Merayakan Keseharian

Lagu dari Fil 3:13-14

Lagu yang saya dengar sewaktu belum sekolah. Waktu itu ikut menyanyi tanpa tahu artinya apa dan dari mana sumbernya.

Berikut kutipan lirik lagunya yang saya ingat:

“aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
dan berlari-lari (lari-lari-lari-lari-lari-lari-lari-lari) pada tujuan, memperoleh hadiah (hadiah, memperoleh hadiah,hadiah), yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Catatan:

Pagi tadi bacaan devosinya diambil dari sini. Sontak saya teringat akan lagu masa kecil yang pernah saya dengar dan saya nyanyikan ini.

Diberkatilah ia yang pernah mengajarkannya kepada saya dan menyanyikannya bersama saya. Meski sekarang ia terkungkung sakit, syukur saya tetap kepada Tuhan yang telah menghadirkannya di tengah-tengah dunia ini. πŸ˜πŸ™πŸ˜‡

Iklan
Refleksi

Kembali 1 😊

Berbahagialah mereka yang mengenal dan menyembah-Mu. Sebab bagi mereka, diri mereka tak lagi begitu penting untuk dipikirkan. Bagi mereka, segala tentang mereka sudah selesai. Yang penting bagi mereka adalah bagaimana Kau dikenal, bagaimana orang-orang pun merasakan sukacita yang sama seperti yang mereka rasakan.
Tak ada ketakutan atau keraguan dalam diri mereka memandang hari esok. Sebab mereka tahu, Kau yang mengutus, tentu Kau yang memimpin. Kalau ada aral melintang, tentu Kau punya maksud. Kalau mereka harus cacat/rusak bahkan mati di situ, dan mungkin pikir orang pekerjaan itu berhenti di situ, mereka tahu mereka tidak ‘rugi’ apa-apa. Itu mau-Mu untuk mereka. Tentang pekerjaan itu, tentu akan ada orang lain yang Kau utus meneruskannya.
Dalam mereka melakukan pekerjaan itu, entah diri mereka dikenal atau tidak, bukan lagi masalah berarti bagi mereka. Toh, tujuan utama adalah Kau yang dikenal, bukan mereka.
Dalam masa-masa itu pun, sering terdapat kesalahan mereka. Namun mereka sadar, kesalahan itu adalah milik mereka. Sebab segala yang baik dan mulia dan yang sempurna adalah hanya milik-Mu.
God's Story

Melihat Pasyur Masa Kini

Pasyur, atau dalam NIV dan KJV ditulis Pashhur dan Pashur, adalah seorang imam yang menjabat kepala di rumah Tuhan di masa Nabi Yeremia. Sewaktu mendengar nubuatan Yeremia tentang kemurkaan Tuhan, ia dengan serta merta memukul dan memasung Yeremia di pintu gerbang Benyamin di atas rumah Tuhan.

Meski ketika usai membaca kisah ini saya sendiri agak merasa janggal, sebab orang datang memberitahu apa yang benar, ia malah disiksa. Tapi kemudian saya menyadari, di masa sekarang, sebenarnya ini bukan sesuatu ganjil dan langka. Alangkah banyak dari kita yang hanya mau memanjakan telinga ketika mendengar khotbah dan pengajaran di ibadah gereja ataupun persekutuan-persekutuan. Kita lebih suka ia yang mengajar atau berkhobah di depan sana hanya bicara yang baik dan menyenangkan telinga saja, memotivasi kita untuk terus maju dan sukses tanpa mau terbuka kepada teguran yang keras akan keburukan-keburukan kita.

Bahkan sekarang ini juga para pengajar diminta membicarakan yang baik-baik dan berupa hiburan (bukan berarti hiburan itu tidak perlu, tapi toh dalam iman kita sudah punya harapan kok) saja sesuai kebutuhan mereka yang mendengar. Seorang akan minta kesuksesan studi, seorang yang lain minta kesembuhan dari sakit panu, seorang yang lain minta jodoh, seorang yang lain minta kaya, seorang lain minta yang berbeda demikian seterusnya. Justru kalau seorang HT yang mengajar dan menegur dengan keras, ia malah akan ditolak atau ditinggalkan, bahkan dicaci-maki, atau mungkin juga akan sesadis Pasyur di zaman Yeremia ini. Ia yang mau membersihkan borok untuk diobati justru kita tolak dan siksa, sementara ia yang datang bermanis-manis dalam kepalsuan justru kita sanjung-panjung (Ah,sungguh manusia ini memang terlalu). Demikianlah laku kita sebagai contoh Pasyur/Pashhur/Pashur zaman sekarang.

Merayakan Keseharian

Evaluasi Minggu Pertama Libur

Terpujilah Kau, Pemilik Langit Bumi dan Segala Isinya. Minggu pertama libur kali ini sangat memuaskan. Selalu ada momen berharga setiap harinya. Semuanya tak melulu tentang sukacita dengan rasa manis-manisnya, namun ada juga dukacita dengan segala rasanya baik sedih, kaget, tegang, ragu, takut, marah, geram, miris, hingga ada yang rasa-rasanya ingin mengutuk. Semua diizinkan terjadi. Mau tidak mau, terima tidak terima, tetaplah bahwa hari ini ketika tanganmu masih memegang pena dan menulis di kertas, atau mengetikkan huruf-huruf pada layar hp dan menuliskannya di sini, itu semua semata-mata karena anugerah-Nya. Thanks to You, God AlmightyπŸ™πŸ˜‡.

Merayakan Keseharian

Momen Kairos 3 (13/6) Baca-Rita

 

Mau promosi stiker NASA πŸ˜‰

Pertemuan yang di gambar ini jadinya memang sudah malam. Rencana awal kemarin, seusai mengajar di kelas Rabu Gembira, saya akan lanjut bertandang ke rumah Esty bersama Lala dan dua kawan lainnya. Ternyata dua kawan lainnya tak jadi ikut. Maka jadilah saya dan Lala memonopoli waktu Esty seharian ini. Selain kenyang cerita, kami juga kenyang makan. Tak hanya itu, saya sempat juga bertemu dan mendapat cerita khusus dari bapak Esty. Kami cukup nyambung karena bapak Esty adalah orang Amarasi, dari Marena-Baun😍😎. Inti dari semua ceritanya adalah andalkan dan tetap utamakan Tuhan. Meski singkat pertemuan itu, tapi saya selalu menyimpan khusus pesan-pesan beliau kalau ketemu :D. Pertama kali ketemu tahun 2010 di Jogja, beliau mendukung dan mendorong untuk saya terus menulis. Di tahun 2015, beliau terus mendorong untuk tetap bekerja keras dan selalu berdoa. Kali ini di masa tuanya, sama seperti Salomo di kitab Pengkhotbah, beliau menasihati agar tetap bersandar dan mengutamakan Tuhan, yang paling ditekankan adalah membaca alkitab, sebab firman Tuhan adalah makanan yang sangat penting bagi jiwa. “Masakan kita diinstruksikan makan 3 kali sehari lantas baca alkitab, berapa banyak sehari coba?” begitu katanya. Memang, bapak dan anak tidak jauh beda. Mereka sama-sama hidup untuk menginspirasi orang lain πŸ‘πŸ‘πŸ˜.

Sampai sore kami di rumah Esty, karena cerita belum selesai-selesai juga, kami melanjutkan ke war-kon sekalian mau bertemu Ruru dan Itin. Cerita demi cerita dialirkan dari mulut Esty namun tak kunjung selesai. Ceritanya sungguh kaya. Jangan kau pikir kau baca banyak buku, nonton banyak film, pelototi vlog-vlog daily life negeri paman sam lantas kau tahu semua hal di sana. Jangan. Tidak semua yang ditampilkan adalah seperti demikian. Artinya, jangan kau hanya diperlihatkan, diceritakan, diajari, lantas kau sendiri bilang oh sudah..sudah saya sudah tahu. Alangkah baiknya kau pergi sendiri, alami dan rasakan. Biar kau tahu sendiri bagaimana rasanya ketika kau yang mengalaminya secara langsung. Jelas itu lebih berarti dan mengekal. πŸ˜‰πŸ˜„πŸ˜…

Demikian satu momen berharga hari ini dibekukan dan dikekalkan.

Merayakan Keseharian

Momen Kairos 2 (13/6): Mengajar di Kelas Rabu Gembira

Liburan sekolah sudah dimulai minggu ini. Lumayan liburnya sebulan. Rencana saya sebelumnya (lebih tepatnya beberapa hari belakangan ini), kalau memang minggu pertama saya belum pulang, maka alasan pertama dan yang menjadi satu-satunya alasan adalah banyak undangan pernikahan beberapa kawan di Lentera dan Dian.

Namun, siapa sangka kemarin saya diajak seorang kawan (Mona) menjadi relawan pengajar untuk anak-anak SD-SMP di sekitaran Naikolan. Katanya kami akan mengajari mereka penggunaan komputer khususnya microsoft word. Awalnya saya merasa bingung apa yang mau diajarkan sebab yang ada di kepala saya adalah semua anak-anak di Kupang tentu tidak asing lagi dan pasti sudah bisa dengan yang namanya miscrosoft word. Meski menjawab saya akan menyediakan waktu untuk itu namun jauh dalam hati tentu ada keraguan apakah saya bisa mengajari mereka atau tidak. Saya bukan guru TIK. Saya juga buta tentang penggunaan komputer kecuali yang dasar-dasar, ya, cukuplah. Saya terus bertanya apa lebih tepatnya yang mau diajarkan dan jawabannya adalah pembuatan daftar isi. Alamak😯! Saya sendiri pun sudah lupa cara pembuatan daftar isi itu kecuali kalau buka di internet, ya, dari tidak bisa sama sekali menjadi sangat bisa (plus sekali😜) dan langsung jadi master (kalau yang ini saya punya pengalaman memuaskan bagaimana memasang senar gitar sendiri hingga menyetem semua senarnya menjadi nada yang tepat, yang sebelumnya saya anggap itu hanya bisa dikerjakan para master yang ada di atas-atas-atas tambah atas lagi sanaπŸ˜‚ berkat aplikasi yang tersedia gratis di playstore).

Ok, mengajari tentang pembuatan daftar isi sudah tak lagi menjadi masalah. Aman.

Paginya (maksudnya pagi tadi), saya bersiap pergi dengan semangat siap berbagi. Oleh Oma Te’o, seorang hamba Tuhan yang saat ini dipercaya mengelola kelas tersebut memimpin mereka lantas membagi kelompok. Saya kebagian mereka yang anak-anak baru. Artinya mereka yang baru pertama kali bergabung dalam kelas ini (Oh, ya, saya belum memperkenalkan nama kelas tersebut. Jadi kelas itu namanya Rabu Gembira. Sesuai namanya, kelas atau pertemuan belajar itu dilaksanakan setiap seminggu sekali yakni di hari Rabu).

Kelompok saya terdiri dari tujuh orang. Enam anak laki-laki dan satu perempuan. Setelah saya bawa mereka ke ruang tengah dan menanyakan kepada mereka terkait penggunaan dasar komputer, didapati bahwa mereka tidak seperti yang saya sangka sebelumnya. Meski tinggal di kota dan meski sudah di bangku SMP, bukan berarti mereka sudah bisa dengan lincah dan akrab dengan perangkat komputer. Buktinya dengan ketika dipanggil satu-satu untuk membuka microsoft word saja pun tetap gagal meski mencoba berkali-kali. Dari ke-7 anak tersebut, hanya satu yang dipanggil maju dan sekali mencoba langsung jadi yakni satu-satunya anak perempuan di kelompok itu. Dari situlah saya mulai menurunkan ekspektasi saya lantas memulai dari yang lebih dasar. Persiapan tentang pembuatan daftar isi saya simpan kembali. Padahal sebelumnya saya bahkan sempat berkonsultasi dengan guru TIK kelas 7 di Lentera. Niat memang saya ini, yaπŸ˜….

Komputer di rumah belajar tersebut hanya berjumlah tiga buah. Karena gurunya tiga orang, kami masing-masing memakai satu komputer untuk mengajar. Jadi sepanjang belajar, anak-anak secara bergiliran memakainya untuk belajar membuka-tutup ms word, mengetik, mengedit, dan menyimpan dokumen.

Meski terbatas, mereka terlihat antusias sekali. Senang melihat mereka mau benar-benar belajar. Saking semangatnya belajar, kami sampai tak ingat waktu pulang sehingga harus dipanggil berkumpul kembali ke kelas besar.

Sebelum pulang, ternyata dari mereka meminta Oma Te’o untuk menambah pertemuan khusus di hari libur ini menjadi dua kali pertemuan seminggu. Dan kesepakatannya selain Rabu adalah Kamis. Maka, doakanlah, besok saya akan mengajar lagi. Dan saya bersemangat untuk itu. Berbagi ilmu kepada mereka yang benar-benar membutuhkan jelas berbeda sekali dengan berbagi kepada mereka yang hanya mengikuti karena aturan atau perintah atau tekanan dsbπŸ˜„.

Akhir dari postingan ini, tentu adalah rasa syukur dengan sukacita tak terhingga sebab Dia memilihkan waktu dan momen yang baik untuk menjadi bermakna. Biarlah segala kemuliaan kembali kepada Dia.