Cuplikan Cerita UPH, God's Story, Refleksi

Menonton “When the fashion model met the designer – Sydney – talk” di YouTube

Awalnya saya hanya buka youtube dengan maksud ingin melanjutkan tontonan kemarin tentang reformasi. Ternyata dari beberapa video yang nongol ada tertulis nama Tracy Trinita.

Nama ini tidak asing. Sebab beliau adalah salah satu dosen semasa kami kuliah di Teachers College UPH Lippo Karawaci. Beliau seorang dosen teologi waktu itu.

Semula ketika baru pertama kali beliau bergabung di Teachers College, kakak-kakak angkatan dan beberapa kawan heboh. Mereka seperti melihat dewi dari khayangan turun ke bumi. Saya sendiri merasa biasa-biasa saja. Toh, bukankah orang-orang di UPH itu rata-rata begitu perawakannya.

Ternyata, bukan itu yang mereka hebohkan. Bukan perawakannya yang tinggi atau cantik wajahnya yang membuat mereka heboh luar biasa. Ini tentang latar belakangnya.

Apa latar belakangnya, saya tanya. Model, kata mereka. Oh, memangnya kenapa kalau model. Saya memang kuper kalau tentang yang begituan. Kau tidak tahu? itu modelbukan model biasa. Sudah model internasional kali dia itu. Model berkelas. Sudah melanglang buana jadi model di NY dan Paris sana. Dan sekarang, dia jadi dosen kita di TC. Dosen teologi. Bayangkan, seorang model internasional jadi dosen teologi.

Saya manggut-manggut walau tak bisa ikut terpesona dengan berita yang saya dengar. Mungkin karena walau namanya mentereng, saya yang memang kurang mengenal. Ya, iyalah…memangnya sejak kapan saya tertarik melihat wajah model-model. Kalaupun mungkin wajahnya pernah nongol di majalah remaja contohnya Aneka Yes yang dulu sewaktu SMA sempat beberapa kali saya beli, saya pasti tak memperhatikan karena memang lebih tertarik dengan cerita-cerita di dalam majalah itu.

Singkat cerita, beliau memang sempat beberapa lama berada bersama kami di TC UPH. Beliau memang tidak mengajar di kelas saya tepatnya, tapi beliau sering ada bersama kami dalam beberapa kegiatan terutama yang berkaitan dengan kelas teologi. Beliau berbaur bersama kami para mahasiswa untuk berdiskusi. Kerendahan hatinya dan semangatnya berbagi terpancar dari wajah dan setiap gerak-geriknya. Saya waktu itu nyaris tak percaya kalau beliau pernah menjadi model internasional.

Saya sempat penasaran dan ingin mencari tahu bagaimana bisa beliau yang sudah menjadi model keren beken itu bisa memutuskan belajar teologi lantas menjadi penginjil dan pengajar. Tapi rasa penasaran saya hanya sampai di situ dan tidak saya lanjutkan dengan mencari tahu.

Baru malam ini, kurang lebih tujuh atau delapan tahun kemudian, tanpa sengaja nongol namanya di tampilan lembar pertama youtube yang saya buka. Baru pertama kali inilah saya dengar kesaksiannya tentang alasan ia berpindah haluan dari seorang model keren beken di jagad internasional menjadi seorang penginjil.

Walau terlambat, saya bersyukur baru malam ini saya mendengar kesaksiannya. Sebab dengan inilah saya bisa mengerti betul bagaimana pergumulannya dan mendukung dan mengagumi keputusannya. Sebuah keputusan besar dan memang teramat penting dalam kehidupan manusia.

Beberapa hari lalu, saya baru (walau sudah lama dan berulang-ulang saya diperdengarkan) disingkap tentang apa yang paling penting dalam hidup dan apa yang adalah sampah di dunia. Ternyata selama ini saya terlalu larut dalam kebodohan saya namun anehnya saya malah bangga. Kau tahu, saya bergetar ketika mendapati hal ini. Saya merinding. Sebab apa? Sebab saya tahu, sedikit lagi saja, pasti saya jatuh ke lubang yang paling kelam. Sujud syukur, Tuhan menangkap saya sebelum terlanjur jatuh. Sungguh, Tuhan luar biasa. Tuhan maha besar. Terpujilah Nama-Nya.

 🙏😇😊

Iklan
Cuplikan Cerita UPH

Berdiskusi

“Berapa lama kau akan di sana?” tanya bapak setelah diam yang lama.

“Empat tahun kuliah.”

“Lalu setelah itu?”

“Ke mana ditempatkan, tentu saya akan ke sana.”

1b56cf6b4a721d873d6b375e3edaf9d4
Sumber ilustrasi: pinterest

Bapak diam lagi. Tak berkata apa-apa setelah itu. Ia menarik napas dengan berat kemudian meraih kotak kacamatanya dan beranjak masuk ke dalam kamar.

SiA menunggu dengan gelisah. Menatap bisu pada berkas-berkas yang sementara berserakan di atas meja ruang tamu.

Di ruang tamu itu yang ada hanya diam. Di halaman, terdengar suara riuh adiknya bersama anak-anak tetangga melempari buah delima yang merah matang di salah satu rerantingnya.

Hari ini adalah ulang tahunnya. Namun belum ada tanda-tanda persiapan untuk ibadah nanti malam.

Bersambung… 🙂

Cuplikan Cerita Lentera

Assessment as a Blessing

Assessment as a Blessing. Penilaian sebagai Berkat. Tapi sepertinya lebih bagus kedengarannya atau bisa juga diartikan dengan Penilaian itu Ibadah. 🙂 🙂

Kalimat ini terus terngiang di telinga tatkala saya sementara menyusun soal-soal untuk TO dan US kelas 9. Terus terngiang sejak PD beberapa minggu lalu di SDH Kupang.

Materi di PD semester ini lebih fokus kepada assessment atau penilaian. Sebenarnya PD semester lalu pun materinya sama tentang assessment, hanya waktu itu lebih membahas tentang formative assessment dan summative assessment. Nah, di semester ini lebih fokus ke formative. Tapi di sini saya bukan mau ngomong tentang formative. Toh , di atas sudah saya bilang, kalimat ‘Assessment as a blessing’ ini terus terngiang di kepala saya. Sudah berlangsung beberapa hari sejak hari sesudah mengikuti PD bersama beberapa guru dari SPH Kemang Village, Jakarta dan tim PDCE SLH.

Btw, saya bersyukur sekali dengan adanya PD yang diadakan tiap dua tahun sekali oleh tim PDCE. Setiap PD yang diikuti selalu saja ada hal baru yang didapat. Dunia ini (:D), maksud saya, di saat sekarang ini dunia menyediakan banyak informasi baik dari buku, jurnal, dan internet, tapi tetap saja tiap mengikuti PD pasti ada selalu yang dibawa pulang dan menetap.

Contohnya, ya, kali ini baru-baru tentang assessmen as a blessing. Maafkan saya lebih suka menyebutnya assessment as a blessing’ daripada ‘Penilaian sebagai Berkat’, padahal saya guru mata pelajaran guru Bahasa Indonesia. Bukan maksud saya menganggap pengucapan Bahasa Indonesia tidak keren. 🙂

Sebenarnya sebutan itu pernah juga disampaikan sewaktu PD semester lalu hanya mungkin sewaktu saya mendengarnya saya tidak sebegitu menaruh perhatian sehingga bisa terlewat begitu saja. Baru kali inilah saya agak ‘ngeh’ dengan maksud ungkapan itu.

Merasa tertarik dengan ungkapan ‘assessment as a blessing’, saya mencoba mencari-cari lagi di google lantas ada beberapa hasil pencarian muncul, tetapi ada satu yang paling menarik perhatian yakni buku Metaphors We Teach By dengan salah satu kontributor sekaligus editornya adalah Harro Van Brummelen.

20170315_143457 - CopyNama yang begitu akrab di telinga anak-anak Teachers College UPH karena bukunya yang berjudul Walking with God in the Classroom atau seperti yang diterjemahkan dan dicetak UPH Press dengan judul Berjalan dengan Tuhan di dalam Kelas, harus selalu disertakan sebagai referensi utama setiap membuat makalah apapun itu. 🙂 😀

Mengingat Van Brummelen, tak hanya tentang Walking with God in the Classroom, tapi juga tentang Steppingstones to Curriculum: A Biblical Path. Buku ini pun diterjemahkan dan dicetak bahkan juga diluncurkan di UPH waktu tahun 2008. Acaranya berlangsung di grand chapel. Sebagai mahasiswa TC, kami semua tentu ikut hadir dalam acara peluncuran buku Batu Loncatan Kurikulum Berdasarkan Alkitab. Sempat diliput juga kegiatan hari itu. Saya baru saja membuka dan membacanya di sini. Ternyata pada gambar yang dipajang, ada satu mahasiswa bersama Bapak Harro Van Brummelen. Ast**a, tawa nyengir Ka Feby, sepupu saya, ikut nongol di sana. 😀 😀

Btw, mestinya judul tulisan ini bukan saja Assessment as a Blessing, tapi mungkin Assessment as a Blessing dan Ingatan tentang Harro Van Brummelen. 🙂 🙂 

Cuplikan Cerita UPH

Insiden Pukul Tiga Dini Hari (Bagian Dua)

*Kisah ini merupakan lanjutan dari Insiden Pukul Tiga Dini Hari (Bagian Satu)

Rasanya belum lama saya tertidur, ketika saya merasakan kedua kaki saya digoncang-goncang seseorang berikut nama saya dipanggil. Saya terkejut bangun. Menarik turun selimut yang menyelubungi seluruh muka saya. Kamar dalam keadaan gelap. Hanya setitik sinar dari mesin AC di pojok kamar dan secercah cahaya di pintu kamar yang dalam keadaan terbuka. Ada satu sosok sedang berdiri di samping tempat tidur. Elise ternyata sudah bangun.

“Bangun, Ci. Ayo, kotong belajar,” ia berbisik pelan, biar tidak membangunkan tiga orang lain dalam kamar yang sementara lelap tertidur.

Saya tak segera menyahut. Sebaliknya saya meraba-raba bagian atas lemari di samping kepala saya mencari Hp yang biasa saya letakkan di sana. Memencet satu tombolnya dan berusaha melihat jam.

“Belum jam tiga,” kata saya.

“Ya, tak apa. Biar lebih banyak waktu kita membaca,” Elise yang masih berdiri menunggu di samping tempat tidur saya membalas.

Saya hanya bergumam pelan ketika kesadaran saya sudah pulih dan mendapati di seberang tempat tidur, Ulfi pun ternyata sementara terbaring dalam keadaan lelap.

Saya bergegas bangun sementara Elise dengan tenang menunggu. Saya mengambil buku yang mau dibaca di atas lemari yang juga berfungsi sebagai meja itu lalu menuruni tangga tempat tidur. Berdua kami menuju ruang tamu. Kami duduk di sofa di mana di sampingnya ada meja tivi dan mulai membaca dengan diam.

Suasana dini hari begitu hening dan bening. Hanya terdengar mesin AC ruang belakang. Tirai jendela semua dalam keadaan tertutup. Sebenarnya agak mencekam juga suasana di ruang tamu dini hari itu. Berada beberapa lama di sana, sudah sering kami dengar ungkapan atau bisik dari kakak-kakak tingkat tentang suasana mencekam di tempat ini apalagi di lorong koridornya. Apalagi ditambah dengan tiadanya angka empat di sepanjang susunan apartemen ini.

Hari itu adalah pertama kalinya kami bangun sepagi itu untuk belajar. Jauh dalam hati kami, sebenarnya kami saling tahu kami  dalam keadaan takut dan tidak merasa aman. Tetapi demi nilai kuis CAD, sengaja kami tampakkan bahwa kami dalam keadaan baik-baik saja. Semua ketakutan itu kami bungkus rapat-rapat dalam diam dan kesungguhan mencerna isi bacaan dalam buku Hurlock itu.

Elise dengan satu bukunya sendiri, saya pun dengan buku saya. Dua buku itu adalah buku pinjaman dari perpustakaan kampus.

Kami membaca dengan diam dan serius. Berusaha memahami setiap susunan kata dan pengertian dalam bab buku itu sebelum pukul lima, waktu di mana anak-anak lain akan bangun untuk mandi dan mulai sibuk, sehingga konsentrasi pasti terbagi. Sulit bagi kami yang sementara belajar untuk mencerna. Kami tak boleh lagi membuang waktu kami. Target kami haruslah mendapat nilai 10 apapun alasannya. Toh, hanya menjawab ‘benar’ atau ‘salah’, dan adalah sebuah penyesalan panjang yang tak termaafkan kalau kami tidak bisa memilih jawaban ‘B’ atau ‘S’ dengan tepat.

Kami membaca dengan diam dan sungguh-sungguh. Membaca diam, berpikir sebentar, mencatat poin-poin, dan membaca lagi. Di bagian tertentu bila ada kalimat dengan bahasa yang rumit dan sukar dipahami, maka kembali diulangi lagi dari awal. Diulang, diulang-ulang, begitu seterusnya sampai mengerti.

Kata Pak Nicho, sewaktu membaca buku itu, usahakan jangan dihafal. Sebaliknya berusahalah untuk memahami dan mengerti konsepnya. Itu akan lebih bertahan di ingatan dibanding sekadar hafal.

Saya sepenuhnya setuju dengan anjuran Pak Nicho. Maka itulah saya berusaha mempraktikkan. Berusaha memahami dan mengerti daripada hanya sekadar hafal. Lagipula, isi buku ini bagi saya sangat menarik. Kalimat dan gaya bahasanya membuat saya tenggelam dalam buku. Bahasan dalam buku seakan-akan melemparkan kembali saya kepada masa kanak-kanak. Kembali mengingat bagaimana ciri dan perilaku saya di masa kanak-kanak, menghubungkan dengan pembahasan dalam buku, serta berusaha memahami bagaimana seharusnya sikap pendidik dalam menghadapi dan menangani ciri dan perilaku-perilaku sedemikian.

Hihihihihihi…. hihihihihi…. hihihihi…

Tiba-tiba terdengar suara ringkik tawa yang begitu dekat dan kencang. Terkejut, spontan kami berdua melonjak kaget. Elise yang dikenal dengan pembawaannya yang tenang dan bukan orang yang mudah panik sampai spontan bergerak pindah ke arah saya. Saya sendiri malah terduduk kaku dan lesu di sofa. Bulu kuduk saya merinding ngeri. Tubuh saya seperti membeku. Rasanya saya sempat hilang sadar dan lupa di mana saya berada saat itu.

Suara ringkik tawa itu masih terus meraung. Makin lama makin kencang. Setelah pulih dari rasa kaget, saya baru mencoba berusaha menganalisis situasi.

Melihat sekeliling. Mulai membaca keadaan pelan-pelan. Kami masih dalam keadaan baik-baik dan masih duduk di sofa ruang tamu. Seiring terdengar suara ringkik tawa itu, ada juga bunyi benda bergetar di samping kiri tempat kami berada.

Tepatnya di atas meja tivi, di samping tivi, HP Ulfi sementara bergetar dan bergeser seiring suara yang dikeluarkan dari speaker-nya.

“Elise, itu bunyi alarm. HP Ulfi,” saya berusaha berkata walau dengan terbata.

Kas mati sa ko?” kata saya melanjutkan sekaligus berusaha mengarahkannya untuk melihat ke arah meja tivi. Alasan saya memintanya untuk mematikan bunyi alarm menjengkelkan itu karena posisi duduk Elise yang memang paling dekat dan persis di samping meja tivi.

Namun Elise menggeleng keras. Ia bahkan tak mau menengok ke sana. Ia masih membenamkan wajahnya rapat-rapat di bahu kiri saya. Saya tahu, ia mungkin masih dalam keadaan shock. Sebab Hp itu berbunyi tepat di samping telinganya.

Sebenarnya suara ringkik tawa itu bukan hal baru di telinga kami, penghuni kamar 3805. Toh, sehari-hari nada dering HP itu sudah sering dan terbiasa diperdengarkan oleh sang pemilik Hp. Masalahnya suara ringkik tawa kuntilanak itu menggaung di tengah-tengah ruang tamu aparteman yang sunyi sepi yang konon banyak cerita horornya, dan itu tepat terjadi pada pukul tiga dini hari.

Karena merasa terganggu dengan bunyinya yang semakin lama semakin keras, maka mau tak mau, saya pun mengulurkan tangan, melewati badan Elis yang sudah menelungkup di sofa, berusaha menjangkau tempat HP itu berada demi mematikan bunyi menjengkelkan itu. Alhamdullilah. Alarm Hp itu pun mati.

Su mati,” saya bilang. “Ayo, su, kotong lanjut belajar.”

Walau tidak segera, Elise pun mengangkat kepala, mengelus dadanya, dan menarik napas. Katanya, ia mau melanjutkan membaca, tetapi rasa shock tadi masih mengganggunya. Ia takut kalau-kalau suara mengerikan itu terulang lagi.

Walaupun tidak mengatakannya secara terang-terangan, saya pun sebenarnya merasakan hal yang sama. Masih mau melanjutkan membaca, tapi untuk sampai mencerna dan memahami isi bacaan sepertinya agak sulit.

Duduk diam dan merenung sebentar, kami pun mengambil buku masing-masing dan mulai mencari sampai di mana tadi kami membaca, dan mulai perlahan-lahan kembali melanjutkan membaca dalam diam.

Kami sama-sama tahu, apapun yang terjadi, kami harus tetap membaca sampai selesai. Tak ada lagi waktu untuk membaca kalau bukan sekarang. Sebentar lagi anggota kamar lain akan bangun dari tidur dan mulai bersiap-siap. Kelas CAD adalah kelas pertama di hari itu setelah sarapan dan devotion. Waktu terbaik untuk belajar adalah sekarang. Tak bisa ditunda-tunda atau diulur lagi.

Kami pun tak lama kemudian terbenam kembali ke dalam bacaan. Membaca, berpikir sebentar, mencatat poin-poin, dan membaca lagi. Di bagian tertentu yang tampak rumit, diulang-ulang lagi sampai bisa.

Pikiran dan konsentrasi sudah mulai kembali menyatu dengan bahan bacaan di dalam buku ketika tiba-tiba suara ringkik tawa perempuan kuntilanak itu kembali terdengar. Kali ini saya sungguh jauh lebih kaget dan takut daripada yang sebelumnya. Saya benar-benar tak percaya akan pendengaran saya. Bagaimana bisa suara itu terdengar lagi sementara tadi alarm HP itu sudah jelas-jelas saya matikan. Saya sempat berpikir jangan-jangan memang ada pihak ketiga tak kasat mata yang sudah ikut campur.

Kalau tadi di kali pertama saya berani menyentuh Hp demi mematikan alarm itu, kali kedua ini saya malah lebih takut dan tak mau menyentuh lagi Hp itu. Elise sekali lagi saya minta agar dia saja yang mematikan. Namun seperti tadi, ia tetap menggeleng kepala dengan keras.

Saya pun tak segera mengambil alih. Saya tetap masih merasa takut. Saya benar-benar yakin jangan-jangan ada campur tangan pihak ketiga tak kasat mata, sehingga dugaan saya kali ini, bagaimana kalau ketika tangan saya menyentuh Hp dan terjadi sesuatu yang mengerikan. Namun lama-lama menunggu, suara ringkik tawa perempuan itu malah makin lama makin kencang dan menjengkelkan. Kalau terus dibiarkan maka tentu saja akan terus semakin kencang dan lebih kencang.

Elise sama sekali tak bisa bergerak mendekat ke sana. Ia benar-benar merapat ke arah saya dan tak mau bahkan untuk menengok sekalipun.

Akhirnya, lagi-lagi karena merasa kesal dan jengkel, saya pun berusaha menguatkan diri bergerak, demi mengusir rasa takut yang sudah demikian menguasai, saya keluarkan teriakan yang sangat kencang dan keras yang sanggup untuk membangunkan seisi anggota kamar 3805. Dengan suara teriakan yang keluar, setidaknya beban ketakutan saya terasa berkurang dan saya pun memberanikan diri mengulurkan tangan dan mengambil HP itu.

hp nokia symbian 3230
Seperti inilah model HP Ulfi saat itu. Sumber gambar: mouthshut

Kalau di kali pertama, saya hanya sekadar menengok layar dan menekan tombol lalu bunyi alarm itu segera diam, maka di kali kedua, Hp itu benar-benar saya ambil dan genggam seutuhnya ke dalam tangan saya. Layar HP itu benar-benar saya pelototi dan baru saya baca, ternyata di layar Hp yang sementara histeris dengan ringkik tawa perempuan kuntilanak itu, ada tertulis dua pilihan, znooze dan stop.

Saat itulah baru saya sadar, ternyata saat bunyi pertama kali, bukannya menghentikan bunyi alarm, tapi justru saya salah menekan di tombol snooze, hanya sekadar menunda. Itulah kenapa ringkik tawa perempuan kuntilanak mengerikan itu kembali menggaung di menit ke-15.

Dua pintu kamar yang tadi seperti mati dua-duanya terkuak. Muncul tergopoh-gopoh kawan-kawan kamar kami. Orang pertama yang keluar adalah fasilitator kamar yang adalah juga kakak sepupu saya, Kak Feby, yang disusul beberapa kawan lainnya. Baik dari kamar berenam maupun kamar berempat. Mereka semua menuju ruang tamu tempat kami berada.

Mereka ramai-ramai bertanya ada apa (sementara bunyi alarm HP itu sudah benar-benar  saya matikan).

Kami tak perlu menjelaskan.

Mereka hanya cukup melihat air mata kami yang sudah berurai dengan wajah pucat kami yang diliputi ketegangan dan ketakukan seperti baru habis melihat hantu.

Kami tak perlu menjelaskan. Cukup mengarahkan kepala mereka kepada Hp yang terletak di samping meja tivi.

Mereka sudah mengerti. Mereka cukup mengerti. Mereka maklum.

Kak Feby pun kembali masuk ke dalam kamar berempat dan memanggil Ulfi. Hanya ia satu-satunya yang tidak keluar sementara tujuh orang lainnya sudah berkumpul di ruang tamu bersama kami. Ulfi pun keluar kamar mengekor Kak Feby yang kembali ke ruang tamu. Bukannya keluar dengan minta maaf atau takut karena akan dimarahi baik oleh kami atau kakak kamar lain atau yang lainnya atau apapun itu, ia justru keluar kamar sambil tertawa nyengir.

“Kenapa, ada apa?” tanyanya tanpa bersalah. Ia masih dengan derai tawanya. Tanyanya langsung disambut Kak Feby. Menunjuk kepada muka kami yang masih berusaha pulih dari kengerian.

Baru kemudian ia mengaku, ia memang punya niat begadang seperti malam-malam biasanya. Hanya di antara pukul satu atau dua, ia tak sanggup menahan kantuk. Ia masih tetap berusaha terjaga mengingat janjinya untuk membangungkan kami di pukul tiga. Tapi karena benar-benar tak kuat, ia pun akhirnya memutuskan tidur dengan mengingat janjinya pada kami, ia pasang alarm khasnya tepat di pukul 03.00 wib. Agar bunyi alarm itu bisa membangunkan saya dan Elise yang berada di dua kamar berbeda, ia taruh Hp itu di meja tivi ruang tamu.

“Kan tidak pernah Hp itu saya taruh di ruang tamu. Hanya biar bisa terdengar, saya taruh di sini. Kalau di dalam kamar kan mana mungkin Elise yang ada di kamar sebelah mendengar,” katanya entah sebagai pembelaan diri atau memang benar pengakuannya demikian, walaupun kemungkinan kedua lebih mendekati benar, sebab sebagai teman sekamarnya, saya tahu, HP nokia panjang dan lonjong itu selaLu berada di bagian atas lemari pakaian yang untuk kami yang menempati tempat tidur atas memanfaatkannya sebagai meja.

“Hanya saya tidak menyangka kalian bangun sebelum jam tiga dan tidak menyadari ada Hp saya di dekat kalian,” sambungnya kemudian meminta maaf.

Demikian insiden pukul tiga dini hari itu diselesaikan. Semua kawan itu pun kembali masuk ke kamar. Melanjutkan tidur. Saya dan Elise pun melanjutkan baca. Kami membaca dengan baik hingga pukul lima ketika satu per satu mereka kamar mulai bangun dan bersiap mandi.

Mengenai nilai di kuis mata kuliah CAD hari itu, baik saya maupun Elise, sudah tak ingat lagi mendapat berapa. 🙂

Cuplikan Cerita UPH

Ulfi

Sebagaimana setiap orang adalah

unik

maka ia pun demikian.

Lincah, supel, dan pengertian

7420ad214fa70b8b76093a05f0f4df1b* Selanjutnya lebih lengkap tentangnya akan menyusul. Semoga ia tak keberatan 😀 🙂

Satu hal paling berkesan dengannya adalah tentang es krim cornetto. Agak konyol memang. 😀 Tapi bagaimana pun, karena ‘es krim’ itulah, ada juga cerita tentang kami selain Insiden Pukul Tiga Dini Hari itu.  😀 🙂

Cuplikan Cerita UPH

Student on Work (SoW)

sow
Sumber: FIP-UPH

Sebagai mahasiswa penerima beasiswa, setiap kami wajib wajib melakukan tugas kerja 2000 jam selama empat tahun studi. Sebagai perhitungan, maka dicicil per semester minimal mencapai 250 jam. Pekerjaan yang dilakukan boleh apa saja selama itu melatih skill mahasiswa/i dalam bersosialisasi, mengatur waktu, mengenal dunia kerja, berinteraksi dengan rekan kerja, atasan, ataupun orang-orang dari luar.

SoW ini selain melatih skill mahasiswa/i, juga sebagai bentuk pelayanan kepada orang lain baik di dalam lingkungan kampus maupun luar lingkungan kampus.

(Selanjutnya mengenai SoW menyusul) 😉 🙂 ♣♣♣

Cuplikan Cerita UPH

Percakapan Tak Sengaja

dialogue
Sumber ilustrasi: indiesunlimited

“Kau sadar tidak, ini tahun 2017?”

“Iya, memangnya kenapa?”

“Sudah 10 tahun sejak hari pertama kita menjejakkan kaki di UPH.”

Rili tersentak. Kenapa ini tak sempat terpikirkan sebelumnya?

“Apa ada sesuatu yang kau rencanakan?”

“Tidak. Saya hanya tiba-tiba mengingatnya.”

“Kau justru memantikku harus berbuat sesuatu.”

“Apa yang kau mau kau buat?”

“Sesuatu. Mungkin sangat kecil artinya atau bahkan tak ada artinya.”

“Apa itu, boleh kutahu?”

“Akan kutunjukan kalau sudah selesai.”

“Kau membuatku penasaran.”

“Tak perlu. Kalau tak keberatan, kau mungkin sesekali bisa kuminta tolong.”

“Dengan senang hati. Kapan?”

“Akan kuberitahu.”

Keduanya berpisah beberapa menit kemudian. Sepanjang jalan pulang Rili terus merenung. Ia bahkan tak bisa tidur malam harinya. Kantuk rasanya sudah menguasainya. Anehnya, pikirannya melayang ke mana-mana. Beracakkan menyusuri lorong-lorong waktu yang dilalui. Percakapan dengan kawannya tadi terus mengusik pikiran. Kepalanya terus digerayangi suara, barang apakah yang berarti yang dapat kuberikan? Harinya semakin mendekat, apakah ia hanya berdiam diri sementara tempat itu begitu banyak melimpahinya dengan berbagai hal? Sudah terlalu banyak anugerah bagimu. Apakah hanya akan kau sia-siakan?

Terus memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu, ia pun mengambil pena dan buku kecilnya. Membuat list. Sebelum melakukan sesuatu, kau harus mengecek kembali motivasimu. Kenapa kau mau melakukannya dan untuk apa? Tepatkah kau melakukan itu? Perlukah? Apa dampaknya? Ujilah kembali. Kalimat-kalimat itu digemakannya berulang-ulang.

Kalau salah niatmu, maka lebih baik tidak usah kau bekerja. Tidak usah memulai. Daripada hanya mempermalukan diri dan menjadi batu sandungan.

Kalau niatmu sudah baik, sudah murni, maka mulailah. Ingat, kalau kau sudah memutuskan memulai, maka kerjakan, dan jangan takut. Tapi kalau kau takut, sudahlah, tidak usah kerjakan. Duduk diam berpangkutangan saja. Terlenalah dalam kenyamananmu. Tak usah kau pusing-pusing memeras otak, menguras tenaga, mencucurkan keringat dan air mata demi mencari ide hingga berlelah-lelah.

Tenang, dan bersantai sajalah.

Kalau mau mengenang, maka masuklah dalam kamarmu. Berdoalah dalam diam. Berdoalah buat orang-orang di sana. Biar kerja mereka semakin baik. Biar performa mereka semakin keren. Kau tahu, berdoa bukan pasif. Ia mampu memberi sesuatu dan memahatkan kekekalan dalam diri orang-orang lain. Kelak ada orang-orang lebih keren muncul. Bapamu di surga mendengar.

Baiklah begitu. Daripada kau melakukan sesuatu dan akan menjadi sesuatu yang tak bernilai. Betul. Kenapa perlu? Sementara teman yang mengingatkan tadi saja tak berencana apa-apa. Kenapa aku harus kalau begitu? Ia mendebat dirinya sendiri.

Ia tahu dan sadar-sesadar-sesadarnya, ia tak punya apa-apa yang besar untuk diberi. Gaji bulanannya pas-pasan untuk keperluan hidupnya sendiri dan tiga  orang adiknya yang sedang berkuliah. Kredit rumahnya sendiripun masih menuntut perhatian. Belum lagi hal-hal tetek bengek dan remeh temeh lainnya.

Sudah mencoret-coret, tapi belum juga muncul ide untuk menulis list yang dimaksud.

Ah, kenapa jadi pusing dan kepikiran begini? Apakah salah kalau kau bersikap biasa dan cuek? Ia kembali merutuki dirinya.

Ya, memang salah. Ada yang salah. Dan itu tetap salah. Kau diperkaya. Kau kaya dan kau tak berterima kasih. Padahal itu adalah satu caramu kalau bukan satu-satunya caramu berterima kasih.  Kau bisa dan kau tak melakukannya, itu jelas sebuah kesalahan. Kalau di orang lain memang bukan, tapi kalau di kau, jelas itu salah. Sebuah kesalahan yang tak termaafkan.

Jangan terus menuduhku. Jangan memojokanku. Kalaupun mau kuberikan sesuatu, itu bukan atas tuduhan rasa bersalah, kau tahu itu.  Aku mau memberi sesuatu sebab dalam diriku ada dorongan yang lembut, teramat sangat lembut dan penuh ingin, mendorongku melakukannya. Aku memberikan sebab aku memang ingin memberikan. Aku melakukannya sebab aku memang ingin melakukannya.