Cuplikan Cerita Lentera, Cuplikan Cerita UPH

Kapsul 6: Bertemu Pak Parapak dan Ibu Ban Garcia

IMG20180131155526.jpg

Sore tadi sepulang sekolah, kami guru-guru SDH dan SLH berkesempatan bertemu dengan Pak Jonathan Parapak. Beliau adalah rektor UPH di Karawaci Tangerang sekaligus salah satu dari pendiri Perkantas. Dalam pertemuan singkat itu, beliau menyampaikan maksud kedatangan dan beberapa hal terkait perkembangan SDH-SLH di Kupang. Selain mengapresiasi SDH dan SLH yang sudah memberi dampak bagi Kupang, beliau pun menambahkan beberapa pesan selayaknya orang tua kepada anak.

Terkait bapak ini, saya sendiri sebenarnya punya satu kesan khusus.

Pernah suatu kali saya baru saja keluar dari Books & Beyond (waktu itu namanya Times Bookstores) yang terletak di gedung A, satu gedung dengan rektorat, beliau juga baru saja keluar dari lift. Kami berpapasan di pintu keluar gedung A. Beliau berjalan pelan-pelan. Karena tahu beliau menuju gedung asrama, tempat tinggalnya di kampus (kami satu asrama, tapi punya beliau yang VIP tentunya. beda lift), saya pun sengaja berjalan perlahan-lahan. Maksud saya, ya, menemani sekalian siapa tahu bisa mengobrol langsung. Taman kampus tidak terlalu ramai tidak juga terlalu sepi. Jam normal sore, kira-kira pukul 16.00.

Merasa seseorang menguntitnya agak lama belakang, sudah setengah perjalanan, kira-kira 150 meter, beliau menoleh perlahan.

“Mau lebih dulu?” beliau bertanya. Karena saat itu kami sedang berada di setapak tunggal di taman.

Saya menggeleng dan terkekeh saja. “Tidak apa-apa, Pak,” begitu saya bilang.

“Saya jalannya pelan-pelan,” katanya.

Saya tidak tahu mau jawab apa. Jadi saya mempercepat langkah saya bermaksud menjajari langkahnya. Cukup muat ternyata setapaknya. Entah saya yang memulai atau beliau, akhirnya tercapai niat saya. Setelah biasanya hanya bisa mendengar dari mimbar chapel, akhirnya saya bisa mengobrol langsung dengan beliau. Obrolannya tidak berat-berat amat memang, karena hanya berupa basa-basi. Di pelataran depan gedung D, nampak mahasiswa teknologi pangan sedang mengadakan bazar kerak telur dan es goreng. Beliau menawarkan saya singgah melihat-lihat. Karena tak punya uang, dan kesannya sok SKSD juga kalau saya iyakan untuk singgah bersama-sama dengan rektor, saya pun menolak dengan sopan. Beliau singgah menengok bazar, saya melanjutkan perjalanan ke gedung asrama.

Demikian satu kesan saya tentang Bapak Parapak.

Selanjutnya, selesai beliau menyampaikan beberapa pesan kepada guru-guru, karena mesti ada jadwal wawancara dengan satu koran di Jakarta, beliau pun mengembalikan mik.

IMG20180131161651.jpg

Pertemuan dilanjutkan dengan Ibu Ban, seorang pembibing spirirual growth dari UPH. Beliau orang Filipina. Dulu alharhum suaminya yang juga berasal dari negara yang sama, adalah seorang teolog yang cukup berpengaruh di Asia Tenggara, yang juga pengajar di kelas teologi kami. Sepeninggal suaminya, ia masih tetap melayani mahasiswa hingga alumni dari UPH yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia termasuk Kupang.

Ada beberapa hal penting yang disampaikan Ibu Ban Garcia. Dari yang bersifat esensial hingga berupa hal-hal praktis.

Di antara yang disampaikan, ada satu hal yang saya pikir istimewa. Meski itu hanya sempat disinggung saja. Tentang facing a task unfinished. Katanya perlu dibaca. Reflektif sekali. Karena itulah saya mencatat dan segera mencarinya dan mendapatnya. Terima kasih kepada Ibu Ban. Tuhan berkati selalu pekerjaan pelayaannya.

Berikut lagu “Facing a task unfinished” dari youtube dan syairnya yang saya cuplik dari gettymusic.

Facing a task unfinished 
That drives us to our knees
A need that, undiminished
Rebukes our slothful ease
We, who rejoice to know Thee
Renew before Thy throne
The solemn pledge we owe Thee
To go and make Thee known

Where other lords beside Thee
Hold their unhindered sway
Where forces that defied Thee
Defy Thee still today
With none to heed their crying
For life, and love, and light
Unnumbered souls are dying
And pass into the night

We go to all the world
With kingdom hope unfurled
No other name has power to save
But Jesus Christ The Lord

We bear the torch that flaming
Fell from the hands of those
Who gave their lives proclaiming
That Jesus died and rose
Ours is the same commission
The same glad message ours
Fired by the same ambition
To Thee we yield our powers

We go to all the world
With kingdom hope unfurled
No other name has power to save
But Jesus Christ The Lord. 

atau video yang sekalian dengan liriknya:

https://www.youtube.com/watch?v=zOpt_bulJxY

Iklan