. Sayalah yang akan memantau waktu kapan perlombaan musikalisasi puisi dimulai, bagaimana perkembangannya, sudah di nomor undian ke berapakah penampilan yang sedang berlangsung, dsb. Saya kurang tahu bagaimana tingkat ketenangan hati mereka sementara mengajar di dalam kelas dan mengikuti laporan saya yang masuk dari menit ke menit, tapi saya merasa mereka sepertinya ada juga sedikit debar-debarnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ayu dan Jessika, dua siswi peserta lomba menulis resensi yang ternyata jadwal lomba mereka diundur karena ruangan mereka masih dipakai adik-adik Paud untuk lomba mewarnai duduk di samping saya dan dengan gelisah terus bertanya di mana bapak-ibu guru yang ikut lomba musikalisasi puisi. Sudah beberapa tim yang tampil dan terus berlanjut tanpa henti. Mereka merasa was-was sebab sesuai pengumuman peserta yang tidak muncul pada panggilan ke-3 akan didiskualifikasi. Mereka takut apabila itu terjadi pada bapak-ibu gurunya.

Hingga di nomor undian 6 lalu melangkah ke nomor 7, melihat bapak-ibu gurunya belum tampak, dua anak ini beranjak mengecek di luar, bahkan karena hari itu memang saya izinkan membawa HP, salah satunya sampai menelpon atau entah mengirim pesan kepada wali kelasnya yang juga adalah salah satu dalam tim musikalisasi puisi ini. Bayangkan, betapa mereka yang seharusnya lebih berkonsentrasi untuk lomba mereka sampai ikut merasa was-was, nomor urut bapak ibu gurunnya sudah mau dipanggil tapi kok tak ada tanda-tanda tampak.

Giliran nomor undian 8 tampil di mana peserta nomor 9 harus berdiri di samping panggung untuk bersiap. Sementara nomor 8 tampil dan nomor 9 sudah berdiri di tempat yang diharuskan, saya mencoba mencari tanda-tanda penampakan nomor undian 10. Tapi sepertinya mereka tidak hadir.

Kalau tadinya saya hanya duduk dan berdiri di tempat sambil sesekali mengambil gambar, kali ini saya bangkit dan berdiri di dekat pintu agar bisa menengok ke luar. Kawan-kawan saya belum juga nampak. Saya kirimkan pesan ke grup. Ada yang membalas. Mereka sementara di perjalanan menuju tempat lomba.

Tak lama kemudian, terdengar dari pelantang, nomor undian 9 dipanggil tampil. Nomor 10 bersiap di samping panggung. Tiga kali digaungkan, tak juga ada tanda-tanda muncul peserta nomor undian 10. Pada waktu itulah saya lihat Ayu dan Jessika muncul di lobi dengan muka berseri menunjuk dua gurunya yang baru saja tiba. Mereka masuk tepat nomor undian 11 diminta bersiap di sisi kanan panggung. Sementara nomor 9 tampil, dua kawan yang lain masih juga belum tiba. Saya menelpon tapi tak diangkat. Peserta nomor undian 9 hampir selesai ketika terlihat dua kawan lain dalam Tim SMP ini muncul lagi-lagi didahului dua siswi kami yang juga belum mulai lomba menulis resensinya. Keduanya datang dan tak sempat duduk ataupun mengambil jeda sejenak. Langsung mengeluarkan gitar dan maju di panggung karena memang sudah dipanggil tampil. Tim ini kalau boleh saya bilang sebagai orang Kupang, dong tarek napas di atas panggung.ย 

Sementara mereka tampil, muncullah Tim SMA yang mendapat nomor undian 16. Mereka berempat datang bersamaan. Ada serta mereka sang kepsek. Kalau tim SMP tadi datang dengan motor datangnya, maka kemungkinan tim SMA ini dengan mobil. Peduli amat mau pakai apa, yang penting lega sudah tugas saya sebagai pemantau dan reporter.

IMG20171027105146
Tim SMP dengan puisi “Padamu Jua”
IMG20171027104909
Mumpung lomba menulis resensi belum dimulai, dua siswi ini ikut merekam penampilan bapak-ibu gurunya

Selesai tim SMP ini tampil, baru saya dengar cerita, dua orang kedua ternyata sempat nyasar cukup jauh sebelum akhirnya mereka berani bertanya di mana letak taman budaya yang dimaksud๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™‰๐Ÿ˜„๐Ÿ˜….

IMG20171027110635
Tim SMA dengan puisi “Doa”

Penampilan mereka di tengan keterbatasan itu, puji Tuhan, alhamdulillah, ย memuaskan. Sujud syukur, dari semua peserta, mereka keluar sebagai peserta ke-3 dan ke-4 terbaik di babak penyisihan. Mereka akan tampil lagi di babak final, Sabtu (28/10). Membawakan musikalisasi puisi yang baru disiapkan setelah hari temu teknis, dua hari.ย Ajib.

Bila di babak penyisihan tim SMP membawakan puisi Padamu Jua, maka di babak final mereka akan menampilkan puisi Doa. Sedangkan tim SMA di babak penyisihan dengan puisi Doa, di babak final mereka maju dengan Kembalikan Indonesia Padaku.ย 

Penampilan mereka di babak final ini bagi saya menakjubkan mengingat waktu latihan hanya dua hari di jam sepulang sekolah. Mengenai penampilan mereka, akan saya tampilkan videonya. Silakan menyaksikan sendiri dan berikan penilaian Anda.

Tentu video ini bukan untuk dicari jumlah like terbanyak atau komentar terbaik๐Ÿ˜„๐Ÿ˜. Ini hanya sebagai apresiasi saya atas kerja keras mereka sekalipun mereka bukan menduduki juara 1, 2, 3, dst, meski memang Tim SMP menjadi pemenang harapan 2 sementara Tim SMA tidak di dalam jajaran itu, toh itu hanya masalah angka. Urutan atau angka itu bukan ukuran atau penentu. Demikian yang saya tahu dan saya percayai dan juga mungkin Anda sekalian, bukan? ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜Ž

Catatan, untuk video kedua (tim SMA) kalau kau menemukan ada satu kejanggalan terkait isi puisi di situ, abaikan saja. Kesalahan itu sudah diakui sang pengucapnya. Kami sudah menganggapnya sebuah momen yang punya arti tersendiri bagi kami. Katanya, dari situ penampilan selanjutnya sudah jadi blunder๐Ÿ˜„๐Ÿ˜Š. Semoga Bapak Taufik Ismail tidak marah. Satu hal yang lucu adalah, ada satu komentar di antara kawan-kawan, jangan-jangan itu ramalan buat Jakarta๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚mengingat Jakarta paling santer muncul di media-media dengan berbagai masalahnya seolah-olah Indonesia hanyalah Jakarta (iya, dong. itu kan ibukota๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™‰). Mungkin begitu๐Ÿ™Š๐Ÿ˜„.

Ada juga hal-hal indah yang tak lupa mau saya pahatkan. Status WAย satu kawan saya. Namanya juga status WA, akan kau lihat di mana lagi kalau sudah lewat 24 jam? ย ๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Kegiatan Seni dan Budaya

Panggung Perempuan Biasa

Sabtu, 16 Juli 2016, tanggal yang cantik sekaligus menjadi hari istimewa bagi Perempuan Biasa. Di tanggal yang cantik ini, mereka menghadirkan panggung khusus perempuan bagi para penikmat seni dan sastra yang ada di Kupang.

perempuan-biasa2

Sebutan ‘Perempuan Biasa’ sendiri bermula dari sebuah judul monolog karya Abdi Keraf, disutradarai Lanny Koroh, dan dipentaskan Linda Tagie dalam acara “Kupang Pesta Monolog” pada bulan Maret 2016. Selanjutnya di bulan Mei, monolog Perempuan Biasa bersama Tubuh yang Palsu dari penulis yang sama dengan disponsori Taman Dedari Sikumana, diadakanlah pementasan Tour de Floresta, berturut-turut mengelilingi kota Maumere, Larantuka, Lembata, dan berakhir di Kupang. Tak berakhir hanya di sana, sebuah panggung khusus perempuan pun digagas. Maka menjadilah di Sabtu, 16 Juli 2016, ย momentum Perempuan Biasa kembali bergaung di Kupang, NTT.

Mengusung tema “Panggung Perempuan Biasa, para perempuan baik perempuan NTT maupun luar NTT diberikan panggung istimewa untuk bedah buku dan pementasan seni. Acara bedah buku diadakan pukul 10.30 bertempat di SMP St Yoseph Kupang. Buku yang dibedah adalah karya seorang penulis perempuan Bali, Sri Jayantini, berjudul Bunga Perjalanan, sebuah kumpulan puisi dan prosa.

Bersama dua rekan lainnya Kaka Monika Arundhati dan Ibu Santri Djahimo, seorang dosen Bahasa Inggris dari Undana, kami yang adalah perempuan biasa (benar-benar biasa saya bilang, sebab contohnya saya sendiri walau suka dengan kegiatan baca tulis tapi diri ini sendiri pun belum pernah punya pengalaman membedah buku orang lain. Paling hanya pernah mengikuti acara bedah buku orang lain, itupun sebagai peserta atau penonton), diminta dan dipercayakan ambil bagian dalam bedah buku tersebut yang alhamdulillah berjalan baik. (Mungkin rangkuman pembedahan buku ada bagian tersendiri di Catatan Buku). Dihadiri kurang lebih 50-an orang, bedah buku disertai tanya jawab dan diskusi berlangsung hangat dan seru.

13723886_936570169822902_8705708169217603201_o
Sumber:Dok Perempuan Biasa

Sebelumnya, sebelum acara bedah buku dimulai maksudnya, sempat ada pengalungan salendang penyambutan dari sang tuan rumah, kepsek SMP St Yoseph sekaligus koordinator Dusun Flobamora, Romo Amanche Frank untuk kedatangan sang penulis perempuan Bali, Ibu Sri Jayantini juga kepada sang ibu dosen yang menjadi salah satu pembedah, Ibu Santri Djahimo.

Dilanjutkan pada malam hari, pukul 06.00, bertempat di Taman Dedari Sikumana, pementasan seni “Panggung Perempuan Biasa” dibuka. Ucapan salam penyambutan dan terima kasih dihaturkan koordinator Perempuan Biasa kepada para guest star baik yang dari Bali maupun Maumere, Lembata, dan komunitas di luar Perempuan Biasa. Dari Bali, hadir Ibu Sri Jayantini yang pagi harinya bukunya dibedah, dan Kaka April Artison yang ketika di atas panggung tampil memukau dalam monolog Pidato Tujuh Menit namun yang saya salut adalah ia berkali-kali mengenalkan dirinya sebagai ibu rumah tangga. Berikut dari Maumere, Komunitas Sastra Kahe tampil membawakan teater berjudul Du’a Buhu Gelo atau yang berarti Perempuan Kentut Kemiri.

13726751_1236254166399048_4733074006768862398_n
Sumber: Dok Perempuan Biasa, Foto Bedi Roma

Di luar Perempuan Biasa, ada juga mereka dari Komunitas hip-hop United of EX sebagai pembuka malam “Panggung Perempuan Biasa”. Tak lupa pula kepada pemetik sasando yang manis nan imut, Nona Virginia, seorang siswi SMP St Yoseph Kupang, membawakan lagu Mai Fali e… dan Haleluya.

Dari Perempuan Biasa sendiri, selain tiga buah tarian daerah NTT, sebuah puisi Perempuan dalam Doa oleh Febtian Candradevi Nugroho serta dua monolog dihadirkan kepada penonton diselingi tarian daerah dan sasando.

Monolog Perempuan Paling Bahagia dari Perempuan Biasa benar-benar menegaskan, saya perempuan biasa yang paling bahagia bisa menyaksikan pementasan seni “Panggung Perempuan Biasa” di malam istimewa tersebut. Kolaborasi yang indah dan megah antara penulis naskah Linda Tagie, sutradara Lanny Koroh, aktris Santji Muskanan, yang sempat saya dengar kata orang ia sudah nyaris sekelas Happy Salma, serta kru pendukung lain seperti Kaka Elin Taopan di bagian soundtrack, dan mereka yang lain di belakang layar cukup membuat saya nyaris tak bernapas hingga saya sadar saya baru menarik napas ketika sang aktris menyudahi monologianya yang keren atau yang orang Kupang bilang ‘babatu mangan‘.

Demikian juga ketika Perempuan Rembulan karya Yahya Ado yang dipentaskan Linda Tagie. Kisah tentang kehidupan seorang perempuan yang ketika mendapati suaminya ‘menyeleweng’, tak bisa berbantah banyak, ia pun memutuskan hijrah ke negeri orang, tekawe. Di sana baru didapatinya satu penyakit telah menggerogotinya sejak ia masih bersama sang suami. HIV/Aids sudah mendekam lama dalam tubuhnya sementara selama ini ia tak pernah berhubungan dengan seorang laki-laki mana pun. Lagi-lagi, entahkah ini mau disebut pengorbanan ataukah pembodohan ataukah pembiaran ataukah ketakpedulian ataukah penindasan ataukah kelaliman ataukah kekejaman ataukah kekurangajaran ataukah atau yang lainnya.

Kalau di sesi diskusi sempat saya dengan lontaran kalimat dari seorang komentator atau mau kalau boleh disebut kritikus ketika mengomentari penampilan April Artison dalam ngalor ngidul Pidato Tujuh Menit yang mengisahkan tentang pengabdian bertahun-tahun seorang guru honorer, bahwa tugas seni adalah menggugah, maka benarlah di malam pementasan seni “Panggung Perempuan Biasa” ini, saya tergugah akan sesuatu.

Terima kasih “Panggung Perempuan Biasa”. Telah engkau hadirkan panggung ‘sakral’ khusus perempuan untuk Kota Karang. Sekali lagi, sujud syukur dan kagum saya kepada Dia Sang Penyelenggara Kehidupan. Karena Dia dan untuk Dia pula, saya ingin menyampaikan salam salut penuh hormat saya kepada Kaka Lanny Koroh yang tergerak menyelenggarakan kegiatan ini, juga tak lupa kepada semua yang sudah terlibat. ๐Ÿ™‚ :3

Kupang, ย 17 Juli ’16

13754650_1236253949732403_3131672240899387180_n
Sumber: Dok Perempuan Biasa, foto Bedi Roma
Menulis, Puisi

Menulis adalah Caraku…

menulis
Sumber: indianareview

Kalau kau bertopeng, kau sakit

Tidak bertopeng, kau diinjak

Maka…

Menulis adalah caraku mengungkap jujur

Menulis adalah caraku melepaskan kesah

Menulis adalah caraku menyembuhkan perih

Menulis adalah caraku menghilangkan pedih

Menulis adalah caraku membunuh luka

Menulis adalah caraku mengisi lapar

Menulis adalah caraku membasuh dahaga

Menulis adalah caraku berdoa

That’s all…

Tuhan… Kurindu sangat kedekatan kita

Seperti semasa aku bocah dulu

Tak perlu segala doktrin untuk aku bisa berdoa.

Sungguh bagi-Mu,

segala tentangku tak ada yang tersembunyi.

 

Minggu, 20 Januari 2012

Puisi

Definisi Cinta*

*Definisi Cinta ala Math. Dibuat dalam rangka mengikuti lomba puisi antar jurusan menyambut Hari Valentine di UPH Teachers College 2010 ๐Ÿ™‚

befc5f2b4c47806962a5a9da3d94bdf6
Sumber: media-cache

Aku berani menerobos lorong-lorong gelap
Aku berani menyibak semak-semak penuh duri
Bahkan tak ragu berhadapan dengan kematian

Apa yang membuatku gila?
Apa sebab semua itu?
Definisi apa tepat untuknya?

Daging dan tulangku ditinggal pergi
Jauh berkelana jiwa mencari jawaban

Cintakah itu?

Di pinggir pantai aku berdiri, memandang busur pelangi
Di antara warna-warninya, ada terlukis,
“Itu keindahan. Indah pada diri-Nya.”

a788f7fa75bd64e00c863dc8d1d9c429
Sumber: media-cache

Aku menoleh pada api yang menyala
Dalam kobarannya ada terpancar,
“Itu energi. Tak bisa diciptakan tak bisa dimusnahkan.
Dia yang kekal masuk dalam kesementaraan
Mencurahkan darah sebagai tanda penebusan
Ketika Dia menitikan air mata
Kengerian memekik tanda kekalahan.”

Aku berpaling pada angin yang berhembus,
Di antara desirannya kudengar bisikan,
โ€œDia itu integral. Kesatuan yang utuh.โ€

Kuhampiri beningnya telaga. Bercermin
Dalam ketenangannya kubaca pantulan,
โ€œDia itu tak terhingga, tak terbatas.โ€

417ff2040cc4284cdab15201e583cb6a
Sumber: media-cache

Aku berbalik
Jiwa melebur masuk dalam daging dan tulang
Pada diri kubertanya, dengan hati dan pikiran terbuka
Terdengar alunan musik berlagu lembut,
โ€œDia tak terdefenisi.โ€

Cinta adalah Dia

Dia adalah Cinta

Cinta adalah Cinta.

with love,
The big family of 2IMM1