Catatan Buku

Membaca Revolusi-Revolusi dalam Wawasan Dunia: Memahami Arus Pemikiran Barat

⚠ Catatan ini bukanlah sebuah ulasan ilmiah. Ia hanya berupa pengenalan dan ringkasan, sekadar pengingat bagi saya atau bisa juga membantu Anda sekalian yang mungkin ingin tahu apa gambaran besar buku ini (meski saran saya, silakan beli sendiri bukunya di Toko Buku Momentum  dan nikmatilah keseruan berpetualang bersamanya…👍📖😎🙏)

***

IMG20191020200604Buku ini berisi 10 esai singkat dari 10 orang berbeda yang kemudian diedit oleh W. Andrew Hoffecker. Mengupas mulai dari peradaban Yunani hingga abad ke-20.

Di bab satu yang berjudul Orang Yunani Membawa HadiahJohn Frame menyinggung kembali tentang  frasa Awas, orang-orang Yunani membawa hadiah! dari tulisan Virgil yang berjudul Aeneid. Di bab ini juga dipaparkan, pemahaman dan pengertian pemikir Yunani itu pun tidak tunggal. Selalu ada ketidaksetujuan yang luas di antara mereka, dan itu terus bergerak dari masa ke masa selama abad kejayaan Yunani. Mereka juga boleh meyakini ada sebuah kuasa yang besar di atas mereka namun yang mereka percayai tetap adalah sesuatu yang bersifat ‘impersonal’. Hal inilah yang membedakan sekaligus membuat saya bersyukur bahwa saya meletakkan kepercayaan saya kepada sesuatu yang bersifat personal (pribadi).

Bab dua ditulis oleh John D. Currid yang berjudul Wawasan Dunia dan Kehidupan Orang Ibrani. Isinya kurang lebih seperti ketika kamu mempelajari kembali isi perjanjian lama (PL). Tentu dengan pengupasan lebih mendalam dari sudut pandang penulisnya yang adalah seorang reformed. Hal demikian sama dengan yang ada pada bab tiga oleh  Vern S. Poythress dengan judul Wawasan Dunia Perjanjian Baru.

Bab empat ditulis oleh Richard C. Gambe dengan judul Kekristenan sejak Bapa-Bapa Gereja Mula-mula hingga Charlemagne. Bab ini menyajikan apa saja yang terjadi dan bagaimana perkembangan wawasan dunia selama kurang lebih 800 tahun dimulai dari zaman Bapa-bapa Rasuli, lalu Klemen dari Roma, hingga ke masa Agustinus dari Hippo dan berakhir di masa pemerintahan Raja Charlemagne.

Bab lima dengan judul Theologi Abad Pertengahan dan Akar-Akar Modernitas ditulis oleh Peter J. Leithart. Bagian ini dimulai dengan pengantar tentang kesatuan hidup dan pemikiran yang cukup memikat bila dilihat dari perspektif modernitas dan postmodern yang terpecah-pecah secara intelektual dan budaya. Dilanjutkan dengan dimulainya perkembangan pemisahan filsafat dan theologi atau konsep mengenai theologi sebagai ilmu pengetahuan serta mulai munculnya apa yang disebut sebagai  skolastisisme. Beberapa nama penting untuk sekedar diingat dalam bab ini adalah Peter Abelard, Rupert dari Deutz, Thomas Aquinas (+ yang mempengaruhi dan yang dipengaruhi), Paus Gregory VII, serta Duns Scotus dan William Ockham di akhir abad pertengahan (analogi vs univositas).

Bab enam oleh Carl Trueman Carl Trueman tentang Renaisans. Bab ini berisi penelusuran penulis terhadap berbagai hal yang mendasari gerakan yang disebut sebagai renaisans tersebut. Skolastisisme dan humanisme mulai bersanding hingga pelan-pelan cukup memberi dampak pada kurikulum universitas. Hal-hal selanjutnya mengenai filsafat, ilmu pengetahuan, politik, serta perkembangan literatur dan seni mendominasi pembahasan bab ini. Namun demikian, yang dapat disimpulkan dari bab ini adalah bahwa renaisans tidak menawarkan wawasan dunia tunggal yang menyatu sebagai alternatif bagi abad pertengahan melainkan ia hanyalah istilah yang mencakup beragam pandangan dan perspektif pada seluruh jangakaun persoalan.

Bab tujuh pada buku ini berjudul Reformasi sebagai Revolusi Wawasan Dunia yang ditulis oleh Scott Amos. Dikatakan, meski kontras antara perspektif Reformasi dan Abad Pertengahan kurang tegas, para reformator menolak sintesis Abad Pertengahan mengenai yang manusiawi dan yang ilahi dalam keseimbangan dari rasio dan penyataan. Tidak dipungkiri bahwa sintesis Abad Pertengahan secara resmi masih bersifat theosentris, namun seperti yang dipahami para reformator, sintesis tersebut terlihat berkompromi dan cenderung mengarah kepada pemahaman yang bersifat antroposentris.

Berbicara mengenai Reformasi, tentu tidak bisa tidak menyebut dua nama yang mewakilinya yakni Luther dan Calvin (walau begitu, di sini ada juga kaum Anabaptis yang disebut meski mereka cukup beragam untuk diwakili oleh satu orang). Bab ini menyajikan pengaruh wawasan dunia Reformasi terhadap kebudayaan, khususnya dalam lingkungan gereja dan masyarakat serta juga sedikit menyinggung tentang seni dan literatur. Di bagian kesimpulan, penulis kembali menegaskan bahwa meski terdapat beberapa perbedaan penafsiran Alkitab oleh para reformator sehingga kita sulit menemukan wawasan dunia ‘Reformasi yang tunggal’, para reformator tersebut tetap berbagi fokus yang sama pada Alkitab sebagai otoritas ultimat bagi iman dan perbuatan.

Bab delapan berjudul Pencerahan-pencerahan dan Kebangunan-kebangunan Rohani: Permulaan Peperangam Budaya ditulis oleh W. Andrew Hoffecker yang sekaligus adalah editor buku ini. Sesuai dengan judulnya, bab ini menyajikan bahwa meski sering survei-survei sering mengasingkan kebangunan-kebangunan rohani dari ‘pencerahan’ (kalau kita memang mengikuti istilah tersebut), namun yang jelas adalah baik pencerahan-pencerahan maupun kebangunan-kebangunan rohani pada saat yang sama bersaing untuk mendapatkan pikiran publik. Pencerahan dan kebangunan rohani yang dimaksud adalah 1) di Inggris dengan dua tokoh utama untuk pencerahan adalah John Locke dan David Hume serta John Wesley untuk kebangunan rohaninya, (btw, Newton kira2 di mana ya..?) 2) di Perancis dengan Descartes untuk pencerahan serta Jansenisme dan Blaise Pascal untuk kebangunan rohani, 3) di Jerman dengan gerakan kaum pietisme untuk kebangunan rohani dan Imanuel Kant untuk Pencerahan, 4) di Amerika dengan dorongan Thomas Paine untuk pencerahan dan Jonathan Edwards yang adalah seorang puritan di abad ke 18 untuk kebangunan rohani.

Bab sembilan berjudul Abad Ikonoklasme Intelektual: Pemberontakan Abad Kesembilan Belas terhadap Theisme yang ditulis oleh Richard Lints. Bab ini secara khusus menyoroti Imanuel Kant sebagai jembatan pencerahan dan abad kesembilan belas; para nabi sekuler seperti Hegel, Feuebach, Karl Marx, Darwin, Freud, hingga Nietzsche dengan segala pemikiran dan pengaruh mereka masing-masing; serta gerakan-gerakan eklektik seperti romantisisme, transendetalisme, idealisme, liberalisme theologis, eksistensialisme, dan pragmatisme lengkap dengan pelopor masing-masing.

Bab sepuluh atau bab terakhir dari buku ini berjudul Filsafat di antara Reruntuhan: Abad Kedua Puluh dan Selanjutnya oleh Michael W. Payne. Bab ini menganalisis revolusi-revolusi primer yang saling berkaitan yakni revolusi-revolusi dalam bahasa dan epistimologi, ilmu pengatahuan, dan etika yang telah menciptakan lingkungan filosofis bagi postmodernisme. Meski dimulai dengan pembicaraan tentang bahasa dan kata-kata yang adalah kesukaan saya, pembahasan ini (saya akui) terbilang berat bagi saya atau entah mungkin saya juga sepertinya kurang atau tidak begitu menaruh perhatian saat membaca bab ini. Intinya, secara pribadi, khusus untuk isi dari bab sepuluh ini saya berutang membaca ulang.

Demikian sewaktu menyelesaikan buku ini, sebuah pertanyaan muncul di kepala saya, dari sekian banyak pemikiran atau pandangan tersebut, pemikiran-pemikiran apa sajakah yang kira-kira membentuk kerangka berpikir saya sejauh ini. Saya curiga, pandangan abad kesembilan belas sepertinya cukup mengambil porsi lebih di sini sebelum akhir Agustus 2017. Sebelumnya (akhir Agustus 2017 itu), meski mungkin tidak membaca langsung pemikiran mereka, namun hasil pikiran mereka dibaca dan ditafsirkan orang, dituangkan melalui buku-buku baik sastra ataupun nonsastra, lewat film, lewat lagu, lukisan, lewat diskusi-diskusi, jurnal-jurnal ilmiah, bahkan hingga model-model pembelajaran yang dituntut di kurikulum nasional, apalagi sekarang dengan mudah dan sangat amat banyak bertebaran di media-media sosial sebagai bahan makanan sehari-hari.

Di akhir catatan ini, saya hanya mau bilang, saya merasa kaya sekaligus miskin setelah selesai membaca buku ini. Kaya karena banyak momen ‘aha’ dan ‘wow’ selama membaca. Miskin karena dalam setiab babnya, ada puluhan bahan bacaan yang menjadi rujukan dan hampir semua bahan bacaan tersebut belum saya baca.

Hal terakhir, buku ini sangat direkomendasikan buat siapa saja yang mau belajar membaca arus zaman. Seumpama paragraf deduktif, buku ini adalah kalimat utamanya, buku-buku rujukan/referensi dengan para tokoh/pemikir utama setiap zamannya yang dicantumkan dalam buku ini adalah kalimat-kalimat penjelasnya. Semangat membaca… 😎💪🙏

 

 

 

 

 

Catatan Buku

Buku “Dua Belas Pasang Mata” oleh Sakae Tsuboi

Buku ini ditemukan secara tak sengaja. Ceritanya, kami mengadakan rapat kenaikan kelas di ruang kelas 7.3, dan saya sibuk mengurus nilai di notebook hingga 44 menit kemudian baru saya sadar ternyata di laci meja depan saya ada sebuah buku menarik milik siswa.

Dua Belas Pasang Mata oleh Sakae Tsuboi. Saya belum pernah mendengar nama ini sebelumnya, juga judul bukunya (lebih baik mengaku jujur daripada sok😜😅). Pertama kali melihat sampulnya, saya langsung berpikir sepertinya buku ini bagus (karena ada gambar anak-anaknya😅). Segera saya baca catatan di sampul belakang. Astaga, tentang guru, dan guru baru pula, mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Segera tanpa menunggu lama saya bilang ke wali kelas ruang tersebut untuk meminjam. Demikian buku ini sudah dua hari di tangan saya. Jelas hari Senin ini mesti dikembalikan. Namun sebelum itu, perlu ia dipahatkan di blog ini😎😄

Buku Dua Belas Pasang Mata oleh Sakae Tsuboi ini terbagi menjadi 10 bab. Saya ngebut membacanya dari semalam–Jumat malam–sepulang PA hingga siang tadi–Sabtu siang–sudah selesai. Bagian awal cerita ini sungguh membuat saya tertawa sendiri di tengah malam. Bagaimana tidak, kisah ini mengingatkan saya akan masa kecil ketika baru masuk sekolah dulu juga bagaimana pengalaman ketika baru pertama kali menjadi guru😅.

Kisah ini dibuka dengan penggambaran latar desa tanjung di mana sang ibu guru, Miss Oishi akan mengabdi untuk tahun pertamanya. Waktu itu tahun 1928, dua bulan setelah pemilu, dan tempatnya adalah di desa yang mana penduduknya hanya sedikit orang dan kebanyakan bermata-pencaharian sebagai nelayan dan petani meski beberapa di antaranya ada yang menjadi tukang kayu, pesuruh/pengantar barang (seperti tukang pos di zaman sekarang), pedagang beras, atau pemilik restoran di kota.

Berhubung desa itu sangat terpencil, maka sekolah di sana diadakan hanya untuk anak-anak usia SD kelas 1-4, maka itu ia disebut sekolah cabang, dengan hanya dua guru untuk menangani empat kelas tersebut. Barulah nanti di tahun ke-5 atau mulai kelas 5, anak-anak desa tanjung mau tak mau harus pergi melanjutkan ke sekolah desa utama yang jaraknya 5 km perjalanan. Tidak ada kendaraan saat itu sehingga mereka harus menempuhnya dengan sandal jerami buatan tangan mereka sendiri yang pastinya rusak setiap hari, tetapi mereka justru bangga karena mengenakan sandal baru setiap hari.

Membaca ini saya jadi teringat dengan cerita orang tua saya (khususnya bapak dan saudara dan kawan-kawan sebayanya). Di masa mereka (kalau Jepang di kisah ini berlatar tahun 1928, maka bapak beserta saudara dan kawan2nya itu berlatar daerah selatan Amarasi di pulau Timor-NTT tahun 1960-an. Btw, kebetulan keduanya sama-sama di daerah pantai dan ada tanjung, kalau di Amarasi namanya Tanjung Pe’o, serta mata pencaharian penduduknya adalah bertani dan mencari ikan. Bapak dan semua mereka yang bersekolah harus menempuh perjalanan 8-10 km berjalan kaki. Masih bagus di Jepang jalan mereka rata, di kampung lama bapak letaknya di lembah, sementara sekolahnya berada di dataran tinggi, sehingga mau tak mau selama perjalanan pagi-pagi buta itu mereka hanya mendaki, mendaki, dan terus mendaki. Perjalanan baru terasa ringan ketika pulang sekolah karena jalanan selalu menurun. Jangankan di zaman bapak. Semasa SMP pun, saya dan kawan-kawan seangkatan masih sempat merasakan bagaimana pagi-pagi harus berjalan kaki dengan mendaki sejauh 4 km ke sekolah dengan tak boleh lupa membawa satu botol air untuk diisi di kamar mandi dan toilet sekolah. Beberapa kawan saya yang dari desa tetangga (Desa Sahraen namanya), mereka tentu lebih jauh lagi jaraknya, kira-kira 8-10-an km. Mereka juga berjalan kaki. Untungnya kami di masa itu adalah karena kami banyak jumlahnya sehingga jalannya pun beramai-ramai. Kalau dikira-kira mungkin jumlah kami lebih dari 100 untuk tiga angkatan (kelas 1, 2, dan 3), apalagi SMP itu satu-satunya SMP negeri dan punya 4 rombel untuk tiap angkatan. Meski perjalanan kami menuju sekolah melewati kebun dan ladang orang yang mana tidak ada rumah, tidak ada di antara kami yang takut melewati tempat tersebut karena banyak mobil, bus, truk, dan sepeda motor sesekali lewat. Bedanya adalah kalau anak-anak di Jepang kala itu masih menggunakan sandal jerami ke sekolah, kami setidaknya di awal tahun tahun 2000-an kala itu sudah menggunakan sepatu, meski sepatu kami hampir tiap dua-tiga bulan ganti karena selalu berlubang di bagian dasarnya😅.

Astaga, sepertinya saya sudah latah menggali kisah lama saya dan lupa dengan buku yang mestinya saya ceritakan di sini.

Baiklah, mari kembali ke topik awal😉.

Meski perjalanan dari desa tanjung menuju sekolah itu jauh namun mereka selalu bersemangat setiap pagi. Di tahun-tahun pergantian guru, mereka selalu penasaran seperti apa tampakan guru baru yang akan mengajar di sekolah baru tersebut. Niat mereka mau mengusili sang guru baru sangat lucu. Percakapan-percakapan mereka persis digambarkan sebagaimana layaknya percakapan anak-anak sekolah di kampung (karena saya pernah menjadi anak sekolah di kampung dan saya tahu persis itu benar adanya😜😅). Bagaimana keluguan dan kekolotan mereka saat terbengong-bengong karena berniat mengerjai sang guru baru, justru mereka yang dikerjai balik. Sang guru muncul dengan sepeda dan meluncur cepat melewati mereka setelah mengucap salam kemudian segera menghilang tanpa mereka duga.

Tidak hanya membuat anak-anak yang baru masuk sekolah desa utama bengong, namun penduduk desa tanjung pun menjadi heboh sendiri karena selain bersepeda, sang ibu guru pun berpakaian gaya barat. Katanya ibu guru kali ini kelewat modern😅.

Di kelas satu sekolah cabang, Ibu Guru bertemu dengan 12 murid. Ke-12 anak inilah yang kemudian membentuk cerita dalam kehidupan sang ibu guru hingga 20-an tahun ke depannya.

Sepertinya saya terlalu banyak bercuap-cuap tentang bagian awal cerita ini tanpa pernah sampai ke inti cerita? Memang😅😄. Karena saya begitu menikmati bagian awal ceritanya sampai rasanya tak mau beranjak.

Kalau di bab pertama tentang perkenalan, maka di bab dua tentang adanya badai yang melanda desa tanjung, lalu kecelakaan yang menimpa Ibu Guru. Dari kecelakaan itu, di bab tiga Ibu Guru mulai tidak masuk sekolah. Dari sepuluh hari, lalu setengah bulan, Ibu Guru tak datang-datang. Anak-anak muridnya setiap hari bergerombol di samping sepedanya yang tersandar dengan berdebu di tembok depan ruang guru. Bapak Guru menjadi satu-satunya yang mengajar di sekolah dengan empat kelas tersebut. Pelajaran lain tidak masalah, kecuali musik. Bapak Guru bergumul betul setiap menjelang hari Sabtu, semacam ada ketegangan tersendiri untuk jam pelajaran ke-3 itu (saya tahu persis ini perasaan😅😂). Pergumulan ini memaksanya untuk berlatih bermain organ dibantu istrinya, meski kelak ia bisa namun tak selincah Ibu Guru.

Anak-anak murid meski merasa senang dengan perkembangan Bapak Guru mereka tetap kurang puas. Kerinduan mereka akan Ibu guru semakin tak tertahankan. Suatu hari di perjalanan sepulang sekolah, mereka berdiskusi untuk mengunjungi Ibu Guru di rumahnya. Rumah Ibu Guru letaknya di Desa Pohon Pinus, berjarak 8 km dari desa mereka. Berhubung di antara mereka belum ada yang berpengalaman dalam berjalan kaki, anak2 kelas satu itu pun tidak bisa membayangkan dengan baik seberapa jauh sebenarnya jarak tersebut. Karena hanya Nita (salah satu murid laki-laki paling ribut dan beringus di kelas) satu-satunya yang pernah pergi ke kota dengan menumpang bus melewati Desa Pohon Pinus, ialah yang kemudian dikerubungi. Untuk lebih merasakan suasana percakapan mereka, berikut halaman buku yang sempat difoto (semoga saya tak dituduh melanggar hak cipta😟).

Mereka sudah mencapai kesepakatan akan berangkat ke rumah Ibu Guru. Hanya Sanae dan Kotoe yang tidak bersuara. Sanae memang pendiam, sebaliknya Kotoe masih bingung. Ia anak sulung dengan empat adik perempuan dan laki-laki. Sejak usia tiga tahun, ialah yang disuruh mengasuh adik2nya setiap pulang sekolah. Kalau ia pergi tentu nenek dan ibunya tak mengizinkan. Maka diputuskan, semua mereka akan pergi diam-diam tanpa memberitahukan keluarga. Mereka hanya akan pergi untuk makan siang kemudian akan mengendap diam-diam meninggalkan rumah. Semua temannya melakukan itu, sempat makan siang dan diam-diam mengendap keluar. Kotoe malah sepeninggalan temannya, ia menyembunyikan tasnya di rerumputan dan menunggu teman-temannya yang pergi makan siang kembali. Benar, hanya beberapa menit kemudian satu per satu anak muncul. Di antara mereka hanya Nita yang cukup cerdik untuk mengisi penuh saku2 baju dan celananya dengan kacang buncis kering untuk dibagika2kan kepada kawan2nya. Ke-12 anak kelas 1 SD cabang itu pun berangkat ke Desa Pohon Pinus sambil mengunyah kacang dan bercakap2 mengenai keadaan gurunya.

Perjalanan ini adalah pengalaman pertama kali mereka berjalan kaki sendirian. Mereka sangat menikmatinya dan tidak merasa bosan karena banyak pemandangan baru yang mereka temui.

Kesenangan itu tiba-tiba berubah menjadi kecemasan, sebab tampak dari jauh serombongan anak sekolah yang lebih tua, para murid sekolah utama yang baru pulang. Mereka saling pandang dengan waswas karena takut ketahuan.

“Sembunyi! Sembunyi!” Seruan Masuno membuat ke-11 anak lainnya lari ke tengah gerumbulan rumput pampa yang tak jauh dari situ. Gerakan mereka selincah monyet. Rumput-rumput bergemerisik dengan hebatnya.

“Diam! Jangan bersuara!” Masuno berkata sambil menekuk bibirnya yang tipis dan memelototi teman-temannya dengan kedua matanya yang panjang dan menjungkit itu. Bahkan Takaechi dan Tadashi (Masuno itu perempuan sementara Takaechi dan Tadashi ini laki2 lho ya😜–anice) langsung diam dan tak berani bergerak. Gerumbulan rumput pampa, yang hampir dua kali tinggi anak2 itu, bergemerisik sedikit akibat ke-12 anak di dalamnya. Untunglah, berkat kecerdikan Masuno, keberadaan mereka tidak ketahuan oleh murid-murid yang lewat itu. Masuno bisa membuat teman-teman sekelasnya menurut seperti anak kucing, cukup dengan dipelototi.

Mereka meneruskan perjalanan. Meski mulai meragukan penjelasan Nita bahwa jarak itu dekat, mereka tetap maju selangkah demi selangkah. Satu per satu sandal jerami yang dipakai mulai rusak. Tak ada yang punya uang jadi tak mungkin membeli sandal baru.

Sebenarnya tinggal satu belokan lagi mereka sudah bisa melihat pohon pinus, hanya mereka tidak tahu. Tiba-tiba Kotoe mulai menangis. Mungkin karena belum makan siang sehingga ia lebih dulu lelah dibanding kawan2nya. Dia berjongkok di pinggir jalan dan menangis keras2. Misako dan Fujiko jadi ikut terisak2. Anak2 lainnya berhenti dan memandangi anak2 perempuan yang menangis itu. Mereka sendiri ingin menangis dan tak tahu mesti mengatakan apa untuk menghibur mereka yang menangis. Harusnya ada seseorang yang mengusulkan, “Ayo, kita pulang!” tetapi tak ada satu pun yang sanggup berkata begitu.

Beberapa lama berdiri dalam keadaan seperti itu sampai mereka tak tahan lagi dan ingin pulang. Tanpa sadar mereka berdiri menghadap ke arah mereka datang. Sekonyong-konyong muncul sebuah bus dengan membunyikan klaksonnya. Tak disangka di dalam bus itu ada Ibu Guru. Demikianlah Ibu Guru itu melihat mereka, turun, dan membawa mereka ke rumahnya untuk dijamu makan. Di sanalah mereka bercengkrama dan melepas kangen hingga sore hari, barulah kemudian mereka diantar pulang Ibu Guru dengan perahu.

Ke-12 anak itu tidak tahu bagaimana orang tua dan seisi kampung sempat heboh sejak siang tadi karena ketidakmunculan mereka sejak sehabis makan siang. Beberapa bapak dan pemuda sampai diutus ke kota untuk mencari mereka namun tak menemukan hasil. Dan barulah di maghrib itu mereka muncul dari arah pantai. Tiada seorang pun yang menduga sebelumnya bahwa mereka pergi mengunjungi Ibu Guru di Desa Pohon Pinus.

Mengenai cerita kunjungan anak-anak dan sampai ada yang menangis, saya pun punya pengalaman serupa:D. Tiga tahun lalu ketika saya menjadi wali kelas 7.1, suatu hari saya sakit sehingga izin tidak ke sekolah. Saya tak tahu-menahu hingga besoknya di sekolah baru saya mendapat cerita dari anak2 wali saya. Ternyata, kemarin ketika saya tidak masuk, beberapa anak laki-laki dan perempuan bersepakat mengunjungi saya. Mereka mendengar kalau tempat kos saya letaknya tak jauh dari sekolah, tepat berhadapan dengan satu SD negeri. Mereka hanya perlu keluar dari gerbang sekolah, mengambil jalan sebelah kanan, lalu berbelok kanan lagi untuk menuju ke sebuah SD yang ada di belakang SMP. Mereka dengan PD dan riang gembira berjalan. Setibanya mereka di SD yang dimaksud, ada satu tulisan di ujung pagar tembok SD, “Stop! Di sini jalan buntu!” Melihat kalimat itu, serta merta mereka merasa takut. Mereka pikir mereka tersesat. Waktu itu pukul tiga sore dan keadaan sekitar sementara sepi. Ada yang langsung bilang ingin pulang, ada yang tetap mau meneruskan kegiatan berkunjung. Mereka sempat panas menimbang begini-begitu. Sampai ternyata ada yang menangis. Dan yang menangis itu adalah anak laki-laki paling ribut dan paling banyak ditegur guru di kelas. Karena ada yang menangis itulah kemudian mereka tak lagi melanjutkan niat mereka berkunjung. Mereka pun pulang. Padahal kalau mereka tahu, pada saat mereka berdiri dan menimbang-nimbang pulang atau lanjut, sebenarnya itu tepat di depan pagar tempat saya kos😄.

Nah, catatan ini sudah demikian panjang sementara yang saya komentari baru sampai di bab tiga. Sudahlah, tak apa. Toh, ini tiga bab emas dari buku ini menurut saya. Bab-bab selanjutnya bagi saya tidaklah semenarik tiga bab pertama, jadinya akan saya singgung sedikit saja (istilahnya ‘lari2’).

Bab empat tentang perpisahan. Berhubung kaki Ibu Guru belum benar2 pulih sehingga tidak memungkinkan kembali mengajar di desa tanjung, maka Ibu Guru pun pergi pamit. Ibu Guru dipindahkan ke sekolah desa utama. Bab lima dan enam menceritakan empat tahun kemudian, ketika anak2 kelas satu dulu sekarang sudah masuk kelas 5 dan mulai bersekolah di desa utama. Mereka bertemu kembali dengan guru kesayangan mereka, Miss Oishi yang biasaereka sebut dengan Ibu Guru. Bab lima, Gambar Bunga diambil sebagai judul sebab ada satu anak di antaranya yang berkeinginan punya kotak makan siang bergambar bunga teratai namun tak kesampaian karena ibunya kemudian meninggal ketika melahirkan. Si anak lalu tak lagi bersekolah. Ia diangkut ke kota menjadi pekerja (entah dari penjaga restoran kemudian geisha(?)). Sebagian bab enam dan seterusnya, cerita mulai bernada muram. Tentang tuduhan keterlibatan rekan Ibu Guru atau Miss Oishi dalam kelompok “merah“, lalu timbul perang yang mengharuskan para lelaki baik bapak-bapak, pemuda, bahkan remaja laki-laki untuk ikut ambil bagian.

Hari-hari berlalu dan menjadi semakin sulit. Para lelaki dan pemuda yang direkrut untuk pergi ke medan perang sebagian besar tidak kembali dengan selamat. Namun demikian, anak laki-laki di desa-desa itu, sudah dari kecil diindoktriasi bahwa betapa bangga dan betapa terhormatnya seorang laki-laki mati di medan perang. Ibu Guru yang kini sudah berganti status menjadi Mrs Oishi yang bergumul hebat dengan anak2 muridnya dulu direkrut menjadi tentara, lalu suaminya sendiri yang mati karena perang, tak bisa membendung semangat putranya sendiri untuk bergabung dalam ketentaraan. Ia merasa sia-sia menjadi guru karena tak berhasil menyadarkan anak-anak muridnya bahkan putranya sendiri terkait keterlibatan dalam perang.

Syukurlah bahwa pada Agustus 1945, perang dinyatakan berakhir dengan kekalahan ada di pihak mereka, Jepang. Mrs Oishi kembali mengajar atas bantuan mantan anak muridnya, Sanae, yang kini sudah menjadi guru. Dari ke-12 anak itu, ada yang berhasil seperti Sanae, Masuno, dan Kotsuro, ada yang mati karena penyakit (Kotoe) dan juga di medang perang (Nita dan Tadashi), ada yang buta sebab perang (Isokichi), dan ada yang meneruskan hidup biasa setelah usai perang. Mereka bersepakat membuat perayaan untuk sang guru yang mulai kembali mengajar di SD cabang.

Membaca bagian-bagian akhir buku ini, terutama tentang kalah perang dan akhirnya perang dinyatakan berakhir, demikian saya ikut bersyukur. Dengan menyerahnya Jepang inilah, puji syukur, alhamdulillah, Indonesia akhirnya bebas dari jajahan dan menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Tentara-tentara baik di Jepang, baik yang dikirim ke medan-medan perang termasuk Indonesia, akhirnya angkat tangan, dan kembali dengan kepala tertunduk ke negara mereka.

Menutup buku ini, saya jadi membayangkan, jangan-jangan ada Nita, Isokichi, Takaichi, Tadashi, atau Kichiji, di antara para pasukan yang datang di Indonesia, dan mereka termasuk di dalam pasukan seperti yang dikisahkan Lise Kristensen dalam buku The Little Captive, atau mungkin ada yang terus di Kupang dan lebih khusus lagi merengsek masuk sampai ke Amarasi dan sempat meninggalkan anak dari darah mereka😒. Hari ini di Kupang, terdapat banyak sekali lubang perlindungan dan gua-gua yang dinamai lubang jepang atau gua jepang😣😒😔.

Terakhir sekali, “Terima kasih kepada Nona Faye RP, kamu pintar sekali memilih buku.”

Catatan Buku, Merayakan Keseharian

Kapsul 35c: Hasil Tukaran Kado, Buku “Dilarang Jatuh Cinta”

Hangout kami kali ini cukup istimewa karena ada tukaran kadonya. Acara ini diiniasi oleh entah siapa yang jelas bukan saya.

Sebelumnya saya tak berharap muluk-muluk akan dapat apa dari siapa. Bagi saya adalah hubungan persahabatan kami sehat dan bertumbuh baik.

Tak dinyana, dalam acara tukar kado ini saya mendapat buku. Judul buku ini, Dilarang Jatuh Cinta.

Buku ini sebelumnya sudah pernah saya baca. Pertama kali tahu buku ini dari salah satu kawan sekaligus adik tingkat yang sempat ditempatkan mengajar setahun di SLH Kupang, namanya Emm Pelawi.

Waktu itu, ia mendapat tugas di chapel siswa SMP dan dalam sesi khotbahnya ia sempat berbagi salah satu ilustrasi yang menarik. Ia saya dekati seusai chapel dan bertanya dari mana ia dapat ilustrasi menarik itu. Ia kemudian menunjukkan sebuah buku kepada saya. Dilarang Jatuh Cinta yang ditulis oleh pasangan Josua Iwan Wahyudi dan Vonny Cicilia Thamrin.

Saya pun meminjamnya. Buku itu tipis dan ditulis dengan gaya bahasa yang ringan karena memang ditujukan kepada muda-mudi dan para remaja. Saya sendiri merasa tertarik dengan buku itu karena ilustrasi cerita di setiap babnya. Tapi kemudian saya sadar, meski ditulis dengan gaya bahasa yang ringan dan tidak banyak mencantumkan ayat-ayat, buku itu punya prinsip yang alkitabiah sekali.

Saya tak lama membacanya. Ketika buku itu saya kembalikan dan saya tanyai di mana ia membelinya karena saya pun ingin memiliki sendiri, katanya buku itu ia beli langsung dari penulisnya. Kebetulan penulisnya yang perempuan adalah seorang yang pernah aktif di HOPE, salah satu program di bawah Fakultas Liberal Art UPH, dan kawan saya, Eim, pernah juga aktif membantu di sana saat SOW (kalau tak salah, akan dikonfirmasi😉😊), maka ketika diketahui bahwa orang yang bersamanya sudah menulis buku, ia pun membeli buku itu.

Tahu begitu, saya pun kemudian melupakan keinginan memiliki buku itu. Saya pun entah kenapa tak berpikir mencari di internet. Siapa tahu ada dijual di mana begitu.

Buku milik Eim itu ternyata tidak hanya berhenti di tangan saya sebagai peminjam. Buku itu kemudian berpindah-pindah di tangan kawan-kawan saya di sekolah. Mungkin karena menarik dan memang bagus apalagi untuk seorang guru yang membimbing remaja-remaja di sekolah, ternyata tanpa saya tahu beberapa kawan saya mencari-cari buku tersebut di internet dan memesannya beramai-ramai😄😅.

Di antara kami berempat saja, dua orang sudah memiliki buku tersebut. Maka harapan sang pemberi, buku itu mau tak mau mesti jatuh di tangan saya atau kawan saya yang satunya. Demikianlah semesta berkehendak, buku itu akhirnya jatuh ke tangan saya😍😘😇.

Senang sekali tentunya. Syukur kepada Tuhan untuk kado kecil ini. Terima kasih karena Ia menggerakkan hati kawan-kawan saya menginisiasi acara tukar kado (entah dalam rangka apa juga saya tak tahu😍😅). Buku Dilarang Jatuh Cinta tentu tidak saja untuk saya sendiri. Saya punya saudara-saudara kandung dan sepupu yang akan saya pinjamkan buku ini ke mereka supaya mereka belajar jangan terjebak dan ikut terseret berlarut-larut dalam kegalauan tak perlu.

Saya tak mereview secara detail isi buku ini. Sebagai pelengkapnya, saya hanya mau mengarahkan kalau kau ingin mengetahui lebih lanjut garis besar buku ini, silakan berkunjung ke Review Book: Dilarang Jatuh Cinta dari DesianaHalim atau bisa juga ke Dilarang Jatuh Cinta oleh The Courier of God. Kiranya bermanfaat😘🙏😇 dan semuanya dikembalikan hanya kepada-Nya🙏😇.

Catatan Buku, Merayakan Keseharian

Kapsul 28: Sherlock Holmes dan Sidney Seldon

Sherlock Holmes dan Sidney Sheldon. 

Menyebut Sherlock Holmes seperti menyebut seorang anak manusia yang benar-benar pernah ada di dunia. Ia seperti benar-benar berdaging, bisa makan, bernapas, berak, mandi, yang pernah tinggal di salah satu kamar sewa di pinggir jalanan London. Nama Sherlock Holmes sendiri mungkin jauh lebih akrab di telinga orang dibanding penulisnya, Sir Arthur Conan Doyle. Bukan masalah. Toh, itu adalah sebuah kebanggan bagi penulisnya. Artinya, ia berhasil. 

Beda dengan Sidney Seldon. Entah judul dan nama tokoh boleh berganti apa saja dan boleh siapa saja, selama nama penulis masih Sidney Seldon. 

Cerita-cerita yang tidak mengizinkanmu mengambil jeda, dan sesudah tamat, kau akan merasa seperti kehilangan sahabat. 

Cerita-cerita semacam ini pula yang melemparkan kembali saya ke masa-masa SMP/A, membaca serial Lima Sekawan yang dipinjamkan teman saya. Ah, betapa manis momen-momen kala itu😉😊. 

Catatan Buku, Merayakan Keseharian

Kapsul 27: Buku ‘The Little Captive’ Lise Kristensen

Entah dari kapan buku ini terselip di antara buku-buku lain, saya malam ini baru sempat membuka dan membaca bab pertamanya. Tapi karena tak sengaja menemukannya, dan saya pun sementara ada buku lain yang dibaca, maka buku ini jadinya dijadwalkan besok baru akan dibaca. Sejauh yang sudah saya baca di chapter 1, ceritanya menarik. Saya suka. Bahasanya juga tak sulit-sulit amat kok. Kalau mau intens, sehari-dua hari mungkin bisa selesai💪. 

Catatan Buku, Merayakan Keseharian

Kapsul 15: Membaca Novel Sidney Sheldon

Novel ini tergeletak di atas meja anak murid saya di kelas. Mereka baru saja membacanya saat SSR. Sementara mereka mempersiapkan materi presentasi kelompok, saya berjalan keliling dan iseng mengambil satu buku yang ada di atas meja. 

Baru membaca bab-bab awal buku, dan saya sudah tidak bisa begitu saja melepaskan tanpa tahu kelanjutan ceritanya. Saya pun meminjam buku anak murid saya untuk melanjutkan baca di rumah. 

Sementara saya menulis ini, saya masih dalam proses membaca. Belum selesai. Tapi karena keperluan pembaharuan postingan blog inilah saya menuliskannya. 

Kau mungkin saja berpikir,  “Gaya doang. Buku belum selesai dibaca, malah pamer. Kemarin buku lain juga begitu. Belum juga selesai baca, malah pamer kalau sedang membaca.”

Iya, saya tahu buku apa yang kau maksud. Pasti tentang Allah, Kebebasan, dan kejahatan. Memang, saat itu saya sedang membacanya. Setelah menulis itupun, saya melanjutkan membacanya. Tapi, buku itu banyak sekali proposisi-proposisi yang membutuhkan daya nalar dan konsentrasi yang tinggi, maka di tengah-tengah membaca, saya merasa tidak kuat melanjutkan. Saya hanya tertarik di bagian pendahuluan serta bagian satu saja karena di dalamnya disebutkan beberapa sastrawan yang namanya tidak asing seperti Milton dengan “Paradise Lost“nya, Dostoyevsky dengan “The Brothers Karamazov” tentang penyiksaan oleh bangsa Turki, serta nama-nama lain seperti Thomas Hardy, Hopkins, T.S Eliot, Peter De Vries, dan John Updike. Selain itu setelahnya, banyak proposisi-proposisi itu membuat saya seperti hanya ‘gaya doang‘ baca buku ini. Saya menghabiskannya tanpa mengerti simpul-simpul di dalamnya. Hanya inti atau tujuan besar buku ini yang sudah menjadi pegangan saya sebelumnya yang saya pahami. Bahwa Allah berdaulat atas dunia ciptaannya. Dalam sejarah, terjadinya kejahatan atau penderitaan di dunia bukanlah sebuah misteri, melainkan hal yang mungkin dan sudah sewajarnya. 

Karena buku yang sempat buat pusing itulah, biarlah kali ini saya kembali imbangi dengan novel Sidney Sheldon dari anak murid saya. Pada akhirnya, saya ingin bilang, “Thanks to Timothy Kevin”🙏😊. 

Catatan Buku, Merayakan Keseharian

Kapsul 11: Sedang Membaca “God, Freedom, and Evil”

Orang yang jarang baca biasanya suka pamer kalau sedang membaca satu buku. Contohnya saya yang saat ini sedang membaca buku “God, Freedom, and Evil” atau yang diterjemahkan sebagai “Allah, Kebebasan, dan Kejahatan.”

Saya malu sebenarnya bilang begini. Tapi apa boleh buat. Saya sudah komit untuk menerbitkan satu tulisan setiap menelan satu kapsul tiap hari.

Berhubung tulisan yang saya rencakan diterbitkan hari ini belum jadi, maka, “ya, sudah, pamerkan saja buku yang sementara kau pegang di tanganmu.”

Saya belum bisa menulis ulasannya karena belum selesai membaca. Meski sebenarnya ini bukan yang pertama kali dibaca karena di mata kuliah etika dulu juga sudah, hanya, ya, saya mesti menerima bahwa ada sesuatu yang bolong mungkin di otak saya sehingga membuat ingatan saya tentang isi buku ini tak begitu bagus. Itulah kenapa saya memutuskan membaca lagi.

Lagipula, terlalu sering membaca berita-berita (kehebohan terkini) dan artikel-artikel yang hanya bombastis di judul, membuat hari-harimu jadi terasa runyam. Berita-berita haboh dan artikel judul bombastis itu hanya membuat penasaran yang menyeretmu klik sana-klik sini, terbenam-tenggelam, lalu kemudian baru kau sadar dan menyesali waktumu terbuang hanya untuk sampah-sampah tak bernilai itu (meski sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menurutkan keinginan mata hanya karena judul yang sengaja dibuat bombastis, ‘5 hal yang belum kau tahu tentang mengikat tali sepatu’ misalnya, atau ‘si kakak bertemu adiknya yang baru pulang sekolah. Begini yang dikatakan di adik, bikin haru‘,  atau ‘kecewa! si dogi menggigit sandal tuannya hingga putus’.  Omg, kalau begitu, lantas kenapa tak dibuat atau digolongkan saja ke dalam cerpen sekalian, atau humor, atau apa kek, yang penting bukan, ah, apa ya, saya juga kurang tahu mestinya di bagian mana.

Kalau macam begini, baiklah kubilang, membaca cerpen-cerpen di koran minggu atau di media-media online atau membaca novel, atau nonton film, sungguh jauh lebih bermanfaat. Terlalu jauh.

Nah, tapi, tidak enak betul hanya baca-baca fiksi. Berasa ada yang kurang kalau lama-lama tak bersentuhan dengan buku non fiksi juga. Meski begitu, tidak semua buku non fiksi memuaskan hati dan pikiran. Hanya buku-buku tertentu yang kalau dibaca, kita seperti menemukan dunia baru yang rasanya berat untuk kita keluar kembali. Yang kalau sudah selesai dibaca, ada semacam kepuasan batin yang tak ternilai harganya yang menetap dan tidak mudah menguap begitu saja. Nah, akhirnya, saya baru dapat perbandingan yang tepat. Membaca berita-berita kekinian yang menghebohkan dan artikel berjudul bombastis itu, abis baca langsung menguap dan lenyap tak berbekas. Beda dengan kalau kau baca cerita (sastra) atau buku-buku non fiksi begini, abis baca pun masih ada bekasnya yang bahkan saat kau tidur, ataupun berdiri, ataupun berjalan, ataupun berlari, ataupun melakukan apa saja, ia masih seakan-akan terus hidup dan bercokol dalam dirimu tak mau keluar-keluar. Ada yang bersifat kekal dari yang kau baca.

Maka inilah salah satu dari sekian buku-buku yang memberi nilai kekal itu. Buku “God, Freedom, and Evil” atau dalam bahasa Indonesianya yaitu “Allah, Kebebasan, dan Kejahatan“.

Hanya ingat, seperti yang sudah saya bilang di awal, saya belum menulis ulasannya karena masih dalam proses membaca. Meski begitu, saya senang kalau kau juga mau mencarinya dan membacanya. Sejauh ini bagi saya bagus, kok. Kau hanya butuh konsentrasi yang tinggi saat membacanya. Soalnya buku ini banyak memuat silogisme di sana sampai bisa buat kau pusing-pusing untuk menghubungkan😄👌👍💪.