Bahan Bacaan Liburan Natal

Sekilas tentang buku-buku yang direncanakan baca dan dituliskan kembali:

IMG20171227190819.jpg1. Drama Doktrin oleh Kevin J Vanhoozer. Buku ini merupakan Suatu Pendekatan Kanonik-Linguistik pada Theologi Kristen.  Saya baru menengok bagian pedahuluannya. Cukup banyak dan agak berat isinya. Baru baca pendahuluan tapi serasa sudah membaca pembahasan babnya. Selama membaca buku ini, pensil selalu di tangan kanan saya. Kenapa? Untuk saya menandai dan mencoret-coret bagian pinggirannya demi saya bisa mengerti.

Dari bab pertama, ditekankan kepada ingin menjelaskan secara tepat apa yang telah Allah kerjakan di atas panggung sejarah dunia. Ialah Kabar Baik. Injil adalah “drama terbesar yang pernah dipanggungkan….” Ada panggung kosmik dan alur cerita kovenan; ada konflik; ada klimaks; ada penyelesaian. Kemudian beberapa poin berikut yang saya buat terpisah: 1) Bila teks Akitab bersifat narasi maka, drama/teater, sebaliknya lebih menunjukkan daripada menceritakan. Kita pun mesti tak membuat perbedaan tegas antara ‘kata’ dan ‘tindakan’. Bagaimanapun teater adalah ‘bahasa tindakan’, dan tugas dramawan adalah ‘mengajar melalui tindakan’ (hal 64) 2) Sementara dunia berada dalam drama penebusan yang terus menerus berlangsung ini, dunia yang menjadi panggung teater kita, apa adegan kita sebagai aktor yang mesti kita mainkan sementara menurut pendapat buku ini, Allah dan manusia adalah aktor dan pemirsa secara bergantian?  (hal 74) 3) Dunia adalah teater tindakan, bukan hanya perenungan; sebuah teater bagi operasi-operasi di mana perang kosmis sedang diperjuangkan di banyak medan budaya. Karena itu drama doktrin melibatkan pergumulan mengenai cara terbaik untuk mempertontonkan kemuridan seseorang” (hal 78).

2. Belum Kalah oleh Avent Saur. Buku ini adalah sekumpulan esai penulis selama menjalankan panggilannya sebagai imam yang juga bekerja sebagai wartawan di sebuah koran lokal di Flores. Berisi tulisan-tulisannya yang pernah dimuat di koran tersebut mengenai orang-orang yang didiagnosis mengalami gangguan kejiwaan di sekitaran daratan Flores. Orang-orang tersebut disebutnya dengan orang-orang yang Belum Kalah. Diceritakan bahwa sekalipun sudah ada himbauan agar tidak ada lagi pemasungan, namun di Flores masih dijumpai banyak sekali orang-orang sakit yang dipasung, ataupun dibiarkan berkeliaran tak terurus baik oleh keluarga maupun pemerintah melalui dinas sosial. Tanggapan sekilas saya, buku-buku dengan isi semacam ini langka, pemahaman yang dibagikan kepada pembaca baik, mengajak kita agar tidak serta-merta membuang muka terhadap orang-orang belum kalah. Hanya saja teknik pembahasaan dan penyusunan kumpulan esai ini karena hanya sekadar melampirkan tulisan-tulisan yang pernah dimuat di koran membuat bacaan ini jadi sedikit membosankan bagi saya.

3. Vegetarian, sebuah novel dari penulis Korea Selatan, Han Kang, yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Deborah Smith. Buku ini terdiri dari tiga bagian cerita. Menceritakan tentang satu orang tokoh dari tiga sudut berbeda. Bagian pertama dari sudut pandang sang suami, bagian kedua intens bersama sang ipar laki-laki, dan yang ketiga bersama saudara perempuannya. Dari tiga bagian cerita ini, saya lebih menyukai bagian pertama karena menceritakan tentang pergumulan suaminya ketika pertama mendapati tingkah aneh istrinya (meski dari awal perkenalan sudah ada tampak gejala-gejala keanehan itu). Satu bagian yang paling berjejak dalam kepala saya yakni terdapat pada paragraf 3 halaman 57.

It was early in the morning, still dark. Driven by a strange compulsion, I pulled back the blanket covering my wife. I fumbled in the pitch-back darkness, but there was no watery blood, no ripped intestines. I could hear the other patient’s sleeping breath coming in little gasps, but my wife unnaturally silent. I felt an odd trembling inside myself, and reached out with my index finger to touch her philtrum. She was alive. (Vegetarian, p 57)

4. The Goldfinch oleh Donna Tartt. Buku ini baru beberapa halaman awal yang saya baca meski sudah beli beberapa bulan lalu. Rencananya mau diselesaikan di masa liburan ini.

5. Sai Rai oleh Dicky Senda. Sai Rai adalah sekumpulan cerita pendek, dan penulisnya ini adalah juga salah satu anggota di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, satu komunitas tempat saya bergabung. Bukunya sudah selesai saya baca. Niatnya mau buat ulasan. Tapi lihat saja sendiri. Seperti yang saya tuliskan di atas, liburan natal begini mana sempat duduk untuk baca-baca kembali dan buat tulisannya.

6. Kekekalan oleh Milan Kundera. Novel ini terbilang unik. Sudah selesai saya baca. Awalnya agak rumit dimengerti, tapi perlahan-lahan akhirnya bisa diikuti dan dimengerti mau dibawa ke mana cerita ini. Membaca buku ini, ponsel pintar saya harus selalu di dekat saya. Kenapa? Tentu, saya butuh referensi.

7. Benjor, Opera Sabun, dan Cerita-cerita oleh Bayu Pratama. Buku ini berisi kumpulan cerita pendek, dengan penulisnya adalah salah satu anggota Komunitas Akar Pohon, sebuah komunitas sastra di Mataram. Ia juga salah satu peserta yang lolos dalam seleksi emerging writers MIWF bersama dengan saya tahun 2017. Hanya ini buku yang terpakai sesuai tujuan. Niatnya dibaca dan terlaksana. Cerita-cerita ini rata-rata sudah pernah diterbitkan di beberapa media baik cetak atau online. Sebagian sudah saya pernah baca juga sebelum buku ini diterbitkan.

Iklan

Cuplikan Novel Perempuan di Titik Nol

Sabtu pagi ketika pertama kali buka WA, saya melihat di bagian status, ada sebuah gambar menarik di sana dari seorang kawan, Kak Eka. Kurang jelas itu apa sebab hanya tampak gambarnya. Ketika saya buka barulah jelas ternyata itu gambar salah satu sampul buku Nawal El Saadawi, Woman at Point Zero atau yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Perempuan di Titik Nol. 

Setelah mengiriminya beberapa pesan singkat karena saya pun menyukai buku ini, saya entah bagaimana terdorong saja untuk membaca buku ini lagi. Karena tak punya buku fisiknya (yang pernah saya baca itu ada di perpustakaan sekolah dan itu yang terjemahan Bahasa Indonesia) maka saya cari pdf-nya. Syukur ketemu. Demikianlah Sabtu saya diisi dengan buku ini lagi, Woman at Point Zero.

Saya suka buku ini. Biar begitu saya tahu bagaimana mengungkapkan kenapa buku ini saya suka. Maka saya memahatkan saja bagian-bagian terpilih dari buku ini😊.

Sekilas tentang Membaca

Buku-buku terbitan Momentum

Liburan mid semester sudah usai. Buku-buku yang rencananya dibaca selama liburan belum juga selesai😢.

Abis, bacanya pake tengok-tengok internet segala, sih.”

“Biar. Supaya apa yang kau baca itu, pengetahuanmu utuh. Bukan baca satu sumber saja, ketemu istilah asing atau nama orang baru pun kau berlalu saja sok tahu begitu, padahal sewaktu selesai, baru kau bingung sendiri, apa sih sebenarnya yang saya baca tadi?” 😊

“Tapi kan jadi lama dan panjang. Apalagi kalo di wikipedia. Godaannya banyak amat. Satu kata bergoyang-goyang minta didatangi, satu kata lain tak mau kalah juga minta perhatian. Mana sesampainya di sana, ternyata ada pula anak cucu mereka yang lainnya juga cari perhatian minta disinggahi. Demikianlah persinggahanmu jadi beranak-pinak hingga berjam-jam kemudian baru kau sadar, sebenarnya tadi saya simpan buku sementara untuk buka internet ini buat cari kata apa sih?” 😱😭

Letter to My Daughter dan Kritikus Adinan

Berikut sedikit catatan setelah membaca dua buku karya dua orang sesepuh. Letter to My Daughter oleh Maya Angelou dan Kritikus Adinan oleh Budi Darma. Baiklah saya anggap kedua orang ini satunya ibunda satunya lagi bapak. 😀 Toh, dalam Letter to My DaughterMaya Angelou sudah membaptis saya sebagai salah satu anak perempuannya di antara anak-anak perempuan yang tersebar di bawah kolong langit ini, sementara Bapak Budi Darma adalah seorang yang mengulas karya-karya kami di salah satu sesi  MIWF 2017, sebuah kegiatan tahunan yang diadakan Rumata’ ArtSpace, dalam satu kalimat yang ia lontarkan sebelum kami tampil, ia menyebut kami sebagai anak-anaknya… ♥  😊 😀

Mari kita mulai dari Letter to My Daughter. Maaf, saya tidak membuat ringkasannya lagi sebab  itu sudah ada di independent  dan allreaders selain beberapa tautan yang saya sertakan dalam tulisan ini. Sebaliknya karena buku ini serupa surat,  maka catatan saya pun dalam bentuk surat balasan singkat. 😊

Dear, Ibunda Maya Angelou

Terima kasih untuk suratnya. Telah saya baca sampai selesai. Terima kasih, bahwa saya adalah salah satu anak perempuan yang beruntung mendapat surat darimu. Terima kasih telah berbagi ceritamu yang luar biasa dengan kami, anak-anak perempuan di berbagai belahan dunia, apalagi contohnya saya yang nama tempat asalnya saja tak pernah kau dengar atau bayangkan bahkan dalam mimpi sekalipun. 😀  🙂

Cerita tentangmu luar biasa. Sungguh mengagumkan. Betapa peristiwa-peristiwa yang singgah dalam hidupmu membuatmu semakin kuat dan tegar. Biarlah dari ceritamu kami anak-anak perempuan di berbagai belahan dunia ini belajar meneladani semangat yang telah kau tunjukkan.

Salam hormat penuh kasih,

Anice  🙂  🙂

Baiklah, tak hanya berupa balasan surat. Sebelum mengakhiri, saya ingin juga mengutip bagian yang paling saya suka di bagian pengantar (hal. ix).

Hidupku sudah lama, dan memercayai bahwa kehidupan menyukai orang-orang yang hidup, maka aku berani mencoba banyak hal, kadang dengan gemetar, tetapi tetap memberanikan diri. Di sini, aku hanya memasukkan kejadian-kejadian dan pelajaran-pelajaran yang menurutku berguna. Aku tidak menjelaskan bagaimana aku menggunakan solusi-solusi karena aku tahu kau pintar, kreatif, banyak akal, dan kau akan menggunakannya di saat yang tepat.

Maya Angelou tahu saja, saya tak begitu suka membaca petuah-petuah yang bersifat memaksa semacam kata orang-orang yang bilang harus begini begitu seolah-olah manusia di dunia ini seragam segala-galanya sampai yang paling detail sekalipun.

Selanjutnya kita melangkah ke buku kedua, Kritikus Adinan, kumpulan cerita Bapak Budi Darma.

Buku ini saya bawa pesiar-pesiar ke Malang tapi tak sempat diselesaikan. Baru sempat dibaca lagi ketika sudah mulai memasuki masa liburan. Di hari pertama liburan, saya bawa jalan-jalan lagi ke Sekolah Lapangan Nekamese, salah satu tempat wisata di Kupang. Baru di sanalah sambil menunggu anak-anak wali salah seorang rekan guru , Ibu Pia M, yang sementara berenang, sempat saya buka lagi dan lanjutkan.

Kritikus Adinan di bawah lopo di area Sekolah Lapangan Nekamese

Kritikus Adinan dengan latar beberapa anak-anak wali Ibu Pia yang sedang berenang sementara anak-anak lainnya di bawah lopo seberang atau berjalan-jalan menikmati area sekitar SL Nekamese

Kritikus Adinan diterbitkan Bentang Pustaka pada Mei 2017. Pernah diterbitkan juga dengan judul Laki-laki Lain dalam Secarik Kertas pada tahun 2018. Di dalamnya terdiri atas 15 cerita. Dua di antaranya yakni Kritikus Adinan (yang menjadi judul buku) dan Bambang Subali Sudiman dapat dibilang cerita yang panjang.

Buku ini dibuka dengan pengantar yang menarik, Pengarang dan Obsesinya. Menceritakan tentang sang penulis ketika mengikuti beberapa kegiatan yang juga dihadiri para pekerja seni lain, membawanya kepada hasil perenungan terkait pertanyaan-pertanyaan yang kerapkali singgah dan berkecamuk dalam kepalanya terutama mengenai hakikat   kehidupan.

Kesimpulan saya seusai menuntaskan buku ini adalah saya tak habis berpikir. 😀 Memang inilah seorang Budi Darma, dengan keistimewaan dan perspektifnya. Hampir semua cerita ini memberikan ending yang serupa. Menyisakan sesuatu untuk terus dipikirkan sendiri oleh pembaca. Kalau kau tak mau berpikir maka kau bingung. Ya, jelas bingung seperti halnya yang sedang saya alami sekarang. Cerita-ceritanya seperti hanya ada dalam mimpi. Seperti ketika kau mengalami mimpi di malam hari, dan sebagaimana dalam mimpi, film yang dihadirkan kepadamu agak tak begitu jelas alurnya, absurd, dari mana dan hendak ke mana, siapa sosok jelas dalam film itu dan apa maksud kehadirannya hanya menyisakan kepadamu pertanyaan-pertanyaan tatkala kau bangun di pagi hari. Agak berbau horor dan bernuansa gelap. Agak menyeramkan sebenarnya sewaktu membaca, tapi saya menikmati saja sebab cerita-cerita semacam inilah cerita bergizi bagi jiwa, membawa untuk lebih dalam lagi menghayati tentang hidup, bukan basa-basi yang sekadar lewat lalu lenyap.

Di luar itu, yang cukup mengganggu bagi saya — namun sebenarnya di situlah salah satu letak kelebihan sekaligus ciri khas Bapak Budi Darma — sewaktu membaca adalah nama-nama yang disematkan kepada tokoh-tokoh dalam ceritanya. Dalam beberapa cerita, karena tidak memberi nama secara langsung, misalnya Ani, Beni, Candra, Dedi, dsb, kita harus bersabar dan mengikuti saja sebutan panjang yang disematkan sang penulis seperti Penyair Besar, Penyair Kecil, Prajurit Terendah, Jenderal Tertinggi, Laki-laki Setengah Umur, Laki-laki Berbaju Hitam, Laki-laki Berbaju Putih, Laki-laki Tua Ompong, Laki-laki Bermata Besar-Berkuping Besar-Bertangan Besar. Agak ribet dan cukup membuat pusing juga bacanya. 😀 But, it’s ok. 😉 🙂

Demikian sedikit catatan terkait Kritikus Adinan dari Bapak Budi Darma. Btw, saya sendiri adalah salah satu pengagum bapak ini sejak mengenal yang namanya sastra. Jangan heran lantas melontarkan tanya, “kok bisa?” kalau kau pernah mendengar satu pengalaman konyol saya beberapa tahun silam, ketika hanya karena mau memotret langsung wajah bapak satu ini dengan kamera yang saya bawa, saya mesti melakukan aksi lompat pagar di belakang gedung IKJ atau DKJ entahlah saya tak begitu bisa membedakan antara keduanya (mungkin cerita khusus tentang ini akan ada di postingan lainnya 😀 :)). Salam hormat penuh kasih padamu, Bapak Budi Darma.

NB: Bonus foto saya bersama Bapak Budi Darma seusai sesi kami di MIWF 2017, 19 Mei 2017 di Museum I La Galigo, Fort Rotterdam, Makassar 😉 🙂

IMG20170519121150

 

 

Cinta yang Marah, Trilogi Soekram, dan Pulang

IMG_20170520_205624

Bersama buku puisi Cinta yang Marah dengan penulisnya, M. Aan Mansyur

Salah satu dari sekian buku yang saya bawa pulang dari MIWF 2017 berjudul Cinta yang Marah. Buku bersampul merah ini berisi puisi-puisi Aan Mansyur, penulis puisi-puisi Rangga (;) :D) dalam film AADC2, dan juga merupakan salah satu kurator dalam seleksi emerging writers MIWF 2017. Buku puisi ini salah satu dari empat buku yang baru diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dan diluncurkan di MIWF 2017.

Setelah sebelumnya pernah dihadirkan Melihat Api Bekerja yang disertai ilustrasi-ilustrasi unik, maka buku puisi lain dengan penulis yang sama kali ini pun dihadirkan dengan disertakan potongan-potongan berita peristiwa Mei ’98. Saya mengakui walau saya menulis cerpen dan menikmati puisi,  tapi justru di sini saya lebih terdorong membaca dan mengikuti potongan berita-berita dalam buku bersampul merah ini. 🙂 😀

Dari potongan berita-berita inipun ‘memaksa’ saya mau tak mau mesti kembali melanjutkan dua novel yang sudah saya beli tahun 2016 lalu tapi belum sempat saya selesaikan.  Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono dan Pulang karya Leila S Chudori. Dua novel yang pernah saya intip kemudian saya tutup karena menurut saya tak begitu menarik (baru saya sesali kemudian setelah intens mengenal mereka… :D)

IMG20170527152023Soekram, trilogi ini awalnya saya pikir serupa trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Tetapi rupanya berbeda. Soekram di sini berisi tiga cerita berbeda yang tidak ada sangkut paut satu sama lain selain bahwa ia adalah tokoh rekaan seorang pengarang yang sudah mati (begitu ia mengaku).

Di cerita pertama, Pengarang Telah Mati, Soekram adalah seorang dosen muda yang baru pulang dari luar negeri diperhadapkan dengan huru-hara kota Jakarta Mei 98 yang mana para mahasiswa terlibat demo dan ia sendiri walau awalnya tak tahu-menahu tentang keriuhan itu dipaksa mahasiswanya ikut memberi pendapat dalam rapat-rapat yang digelar. Ia serupa tokoh pasif yang bercerita apa saja yang tampak oleh matanya dan yang ia rasakan. Sewaktu membaca ini saya masih agak sedikit kesal kenapa cerita-cerita dengan latar belakang tersebut masih baru menyentuh hanya tentang tokoh-tokoh yang palingan menjadi korban saat terjadinya peristiwa tersebut, tanpa atau kurang berani menyentuh, misalnya, tokoh utama adalah tentara atau polisi yang bertugas.

Berikut cerita kedua, Pengarang Belum Mati, adalah cerita yang cukup rumit menurut saya. Tokoh Aku, sang editor, seperti baru tahu kalau sahabatnya, pengarang tokoh rekaan Soekram, sebenarnya belum mati. Lalu draft-draft cerita Soekram ditemukan kembali, berlatar belakang tahun 1965 dan cerita ini serupa membaca sebuah catatan mimpi yang terkadang seolah tidak terang ujung pangkalnya. Ada keikutsertaan Soekram dalam rapat-rapat organisasi, ada ayahnya di kampung pengagum sosok pemimpin besar revolusi dan pengikut partai tanda segeitiga kepala banteng, adiknya yang ditangkap polisi karena membela petani, seorang teman kulihnya, Maria, yang pandai berdeklamasi, yang lalu membawanya mengenal Nengah, seorang anak Bali, kunjungan ke gua, dan yang agak membingungkan adalah aulia, yang katanya adalah sahabat dan gurunya, lalu tentang padang pasir, ada tiadanya larangan mengunyah pasir. Jelas bagian kedua buku ini seperti sebuah catatan spontan tentang mimpi, yang unik dan cukup entah dimengerti atau tidak tetap saja ia sebuah karya yang aduhai.

Di cerita ketiga, Pengarang Tak Pernah Mati, Soekram mengembangkan sendiri ceritanya. Dalam cerita yang ia ciptakan, ia bertemu Datuk Meringgih, juga Siti Nurbaya di tanah Minang. Bagian ini agak menggelitik. Sebab cerita asli karangan Marah Rusli ini ‘dipelintir habis-habisan’ oleh Soekram menjadi kisah Siti Nurbaya versi Soekram, sebuah cerita unik tentang kisah cinta atau kekaguman seorang remaja perjamuan terhadap seorang tua yang adalah paman sahabatnya.

Demikian kurang lebihnya sinopsis tentang Trilogi Soekram ini. Selanjutnya adalah kejeniusan pengarang, dalam hal ini Sapardi Djoko Damono, menempatkan pikiran-pikiran liarnya. Memanfaatkan sesuatu yang sederhana hingga bisa tercipta sebuah trilogi yang patut diacungi jempol.

Buku berikutnya adalah Pulang karya Leila S Chudori. Saya sudah tak begitu ingat kapan tepatnya buku ini saya beli. Seingat saya, seusai membeli dan membawa pulang buku ini, saya sempatkan diri membaca saat itu juga. Sekilas mengamati secara cepat dan keseluruhan buku ini bagi saya bagus karena menyertakan referensi-referensi penting untuk selanjutnya bisa dikenal dan dicaritahu pembaca. Hanya ketika baru awal-awal membaca, saya sudah memutuskan untuk tak melanjutkan. Dalam hati saya mengomel, kenapa selalu buku-buku sastra yang dipuja-puji bagus, yang mendapat berbagai penghargaan mesti (sering) dibumbui yang bersifat dewasa.  Bagaimana saya bisa rekomendasikan anak-anak SMP untuk membaca sebuah cerita yang  bagus kalau patokan cerita yang bagus selalu seperti itu. Begitu pikir saya (:D) sewaktu membaca di awal-awal buku Pulang mengisahkan tentang pertemuan Dimas Suryo dan Viviane di antara keriuhan mahasiswa Sorbonne Mei 1968. Jadilah buku itu saya simpan untuk beberapa lama hingga setelah membaca Cinta yang Marah dengan alasan bahwa buku Pulang ini juga menyimpan kisah tentang sekalian peristiwa ‘65 (seperti halnya Ronggeng Dukuh Paruk) dan peristiwa Mei ’98 (cerita pertama trilogi Soekram).

Dengan kembali mengambil Pulang dan tekad menuntaskan cerita-cerita berlatar peristiwa ’65 dan ’98 itulah, baru kemudian muncul rasa kagum dan salut saya atas usaha dan keberanian penulis novel Pulang. Novel ini sungguh luar biasa. Menyajikan dengan terang (setidaknya tidak terlalu gelap :D, ah, saya pun sebenarnya tak terlalu tahu apa itu terang dan gelap di sini). Novel ini tak hanya kaya, tapi juga ideal. Patut ia mendapat penghargaan KLA 2013. Namun justru terlalu ideal dan sangat ideal itu pula yang menurut saya adalah kekurangannya, kekurangan yang positif bisa jadi. Rasanya seperti mustahil menemukan dalam kehidupan nyata di mana orang-orang berpikiran dan berpendapat ideal. Apa-apa selalu diingatkan dengan nama seorang tokoh ini tokoh itu, masakan ini masakan itu punya filosopinya masing-masing. Andai saja setiap orang, siapapun dia di dunia nyata punya karakter seperti tokoh-tokoh dalam Pulang. Sungguh, intelek sekali orang-orang yang bahkan kita jumpai di pinggir jalan atau di atas bemo atau di dalam pasar atau di mana saja. 😀

Selain kekurangan terlalu ideal itu, bagi saya kekurangan lainnya adalah katanya ia bicara Indonesia, tapi disayangkan bahwa Indonesia yang dibicarakan di sini tiada lain dan tiada bukan hanya berkisar di seputaran pulau Jawa. Paling juga ada nama Sumatra ia sisipkan dengan adanya tokoh Risjaf, atau Sulawesi dengan nama kopinya yang harum mewangi itu. Sayang sekali bahwa hanya itu Indonesia yang ia tahu dan resapi. Sementara Indonesia bukan hanya sebatas itu, bukan? 🙂 Tapi, sudahlah. Mungkin memang harus begitu. Dan biar begitu supaya dapat dikatakan bahwa, baiklah, kalau tokoh-tokoh dalam novel itu terlalu sempurna untuk ditemui di dunia nyata, maka secara keseluruhan novel itu tidaklah sempurna. Ini masih kerja manusia. Kalau terlalu sempurna, bisa-bisa membuat orang tak percaya, ini hasil kerja manusia ataukah makhluk apa, kok bisa sebegini sempurna? Maka, belajar dari kekurangan (yang bagi saya juga justru di saat yang sama kekurangan tersebut menjadi kelebihan novel ini sebab ia  masih mau menunjukkan biarlah supaya orang membaca ini apa adanya, janganlah terlalu sempurna karena kalau terlalu sempurna bisa membuat orang tak percaya dan menganggap ini terlalu membual) ini, mungkin bisa menantang ada lagi orang-orang dari bagian Indonesia yang lain untuk berani membuat cerita dengan latar serupa yang selama ini belum terdengar secara luas dan terbuka, supaya jangan dikira bahwa yang bergejolak pada saat-saat itu hanyalah di daerah-daerah yang itu-itu saja, sebab di titik-titik Indonesia yang lain di luar sana, pernah terjadi juga peristiwa serupa yang memakan banyak sekali korban, mereka-mereka yang sebenarnya tak tahu menahu tentang situasi politik yang ada namun ikut-ikutan dituduh hingga akhirnya mesti mati sia-sia, baik dari yang terlibat secara langsung atau pun sebagai sanak ataupun sebagai keturunan yang pada persitiwa tersebut, bahkan sama sekali belum direncanakan oleh orangtuanya pun, harus ikut-ikutan didiskriminasi hampir dalam segala aspek khususnya urusan negara atau pemerintah.

Demikian kurang lebih banyak hal baru yang dapat dipelajari dari novel Pulang, baik isi maupun teknik penulisannya. Sedemikian amazing novel ini sampai membuat saya lupa alasan pertama kenapa saya tidak segera menyelesaikan langsung bacaan ini begitu saya baca. Tternyata baru saya sadar ada yang jauh lebih berharga daripada sekadar alasan misalnya kau tak mau melanjutkan makananmu yang disajikan ala resto bintang 5 hanya karena kau melihat ingus kuning atau mendengar atau membaui kentut seseorang di sampingmu. Permisalan lainnya adalah begini,  ketika kau membaca Pulang, dari dua hal yang disodorkan padamu yakni jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kisah kelam di balik tragedi ’65 dan ’98, manakah hal paling penting, utama, dan urgent yang kira-kira mau disampaikan penulis, adalah pilihan masing-masing pembaca. (y) Selamat membaca,  selamat memilih, selamat belajar.😇😉😊

“Boo Radley” dan “Radley Place” versi Anice

Telah banyak novel bagus (yang sudah dibaca maupun yang belum, yang diketahui maupun tidak sama sekali), dan masih akan datang juga novel-novel bagus. Tapi parsetan dengan semua itu. Saya hanya punya satu novel yang menjadi favorit, To Kill a Mockingbird dari Harper Lee. Dan betapa senang hati saya ketika di bagian pembuka film  Almous Famous, Cameron Crowe menampilkan tokoh utama dan ibunya yang membicarakan tokoh-tokoh dalam To Kill a Mockingbird, sekaligus lewat tokoh sang ibu, ia menegaskan bahwa Boo Radley adalah tokoh paling menarik dalam novel karya Harper Lee itu. Saya setuju dengannya 100 persen♥♥♥.

boo radleyMemang tokoh favorit saya adalah Jean Louse alias Scout, tetapi cerita itu akan kurang berkesan kalau tak ada Boo Radley dengan pekarangan Radley Place di sana. Di ulasan-ulasan lain tentang Too Kill a Mockingbird, mereka lebih menyoroti tentang sang ayah yang membela orang kulit hitam. Tapi bagi saya, itu adalah kisah mereka di sana (Amerika) pada waktu itu (tahun 1930-an). Saya kurang memiliki kedekatan dengan kisah-kisah demikian. Ketertarikan saya dan kedekatan saya adalah keseharian Jean Louse bersama abangnya, Jem, dan kawan bermain mereka, Dill, dengan tempat misterius yang mereka sebut Radley Place.

Radley Place terletak tiga rumah di sebelah selatan rumah mereka. Tempat itu adalah batas jarak bermain musim panas tatkala Scout berusia enam tahun dan Jem hampir sepuluh. Sekalipun rumah itu terbilang tetangga mereka, namun di benak Scout, tempat yang aneh dan menyeramkan. Menurutnya, Radley Place dihuni makhluk tak dikenal yag gambarannya saja cukup membuat mereka menjaga kelakuan selama berhari-hari.

Radley Place tak pernah dibuka pada siang hari atau pada hari Minggu (sebuah kebiasaan yang bertentangan dengan Maycomb di mana pada hari-hari Minggu pintu rumah dibuka untuk dikunjungi pada sore hari).

Sekalipun misterius dan menyeramkan, tempat itulah yang harus mereka lalui setiap pergi dan pulang sekolah kalau tak mau mengitari kota yang jaraknya lebih jauh beberapa kali lipat. Namun karena menganggapnya misterius dan menyeramkan, setiap kali pergi atau pulang sekolah, mereka selalu melewati tempat itu dengan berlari.

Kata orang-orang, bahkan orang negro tak akan melewati Radley Place malam-malam, sebab lebih baik melintas ke trotoar seberang dan bersiul sambil berjalan. Pekarangan sekolah Maycomb berbatasan dengan sisi belakang tanah Radley; dari kandang ayam Radley, pohon kacang pecan yang tinggi menggugurkan buahnya ke pekarangan sekolah, tetapi kacang-kacang itu bertebaran tak tersentuh oleh anak-anak. Kacang pecan Radley bisa mematikan. Bola bisbol yang terpukul masuk ke halaman rumah Radley berarti hilang dan tak perlu dipertanyakan. (hal 23)

Kedua kakak beradik itupun tak mau berurusan banyak dengan tetangga mereka apalagi setelah diperingatkan ayah mereka, Atticus, selain bahwa pohon di depan rumah Radley memiliki ceruk yang di sana sering ditemukan permen, dan aneka permaianan, boneka sabun, medali berkarat, atau keping tua koin Indian, dan barang-barang itu (kecuali permen yang langsung dikunyah) disimpan dalam satu peti khusus. Suatu kali ketika Jem dan Scout bersepakat memberikan surat permintaan terima kasih, ternyata di ceruk pohon itu sudah ditutupi semen oleh sang kakak dari keluarga Radley. Sedih mereka bukan main.

Dengan kedatangan kawan bermain musim panas mereka, Dill, intensitas mereka dengan Radley Place semakin meningkat. Kepada Dill, mereka teruskan cerita tentang situasi tetangga mereka yang mereka dengar dari cerita orang-orang dewasa yang beredar.

Katanya, di dalam rumah itu tinggal sosok hantu jahat. Makanannya adalah tupai dan kucing yang disantapnya mentah-mentah. Matanya melotot, giginya kuning, dan air liurnya menetes hampir sepanjang waktu. Setiap kejahatan di Maycomb, selalu yang dipelototi adalah penghuni Radley Place, walaupun pada akhirnya diketahui jelas adalah ulah orang lain.

Bersama Dill, mereka pun menduga-duga kira-kira apa yang sedang terjadi di dalam rumah. Mengisi waktu liburan musim panas dengan bermain peran, di antaranya memerankan penghuni Radley Place. Saling menantang satu sama lain, siapa berani berlari masuk ke halamannya, siapa berani melewai gerbangnya, siapa berani menyentuh pintu rumahnya, hingga memunculkan perdebatan dan ejekan tentang kepercayaan tentang sesuatu yang disebut sebagai uap panas (kalau di Indonesia biasa disebut kuntilanak atau kalau di Kupang dengan buntiana–mungkin dari kata perempuan bunting anak kecil barangkali…:D, kalau kau berjalan dan tiba-tiba merasa bulu kudukmu merinding maka diduga dianya ada di sekitar situ, dan peringatan karena dia biasanya berdiri merentang di jalan-jalan yang sepi, maka kalau nasibmu menabrak dia maka kau bisa-bisa jatuh sakit. Maka itu, kalau Di Maycomb, dua kakak beradik ini punya mantra untuk mengusir uap panas, maka kita orang-orang sini (dan mungkin termasuk saya (:D)) mengusirnya dengan mengucap diam-diam doa Bapa Kami atau berkomat-kamit, ‘dalam nama Yesus,’ berkali-kali… 🙂 :D). Selama bersama Dill, selalu saja ada ide untuk kalau bisa memancing keluar orang yang disebut sebagai Boo Radley. Hingga di suatu malam, tanpa keikutsertaan Scout, Jem dan Dill berangkat sendirian demi mendekat ke jendela rumah yang diduga adalah tempat Boo Radley berada. Misi gagal. Justru yang terjadi adalah sang kakak dari keluarga Radley keluar membawa senapan dan membuat bunyi tembakan di malam sepi yang tentu saja mengagetkan warga Maycomb. Jem dan Dill berusaha keluar melewati pagar kawat belakang yang bersisian dengan pekarangan sekolah, sayang celananya tersangkut. Takut dikejar, ia tinggalkan celananya di sana. Keduanya mendekati kerumunan di depan rumah Radley dengan Jem yang tak bercelana. Kepada sang ayah, mereka mengaku sedang bermain dan taruhan, yang tentu saja membuat tante Dill geram. Malam itu sebubarnya kerumuman, sekalipun takut dan tak pernah sepanjang hidupnya menyentuh pekarangan Radley, Jem nekat keluar malam-malam demi mengambil kembali celananya yang tertinggal. Scout menunggu abangnya dengan gelisah, namun lega dan ikut senang ketika abangnya pulang dengan sudah bercelana. Anehnya, Jem tak bicara apa-apa tentang bagaimana ia mendapatkan kembali celananya itu. Hingga mendekati akhir cerita, barulah ia mengaku kepada Scout, malam itu ketika ia tiba di pagar belakang rumah Radley, didapatinya celana yang tadi tersangkut itu sudah dalam keadaan terlipat rapi, hanya ketika ia menengok ke sekitar tak ada tanda siapa-siapa di sana. Hal itulah yang membuat dia bungkam bertahun-tahun.

Di malam Halloween, terjadi insiden sepulangnya Jem dan Scout dari gedung sekolah. Dalam lingkup kegelapan, kedua kakak beradik ini menyusuri jalan pulang ke rumah. Di tengah jalan mendekati pohon di depan Radley Place, mereka disergap orang tak dikenal. Scout jatuh tergiling-guling, tangannya digencet keras, dan Jem pingsan hingga tangannya patah. Mereka mungkin saja bisa mati kalau saja tak datang seseorang lain yang muncul di dalam gelap itu. Jem yang pingsan diseret oleh seseorang menuju rumah. Scout meraba-raba dalam gelap dan melangkah mengikuti mereka menuju rumah. Saat kostumnya dibuka, barulah ia tahu yang menyeret Jem adalah seorang lelaki desa yang mungkin saja datang di acara Halloween dan belum pulang. Lelaki itu diam saja semenjak tiba.

Dokter dan sheriff Maycomb yang ditelpon datang. Setelah melihat penyerang anak-anak yang tergeletak di bawah pohon depan rumah Radley, ia datang dan mencoba mencari informasi detail dari Scout. Scout menceritakannya sebagaimana yang ia tahu. Ketika ditanya sheriff, siapa orang baru yang terhuyung-huyung dan terengah-engah dan batuk-batuk seperti mau mati, setelah Scout merasa lepas dari gencetan sang penyerang, ditunjuknya lelaki yang sedang berdiri di sudut itu. Orang desa itu bersandar di dinding. Perawakannya kurus, tangannya putih, putih pucat yang tak pernah kena matahari, wajahnya putih, seputih tangannya, bercelana keki yag dikotori pasir, berkemeja deniim yang robek, pipinya cekung, mulutnya lebar, ada lekukan dangkal di pelipisnya, dan mata kelabunya demikian tak berwarna sehingga Scout sempat mengira dia buta, serta rambutnya yang lepek dan tipis. Saat Scout menudingnya, telapak tangan orang itu bergerak sedikit, meninggalkan noda keringat berminyak pada dinding, dan dia mengaitkan jempolnya pada ikat pinggangnya. Tubuhnya terguncang bersama kejang kecil yang aneh, seolah- dia mendengar kuku menggaruk papan. Namun saat Scout mulai memandangnya dengan takjub, ketegangan perlahan mengendur dari wajahnya, bibirnya membuka menjadi senyuman malu-malu, dan sosok tetangga yang selama ini hanya samar-samar di benaknya baru malam itu hadir nyata di depannya. Demikian dengan spontan ia menyapa, “Boo,” yang segera dikoreksi ayahnya, “Mr. Arthur, Sayang. Jean Louse, ini Mr. Arthur Radley…”

Mr. Arthur alias Boo inilah yang telah menyelamatkan nyawa kakak beradik Finch dari serangan preman mabuk di malam Halloween. Sayang bahwa di kejadian itu, bukan sementara libur musim panas sehingga Dill tak ikut berada bersama mereka.

***

Berbicara tentang Radley Place, saya pun punya cerita tentang Radley Place versi saya, sebut saja Radley Place versi Anice. 😀

Radley Place pertama adalah Sonaf di desa kami. Sonaf dalam bahasa Dawan (Timor) berarti istana raja. Lokasi sonaf itu tepat di depan rumah saya. Ia tidak besar sebagaimana sonaf-sonaf pada umumnya karena hanya merupakan tempat singgah sang raja kalau berkunjung mengawasi para pekerjanya yang tersebar di berbagai pelosok kerajaan sewaktu wilayah kecamatan masih berbentuk kerajaan. Sonaf itu tak lagi berpenghuni. Ia hanyalah sebuah gedung tua dengan pekarangan yang tak terawat dan atap-atap seng yang sudah merapuh. Pintu dan jendela ruang tamu pun sudah terbongkar satu-satu. Sekali-sekali memang pewaris-pewaris raja datang menengok, tapi itupun hanya sebentar, dan untuk mengambil hasil tanaman yang kebetulan sedang pada musimnya. Orang-orang sering bilang, jauh di dalam kamar-kamar tersembunyi ada sepasang manusia dengan peliharaan binatang aneh yang tidur di atas tumpukan emas. Katanya kalau kau ingin kaya, datangi saja tempat itu tepat di jam 12 malam. Hanya tak ada orang yang berani karena mereka tahu pasti harus ada tumbal untuk itu.

Luas sonaf adalah satu lokasi kompleks rumah-rumah kami, 7500 m2. Di kompleks rumah kami, tanah dengan luas 7500 m2 itu bisa diisi 12 rumah. Rumah kami tepat berada di sisi timur sonaf. Area itu ditumbuhi rerumpun pisang, kelapa, aneka pohon buah dan obat, serta juga semak-semak. Bagian ini tidak terlalu menakutkan. Hanya yang menjadi senter pembicaraan baik anak-anak kecil maupun orang dewasa adalah bagian depan sonaf yang langsung berhadapan dengan kebun-kebun kelapa, atau pinang, rerimbun pohon pisang, dan beberapa pohon besar, serta sebuah danau kecil. Tak ada orang yang akan melewati bagian depan sonaf itu di malam hari sekalipun itu adalah jalan lintas desa. Apabila lewat, maka harus berdua. Atau orang akan memilih melintasi bagian belakang sonaf yang samping kirinya berjejer rumah-rumah.

Sama seperti cerita Scout tentang Radley Place dan sekolah, semenyeramkan apapun sonaf bagi orang-orang desa, kami tetap harus pulang pergi melewati bagian depan sonaf. Dari rumah, saya harus berjalan 25 meter ke arah utara di mana di situ ada pertigaan. Dari pertigaan, saya tinggal berjalan lurus saja ke arah barat sejauh 200 meter dan tiba di sekolah.

Sewaktu duduk di bangku TK dan SD, di hari-hari pertama sekolah, saya harus diantar orang tua melewati sonaf. Melewati lebar sonaf yang berukuran 100 meter itulah saya akan merasa lega dan bisa berjalan sendiri ke sekolah. Kalau sepulang sekolah, setiap anak yang akan melewati sonaf harus saling menunggu satu sama lain barulah beramai-ramai kami melewati sonaf. Begitu rutinitas kami setiap hari selama di bangku TK dan SD. Pernah sekali (saya lupa kelas berapa), kelas kami terlambat keluar, anak-anak lain sudah pulang lebih dahulu. Karena di kelas kami, tinggal kami dua orang yang rumahnya harus melewati sonaf, maka kami memilih jalur melewati belakang sonaf, di mana pertama-tama kami harus menuju ke selatan, barulah melintasi belakang sonaf, kemudian kembali ke utara. Kalau memang dalam keadaan terpaksa dan mendesak harus melintasi bagian depan sonaf, maka saya melakukan apa yang juga dilakukan Scout ketika melewati Radley Place, berlari, hingga tiba di ujung sonaf yang berbatasan langsung dengan lapangan desa, dan baru merasa lega. 😀 Namun itu hanya berlaku untuk siang hari, tak pernah di waktu malam.

Radley Place kedua adalah satu rumah di puncak bukit di daerah Walikota, Kupang. Waktu itu saya belum bersekolah. Saya sempat lama tinggal di Walikota bersama tante saya. Kalau di sonaf, kami tak pernah mengisengi tempat itu, kebalikan di Walikota, ketika tiba senjad hari, bocah-bocah yang tinggal di Jalan Sam Ratulangi (saya lupa Jalan Sam Ratulangi nomor berapa, kala itu masih sepi) mulai berkumpul di jalan di bawah bukit. Kerumuman itu terdiri dari anak-anak yang hampir semuanya berada di kisaran usia yang tidak terpaut jauh.

Aksi yang dilakukan di sana adalah berencana siapa yang memimpin, siapa yang mengatur kapan harus jalan dan kapan harus kembali berlari menjauh. Kemudian beberapa anak akan mengambil batu-batu kecil dan melemparinya ke halaman rumah. Di antara mereka saling menantang, siapa yang berani berjalan memasuki pekarangan rumah, siapa yang berani menyentuh pintu rumah, siapa yang bisa melempari dengan batu mengenai salah satu daun jendela, siapa yang bisa melempari dan mengenai atap rumah dan sebagainya. Apabila salah satu di antaranya berhasil mengenai sasaran, maka semua kami akan berdecak kagum, bertepuk tangan, lalu berlari secepat dan sejauh mungkin menghindari rumah tersebut, menunggu apa atau siapa yang akan keluar dari dalam rumah itu. Bila rumah itu tetap diam, maka pelan-pelan kami akan mendekat lagi untuk beberapa orang di antara kami kembali saling menantang dan mengulangi lagi aksi melempar dengan batu kecil atau berteriak mengganggu siapa yang di dalam rumah agar berani keluar memunculkan diri.

Sampai saya meninggalkan Walikota untuk masuk sekolah, saya tak pernah tahu apa latar belakang rumah di puncak bukit Walikota itu menarik perhatian kami. Hanya samar-samar saya ingat bahwa setiap sore akan ada beberapa pasang burung merpati yang beterbangan di atap rumah tersebut.

Demikian sedikit cuplikan tentang Boo Radley dan Radley Place versi Anice, bertolak dari tokoh Boo Radley yang ditegaskan Cameron Crowe melalui salah satu tokoh filmnya sebagai tokoh paling menarik dalam buku To Kill a Mockingbird karya Harper Lee.

Antara Film “Almost Famous” dan Novel “To Kill a MongkingBird”

Almost_famous_poster1Berikut ini sedikit cerita tentang satu lagi film yang berkaitan dengan menulis selain Finding Forrester dan The Freedom Writers atau satu film Korea yang berjudul It’s Ok, That’s Love, yakni Almost Famous.

Bagian pembuka film ini langsung menyedot perhatian. Bagaimana tidak, ketika menampilkan tokoh utama (William Miller) dan ibunya yang sedang berjalan menyusuri area pertokoan San Diego, langsung dimulai dengan percakapan tentang tokoh-tokoh dalam novel To Kill a Mockingbird dari Harper Lee (walau mereka sama sekali tidak menyebut tokoh favorit saya, Jean Louise Finch alias Scout :()

cover of to kill a mockingbird

Sumber: Amazon

Sang ibu mengaitkan anaknya dengan Atticus Finch, ayah Scout. Sang anak menanggapi balik karena ia memang menyukai pengacara Maycomb yang jujur, tetap teguh mempertahankan kebenaran, sekaligus seorang ayah yang baik tersebut. Ditanyai ibunya, apa maksudnya dari ayah yang baik, sang anak menjawab, walau sendiri ia mampu membesarkan anak-anaknya, yang langsung disanggah balik sang ibu, siapa perempuan yang datang setiap hari ke rumah mereka? Calpurnia, sahut sang anak. Ya, kau mengingatnya, gumam sang ibu.  Lalu bagaimana dengan Boo? Kembali tanya sang anak dengan penasaran. Boo adalah tokoh paling menarik dalam cerita To Kill A Mockingbird, jawab sang ibu yang kemudian menarik kembali tangan anaknya untuk mundur karena melihat sesuatu yang janggal pada kaca satu toko aksesoris natal.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sang ibu tanpa sungkan menegur pekerja toko tersebut yang menulis Merry Xmas pada kaca jendela tokonya. Excuse me, I’m a teacher, katanya memperkenalkan diri. Xmas’ is not a word in English language. It’s either Merry Christmas.. or Happy Holidays. Sang pekerja yang sedang melabur kata-kata itu hanya melongo lantas berterima kasih atas saran dari seorang ibu tak dikenal tersebut. 😀

Menit-menit selanjutnya berkisah tentang sang anak tersebut yang memiliki keinginan besar untuk menjadi jurnalis khusus meliput musik rock n roll yang sebaliknya ditentang oleh ibunya yang adalah profesor psikologi di universitas. Sebagai orang yang menggeluti psikologi ia tahu benar seperti apa model dan kehidupan para musisi rock n roll itu. Namun demikian, ia tetap teguh menemui seorang mentor yang mendukungnya menulis serta memberikan sedikit gambaran bagaimana gambaran tentang jurnalis di dunia rock n’ roll. Kepada mentor itulah ia selama di bangku sekolah sudah sering mengirim artikel-artikelnya untuk dimuat di majalah lokal yang dipimpinnya.

Dimulai dengan perkenalan dengan satu grup gadis-gadis pecinta musik, ia pun bertemu dengan grup Stillwater. Dari sanalah ia kemudian mengikuti tur mereka dan mengetahui segala seluk beluk kehidupan para musisi rock n’ roll yang sebenarnya. Di tengah tur, kabar dari datang dari Rolling Stone, foto awak grup band Stillwater akan tampil di cover depan, sebuah kabar yang menguakkan rasa haru dan kegembiraan luar biasa.

Di akhir tur, hasil tulisannya diserahkan dan itu dinilai bagus awalnya oleh pimpinan Rolling Stone. Sayang, karena tak mau reputasi bandnya hancur, ketika dikonfirmasi, awak band itu menyangkal kebenaran cerita yang sudah ditulis. Penyangkalan itu dengan cepat diketahui kru grupies yang juga dikhianati. Oleh taktik kru grupies tersebut, tokoh utama dipertemukan kembali dengan salah satu anggota band dan melakukan rekonsiliasi. Tokoh utama kembali menulis, anggota keluarganya yang sempat dingin kembali hangat, grup band tersebut kembali dihargai dan mereka pun mengadakan tur-tur berikutnya.

Dari beberapa sumber dikatakan Almost Famous berkisah tentang sang penulis dan sutradaranya sendiri, Cameron Crowe, ketika ia baru saja memulai karirnya bekerja di majalah musik dan mengikuti tur-tur yang diadakan grup-grup band yang baru beranjak besar kala itu (tahun 1970-an). Dari sinilah dapat dilihat, bahwa karya Harper Lee dalam To Kill a Mockingbird dan Cameron Crowe dalam Almost Famous memang serupa. Keduanya mengambil ide cerita dari pengalaman mereka sendiri dan dituangkan ke dalam karya dengan tentunya mengubah beberapa setingan termasuk nama-nama tokohnya atau tempat. Bila Harper Lee mengambil kisah tentang orang kulit hitam yang dituduh melecehkan orang kulit putih kemudian masuk penjara sekalipun sudah dibela seorang pengacara terkenal nan cerdas, dan tentang keseharian masa kecilnya bersama seorang anak laki-laki kecil tetangganya, maka Cameron Crowe dengan perjalanan turnya bersama grup-grup band Amerika kala itu.

Tentu bukan dua orang ini saja yang membuat karya dengan mengambil sesuatu yang dekat lekat dengan kehidupan personal (di luar sana banyak para creator yang mendapat inspirasi dari kehidupan personal mereka), namun di sini saya khusus memang hanya ingin menghubungan keduanya, antara film Almost Famous dan novel To Kill a MongkingBird.

Terkait menulis, berikut hal-hal yang bisa dipelajari:

menulis dan menulis

  1. Menulis karena kau memang suka menulis, dan yang perlu kau lakukan adalah hanya menulis dan menulis
  2. Tidak mudah menyerah untuk memperoleh informasi
  3. Berani menyuarakan pendapat
  4. Siap menerima konsekuensi sebagai penulis kalau kau sudah terjun ke dalam dunia itu
  5. Menjadi penyimak yang baik
  6. Menangkap setiap momen sebagai bahan tulisan
  7. Bertanggungjawab dengan tugas yang diberikan
  8. Menulis cepat
  9. Menulis dengan jujur. “Be honest, and unmerciful!” demikian nasihat sang mentor dalam Almost Famous.

Tak lupa  saya lampirkan link tambahan kalau kau sudah menonton film Almost Famous ini, yakni:  Mengenal lebih dekat film Almost Famous dari the official site for Cameron Crowe. 🙂

Selamat menonton dan selama berenang dalam dunia menulis…!!! ♥♥♥ 😀 🙂