Makanan Bergizi ala Teachers’ Gathering bersama EduTraC Kupang

      ***Saya tak akan menuliskannya dengan judul ala media mainstream, misalnya, Rayakan Hari Guru, EduTraC bikin Teachers’ Gathering  😅😜😄

Hujan mengguyur Kupang setelah pukul 03.00 sore. Dengan mantel membungkus tubuh, saya memacu motor menuju tempat diadakannya Teachers’ Gathering, tepatnya di Kafe KupangKoe di daerah Oebobo, Kupang. Saya tiba belasan menit lewat dari waktu yang ditentukan yakni pukul 04.00 sore.

Sebelumnya saya sudah berjanji pada diri sendiri harus tiba di tempat acara sebelum waktu yang ditentukan. Sudah saya kirimkan pesan ke kawan saya, kami harus tiba sebelum pukul 04.00 sore. Sayang meski sudah bersiap sejak awal tapi karena hujan turun mendadak sebelum pukul 04, saya akhirnya menunggu sebentar dengan membuka-buka buku yang sementara dalam masa baca. Berpikir mungkin saja sebentar lagi hujan  reda. Sayang, mendekat pukul 04.00 sore itupun tak ada tanda-tanda hujan mereda. Maka bermodal tekad, saya membungkus ransel saya dengan mantelnya, lalu mengambil mantel untuk saya sendiri untuk kemudian memacu motor menerobos hujan.

IMG20171125162220.jpgSaya tiba ketika meja kursi sementara dikeringkan oleh mereka yang hadir lebih dulu di sana. Awalnya direncanakan meja kursi itu bertempat di luar, tapi karena di hujan maka dipindahkan di dalam teras.

Selesai orang mengatur tempat, saya menuju meja registrasi. Entahlah karena ini pertama kali, intinya hari itu (25/11/17) hanya dengan 15 ribu rupiah kau sudah mendapat materi berikut kudapannya. Seusai registrasi, saya memilih tempat paling depan dekat tempat stopkontak. 

Tak berselang lama, satu dua orang mulai datang, menempati kursi-kursi yang disediakan. Pengunjung yang sudah hadir disuguhi alunan musik, entahlah instrumen apa saya kurang hafal, sambil menunggu kedatangan peserta yang lain.

Acara dibuka beberapa menit kemudian. Saya tak sempat menengok jam. Ibu Elise sebagai pembawa acara membukanya dengan ucapan selamat datang kepada peserta. Dilanjutkan doa oleh Pak Grefer Pollo.

IMG20171125165030.jpgSebelum kesempatan diberikan kepada Pak Hengky sebagai pemateri, kami saling berkenalan satu sama lain karena peserta yang datang berasal dari sekolah yang berbeda baik di Kota Kupang maupun Kabupaten Kupang. Cara berkenalan kami tidak seperti biasanya sebab ada games kecil-kecilan dan sederhana yang dipandu sang pembawa acara😊. Saya sempat mengingat beberapa nama antara lain: Pak Ferdy Kana, guru SMP Kristen Mercusuar yang juga adalah Ketua MGMP Matematika SMP se-Kota Kupang, Pak Yapi dari SMPN 18, Pak Frans, Ibu Grace, Pak Yandry, Pak Yadi, Ibu Isabella, Ibu Maria, Ibu Sherly, Ibu Andry, Ibu Ery, serta beberapa nama lain yang tak sempat saya ingat, juga beberapa kawan saya dari Lentera yang baru menyusul kemudian.

Kami melakukan tes kekuatan otak/konsentrasi sebelum mikrofon benar-benar diberikan kepada Pak Hengky 🙂 n.b: backsound video ini bagus, Faded dari Alan Walker, satu DJ favorit saya bermula dari lagu Alone yang keren itu :3 😉

Seusai tes kekuatan otak/konsentrasi yang cukup seru itu walau banyak di antara peserta yang sudah pernah melakukannya, kami semua diminta berdiri untuk bersama-sama menyanyikan lagu Jasamu Guru ciptaan Isfanhari. Sebuah lagu edukatif yang memang sekarang jarang atau hampir tak terdengar meski pernah berjaya karena tayang di TVRI tahun 1990-an. Kami menyanyikannya bersama diiringi musik oleh Pak Grefer.

IMG20171125170910.jpgDengan selesai bernyanyi bersama itulah, saatnya mikrofon diberikan kepada Pak Hengky sebagai pemateri hari itu.

Pak Hengky membukanya dengan bertanya demi mengenal lebih dekat audiens. Siapa yang sudah paling lama mengajar dan siapa yang baru saja terjun ke dalam dunia mengajar. Di antara peserta yang hadir, terdapat seorang yang sudah lama terjun dalam dunia mengajar yakni lebih dari 27 tahun. Beliau adalah Pak Frans (saya lupa dari SMP mana, akan saya tanyakan setelah ini, tapi yang jelas adalah SMP Negeri :)). Berikutnya menuju yang paling muda, belum sampai setahun mengajar. Banyak ternyata. Paling banyak berasal dari Sekolah Kasih Karunia, salah satu sekolah swasta yang berlokasi di Kabupaten Kupang. Demikianlah peserta Teachers’ Gathering hari itu beragam. Dari sekolah negeri maupun swasta, dari yang sudah makan asam garam hingga yang paling ‘hijau’ termasuk saya. Dengan ada wadah semacam ini, para guru bisa berkumpul bersama untuk saling berbagi dan melengkapi satu sama lain.

Selanjutnya beranjak dari pengenalan audies itu, kami diajak menyaksikan video pertama, I am a teacher and I believe I can make a difference.

Memang video tersebut berbahasa Inggris. Tapi Pak Hengky pun menjelaskan garis besar terjemahannya. Lagipula kalimat-kalimatnya masih terbilang sederhana sehingga sebenarnya mudah diikuti. Ada penjelasan singkat mengenai video tersebut. Saya tak perlu menuliskan di sini. Silakan baca dan resapi sendiri. Lebih bertahan lama kalau kau yang mencerna dan menemukan maknanya sendiri, bukan? 😊 Intinya adalah keyakinanmu sebagai seorang guru, dengan kacamata yang kau pakai untuk melihat keistimewaan dan keunikan setiap murid, kau dapat memberi warna berbeda dalam hidup mereka.

IMG20171125171830.jpgMasuk kepada penjelasan, Pak Hengky memaparkan tentang tantangan-tantangan pendidikan masa kini. Ada dua poin penting yang ditampilkan di layar.  Sayang karena saat itu matahari sore mulai memunculkan cahayanya sehingga saya tak bisa dengan jelas membaca apa yang tertera layar tersebut. Tapi dari penjelasan lisan saya sempat menangkap kalau tak salah itu dua-duanya berkaitan dengan perkembangan teknologi. Dilanjutkan dengan perbedaan perkembangan generasi demi generasi. Dari generasi masa lampau hingga generasi sekarang yang dikenal dengan sebutan alpha. Ada teorinya. Silakan cari di internet, ini salah satunya -> Generasi XYZalpha atau bisa juga di Sejarah Perkembangan Teknologi Informasi. Bahkan ada satu film baru berjudul The Circle (yang merupakan adaptasi dari novel Dave Eggers berjudul sama) sempat disinggung berkaitan dengan kecanggihan teknologi di masa yang akan datang, serta kabar terbaru tentang Anthony Levandowski dengan Artificial Intelligence atau yang dikenal dengan konsep agama barunya, The Way of Future.

Dengan pengantar demikian, masuklah peserta diajak berpikir bersama.

Mencermati fenomena perkembangan teknologi sedemikian, di mana siswa lebih bisa dengan cepat dan mudah mengakses segala pengetahuan, kita sebagai guru sudah sampai sejauh mana? Masih relevankah kehadiran seorang guru di dalam kelas? Masihkah keberadaan guru di kelas atau sekolah dibutuhkan?

Peserta diajak berefleksi sejenak sebelum kemudian dilanjutkan dengan menonton bersama video berikutnya, Because of a Teacher.

Secara garis besar, video tersebut menunjukkan siswa dapat merasa aman, menjadi pembaca, pemecah masalah atau pemberi solusi, ilmuwan, pencatat sejarah,  aktif (bergerak), bekerja melalui jaringan, menemukan talente unik masing-masing, berkomunikasi global, jatuh cinta dengan kegiatan membaca sehingga menjadi pembelajar sepanjang hayat, semua itu dapat terjadi karena pengaruh seorang guru. Melalui murid-muridnyalah, seorang guru dapat mengubah dunia.

Dengan video tersebut, pertanyaan pengantar di atas terjawab. Bahwa:

Meski perkembangan teknologi mau sehebat apapun, kehadiran seorang guru tetap diperlukan. Keberadaan kita sebagai seorang guru tetap dibutuhkan. Karena keberadaan kita melampaui sekadar a+b+u=abu atau 1+1=2.

TG

Sumber foto: Dok EduTraC

Relevansinya dengan profil Kota Kupang saat ini (karena memang fokus pembahasan ini baru dimaksudkan hanya dalam lingkup Kota Kupang), sesuai data statistik, diperkirakan ± 120.000 jiwa adalah usia belajar (5-19 tahun). Sebagai guru, itulah ladang yang kau garap. Sementara itu di media massa atau media sosial tersebar beragam perilaku anak-anak usia belajar ini. Contohnya bisa kau amati di lingkungan sekitar.  Melihat gambaran profil dan situasi tersebut, di manakah kau yang bilang, I am a teacher and I believe I can make a difference”? Bukankah sebagai guru, kau mesti punya kepedulian dan passion yang lebih tentang ini? (Telak! Teguran sekaligus peringatan). Lantas, apa yang bisa kau suarakan, tentang bagaimana menjadi seorang guru yang berkualitas? Selanjutnya cobalah saksikan video berikut!

Sedikit gambaran dari video tersebut (bukan rangkuman sebab saya hanya ambil bagian tertentu) adalah tidak susah sebenarnya menjadi guru berkualitas.

Mengajarlah dengan hati. Buatlah aksi. Ajarlah dirimu sendiri terlebih dahulu, dan jadilah inspirasi.

Guru biasa menasihati, guru yang baik menjelaskan, guru yang unggul mendemonstrasikan, guru yang hebat menginspirasi. Bermainlah bersama mereka, belajar bersama mereka, berpikir bersama mereka, bimbing mereka, biarkan mereka berpikir di luar kotak. Hanya kau yang mampu melakukannya. Karena kau seorang guru. Buatlah mereka percaya para diri mereka. Pengaruh seorang guru yang hebat tak mudah lekang oleh waktu.  Maka, buatkan aksi mulai hari ini. Jangan tunggu orang lain berubah. Hanya kau yang bisa membuat perubahan itu. Change yourself first and inspire other.

Btw, ini kalimat dong su ke mau ganti Mario Teguh sa … 😀 Biar, toh, itu video di atas juga judulnya motivasi buat guru.  Ringkasnya adalah

guru yang baik mengajar, guru yang hebat menginspirasi.

Demikianlah sesi pemateri sampai di sini. Beliau tak banyak menceramahi harus begini harus begitu. Tapi seperti yang diikuti, beliau lebih kepada memberi api semangat kepada para guru yang mungkin apinya hampir padam.

Tibalah waktunya untuk peserta saling berdiskusi. Peserta diminta duduk dalam berkelompok. Sayang, mungkin bagian ini salah satu yang menjadi catatan untuk pengurus –EduTraC– nanti perbaikan ke depannya. Memang pembentukan kelompok tak sericuh anak-anak murid di kelas ketika diminta duduk berkelompok. Tapi mungkin perlu dipikirkan strategi pembagian kelompok diskusi agar ini pun menjadi contoh langsung kepada bapak/ibu guru tentang teknik pembentukan kelompok agar bisa diterapkan dalam pembelajaran di kelas sebagaimana games kreatif di awal tadi (Saya menulis ini pun juga sebagai refleksi saya terhadap kelas PKB yang saya fasilitasi kemarin di SMPN 16. Karena beberapa hal teknis, rencana saya membentuk kelompok itu tak jadi hingga saya menyesal setengah mati–untung tidak mampus 😉 😄).

Di sesi diskusi ini, ada tiga pertanyaan diberikan sebagai panduan. 1) Hal baru apa yang diperoleh dari materi yang baru saja disampaikan? 2) Apa yang bisa kita suarakan untuk pendidikan Kota Kupang yang lebih baik? 3) Apa yang bisa kita lakukan untuk menjadikan Kota Kupang sebagai salah satu kota pendidikan yang berkualitas?

Meski tak ada games atau strategi untuk pembentukan kelompok, peserta memang tetap diarahkan untuk berbaur dan peserta pun adalah orang-orang bijak nan terpilih yang dengan gesit segera bergerak untuk berbaur. Dari yang sudah kenyang makan asam garam bergabung dengan masih hijau –termasuk saya–, dari yang di sekolah negeri berbaur dengan sekolah swasta. Di kelompok kami sendiri ada enam orang dengan sekolah berbeda.

IMG20171125181717.jpgSesi diskusi berjalan seru ketika kudapan dengan minuman yang dipesan sebelumnya di meja registrasi mulai diedarkan. Ada pisang rebus, singkong rebus, ubi jalar rebus, ubi goreng, pisang goreng. Intinya semua kudapan itu berupa pangan lokal. Bahkan minumannya pun minuman sehat. Daftar minuman sudah ada di meja registrasi ketika kita mendaftar. Saya sendiri bahkan ketika baru datang dan saat disodorkan daftar pilihan minuman, saya mencari-cari di mana yang ada tulisan kopi. Membaca dengan cermat dari atas ke bawah lalu mengulang lagi dari bawah ke atas tapi sungguh tak ada tulisan kopi saya temukan. Yang ada hanya beraneka jenis teh, beraneka minuman jahe, serta beraneka pilihan jus. Saya sempat bertanya, kenapa tak ada kopi padahal tempat ini jelas-jelas adalah kafe dan namanya saja KupangKoe (+pi?:D). Oleh Ibu Welly yang adalah koordinator EduTraC ini saya dijawab, Untuk bapak/ibu guru tidak disediakan kopi. Semuanya harus minuman sehat. 😅😂 Okelah kalau begitu. Demikian saya memesan jus alpukat untuk malam yang sejuk itu 😄.

IMG20171125181730.jpgBeberapa menit diskusi berjalan. Saya tak melihat jam mulai dan berakhirnya. Tapi sepertinya tak sampai setengah jam. Setiap perwakilan kelompok diminta mempresentasikan hasil diskusi. Ada Pak Yapi, Pak Frans, Ibu Grace, dan Ibu Sherly maju mewakili kelompok masing-masing.

Menanggapi tiga pertanyaan yang diajukan, datang beragam jawaban dari kelompok-kelompok diskusi tersebut. Kelompok pertama memberikan jawaban untuk pertanyaan tersebut yakni guru yang baik menjelaskan, guru yang hebat menginspirasi, maka tempatkanlah dirimu untuk menginspirasi bukan sekadar menjelaskan. Berikutnya kelompok dua, guru seharusnya menjadi inspirator dan motivator untuk peserta didik. Kelompok berikutnya maju dan menyatakan rasa syukurnya sebab kegiatan semacam ini sangat baik sebagai penyegaran buat para guru terutama yang tua atau senior. Mendukung apa yang baru saja dikatakan Pak Yapi sebelumnya, perlunya perkumpulan seperti ini agar baik yang sudah lama terjun dalam dunia mengajar ataupun yang baru mau masuk bisa saling berbagi satu sama lain. Jawaban untuk pertanyaannya, yakni guru tak hanya mengajar tapi juga menjadi motivator, tak mengandalkan kemampuan sendiri tapi juga perlu dan harus berusaha mengoptimalkan potensi setiap siswanya. Kelompok berikutnya maju dan memberi jawaban yang tak jauh berbeda dari tiga kelompok sebelumnya.

Berikutnya jawaban untuk pertanyaan kedua dan ketiga. Sebelumnya hampir semua peserta mengatakan untuk meniadakan kata Kota Kupang mengingat mereka yang datang tak hanya yang mengajar di kota melainkan juga di kabupaten. Jadilah Kota Kupang diperluas menjadi Kupang (merangkum kota dan kabupaten) bahkan katanya kalau bisa daratan Timor sekalian atau bahkan NTT😄.

Jadi apa yang bisa disuarakan bersama untuk dunia pendidikan di wilayah Kupang khususnya atau NTT umumnya yang lebih baik, serta apa yang bisa dilakukan untuk menjadikan Kupang atau NTT sebagai basis pendidikan yang berkualitas? Demikian rangkuman jawaban para peserta diskusi:

a) Bangun kesadaran guru agar berada dalam satu komunitas, baik komunitas yang dibentuk pemerintah ataupun non pemerintah. Dari pemerintah sendiri seperti yang baru-baru mulai digencarkan yakni MGMP. Dari non pemerintah bisa seperti yang dilakukan EduTraC ini.

b)  Guru harus mau rugi sedikit. Mau merogoh koceknya untuk belajar mengembangkan pengetahuannya. Bisa seperti yang sementara dilakukan. Anda datang ke tempat Kafe KupangKoe ini dengan bersedia merogoh kocek 15 ribu. Nah, ini baru 15 ribu. Kalau bisa, jangan sungkan juga untuk kegiatan serupa ini dengan biaya yang misalnya lebih jauh di atas 😄.

c) Membangun kerja-sama guru, orang tua, dan pemerintah demi bersama-sama memperhatikan peserta didik.

d) Bangun kesadaran guru untuk terus menggali potensi kreativitas yang (entahlah maksudnya di sini potensi kreativitas guru atau siswa, saya kurang dengar di sini karena ada gangguan teknis :))

e) Mau apapun dan bagaimanapun, karakter guru haruslah dibentuk terlebih dahulu. Segala inpirasi dan motivasi untuk siswa haruslah dimulai dari diri sang guru. Ia sendiri mau belajar atau tidak. Jangan sampai ia menuntut siswanya menjadi pembelajar seumur hidup, sementara ia kalau buat kesalahan dan mendapat sedikit kritikan saja ia berbalik melabrak dengan mata melotot.

f) Membangun taman baca dan perpustakaan yang lebih banyak. Dapat dilihat bahwa selama ini justru mereka yang bukan gurulah yang dengan intens dan giat-giatnya membangun taman-taman baca atau perpustakaan serta bersemangat memotivasi orang-orang untuk membaca. Di mana guru yang adalah pemberi inspirasi?

g) Perlunya banyak pelatihan atau workshop bagi guru-guru. Tidak hanya seminar formal yang menjual sertifikat semata untuk peserta lalu materi seminar hanyalah mengulang kembali teori-teori atau tips-tips yang bisa kau baca sendiri di internet.

h) Mungkin perlu adanya studi banding antar sekolah dalam kota atau kabupaten atau antara sekolah swasta dan negeri.

h) Berikut yang terakhir adalah pesan ‘sponsor’😄. “Ingat, kalau ada kegiatan serupa ini lagi, jangan kami dilupakan,” begitu pesannya (Ibu Sherly) sebelum ia mengembalikan mikrofon kepada pamateri😄.

Demikianlah presentasi hasil diskusi dari bapak/ibu guru yang catchy abis. Untuk tanggapan balik, sempat disinggung collaborative learning dan collaborative teaching, namun saya lebih tertarik kepada video yang diputar, I am A Teacher.  

Acara hari itu berakhir di pukul 19.00 wita sesuai kesepakatan. Tak banyak buang waktu untuk mendapat penyegaran luar biasa di hari guru, bukan? Saya bersyukur sekali, EduTraC menjadi penawar rasa sakit saya karena kemarin (Jumat, 25/11), demi memperingati hari guru kami berdiri di tengah aspal menatang panas di siang bolong berjam-jam sampai benar-benar seperti berada dalam kolam keringat sebelum kemudian berjalan menyusuri jalanan sepanjang beberapa kilo untuk kemudian tiba di garis akhir yang ditentukan lalu pulang dan menyesal bahwa belum semua perlengkapan EBAS siap di posisi masing-masing hingga di hari Senin (27/11) inilah baru kami tergopoh-gopoh menyelesaikan.

Sedikit refleksi saya, terang saja, sebenarnya kegiatan serupa ini bukanlah sesuatu yang baru karena PD rutin di Lentera biasa dibawakan serupa ini dan orang-orangnya mereka juga yang memang diberkati untuk bekerja di bagian ini. Saya merasakan bagaimana semangat saya sebagai guru pun dipupuk dalam PD-PD yang ada di sekolah baik yang dibawakan pihak internal sekolah maupun Tim PDCE tiap awal semester. Terkadang saya berpikir untuk menuliskan dan membagikannya agar orang-orang lain pun bisa mendapatkan seperti yang saya dapatkan dari PD-PD di sekolah. Hanya terkadang ketika berpikir demikian, datang juga bisikan, tak perlu, tak perlu, biarkan saja, biarkan mereka dengan mereka, dan kalian dengan kalian. Maka, pikiran-pikiran yang terbersit untuk berbagi materi-materi di PD pun perlahan-lahan layu lalu mati. Sekarang dengan adanya Teacher’s Gathering yang mengikutsertakan para guru dari sekolah-sekolah lain ini, kesampaian juga niat berbagi semangat menjadi guru ini. Mari, ucapkan terima kasih kepada Teachers’ Gathering dari EduTraC yang telah memberi warna berbeda di Kupang dalam rangka memaknai hari guru di tahun 2017. Biarlah Tuhan tetap dan terus berkarya melalui adamu🙏🙏🙏😊😇.

IMG-20171125-WA0069.jpg

Bersama tiga dari lima pengurus EduTraC. Dua di antaranya pernah menjadi petinggi Lentera Harapan Kupang :D, sementara satunya masih bersama kami

Sementara di bawah ini hanya bonus foto. Anggap saja sebagai hiasan dinding blog ini. Aksesoris begitulah.  🙂

Buku yang saya pegang itu judulnya Kekekalan. Ditulis oleh Milan Kundera. Untuk membaca buku itu, kalau kau seorang yang kurang membaca kayak saya, setidaknya ada HP di tangan. Biar sedikit-sedikit bisa buka  google 😀 🙂

Iklan

Kumpulan Keperluan Unit Plan

foto unit planSebagaimana tahun lalu, kami di SLH tahun ini pun tidak memakai format perangkat yang diberikan pemerintah selain program tahunan/semester dan alokasi waktu, serta KKM. Lumayan, tak ada silabus, tak ada RPP. Sebagai gantinya, kami memakai format dari tim PDCE, tim khusus untuk pendidikan di SDH dan SLH se-Indonesia. Kami menyebutnya format ini weekly plan dan unit plan. Sudah ada formatnya langsung dari PDCE. Hanya saya mau mencoba membaca-baca saja format unit plan atau weekly plan dari internet. Biar lebih memperkaya. 😀 🙂 Lumayan ada beberapa saya temukan. Ada yang cocok, ada pula yang tidak. Untuk sementara akan saya simpan linknya di sini biar nanti tidak kesulitan kalau mau mencarinya lagi. Jangan seperti kemarin, ada beberapa yang sempat sempat baca, tapi hari ini mau buka, saya malah sudah lupa apa dan di mana. 🙂

Unit Plan

Unit Plan for Teachers oleh Edward S. Ebert II, Christine Ebert, Michael L. Bentley

Lesson Plans and Unit Plans: The Basis for Instruction oleh Gini Cunningham

(Btw, dari nama ini, saya teringat salah satu tokoh dalam To Kill a Mockingbird dari Harper Lee, Walter Cunningham ♥♥)

Learning Myths, Writing Myths oleh Jennifer Chandler

Strategy

Five Ways to Start Your Lessons  dari Gretchen Vierstra

Five Ways To Close A Lesson dari Gretchen Vierstra

Di atas semuanya, jangan sampai mengabaikan satu hal, tema tahunan SLH kali ini, Precious than Gold.

What’s that? 😉 🙂 🙂