Cinta yang Marah, Trilogi Soekram, dan Pulang

IMG_20170520_205624

Bersama buku puisi Cinta yang Marah dengan penulisnya, M. Aan Mansyur

Salah satu dari sekian buku yang saya bawa pulang dari MIWF 2017 berjudul Cinta yang Marah. Buku bersampul merah ini berisi puisi-puisi Aan Mansyur, penulis puisi-puisi Rangga (;) :D) dalam film AADC2, dan juga merupakan salah satu kurator dalam seleksi emerging writers MIWF 2017. Buku puisi ini salah satu dari empat buku yang baru diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dan diluncurkan di MIWF 2017.

Setelah sebelumnya pernah dihadirkan Melihat Api Bekerja yang disertai ilustrasi-ilustrasi unik, maka buku puisi lain dengan penulis yang sama kali ini pun dihadirkan dengan disertakan potongan-potongan berita peristiwa Mei ’98. Saya mengakui walau saya menulis cerpen dan menikmati puisi,  tapi justru di sini saya lebih terdorong membaca dan mengikuti potongan berita-berita dalam buku bersampul merah ini. 🙂 😀

Dari potongan berita-berita inipun ‘memaksa’ saya mau tak mau mesti kembali melanjutkan dua novel yang sudah saya beli tahun 2016 lalu tapi belum sempat saya selesaikan.  Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono dan Pulang karya Leila S Chudori. Dua novel yang pernah saya intip kemudian saya tutup karena menurut saya tak begitu menarik (baru saya sesali kemudian setelah intens mengenal mereka… :D)

IMG20170527152023Soekram, trilogi ini awalnya saya pikir serupa trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Tetapi rupanya berbeda. Soekram di sini berisi tiga cerita berbeda yang tidak ada sangkut paut satu sama lain selain bahwa ia adalah tokoh rekaan seorang pengarang yang sudah mati (begitu ia mengaku).

Di cerita pertama, Pengarang Telah Mati, Soekram adalah seorang dosen muda yang baru pulang dari luar negeri diperhadapkan dengan huru-hara kota Jakarta Mei 98 yang mana para mahasiswa terlibat demo dan ia sendiri walau awalnya tak tahu-menahu tentang keriuhan itu dipaksa mahasiswanya ikut memberi pendapat dalam rapat-rapat yang digelar. Ia serupa tokoh pasif yang bercerita apa saja yang tampak oleh matanya dan yang ia rasakan. Sewaktu membaca ini saya masih agak sedikit kesal kenapa cerita-cerita dengan latar belakang tersebut masih baru menyentuh hanya tentang tokoh-tokoh yang palingan menjadi korban saat terjadinya peristiwa tersebut, tanpa atau kurang berani menyentuh, misalnya, tokoh utama adalah tentara atau polisi yang bertugas.

Berikut cerita kedua, Pengarang Belum Mati, adalah cerita yang cukup rumit menurut saya. Tokoh Aku, sang editor, seperti baru tahu kalau sahabatnya, pengarang tokoh rekaan Soekram, sebenarnya belum mati. Lalu draft-draft cerita Soekram ditemukan kembali, berlatar belakang tahun 1965 dan cerita ini serupa membaca sebuah catatan mimpi yang terkadang seolah tidak terang ujung pangkalnya. Ada keikutsertaan Soekram dalam rapat-rapat organisasi, ada ayahnya di kampung pengagum sosok pemimpin besar revolusi dan pengikut partai tanda segeitiga kepala banteng, adiknya yang ditangkap polisi karena membela petani, seorang teman kulihnya, Maria, yang pandai berdeklamasi, yang lalu membawanya mengenal Nengah, seorang anak Bali, kunjungan ke gua, dan yang agak membingungkan adalah aulia, yang katanya adalah sahabat dan gurunya, lalu tentang padang pasir, ada tiadanya larangan mengunyah pasir. Jelas bagian kedua buku ini seperti sebuah catatan spontan tentang mimpi, yang unik dan cukup entah dimengerti atau tidak tetap saja ia sebuah karya yang aduhai.

Di cerita ketiga, Pengarang Tak Pernah Mati, Soekram mengembangkan sendiri ceritanya. Dalam cerita yang ia ciptakan, ia bertemu Datuk Meringgih, juga Siti Nurbaya di tanah Minang. Bagian ini agak menggelitik. Sebab cerita asli karangan Marah Rusli ini ‘dipelintir habis-habisan’ oleh Soekram menjadi kisah Siti Nurbaya versi Soekram, sebuah cerita unik tentang kisah cinta atau kekaguman seorang remaja perjamuan terhadap seorang tua yang adalah paman sahabatnya.

Demikian kurang lebihnya sinopsis tentang Trilogi Soekram ini. Selanjutnya adalah kejeniusan pengarang, dalam hal ini Sapardi Djoko Damono, menempatkan pikiran-pikiran liarnya. Memanfaatkan sesuatu yang sederhana hingga bisa tercipta sebuah trilogi yang patut diacungi jempol.

Buku berikutnya adalah Pulang karya Leila S Chudori. Saya sudah tak begitu ingat kapan tepatnya buku ini saya beli. Seingat saya, seusai membeli dan membawa pulang buku ini, saya sempatkan diri membaca saat itu juga. Sekilas mengamati secara cepat dan keseluruhan buku ini bagi saya bagus karena menyertakan referensi-referensi penting untuk selanjutnya bisa dikenal dan dicaritahu pembaca. Hanya ketika baru awal-awal membaca, saya sudah memutuskan untuk tak melanjutkan. Dalam hati saya mengomel, kenapa selalu buku-buku sastra yang dipuja-puji bagus, yang mendapat berbagai penghargaan mesti (sering) dibumbui yang bersifat dewasa.  Bagaimana saya bisa rekomendasikan anak-anak SMP untuk membaca sebuah cerita yang  bagus kalau patokan cerita yang bagus selalu seperti itu. Begitu pikir saya (:D) sewaktu membaca di awal-awal buku Pulang mengisahkan tentang pertemuan Dimas Suryo dan Viviane di antara keriuhan mahasiswa Sorbonne Mei 1968. Jadilah buku itu saya simpan untuk beberapa lama hingga setelah membaca Cinta yang Marah dengan alasan bahwa buku Pulang ini juga menyimpan kisah tentang sekalian peristiwa ‘65 (seperti halnya Ronggeng Dukuh Paruk) dan peristiwa Mei ’98 (cerita pertama trilogi Soekram).

Dengan kembali mengambil Pulang dan tekad menuntaskan cerita-cerita berlatar peristiwa ’65 dan ’98 itulah, baru kemudian muncul rasa kagum dan salut saya atas usaha dan keberanian penulis novel Pulang. Novel ini sungguh luar biasa. Menyajikan dengan terang (setidaknya tidak terlalu gelap :D, ah, saya pun sebenarnya tak terlalu tahu apa itu terang dan gelap di sini). Novel ini tak hanya kaya, tapi juga ideal. Patut ia mendapat penghargaan KLA 2013. Namun justru terlalu ideal dan sangat ideal itu pula yang menurut saya adalah kekurangannya, kekurangan yang positif bisa jadi. Rasanya seperti mustahil menemukan dalam kehidupan nyata di mana orang-orang berpikiran dan berpendapat ideal. Apa-apa selalu diingatkan dengan nama seorang tokoh ini tokoh itu, masakan ini masakan itu punya filosopinya masing-masing. Andai saja setiap orang, siapapun dia di dunia nyata punya karakter seperti tokoh-tokoh dalam Pulang. Sungguh, intelek sekali orang-orang yang bahkan kita jumpai di pinggir jalan atau di atas bemo atau di dalam pasar atau di mana saja. 😀

Selain kekurangan terlalu ideal itu, bagi saya kekurangan lainnya adalah katanya ia bicara Indonesia, tapi disayangkan bahwa Indonesia yang dibicarakan di sini tiada lain dan tiada bukan hanya berkisar di seputaran pulau Jawa. Paling juga ada nama Sumatra ia sisipkan dengan adanya tokoh Risjaf, atau Sulawesi dengan nama kopinya yang harum mewangi itu. Sayang sekali bahwa hanya itu Indonesia yang ia tahu dan resapi. Sementara Indonesia bukan hanya sebatas itu, bukan? 🙂 Tapi, sudahlah. Mungkin memang harus begitu. Dan biar begitu supaya dapat dikatakan bahwa, baiklah, kalau tokoh-tokoh dalam novel itu terlalu sempurna untuk ditemui di dunia nyata, maka secara keseluruhan novel itu tidaklah sempurna. Ini masih kerja manusia. Kalau terlalu sempurna, bisa-bisa membuat orang tak percaya, ini hasil kerja manusia ataukah makhluk apa, kok bisa sebegini sempurna? Maka, belajar dari kekurangan (yang bagi saya juga justru di saat yang sama kekurangan tersebut menjadi kelebihan novel ini sebab ia  masih mau menunjukkan biarlah supaya orang membaca ini apa adanya, janganlah terlalu sempurna karena kalau terlalu sempurna bisa membuat orang tak percaya dan menganggap ini terlalu membual) ini, mungkin bisa menantang ada lagi orang-orang dari bagian Indonesia yang lain untuk berani membuat cerita dengan latar serupa yang selama ini belum terdengar secara luas dan terbuka, supaya jangan dikira bahwa yang bergejolak pada saat-saat itu hanyalah di daerah-daerah yang itu-itu saja, sebab di titik-titik Indonesia yang lain di luar sana, pernah terjadi juga peristiwa serupa yang memakan banyak sekali korban, mereka-mereka yang sebenarnya tak tahu menahu tentang situasi politik yang ada namun ikut-ikutan dituduh hingga akhirnya mesti mati sia-sia, baik dari yang terlibat secara langsung atau pun sebagai sanak ataupun sebagai keturunan yang pada persitiwa tersebut, bahkan sama sekali belum direncanakan oleh orangtuanya pun, harus ikut-ikutan didiskriminasi hampir dalam segala aspek khususnya urusan negara atau pemerintah. 

Demikian kurang lebih banyak hal baru yang dapat dipelajari dari novel Pulang, baik isi maupun teknik penulisannya. Sedemikian amazing novel ini sampai membuat saya lupa alasan pertama kenapa saya tidak segera menyelesaikan langsung bacaan ini begitu saya baca. Tternyata baru saya sadar ada yang jauh lebih berharga daripada sekadar alasan misalnya kau tak mau melanjutkan makananmu yang disajikan ala resto bintang 5 hanya karena kau melihat ingus kuning atau mendengar atau membaui kentut seseorang di sampingmu. Permisalan lainnya adalah begini,  ketika kau membaca Pulang, dari dua hal yang disodorkan padamu yakni jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kisah kelam di balik tragedi ’65 dan ’98, manakah hal paling penting, utama, dan urgent yang kira-kira mau disampaikan penulis, adalah pilihan masing-masing pembaca. (y) Selamat membaca,  selamat memilih, selamat belajar.😇😉😊

“Boo Radley” dan “Radley Place versi Anice”

Telah banyak novel bagus (yang sudah dibaca maupun yang belum, yang diketahui maupun tidak sama sekali), dan masih akan datang juga novel-novel bagus. Tapi parsetan dengan semua itu. Saya hanya punya satu novel yang menjadi favorit, To Kill a Mockingbird dari Harper Lee. Dan betapa senang hati saya ketika di bagian pembuka film  Almous Famous, Cameron Crowe menampilkan tokoh utama dan ibunya yang membicarakan tokoh-tokoh dalam To Kill a Mockingbird, sekaligus lewat tokoh sang ibu, ia menegaskan bahwa Boo Radley adalah tokoh paling menarik dalam novel karya Harper Lee itu. Saya setuju dengannya 100 persen♥♥♥.

boo radleyMemang tokoh favorit saya adalah Jean Louse alias Scout, tetapi cerita itu akan kurang berkesan kalau tak ada Boo Radley dengan pekarangan Radley Place di sana. Di ulasan-ulasan lain tentang Too Kill a Mockingbird, mereka lebih menyoroti tentang sang ayah yang membela orang kulit hitam. Tapi bagi saya, itu adalah kisah mereka di sana (Amerika) pada waktu itu (tahun 1930-an). Saya kurang memiliki kedekatan dengan kisah-kisah demikian. Ketertarikan saya dan kedekatan saya adalah keseharian Jean Louse bersama abangnya, Jem, dan kawan bermain mereka, Dill, dengan tempat misterius yang mereka sebut Radley Place.

Radley Place terletak tiga rumah di sebelah selatan rumah mereka. Tempat itu adalah batas jarak bermain musim panas tatkala Scout berusia enam tahun dan Jem hampir sepuluh. Sekalipun rumah itu terbilang tetangga mereka, namun di benak Scout, tempat yang aneh dan menyeramkan. Menurutnya, Radley Place dihuni makhluk tak dikenal yag gambarannya saja cukup membuat mereka menjaga kelakuan selama berhari-hari.

Radley Place tak pernah dibuka pada siang hari atau pada hari Minggu (sebuah kebiasaan yang bertentangan dengan Maycomb di mana pada hari-hari Minggu pintu rumah dibuka untuk dikunjungi pada sore hari).

Sekalipun misterius dan menyeramkan, tempat itulah yang harus mereka lalui setiap pergi dan pulang sekolah kalau tak mau mengitari kota yang jaraknya lebih jauh beberapa kali lipat. Namun karena menganggapnya misterius dan menyeramkan, setiap kali pergi atau pulang sekolah, mereka selalu melewati tempat itu dengan berlari.

Kata orang-orang, bahkan orang negro tak akan melewati Radley Place malam-malam, sebab lebih baik melintas ke trotoar seberang dan bersiul sambil berjalan. Pekarangan sekolah Maycomb berbatasan dengan sisi belakang tanah Radley; dari kandang ayam Radley, pohon kacang pecan yang tinggi menggugurkan buahnya ke pekarangan sekolah, tetapi kacang-kacang itu bertebaran tak tersentuh oleh anak-anak. Kacang pecan Radley bisa mematikan. Bola bisbol yang terpukul masuk ke halaman rumah Radley berarti hilang dan tak perlu dipertanyakan. (hal 23)

Kedua kakak beradik itupun tak mau berurusan banyak dengan tetangga mereka apalagi setelah diperingatkan ayah mereka, Atticus, selain bahwa pohon di depan rumah Radley memiliki ceruk yang di sana sering ditemukan permen, dan aneka permaianan, boneka sabun, medali berkarat, atau keping tua koin Indian, dan barang-barang itu (kecuali permen yang langsung dikunyah) disimpan dalam satu peti khusus. Suatu kali ketika Jem dan Scout bersepakat memberikan surat permintaan terima kasih, ternyata di ceruk pohon itu sudah ditutupi semen oleh sang kakak dari keluarga Radley. Sedih mereka bukan main.

Dengan kedatangan kawan bermain musim panas mereka, Dill, intensitas mereka dengan Radley Place semakin meningkat. Kepada Dill, mereka teruskan cerita tentang situasi tetangga mereka yang mereka dengar dari cerita orang-orang dewasa yang beredar.

Katanya, di dalam rumah itu tinggal sosok hantu jahat. Makanannya adalah tupai dan kucing yang disantapnya mentah-mentah. Matanya melotot, giginya kuning, dan air liurnya menetes hampir sepanjang waktu. Setiap kejahatan di Maycomb, selalu yang dipelototi adalah penghuni Radley Place, walaupun pada akhirnya diketahui jelas adalah ulah orang lain.

Bersama Dill, mereka pun menduga-duga kira-kira apa yang sedang terjadi di dalam rumah. Mengisi waktu liburan musim panas dengan bermain peran, di antaranya memerankan penghuni Radley Place. Saling menantang satu sama lain, siapa berani berlari masuk ke halamannya, siapa berani melewai gerbangnya, siapa berani menyentuh pintu rumahnya, hingga memunculkan perdebatan dan ejekan tentang kepercayaan tentang sesuatu yang disebut sebagai uap panas (kalau di Indonesia biasa disebut kuntilanak atau kalau di Kupang dengan buntiana–mungkin dari kata perempuan bunting anak kecil barangkali…:D, kalau kau berjalan dan tiba-tiba merasa bulu kudukmu merinding maka diduga dianya ada di sekitar situ, dan peringatan karena dia biasanya berdiri merentang di jalan-jalan yang sepi, maka kalau nasibmu menabrak dia maka kau bisa-bisa jatuh sakit. Maka itu, kalau Di Maycomb, dua kakak beradik ini punya mantra untuk mengusir uap panas, maka kita orang-orang sini (dan mungkin termasuk saya (:D)) mengusirnya dengan mengucap diam-diam doa Bapa Kami atau berkomat-kamit, ‘dalam nama Yesus,’ berkali-kali… 🙂 :D). Selama bersama Dill, selalu saja ada ide untuk kalau bisa memancing keluar orang yang disebut sebagai Boo Radley. Hingga di suatu malam, tanpa keikutsertaan Scout, Jem dan Dill berangkat sendirian demi mendekat ke jendela rumah yang diduga adalah tempat Boo Radley berada. Misi gagal. Justru yang terjadi adalah sang kakak dari keluarga Radley keluar membawa senapan dan membuat bunyi tembakan di malam sepi yang tentu saja mengagetkan warga Maycomb. Jem dan Dill berusaha keluar melewati pagar kawat belakang yang bersisian dengan pekarangan sekolah, sayang celananya tersangkut. Takut dikejar, ia tinggalkan celananya di sana. Keduanya mendekati kerumunan di depan rumah Radley dengan Jem yang tak bercelana. Kepada sang ayah, mereka mengaku sedang bermain dan taruhan, yang tentu saja membuat tante Dill geram. Malam itu sebubarnya kerumuman, sekalipun takut dan tak pernah sepanjang hidupnya menyentuh pekarangan Radley, Jem nekat keluar malam-malam demi mengambil kembali celananya yang tertinggal. Scout menunggu abangnya dengan gelisah, namun lega dan ikut senang ketika abangnya pulang dengan sudah bercelana. Anehnya, Jem tak bicara apa-apa tentang bagaimana ia mendapatkan kembali celananya itu. Hingga mendekati akhir cerita, barulah ia mengaku kepada Scout, malam itu ketika ia tiba di pagar belakang rumah Radley, didapatinya celana yang tadi tersangkut itu sudah dalam keadaan terlipat rapi, hanya ketika ia menengok ke sekitar tak ada tanda siapa-siapa di sana. Hal itulah yang membuat dia bungkam bertahun-tahun.

Di malam Halloween, terjadi insiden sepulangnya Jem dan Scout dari gedung sekolah. Dalam lingkup kegelapan, kedua kakak beradik ini menyusuri jalan pulang ke rumah. Di tengah jalan mendekati pohon di depan Radley Place, mereka disergap orang tak dikenal. Scout jatuh tergiling-guling, tangannya digencet keras, dan Jem pingsan hingga tangannya patah. Mereka mungkin saja bisa mati kalau saja tak datang seseorang lain yang muncul di dalam gelap itu. Jem yang pingsan diseret oleh seseorang menuju rumah. Scout meraba-raba dalam gelap dan melangkah mengikuti mereka menuju rumah. Saat kostumnya dibuka, barulah ia tahu yang menyeret Jem adalah seorang lelaki desa yang mungkin saja datang di acara Halloween dan belum pulang. Lelaki itu diam saja semenjak tiba.

Dokter dan sheriff Maycomb yang ditelpon datang. Setelah melihat penyerang anak-anak yang tergeletak di bawah pohon depan rumah Radley, ia datang dan mencoba mencari informasi detail dari Scout. Scout menceritakannya sebagaimana yang ia tahu. Ketika ditanya sheriff, siapa orang baru yang terhuyung-huyung dan terengah-engah dan batuk-batuk seperti mau mati, setelah Scout merasa lepas dari gencetan sang penyerang, ditunjuknya lelaki yang sedang berdiri di sudut itu. Orang desa itu bersandar di dinding. Perawakannya kurus, tangannya putih, putih pucat yang tak pernah kena matahari, wajahnya putih, seputih tangannya, bercelana keki yag dikotori pasir, berkemeja deniim yang robek, pipinya cekung, mulutnya lebar, ada lekukan dangkal di pelipisnya, dan mata kelabunya demikian tak berwarna sehingga Scout sempat mengira dia buta, serta rambutnya yang lepek dan tipis. Saat Scout menudingnya, telapak tangan orang itu bergerak sedikit, meninggalkan noda keringat berminyak pada dinding, dan dia mengaitkan jempolnya pada ikat pinggangnya. Tubuhnya terguncang bersama kejang kecil yang aneh, seolah- dia mendengar kuku menggaruk papan. Namun saat Scout mulai memandangnya dengan takjub, ketegangan perlahan mengendur dari wajahnya, bibirnya membuka menjadi senyuman malu-malu, dan sosok tetangga yang selama ini hanya samar-samar di benaknya baru malam itu hadir nyata di depannya. Demikian dengan spontan ia menyapa, “Boo,” yang segera dikoreksi ayahnya, “Mr. Arthur, Sayang. Jean Louse, ini Mr. Arthur Radley…”

Mr. Arthur alias Boo inilah yang telah menyelamatkan nyawa kakak beradik Finch dari serangan preman mabuk di malam Halloween. Sayang bahwa di kejadian itu, bukan sementara libur musim panas sehingga Dill tak ikut berada bersama mereka.

***

Berbicara tentang Radley Place, saya pun punya cerita tentang Radley Place versi saya, sebut saja Radley Place versi Anice. 😀

Radley Place pertama adalah Sonaf di desa kami. Sonaf dalam bahasa Dawan (Timor) berarti istana raja. Lokasi sonaf itu tepat di depan rumah saya. Ia tidak besar sebagaimana sonaf-sonaf pada umumnya karena hanya merupakan tempat singgah sang raja kalau berkunjung mengawasi para pekerjanya yang tersebar di berbagai pelosok kerajaan sewaktu wilayah kecamatan masih berbentuk kerajaan. Sonaf itu tak lagi berpenghuni. Ia hanyalah sebuah gedung tua dengan pekarangan yang tak terawat dan atap-atap seng yang sudah merapuh. Pintu dan jendela ruang tamu pun sudah terbongkar satu-satu. Sekali-sekali memang pewaris-pewaris raja datang menengok, tapi itupun hanya sebentar, dan untuk mengambil hasil tanaman yang kebetulan sedang pada musimnya. Orang-orang sering bilang, jauh di dalam kamar-kamar tersembunyi ada sepasang manusia dengan peliharaan binatang aneh yang tidur di atas tumpukan emas. Katanya kalau kau ingin kaya, datangi saja tempat itu tepat di jam 12 malam. Hanya tak ada orang yang berani karena mereka tahu pasti harus ada tumbal untuk itu.

Luas sonaf adalah satu lokasi kompleks rumah-rumah kami, 7500 m2. Di kompleks rumah kami, tanah dengan luas 7500 m2 itu bisa diisi 12 rumah. Rumah kami tepat berada di sisi timur sonaf. Area itu ditumbuhi rerumpun pisang, kelapa, aneka pohon buah dan obat, serta juga semak-semak. Bagian ini tidak terlalu menakutkan. Hanya yang menjadi senter pembicaraan baik anak-anak kecil maupun orang dewasa adalah bagian depan sonaf yang langsung berhadapan dengan kebun-kebun kelapa, atau pinang, rerimbun pohon pisang, dan beberapa pohon besar, serta sebuah danau kecil. Tak ada orang yang akan melewati bagian depan sonaf itu di malam hari sekalipun itu adalah jalan lintas desa. Apabila lewat, maka harus berdua. Atau orang akan memilih melintasi bagian belakang sonaf yang samping kirinya berjejer rumah-rumah.

Sama seperti cerita Scout tentang Radley Place dan sekolah, semenyeramkan apapun sonaf bagi orang-orang desa, kami tetap harus pulang pergi melewati bagian depan sonaf. Dari rumah, saya harus berjalan 25 meter ke arah utara di mana di situ ada pertigaan. Dari pertigaan, saya tinggal berjalan lurus saja ke arah barat sejauh 200 meter dan tiba di sekolah.

Sewaktu duduk di bangku TK dan SD, di hari-hari pertama sekolah, saya harus diantar orang tua melewati sonaf. Melewati lebar sonaf yang berukuran 100 meter itulah saya akan merasa lega dan bisa berjalan sendiri ke sekolah. Kalau sepulang sekolah, setiap anak yang akan melewati sonaf harus saling menunggu satu sama lain barulah beramai-ramai kami melewati sonaf. Begitu rutinitas kami setiap hari selama di bangku TK dan SD. Pernah sekali (saya lupa kelas berapa), kelas kami terlambat keluar, anak-anak lain sudah pulang lebih dahulu. Karena di kelas kami, tinggal kami dua orang yang rumahnya harus melewati sonaf, maka kami memilih jalur melewati belakang sonaf, di mana pertama-tama kami harus menuju ke selatan, barulah melintasi belakang sonaf, kemudian kembali ke utara. Kalau memang dalam keadaan terpaksa dan mendesak harus melintasi bagian depan sonaf, maka saya melakukan apa yang juga dilakukan Scout ketika melewati Radley Place, berlari, hingga tiba di ujung sonaf yang berbatasan langsung dengan lapangan desa, dan baru merasa lega. 😀 Namun itu hanya berlaku untuk siang hari, tak pernah di waktu malam.

Radley Place kedua adalah satu rumah di puncak bukit di daerah Walikota, Kupang. Waktu itu saya belum bersekolah. Saya sempat lama tinggal di Walikota bersama tante saya. Kalau di sonaf, kami tak pernah mengisengi tempat itu, kebalikan di Walikota, ketika tiba senjad hari, bocah-bocah yang tinggal di Jalan Sam Ratulangi (saya lupa Jalan Sam Ratulangi nomor berapa, kala itu masih sepi) mulai berkumpul di jalan di bawah bukit. Kerumuman itu terdiri dari anak-anak yang hampir semuanya berada di kisaran usia yang tidak terpaut jauh.

Aksi yang dilakukan di sana adalah berencana siapa yang memimpin, siapa yang mengatur kapan harus jalan dan kapan harus kembali berlari menjauh. Kemudian beberapa anak akan mengambil batu-batu kecil dan melemparinya ke halaman rumah. Di antara mereka saling menantang, siapa yang berani berjalan memasuki pekarangan rumah, siapa yang berani menyentuh pintu rumah, siapa yang bisa melempari dengan batu mengenai salah satu daun jendela, siapa yang bisa melempari dan mengenai atap rumah dan sebagainya. Apabila salah satu di antaranya berhasil mengenai sasaran, maka semua kami akan berdecak kagum, bertepuk tangan, lalu berlari secepat dan sejauh mungkin menghindari rumah tersebut, menunggu apa atau siapa yang akan keluar dari dalam rumah itu. Bila rumah itu tetap diam, maka pelan-pelan kami akan mendekat lagi untuk beberapa orang di antara kami kembali saling menantang dan mengulangi lagi aksi melempar dengan batu kecil atau berteriak mengganggu siapa yang di dalam rumah agar berani keluar memunculkan diri.

Sampai saya meninggalkan Walikota untuk masuk sekolah, saya tak pernah tahu apa latar belakang rumah di puncak bukit Walikota itu menarik perhatian kami. Hanya samar-samar saya ingat bahwa setiap sore akan ada beberapa pasang burung merpati yang beterbangan di atap rumah tersebut.

Demikian sedikit cuplikan tentang Boo Radley dan Radley Place versi Anice, bertolak dari tokoh Boo Radley yang ditegaskan Cameron Crowe melalui salah satu tokoh filmnya sebagai tokoh paling menarik dalam buku To Kill a Mockingbird karya Harper Lee.

Antara Film “Almost Famous” dan Novel “To Kill a MongkingBird”

Almost_famous_poster1Berikut ini sedikit cerita tentang satu lagi film yang berkaitan dengan menulis selain Finding Forrester dan The Freedom Writers atau satu film Korea yang berjudul It’s Ok, That’s Love, yakni Almost Famous.

Bagian pembuka film ini langsung menyedot perhatian. Bagaimana tidak, ketika menampilkan tokoh utama (William Miller) dan ibunya yang sedang berjalan menyusuri area pertokoan San Diego, langsung dimulai dengan percakapan tentang tokoh-tokoh dalam novel To Kill a Mockingbird dari Harper Lee (walau mereka sama sekali tidak menyebut tokoh favorit saya, Jean Louise Finch alias Scout :()

cover of to kill a mockingbird

Sumber: Amazon

Sang ibu mengaitkan anaknya dengan Atticus Finch, ayah Scout. Sang anak menanggapi balik karena ia memang menyukai pengacara Maycomb yang jujur, tetap teguh mempertahankan kebenaran, sekaligus seorang ayah yang baik tersebut. Ditanyai ibunya, apa maksudnya dari ayah yang baik, sang anak menjawab, walau sendiri ia mampu membesarkan anak-anaknya, yang langsung disanggah balik sang ibu, siapa perempuan yang datang setiap hari ke rumah mereka? Calpurnia, sahut sang anak. Ya, kau mengingatnya, gumam sang ibu.  Lalu bagaimana dengan Boo? Kembali tanya sang anak dengan penasaran. Boo adalah tokoh paling menarik dalam cerita To Kill A Mockingbird, jawab sang ibu yang kemudian menarik kembali tangan anaknya untuk mundur karena melihat sesuatu yang janggal pada kaca satu toko aksesoris natal.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sang ibu tanpa sungkan menegur pekerja toko tersebut yang menulis Merry Xmas pada kaca jendela tokonya. Excuse me, I’m a teacher, katanya memperkenalkan diri. Xmas’ is not a word in English language. It’s either Merry Christmas.. or Happy Holidays. Sang pekerja yang sedang melabur kata-kata itu hanya melongo lantas berterima kasih atas saran dari seorang ibu tak dikenal tersebut. 😀

Menit-menit selanjutnya berkisah tentang sang anak tersebut yang memiliki keinginan besar untuk menjadi jurnalis khusus meliput musik rock n roll yang sebaliknya ditentang oleh ibunya yang adalah profesor psikologi di universitas. Sebagai orang yang menggeluti psikologi ia tahu benar seperti apa model dan kehidupan para musisi rock n roll itu. Namun demikian, ia tetap teguh menemui seorang mentor yang mendukungnya menulis serta memberikan sedikit gambaran bagaimana gambaran tentang jurnalis di dunia rock n’ roll. Kepada mentor itulah ia selama di bangku sekolah sudah sering mengirim artikel-artikelnya untuk dimuat di majalah lokal yang dipimpinnya.

Dimulai dengan perkenalan dengan satu grup gadis-gadis pecinta musik, ia pun bertemu dengan grup Stillwater. Dari sanalah ia kemudian mengikuti tur mereka dan mengetahui segala seluk beluk kehidupan para musisi rock n’ roll yang sebenarnya. Di tengah tur, kabar dari datang dari Rolling Stone, foto awak grup band Stillwater akan tampil di cover depan, sebuah kabar yang menguakkan rasa haru dan kegembiraan luar biasa.

Di akhir tur, hasil tulisannya diserahkan dan itu dinilai bagus awalnya oleh pimpinan Rolling Stone. Sayang, karena tak mau reputasi bandnya hancur, ketika dikonfirmasi, awak band itu menyangkal kebenaran cerita yang sudah ditulis. Penyangkalan itu dengan cepat diketahui kru grupies yang juga dikhianati. Oleh taktik kru grupies tersebut, tokoh utama dipertemukan kembali dengan salah satu anggota band dan melakukan rekonsiliasi. Tokoh utama kembali menulis, anggota keluarganya yang sempat dingin kembali hangat, grup band tersebut kembali dihargai dan mereka pun mengadakan tur-tur berikutnya.

Dari beberapa sumber dikatakan Almost Famous berkisah tentang sang penulis dan sutradaranya sendiri, Cameron Crowe, ketika ia baru saja memulai karirnya bekerja di majalah musik dan mengikuti tur-tur yang diadakan grup-grup band yang baru beranjak besar kala itu (tahun 1970-an). Dari sinilah dapat dilihat, bahwa karya Harper Lee dalam To Kill a Mockingbird dan Cameron Crowe dalam Almost Famous memang serupa. Keduanya mengambil ide cerita dari pengalaman mereka sendiri dan dituangkan ke dalam karya dengan tentunya mengubah beberapa setingan termasuk nama-nama tokohnya atau tempat. Bila Harper Lee mengambil kisah tentang orang kulit hitam yang dituduh melecehkan orang kulit putih kemudian masuk penjara sekalipun sudah dibela seorang pengacara terkenal nan cerdas, dan tentang keseharian masa kecilnya bersama seorang anak laki-laki kecil tetangganya, maka Cameron Crowe dengan perjalanan turnya bersama grup-grup band Amerika kala itu.

Tentu bukan dua orang ini saja yang membuat karya dengan mengambil sesuatu yang dekat lekat dengan kehidupan personal (di luar sana banyak para creator yang mendapat inspirasi dari kehidupan personal mereka), namun di sini saya khusus memang hanya ingin menghubungan keduanya, antara film Almost Famous dan novel To Kill a MongkingBird.

Terkait menulis, berikut hal-hal yang bisa dipelajari:

menulis dan menulis

  1. Menulis karena kau memang suka menulis, dan yang perlu kau lakukan adalah hanya menulis dan menulis
  2. Tidak mudah menyerah untuk memperoleh informasi
  3. Berani menyuarakan pendapat
  4. Siap menerima konsekuensi sebagai penulis kalau kau sudah terjun ke dalam dunia itu
  5. Menjadi penyimak yang baik
  6. Menangkap setiap momen sebagai bahan tulisan
  7. Bertanggungjawab dengan tugas yang diberikan
  8. Menulis cepat
  9. Menulis dengan jujur. “Be honest, and unmerciful!” demikian nasihat sang mentor dalam Almost Famous.

Tak lupa  saya lampirkan link tambahan kalau kau sudah menonton film Almost Famous ini, yakni:  Mengenal lebih dekat film Almost Famous dari the official site for Cameron Crowe. 🙂

Selamat menonton dan selama berenang dalam dunia menulis…!!! ♥♥♥ 😀 🙂 

 

Kronik Kematian yang Telah Diramalkan (Chronicle of A Death Foretold) dari Gabriel Garcia Marquez

20170303_181507Pengantar

Pada hari ketika mereka hendak membunuhnya, Santiago Nazar bangun pukul lima tiga puluh pagi untuk menyambut kedatangan kapal uskup yang akan melintasi sungai setempat. Dalam versi Bahasa Inggrisnya tertulis, On the day they were going to kill him, Santiago Nasar got up at five-thirty in the morning to wait for the boat the bishop was coming on*.

Kalimat di atas adalah kalimat pertama dalam Kronik Kematian yang Telah Diramalkan. Kalimat pembuka yang akan menjadi kalimat legendaris setidaknya bagi saya :D, dari Gabriel Garcia Marquez. Sebelumnya buku dengan pengarang tersebut yang sering didengar dan digaung-gaungkan orang adalah 100 Tahun Kesunyian, atau 100 Years of Solitude. Bahkan di kelas Dusun Flobamora, buku ini punya cerita tersendiri di antara beberapa anggotanya… 😀

Tapi yang saya mau tuliskan di sini bukan tentang 100 Tahun Kesunyian. Buku itu saya baca di awal-awal tapi baru beberapa halaman tak sempat selesai karena agak terkesan suram bagi saya…:D Mungkin nanti kalau sempat akan dilanjutkan lagi karena sudah menemukan keindahan Marquez yang lain melalui kisah Santiago Nasar ini.

Buku keren ini dialihbahasakan dari judul Chronicle of A Death Foretold tahun 1981 (di buku cetaknya ditulis 1978) dan diterbitkan Selasar Surabaya Publishing dengan cetakan pertama tahun 2009.

Terdiri dari lima bagian atau bab. Walau hanya ditulis dalam 174 halaman, saya butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan cerita ini. Butuh waktu lama juga untuk mencoba mengerti apalagi sampai menuliskanya sebagaimana yang terbaca sekarang.

Cerita ini dibuat dengan alur yang cukup rumit. Kerumitan ini bukan lantas menjadi kekurangan, justru sebaliknya terbaca kecerdasan sang pengarang. Kita sebagai pembacalah yang dituntut menyusun kronologis peristiwa dalam kejadian terbunuhnya Santiago Nazar pada pagi-pagi hari Senin di bulan Februari, sehari setelah semalam sebelumnya ada sebuah pesta pernikahan yang paling meriah yang pernah diadakan di kota kecil tersebut.

Sebenarnya saya agak bingung mau membuat catatan ini seperti apa. Mau buat sesuai kronologis peristiwanya ataukah mengurutkannya sesuatu struktur buku ataukah dari tokoh ataukah dari yang lainnya. Tapi sebaiknya saya akan memulai dengan mengenalkan tokoh-tokohnya terlebih dahulu. Bagi saya ini penting sebab cerita ini melibatkan banyak sekali tokoh. Setelah itu baru akan dilanjutkan dengan struktur buku per bab, baru kemudian kronologis dan lainnya. 🙂

Tokoh

Tentu tokoh utama adalah Santiago Nasar, seorang pemuda berumur 21 tahun keturunan Arab. Ia anak tunggal. Tinggal bersama ibunya setelah beberapa tahun sebelumnya ayahnya meninggal, serta juga dengan dua pelayan di rumah, seorang pelayan tua dengan anaknya. Mereka memiliki peternakan sapi yang diwariskan sang ayah. Santiago Nasar juga punya beberapa pucuk senjata dengan jenis berbeda.

Ia berteman baik dengan tokoh aku, sang penutur cerita, dan seorang mahasiswa kedokteran bernama Christo Bedoya. Bersama tokoh aku mereka suka mengunjungi rumah hiburan sejak remaja. Selain itu, SN juga diceritakan suka mengganggu anak pelayan di rumah mereka.

Sampai adanya kisah dalam Kronik Kematian yang Telah Diramalkan ini berkaitan dengan Angel Vicario, seorang gadis cantik nan sederhana di kota itu yang sempat menjadi istri beberapa jam oleh seorang pendatang asing bernama Bayardo San Roman, seorang pemuda berusia 30 tahun, putra seorang jenderal dari kota lain. Dari bagian itu pula hadir dua saudara Angela, Pedro dan Pablo yang merasa panas hati ketika mendengar kabar saudara perempuan mereka yang baru saja menikah diantar pulang suaminya karena didapati bukan lagi seorang perawan, dan penyebabnya adalah Santiago Nasar. Masih dengan pakaian pesta mereka, mereka pun mengambil pisau jagal babi dan menunggu Santiago Nasar untuk membunuhnya. Mereka melakukannya dengan terang-terangan bahkan dengan mengumumkan kepada setiap orang yang mereka temui. Mereka yang mendengarnya menganggap itu bualan belaka oleh para pemabuk. Sebagian walaupun sangsi tetap berusaha memperingatkan Santiago Nasar. Namun ketika upaya itu baru mau dilakukan, Santiago Nasar justru sudah berdarah-darah dengan ususnya yang terburai  berjalan pulang ke arah rumahnya.

Struktur Buku Per Bab

Bab Satu (hal 3-34)

Pada hari ketika mereka hendak membunuhnya Santiago Nazar bangun pukul lima tiga puluh pagi untuk menyambut kedatangan kapal uskup yang akan melintasi sungai setempat. Sebelumnya dia bermimpi berjalan di antara rumpun pohon berkayu ketika hujan rintik-rintik turun, dan untuk sesaat dia merasa bahagia di dalam mimpinya, namun begitu bangun, dia merasakan seluruh tubuhnya kecipratan kotoran burung. “He was always dreaming about trees,Placida Linero, ibunya, mengatakan padaku dua puluh tujuh tahun kemudian, sambil mengingat-ingat detail Senin yang mengenaskan itu. Demikian pembuka di bab satu. “The week before, he’d dreamed that he was alone in a tinfoil airplane and flying through the almond trees without bumping into anything,” dia bercerita kepadaku.

Cerita bab satu ini selain lebih kepada pengenalan sosok Santiago Nasar seperti yang sudah disinggung di atas, juga mencoba mengisahkan bagaimana sikap dan bawaan Santiago Nasar di mata orang-orang rumah dan orang-orang terdekatnya hari Senin pagi, beberapa jam sebelum ia terbunuh. Kisahan-kisahan yang diungkapkan 27 tahun kemudian sejak hari ia dibunuh. Diungkapkan mulai dari sang ibunda, dua pelayan rumah, ibu dan adik perempuan sang penutur cerita, tetangga-tetangga, dan beberapa kenalan.

Bab ini kemudian ditutup dengan kepanikan dan kesedihan ibu tokoh aku yang berlari keluar rumah sambil menggenggam tangan adik bungsunya dengan tujuan memperingatkan Placida Linero tentang keselamatan putranya, namun di tengah jalan ada seseorang yang berlari dari arah berlawanan memanggil, “Don’t bother yourself, Luisa Santiaga,” he shouted as he went by. “They’ve already killed him.”

Bagian Dua (hal 35-68)

Dibuka dengan pengenalan sosok Bayardo san Roman, lelaki yang baru mengembalikan pasangan pengantinnya itu, datang pertama kali di kota ini pada bulan Agustus tahun sebelumnya, atau enam bulan sebelum pernikahan berlangsung. Kemunculannya dengan penampilan yang menyolok itu cukup menarik perhatian. “He looked like fairy,” Magdalena Oliver, seorang penumpang yang bersamanya di kapal selama perjalanan berkata. “And it was a pity, because I could  have buttered him and eaten him alive.”

Bab kedua ini menyajikan bagaimana mula sejak kedatangan Bayardo, perkenalannya dengan Angela Vicario, upayanya mencoba mengambil hati Angela, persiapan pesta pernikahan sampai merobohkan pagar di halaman dan meminjam rumah tetangga demi arena dansa, dan tiba hari pernikahan ketika pengantin perempuan menolak berdandan dalam gaun pengantin sampai dia melihat kehadiran calon suaminya, I would have been happy even if he hadn’t come, but never if he abandoned me dressed up (lazim bahwa tidak ada penderitaan yang lebih memalukan daripada seorang perempuan yang diputuskan cintanya dalam gaun pengantin. bisa dibandingkan, lebih memalukan dan menyedihkan mana, diputuskan cinta dalam gaun pengantin sebelum menikah daripada sudah ada pemberkatan nikah dan diadakan pesta meriah lantas beberapa jam kemudian diantar pulang ke rumah orang tau–wow.:)), hingga kedua pengantin berangkat ke rumah impian seusai pesta, hingga diakhiri dengan pengakuan Angel Vicario ketika ditanya dua saudara kembarnya, tell us who it was, “Santiago Nasar.”

Bagian Ketiga (69-101)

Dibuka dengan para pengacara berdiri di dekat tesis pembunuhan yang masuk akal atas dasar pembelaan kehormatan, yang ditegakkan oleh pengadilan dengan keyakinan baik, dan si kembar menyatakan pada akhir persidangan bahwa mereka akan melakukannya lagi seratus kali seratus untuk alasan yang sama.

Bab tiga ini walau ada juga sempat menyinggung beberapa tokoh namun lebih menyorot kepada aksi menunggu dua Vicario bersaudara di pagi hari itu sebelum mereka membunuh Santiago Nasar, orang yang lima jam sebelumnya mereka masih sempat minum dan bernyanyi-nyanyi bersama. Ditambahkan juga dengan kepingan-kepingan informasi dari beberapa saksi yang sempat melihat laku orang-orang sebelum kriminilatas itu terjadi.

Ditutup dengan kedatangan si biarawati, salah satu adik perempuan tokoh aku masuk ke kamar tidur, berusaha membangunkan salah satu adik laki-laki lain dari tokoh aku dengan jeritan kemarahannya, “They’ve killed Santiago Nasar.”

Bagian Empat (103-137)

Dibuka dengan Kerusakan yang diduga oleh pisau-pisau itu baru awal dari tindakan autopsi yang dilakukan secara buruk oleh Bapa Carmen Amador yang menyadari ternyata dialah yang menerima kewajiban ini karena DR Dionisio Iguaran tidak berada di tempat. “It was as if we killed him all over again after he was dead,” pendeta berumur itu bercerita padaku di tempat peristirahatannya di Calafell.

Bab empat ini lebih banyak menyajikan kisah sesudah terjadinya pembunuhan pagi itu. Bagaimana jasad itu kemudian dipertontonkan kepada umum di tengah-tengah ruang tamu dan anjing-anjing tak berhenti melolong sampai-sampai oleh perintah ibu sang korban, anjing-anjing itu pun ikut dibantai mati. Kemudian beranjak kepada dua kembar Vicario yang ditahan. Lalu apa yang terjadi dengan Bayardo sendiri sepulangnya dari mengantarkan kembali istrinya ke rumah orang tua, hingga kepada Angel Vicario yang oleh ibunya ia dibelikan rumah untuk tinggal menenangkan diri di sebuah desa yang terpanggang garam Karibia. Dari sana ia menulis surat tanpa henti ke alamat Bayardo.

Demikian bab empat ini diakhiri dengan kedatangan kembali Bayardo San Roman di tahun ke-17 di rumah Angel Vicario pada tengah hari di bulan Agustus dengan membawa sekoper pakaian untuk tinggal di sana dan satu koper lagi yang serupa, berisi hampir dua ratus surat yang telah dituliskan Angela untuknya. Surat-surat itu tersusun rapi sesuai tanggal dalam beberapa bundel yang dikat dengan pita-pita berwarna dan semuanya belum dibuka.

Bagian Kelima (139-174)

Selama bertahun-tahun kami tidak membicarakan hal lain. Tindakan sehari-hari kami, yang didominasi oleh begitu banyak kebiasaan linear, tiba-tiba berputar di sekitar satu jenis ketertarikan tunggal. Bercerita tentang mereka yang berusaha menyusun begitu banyak mata rantai kejadian tersebut. Demikian pembuka bab lima.

Selanjutnya banyak saksi dihadirkan demi memperoleh sedetail-detailnya detik-detik menjelang pembunuhan tersebut hingga masa sekaratnya. Ternyata seusai tubuhnya ditikam dua bersaudara Vicario, Santiago Nasar masih sempat-sempatnya sambil memegang ususnya yang berjuntaian dan terburai keluar, ia berjalan mengelilingi lingkar rumah untuk bisa masuk melalui pintu dapur,  sempat bertemu dengan beberapa tetangga yang melihatnya dengan terpana. Bibi penutur, Wenefrida Marquez berteriak kepadanya, “Santiago, my son. What has happened to you?” Santiago menjawab, “They’ve killed me, dear Wene,” sebelum terjungkal pada langkah terkahir tapi segera bangun lagi. sekalipun dalam keadaan sekarat, ia akhirnya masuk ke rumahnya melalu pintu belakang, jatuh tertelungkup di lantai dapur.

Demikian cerita sesuai struktur buku per bab.  Berikutnya adalah kronologi kejadian sebagai hasil membaca supaya lebih jelas. 🙂

Kronologi Kejadian

Cerita tentang kejadian naas pagi hari di bulan Februari itu mungkin tidak ada kalau saja pada enam bulan sebelumnya tidak datang seorang lelaki asing dan misterius bernama Bayardo San Roman di kota kecil yang penduduknya saling kenal dan dekat satu sama lain.

Bayardo bertemu dengan Angel Vicario. Ketika melihatnya pertama kali di suatu siang, ia langsung memutuskan ia akan menikahi gadis itu. Menurut hasil penelusuran, Bayardo memang sengaja bertualang dari satu tempat ke tempat lain demi mencari seorang perempuan yang patut dinikahi, hingga di kota itulah ia bertemu Angel Vicario.  Pesta pernikahan pun diselenggarakan enam bulan kemudian yakni tepat pada bulan Februari. Sebuah pesta pernikahan yang paling meriah yang pernah terjadi dalam sejarah kota kecil itu. Diselenggarakan pada hari Minggu malam. Pesta meriah dengan 40 ekor kalkun, 11 ekor babi, dan empat ekor sapi, serta 205 peti alkohol selundupan dikeluarkan untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang di alun-alun kota. Pesta itu berlangsung hingga lewat tengah malam.

Pada pukul 10-an malam, kedua pengantin dengan mobl hadiah mereka menuju rumah paling indah di kota itu, yang dibeli dengan harga 10 ribu peso dari seorang duda yang bahkan ia sendiri masih keberatan menjualnya. Sementara itu sejumlah  lelaki, masih terbilang kerabat dan sahabat dekat sang tuan pesta, bahkan dua saudara pengantin perempuan sendiri, yang masih kurang puas dengan pesta pernikahan melanjutkan pestanya lagi di sebuah rumah bordir hingga dinihari serta tidak tahu-menahu tentang pengantin perempuan yang beberapa jam kemudian dikembalikan oleh suaminya ke rumah orang tauanya karena didapati istrinya tidak lagi perawan.

Sang ibu menampar putrinya, dan pada saat yang sama, Angel Vicario yang sebelumya tidak ada perasaan cinta dengan lelaki asing yang sempat menjadi suaminya selama beberapa jam itu baru menyadari bahwa lelaki itu telah menjadi bagian dirinya. Ibu Angela menyuruh memanggil kedua abang kembar putrinya dan mengabari tentang kejadian malam itu. Kedua abangnya datang dan bertanya siapa penyebab ketidakperawanannya dan keluarlah dari mulut Angela Vicario, Santiago Nasar (penutup bagian dua).

Mendengar nama itu, maka menjadi panaslah hati mereka. Masih dengan pakaian pesta semalam, mereka mengambil pisau jagal dan mencari Santiago Nasar demi membunuhnya, sebagai pembalasan atas kehormatan adik mereka yang telah direnggut. Kedua kakak beradik itu secara terang-terangan mengumumkan kepada penduduk yang mereka temui bahwa mereka sedang mencari Santiago Nasar untuk membunuhnya. Santiago Nasar sendiri malam itu berpesta dengan riang dan bahkan sempat-sempatnya punya ide menggoda kedua pangantin di rumah bukit mereka, kemudian pulang untuk tidur sejam sebelum ia minta dibangunkan demi ikut menyambut kedatangan sang uskup.

Pagi hari ketika ia bangun, ia sempat memimum kopinya bahkan sempat menggoda sang pelayan muda. Masih dengan setelan pestanya, ia keluar ikut menyambut kedatangan sang uskup. Seusai berada di sana bersama rombongan, ia berjalan pulang dengan Christo Bedoya, berniat mengganti baju terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah sang tokoh aku yang ibunya sedang membuat kue ubi.

Sementara kesibukan pagi dengan kedatangan uskup itu berlangsung, telah tersiar kabar di setiap penjuru kota itu bahwa Angela Vicario sudah dikembalikan ke rumah orang tuanya oleh pasangan yang baru dinikahinya semalam, dan sekarang dua saudara kembar Vicario sedang menungggu Santiago untuk membunuhnya.

Santiago sendiri berjalan dengan santai dan tak tahu menahu tentang rumor yang beredar mengenai dirinya. Ia sempat singgah di rumah tunangannya, Flora Miguel. Saat itulah, kawannya, Christo Bedoya yang bersamanya lepas pandang karena sempat bertemu dengan seorang sanak Santiago tahu tentang perencanaan Vicario bersaudara. Ia berusaha menyelamatkannya, namun ia sempat dibuat kelabakan dengan beberapa kejadian kecil di sekelilingnya, pada menit-menit sementara ia berusaha mencoba menyusuri jalanan mencari Santiago Nasar itulah, kawannya terbunuh. Hanya terpisah beberapa menit kemudian mendapati bahwa orang yang baru saja berjalan bergandengan tanganmu tewas mengenaskan karena dibunuh.

Ibu Santiago Nasar sendiri bangun pagi-pagi hari itu dan mendapati Christo Bedoya di kamar putranya kemudian beberapa menit kemudian dibuat panik karena berita yang beredar. Ia keluar dan bertanya kepada pelayan, di mana putranya. Sudah masuk di dalam, jawab mereka.

Perempuan tua itu percaya putranya sudah berada di dalam rumah sehingga ketika melihat dua Vicario bersaudara yang berlari datang dengan pisau terhunus, menyangka akan membunuh putranya di dalam rumah, segera ia berlari ke pintu dan menutup pintu dan memasang palang kayu. Tak tahunya putranya masih sementara di luar dan sedang berusaha menjangkau pintu beberapa detik sebelum pintu itu ditutup dan dikunci ibunya dari dalam.

Santiago berteriak sambil berusaha menggedor-gedor pintu minta dibukakan, sementara teriakan sang putra justru disangka ibunya adalah teriakan putranya yang sudah berada di dalam dan mencoba mengejek dua Vicario bersaudara yang sia-sia datang dengan pisau terhunus.

Di saat itulah, pemuda 21 tahun itu pun ditikam di depan pintu rumahnya sendiri yang dalam keadaan tertutup karena dikunci ibunya dari dalam. Ia ditikam dalam keadaan berdiri bersandar pada daun pintu.

Orang-orang di kota kecil itu yang mulanya hanya mendengar rumor itu dan menganggapnya bualan para pemabuk yag tak akan ada benarnya, hanya membicarakannya dari mulut ke mulut, sebagian memilih diam, sebagian memilih memperingatkan sang korban, namun akhirnya entah bagaimana seolah dikendalikan oleh sebuah kekuatan di luar mereka sehingga mereka pun bahkan tak sempat mencegah tindakan pembunuhan pagi hari Senin di bulan Februari itu.

Seusai menuntaskan rencana mereka, dua Vicario bersaudara kembali berlari pulang menuju gereja guna menyerahkan diri kepada pastur sementara mereka juga diserbu sekelompok imigran Arab yang adalah orang-orang sekomunias Santiago Nasar. SN sendiri seusai ditinggalkan dua bersaudara di depan pintu utama rumahnya, melihat ususnya yang terburai keluar, memegangnya dan memasukkannya kembali ke dalam perut, sambil berjalan terhuyung-huyung mengelilingi rumahnya demi masuk melalui pintu belakang. Ia melewati tetangga-tetangga yang melihatnya dengan terpana.

Tentang Bayardo, pada malam sepulangnya dari rumah dengan berjalan kaki mengantar kembali perempuan yang dinikahinya beberapa jam lalu, ia pun mengunci diri dengan beberapa botol alkohol hingga pingsan lima hari dan selama itu tak ada seorang pun yang teringat akan dia hingga di hari Sabtu berikutnya. Keluarga Bayardo datang dan membawanya pergi.

Di minggu-minggu awal, Angela menulis sutar kepada Bayardo. Demikian bulan-bulan berikutnya. Surat-surat itu tak pernah dibalas, namun demikian Angela terus menulis selama 17 tahun. Di tahun ke-17 itulah, pada suatu tengah hari di bulan Agustus sebagaimana bulan munculnya Bayardo di kota lama Angela, Bayardo yang sudah tua, mulai gemuk, dan bergundul itu muncul di rumah Angela dengan dua koper berisi pakaian dan sekoper surat Angela.

Selama masa 17 tahun itu pun, Angela Vicario dalam masa menenangkan dirinya, terkadang datang juga beberapa sepupunya singgah termasuk sang penutur cerita apabila dalam perjalanan.

Demikian sekilas tentang kronologi peristiwa. 10 tahun berikutnya tak lagi diceritakan bagaimana kelanjutan hidup dari tokoh-tokoh tersebut selain pada tahun ke-27 itulah tokoh aku yang terbaca sebagai kawan baik Santiago Nasar sekaligus sepupu Angela Vicario, menelusuri kembali keping cerita dari berbagai saksi hingga diperoleh susunan cerita sebenarnya, kecuali bahwa apakah benar pengakuan Angela Vicario pada malam pernikahannya.

sedikit cuap-cuap

Peran penutur cerita tak banyak menonjol selama berjalannya cerita itu selain bahwa sebelumnya terjadinya peristiwa pagi hari Senin di bulan Februari itu, ia sering bersama Santiago Nasar, dan bahkan pada malam pesta pernikahan berlangsung, namun ketika tengah terjadi kejadian kriminal itu, ia sedang berada dalam pangkuan kehangatan Maria Alejandrina Cervantes, semacam mami bagi pemuda-pemuda kurang hiburan tersebut :p

Cerita ini meski alurnya rumit, sebenarnya penutur hanya ingin berusaha mengumpulkan kepingan cerita yang terserak di antara para saksi yang tersebar di berbagai sudut kota. Di akhir cerita, kita memang mendapat gambaran jelas mengenai kronologi ceritanya seperti di atas. Hanya tentang apakah benar Angela Vicario itu tidak perawan, atau kalau memang Angela tidak lagi demikian maka apakah penyebabnya, atau kalau memang ada orang (manusia) sebagai penyebab maka apakah SN adalah benar pelakunya seperti yang dikatakan Angela, tidak benar-benar terang disajikan. Bagian itulah yang cukup menimbulkan pertanyaan di akhir cerita.

Mengenai pernikahan Angel Vicario dan Bayardo San Roman yang langsung berpisah setelah menikah, saya pun pernah bertemu dengan kisah pengalaman yang mirip. Hanya tidak seekstrim Bayardo dan Angel yang hanya berlangsung dua jam. Sebab kalau di pengalaman saya (berkenaaan salah satu mempelainya masih terbilang saudara sekaligus tetangga saya), status suami istri mereka sempat berlangsung beberapa hari. Sebelumnya sudah terjadi satu peristiwa sebagai penyebab perpisahan mereka.

Peristiwa itu terjadi kira-kira dua tahun lalu. Saking berkesannya, saya sempat membahasakannya ke dalam cerpen Usai Pesta Pernikahan Silpa. Cerita penyebab itu kalau mau dibilang, bisa jadi berdasarkan 90-an persen kisah nyata.

*Sumber Bahasa Inggris saya dapat dari sini

Lobak oleh Anton Chekhov

(Terjemahan bahasa anak-anak)

Dahulu kala hiduplah seorang kakek dengan istrinya. Lama mereka hidup, dan kemudian lahirlah anak mereka yang diberi nama Serzy. Telinga Serzy itu panjang-panjang, dan kepalanya lobak. Serzy tumbuh menjadi besar sekali.

Pada suatu hari kakek menarik telinga Serzy, maksudnya supaya Serzy bergaul dengan orang banyak; tetapi tidak berhasil. Kakek pun memanggil nenek.

Nenek memegang kakek, dan kakek memegang lobak. Mereka tarik bersama-sama, tetapi tidak juga berhasil. Maka nenek pun memanggil bibi.

Bibi memegang nenek, nenek memegang kakek, dan kakek memegang lobak. Maka bibi pun memanggil bapak baptis, seorang jenderal.

Bapak baptis memegang bibi, bibi memegang nenek, nenek memegang kakek, dan kakek memegang lobak. Mereka tarik lobak bersama-sama, tetapi tak berhasil. Akhirnya kakek pun kehabisan kesabaran. Dikawinkannya anak perempuannya itu dengan seorang pedagang kaya. Dan dipanggilnya pedagang itu agar membawa lembaran-lembaran uang seratus rubel.20170307_202712 - Copy

Pedagang memegang bapak baptis, bapak baptis memegang bibi, bibi memegang nenek, nenek memegang kakek, dan kakek memegang lobak. Mereka tarik lobak bersama-sama. Berhasil mereka menarik lobak itu supaya bergaul dengan orang banyak.
Maka jadilah si Serzy itu anggota dewan negara.

Catatan:

  • Cerita berjudul Lobak adalah salah satu judul cerpen favorit saya di antara 24 cerita dalam buku Sekumpulan Cerpen Pengakuan Anton Chekhov–Cerpenis.
  • Cerpen favorit lain dalam buku yang sama adalah Bertopeng

Tentang “Bertopeng” dari “Pengakuan” Anton Chekhov*

20170307_202712 - CopyCuplikan Satu

Di balkon duduk seorang perempuan cantik, gemuk; sukar menebak usianya, tetapi ia masih muda, dan masih lama lagi muda… Pakaiannya mewah. Di masing-masing tangannya melingkar sebentuk gelang besar, dan pada dadanya tergantung bros berlian. Di dekatnya tergeletak mantel bulu berharga seribu rubel. Di koridor menanti pesuruhnya yang berpakaian garis-garis, dan di halaman berdiri sepasang kuda hitam beserta kereta saljunya lengjap dengan kain penutup kaki dari kulit beruang. Wajahnya yang cantik dan tampak kenyang, dan segala sesuatunya, menyatakan: “Aku bahagia dan kaya.” Tetapi pembaca, jangan percaya!

“Aku cuma bertopeng,” pikir perempuan itu. “Besok atau lusa Baron akan jadi Nadine, dan akan dicabutnya semua ini dariku…”

Cuplikan Dua

Di dekat meja main duduk seorang laki-laki gemuk mengenakan mantel besar; dagunya bertingkat tiga, dan tangannya putih. Di sampingnya terdapat onggokan uang. Ia kalah, tetapi ia tidak muram. Sebaliknya, ia tersenyum. Bagi dia tak ada artinya kalah seribu-dua ribu. Di kamar makan beberapa orang bujang sedang menyiapkan kerang, sampanya, dan daging burung kuau. Ia senang makan malam banyak. Sesudah makan malam ia akan berkereta menemui si dia. Si dia Bukankah hidupnya senang? Bahagia! Tetapi cobalah lihat, tetek bengek apa yang meruyak di otaknya yang telah menjadi gemuk itu!

“Aku cuma bertopeng. Datang kontrole, dan orang-orang akan tahu aku cuma sebuah topeng…”

Cuplikan Tiga

Seorang petani yang sedang mabuk berjalan menyusuri dusun, menyanyi dan menjeritkan harmonika. Pada wajahnya ada rasa haru bercampur mabuk. Ia tertawa terkekeh-kekeh dan menari-nari. Hidupnya sedang rupanya? Sama sekali tidak, ia cuma bertopeng.

“O, ingin rasanya aku makan,” pikirnya.

Cuplikan Empat

Seorang profesor, dokter yang masih muda, sedang memberikan kuliah pengantar. Ia menyatakan bahwa tidak ada yang lebih membahagiakan daripada mengabdi kepada ilmu pengetahuan. “Ilmu adalah segalanya!” katanya, “dia itulah hidup!” Dan orang-orang percaya kepadanya….

Padahal ia bisa dikatakan bertopeng jika sekiranya orang-orang itu mendengar apa yang dikatakannya kepada sang istri sesudah kuliah itu. Ia mengatakan kepada istrinya: “Aku sekarang profesor, Sayang. Seorang profesor punya praktek sepuluh kali lebih banyak daripada dokter biasa. Sekarang aku bisa mendapat dua puluh ribu setahun.”

Demikian empat dari tujuh cuplikan kisah di bawah judul “Bertopeng” dalam sekumpulan cerita pendek Pengakuan” (lihat keterangan di bawah!)

Ok, apakah mungkin topeng itu indah?

“Kenakanlah topengmu. Tak apa. Pakailah. Supaya ketika orang melihatmu, mereka berpendapat kamu adalah orang yang paling baik, lebih baik dari yang lain. Kamu adalah orang yang paling berbahagia di muka bumi. Tertawalah! Tertawalah sampai puas. Tak apa. Sebab kamu bahagia.” 🙂 🙂

Siapakah orang-orang dewasa yang kau jumpai dalam hidupmu yang tak bertopeng? Baiklah kukatakan padamu, hampir semuanya, termasuk saya. Dalam porsi kecil maupun besar. Biasanya orang-orang bertopeng itu menganggap diri mereka lebih baik, lebih hebat, lebih bahagia, lebih merasa berkuasa dari orang lain.

Mereka bertopeng lantas menertawakan orang-orang tak bertopeng. Mereka mengatai orang-orang yang tak bertopeng sebagai orang lugu, polos, dan dungu. Kata mereka, kalau kau bertopeng, kau pintar.

pexels-photo-92129

Sumber ilustrasi: pexels

Mereka bangga mereka bukanlah orang-orang lugu, polos, dan dungu. Mereka bangga dan memukul dada berulang-ulang, mereka hebat, mereka orang keren, mereka pintar, mereka pandai, mereka cerdik, mereka berkuasa, dan mereka bahagia.

Dengan topeng, mereka berusaha memegang kendali ingin mengganti peran Tuhan. Anak-anak kecil ataupun orang-orang yang tak bertopeng mereka tindas, menganggap layaknya sapi, atau babi, atau anjing, atau kambing, atau apapun yang bisa dipergunakan dan dimanfaatkan atau diperjualbelikan demi kepuasan ego semata.

Orang-orang bertopeng itu, kau lihat mereka, kalau mereka tertawa, biarpun mereka pikir mereka lebih baik, lebih hebat, lebih pandai, lebih pintar, lebih keren, lebih jago, lebih cerdik, dan lebih segalanya, jangan kau percaya mereka sedang berbahagia. Sesungguhnya, dalam tertawa, mereka sementara menangis dalam derita tak terperikan. Merekalah semestinya orang-orang yang patut dikasihani.

Berbahagilah kau yang tak bertopeng. Tetap berlakulah dengan murni sebagaimana adanya dirimu. Sebab padamulah sorga berada.

* Keterangan:

Dari 24 judul dalam sekumpulan cerpen berjudul Pengakuan dari Anton Chekhov, ada satu yang diberi judul Bertopeng. Walaupun judul ini bukan satu-satunya yang terbaik, tapi saya memang sengaja hanya menyoroti bagian ini. Saya selalu suka tulisan yang berkaitan dengan topeng. Baik itu puisi, prosa, ataupun teater. Maka itulah, dari buku Pengakuan yang diterbitkan KPG  tahun 2004 ini, saya tidak membuat ulasan sebagaimana biasanya orang membuat ulasan buku. Kalau ulasan yang lebih bagus atau lebih lengkap, silakan Anda berkunjung ke:

  1. Parade Ironi Anton Chekhov dari Bisikanbusuk,
  2. Book Review Pengakuan Anton Chekhov dari Mshabibi
  3. Pengakuan Anton Chekhov dalam cerpen-cerpennya dari Duniadibingkaisenja
  4. Mendialogkan “Pengakuan” Anton Chekhov dari Kompasiana
  5. Resensi Buku Pengakuan Karya Anton Chekhov dari Sundanita

Sementara di sini, saya hanya sekadar memahatkan bagian Bertopeng dan bercuap sedikit tentang topeng’. Semoga dimengerti. 🙂

The Kreutzer Sonata_Sonata Berujung Maut oleh Leo Tolstoy

20170302_004106-1Belajar dari pengalaman-pengalaman yang telah lewat, maka untuk merawat ingatan, ada baiknya tulislah walau sedikit dan sederhana buku apa yang kau baca, sekalipun niat awal membacamu adalah hanya untuk mendapatkan apa yang disebut orang sebagai pleasure.

Baiklah, untuk catatan buku kali ini adalah tentang The Kreutzer Sonata atau yang dalam terjemahan Bahasa Indonesia ditulis Sonata Berujung Maut dari salah satu penulis favorit, Leo Tolstoy.

Berbeda dengan Anna Karenina (AK) yang nasibnya berakhir tragis karena pilihannya sendiri, di mana ia yang semula memilih menikung dengan seorang opsir muda ababil (:p :D) yang diikuti dengan kecamuk pikirannya yang tak berujung sehingga memilih menabrakkan diri ke kereta, maka pada Sonata Berujung Maut (SBM), karena depresi dan kecemburuan yang aneh, sang suami akhirnya memilih untuk membunuh sang istri dengan pedang. Kedua cerita ini nyaris mirip. Tentang permasalahan rumah tangga. Kalau di AK, cerita lebih banyak menyorot kecamuk pikiran sang istri, maka di SBM lebih menyorot kecamuk pikiran sang suami.

Buku ini semula saya pikir akan sebagus Anna Karenina atau Kebangkitan atau Perang dan Damai, atau Hadji Murad, ternyata di tengah-tengah membaca, saya jadi merasa bosan sendiri.

Dibuka dengan perjalanan sang tokoh aku di hari kedua dengan kereta api, kemudian bertemu dengan beberapa penumpang lalu mereka bercakap-cakap tentang cinta, perkawinan, perceraian, perbedaan pandangan antara laki-laki dan perempuan, dan seterusnya menyangkut hidup (sangat tampak ciri khas cerita Rusia zaman itu, orang-orang bertemu, berkumpul, dan berdiskusi tentang segala sesuatu dari paling prinsip hingga tetek bengek), ia akhirnya bercakap-cakap dengan sang pencerita, pria tua berambut abu-abu, sebagai penutur utama buku ini. Sementara ia (sang tokoh aku) di sini hanya diam dan pasif mendengarkan.

leo-tolstoy-about-families

Kalimat di atas adalah kalimat pembuka dalam Anna Karenina. Sumber gambar: Russia Insider

Saya membacanya semacam kisah dalam novel ini adalah tumpahan isi hati sang penulis sendiri. Begitu cerewet seolah-olah sang penulis ingin mengeluarkan semua isi kepalanya lewat tokoh Pozdnyshev itu. Kata lainnya, numpang curhat…:D Memang sepertinya tak begitu bagus untuk disebut novel. Mungkin saja begitu, makanya novel ini kurang dibicarakan dibanding novel Leo Tolstoy lainnya.

Namun bagaimanapun saya tetap mengapresiasi. Setidaknya bila kisah ini memang curhatan sang penulus, setidaknya ia sudah melakukannya dengan cara yang kreatif. Ia ciptakan tokoh-tokoh, ia pikirkan latar peristiwa pembuka, ia hadirkan tokoh-tokoh pendamping untuk membuka percakapan, ia mengolah berbagai bidang ilmu tinggi ikut masuk di dalamnya, ia atur (mungkin juga melakukan bongkar pasang) alur dan plot cerita, juga mengemas sedemikian rupa hingga jadilah The Kreutzer Sonata atau Sonata Berujung Maut ini.

Sementara kau yang membaca, apa coba yang sudah yang kau lakukan? Kata orang Kupang, Baca ko pikir ko mangarti… Jangan kau curhat, bukannya curhat untuk mendapat lega dan solusi, tapi malah mengambinghitakan orang lain sebagai penyebab segala salah (baca gosip) 🙂