Catatan Buku, Merayakan Keseharian

Kapsul 35c: Hasil Tukaran Kado, Buku “Dilarang Jatuh Cinta”

Hangout kami kali ini cukup istimewa karena ada tukaran kadonya. Acara ini diiniasi oleh entah siapa yang jelas bukan saya.

Sebelumnya saya tak berharap muluk-muluk akan dapat apa dari siapa. Bagi saya adalah hubungan persahabatan kami sehat dan bertumbuh baik.

Tak dinyana, dalam acara tukar kado ini saya mendapat buku. Judul buku ini, Dilarang Jatuh Cinta.

Buku ini sebelumnya sudah pernah saya baca. Pertama kali tahu buku ini dari salah satu kawan sekaligus adik tingkat yang sempat ditempatkan mengajar setahun di SLH Kupang, namanya Emm Pelawi.

Waktu itu, ia mendapat tugas di chapel siswa SMP dan dalam sesi khotbahnya ia sempat berbagi salah satu ilustrasi yang menarik. Ia saya dekati seusai chapel dan bertanya dari mana ia dapat ilustrasi menarik itu. Ia kemudian menunjukkan sebuah buku kepada saya. Dilarang Jatuh Cinta yang ditulis oleh pasangan Josua Iwan Wahyudi dan Vonny Cicilia Thamrin.

Saya pun meminjamnya. Buku itu tipis dan ditulis dengan gaya bahasa yang ringan karena memang ditujukan kepada muda-mudi dan para remaja. Saya sendiri merasa tertarik dengan buku itu karena ilustrasi cerita di setiap babnya. Tapi kemudian saya sadar, meski ditulis dengan gaya bahasa yang ringan dan tidak banyak mencantumkan ayat-ayat, buku itu punya prinsip yang alkitabiah sekali.

Saya tak lama membacanya. Ketika buku itu saya kembalikan dan saya tanyai di mana ia membelinya karena saya pun ingin memiliki sendiri, katanya buku itu ia beli langsung dari penulisnya. Kebetulan penulisnya yang perempuan adalah seorang yang pernah aktif di HOPE, salah satu program di bawah Fakultas Liberal Art UPH, dan kawan saya, Eim, pernah juga aktif membantu di sana saat SOW (kalau tak salah, akan dikonfirmasi😉😊), maka ketika diketahui bahwa orang yang bersamanya sudah menulis buku, ia pun membeli buku itu.

Tahu begitu, saya pun kemudian melupakan keinginan memiliki buku itu. Saya pun entah kenapa tak berpikir mencari di internet. Siapa tahu ada dijual di mana begitu.

Buku milik Eim itu ternyata tidak hanya berhenti di tangan saya sebagai peminjam. Buku itu kemudian berpindah-pindah di tangan kawan-kawan saya di sekolah. Mungkin karena menarik dan memang bagus apalagi untuk seorang guru yang membimbing remaja-remaja di sekolah, ternyata tanpa saya tahu beberapa kawan saya mencari-cari buku tersebut di internet dan memesannya beramai-ramai😄😅.

Di antara kami berempat saja, dua orang sudah memiliki buku tersebut. Maka harapan sang pemberi, buku itu mau tak mau mesti jatuh di tangan saya atau kawan saya yang satunya. Demikianlah semesta berkehendak, buku itu akhirnya jatuh ke tangan saya😍😘😇.

Senang sekali tentunya. Syukur kepada Tuhan untuk kado kecil ini. Terima kasih karena Ia menggerakkan hati kawan-kawan saya menginisiasi acara tukar kado (entah dalam rangka apa juga saya tak tahu😍😅). Buku Dilarang Jatuh Cinta tentu tidak saja untuk saya sendiri. Saya punya saudara-saudara kandung dan sepupu yang akan saya pinjamkan buku ini ke mereka supaya mereka belajar jangan terjebak dan ikut terseret berlarut-larut dalam kegalauan tak perlu.

Saya tak mereview secara detail isi buku ini. Sebagai pelengkapnya, saya hanya mau mengarahkan kalau kau ingin mengetahui lebih lanjut garis besar buku ini, silakan berkunjung ke Review Book: Dilarang Jatuh Cinta dari DesianaHalim atau bisa juga ke Dilarang Jatuh Cinta oleh The Courier of God. Kiranya bermanfaat😘🙏😇 dan semuanya dikembalikan hanya kepada-Nya🙏😇.

Iklan
Catatan Buku, Merayakan Keseharian

Kapsul 28: Sherlock Holmes dan Sidney Seldon

Sherlock Holmes dan Sidney Sheldon. 

Menyebut Sherlock Holmes seperti menyebut seorang anak manusia yang benar-benar pernah ada di dunia. Ia seperti benar-benar berdaging, bisa makan, bernapas, berak, mandi, yang pernah tinggal di salah satu kamar sewa di pinggir jalanan London. Nama Sherlock Holmes sendiri mungkin jauh lebih akrab di telinga orang dibanding penulisnya, Sir Arthur Conan Doyle. Bukan masalah. Toh, itu adalah sebuah kebanggan bagi penulisnya. Artinya, ia berhasil. 

Beda dengan Sidney Seldon. Entah judul dan nama tokoh boleh berganti apa saja dan boleh siapa saja, selama nama penulis masih Sidney Seldon. 

Cerita-cerita yang tidak mengizinkanmu mengambil jeda, dan sesudah tamat, kau akan merasa seperti kehilangan sahabat. 

Cerita-cerita semacam ini pula yang melemparkan kembali saya ke masa-masa SMP/A, membaca serial Lima Sekawan yang dipinjamkan teman saya. Ah, betapa manis momen-momen kala itu😉😊. 

Catatan Buku, Merayakan Keseharian

Kapsul 27: Buku ‘The Little Captive’ Lise Kristensen

Entah dari kapan buku ini terselip di antara buku-buku lain, saya malam ini baru sempat membuka dan membaca bab pertamanya. Tapi karena tak sengaja menemukannya, dan saya pun sementara ada buku lain yang dibaca, maka buku ini jadinya dijadwalkan besok baru akan dibaca. Sejauh yang sudah saya baca di chapter 1, ceritanya menarik. Saya suka. Bahasanya juga tak sulit-sulit amat kok. Kalau mau intens, sehari-dua hari mungkin bisa selesaiđŸ’Ș. 

Catatan Buku, Merayakan Keseharian

Kapsul 15: Membaca Novel Sidney Sheldon

Novel ini tergeletak di atas meja anak murid saya di kelas. Mereka baru saja membacanya saat SSR. Sementara mereka mempersiapkan materi presentasi kelompok, saya berjalan keliling dan iseng mengambil satu buku yang ada di atas meja. 

Baru membaca bab-bab awal buku, dan saya sudah tidak bisa begitu saja melepaskan tanpa tahu kelanjutan ceritanya. Saya pun meminjam buku anak murid saya untuk melanjutkan baca di rumah. 

Sementara saya menulis ini, saya masih dalam proses membaca. Belum selesai. Tapi karena keperluan pembaharuan postingan blog inilah saya menuliskannya. 

Kau mungkin saja berpikir,  “Gaya doang. Buku belum selesai dibaca, malah pamer. Kemarin buku lain juga begitu. Belum juga selesai baca, malah pamer kalau sedang membaca.”

Iya, saya tahu buku apa yang kau maksud. Pasti tentang Allah, Kebebasan, dan kejahatan. Memang, saat itu saya sedang membacanya. Setelah menulis itupun, saya melanjutkan membacanya. Tapi, buku itu banyak sekali proposisi-proposisi yang membutuhkan daya nalar dan konsentrasi yang tinggi, maka di tengah-tengah membaca, saya merasa tidak kuat melanjutkan. Saya hanya tertarik di bagian pendahuluan serta bagian satu saja karena di dalamnya disebutkan beberapa sastrawan yang namanya tidak asing seperti Milton dengan “Paradise Lost“nya, Dostoyevsky dengan “The Brothers Karamazov” tentang penyiksaan oleh bangsa Turki, serta nama-nama lain seperti Thomas Hardy, Hopkins, T.S Eliot, Peter De Vries, dan John Updike. Selain itu setelahnya, banyak proposisi-proposisi itu membuat saya seperti hanya ‘gaya doang‘ baca buku ini. Saya menghabiskannya tanpa mengerti simpul-simpul di dalamnya. Hanya inti atau tujuan besar buku ini yang sudah menjadi pegangan saya sebelumnya yang saya pahami. Bahwa Allah berdaulat atas dunia ciptaannya. Dalam sejarah, terjadinya kejahatan atau penderitaan di dunia bukanlah sebuah misteri, melainkan hal yang mungkin dan sudah sewajarnya. 

Karena buku yang sempat buat pusing itulah, biarlah kali ini saya kembali imbangi dengan novel Sidney Sheldon dari anak murid saya. Pada akhirnya, saya ingin bilang, “Thanks to Timothy Kevin”🙏😊. 

Catatan Buku, Merayakan Keseharian

Kapsul 11: Sedang Membaca “God, Freedom, and Evil”

Orang yang jarang baca biasanya suka pamer kalau sedang membaca satu buku. Contohnya saya yang saat ini sedang membaca buku “God, Freedom, and Evil” atau yang diterjemahkan sebagai “Allah, Kebebasan, dan Kejahatan.”

Saya malu sebenarnya bilang begini. Tapi apa boleh buat. Saya sudah komit untuk menerbitkan satu tulisan setiap menelan satu kapsul tiap hari.

Berhubung tulisan yang saya rencakan diterbitkan hari ini belum jadi, maka, “ya, sudah, pamerkan saja buku yang sementara kau pegang di tanganmu.”

Saya belum bisa menulis ulasannya karena belum selesai membaca. Meski sebenarnya ini bukan yang pertama kali dibaca karena di mata kuliah etika dulu juga sudah, hanya, ya, saya mesti menerima bahwa ada sesuatu yang bolong mungkin di otak saya sehingga membuat ingatan saya tentang isi buku ini tak begitu bagus. Itulah kenapa saya memutuskan membaca lagi.

Lagipula, terlalu sering membaca berita-berita (kehebohan terkini) dan artikel-artikel yang hanya bombastis di judul, membuat hari-harimu jadi terasa runyam. Berita-berita haboh dan artikel judul bombastis itu hanya membuat penasaran yang menyeretmu klik sana-klik sini, terbenam-tenggelam, lalu kemudian baru kau sadar dan menyesali waktumu terbuang hanya untuk sampah-sampah tak bernilai itu (meski sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menurutkan keinginan mata hanya karena judul yang sengaja dibuat bombastis, ‘5 hal yang belum kau tahu tentang mengikat tali sepatu’ misalnya, atau ‘si kakak bertemu adiknya yang baru pulang sekolah. Begini yang dikatakan di adik, bikin haru‘,  atau ‘kecewa! si dogi menggigit sandal tuannya hingga putus’.  Omg, kalau begitu, lantas kenapa tak dibuat atau digolongkan saja ke dalam cerpen sekalian, atau humor, atau apa kek, yang penting bukan, ah, apa ya, saya juga kurang tahu mestinya di bagian mana.

Kalau macam begini, baiklah kubilang, membaca cerpen-cerpen di koran minggu atau di media-media online atau membaca novel, atau nonton film, sungguh jauh lebih bermanfaat. Terlalu jauh.

Nah, tapi, tidak enak betul hanya baca-baca fiksi. Berasa ada yang kurang kalau lama-lama tak bersentuhan dengan buku non fiksi juga. Meski begitu, tidak semua buku non fiksi memuaskan hati dan pikiran. Hanya buku-buku tertentu yang kalau dibaca, kita seperti menemukan dunia baru yang rasanya berat untuk kita keluar kembali. Yang kalau sudah selesai dibaca, ada semacam kepuasan batin yang tak ternilai harganya yang menetap dan tidak mudah menguap begitu saja. Nah, akhirnya, saya baru dapat perbandingan yang tepat. Membaca berita-berita kekinian yang menghebohkan dan artikel berjudul bombastis itu, abis baca langsung menguap dan lenyap tak berbekas. Beda dengan kalau kau baca cerita (sastra) atau buku-buku non fiksi begini, abis baca pun masih ada bekasnya yang bahkan saat kau tidur, ataupun berdiri, ataupun berjalan, ataupun berlari, ataupun melakukan apa saja, ia masih seakan-akan terus hidup dan bercokol dalam dirimu tak mau keluar-keluar. Ada yang bersifat kekal dari yang kau baca.

Maka inilah salah satu dari sekian buku-buku yang memberi nilai kekal itu. Buku “God, Freedom, and Evil” atau dalam bahasa Indonesianya yaitu “Allah, Kebebasan, dan Kejahatan“.

Hanya ingat, seperti yang sudah saya bilang di awal, saya belum menulis ulasannya karena masih dalam proses membaca. Meski begitu, saya senang kalau kau juga mau mencarinya dan membacanya. Sejauh ini bagi saya bagus, kok. Kau hanya butuh konsentrasi yang tinggi saat membacanya. Soalnya buku ini banyak memuat silogisme di sana sampai bisa buat kau pusing-pusing untuk menghubungkan😄👌👍đŸ’Ș.

Catatan Buku, Cuplikan Cerita Lentera

Sharing Buku di Sesi BaKar

Sharing buku di sesi BaKar ini sudah mulai dilakukan tahun lalu, namun saya baru mulai memahatkannya sekarang. Karena semester ini baru dua orang yang khusus berbagi tentang buku, maka dua orang siswa inilah pembuka untuk edisi sharing buku di sesi BaKar. 

Sharing Buku “Laut Bercerita” 

Sharing buku di kelas 9.1 pada pertengahan Januari 2018 dari seorang siswa bernama Jesicca Rambu Loya. Buku yang ia baca berjudul Laut Bercerita, ditulis oleh Leila S Chudori. Buku ini mengangkat kisah tentang seorang mahasiswa bernama Biru Laut, sahabat, dan keluarganya saat kerusuhan 1998. Selain sinopsis yang ia bagikan, menurutnya ia senang membaca buku ini karena akhirnya bisa sedikit mengetahui kisah-kisah di balik kerusuhan 1998 yang selama ini terkesan ditutup-tutupi dan mungkin tak banyak orang tahu. Namun, ia juga menyayangkan adanya beberapa bagian cerita yang bisa membatasi pelajar SMP untuk membaca buku tersebut.

***

Sharing buku “Natisha” 

Sharing buku berikutnya oleh Silvia Ndapatamu pada hari Selasa, 30 Januari 2018. Buku yang ia baca adalah Natisha oleh Khrisna Pabichara. Buku berlatar Makassar ini menceritakan tentang kisah Tutu, Rangka, dan Natisha. Tidak hanya bercerita tentang kisah cinta yang romantis sebagaimana novel-novel remaja umumnya, namun membaurkan antara pengkhianatan, dendam, dan juga budaya Makassar misalnya ilmu parakang yang bisa membuat kaya, awet muda, kebal, dll.

Sama seperti Jessica, Silvia pun menyukai bagian sejarah dan budayanya, namun menyangkan beberapa cerita yang menurutnya belum bebas dibaca pelajar SMP.

Catatan Buku

Sebelum Membaca “Kekekalan” Milan Kundera

KekekalanPertama kali mendengar dan mengetahui ada buku berjudul Kekekalan, apalagi penulisnya adalah Milan Kundera, saya semakin tertarik ingin membacanya. Awal membaca, rasanya baik-baik saja. Bisa diikuti perlahan. Tapi semakin ke tengah, semakin saya tahu bahwa saya  sangat miskin referensi. Okelah, untuk beberapa nama tokoh, memang pernah saya dengar, tapi kisah mereka sebagaimana yang dituliskan di dalam buku Kekekalan ini, saya baru benar-benar mengetahuinya setelah membuka hp dan mencarinya di internet. Jadilah saya membaca sambil sebentar-sebentar menengok ke hp dan membaca di sana lama sekali baru kemudian kembali lagi buku ini. Tidak heran buku ini saya baca mungkin lebih dari sebulan. 🙂 Mungkin sama lamanya atau setidaknya  lebih cepat dari buku kumpulan esainya yang pernah saya baca dulu, Art of Novel” Milan Kundera.

Selesai membaca, inginnya saya membuat catatan sebagaimana biasanya, tapi karena ada beberapa pertimbangan, maka ingin saya tuliskan dulu hal-hal yang perlu diketahui sebelum membaca novel Kekekalan ini biar nanti saat membaca yang kedua kali (saya baru sekali membaca, sehingga agak kepayahan membuat catatannya) bisa lancar kayak air terjun mengalir.

IMG20171125190813.jpg
Membawa Kekekalan ke mana saja bepergian. Di Kopi KupangKoe

Baik, saya akan membukanya dengan hal-hal apa saja yang perlu diketahui sebelum membaca novel kekekalan. Entah ada hubungan atau tidak, yang penting kau perlu tahu terlebih dahulu. Berikut adalah tokoh-tokoh atau hal apa-apa saja yang perlu kau pelajari dan mengerti.

  1. Profesor Avenarius. Di awal buku ini dikatakan sang narator sedang menunggu kedatangan Profesor Avenarius. Profesor Avenarius di sini entah ada hubungannya atau tidak, saya hanya coba kaitkan dengan Richard Avenarius, seorang filsuf Jerman. Lebih lanjut tentangnya, dapat dibaca di Richard Avenarius and His General Theory of Knowledge, Empiriocriticism.
  2. Kisah Ernest Hemingway yang tidak biasa, sebagaimana yang sudah ada di biografi-biografi umumnya atau kilasan profil-profil penulis legendaris dunia. Langsung saja dibaca di Seductress who stole a genius from the love of his life: Revealed in a new book, the bitter love triangle that haunted novelist Ernest Hemingway to his grave  atau di Papa Hemingway.
  3. Skandal di lingkungan masyarakat beradat Weimar (The whole gain of my life is to lament her loss,) antara Goethe,  Christiane, istri Goethe, dan Bettina, seorang penulis Jerman yang juga adalah salah satu teman Goethe.
  4. François Mitterand, Presiden Perancis yang menjabat dari tahun 1981-1996.
  5. ValĂ©ry Giscard d’Estaing Presiden Perancis, pendahulu Mitterand, yang menjabat dari tahun  1974-1981
  6. Istana Elysee, istana kepresidenan di Perancis
  7. Kesukaan jogging presiden Jimmy Carter
  8. Keunikan kisah hidup Tycho Brahe, astronot besar asal Denmark, yang menahan hasrat ke kamar kecil berakibat kepada kandung kemihnya pecah dan meninggal beberapa hari kemudian, yang juga ternyata sebelumnya punya kisah unik terkait hidung palsunya akibat dilibas pedang saat duel (meski ini tragedi, tapi entah kenapa saya rasa jadi lucu sendiri–dijauhkanlah kiranya dari kehidupan saya, amin). Dia seorang Lutheran (hmm…pada masa itu, gaung reformasi sedang panas-panasnya), punya asisten Johannes Kepler yang juga seorang Lutheran (tetap gigih pada keyakinannya meski didiskriminasi dan mendapat tekanan hebat), kalau nama Kepler ini, saya dari sewaktu SMP meski di kampung paling selatan pulau Timor juga tahu (dalam artian nama asistennya jauh lebih terkenal dong ya ;))
  9. Hari Santo Sylvester di Perancis, orang menyebut malam tahun baru sebagai Hari Santo Sylvester, Paus yang menjabat pada tahun 314-335 M.
  10. Kisah pertemuan antara Napoleon dan Goethe, When Napoleon met Goethe
  11. Friedrich Schiller, penulis Jerman, teman Goethe
  12. Karl August, pangeran Weimar
  13. Maximiliane von La Roche, ibunda Bettina, yang pernah membuat Goethe jatuh cinta saat berusia 23, yang kemudian ketika lahir putrinya, Bettina, justru yang tergila-gila dengan Goethe, mantan ibunya itu. 🙂
  14. Meski pernah diterbitkan Korespondensi Goethe dengan Seorang Anak yang diterbitkan Bettina, hendaknya janganlah kita mudah dipercaya bahwa korespensi itu terjadi sebenar-benarnya sebagaimana dikutip dalam hal 122 buku Kundera dan the Ambiguity of Authorship.
  15. Penyair Achim von Arnim, seorang penulis Jerman yang lahir di Berlin, suami Bettina, yang juga sebelumnya adalah kawan baik Goethe dan Clemens Brentano, saudara laki-laki Bettina
  16. Seperti apa sih di era-era Romantisme itu, seputar seni khususnya literatur. 
  17. Novalis nama pena dari Georg Philipp Friedrich Freiherr von Hardenberg, penyair, penulis, (mungkin juga ilmuwan) dari Jerman. Meski masa hidupnya harus berakhir di usia 28 tahun, ia telah meninggalkan banyak karya di berbagai bidang. Dari karya-karyanya dapat juga dibaca pergumulannya dengan iman kekristenannya meski ia sendiri lahir di keluarga Moravian. Satu kisahnya yang membuat saya terkesan adalah hubungannya dengan Sophie, gadis berusia 12 tahun yang meninggal dua tahun kemudian dan kesedihan akan kehilangan itu dituangkan dalam Hymns to the Night.    
  18. Rauch, seorang pematung atau pemahat dari Jerman (1777-1857). Bernama lengkap Christian Daniel Rauch. Hasil karyanya yang berhubungan dengan cerita dalam buku ini mungkin bisa ditengok di alamy atau superstock. Di sana mereka mereka menjualnya dengan harga tertentu.
  19. Cuplikan kisah hubungan Bettina dengan Goethe, Beethoven, dan kematiannya yang tak kalah penting diketahui sebelum membaca buku Kekekalan Milan Kundera ini
  20. Mignom, satu karakter dalam opera yang dibuat Ambroise Thomas, yang mulanya dari libretto atau teks atau kidung milik para librettis Jules Barbier and Michel Carré, yang ceritanya berdasarkan novel Goethe berjudul Wilhelm Meisters Lehrjahre.
  21. Bersambung….