Cerita-cerita, God's Story

Cerita 4: Ikut Tante ke Kota

 

Child
Sumber: typepad, meski sebenarnya lebih menarik gambar dari fineartamerica🙂

 

Liburan kenaikan kelas tiba. Sebentar lagi aku meninggalkan TK dan masuk SD. Tanteku, satu-satunya saudara perempuan bapak yang tinggal bersama keluarganya di kota, datang. Beberapa hari kemudian saat ia pulang, aku ikut diboyongnya ke kota.

Awalnya itu tawaran tante pada bapak. Mungkin ia melihat bapak agak kewalahan berusaha mencari jalan bagaimana ibu bisa pulang kembali ke rumah, serta harus mengurus kami anak-anaknya, belum lagi ia mesti ke kebun serta mengurus sapi-sapi.

Pertama kali mendengar tawaran itu, bapak hanya tepekur diam. Sebenarnya ia keberatan. Baru saja istri pergi entah ke mana, sekarang anak perempuan sulung dan satu-satunya harus pergi pula, meski yang kedua ini hanya pergi sebentar dan bahkan tempatnya saja diketahui pasti.

Setelah lama-lama menerawang, bapak akhirnya mengangguk pelan. Kemudian dengan kalimat-kalimat yang telah disusun dengan hati-hati, ia memaparkan alasan sebaiknya aku ikut tante ke kota.

“Baiklah, tak apa. Biar supaya untuk sementara saya urus saja adiknya. Mungkin dibantu juga dengan titi,” demikian kesimpulan setelah kalimat-kalimat panjang.

“Ya, Rosina, siap-siap, ya. Besok ikut tante ke Walikota,” tante beralih dan menatap ke arahku.

Aku ikut ke kota akhirnya. Aku akan menghabiskan waktu liburan di sana. Sementara adikku yang berumur 3 tahun lebih bersama bapak dan titi. Mungkin seperti biasa mereka akan bergantian mengurusi adikku.

Jauh di dasar hati aku tak ingin pergi. Tapi hanya karena bapak sudah menjelaskan padaku dengan hati-hati sekali, katanya supaya aku menghabiskan liburan di kota sekalian untuk belajar hal-hal di dunia luar, juga biar bapak bisa dikurangi bebannya, dalam hal ini biar selama masa usaha pencarian ibu, hanya adik yang diurus.

Aku mencoba mengerti. Meski juga sebenarnya aku marah sekali. Kenapa masalah ini harus terjadi dalam  keluarga kami. Kenapa ibu pergi meninggalkan kami hingga aku harus terpaksa berpisah dari adikku. Seandainya ibu tak meninggalkan kami, mungkin aku tak semalang ini merasakan kesedihan harus berpisah dengan adik dan bapak.

Aku juga kian bertanya-tanya dan menyesali kenapa aku tak punya nenek atau ba’i yang bisa setidaknya membantu bapak merawat kami. Sering aku melihat anak-anak lain memanggil seseorang yang jauh lebih tua dari bapak ibu mereka sebagai ba’i atau nenek. Sementara kami anak bapak dan tante di walikota serta anak-anak dari sepupu-sepupu bapak yang tinggal sekampung nyaris tak mengenal sosok ba’i walau beberapa di antara kami masih punya nenek. Menurut cerita bapak, nenek meninggal setahun kemudian setelah ba’i dan saudara-saudaranya dan tetangga-tetangganya yang seumuran ditangkap tentara dan ditembak mati di lubang buaya*.

Andai saja nenek masih ada, biarpun ibu pergi setidaknya ada seorang perempuan dewasa yang ada di rumah bersama kami. Biarlah bapak tak perlu pusing memikirkan bagaimana kami harus mandi, makan, bersekolah, ataupun melakukan kegiatan kami sehari-hari sebagai anak.

Pada hari keberangkatanku siang itu, aku dan tante akan naik bus. Kami menunggu bus di jalan depan rumah. Tidak begitu lama, sebuah bus yang lebih mirip damri segera datang dan kami pun naik.

Setelah mendapat tempat duduk di pinggir, aku melongok keluar lewat jendela kaca. Aku melihat bapak dan adikku melambaikan tangan mereka. Seketika aku jadi teringat dengan lambaian terakhir dari mama dari dalam truk kuning saat hujan dulu.

Tak membalas melambaikan tangan, aku hanya memandang dari balik jendela yang makin lama makin jauh meninggalkan mereka. Sedih sekali rasanya aku melihat bapak dan adik hanya memandang bus ini melaju pergi meninggalkan mereka hingga akhirnya mungkin bus ini hilang dari pandangan mata.

Duduk di dalam bus, aku gelisah. Rasa-rasanya aku ingin berlari keluar dari bus dan melompat turun.  Aku ingin berlari kembali ke tempat bapak dan adik berdiri mengantarku. Berlari mendapati mereka yang berdiri dan langsung menghambur ke pelukan mereka.

Namun, itu hanya dalam bayangan. Sudah di dalam bus, aku bahkan tak bisa bergerak. Sungguh, aku tak ingin terlihat tante kalau aku menangis. Maka kutahan rasa sedihku. Kerongkonganku terasa membatu. Sakit karena menahan tangis yang tak bisa keluar. Pemandangan yang disajikan alam bulan Juli tak kugubris. Dalam kepalaku dan di hatiku, penuh dengan gambar bapak menggendong adik menatap terus bus yang melaju meninggalkan mereka.

Sayang, aku tak bisa. Tangisku meledak juga.

Tante kaget. Ia menatapku.

“Lho, Rosina, kenapa?” tanyanya.

“Tidak,” sahutku dengan suara lirih sambil menggeleng.

Aku mengelap air mata yang mulai bercucuran deras, juga hidung yang mulai berair bening.

“Kau tidak mau ikut tante?” tante memberiku saputangan.

Aku nyaris tak bisa menjawab saking sakitnya kerongkonganku dan cucuran air mata.

“Tidak. Aku hanya sedih, kapan bisa ketemu bapak dan adik lagi, tambah ibu juga,” tangisku yang tadi sudah mulai reda tiba-tiba kembali meledak.

Tante mengerti. Ia membiarkanku terus menangis. Ia hanya mengusap-usap kepalaku sampai aku mungkin tertidur di bus selama perjalanan.

Ketika aku sadar, kami sudah tiba di terminal Walikota. Ternyata dari rumah, bus langsung menuju terminal Walikota. Matahari sudah tak lagi nampak, hanya menyisakan warna jingga langit di arah barat ketika ketika kami turun dari bus.

 

Iklan
Cuap-cuap

Kapsul 25: Payah di Jalan

Saya kurang tahu, apakah ada anak-anak di kelas yang menyadari saya mengantuk atau kelelahan sekali hari ini? Memang saat bangun pagi tadi, mata saya terasa berat dan badan juga serasa remuk. Padahal semalam saya tidur cukup. Jadi, pasti gara-gara perjalanan pulkam kemarin.  

Hari Sabtu sore saya dan adik saya pulang kampung, di daerah selatan Amarasi. Kami tiba malam hari. Saking banyak hal yang dipercakapkan, kami baru tidur kira-kira pukul 12 pm. Besoknya sepulang gereja, saya dan adik saya sibuk ‘fukur2’ hingga kami baru makan pukul 2 sore. Karena hasil fukur kami lumayan berhasil, maka saya pun makan banyak sekali lantas kekenyangan dan nyaris tak bisa bergerak. Selesai itu saya mengerjakan beberapa hal, tak sempat beristirahat, dan langsung bersiap pulang. 

Sebenarnya perjalanan ini biasa saja kalau tidak hujan. Tapi karena kali ini karena perjalanan dilakukan tepat saat musim hujan, maka tidak heran di titik-titik tertentu saya harus bergumul keras dengan setir karena jalanan yang lubang dan becek, apalagi sewaktu saya lewat hari sudah mulai gelap. 

Selain becek dan berlubang, jalan itu juga sangat sempit. Sangat sempit sehingga kalau berpapasan dengan mobil, saya terkadang menghentikan laju motor dan membiarkan mobil itu lewat terlebih dahulu sebelum saya melanjutkan perjalanan. Rasanya mengerikan sekali dua-duanya berpasan dan saling melaju dengan cepat. 

Saya berharap (semoga tidak hanya tinggal harap), jalan itu segera diperbaiki. Diperlebar bagian kiri dan kanannya, ditutupi lubang-lubangnya dan dibuat rata, biar akses orang-orang kampung ke kota menjual hasil bumi dan orang-orang kota melihat-lihat sajian-sajian alam di Amarasi dan sekitarnya tak kepayahan gara-gara jalan berlubang, becek, dan sempit. 

Merayakan Keseharian

Kapsul 24: Fukur Sis Kamina

This is the first time. Ya, ini kali pertama, saya dan adik saya berupaya semaksimal mungkin mengolah daging anjing yang dikasih tetangga kami yang juga masih status om saya, pagi-pagi sekali bahkan ketika kami sendiri belum bangun tidur. Kami heran awalnya, tapi ternyata alasan kami diantarkan daging itu karena semalam dalam satu acara, adik laki-laki saya ikut menyumbang uang untuk membeli anjing tersebut. 

Kami bingung mau diapakan daging itu. Karena sebelumnya di rumah kami sendiri, kami belum pernah memasak daging anjing. Mama saya sakit, dan ia tak ambil pusing mau bagaimana mengolah daging itu, maka mau tak mau kamilah yang harus membereskan.

Saya mencari bumbu-bumbu dari internet😄. Karena beberapa bumbu dapur sudah ada beberapa ditanam di rumah, kami tinggal melengkapi yang tidak ada di kios. Kerja keras kami membuahkan hasil di pukul 2 sore. Kami menikmatinya bersama sampai saya sendiri nyaris tak bisa bergerak saking kekenyangan dan kepedasan 😉😜😅😎. 

Merayakan Keseharian

Kapsul 23: Oto Putih di Tengah Hutan

Hari sudah mulai gelap ketika kami memasuki kawasan hutan yang biasa disebut hutan sismeni. Laju sepeda motor kami biasa saja. Tidak terlalu cepat juga tidak terlalu pelan. Sepanjang perjalanan, kami berpapasan dengan kendaraan-kendaraan lain. Baik roda dua maupun roda empat. 

Melewati satu persimpangan yang menuju satu kampung kecil di pinggir hutan, kira-kira 200 meter, sebuah mobil menyusul di belakang kami.  

Karena jalanan yang sempit, mobil itu melaju perlahan di belakang kami. Saya sengaja memperlambat laju motor dan bergeser sedikit ke sisi kiri dengan maksud membiarkan mobil tersebut boleh mengambil sisi sebelah kanan untuk mendahului. Ditunggu-tunggu mobil itu tak maju-maju, tak juga memberi klakson minta diberi jalan. 

Bersambung… 😉😊

Cuplikan Cerita UPH, God's Story

Kapsul 21: Buku “Living His Story”

Buku berisi kumpulan refleksi dari para alumni ini diterbitkan tahun 2017 lalu dalam rangka Dies Natalis ke-10 Teachers College UPH.

Saya lupa buku itu saya dapat lewat siapa. Saya hanya ingat bahwa para penulis dijanjikan mendapat satu jilid ketika terbit. Entah bagaimana buku itu bisa sampai di tangan saya, saya tak ingat persis.

Saya hanya sempat membaca beberapa tulisan di dalamnya, kemudian entah terselip di mana, saya sama sekali tak pernah melihatnya lagi. Saya pun jadi lupa kalau saya pernah ikut menyumbang tulisan untuk buku itu. 

Baru hari ini, sementara para siswa kelas 9 mengikuti simulasi UNBK dan kami para guru jadi punya waktu lowong, saya iseng-iseng berkunjung ke perpustakaan mini salah satu kelas. Barulah di sana saya melihat buku ini terjepit di antara buku-buku bacaan siswa lainnya. Selain terjepit, bagian tepinya juga sudah berdebu. Kelihatan sekali buku ini sudah lama tak dibaca. Kasihan dia😟. Tak menunggu lama, langsung saja saya amankan😉😊. 

Terima kasih kepada Dia, Sang Pembuat Cerita😘🙏😇. 

Kegiatan Seni dan Budaya

Kapsul 20: Menengok Kembali MIWF 2017

Foto ini saya baru dapat semalam. Dikirim oleh seorang kawan yang wajahnya juga terpampang di foto tersebut😄. Foto-foto itu diambil saat kami mengikuti MIWF 2017. 

MIWF bagi saya adalah sebuah kegiatan yang punya kesan khusus dan istimewa. Kau tak hanya bertemu penulis-penulis dan pegiat-pegiat seni dari dalam maupun luar negeri, mereka yang sudah makan asam garam maupun yang baru memulai, penerbit dan editor, kawan-kawan baru, para relawan yang totalitas dalam bekerja (satu contoh: kami punya LO yang sangat keren, sampai-sampai saya nyaris lupa nama asli karena lebih sering kami panggil dengan LO Kece. setiap makan siang, kami pasti dibacakan puisi. belum lagi momen ketika kami mau pulang, ia bahkan mengejar sampai ke bandara demi memberikan oleh-oleh yang tak disangka-sangka😍🙏), hadirin yang sangat apresiatif, tapi yang paling terasa adalah kau juga bertemu mereka yang kemudian jadi sahabat dan saudara. Mereka seakan juga punya cara tersendiri menyambut dan bersahabat dengan para pendatang. Terlihat sekali bahwa atmosfer yang dibangun bukan sekadar rutinitas tahunan kemudian selesai. Ada nilai yang sedang mereka bangun, dan saya pikir itu sesuatu yang mengagumkan. 

Kalau kau suka dengan dunia tulis-menulis atau apapun yang berkaitan dengan kesenian/kebudayaan, dan sempat mengikuti kegiatan yang diprogramkan MIWF, dijamin kau tak akan pernah menyesal sepulangnya dari sana. Sebagai peserta biasa saja kau pasti senang dan merasa berlimpah, apalagi kau adalah peserta yang diundang khusus, contohnya saja kami walau hanya sebagai emerging writers, diperlakukannya bak raja ratu pangeran putri😜😝😍😘. 

Intinya, pernah menjadi peserta EW MIWF 2017 adalah sebuah pengalaman berharga dan istimewa yang tak bisa ditukar dengan pengalaman lain. 

Jadi kalau kau yang ‘dilemparkan’ berposisi di sekitaran daerah timur Indonesia dan biasa melakoni yang namanya tulis-menulis, jangan tunda lama-lama lagi buat kirim karya ke MIWF. Seleksi penerimaan karya untuk EW MIWF 2018 sepertinya tak lama lagi akan berakhir. Cobalah saja dulu. Ada kutipan bagus dari Kk Maria Pankratia di bawah ini. Tengoklah…dan beraksilah segera.