Refleksi

Berharganya Sebuah Pertemuan Langsung

Apakah masa-masa belajar di sekolah akan kembali berjalan seperti biasa seperti dulu ataukah akan seperti ini seterusnya entah hingga kapan?

Memasuki semester genap tahun pelajaran 2020/20021, kami melanjutkan apa yang disebut sebagai WFH. Hal ini mengingat lonjakan kasus covid-19 yang semakin naik. Di bulan Februari saja, saat hampir setiap hari mendung dan hujan menjadi teman kami, di saat itu pula kami bertubi-tubi menerima kabar duka. Entah dari sanak terdekat yang berpulang, orang tua dari sahabat-sahabat terdekat kami, orang tua dari anak murid yang kami kenal dekat, berpulang tanpa kami sendiri sempat mendatangi mereka untuk duduk bersama mereka mengantar kepergian orang-orang terkasih mereka. Masing-masing kami menangis sendirian di kamar. Hanya ucapan belangsungkawa yang dilayangkan lewat chat-chat pribadi ataupun di grup. Betapa sakit kerongkongan ini karena tak bisa mendatangi para sahabat, sanak saudara, dan mereka yang kehilangan, setidaknya untuk sekadar duduk bersama dengan mereka, mendengarkan cerita mereka, atau merangkul mereka.

Hingga bulan April ini, dari sanak keluarga, kami kehilangan om kami, Om Thomas. Ia adalah sepupu mama, yang dengannya mama tinggal sebelum dipinang bapak. Sekalipun sudah berpulang, kami masih bersyukur bahwa ia berpulang di bulan April dan juga bukan karena disebabkan covid sehingga kami sanak keluarga yang lain boleh datang melayat.

Bagi saya, mungkin ini kali pertama saya bertemu dengan banyak sekali orang selama masa pandemi ini. Orang datang dari mana-mana, walau memang setiap kami menggunakan masker. Namun, suasana begitu hidup. Begitu berbeda kalau kita hanya mengikuti via layar HP atau laptop/komputer. Pertemuan demikian menorehkan rasa persaudaraan yang dalam. Bukankah demikian juga dengan sekolah? Mengajar dan mendidik dari layar ke layar, apa kira-kira yang ditangkap dan dipahami anak-anak yang di rumah mereka tentu juga ada begitu banyak distraksi yang tak berkesudahan? Apa yang ditransformasi? Apa yang bisa membuat mereka dalam pembelajaran mereka menemukan semacam ada satu ‘klik’ yang mengubah hidup mereka dan membuatnya bertahan walau diterpa banyak ujian dan cobaan bertubi-tubi?

Mau sekeras apapun seorang guru berusaha, tentu ada yang hilang atau kurang kalau itu hanya dari balik layar. Inilah kenapa kita tak bisa memungkiri betapa berharganya sebuah pertemuan tatap muka atau pertemuan langsung.

Berkaca dari hal ini, ada satu hal penting yang mau saya sertakan. Hampir setiap manusia yang berkeriapan di permukaan bumi ini, menyadari adanya peran yang dijalankan Ia Yang Berkuasa dalam hidup mereka, terlepas dari mereka mengakuinya atau tidak. Setiap mereka mengklaim, yang ia percayai adalah yang paling benar, yang paling sejati, yang paling berkuasa. Mau dari kepercayaan suku, ataupun dari mereka yang kepercayaannya diakui dan disahkan negara, apapun itu. Dari semua itu, kalau mau dikelompokkan, maka mereka semua sama. Ia yang berkuasa serupa energi atau kekuatan. Tak berpribadi. Ia terlalu jauh di sana, atau katanya juga ada dalam diri manusia tapi tetap begitu abstrak. Namun, ada satu yang berbeda. Adalah Allah di dalam tiga pribadi. Ketika allah-allah lain atau yang disembah-sembah dan diakui tuhan itu duduk manis dan bertakhata dalam ‘singgasana’ mereka, Allah Bapa mengutus Allah Anak mengambil rupa (berinkarnasi) di dalam daging atau tubuh manusia, datang dengan natur Allah sekaligus natur manusia. Datang mengunjungi manusia yang antaranya terbentang jurang yang tak terseberangi. Bertatap muka secara langsung, hidup dan melewati hari-hari bersama antara Sang Pencipta dan ciptaan. Bukankah ini sebuah keajaiban yang tiada taranya? Terus terang saja, semua keajaiban boleh saya saksikan, tapi tak ada yang lebih menakjubkan dari Inkarnasi Kristus ini. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜‡

Cuplikan Cerita UPH

Inspirasi untuk Terus ‘Menyelesaikan Apa yang Sudah Dimulai”

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah soccer-field-uph.jpg
Soccer Field UPH

Pagi itu saya bangun dengan sangat bersemangat. Saya akan ikut terlibat sebagai peserta dalam sebuah kegiatan yang disebut Festival 5K Fun Run (kini lebih dikenal dengan Founders’ 5K Fun Run) yang diadakan oleh kampus (UPH). Sebagaimana namanya 5K Fun Run, maka kegiatan yang dilakukan peserta adalah berlari sejauh 5 kilometer di area Lippo Village, Karawaci. Kegiatannya dimulai kira-kira pukul 7 atau pukul 8 pagi. Saat itu suasananya mendung. Bisa diperkirakan kira-kira bulan Februari (tahun berapa tepatnya saya lupa, tapi kalau tidak salah kira-kira antara tahun 2009-2010).

Sesuai dengan pengumuman yang diberikan sebelumnya, peserta terbuka bagi warga kampus bahkan umum, warga luar kampus yang mau berpartisipasi. Hingga di H-1, diinformasikan bahwa peserta yang akan mengikuti kegiatan tersebut lebih dari 2000 orang. Akan ada penghargaan bagi 50 peserta pertama yang berhasil menyelesaikan jarak tempuh 5 km tersebut. Hadiahnya berupa voucher belanja di Matahari Department Store. Rincinya yakni juara 1 mendapat voucher belanja sebesar 5 juta rupiah, juara 2 mendapat 3 juta, dan juara 3 mendapat 1 juta rupiah. Sisanya juara 4 dan seterusnya yang berhasil masuk 50 besar juga sama-sama mendapat voucher belanja, hanya jumlahnya kira-kira beberapa ratus ribu. Begitu sekilas informasi yang saya dengar.

Saya mengimpikan kalau bisa masuk 3 besar, tapi kalau pun tidak, minimal dapat 50 besar. Saya ingin punya barang yang dibeli dari Matahari Department Store. Maklum, uang saku saya per bulan bahkan untuk belanja satu barang paling kecil dan paling murah di sana pun tak sampai. Selain itu, satu hal yang mendorong saya untuk bisa masuk di antara barisan 50 besar walau pesertanya lebih dari 2000 orang itu adalah saya sudah terbiasa berjalan kaki menempun 4-5 km pergi pulang sekolah sewaktu SMP. Melihat para peserta yang rata-rata orang kota berkaki lembut dan berkulit neon itu, saya merasa saya bisa masuk minimal 50 besar.

Demikian pagi itu ketika bunyi peluit dibunyikan semua peserta yang sementara berkumpul di soccer field berhamburan keluar melewati garis start. Saya dan kawan-kawan sekelas saya ada di antara sekian banyak orang itu. Kami mengikuti jalur atau trayek yang sedianya dibuat untuk Sirkuit Internasional Lippo Village waktu itu. Di jalur itu sudah diberikan penanda 1 km, 2 km, 3 km, 4 km, dan 5 km di bagian finish yaitu kembali ke garis start yang ada di soccer field.

Pada kilo pertama, semangat ini masih membara. Di sekitaran saya, masih banyak peserta yang berlari. Jumlahnya masih sebanyak ketika kami berhamburan keluar dari garis start. Saya sendiri masih berada di rombongan depan. Banyak orang yang di belakang saya. Memasuki kilo ke-2, jumlah peserta mulai berkurang. Kecepatan berlari orang-orang pun tidak secepat di kilo pertama. Napas saya mulai terengah-engah. Saya tahu ini baru kilo kedua. Jalan masih panjang, bahkan belum setengah pun yang ditempuh.

Di kiri-kanan jalur, beberapa peserta mulai berhenti dan bergerombol. Ada pula yang hanya berjalan santai sambil mengobrol. Saya tergoda untuk ikut berjalan santai saja seperti mereka. Di kilo ke-3 saya saya mendapati beberapa teman sekelas saya pun sedang menepi di tepi jalur, tepat di bawah sebuah pohon dan mengobrol di sana. Saya sempat mereka ajak untuk berhenti sebentar. Dengan tertawa kecil, ajakan mereka saya tampik.

“Anice, janganlah terlalu maksa. Namanya juga Fun Run,” terdengar suara salah seorang kawan.

Menanggapinya, saya hanya melambaikan tangan dan berlalu.

Saya sudah memutuskan harus menyelesaikan tantangan ini. Sebenarnya memang tidak wajib peserta harus menyelesaikan jarak berlari sejauh 5 kilometer ini (seperti kata teman saya sebelumnya, namanya juga Fun Run), hanya saya saja yang memutuskan sendiri dan bertekad harus menyelesaikannya. Ini semacam tantangan kepada diri saya bahwa saya harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Waktu itu, mungkin karena baru pertama kali fun run 5k ini diadakan jadi belum ada motto khusus yang belum dipopulerkan sebagaimana sekarang, Finish what you start!

Saya melakukan, apalah sebutan yang tepat untuk itu, tapi seperti sebuah permainan masa kecil, ‘Kalau saya tidak mampu menyelesaikan 5K Fun Run ini, maka itu sama saja saya tak akan menyelesaikan masa kuliah 4 tahun saya di UPH,” demikianlah saya mencoba menantang diri saya sendiri.

Pada kilo ke-4, saya mengakui, saya sungguh tidak kuat lagi. Saya berhenti sejenak. Seorang diri di tengah trayek. Beberapa peserta berlari mendahului saya. Saya biarkan mereka. Saya hanya ingin menarik napas sejenak, pikir saya. Namun, mata saya mulai terasa panas. Saya sudah terlanjur berjanji kepada diri sendiri untuk menyelesaikannya. Saya akan merasa berdosa kalau saya berhenti di tengah jalan dan menyerah. Saya yang sudah terbiasa menempuh dakian sejauh 4-5 km setiap pagi dan menuruni alur yang sama setiap siang, menghadapi jalan rata seperti ini saja harus menyerah? Betapa lucu dan akan sangat menyedihkan.

Apt Menara Matahari Karawaci

Saya kemudian teringat kepada sebuah film yang pernah kami tonton bersama dengan kawan-kawan sekamar di unit 3805 (lantai 38, kamar nomor 05) Apartemen Menara Matahari di tahun pertama kuliah, Facing The Giant. Ketika tokoh Brock ditantang pelatihnya melakukan rangkak maut sambil membopong seorang pemain lain di pundaknya. Brock yang awalnya ragu dengan kemampuannya, lalu sekadar melakukan instruksi pelatihnya, ditantang secara mengejutkan untuk terus melakukan rangkak maut itu tanpa ia sadari sudah seberapa jauh ia merangkak, terengah-engah karena betapa sulit dan betapa berat tantangan itu. Ia merasakan sakit yang luar biasa di tangannya. ”Tanganku terbakar,” teriaknya di antara napasnya yang panjang pendek.

Namun dengan dorongan yang berkobar dari sang pelatih, ia terus merangkak walau dengan beban berat di pundaknya.

Cuplikan film ‘Facing The Giant”

“30 langkah lagi, terus jalan. Kau janjikan aku usaha terbaikmu. 20 langkah lagi. Terus jalan. Beri aku usaha terbaikmu. Jangan menyerah. 10 langkah lagi. Terus jalan. Jangan menyerah. Beri aku usaha terbaikmu. Kau bisa. 5 Langkah lagi. Jangan menyerah. 2 kali lagi,” demikian api semangat yang dikobarkan sang pelatih sembari terus mengikuti Brock sepanjang trayek itu, dan akhirnya, “1 langkah lagi.”

Brock pun ambruk di tanah. Sang kawan yang menempel di pundak Brock melompat turun. Brock telah mencapai ujung lapangan. Dengan sang kawan yang disangka sang pelatih memiliki berat 63 kg yang nyatanya adalah 73 kg, Brock telah berusaha mengerahkan kemampuan terbaiknya yang tak pernah disangka sebelumnya.

Mengingat cuplikan itu, memandang matahari yang sementara beranjak, mengelap air mata yang mulai menitik di bawah mata, saya mulai melangkahkan kaki, pelan-pelan, saya harus terus melangkah walau merangkak. Saya harus sampai di garis finish, entah nanti masuk 50 besar atau tidak.

Demikian cerita ini berakhir dengan torehan prestasi berhasil masuk dalam 50 besar yakni urutan 38. Kabarnya, peraih juara 1-3 adalah para atlet, yang mana aktivitas semacam ini adalah makanan sehari-hari mereka. Jelas saja, saya sangat berbesar hati mendengarnya. Voucher belanja di Matahari Dept. Store sebesar 300 ribu rupiah saya pakai buat beli sandal bertali merk Yongki Komaladi yang konon waktu itu adalah merk terkenal yang biasa dipakai para artis. ๐Ÿ˜€

Catatan Buku

Mengenal dan Menghormati Gus Dur dari Buku *Sejuta Doa untuk Gus Dur*

Dengan tangannya masih terganggam sebongkah roti yang diambilnya dari dapur, Gus Dur kecil naik ke atas pohon. Sayup-sayup ia mendengar suara anak berlatih main bola di halaman sebelah. Gus Dur kecil ingin membuka matanya, tapi angin sepoi-sepoi membuainya hingga tidur terlalu pulas. Ia baru membuka matanya beberapa jam kemudian di rumah sakit, setelah tubuhnya mendarat di tanah tanpa ia sadari.

Setelah baca bagian ini di tengah-tengah malam, Ice yang waktu itu sudah tidur pulas, saya panggil setengah paksa memang agar dia bangun biar mendengar saya ceritakan kembali adegan ini ke dia. Besoknya, setiap kali saya ke sekolah, Ice akan mulai ambil buku ini dan baca. Kemarin waktu saya tengok, notes penanda halaman Ice sudah lewat. Saya dengan sigap harus ‘marathon’. Akhirnya hari ini bisa selesai baca buku ini. ๐ŸŽŠ

Luar biasa. Buku setebal 412 ini digarap hanya dalam waktu dua minggu. Salut untuk penulis dan tim GPU.

Cuplikan Cerita Lentera

Merayakan Online Commissioning Lentera Harapan Kupang (Senior)

WhatsApp Image 2020-06-04 at 11.53.46Tahun 2020 kelak akan sangat berkesan bagi seantero manusia di muka bumi ini termasuk bagi warga Lentera Harapan Kupang. Di sela-sela kegiatan WFH dan HBL, ada satu kegiatan utama yang diselipkan di antaranya yakni commissioning, pengutusan khusus untuk para lulusan kelas 9 dan kelas 12. Seperti biasa acara commissioning ini akan dirayakan secara khidmat dan meriah dan bermakna di awal-awal bulan Mei. Pada saat-saat seperti itu, setiap siswa kelas 9 dan kelas 12 beserta para guru terutama panitia akan mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadapi hari istimewa tersebut. Momen itu pun kelak akan diingat sepanjang masa oleh semua yang hadir terutama para lulusan tentunya. Momen yang akan dikenang-kenang sebagai momen paling mewah dari Sekolah Lentera Harapan Kupang yang pada hari-hari biasanya lebih mengutamakan kesederhanaan dibanding sesuatu yang bernuansa kemeriahan.

Melihat momen-momen commissioning kakak-kakak kelas, tentu sebagai lulusan, anak-anak tahun ini pun ingin juga mengalami momen commissioning semacam itu. Sayangnya, tahun ini memilih masanya sendiri untuk menjadi berbeda. Tidak dapat dipungkiri, setiap agenda manusia di bawah kolong langit ini harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Demikian halnya dengan commissioning Lentera Harapan Kupang.

Commissioning ini diadakan secara online. Para panitia yang sudah sangat baik merancang acara ini jauh-jauh hari sekarang harus bekerja keras mengubah bagaimana cara commissioning tetap berjalan tanpa mengurangi makna commissioning itu sendiri. Alhasil, jadilah video commissioning yang akan ditonton anak-anak di rumah beserta orang tua di rumah mereka di hari yang ditentukan.

Hari Sabtu, 09 Mei 2020 adalah hari yang ditentukan itu. Pagi-pagi saya bangun ternyata password untuk menuju video itu belum diberikan. Bahkan kami para guru wali kelas pun ikut penasaran seperti apa video commissioning online itu. Baru tepatย  pukul 07.00 wita, password dikiriman kepada para guru untuk diteruskan kepada para murid. Lalu mulailah kami menikmati acara demi acara yang dipandu oleh video ini. Astaga… Saya benar-benar mengapresiasi kerja keras para panitia. Mereka sungguh sangat baik mengerjakan tugas mereka. Seribu jempol buat mereka. Terima kasih kepada Tuhan yang menghadirkan atmosfer Lentera yang teduh di kota karang yang garang dan panas ini.

Catatan Buku

Terima Kasih kepada John Piper untuk “Coronavirus and Christ”

Sampul buku versi (pdf)

Kamis pagi, 16 April 2020, saya bangun tidur dengan merasa tidak enak badan. Setelah beberapa kali batuk, saya akhirnya muntah.

Hari itu, saya demam. Sepanjang hari saya tidak fokus menjalankan pekerjaan yang digadang-gadangkan sebagai work from home. Saya tidak minta izin untuk istirahat. Toh, di pikiran saya, ini pekerjaan tidak ada hubungan dengan bertemu secara fisik, tugas hari itu adalah lebih ke membuat RPP dan memantau home learning-nya siswa. Jadi, meski tersendat-sendat saya ikuti saja jadwal yang ada.

Meski dalam keadaan demam, jauh dalam hati kecil saya, ada semacam kegembiraan tersendiri sebab pagi-pagi sekali waktu bangun, ada teman yang mengirimkan kepada saya salinan buku baru dalam bentuk pdf. Dari judulnya, saya langsung menetapkan diri pagi itu untuk harus membacanya hari itu juga.

Syukurlah, setelah makan malam, setelah beres-beres pemantauan proses belajar siswa (meski tidak bisa dilanjutkan semua karena memang saya yang harus belajar untuk tidak mem-force diri juga, bila tidak, satu akibatnya, ya, bisa sakit-sakit begini karena kurang istirahat), saya membuka kiriman dokumen (pdf) buku John Piper ini. Saat mau membaca, satu pesan lagi masuk. Dari orang yang sama mengirimkan link audiobook versi terjemahan bahasa Indonesia. Karena saya sementara membaca versi aslinya dalam bahasa Inggris, saya terpikirkan untuk mencoba mencari di internet audiobook versi bahasa Inggris juga, biar sekalian membaca sekalian dibacakan. Jauh lebih konsentrasi. Syukurlah, dapat. Tentu dari channel penerbitnya langsung, Desiring God. Kerennya lagi, yang membacakan adalah penulisnya sendiri, John Piper. Merasa istimewa sekali jadinya saya.

Isi bukunya segar dan cukup membuat saya meski dalam keadaan demam tetap terjaga membacanya sambil mendengarkan rekaman audio-nya hingga selesai sebelum pukul 10.00 malam. Buku itu benar-benar mengisi jiwa saya ketika berita-berita atau tulisan-tulisan yang biasa saya baca hampir setiap hari terasa kering dan hampa. Berita-berita dan artikel-artikel tersebut hanya sekadar mengisi rasa penasaran saya yang hanya memberi penghiburan semu.

Malam itu, saya tidur dengan hati yang penuh. Sangat dikuatkan dan dihibur dengan isi buku yang ditulis sekaligus dibacakan oleh John Piper. Besoknya hari Jumat, meski batuk-batuk sesekali masih menyerang, demam saya tidak separah hari kemarinnya. Demikian saya percaya, hati yang gembira adalah obat yang manjur… (Ams. 17:22).

Terima kasih, Bapak John Piper.

Cuplikan Cerita Lentera

16 Maret 2020, Datang Sebuah Kejutan (Sekadar Menengok Kembali)

Hari itu, Senin, 16 Maret 2020. Sore, ketika sesi closing bersama wali kelas dialihkan semua ke lapangan

Di hari Senin pagi, tanggal 16 Maret 2020, KBM di sekolah berjalan normal. Saya masih masuk mengajar pagi di kelas 8.1, mereview sekilas tentang sebuah film yang sudah kami tonton bersama pertemuan sebelumnya, The Litlle Big Master, sebelum mereka harus membuat teks ulasannya sebagai tugas sumatif mereka. Siangnya kembali melanjutkan di kelas 9.1 untuk persiapan USBN dan UN.

Saya memang tidak ingat apakah di kelas waktu saya memegang ponsel atau tidak. Intinya, waktu istirahat kedua, pukul 13.10 kira-kira, barulah saya menengok ponsel saya. Ada informasi baru dan penting yang masuk pukul 12.42. Urgent, baca dengan saksama sampai selesai. Begitu judul pengumuman itu. Diberi bold pula. Tersentak. Begitu mendadak. Tapi mau bilang apa. Namun sesuai instruksi, anak-anak jangan dulu dikasih tahu. Nanti akan ada sesi closing baru mereka dikasih tahu, biar mereka tidak heboh. Masih ada dua sesi untuk jam pembelajaran.Biarkan mereka tetap tenang.

Bel tanda istirahat kedua usai, saya tetap masuk melanjutkan pembelajaran. Meski melanjutkan sesi seperti biasa, jauh dalam hati saya, merasa trenyuh. Kira-kira kapan keadaan ini berakhir. Benarkah hanya 14 hari seperti yang diinfokan sementara wabah (waktu itu belum ditetapkan WHO sebagai pandemik) ini akan cepat selesai dan situasi sudah akan membaik di tanggal 30 Maret?

Pembelajaran usai dan tiba sesi closing bersama anak-anak WK. Datang pengumuman baru. Kepsek minta waktu untuk sesi closing digabungkan saja semua kelas di lapangan basket. Rata-rata para WK setuju. Memang, biar sumber pengarahan tunggal. Demikian, pada sesi closing, anak-anak diminta berbaris menuju lapangan. Namun sebelumnya, telah lebih dulu dibagikan surat pemberitahuan. Sambil berjalan dalam barisan menuju lapangan, mereka membaca sekilas surat tersebut dengan sorot mata bertanya-tanya.

“Ada yang mungkin bertanya-tanya, kenapa kita dikumpulkan tiba-tiba di sini?” kata kepsek setelah memberi salam kepada semua siswa yang sudah berbaris rapi sesuai kelas masing-masing.

“Melihat situasi negara kita saat ini yang mungkin juga telah kalian ketahui, maka besok (Selasa), kalian tidak perlu datang ke sekolah. Tapi nanti mulai hari Rabu, kalian akan belajarnya dari rumah. Model belajarnya bagaimana, itulah nanti yg akan dipersiapkan bapak/ibu gurumu besok di sekolah. Kalian tunggu kabar saja di grup whatsapp kelas masing-masing.”

Demikian isi pengumuman sore itu, Senin, 16 April 2020.

Hari ini, sudah sebulan berjalan sejak hari itu. Pembelajaran jarak jauh dilaksanakan. Guru mempersiapkan materi dan memantau dari rumah, disebut work from home. Siswa belajar dan mengerjakan tugas-tugas dari rumah, disebut sebagai home based learning.

Banyak suka duka di sana. Kalau mau diuraikan satu per satu, tentu bisa menjadi sebuah buku atau bahkan lebih. Saya sendiri menyesal, kenapa tak dari awal-awal mengisi blog ini dengan cerita suka-duka itu. Tentu kalau dikumpulkan sudah bisa menjadi satu buku malahan.

Antara senang bisa libur dan terkejut karena mendadak

Di foto ketiga ini adalah wajah-wajah mereka saat itu. Lihat baik-baik. Adakah gurat sedih atau senang di sana?

Kalau mau dikomentari dalam dialeg Kupang akan seperti, “Itu awal-awal dong senang tu.” Kenapa? Karena kata mereka, “Iya, lumayan sonde harus bangun pagi,” atau “Baek su ee, bisa belajar dari rumah sa,” atau “Asyek, buat libur sa su,” dsb.. dsb…


Sekarang barulah, “Aih, be sonde ada uang lai ni, snde dapat uang jajan.” “Aih, be belajar sendiri be sonde konsen. Be mangantok.” dsb.. dsb.. dsb… ๏ธ๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ˜‡

ย 

God's Story

Penghibur Sialan

Apa itu Penghibur Sialan?

# Penghibur sialan selalu memposisikan dirinya sebagai yang paling benar (playing God) sementara yang dinasihati adalah yang paling lemah dan tak tahu apa-apa. #Cara penghibur sialan ketika menghibur orang: menghibur mereka yang menderita untuk bagaimana mereka mendapatkan kembali, bukannya mendekatkan mereka kepada Yang Hidup. #Semua penghibur sialan orientasinya kepada solusi, bukannya kepada Tuhan. #Penghibur sialan selalu berpikir kaya, makmur, dan sehat adalah tanda diberkati Tuhan padahal setan pun bisa memberikan itu kepada seseorang. #Penghibur sialan mengartikan nasihat itu harus close ending comforter. #Penghibur sialan memberi nasihat yang ujung-ujungnya membuat yang dinasihati menjadi lumpuh dan terus bergantung kepada dia yang menganggap diri penasihat ajaib tersebut. #Penghibur sialan selalu memberi suara surga di telinga sang pendengar. #*tertampar-tampar* @KU 1 PRII.

Kata-kata di atas saya sarikan dari catatan saya atas khotbah Pak Sutjipto Subeno di kebaktian 1 PRII Kupang. Khotbah tersebut didasarkan dari buku Ayub pasal 6 ayat 1-6.

ย 

 

Merayakan Keseharian

Mom, After 25 Years

Mama, berbaju hijau dengan tangan kanannya di dada ๐Ÿ™‚

Gambar ini diambil pada malam Kebaktian Natal Rayon Kanaan Jemaat Siloam Retraen, Senin (30/12/19).

Malam itu saya benar-benar terpukau.๐Ÿ˜ฑ Sungguh terpukau. Ini kali pertama dalam hidup saya mendengar kolaborasi mama bernyanyi dengan orang lain dan terdengar suaranya yang khas menonjol di antara suara-suara lainnya. Di sini saya baru mengakui, benar memang kata orang-orang, suara mama memang merdu aduhai.๐Ÿ˜ญ Saya sampai membuka mata lebar-lebar, memasang telinga baik-baik, dan tidak sadar mulut saya juga ikut menganga.

Kau tentu bertanya, memangnya selama ini saya di mana sampaiย  tak pernah mendengar suara mama kalau bernyanyi?

Ok, saya mengerti bila kau bertanya demikian. Mari, saya jelaskan.

Masalah kalau mama bernyanyi itu jelas, hampir setiap hari saya dengar kalau di rumah. Bahkan tidak jarang saya ikut pula menyanyi-menyanyi bersama mama. Semasa masih SD, kami biasanya menyanyi bersama di ruang tengah. Mama, bapak, saya, serta Andi, adik nomor 2. Kami menyanyi-menyanyi saja tanpa iringan musik. Lagu-lagunya biasa dari kidung jemaat ataupun buku catatan lagu punya mama semasa muda. Di masa itu, bila ada waktu-waktu bernyanyi seperti itu, maka itu adalah waktu-waktu bahagia yang pernah saya ingat bila berkumpul bersama mama.

Sebelumnya, saya lupa kapan pastinya, tapi yang jelas, ketika saya mulai masuk usia 5 tahun, mama saya sakit. Sampai hari ini, saya tidak menyimpan memori apapun sama sekali tentang masa-masa dan keadaan mama sebelum sakit. Intinya ketika saya mulai mengingat, saya hanya tahu bahwa mama tidak seperti mama teman-teman saya yang lain atau saudara-saudara sepupu saya atau anak-anak tetangga yang lain.

Bapak juga sering mengulang-ulang cerita tentang dia dan dua saudaranya yang lain (Titi Yorim dan Oma Bella yang kala itu masih berusia 5 tahun) yang sudah menjadi yatim-piatu sejak usia di bawah 10 tahun. Katanya, kalau ada acara-acara pesta keluarga, anak-anak yang punya orang tua akan mendapat pelayanan makanan lebih dahulu atau dengan porsi lebih karena mereka dipanggil dan diberikan langsung oleh orang tua mereka. Sementara an kome, sebutan untuk anak-anak yatim/piatu atau anak yang tak punya orang tua, akan ditinggal belakangan atau kalau dikasihpun hanya dengan porsi yang ala kadarnya. Cerita tentang masa kecil bapak itu dikaitkan dengan kami, saya dan adik-adik, yang kalau ada acara-acara keluarga selalu tak ada mama karena mama dalam keadaan sakit dan tak bisa hadir dan turut bekerja di dapur mengurusi makanan. Cerita itu terus tertanam dalam kepala saya sehingga setiap acara-acara besar keluarga, saya selalu mengira bahwa kawan-kawan saya selalu kekenyangan dan saya sendiri selalu kelaparan.