PRK

Kapsul 82: Membangun Komunitas Ibadah

Sebelumnya kelas ini berbentuk PRK. Diadakan setiap hari Jumat. Saat ini, syukur kepada Tuhan, sudah berkembang menjadi PRII.

Kebaktian perdana PRII akan dilaksanakan hari Minggu ini (15/4/18). Maka itu jadwal hari Jumat dialihkan menjadi kelas pembinaan. Namanya Sekolah Teologi Reformed Injili Kupang (sekolah teologi khusus awam). Pesertanya tentu tidak serta merta mendapat gelar setelah belajar dari sini. Hanya mereka akan mendapat sertifikat sebagai tanda telah konsisten mengikuti kelas tersebut.

Nah, semalam adalah pertama kali prosedur (atau apa sih sebutnya) hari Jumat tidak berbentuk seperti PRK biasanya. Tapi langsung berupa kelas. Dipimpin Pak Sutjipto Subeno a.ka. Pak Tjip, tentang Membangun Komunitas Ibadah.

Pemaparan beliau banyak. Saya memakukannya dalam beberapa lembar catatan. Kalau ditulis di sini mungkin akan seperti saya mengajar ulang lagi. So, saya hanya pahatkan intinya. Bahwa dalam sebuah komunitas, kau harus meninggalkan egomu, bukan hanya demi komunitas itu, tetapi arah matamu adalah kepada apa yang Dia kehendaki dan apa yang berkenan kepada-Nya.

30581449_10215163091806594_7406237215760739301_n

Oh, ya, sekalian sebagai undangan, di samping ini saya pajang brosur kebaktian perdana PRII Kupang, Minggu, 15 April 2018. Kebaktian ini akan dimulai pukul 09.00 wita. Lokasinya di deretan ruko warna-warni Jl. Frans Seda, Blok D & E, daerah Fatululi Kupang (di tengah-tengah Twins Resto & Toko Ferari Mobil).

Kalau dari arah Polda NTT dan bundaran pertemuan Jl. Eltari – Jl. WJ Lalamentik – Jl. Frans Seda, maka rukonya sebelah kiri, tapi bila dari arah Lippo Plaza-SDH Kupang – Patung Kirab – Bundaran PU, maka beberapa meter setelah Pertamina Oebobo, akan kau lihat satu jalan (tidak terlalu luas) untuk kau bisa putar arah menuju lokasi (karena jelas kau tak bisa langsung tabrak saja lewat bedeng-bedeng orang di tengah dua jalur jalan tersebut😉😄😊).

Iklan
Merayakan Keseharian

Kapsul 81: Akhirnya Kembali (bersorak)

Akhirnya kembali lagi

Akhirnya bisa kembali lagi. Setelah seminggu lamanya terserang flu, hari ini saya bisa kembali membuka blog ini. Sebenarnya selama beristirahat karena flu, saya sempat membuka-buka blog, tapi keinginan menulis itu seperti tak ada. Bahkan membaca saja saya paksakan harus. Bukan terpaksa sebenarnya, karena memang hiburan saya selama istirahat itu adalah membaca dan menonton. Aneh saja saya tak buat apa-apa. 

Banyak yang saya baca dan saya tonton, tapi yang mau saya sematkan di sini adalah satu cerpen dari Albert Camus yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berjudul Tamu. Kalau mau akses yang versi bahasa Inggris, ada juga di The Guest. Saya tak menyematkan link dari bahasa asli karena saya sendiri tidak mengerti bahasanya:D. 

Terlepas dari isi cerita, saya suka bagian yang dikutip di bawah ini: 

For some time he lay on his couch watching the sky gradually close over, listening to the silence. It was this silence that had seemed painful to him during the first days here, after the war. He had requested a post in the little town at the base of the foothills separating the upper plateaus from the desert. There, rocky walls, green and black to the north, pink and lavender to the south, marked the frontier of eternal summer. He had been named to a post farther north, on the plateau itself. In the beginning, the solitude and the silence had been hard for him on these wastelands peopled only by stones. Occasionally, furrows suggested cultivation, but they had been dug to uncover a certain kind of stone good for building. The only plowing here was to harvest rocks. Elsewhere a thin layer of soil accumulated in the hollows would be scraped out to enrich paltry village gardens. This is the way it was: bare rock covered three quarters of the region. Towns sprang up, flourished, then disappeared; men came by, loved one another or fought bitterly, then died. No one in this desert, neither he nor his guest, mattered. And yet, outside this desert neither or them, Daru knew, could have really lived.

Beberapa saat ia merebahkan diri di dipannya, memandang langit yang makin gelap, mendengarkan kesunyian. Kesunyian yang menyiksanya sejak hari pertama ia tinggal di tempat ini, setelah perang. Ia mohon agar ditempatlkan di kota kecil di kaki bukit, yang terletak di antara dataran tinggi dan gurun. Di sana, dinding-dinding batu, hijau kehitaman di sebelah utara, jambon dan lembayung muda di sisi selatan, menandai tapal batas musim panas yang kekal. Tapi justru di dataran tinggi ini ia ditempatkan. Pada mulanya, terasa berat baginya menghadapi kesunyian dan kesendirian di hamparan tanah kosong yang dihuni hanya oleh batu-batu. Sesekali tampak bekas galur-galur pada tanah cadas bekas digaru. Tapi tak ada yang bisa diperbuat pada lapisan tipis tanah yang menutup batu-batu, yang hanya cocok untuk bahan bangunan. Jadi satu-satunya yang bisa dihasilkan di daerah ini adalah memanen batu. Di beberapa tempat, orang lain menggarap lapisan tipis tanah yang memenuhi cekungan dan menanaminya dengan tetumbuhan seadanya yang bisa tumbuh di sana. Begitulah keadaannya. Hamparan batu menutupi tiga per empat bagian wilayah ini. Kota-kota tumbuh, berkembang, dan kemudian hilang; orang-orang datang, saling mencintai atau saling membenci, dan kemudian mati. Tak seorang pun di gurun ini, baik dirinya sendiri atau si Arab tamunya, punya arti. Dan, sebaliknya, di luar gurun, Daru tahu itu, tak ada seorang pun yang benar-benar hidup.

Alasan ini berkesan bagi saya karena tak lain tak bukan hamparan permukaan bumi semacam ini sama seperti di Kupang :D. Jadi karena tanah ini kaya batu, apa salahnya kita dirikan perusahan batu, batu karang maksudnya, bukan batu mulia:D 😉 :). 

Cerita-cerita

Kapsul 75: Dua Cerita Pendek O. Henry

Saya hanya ingin menyimpan dua cerita O. Henry di sini sebagai tambahan referensi  siapa tahu bisa dibagikan ke di kelas saat belajar materi cerpen. Dua cerpen tersebut adalah:

1Witches Loaves by O. Henry _from  American Literature yang kemudian diterjemahkan menjadi Roti Pemberian Penyihir. Kasih jempol buat yang sudah menerjemahkan:D.

2) The Ransom of Red Chief by O. Henry yang kemudian diterjemahkan menjadi Tebusan buat Red Chief. Terjemahan ini baik, hanya penerjemah kemudian mengubah konteksnya menjadi jauh berbeda dari cerita asli. Cerita berlatar belakang daerah Amerika khususnya Alabama diubah menjadi daerah Sumatera Barat yakni Bukittinggi. Mata uang dan makanan khas pun diubah seolah cerita itu benar-benar terjadi di Indonesia, khususnya Sumatera. Jadi kalau membaca terjemahan cerita ini, alangkah baik sekaligus langsung membandingkan dengan cerita aslinya di American Literature -> The Ransom of Red Chief. 

 

Refleksi

Kapsul 74: Menyinggung Masalah Human Trafficking di NTT dalam Mimbar Ibadah Paskah Bersama Kel Besar LG- Kupang

Ibadah perdana paskah bersama kel besar LG di Kupang dipimpin Pdt. Merry Kolimon, ketua sinode GMIT. Dalam pemberitan mimbar khotbah hari ini (saya tak lagi membahas isi khotbah), beliau menyinggung masalah human trafficking yang sudah berkepanjangan terjadi di NTT.

Kita punya banyak orang yang katanya pintar, tapi tak terhitung juga betapa masih banyak di luar sana yang tak ketulungan butanya.

Kau sadar tentang ‘sesuatu’ kan? Kau kasih apa? Kau pikir ‘sesuatu’ kan? Lantas kau masih diam?

Refleksi

Kapsul 73: Melihat Perayaan Paskah Bersama Kel Besar Lippo Group Kupang dari Novel “Kekekalan” Milan Kundera

Tahun ini adalah tahun pertama diadakannya perayaan paskah bersama Kel Besar Lippo Group (LG) di Kupang sejak SLH masuk di Kupang tahun 2011, kemudian disusul Siloam Hospital, Lippo Plaza, dan yang lain-lain tahun-tahun berikut.

Sebagai salah satu bagian di dalamnya, saya hanya ingin melihat kegiatan hari ini dari sudut pandang novel ‘Kekekalan‘ Milan Kundera. Ini tidak sama sekali berkaitan dengan penyelenggara, panitia, atau siapa pun mereka, tetapi lebih kepada my personal reflection😉😊.

Bertahun-tahun sebelumnya, bila mengikuti perayaan semacam ini, pasti jauh dalam hati saya ada semacam rasa bangga. Toh, di kota sekecil Kupang ini, bekerja di bawah payung LG punya nama dan harga tersendiri.

Ketika kau masih meraba-raba identitas, dan menemukan bahwa kau ada dalam satu lingkaran tertentu yang seolah ketika orang menyebut namamu, langsung melekat dengan institusi tertentu, kau langsung merasa seolah itu sudah kau. Dirimu melekat dengan atribut itu. Seolah-olah hanya itu, satu-satunya tempat kau melekat. Seolah-olah atribut itulah napasmu, dan bila bukan dengan itu kau tak bisa hidup.

Berkaca dari novel ‘Kekekalan‘ Milan Kundera, ada dua pribadi kakak beradik yang digambarkan berbeda. Sang adik mengagul-agulkan ‘penambahan‘ sebagai pecinta kucing. Ingin dikenal dan dilekatkan dirinya dengan atribut sebagai pecinta kucing. Sementara sang kakak lebih memilih jalan ‘pengurangan‘. Mengurangi segala yang terlihat di luar, sebaliknya lebih berusaha melihat ke dalam.

Apa maksudnya penambahan dan pengurangan ini?

Dari sisi penambahan, biasanya seseorang selalu berusaha menambahkan dirinya dengan atribut ini atau atribut itu. Ingin dikenal dengan sebutan ini atau sebutan itu. Mereka bergabung dengan berbagai komunitas atau kumpulan apa pun itu, yang membangun atau pun hanya sekadar senang-senang, hanya demi sebuah identitas diri atau untuk mengeruk keuntungan pribadi. Mereka kemudian bangga menyebut dirinya sebagai ini atau itu. Bahkan sebagai follower sekali pun tanpa ikut berkarya sebagaimana yang diidolakan. Hanya sekadar bangga menyebut diri saya adalah *…ersers (maksudnya sebutan untuk pengikut fanatik orang atau kelompok tertentu yang diidolakan). Contoh saja: walkers, kpopers, beliebers, dll (maaf kalo yang salah tulis, saya belum mengecek pengejaannya).

Sementara dari sisi pengurangan, seseorang sudah tidak melihat atribut-atribut yang dipasang sebagai pembentuk identitas dirinya, yang kemudian serakah mengeruk untuk dirinya sendiri. Ia sudah lepas dari pandangan tersebut. Ia tak lagi sibuk menambal-nambal dirinya dengan bergabung mengikuti ini atau itu, hanya untuk dikenal sebagai “oh, dia itu walkers lho, a/ oh, dia itu penggila anu, a/ oh, kau boleh sentuh ‘ininya dia’ dia bisa meradang, dan meraung lebih dari singa betina, a/ oh, dia itu *…ers juga, kan, ya,” dst. Dia tidak sekadar bergabung untuk numpang majang, mendapat madu yang banyak, atau melirik-lirik mangsa. Sebaliknya ia memang mungkin tetap mengikuti tapi dengan alasan dan tujuan berbeda, ingin mengurangkan segala ego yang melekat dan kembali menemukan dirinya lebih dalam lagi. Ingin belajar lebih tentang apa yang bisa dilakukan dan bagaimana melakukannya agar serupa dengan yang diikuti, dikagumi, diidolakan, dipuja, atau bahkan yang disembahnya. Pada mereka inilah, akan kau lihat ada spirit dari kedalaman mereka yang terpancar keluar. Buah mereka, sesederhana sebuah sapaan atau senyum pun tentu punya nilai yang berbeda.

ReBlog

Kapsul 72: #WriterSpotlight – “Everyone has a story. Don’t be afraid to share yours.” Affiong Ene-Obong

thesparklewritershub

IMG_20160130_194429

There’s something powerful about a writer who has a WHY! We love Affiong Ene-Obong because she knows why she writes and the reason is powerful. Find out in today’s #WriterSpotlight.

Hello Affiong, please introduce yourself

I’m Affiong Ene-Obong, a lawyer, author, poet and content creator. I’m a young lady who earnestly desires to inspire, impact and transform lives with my talents, spreading light and love across the world. I’m a member of The Association of Nigerian Authors (ANA), Rivers State Chapter, Poets In Nigeria (PIN) and member of The Sea View Poetry Club, Port Harcourt. I’m an advocate for young people living with disabilities. My first book, ‘A Life Called Forever’ is a collection of inspirational poems beautifully written to inspire, impact and transform lives; spurring others to live their best lives amidst life struggles, obstacles and detours. My second book; a debut novel encourages women and kids…

Lihat pos aslinya 454 kata lagi