PD I-1 #17/18: Summative Assessment & School Theme

IMG20170907090451Di SLH dan SDH, ada program PD yang selalu dilaksanakan dua tahun sekali yaitu di setiap awal semester. Tim yang menanangani program tersebut adalah PDCE. Setiap PD dilaksanakan, Tim PDCE tidak sendiri, tapi mereka juga bekerjasama dengan SPH.

Seingat saya, dua tahun terakhir ini di bagian kurikulum, kami lebih diarahkan untuk membahas tentang assessment atau penilaian. Tepatnya di semester ganjil tahun lalu, bertempat di Aula SMA Lentera Harapan Kupang, assessment itu mulai digaungkan. Formative assessment dan summative assessment. Dua-duanya dibahas. Kemudian berlanjut lagi di awal semester genap tahun ajaran kemarin, semakin dikerucutkan hanya kepada formative assessment. Sesi PD kami waktu itu bersama Ms Anika dan Mrs Joseph Chong dari SPH Kemang Village. Waktu itu kami banyak belajar tentang apa itu, mengapa, dan bagaimana bentuk-bentuk formative assessment, dan materi penting lainnya. Banyak hal baru saya dapat. Namun dari PD yang berlangsug dua hari tersebut, ada hal paling berkesan bagi saya yaitu assessment as a blessing. Walau materi PD dua hari itu tidak secara utuh dan detail saya tuliskan, hal berkesan itu sempat saya pahatkan di blog ini dengan judul Assessment as a Blessing.

Nah, bila di semester sebelumnya lebih kepada formative assessment, maka PD kali ini mulai masuk kepada summative assessment, terutama lebih kepada bagaimana pengolahan nilai akhir.

Untuk lebih jelasnya, berikut akan menyusul rangkuman saya terkait PD setengah hari pertama ini bersama Bapak Joseph Chong, seorang guru IPA di SPH Kemang Village. Lha, kenapa tidak sekalian sekarang? Maaf, belum sekarang sebab rangkuman tersebut masih dalam draft yang tentu berantakan sekali. Mungkin dua hari ke depan ini akan saya percantik supaya lebih enak dibaca dan diikuti. ๐Ÿ™‚

Baik, mari kita melangkah ke sesi selanjutnya.

Kalau sebelumnya tentang kurikulum, maka pembahasan berikut ini lebih berkaitan dengan masalah spiritual. Dibawakan oleh Tim dari PDCE, dalam hal ini adalah Pak Rene Sompie. Bagian ini penting, sebab ialah yang menjadi landasan sekolah berdiri dan napas sekolah tetap terus berjalan dengan gagah. Tanpa bagian ini, atau misalnya ada pun namun tidak kokoh, maka sebaik dan sebagus dan sekeren apapun kurikulumnya, sekolah hanyalah gedung mati dan proses pembelajaran pun akan seperti sosok mayat berjalan alias zombie (btw, ini kesimpulan saya sendiri).

Ok, bagian ini akan dimulai dengan tema sekolah. Kenapa tema sekolah itu perlu? Kenapa pula setiap tahun tema sekolah terus berganti. Contoh saja, kalau di SLH Kupang tema sekolah tahun ini adalah Precious than Gold. Tema tahun lalu, All for Jesus. Tahun sebelumnya lagi, In Christ Alone. Tahun sebelumnya lagi, Keutamaan Kristus, lalu Yesus yang Terutama, lalu yang tahun pertama adalah The Second Home. Apa perlunya tema-tema ini? Apa kaitannya dengan visi misi sekolah. Demikian beberapa pertanyaan pembuka yang diajukan Pak Rene. Selanjutnya, peserta PD diajak untuk bersama-sama merenungkan satu kata penting terkait tema sekolah tahun ini, yakni hikmat.

Kata hikmat adalah kata yang menjadi kunci di balik tema Precious than Gold. Toh, Precious than Gold. Lebih berharga daripada emas. Benda apa atau hal apakah yang lebih berharga daripada emas? (demikian orang kita sekarang memaknai sesuatu yang sangat-sangat berharga yang mana nilai keberhargaanya tidak menurun sekalipun masa terus bergulir adalah emas, atau mungkin juga tanah, sapi, kebun, masing2 menurut pengertiannya kali ya, sama seperti kalau sekarang bilang lebih berharga daripada hp saya, android saya, akun saya, dll) Tentu jawabannya tiada lain dan tiada bukan, ialah Hikmat.

Ada tiga pelajaran tentang hikmat yang dibagikan Pak Rene di sini. Pertama, pelajaran hikmat dari makanan. Berkaitan dengan beliau baru saja ditimpa sakit beberapa bulan lalu. Dari sanalah ia belajar banyak hal terkait bagaimana makanan itu masuk ke dalam tubuh kemudian diolah hingga kemudian ada efek ini dan itu bila tak hati-hati memilih makanan apalagi dengan model bekerja yang tidak banyak menggerakkan tubuh. Kedua, pelajaran hikmat dari balik penjara. Berkaitan dengan HUT Pak Rene bersamaan dengan HUT Pak Ahok, dan juga Pak Ahok ini pun adalah ayah dari mantan muridnya, Nicholas SP, sewaktu beliau mengajar di SPH Lippo Village dulu, maka Pak Rene pun berkeinginan menyambangi tempat Ahok nanti di hari istimewa mereka tersebut. Namun karena beberapa hal, kunjungan itu walau jadi namun tidak pada hari seperti yang ditentukan. Dari peristiwa bertandang dan beberapa hasil percakapan itu, ada pelajaran tentang yang diambil. Tentang bagaimana akhirnya kau mendapati bahwa apa yang terlihat tidak seperti yang terlihat, serta bahwa di dunia ini kita perlu juga belajar memilah mana kawan dan mana lawan. Kemudian pelajaran ketiga, hikmat dari angkasa. Bagaimana kau melihat dari sebuah ketinggian dan merenungkan betapa dunia ini kecil dan kau tak bisa hanya melihat pada apa yang sebatas kau lihat. Kau mesti belajar melihat dengan melampaui sesuatu yang tampak di depan mata. Hidup kita tak sebatas yang ada di bumi. Sang penilai sejati bukanlah atasan kita yang bisa juga suatu saat akan mati bersama-sama dengan kita.

Sebagai bahan renungan bersama, kami membaca Amsal 8. Beberapa kelompok, kami diminta untuk menemukan kata kunci dari bagian bacaan masing-masing. Dari situ dapat disimpulkan apa kira-kira makna penting yang didapat. Nah, makna itulah yang pada akhirnya membuahkan tema tahunan sekolah tersebut. (Tulisan selanjutnya terkait ini akan menyusul. Ada sesuatu yang hebat menyerang saya sekarang di tengah-tengah penulisan kembali ini, kantuk :(. Lagian saya juga harus beristirahat untuk melanjutkan besok PD hari kedua…:)) Salam…

 

Iklan

Kumpulan Keperluan Unit Plan

foto unit planSebagaimana tahun lalu, kami di SLH tahun ini pun tidak memakai format perangkat yang diberikan pemerintah selain program tahunan/semester dan alokasi waktu, serta KKM. Lumayan, tak ada silabus, tak ada RPP. Sebagai gantinya, kami memakai format dari tim PDCE, tim khusus untuk pendidikan di SDH dan SLH se-Indonesia. Kami menyebutnya format ini weekly plan dan unit plan. Sudah ada formatnya langsung dari PDCE. Hanya saya mau mencoba membaca-baca saja format unit plan atau weekly plan dari internet. Biar lebih memperkaya. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ™‚ Lumayan ada beberapa saya temukan. Ada yang cocok, ada pula yang tidak. Untuk sementara akan saya simpan linknya di sini biar nanti tidak kesulitan kalau mau mencarinya lagi. Jangan seperti kemarin, ada beberapa yang sempat sempat baca, tapi hari ini mau buka, saya malah sudah lupa apa dan di mana. ๐Ÿ™‚

Unit Plan

Unit Plan for Teachers oleh Edward S. Ebert II, Christine Ebert, Michael L. Bentley

Lesson Plans and Unit Plans: The Basis for Instruction oleh Gini Cunningham

(Btw, dari nama ini, saya teringat salah satu tokoh dalam To Kill a Mockingbird dari Harper Lee, Walter Cunningham โ™ฅโ™ฅ)

Learning Myths, Writing Myths oleh Jennifer Chandler

Strategy

Five Ways to Start Your Lessonsย ย dari Gretchen Vierstra

Five Ways To Close A Lesson dari Gretchen Vierstra

Di atas semuanya, jangan sampai mengabaikan satu hal, tema tahunan SLH kali ini, Precious than Gold.

What’s that? ๐Ÿ˜‰ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚