God's Story

Penghibur Sialan

Apa itu penghibur sialan?

# Penghibur sialan selalu memposisikan dirinya sebagai yang paling benar (playing God) sementara yang dinasihati adalah yg paling lemah dan tak tahu apa2. # Cara penghibur sialan ketika menghibur orang: menghibur mereka yang menderita untuk bagaimana mereka mendapatkan kembali, bukannya mendekatkan mereka kepada Yang Hidup. # Semua penghibur sialan orientasinya kepada solusi, bukannya kepada Tuhan. # Penghibur sialan selalu berpikir kaya, makmur, dan sehat adalah tanda diberkati Tuhan padahal setan pun bisa memberikan itu kepada seseorang. # Penghibur sialan mengartikan nasihat itu harus close ending comforter. # Penghibur sialan memberi nasihat yang ujung2nya membuat yang dinasihati menjadi lumpuh dan terus bergantung kepada dia yang menganggap diri penasihat ajaib tersebut. #Penghibur sialan selalu memberi suara surga di telinga sang pendengar. # *tertampar-tampar* @KU 1 PRII.

Kata-kata di atas saya sarikan dari catatan saya atas khotbah Pak Sutjipto Subeno di kebaktian 1 PRII Kupang. Khotbah tersebut didasarkan dari buku Ayub pasal 6 ayat 1-6.

God's Story

Mom, After 25 Years

Gambar ini diambil pada malam Kebaktian Natal Rayon Kanaan Jemaat Siloam Retraen, Senin (30/12/19).

Malam itu aku benar-benar terpukau.😱 Sungguh terpukau. Ini kali pertama dalam hidup aku mendengar kolaborasi mama bernyanyi dengan orang lain dan terdengar suaranya yang khas menonjol di antara suara-suara lainnya. Di sini aku baru mengakui, benar memang kata orang-orang, suara mamaku memang merdu aduhai.😭 Aku sampai membuka mataku lebar-lebar, memasang telingaku baik-baik, dan tidak sadar mulutku juga ikut menganga.

Kau tentu bertanya, memangnya selama ini aku di mana sampai aku tak pernah mendengar suara mama kalau bernyanyi?

Ok, aku mengerti bila kau bertanya demikian. Mari, kujelaskan padamu.

Masalah kalau mama bernyanyi itu jelas, hampir setiap hari aku dengar kalau di rumah. Bahkan tidak jarang aku ikut pula menyanyi-menyanyi bersama mama. Semasa masih SD, kami biasanya menyanyi bersama di ruang tengah. Mama, bapak, aku, serta Andi, adikku yang nomor 2. Kami menyanyi-menyanyi saja tanpa iringan musik. Lagu-lagunya biasa dari kidung jemaat ataupun buku catatan lagu punya mama semasa muda. Di masa itu, bila ada waktu-waktu bernyanyi seperti itu, maka itu adalah waktu-waktu bahagia yang pernah aku ingat bila berkumpul bersama mama.

Sebelumnya, aku lupa kapan pastinya, tapi yang jelas, ketika aku mulai masuk usia 5 tahun, mamaku sakit. Sampai hari ini, aku tidak menyimpan memori apapun sama sekali tentang masa-masa dan keadaan mama sebelum sakit. Intinya ketika aku mulai mengingat, aku hanya tahu bahwa mamaku tidak seperti mama teman-temanku yang lain atau saudara-saudara sepupuku atau anak-anak tetanggaku yang lain.

Bapakku juga sering mengulang-ulang cerita tentang dia dan dua saudaranya yang lain (Titi Yorim dan Oma Bella yang kala itu masih berusia 5 tahun) yang sudah menjadi yatim-piatu sejak usia di bawah 10 tahun. Katanya, kalau ada acara-acara pesta keluarga, anak-anak yang punya orang tua akan mendapat pelayanan makanan lebih dahulu atau dengan porsi lebih karena mereka dipanggil dan diberikan langsung oleh orang tua mereka. Sementara an kome, sebutan untuk anak-anak yatim/piatu atau anak yang tak punya orang tua, akan ditinggal belakangan atau kalau dikasihpun hanya dengan porsi yang ala kadarnya. Cerita tentang masa kecil bapak itu dikaitkan dengan kami, aku dan adik-adikku, yang kalau ada acara-acara keluarga selalu tak ada mama karena mama dalam keadaan sakit dan tak bisa hadir dan turut bekerja di dapur mengurusi makanan. Cerita itu terus tertatam dalam kepalaku sehingga setiap acara-acara besar keluarga, aku selalu mengira bahwa kawan-kawanku selalu kekenyangan dan aku sendiri selalu kelaparan.

Catatan Buku

Membaca Revolusi-Revolusi dalam Wawasan Dunia: Memahami Arus Pemikiran Barat

⚠ Catatan ini bukanlah sebuah ulasan ilmiah. Ia hanya berupa pengenalan dan ringkasan, sekadar pengingat bagi saya atau bisa juga membantu Anda sekalian yang mungkin ingin tahu apa gambaran besar buku ini (meski saran saya, silakan beli sendiri bukunya di Toko Buku Momentum  dan nikmatilah keseruan berpetualang bersamanya…👍📖😎🙏)

***

IMG20191020200604Buku ini berisi 10 esai singkat dari 10 orang berbeda yang kemudian diedit oleh W. Andrew Hoffecker. Mengupas mulai dari peradaban Yunani hingga abad ke-20.

Di bab satu yang berjudul Orang Yunani Membawa HadiahJohn Frame menyinggung kembali tentang  frasa Awas, orang-orang Yunani membawa hadiah! dari tulisan Virgil yang berjudul Aeneid. Di bab ini juga dipaparkan, pemahaman dan pengertian pemikir Yunani itu pun tidak tunggal. Selalu ada ketidaksetujuan yang luas di antara mereka, dan itu terus bergerak dari masa ke masa selama abad kejayaan Yunani. Mereka juga boleh meyakini ada sebuah kuasa yang besar di atas mereka namun yang mereka percayai tetap adalah sesuatu yang bersifat ‘impersonal’. Hal inilah yang membedakan sekaligus membuat saya bersyukur bahwa saya meletakkan kepercayaan saya kepada sesuatu yang bersifat personal (pribadi).

Bab dua ditulis oleh John D. Currid yang berjudul Wawasan Dunia dan Kehidupan Orang Ibrani. Isinya kurang lebih seperti ketika kamu mempelajari kembali isi perjanjian lama (PL). Tentu dengan pengupasan lebih mendalam dari sudut pandang penulisnya yang adalah seorang reformed. Hal demikian sama dengan yang ada pada bab tiga oleh  Vern S. Poythress dengan judul Wawasan Dunia Perjanjian Baru.

Bab empat ditulis oleh Richard C. Gambe dengan judul Kekristenan sejak Bapa-Bapa Gereja Mula-mula hingga Charlemagne. Bab ini menyajikan apa saja yang terjadi dan bagaimana perkembangan wawasan dunia selama kurang lebih 800 tahun dimulai dari zaman Bapa-bapa Rasuli, lalu Klemen dari Roma, hingga ke masa Agustinus dari Hippo dan berakhir di masa pemerintahan Raja Charlemagne.

Bab lima dengan judul Theologi Abad Pertengahan dan Akar-Akar Modernitas ditulis oleh Peter J. Leithart. Bagian ini dimulai dengan pengantar tentang kesatuan hidup dan pemikiran yang cukup memikat bila dilihat dari perspektif modernitas dan postmodern yang terpecah-pecah secara intelektual dan budaya. Dilanjutkan dengan dimulainya perkembangan pemisahan filsafat dan theologi atau konsep mengenai theologi sebagai ilmu pengetahuan serta mulai munculnya apa yang disebut sebagai  skolastisisme. Beberapa nama penting untuk sekedar diingat dalam bab ini adalah Peter Abelard, Rupert dari Deutz, Thomas Aquinas (+ yang mempengaruhi dan yang dipengaruhi), Paus Gregory VII, serta Duns Scotus dan William Ockham di akhir abad pertengahan (analogi vs univositas).

Bab enam oleh Carl Trueman Carl Trueman tentang Renaisans. Bab ini berisi penelusuran penulis terhadap berbagai hal yang mendasari gerakan yang disebut sebagai renaisans tersebut. Skolastisisme dan humanisme mulai bersanding hingga pelan-pelan cukup memberi dampak pada kurikulum universitas. Hal-hal selanjutnya mengenai filsafat, ilmu pengetahuan, politik, serta perkembangan literatur dan seni mendominasi pembahasan bab ini. Namun demikian, yang dapat disimpulkan dari bab ini adalah bahwa renaisans tidak menawarkan wawasan dunia tunggal yang menyatu sebagai alternatif bagi abad pertengahan melainkan ia hanyalah istilah yang mencakup beragam pandangan dan perspektif pada seluruh jangakaun persoalan.

Bab tujuh pada buku ini berjudul Reformasi sebagai Revolusi Wawasan Dunia yang ditulis oleh Scott Amos. Dikatakan, meski kontras antara perspektif Reformasi dan Abad Pertengahan kurang tegas, para reformator menolak sintesis Abad Pertengahan mengenai yang manusiawi dan yang ilahi dalam keseimbangan dari rasio dan penyataan. Tidak dipungkiri bahwa sintesis Abad Pertengahan secara resmi masih bersifat theosentris, namun seperti yang dipahami para reformator, sintesis tersebut terlihat berkompromi dan cenderung mengarah kepada pemahaman yang bersifat antroposentris.

Berbicara mengenai Reformasi, tentu tidak bisa tidak menyebut dua nama yang mewakilinya yakni Luther dan Calvin (walau begitu, di sini ada juga kaum Anabaptis yang disebut meski mereka cukup beragam untuk diwakili oleh satu orang). Bab ini menyajikan pengaruh wawasan dunia Reformasi terhadap kebudayaan, khususnya dalam lingkungan gereja dan masyarakat serta juga sedikit menyinggung tentang seni dan literatur. Di bagian kesimpulan, penulis kembali menegaskan bahwa meski terdapat beberapa perbedaan penafsiran Alkitab oleh para reformator sehingga kita sulit menemukan wawasan dunia ‘Reformasi yang tunggal’, para reformator tersebut tetap berbagi fokus yang sama pada Alkitab sebagai otoritas ultimat bagi iman dan perbuatan.

Bab delapan berjudul Pencerahan-pencerahan dan Kebangunan-kebangunan Rohani: Permulaan Peperangam Budaya ditulis oleh W. Andrew Hoffecker yang sekaligus adalah editor buku ini. Sesuai dengan judulnya, bab ini menyajikan bahwa meski sering survei-survei sering mengasingkan kebangunan-kebangunan rohani dari ‘pencerahan’ (kalau kita memang mengikuti istilah tersebut), namun yang jelas adalah baik pencerahan-pencerahan maupun kebangunan-kebangunan rohani pada saat yang sama bersaing untuk mendapatkan pikiran publik. Pencerahan dan kebangunan rohani yang dimaksud adalah 1) di Inggris dengan dua tokoh utama untuk pencerahan adalah John Locke dan David Hume serta John Wesley untuk kebangunan rohaninya, (btw, Newton kira2 di mana ya..?) 2) di Perancis dengan Descartes untuk pencerahan serta Jansenisme dan Blaise Pascal untuk kebangunan rohani, 3) di Jerman dengan gerakan kaum pietisme untuk kebangunan rohani dan Imanuel Kant untuk Pencerahan, 4) di Amerika dengan dorongan Thomas Paine untuk pencerahan dan Jonathan Edwards yang adalah seorang puritan di abad ke 18 untuk kebangunan rohani.

Bab sembilan berjudul Abad Ikonoklasme Intelektual: Pemberontakan Abad Kesembilan Belas terhadap Theisme yang ditulis oleh Richard Lints. Bab ini secara khusus menyoroti Imanuel Kant sebagai jembatan pencerahan dan abad kesembilan belas; para nabi sekuler seperti Hegel, Feuebach, Karl Marx, Darwin, Freud, hingga Nietzsche dengan segala pemikiran dan pengaruh mereka masing-masing; serta gerakan-gerakan eklektik seperti romantisisme, transendetalisme, idealisme, liberalisme theologis, eksistensialisme, dan pragmatisme lengkap dengan pelopor masing-masing.

Bab sepuluh atau bab terakhir dari buku ini berjudul Filsafat di antara Reruntuhan: Abad Kedua Puluh dan Selanjutnya oleh Michael W. Payne. Bab ini menganalisis revolusi-revolusi primer yang saling berkaitan yakni revolusi-revolusi dalam bahasa dan epistimologi, ilmu pengatahuan, dan etika yang telah menciptakan lingkungan filosofis bagi postmodernisme. Meski dimulai dengan pembicaraan tentang bahasa dan kata-kata yang adalah kesukaan saya, pembahasan ini (saya akui) terbilang berat bagi saya atau entah mungkin saya juga sepertinya kurang atau tidak begitu menaruh perhatian saat membaca bab ini. Intinya, secara pribadi, khusus untuk isi dari bab sepuluh ini saya berutang membaca ulang.

Demikian sewaktu menyelesaikan buku ini, sebuah pertanyaan muncul di kepala saya, dari sekian banyak pemikiran atau pandangan tersebut, pemikiran-pemikiran apa sajakah yang kira-kira membentuk kerangka berpikir saya sejauh ini. Saya curiga, pandangan abad kesembilan belas sepertinya cukup mengambil porsi lebih di sini sebelum akhir Agustus 2017. Sebelumnya (akhir Agustus 2017 itu), meski mungkin tidak membaca langsung pemikiran mereka, namun hasil pikiran mereka dibaca dan ditafsirkan orang, dituangkan melalui buku-buku baik sastra ataupun nonsastra, lewat film, lewat lagu, lukisan, lewat diskusi-diskusi, jurnal-jurnal ilmiah, bahkan hingga model-model pembelajaran yang dituntut di kurikulum nasional, apalagi sekarang dengan mudah dan sangat amat banyak bertebaran di media-media sosial sebagai bahan makanan sehari-hari.

Di akhir catatan ini, saya hanya mau bilang, saya merasa kaya sekaligus miskin setelah selesai membaca buku ini. Kaya karena banyak momen ‘aha’ dan ‘wow’ selama membaca. Miskin karena dalam setiab babnya, ada puluhan bahan bacaan yang menjadi rujukan dan hampir semua bahan bacaan tersebut belum saya baca.

Hal terakhir, buku ini sangat direkomendasikan buat siapa saja yang mau belajar membaca arus zaman. Seumpama paragraf deduktif, buku ini adalah kalimat utamanya, buku-buku rujukan/referensi dengan para tokoh/pemikir utama setiap zamannya yang dicantumkan dalam buku ini adalah kalimat-kalimat penjelasnya. Semangat membaca… 😎💪🙏

 

 

 

 

 

Merayakan Keseharian

Lagu dari Fil 3:13-14

Lagu yang saya dengar sewaktu belum sekolah. Waktu itu ikut menyanyi tanpa tahu artinya apa dan dari mana sumbernya.

Berikut kutipan lirik lagunya yang saya ingat:

“aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
dan berlari-lari (lari-lari-lari-lari-lari-lari-lari-lari) pada tujuan, memperoleh hadiah (hadiah, memperoleh hadiah,hadiah), yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Catatan:

Pagi tadi bacaan devosinya diambil dari sini. Sontak saya teringat akan lagu masa kecil yang pernah saya dengar dan saya nyanyikan ini.

Diberkatilah ia yang pernah mengajarkannya kepada saya dan menyanyikannya bersama saya. Meski sekarang ia terkungkung sakit, syukur saya tetap kepada Tuhan yang telah menghadirkannya di tengah-tengah dunia ini. 😍🙏😇

Refleksi

Kembali 😊

Berbahagialah mereka yang mengenal dan menyembah-Mu. Sebab bagi mereka, diri mereka tak lagi begitu penting untuk dipikirkan. Bagi mereka, segala tentang mereka sudah selesai. Yang penting bagi mereka adalah bagaimana Kau dikenal, bagaimana orang-orang pun merasakan sukacita yang sama seperti yang mereka rasakan.
Tak ada ketakutan atau keraguan dalam diri mereka memandang hari esok. Sebab mereka tahu, Kau yang mengutus, tentu Kau yang memimpin. Kalau ada aral melintang, tentu Kau punya maksud. Kalau mereka harus cacat/rusak bahkan mati di situ, dan mungkin pikir orang pekerjaan itu berhenti di situ, mereka tahu mereka tidak ‘rugi’ apa-apa. Itu mau-Mu untuk mereka. Tentang pekerjaan itu, tentu akan ada orang lain yang Kau utus meneruskannya.
Dalam mereka melakukan pekerjaan itu, entah diri mereka dikenal atau tidak, bukan lagi masalah berarti bagi mereka. Toh, tujuan utama adalah Kau yang dikenal, bukan mereka.

Dalam masa-masa itu pun, sering terdapat kesalahan mereka. Namun mereka sadar, kesalahan itu adalah milik mereka. Sebab segala yang baik dan mulia dan yang sempurna adalah hanya milik-Mu.

***

Kalau matamu melihat hanya sampai kepadaku, maka aku gagal, dan itu adalah kesalahanku.
Bagaimana caranya kau kuantar sampai kepada Dia?

God's Story

Melihat Pasyur Masa Kini

Pasyur, atau dalam NIV dan KJV ditulis Pashhur dan Pashur, adalah seorang imam yang menjabat kepala di rumah Tuhan di masa Nabi Yeremia. Sewaktu mendengar nubuatan Yeremia tentang kemurkaan Tuhan, ia dengan serta merta memukul dan memasung Yeremia di pintu gerbang Benyamin di atas rumah Tuhan.

Meski ketika usai membaca kisah ini saya sendiri agak merasa janggal, sebab orang datang memberitahu apa yang benar, ia malah disiksa. Tapi kemudian saya menyadari, di masa sekarang, sebenarnya ini bukan sesuatu ganjil dan langka. Alangkah banyak dari kita yang hanya mau memanjakan telinga ketika mendengar khotbah dan pengajaran di ibadah gereja ataupun persekutuan-persekutuan. Kita lebih suka ia yang mengajar atau berkhobah di depan sana hanya bicara yang baik dan menyenangkan telinga saja, memotivasi kita untuk terus maju dan sukses tanpa mau terbuka kepada teguran yang keras akan keburukan-keburukan kita.

Bahkan sekarang ini juga para pengajar diminta membicarakan yang baik-baik dan berupa hiburan (bukan berarti hiburan itu tidak perlu, tapi toh dalam iman kita sudah punya harapan, bukan?) saja sesuai kebutuhan mereka yang mendengar. Seorang akan minta kesuksesan studi, seorang yang lain minta kesembuhan dari sakit panu, seorang yang lain minta jodoh, seorang yang lain minta kaya, seorang lain minta yang berbeda demikian seterusnya. Justru kalau seorang Hamba Tuhan yang mengajar dan menegur dengan keras, ia malah akan ditolak atau ditinggalkan, bahkan dicaci-maki, atau mungkin juga akan sesadis Pasyur di zaman Yeremia ini. Ia yang mau membersihkan borok untuk diobati justru kita tolak dan siksa, sementara ia yang datang bermanis-manis dalam kepalsuan justru kita sanjung-panjung (sungguh manusia ini memang terlalu). Demikianlah laku kita sebagai contoh Pasyur/Pashhur/Pashur zaman sekarang.