Siap Post Test Modul KK D dan KK F

Baru-baru ini saya dipercaya menjadi fasilitator untuk salah satu kegiatan yang merupakan program Kemendikbud yakni PKB Moda Tatap Muka IN ON IN pola 20-20-20. Karena mata pelajaran kami Bahasa Indonesia, maka pusat belajarnya bertempat di sekolah yang dipimpin ketua komunitas MGMP yakni SMPN 16 Kupang.

IMG_20171203_132225.jpg

Sumber foto: Ibu Luisa Adu

Dari 10 modul dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, di PKB Moda Tatap Muka IN ON IN Pola 20-20-20 ini, hanya dua modul yang kami kaji yaitu Kelompok Kompetensi (KK) D dan F. Materi pedagogik untuk KK D adalah Rancangan Pembelajaran, dan materi profesionalnya adalah Keterampilan Berbahasa dan Kaidah Bahasa Indonesia. Sedangkan untuk KK F, materi pedagogiknya adalah Model Pembelajaran dan materi profesionalnya adalah Apresiasi Puisi dan Prosa.

10 KK

Apa saja isi materinya? Di bawah nanti akan disajikan sedikit gambaran besar mengenai materi dari kedua modul tersebut.

Tujuan saya menulis di sini adalah supaya mengingatkan saya yang hampir pernah mati berdiri 😉😅 saat persiapan, juga sebagai salah satu bentuk doa dan dukungan semangat kepada para peserta PKB yang besok (Selasa, 5/12/17) ini mengikuti post test di TUK yang sudah ditentukan.

Peserta PKB Bahasa Indonesia SMP se-Kota Kupang pada saat kegiatan penutupan PKB

Berikut gambaran besar modul KK D dan KK F: 

Materi pedagogik KK D: Rancangan Pembelajaran

Rancangan pembelajaran ini mencakup pendekatan, metode, dan teknik. Pendekatan merupakan sikap atau pandangan yang berupa asumsi, metode yaitu prosedur mencapai tujuan, sedangkan teknik adalah cara mencapai tujuan sesuai metode yang dipakai. Lebih detailnya mengenai jenis pendekatan, macam-macam metode dan teknik.

Materi profesional KK D: Keterampilan Berbahasa dan Kaidah Bahasa Indonesia

Dalam Bahasa Indonesia (juga semua bahasa di dunia), ada empat keterampilan dasar yang harus dikuasai setiap orang di muka bumi. Empat keterampilan bahasa tersebut adalah berbicara, menyimak, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan tersebut saling berkaitan satu sama lain. Dituntut agar setiap orang mesti mengusainya meski tak selamanya seseorang harus terampil sempurna di keempat bagian tersebut.

Materi pedagogik KK F: Model Pembelajaran

Model pembelajaran mencakup project based learning atau pembelajaran berbasis proyek, problem based learning atau pembelajaran berbasis masalah, dan discovery learning atau pembelajaran yang menekankan pada penemuan. Selanjutnya lebih detail dibahas tentang langkah-langkah, kelebihan dan kekurangan dari ketiga model tersebut.

Materi profesionalnya: Apresiasi Puisi dan Prosa

Apresiasi puisi dan prosa yaitu dengan memperhatikan unsur instrinsik dan ekstrinsiknya. Beberapa orang yang disebut sebagai ahli menggolongkannya ke dalam beberapa tingkatan atau tahapan.

Demikian secuplik gambaran atau garis besar dari Modul KK D dan KK F Bahasa Indonesia SMP, juga sepotong doa untuk peserta PKB yang akan menghadapi post test.  Selamat bersiap. Selamat berjuang.

 

 

 

Iklan

Makanan Bergizi ala Teachers’ Gathering bersama EduTraC Kupang

      ***Saya tak akan menuliskannya dengan judul ala media mainstream, misalnya, Rayakan Hari Guru, EduTraC bikin Teachers’ Gathering  😅😜😄

Hujan mengguyur Kupang setelah pukul 03.00 sore. Dengan mantel membungkus tubuh, saya memacu motor menuju tempat diadakannya Teachers’ Gathering, tepatnya di Kafe KupangKoe di daerah Oebobo, Kupang. Saya tiba belasan menit lewat dari waktu yang ditentukan yakni pukul 04.00 sore.

Sebelumnya saya sudah berjanji pada diri sendiri harus tiba di tempat acara sebelum waktu yang ditentukan. Sudah saya kirimkan pesan ke kawan saya, kami harus tiba sebelum pukul 04.00 sore. Sayang meski sudah bersiap sejak awal tapi karena hujan turun mendadak sebelum pukul 04, saya akhirnya menunggu sebentar dengan membuka-buka buku yang sementara dalam masa baca. Berpikir mungkin saja sebentar lagi hujan  reda. Sayang, mendekat pukul 04.00 sore itupun tak ada tanda-tanda hujan mereda. Maka bermodal tekad, saya membungkus ransel saya dengan mantelnya, lalu mengambil mantel untuk saya sendiri untuk kemudian memacu motor menerobos hujan.

IMG20171125162220.jpgSaya tiba ketika meja kursi sementara dikeringkan oleh mereka yang hadir lebih dulu di sana. Awalnya direncanakan meja kursi itu bertempat di luar, tapi karena di hujan maka dipindahkan di dalam teras.

Selesai orang mengatur tempat, saya menuju meja registrasi. Entahlah karena ini pertama kali, intinya hari itu (25/11/17) hanya dengan 15 ribu rupiah kau sudah mendapat materi berikut kudapannya. Seusai registrasi, saya memilih tempat paling depan dekat tempat stopkontak. 

Tak berselang lama, satu dua orang mulai datang, menempati kursi-kursi yang disediakan. Pengunjung yang sudah hadir disuguhi alunan musik, entahlah instrumen apa saya kurang hafal, sambil menunggu kedatangan peserta yang lain.

Acara dibuka beberapa menit kemudian. Saya tak sempat menengok jam. Ibu Elise sebagai pembawa acara membukanya dengan ucapan selamat datang kepada peserta. Dilanjutkan doa oleh Pak Grefer Pollo.

IMG20171125165030.jpgSebelum kesempatan diberikan kepada Pak Hengky sebagai pemateri, kami saling berkenalan satu sama lain karena peserta yang datang berasal dari sekolah yang berbeda baik di Kota Kupang maupun Kabupaten Kupang. Cara berkenalan kami tidak seperti biasanya sebab ada games kecil-kecilan dan sederhana yang dipandu sang pembawa acara😊. Saya sempat mengingat beberapa nama antara lain: Pak Ferdy Kana, guru SMP Kristen Mercusuar yang juga adalah Ketua MGMP Matematika SMP se-Kota Kupang, Pak Yapi dari SMPN 18, Pak Frans, Ibu Grace, Pak Yandry, Pak Yadi, Ibu Isabella, Ibu Maria, Ibu Sherly, Ibu Andry, Ibu Ery, serta beberapa nama lain yang tak sempat saya ingat, juga beberapa kawan saya dari Lentera yang baru menyusul kemudian.

Kami melakukan tes kekuatan otak/konsentrasi sebelum mikrofon benar-benar diberikan kepada Pak Hengky 🙂 n.b: backsound video ini bagus, Faded dari Alan Walker, satu DJ favorit saya bermula dari lagu Alone yang keren itu :3 😉

Seusai tes kekuatan otak/konsentrasi yang cukup seru itu walau banyak di antara peserta yang sudah pernah melakukannya, kami semua diminta berdiri untuk bersama-sama menyanyikan lagu Jasamu Guru ciptaan Isfanhari. Sebuah lagu edukatif yang memang sekarang jarang atau hampir tak terdengar meski pernah berjaya karena tayang di TVRI tahun 1990-an. Kami menyanyikannya bersama diiringi musik oleh Pak Grefer.

IMG20171125170910.jpgDengan selesai bernyanyi bersama itulah, saatnya mikrofon diberikan kepada Pak Hengky sebagai pemateri hari itu.

Pak Hengky membukanya dengan bertanya demi mengenal lebih dekat audiens. Siapa yang sudah paling lama mengajar dan siapa yang baru saja terjun ke dalam dunia mengajar. Di antara peserta yang hadir, terdapat seorang yang sudah lama terjun dalam dunia mengajar yakni lebih dari 27 tahun. Beliau adalah Pak Frans (saya lupa dari SMP mana, akan saya tanyakan setelah ini, tapi yang jelas adalah SMP Negeri :)). Berikutnya menuju yang paling muda, belum sampai setahun mengajar. Banyak ternyata. Paling banyak berasal dari Sekolah Kasih Karunia, salah satu sekolah swasta yang berlokasi di Kabupaten Kupang. Demikianlah peserta Teachers’ Gathering hari itu beragam. Dari sekolah negeri maupun swasta, dari yang sudah makan asam garam hingga yang paling ‘hijau’ termasuk saya. Dengan ada wadah semacam ini, para guru bisa berkumpul bersama untuk saling berbagi dan melengkapi satu sama lain.

Selanjutnya beranjak dari pengenalan audies itu, kami diajak menyaksikan video pertama, I am a teacher and I believe I can make a difference.

Memang video tersebut berbahasa Inggris. Tapi Pak Hengky pun menjelaskan garis besar terjemahannya. Lagipula kalimat-kalimatnya masih terbilang sederhana sehingga sebenarnya mudah diikuti. Ada penjelasan singkat mengenai video tersebut. Saya tak perlu menuliskan di sini. Silakan baca dan resapi sendiri. Lebih bertahan lama kalau kau yang mencerna dan menemukan maknanya sendiri, bukan? 😊 Intinya adalah keyakinanmu sebagai seorang guru, dengan kacamata yang kau pakai untuk melihat keistimewaan dan keunikan setiap murid, kau dapat memberi warna berbeda dalam hidup mereka.

IMG20171125171830.jpgMasuk kepada penjelasan, Pak Hengky memaparkan tentang tantangan-tantangan pendidikan masa kini. Ada dua poin penting yang ditampilkan di layar.  Sayang karena saat itu matahari sore mulai memunculkan cahayanya sehingga saya tak bisa dengan jelas membaca apa yang tertera layar tersebut. Tapi dari penjelasan lisan saya sempat menangkap kalau tak salah itu dua-duanya berkaitan dengan perkembangan teknologi. Dilanjutkan dengan perbedaan perkembangan generasi demi generasi. Dari generasi masa lampau hingga generasi sekarang yang dikenal dengan sebutan alpha. Ada teorinya. Silakan cari di internet, ini salah satunya -> Generasi XYZalpha atau bisa juga di Sejarah Perkembangan Teknologi Informasi. Bahkan ada satu film baru berjudul The Circle (yang merupakan adaptasi dari novel Dave Eggers berjudul sama) sempat disinggung berkaitan dengan kecanggihan teknologi di masa yang akan datang, serta kabar terbaru tentang Anthony Levandowski dengan Artificial Intelligence atau yang dikenal dengan konsep agama barunya, The Way of Future.

Dengan pengantar demikian, masuklah peserta diajak berpikir bersama.

Mencermati fenomena perkembangan teknologi sedemikian, di mana siswa lebih bisa dengan cepat dan mudah mengakses segala pengetahuan, kita sebagai guru sudah sampai sejauh mana? Masih relevankah kehadiran seorang guru di dalam kelas? Masihkah keberadaan guru di kelas atau sekolah dibutuhkan?

Peserta diajak berefleksi sejenak sebelum kemudian dilanjutkan dengan menonton bersama video berikutnya, Because of a Teacher.

Secara garis besar, video tersebut menunjukkan siswa dapat merasa aman, menjadi pembaca, pemecah masalah atau pemberi solusi, ilmuwan, pencatat sejarah,  aktif (bergerak), bekerja melalui jaringan, menemukan talente unik masing-masing, berkomunikasi global, jatuh cinta dengan kegiatan membaca sehingga menjadi pembelajar sepanjang hayat, semua itu dapat terjadi karena pengaruh seorang guru. Melalui murid-muridnyalah, seorang guru dapat mengubah dunia.

Dengan video tersebut, pertanyaan pengantar di atas terjawab. Bahwa:

Meski perkembangan teknologi mau sehebat apapun, kehadiran seorang guru tetap diperlukan. Keberadaan kita sebagai seorang guru tetap dibutuhkan. Karena keberadaan kita melampaui sekadar a+b+u=abu atau 1+1=2.

TG

Sumber foto: Dok EduTraC

Relevansinya dengan profil Kota Kupang saat ini (karena memang fokus pembahasan ini baru dimaksudkan hanya dalam lingkup Kota Kupang), sesuai data statistik, diperkirakan ± 120.000 jiwa adalah usia belajar (5-19 tahun). Sebagai guru, itulah ladang yang kau garap. Sementara itu di media massa atau media sosial tersebar beragam perilaku anak-anak usia belajar ini. Contohnya bisa kau amati di lingkungan sekitar.  Melihat gambaran profil dan situasi tersebut, di manakah kau yang bilang, I am a teacher and I believe I can make a difference”? Bukankah sebagai guru, kau mesti punya kepedulian dan passion yang lebih tentang ini? (Telak! Teguran sekaligus peringatan). Lantas, apa yang bisa kau suarakan, tentang bagaimana menjadi seorang guru yang berkualitas? Selanjutnya cobalah saksikan video berikut!

Sedikit gambaran dari video tersebut (bukan rangkuman sebab saya hanya ambil bagian tertentu) adalah tidak susah sebenarnya menjadi guru berkualitas.

Mengajarlah dengan hati. Buatlah aksi. Ajarlah dirimu sendiri terlebih dahulu, dan jadilah inspirasi.

Guru biasa menasihati, guru yang baik menjelaskan, guru yang unggul mendemonstrasikan, guru yang hebat menginspirasi. Bermainlah bersama mereka, belajar bersama mereka, berpikir bersama mereka, bimbing mereka, biarkan mereka berpikir di luar kotak. Hanya kau yang mampu melakukannya. Karena kau seorang guru. Buatlah mereka percaya para diri mereka. Pengaruh seorang guru yang hebat tak mudah lekang oleh waktu.  Maka, buatkan aksi mulai hari ini. Jangan tunggu orang lain berubah. Hanya kau yang bisa membuat perubahan itu. Change yourself first and inspire other.

Btw, ini kalimat dong su ke mau ganti Mario Teguh sa … 😀 Biar, toh, itu video di atas juga judulnya motivasi buat guru.  Ringkasnya adalah

guru yang baik mengajar, guru yang hebat menginspirasi.

Demikianlah sesi pemateri sampai di sini. Beliau tak banyak menceramahi harus begini harus begitu. Tapi seperti yang diikuti, beliau lebih kepada memberi api semangat kepada para guru yang mungkin apinya hampir padam.

Tibalah waktunya untuk peserta saling berdiskusi. Peserta diminta duduk dalam berkelompok. Sayang, mungkin bagian ini salah satu yang menjadi catatan untuk pengurus –EduTraC– nanti perbaikan ke depannya. Memang pembentukan kelompok tak sericuh anak-anak murid di kelas ketika diminta duduk berkelompok. Tapi mungkin perlu dipikirkan strategi pembagian kelompok diskusi agar ini pun menjadi contoh langsung kepada bapak/ibu guru tentang teknik pembentukan kelompok agar bisa diterapkan dalam pembelajaran di kelas sebagaimana games kreatif di awal tadi (Saya menulis ini pun juga sebagai refleksi saya terhadap kelas PKB yang saya fasilitasi kemarin di SMPN 16. Karena beberapa hal teknis, rencana saya membentuk kelompok itu tak jadi hingga saya menyesal setengah mati–untung tidak mampus 😉 😄).

Di sesi diskusi ini, ada tiga pertanyaan diberikan sebagai panduan. 1) Hal baru apa yang diperoleh dari materi yang baru saja disampaikan? 2) Apa yang bisa kita suarakan untuk pendidikan Kota Kupang yang lebih baik? 3) Apa yang bisa kita lakukan untuk menjadikan Kota Kupang sebagai salah satu kota pendidikan yang berkualitas?

Meski tak ada games atau strategi untuk pembentukan kelompok, peserta memang tetap diarahkan untuk berbaur dan peserta pun adalah orang-orang bijak nan terpilih yang dengan gesit segera bergerak untuk berbaur. Dari yang sudah kenyang makan asam garam bergabung dengan masih hijau –termasuk saya–, dari yang di sekolah negeri berbaur dengan sekolah swasta. Di kelompok kami sendiri ada enam orang dengan sekolah berbeda.

IMG20171125181717.jpgSesi diskusi berjalan seru ketika kudapan dengan minuman yang dipesan sebelumnya di meja registrasi mulai diedarkan. Ada pisang rebus, singkong rebus, ubi jalar rebus, ubi goreng, pisang goreng. Intinya semua kudapan itu berupa pangan lokal. Bahkan minumannya pun minuman sehat. Daftar minuman sudah ada di meja registrasi ketika kita mendaftar. Saya sendiri bahkan ketika baru datang dan saat disodorkan daftar pilihan minuman, saya mencari-cari di mana yang ada tulisan kopi. Membaca dengan cermat dari atas ke bawah lalu mengulang lagi dari bawah ke atas tapi sungguh tak ada tulisan kopi saya temukan. Yang ada hanya beraneka jenis teh, beraneka minuman jahe, serta beraneka pilihan jus. Saya sempat bertanya, kenapa tak ada kopi padahal tempat ini jelas-jelas adalah kafe dan namanya saja KupangKoe (+pi?:D). Oleh Ibu Welly yang adalah koordinator EduTraC ini saya dijawab, Untuk bapak/ibu guru tidak disediakan kopi. Semuanya harus minuman sehat. 😅😂 Okelah kalau begitu. Demikian saya memesan jus alpukat untuk malam yang sejuk itu 😄.

IMG20171125181730.jpgBeberapa menit diskusi berjalan. Saya tak melihat jam mulai dan berakhirnya. Tapi sepertinya tak sampai setengah jam. Setiap perwakilan kelompok diminta mempresentasikan hasil diskusi. Ada Pak Yapi, Pak Frans, Ibu Grace, dan Ibu Sherly maju mewakili kelompok masing-masing.

Menanggapi tiga pertanyaan yang diajukan, datang beragam jawaban dari kelompok-kelompok diskusi tersebut. Kelompok pertama memberikan jawaban untuk pertanyaan tersebut yakni guru yang baik menjelaskan, guru yang hebat menginspirasi, maka tempatkanlah dirimu untuk menginspirasi bukan sekadar menjelaskan. Berikutnya kelompok dua, guru seharusnya menjadi inspirator dan motivator untuk peserta didik. Kelompok berikutnya maju dan menyatakan rasa syukurnya sebab kegiatan semacam ini sangat baik sebagai penyegaran buat para guru terutama yang tua atau senior. Mendukung apa yang baru saja dikatakan Pak Yapi sebelumnya, perlunya perkumpulan seperti ini agar baik yang sudah lama terjun dalam dunia mengajar ataupun yang baru mau masuk bisa saling berbagi satu sama lain. Jawaban untuk pertanyaannya, yakni guru tak hanya mengajar tapi juga menjadi motivator, tak mengandalkan kemampuan sendiri tapi juga perlu dan harus berusaha mengoptimalkan potensi setiap siswanya. Kelompok berikutnya maju dan memberi jawaban yang tak jauh berbeda dari tiga kelompok sebelumnya.

Berikutnya jawaban untuk pertanyaan kedua dan ketiga. Sebelumnya hampir semua peserta mengatakan untuk meniadakan kata Kota Kupang mengingat mereka yang datang tak hanya yang mengajar di kota melainkan juga di kabupaten. Jadilah Kota Kupang diperluas menjadi Kupang (merangkum kota dan kabupaten) bahkan katanya kalau bisa daratan Timor sekalian atau bahkan NTT😄.

Jadi apa yang bisa disuarakan bersama untuk dunia pendidikan di wilayah Kupang khususnya atau NTT umumnya yang lebih baik, serta apa yang bisa dilakukan untuk menjadikan Kupang atau NTT sebagai basis pendidikan yang berkualitas? Demikian rangkuman jawaban para peserta diskusi:

a) Bangun kesadaran guru agar berada dalam satu komunitas, baik komunitas yang dibentuk pemerintah ataupun non pemerintah. Dari pemerintah sendiri seperti yang baru-baru mulai digencarkan yakni MGMP. Dari non pemerintah bisa seperti yang dilakukan EduTraC ini.

b)  Guru harus mau rugi sedikit. Mau merogoh koceknya untuk belajar mengembangkan pengetahuannya. Bisa seperti yang sementara dilakukan. Anda datang ke tempat Kafe KupangKoe ini dengan bersedia merogoh kocek 15 ribu. Nah, ini baru 15 ribu. Kalau bisa, jangan sungkan juga untuk kegiatan serupa ini dengan biaya yang misalnya lebih jauh di atas 😄.

c) Membangun kerja-sama guru, orang tua, dan pemerintah demi bersama-sama memperhatikan peserta didik.

d) Bangun kesadaran guru untuk terus menggali potensi kreativitas yang (entahlah maksudnya di sini potensi kreativitas guru atau siswa, saya kurang dengar di sini karena ada gangguan teknis :))

e) Mau apapun dan bagaimanapun, karakter guru haruslah dibentuk terlebih dahulu. Segala inpirasi dan motivasi untuk siswa haruslah dimulai dari diri sang guru. Ia sendiri mau belajar atau tidak. Jangan sampai ia menuntut siswanya menjadi pembelajar seumur hidup, sementara ia kalau buat kesalahan dan mendapat sedikit kritikan saja ia berbalik melabrak dengan mata melotot.

f) Membangun taman baca dan perpustakaan yang lebih banyak. Dapat dilihat bahwa selama ini justru mereka yang bukan gurulah yang dengan intens dan giat-giatnya membangun taman-taman baca atau perpustakaan serta bersemangat memotivasi orang-orang untuk membaca. Di mana guru yang adalah pemberi inspirasi?

g) Perlunya banyak pelatihan atau workshop bagi guru-guru. Tidak hanya seminar formal yang menjual sertifikat semata untuk peserta lalu materi seminar hanyalah mengulang kembali teori-teori atau tips-tips yang bisa kau baca sendiri di internet.

h) Mungkin perlu adanya studi banding antar sekolah dalam kota atau kabupaten atau antara sekolah swasta dan negeri.

h) Berikut yang terakhir adalah pesan ‘sponsor’😄. “Ingat, kalau ada kegiatan serupa ini lagi, jangan kami dilupakan,” begitu pesannya (Ibu Sherly) sebelum ia mengembalikan mikrofon kepada pamateri😄.

Demikianlah presentasi hasil diskusi dari bapak/ibu guru yang catchy abis. Untuk tanggapan balik, sempat disinggung collaborative learning dan collaborative teaching, namun saya lebih tertarik kepada video yang diputar, I am A Teacher.  

Acara hari itu berakhir di pukul 19.00 wita sesuai kesepakatan. Tak banyak buang waktu untuk mendapat penyegaran luar biasa di hari guru, bukan? Saya bersyukur sekali, EduTraC menjadi penawar rasa sakit saya karena kemarin (Jumat, 25/11), demi memperingati hari guru kami berdiri di tengah aspal menatang panas di siang bolong berjam-jam sampai benar-benar seperti berada dalam kolam keringat sebelum kemudian berjalan menyusuri jalanan sepanjang beberapa kilo untuk kemudian tiba di garis akhir yang ditentukan lalu pulang dan menyesal bahwa belum semua perlengkapan EBAS siap di posisi masing-masing hingga di hari Senin (27/11) inilah baru kami tergopoh-gopoh menyelesaikan.

Sedikit refleksi saya, terang saja, sebenarnya kegiatan serupa ini bukanlah sesuatu yang baru karena PD rutin di Lentera biasa dibawakan serupa ini dan orang-orangnya mereka juga yang memang diberkati untuk bekerja di bagian ini. Saya merasakan bagaimana semangat saya sebagai guru pun dipupuk dalam PD-PD yang ada di sekolah baik yang dibawakan pihak internal sekolah maupun Tim PDCE tiap awal semester. Terkadang saya berpikir untuk menuliskan dan membagikannya agar orang-orang lain pun bisa mendapatkan seperti yang saya dapatkan dari PD-PD di sekolah. Hanya terkadang ketika berpikir demikian, datang juga bisikan, tak perlu, tak perlu, biarkan saja, biarkan mereka dengan mereka, dan kalian dengan kalian. Maka, pikiran-pikiran yang terbersit untuk berbagi materi-materi di PD pun perlahan-lahan layu lalu mati. Sekarang dengan adanya Teacher’s Gathering yang mengikutsertakan para guru dari sekolah-sekolah lain ini, kesampaian juga niat berbagi semangat menjadi guru ini. Mari, ucapkan terima kasih kepada Teachers’ Gathering dari EduTraC yang telah memberi warna berbeda di Kupang dalam rangka memaknai hari guru di tahun 2017. Biarlah Tuhan tetap dan terus berkarya melalui adamu🙏🙏🙏😊😇.

IMG-20171125-WA0069.jpg

Bersama tiga dari lima pengurus EduTraC. Dua di antaranya pernah menjadi petinggi Lentera Harapan Kupang :D, sementara satunya masih bersama kami

Sementara di bawah ini hanya bonus foto. Anggap saja sebagai hiasan dinding blog ini. Aksesoris begitulah.  🙂

Buku yang saya pegang itu judulnya Kekekalan. Ditulis oleh Milan Kundera. Untuk membaca buku itu, kalau kau seorang yang kurang membaca kayak saya, setidaknya ada HP di tangan. Biar sedikit-sedikit bisa buka  google 😀 🙂

Inspirator Ilustrasi Isi Buku Kumcer Persinggahan Bocah Indigo

Pesan masuk dari sang pelatih basket Lentera Kupang di grup whatsapp 😘😇

Anak ini, namanya Adriel Geraldo Elim. Biasa dipanggil Aldo, di rumah maupun di sekolah. Bagaimana pun, ia punya kesan tersendiri bagi saya.

Ia adalah inspirator ilustrasi buku pertama saya, sebuah kumpulan cerpen berjudul Persinggahan Bocah Indigo. Melalui dialah saya terpikirkan agar semua ilustrasi isi buku kumpulan cerpen saya adalah karya anak-anak murid yang saya ajar di SMP Lentera. Memang gambar mereka sederhana dan tak sekeren para ilustrator profesional. Tapi saya bangga merekalah ilustrator isi buku pertama saya. Ceritanya sudah saya tuliskan di tempat lain di blog ini.

Selain inspirator tadi, ia juga adalah salah satu peraih nilai tertinggi UN Bindo SMP beberapa tahun lalu. Memang UN bukan penentu dan bukan pula yang dikejar-kejar, tapi keberhasilan itu bagi saya punya nilai tersendiri.

Bulan September lalu ia dinobatkan sebagai MVP dalam ajang Honda DBL NTT series 2017. Dengan itu kemarin ia berangkat ke Surabaya untuk mengikuti kegiatan apalah itu selanjutnya. Dan hari ini, tepatnya malam ini, barulah datang kabar, di antara 300 lebih peserta se-Indonesia ia salah satu yang lolos dalam 50 besar untuk DBL Camp.  Adalah sebuah kebanggaan juga keharuan yang melingkupi saya sekarang. Terpujilah Engkau yang merangkai cerita ini. Betapa bagaimana dulu pernah di bangku SMP ia pernah mengungkapkan ingin menjadi pemain basket sebagaimana Michael Jordan dan semacam mereka itulah, dan kini ia sedang pelan-pelan bergerak ke arah sana. Dengan menulis sedikit cuap-cuap ini, saya hanya bisa mendoakan, Tuhan kiranya tetap berkarya di dalam perjalanan hidupnya 😊😘😍🙏😇.

Kejutan Manis di Hari Guru Tahun 2017

IMG20171124101717Ceritanya ini adalah sebuah kejutan yang dipersiapkan siswa sebelumnya bersama hanya beberapa orang guru (dengar-dengar katanya mereka hanya bertiga). Kami yang lain tak tahu-menahu persiapan ini.

Siang itu saya sementara sibuk megepak soal-soal EBAS. Tiba-tiba masuk si gadis ayu yang namanya sesuai parasnya itu, Ayu, ke ruangan dengan membawa sebuah payung. Mengajak saya mengikutinya. Saya tak mau. Alasannya masih ada banyak kerjaan yang harus dibereska. Padanya saya perlihatkan beribu-jibun tumpukan kertas dan map. Ia tetap berdiri meminta sedikit mendesak saya mengikutinya. Saya tetap tak mau. Kami berdebat panjang dan cukup lama hingga akhirnya sayalah yang mesti mengalah.

IMG20171124100954

Ternyata di lapangan SMA, banyak sudah bapak-ibu guru dengan umbrella girl dan umbrella man masing-masing.

IMG20171124101144

IMG20171124101029

Tak berapa lama seusai pementasan kecil-kecilan dari beberapa siswa, setiap guru didatangi siswa-siswi. Di tangan mereka masing-masing tergenggam sebuah rahasia. Di hadapan guru-guru yang dituju itulah baru dibuka rahasia itu. Ada buah karya tangan mereka sebagai ucapan selamat hari guru kepada bapak/ibu gurunya. Ah, manis sekali.

IMG20171124101511

IMG20171124101755IMG20171124101730IMG20171124101654IMG20171124101549IMG20171124101242

Terima kasih kepada pencetus ide ini serta yang berjerih payah di baliknya. Kejutan manis sekali. Sungguh manis. Maafkan kita yang sempat kesal di awal-awal. 🙂

Senin (20/11) ini DatangJuga

Pepatah lama, “Tak ada rotan, akar pun jadi”, maka aplikasinya di kelas PKB kami kali ini adalah “Tak ada penggaris kecil, maka palang kayu pun jadi”. 👏👏👏👍👊😄😘😍😇

Akhirnya hari Senin (20/11) ini datang juga. Hampir seminggu ini saya harap-harap cemas, andai saja ini sudah di hari Senin kembali. Artinya saya sudah melewati hari Sabtu-Minggu yang sepertinya menegangkan. Dan memang menegangkan di awal-awal. Saya mempersiapkan diri baik sekali. Tapi karena sesuatu hal, notebook saya tiba-tiba lola ketika saya mau sampaikan materi, hingga sambungan hdmi-vga untuk terhubung ke ldc proyektor tak berfungsi, sampai harus meminjam laptop milik peserta lain, pembagian kelompok belajar yang tak sesuai rencana, buyar sudah semua persiapan yang awalnya saya sudah dengen pede dan yakin pasti berhasil.

Hari pertama berjalan baik tapi jauh dalam hati saya tahu ada yang kurang. Rasanya garing sekali. Hingga malam sepulangnya dari sana, saking kepikiran saya sampai nyaris tak bisa lagi bergerak meski hanya untuk mandi. Saya lupa kalau saya dan partner IN saya mesti ada persiapan buat besok. Ketika ia datang, saya bahkan belum sempat mandi saking teparnya. Kami berbagi cerita bagaimana kami di kelas masing-masing. Saya berefleksi banyak di situ. Sesudah berdiskusi apa-apa saja yang akan kami lakukan besok dan ketika ia pulang, barulah saya bergerak mandi. Sesudah itu jiwa raga mulai kembali segar. Saya mau buat sesuatu. Sayang malah tertidur😄.

Besoknya hari kedua, meski sempat putus asa kemarin karena bahan ppt yang sudah saya siapkan sebaik-baiknya versi saya tak maksimal ditayangkan karena masalah notebook saya, pagi itu saya bangun dan tetap buat juga bahan ppt. Meski ppt bukan satu-satunya cara tapi saya pikir untuk hal-hal semacam ini ppt itulah yang efektif. Meski sesudah itu masalah notebook saya tak terselesaikan, bahan ppt yang saya siapkan tetap ditayangkan atas pengertian dan bantuan dua orang peserta yang meminjamkan saya laptop mereka. Ibu Faizah Latsitarda dari SMPN 11 Kupang di hari pertama, dan Pak Ahmad dari SMPN 8 Kupang di hari kedua🙏🙏😘😇.

Hari kedua tak setegang hari pertama. Karena bila kemarin skenario yang saya siapkan tak sesuai ketika di lapangan dan saya tidak terlalu siap menerima, maka di hari kedua saya sudah lebih siap dengan kemungkinan situasi yang akan terjadi. Karena sudah cukup mengenal dekat beberapa di antara bapak/ibu guru, saya merasa sudah jauh lebih baik ketika berinteraksi dengan mereka. Karena kemarin belum mengenal medan dengan baik di mana saya berpikir karena sudah memberi pesan saya butuh beberapa alat dan bahan, meski tak dibalas saya pikir disiapkan namun ternyata tidak, saya akhirnya berpikir dan berserah, ya sudah, dikerjakan saja dengan apa yang ada. Hari kedua itu sudah berbeda karena apa yang saya butuh itu sudah disediakan, kekurangan-kekurangan hari kemarin pun sudah diperbaiki misalnya bila di hari pertama peserta masih berada di level membaca literal lalu berbagi kepada kelompok lain maka di hari kedua ini mereka sudah bergerak masuk ke membaca kritis bahkan membaca kreatif. Saya senang melihat perkembangan ini. Saya juga sempat berbagi tentang model UTS di Lentera yang sudah berjalan dua tahunan ini, juga tentang sesi BaKar setiap memulai pembelajaran Bahasa Indonesia, hingga ketika memasuki materi Profesional KK F tentang Apresiasi Puisi dan Prosa, saya berbagi sedikit cerita tentang sebuah cerpen yang terinspirasi dari seorang mantan anak murid di Lentera tahun pertama, bagaimana asal muasalnya sampai mewujud kepada cerpen berikut tentang Serangan Asma yang akhirnya dibacakan di Panggung Under the Poetic Star di MIWF 2017. Dari cerita itu dapat dihubungkan dengan bagaimana peran guru juga orang tua terhadap psikologis anak. Ah, akhirnya kelas PKB kami yang kemarin di hari pertama rasanya mati, justru di hari kedua jadi lebih hidup dan bermakna.

Kelompok Legenda membagikan materi tentang Struktur Batin Puisi 👏💪😇

Sebenarnya di persiapan saya untuk hari kedua itu, saya justru menyiapkan video berbeda punya orang lain. Namun entah bagaimana, di kelas PKB hari kedua itu, cerita saya tentang inspirasi menulis cerita Serangan Asma itu keluar begitu saja. Mengalir tanpa saya sendiri merencanakannya demikian. Lancar sampai usai. Peserta di kelas saya tahu mereka terkesan terlihat dari air muka mereka di akhir saya menutup cerita. Tapi maksud saya bercerita itu bukan untuk membuat mereka terkesan. Saya pun tak tahu bagaimana bermula dan berakhir, tahu-tahu saja saya sudah selesai dan kami semua sama-sama menarik napas.
Saya tak menulis di sini tentang testimoni kecil-kecilan yang diberikan. Tapi intinya adalah sesuatu yang baik. Menyemangati. Terkadang apa yang dianggap sesuatu yang sudah biasa-biasa saja di Lentera, di luar sana memang luar biasa. Alangkah baik bila sesuatu yang positif dan baik ini ditebarkan. Niscaya semangat belajar anak-anak tak perlu diragukan lagi.

Baiklah, mungkin sampai di sini saja dulu cuap-cuap tak penting saya. Sekarang, bapak/ibu peserta PKB di kelas kami sementara menjalani masa ON mereka selama 20 jam. Meski tak bersama-sama, saya hanya turut meniupkan doa untuk mereka. Semoga waktu pelaksanaan ON ini dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menelaah tugas-tugas mereka yang selanjutnya akan berdampak pada penerapan pembelajaran di kelas masing-masing🙏🙏🙏.

Saya di sini pun masih sementara membaca umpan balik sesi IN 1. Meski hampir semua memberi tanda no. 1 untuk smiley face, namun saat membaca bagian uraian, saya jadi berkaca dan mendapati masih banyak kekurangan saya. Ada beberapa hal yang baru saya ingat bahwa seharusnya itulah yang saya konsepkan, siapkan, lalu terapkan. Tapi karena sudah berlalu, maka saya refleksikan saja. Diusahakan agar bisa diperbaiki di sesi IN 2 nanti. Kiranya pertolongan Tuhan tak hanya berhenti sampai di sini. Terima kasih kepada yang melalui mereka saya melihat pertolongan Tuhan. Ibu Elise, Ibu Ria, Pak Alfons, Ibu Faizah, Pak Ahmad, dan beberapa yang lain tak mungkin saya sebutkan satu per satu. Biarlah segala yang baik dan agung dikembalikan hanya kepada Dia. Kepada Dia semata.

Lakon Akhir Pekan

Hidup ini lakon. Kau tak bisa menolak. Maka, kau harus melakoninya sebaik-baiknya yang kau bisa.

Monolog “Cahaya” di Panggung Perempuan Biasa 2

Kau memang bebas. Tapi bukan berarti kau bisa mengendalikan ruang dan waktu. Sementara ragamu ada di sini, maumu pada saat yang sama ia ada juga di tempat lain. Demikian yang bercokol di kepala saya sekarang. Andai saja pada saat ini saya ada di sini sekaligus di sana😄😊.

Seandainya saya boleh bebas memilih lakon apa yang mesti saya mainkan, maka sesuai rencana awal saya jauh-jauh hari sebelumnya, akhir pekan ini saya inginnya ikut acara Refo500 di Jakarta bersama dengan beberapa kawan saya di PRK. Refo500 merupakan rangkaian kegiatan peringatan 500 tahun reformasi protestan yang diadakan oleh STEMI. Kegiatan tersebut berlangsung dari Selasa (14/11) – Senin (20/11) hanya memang disediakan paket week end dan saya maunya ambil paket itu. Jadi bisa pergi dari Jumat sore dan pulang Senin pagi.

Tapi karena ada beberapa hal, rencana itu tak jadi. Saya dihinggapi rasa bimbang antara ikut atau tidak. Hingga kemudian, penentuannya jadi terang. Tidak ikut. Agak sedih sebenarnya😟😥. Mengingat itu momen berharga yang hanya terjadi satu kali saja dalam hidup. Momen bertemu dengan peringatan 500 tahun reformasi digaungkan. Momen bertemu dengan pembicara-pembicara luar biasa. Momen yang jelas semakin membuat saya untuk teguh berdiri. Momen yang ini dan yang itu pokoknya.

Saya harus menerima. Sambil berpikir apa kira-kira maksudnya ini? Kenapa? Baiklah, kita lihat. Apa yang akan terjadi, terjadilah! Siap saja dengan tangan terbuka dan berlapang dada.

Hingga beberapa hari kemudian saya dihubungi. Tiga orang berbeda.

Orang pertama katanya, “Ada kegiatan di hari Jumat, kau kita minta jadi MC.” Kenapa saya? Karena ini dan biar itu, begitulah kira-kira jawabannya yang tak perlu saya beberkan di sini. Maka sudah, terjadilah sesuai yang dipinta. Jumat (17/11/17), Panggung Perempuan Biasa 2 sudah berjalan baik. Terima kasih kepada panitia yang lagi-lagi masih mau memberi kesempatan saya belajar.

Bersama kru Perempuan Biasa, Jumat (17/11/17)

Dunia selebar daun marungga😉😊 Bersama Nona Rivani Bistolen, Putri Pariwisata 2016.

Berikut,  orang kedua dan ketiga dengan satu maksud katanya, “Kita ada kegiatan PKB. Sebagai IN yang sudah mengikuti pelatihan dan penyegaran, kau salah satu yang mesti memfasilitasi kelas belajar kita hari Sabtu-Minggu ini.” 😱 Kalau di orang pertama, tanggapan saya biasa saja, maka di orang kedua dan ketiga ini saya lemas seketika. Nyaris tak bisa menanggapi balik. Terdiam cukup lama sebelum memberi sahutan, oh, jadi…? Apakah ini betul akan terjadi? Seakan ingin bertanya kepada sang pembuat lakon, “God, are you kidding me?” Agak lebai memang sih🙈. Tapi begitulah reaksi pertama saya😋🙈🙉. Sebab di pikiran saya selama ini kegiatan lanjutan dari seusai pelatihan IN itu tak akan ada. Nyatanya ada. Dan jadilah seperti yang dipinta. Hari ini, hari pertama atau 10 jam pertama IN 1 baru saja berlalu. Meski sederhana dan teknis sekali, saya kira ini adalah pengalaman berharga bagi saya sebagai salah satu pelakon hidup.

Berkati hati mereka 🙏😇

Berkati hati mereka 🙏😇

Demikian sedikit kisah tentang lakon akhir pekan saya. Di sini saya hanya ingin memahatkannya. Senang bisa bertemu, berinteraksi, dan belajar dari orang lain. Mereka tetap orang-orang istimewa. Tak kalah istimewa dari mereka yang ingin sekali saya temui dan dengarkan di Refo500.

Berkati hati mereka 🙏😇